BAJAK LAUT DARI PANTE KUYUN

Pesisir Barat Aceh adalah zamrud sekaligus safir berkilau yang memiliki senarai keindahan, rimba tropis yang hijau menghijau, lautan biru membiru, bebatuan membatu.

BAJAK LAUT DARI PANTE KUYUN

Dari puncak gunung Gurutee terlihat permukaan laut yang disinari matahari dengan amat perlahan naik menurutkan perintah dari yang MAHA gaib, kelak ia akan berangsur turun ke dasar lautan yang tak terlihat ranah tepinya. Cahaya yang silau, menyilaukan mata berpendar di muka air biru maha luas itu, tenang dan tak berombak.

Pesisir Barat Aceh adalah zamrud sekaligus safir berkilau yang memiliki senarai keindahan, rimba tropis yang hijau menghijau, lautan biru membiru, bebatuan membatu. Apakah kita boleh menganggap itu sebagai hak milik? Sedang itu semua anugerah Tuhan yang diberikan kepada semua manusia. Ataukah, bolehkah kita merasa acuh ketika keindahan alam itu dirusak oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Hidup memang begitu kita tak harus memilih salah satu sikap yang keras, melainkan dengan segala keterbatasan sebagai manusia mencoba untuk seimbang saja.

Kehadiran manusia di bumi telah dicatat oleh sejarah, sebuah kerja keras menggunakan kaidah ilmiah dibangun atas waktu, bukan tugas mudah. Di sisi lain hikayat berbeda dengan sejarah, dalam hikayat terdapat letupan emosi bisa cinta ataupun kemarahan bahkan perasaan bangga. Itu terjadi karena si penghikayat mencintai apa yang diceritakan. Hidup dalam hikayat berarti menyelami pikiran si pembawa cerita.

Hikayat tidak perlu harus ilmiah sebagaimana sejarah, tapi hikayat belum tentu sepenuhnya salah, mungkin ada informasi sejarah yang benar disana, untuk dibuktikan oleh para sejarawan, pada sisi lain sejarah pun tak mesti juga benar. Sebagaimana kepentingan penguasa senantiasa disisipkan selalu dalam sejarah. Ini adalah hikayat yang ditulis ulang, kebenaran (sejati) hanya Allah yang tahu.

XXX

Pante Kuyun, 20 Mei 1998.

Kegagalan pemerintah Republik Indonesia mengatasi gejolak ekonomi akibat krisis moneter mengakibatkan terjadinya kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa beberapa hari sebelumnya, 13 – 15 Mei 1998. Pada kerusuhan ini banyak toko dan rumah dihancurkan oleh amuk masa, terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa, konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Medan, Ratusan perempuan keturunan Tionghoa diperkosa, bahkan beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Sampai hari ini belum ada pembuktian bahwa kasus pemerkosaan dalam kerusuhan ini digerakkan secara sistematis, tapi besar dugaan itulah yang terjadi. Ini adalah lembaran hitam sejarah Indonesia yang tak pernah terungkap.

Nun jauh dari pusat geopolitik Indonesia, di pegunungan dekat pantai barat Aceh, hujan rintik-rintik sedari siang telah membasahi kampung Pante Kuyun. Berita kerusuhan yang terjadi di ibu kota, disikapi dengan terkejut. Tapi tak terlalu, warung kopi mempersiapkan diri menghadapi hajatan yang dinanti penduduk, tengah malam nanti akan terjadi pertandingan yang telah dinanti-nanti penikmat bola kampung ini. Final Liga Champions edisi 1997/1998, Juventus Vs Real Madrid yang akan berlangsung di Amsterdam Arena, dan disiarkan oleh RCTI. Hujan sendiri merupakan fenomena yang telah lama tiada, kurang dari setahun wilayah Asia Pasifik mengalami fenomena iklim yang dinamakan “El Nino” oleh para ahli, bahasa awam dari musim kemarau berkepanjangan.

Alam memberikan pertanda, kemarau berkepanjangan yang diikuti angin panas biasanya membawa kekacauan besar, begitu cerita para nenek. Ibnu Abbas merasa goyah dan khawatir. Dia mondar-mandir di dalam rumah, apalagi setelah mengetahui kekacauan yang terjadi di Jakarta (yang mana telat sampai kabarnya ke Pante Kuyun) semakin membuat dia luruh.

Di sisi lain hikayat berbeda dengan sejarah, dalam hikayat terdapat letupan emosi bisa cinta ataupun kemarahan bahkan perasaan bangga. Itu terjadi karena si penghikayat mencintai apa yang diceritakan. Hidup dalam hikayat berarti menyelami pikiran si pembawa cerita.

Sementara itu di kampung Pante Kuyun sedang ada cucu pertamanya, yaitu Abu anak dari putri pertamanya yang sedang menghabiskan liburan kenaikan kelas. Si cucu bukanlah orang yang senang untuk pulang kampung, tidur di dalam kelambu membuatnya tidak nyaman, belum lagi harus mandi di bedeng, buang air di sungai (di atas rakit) sungguh menyiksa baginya. Untuk menutupi kebosanan di kampung ia membawa banyak buku, beberapa disewa di tempat penyewaan Desperado, beberapa dipinjam dari perpustakaan sekolah SMP Negeri 1 Banda Aceh. Kebanyakan buku cerita dan beberapa buku sejarah yang menjadi minatnya. Akhirnya nanti malam selepas Isya sang cucu akan kembali ke Banda Aceh membuatnya merasa harus segera bertindak. Hikayat leluhur harus diturunkan segera, dia tak tahu akan hidup berapa lama lagi, meski Ibnu Abbas merasa dia tak secemerlang ayahnya, atau kakeknya untuk membawakan cerita sebagai seorang “Troubadour” tapi dipikirnya harus sebelum cerita ini musnah, tidak pernah (ada) ahli sejarah yang mencatatnya. Maka sore itu, selepas shalat Ashar lalu dipanggillah cucunya ke beranda, telah dia sediakan pisang goreng dan teh hangat. 

“Tutup buku Abu, saat ini kakek akan bercerita tentang sesuatu yang tak pernah dituliskan di buku manapun.” Kata Ibnu Abbas kepada cucunya yang sudah selesai mandi, rambut telah disisir rapi.

Si Abu setengah tertarik, dan menutup buku Lord of The Ring yang sedang dibaca.

“Kamu bisa membayangkan suatu keadaan di mana kita hidup bergembira, bercocok tanam dengan suka ria, kambing-kambing dan lembu-lembu yang kita miliki sehat semua, di saat kita haus kita kapan saja bisa memetik kelapa untuk minum. Tiba-tiba sepasukan asing datang untuk menganggu dan menjarah kampung kita?”

Si cucu menggelengkan kepala.

“Menurut kakekku, yang merupakan buyutmu itulah perasaannya ketika Belanda datang! Dan percayakah kamu jika aku katakan bahwa dari kampung yang terletak di pegunungan ini, kakekku itu adalah seorang bajak laut dari sekumpulan bajak laut sakti?”

Si cucu menatap kakeknya dengan sinar mata yang ingin tahu besar.

“Dahulu kala, kampung Pante Kuyun ini adalah asal para pejuang yang tangguh, mereka membuat perahu-perahu yang kuat mengikuti aliran sungai menuju laut kemudian merampok kepulauan kafir di selatan. Suku-suku Nih yang katanya sakti dijarah, perempuan-perempuannya yang berkulit kuning diperbudak, setelah bosan dijual ke pasar Lamno bahkan ke tanah Gayo.”

“Memperbudak? Bahkan menjual kek? Betapa mengerikannya!”

Sang Kakek tertawa, “kata kakekku kenapa harus diperbudak? Karena mereka kafir. Kenapa mereka harus dijual? Karena mereka bangsa pengecut. Tidak boleh dijadikan istri karena akan melahirkan keturunan yang pengecut.”

“Ini akan mengerikan jika dituliskan di buku sejarah.”

“Tentu mengerikan, oleh karena itu tidak dituliskan di buku-buku manapun. Aku bercerita kepadamu, jika nanti kamu menemukan orang Aceh yang lemah sifatnya, memiliki sifat-sifat pengecut, pecundang yang mengharapkan uang semata, maka dipastikan dia adalah keturunan Nih!” Coba sebutkan satu orang di wilayah barat atau tanah Gayo. Aku bisa mengetahui dia bernasab murni atau berdarah Nih!”

Ada rasa ketidaknyamanan dari si cucu mendengarkan cerita kakeknya tersebut, dia ingin mengakhiri cerita yang mengerikan ini namun segan.

“Menurut kakek nanti malam yang akan menjadi juara Juventus atau Real Madrid?”

“Tampaknya kamu kurang berminat dengan cerita ini. Sudahlah kalau begitu, yang ingin kakek katakan. Ke depan akan ada kekacauan besar, yang mungkin membuat kita kesusahan. Tapi pesan kakek, jangan takut karena kamu adalah keturunan bajak laut Pante Kuyun yang terkenal.”

Si cucu terdiam, di sekolah dia berprestasi biasa saja. Kadang-kadang menjadi korban bully karena salah satunya terlalu kutu buku. Masa depan tak menjamin kepastian. Keturunan Bajak Laut Pante Kuyun? Apakah benar?

“Jangankan raja, tidak ada dinasti yang berkuasa selamanya. Kita sendiri juga kelak akan mati tidak akan bisa hidup selamanya. Bagaimana cara menjalani sebaik-baiknya?”

“Dengan iman dan amal saleh kek?”

“Itu benar! Tapi iman dan amal saleh akan lebih apik jika dijalani dengan kegembiraan. Jaga selalu semangat riang gembira, jangan mudah tersinggung dengan candaan. Karena para bajak laut selalu memiliki humor yang akbar serta lelucon yang pahit.”

Azan Maghrib berkumandang, dan percakapan ini tak pernah selesai.

Peristiwa mengikuti:

  1. 21 Mei 1998, Presiden Suharto setelah berkuasa selama 32 tahun menyatakan berhenti sebagai presiden dan reformasi bergulir;
  2. 1999-2005 Konflik Aceh yaitu pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melawan pemerintah Republik Indonesia berkecambuk;
  3. 26 Desember 2004, Tsunami menghantam provinsi Aceh dan menewaskan 200.000 penduduk, korban terbesar ada di pesisir barat Aceh.

XXX

Kita hidup hari ini bersambung dari zuriat dari para leluhur yang telah lama tiada, dan sungguh kita hanya tahu sedikit tentang nenek moyang kita, bahkan kita yang bisa menyebutkan nama-nama mereka beberapa generasi sebelumnya.

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

BERZIARAH KE MASJID ASAL PENAMPAAN DI BLANGKEJEREN GAYO LUES

Mesjid Asal Penampaan (Foto tahun 2021).

Mesjid Asal Penampaan (Foto tahun 2021).

BERZIARAH KE MASJID ASAL PENAMPAAN DI BLANGKEJEREN GAYO LUES

Pada suatu sore yang cerah kami yang sedang berada di Blangkejeren, ibu kota Kabupaten Gayo Lues berkesempatan berziarah ke Masjid Asal Penampaan. Berlokasi di pinggiran sungai di Blah Penampaan, tepatnya dusun Muleng, Kampung Penampaan.

Sejarah Masjid Asal Penampaan.

Menurut sumber lokal Mesjid Asal Penampaan didirikan pada tahun 815 Hijriah bertepatan dengan 1412 Masehi pada masa Kerajaan Samudera Pasai. Mesjid ini dinamakan Asal karena ia adalah masjid pertama di kawasan Tanah Gayo dan Alas, sebagai asal muasal pendirian masjid di kawasan ini.

Masjid Asal Penampaan (Foto tahun 1909)

Diberi nama “Penampaan” karena dahulu kala mesjid ini dapat dilihat dari seluruh wilayah di Gayo Lues yang artinya “penampakan/tampak atau terlihat”. Berada di tanah datar yang dikelilingi oleh pengunungan yang umumnya merupakan dataran tinggi.

Bentuk Mesjid Asal Penampaan.

Arsitektur Masjid Asal  yang dibina dengan bahan utama kayu, bebatuan serta lempung kuning memberi kesan purbakala yang memancarkan kharisma kemegahan Islam masa lampau, mengikuti karateristik mesjid tradisional Aceh selama berabad-abad. Seperti Mesjid Indrapuri atau Masjid Raya Baiturrahman sebelum dibakar Belanda.

Renovasi Mesjid Asal Penampaan.

Bagian luar Messjid Awal Penampaan dan bagian dalam penambahan setelah renovasi. (Foto tahun 2021).

Saat ini Mesjid Asal telah direnovasi sejalan dengan perkembangan zaman, penduduk semakin bertambah sehingga tidak memadai lagi. Dibangun masjid baru (beton) dengan ukuran 60 x 40 meter berdampingan dengan masjid lama yang berkonstruksi kayu.  Dengan demikian Mesjid Asal menjadi dua bagian, sehingga pengunjung akan mendapati dua ruang dalam mesjid. Mesjid Asal yang asli hanya akan dibuka ketika melaksanakan shalat Jumat.

Makam para penyebar Islam di Tanah Gayo dan Alas.

Diluar mesjid terdapat beberapa makam mubalig yang telah membawa agama Islam ke tanah Gayo. Semoga Allah memberikan ampunan dan keselamatan untuk mereka para pribadi mulia.

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  2. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  3. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  4. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  5. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  6. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  7. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  8. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  9. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  10. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  11. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  12. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  13. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  14. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  15. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  16. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  17. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  18. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  19. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  20. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  21. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  22. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  23. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  24. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  25. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  26. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  27. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  28. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  29. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  30. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  31. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  32. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  33. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  34. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  35. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  36. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  37. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  38. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  39. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  40. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  41. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  42. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  43. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  44. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  45. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  46. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  47. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  48. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  49. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  50. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  51. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  52. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  53. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  54. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  55. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
  56. KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA; 9 APRIL 2021;
  57. HIKAYAT MEURAH SILU; 8 JUNI 2021;
  58. SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR; 29 JUNI 2021;
  59. RAJA DEKAT TUHAN JAUH; 3 AGUSTUS 2021;
Posted in Cuplikan Sejarah, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

KOPI PAHIT SEMALAM

Ku kenang kopi pahit tadi malam
Hari sudah bertambah satu lagi

KOPI PAHIT SEMALAM

Ingin kupukul sepi sore ini

Pada angin sepoi-sepoi manja ingin kukecam

Ada langkah yang tak tentu arah

Ujungnya malas bergerak lagi

Ku kenang kopi pahit tadi malam

Hari sudah bertambah satu lagi

Jalan-jalan sesak orang-orang

Kutemukan hanya aku yang sendirian

Langsa, 2 Muharram 1443 Hijriah (bertepatan 11 Agustus 2021)

Beberapa PUISI terdahulu:

  1. Seminggu Setelah Tsunami Aceh; 13 Desember 2017;
  2. Penantian; 21 Februari 2018;
  3. Di Tepian Pantai Pulau Bunta; 6 Maret 2018;
  4. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  5. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  6. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  7. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  8. Jangan Mencintai Lautan; 4 April 2019;
  9. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  10. Peucut Kherkof Suatu Masa; 24 September 2019;
  11. Mengunci Malam; 1 April 2020;
  12. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  13. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  14. Jejak Langkah; 26 Desember 2020;
  15. Hati Resah Berkisah; 1 April 2021;
Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RAJA DEKAT TUHAN JAUH

Pinto Khop Taman Putroe Phang pada suatu hari di abad XIX

Pinto Khop Taman Putroe Phang pada suatu hari di abad XIX

RAJA DEKAT TUHAN JAUH

“Sejarah itu panjang, beribu-ribu tahun, dan panjang dan beribu-ribu pula tafsir yang ditulis!”

Syahbudin dan Syahmiun adalah keturunan dari raja-raja Mante yang pernah berkuasa ratusan tahun lalu di Seumileuk, dinasti rumah dua belas. Lokasinya mereka sudah tidak tahu lagi, entah dekat Jantho atau Seulimum. Pergantian raja, kedatangan orang-orang Campa, Arab, India dan Persia sampai perang membuat mereka turun derajat menjadi pengembala lembu. Awalnya mereka mengembala di daerah Seulimum sampai akhirnya lemo1) mereka meurot2) tanpa permisi tanaman penduduk sekitar, tahi-tahi lembu membuat suasana kampung Keunalo memanas, mereka pun memindahkan kawasan gembala ke pengunungan Cot Seratus.

Meski mereka bangsawan yang telah jatuh derajatnya menjadi jelata, ternyata mereka bahagia. Berhubung Sultan yang baru berkuasa dalam waktu dekat baru saja membasmi bangsawan lama, dan menganti dengan orang kaya baru. Kaum bangsawan baru kaya ini juga takut nanti suatu hari akan dilantak oleh Sultan kalau tidak menyenangkan hatinya.

“Rokok din!”

“Rokok un!”

Di pondok gembala mereka menertawakan dan mengejek sang raja sepuas hati, tentang kentut raja katanya berbau khob3) akibat terlalu banyak “makan” daging. Tidak ada yang mendengar mereka bersenda di tengah sabana tanah lapang tidak berdinding sehingga tidak berlaku pepatah dinding punya telinga untuk penguasa. Mereka adalah dua orang paling bebas di seluruh negeri, bahkan putra mahkota jika tahu akan merasa iri pada dua karib ini.

Kawasan pengunungan Cot Seratus di lerengnya tandus dan berbatu sehingga kurang cocok untuk bertani sebenarnya, suatu hari datanglah Lilawangsa anak Lamuri dari Lampanah, dia berencana membuka ladang kebun jeruk di situ. Syahbudin dan Syahmiun tidak paham masalah jeruk jadi hana masalah4) Lilawangsa berladang di dekat mereka.

Berbeda dengan sekawan dari suku mante yang malas mandi, serampangan dan selalu tertawa dog5). Lilawangsa ini berpembawaan serius dan hemat bicara. Acap kali dia mendengar lelucon-lelucon Syahbudin dan Syahmiun, tapi tidak tertawa.

Selera humor yang kurang membuat Lilawangsa menjadi mudah tersinggung, seperti ketika ia membawa berita dari Bandar bahwa Sultan telah membuat sebuah pemandian megah untuk permaisuri yang baru dari kerajaan Pahang, bahkan membangun pintu khop6) dari beton putih di pinggir sungai tersebut sehingga tidak sembarang orang boleh masuk, mereka yang masuk pun harus menundukkan kepala karena pintu itu dirancang dengan ukuran yang tidak tinggi. Syahbudin dan Syahmiun mengatakan memang Sultan seorang yang cabul sehingga membuat senang dengan membuat taman ghairah untuk Putri Pahang dengan tujuan mendapat layanan “pintu bawah” dari sang putri.  

Lilawangsa anak Lamuri punya semangat mengabdi kepada kerajaan, sehingga kesal ketika Syahbudin dan Syahmiun mengata-gatai junjungan negeri. Dia tidak berani dengan dua anak mante yang sakti tersebut, salah satu kehebatan mereka adalah mampu berbicara dengan hewan, harimau-harimau sekitar pengunungan Cot Seratus tidak berani menganggu ternak mereka. Kerap kali Lilawangsa melihat harimau tersesat di kawasan itu takzim “lake meuah” kepada mereka.

Suatu hari Lilawangsa pulang dari Bandar menjual hasil panen jeruk, dia mendengar Sultan berencana menyerang Malaka untuk membebaskan Semenanjung dari bangsa Portugis, ini adalah kesempatan emas untuk mengubah nasib, ketika dia mengajak Syahbudin dan Syahmiun mendaftar sebagai askar. Mereka menolak, malas kata mereka, lagian kami cinta damai, “gatai asoe” tambah keduanya.

Suatu hari tibalah para pencari bakat kerajaan di Cot Seratus mengajak bergabung askar. Lilawangsa segera bergabung dan meninggalkan ladang jeruknya, sedang Syahbudin dan Syahmiun peubagai droe7), melihat kawannya bergabung mereka sempat berkata, “bak gob mupakee bek gata pawang, bak gob muprang bek gata panglima!” Lihat artinya disini. Merasa terhina Lilawangsa bermaksud membalas dendam.

“Hana buet mita buet, cok plaken cilet bak pruet.”

Lilawangsa pun bergabung dalam askar, semangatnya yang tinggi membuat dia diperhitungkan. Dia bahkan ditunjuk menjadi penembak meriam di kapal induk kerajaan, bernama Cakradonya, orang Portugis menamainya “Teror Dunia” karena dilengkapi 200 meriam bunthok8) dan memiliki lambung kapal dengan panjang sekitar 200 meter.

Ketika Sultan melakukan kunjungan pengecekan dia memberanikan diri berbicara, “Paduka di pengunungan Cot Seratus ada dua orang sakti yang akan membuat kita lebih mudah memenangkan perang, tapi mereka tidak mau bergabung dengan askar.”

“Siapa mereka?” Tanya Sultan.

“Dua orang Mante yang sangat kuat, tapi saran saya mereka jangan dilawan karena 200 prajurit pasti akan binasa menghadapi mereka, caranya ancam bakar kampung mereka di Keunalo, jika kurang ancam juga poh matee9) hewan-hewan ternak mereka.”

“Ide bagus, besok ajak 10 orang askar kesana dan ajak dia bergabung.” Titah Sultan.

“Baiknya saya tidak ikut karena mereka mengenali saya paduka, mohon tunjuk orang lain saya akan mengambarkan peta lokasi dan memberikan ciri-ciri mereka.” Saran Lilawangsa.

“Oke!” Kata Sultan.

Seorang Perancis yang sedang melakukan muhibah di kerajaan mendengarkan percakapan itu, dia diam saja. Malamnya dia menemui Lilawangsa menanyakan alasan dia memberikan kepada Sultan, bukankah itu tidak baik dan melanggar perintah Tuhan.

Lilawangsa menjawab dengan santai, “Raja Dekat Tuhan Jauh!” Orang Perancis itu, bernama de Beaulieu mencatat kata-kata Lilawangsa, kelak kalimat ini akan muncul pada memoir perjalanannya ke Aceh, ditulis ulang oleh Denys Lombard sebuah buku dengan judul “Kerajaan Aceh Jaman Sultan Iskandar Muda.”

Keesokan harinya askar mendatangi Syahbudin dan Syahmiun yang sedang peutupat rung10) dipondok gembala. Mereka langsung terkejut ketika pasukan berwajah tidak ramah dan mengancam. “Kalian bergabung dengan askar atau kami tembaki lembu-lembu ini!”

Syahmiun naik spaning dan ingin menghabisi askar tersebut tapi ditahan oleh Syahbudin yang lebih kalem seraya berkata, “mengapa bapak-bapak pejabat begini? Bukankah hal ini dilarang Tuhan?”

Komandan menjawab lugas, “Raja Dekat Tuhan Jauh!”

“Raja to Tuhan jioh!”

Maka lemaslah lutut dua anak mante tersebut, dengan pilu menatap jambo11) mereka untuk terakhir kalinya. Terpaksalah mereka bergabung dengan askar Aceh Darussalam membebaskan Malaka.

Syahbudin membesarkan hati kawannya Syahmiun sekaligus hatinya juga dengan berbisik, “seumur hidup kita malas sembahyang, mungkin perang melawan kafir adalah cara Tuhan mensucikan dosa-dosa kita.”

Miun mengangguk pelan seraya menggerutu, “Raja yang ambisi membuat rakyat sakit pinggang!”

Syahbudin, “sabar negera sedang sulit.”

Mereka cekikikan, lelucon akan bagi mereka terasa dekat, memanggil rasa haru, bangga dan bahagia secara akrab disaat waktu terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. 

XXX

Penyerangan Malaka (Portugis) oleh Kesultanan Aceh Darussalam di tahun 1629

Armada Aceh menyerbu kota Malaka (Portugis), Syahbudin dan Syahmiun masuk kompi Pok Sumpon12) di bawah komando Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani berada digarda terdepan. Mereka adalah pasukan Aceh pertama mendarat di Semananjung.

Syahbudin dan Syahmiun sangat ganas, tak terhitung Cristiano Ronaldo, Manuel Rui Costa dan sejenisnya tewas di tangan dua mante kesayangan kita ini meski mereka jarang mandi. Kota Malaka sudah dikepung, separuh nafas lagi diduduki tinggal benteng Formosa. Tanah Melayu dalam waktu dekat akan dibebaskan dari al-kafirun.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, tiba-tiba armada bantuan Portugis dari Goa (India) muncul di Selat Malaka, perimbangan kekuatan terjadi di lautan. Sementara dari arah daratan pasukan Johor yang berjanji menjadi sekutu Aceh malah membantu musuh. Kapal-kapal Aceh terbakar, Sultan memerintahkan armada Aceh balik kanan untuk mencegah kerusakan yang lebih berat.

“Hai kapai! Pakon neutinggai kamoe?”

Sementara di depan benteng Malaka kompi askar Aceh yang sudah terlanjut turun ke darat tertinggal! Satu demi satu kawan Aceh gugur, sampai akhirnya tinggallah tiga orang; Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani, Syahbudin dan Syahmiun. Mereka dikepung habis-habisan. Kesaktian Syahbudin dan Syahmiun membuat mereka tak mempan pedang dan peluru, ilmu mak’rifat besi, tapi kekebalan itu tidak mengurangi rasa sakit akibat direntet peluru. 

“Wadau! Wadidaw! Waawwww!” Mereka memeluk Syeikh Syamsuddin yang tak kebal sambil berteriak kesakitan dengan tegas dan jelas, tanpa suara dengung. Menurut pakar makhraj, pengucapan mereka saat itu Izhar Halqi.

Tersudutlah mereka bertiga di Kampung Ketek, Kota Malaka. Sambil menangis Syahmiun berkata kepada Syeikh, “kami tak sanggup lagi, rasa sakit ini sudah tak tertahankan. Izinkan kami mencabut jimat kami syeh!” Sementara Syahbudin meringis kesakitan menatap Syeikh Syamsuddin meminta persetujuan. Ia pun mengangguk.

“Bismillahirahmanirrahim.” Selesai diucapkan kalimat tauhid yang membesarkan nama Allah, mereka berdua serentak mencabut gelang jimatnya. Maka kembalilah dua anak mante pengembala lembu yang penuh bid’ah dan khufarat itu kepada sang penguasa alam semesta yang agung, bersama Syeikh Syamsuddin bin Abdullah As-Sumatrani seorang ulama besar Aceh sebelum maut menjemput mereka melafalkan dengan syahdu. “Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah.” Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

XXX

Extent of Aceh Sultanate during the reign of Iskandar Muda, 1608–1637. Source Wikipedia

Penyerangan Kesultanan Aceh Darussalam ke Malaka (Portugis) tahun 1629 gagal total. Menurut sumber Portugis, seluruh armada Aceh hancur dengan kehilangan 19.000 prajurit. Setelah kekalahan tersebut, Sultan Iskandar Muda mengirimkan dua ekspedisi laut besar lainnya. Di tahun 1630-1631 dan 1634, untuk menghancurkan pemberontakan di Pahang. Pada masa Sultan Iskandar Muda, Kesultanan Aceh Darussalam menguasai seluruh wilayah Utara Pulau Sumatera dan wilayah Utara Semenanjung Melayu. Pada ekspedisi tersebut Lilawangsa menjadi panglima perang yang paling ditakuti keganasannya, dijuluki dengan nama Maharaja Lilawangsa. Namanya kelak dikenal dalam bahasa Melayu menjadi “Merajalela.”

XXX

Index terjemahan:

  1. lemo1) =lembu (Bahasa Aceh);
  2. meurot2) = binatang ternak makan tanaman orang lain tanpa permisi (Bahasa Aceh);
  3. khob3) = tahi basah (Bahasa Aceh);
  4. hana masalah4) = Tidak Masalah (Bahasa Aceh);
  5. tertawa dog5) = Tertawa terpingkal-pingkal (Bahasa Aceh);
  6. pintu khop6) =Pintu bawah (Bahasa Aceh);
  7. peubagai droe7) = Pura-pura menjadi manusia bodoh (Bahasa Aceh);
  8. meriam bunthok8) = Meriam besar (Bahasa Aceh);
  9. poh matee9) = Bunuh (Bahasa Aceh);
  10. peutupat rung10) = Santai tidur-tiduran (Bahasa Aceh);
  11. jambo11) = Pondok kecil (Bahasa Aceh);
  12. Pok Sumpon12) = Maju terus pantang mundur (Bahasa Aceh);

XXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  2. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  3. Selamanya; 14 Desember 2008;
  4. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  5. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  6. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  7. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  8. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  9. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  10. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  11. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  12. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  13. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  14. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  15. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  16. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  17. Ada Banyak Cinta; 15 Maret 2011;
  18. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  19. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  20. Ode Seekor Harimau; 19 Agustus 2012;
  21. Ashura; 13 Februari 2013;
  22. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  23. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  24. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  25. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  26. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  27. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  28. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  29. Perjalanan; 29 November 2013;
  30. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  31. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  32. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  33. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  34. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  35. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  36. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  37. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  38. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  39. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  40. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  41. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  42. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  43. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  44. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  45. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  46. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  47. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
  48. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  49. Akhir Riwayat Sang Durjana; 25 Maret 2021;
  50. Hikayat Meurah Silu; 6 Juni 2021;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

DERITA

Hidup (dan) sejarah adalah perjalanan penderitaan, dunia ini adalah cobaan yang tak pernah habis.

DERITA

Derita datang dari ingin, ketika kenyataan tak sebanding dengan keinginan. Pernahkah terpikirkan bahwa (mungkin) kenyataan itu tak datang karena ia tak ingin hadir. Meski usaha telah sungguh dan harap telah penuh. Bahagia dan derita begitu dekat.

Rasanya sungguh sedih bahwa begitu banyak orang menderita demi tujuan yang tak tercapai, tentang mimpi burung-burung jalak sederajat dengan mimpi raja-raja. Kesedihan yang sungguh meremas-remas dada.

Kita perlu menderita mungkin untuk mengakui bahwa manusia memiliki batasnya sendiri, alam semesta ini terlalu besar dibandingkan pikiran dan perasaan kita. Berbagai kecamuk kepentingan bertubrukan sehingga menjauhkan ingin dan harap dengan realita.

Kapan lapar? Kapan mengantuk? Tak ada kendali kita pada peristiwa, jangankan mengatur semesta bahkan tubuh kita tak penuh seluruh dalam genggaman hasrat. Satu-satunya kemerdekaan kita hanyalah niat, selain itu tiada.

Hidup (dan) sejarah adalah perjalanan penderitaan, dunia ini adalah cobaan yang tak pernah habis. (Mungkin) ia merasakan dirinya telah menjadi cobaan bagi orang lain. Demi memperoleh ketenangan hidup, dia berniat melupakan semua yang pernah dilakukannya. Tapi, itu tidak bisa dimaafkan.

Tentu saja sebuah niat baik. Tentu juga (sebuah) kisah angkuh.

Langsa, 14 Juli 2021

15 renungan terakhir: 

  1. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  2. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  3. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  4. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  5. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  6. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  7. Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri; 3 April 2019;
  8. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  9. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  10. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  11. Sunyi; 19 Maret 2020;
  12. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  13. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  14. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
  15. Semerbak Aroma Angsana di Banda Aceh; 30 November 2020;
Posted in Opini, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR

Alauddin Mahmudsyah II adalah merupakan Sultan Aceh terakhir yang memerintah sebelum invasi kolonial. Ia menolak pengakuan terhadap kedaulatan kerajaan Belanda atas Kesultanan Aceh setelah perjanjian Sumatra (Traktat Sumatera) antara Belanda dan Inggris. Atas penolakan tersebut, Kerajaan Belanda akhirnya menyatakan Perang terhadap Kesultanan Aceh pada tanggal 26 Maret 1873.

SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR

Sultan Alaiddin Mahmudsyah II adalah putera dari Sultan Sulaiman Ali Iskandarsyah bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah I. Dilahirkan sekitar tahun 1855 Masehi (1272 H). Ketika pamannya Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah (1841-1870 M) mangkat, atas permusyawaratan pembesar kerajaan Aceh, dengan suara bulat, diangkatlah Tuanku Mahmud (demikian nama kecilnya) menjadi Sultan Aceh di usia 15 tahun, untuk sementara jabatan beliau ditunjuk wali adalah Habib Abdurrahman Az-Zahir, Mangkubumi Kerajaan Aceh seorang keturunan Arab yang berasal dari Malabar (India).

Alauddin Mahmudsyah II adalah merupakan Sultan Aceh terakhir yang memerintah sebelum invasi kolonial. Ia menolak pengakuan terhadap kedaulatan kerajaan Belanda atas Kesultanan Aceh setelah perjanjian Sumatra (Traktat Sumatera) antara Belanda dan Inggris. Atas penolakan tersebut, Kerajaan Belanda akhirnya menyatakan Perang terhadap Kesultanan Aceh pada tanggal 26 Maret 1873. 

Keadaan Kerajaan Aceh menjelang invasi Belanda

Pada tahun pertama pemerintahannya, 1870 M terjadi kemelut dalam negeri Aceh, yaitu terpecahnya para pembesar kerajaan Aceh ke dalam dua blok. Satu pihak dipelopori oleh Habib Abdurrahman Az-Zahir dan pihak lain dipelopori Panglima Tibang, seorang Tamil hindu yang masuk Islam. Sultan sendiri pada mula-mula masuk dalam blok Panglima Tibang dan kawan-kawannya, tetapi ketika mengetahui bahwa Panglima Tibang bertujuan mencari kesempatan dalam kesempitan beliau melepaskan diri dari golongan mereka.

Pada tahun 1872 M, kedua belah pihak bersatu kembali karena kemampuan Sultan Mahmud yang memiliki pembawaan lemah lembut. Sultan Mahmud berguru kepada seorang ulama Syech Abbas Tengku Chik Kuta Karang yang termasyur, ahli politik, militer serta seorang penggerak jiwa masyarakat dengan semangat juang yang berkobar-kobar terutama dalam hal persiapan menghadapi Belanda.

Waktu itu setiap orang Aceh terutama para pembesar telah menduga dalam waktu dekat Pemerintah Kolonial Belanda tidak akan puas dengan wilayah Nusantara yang sudah dikuasai sebelum kerajaan Aceh masuk dalam genggaman mereka. Menghadapi kemungkinan serangan tiba-tiba oleh pasukan Belanda Sultan Mahmudsyah memerintahkan seluruh panglima untuk mempersiapkan kubu pertahanan di sepanjang pantai wilayah Aceh Lhee Sagoe (Aceh Besar). Sultan meminta kepada Tengku Chik Kuta Karang menyebarkan seruan jihad demi bangsa dan tanah air berporoskan agama Islam. Kepada Panglima Sagi XXII, XXV dan XXVI mukim. Teuku Nyak Raja Imum Lueng Bata, Teuku Nek Purba Wangsa IX mukim, Tuanku Nanta Setia dan seluruh rakyat diminta bersiap mengadakan mobilisasi umum dan berlatih sebelum dikerahkan menghadapi musuh.

Pada bulan Maret 1873 Masehi di perairan Aceh muncullah berpuluh-puluh kapal perang Belanda, mereka melabuhkan sauhnya di perairan Meuraxa, dimana uleebalang (raja kecil/penguasa) Teuku Nek Meuraxa telah lama disinyalir bermain mata dengan Belanda. Sultan Mahmudsyah memanggil seluruh pembesar dan panglima untuk mengadakan pertemuan untuk merundingkan segala macam kemungkinan yang akan dihadapi. Dalam pertemuan tersebut hadir antara lain:

  1. Teuku Panglima Polem Mahmud Tjut Banta selaku Panglima Sagi XXII mukim merangkap Panglima (Besar) Perang Angkatan Perang Aceh;
  2. Teuku Panglima Seri Muda Perkasa Tjut Lam Reung, Panglima Sagi / Angkatan Perang XXVI mukim;
  3. Teuku Panglima Seri Setia Ulama Tjut Abbas, Panglima Sagi / Angkatan Perang XXV mukim;
  4. Teuku Raja Imum Lueng Bata, Panglima Perang diluar wilayah tiga Sagi;
  5. Tuanku Nanta Setia Raja, Uleebalang VI mukim Peukan Bada;
  6. Teuku Nek Purba Wangsa, Uleebalang IX mukim Lam Kunyet;
  7. Teuku Tjut Tungkup, Uleebalang XIII mukim Tungkup;
  8. Teuku Panglima Mesjid Raya;
  9. Teuku Kadhi Malikul Adil;
  10. Teuku Nek dari VI mukim Meuraxa serta para pembesar kerajaan Aceh yang lain.

Kecuali Teuku Nek Meuraxa, seluruh anggota sidang serius dan tulus mengikuti, serta berpikir keras untuk menyusun strategi menghadapi invasi Belanda. Pada sidang tersebut Teuku Panglima Polem Mahmud Tjut Banta dan Teuku Imum Lueng Bata menjadi sosok yang paling didengarkan oleh peserta lainnya.

Sultan Mahmudsyah yang masih belia memimpin sidang pertemuan tersebut, ketika pertemuan dilaksanakan datanglah utusan ke balairung istana kerajaan Aceh membawa surat dari kapal Belanda yang berlabuh di laut Meuraxa. Surat tersebut dibacakan oleh Teuku Keurekun Katibul Muluk Seri Indra Muda Tjut Mahmud dihadapan sidang, lalu Sultan meminta pendapat para anggota. Teuku Nyak Raja Imum Lueng Bata berdiri dan mengeluarkan pendapat, “Deelat po, bek peu pikee keu kaphee sitree, panyang ta koh lhee paneuk koh dua!” sebuah pribahasa Aceh yang kira-kira artinya: Tuanku Sultan tak usah pikir panjang, Belanda seteru kita, hari ini pun musuh dan besokpun musuh.” Kata yang sederhana tetapi cukup luas secara arti sehingga melahirkan pendapat bulat, serta disetujui oleh Sultan Mahmudsyah, Aceh menyongsong perang melawan Belanda.

Kepemimpinan Sultan Alaiddin Mahmudsyah II menghadapi Ekspedisi Pertama Belanda ke Aceh

Besok harinya tanggal 26 Maret 1873. Kerajaan Belanda memaklumatkan perang dengan Kerajaan Aceh, seluruh pasukan Aceh telah siaga dan mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Pada tanggal 8 April 1873, mendaratlah pasukan Belanda di pantai Cermin Meuraxa sejumlah sekitar 7500 orang dengan perlengkapan senjata modern disambut para pejuang Aceh. Bergelimpanganlah pasukan Belanda serta banyak pula prajurit Aceh yang syahid membela bangsa dan tanah airnya. Pada hari pertama gugurlah Teuku Ramasetia Panglima Barisan Istana dan Teuku Imam Lam Krak dari XXII mukim suami dari Tengku Fakinah seorang srikandi Aceh yang akan memimpin pasukan perempuan pada belakangan hari nantinya.

Sultan Alaiddin Mahmudsyah tampil ke depan sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang Aceh bersama Teuku Panglima Polem Mahmud Tjut Banta dan anaknya (Kelak Panglima Polem selanjutnya) Ibrahim Muda Kuala, serta Teuku Imum Lueng Bata ahli militer Aceh yang terkenal menyusun dan mengatur strategi, taktik dan siasat dalam pertempuran menghadapi Belanda. Setelah pertempuran mati-matian selama 4 hari Belanda mencapai Masjid Raya karena ada orang Aceh yang menjadi pengkhianat dan merintis jalan untuk memudahkan penyerbuan Belanda ke darat. Pasukan Belanda berhasil membakar Masjid Raya namun disinilah tentara Belanda banyak yang tewas dan pada 14 April 1873 pimpinan tertinggi ekspedisi Belanda Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler terbunuh, akibatnya moral pasukan Belanda runtuh. Pada tanggal 17 April 1873 pasukan Belanda mundur dari Aceh.

Ekspedisi Kedua Belanda ke Aceh dan wafatnya Sultan Alaiddin Mahmudsyah II

Tujuh bulan berselang, pada tanggal 9 Desember 1873 tentara Belanda menyerbu kembali Aceh melalui Kuala Gigieng, di daerah XXVI mukim. Pasukan Aceh mendapatkan tenaga tambahan yaitu Tuanku Hasyim Banta Muda yang baru kembali dari front Sumatera Timur serta langsung bertindak sebagai Wakil Sultan / Panglima Tertinggi Angkatan Perang Aceh. Pasukan Belanda sendiri ditambah menjadi 12.000 tenaga manusia, namun yang paling berbahaya Belanda pada agresi kali ini membawa senjata biologis yaitu bibit penyakit kolera. Sebelum melakukan pendaratan Belanda melemparkan sejumlah mayat korban wabah kolera di sungai dan pesisir pantai Aceh.

Benteng Kuta Karang salah satu benteng Aceh dalam peperangan melawan Belanda

Benteng Kuta Karang salah satu benteng Aceh dalam peperangan melawan Belanda

Terjadilah pertempuran sengit antara penjajah dan anak negeri. Pertahanan Aceh yang disusun rapi, dengan benteng yang berlapis agar tidak bisa ditembus Belanda, tetapi ada saja pengkhianat yang memberikan petunjuk kepada Belanda. Jengkal demi jengkal tanah dipertahankan dengan semangat patriotik, pasukan dan panglima Aceh dibawah satu komando tertinggi Sultan Mahmudsyah bertarung, bertempur dan bertahan mati-matian. Pada tanggal 24 Januari 1874 Belanda berhasil merebut Dalam (Istana) Kerajaan Aceh setelah 18 hari menyerang, menyerbu dan mengepungnya dari tanggal 6 Januari 1874.

Belanda sangat kecewa karena istana telah dikosongkan. Sultan, pembesar kerajaan dan pasukan Aceh telah mengundurkan diri. Sultan Mahmudsyah telah memindahkan pusat pemerintahan ke Lueng Bata. Dari sini Sultan Mahmudsyah berencana mengatur pemerintahan, menyusun strategi peperangan dalam pertempuran menghadapi Belanda. Pada tanggal 26 Januari 1874, 2 hari setelah jatuhnya Dalam ke tangan Belanda, Sultan Mahmudsyah tiba-tiba diserang penyakit kolera yang merupakan senjata biologis yang dibawa pasukan Belanda, pada hari itu juga beliau, Sultan Alaiddin Mahmudsyah II menutup mata untuk selama-lamanya. Namun walaupun beliau telah berpulang, tetapi perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda terus berjalan. Ketika peperangan total telah surut maka disambung dengan perang gerilya untuk sementara, bahkan ada masa timbul perlawanan kepada Belanda oleh hanya seorang, demikianlah terus menerus sampai Belanda angkat kaki selama-lamanya dari bumi Aceh pada tanggal 12 Maret 1942.

Depopulasi Penduduk Aceh Akibat Perang Dengan Belanda

Seorang peneliti sekaligus penjelajah asal Inggris bernama William Marsden, memulai pengamatan ke Pulau Sumatera pada tahun 1771. Ia berhasil mengungkapkan hal-hal yang tidak belum terungkap sebelumnya, bukunya, The History of Sumatra merupakan sebuah karya besar pada abad ke-18 yang ditulis berdasarkan riset dan observasi yang sudah tergolong canggih waktu itu menjelaskan bahwa penduduk Aceh ketika itu sangat padat bahkan melebihi perkiraan moderat.

Sedangkan menurut sumber Aceh sendiri menurut berita yang mutawatir dan sahih, penduduk Aceh sebelum Belanda datang, tahun 1873 berjumlah antara 4,5 juta sampai 5 juta jiwa. Ketika Sultan Aceh terakhir Alaiddin Muhammad Daudsyah ditangkap, tahun 1903 penduduk Aceh tinggal antara 800.000 sampai 1 juta jiwa. Peperangan dengan Belanda membuat penduduk Aceh mengalami penurunan jumlah penduduk (atau depopulasi). Dengan demikian Belanda baru berhasil menguasai tanah rencong setelah melangkahi 4 juta mayat rakyat Aceh, putera-puteri zuriat Iskandar Muda. Jumlah penduduk yang hilang akibat peperangan dengan Belanda baru dapat dicapai kembali Aceh pada tahun 2019 dengan jumlah penduduk 5,3 juta (sensus BPS).

DAFTAR PUSTAKA:

  1. Aceh Sepanjang Abad Jilid Kedua; Mengungkapkan dari eskpedisi Belanda kedua ke Aceh sampai keadaan tahun 1945; Penulis H. Mohammad Said; Dicetak oleh P.T. Percetakan Prakarsa Abadi Press; Diterbitkan oleh P.T Harian Waspada; Medan.
  2. Sejarah Sumatera (History of Sumatra); di tulis oleh William Marsden, F.R.S diterbitkan oleh T. Payne & Son tahun 1811 Masehi.
  3. Kenang2an Kepada Pahlawan Aceh; di susun oleh Panitia Besar Peringatan Tiga Pahlawan Nasional Tgk. Tjhik Ditiro, Tjut Njak Dhien dan T. Umar; di terbitkan Sumatera Utara; tahun 1964.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  2. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  3. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  4. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  5. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  6. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  7. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  8. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  9. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  10. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  11. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  12. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  13. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  14. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  15. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  16. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  17. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  18. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  19. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  20. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  21. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  22. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  23. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  24. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  25. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  26. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  27. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  28. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  29. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  30. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  31. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  32. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  33. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  34. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  35. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  36. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  37. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  38. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  39. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  40. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  41. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  42. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  43. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  44. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  45. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  46. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  47. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  48. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  49. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  50. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  51. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  52. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  53. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  54. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  55. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  56. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  57. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
  58. KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA; 9 APRIL 2021;
  59. HIKAYAT MEURAH SILU; 8 JUNI 2021;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

ILMU MEMAHAMI ILMU

Penyerangan Malaka (Portugis) oleh Kesultanan Aceh Darussalam di tahun 1629

ILMU MEMAHAMI ILMU

Di Nusantara rentang abad ke XV sampai XVII, armada Aceh menguasai perairan Selat Malaka sehingga disegani oleh kekuatan-kekuatan besar Eropa yang ingin menancapkan kuku di Nusantara. Pertempuran Aceh melawan bangsa Portugis terjadi di pesisir pantai sehingga tidak pernah ada pasukan Eropa yang mampu menginjak bumi Aceh. Waktu berjalan, Kesultanan Aceh melemah. Ketika Belanda menyerang dan mengepung perairan Aceh pada 1873, tidak ada lagi kapal perang Aceh yang menghalau pasukan Belanda turun ke daratan.

Manusia dibentuk oleh ruang dan waktu, artinya manusia berkembang seiring dengan umur dengan cara mengalami ketika menghadapi dunia. Karena manusia tidak mungkin mengalami segala sesuatu sebelum menjalaninya. Untuk itu kita memerlukan ilmu dari pengalaman orang lain, membaca atau mendengarkan berarti mengakuisi pengetahuan orang lain. Mungkin tidak penuh seluruh, tapi mungkin dapat memberikan gambaran.

Pertempuran Nagashino (1575 Masehi) Penggunaan senjata api pasukan koalisi Nobunaga dan Tokugawa yang terampil untuk mengalahkan taktik kavaleri Takeda sering disebut sebagai titik balik dalam peperangan Jepang; banyak yang menyebutkannya sebagai pertempuran Jepang “modern” pertama.

Pertempuran Nagashino, Jepang tahun 1575. Pasukan Oda Nobunaga dan Tokugawa menggunakan pasukan senapan mengalahkan pasukan kavaleri berkuda Takeda Katsuyori yang terkenal perkasa. Kejadian ini di sejarah Jepang merupakan titik balik sebagai pertempuran modern. Kekalahan ini mengakhiri hidup dan dominasi keluarga Takeda di provinsi Kai.

Katsuyori sendiri adalah jenderal yang hebat, tahun 1569 ia mengalahkan Hojo Ujinobu pada pengepungan Kanbara, dan sukses mengalahkan klan Tokugawa pada pengepungan Futamata dan Mikatagahara. Tahun 1573 ia menjadi pemimpin klan Takeda setelah kematian ayahnya Shingen. Bahkan pada tahun 1574 berhasil merebut benteng Takatenjin dari Tokugawa Ieyasu. Namun kekalahan di Nagashino membuat ia kehilangan sebagian besar pasukan dan para jenderal terbaik. Jenderal yang baik, mempelajari sejarah tidak cukup untuk menang perang, dibutuhkan kemampuan membaca zaman, taktik kavaleri yang dahulu efektif ternyata dikalahkan oleh penemuan baru, senapan.

Kita bisa belajar dari orang terdahulu, namun juga harus memahami. Tidak pernah ada pengalaman peristiwa yang berulang sama persis. Jika pun kejadian di alami oleh orang yang sama, dan mirip tapi tentu ada pergeseran ruang dan waktu. Ilmu adalah tata cara untuk memandang dunia, tapi tiap manusia mesti mengembangkan model ilmu yang sesuai dengan dirinya dan lingkungannya.

Maka ilmu apa yang paling penting?

Pendidikan sekolah belum mengenalkan kita pada kedisplinan metakognitif yaitu kemampuan untuk mengenali diri sendiri. Secara umum metakognitif disusun dalam beberapa taksonomi yaitu: Mengingat, memahami, menalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.

Ilmu menahami ilmu. Kita sadar pengetahuan akan berkembang terus, dan mungkin kita akan kesulitan mengakuisi seluruhnya menjadi ilmu, Sepanjang hidup kita disajikan pengetahuan yang kita belum tahu fungsinya. Pertanyaannya adalah bergunakan itu semua? Pengetahuan tidak akan menjadi ilmu jika tidak mengubah pola pikir. Tapi ilmu juga tidak berguna jika tidak diuji pada skala sosial, Islam sendiri menyebut tindakan keilmuan yang memiliki kemanfaatan itu dengan nama amal.

Kecerdasan itu misterius, setiap murid mengerti dengan cara berbeda, setiap ilmu memancing pengertian setiap orang dengan cara berbeda pula.

Berbagai Opini lain:

  1. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  2. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  3. Kejatuhan Sang (Mantan) Pejuang; 6 Juli 2018;
  4. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  5. Menafsir Alam Membaca Masa Depan; 14 Maret 2019;
  6. Nilai Seorang Manusia; 8 Juli 2019;
  7. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  8. Kaya Tanpa Harta; 24 November 2019;
  9. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  10. Merekonstruksikan Kembali Letak Istana Daroddonya; 3 Maret 2020;
  11. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  12. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
  13. Kenapa Sejarah Tak Boleh Dilupakan; 4 Oktober 2020;
  14. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
  15. Mengapa Harus Mempelajari Bahasa Daerah; 17 Maret 2021;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

HIKAYAT MEURAH SILU

Tempat pertempuran antara semut raksasa (Samudera) melawan anjing milik Meurah Silu (Pasai) menjadi titik pijakan berdirinya Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara, Kesultanan Samudera Pasai.

Tempat pertempuran antara semut raksasa (Samudera) melawan anjing milik Meurah Silu (Pasai) menjadi titik pijakan berdirinya Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara, Kesultanan Samudera Pasai.

HIKAYAT MEURAH SILU

Dahulu kala, di tepi hulu Krueng (sungai) Peusangan jauh di pedalaman Aceh, tinggallah dua orang kakak beradik yatim piatu. Mereka adalah Meurah Saga dan Meurah Silu. Mereka hidup sangat miskin serba kekurangan.

Meurah Saga berburu ke dalam hutan, Meurah Silu lebih suka memancing atau memasang bubu di tepi sungai, ia selalu ditemani oleh anjingnya yang diberi nama Pasai. Kakak beradik ini jarang bertemu.

Suatu ketika pada sebuah hari. Meurah Silu ketika mengangkat bubunya mendapatkan beribu cacing kecil. Ia tak mengeluh dan bersyukur akan segala karunia Tuhan. “Ayo Pasai kita pulang. Tuhan telah mengaruniakan rezeki kepada kita.” Mereka beranjak dari tepi sungai, si Pasai setia mengikuti tuannya.

Setiba di rumah cacing-cacing itu direbusnya. Alangkah ajaib, ketika ia membuka tutup panci, cacing berubah menjadi emas sedang airnya berubah menjadi perak. Meurah Silu berkata, “Pasai, lihat! Keajaiban telah terjadi.” Meurah Silu pun memanjatkan doa dan syukur kepada Tuhan.

Keesokan harinya Meurah Silu pergi memancing, yang didapatkannya juga cacing-cacing kecil, ia bersyukur. Dibawanya pulang cacing-cacing itu kemudian direbusnya. Beberapa saat kemudian cacing dan air rebusannya berubah lagi menjadi emas.

Demikianlah, setiap hari ia memancing selalu mendapat cacing yang kemudian berubah menjadi emas dan perak. Emas dan perak itu kemudian dibawah ke kota untuk dijual. Sampai jadilah ia orang yang kaya, ia membangun rumah di tepi hutan.

Sementara itu adiknya Meurah Saga belum juga kembali dari berburu, Meurah Silu cemas memikirkan adiknya. Ia bermaksud memberikan sebagian hartanya untuk adiknya. Lama ditunggu, adiknya tak kunjung pulang, Meurah Silu bertambah cemas. Ia takut adiknya celaka, maka ia berangkat ke dalam hutan mencari.

Beberapa hari kemudian, Meurah Saga pulang dari berburu, Meurah Silu tidak ada di rumah. Ia terheran melihat rumah megah dan harta melimpah milik kakaknya. Tergoda oleh bisikan setan, timbullah niat jahatnya, ia bermaksud memiliki seluruh harta kakaknya.

Ketika Meurah Silu pulang, disambut dengan belati terhunus oleh Meurah Saga. Meurah Silu dituduh merampok sepeninggal Meurah Saga. Ia membantah dan mengatakan semua adalah karunia tuhan. Meurah Saga menyerang Meurah Silu, tak ingin bertikai Meurah Silu memilih melarikan diri.

Bertahun-tahun ia mengembara, membawa anjingnya si Pasai. Akhirnya ia tiba di sebuah kampung dan menetap. Karena kebijaksanaan dan kedermawanannya ia dicintai oleh penduduk, maka diangkatlah Meurah Silu menjadi tetua kampung Jruen.

Kampung Jreun tidak terlalu jauh dengan pantai. Pada suatu hari Meurah Silu bersama Pasai pergi ke tepi pantai, tiba-tiba Pasai menyalak keras. Meurah Silu heran, tidak biasanya anjing itu menyalak keras. Ia segera menghampirinya. Tampak si Pasai sedang menghadapi seekor semut raksasa disebut oleh penduduk sekitar Samudra.

Pasai menerkam semut raksasa itu, terjadi pergumulan antara si Pasai dengan Samudra. Akhirnya semut itu kalah. Semut raksasa itu dipanggang oleh Meurah Silu, baunya sangat sedap dan lezat rasanya. Ia berkata kepada Pasai, “Karena aku telah memakan daging raja semut yang menguasai wilayah ini maka aku akan mendirikan kampung di tepi pantai ini.” Kemudian Meurah Silu mengajak penduduk sekitar untuk pindah ke tepi pantai itu.

Seiring waktu, kampung ini berubah menjadi bandar yang ramai, kemudian menjadi kota kerajaan yang besar. Meurah Silu menjadi rajanya yang pertama dan kerajaan itu bernama Samudra Pasai.

Kerajaan Samudra Pasai masyur sampai ke negeri Arab, Khalifah mengirimkan utusan persahabatan. Meurah Silu memeluk agama Islam dan dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Sultan Malik As Saleh (Raja yang Saleh). Samudera Pasai menjadi Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Tercatat dikunjungi dua petualang besar yaitu: Marco Polo yang mencatat dalam bukunya Imago Mundi dan Ibnu Batutah yang mencatat dalam bukunya Rihlah.

*DISCLAIMER Legenda atau pun mitos ini diterima oleh penulis secara lisan dan dituliskan kembali. Apabila di masyarakat terdapat perbedaan tentang detil ceritanya penulis menyatakan bisa jadi apa yang anda dengar lebih benar dari cerita ini, begitupun sebaliknya.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  2. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  3. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  4. Selamanya; 14 Desember 2008;
  5. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  6. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  7. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  8. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  9. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  10. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  11. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  12. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  13. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  14. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  15. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  16. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  17. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  18. Ada Banyak Cinta; 15 Maret 2011;
  19. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  20. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  21. Ode Seekor Harimau; 19 Agustus 2012;
  22. Ashura; 13 Februari 2013;
  23. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  24. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  25. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  26. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  27. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  28. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  29. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  30. Perjalanan; 29 November 2013;
  31. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  32. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  33. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  34. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  35. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  36. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  37. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  38. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  39. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  40. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  41. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  42. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  43. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  44. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  45. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  46. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  47. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  48. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
  49. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  50. Akhir Riwayat Sang Durjana; 25 Maret 2021;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA PULUH

Risalah Sang Durjana tampak samping

Serial Risalah Sang Durjana

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA PULUH

Kisah Risalah Sang Durjana dibuat untuk mengenang mereka yang telah gugur dalam peperangan panjang melawan Belanda. Pusara-pusara mereka yang bertebaran di seluruh kenegerian, di hutan-hutan, di lembah-lembah sunyi, tiada seorang pun yang tahu di mana semua itu berada.

XXX

Gunung Geureudong, hutan Timang Gajah, 1 Januari 1903.

Rintik-rintik turun selepas hujan besar, titik-titik air di seluruh penjuru jatuh perlahan tak beraturan. Udara malam yang dingin melingkupi gunung, di sambung lagi gunung lain di sebelah barat. Di bawah sana, tampak dunia damai, lembah hijau dengan beberapa pondok yang dibangun dari kayu.

Di pondok utama, kami berlima duduk membahas surat yang kami terima.

Koetaradja, 27 Desember 1902

Tuan mesti menyerah segera! Bila mana tidak maka kedua istri Tuan akan kami kirimkan ke Amboina atau Banda, sedangkan Ibrahim yang masih belia akan kami kirimkan ke Batavia. Di sana dia akan dididik dengan tata cara dan kepatutan bangsa Eropa.

Saya tahu, Tuan berat menyerah, setelah tahun-tahun peperangan yang panjang. Tapi patut Tuan ketahui bahwa jika tidak segera menyatakan tunduk, maka suatu saat Ibrahim dewasa dan menyadari kebodohan dari ayahnya. Bukan tak mungkin suatu hari nanti sepuluh atau dua puluh tahun lagi dia akan mengangkat senjata bersama Government memerangi Tuan.

Demi Ibrahim, si “bijeh mata1)” menyerahlah Tuan!

Gubernur Sipil dan Militer Aceh. Joannes Benedictus van Heutsz

“Sepanjang sejarah lima ratus tahun Kesultanan Aceh berdiri belum pernah ada Sultan Aceh yang menyerah pada musuh, apalagi pada kaphe2)! Sungguh lancang mereka mengirimkan surat ini. Kita bunuh saja utusan ini, izinkan beta menyembelih babi bergelambir yang makan gaji Kaphe ini.” Ahmad dengan pandangan merendahkan kepada pembawa surat Belanda, Waki Wahab yang meringkuk ketakutan.

“Tentu tidak.” Jawabku pendek membela. “Kita orang Aceh tidak membunuh utusan, saran macam apa itu!” Sambungku.

Ahmad membantah, “Tuan! Keberadaan kita di gunung Geureudong ini sangat rahasia. Seharusnya musuh berpikir markas kita ada di Cot Girek. Mereka sudah tahu kita disini, baiknya segera kita bunuh babi ini, kemudian kita pindah ke tempat lain!”

Ada rasa dongkol di hatiku, atau merasa digurui. Berani sekali Ahmad berkata dengan nada keras kepada aku, Sultan Aceh yang masih memerintah. Namun dalam pikiranku tergambar senyum Ibrahim, bagaimana nasibnya ketika dalam tawanan Belanda?

Suasana memanas, dua orang pengawalku yang setia Pang Itam dan Pang Brahim terlihat tidak senang dengan kelakuan sang durjana. Aku melihat Polem, berharap dia memberikan saran, tapi dia hanya diam tanpa bahasa. Andai saat ini paman Hasyim Banta Muda masih hidup, mungkin aku tidak akan serapuh ini.

“Kita telah berperang bertahun-tahun, telah banyak syuhada3) telah berkalang tanah. Untuk apa kita melakukan ini semua? Untuk apa kita merasakan luka akibat perang nan lama dan mematikan ini? Demi anak-anak kita, cucu dan cicit kita supaya mereka tidak menanggung luka yang kita rasakan! Ketika Ibrahim ditangkap aku sudah kehilangan tujuan ini. Aku seorang ayah!” Kataku lantang.

Sepi. Yang terdengar adalah semilir angin pengunungan. Merasa senyap, aku melirik Polem dengan ujung mata. Matanya kosong menatap rintik-rintik hujan, mungkin dia merasakan hal yang sama denganku.

Sang Durjana menatapku dengan penuh kekecewaan.

“Tuan mesti sadar! Di Aceh selalu memiliki Sultan. Seorang Sultan sebagaimana dijelaskan di kitab Bustanussalatin4) disebutkan bahwa seorang raja Aceh harus…” Dia kehilangan kata-kata.

“Apakah semua Sultan Aceh menerapkan kitab itu Ahmad? Aku hanya seorang manusia, seorang suami dan juga seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya.” Pang Itam dan Pang Brahim memberi kode kepadaku, apakah si Durjana ini sebaiknya dihantam saja. Aku memberi isyarat tangan, tidak.

Durjana tiba-tiba berdiri, kedua pengawal telah siaga. Tapi kemudian dia bersujud di kakiku. “Tuan, sepanjang hidup beta tidak pernah bersujud selain kepada Allah. Tapi hari ini hamba mohon, jangan lakukan itu! Tuan harus membayangkan betapa kacaunya orang-orang Aceh kalau tidak mempunyai raja, musibah terbesar bagi masyarakat adalah ketiadaan pemimpin dan penganjur!”

Aku menarik dia berdiri, ini adalah keadaan yang tidak enak. “Tekadku telah bulat!” Aku memanggil Waki Wahab dan berkata kepadanya, “Sampaikan salam kepada van Heutsz. Katakan padanya dalam beberapa hari ini aku akan datang langsung ke Koetaradja untuk menyerahkan diri. Sekarang pergilah!”

Durjana menampik tanganku, mencoba mencegah Waki Wahab pergi. Dengan sigap Pang Itam dan Pang Brahim menangkapnya.

“Tunggu apalagi. Cepat pergi Waki! Aku hanya akan menahan dia sampai azan Shubuh, jika kau tidak cepat niscaya jika kau dikejar dan diterkam olehnya maka bukan tanggung jawabku.” Dengan segera utusan Belanda itu turun dari pondok, kemudian lari dalam kegelapan malam.

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939)

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939) di dampingi oleh pengawal setia; Pang Itam (kanan) dan Pang Brahim (kiri)

Dalam cengkraman Pang Itam dan Pang Brahim, Sang Durjana melontarkan sumpah serapahnya, kepada Waki Wahab, kepada Belanda dan kepadaku. Dia mengingatkan bahwa anak dan istrinya telah terbunuh oleh Belanda, dan mengecam betapa lemah hatiku. Kata-katanya semakin menusuk ketika dia berkata. “Tuan mesti bertanggungjawab kepada mereka yang telah berkorban dalam perang ini, yang mana pusara-pusara mereka tersebar di seluruh negeri, di hutan-hutan, di lembah-lembah sunyi, dan tiada seorang pun yang tahu di mana semua itu semua.”

Pang Itam dan Pang Brahim menahan Sang Durjana sampai azan Shubuh. Kemudian atas perintahku, mereka melepaskan dia. Sebelum pergi dia meludah, kemudian menghilang dalam hutan belantara.

Polem yang sedari tadi diam mendatangiku seraya berbisik pelan. “Aku masih akan melawan Belanda. Perang ini akan segera berakhir, cepat mau pun lambat, tapi sebelum ini terjadi aku akan masih tetap melawan.” Aku mengangguk pelan.

Siang itu kami mengumpulkan seluruh pasukan yang tersisa. Aku memerintahkan mereka semua untuk melanjutkan perlawanan bersama Panglima Polem, semua setuju kecuali Pang Itam dan Pang Brahim. Mereka berdua memutuskan untuk ikut bersama denganku ke Kotaraja. Ketika kami berpisah, hatiku serasa hancur, Hatiku kehilangan tujuan, ini adalah hari dimana aku kalah.

BACA: KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH KEPADA BELANDA

Sebelum mencapai Peusangan. Tiba-tiba di depan kami telah berdiri Sang Durjana, seorang pejuang yang tidak kenal kompromi. Diikuti oleh dua orang Gayo. Mereka semua menghunus kelewang, siap tempur.

XXX

Krueng Peusangan, 3 Januari 1903.

Dengan diam-diam, di luar sepengetahuan rombongan Sultan yang hendak menyerah. Aku beserta Aman Abbas dan Aman Ilyas dari tanah Gayo telah bersiap untuk melakukan pencegatan. Ketika mereka lewat, dalam hitungan kejapan mata kami bertiga telah berdiri dihadapan mereka.

Sultan terlihat kaget, mukanya digeleng-gelengkan, tangan dua pengawal bersiap mencabut pedang dari sarungnya.

“Kekuasaan itu ibarat ilusi. Kekuatan militer Aceh praktis tidak ampuh lagi, tapi tetap tidak bisa dicampakkan. Ketika Tuan menyerah mungkin akan mendapatkan tempat yang baik, pensiun dan bahkan mungkin penghormatan dari kaphe Belanda. Tapi jika orang biasa pasti akan berakhir di depan regu tembak. Adilkah itu?” Tanyaku pada Sultan.

Setiap raja, di atas tahta, sendirian dengan kekuasaan di tangan. Ada sebuah pertanyaan sederhana; Kenapa dia berkuasa? Apa yang membedakan dia dengan orang biasa. Kekuasaan adalah ilusi yang mau tak mau dibangun.

“Aku lelah Durjana! Minggirlah aku akan menyerah sebagai orang biasa bukan sebagai Sultan Aceh!” Muhammad Daudsyah seekor singa yang siaga dan selalu siap menerkam terlihat remuk. Jari-jarinya kekar mencengkram kopiahnya sampai remuk, ia terbawa arus. Ia kemudian membuka pakaian kebesarannya, pedang dan tongkat komando kerajaan sampai terompah yang biasa digunakan. Ia campakkan begitu saja di tanah, hari ini semua kekuasaan dengan panggungnya seolah tak berarti baginya.

Ketika menyerah kepada Belanda, Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah melepaskan segala atribut kebesaran termasuk tidak mengenakan alas kaki untuk menyampaikan pesan tegas. Ia menyerah secara pribadi.

Ketika menyerah kepada Belanda, Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah melepaskan segala atribut kebesaran termasuk tidak mengenakan alas kaki untuk menyampaikan pesan tegas. Ia menyerah secara pribadi.

“Sekarang izinkan kami lewat!” Sultan dan dua pengawalnya berlalu tanpa halangan. Aku melayangkan pandangan kepada Aman Abbas dan Aman Ilyas.

“Sejak hari ini Aceh tak lagi bersultan, dan mungkin setelah hari ini. Tidak ada lagi Sultan Aceh.” Aman Abbas dan Aman Ilyas memungut barang-barang yang dibuang oleh Sultan.

Aman Ilyas berbisik kepadaku. “Baiknya barang-barang ini kami bawa kepadalaman daripada jatuh ke tangan Belanda. Kami rasa benteng Kuta Reh merupakan tempat yang aman.” Aman Abbas mengangguk dan meminta persetujuanku.

Aku mengangguk, mereka pun pergi. Luka di seluruh tubuh serta pukulan batin yang menimpaku bukan alasan mengakhiri perjuangan mengusir penjajah yang ingin menancapkan kuku kekuasaan di Aceh. Bahwa ada di antara kita yang tak tahan uji dan menyerah kepada musuh, itulah kembang dan sekaligus ujian bagi perjuangan itu sendiri. Tapi galau dan sakit hatiku terasa lebih berat ketika Sultan Aceh memutuskan menyerah.

Cut Nyak Dhien masih berjuang di barat, kepemimpinan perempuan? Aku tersenyum. Para lelaki pemberani dari bangsa ini banyak yang telah mati, beberapa menyerah. Perang Aceh telah memasuki masa di mana para perempuan mengangkat senjata, memimpin pasukan menyerbu, mereka (para perempuan) agung yang tidak akan menyerah dan akan terus bertempur selama nyawa masih di kandung badan.

XXX

Sementara itu di Sigli.

Mayor K. van der Maaten dan Letnan Satu (Marsose) R. Vogel terlihat sangat puas mendapatkan laporan dari Waki Wahab di kantornya. “Siapkan pasukan kita cegat mereka di Blang Malu! Kita tangkap sultan sebelum masuk kota Sigli. Kita permalukan dia dan kita giring dia ke Kutaraja.” Perintan Van der Maaten.

Mayor K. van der Maaten (tengah) dan letnan satu Marechaussee R. Vogel (kanan) sedang berbicara dengan seorang “sahabat terpercaya” bernama Waki Wahab di kantor Mayor K. van der Maaten, mungkin di Sigli sekitar tahun 1900-an.

Tanpa banyak ba-bi-bu Letnan Satu Vogel bergegas. Van der Maaten tersenyum kepada Waki Wahab, tapi hatinya menertawakan orang di depannya. “Orang ini adalah babi yang berguna.”

Sementara ini Waki Wahab merasa sangat senang, ia merasa menjadi tokoh penting dalam peperangan, bahkan hampir-hampir seorang yang sangat penting sekali.

XXX

Kehidupan seperti perahu

Diterpa angin dibawa ombak

Tak tahu kemana terapung-apung

Lemah dan tak berdaya

Ketika harapan memudar

Haruskah beta menyerah saja

Dengan jiwa yang terluka

Tak kumiliki lagi apa-apa

(Sang Durjana)

XXX

(Bersambung)

Index:

  1. Bijeh mata = bermakna Biji mata (Bahasa Aceh). Orang-orang Aceh memiliki kecenderungan mencintai apa yang mereka bisa lihat. “Bijeh mata” adalah sebuah frase jika dalam bahasa Indonesia/Melayu disebut “buah hati” yang bermakna seseorang yang sangat dicintai;
  2. Kaphe = bermakna Kafir (Bahasa Aceh);
  3. Syuhada = Orang-orang Aceh yang telah gugur dalam perang melawan Belanda. Syuhada adalah bentuk jamak dari syahid;
  4. kitab Bustanussalatin = Bustan al-Salatin fi Zikr al-Awwalin wal Akhirinatau lazim dibaca Bustanus Salatin jika diterjemahkan kedalam bahasa Melayu berarti “taman para raja” ditulis oleh Nurrudin Ar-Raniry dalam kurun waktu 1052-1054 Hijriah / 1642-1644 Masehi. Sebuah kitab pedoman bagi Sultan Aceh ketika memerintah. (Baca: Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh);

XXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN;
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

LOMPATAN PERUBAHAN

Bocah-bocah di depan gerbang sekolah, berteriak gembira mengekspresikan keriangan hati terdalam, kepolosan ekspresi bocah-bocah sungguh menggetarkan hati.

LOMPATAN PERUBAHAN

“Zaman itu seperti makhluk hidup, sehebat apapun persiapan yang dilakukan, adakalanya situasi berubah secara cepat. Dibutuhkan kecerdasan untuk menghadapi perubahan mendadak, dan bersamaan juga dibutuhkan ilmu untuk mampu mengatasinya.”

Awal Tahun 1998. Kelas kami diminta untuk mencari blangko wesel karena dalam pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 2 SMP Negeri 1 Banda Aceh akan ada praktek pengisian wesel. Tahun-tahun ini wesel masih digunakan, namun tak jamak lagi digunakan. Layanan wesel sudah digerus oleh layanan perbankan, sehingga beberapa teman Abu yang menggerutu tentang sulitnya mencari blangko wesel tersebut. Abu sendiri mendapatkan blangko wesel itu di pasar sayur malah!

Blangko Wesel Klasik

“Kalian mesti tahu cara menggunakan wesel! Kelak pengetahuan ini akan berguna ketika kalian menjadi mahasiswa!” Ultimatum guru Bahasa Indonesia.

Tapi tokh, tahun 1998 adalah tahun yang bergejolak, krisis ekonomi moneter menghantam Asia, dan Indonesia menjadi Negara yang paling terdampak. Bisa dibayangkan jika sebelumnya harga 1 USD adalah Rp. 2,500. Melonjak menjadi Rp. 15,000. Harga-harga melonjak tinggi, harga angkutan umum naik 2 kali lipat, akibat harga BBM naik. Di tengah situasi chaos melanda Indonesia, terjadi banyak kerusuhan di seluruh negeri sehingga Presiden Suharto yang telah menjabat selama 32 tahun menyatakan berhenti, orde baru berakhir dan dimulailah masa reformasi.

Lupakan politik, tidak menarik.

Pertengahan tahun 2001, saat itu Abu masih kelas 2 SMA terjadi gempa pada malam Jumat di Banda Aceh. Pada era tersebut gempa adalah fenomena alam yang sangat jarang terjadi. Nenek Abu memberitahu bahwa berdasar cerita yang beliau dapat dari neneknya, atau bisa jadi dari beberapa generasi terdahulu jika terjadi gempa di malam jumat di Aceh adalah sebuah pertanda sebuah bencana besar akan datang.

Abu tersenyum dan sedikit membantah; “Nek kita ini dalam keadaan perang. Kondisi musibah macam apalagi yang lebih besar akan menimpa kita?” Benar saat itu di Aceh sedang terjadi peperangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI (Tentara Republik Indonesia) media 1999-2005. Masyarakat sipil adalah korban yang paling menderita dan paling dirugikan.

Konflik Aceh 1999-2005

Perang menutup semua dialog keilmuan, logika manusia dalam peperangan tidak akan berjalan baik. Para pihak yang ada di dalam kancah itu dilingkupi rasa takut atau marah. Dalam perang yang panjang, semua orang baik, orang pintar, kritis, dan punya pendirian, semuanya mati. Mati dibunuh. Yang tinggal hanyalah orang-orang berkepala dua.

Baca: Setelah Revolusi Selesai

Ramalan nenek Abu terbukti beberapa tahun kemudian, 26 Desember 2004, antara pukul delapan dan lewat lima belas. Gulungan gelombang setinggi lima belas meter menggodam pesisir barat Aceh dengan ganas, gempa pada 8,9 pada skala richter melontarkan tsunami ke daratan. Air bah kemudian kembali ke laut, meninggalkan ribuan bangkai terapung, terangkut, lenyap atau tersangkut di bumi. Puluhan ribu orang tewas dan beratus ribu kehilangan ketika gelombang laut menghancurkan mendadak banyak kehidupan.

Baca: Tsunami

Bencana alam tsunami akhirnya membawa hikmah, pihak yang bertikai di Aceh akhirnya duduk berunding di Helsinki dan mencapai titik sepakat untuk mengakhiri perang yang berkecamuk. Korban perang di Aceh selama konflik itu mungkin lebih sedikit daripada bencana tsunami, akan tetapi perang lebih membawa dampak psikologis daripada bencana. Illustrasinya adalah: Dalam perdamaian, para anak memakamkan bapak-bapak mereka, dalam peperangan, para bapak memakamkan anak-anak mereka.

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Waktu terus bergulir diikuti oleh lompatan teknologi dan informasi.

Hari ini di tahun 2021, belasan tahun dari kejadian yang Abu ceritakan diatas. Sampailah di era digital. Setiap manusia mengalami habitat budaya sesuai dengan lingkup zamannya, sesuai dengan teknologi yang ada pada masanya. Sebagai contoh Kakek Abu (1929-1992). Sepanjang hidup beliau tidak mengalami banyak loncatan penemuan teknologi, mengirim surat via pos, mengirim uang via wesel atau menelpon. Ayah Abu (1957-2004) mungkin mengalami zaman internet dan komputer namun ketika beliau hidup, teknologi tersebut masih pada taraf awal sehingga beliau belum merasakan dampaknya terlalu.

Nokia sebagai salah satu perintis teknologi telepon seluler.

Sementara Abu mengalami semuanya, zaman menulis surat dengan sahabat pena. Menerima wesel honor menulis (di koran) ketika SMA, kemudian menerima uang lewat transfer ATM sampai piawai menggunakan internet banking. Dari zaman berteman manual, kemudian mengenal handphone, BBM sampai WA. Media sosial pun berkembang pesat seiring dengan pesatnya dunia digital.

Dahulu ketika seseorang ingin mendapatkan informasi ada dua pilihan, mencari info di perpustakaan atau menjumpai/bertanya kepada seseorang yang memahami. Sekarang google memudahkan siapapun untuk bertanya tentang apapun.

Abu membayangkan dahulu satu umur hidup seseorang (misalkan Ayah Abu) mungkin tidak terlalu banyak mendapati perubahan dibandingkan umur Abu. Orang yang (baru) hidup di zaman SMS mungkin sulit membayangkan sukarnya hubungan dengan surat menyurat, atau orang zaman WA akan menertawakan orang-orang zaman BBM betapa terbatasnya fitur aplikasi tersebut, jika tidak mengalami zaman itu sendiri. Sebagai seseorang yang pernah hidup di masa lalu, Abu hanya ingin menyampaikan idiom bahwa zaman ini mungkin lebih cepat, namun zaman dahulu tentu lebih romantis. Ketika tulisan menjadi ekspresi informasi bukan lagi ekspresi rasa. Mungkin itulah sebabnya puisi telah mati di era sekarang.

Perubahan yang dibawa oleh COVID-19

Covid-19 kemudian membawa perubahan yang lebih nyata lagi, manusia dipaksa membuat jarak dengan manusia lainnnya secara fisik. Rapat-rapat perkantoran sekarang tidak lagi mengharapkan kehadiran fisik, cukup via Zoom. Penetrasi digital lebih ditingkatkan lagi.

Teknologi yang baru melahirkan inovasi yang baru. Kekuatan perbankan besar ditabrak oleh Bitcoin, dominasi televisi digoyang oleh youtube, Hotel-hotel besar sekarang berhadapan dengan model hotel rumahan seperti ABnB, Grab dan Gojek berhadapan dengan perusahaan taksi seperti Blue Bird. Artinya perusahaan besar harus berhadapan dengan perusahaan kecil-kecil yang lebih siap. Mungkin sistem ini akan menghasilkan yang terbaik?

Tapi sebagai orang dari zaman lama, Abu terpaksa meringis sedih ketika seorang supir bus angkutan antar kota bercerita kepada Abu disebuah warung nasi ketika sahur tadi, “Tahun ini (2021) lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya, termasuk 2020. Kami para supir angkutan merasa ditekan oleh rezim yang sekarang, baik pusat maupun provinsi. Kemana kami harus mengadu bang?”

Benar buku sejarah yang pernah Abu baca, kekacauan selalu menyertai sebuah perubahan besar.

Abu menarik rokok dalam-dalam, menatap nanar padanya tanpa suara. Pandemi membuat kita waspada, dan bahkan cenderung curiga kepada sesama. Manusia telah berubah sebagaimana zaman telah berganti. Terenyuh dan sedih, Abu mengenang saat menjadi salah satu dari belasan anak SMA Negeri 3 Banda Aceh yang berbagi sebatang rokok di kantin belakang sekolah. Masa lalu yang tidak mungkin lagi terulang (lagi).

Lompatan perubahan, ada yang hilang tapi (juga) ada yang datang.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment