Tak ada yang kembali, ini sudah sewajarnya dalam hidup. Betapa segalanya berubah, aku berusaha mencari jawaban teka-teki yang tak ingin aku pecahkan. Segalanya terasa tidak jelas, seakan-akan ini tak lebih daripada mimpi tak jelas.
Mengapa juga ada perubahan? Bukankah kekacauan menyertai setiap perubahan besar. Apakah itu kehilangan, keheranan, ketakutan atauhkah iri hati.
Dimanakah engkau kini, penjagaku. Seperti mimpi memangut, hanya terjamba bayangan hari. Aku yang engkau lambai pada suatu hari, bersama embun bersama kuntum. Engkau yang selalu gelak, memanggut. Direbut kabut kelam.
Aku tidak bisa (harus) mengakhiri sesuatu yang harusnya lama aku akhiri. Bila memikirkan sesuatu yang tak bisa aku ubah, bertambah kesedihanku. Dalam harap dan doaku, dari abu terbitlah bara. Mata pedang yang patah terperbaharui, dan yang tak bermahkota kembali menjadi raja.
Menuju kilau cahaya.
Bait Al Hikmah, 3 Syawal 1434 H (bersamaan 10 Agustus 2013)
Ali and Malena, a love story, with background Azerbayzan during the Russian empire, the independence and the Soviet invasion. 1911-1920
CERITA CINTA
Kepolosan yang mewarnai cinta sejati tak akan pernah bisa diulangi. Ketika lenyap, ia pergi untuk selama-lamanya.
Pada mula; tatkala yang manis dan pahit menyatu; tak ada ketergesaan yang mengeruhkan air; manusia-manusia tak bernama, tak berwatak dan, tak bermasa depan
X
Tahun 1911
Aku menangisi ketidakmampuanku dalam ilmu hitung. Sial, sebegitu sulitnya Aljabar ini. Takdir telah membawaku, putra kebanggaan Azeri berada di sekolah, sekolah dari penjajah kami. Sejak Perjanjian Gulistan, Rusia mengambil Azerbayzan dari Persia dan memasukkan ke dalam kekaisaran Rusia. Takdir pula yang mengalahkan kenyataan dalam sejarah keluarga. Biasanya seorang putra Azeri hanya belajar pada seorang Hoja (guru). Harus aku akui, bahwa aku cukup cerdas. Mahir berbahasa Arab, Farsi, sedikit-sedikit bahasa Turki serta jagoan dalam ilmu Fiqh, Mantiq dan Hadist. Sesuatu hal yang tak bisa kubanggakan disini, di sekolah yang sepenuhnya Rusia. Hilanglah, kebanggaanku.
Aku harus terbata-bata mengeja huruf Cyliric (Aksara Rusia), ini semua karena Hoja. Ialah yang sepatutnya disalahkan sepenuhnya, sifat lembut dan tenang ibuku telah meledak menjadi kemurkaan dan putus asa ketika aku membisikkan ajaran Hoja, “Ibu. Hoja berkata kepadaku. Perempuan itu adalah makhluk kelas dua.” Kemudian, ibu meratap getir kemudian memelukku. Pada hari itu ia meyakinkankan ayahku segera untuk mengirimkanku ke sekolah. Sikap semacam ini sesungguhnya bukanlah sifat ibuku, karena baginya Rusia adalah penjajah. Ayahku, hanya bisa pasrah, setidaknya ibuku telah memperlihatkan kepadaku pada hari itu, bahwa kata-kata Hoja yang kuceritakan kembali padanya, tak lebih dari omong kosong belaka, sama sekali tidak berdasar. Akhirnya ia tersenyum puas.
“Mendidik anak-anak beradab, cerdas demi ibu Russia.” Adalah motto sekolah. Disini kami harus berpakaian seperti Orang Barat. Tidak ada tabu, tidak ada yang sakral disini. Guru-guru biasanya sinis kepada anak-anak Azeri melebihi dari ras Russia, bahkan Armenia sekalipun. Mereka kerap menyindir, bahwa kami beranak sebegitu banyak sehingga akan kesulitan memberi makan anggota keluarga. Betapa sekolah “beradab” ini begitu “tidak beradab.” Aku lebih menyukai pelajaran dari Hoja, meski beberapa ajarannya sinting. Setidaknya, ia lebih jujur.
“Sekolah tidak menerima murid yang telah menikah.” Rata-rata, kami bangsa Azeri menikah di usia 14-16 tahun. Lebih cepat dibandingkan orang Russia atau Armenia, aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk ketika Hasan setiap sebelum guru masuk harus menyuap anaknya dengan kembang gula untuk tidak memanggil ayah di sekolah. Hasan menyukai sekolah, ia tidak ingin dikeluarkan. Walau ia tidak bekali kemampuan belajar yang baik. Ia sudah tinggal kelas sebanyak tiga kali, dan disusul anaknya Haydar, masuk ke sekolah. Untunglah, kami dibekali tubuh yang ramping dan kecil. Walaupun lebih berumur sewaktu masuk sekolah dibandingkan orang lain. Kami, putra Azeri bisa menipu guru yang tidak mengetahui berapa usia kami sesungguhnya. Sewaktu malam, di pengajian Hoja aku bercerita kepada teman-teman. Mereka tertawa senang dan berkata, “orang Russia hanya di bekali otak yang kecil.” Setidaknya itu adalah kepuasaan, mengolok-olok para guru yang merendahkan kami (Azeri) di siang harinya.
“Sekolah terbuka kepada putra dan putri Kekaisaran Russia.” Sebenarnya tidak! Sekolah memang terbuka bagi seluruh ras Russia, tapi tidak semua orang Armenia. Apalagi orang Azeri, sepertiku. Hanya mereka yang berasal dari keluarga terkemuka yang di terima dan tidak semua juga yang mendaftarkan diri kesekolah. Beberapa lebih memilih madrasah yang dikelola Hoja. Bagaimanapun sesuatu yang telah berjalan ratusan tahun lebih terbukti dibandingkan sesuatu yang baru, syukurlah ayah memiliki tanah yang dijadikan tambang minyak oleh Rusia sehingga aku bisa bersekolah. Diam dan pelan aku mulai menyukai sekolah, karena sekolah ini menggabungkan antara anak lelaki dan perempuan. Memang tidak ada perempuan Azeri yang bersekolah, tapi ada anak-anak perempuan Russia dan Armenia. Meski mereka sombong, tapi setidaknya ada pemandangan yang menyegarkan disini.
Tahun ini, dengan susah payah aku naik kelas. Setidaknya, aku memiliki kebanggaan. Azeri pertama yang tidak (belum) tinggal kelas!
X
Musim Panas 1912
Marina Shevsenko. Kepala Sekolah Menengah Ganja (Kota di Azebayzan sekarang) berdehem dan ruangan kelas menjadi sunyi. Orang ini memiliki pendapat bahwa mengenakan atribut keagamaan melanggar kebijakan sekolah, yang mengharuskan pelajar untuk menghadiri kelas dalam pakaian sekuler. Siapapun yang kedapatan tidak akan diizinkan masuk lagi kecuali menanggalkan, sebenarnya kebijakan ini berlaku umum. Para murid putih juga tidak diizinkan memakai kalung salib, akan tetapi tentu sasaran utamanya adalah kami (Azeri) yang kerap membawa kupiah, tasbih. Darah para Azeri selalu panas dan diam-diam selalu memberontak, jika memiliki kesempatan.
“Satu-satunya cara menyelamatkan peradaban adalah melalui kemajuan dan tatanan,” Ujar Marina berkeliling kelas, aku menyembunyikan peci dalam baju. Sedangkan Hasan memasukkan tasbih di dalam kantong. Ia diam tepat di depanku, pantatku menciut ketakutan. Ia menatap mataku, nenek Rusia ini begitu menakutkan sehingga aku menunduk.
“Ali Murtaza! Apa itu di dalam bajumu.” Jika tidak mengingat nenek moyangku adalah pengelana gurun pasir yang tangguh maka aku akan kencing di celana mendengar suara bak halilintar itu. Ia menarik paksa bajuku dan menemukan peci yang ku sembunyikan.
Ia menatapku dan tersenyum. “Kamu pikir kamu adalah seorang muslim yang taat pada Turki atau Persia dengan mengenakan ini ya?”
Gurat-gurat cemas mencuat di dahiku. Aku ingin berkata iya, tapi aku takut.
“Kamu salah jika berpikir seperti itu. Azerbayzan adalah tetap bagian dari kekaisaran Rusia bahkan jika pegunungan Ural telah tercabut. Nah, Ali atas pikiran naifmu itu! Kamu layak ditindak. Sekarang sufi kemasi barangmu!”
Aku tidak menjawab. Mataku berkaca-kaca, aku dikeluarkan dari sekolah di hari pertama tahun kedua, pikirku. Di saat aku mulai menyukai omong kosong ini.
“Mulai hari ini dan seterusnya, kamu duduk di samping Malena.” Sambungnya, kiamat urung terjadi. Tapi duduk di samping Malena, orang Armenia? Bangsa Armenia adalah bangsa yang tidak di sukai oleh kami (Azeri) atau Rusia sekalipun. Mereka adalah bangsa tua dan licik, mereka jarang mandi sehingga badan mereka berbau busuk. Begitulah desas-desus, kami (Azeri) bahkan menghindar jika harus berada di dekat mereka. Di tambah lagi, kami bangsa Azeri tidak terbiasa berdekatan dengan perempuan bukan muhrim. Terjajah, tentu bukan alasan melupakan hukum Islam. Ingin rasanya membantah Marina Shevsenko ini, akan tetapi pasti dengan segera ia akan menuduhku menganut pandangan kolot. Aku masih mencari alasan.
“Cepat Ali! Atau kau akan aku pulangkan ke orang tuamu!”
Aku kalah dan menurut.
X
Masih di tahun 1912
Malena
Desas-desus yang menyatakan orang Armenia berbau bangkai adalah salah total! Sebegitu salahnya, sehingga siapa yang menyebarkannya sampai ke pengajian Hoja selayaknya di kutuk. Keharuman macam apa ini? Hidungku merasa asing, campuran wangi bunga yang sama sekali aku tidak mengingatnya, terasa akrab namun asing. Sedikit tetesan keringat memacu bagai hulu ledak luar biasa. Aroma tersebut menggetarkan jantung sesaat, sel-sel dalam otak pun berputar cepat. Aha, inilah penyebabnya kenapa dihembuskan desas-desus bahwa mereka berbau bangkai, karena kami (Azeri) terlalu lemah akan aroma parfum mereka. Sangat tidak sesuai sunnah! Menganjurkan perempuan mengenakan parfum berwarna tapi tidak berbau keras. Aroma perempuan asing.
Malamnya aku bercerita kepada Hoja, selepas mengkaji kitab. Aku terkejut melihat ia terkekeh, “Berhati-hatilah dengan kuda betina itu, Ibnu Usman. Sebelum kau menyadarinya, tiba-tiba saja kau telah menungganginya dan dia akan berlari kencang melintasi gurun pasir dengan kau terikat di punggungnya.”
Betapa salahnya Hoja, dan betapa hanya sedikit yang ia ketahui tentang dunia luar. Raut masam di wajahku menandakan ketidakpercayaan. Aku memperhatikan Hoja melihat perubahan raut wajahku dan mengangguk dengan seulas senyum simpatik penuh pengertian. Ketika aku berjalan menuju gerbang madrasah, kurasa aku mendengar bisikan Hoja di telingaku, “Hati-hati, berhati-hatilah Ali.” Tapi itu hanya lamunanku belaka.
X
Tahun baru 1913
Ali dan Malena, kami duduk di bangku bersebelahan dan bercakap-cakap. Rasanya seakan-akan kami adalah sepasang teman dekat yang saling mempercayai. Akhirnya aku tahu, Malena tidak sepenuhnya Armenia, ayahnya adalah orang Georgia, ibu Armenia. Meninggal tak lama setelah ia dilahirkan. Ia dan ibunya dijemput oleh paman Armenia, kemudian di sekolahkan disini. Selama ini ia bisa menangani persoalannya sendirian, menjahit baju sendiri. Sebagai yatim ia tak menyerahkan dirinya pada nasib misterius yang (mungkin) kejam. Entah mengapa di matanya, aku melihat kesedihan tapi bukan tidak bahagia. Murid-murid Armenia lebih membenci kami (Azeri) dibandingkan kami tidak menyukai mereka, Malena dijauhi karena duduk di sebelahku, aku merasa beruntung terlahir sebagai Azeri, meski memiliki mulut tajam tapi kami memiliki urusan sendiri, aku tetap bisa bergaul dengan sesama Azeri tanpa dianggap najis. Bahkan Hoja yang paling keras sekalipun hanya berkata, “Orang Georgia? Aku dengar, Sultan Mamluk yang terkenal Baibars adalah keturunan Georgia. Ia mengalahkan Mongol dalam pertempuran menentukan di Ain Jalut beberapa abad silam. Bagus itu.” Hoja melanjutkan cerita pada dinasti-dinasti Islam bersinar di masa lalu, aku hanya takzim, aku merasa Hoja juga belajar dari ceritaku, sebagaimana aku belajar dari ceritanya.
Kembali pada Malena, ia sangat suka bermain boneka. Ia merajut boneka sendiri, dan kadang-kadang membawanya ke sekolah. Aku berpikir apa ini? Kalau saja aku tidak mengingat cerita Hoja bahwa Rasullullah (saja) tersenyum melihat Aisyah bermain kuda-kudaan maka ia akan aku larang. Tapi, sudahlah bahkan kadang-kadang aku membantu menyembunyikan jika Marina Shevsenko melakukan razia. Konyolnya lagi, ia menamakan bonekanya, “Sonja.” Dan laki-laki Azeri sejati tidak pernah (ingin) mencampuri urusan perempuan, sampai.
“Papa, papa! Ini Sonja sakit!” Malena mencubit lenganku, tergelak kemudian memajukan tubuhnya ke dekatku. Aku hanya mengenyitkan dahi, sial dadaku bergetar hebat.
“Coba papa lihat, oh mungkin Sonja terlalu lama di dalam tas jadi dia sakit.” Aku terbawa suasana, tapi masih mampu realistis.
“Ih, papa curang. Sudah dibilang tidak boleh menyebutkan kalau Sonja ini adalah boneka. Bagi kita, dia adalah makhluk hidup. Titik!” Malena memasang wajah merajuk.
Apa-apaan ini, kapan kesepakatan terjadi? Alih-alih membantah mulutku berkata, “Iya deh memang papa yang salah.”
“Begitu dong, itu baru papa Sonja.” Ia tertawa nyaring atas perkataannya sendiri, dan entah mengapa aku mengangguk setuju. Hidup dibagi kepada empat fase : langkah; rezeki; pertemuan dan; maut. Dalam hal ini cinta adalah pertemuan, tidak ada cinta tanpa pertemuan. Pada titik ini aku merasa dipertemukan dengan takdir tanpa disengaja, “Sonja” adalah nama yang sepenuhnya Eropa, bukan Arab bukan pula Farsi. Begitukan nasib keturunanku kelak?
X
Awal 1917
Cinta adalah kekonyolan, membuatmu melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan. Hoja tertegun dengan pertanyaanku, “Dapatkah lelaki Muslimin menikahi seorang ahli kitab (Nasrani)?” Terlintas di kepalaku, laki-laki seperti Hoja Nashruddin tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Orang sepertinya adalah seorang lelaki dengan integritas tinggi, dan sialnya di dunia ini hanya sedikit orang seperti dia. Ia telah memberi nasehat kepadaku hampir di sepanjang hidup. Itu sebabnya, ia berarti bagiku, bahkan aku lebih dekat kepadanya dibandingkan kedua orang tuaku, dia adalah tempat dimana aku menceritakan rahasia-rahasia terdalam di hidupku, yang tak akan aku bagikan kepada orang lain.
“Tidak adakah perempuan muslimah lain yang menarik hatimu wahai ibnu Utsman? Sehingga pilihanmu jatuh kepada perempuan Georgia itu?” Wajah Hoja terlihat sangat sedih ketika aku menggelengkan kepala.
“Secara hukum Fiqh diperbolehkan asal berada dalam daulah Islamiyah,” ia terdiam. Aku mencoba mengira apa kata selanjutnya keluar dari mulutnya, ia melanjutkan. “Jika itu memang keinginanmu maka akan kita jadikan.”
“Bagaimana jika kedua orang tuaku tidak menyetujui?”
“Biar Hoja Nashruddin yang menjelaskan kepada mereka.”
“Bagaimana jika keluarga Malena menolak?”
