MELUKIS SEJARAH

Ia menceritakan sesuatu, sebuah keadaan, sebuah peristiwa, dari keadaan yang kadang-kadang tidak dia lihat, alami. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kanvas ingatan.

MELUKIS SEJARAH

Seorang penulis sejarah yang baik tahu bahwa ia seorang sedang mengambar. Ia menceritakan sesuatu, sebuah keadaan, sebuah peristiwa, dari keadaan yang kadang-kadang tidak dia lihat, alami. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kanvas ingatan.

Ingatan tidak pernah satu dan stabil, ingatan mudah hilang oleh sapuan warna-warna yang muncul kemudian. Seperti sebuah lukisan, ketika ia muncul di hadapan kita, sebenarnya ia dalam proses berubah. Lukisan itu sendiri mungkin tidak terlihat lagi, lecek, lembab atau bahkan berlumut.

Lukisan atau sebuah gambar ternyata memberi persepsi berbeda. Sejarah berbeda dengan matematika yang merupakan ilmu pasti. Ia bernilai karena setiap orang bisa bercerita tentang suatu keadaaan dari berbagai sudut pandang. Sejarah memicu perdebatan, bahkan pertentangan dan disaat yang sama ia mudah untuk dikenang kembali. Maka untuk itu sejarah menjadi bernilai karena ia merupakan bentuk pengakuan akan atas sebuah persepsi bahwa masa lalu sebenarnya tak bisa diberi bentuk yang sudah pasti.

Siapapun yang ingin menengok kembali ke masa lalu, sebenarnya tak pernah sepenuhnya kembali. Seperti kita hanya dapat membayangkan betapa kejam penaklukkan Gayo yang dilakukan oleh Letkol G.C.E van Daalen (8 Februari – 23 Juli 1904) banyak desa yang dibakar, perempuan dan anak-anak dibunuh, merupakan kejahatan perang yang paling kejam dari sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia, kita bersedih namun tak hadir disana.

Penaklukkan Benteng Koeta Reh, sebuah operasi dibawah pimpinan Van Daalen di Tanah Gayo. Foto diambil 14 Juni 1904. Bagian dari Perang Aceh (1873-1904)

Pada tahun 1904, Van Daalen diperintahkan Van Heutsz untuk menaklukkan Tanah Gayo dan Tanah Alas dengan diperkuat 10 brigade marsose – Pada gambar pasukan Marsose berpose dengan menginjak mayat para pejuang Gayo yang gugur.

Kekejaman Belanda di Kampong Likat Tanah Gayo, anak-anak dan perempuan juga di bantai oleh tentara Belanda pimpinan Van Daalen. Perang Aceh (1873-1904)

Seluruh penghuni benteng Koeta Reh di bantai oleh pasukan Belanda pimpinan Van Daalen (Perang Aceh 1873-1904)

Adu domba Aceh dan Gayo oleh Belanda

Sejarah yang terasa pahit, tapi disini pun orang tak bisa sepenuhnya bisa menengok kembali.  Pada tanggal 14 Juni 1904, dengan dikuasainya benteng Kuta Rih setelah perlawanan yang amat berat. Tindakan keras dilakukan dengan membunuh juga 189 orang wanita, dan 59 orang anak-anak. Yang luka-luka sebanyak 51 orang, antaranya 25 orang wanita dan 31 orang anak-anak, yang tertangkap hidup-hidup dua orang wanita dan 61 orang anak-anak. Van Daalen mengumpulkan semua tetua Gayo dan berpidato, saya membayangkan. “Inilah akibat kalian membantu Aceh dalam perang melawan kami (Belanda). Lihatlah ketika kalian dibantai dan dihinakan! Adakah mereka membantu kalian?”

Para tetua Gayo membawa tebu sebagai persembahan kepada Van Daalen sebagai tanda takluk kepada Belanda.

Itu, tentu, sebuah fantasi kolonialisme. Setelah benteng Batee Iliek jatuh, semua pasukan Aceh yang menjaga benteng tersebut dibunuh. Praktis Aceh tidak memiliki tenaga dalam perang panjang menghadapi Belanda, jangankan melindungi Gayo segenap pesisir telah jatuh ke tangan Belanda. Saat itu satu-satunya wilayah merdeka yang belum terjamah Belanda kesanalah Sultan terakhir Muhammad Daudsyah mengungsi sebelum akhirnya ditangkap Belanda.

Tapi memang kolonialisme membubuhkan luka yang dalam ingatan mereka yang pernah dijajah. Adu domba antara Aceh dan Gayo yang dimunculkan oleh Belanda tersebut masih hidup dalam prasangka anak-anak negeri yang hidup di tanah yang sama meski berbahasa berbeda.

Adu domba merupakan jalan paling murah yang harus dibayar oleh kolonialisme Belanda untuk menaklukkan bangsa-bangsa di Nusantara, berbagai prasangka antar daerah yang diwariskan oleh mereka. Sayangnya itu semua masih hidup di antara kita. Dan ternyata kolonialisme masih meninggal jejaknya meski ia telah lama angkat kaki dari negeri ini.

Mungkin sebaiknya kita harus tahu bahwa, manusia yang hidup sekarang harus mampu melepaskan diri dari dendam masa lalu. Jauh di balik pembantaian atau salam damai, tersembunyi ingatan, yang tak pernah berdiri utuh, bersih, sendirian. Ada luka menganga karena kehilangan, ada yang meluap-luap di hati. Itulah mungkin yang disebut dendam.

Ketika kita melarutkan diri dalam momen “memoria pasionis”. Ingatan yang sedih, maka itu semua dapat berlalu dengan memberikan ampunan. Untuk itulah sejarah diperlukan, tak mudah memang mencari dokumen-dokumen tertulis untuk memahami masa lalu. Sedang masa depan sudah ada di depan kita, bergegas dan tak menunggu.

Kita dapat menghadapi masa depan dengan gagah berani jika kita telah memaafkan masa lalu, dan menjembataninya kepada generasi yang akan datang. Itu sebabnya kita perlu membayangkan sebuah lukisan (sejarah) itu, dalam bentuk yang penuh dengan semangat dan imajinasi, kita bayangkan dia terbang tinggi.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013
  7. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  8. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  9. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  10. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  11. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  12. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  13. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  14. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  15. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  17. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  18. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  19. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  20. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  21. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  22. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  23. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  24. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  25. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  26. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  27. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to MELUKIS SEJARAH

  1. Pingback: HOW TO TELL HISTORY | Tengkuputeh

  2. Pingback: NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  3. Pingback: PEREMPUAN ACEH FULL POWER | Tengkuputeh

  4. Pingback: MENYELUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH | Tengkuputeh

  5. Pingback: TEUKU UMAR PAHLAWAN | Tengkuputeh

  6. Pingback: FILOSOFI GOB | Tengkuputeh

  7. Pingback: KEBENARAN YANG SAMAR | Tengkuputeh

  8. Pingback: TSUNAMI | Tengkuputeh

  9. Pingback: ACEH DI MATA KOLONIALIS | Tengkuputeh

  10. Pingback: MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA | Tengkuputeh

  11. Pingback: ACEH SEPANJANG ABAD | Tengkuputeh

  12. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  13. Pingback: PERADABAN TANPA TULISAN | Tengkuputeh

  14. Pingback: SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s