LAUT DAN SENJA

Laut dan senja

Matahari akan tenggelam di lautan Hindia yang lebar itu, cahaya yang silau, menyilaukan mata berpendar di muka air biru yang maha luas itu. Akh, permukaaan laut yang disinari matahari pikirku, apa indahnya? Tapi tubuh bisa membuat getar sekaligus gentar seperti lautan, ketika matahari hampir masuk ke dalam peraduannya, dengan amat perlahan, ia berangsur turun, turun ke dasar lautan yang tak kelihatan ranah tepinya ketika cahaya merah telah mulai membentang di ufuk barat, dan bayangannya tampak mengindahkan lautan yang tenang dan tak berombak.

laut yang tenang ketika senja datang

Melihat laut dari dekat, jutaan gelembung air kecil berkilauan putih, yang muncul dan menghilang seiring ombak. Selalu ada gelembung baru yang muncul dan menghilang dalam irama teratur setelah terbawa oleh aliran air selama sekejap.

Akh, mungkin kita, masing-masing tak lebih dari sekedar buih, setetes renik dalam gelombang waktu yang bergerak menuju masa depan yang tak jelas, berkabut. Kita muncul di dunia hanyalah sebentar untuk kemudian hilang. Mungkin sejarah tak mencatatkan masing-masing nama kita, tak tampak oleh arus besar itu. Selalu ada orang baru dan lebih baru lagi.

Mungkin apa yang dinamakan nasib, tak lebih adalah perjuangan kita dalam kerumunan tetes naik dan turun bersama gelombang. Sepatutnya, kemunculan sesaat ini kita manfaatkan, agar hadirnya kita tak sia-sia, tak pernah.

Laut dan senja, kekosongan dan kehampaan mengundang misteri dalam putih sempurna yang sungguh luas, membuat kita merenung, apakah kehidupan di samudera hampa itu dalam waktu yang terus bergulir. Akh, betapa waktu memang tak terbatas, tapi memang waktu kita yang terbatas.

Banda Aceh, 10 Januari 2019

Advertisements
Posted in Cerita, Kolom, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

COBALAH MENGURANGI KEBENCIAN SEDIKIT KAWAN

Kebencian ibarat PACMAN, melahap segalanya.

COBALAH MENGURANGI KEBENCIAN SEDIKIT KAWAN

Jika kebencian telah menguasai diri maka apapun yang dilakukan oleh yang dibenci akan terasa salah. Demi memuaskan hasrat, sejarah dan kitab suci dikutik dan dikutip lagi, supaya kebencian menjadi lebih sah, agar dendam menjadi suci. Kebohongan direproduksi berulang kali dengan tema yang sama. Kebencian membuat manusia membuat masa lalu (yang telah diolah) sebagai pembenaran masa kini, termasuk membenarkan ketidak-adilnya.

XXX

Akhir-akhir ini Abu merasa bingung diantara 2 pilihan yang belum jatuh tempo pemilihannya. Abu merasa pilihan 1 ada baiknya, juga ada buruknya begitupun dengan pilihan 2, masing-masing ada plus-minus. Dalam keadaan masyarakat yang menghadapi dilema yang sama dengan Abu ini kebanyakan telah menjatuhkan pilihan sehingga menjadi terpecah. Yang memilih 1 memujanya terlalu dan melihat lawannya 2 sebagai lawan, begitupun pihak 2 sama saja. Pemujaan mereka sudah menjurus kepada pemberhalaan pilihan mereka, akibatnya orang-orang peragu seperti Abu ini dianggap cemen atau pihak lawan. Dalam kondisi yang terbelah ini, dinding-dinding dipenuhi oleh coretan kedua belah pihak yang “sangat-sangat” menganggu pemandangan. Demi membela sang pujaan maka hoaxs pun bertebaran dikedua belah pihak, beberapa kali Abu berusaha mengkoreksi tapi malah tidak terlalu baik hasilnya, bahkan runyam. Akhirnya Abu jarang memberikan pendapat lagi, sesekali ada, namanya juga Abu ya pasti usil.

Fenomena ini sudah Abu lihat dan pikir lama, ilmu mantiq, a.k.a dialeksis yang pas-pasan milik Abu tak mampu menjangkau. Abu mengingat Albert Einstein pernah berkata, “adalah sebuah kebodohan untuk melakukan hal yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda.” Maka tentang hal ini tidak Abu pikirkan lagi, jenius kan Abu. Mungkin pada level ini Abu merasa menyamai Einstein.

Tapi fenomena ini semakin menganggu, ketika batas waktu pemilihan menjadi semakin dekat. Brutal pokoknya dah. Kemudian Abu ingat, ketika nalar rasional tidak mampu menjangkau maka harus ada pendekatan lain. Tapi apa itu? Jika abang Albert Einstein saja teorinya seolah menentang Abu?

Meski sama tingkat kejeniusan Abu dan Einstein ada satu perbedaan personal antara kami berdua. Betul, dia beragama Yahudi dan Abu beragama Islam. No hard feeling bro, ini bukan masalah SARA ya, apalagi SARA AZHARI. Ada satu pendekatan lagi dalam pemahaman Abu sebagai muslim, pendekatan sufisme, itu abang Einsten pasti tidak tahu. Dan Abu punya orang yang tepat untuk ditanyai masalah ini. Tengku Salek Pungo, pasti dia tahu jawabannya. Kenapa baru terpikirkan sekarang. Maka bergegaslah Abu menuju ke rumah beliau, sepulang kantor.

Ketika Abu datang si doi sedang leyeh-leyeh membaca koran menggunakan singlet legendaris cap Swan Brand, tanpa ba-bi-bu. Langsung Abu beri salam dan dijawab sopan sekali.

Sesaat kemudian ia langsung menyentil, “kemana  saja? Dinas ke Jakarta? Sudah lama tidak kelihatan batang hidungmu?”

“Batang hidung? Macam cerita Siti Nurbaya saja Tengku? Kebetulan saya selama ini di kantor kelelahan, banyak kerjaan jadi jarang bergaul.” Alibi Abu, padahal sebenarnya lupa.

“Iya tidak perlu bergaul terlalu, nanti jadi begajul. Tapi main-mainlah kemari sekali-kali, jangan tidak sama sekali. Untung saya tahu bagaimana logika pikirmu, kalau orang lain nanti dipikirnya kamu kurang-kurangi kawan.” TSP angguk percaya, sambil minta “agak sering” dikunjungi.

“Siap Tengku!”

“Jadi apa yang bisa saya bantu Abu?” Langsung menembak.

“Jadi begini Tengku, saya sedang bingung antara dua pilihan. Memang memilih antara dua itu sulit, jika dibandingkan pilihan itu banyak.”

“Memilih 2, atau banyak itu sama. Kalau mau dibawa sulit ya sulit, tapi dibawa mudah ya mudahlah.” TSP tertawa sampai gusinya kelihatan. “Coba ceritakan bagaimana kondisinya?” Wajahnya serius.

Abu berpikir lama, mengingat perumpamaan yang telah disusun sebelumnya. “Jadi begini Tengku. Ada dua orang manusia, yang pertama rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh dan selalu merasa suci.”

Abu diam sebentar, “lalu yang kedua sangat jarang ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut dan cinta dgn sesama. Jadi saya ingin bertanya kepada Tengku, yang manakah yang lebih baik?”

Lalu TSP menjawab, “keduanya baik!”

Kali ini Abu kebingungan, TSP tersenyum, menjelaskan. “Boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yang sombong menemukan kesadaran tentang akhlaknya yang buruk dan dia bertaubat lalu ia akan menjadi pribadi yg baik lahir dan batinnya. Dan yang kedua bisa jadi sebab kebaikan hatinya, Allah S.W.T akan menurunkan hidayah lalu ia menjadi ahli ibadah yang juga memiliki kebaikan lahir dan batin.”

“Lalu siapa yang tidak baik kalau begitu?” Protes Abu.

“Kamu!” Wajah TSP serius, kemudian ia tertawa senang. “Yang tidak baik adalah kita, orang ketiga yang selalu mampu menilai orang lain, namun lalai dari menilai diri sendiri”.

Abu diam dan angguk-angguk, “tapi jika harus memilih yang mana cocok Tengku?”

“Itu keputusan kamu, saya bukan juru kampanye. Kalau menurut saya siapapun yang terpilih pasti baik.” Kata TSP.

“Oooo.” Tidak menjawab seluruh pertanyaan Abu tapi membuat lega. Khas TSP sangat sufistik.

“Abu” Panggil TSP. Abu antara dengar atau tidak sedang melamun nampaknya. “Abu!” Panggil TSP keras.

“Iya Tengku.” Jawab Abu gagap.

“Kamu selama ini terlalu asik dengan sejarah, sesekali update-lah cerita-cerita pada petualangan Abu!”

Kali ini Abu terkejut kuadrat, menunjuk ke TSP dengan wajah heran. “Tengku baca?”

“Sepele kamu, saya baca dengan ini.” TSP mengambil dari dari balik sarungnya sebuah smartphone. Saudara-saudara sedunia dan alam Barzakh. TSP punya smartphone? Tapi tunggu dulu bentuknya agak aneh, Nokia Lumia tampaknya saudara-saudara, entah seri berapa. Dengan OS Microsoft 8.1 cuma bisa browsing dengan Internet Explorer dan mesin pencari yang lemah syahwat bernama BING, tidak kompetible dengan Facebook dan Twitter serta tidak mampu Instagram. Cocoklah untuk TSP, Abu tersenyum.

“Zaman sudah canggih, masak saya tidak mengikuti. Kita tidak bisa menutup diri dari adanya perkembangan pengetahuan.” Ceramah Sore TSP.

“Yayaya, mantap Tengku.”

“Saya suka baca cerita-cerita pada Petualangan Abu, jadi saya tahu perkembangan kamu dan dunia dari kacamata kamu yang sok bijak itu. Saya rasa bagian ini juga banyak penggemarnya, disamping artikel-artikel membosankan sejarah yang kamu tulis itu.” Ia tertawa. “Saya paling suka bagian Petualangan si Abu itu daripada tulisan-tulisan yang lain, yang sok serius itu.”

“Siap Tengku!” Jawab Abu, “Kalau begitu saya pamit dulu ya.”

“Cepatnya, Maghrib saja dulu disini.” Ajak TSP.

“Saya mau mengantar cucian dulu ke binatu, maklum Long distante dengan istri”

“Ya ok lah.” Katanya memberi tangan, segera Abu salam dan cium tangan beliau.

“Bukan itu, ngapain cium tangan segala? Kamu pikir saya feodal! Ini, saya mau kasih lihat jam tangan, jangan sampai kamu terlambat keburu Maghrib.”

Owalah guru saya yang satu ini, kena kerjain Abu! Tapi Abu meninggalkan rumah beliau dengan hati yang sangat ringan, senang dan bahagia. Terima kasih TSP.

XXX

Jika seseorang secara teguh dan berani mengatasi kebencian, atau mengurangi kebencian maka ia telah memiliki potensi sebagai khalifah di muka bumi, ketika seorang manusia memuliakan manusia lainnya, bahwa ternyata ciptaan Tuhan yang amat jelek itu sebenarnya tak ada, semua ada baiknya. Itu memberikan harapan yang berarti untuk menerima hidup dan memeliharanya.

Mampukah kita mengurangi kebencian? Mungkin sulit secara penuh dan seluruh, tapi setidaknya sudah sepatutnya kita mencoba, hasilnya? Kita berharap sifat Rahman dan Rahim dari yang MAHA KUASA menjadi penuntun kita, sebagai pelita di tengah kegelapan. Amin ya Rabbal Alamin.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

KISAH MENTERI JARINGAN MELAWAN KAPITALISME AMERIKA

Amerika Serikat sebagai sebuah Negara tetap saja adalah pedagang yang menjual produk-produk korperasi mereka sendiri. Tidak meskipun kami adalah Negara kecil yang entah berantah tapi kami harus melawan kapitalisme mereka, dengan lembut tentunya.

Amerika Serikat sebagai sebuah Negara tetap saja adalah pedagang yang menjual produk-produk korperasi mereka sendiri. Tidak meskipun kami adalah Negara kecil yang entah berantah tapi kami harus melawan kapitalisme mereka, dengan lembut tentunya.

KISAH MENTERI JARINGAN MELAWAN KAPITALISME AMERIKA

Ketika uang (berbentuk logam emas) pertama sekali diciptakan, Iblis datang dan menghampiri. Ia mencium uang tersebut dan bersumpah: “Sesungguhnya aku telah ridha jika engkau disembah oleh manusia melebihi aku, mulai hari ini kita adalah sekutu sekufu seiring sejalan untuk melawan Tuhan yang sesungguhnya.” (Riwayat Israiliyat)

XXX

Pagi yang menyenangkan, burung-burung bernyanyi, cuaca sejuk, mungkin 27 pada derajat celcisus. Aku bersiul kecil menyambut hari memasuki kantor yang selama 35 tahun ini menjadi tempatku bekerja. Memasuki ruangan suasana hatiku masih ceria, sampai mendapati ternyata seseorang duduk di kursiku. Marshall Green, duta besar Amerika Serikat untuk negeri-negeri di Kepulauan Perca telah duduk disana sambil bersungut-sungut melihat jam.

“Bapak Menteri yang terhormat, ini sudah pukul Sembilan! Tak heran negeri kalian seperti ini, terbelakang! Jangankan rakyat, menterinya saja tak tepat waktu!” Kritik sang Duta Besar.

Aku tersenyum, duduk di kursi tamu di depan mejaku sendiri. Berhadapan dengan Duta Besar Amerika Serikat memang membuat tersiksa batin, goresan-goresannya akan menambah luka, selalu makan hati bagi para pejabat negeri-negeri kecil, tapi tentunya tidak bagi menteri senior berpengalaman telah menjabat selama 35 tahun. Oh tidak, mungkin kekhususan ini cuma aku yang miliki. Tersenyum nakal, Aku mengeluarkan notes dari saku, memakai kacamata dan pura-pura membaca coretan-coretan puisi yang aku buat kemarin. Seolah-olah jadwal kerja.

“Yang Mulia, saya melihat jadwal hari ini, disini tidak tertulis kita memiliki janji pertemuan.” Mimik muka ku setting nakal.

Semilir angin tiada, ibarat dua samurai yang sedang akan naik tanding. Kami berdua ibarat sedang memasang kuda-kuda bertempur. Duta besar pun membuka smartphone, satu firasat menusukku, ia sedang marah besar. Meskipun pandanganku tak selalu benar, faktanya selama 35 tahun menjabat menteri aku sudah berhadapan dengan belasan duta besar Amerika Serikat, dan mereka selalu merasa punya kuasa untuk mendamprat siapapun di negeri-negeri kecil. Entah pejabat, menteri sampai Sultan. Sebenarnya cemen, coba dengan para kamerad Rusia kalau memang pemberani.

“Apa yang membuat Yang Mulia marah di pagi yang indah ini?” Bagaimanapun dalam pergaulan sesama orang maupun Negara, yang lemah harus tetap mengalah.

Dia bangkit dari tempat duduk berpindah kesampingku, kemarahannya ditingkat apokaliptik. “Siapa yang berhak dimarahi?” ia berbisik pelan, menekan.

Aku menunjuk diri sendiri, sambil tersenyum paling manis yang bisa aku ciptakan dalam kepura-puraan.

“Siapa yang berhak memarahi?” Tanyanya lagi.

Dengan jempol, sangat sopan bagai hamba Majapahit, aku menunjuk dirinya.

“Tapi saya tak mengerti penyebab kemarahan Yang Mulia, Kerajaan Sungai Keadilan selalu tunduk pada hukum Internasional (yang sesuai dengan selera Amerika tentunya), kami membayar pajak ekspor sebagaimana mestinya, dan yang paling penting tidak ada dan belum pernah warga Negara Amerika Serikat celaka ketika bepergian di negeri kami. Atas nama rakyat kami, saya mohon diberitahu apa perangai kami yang mencederai hati Yang Mulia?” Tanyaku pelan.

Motherfucker!!! Politisi, anggota Parlemen, para menteri sampai Sultan kalian selalu berbicara atas nama rakyat. Tahukah kalian? Kalau kalian berbicara atas nama rakyat kalian, maka aku berbicara atas nama rakyat Amerika Serikat yang dilecehkan oleh kalian!” Ia mengemeretakkan gigi, kembali marah.

Saatnya tarik ulur, diplomatik itu melelahkan, kita harus berbicara berputar-putar sebelum sampai tujuan. Tapi diplomatik juga menyenangkan, ketika seorang perwakilan Negara sekutu yang besar, maha besar malah, hanya dengan kekuatan 500 marinir saja mampu menginvasi negeri kami yang hanya memiliki 40.000 penduduk dengan mudah, harus patah-patah berbicara dengan seorang negeri entah berantah ini.

“Tentunya tidak ada orang yang cukup gila di negeri ini yang berani menganggu penduduk Amerika apalagi pemerintahnya, sekutu sekaligus mitra dagang kami yang terbesar.” Sebuah pujian, tapi aku menganggapnya hinaan terselubung. Bagaimanapun kami adalah satu-satunya Negara di dunia yang surplus neraca perdagangan dengan Amerika Serikat, selama 50 tahun berturut-turut. Negeri ini berhasil mengirimkan lada, kelapa, kopi ke Amerika dengan damai, sedangkan  produk-produk Amerika yang masuk kemari kurang diminati. Siapa yang mau membeli kopi Starbuck seharga 50 ribu segelas, jika kopi pancung kami lebih enak, dan hanya berharga 3 ribu secangkirnya?

Dipuji seperti itu, anak kecil pun tersipu. Wajah Duta Besar berubah melembut, yang tadinya jahat menjadi setengah jahat, aku masih waspada. Kapitalisme Amerika memiliki satu kelemahan yaitu ketika bangsamu unik, tidak melawan dan tidak memiliki bahan tambang maka kalian hampir tidak mungkin dijajah.

Lihatlah bangsa Papua, mereka unik, tidak melawan tapi punya tambang emas. Maka dijajahlah mereka oleh Amerika untuk diambil emasnya. Jika ada Sultan yang paling kaya, tentu adalah Sultan Papua. Dalam setiap shalat aku berdoa agar Tuhan tidak memberikan emas di tanah negeri kami, cukuplah bangsa Papua yang menahan azab sengsara itu, kami jelas tidak mampu.

“Sebagai Menteri Informasi dan Komunikasi apakah kamu tidak tahu?” Pandangannya menyelidik.

Aku angkat bahu, “maaf tuan, eh maksud saya Yang Mulia. Saya bukan Menteri Informasi dan Komunikasi.”

Ini mulai ngeri, apa Amerika sudah mirip dengan Republik Rakyat Cina? Sedikit-sedikit sensor informasi, dan jika kau berbeda (taat agama) langsung masuk kamp seperti bangsa Uighur. Tentu Amerika tidak begitu, mereka lebih kalem daripada komunis China, dugaanku.

Fuck Man!!! Sultan bilang kau Menteri Informasi dan Telekomunikasi, segala tentang urusan internet menjadi urusanmu katanya! Apa kamu tidak tahu tukang sunat?”

Menjadi menteri di negeri Sungai Keadilan bergaji dua karung beras sebulan, tentu kurang sekali. Untungnya aku memiliki pekerjaan sampingan, pekerjaan sampinganku adalah seorang mantri khitan alias tukang sunat. Sepanjang karir sebagai mantri telah ribuan kulup yang telah aku pangkas, reparasi, salah satunya adalah milik Sultan kami sekarang, Sultan Malik Saleh Perkasa Alam.

Di negeri-negeri Melayu, kamu sangat hormat kepada tiga jenis orang: Pertama, Orangtuamu; Kedua, Guru Mengajimu; dan Ketiga; yang menjadi bagianku, yaitu orang menservis “perkakasmu” menjadi rudal patriot. Si Saleh (Paduka Yang Mulia Sultan Malik Saleh Perkasa Alam) pasti telah kelabakan berurusan dengan si Duta Besar dan mengirimnya untuk ditangani ahli yang dianggap lebih bijak (lebih pandai silat lidah) yaitu aku.

“Saya adalah Menteri Jaringan Kesultanan Sungai Keadilan Yang Mulia. Tapi ya, jaringan itu meliputi listrik, air dan mungkin masuk juga ke internet?” Aku memegang jangutku, seraya memutar-mutar mata pura-pura bodoh, semoga amarahnya reda.

Yang Mulia Duta Besar Amerika Serikat, Marshall Green menepuk jidat. “Kita hidup di abad ke-21, internet adalah hal yang penting! Bagaimana bisa kalian bangsa yang mengaku beradab menafikan hal itu dan berperilaku seperti jaman batu dengan mengabungkannya dengan listrik dan air?

“Maaf ralat Yang Mulia, bukankah di zaman batu. Kita semua belum mengenal listrik.” Mataku naik keatas dengan kocak.

Yayaya, aku tahu itu. Betapa kalian orang-orang negeri ini pintar berbicara, pantas tidak ada bangsa putih yang berhasil menjajah kalian!” Hinaannya perih boy.

“Maaf ralat Yang Mulia, bukan tidak ada yang berhasil, tapi tidak ada yang mau. Jika Amerika Serikat mengirimkan pasukan untuk menjajah kami, tentu kami tak akan melawan. Malah saya pikir, kami bisa mengirimkan barang-barang kami kesana tanpa pajak ekspor. Atau akan menguras devisa Amerika dengan membuka warung kopi di depan pangkalan militer Amerika.” Seorang diplomat harus mampu merendahkan diri agar negerinya tidak diinvasi oleh Negara besar, tapi sialnya aku seorang menteri juga kadang-kadang harus menjadi diplomat. Kesalku ke ubun-ubun, sampai-sampai jika hari ini aku diberi kuasa oleh Allah kembali ke masa lalu, maka akan kupangkas habis rudal si Sultan.

“Baiklah, aku lelah berbicara dengan kau!” Ia membuka kancing diatas dan mengendorkan dasinya, menyelonjorkan badannya di kursi seperti orang kurang vitamin D, tulang rapuh.

Syukurlah pujiku dalam hati. Aku diam menunggu dia pergi, mungkin aku harus makan mie rebus untuk mengusir aura buruk si Duta Besar. Tapi dia masih diam, belum pergi.

“Kamu masih ingat 6 bulan lalu ketika aku berkunjung ke negeri ini dan mengatakan kunci kemajuan adalah keterbukaan.”

Duta Besar Amerika Serikat untuk negeri-negeri Pulau Perca tidak hanya berurusan dengan negeri kami saja, kurang lebih ada puluhan Negara. Dia adalah Duta Besar Keliling, Tukang obat keliling ejekanku untuknya, Sultan Malik Saleh Perkasa Alam ketika kubilang begitu tertawa senang sampai berguling-guling di lantai sangking bahagianya, hampir aku sepak Sultan karena ia terlihat kekanak-kanakan waktu itu. Bagaimana jika ada orang lain yang melihat?

“Enam bulan itu sudah lama, saya sudah tua dan melupakan remeh temeh. Belum lagi tugas-tugas saya cukup banyak.”

Duta Besar Amerika Serikat tahu, disamping Menteri aku adalah mantri khitan, satu-satunya orang di dunia yang merangkap jabatan Menteri sekaligus mantri, tatapannya sering meremehkan dan menganggap sepele aku. Jika kau adalah Menteri Negeri Korea Utara pasti akan marah besar sambil memamerkan remote nuklir. Tapi bagi menteri Kesultanan Sungai keadilan dianggap sepele oleh Duta Besar Amerika adalah prestasi besar, tetap merunduk dan jangan sampai menjadi ancaman bagi mereka.

“Untuk mengetahui peradaban kalian harus menonton filem terutama produksi Hollywood, masih ingat kau waktu aku bicara itu pada pertemuan di Balai Penghadapan?”

Balai Penghadapan adalah tempat Sultan menerima tamu-tamu asing, biasanya si Saleh ketika berhadapan dengan kuasa-kuasa besar selalu mengajak aku. Waktu itu adalah perkenalan si Marshall Green sebagai duta besar baru mengantikan si Herbert Faith yang dipromosikan jadi Duta Besar dan berkuasa penuh untuk Republik Federasi Russia. Promosi? Ya iya lah, dari Duta Besar negeri-negeri entah berantah langsung menjadi Duta Besar untuk salah satu saingan Amerika Serikat.

“Bioskop? Itu tidak mungkin Yang Mulia. Para Ulama di negeri Sungai Keadilan tidak akan mengizinkan hal itu. Para kaum muda Negeri ini punya birahi berlebihan menurut mereka, jadi tidak bisa dibiarkan berlama-lama dengan lawan jenis dalam kegelapan.”

“Benarkah begitu?” Ia menaikkan alis.

“Belum tentu Yang Mulia, akan tetapi jika pemerintah tidak mendengar kata-kata ulama akan dikudeta oleh komunis. Apakah yang mulia senang jika kami menjadi Negara komunis? Bayangkan sebuah negeri sekutu terpercaya Amerika Serikat menjadi sebuah Kuba baru hanya gara-gara bioskop?” Tanyaku menghiba.

“Wawasan sejarah, ideologi negeri ini agak pandir. Ulama itu kanan, konservatif! Kiri baru komunis. Mana bisa bertemu? Belajarlah pak menteri, jangan hanya buku tahun 1920-an saja! Ini zaman 2020, HOS Cokroaminoto dan Tan Malaka sudah lama mati, ideologi dan orangnya.”

“Bukan begitu Yang Mulia, bukanlah jika tidak ada jalan ke kanan berarti harus belok kiri yakan?”  Tanyaku.

“Kadang-kadang aku heran, bagaimana Sultan Saleh Perkasa Alam bisa mempercayai orang sebodoh kamu untuk terus menjadi menteri.” Ia mengejekku.

Dasar kapitalis biadab! Tentu kami tidak mengizinkan bioskop di negeri kami bukan karena mesum. Aku yang mengusulkannya, memberi pengertian kepada si Saleh bahwa ada dua produk Amerika yang harus kita hindari agar kami tidak defisit neraca perdagangan dengan Amerika: Pertama, senjata dan kedua, royalti pilem Hollywood.

“Aku mendapatkan laporan, di negeri ini ada sebuah situs yang dengan jahat mengandakan filem Hollywood dan membagikan secara cuma-cuma melalui streaming. Tindakan itu secara politik dan ekonomi menganggu kepentingan Amerika Serikat.” Katanya geram.

Menganggu ekonomi Amerika? Lebay sekali bapak duta besar ini, hanya mengurangi sedikit saja pendapatan Warner Bros, Paramount atau Marvel pun. Tapi aku tetap harus berakting.

“Oh, jahat sekali. Kalau ulama-ulama kami tahu tentu mereka mengecamnya. Saya akan memberangus situs tersebut, tidak hanya untuk kepentingan Amerika Serikat tapi lebih untuk moral bangsa kami.” Aku memukul meja karena kesal.

“Maksudmu pilem Amerika memberi pengaruh moral yang buruk?”

“Oh bukan, bukan itu maksud saya Paduka Yang Mulia. Itu bukan pendapat saya, tapi ulama-ulama kami yang terkenal konservatif.”

“Negeri ini seharusnya tidak tunduk pada mereka para idiot yang hidup di abad ke-15, untuk kemajuan negeri Ulama-ulama harus dikerasi sedikit. Sudah saatnya Kesultanan kalian menjadi progresif.” Wajahnya serius, tapi santai.

Aku tersenyum pengertian, “itu tidak mungkin Yang Mulia, pemimpin kami tidak mungkin keras pada ulama, bukan karena takut ya. Kami tidak mungkin menindas mereka yang dalam setiap shalat dan khutbahnya mendoakan kebaikan bagi pemimpin dan negeri ini.”

“Logikamu bengkok! Stupid!” Ia menunjukku geram.

“Setidaknya bengkok lebih baik daripada patah Yang Mulia.” Aku tersenyum manis, caci maki terus aku dalam bahasa Inggris, emang aku mengerti, tapi tidak sesakit kalau dimaki dalam bahasa daerah.

Hahaha, dalam hati aku tertawa. Karena kami, kenegerian Sungai Keadilan tidak akan pernah mengikuti kebudayaan Barat dengan serta merta, lebih baik dibilang pandir oleh si kafir ini, daripada nanti di akhirat tidak masuk golongan Nabi Muhammad. Aku balas menghina, cuma dalam hati saja.

“Kalian kekurangan teknologi, kami bisa membantu melacak situs itu dengan peralatan dan konsultan-konsultan yang ahli.”

Aku diam, selain senjata dan royalti pilem Hollywood sebagai pendapatan Amerika Serikat. Ada satu lagi yang berbahaya, jasa konsultasi. Negara-negara kecil akan dipaksa meminjam dana, untuk kemudian membeli peratalan-peralatan mereka dan menggaji tinggi konsultan mereka. Tapi tenang, kata mereka biayanya bisa dicicil, akan ringan meski bunganya mencekik. Hanya pejabat yang tolol yang besedia, ditambah pejabat yang disuap fee oleh Amerika. Itulah sebab aku membenci kapitalisme, itulah sebab aku melawan kapitalisme mereka.

“Dengan biaya terjangkau tentunya.” Ia tersenyum, bagaimanapun Amerika Serikat hebatnya sebagai sebuah Negara adidaya, tetap saja mereka adalah pedagang yang menjual produk-produk korperasi mereka sendiri. Meskipun kami adalah Negara kecil yang entah berantah tapi kami harus melawan kapitalisme mereka, dengan lembut tentunya.

“Saya pikir kami mampu menangani masalah ini sendiri Yang Mulia, Insya Allah, kami bisa!” Kali ini aku tegas.

Ia mengangguk, kesal dan marah. “Aku beri waktu tiga bulan! Kalian tentu tahu apa akibatnya jika Amerika marah tentunya. Jika kalian lupa, ingatlah Irak, ingatlah Afganistan dan ingatlah Libia.” Matanya berkilat mengancam.

Aku membungkuk pada anjing buduk kudisan ini, dan mengantarkannya ke depan kantor dengan basa-basi kecil. Selepas mobil Duta Besar Amerika Serikat itu pergi aku memanggil Syamaun dan menyuruh mempersiapkan mobil untuk melaporkan ini kepada Sultan.

XXX

“Jadi dia berkata begitu?” Sultan merebahkan diri dikursi, begitu aku selesai melaporkan secara pribadi di ruang tertutup, rupanya sedari tadi dia cemas dan mengharapkan aku segera datang dan menceritakan duduk perkaranya.

“Paman, rakyat kita butuh hiburan, sedang ancaman Amerika Serikat terasa sangat nyata. Apa yang harus kita lakukan?” Ia bimbang karena kecintaannya kepada rakyat yang membutuhkan hiburan gratis, dan aku tahu juga dia juga adalah salah satu penikmat domain illegal itu. Tapi disisi lain, Amerika Serikat adalah Negara terkuat di dunia sekaligus mitra dagang yang paling menguntungkan bagi kami. Sentilan embargo, atau bahkan invasi bisa terjadi.

“Ada solusi paman?” Dalam ruang tertutup Sultan lebih suka dipanggil ananda olehku, mungkin karena aku satu-satunya sahabat ayahnya yang masih hidup.

“Selalu ada solusi ananda, saya punya jalan keluar.” Aku tersenyum nakal, sangat nakal untuk orang yang sudah berumur enam puluhan.

Ia tersenyum, “kenapa paman tidak bilang dari tadi? Apa solusinya?”

Aku mendekat berbisik, ia tertawa terbahak-bahak sampai lemas. Selesai tertawa ia bertanya, “paman kenapa harus berbisik di ruang tertutup?”

“Ada pepatah kuno yang berkata dalam istana dinding pun punya telinga.”

Ekspresi Sultan Malik Saleh Perkasa Alam terkejut, ia menatapku dengan penuh kekaguman. Sama persis ketika waktu dia kecil, waktu selesai dikhitan dengan rasa sakit yang minimal.

XXX

Dalam perjalanan pulang kembali dari istana, Syamaun menyetir dengan tenang. Aku memandangi negeri yang aku cintai ini, jalan-jalannya, sungai-sungainya yang keruh, masyarakatnya yang keras tapi tulus. Aku mencintai negeri ini, semuanya dan aku bersyukur dilahirkan di negeri ini.

“Syamaun dalam waktu tiga bulan bisakah kau membangun sebuah domain baru dan telah memindahkan data-datanya?” Tanyaku.

“Jangankan tiga bulan, seminggu pun bisa.” Ia tersenyum.

“Baik tolong siapkan segera, dalam dua bulan matikan domain lama, tunggu dua hari dan hidupkan yang baru.”

“Baik dan Terima kasih pak menteri.”

“Justru aku yang berterima kasih karena kamu mengerjakan domain itu untukku.” Aku tertawa merasa tersindir.

“Terima kasih telah memberikan hiburan pada rakyat maksud saya” Katanya.

“Kalian melihat pemimpin seharusnya sama seperti manusia lain, mereka ingin bahagia, ingin rakyatnya bahagia juga tentunya, tapi kita tidak bisa dengan begitu saja mengalirkan uang dengan mudah pada negeri asing.”

Syamaun diam, dia melihat kebelakang melalui kaca dengan penuh hormat, segera detik itu aku mengambil pelajaran moral bahwa kadang Menteri Jaringan bisa lebih tinggi dari Sultan sendiri. Untuk memahami lawan, engkau harus hidup dan berpikir dengan cara mereka. Salah satu cara memahami kebudayaan mereka yang besar adalah dengan menonton filem mereka, seperti Starwars, Avengers, dan sebagainya. Tapi kami melakukan itu dengan tanpa membayar. Disitulah aku tersenyum puas dan betapa hari ini sangat indah.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  47. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  48. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

TELATAH YANG PATAH-PATAH

TELATAH YANG PATAH-PATAH

Masihkah engkau mengingat ketika pertama kali paru-paru isi oleh udara, ketika rahman1) dan rahim2) mengantarkan kau menuju gharib3), dari perantah sampai telatah yang patah-patah, sudahkah engkau kenali jalan yang membetuli insan4) wahai arif budiman?

Selalu hidup adalah hasrat, atau ia menghimbau selayaknya fajar, tiap kali didatangi, ia fana, namun disanalah waktu ditetapkan. Shubuh datang, maghrib menjelang kemudian shubuh lagi, tapi repetisi itu tak terasa rutin, tiap menit, tiap jam, dan tiap hari. Harapan akan dunia ini selalu berisi ketegangan, antara amarah atau cita-cita, kemungkinan dan kematian, kekalahan atau kemenangan, nostagia bahkan sulitnya keinginan.

Langkah-langkah hidup penuh onak menuju makrifat

Langkah-langkah hidup penuh onak menuju makrifat

Pada tubir ini, diantara hutan ataupun pantai. Beta berjalan mendaki, dan tak sadar menikmati sentuhan tenah yang keras di telapak kaki, menghirup bau perdu dan pohon-pohon disekeliling. Beta tak sengaja memandangi sepucuk sajaratun5), di depan mata, ia seakan-akan berubah menjadi lambang aljabar6), perjuangan kami, kehilangan kami telah terhitung laba ruginya. Akh, pada saat itu jua, Beta merasa direnggutkan dari sajaratun itu, dan sebagai penganti tampak sebuah lobang melompong kemana rasa marah dan sakit mengalir, masuk.

Bisakah si fakir mengharap makrifat7)? Bila hati dipenuhi maksiat. Harap cemas ibadah digantikan nikmat dunia. Oh, Beta bepergian selayaknya orang-orang, tapi pulang ke sebuah tempat yang tiada. Ibarat hati terombang-ambing, antara kekasih dan nikmat duniawi. Kebimbangan, ketakutan mengungkapkan rasa sedih mengiris. Di tempat ini yang justru tak berarti, tempat yang tak hadir tapi Beta bentangkan setiap hari, mungkinkah Beta menjumpai engkau kekasih sebagai muhlisin?

Beta telah kehilangan segalanya, segalanya pada pusaran mahbub9), perjalanan malam menggunakan suluh cahaya, penuh seluruh harap markab10) ini berlabuh ke Bandar tauhid menuju makrifat, agar supaya dapat bertemu sang kekasih.

Bait al-Hikmah, 4 Rabbiul Akhir 1440 Hijriah (Bertepatan 11 Desember 2018)

Daftar Istilah:

  1. Rahman = Maha Pengasih;
  2. Rahim = Maha Penyayang;
  3. Gharib = Asing/Dagang (Dunia adalah tempat yang asing bagi manusia);
  4. Insan = Manusia;
  5. Sajaratun = Sejarah/Pohon;
  6. Aljabar = Matematika Arab (Cikal bakal Aritmatika);
  7. Makrifat = Pengetahuan yang diperoleh mengetahui akal;
  8. Muhlisin = Orang yang ikhlas;
  9. Mahbub = Lautan dan gelombang;
  10. Markab = Perahu

Posted in Kolom, Literature, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH

Spesifikasi Arca kepala Budha Alalokiteswara yang ditemukan di Aceh. Komponen: Batu Andesit; Lokasi: Aceh, Sumatera, Indonesia; Perkiraan Abad ke 9-10 Masehi. Koleksi Museum Nasional Indonesia, Nomor Inventaris. 248.

PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH

ACEH YANG BERNAFASKAN SYARIAT ISLAM

Aceh adalah sebuah provinsi di Indonesia yang beribukota Banda Aceh. Aceh terletak di ujung utara pulau Sumatera dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Jumlah penduduk provinsi ini sekitar 4.500.000 jiwa. Letaknya dekat dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India dan terpisahkan oleh Laut Andaman. Aceh berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan. Aceh adalah tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Pada awal abad ke-17, Kesultanan Aceh adalah negara terkaya, terkuat, dan termakmur di kawasan Selat Malaka. Sejarah Aceh diwarnai oleh kebebasan politik dan penolakan keras terhadap kendali orang asing, termasuk bekas penjajah Belanda dan pemerintah Indonesia. Jika dibandingkan dengan dengan provinsi lainnya, Aceh adalah wilayah yang sangat menjunjung tinggi nilai Islam. Persentase penduduk Muslimnya adalah yang tertinggi di Indonesia dan mereka hidup sesuai syariah Islam. Berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, Aceh memiliki otonomi khusus yang diatur tersendiri karena alasan sejarah.

Masjid Raya Baiturrahman zaman Kolonial Belanda

Sejak dahulu Aceh dikenal sebagai wilayah menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Foto: Masjid Raya Baiturrahman zaman Kolonial Belanda

Sebagaimana daerah lain di kepulauan Nusantara, Aceh juga pernah mengalami masa berkembangnya agama Hindu dan Buddha yang datang dari daratan benua Asia Selatan (India). Pada masa itu di Aceh telah diwarnai dengan adanya beberapa kerajaan-kerajaan yang berdasarkan agama tersebut misalnya Kerajaan Indrapuri, Kerajaan Indrapatra dan Kerajaan Indrapurwa semuanya di Aceh Besar yang menganut kepercayaan Hindu dan dipengaruhi oleh India. Selain itu, Aceh juga dulu termasuk bagian dari kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang pernah berjaya di Nusantara ribuan tahun lalu seperti Sriwijaya.

PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH

Lepala arca Budha Alalokiteswara yang ditemukan di Aceh, kawasan Prada/lingke kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.

Spesifikasi Arca kepala Budha Alalokiteswara yang ditemukan di Aceh. Komponen: Batu Andesit; Lokasi: Aceh, Sumatera, Indonesia; Perkiraan Abad ke 9-10 Masehi. Koleksi Museum Nasional Indonesia, Nomor Inventaris. 248.

Arca Alalokiteswara1) ini ditemukan tidak dalam keadaan utuh oleh Kolonial Belanda pada tahun 1930-an di seputaran kawasan Prada/Lingke di Koetaradja (Banda Aceh) sekarang. Secara keseluruhan patung Budha ini diperkirakan memiliki tinggi 135-140 cm. Kepala arca ini cukup istimewa dibandingkan arca Budha lainnya yang ditemukan di Nusantara, karena terdapat tiga buah figurin Amitabha pada tatanan rambutnya yang terletak di sisi kanan, kiri dan depan. Figurin Amitabha tersebut digambarkan sedang duduk dalam sebuah relung dengan sikap padmasana2) di atas tatanan bunga padma3), sikap tangannya dhyanamudra4). Bentuk tiga buah figurin Amitabha pada sebuah mahkota Awalokiteswara belum pernah ditemukan di tempat lain di seluruh dunia. Biasanya hanya terdapat sebuah figurin Amitabha di mahkota bagian depan Awalokiteswara.