Senyum keceriaan kembali di wajah Hoja, ia terkekeh. “Ali kamu adalah putra Azeri, kita bangsa yang perkasa. Kita akan culik dia dari keluarganya, jika mereka melawan maka akan kita singkirkan mereka untuk selama-lamanya. Apapun akan aku lakukan untuk keinginanmu itu! Kau bisa mempercayai untuk menyimpan rahasia manapun, lebih rapat daripada engkau menyimpannya. Kami adalah sahabat-sahabatmu. kami akan mendampingimu atau mengikutimu seperti anjing pemburu.” Kadang-kadang aku merasa Hoja bukanlah guru agama yang baik, tapi dia adalah guru terbaik.
Syukurlah, anggapanku terhadap kegagalan tidak lebih mengada-ada. Segalanya berjalan lancar, Hoja mengatur segalanya bagiku. Aku dan Malena dinikahkan di Madrasah Ganja, dengan tata cara Islam sesuai dengan syarat Hoja.
Hari itu terasa sangat indah, sementara dunia menggelinding dibawah dengan hembusan angin kencang.
X
8 Maret – 8 Nopember 1917.
Perangko Azerbayzan
Revolusi Rusia dimulai, Tsar diturunkan. Rusia Kaukasus dimana Azerbayzan tergabung didalamnya jatuh. Sistem Administrasi dimana Armenia, Azerbayzan dan Georgia pecah. Pada Maret 1918, konflik etnis dan agama antara Armenia-Azeri di Baku dimulai. Pada tanggal 26 Mei 1918 setelah masalah carut marut. Faksi Azerbayzan menarik diri dan memproklamirkan kemerdekaan Republik Demokratik Azerbayzan. Tak lama kemudian pecah perang Armenia-Azerbayzan pada musim panas 1918. Pertempuran sendiri masih berlanjut di Karabakh sampai tahun 1919, pertempuran memuncak sampai dengan 1920 sampai Jenderal Samedbey Mehmendarov mengusir tentara Armenia dari Karabakh.
X
Maret 1920
Republik Demokrasi Azerbaijan 1918-1920
Terlihat jelas Soviet Rusia akan menyerang Azerbayzan. Vladimir Lenin berkata, “Invasi harus dilakukan karena Uni Sovyet tidak akan bertahan tanpa pasokan minyak dari Baku (Ibu kota Azerbayzan).” Aku tidak menyukai politik, bagiku itu semua adalah omong kosong belaka. Akan tetapi aku mengkhawatirkan Malena yang sedang hamil muda. Aku memiliki kekhawatiran seorang calon ayah sebagaimana layaknya. Tekadku sudah bulat, kami harus mengungsi. Sebenarnya aku memilih Persia di Selatan, akan tetapi Malena menolak keras. Baginya negeri Timur terlalu asing, aku berkata bahwa aku adalah orang Asia, dan selayaknya anakku menjadi Asia. Ia menangis dan berkata aku bukan Asia, melainkan Azeri dan anaknya harus menjadi Eropa. Akhirnya aku mengalah, paman Melena menjemput ia ke Georgia. Hanya dia dan calon bayinya, aku tidak diizinkan ikut. Aku adalah Azeri, dan tidak ada tempat bagi Azeri di Utara. Malena memegang pipiku menenangkan, “Sabarlah Ali. Jika keadaan sudah membaik, kami akan menjemputmu.” Malena pergi dengan kereta terakhir, ketika keluargaku pulang ke Persia, aku menolak ikut. Aku akan bertahan.
Mei 1920
Tentara Merah memasuki Azerbayzan
Tentara XI Russia memasuki Ganja, gelombang tentara merah yang didukung gerilyawan Armenia dan Georgia datang bagaikan air bah. Aku, Hasan bersama Tentara Republik Demokratik Azerbayzan menjaga jembatan Ganja yang menjadi pintu masuk. Wajah-wajah kami diselimuti debu, mata menghitam karena kurang tidur. Suara terompet dan genderang menyiagakan segenap para prajurit. Bagaikan binatang buas yang tengah menunggu mangsa Tentara XI Rusia telah berhadapan di seberang sungai. Hasrat membunuh mereka membuat mereka selalu tenang dan bergairah. Terlepas dari usaha terbaikku untuk tetap tenang, aku tak mampu mengendalikan rasa takutku. Mereka terlalu banyak!
Ditengah hari, kami mendapati pemandangan musuh kami telah bersiap masuk. Serdadu-serdadu tumpah ruah menuju jembatan, aku menyapu dengan karaben. Namun gelombang datang demi gelombang, lapisan langit debu merebak.
“Allahu Akbar!” Aku berteriak ketika peluru menembus bajuku, aku terjatuh ke dalam air dan tidak mengingat apa-apa lagi.
31 Mei 1920
Uni Soviet menaklukkan Republik Demokratik Azerbayzan. Pada akhirnya, para Azeri tidak menyerahkan kemerdekaan 1918-1920 dengan cepat dan mudah. 20.000 gugur berjuang dari penaklukkan Rusia. Dan dengan segera Uni Sovyet mendirikan Republik Azerbayzan Sosialis Soviet, dan lebih mudah karena di dukung oleh kebanyakan Bolshevik adalah ideologi popular di kalangan pekerja industri di Baku. Sejak hari itu Azerbayzan menjadi bagian Uni Sovyet.
X
1 Shawal 1412 H – 4 April 1992
Semalam aku merasa mual dan jatuh sakit. Aku mengigil, tubuhku bagaikan terpanggang api. Aku meneguk tiga teko air dan tertidur. Aku melewatkan shalat Ied tadi pagi, rasa sakit itu telah sirna, tetapi aku merasa begitu lemas dan didera firasat buruk akan datangnya bencana. Aku terduduk di tepi ranjang. Kemudian aku tertawa, mengingat kata-kata Marina Shevsenko dulu.
“Kamu salah jika berpikir seperti itu. Azerbayzan adalah tetap bagian dari kekaisaran Rusia bahkan jika pegunungan Ural telah tercabut. Nah, Ali atas pikiran naifmu itu! Kamu layak ditindak. Sekarang sufi kemasi barangmu!”
Sekitar enam bulan lalu, Azerbayzan memperoleh kemerdekaan dari Uni Sovyet. Pada akhirnya tidak ada yang abadi, bahkan kerajaan Sovyet yang seolah akan berumur ribuan tahun itu rontok. Aku sangat senang membayangkan, Marina Shevsenko meratap di kubur. Tapi ada yang abadi, kata-kata Hoja. Guruku Hoja Nashruddin.
“Kami adalah sahabat-sahabatmu. kami akan mendampingimu atau mengikutimu seperti anjing pemburu.”
Nashruddin Hoja
Dia adalah benar-benar anjing pemburu. Bagaimana caranya dia datang ke lokasi pertempuran dan membopong tubuhku yang terluka melewati segala barikade tentara Merah menembus perbatasan Azerbayzan masuk ke Iran (Persia) dan mengantarkan aku ke keluargaku ke Teheran. Jika seluruh ungkapan terima kasih yang ada di dunia ini harus kuucapkan kepadanya, maka itu tidaklah cukup. Setelah itu ia menghilang untuk selama-lamanya, tidak pernah terlihat lagi. Aku berusaha mencarinya, namun akhirnya menyerah. Mungkin Hoja bukanlah manusia biasa, mungkin dia adalah seorang Aulia. Sebagaimana sifat Aulia, maka lebih baik ia misterius.
Di Taheran Iran, aku melewati tahun-tahun yang panjang. Menikah dan berketurunan, sebagai manusia ekonomi aku berhasil. Usaha toko sepatu yang aku rintis berkembang pesat, akan tetapi selama bertahun-tahun itu pula aku masih memikirkan Malena. Waktu telah lama berlalu sejak kejadian itu, aku membayangkan Malena, anak kami terperangkap dalam konfik yang paling mengerikan. Sering dalam mimpi buruk, aku membayangkan mereka terperangkap dalam kobaran api dan betapa seringnya aku berharap ada disana untuk berbagi kepedihan dengan mereka. Sewaktu Uni Sovyet masih ada, berulang kali aku mencoba masuk. Sayangnya aku dikenali sebagai pemberontak, dan negeri Tirai Besi tertutup untukku selamanya. Semua itu adalah kenangan yang menyakitkan. Aku terus berusaha memendamnya.
“Kakek, kakek. Ada tamu.” Si kecil Fatima masuk ke dalam kamar, aku mencoba untuk bangkit dari ranjang tapi tidak sanggup. Seorang perempuan masuk didampingi seorang laki-laki, dari pandanganku dia adalah seorang tiga puluhan yang menawan, kedua matanya sewarna madu. Rambutnya hitam pekat. melihat wajahnya jantungku berhenti berdetak. Wajahnya mengingatkan aku dengan seseorang yang aku pikir tidak pernah akan aku lihat lagi, Malena.
Ia bergegas dan memelukku, ia menangis. Ada kedekatan abadi seolah tercipta antara aku dan dia. “Kakek, perkenalkan aku Sonja.” Sonja nama itu pernah bergema ditelingaku puluhan tahun yang lalu, kemudian ia menghapus air matanya dan memperkenalkan laki-laki disebelahnya, “Ini Dimitri suamiku.”
Aku seolah sudah tahu arah pembicaraan, namun hanya satu kata yang keluar dari mulutku, “Malena?”
“Iya kek, saya Sonja cucu dari Malena. Sonja Murtaza cucu kakek juga.” Sekilas ada kelegaan dari wajahnya ketika mengungkapkan kata-kata terakhir, ataukah ini hanya imajinasiku saja? Aku mengengam tangannya dan mengelus perlahan.
Sonja bercerita, neneknya Malena, istriku tercinta. Malamnya tiba di Tbisi (Georgia) dan tinggal ditumah adik ayahnya, melahirkan ayahnya, Kahka. Keadaaan kaukasus begitu kacau saat itu, sehingga tidak ada kabar dari Azerbayzan. Setelah keadaan aman, ia mencoba mencari tahu keberadaanku. Namun tidak ada kabar yang pasti, beberapa mengatakan aku telah tewas pada pertempuran Ganja. Malena yang cantik akhirnya menikah lagi, dengan Joseph seorang sektretaris Partai Komunis Georgia (hatiku terbakar cemburu), namun ia menyesal mengapa meninggalkan aku dalam keadaan yang kacau. Pada tahun 1960-an Kahka, anakku. Bertemu dengan Haydar putra Hasan yang masih menetap di Azerbayzan, dari Haydar diketahui bahwa aku diselamatkan oleh orang tua gila bernama Hoja, dibopong melewati hujan peluru menuju Selatan dan menghilang. Malena dan Kahka mencoba masuk ke Iran, namun negeri Tirai besi menutup pintu. Baru ketika Uni Sovyet bubar, pintu terbuka. Sayangnya baik Malena maupun Kahka telah tiada. Sonja sebagai satu-satunya putri Kahka masih memiliki harapan, melalui jaringan koneksi ia mencoba mencari kabar diri tentangku, dan akhirnya kami bertemu.
“Ia selalu mengenangmu,” bisiknya. Air mata menetes di kedua pipiku. “Dan aku juga selalu mengenangnya, tidak pernah sekalipun melupakan dirinya, dan juga ayahmu.”
Aku mengingat pertemuan pertama kami. Aku sempat sedikit takut kepadanya karena harus duduk di samping orang Armenia, yang diceritakan Hoja berkelakuan seperti hantu.
“Waktunya makan!” Fatima mengejutkan sekali lagi.
Aku mempersilahkan Sonja dan suaminya untuk menuju ke ruang makan ditemani Fatima. Aku mengatakan akan menyusul setelah berpakaian layak, Dimitri ingin membantu aku berdiri namun aku bercanda kepadanya, “Ali Murtaza, pantang menerima bantuan seorang Rusia.” Keningnya berkerut, namun aku menepuk punggungnya dan berkata bahwa aku hanya bercanda.
Setelah mereka beranjak pergi, aku berpakaian terbaik yang aku miliki. Sebelum keluar aku berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah ridha atas takdir yang telah ditetapkan kepadaku. Maka ya Rabb ridhailah hamba-Mu ini.”
Sekarang semuanya selesai. Aku senang kau berada disini bersamaku. Di saat-saat terakhir ini, cucuku Sonja.
X
Kita hanya tahu sedikit tentang nenek moyang kita, sungguh, bahkan kita yang bisa menyebutkan nama-nama mereka beberapa generasi sebelumnya.
Penaklukkan Mongol senantiasa meninggalkan bukit-bukit tengkorak
BADAI SEJARAH IBNU TAIMIYAH
Sewaktu masih kecil, pikiran terbuka bagi gagasan-gagasan baru. Selayaknya seorang bayi yang baru lahir dapat melihat cahaya meski belum menyadari apa yang dilihat. Seiring perjalanan waktu, manusia mengatur pengalaman menjadi suatu gambaran dari berbagai kenyataan. Mendeskripsikan udara, pohon dan benda apapun itu. Nah, begitu mengenali dunia sekitar, segera kita menyadari bahwa sebenarnya terperangkap pengetahuan sendiri. Hal ini (juga) berlaku umum bagi para cendikia. Seperti orang lain juga, berada dalam kungkungan teoritis. Itulah yang menjadi sebab mengapa ilmu pengetahuan menjadi milik generasi muda. Generasi tua “mengetahui” terlalu banyak hal sehingga tidak mau pergi dari situ, menolak yang baru.
X
Kehancuran Baghdad oleh pasukan Mongol
Baghdad, 1268 M
Sedari kecil aku merasakan, orang-orang berkata, “betapa cerdas dirmu.” Waktu ini aku malu-malu dan menyeruput teh dengan pipi memerah. Atau ketika kakekku berujar, “Dialah calon orang besar di keluarga kita.” Takzim hatiku mengaminkan. Tidak ada yang tidak mengetahui bahwa aku adalah pelahap kitab, ya kukuh hatiku ingin mewujudkan harapan dan doa mereka yang aku kasihi. Tanpa terasa, menjadi pikiran dalam di setiap mimpi-mimpiku. Tahun demi tahun berjalan perlahan, satu demi satu dari mereka meninggalkan kami. Dan akhirnya aku adalah aku, (mungkin) aku bukanlah sebuah kegagalan teruk namun juga bukan merupakan seseorang dengan kegemilangan besar. Aku adalah aku, yang biasa-biasa saja. Setidaknya, dengan menghindari segala cemar dunia, bagi mereka yang masih hidup. Aku masih menyimpan harapan, tapi hatiku berkata, “entahlah, mungkin aku memang seorang biasa.” Terlalu biasa, sehingga engkau akan melewatkan jika bertemu di pasar yang ramai. Aku bukanlah “badai sejarah.”
Pengepungan Baghdad oleh Mongol 1528
Ayahku menyaksikan “badai sejarah,” ketika Baghdad yang gemilang. Dimana hujan yang turun dari langit adalah segala rahmat, tanah cinta yang menyala-nyala dalam kemuliaan, salah satu kota yang paling berharga di dunia muslim, diluluhlantakkan serbuan Mongol. Dalam tahun itu ibu kota dunia Islam, Bani Abbasiyah menjadi puing, hegemoni bangsa Arab lenyaplah untuk selama-lamanya. Baghdad dibanjiri darah, perempuan-perempuan mukminin dinistakan, sungai Eurat dan Tigris menjadi menghitam akibat dipenuhi arang kitab-kitab dari perpustakaan Bait-Al Hikmah yang dibakar hangus. Sebegitu tragisnya, sehingga ayahku selalu menangis mengingatnya, dan berkata. “Sungguh aku tidak beruntung harus dilahirkan ibuku, untuk melihat hari itu.” Perang telah membuang rasa senang, bahagia dan kedamaian sirna dari kota tersebut.
Kami sekeluarga mengungsi ke Barat, Damaskus. Sedapat mungkin aku menemui banyak guru mempelajari ilmu hitung, khat, nahwu, ushul fiqh. Aku harus lebih kuat daripada tubuhku yang lemah, hari ini dan besok, hanya itu waktu yang kita miliki.
X
Kehancuran pasukan Mongol di Ain Jalut
Syakab, dekat Damaskus 1299 M
“Allahu Akbar”
Pasukan Muslimin berhasil menahan invasi Mongol yang tak terkalahkan. Prajurit Mongol mundur kocar-kacir seraya mengucapkan syahadat. Menghindari pembalasan dendam akibat perbuatan mereka dimasa lalu.
Sungguh licik bangsa Mongol, setelah membunuhi muslimin sepanjang negeri, membangun piramida dari tengkorak manusia disepanjang tanah bulan sabit. Ketika terkalahkan kali ini mereka mengharapkan belas kasih. Ini bukan dusta, tapi kepedihan aku menyaksikannya dari dekat. Kekejaman mereka telah berlangsung puluhan tahun, haruskah kali ini ada pengampunan?
“Berikan kami fatwa, apa yang harus kami lalukan. Wahai Syekh!” Amir Damaskus meminta pendapat.
Fatwa Ibnu Taimiyah untuk pembasmian pasukan Mongol
“Mereka adalah para pemberontak yang harus diperangi oleh kaum beriman, meskipun mengaku muslim, mereka tidak akan melaksanakan syariat secara penuh, sementara disisi lain mereka juga mempraktekkan yasa (Tradisi hukum adat bercorak Nomadik).”
Amir Damaskus setengah percaya setengah tidak percaya.
Aku adalah manusia yang hidup di antara masa lalu dan masa depan, hidup di masa kini dengan segala luka dan cacat. Aku siap, mempertanggung jawabkan apa yang telah aku lakukan.
“Bismillahirahmanirrahim”
X
Penjara Qal’ah, Damaskus 1328 M
“Fatwa anda telah sering dijadikan sandaran oleh kelompok-kelompok radikal.”
Dua tahun tiga bulan dan beberapa hari lalu, aku berada di bui. Dipindahkan dari penjara ke penjara. Air mataku mengucur membaca mushaf Al-Qur’an. Berakhir sudah, aku merasa panggilanku datang. Surat Al-Qamar, “Innal Muttaqina fi Jannatin Wanaharin.” Lilin padam.
Ya Allah, hamba bersujud pada-MU dengan segenap cinta.
X
Ibnu Taimiyah (1263-1329 M) – (661-728 H)
Ibnu Taimiyah (1263-1329 M) – (661-728 H) “Syaikhul Islam”
aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku/ kemanapun aku pergi, ia selalu bersamaku/ dan tiada pernah tinggalkan aku
“Orang terkuat di dunia adalah ia yang tegak sendirian.”
BAYANGAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK
Kenangan memberikan begitu banyak detil kehidupan yang bergolak ke dalam adegan-adegannya, sehingga sensasi bersentuhan dengan imajinasi menjadi luar biasa. Maka senyuman mereka terbungkus kenangan dan kerinduan ironis yang tak terucapkan. Kenangan seperti bayangan, sulit ditangani. Apabila diusir muncul ditempat lain menari-nari
Dua puluh tahun dari sekarang. Gulingnya satu penguasa disambut dengan suka cita. Sementara ada yang gemetar ketakutan, bajingan mana lagi yang akan menggantikan? Bandar mengalami revolusi sosial berulang kali di tahun-tahun mendatang, yang luar biasa adalah Laksamana Chen bisa selamat dari pembantaian tanpa cedera sedikitpun. Selama berbulan-bulan dia tetap mengurung diri dirumah. Untuk alasan apa pun, keselamatan ini, suatu nasib baik yang Laksamana Chen tidak pernah berhenti mempertanyakannya.
“Tapi, di manakah semua orang?” Laksamana Chen mengitari lepau nasi dimana biasanya Assosiasi Budjang Lapok berbual-bual, memandang ke halaman yang begitu rimbun dan berbagai semak yang mengelilinginya. Laksamana Chen merasa, mungkin skeptisme adalah sifat pasti yang menjaganya tetap hidup, sedang para sahabat tidak. Tawa Barbarossa, langgam Penyair, lengguhan Mister Big, kepala miring Tabib Pong, gramatikal Amish Khan, senyuman Tuan Takur, sampai kegagapan Mas Jaim musnah bersama mereka, ia rindu. Ia adalah satu-satunya yang tersisa dari ABL, melewati masa-masa sulit.
Sekejap kemudian, asam di dalam perutnya memberontak, ia terhuyung. “Setelah lama waktu berlalu, orang selalu berkata kepadaku semua akan berlalu. Namun bersamaan dengan itu, aku juga membenci diriku. Karena aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku benar-benar benci diriku yang tak punya kekuatan apa-apa. Bila mengingat bertahun yang lalu, aku sangat ingin mengulangi perasaan yang pernah aku alami bersama mereka. Tapi aku juga tidak mau, ada orang lain yang mengalami penyesalan yang sama, seperti aku sekarang.”
“Ini hanya mimpi, mereka akan kembali.” Bila memikirkan hal tersebut perihnya semakin menyakitkan, ia terjatuh pingsan. Suasana hening sering dalam adegan filem lama, beratnya sejarah yang bisa dirasakan dalam keheningan. Dalam ketidaksadaran tersebut ia bermimpi.
X
Bandar setahun lalu. Hari itu panas dan lembab menyesakkan panas, dengan guntur di udara. Di lepau yang riuh, Laksamana Chen tua tersesat di masa kini. Ia mengangkat sebuah piring kecil dengan kedua tangannya. Dia menundukkan kepalanya dan menyenandungkan sebuah doa. Tiba-tiba terdengar keributan dari ruang depan, begitu kerasnya sehingga semua orang mendonggak melihat. Segerombolan orang merangsek masuk ke lepau nasi. Laksamana Chen menjadi pucat pasi ketika mengetahui pimpinan mereka : Barbarossa. Ia, bertemu dengan komplotannya di masa lalu.
Barbarossa tersenyum, memamerkan garis nikotin di celah antara gigi-giginya. “Aha, ini dia meja yang aku cari. Menghadap kearah jalanan luar, pemandangan yang bagus.” Ia memukul meja, seolah pemilik lepau nasi. Duduk tepat di depan meja Laksamana Chen tua, satu persatu anggota ABL masuk. Mister Big, Amish Khan, Penyair, Laksamana Chen muda, Tuan Takur dan akhirnya Mas Jaim yang tergopoh-gopoh dibelakang. Terakhir yang selalu terlambat datang, Tabib Pong menyusul.
Laksamana Chen tua tersenyum lemah, “mereka sepertinya selalu bahagia bersama. Seandainya tuhan tidak mengambil mereka dengan begitu cepat, begitu tiba-tiba.” Ia menelan ludah, “ini adalah masa-masa puncak ABL selaku organisasi, mereka semua masih bujangan. Ada banyak petualangan menanti ke depan.”
Mister Big memandang sekilas ke Laksamana Chen tua yang mengalihkan pandangannya. Sisa-sisa kekuatan Laksamana Chen tua sepertinya telah habis karena kepanikannya tiba-tiba dan sama sekali tidak mampu berdiri, kemudian kilasan kenangan saat itu membayang di matanya. Dulu, Mister Big pernah berkata kepada teman-teman ABL, dengan suara rendah dan malu-malu ada seseorang yang mirip Laksamana Chen di belakang. Kelak, orang tersebut hampir selalu berhadir ketika ABL di lepau nasi, seolah dengan dunianya sendiri. Hanya Penyair! Yang berasumsi bahwa orang tersebut adalah Laksamana Chen tua, menilik masa lalu dengan mesin waktu ketika seluruh ABL meninggal. Tak sangka, orang tersebut memang adalah dirinya. Dan, untunglah Penyair adalah seorang penyair dengan pikiran konyolnya, sehingga tidak ada satu orang pun di antara ABL yang menanggapi serius hipotesa tersebut.
Terdengar tawa berderai-derai. Laksamana Chen tua merasa mual, ia mengeram sakit di perut. Dia mengepalkan tangannya. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Apakah ia di masa depan sanggup kehilangan mereka semua. Takdir ini tidak boleh dibiarkan.
“Andai dulu aku mememiliki pengetahuan yang kumiliki sekarang.” Tunggu dulu! Laksamana Chen tua mengantongi nama-nama orang yang bertanggungjawab atas kematian para sahabatnya. Mereka adalah orang-orang sangat berkuasa di masa depan, tapi itu masih masa depan. Hanya satu kata yang terlintas dikepalanya, “lenyapkan”. Tapi apakah seorang Laksamana Chen bisa membalikkan waktu? Entahlah, tapi setelah apa yang terjadi di masa depan. Ia sanggup melakukan kebrutalan dengan gaya yang anggun, ia akan melakukan serangkaian tindakan berdasarkan keyakinan berapi-api yang justru membekukan hati, sebuah penampilan kehilangan yang menakutkan.
XX
Satu tahun berlalu di Bandar, berbagai pengetahuan yang ia miliki tentang masa lalu membuat Laksamana Chen tua tetap hidup. Ia dapat saja mendiktekan kisah hidupnya dan dengan bangga menyombongkan diri bahwa ia telah menyingkirkan “para pembuat onar” di masa depan yang akan melemparkan Bandar dalam kekacauan. Mungkin saja ia merasa seperti Nabi Khaidir di hadapan Nabi Musa, jika saja ia bercerita. Tapi tidak, dengan menyatakan tugasnya telah selesai. Laksamana Chen merasa sudah saatnya ia kembali ke masa depan, untuk menghadapi kisah berbeda dengan apa yang ia tinggalkan terakhir.
Ia mengendap perlahan, kemudian beristirahat dengan bersandar di dinding lepau nasi. Laksamana Chen tua merasa memang semakin lemah. Misi terakhir telah menguras terlalu banyak energinya. Di sekitar, dia mengamati sekelompok orang yang terlihat begitu semangat. Dilihat dari cara mereka berbicara secara berbicara secara bersamaan, tampaknya mereka membicarakan hal yang sangat penting. Aha, diantara orang-orang tersebut, ia mengenali salah seorang kenalan lama, Barbarossa dan Tabib Pong serta Penyair. Dari balik dinding, ia menajamkan telinga.
“Jadi kapan seri ABL terbaru dikeluarkan!” Kata Barbarossa mendesak.
Penyair menarik nafas tajam. “Sepertinya serial ABL tidak akan ada yang baru.”
“Apa yang terjadi, Penyair?” Tabib Pong berpaling kepada Penyair.
Penyair tersenyum penuh arti. “Tidakkah kalian sadar Barbarossa dan Tabib Pong, kapal Assosiasi ini akan segera karam.”
Barbarossa mengangkat satu alis. “Jangan-jangan Penyair sudah memiliki pilihan hati, jadi ia tidak ingin terlihat rapuh.”
Penyair menggeleng.
“Jika pun di antara kita semua hanya tinggal kita bertiga, tidak selayaknya kisah ini di hentikan. Tidakkah kamu bayangkan Penyair, kisah yang kamu tulis ini menjadi perekat antara kita. Aku sangat senang humor mengalir dalam kisah yang kamu tuliskan.” Kata-kata Tabib Pong merembes keluar ke tempat persembunyian Laksamana Chen. Ia mencoba mengingat, (dulu) kisah mereka tidak pernah dituliskan. Sejarah telah bergeser, dan diantara mereka semua, Laksamana Chen tua paling tahu bahwa Tabib Pong bukanlah penikmat sastra. Di luar bidang pertabiban, Tabib Pong bisa dikatakan tidak pernah membaca!
“Jika kalian bertanya kepada beta, kisah ini baik di hentikan.” Kata Penyair. “Bandar telah menjadi tempat yang kejam. Kisah Assosiasi Budjang Lapok, namanya saja begitu meracuni para reaksioner yang berpikiran sempit untuk menyerang beta.”
Barbarossa kesal. “Aku tidak percaya seorang Penyair serapuh ini. Pasti ada seorang perempuan yang mempengaruhi dirinya, sehingga ia rela mengubah dunianya untuk perempuan tersebut.” Ia melirik Tabib Pong.
Tabib Pong yang diam sedari tadi menganguk-anguk menambahkan, “rapuh.” Diluar Laksamana Chen tua, berusaha keras menahan cekikan. Bagaimanapun, kolaborasi Barbarossa dan Tabib Pong selalu padu. Oleh karena itu mereka dijuluki “testis” oleh yang lain, jika saja Penyair sadar.
Penyair menggerutu, “beta senang menulis komedi, apalagi jika beta melihat sesuatu untuk ditertawakan. Tapi segala sesuatunya berubah terlalu cepat, orang-orang terlalu gelisah dan memanipulasi ketakutan mereka dan akibatnya adalah suatu reaksi yang buruk.” Penyair menghela nafas. “Menurut beta, selaku orang yang kalian percaya menuliskan kisah ini menjadi satu-satunya orang yang diserang paling berat.”
Barbarossa tidak tahan lagi mendengarnya, “Penyair! Kamu bisa tidak berbicara tidak menggunakan perumpamaan yang terlalu sulit dimengerti orang-orang seperti kami.” Ia menunjuk kepalanya.
“Sebenarnya bukan seperti itu Barbarossa, kita kenal Penyair. Dia adalah seseorang yang paling merahasiakan benaknya. Dia paling benci kelemahannya diketahui, aku rasa belakangan ini melalui tulisannya ia merasa terpetakan. Itu menganggunya.” Kemudian Tabib Pong tersenyum nakal, “kesimpulan aku, rapuh.”
Penyair mulai tegang. Dia membuka mulutnya untuk mengubah topik pembicaraan, “Apakah kalian baru-baru ini melihat orang yang mirip Laksamana Chen itu?”
“Dia sudah jarang terlihat.” Jawab Tabib Pong, kelegaan mengalir di wajah Penyair akan tetapi di lain pihak Laksamana Chen tua yang bersembunyi dibalik dinding kebat-kebit.
Tapi Barbarossa tetap fokus memulai omongan besarnya, “Penyair jika kamu tidak ingin kami cap rapuh, lanjutkan menulis cerita Assosiasi Budjang Lapok. Ada banyak hal yang bisa kamu kembangkan disekeliling, meski jumlah kita semakin susut.”
“Baik. Baik. Baik.” Penyair mengulang tiga kali kata baik. “Beta akan menuliskan cerita ABL yang kejam, yang mengerikan. Supaya kalian tahu.”
Tabib Pong dan Barbarossa tertawa senang.
Laksamana Chen tua disisi lain merasa telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Ada detil-detil yang berubah dimasa ini, Laksamana Chen telah memutuskan bahwa akan lebih baik jika orang-orang ini, yang ia cintai tidak boleh mati. Apapun akan dilakukan, bukankah “sebuah keadilan yang ekstrem adalah sebuah ketidakadilan ekstrem”. Ia telah melaksanakan sesuatu hal yang ia rasa perlu dilakukan. Dan telah menemukan penegasan bahwa sejarah telah berangsur berubah.
Dengan senyum lebar, Laksamana Chen tua melangkah ke depan. Dia tersandung ambang pintu dan kehilangan keseimbangannya, terhuyung-huyung jatuh tak sadarkan diri (kembali).
XXX
Orang-orang (bisa) memaafkan segala musuh terkeji dan terjahat (sekalipun). Akan tetapi orang-orang sulit (bisa) memaafkan diri sendiri. Karena penyesalan terdalam bukanlah sebuah kegagalan dalam usaha, melainkan tidak melakukan apa-apa. Membiarkan sesuatu (yang) terbaik dalam hidup pergi tanpa usaha mempertahankannya. Dalam hidup orang-orang memaki masa kini sebagai masa lalu yang cacat, karena beberapa hal dalam hidup (memang) tak tergantikan, sekuat apapun orang-orang mencoba. Wassalam.
Akhirnya aku sadar akan perasaan ini, akhirnya aku mengalaminya. Ternyata sang Durjana pun akhirnya menetapkan pikiran. Selama ini aku ragu akan menghadapi hari ini. Padahal tak pernah sekalipun kuragu terhadap apapun kecuali tentang hal ini. Luasnya samudera tak pernah membuka mataku, jauhnya jarak kulalui tak pernah membuatku tersadarkan akan sesuatu hal yang penting ini.
Akhirnya aku paham perasaan ayahku, pada saat pertama kali bertemu dengan ibuku. Tiada beda perasaan seorang petani dengan seorang lanun. Menghadapi hari ini terasa gemetar, antusias dan gugup beraduk dalam perasaan anak manusia.
Aku tersenyum dan membuang rasa takut ke langit-langit, tapi tak bisa.
Kenapa aku bisa melupakan hal yang sebegitu penting, aku tak boleh menyerah. Banyak hal yang telah aku pelajari, cara dan semangat. Saat melawan musuh yang lebih besar, menyelinaplah di daerah penjagaannya dan gunakan kesempatan. Aku tidak akan menang kalau berpikir tidak akan menang, begitu juga sebaliknya.
Di dalam sejarah, di luar surga, manusia harus siap kecewa, tapi mensyukuri apa yang fana. Kehidupan bukanlah berupa dongeng yang indah, dimana dalam sebuah pembebasan para tokoh Protagonis tak selamanya berhati murni dan memiliki akhlak mulia, terkadang kita harus melihat dengan mata kepala sosok-sosok oportunis dipuja sebagai pahlawan setelah revolusi selesai.
Ada saja manusia yang tidak siap batinnya melihat gerak dinamis dunia. Ada banyak pertanyaan muncul atas hal ikhwal, sebab musabab. Setiap kejadian yang melahirkan berbagai perasaan, pikiran berkecamuk berujung kepada kekosongan. Kebenaran menjadi sebuah ketakutan, sebagaimana pula ketakutan pada kebatilan, nihilisme.
Langit malam, padahal segelap ini. Apa yang kucari? Apa bisa menemukannya? Dimana?
Setiap orang harus memilih antara kebaikan dan keburukan sepanjang hidupnya, namun kehidupan tidaklah berupa hitam dan putih yang terkadang memaksa kita memilih jalan yang tak selamanya putih ataupun hitam. Hidup adalah kondisi, dimana lingkungan terkadang menempatkan orang baik di sisi jahat dan orang jahat di posisi baik.
Keguncangan itu menguncang, ketika mereka yang memperlihatkan kesucian tak putus mengunjing. Sedang mereka barbar semakin kuat, santun dan terdidik. Seperti hal yang dibekali aturan rinci dan baik semakin memperlihatkan kedurjanaan. Sedang para perampok kuno kini mulai mengkilapkan koin mereka dengan memberi sumbangan dimana-mana. Akan sangat menyenangkan apabila kejadian yang terjadi terbalik, tapi itulah kenyataan yang ada. Apa yang salah? Ketika mereka yang berkoar-koar tentang kebaikan berbuat kebusukan terbesar yang pernah ada. Sedang mereka yang diam, berbuat baik tanpa diketahui semakin hari semakin menyusut. Niat adalah awal mula, apakah kita semua melupakan tentang tata cara berniat baik, keinginan berbuat baik.
Ia tak berdaya mengelola masa lalu.
Langit malam, padahal segelap ini. Apa yang kucari? Apa bisa menemukannya? Dimana?
Tiap jagoan perlu ironi. Tiap kali seorang tokoh ditampilkan demikian perkasa, penting untuk ambil jarak. Jarak untuk berpikir lagi, dengan sedikit lelucon. Jarak untuk lebih arif. Ironi membuka pintu ke kearifan itu. Ironi
Orang bijak berkata, kehidupan seseorang layaknya sebuah buku. Bila ingin mengetahui segalanya kita tidak akan mampu bila hanya membaca satu halaman saja. Dan sebuah buku memiliki akhir, dan manusia tidak seperti makhluk lain yang hidup di muka bumi. Manusia menyadari bahwa suatu hari ia akan bertemu dengan sebuah fase yang dinamakan kematian.
Dunia ini tidak ada di buku dan peta. Ini di luar sana. Kau sendiri nanti akan punya banyak cerita, ketika kau pulang. Tidak, dan jika kau lakukan, kau takkan (pernah) sama lagi.
kami semua, tak takut akan gelap. Tapi aku cemas akan kelam. Gelap adalah bagian dari hidup. Kelam adalah putus asa yang memandang hidup sebagai gelap yang mutlak. Kelam adalah jera, kelam adalah getir, kelam adalah menyerah.
(Diduga) Teuku Daud Cumbok (duduk di bawah) berfoto bersama pejabat Belanda dan istri mereka di Sigli tahun 1931.
PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH
Ketika perbedaan menjadi profan, saat itulah pembantaian dimulai. Perang saudara bergetar dengan kemarahan melukiskan kebencian. Tak pelak penghancuran secara keji dan pencurian dengan memanfaatkan kesempatan kerap terjadi. Sebuah sejarah hitam negeri ini dilupakan dan tinggalkan, ini adalah realita kelam Aceh yang para pelaku sendiri menganggap kisah ini terlalu kelam, revolusi sosial. Perang Cumbok.
Latar Belakang Perang Pasifik
Jepang selaku kekuatan baru yang muncul di Asia Timur mampu merebut semenanjung Malaya yang dikuasai Inggris. Sejak diberlakukannya restorasi Meiji di Jepang oleh kaisar Hirohito, negeri Samurai tersebut terus mengadakan ekspansi wilayahnya ke arah barat Asia sehingga berbenturan dengan kekuatan barat yang telah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil Asia. Jepang yang berhasil mempropaganda masyarakat Asia termasuk Aceh sebagai saudara tua dari Asia dan penyelamat bangsa Asia ini, berhasil mengambil hati tokoh-tokoh masyarakat dan politik Aceh termasuk dari golongan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) dan para hulubalang Aceh (Uleebalang). Para perantau Sumatera, khususnya Aceh di Semenanjung Malaya yang sempat menyaksikan keajaiban dan keberanian serdadu Jepang itu segera terpikat oleh kehebatan pasukan samurai tersebut.
Profil Orang Aceh pada masa kolonial
Satu diantaranya adalah Sayid Abu Bakar (1915-1985), mantan guru Madrasah Perguruan Islam Seulimum yang sejak 1941 telah pindah menjadi guru agama pada sebuah Madrasah di Yan, Keudah. Ia terus berusaha melakukan kontak dengan penguasa militer Jepang untuk bergabung dengan pasukan mereka yang akan menyerbu Aceh. (Sayid Abu Bakar (Alaydrus adalah keturunan bangsawan Arab yang lahir di Kampung Jawa, Kutaraja pada tahun 1915. Ia adalah kawan dekat Ali Hasjmy sewaktu belajar di Madrasah Sumatera Thawalib, Sumatera Barat.) Sayid Abu Bakar yang berhasil melakukan kontak dengan pemerintah Militer Jepang, melalui Mayor Fujiwara yang mempunyai misi khusus membina kolone kelima F.Kikan (Fujiwara Kikan) di Taiping, ditunjuk oleh Jepang untuk merekrut perantau Aceh lainnya dan juga perantau Sumatera agar mau bergabung dengan kolone yang dipimpinnya. Para perantau yang berhasil direkrut Sayid Abu Bakar tersebut, kemudian mendapat latihan sebagai agen rahasia di bawah bimbingan Masubuchi Sahei (Ia adalah bekas pedagang yang telah menetap di Sumatera dan Semenanjung Malaya +20 tahun, karena itu amat fasih berbahasa Melayu dan malah telah menulis kamus Jepang-Melayu. Pada tanggal 20 September 1941 ia bergabung dengan Kolone kelima F.Kikan itu. Selama kependudukan Jepang di Aceh ia memainkan peran yang cukup penting berkat berbagai posisi yang ia duduki. Berkat hubungan yang baik antara perantau dengan Jepang inilah dan dibantu oleh masyarakat Aceh yang sudah tidak percaya lagi pada pemerintah Hindia Belanda tersebut, akhirnya pasukan Samurai berhasil menyusup ke Aceh dan memukul mundur pasukan Belanda ke daerah pedalaman.
Pada tanggal 6 Agustus 1897, sebuah unit Korps Marechaussee menyerang bentang kota Soekoen (dekat Sigli) dan membunuh lebih dari 57 pria. Hanya beberapa menit kemudian setelah aksi mereka berpose seraya menginjak mayat para syuhada Aceh untuk fotografer Christiaan Benjamin Nieuwenhuis. Berita kemenangan segera dikirim ke Batavia dan Belanda.
Sejak saat itu, Aceh memasuki babak baru di bawah kependudukan Jepang dan berhasil mengusir pemerintah kolonial Belanda serta membubarkan Zelfbestuurder (Pemerintahan Swapraja) bentukan Hindia Belanda Kemenangan para perantau Aceh yang didominasi oleh para ulama dan sebagian hulubalang ini, dalam menyusupkan serdadu Jepang ke tanah air serta mengusir para penjajah Belanda, tidak mendapat dukungan penuh dari mayoritas Zelfbestuurder (Pemerintahan Swapraja) bentukan Hindia Belanda tersebut. Zelfbestuurder yang dijabat oleh golongan hulubalang ini merasa panik karena dengan kemenangan Jepang itu, posisi mereka sebagai raja-raja kecil di daerah akan ikut terenggut. Apalagi, Jepang yang masuk ke Aceh di dukung penuh oleh para ulama, rival politik para Uleebalang di Aceh. Sementara itu, penguasa militer Jepang yang memegang otorisasi penuh di Aceh tidak mau ambil pusing dengan perselisihan kedua elit politik tersebut. Mereka malah memanfaatkan keadaan ini untuk mengambil hati kedua golongan guna memenangkan perang Asia Timur Raya.
M. Isa Sulaiman menuliskan, dalam penyelenggaraan pemerintahan di Aceh, Pemerintah Militer memberlakukan kebijaksanaan pemerintahan dengan tidak mempergunakan elit lokal secara tidak langsung. Beberapa kaum bangsawan yang bersimpati kepada F.Kikan seperti T. Nyak Arief, T. M. Ali Panglima Polem, T. Cut Hasan (1900-1946) dan T. Ahmad Jeunieb dipercayakan pada guncyo (kepala wilayah) yang sebelumnya konteler tersebut dipegang oleh Belanda. Dikarenakan jumlah guntyo mencapai 21 buah, maka para hulubalang yang berpengaruh seperti T. M. Hasan Glumpang Payong, T. M. Daud Cumbok, T. Chik Mahmud Meureudu dan T. Chik M. Daudsyah dipromosikan menjadi guntyo di daerahnya. Hanya Sayid Abu Bakar dan Marah Husein, aktivis Muhammadyah di Tapak Tuan yang memperoleh jabatan guntyo dari F. Kikan non-Uleebalang. Mereka masing-masing menjadi guntyo di Bakongan dan Singkil. Sementara Uleebalang yang tidak mendapat kedudukan direstorasi kembali pada kedudukan semula dengan sebutan son tyo. Posisi hulubalang dalam jabatan barunya guntyo dan son tyo tidak lebih sebagai instrumen kekuasaan militer yang oleh T. Idris, mantan gun tyo Bakongan, 1943-1944 dan guntyo Bireuen 1945-Maret 1946 diklasifikasikannya sebagai ”guntyo sebagai mandor I dan Sun tyo sebagai mandor II”.
Para Uleebalang yang telah mendapatkan promosi sebagai guntyo dalam pendudukan Jepang tersebut, dikemudian harinya memperolok-olok para ulama yang tergabung dalam F. Kikan. Mereka menertawakan para ulama tersebut karena belum diangkat sebagai pegawai administrasi militer. Padahal para aktivis F. Kikan tersebut sudah sangat berjasa dan bekerja keras untuk Jepang. Bahkan, T.M. Hasan Glumpang Payong, T. Cut Hasan dan T. M. Daud Cumbok sempat memberikan laporan pada pihak kempetai (polisi rahasia) yang bersifat memojokkan pemimpin-pemimpin Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Akibatnya, beberapa pimpinan ulama ini seperti Tgk. M. Daud Beureueh, Tgk. A. Wahab Seulimum, T. M. Amin, Tgk. A. Husin Al Mujahid dan Abu Bakar Adamy sempat diintrogasi oleh kempetai, walaupun mereka dapat melakukan pembelaan diri.
”Dalam situasi penuh kecurigaan, hubungan akrab yang terjalin oleh seseorang atau kelompok dengan Jepang telah ditanggapi dengan penuh kecurigaan oleh lawan mereka. Konon lagi bila keluar sesuatu kebijakan atau tindakan Penguasa Militer yang merugikan kepentingan mereka. Sebab menurut pandangan pihak yang dirugikan lahirnya kebijakan itu tidak terlepas dari lobi lawan mereka,” sebut Isa Sulaiman dalam bukunya, Sejarah Aceh halaman 102. Ketegangan antara dua kelompok bersaing itu semakin terpicu saat Penguasa Militer mencopoti kekuasaan kepolisian dan kehakiman hulubalang melalui pembentukan pengadilan negeri (ku hoin) dan pengadilan agama (kadhi tyo) di tiap wilayah hulubalang pada permulaan tahun 1944.
Isa Sulaiman menyebutkan, kebijaksanaan yang merugikan posisi mereka itu sudah dapat dipastikan mendapat reaksi keras dari golongan Uleebalang. T. Nyak Arief, ketua Aceh Syu Sangi Kai dan T. M. Hasan Glumpang Payong, waktu itu memegang jabatan guntyo Kutaraja / wakil ketua Aceh Syu Sangi Kai melakukan protes keras kepada Pemerintah Militer (Gunseikanbu).
Reaksi dari para Ulee Balang juga terjadi di level bawah. Pengadilan yang sudah dikukuhkan oleh Jepang dengan Ibnu Saadan menjabat sebagai hakim pada Tiho Hoin Sigli (1943-1944), diadukan oleh T. M. Daud Cumbok dan T. M. Hasan Glumpang Payong kepada kempetai Sigli. Ia dituduhkan telah mempunyai hubungan erat dengan konteler Lameulo. Akibatnya, Ibnu Saadan ditahan (1944) dan baru dapat lolos dari hukuman setelah adanya campur tangan dari Tgk. M. Daud Beureueh. Rasa tidak puas terbesar para hulubalang ini, tentunya ditujukan penuh kepada pemerintah militer Jepang karena seluruh kebijaksanaan yang diterapkan sangat merugikan pihak mereka. Sehingga pada tahun 1944, para Ulee Balang yang sakit hati pada pemerintah Nippon itu meleburkan diri dalam gerakan bawah tanah yang diorganisir oleh O. Treffers (mantan assisten residen Aceh Besar). Akhir tahun 1944, banyak Uleebalang yang ditangkap pihak kempetai akibat adanya laporan dari lawan politik mereka. Hulubalang yang ditangkap ini, sepenuhnya terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah. Mereka yang mempunyai jabatan dalam struktur administratif pemerintahan militer digantikan karena dianggap sebagai pengkhianat dan kemudian digantikan oleh kerabatnya yang loyal dengan kelompok radikal.
Pergeseran Kekuasaan dan Kekalahan Jepang Atas Sekutu
Kekalahan Jepang atas sekutu dengan di bom atomnya kota Nagasaki dan Hiroshima oleh Amerika Serikat, baru diketahui secara resmi oleh masyarakat Aceh pada tanggal 25 Agustus 1945. Peristiwa kekalahan Jepang ini, tentu saja sangat berpengaruh pada para pemimpin Aceh yang telah terlalu jauh menjalin hubungan dan bekerjasama dengan Jepang. Sebaliknya, hulubalang yang sangat dirugikan akibat kebijakan-kebijakan pemerintahan militer Jepang tersebut, menyambut baik kekalahan negeri matahari terbit itu dengan membentuk Comite van Ontvangst (komite penyambutan) pada Belanda yang akan kembali memerintah Aceh. Suatu hal yang sangat menjatuhkan kredibilitas orang Aceh tentunya, karena terlalu senang dengan kemenangan kekuatan asing yang sebenarnya adalah kaum penjajah.
Faktor Utama Perpecahan Ulama dan Uleebalang
Uleebalang yang dipercaya sebagai zelfbestuurder pada masa kesultanan merupakan ’raja-raja’ kecil yang absolut. Mereka memegang kekuasaan turun temurun atas nama sultan. Namun semakin lama kekuasaan yang dipegang oleh Uleebalang ini, ikatan antaranya menjadi lemah dan kemudian memutuskan serta memisahkan diri dari pemerintahan sultan secara diam-diam. Pemisahan diri ini tentu saja memudahkan para penjajah yang memasuki Aceh untuk mempengaruhi raja-raja kecil tersebut. Uleebalang yang sebelumnya bahu membahu dengan ulama memerangi penjajah Belanda, lambat laun berubah dan memihak serta setia kepada Belanda. Sementara ulama tidak pernah menerima ”kekuasaan Belanda” itu. Karenanya, tidak mengherankan apabila pada bulan Maret 1942 ketika terjadi pemberontakan terhadap Belanda dan ulama yang bergabung dalam Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) mengijinkan serta bekerjasama dengan Jepang untuk memasuki Aceh. Faktor tersebut terus memperuncing hubungan kedua belah pihak. Ulama akhirnya mengambil keputusan untuk memerangi uleebalang dengan maksud menghapus sistem pemerintahan feodal bersama dengan kekuasaan Belanda apabila perang pasifik meletus. (El Ibrahimy, Peranan Tgk. M. Daud Beureueh dalam Pergolakan Aceh).
Daud Beureueh bersama kaum Ulama Aceh
Kabar tentang adanya Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang sampai ke Aceh pada bulan September dengan perantaraan kawat yang dikirim oleh A.K Gani, Komisaris Pemerintah Pusat untuk Sumatera di Palembang, mendapat sambutan dingin dari beberapa uleebalang. Mereka malah mencemooh proklamasi tersebut dan bermaksud menggagalkannya. (Abdullah Arif dalam tulisannya Di Sekitar Pengkhianatan Cumbok). Tindakan yang dilakukan para uleebalang tersebut akhirnya memunculkan satu kesepakatan final bagi para ulama untuk memerangi zelfbestuurder tersebut secara terang-terangan. Dimulai pada saat Jepang menyerahkan senjatanya, tanggal 4 Desember 1946 di Sigli. Dalam peristiwa tersebut terjadi pertumpahan darah dalam memperebutkan senjata Jepang itu, antara ulama dan uleebalang. Walaupun pertempuran itu dapat dipadamkan oleh pemerintah daerah Aceh yang sudah dibentuk sejak Indonesia merdeka pada tanggal 6 Desember, akan tetapi persengketaan antara kedua belah pihak terus berlanjut. Peristiwa ini, kemudian dikenal dengan sebutan Peristiwa Cumbok.
Kronologis Perang Cumbok
El ibrahimy dalam kesaksiannya menuliskan bahwasanya di Pidie yang menjadi pusat kekuatan dari dua golongan yang berbeda, sering kali terjadi benturan-benturan antar uleebalang dengan ulama. Setelah Jepang kalah pada bulan Agustus 1945, seratus lebih uleebalang yang memerintah Aceh berabad-abad secara absolut monarki tipe kecil di bawah lindungan Belanda ikut terseret dalam kekalahan.
November 1945, suhu politik di daerah ini mulai panas. Faktor utama penyebabnya adalah T. Daud Cumbok yang tak dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru akibat timbulnya proklamasi kemerdekaan Indonesia. T. Daud Cumbok cs menghendaki agar Jepang menyerahkan senjatanya kepada mereka dengan pertimbangan karena Jepang adalah sahabat mereka. Selain itu, pada saat Jepang masih berkuasa mereka pernah menjanjikan akan memberikan kemerdekaan kepada rakyat Indonesia. Hal inilah yang menginspirasikan T. Daud Cumbok untuk mengambil senjata Jepang sebagai itikad baik mereka dalam membantu perjuangan Indonesia. Sementara T. Nyak Arief selaku Residen Aceh merasa gusar jikalau senjata tersebut akan jatuh ke tangan rakyat karena kondisi keamanan masih belum stabil. Ia mengirimkan utusannya ke Sigli untuk menemui Jepang dan meminta mereka, menyerahkan senjatanya ke pihak Tentara Keamanan Rakyat (TKR) selaku tentara resmi dari pemerintah Indonesia.
Pihak Jepang yang ditemui oleh utusan residen Aceh itu merasa keberatan melakukan penyerahan senjata secara cepat. Mereka atas dasar intruksi Iino, bekas Gubernur Pemerintahan Militer Jepang di Aceh, akan terus memelihara pertentangan antara ulama dan uleebalang. Bahkan harus lebih dipertajam dengan maksud untuk mengalihkan perhatian dan tekanan orang-orang Aceh atas tentara Jepang yang dikonsentrasikan di Banda Aceh, guna diberangkatkan kembali ke Jepang. Atas dasar intruksi Iino im Muramoto membuat kalkulasi bahwa perimbangan kekuatan (balance of power) antara dua golongan yang bersaing itu harus dipelihara. Karenanya, kekuatan uleebalang yang menurut kalkulasi Muramoto pada akhir November agak lemah, secara rahasia ia memerintahkan untuk melakukan penyerahan selusin senjata pada pihak tersebut yang diterima oleh T. Tjut Hasan, Gunco Sigli. Disisi lain, Muramoto berjanji secara terpisah kepada masing-masing pihak nanti pada tanggal 4 Desember senjata-senjata Jepang baru akan diserahkan sepenuhnya. Minggu akhir bulan November, ketegangan di Kabupaten Pidie memuncak. Kira-kira 200 orang yang bersenjata dari pengikut uleebalang Pidie, T. Pakeh Sulaiman, secara diam-diam pada tengah malam memasuki kota Sigli. Semua jalan masuk ke kota tersebut diblokade dan semua tempat yang strategis di duduki. Dari Lam Meulo datang pula massa lainnya yang tergabung dalam TentaraCap Sauh di bawah pimpinan T. Abdullah Titeu dan Tentara Cap Tumbak di bawah pimpinan T. Sarong Peudada. Menurut sebagian penulis, tulis El Ibrahimy, tujuan uleebalang memasuki kota Sigli tersebut guna mendahului kaum ulama dan PRI menguasai senjata yang akan diserahkan oleh Jepang pada tanggal 4 Desember. Akan tetapi pada kenyataannya, perebutan senjata Jepang tersebut dilakukan untuk kepentingan perjuangan mereka sesuai dengan rencana yang telah disusun.
Dilain pihak, PRI dibawah pimpinan Hasan Ali dan Husin Sab mengerahkan pengikut-pengikutnya bersama dengan ribuan rakyat dari Garot dan Gigieng untuk mengepung kota Sigli. Begitu pula dengan keresidenan Aceh. T. Nyak Arif mengirimkan Sjamaun Gaharu dengan satu pasukan kecil dari TKR untuk mencoba mencari penyelesaian. Turut pula dalam peristiwa itu T. Panglima Polem Mohd. Ali selaku Wakil Residen yang mewakili Pemerintah Daerah Aceh dan T. Djohan Meuraxa selaku Wakil Gubernur Sumatera. Mereka berhasil mendesak pasukan Jepang untuk menyerahkan senjatanya kepada pihak berwajib (dalam hal ini adalah pemerintah Indonesia). Melihat situasi yang tidak menguntungkan, Nippon akhirnya menyerahkan seluruh senjata mereka kepada TKR dengan beberapa perjanjian, antaranya jaminan keselamatan nyawa dan harta benda tentara Jepang, berada sepenuhnya ditangan pemerintah Indonesia. Sebelum perjanjian ini ditandatangani, pihak TKR melalui Sjamaun Gaharu pada pukul 03.00 WIB menjumpai pimpinan-pimpinan PRI/PUSA yang berada ditengah ribuan rakyat diluar kota Sigli. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk membujuk mereka agar mau membubarkan diri karena persoalan senjata Jepang yang menjadi pemicu konflik telah diselesaikan oleh pihak pemerintah yang sah. Dengan kata lain, ketakutan mereka akan jatuhnya senjata Jepang ke tangan para uleebalang tidak akan terjadi lagi. Namun ditengah mediasi yang dilakukan pihak TKR ini, tiba-tiba dari arah uleebalang berkumpul yakni di depan rumah T. Pakeh Sulaiman, uleebalang Pidie terdengar letusan senjata sebanyak tiga kali yang diarahkan ke arah massa demonstran. Keadaan menjadi panas kembali. Banyak rakyat yang berada diluar kota Sigli tertembak. Pihak TKR yang berada di barisan rakyat demonstran dan bersenjata akhirnya membalas tembakan tersebut. Peperangan yang dihindari pun terjadi. Sebanyak 50 orang kurang lebih menjadi korban. Dominannya dari pihak PRI dan PUSA Padang Tiji dan T. Rizal salah satu anggota TKR yang berada di kerumunan demonstran PRI serta ajudan Sjamaun Gaharu. Guna mengantisipasi perlawanan pihak uleebalang dan melakukan perdamaian, Residen Aceh kembali mengirimkan satu detasemen TKR dari Kutaraja. Akan tetapi, tugas tentara TKR ini terbendung oleh sikap rakyat di Seulimum yang melucuti senjata mereka. Residen Aceh tak kehilangan akal. Ia kembali mengirimkan Polisi Istimewa ke Sigli bersama dengan T. Hamid Anwar, Ka.Staf TKR di Kutaraja. Pengerahan polisi rahasia ini berhasil menenangkan suasana. Pihak yang bersangkutan bersedia berembuk dan pada tanggal 6 Desember 1945 dicapailah sebuah keputusan untuk melakukan perdamaian.
Residen Aceh kembali mengirimkan satu detasemen TKR dari Kutaraja. Akan tetapi, tugas tentara TKR ini terbendung oleh sikap rakyat di Seulimum yang melucuti senjata mereka. Residen Aceh tak kehilangan akal. Ia kembali mengirimkan Polisi Istimewa ke Sigli bersama dengan T. Hamid Anwar, Ka.Staf TKR di Kutaraja. Pengerahan polisi rahasia ini berhasil menenangkan suasana. Pihak yang bersangkutan bersedia berembuk dan pada tanggal 6 Desember 1945 dicapailah sebuah keputusan untuk mengadakan gencatan senjata.
Klimaks Pertentangan Uleebalang dan Non Uleebalang
Peristiwa Sigli telah memperluas jurang pertentangan antara kaum ulama dan uleebalang. Ini merupakan testcase bagi masing-masing pihak. Dari peristiwa tersebut pihak ulama atau PUSA mengambil pelajaran yang berharga. Guna menghadapi uleebalang yang lebih lengkap persenjataannya tidak cukup dengan jumlah massa yang banyak dan pekikan Allahu Akbar semata. Mereka harus mempunyai senjata yang lengkap dan pergerakan yang teroganisir dengan baik. Sedangkan pihak uleebalang menilai peristiwa Sigli merupakan ancaman yang serius bagi kedudukan mereka. Karena itu untuk mengatasi hal tersebut mereka tidak boleh merasa berbelas kasih kepada lawan. Dengan kata lain, pihak uleebalang merasa perlu mengambil tindakan tegas dan keras dengan membentuk komando yang kuat dan tidak kenal kompromi dalam menghadapi lawan. Guna memuluskan rencana mereka tersebut, pihak uleebalang mengutus beberapa perwakilannya untuk menemui dan meminta bantuan Belanda di Medan. (Anthony Reid, Op.cit,.hal 200).
Pihak uleebalang juga mengangkat T. Daud Cumbok selaku pucuk pimpinan yang kemudian melakukan machtsvertoon (unjuk kekuatan) secara besar-besaran dengan menembaki rumah-rumah penduduk menggunakan karaben, metraliur dan mortir. Selain itu, mereka juga mulai melakukan penangkapan-penangkapan dan pembunuhan terhadap pimpinan organisasi pemuda. Berada dibawah pimpinan T. Daud Cumbok pergerakan uleebalang semakin ganas. Dalam pemahamannya Cumbok tidak mengenal falsafah diplomasi. Ia hanya mengenal cara diktator dan tirani dengan unjuk kekuatan melalui senjata. Atas dasar inilah, T. Daud Cumbok menolak bertemu dengan Gubernur Sumatera, Mr. T. Mohd. Hasan yang sengaja datang ke Aceh. Ia hanya mengirimkan adiknya, T. Mahmud untuk menyampaikan bahwa kejadian-kejadian dan sengketa yang terjadi di Aceh merupakan kesalahan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang telah mengepung Lam Meulo.
”Pada tanggal 16 Desember 1945, mereka mulai mempergunakan senjata berat. Dengan senjata-senjata ini mereka menembaki kampung-kampung disekitar Lueng Putu dan Meutareum. Disusul pula dengan pembakaran-pembakaran,” jelas Mr. S. M. Amin dalam bukunya, Kenang-kenangan Masa Lampau halaman 135.
Daud Beureueh
Peristiwa ini menggerakkan Tgk. M. Daud Beureuh untuk melaporkan tindakan Cumbok ke Forum Komite Nasional Daerah Aceh yang sama sekali tidak ditanggapi. Tidak habis akal, Ia juga mengadukan tindakan Cumbok tersebut kepada T.T Mohd Said, Assisten Residen Sigli. Namun setelah melakukan penyelidikan secara langsung ke Lam Meulo, T.T. Mohd. Said mengatakan penembakan itu merupakan ketidaksengajaan yang disebabkan efek dari sebuah latihan. Keterangan dari Assisten Residen Sigli ini, tentu saja menimbulkan kecurigaan dari rakyat akan keberpihakan dirinya pada kaum uleebalang. Karenanya, T.T. Mohd. Said menjadi target kemarahan rakyat sama dengan T. Tjut Hasan Guncyo Sigli yang telah menyediakan rumahnya menjadi kubu pertahanan barisan uleebalang. Tindakan uleebalang tidak hanya sekedar memborbardir perkampungan penduduk. Mereka kembali melakukan aksi dengan melakukan pembakaran rumah sekolah agama di Titeue dan kantor kehakiman di bebarapa tempat pada tanggal 20 Desember 1945.
Serangan Umum ke Cumbok
Pihak ulama dan rakyat non uleebalang yang terdiri dari PUSA, Pemuda PUSA dan PRI serta yang lainnya mengkonsolidasikan diri untuk membentuk organisasi perlawanan atas aksi-aksi anarkis pihak uleebalang tersebut. Mereka membentuk suatu badan perjuangan rakyat yang dinamakan Pusat Markas Barisan Rakyat yang berkedudukan di Garot di bawah pimpinan Hasan Ali dan dibantu oleh T. A Hasan. Selain itu, mereka juga mendirikan cabang-cabang di Glee Gapui dibawah pimpinan Hasballah Daud dan di Gigieng di bawah pimpinan Mohd. Husin. Dengan terbentuknya badan perjuangan rakyat ini, peperangan antara kedua belah pihak telah berada di puncak klimaksnya. Pihak uleebalang yang sama sekali tidak memperdulikan akan berdirinya badan perjuangan rakyat tersebut, pada tanggal 30 Desember 1945 kembali menyerang Meutareum dan kampung-kampung sekitarnya seperti Ilot, Lagang, Lala dan Pulo Kameng. Tentara Cumbok merajalela, merampok dan merampas berbagai macam harta kepunyaan rakyat serta melakukan pembakaran-pembakaran rumah rakyat.
Tindakan anarkis pihak uleebalang kali ini, kembali dilaporkan Tgk. M. Daud Beuereueh ke Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh sembari membawakan bukti-bukti fisik berupa pecahan mortir dari lokasi Tempat Kejadian Pekara (TKP). Melihat bukti-bukti ini, pihak KNID Aceh mengadakan rapat umum dan menemui jalan buntu hingga waktu siang hari. Melihat rapat yang terkesan berjalan di tempat ini, Sjamaun Gaharu berinisiatif untuk mengalihkan persoalan ini ke Markas Umum Daerah Aceh. Di dalam rapat Markas Umum Daerah Aceh akhirnya didapar sebuah kesimpulan bahwa perusuh-perusuh yang bertindak di luar Pidie yang berpusat di Cumbok merupakan pengkhianat tanah air (musuh negara RI). Sementara di rapat kedua MUD Aceh kembali mengambil kesimpulan bahwa kekacauan di Luhak Pidie dilakukan oleh NICA dan kaki tangannya. Resolusi yang diambil waktu itu adalah berupa ultimatum agar Cumbok menyerah atau digempur sekira pukul 12.00 pada tanggal 10 Januari 1946. Namun, ultimatum tersebut sama sekali tidak digubris pihak Cumbok. Karena pasukan Cumbok begitu keras kepala akhirnya pihak pemerintah mengadakan serangan umum secara besar-besaran di Lam Meulo yang dibantu oleh rakyat.
Sementara itu rakyat yang telah lebih dahulu mengambil tindakan pada tanggal 7 Januari 1946 telah menyerang Lueng Putu dengan melancarkan serangan dari tiga jurusan. Dari selatan, massa rakyat dipimpin oleh Nyak Hasan dibantu oleh Tgk. Ahmad Abdullah, T. H. Husin, T. H Zainal Abidin dan Peutua Ma’ Ali. Dari timur menyusuri rel kereta api serangan dipimpin oleh pasukan-pasukan raja Uma, Muhd Tahir dan Said Umar. Sementara dari Timur menyusuri jalan raya serangan ke Cumbok dilancarkan oleh pasukan-pasukan A. Gani Mutiara/Sjamaun Gaharu dan Nyak Ishak/Daud Hasan. Lueng Putu berhasil dilumpuhkan setelah penyerangan dari segala jurusan dan memakan korban, termasuk T. Laksmana Umar yang terbunuh serta salah satu panglima Hasballah Hajji, dari pasukan PUSA tertembak di kepala tapi masih bisa diselamatkan. Tanggal 10 Januari 1946, pasukan rakyat berhasil memasuki Teupin Raya tanpa perlawanan berarti. Satu hari kemudian, barisan rakyat kembali menyerang Beureuneun dan mampu mematahkan pertahanan uleebalang yang berada di Blang Malu.
Tepat pada tanggal 12 Januari 1946, sesuai dengan ultimatum yang diberikan MUD Aceh, pihak rakyat bersama TKR dan PUSA melakukan serangan umum ke Lam Meulo selaku benteng pertahanan terkuat pihak uleebalang. Pertempuran besar-besaran itu telah banyak memakan korban. Barisan rakyat baru berhasil memasuki Kota Lam Meulo pada tanggal 13 Januari 1946 dan menyaksikan bekas-bekas pertempuran dan perlawanan hebat di dalamnya. Halaman rumah T. M. Daud Cumbok yang menjadi basis pertahanan uleebalang, porak poranda akibat hantaman artileri. Meskipun kota Lam Meulo dapat diduduki, namun Panglima Cumbok dan staf-stafnya berhasil melarikan diri. Ia baru berhasil ditangkap pada tanggal 16 Januari 1946 di atas Gunung Seulawah Jantan oleh barisan rakyat dari Seulimum pimpinan Tgk. Ahmad Abdullah. Sementara T. Muda Dalam, uleebalang Bambi dan Unoe yang terlibat dalam pemberontakan tersebut melarikan diri ke rumah Tgk. H. Abdullah Ujong Rimba untuk memohon perlindungan. Akan tetapi oleh Tgk H. Abdullah Ujong Rimba ia diserahkan kepada rakyat. Atas keberhasilan penangkapan pimpinan-pimpinan Cumbok tersebut, runtuhlah kekuasaan uleebalang yang memerintah Aceh selama berabad-abad dibawah lindungan Belanda.
Setelah uleebalang diseluruh Aceh ditumbangkan, landschap-landschap yang tadinya diperintah oleh uleebalang atas dasar sistem absolut monarki tipe kecil dibawah lindungan Belanda, dirombak menjadi kecamatan-kecamatan yang diperintah oleh camat atas dasar sistem demokrasi yang bersumber kepada UUD 1945. Nama-nama landschap dan kota-kotanya juga ditukar. Landschap Cumbok misalnya, berubah menjadi Kecamatan Sakti dan Kota Lam Meulo yang merupakan markas besar daerah Perang Cumbok berubah menjadi Kota Bakti.
Suara itu bergetar. “Saya tidak mau membicarakannya,” kata Profesor Teuku Ibrahim Alfian, ahli sejarah dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ayah dan ibu Ibrahim memang selamat dari Perang Cumbok, Aceh, 1946. Tapi nenek, kakek, paman, juga banyak sepupunya jadi korban massa yang marah pada keluarga uleebalang, bangsawan. “Saya tak tahu di mana kubur mereka sampai kini,” kata Ibrahim.
Dan bukan hanya Ibrahim Alfian yang berduka. “Kita semua menangis mengenang kejadian berdarah itu,” kata Farhan Hamid. Farhan adalah anak ketiga dari Teungku Abdul Hamid-akrab dipanggil Ayah Hamid-ulama, juga sahabat Teungku Daud Beureueh.
Perang yang terjadi pada tahun 1946 hingga 1947 dan berpusat di Pidie ini, timbul karena adanya kesalahan peran dan tafsir dari kaum ulama dan Uleebalang (kaum bangsawan) terhadap proklamasi Indonesia, 17 Agustus 1945. Seperti disebut James T. Siegel, antropolog dari University of California, dalam bukunya The Rope of God (1962), Perang Cumbok tak bisa lepas dari konteks tatanan sosial pada saat itu. Tatanan yang sengaja dibangun demi kepentingan Belanda.
Snouck Hurgronje
Awalnya, 1867, Sultan Aceh diminta tunduk pada kedaulatan Hindia Belanda, yang berpusat di Batavia. Sejak itulah muncul gelombang perang panjang lagi mahal yang melahirkan pahlawan nasional sekelas Cut Nyak Dien, Teuku Umar, dan Teungku Cik Di Tiro (1867-1942). Bagi kaum ulama, proklamasi ini berarti telah berakhirnya kezaliman yang sudah lama dialami bangsa Indonesia, khususnya Aceh dari penjajahan Belanda dan Jepang. Sementara, sebagian pihak lain dari kaum bangsawan melihat larinya Jepang harus diganti dengan Belanda sebagai upaya untuk memulihkan kekuasaan tradisional mereka yang sebagian besar telah dimarginalkan Jepang dan besar ketika Belanda berkuasa. Demi memenangi perang, Belanda menugasi Snouck Hurgronje, ahli ilmu Islam, guna mempelajari karakter masyarakat Aceh. Dalam The Atjehnese (1906), Snouck menganjurkan Belanda memanfaatkan uleebalang. Setiap uleebalang punya wewenang penuh mengendalikan nanggroe (negeri). Ada 103 nanggroe di Aceh. Kekuasaan sebesar itu mendorong bangsawan seperti Teuku Haji Cik Mohamad Johan Alam Syah, dari Peusangan, memakmurkan rakyatnya. Ia mengadopsi teknologi irigasi dan pendidikan, dan akomodatif terhadap ulama. Sebaliknya Teuku Keumangan Oemar. Ia jadi gila kuasa: menguasai lebih dari separuh areal persawahan di nanggroe. Kala terbit sengketa di masyarakat, uleebalang seperti Oemar berpihak pada Belanda. “Mereka punya hakim, pengadilan, polisi, juga penjara sendiri,” kenang M. Nur El Ibrahimy, menantu Daud Beureueh.
Jepang masuk pada 1942, polarisasi lama mulai menampakkan wujud yang pukul rata: para uleebalang di satu pihak, rakyat bersama ulama di pihak lain. Lalu, 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan menajamkan polarisasi itu. Sang kabar tak cepat sampai, tapi segenap ulama Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA)-dipimpin Teungku Daud Beureueh-lalu menyambutnya gegap-gempita, langsung menyatakan sumpah setianya. Namun, kubu uleebalang tak sejelas itu. Ada Teuku Nyak Arief, Teuku Hamid Azwar, dan Teuku Ahmad Jeunib yang mendukung Republik. Tapi ada Teuku Daud Cumbok yang lebih merindukan kembali datangnya Belanda. Wajarkah hal ini? Tak demikian bagi Profesor Anthony Reid, penulis buku The Blood of the People Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra.
“Dia sangat berani, kalau tidak boleh dibilang nekat dan sembrono,” kata Reid, yang kini Direktur Asia Research Institute (ARI), Singapura. Di tengah-tengah suasana gandrung kemerdekaan, Daud Cumbok malah gembar-gembor Indonesia belum siap merdeka. Ada banyak cerita tentang dia. Pasar malam di Lam Meulo, markas Daud Cumbok, punya judi dan mabuk sebagai menu utama-simbol pelecehan ulama. Ia memerintahkan penurunan bendera Merah-Putih, penggerebekan rumah para pemimpin PUSA. “Daud Beureueh kami ungsikan ke rumah penduduk di Desa Garot, Metareum,” kata Nur Ibrahimy. Akhirnya, Desember 1945, pemerintah pusat memaklumkan Teuku Daud Cumbok pengkhianat Republik dan harus dihukum. Sang uleebalang menampik.
Proklamasi hanya menjadi momentum puncak untuk terjadinya konflik antara ulama dan Uleebalang di sekitar Pidie. Akhirnya, Uleebalang dipimpin Teuku Keumangan dengan Panglimanya T. Daud Cumbok dan perlawanan rakyat dipimpin Daud Beureueh dengan panglimanya Husin Al-Mujahid. Dalam perlawanan, pasukan Cumbok bahkan telah menguasai kota Sigli, Pidie. Namun penguasaan itu tidak berlangsung lama karena adanya mobilitas perlawanan rakyat yang dilakukan ulama mengakibatkan pasukan Cumbok terpaksa kembali ke markas di Lamlo atau kota Bakti.
Pada 10 Januari 1946, ribuan rakyat, ulama, dan tentara Angkatan Perang Indonesia (API)-sebagian komandannya kaum ningrat-menyerang markas Cumbok di Lam Meulo. Tiga hari pertempuran sengit berlangsung. Senapan, meriam saling berbalas. Hari ke-empat, mereka kabur ke hutan. Pertempuran resmi berakhir 17 Januari 1946. Nama Lam Meulo diganti menjadi “Kota Bakti” guna menghormati ratusan orang yang gugur di sana.
Tapi, kemarahan massa tak lekas reda, revolusi sosial meletup. Rumah indah milik Teuku Oemar Keumangan beserta seluruh isinya-senilai Rp 12 juta (masa itu) saat itu-dibakar habis. Tapi Teuku Ahmad Jeunib, yang jelas-jelas menyatakan setia pada Republik-tidak luput dari pembantaian. Para korban termasuk orang tua dan anak-anak uleebalang yang tak berdosa. Farkhan Hamid ingat satu peristiwa yang dituturkan oleh ayahnya. Serombongan orang meminta ayahnya datang ke sebuah lapangan. Di sana, puluhan orang bersiap-siap menghabisi belasan bocah, anak-anak para uleebalang. Ayah Hamid terperanjat, berteriak: “Tunjukkan padaku hukum Allah yang membenarkan tindakan ini.” Massa terdiam. Anak-anak itu lantas dilindungi di pesantren milik keluarganya.
Salah satu keturunan uleebalang yang selamat, dia tidak mau disebut identitasnya, menolak berkomentar. “Saya ini sudah uzur, lebih baik tak usah ngomongin hal itu,” katanya. Terlalu pahit.
XX
Pramoedya Ananta Toer begitu kagum pada semangat juang orang Aceh. Bagi Pram, apa yang ditunjukkan oleh orang Aceh dalam perang melawan Belanda adalah wujud dari jiwa revolusioner. Berbeda dengan Pram, yang revolusionernya diinspirasi oleh Marxisme, orang Aceh mendasarkannya pada agama Islam.
Pandangan Pram adalah sama dengan bapak bangsa kita dahulu. Bahwasanya ideologi sesungguhnya bukan persoalan yang mendasar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Terpenting ideologi itu adalah cara atau alat untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Perbedaan yang sering terjadi justru dalam hal metode perjuangan itu sendiri. Apakah harus dengan kekerasan atau tidak. Jika tidak menggunakan kekerasan pertanyaaan selanjutnya adalah: apakah harus bekerja sama dengan Belanda (kooporatif) atau tidak. Istilah “revolusioner” yang dimaksud oleh Pram tentu kekerasan bersenjata. Untuk cara yang satu ini, Aceh telah melahirkan pejuang-pejuang pemberani di Medan Perang. Teuku Umar dan Istrinya, Cut Nyak Dien; ulama karismatik, Teungku Cik Di Tiro; pejuang wanita Cut Meutia; serta seorang bangsawan bernama Panglima Polim. Gambar wajah mereka menghiasi dinding-dinding kelas di sekolah-sekolah. Dan nama-nama mereka dipakai sebagai nama jalan di seantero Indonesia.
Meski melahirkan pahlawan medan perang, Tanah Rencong juga melahirkan pejuang-pejuang di arena politik. Salah satunya adalah Teuku Nyak Arif. Nama ini memang tidak sepopuler Teuku Umar dan Cik Di Tiro. Tapi jasanya bagi negara Indonesia tidak kurang dibandingkan nama-nama itu.
Teuku Nyak Arif dilahirkan di Kutaraja pada tahun 1899, tahun di mana pistol Belanda menembus dada Teuku Umar di Meulaboh. Ia menempuh pendidikan Pamong Praja di Bukittinggi dan Serang. Gelar “Teuku” di depan namanya menandakan Nyak Arif termasuk golongan bangsawan atau di Aceh dikenal dengan istilah “uleebalang”. Ia adalah anak dari Panglima Sagi XXVI Mukim. Perlu diketahui, bahwa pada masa Kesultanan Aceh, kekuasaanya secara de facto hanya meliputi wilayah Aceh Besar (sekarang meliputi Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar). Daerah administrasi terkecil di Aceh disebut gampong (kampung atau desa). Kumpulan dari beberapa gampong membentuk mukim. Kumpulan beberapa mukim ini berada di bawah sagi atau sago. Tiap sagi membawahi jumlah mukim yang berbeda. Pada zaman Kesultanan dan Belanda terdapat tiga sagi di Aceh Besar: Sagi XXII Mukim, XXV Mukim dan XVI Mukim. Angka Romawi menunjukkan jumlah mukim yang ada di tiap sagi.
Ketika Kesultanan Aceh takluk pada 1903 maka berakhirlah Kesultanan yang pada masa jayanya pernah menguasai separuh Sumatra dan Semenanjung Malaya ini. Belanda lantas bekerjasama dengan kaum bangsawan, seperti lazimnya di wilayah Nusantara lain. Seperti juga Kesultanan Aceh, Belanda juga berkuasa secara de facto di Aceh Besar. Karena itu tiga Panglima Sagi di Aceh Besar otomatis berada di bawah administrasi Belanda. Pada mulaya Belanda tidak berkuasa begitu saja karena timbul perlawanan. Salah satu Panglima Sagi itu adalah yang kita kenal dengan nama Panglima Polim. Tidak semua sagi ikut angkat senjata. Bahkan kemudian Panglima Polim juga menyerah. Sudah barang tentu para panglima sagi yang terpaksa bekerja sama itu mendapat keistimewaan ala Belanda. Anak-anak mereka diperbolehkan bersekolah untuk nantinya diangkat menjadi ambtenaar pemerintahan kolonial. Salah satu yang turut disekolahkan itu adalah Nyak Arif.
Belanda tentu berpikir, bahwasanya Nyak Arif yang mengecap pendidikan Belanda termasuk golongan moderat. Maka ketika Volksraad (Dewan Rakyat) dibentuk, Nyak Arif diangkat menjadi anggotanya untuk mewakili rakyat Aceh pada tahun 1927. Tapi nyatanya tingkah polah Nyak Arif tidak seperti yang disangkakan Belanda. Nyak Arif bersama dengan Suroso dan MH Thamrin dianggap vokalis Volksraad. Salah satu tuntutannya adalah meminta agar prajurit KNIL yang beragama Islam juga memiliki pembina kerohaniaan, sebagaimana prajurit yang beragama Kristen. Sikap vokalnya itu membuat dia ditendang tidak dipilih kembali menjadi anggota Volksraad. Nyak Arif pun kembali ke kampung halamannya sebagai Panglima Sagi XXVI Mukim. Kiprahnya sebagai seorang nasionalis pada zaman Belanda membuat Nyak Arif diangkat menjadi Residen Aceh pada Oktober 1945. Nyak Arif yang menjalankan roda pemerintahan yang berpusat di Kutaraja (sekarang: Banda Aceh). Pada masa itu, peran ulama di Aceh sangat besar. Salah satu ulama berpengaruh adalah Teungku Muhammad Daud Beureueh yang memimpin Persatuan Ulama Seluruh Aceh. Proklamasi 17 Agustus 1945 memperoleh legitimasi keagamaanya setelah para ulama di Aceh menyatakan dukungan.
Pengaruh ulama yang besar ini sangat nyata di akar rumput. Pada akhir tahun 1945 terjadi Perang Cumbok di wilayah Aceh Pidie. Ini adalah perang antara ulama dan uleebalang yang diangap mendukung kembalinya Belanda ke Aceh. Perang ini dimenangi tentu saja oleh ulama yang didukung oleh rakyat. Perang Cumbok ini kemudian menyebar hingga ke luar Aceh Pidie. Setiap uleebalang dicurigai dan ditangkapi. Salah satu korban itu adalah Teuku Nyak Arif sendiri yang seorang uleebalang. Pada awalnya, sebagai residen, Nyak Arif menyatakan dukungannya terhadap Perang Cumbok ini. Para bangsawan di Cumbok dan sekitarnya dianggap mengkhianati perjuangan kemerdekaan. Tapi niat yang awalnya berbau nasionalisme ini bergeser ke motif keagamaaan. Pangkal soalnya adalah pada zaman Belanda kaum ulama dianaktirikan sedangkan kaum bangsawan diberi hak istimewa. Tak jarang, para ulama menjadi korban ketidakadilan oleh bangsawan itu. Karena itu ketika Belanda angkat kaki dari Aceh, para ulama terutama yang tergabung dalam PUSA menyimpan dendam terhadap mereka.
Teuku Nyak Arif pun termasuk korban. Dia ditangkap oleh Teungku Amir Husin Almujahid dari Tentara Perjuangan Rakyat (TPR) di Kutaraja. Almujahid juga ketua pemuda PUSA. Menurut Muhammad Nur El Ibrahimy dalam buku Teungku Daud Beureuh: Peranannya dalam Pergolakan di Aceh, penangkapan Nyak Arif adalah murni salah paham. Nyak Arif dianggap bekerjasama dengan seorang tentara Belanda, Mayor Knottenbelt pada masa awal kemerdekaan. Knottenbelt adalah perwira NICA yang saat itu ingin mengembalikan kekuasaan Belanda. Seperti juga di Medan, Surabaya, dan daerah lainnya, penolakan Rakyat terhadap NICA begitu gencar.
Tapi dalam buku Pahlawan Nasional Teuku Nyak Arif, penangkapan itu dilatarbelakangi motif Husin Al Mujahid untuk merebut kekuasaan. Nyak Arif yang waktu itu juga berpangkat mayor jenderal membiarkan dirinya ditangkap meski dia bisa memerintahkan Tentara Keamanan Rakyat untuk menghadapi pasukan TPR. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 1 Maret 1946. Katanya waktu itu:
Biarlah saya serahkan jabatan ini asal tidak terjadi pertumpahan darah seperti di Pidie (Perang Cumbok). Buat apa kita berperang dengan bangsa sendiri. Kalau hanya pangkat dan kedudukan kita itu saja yang dikehendakinya, serahkanlah dan jangan dengan mempertahankan pangkat dan kedudukan kita, rakyat yang tidak mengetahui persoalannya dijadikan korban. Kemerdekaan kita baru saja mulai. Banyak pikiran dan tenaga yang diperlukan oleh negara kita di masa yang akan datang. Kalau pengorbanan yang kita berikan dalam perjuangan hanya untuk mencari pangkat dan kedudukan, maka kemerdekaan yang kita inginkan tidak akan tercapai.
Dia pun segera diasingkan ke Takengon, Aceh Tengah. Tragis, di kota berhawa sejuk ini dia menghembuskan napasnya yang terakhir karena penyakit diabetes. Ini terjadi pada 4 Mei 1946.
Teuku Nyak Arif dimakamkan di Lamnyong, Aceh Besar. Letaknya persis di tepi sungai. Saya pernah lewat di makamnya itu. Di situ tertulis papan nama “Makam Pahlawan Nasional Teuku Nyak Arif: 1899-1946″. Ketika tsunami pada 26 Desember 2004 lalu, makam ini sempat tergenang oleh air sungai yang meluap akibat ombak tsunami.
XXX
Pada bulan Oktober 1945 utusan sekutu tiba di Kutaraja yang bernama Mayor Knotienbelt untuk membicarakan pendaratan Sekutu di Aceh dalam rangka melucuti senjata-senjata Jepang dan mengurus para tawanan perang. Residen Teuku Nyak Arief menolak rencana sekutu ini. Memasuki bulan Desember 1945 Residen Teuku Nyak Arief sering digantikan oleh Tuanku Mahmud dan Teuku Panglima Polem Moh. Ali sebagai Wakil Residen. Hal ini diakibatkan karena residen sering mengadakan perjalanan dan peninjauan ke daerah-daerah, terutama di daerah yang kurang aman.
Desember 1945 terjadilah peristiwa perang Cumbok mengakibatkan perpecahan antara golongan bangsawan dan Ulama. Ulama ingin merebut tampuk pemerintahan dari golongan Uleebalang (bangsawan). Pada saat itu Teuku Nyak Arief merasa sedih ketika mendengar peritiwa tersebut, karena Beliau telah berusaha mempersatukannya sejak zaman Hindia Belanda dan Jepang, dan berhasil. Namun perpecahan tidak mungkin dielakkan.
Ulama dibawah PUSA dan Pesindo berhasil menguasai Aceh, dan membunuh banyak Uleebalang, dan mengambil alih harta dan tanah mereka. Laskar Ulama (Mujahiddin) yang di dipimpin Husein Al Mujahid mempunyai ambisi untuk menggantikan residen Nyak Arif, dan mendapat dukungan dari TPR (Tentara Perlawanan Rakyat). Teuku Nyak Arief di tangkap pada Januari 1946 oleh TPR. Penangkapan terhadap Teuku Nyak Arief dilakukan pada saat beliau dalam keadaan sakit. Teuku Nyak Arief membiarkan dirinya untuk ditawan oleh laskar Mujahidin dan tentara perlawanan rakyat (TPR), dan meminta pasukan yang menjaganya untuk tidak memberi perlawanan.
Teuku Nyak Arief
Dalam keadaan sakit Teuku Nyak Arief masih memikirkan tawanan lainnya dan keadaan rakyat Aceh pada umumnya. T. Nyak Arif meninggal pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon. Ia sempat berpesan kepada keluarganya: “Jangan menaruh dendam, karena kepentingan rakyat harus diletakkan di atas segala-galanya”. Jenazahnya dibawa ke Kutaraja dan dikebumikan di tanah pemakaman keluarga di Lamreung, dua kilometer dari Lamnyong.
Teuku Nyak Arif dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 071/TK/1974.
XXXX
Sigli-Perempuan itu sedang mengupas buah pinang di teras rumahnya–di Meunasah Blang, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, Selasa 26 Maret 2013. Di teras rumoh Aceh (rumah adat Aceh) turun-temurun milik keluarganya, perempuan itu menyambut The Globe Journal dengan ramah dan bersahaja. “Silahkah duduk,” katanya. Rumahnya mungkin tak jauh berbeda dengan rumah-rumah adat Aceh lainnya jika dilihat sekilas, namun jika ditelisik lebih dalam, di rumah itulah panglima pasukan perang cumbok:Teuku Daud Cumbok menetap pada masa hidupnya.
Perempuan itu adalah Pocut Hasmamurni, 68 tahun. Ia adalah anak dari pasangan Teuku Muhammad Hasan dan Pocut Siti Fatimah Zuhra. Teuku Muhamad Hasan sendiri adalah anak dari T. Daud Cumbok, sedangkan Pocut Siti Fatimah Zuhra adalah putri dari Teuku Panglima Polem. kediaman Pocut Hasmamurni di Gampong Meunasah Blang, Kec. Sakti, Kab. PidieT. Daud Cumbok, kakek dari Pocut Hasmamurni, adalah Gunco (bupati) Lamlo (setelah perang Cumbok berakhir Lamlo diganti menjadi Kota Bakti, Kecematan Sakti). Pada akhir 1945 hingga 16 Januari 1946, Perang Cumbok meletus selama 22 hari, dan memakan banyak korban, terutama dipihak Uleebalang.
Perang Cumbok adalah perang antara ulama Aceh yang terhimpun dalam Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) dengan para Uleebalang. Perang tersebut berpusat di Pidie. Dalam buku Mengapa Aceh Bergejolak, Hasan Saleh menceritakan bahwa Perang Cumbok terjadi tatkala kabar kekalahan Jepang telah diketahui kaum uleebalang, sehingga para uleebalang mulai menyusun rencana menggapai kembali kekuasaan mereka, yang dulunya dengan leluasa bisa mereka peroleh di wilayah-wilayah mereka masing-masing atas perintah Belanda.
“Ketika proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dicetuskan, golongan feodal bertanya-tanya, apa artinya proklamasi itu bagi kelangsungan kekuasaan mereka,” tulis Hasan Saleh. Namun setiap peperangan pastilah menyimpan luka bagi siapapun yang pernah mengalaminya. Hasmamurni menuturkan, ia kehilangan ayahnya pada saat masih terlalu kecil. “Ayah saya dikenal pintar, oleh sebab itu ia dikirim Jepang untuk sekolah di Padang, sumatera Barat”. Ia teringat kampung halaman, dan memutuskan untuk pulang. Ayah saya dibunuh dan ditanam di Glee Cirieh. Pada saat itu umur saya kira-kira 9 bulan. Cerita kematian ayah saya, saya dengar dari nenek saya saya mulai beranjak dewasa,” ungkap Hasmamurni. Ia tak terlihat sedih, seolah peristiwa kelam tersebut telah lama ia ikhlaskan. Hasmamurni kemudian mengambil sebuah foto di dalam rumahnya. Ia menyodorkan foto ibunya. “Ini Ibu saya, Pocut Siti Fatimah Zuhra. Ibu saya adalah putri Panglima Polem,” ujarnya menutup pembicaraan.
XXXXX
Sejarah harus memiliki benih yang lebih baik dan berkualitas agar dapat mengubah kulit dan arah perkembangannya. Bila tidak, maka tidak ada fungsinya mengambil pelajaran dari sejarah. Kemajuan juga tidak bisa diharapkan dari pergantian sejarah. Kelemahan fundamental sebuah rezim pun terlihat sejelas siang, sehingga ia pun dihancurkan oleh kelompok baru, yang kemudian mendirikan rezim baru yang hanya memiliki peran mengulang kembali lingkaran bencana dan fase yang sama meskipun jangka waktu dan bentuknya berbeda.
Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari rangkuman di atas.
Daftar Pustaka:
Nazaruddin Syamsuddin; The Republican Revolt: A Study of the Acehnese Rebellion; (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1985);
C. Van Dijk; Rebellion Under the Banner of Islam; (The Hague: Martinus Nijhoff, 1981);
Anthony Reid; The Blood of People; (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1979);
Menginginkan surga, yang diriwayatkan dipenuhi kebun-kebun besar.
Dialiri oleh sungai-sungai susu, dipenuhi bidadari.
Namun, suara batinku menjerit.
Menghina dan meracau, bisakah engkau?
Durjana buduk tak tahu diri, haus akan nafsu duniawi.
Menikmati diam-diam setiap basah-kuyup dipelabuhan biru.
Sebenarnya aku, bukan seperti disangka.
Sama seperti semua orang juga.
Memiliki nafsu angkara, namun aku tak kuasa menahannya.
Menceburkan diri dalam godaan-godaan tak berbatas.
Tak lebih dari selangkangan berkurap ini.
Pernah dengan tegas menolaknya, menghina pengagumnya.
Akan tetapi hari ini merasa gusar, cemas dan takut.
Malu-malu merindukannya, surga.
Bait Al Hikmah, 8 Sya’ban 1434 H (bersamaan 17 Juni 2013)
Maka tidaklah bagus merenungkan terlalu kesalahan masa lalu. Jika kita tidak bisa saling memaafkan apa yang telah dilakukan masing-masing kita, tak akan ada perdamaian antara kita.
Bhisma yang terpanah, paham dia tidak akan sembuh. Hutang kematian Dewi Amba telah terbalaskan oleh Srikandi dan Arjuna.
KEMATIAN BHISMA
Sepanjang berjalan waktu, tahun demi tahun. Sekarang, perbatasan telah berubah dalam abad ini, tapi nostagia ini betapa bertentangan dengan kenyataan, itu semua karena sejarah. Segala sesuatu memiliki asal mula, perjalanannya dinamakan sejarah dalam bahasa awam disebut masa lalu. Manusia sebagai individu pelaku sebenarnya adalah sejarah itu sendiri, manusia menyerap (osmosis) apa yang ia lalui di perjalanan hidup. Baik itu rasa, ruang maupun waktu. Dan ciri-ciri orang hebat bisa diketahui melalui tiga pertanda: kedermawanan dalam bentuk, kemanusiaan dalam pelaksanaan, tidak berlebihan dalam keberhasilan.
Kurukhetra. Bharatarayudha, perselisihan antara keluarga Pandawa yang pimpin oleh Puntadewa (Yudhistira) melawan sepupu mereka, yaitu para korawa yang dipimpin Duryadana. Hari kesepuluh, Bhisma panglima perang Hastinapura maju dengan gagah berani. Resi Bhisma disebut juga Dewabrata adalah penjaga wangsa Bharata adalah seorang terhormat terakhir di kubu Korawa pantang menyerang wanita, tidak melawan ketika Srikandi menyerang. Dan serangan Srikandi tidak mempan terhadap Dewabrata. Akan tetapi tanpa disadari Dewabrata, di belakang Srikandi, Arjuna menembakkan panah-panahnya yang dasyat dan melumpuhkan Bhisma. Panah-panah tersebut menancap dan menembus baju zirahnya, kemudian ia terjatuh dari kereta, tubuh sang resi tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh puluhan panah.
X
Nama Bhisma dalam bahasa Sanskerta berarti “Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat)”
Nama Bhisma dalam bahasa Sanskerta berarti “Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat)”, karena ia bersumpah akan hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi tahta kerajaannya. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bhisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya.
Kegelapan malam menyelebunginya. Diatas, bintang-bintang yang rapat terus memancarkan cahaya mereka yang bergemerlapan. Di bawah tak ada makhluk yang bergerak, dan Bhisma juga tidak bisa mendengar apa-apa kecuali angin lembut mengeser bilah-bilah rumput. Ia mengingat ketika ia bukanlah Bhisma yang sekarang, seorang gadis dari kerajaan Kasi menemuinya, dan bertanya. “Apa itu cinta Bhisma?”
Amba berkata. “Bhisma, aku berdoa agar kau diberi umur panjang dan juga kesehatan. Tapi, aku juga mengutukmu. Kau! Akan melihat melihat apa yang kau perjuangkan, yang demi dharma rela membuang cinta melihat jalan itu hancur berkeping-keping. Kematianmu, akan dipenuhi kehormatan bagi orang lain, tapi tak lebih kesedihan berganda bagi jiwamu!”
Ia meracau. “Aku telah bersepakat dengan diriku sendiri bahwa akan mengubur apa yang dinamakan cinta. Aku tak membenci akan adanya cinta, namun cinta telah melukai diriku sehingga cinta yang membuatku menjauhinya. Cinta itu sendiri yang membimbingku untuk menghindarinya. Cinta telah menodai keyakinanku pada cinta itu sendiri. Apakah salah jika aku menolak cinta? Munafikkah jika aku menafikan adanya cinta dalam hatiku? Cinta hanya menjadikan manusia sebagai budak belaka. Cinta telah membuatku dewasa untuk mengerti, sekaligus memaafkan kelakuanku. Butuh waktu untuk memahami bahwa cinta adalah keindahan memerlukan penafsiran yang utuh dan menyeluruh, saat ini cinta bagiku hanyalah luka yang membawa pada sebuah pilihan, membentengi diri dari pesonanya sekuat mungkin, sekukuh yang kubisa. Cinta, jasad, jiwa dan segala sesuatu di diri ini maafkan aku yang belum siap menerimamu kembali.”
“Coba kamu pikir, apakah orang yang punya tekad setengah hati mau datang ke Hastinapura hanya untuk menemui satu orang saja. Untuk ditolak demi sebuah tidak masuk akal?” Balas Amba.
“Jalanku adalah Dharma bukan cinta!” Jawab Bhisma.
“Kamu yang selalu ingin menyandang seluruh tanggungjawab sendirian, aku betul-betul tak mengerti kamu.” Amba memandang penuh kebencian pada Bhisma.
“Pergilah.” Usir Bhisma.
XX
Dengan kebencian terhadap Bhisma, Amba melakukan tapa dengan keras. Dalam pikirannya hanya ada keinginan untuk melihat Bhisma mati. Karena ketekunannya, Dewa Sangkara muncul dan berkata bahwa Amba akan bereinkarnasi, dan turut andil pada pembunuhan Bhisma. Sang dewa juga berkata bahwa kebencian Amba terhadap Bisma tidak akan hilang setelah bereinkarnasi. Setelah mendengar pemberitahuan dari sang dewa, Amba berkata. “Bhisma, aku berdoa agar kau diberi umur panjang dan juga kesehatan. Tapi, aku juga mengutukmu. Kau! Akan melihat melihat apa yang kau perjuangkan, yang demi dharma rela membuang cinta melihat jalan itu hancur berkeping-keping. Kematianmu, akan dipenuhi kehormatan bagi orang lain, tapi tak lebih kesedihan berganda bagi jiwamu!” Ia membuat sebuah api unggun, lalu membakar dirinya sendiri.
XXX
Bhisma yang terpanah, paham dia tidak akan sembuh. Hutang kematian Dewi Amba telah terbalaskan oleh Srikandi dan Arjuna. Akan tetapi dia sadar, bahwa setiap keluhan, kekecewaan yang terbersit menjelang kematian adalah akibat apa yang ia lakukan di masa lalu. Ia lelaki tepi zaman, melihat Bhatarayudha perang antar saudara, Pandawa dan Korawa memperebutkan tahta Hastinapura. Sesuatu hal yang demi kelangsungan keluarga Bharata, ia rela membuang cinta.
Bhisma di Kuruseta. Panah-panah tersebut menancap dan menembus baju zirahnya, kemudian ia terjatuh dari kereta, tubuh sang resi tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh puluhan panah.
Sebetulnya aku orang yang kalah, karena tidak punya sesuatu untuk dibanggakan. Memang semua yang kulakukan ini demi keluarga, demi rumahku agar tetap tegak. Aku harus merendahkan diri. Karena itulah aku ingin kalian, Pandawa kuat. Terutama Yudhistira. Aku ingin dia menjadi laki-laki tangguh yang percaya dengan keyakinannya, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tidak kalah oleh apapun, tidak ketinggalan zaman. Sebagai pengganti generasiku. Terima kasih untuk semuanya, selamat tinggal. Aku seorang pengembara, aku akan melanjutan perjalananku.
Seseorang yang tidak mempercayai siapapun, Oda Nobunaga. Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau? Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”
ODA NOBUNAGA BANGSAWAN PANDIR
Kenapa menurutnya ia perlu menyembunyikan diri dari semua orang yang mengenal dan menyayanginya? Apa yang ditakutkannya? Apa yang dilindunginya. Seseorang yang tidak mempercayai siapapun, Oda Nobunaga. Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau? Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”
X
Nobunaga kini berusia sembilan belas tahun. Tiga tahun setelah berlalu sejak ayahnya wafat. Pendapat umum mengatakan ia bodoh dan cepat naik darah. Selama tiga tahun, pewaris kekuasaan yang berusia muda, sembarangan, dan berkepala kosong ini, tanpa bakat maupun kecerdasan, bukan saja sanggup mempertahankan kedudukannya, tapi juga berhasil mengendalikan keadaan sampai ke pelosok-pelosok provinsi.
Bagaimana ia bisa melakukan ini? Beberapa orang mengatakan bahwa ini bukan berkat Nobunaga, melainkan karena jasa-jasa pengikutnya yang setia: Hirate Nakatsukasa, Hayashi Sado, Aoyama Yosaemon, dan Naito Kaysusuke. Selama para pembantu kepercayaan penguasa sebelumnya masih hidup, semuanya akan berjalan baik, namun jika satu atau dua dari mereka meninggal, dan tiang penopang runtuh, kehancuran marga Oda hanya soal waktu saja.
Di antara mereka yang menanti-nanti saat itu terdapat Saito Dosan dari Mino dan Imagawa Yoshimoto dari Suruga. Tak seorang pun yang tidak sependapat dengan pandangan ini. Dikelilingi oleh provinsi-provinsi besar dan kuat, wilayah kekuasaan marga Oda tampak kecil dan miskin, untuk itu diperlukan kekuatan yang penting bagi kelangsungan hidup. Pendapat umum ternyata keliru. Nobunaga dianggap berhati lemah, namun seandainya ada yang minta bukti, akan terungkap bahwa tak seorang pun pernah memastikan apakah anggapan itu benar atau salah.
Setiap orang melihat Nobunaga meninggalkan bentengnya pada musim semi dan gugur, dan semuanya langsung menyimpulkan bahwa ia hendak memancing atau berenang. Tapi jika melihatnya sendiri, mereka akan menyadari bahwa yang dilihat adalah latihan militer habis-habisan. Ketika berusia tiga belas tahun, Nobunaga pertama kali ambil bagian dalam sebuah pertempuran. Pada usia lima belas, ia telah kehilangan ayahnya. Dengan bertambahnya usia, sikapnya semakin congkak. Pada upacara perabuan ayahnya, Nobunaga mengenakan pakaian yang tak pantas untuk kesempatan begitu resmi. Di bawah tatapan para tamu yang seakan tak percaya pada penglihatan mereka, Nobunaga menghampiri altar, meraih segengam abu dupa, lalu melemparkannya ke wadah liat berisi abu mendiang ayahnya.
Kemudian ia mengejutkan semua orang dengan segera kembali ke benteng. “Memalukan sekali. Betulkah ia pewaris provinsi ini?”“Pemuda berkepala kosong yang tak dapat diharapkan.”“Siapa menyangka ia begitu lancang?” Itulah pandangan mereka yang menilai sesuatu berdasarkan kulitnya saja. Tetapi orang-orang yang merenungkan situasi itu secara lebih mendalam segera mencucurkan air mata kesedihan untuk marga Oda. “Adiknya, Kanjuro, teramat santun, dan bersikap penuh hormat dari awal sampai akhir,” salah satu pelayat mengemukakan. Mereka menyesalkan bahwa bukan dia yang diangkat sebagai pewaris.
XX
Beberapa waktu sebelum wafat pada usia empat puluh enam, Nobuhide telah mengatur pertunangan Nobunaga dengan anak perempuan Saito Dosan dari Mino, dengan perantaraan Nakatsukasa. Sudah bertahun-tahun Mino dan Owari saling bermusuhan, jadi pernikahan itu adalah bersifat politik. Taktik-taktik semacam itu hampir merupakan keharusan di sebuah negeri yang tengah dilanda perang. Dosan pun segera menyadari maksud terselubung di balik rencana itu. Meski demikian, ia memberikan putri kesayangannya, Nouhime kepada sang pewaris kepemimpinan marga Oda, yang dari provinsi-provinsi tetangga sampai ibu kota telah dikenal sebagai orang pandir. Dosan menyetujui pernikahan itu, namun diam-diam berniat menguasai Owari. Saito Dosan ingin berjumpa menantunya, ia mengusulkan mengadakan pertemuan pertama mereka di Kuil Shotokuji di Tonda, perbatasan kedua provinsi. Kuil itu merupakan kuil aliran Budha Ikko, dan terletak agak terpisah dari ketujuh ratus rumah di desa itu. Diringi rombongan besar, Nobunaga meninggalkan benteng Nagoya menyeberangi sungai Kiso dan Hida, lalu maju terus sampai ke Tonda.
Musim kemarau sudah di depan pintu. Gandum di ladang-ladang berwarna kuning pucat. Hembusan angin dari arah sungai Hida terasa menyegarkan. Rumah-rumah di Tonda tampak kokoh dan memiliki banyak lumbung.
“Itu mereka. Iring-iringan telah tiba. Tak lama lagi mereka akan lewat disini.” Dua samurai dari marga Saito ditempatkan dibatas desa memberikan laporan, kedua samurai tadi berlutut di muka sebuah pondok kecil. Pondok yang gelap, kotor dan berlantai tanah.
“Baik, Kalian berdua sembunyi dibalik semak-semak belakang.” Banyak cerita tentang Nobunaga beredar di masyarakat. Seperti apa dia sebenarnya? Dosan bertanya-tanya. Orang macam apa dia? Sebelum pertemuan resmi, aku ingin melihatnya dulu. Cara berpikir seperti ini memang khas Dosan, itu sebabnya ia berada di sini, mengintai dari pondok di tepi jalan.
Pasukan Owari terus mendekat. Dengan nafas tertahan Dosan mengamati gaya berjalan para prajurit serta susunan pangkat mereka. Suara langkah pasukan diikuti oleh derap langkah kuda. Dosan tak dapat melepaskan mata dari pandangan dihadapannya. Di tengah-tengah para penunggang kuda terdapat seekor kuda yang teramat gagah, dengan berangus berkilauan. Di pelana mewah yang dihiasi indung mutiara, duduk Nobunaga, tangannya mengengam tali kekang berwarna ungu dan putih. Ia sedang berbincang-bincang dengan para pengikutnya.
“Apa ini?” Adalah kata-kata yang keluar dari mulut Dosan. Ia tampak terheran-heran. Penampilan Nobunaga teramat tidak lazim. Dosan telah diberitahu bahwa sang penguasa Owari biasa berpakaian aneh, tapi ini melebihi segala cerita yang pernah didengarnya. Nobunaga terayun-ayun diatas pelana. Rambutnya di konde dan diikat dengan jalinan pita berwarna hijau pucat. Ia mengenakan mantel katun berpola cerah yang lengannya hanya satu. Baik pedang pendek maupun pedang panjangnya dihiasi kerang laut dan dibalut dengan jerami padi suci. Tujuh atau delapan benda bergantungan pada ikat pinggangnya: sebuah kantong rabuk, sebuah labu kecil, sebuah kotak obat, sebuah kipas, sebuah ukiran kuda, dan beberapa permata. Di bawah jubah pendek yang terbuat dari kulit harimau dan macan tutul, ia mengenakan baju brokat emas berkilauan.
Setelah Nobunaga berlalu, para pengikut Dosan harus memaksakan diri untuk tidak tertawa berderai-derai. Wajah-wajah mereka memperlihatkan betapa mereka berjuang untuk menahan tawa pada saat menyaksikan adegan menggelikan tadi. “Sudah habis?” Tanya Dosan.
Lalu, “itukah akhir iring-iringannya?” “Ya, hanya itu.”“Kalian sempat memperhatikannya?”“Dari jauh.”“Hmmm, penampilannya ternyata tidak bertentangan dengan kabar burung yang beredar. Wajahnya tampan dan fisiknya pun bolehlah, tapi di sini ada sesuatu yang kurang.” Kata Dosan. Sambil tersenyum puas, ia mengangkat jarinya ke kepala. Segera, mereka keluar lewat pintu belakang, lalu menyusuri jalan pintas yang tersembunyi menuju kuil. Tepat pada waktu barisan terdepan pasukan Owari tiba di gerbang depan kuil Shotokoji, Saito Dosan dan para pengikutnya menyelinap lewat gerbang belakang, bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mereka berganti pakaian dan menuju jalan utama. Gerbang kuil telah dipenuhi orang, karena semua orang Mino dikumpulkan untuk penyambutan resmi, kuil utama, hall besar, serta ruang penyambutan tamu dibiarkan kosong
XXX
Saito Dosan menganggap remeh Nobunaga. “Tak ada alasan bagiku untuk pergi menyambutnya.” Ia menganggap Nobunaga semata-mata sebagai menantu. Takkan ada masalah jika itu satu-satunya pertimbangan. Namun Nobunaga merupakan penguasa sebuah provinsi, sama halnya dengan Dosan, dan para pengikutnya tentu berasumsi bahwa pertemuan itu akan diadakan antara dua orang sederajat. Meskipun Dosan juga mertua Nobunaga, bukankah lebih pantas jika pertemuan pertama mereka diselenggarakan sebagai pertemuan antara dua penguasa provinsi? Itulah yang terbayang dalam benak Kasuga Tango, salah seorang pengikut senior Dosan, dan ia menanyakannya secara hati-hati. Dosan menjawab bahwa itu tidak perlu. “Kau akan ikut dalam pertemuan nanti. Pastikan ketujuh ratus orang di koridor yang menuju ke sini berbaris dengan baik.”
“Hamba pikir mereka sudah siap disana.”
“Sembunyikan para prajurit berpengalaman, dan suruh mereka berdeham pada waktu menantuku lewat. Siapkan pasukan busur dan senapan di halaman. Dan perintahkan untuk memasang tampang berwibawa.” Tak akan ada kesempatan yang lebih baik untuk memamerkan kekuatan Mino dan mengertak penguasa Owari beserta anak buahnya, hari ini.
Lambang Marga Oda
Nobunaga sedang menaiki tangga di pintu masuk utama. Disekelilingnya ada lebih dari seratus pengikut Saito, mulai dari sesepuh sampai samurai muda yang masih dalam masa percobaan. Mereka berlutut berdampingan, bersujud menghormati tamu agung yang baru tiba. Rambutnya telah ditata ulang, sebagai ganti baju kulit harimau dan macan tutul, ia mengenakan jubah sutra putih yang dihiasi sulaman benang emas berupa lambing marganya, di bawah baju resmi tak berlengan berwarna ungu tua. Pedang pendeknya diselipkan ke balik pinggang, sedang pedang panjang dibawanya di tangan kanan. Seluruh penampilannya menyerupai orang istana. Tanpa ragu-ragu Nobunaga menyusuri koridor, ia menatap kiri dan kanan, lalu berkata dengan lantang, “Aku merasa rikuh kalau dikawal seperti ini. Aku lebih senang menemui mertuaku seorang diri.”
Kasuga Tango menyambut, sementara ia sibuk berbasa-basi, Nobunaga bergegas menyusuri koridor, melewati orang-orang yang berbaris di sepanjang dinding. Ia memperlakukan para prajurit seakan-akan mereka hanya rerumputan di tepi jalan. Setelah sampai diruang penyambutan, ia bertanya kepada Tango, “Inikah tempatnya?”
“Ya, tuanku.” Ia masih tersengal-sengal karena terpaksa mengejar Nobunaga
Pertemuan Saito Dosan dan Nobunaga di Kuil Shotokuji
Nobunaga mengangguk, lalu melangkah masuk. Dengan tenang ia duduk, menyandarkan punggung pada sebuah tiang dipinggir ruangan. Ia menatap ke atas, seakan-akan mengagumi lukisan-lukisan di langit-langit. Di salah satu sudut ruangan terdengar suara bunyi berdesir ketika seorang laki-laki berdiri . Dosan melangkah keluar. Ia lalu duduk pada posisi lebih tinggi dari Nobunaga. Nobunaga pura-pura tidak memperhatikannya, atau lebih tepat, ia berlagak tak peduli sambil mempermainkan kipasnya. Dosan melirik ke samping. Tak ada ketentuan mengenai tata cara mertua berbicara dengan menantunya. Ia menahan diri membisu. Suasana tegang. Alis Dosan serasa ditusuk-tusuk jarum. Tango yang tak sanggup menahan ketegangan itu lebih lama, medekatkan diri pada Nobunaga dan membungkuk terus sampai mencapai tatami. “Tuan yang duduk di sebelah sana adalah Tuan Saito Dosan. Berkenankah Tuanku menyapa beliau?”
Nobunaga berkata, “begitukah?” Lalu menjauhkan punggungnya dari pilar dan duduk tegak. Ia membungkuk satu kali dan berkata, “kami Oda Nobunaga. Kami merasa gembira karena bisa bertemu Tuan.”
Seiring dengan perubahan sikap serta sapaan Nobunaga, sikap Dosan pun melunak. “Sudah lama kami mengharapkan perjumpaan ini. Kami bahagia bahwa keinginan yang telah tertunda-tunda sekian lama dapat terwujud.”
“Kami bahagia memiliki ayah mertua yang dapat dijadikan tempat bersandar.”
“Bagaimanapun, hari ini hari yang diberkahi. Kami berharap pada pertemuan berikut Ananda bisa memperlihatkan wajah seorang cucu.”
“Dengan senang hati.”
Dosan tampak puas. Ia mendesah lega. Mertua dan menantu mengangkat gelas sambil saling memuji. Suasana kaku pada awal pertemuan, kini berubah menjadi ramah tamah.
XXXX
“Ah, aku ingat lagi!” Nobunaga tiba-tiba berkata, seakan-akan ada sesuatu yang baru terlintas di benaknya. “Tuanku Dosan, ayah mertua. Dalam perjalanan ke sini, aku bertemu seseorang yang sungguh aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Hmm, dia juga orang tua, dan dia mengintip iring-iringan dari jendela gubuk rakyat jelata. Meskipun baru kali ini aku bertemu dengan ayah mertuaku, waktu aku menatap ayah mertua, ehm.. Ayah mertua mirip sekali dengan orang itu. Bukankah ini aneh sekali?” Sambil tertawa, Nobunaga menyembunyikan mulut di balik kipas yang setengah terbuka.
Dosan terdiam, seolah-olah baru menelan minuman pahit. Para pengawal Dosan langsung bermandikan keringat.
Seusai acara makan, Nobunaga berkata, “Ah, sudah terlalu lama aku merepotkan ayah mertua. Aku ingin menyebrangi sungai Hida dan mencapai tempat menginap sebelum malam tiba. Aku mohon diri.”
“Kau berangkat sekarang?” Dosan ikut berdiri.
“Aku enggan melihatmu pergi, tapi aku pun tak dapat menahanmu.” Ia sendiri sudah harus kembali ke benteng sebelum gelap. Hutan tombak sepanjang enam meter membelakangi matahari sore, dan beranjak kearah timur. Dibandingkan mereka, pasukan tombak Mino tampak lesu dan kurang semangat.
“Ah, aku tidak ingin hidup lebih lama lagi. Suatu hari nanti anak-anakku akan mengemis-emis untuk menyelamatkan nyawa di depan si pandir itu! Tapi tak ada yang bisa dilakukan,” Dosan berkeluh kesah kepada para pengikut, sambil berayun-ayun di dalam tandu.
XXXXX
Orang bijak akan tenggelam dalam kebodohan jika menganggap tinggi kebijakannya, karena sejatinya kebijaksanaan tidak dihasilkan oleh keberhasilan semata, melainkan teruji oleh berbagai kegagalan. Sakit dan perih, di atas semua itu tidak ada yang mampu menandingi nilai pengorbanan. Tidak pengetahuan, tidak pula pengalaman.