MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA

Pameran bertajuk “Batu Nisan Aceh sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara” di Museum Aceh.

MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA

Bukan karena pertanda ajal semakin dekat, bukan pertanda mencari berkat. Tim Tengkuputeh, sabtu pada tanggal 13 Mei 2017 mengunjungi beberapa nisan kuno. Ini semua karena cinta pada sejarah, cinta kepada ilmu pengetahuan.

Pada tanggal 9-16 Mei 2017 Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerjasama dengan Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) menggelar pameran bertajuk “Batu Nisan Aceh sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara”  di Museum Aceh. Pameran batu nisan tersebut memamerkan koleksi asli 18 batu nisan, empat dari Kesultanan Samudera Pasai, tiga dari Kesultanan Lamuri serta 11 koleksi batu nisan dari zaman Kesultanan Aceh Darussalam.

Museum Aceh adalah sebuah museum etnografi dari suku bangsa-suku bangsa asli yang mendiami Aceh. Alamat: Jl. Sultan Alaiddin Mahmudsyah No.10, Peuniti, Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh 23116

Disambut Muhajir Asyie, seorang anggota Mapesa yang menjadi pemandu hari itu, tim tengkuputeh berkeliling. Menurutnya sendiri, pameran ini baru masuk tahap pengenalan batu nisan Aceh, masih dalam proses sederhana belum mencakup seluruh tipe dan model nisan. Untuk tahap pengenalan pameran ini sendiri dapat dikatakan sukses, namun ke depan diharapkan lebih banyak yang dapat ditampilkan, serta memiliki museum nisan tersendiri.

Pameran sendiri dalam beberapa hari berlangsung lebih banyak didatangi oleh siswa SD, SMP dan SMA serta mahasiswa yang berada di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar khususnya dan Aceh pada umumnya. Menurut Muhajir Asyie ini sesuai dengan target yang diinginkan, karena pameran ini ingin mengajarkan sejarah terutama generasi muda.

Mendengarkan penjelasan tentang sejarah batu nisan Aceh dari pemandu pameran

Bahan-bahan pameran sendiri kebanyakan dari Mapesa. Muhajir Asyie menambahkan, pameran batu nisan Aceh ini adalah pertama setelah beberapa dekade, dengan harapan dengan adanya pameran ini maka masyarakat umum lebih menjaga batu nisan Aceh sebagai aset kebudayaan, jangan dijadikan alat asah parang atau dijadikan alat pengikat lembu.

Ketika tim Tengkuputeh berkeliling area pameran, dari ketiga kesultanan yang jenis batu nisannya dipamerkan, terlihat perbedaan antara batu nisan dari Kesultanan Lamuri yang terbuat dari batu sungai (andesit) yang sangat keras dan kasar. Sedangkan batu nisan dari Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam terbuat dari batu halus yang berasal dari pegunungan. Dalam hal ini menurut Muhajir mangatakan bahwa batu nisan dari Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam ini beberapa ditemukan dijadikan sebagai alat pengasah parang atau pisau. Hal ini sangat disayangkan karena batu nisan Aceh merupakan warisan yang harus diselamatkan. Sebab, batu nisan tersebut merupakan bukti sejarah bahwa Aceh memiliki kebudayaan tinggi di masa lalu.

Bagaimana generasi muda sebaiknya memahami sejarah Aceh? Menurut Muhajir Asyie, generasi muda sebaiknya memahami bahwa batu nisan adalah “Seni Islam” merupakan kebudayaan yang timbul dari proses Islamisasi Nusantara, merupakan proses yang panjang dimulai dari Kesultanan Samudera Pasai beriringan dengan Kesultanan Lamuri dan dilanjutkan oleh Kesultanan Aceh Darussalam. Sejarah tersebut harus diwariskan agar generasi muda tidak menganggap batu nisan sebagai alat klenik, “batu dewa”, serta pemikiran-pemikiran mistis lainnya. Kenapa? Karena pemikiran yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah pula.

Tim tengkuputeh berpose di Musem Aceh

Tim Tengkuputeh dalam hal ini sepakat, sejarah jika tidak diceritakan dengan benar hanya akan menjadi mitos dan legenda semata. Ada banyak cerita sejarah yang hanya menjadi hikayat yang seolah tidak pernah terjadi, mari kita bersama-sama meluruskannya. Buat apa? Sedang kita tidak memperoleh kekayaan atau harta dengan mempelajari sejarah. Menurut tim Tengkuputeh sederhana saja, untuk memperkaya batin dan memperkuat ingatan kita.

Simak kunjungan tim Tengkuputeh ke museum Aceh dalam rangka pameran Batu Nisan Aceh sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara dalam video berikut :

Simak juga reportase lainnya

MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Asal Usil, Cuplikan Sejarah, Reportase and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA

  1. Aulia Fitri says:

    Nyan ka gron, Tengkuputeh kana tim 😀

  2. Pingback: MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  3. Pingback: VISITING THE EXHIBITION WITH THEME ACEH TOMBSTONE AS THE HERITAGE OF ISLAMIC CULTURE IN SOUTHEAST ASIA AT MUSEUM ACEH | Tengkuputeh

  4. jon slow says:

    ada keindahan dibalik kematian
    hmmm..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s