Wajah arca Budha Awalokiteswara yang ditemukan di Aceh ini terlihat tirus, tidak bulat sebagaimana ditemukan di Jawa Tengah. Kemudian ceplok bunga yang detailnya berbeda dengan hiasan mahkota pada arca-arca di Jawa Tengah. Gaya tatanan rambut arca ini mirip dengan arca-arca Awalokiteswara yang ditemukan di Siam (Thailand) pada masa abad 9-10 Masehi. Arca ini tidak mirip dengan arca-arca yang pernah dibuat oleh dinasti Sailendra. Bambang Budi Utomo dalam Treasures of Sumatra menduga arca ini ditidak dibuat oleh penduduk setempat, tetapi diimpor dari tempat lain.

Sebaliknya penulis menduga arca ini dibuat di Aceh, oleh orang-orang, dan bahan-bahan lokal. Dugaan ini berdasarkan jenis batu andesit yang digunakan sangat mirip dengan makam-makam raja-raja Islam kerajaan Lamuri, bahkan pola ukiran bunga pada kepala arca mirip dengan gaya nisan Lamuri Islam. Batu nisan Kesultanan Lamuri terbuat dari batu sungai (andesit) yang sangat keras dan kasar, sedangkan tipikal nisan dari Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh terbuat dari batu halus dari pengunungan.

Kesamaan pola, gaya ukir bahkan bahan baku ini bisa disaksikan pada gambar dibawah dimana nisan makam Lamuri Islam terletak di sebelah kanan.

Tim tengkuputeh berpose di Musem Aceh

Nisan sebelah kanan adalah batu halus dari pengunungan yang kerap ditemukan pada makam-makam Kesultanan Aceh Darussalam dan Samudera Pasai, sedangkan nisan disebelah kiri adalah batu sungai (andesit) yang hanya ditemukan pada makam-makam dari Kesultanan Lamuri.

(Baca juga: Mengunjungi pameran batu nisan Aceh sebagai warisan budaya Islam di Asia Tenggara)

Video terkait :

Atas dasar perbandingan tersebut maka penulis menduga bahwa arca  Awalokiteswara dibuat oleh ahli-ahli pahat batu dari Kerajaan Lamuri atas perintah Maharaja Po Liang, raja Lamuri pertama yang memeluk agama Budha yang datang dari negeri Langkasuka5) 

Maharani Putro Budian menikah dengan Maharaja Po Liang, yaitu seorang bangsawan dari Indocina  yang datang ke Aceh bersama rombongannya karena negerinya diserang musuh yang lebih kuat. Beliau mencari tanah air sambil mengembangkan agama Budha mazhab Hinayana sekte Mantrayana. Setelah menikahi Ratu Mante itu beliau berhasil mem-budha-kan Lamuri (Aceh), dan akhirnya beliau diangkat sebagai Raja Lamuri yang pertama.

AWAL MULA KERAJAAN LAMURI BUDHA MENJADI KESULTANAN LAMURI KEMUDIAN MENJADI KESULTANAN ACEH

Berdasarkan sumber-sumber berita dari pedagang Arab, Kerajaan Lamuri telah ada sejak pertengahan abad ke-9 M. Artinya, kesultanan ini telah berdiri sejak sekitar tahun 900-an Masehi. Pada awal abad ini, Kerajaan Sriwijaya telah menjadi sebuah kerajaan yang menguasai dan memiliki banyak daerah taklukan. Pada tahun 943 M, Kesultanan Lamuri tunduk di bawah kekuasaan Sriwijaya. Meski di bawah kekuasaan Sriwijaya, Kesultanan Lamuri tetap mendapatkan haknya sebagai kerajaan Islam yang berdaulat. Hanya saja, kesultanan ini memiliki kewajiban untuk mempersembahkan upeti, memberikan bantuan jika diperlukan, dan juga datang melapor ke Sriwijaya jika memang diperlukan.

Benteng Indrapatra peninggalan dari Kesultanan Lamuri yang masih tersisa di wilayah Krueng Raya, Aceh Besar.

Menurut Teuku Iskandar dalam disertasinya De Hikayat Atjeh (1958), diperkirakan bahwa kesultanan ini berada di tepi laut (pantai), tepatnya berada di dekat Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. H. M. Zainuddin, dalam Tarikh Aceh dan Nusantara menyebutkan bahwa kerajaan ini terletak di Aceh Besar dekat dengan Indrapatra, yang kini berada di Kampung Lamnga.

(Baca juga : Sejarah Kerajaan Lamuri)

Dalam perkembangan selanjutnya, tepatnya pada tahun 1513 M, Kerajaan Lamuri beserta dengan Kerajaan Pase, Daya, Lingga, Pedir (Pidie), Perlak, Benua Tamiang, dan Samudera Pasai bersatu menjadi Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M). Jadi, bisa dikatakan bahwa Kesultanan Lamuri merupakan bagian dari cikal bakal berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam. Perubahan nama dari Lamuri menjadi Aceh belum dapat dipastikan bagaimana proses terjadinya. Dalam Tarikh Kedah (Marong Mahawangsa) tahun 1220 M (517 H), nama Aceh sudah disebutkan sebagai satu negeri di pesisir pulau Perca (Pulau Sumatera). Orang Portugis Barbosa (1516 M / 922 H) sebagai orang Eropa pertama yang menyebut nama Achem dan buku-buku Tionghoa (1618 M) menyebutkan Aceh dengan nama A-Tse.

KEADAAN ACEH SEBELUM ISLAM

H.M Zainuddin dalam mahakarya “Tarikh Aceh dan Nusantara” berdasarkan sumber-sumber primer mencatat bahwa jauh sebelum Islam masuk ke Aceh diperintah oleh Kerajaan Mante yang berpusat di Seumileuk (Seputaran antara Seulimuem dan Jantho sekarang). Kata-kata Mante berasal dari Mantenia atau Mantinea yaitu suatu kota di Yunani, dimana penduduknya disebut Mantinean. Pada abad ke 14 Sebelum Masehi (dan seterusnya selama kurang lebih 3 abad) mereka melakukan perpindahan penduduk kedaerah panas di Selatan. Mereka datang ke Yunani semula mereka mendiami pulau Kreta bagian Selatan yaitu Thessalia, menamakan suku mereka Achaea. Pada abad ke 12 Sebelum Masehi mereka diusir oleh suku Doris, lalu mereka berpindah, sebagian kedaerah Peloponnesus Utara, sebagian ke Asia Kecil (Turki), dan sebagian yang lain ke Asia tengah (lembah Kaukasus)

TARICH ATJEH DAN NUSANTARA; oleh H.M. Zainuddin;

TARICH ATJEH DAN NUSANTARA; oleh H.M. Zainuddin;

Mereka yang pindah ke lembah Kaukasus itu kemudian mengembara kearah Timur melalui Chaibar Pas (jurang antara dua gunung diperbatasan Afganistan dan India) mereka sampai di India Utara, dan berasimilasi dengan penduduk disana. Kemudian mereka meneruskan pengembaraan kearah Timur sampai ke Tennosering diperbatasan Burma dengan Siam, mereka berasimilasi lagi dengan bangsa Man Khemer, yaitu leluhur bangsa Kamboja dan Campa.

Kemudian mereka meneruskan pengembaraan ke Selatan dengan menyebrangi Selat Malaka. Mereka sampai ke Pulau Perca (Sumatera), dan membuat kerajaan Mante dengan berpusat di Seumileuk.

(Baca juga : Hikayat Suku Mante)

Adapun raja-raja dari dinasti Mante yang menjadi penguasa dan memerintah di lembah Aceh Besar itu tidak seluruhnya diketahui. Menurut catatan yang masih ada kita mengenal raja yang bernama “Maharaja Po Tuah Meuri”. Adapun raja-raja sebelumnya tidak dapat diketahui. Setelah Maharaja Po Tuan Meuri memerintah anak cucunya menurut garis lurus sambung menyambung yaitu : Maharaja Ok Meugumbak, Maharaja Jagat, Maharaja Dumet, Maharani Putro Budian. Sampai disini berakhirlah dinasti Mante tersebut. Dan sejarah berhenti mencatat dinasti suku Mante.

KERAJAAN LAMURI MASA BUDHA SAMPAI KESULTANAN LAMURI ISLAM

Maharani Putro Budian menikah dengan Maharaja Po Liang, yaitu seorang bangsawan Langkasuka dari Indocina yang datang ke Aceh bersama rombongannya karena negerinya diserang musuh yang lebih kuat. Beliau mencari tanah air sambil mengembangkan agama Budha mazhab Hinayana sekte Mantrayana. Setelah menikahi Ratu Mante itu beliau berhasil membudhakan Aceh, dan akhirnya beliau diangkat sebagai Raja Lamuri yang pertama.

Adapun dinasti Po Liang yang memerintah kerajaan Aceh Lamuri itu menurut catatan Dada Meuraksa adalah sebagai berikut :

  1. Maharaja Po Liang. Raja Lamuri Budha I.
  2. Maharaja Beuransah. Raja Lamuri Budha II. (Anak nomor 1).
  3. Maharaja Beureuman. Raja Lamuri Budha III. (Anak nomor 2).
  4. Maharaja Binsih. Raja Lamuri Budha IV. (Anak nomor 3).
  5. Maharaja Lam Teuba, Raja Lamuri Islam I, mahzab syi’ah. Beliau adalah raja yang termasyur karena keberaniannya, keadilannya, kecerdasannya, dan terutama karena menyambut Islam yang dibawa dan didakwahkan kepadanya oleh seorang Sayid keturunan Rasulullah s.a.w. (754 M).
  6. Maharaja Gading. Islam Syiah ke II (786 M). Anak no.5 dan cucu no.4.
  7. Maharaja Banda Chairullah. Islam Syiah ke III (822 M). Anak no.6.
  8. Maharaja Cut Samah. Islam Syiah ke IV (870 M). Anak no.7.
  9. Maharaja Cut Madin. Islam Syiah ke V (916 M). Anak no.8.
  10. Maharaja Cut Malim. Islam Syiah ke VI (963 M). Anak no.9.
  11. Maharaja Cut Seudang. Islam Syiah ke VII (1034 M). Anak no.10.
  12. Maharaja Cut Samlako. Islam Syiah ke VIII (1082 M). Anak no.11.
  13. Maharaja Cut Ujo. Islam Syiah ke IX (1113 M). Anak no.12.
  14. Maharaja Cut Wali. Islam Syiah ke X (1144 M). Anak no.13.
  15. Maharaja Cut Ubit. Islam Syiah ke XI (1171 M). Anak no.13 dan adik no.14.
  16. Maharaja Cut Dhiet. Islam Syiah ke XII (1185 M). Anak no.15.
  17. Maharaja Cut Umbak. Islam Syiah ke XIII (1201 M). Anak no.16.
  18. Maharani Putro Ti Seuno. Islam Syiah ke XIV (1235 M). Anak no.17.

Sampai disini berakhirlah kerajaan Lamuri dinasti Po Liang, Maharani Putro Ti Seuno menikah dengan Johan Syah, yang kemudian menjadi Sultan Alaidin Johan Syah, Raja Lamuri Islam Ahlussunnah Wal Jamaah ke I (1205-1235 M). Nama raja-raja dinasti Mante dan dinasti Po Liang ini diperoleh Dada Meuraksa dari salinan manuskrip Teuku Raja Muluk Attahasi, seorang keturunan pembesar Aceh di zaman dahulu, demikian pula juga angka-angka tahunnya.

Perubahan agama dari Budha menjadi Islam di Aceh (Lamuri) selain disebabkan faktor internal, juga dikarenakan faktor eksternal yaitu melemahnya kerajaan Sriwijaya akibat serangan dari Kerajaan Cola (India) sebagaimana tercatat pada sebuah prasasti Rajendracola di Thanjavur yang berangka tahun 1030-1031 Masehi. “… sejumlah besar kapal ke tengah laut bergelombang besar dan mengalahkan Sangranawujayottungawarman, raja Kadaram, maka berturut-turut ditaklukkannya, Sriwijaya…”

Sebagaimana dicatat dalam “Sejarah Dinasti Song” pada tahun 1088 Masehi San-fo-ch’I (Sriwijaya) mengirimkan utusan ke China yang melaporkan, “…Meskipun Tan-ma-ling, ling, Ling-ya-ssu-chia, Fo-lo-an, Sin-t’o, Chien-t’o, Chien-pi, dan Lan-wu-li (Lamuri/Aceh) terdapat pada jajahan San-fo-ch’I mereka digambarkan dalam catatan-catatan tersendiri…”

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan pada abad ke-17 Masehi ketika Sultan Aceh beserta para pangeran menerima kunjungan dari delegasi-delegasi dari negara Islam maupun Barat.

Kemerosotan kerajaan Sriwijaya memberikan kesempatan kepada dinasti Alaidin untuk tampil dan memimpin tampuk kekuasaan yang merdeka, kemudian mengubah nama kerajaan Lamuri menjadi Kesultanan Aceh Darussalam dengan Islam sebagai dasar berkehidupan dan bernegara. Sejarah bergulir dan Islam menyebar dari Aceh ke seluruh Nusantara.

Daftar Istilah

  1. Alalokiteswara = Merupakan perwujudan welas asih semua Buddha. Welas asih merupakan pendukung terhadap penghimpunan kebajikan yang luas, yang merupakan salah satu faktor pencapaian Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna.
  2. Padmasana = Berasal dari bahasa Sanskerta terdiri dari dua kata: Padma (bunga teratai) dan Asana (duduk) secara morfologis berarti posisi duduk dalam yoga.
  3. Bunga Padma = Lotus atau teratai merah dalam bahasa Sanskerta disebut Padma sebagai bunga suci dalam ajaran Hindu dan Budha.
  4. Dhyanamudra = Berasal dari bahasa Sanskerta artinya lambang atau segel, merupakan sikap tubuh yang bersifat simbolik atau ritual dalam Hinduisme dan Budhisme.
  5. Langkasuka = Negeri Melayu Kuno (Hindu-Budha) terletak di Semenanjung Melayu, wilayahnya sekarang meliputi Pattani (Thailand) dan Kedah (Malaysia)

Daftar Pustaka

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Aceh diakses 18 November 2018;
  2. Bambang Budi Utomo; Treasures of Sumatra; Penerbit Museum Nasional; tahun 2009:
  3. Dada Meuraksa; Manuskrip milik Teuku Raja Muluk Attahasi:
  4. George Coedes; Asia Tenggara Masa Hindu-Budha; Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) tahun 2010;
  5. M. Zainuddin; Tarich Aceh dan Nusantara; Penerbit Pustaka Iskandar Muda; tahun 1961:
  6. Hikayat Merong Mahawangsa (Negeri Kedah);
  7. Teuku Iskandar; De Hikayat Atjeh; disertasi; tahun 1958:
  8. Sejarah Dinasti Song:

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  2. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  3. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  4. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  5. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  6. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  7. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  8. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  9. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  10. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  11. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  12. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  13. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  14. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  15. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  16. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  17. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  18. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  19. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  20. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  21. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  22. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  23. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  24. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  25. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  26. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  27. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  28. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  29. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  30. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  31. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  32. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  33. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  34. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  35. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  36. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  37. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  38. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  39. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  40. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  41. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  42. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  43. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  44. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  45. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  46. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  47. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  48. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  49. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  50. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  51. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  52. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  53. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  54. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  55. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  56. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  57. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  58. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  59. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Opini, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

AGAR KEPALA DAN HATI TAK TERBENTUR

Setiap keputusan bisa benar atau salah, tapi ingatlah bahwa yang paling berdaulat dalam setiap diri manusia, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia, adalah nurani. Untuk itu, kita harus berusaha agar kepala dan hati tidak terbentur.

AGAR KEPALA DAN HATI TAK TERBENTUR

Gula-gula itu berbentuk seperti kuda, berwarna-warni, krim gula dengan belang-belang hijau, merah dan kuning dengan mainan sado beroda sebagai pegangan. Tahun 1988, seharga lima puluh rupiah gula-gula ini merupakan sebuah kemewahan, dimana bentuk permen yang lebih sederhana masih dapat terbeli dengan harga sepuluh rupiah.

Entah mengapa fragmen-fragmen dari masa lalu tiba-tiba hinggap dikepala. Pagi itu, Abu bermain di pantai Ujong Kalak, dekat lokasi Teuku Umar ditembak pasukan Belanda bermain pasir. Keasyikan bermain, Abu lupa menguburkan sado itu dimana, ketika diajak pulang karena hari akan hujan, Abu panik dan tak menemukan dimana mainan tersebut. Dibonceng pulang bersepeda ke Suak Ribee bersepeda, Abu menitikkan air mata mengingat kehilangan tersebut, beberapa saat kemudian Abu diberikan jajan seratus rupiah. Abu tidak tertarik membeli gula-gula dengan kereta sado yang sama. Akh, mungkin sedari kecil Abu punya kecenderungan fatalis, tidak ingin mengulang sesuatu hal yang sama, apalagi yang menyakitkan sampai dua kali.

Sore hari, selepas Ashar setelah mandi, berbedak dan bersisir rapi Abu yang waktu itu berumur 4 tahun main ke rumah tetangga, kawan Abu. Ayah mereka nelayan membawa pulang ikan pari yang besar, bahkan lebih besar dari Abu (kecil). Kemudian dibakar diatas kayu, kemudian di makan dengan kecap, dicampur tomat dan cabai. Mereka menawarkan kepada Abu, dan Abu hanya menggeleng. Kawan Abu tadi yang berumur 9 tahun menceritakan kepada keluarganya bahwa tadi pagi Abu berlinang air mata pulang dari laut karena kehilangan sado, Abu pasrah diejek. Tapi abang kawan Abu yang berumur 9 tahun, kelas 3 SD menghibur Abu dan menceritakan bahwa ia pernah kehilangan pisau lipat, kita harus dewasa ketika menghadapi kehilangan. Abu diam, teman Abu yang saat itu berumur 6 tahun juga bercerita dia pernah kehilangan karet gelang, dan dia tabah menghadapinya. Jadi Abu harus selow, kehilangan mainan sado bukan akhir dunia.

Waktu itu Abu berpikir betapa hebatnya orang-orang yang sudah berusia 6 atau 9 tahun, mereka lebih dewasa dan tenang. Semoga nanti ketika sudah bersekolah, Abu menjadi orang yang hebat seperti mereka. Akhirnya Abu bersemangat kembali dan makan ikan pari kecap bakar itu dengan semangat, bahkan nambah. Disitu Abu baru tahu, bahwa ikan pari bakar sangat sedap.

Tapi benarkah? Kedewasaan mampu membuat orang selalu tabah akan kehilangan? Abu pikir, yang menangis adalah yang merasa “punya”, berpunya adalah kehilangan, dan yang kehilangan adalah mereka yang berkeinginan atas apa yang dihilangkannya. Dua puluh tiga tahun sesudahnya, Abu pun pernah menitikkan air mata tak henti sepanjang tiga puluh kilometer perjalanan di dalam sebuah minibus. Hukum kehilangan tak mengikat apakah dia tua, muda atau apapun. Pengikatnya adalah rasa “berpunya” yang tiba-tiba diangkat menjadi “hilang”, dan bukankah hidup bukanlah sesuatu yang tetap, konstan dan aman. Sepanjang hidup kita semua harus belajar menerima kehilangan satu persatu. Luka separah apapun dapat disembuhkan, setiap orang memiliki duri dalam hidup, tapi ketika bisa menertawakan nasib buruk yang menimpa kita bisa melawan yang paling menindas, nasib buruk.

Hidup seperti teater, terkadang tak perlu menemukan kebenaran, melainkan menghadapi kesalahan, dan mengatasinya, terkadang dengan sedih, terkadang dengan tertawa, mensyukuri kita masih hidup setidaknya sehari lagi.

Ibu bilang Abu pelupa, terhadap hal-hal yang dekat-dekat. Tapi yang ibu herankan, entah bagaimana caranya Abu bisa mengingat kejadian yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Ketika ditanya Abu hanya mengangkat bahu, tidak tahu juga mengapa.

Sedari kecil Abu berusaha menjadi orang yang bijaksana, tapi bagaimana caranya? Tahun 1996 Abu merasa tahu solusinya. Perbanyak membaca! Maka sejak itu Abu menjadi kutu yang hinggap disetiap perpustakaan yang dapat Abu jangkau. Tahun 2002 ketika lulus SMA Abu mencetak rekor pembaca buku terbanyak disekolah sepanjang masa, sampai direkam dengan handycam untuk diwawancarai, guru perpustakaan waktu itu mengatakan, sampai sepuluh tahun kedepan belum tentu ada lagi orang seperti Abu.

Benarkah membaca membuatmu bijaksana? Mungkin tidak. Ketika membaca banyak buku maka otak akan dilimpahi berbagai informasi, banjir informasi ini belum tentu berguna dalam kehidupan praktis. Cukup wajar bahwa generasi milenial saat itu lebih memilih membaca sesuatu yang praktis, langsung digunakan dan bermanfaat. Sejarah, sastra, filsafat, nyaris tidak ada fungsi dalam kehidupan sehari-hari, sedang waktu yang digunakan untuk membaca tentunya sangat berharga. Saat ini lebih baik jika membuat konten Youtube, jika menarik dan banyak penontonnya, gelontoran rupiah akan menjelang. Tapi membaca tentu juga bukanlah sesuatu yang sia-sia, kita tentu tak lantas bijaksana dengan membaca, tapi sedikit kurang kita mampu menilai suasana, memberikan informasi ketika memberi keputusan yang tiba-tiba dan tak ada tempat bertanya. Untunglah kita sekarang memiliki google!

Ada masa setiap orang harus menarik diri, merenung apa yang telah dan sudah dibuat. Hammurabi sebelum menjadi raja Babylonia yang paling bijak pernah berlari ke padang rumput, merasakan menjadi kambing/domba dengan makan rumput. Ilmu merasakan kerap hadir ketika kita dalam kesunyian. Setiap individu harus belajar memetakan dirinya sendiri, orang-orang boleh membuat analisis, berdiskusi atau bahkan bergunjing di meja kopi tentang karakter seseorang, tapi percayalah jika kamu tidak mengenali diri sendiri maka tidak ada orang lain yang bisa.

Teori seringnya lebih mudah daripada kenyataan, sulitnya adalah sebagaimana dikatakan Jack Finch kepada keponakannya Jean Louise yang sedang marah dan bingung dalam Novel Go Set A Watchman karangan Harper Lee. “… mudah untuk mengenang kembali siapa kita, kemarin, sepuluh tahun yang lalu, tapi sulit melihat siapa diri kita sekarang…”

Hati adalah raja ditubuh manusia dimana otak menjadi perdana menterinya

Setiap keputusan bisa benar atau salah, tapi ingatlah bahwa yang paling berdaulat dalam setiap diri manusia, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia, adalah nurani. Untuk itu, kita harus berusaha agar kepala dan hati tidak terbentur.

Simak (juga) kisah-kisah Petualangan Si Abu lainnya.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA

Nukum Sanany dan Rusli Higuchi, seorang bekas tentara Jepang yang memihak Republik Indonesia dengan bergabung ke Pasukan Meriam Nukum Sanany serta ikut dalam pertempuran Medan Area.

PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA

PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY Sebuah Pasak dari rumah gadang Indonesia Merdeka; sebagaimana diceritakan kepada penulis, B. WIWOHO; Cetakan Pertama; Bulan Bintang Penerbit dan Penyebar Buku-buku; Jakarta, Indonesia; 1985;

Free download buku PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY

Pasukan Meriam Nukum Sanany -1985

PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY Sebuah Pasak dari rumah gadang Indonesia Merdeka; sebagaimana diceritakan kepada penulis, B. WIWOHO; Cetakan Pertama; Bulan Bintang Penerbit dan Penyebar Buku-buku; Jakarta, Indonesia; 1985;

Berita menyerahnya Balatentara Kerajaan Jepang kepada Sekutu pada bulan Agustus 1945, menimbulkan berbagai macam spekulasi di kalangan masyarakat Aceh. Ada yang memperkirakan bahwa tentara Chiang Kai Sek akan masuk ke Aceh menggantikan Jepang, ada yang mengharapkan kembali tentara Belanda, dan ada pula yang langsung mengharapkan kemerdekaan Indonesia. Di tengah suasana ketidak-pastian dan penuh spekulasi itulah pemuda Nukum Sanany tampil dengan tegas dan tegar sebagai prajurit, pejuang kemerdekaan Indonesia, yang bersemboyankan “Merdeka atau Mati”. Dengan bekal pendidikan sekolah teknik, gemblengan semangat nasionalisme yang diperolehnya tatkala aktif sebagai kader bangsa di Pandu Surya Wirawan serta pendidikan Angkatan Laut Jepang di Singapura, Nukum Sanany tampil mengacu darah perjuangan para pemuda di sekitarnya, tampil amat mempesona pada zamannya.

“Nukum Sanany membujuk ayahnya untuk menyumbangkan hasil penjualan cengkeh beliau guna dibelikan senjata-senjata perang untuk dipakai mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bersama rekan-rekan perjuangan menyelami laut, mencari meriam-meriam peninggalan balatentara Jepang dan memperbaikinya kembali. Ia membina sebuah pasukan meriam dan memuntahkan peluru-peluru meriam mereka di arena Perang Kemerdekaan I dan II.”

Pasukan Meriam Nukum Sanany. Foto: Meriam 18PR di tengah sebagian anggota pasukan meriam. Meriam ini tadinya sewaktu ditemukan dalam keadaan rusak, tetapi setelah diperbaiki mampu berfungsicsebagai senjata artileri yang memuntahkan ratusan peluru.

Amran Zamzami sebagai salah seorang saksi mata yang sempat bergaul akrab dengannya di front pertempuran Medan Area, melihat sosok Nukum secara utuh, penuh ketaqwaan, penuh kejujuran, rela berkorban demi perjuangan Kemerdekaan. Dan yang amat menarik kala itu, keuletan dan keberaniannya susah mencari tolok-bandingannya. Sosok utuhnya yang seperti itulah yang mengakibatkan semua orang di sekelilingnya memanggilnya “Kapten Nukum”, walaupun pangkat yang sesungguhnya baru Letnan. Kapten pada waktu itu merupakan pangkat Komandan Pasukan tertinggi di front pertempuran di daerah Aceh dan Sumatera Utara. Demikianlah, nilai sejarah dari buku “Pasukan Meriam Nukum Sanany” ini mungkin subyektif, dan itu pun terjadi di salah satu ujung pulau Sumatera. Tapi sejarah telah mencatat semangat perjuangan Nukum Sanany, yang takkan mungkin bisa diulang kembali. Karena itulah kehadiran buku ini Insya Allah akan menambah khazanah bahan bacaan dan dokumen sejarah perjuangan Bangsa.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  2. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  3. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  4. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  5. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  6. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  7. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  8. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  9. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  10. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  11. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  12. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  13. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  14. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  15. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  16. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  17. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  18. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  19. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  20. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  21. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  22. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  23. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  24. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  25. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  26. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  27. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  28. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  29. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  30. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  31. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  32. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  33. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  34. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  35. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  36. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  37. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  38. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  39. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  40. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  41. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  42. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  43. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  44. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  45. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  46. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  47. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  48. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  49. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  50. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  51. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  52. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  53. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  54. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  55. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  56. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  57. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  58. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  59. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, E-Book, Kisah-Kisah, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

NOSTAGIA TABLOID BOLA

NOSTAGIA TABLOID BOLA

Nostagia kerap menghibur kita dari rasa cemas, sebuah kenangan berupa nostalgia tak pernah berasal dari kebencian. Ia menggerakkan kembali sesuatu yang sayu, seperti cinta yang lama. Meskipun ini kali tak, belum, ada lagi niat mencari cinta yang lain.

Bagi mereka yang dilahirkan dua puluh sampai sepuluh tahun sebelum milineum ini dimulai, terutama pecinta olahraga, khususnya sepakbola, tabloid BOLA memberikan kenangan tumbuhnya nostalgia terhadap dunia anak. Masa silam sebelum pamrih, bermain bola di persawahan, di halaman sekolah. Bola burik, bola plastik atau sebenarnya adalah bola voli, sebuah benda yang kini kita lihat sangat bersahaja. Mungkin kemerdekaan di momen tanpa pamrih itu tidak bisa ditukar dengan kemerdekaan di kemudian hari, meskipun kemenangan itu juga membawa piala kebahagiaan.

Kita memang tak mudah memilih, juga memilih kenangan. Nostagia kadang bisa membungkam mulut. Tabloid BOLA pertama kali terbit pada 3 Maret 1984, dalam pekan yang sama 4 hari sebelumnya Abu dilahirkan. Setelah 34 tahun beredar menemani para pencinta sepakbola, jumat 26 Oktober 2018. Tabloid BOLA yang bernaung di bawah Kompas Gramedia grup tutup dengan edisi terakhirnya dengan berita utamanya “TERIMA KASIH” dan (ternyata) Abu masih hidup.

Abu masuk SMA tahun 1999, medio 2000 adalah masa-masa kejayaan liga Italia Seri-A. Sebagai pencinta AC MILAN dari dulu sampai sekarang, tidak ada yang lebih seru daripada berdebat soal sepakbola di sekolah. Beberapa teman akrab Abu adalah penggemar, AS Roma, Juventus dan lain-lain. Sampai saat ini mereka masih menyatakan kesetiaannya. Maka untuk mengejek pihak lawan, di tabloid BOLA kami saling mencari bahan. Dahulu, internet sangat terbatas, dan berita di televisi hanya sekedar lewat. Ada kenangan, ketika Abu nyaris baku hantam karena saling bully tentang sepakbola dengan pendukung Juventus, iya mereka (Juventini) memang sedari dahulu menjengkelkan. Hari ini, ketika kami berjumpa kembali maka itu akan menjadi sebuah nostalgia yang menyenangkan.

Terlepas dari pertikaian antar sesama tifosi liga Italia, kami semua cenderung mendukung Italia. Kekalahan Italia dari Perancis di final Piala Eropa 2000 akibat peraturan golden goal menjadi luka bersama. Pahlawan Perancis, David Trezeguet menjadi sasaran kebencian, ketika dia direkrut oleh Juventus, sekali lagi Juventus menjadi musuh bersama semua tifosi tim Seri-A. Waktu itu belum lengkap rasanya kalau pecinta sepakbola tidak membaca tabloid BOLA. Bergantian kami membelinya, sebelum jam pelajaran atau saat jam istirahat sekolah tiba, membaca tabloid BOLA sambil memperbincangkan tentang hasil pertandingan semalam, bahkan detil-detilnya seperti semalam Gilardino terpeleset, atau sepertinya sepatu Batistuta kekecilan. Semua adalah sesuatu yang keren pada zaman itu, tabloid BOLA menjadi pelengkap bahwa kamu adalah penggemar sepakbola yang sejati.

Zaman datang dan pergi, selalu datang dan pergi, tiap kali berbeda. Zaman memang relatif. Gunung-gunung tinggi boleh tetap ada, tetapi manusia dengan peradaban dan sejarah masing-masing sebenarnya bergulat dalam takdir yang telah tergurat.

Kasus pengaturan skor (Calciopoli) tahun 2006 melanda Italia, sepakbola Italia pun kolaps, meskipun masih bisa beberapa kali berprestasi di kancah Eropa dan dunia, tapi ibarat lilin yang bercahaya menuju padam. Liga Inggris, liga Spanyol bahkan liga Jerman telah mengkudeta liga Italia dari kenyamanan tahta singgasana tertinggi. Saat ini kebanyakan tifosi tim Serie-A (kecuali Juventus) adalah sisa-sisa zaman lama. Kepemilikan klub Italia yang bersifat kepemilikan pribadi tidak mampu mengantisipasi zaman. Uang yang mengalir dari para syekh dan manajemen professional tim-tim dari Negara lain di benua biru (terutama Inggris dan Jerman) terlambat diikuti. Belum lagi kepemilikan stadion sepakbola di Italia yang kebanyakan dimiliki pemerintah daerah membuat klub Italia kesulitan mengurangi biaya. Klub-klub di Italia semakin tertatih-tatih dan mulai tidak diperhitungkan lagi.

Milenium baru datang, internet menjangkau penonton, pendengar dan pembaca di ruang dan waktu yang nyaris tak terbatas. Tabloid BOLA akhirnya dikalahkan oleh zaman, pada era kekinian ini, informasi media cetak kalah cepat dibandingkan media online. Paling cepat dipublikasikan satu hari sebelumnya, tapi media elektronik bisa keluar kapan saja. Selain itu kertas juga sudah dianggap tidak efisien, juga semakin mahal.

Tabloid BOLA telah berakhir, mungkin suatu hari hanya akan cuma bisa kita kenang namanya dan rubrik-rubrik yang pernah ada didalamnya yang biasa kita jumpai saat membukanya lembar demi lembar.

Akhirnya tabloid BOLA pun berakhir, mengikuti jejak beberapa media cetak lainnya yang telah ditutup. KAWANKU, ANEKA-YESS, ANGKASA, MATRA sampai HORISON serta banyak lagi. Beberapa beralih menjadi media online, beberapa tutup total karena tidak siap, setelah versi cetaknya mati, versi onlinenya belum disiapkan, maka tidak bisa diselamatkan lagi.

Ketika hari ini tabloid BOLA berakhir, mungkin suatu hari hanya akan cuma bisa kita kenang namanya dan rubrik-rubrik yang pernah ada didalamnya yang biasa kita jumpai saat membukanya lembar demi lembar. Abu hanya ingin mengucapkan: “Terima kasih juga telah menemani masa-masa muda yang menyenangkan, telah mempertemukan dengan teman-teman terbaik sepanjang masa. Akan kusimpan edisi terakhir ini sebagai sebuah benda kenangan.”

ADIOS. Sekarang semuanya telah selesai. Aku senang bisa bersamamu, sampai dengan saat-saat terakhir ini, Grazie tabloid BOLA.

Free download Tabloid BOLA edisi terakhir (2.915) Jumat, 26 Oktober 2018

TABLOID BOLA EDISI TERAKHIR

Simak cerita lainnya di KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Mau TAS yang MURAH dan BERKUALITAS? Follow IG olshop_gebhia dan pesan segera. Berbagai tas pilihan dari kota BATAM, langsung dikirimkan ke tempat anda.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA

CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA

Sejarah Nusantara memiliki berbagai keajaiban-keajaiban yang telah ada sejak zaman kuno, salah satunya adalah azimat berupa rantai babi (rante bui). Gejala-gejala gaib ini menurut para Antropolog erat kaitannya dengan teori pre-animisme bernama mana (tuah). Mana atau tuah adalah suatu pengertian yang hidup di alam pikiran berbagai bangsa di Melanesia sebagai kekuatan sakti yang bersifat supernatural.

“Dengan nama Allah Yang Rahman dan Rahim. Allah pelindungku, kepercayaanku, Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail ada di kanan dan di kiriku, di muka ku, di belakang ku, di atasku dan di bawah ku. Aku dikelilingi syahadat “La ilaha illa illahu” (=tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah). Aku pergi dengan memperoleh restu dan keselamatan. Allah akan menyampaikan hajatku, Allahku Gaib.”

(Sebuah doa yang didapat dalam buku mantera milik seorang pejuang Aceh bernama Teuku Cut Ali gugur sebagai syahid dengan gagah berani tanggal 25 Mei 1927 pada sebuah penyergapan oleh pasukan Marsose di Aceh Selatan).

Sebuah Kertas ‘mistik” atau azimat untuk mengetahui hari-hari baik dan buruk milik Orang Aceh yang ditemukan oleh Belanda.
Bawah : sebuah sektor “baik” (kiri) dan “tidak baik” (kanan).
Diambil dari arsip H.C. Zentgraff dalam buku ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman.

Meskipun pihak kolonial Belanda tidak mempercayai keajaiban dari benda-benda tersebut, mereka menuliskan fenomena tersebut dalam beberapa catatan. Catatan tersebut pada hari ini dapat kita baca dan pelajari sebagai pemahaman kita terhadap kondisi sosial dan budaya nenek moyang kita pada masa lampau.

PEMBAHASAN ILMU KEBAL (ELEUMEE KEBAY) DI ACEH OLEH SNOUCK HURGRONJE

Cristiaan Snouck Hurgronye dalam bukunya, Aceh di Mata Kolonialis jilid II menceritakan, eleumee keubay (ilmu kebal) sangat penting bagi semua orang Aceh (masa itu), terutama penguasa, panglima dan serdadu Aceh. Prinsip yang mendasari ilmu ini adalah:

  1. Kerangka filsafat pantheisis;
  2. Teori bahwa pengetahuan tentang esensi, atribut dan nama suatu zat/barang memberikan penguasaan penuh atas zat/barang itu sendiri.

Kombinasi kedua pandangan tersebut menimbulkan pengetahuan tentang sifat hakiki dari besi (ma’ripat beusoe) untuk membentuk faktor terpenting dalam memberikan kepada seseorang kekuatan untuk menolak logam tersebut dari berbagai senjata. Argumentasinya adalah, semua unsur besi ada pada manusia karena manusia adalah pengejawantahan Tuhan yang paling lengkap. Dan Tuhan adalah segalanya, seluruh ciptaan merupakan semacam evolusi Tuhan dari dirinya sendiri, dan evolusi ini berlangsung dalam tujuh garis atau tingkat (meureutabat tujoh), yang akhirnya kembali kepada yang Esa melalui manusia. Berarti semua unsur dalam dunia ini adalah bersatu dan dapat bertukar tempat. Eleumee beusoe (Ilmu besi) mempunyai kekuatan untuk memberi kepada bagian tubuh yang terkena serangan besi atau timah, suatu formulasi besi atau yang lebih kuat lagi sehingga orang menjadi keubay (kebal).

CATATAN TENTANG RANTAI BABI (RANTE BUI) OLEH SNOUCK HURGRONJE

Snouck Hurgronje menuliskan, “Sejenis azimat lainnya penolak luka adalah rante bui (rantai babi). Babi hutan tertentu dinamakan bui tunggal (babi tunggal) karena suka menyendiri, kabarnya mempunyai kait kawat baja yang menusuk hidungnya yang menyebabkan ia kebal. Katanya, kait ini berasal dari sejenis cacing tanah yang suatu ketika terdapat pada makanan si babi, tetapi tidak ikut termakan melainkan menjadi ajimat. Bila bui tunggal akan makan ia melepaskan kaitnya, dan bernahagialah orang yang menemukan saat serupa itu untuk merebut rante tersebut.”

Snouck Hurgronye menambahkan. “Tetapi, menurut para pemeluk (agama Islam) yang taat, kemanjuran peugawe (barang yang menyebabkan kebal) pada umumnya mensyaratkan kehidupan beragama yang baik bagi si pemakai, kalau tidak ajimat itu akan menimbulkan kesusahan, bukan perlindungan, bagi dirinya. Peluru timah yang berubah menjadi besi disebut peungeulieh (pengalih). Yang menemukannya beruntung memakainya waktu terlibat pertempuran/pengalihan, tetapi tidak pada kesempatan lain karena hanya akan membawa malapetaka.”

ACEH DI MATA KOLONIALIS (JILID I dan JILID II). Penerjemah : Ng. Singarimbun, S. Maimoen, Kustiyani Mochtar; Disempurnakan oleh Yayasan Soko Guru; Cetakan Pertama; 1985; Yayasan Soko Guru; Jakarta.

Catatan ini dituliskan oleh Snouck Hurgronje dalam The Achehnese, Adviser for Native Affairs, Netherlands Indie Volume II pada tahun 1895-1896 dan diterbitkan pada tahun 1906 berdasarkan wawancara dan pengumpulan data dari sumber primer langsung. Ada waktu bertahun-tahun kemudian bagi kolonial Belanda untuk melihat langsung khasiat dan bentuk dari rantai babi (rante buy).

BAGAIMANA CARA MENGAMBIL RANTAI BABI (RANTE BUI)

Ketika mengetahui hakikat besi (ma’ripat busoe), maka babi pun mampu menjadi kebal, bagaimana cara mengambil rantai babi (rante bui) dari babi tunggal yang kebal? Menurut tradisi lisan, cara merebut rantai babi adalah dengan menjejerkan durian secara vertikal, sehingga babi tunggak tersebut meletakkan ajimatnya ketika membelah dan memakan durian pertama, kemudian melanjutkan makan durian di depannya. Disaat itulah rantai babi dapat direbut dengan cara dicuri karena babi tersebut meletakkannya ketika membuka dan memakan durian pertama. Rantai babi secara umum tidak dapat direbut pada saat dikenakan oleh babi tunggal, ia kebal terhadap besi, sehingga sulit dilukai apalagi untuk dibunuh.

RANTAI BABI (RANTE BUI) DAN PEMILIKNYA DALAM PEPERANGAN RAKYAT ACEH MELAWAN BELANDA

H.C. Zentgraff dalam “ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman” menceritakan ada seorang keramat memiliki rantai babi, bernama Teungku Cot Plieng yang sangat dikagumi di antara ulama-ulama yang ada di Aceh saat itu dikarenakan ia memimpin perjuangan Aceh terhadap kompeni sekembalinya dari berhaji di Mekkah. Para komandan patrol marsose Belanda tidak pernah berhasil membuntutinya dan tidak ada seorang Aceh pun yang berani menunjukkan tempat persembunyiannya. Teungku Cot Plieng diyakini Belanda merancang berbagai pertempuran di Pidie walaupun ia tidak turut dalam pertempuran, dan jika ia turut dalam pertempuran maka keadaan Aceh yang diupayakan dengan keras agar tenang menjadi kacau dan porak-poranda bagi Belanda.

Bertahun-tahun Belanda mencoba melacak Teungku Cot Plieng dan barulah pada bulan Juni 1904 kapten Stoop berhasil menemukan tempat persembunyiannya di antara celah-celah Glee Keulabee Asap, Belanda pun menyergap akan tetapi Teungku Cot Plieng dapat meloloskan diri tapi al-Qura’an dan jimatnya tertinggal. Kehilangan jimat bagi Tengku Cot Plieng walaupun ia masih memiliki rante bui laksana terhapusnya sebuah tulisan berharga didinding, begitu Zentgraff mengambarkan.

Illustrasi Orang Aceh sebagai Cover buku Aceh ditulis oleh H.C. Zentgraaff diterbitkan pertama kali tahun 1938 dengan judul “ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman”

Pada tanggal 2 Juli 1905, pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Terwogt berhasil menembak Teungku Cot Plieng di Hulu Krueng Tiroe (Sungai Tiro), sehingga beliau Syahid.

Semua telah ditakdirkan, pada suatu hari sebuah patroli marsose dibawah pimpinan Letnan Terwogt tersesat di hutan yang secara kebetulan tempat persembuyian Tengku Cot Plieng dan mereka berhasil menewaskan beliau.  Jenazahnya diangkut ke bivak untuk dikenali, walaupun telah tewas beberapa hari tidak memperlihatkan tanda membusuk. Untuk identifikasi Panglima Polem diundang, ia pun memberikan penghormatan dengan membungkukkan badannya kepada jenazah yang tidak rusak itu ditengah-tengah mayat sekelompok orang Aceh yang telah membisu. “Itu adalah rahasia Tuhan.” Kata Penglima Polem yang sudah menua kepada Zentgraaf.

Berikut penampakan rantai babi (rante bui) yang asli yang ditemukan oleh Belanda dan saat ini disimpan pada Kolonial Museum di Amsterdam.

Azimat kebal berupa rantai babi yang asli atau rante bui (Bahasa Aceh) yang ditemukan Belanda pada jenazah Tengku Cot Plieng yang keramat. Benda ini sekarang tersimpan di Kolonial Museum Amsterdam, Belanda.

Rante bui diambil dari jenazah Tengku Cot Plieng dan diserahkan kepada Van Daalen, tetapi ia tidak mempercayai benda aneh tersebut dan menyerahkan kepada mata-mata Belanda yang bernama Waki Wahab, yang oleh Belanda sendiri dijuluki “Kwab” (si gelambir) karena lehernya dipenuhi gelambir akibat kegemukan. Waki Wahab alias “Kwab” adalah seorang yang banyak dosa, ia merasa tidak pantas memakai jimat seorang ulama keramat. Karena itu dia menyerahkan kepada Veltman setelah Belanda berhasil mengamankan Pidie, sebagai tanda mata. Ia berpikir bahwa dengan memberikannya kepada Veltman yang pada waktu itu sedang sakit, maka ia akan sembut dari penyakitnya.

Tapi Veltman tidak memakainya, dia lebih percaya senapan dan pedang yang baik mutunya. Meskipun begitu dia adalah satu-satunya orang Eropa yang pernah memiliki rantai babi, kemudian ia menyerahkan rantai babi tersebut pada Kolonial Museum sehingga kita pada hari ini dapat menyaksikan bagaimana bentuk dan rupa rante bui (rantai babi) tersebut.

Meskipun secara umum pihak kolonial Belanda menertawakan benda-benda aneh yang merupakan ajimat perang orang Aceh pada masa lampau, seorang komandan Belanda yang terkenal bernama Schmidt tidak menertawakannya, ia berkata: “Saya telah melihatnya dengan ini!” (Maksudnya seraya menunjuk matanya sendiri).

Daftar Pustaka

  1. Koentjaraningrat; Metode Antropologi; Penerbit Universitas Indonesia; Jakarta; 1958.
  2. C. Zentgraff; ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman; Koninlijke Drukkerij De Unie; Batavia; 1938.
  3. C. Snouck Hurgronje; THE ACHEHNESE Adviser for Native Affairs, Netherlands Indie Volume II; University Leyden; 1906.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  2. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  3. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  4. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  5. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  6. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  7. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  8. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  9. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  10. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  11. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  12. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  13. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  14. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  15. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  16. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  17. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  18. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  19. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  20. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  21. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  22. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  23. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  24. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  27. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  28. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  29. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  30. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  31. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  32. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  33. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  34. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  35. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  36. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  37. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  38. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  39. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  40. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  41. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  42. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  43. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  44. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  45. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  46. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  47. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  48. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  49. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  50. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  51. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  52. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  53. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  54. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  55. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  56. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  57. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  58. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  59. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Literature, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN UNDANG-UNDANG KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA

Sebuah besluit yang dikeluarkan oleh Sultan Aceh diambil dari G.L. Tichelman, “Een Atjesche Sarakata” (Afschrift van een besluit Sultan Iskandar Muda) TBG 73, (1933), halaman 370-371.

RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN UNDANG-UNDANG KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA

Sebagai orang Aceh dan Nusantara pada umumnya, kita sering mendengar Kanun Meukuta Alam Sultan Iskandar Muda. Peraturan perundang-undangan Kesultanan Aceh Darussalam ini disusun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kanun Meukuta Alam adalah Undang-Undang Dasar Kesultanan Aceh Darussalam, dalam memerintah para Sultan Aceh dan para penguasa dibawahnya tunduk pada kanun ini. Bagaimana isi Kanun Meukuta Alam itu sendiri? Ada 46 pasal dalam kanun Meukuta Alam. Rincian isi Kanun Meukuta Alam sebagai berikut:

Manuskrip memuat susunan Pemerintahan Kerajaan Aceh pada Masa Sultan Iskandar Muda. Manuskrip ini milik University Kebangsaan Malaysia yang belum dikatalogkan.

PERATURAN DI DALAM NEGERI ACEH BANDAR DARUSSALAM DI SALIN DARI PADA DAFTAR PADUKA SRI SULTAN MAHKOTA ALAM ISKANDAR MUDA

  1. Jikalau siapa juga yang hendak diangkat jadi Panglima Sagi1) atau Hulubalang2) dalam segi di mana tempat yang biasa dalam tiga segi Aceh atau ditakluk jajahannya maka adalah ahli waris Hulubalang yang meninggal itu mufakat dengan segala orang-orang tuha-tuha2) yang berakal pada tempat itu seperti Keuchik wakil dan imam serta ulama mesyurat;
  2. Jikakalau sudah tetap dapat dalam ahli warisnya maka berkenduri berkumpul segala Hulubalang yang mampir padanya diangkat serta ditaroh gelarnya sudah mau tamat;
  3. Maka dibawah menghadap Raja serta membawa satu dalung5) terisi didalamnya dengan persempahan tetapi ditilik hal keadaan Hulubalang itu jikalau Panglima Sagi atau Orang Kaya Sri Maha Raja Lela6) Hulubalang anam atau sama deRajatnyanya Hulubalang dua belas atau yang sama deRajatnya;
  4. Dipersembahkan kebawah duli hadirat padaka Sri Sultan di balai Baitul-Rahman7) menyambut serta memberi peraturan yang biasa adat yang melazamah dalam negeri Aceh Bandar Darussalam dengan memberi kehormatan;
  5. Panglima Sagi atau Orang Kaya Maha Raja Lela dipasang tembakan meriam kehormatan 21 kali, Hulubalang dalam sagi atau yang sama deRajatnya ditembakkan meriam 12 kali. Adapun Sri Maha Raja Indra Laksamana8) dan Raja Udah na Lela9) dipasang meriam 9 kali. Adapaun Hulubalang Anam Bintara10) dipasang meriam 1 kali.
  6. Adapaun Panglima Sagi atau Hulubalang dalam sagi tiada memakai cap halilintar11) karena dia menerima pusaka ahli warisannya boleh bertanya melainkan jabatan dikaruniakan oleh Raja maka ia memakai cap halilintar;
  7. Adapun Hulubalang didalam takluk jajahannya atau didalam tanggungan Sultan memakai cap halilintar seperti dibawah ini Kami beritahu kepada sekalian Hulubalang, datu12), imam, kejuruan12), panglima, keuchik, wakil dan segala pertuha kecil besar dan muda rakyat sekalian. Maka adalah seperti panglima ditakluk jajahannya sudah Kami memberi jabatan Hulubalang karunia Allah dan Rasul kemudian menjadi wakil Kami menggantikan pekerjaan inilah yang perbuat pekerjaan di dalam negeri pertama mengambil hasil Kami dan perintah berniaga laut dan daratan yang telah ada menerimanya dan akan Kami pun hendaklah dibawahnya segenap tahun lepas berniaga negeri pertama diperbuat jalan segala hamba Allah berjalan dan diperbuat masjid yang runtus atau yang belum ada dahulunya patut diperbuat hendaklah memperbuatkan dan wawiah dan madrasah dan serta hendaklah disuruh sembahyang jumat dan mengeluarkan zakat fitrah dan hendaklah pelihara akan negeri dengan keadilan mengikut Islami dan hendaklah jangan dipersukakan pada perbuatan haru-hara maksiat dan durhaka dan jikalau dimaka atasilah durhakanya ia dari pada pekerjaan jabatannya serta gugurlah sendirinya maka janganlah kamu mengikut jua adanya.
  8. Hulubalang Raja bersama Hulubalang Rama Setia14) yang berjaga di balai kota Darud Donya15) yang dititahkan oleh Raja periksa dalam kampung mungkin sagi dan takluk jajahannya melihat keadaan peraturan dalam adat negeri;
  9. Jikalau Hulubalang itu dapat celaka mati teraniaya pada suatu kampung mukim sagi atau negeri maka Raja bertitah menyuruh Orang Kaya Sri Maha Raja Lela atau wakilnya dengan membawa alat senjata pergi periksa serta meminta orang jahat itu kepada Hulubalang mukim itu atau sagi telah wajiblah mencari orang jahat itu melawan dibunuh tiada melawan dibunuh tiada melawan ditangkap;
  10. Satu orang hamba Raja mati tujuh orang gantinya diambil dari pada ahi waris orang yang jahat itu diputuskan melainkan berpindah ahli warisnya kepada Raja buat apa yang suka;
  11. Hulubalang mukim itu atau sagi tiada suka mencari orang jahat itu karena ahli warisannya atau sebab lain maka Hulubalang itu jatuh kepada kesalahannya kena denda atas kadarnya dari lima ratus real16) sampai lima ribu real;
  12. Hulubalang mukim itu atau sagi tersangkal tiada menurut hukuman itu maka Raja memanggi Tengku Chik Sri Muda Pahlawan Raja Negeri Meureudu menyuruh pukul Hulubalang mukim itu atau sagi dengan diperangi dan diusir segala pohon tanaman dipotong sumur ditubuh harta dirampas rumah-rumah dibakar habis;
  13. Hamba Raja satu orang atau banyak tiada bersama dengan Hulubalangnya disuruh oleh Raja memanggil orang atau pergi mengambil harta dimana dia berhenti atau bermalam hendaklah ia memberitahu dan mendapatkan kepala kampung di tempat itu seperti Keuchik atau iman wajiblah memelihara hamba Raja itu atas kadarnya supaya jangan dibinasa oleh orang jahat;
  14. Jikalau hamba Raja itu binasa dalam kampung atau mukim mati atau lua Raja mencentut belanja hamba itu kepada Hulubalang mukim itu seperti yang telah tersebut dalam pasal 9,10,11, dan 12;
  15. Hamba Raja yang disuruh sampai kepada suatu kampung yang kecil sedikit orangnya lagi jauh daripada kampung orang banyak tiba-tiba binasa di tempat itu mati atau luka jikalau orang kampung itu tiada campur atau tiada terlawan sebab banyak orang jahat maka di suruh bersumpah dan buat jadi saksi dan menurut Hulubalang yang punya pemerintahan serta Rama Setia mencari orang jahat itu jikalau sudah nyata orang jahat itu sudah lari keluar dari tiga segi negeri Aceh atau orang uaran yang jahat itu maka adalah Raja bersabdalah memberi perintah kepada panglima sagi dan Hulubalang dalam sagi tiada boleh orang durhaka itu berbalik masuk kedalam tiga sagi negeri Aceh melainkan dibunuh hukumnya jikalau ada ahli warisannya di denda atas kadarnya mengikut apa suka Raja saja;
  16. Jikalau ada panglima sagi atau Hulubalang dalam sagi negeri Aceh sembunyikan orang jahat atau tiada dikhawatirkannya ada di di dalam kampung mukim diperintahnya tiada peduli menjaga negeri kiranya sampai kabar keterangannya kepada Raja menyuruh Orang Kaya Sri Maha Raja Lela atau wakilnya minta kepada Hulubalang yang sembunyikan orang jahat itu supaya ditangkapnnya dan jatuh kepada Hulubalang itu kesalahan didenda dari lima ratus real sampai lima ribu real;
  17. Jikalau ada orang jahat dari pada bangsa Aceh atau lain bangsa lari dari pada satu mukim kepada lain mukim atau sagi di dalam tiga segi Aceh atau takluk jajahannya maka sekian Hulubalang tiada boleh terima duduk di dalam pemerintahannya masing-masing melainkan ditangkap dan boleh dia menghukumkan sendiri dengan adat yang kelaziman dalam negeri Aceh jangka keadilan menurut hukum Allah dan Rasul atas kesalahannya tiada lagi di bawa menghadap Raja melainkan memberi tahu saja kepada Raja perbuatannya yang telah diperlakukannya;
  18. Adapun orang luaran yang Islam lain dari pada bangsa orang Aceh seperti orang Arab, Banggali, Kleng, Melayu dan Jawa tahu seumpamanya masuk kedalam negeri Aceh bandar Darussalam pekerjaannya berniaga tetapi ketika dia baru datang ada menghantarkan persembahan kepada Raja supaya boleh kenal dengan Raja;
  19. Jikalau dia pergi jualan di mana tempat juga pun dalam tiga sagi negeri Aceh tiba-tiba datang celaka dibunuh orang. Raja menuntut belanja seperti tersebut dalam pasai 9, 10,11 dan 12;
  20. Jikalau orang luaran datang menuntut ilmu kedalam tiga sagi negeri Aceh duduknya dalam masjid atau zawiah atau madrasah kiranya dapat celaka kena teraniaya sampai mati maka Hulubalang yang punya tempat pemerintahan jadi ahli warisnya akan menuntut bela yang mati dan menyempurnakan kematiannya dengan kenduri atas kadarnya tiada Raja campur atas hal ini sebab dia ada menghadap Raja melainkan mengikut peraturan Hulubalang di tempat itu tetapi wajiblah Hulubalang itu memberi tahu saja kepada Raja;
  21. Jikalau orang luaran yang lain agama dari pada agama Islam yang lain pada orang hindi tiada boleh di terima oleh orang negeri tinggal duduk di dalam kampungnya melainkan di suruh balik ke laut kedalam tempatnya;
  22. Jikalau orang lain agama itu hendak tinggal juga duduk di darat kedalam kampung orang islam kalau dapat celaka mati atau luka atau kena rampas hartanya dalam kampung itu tempat dia bermalam sama ada orang dalam kampung itu yang buat aniaya atau lain orang jahat kalau mati saja luka luka saja kalau dirampas hartanya habis saja tiada diterima pengaduannya oleh Raja atau Hulubalang sebab dari pada taksirnya sendiri punya salah;
  23. Adapun orang yang menerima pada orang yang lain agama itu tinggal duduk bermalam pada kampungnya contoh kesalahan kepada ulama kena kafarat denda kenduri memberi makan sidang jumat;
  24. Jikalau orang yang kena kafarat itu tiada menurut peraturan ulama boleh mengadu kepada Hulubalang yang punya pemerintahan di tempat itu menghukumkan menurut timbangan kesukaannya yang adil;
  25. Adapun rakyat Islam dalam segi atau mukim yang pergi kepada lain segi atau mukim pekerjaannya berniaga atau menuntut ilmu kiranya datang celaka dibunuh orang dengan teraniaya atau dirampas hartanya maka ahli waris orang yang teraniaya itu minta pertimbangan dan pertolongan kepada Hulubalang dia sendiri itu berbicara kepada Hulubalang tempat orang aniaya itu meusupat17) dan menyurat dengan segala fukaha18) dan ulama supaya di bayar diat19) yang mati atau ganti harta yang kena rampas;
  26. Adapun bangun orang yang merdeka dengan seratus onta di bayar kepada ahli waris orang yang mati demikianlah banyak bangun orang yang merdeka;
  27. Jikalau sudah di bayar bangun yang mati kepada ahli warisnya tiada boleh di bunuh orang yang aniaya itu tarena taubat dan berdamai;
  28. Jikalau ahli waris yang mati tiada suka terima diat atau hendak dibunuh juga yang aniaya;
  29. Maka kedua belah Hulubalang itu wajib memperkenankan permintaan ahli waris yang mati;
  30. Jikalau Hulubalang sebelah orang yang aniaya tiada suka beri bunuh yang aniaya itu sebab ahli warisnya dia hendak bayar juga bangun maka Hulubalang orang yang mati titah wajib membawa ahli waris yang mati maka telah wajiblah Raja menyelesaikannya;
  31. Maka yang berkhusumat dua Hulubalang serta dua belah ahli waris yang tersebut telah wajib menurut timbangan Raja dengan ulama menurut hukum Allah dan Rasul;
  32. Adapun bangun pagi mengikut harganya dengan aras;
  33. Dari harta yang rampas telah diwajibkan Hulubalang tempat orang yang aniaya itu menjatuhkan hukuman kepada orang yang menyamun itu serta dengan ahli warisnya memulangkan harta yang diambilnya atau digantinya;
  34. Yang merampas itu telah lari keluar dari dalam tiga segi Aceh maka tiada boleh berbalik kedalam tiga segi negeri Aceh;
  35. Jikalau yang merampas berbalik kedalam tiga segi negeri Aceh maka wajib Hulubalang menangkap dan memotong tangannya;
  36. Maka yang merampas ketika hendak di tangkap dia melawan sah di bunuh;
  37. Raja tiada mencampur atas ini hal rampas dan rebut dalam sagi atau mukim melainkan menurut timbangan meusapat segala pertuha serta ulama suarat dengan Hulubalang memberi keputusannya;
  38. Jikalau ada satu kumpulan atau banyak orang yang berniat hendak membuat kejahatan kepada Raja atau hendak membuat huru hara dalam kampung dan mukim atau sagi jikalau diketahui oleh satu orang atau banyak telah wajiblah atas orang melihat kumpulan itu memberi tahu dengan segera kepada Hulubalangnya;
  39. Hulubalang itu telah wajiblah dengan segalanya pergi periksa kumpulan itu, serta di undurkan supaya jangan jadi perbuatan yang kejahatan;
  40. Seorang rakyat atau banyak sudah tahu melihat suatu kumpulan orang jahat berniat kejahatan tiada kumpulan itu yang telah berangkat hendak menjalankan kejahatan maka dapat kabar keterangannya oleh Hulubalang yang punya pemerintahan satu kumpulan telah berangkat hendak membuat kejahatan tetapi dia punya rakyat si anu atau keuchik ada melihat kumpulan itu tiada memberi tahu kepada Hulubalangnya yang mendapat tahu sendiri maka contoh kesalahan kepada rakyat itu saja tetapi dengan meusapat dan menyurat dengan segala pertuha serta ulama menilik keadaannya;
  41. Jikalau kumpulan itu hendak melalukan kejahatannya tiada peduli nasehat Hulubalang yang menyurat kepadanya maka wajiblah atas Hulubalang itu pukul dengan perang kumpulan itu hingga habis binasa yang melawan di bunuh tiada melawan ditangkap dan diserahkan kepada Raja di punya suka saja memperbuatkan;
  42. Siapa juga Hulubalang dalam segi atau panglima sagi telah mengetahui ada kumpulan orang yang berniat kejahatan kepada Raja telah meusapat dan mensyurat dalam pemerintahannya tiada dikhawatirkan kiranya mendapat kabar keterangan oleh Raja ia menyuruh Orang Kaya sri Maha Raja Lela atau wakilnya pergi periksa hal itu;
  43. Jikalau perbuatan kumpulan itu belum jadi sekali pun jatuh kesalahan kepada Hulubalang itu syubhat tetapi di timbang dan dipikir oleh Raja dengan keadilan memelihara rakyatnya;
  44. Adapun panglima sagi kuasa menjatuhkan hukuman kepada rakyat yang bersalahan dalam dia punya sagi lagi dari pada hamba Raja atau sagi yang lain tetapi wajib memberi tahu kepada Raja perbuatan yang sudah di perlakukan;
  45. Panglima sagi tiada kuasa menjatuhkan hukuman hamba Raja yang berbuat salah dalam seginya melainkan di tangkap diserahkan kepada Raja buat apa dia punya suka;
  46. Hamba Raja itu ketika hendak ditangkap ditanya melawan harus dibunuh saja tetapi wajib memberi tahu kepada Raja adanya.

Catatan Penulis terkait naskah Kanun Meukuta Alam

  1. Naskah Kanun Meukuta Alam ini belum lengkap/tidak utuh dikarenakan naskah ini ditemukan dari sisa pertempuran yang dahsyat ketika pasukan Belanda menyerang dan menduduki masjid Indrapuri pada tahun 1879, manuskrip ini ditemukan diantara naskah-naskah yang berserakan disitu.
  2. Bila kita membaca naskah ini ditemukan modifikasi dari sistem pemerintahan zaman Sultan Iskandar Muda yaitu jabatan Panglima Sagi sebagaimana dicatatkan oleh sejarah baru ada pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin. Namun kita tidak dapat menolak bahwa adanya peraturan-peraturan lama dari zaman Sultan Iskandar Muda yang masih relevan dan dikekalkan pada naskah ini.
  3. Meskipun naskah ini tidak lengkap/tidak utuh dan telah mengalami modifikasi penulis merasa bahwa naskah ini tetap layak untuk diberi nama Kanun Meukuta Alam dikarenakan adat atau kanun tetap ditabalkan kepada beliau selaku Sultan dari Kerajaan Aceh yang terbesar, sebagaimana hadih maja (kata bijak) Aceh, “Adat bak poteu meureuhom (Adat bernasab kepada Sultan Iskandar Muda).”

Index istilah-istilah:

  1. Panglima Sagi = Pemimpin Sagi Mukim XXII, Sagi Mukim XXV dan Sagi Mukim XXVI; Gabungan ketiganya disebut Tiga Segi Aceh yang mengelilingi ibu kota Aceh Darussalam, atau merupakan inti dari Kesultanan Aceh Darussalam. Sekarang merupakan wilayah Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar;
  2. Hulubalang = Penguasa wilayah dibawah Panglima Sagi, ataupun penguasa-penguasa wilayah diluar Aceh inti;
  3. Tuha-tuha = Dari bahasa Aceh Tuha Peut yaitu penasehat dari pemimpin wilayah;
  4. Keuchik = Pemimpin kampung-kampung dibawah penguasa wilayah;
  5. Dalung = berupa satuan talam berisi logam, biasanya perak;
  6. Sri Maha Raja Lela = Panglima Perang Kesultanan Aceh Darussalam berasal dari nama Maha Raja Lila memiliki kekuasaan yang sangat besar, secara hirarki hanya tunduk kepada Sultan Aceh sendiri, kelak Maha Raja Lela menjadi sebuah kosa kata bahasa Melayu, merajalela;
  7. Balai Baitul-Rahman = Balai penghadapan, tempat Sultan Aceh menerima tamu;
  8. Sri Maha Raja Indra Laksamana = Gelar ini tidak diketahui oleh penulis, diduga Panglima Angkatan Laut;
  9. Raja Udah na Lela = Kepala Pembendaharaan Istana dan Perpajakan;
  10. Hulubalang Anam Bintara = Gelar ini tidak diketahui oleh penulis, diduga Hulubalang biasa;
  11. Cap halilintar = dalam tradisi Aceh dikemudian hari dikenal sebagai Cap sikureung (Cap Sembilan) yang distempel pada surat-surat resmi, merupakan tanda memerintah;
  12. Datu = Para pemimpin Aceh di negeri Minangkabau;
  13. Kejuruan = Para pemimpin Aceh di negeri-negeri Melayu Tamiang;
  14. Hulubalang Rama Setia = Kepala pengawal pribadi Sultan Aceh Darussalam;
  15. Darud Donya = Istana Kesultanan Aceh Darussalam;
  16. Real = Mata uang Spanyol yang menjadi standar mata uang di kepulauan Nusantara pada kurun abad ke 16 sampai 19 Masehi;
  17. Meusapat = Bahasa Aceh dari rapat, Tradisi pengadilan Aceh kuno dengan membicarakan duduk masalah dengan para pemangku kepentingan;
  18. Fukaha = Ahli hukum Islam;
  19. Diat = Ganti rugi, dalam kasus pembunuhan ganti rugi sebesar seratus ekor unta;

Daftar Pustaka

  1. F.H Van Langen; “De Inrichting van het Atjehsche Staatsbestuur onder het Sultanaat”; BKI; 1988:
  2. Rusdi Sufi; Pahlawan Nasional Sultan Iskandar Muda; Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional; 1995;
  3. Naskah “Kanun Meukuta Alam Sultan Iskandar Muda”; Tulisan Tengku di Meulek, milik Teuku Muhammad Junus Jamil Kampung Alui, pada tahun 1995 disimpan di Museum Ali Hasjmy.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  2. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  3. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  4. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  5. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  6. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  7. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  8. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  9. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  10. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  11. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  12. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  13. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  14. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  15. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  16. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  17. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  18. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  19. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  20. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  21. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  22. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  23. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  24. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  25. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  28. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  29. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  30. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  31. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  32. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  33. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  34. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  35. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  36. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  37. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  38. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  39. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  40. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  41. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  42. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  43. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  44. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  45. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  46. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  47. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  48. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  49. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  50. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  51. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  52. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  53. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  54. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  55. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  56. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  57. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  58. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  59. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Literature | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment