Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Cover buku dwi bahasa PERANG KOLONIAL BELANDA DI ACEH / THE DUTCH COLONIAL WAR IN ACEH cetakan ke-2 1990 oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh
Cover buku dwi bahasa PERANG KOLONIAL BELANDA DI ACEH / THE DUTCH COLONIAL WAR IN ACEH cetakan ke-2 1990 oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh

SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885

Tahun 1885. Tengku Syech Saman (Tengku Chik Di Tiro) mengirimkan surat kepada Residen Van Langen di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) , isinya tak lain adalah ultimatum. Ia menawarkan perdamaian, asal orang-orang Belanda menganut agama Islam, terlebih dahulu pemerintah. Berikut terjemahan transkipsi asli yang tersimpan pada perpustakaan Universitas Kerajaan Belanda di Leiden, Cod Or. 7321; duplikatnya tersimpan pada Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh di Banda Aceh.

Bahwa inilah alamat kami Teungku di Tiro barangkali disampaikan ke hadapan/majelis Seri Paduka Residen tinggal sekarang di Kutaraja di tanah Aceh besar adanya.

Syahdan adalah dahulu masa kami dalam dua puluh enam pada tahun yang dahulu antara Tuan. Surat bersurat atas jalan bersaleh-saleh serta kami telah jawab surat dengan terang syarat Tuan Besar itu masuk Islam mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika itu boleh kami bersaleh-saleh maka dalam itu. Tiadalah datang dari Tuan jawaban surat kami hingga sekarang juga boleh Tuan-Tuan masuk agama Islam dan menurut syariat Nabi itulah yang lebih baik atas Tuan-Tuan sejahtera dunia dengan tiada terbunuh di mana-mana dan tiada aib keji lari pontang-panting tiap-tiap sawah dan serokan hutan dan jalan dan barangkali dengan kuasa Tuhan seru sekalian alam keluar kompeni dalam negeri Aceh serta ambil b.k alif.s.n dan harta itulah yang sehabis keji dengan orang muslimin Aceh yang dhaif lagi miskin dan terlebih jahat lagi itu siksa api di dalam neraka jahanam dengan hukum Tuhan yang amat kuasa.

Maka jika Tuan-Tuan mau masuk ke dalam Islam sama-sama orang Aceh, maka kami harap pada Tuhan seru sekalian alam terpelihara daripada nyawa dan darah dan harta dan mencegah dan terpelihara daripada aib keji tangkap dibawa kemana-mana atau terbunuh dengan kehinaan barangkali jika Tuan-Tuan dengar dan nurut seperti nasehat kami ia dapat untung yang baik dapat kemegahan.

Jadi Tuan-Tuan akan kepada kami dan dapat harta seperti  yang telah lari-lari kepada kami telah dapat banyak harta dan duduk berjalanpun enak-enak tiada dihukum seseorang atasnya dan tidur makanpun sedap tiada seorang yang tegah dan tempelak seperti burung dalam hutan di atas pohon dan seperti ikan yang di dalam air hingga berapa dapat perempuan yang baik yang tiada campuran orang dengan dirinya tiada mengaku daripada hukum Islam setengahnya yang telah lari kepada kami sudah dapat anak-anak.

Maka yang terlebih baik dari itu sejahtera akhirat dengan baik kembali ke dalam syurga yang banyak nikmatnya kekal selama-lamanya tiada mati lagi bertambah-tambah nikmat dan lezat berlain-lain tiap-tiap yang hawa nafsunya daripada makanan dan minuman dan perempuan dan buah-buahanpun segeralah hasil. Dan pakaian jenis sekurang-kurangnya martabat isi syurga itu lapan puluh ribu khadam kulah qamar permata intan yang satu biji daripadanya itu terlebih daripada dunia dan barang-barang di dalamnya dan tujuh puluh bidadari perempuan yang menurut.

Akan kita dapat kheurajeun yang  terlebih daripada sepuluh kali kheurajeun dunia sekalian itulah halnya akan Tuan. Yang boleh masuk Islam barangkali dengan rahmat Tuhan Allah syahid Tuan pada perang dengan kafir, maka itupun berganda-ganda nikmat tujuh ratus ribu ganda karena apa Tuan-Tuan tiada pikir yang kemenangan dunia dan akhirat setelah Tuan datang azab daripada Allah ta’ala dunia dan akhirat wassalam ala manit taba’al huda.

Fizil Hijriah 16-1302

(Cap dengan tulisan Syeh Saman di Tiro)

Di dalam surat Kabinet Belanda bertanggal 15 Agustus 1888 huruf X no.52 Menteri a.l meminta Gubernur Jenderal mengenai tuntutan ulama Tiro tersebut sebagai berikut :

“Tuntutan yang tidak wajar agar kita menganut agama Islam tentulah diketahui oleh Teungku Di tiro maksud ayat ke 257 surat kedua di dalam Quran yang berbunyi : Tidak ada paksaan dalam agama : barangsiapa mengingkari Tagut dan beriman kepada Tuhan, maka ia memegang tongkat yang tidak akan patah.”

Kutipan Al-quran yang dipergunakan sebagai jawaban Menteri tersebut telah dikebiri karena lengkapnya berbunyi : “Tidak ada paksaan dalam agama. Kebenaran jelas berbeda dengan kesesatan. Karenanya barangsiapa yang kufur kepada Tagut (=Kufur kepada apa-apa yang melewati batas) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia berpegang kepada tali yang amat teguh, yang tidak putus. Dan Allah Maha mendengar, Maha mengetahui.”

Pemerintah Kolonial Belanda menyitir/mengkebiri ayat Al-quran dengan pesan bahwa peperangan di Aceh bukanlah perang agama, semata-mata hanya untuk membawa peradaban. Kelak terjadi perubahan situasi di Aceh di mana kubu kemerdekaan (Keluarga Tiro) seperti dinukilkan sejarah menuju kehancuran (hampir semua keturunan beliau dibunuh) sebagai kenangan-kenangan buruk.

H.C Zentgraff seorang Kopral Artileri yang turut Perang Aceh, kelak wartawan perang yang ulung menulis, “Dan adakah suatu bangsa di bumi ini yang tidak menulis tentang gugurnya para tokoh heroik dengan rasa penghargaan yang sedemikian tingginya di dalam buku sejarahnya?”

XXX

Biografi Singkat Teungku Chik di Tiro

Profil Tengku Chik di Tiro

Teungku Muhammad Saman adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang kuat.

Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya. Selain itu tidak lupa ia menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada di sana, sehingga ia mulai tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme. Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Muhammad Saman sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan ini dibuktikan dengan kehidupan nyata, yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Sabil.

Teungku Chik di Tiro Memimpin Perjuangan Rakyat Aceh melawan Kolonial Belanda

Dengan perang sabil, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukannya. Pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Muhammad Saman dapat merebut benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong dan lain-lain. Belanda akhirnya terjepit di sekitar kota Banda Aceh dengan mempergunakan taktik lini konsentrasi (concentratie stelsel) yaitu membuat benteng yang mengelilingi wilayah yang masih dikuasainya.

Teungku Chik di Tiro adalah tokoh yang kembali menggelorakan Perang Aceh pada tahun 1881 setelah menurunnya kegiatan penyerangan terhadap Belanda. Selama ia memimpin peperangan terjadi 4 kali pergantian gubernur Belanda yaitu:

Belanda akhirnya memakai siasat lain dengan cara meracunnya. Muhammad Saman akhirnya meninggal pada bulan Januari 1891 di benteng Aneuk Galong.

Informasi Lain

Salah satu cucunya adalah Hasan di Tiro, pendiri dan pemimpin Gerakan Aceh Merdeka.

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
Advertisements
Advertisements

61 thoughts on “SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885

Leave a Reply

%d bloggers like this: