SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA

SINGA ATJEH (Biographi Seri Sultan Iskandar Muda) oleh H.M. Zainuddin; Tjetakan Pertama tahun 1957; Penerbit PUSTAKA ISKANDAR MUDA; Medan.

SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA

SINGA ATJEH (Biographi Seri Sultan Iskandar Muda) oleh H.M. Zainuddin; Tjetakan Pertama tahun 1957; Penerbit PUSTAKA ISKANDAR MUDA; Medan.

Free download buku SINGA ATJEH BIOGRAPHI SULTAN ISKANDAR MUDA

HM Zainuddin – SINGA ACEH

Extent of Aceh Sultanate during the reign of Iskandar Muda, 1608–1637. Source Wikipedia

Penyerangan Malaka (Portugis) oleh Kesultanan Aceh Darussalam di tahun 1629

Di Atjeh na Alam Peudeueng

Tjap sikureueng lam djaroe radja

Phon di Atjeh troih u Pahang

Tan soe teuntang Iskandar Muda

 

Bangsa Peutugeh angkatan meugah

Abeh geupinah di Atjeh Raya

U Melaka keudeh di pioh

Keunan pih troih geupitjrok teuma

 

Iskandar Sani duk geunatoe

Lakoe putroe Tadjul Mulia

Kota Melaka teuman geu engkhoe

Peutugeh odiwue keudeh u Gua

Review buku SINGA ATJEH BIOGRAPHI SULTAN ISKANDAR MUDA

Lukisan Sultan Iskandar Muda

Secara umum diketahui bahwa Kesultanan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda mencapai puncak kejayaannya. Meskipun kemudian Sultan Iskandar Muda mangkat tapi nama baginda tetap hidup pada zaman pemerintahan Sultan-Sultan Aceh kemudian. Semangat giat bekerja untuk memakmurkan kerajaan dan agamanya, begitupula keadilan Baginda, tetap menjadi puja dan puji oleh putra dan putri Aceh.

Baginda Sultan Iskandar Muda memperoleh gelar “POTEU MEURUHOM MEUKUTA ALAM” artinya Sultan almarhum Mahkota Alam. Peribahasa Aceh “Adat bak Poteu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala.” Berarti adat istiadat asalnya dari almarhum Sultan Iskandar Muda dan hukum-hukum Islam pada Syech Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala), masihlah melekat pada orang-orang Aceh yang masih mengenang zaman keemasan Kerajaan Aceh Darussalam.

Maka bacalah buku ini. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SULTAN ISKANDAR MUDA agar putra-putri Aceh memiliki pengetahuan tentang dirinya, asal-muasal dirinya serta kisah leluhurnya.

Sebelum H.M. Zainuddin menulis buku SINGA ATJEH BIOGRAPHI SULTAN ISKANDAR MUDA belum ada kitab yang lengkap memuaskan tentang diri dan pemerintahan Baginda Sultan Iskandar Muda di zaman bahari itu. Buku ini sebenarnya hampir serupa dengan buku-buku yang telah ada baik itu hikayat maupun berita asing yang telah terlebih dahulu ada. Hanya H.M. Zainuddin menambahkan pendapat serta cerita atau dongengan dari orang-orang tua di masa lampau sehingga dapat menambah pengetahuan tentang sejarah lama.

Makam Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh pada tanggal 19 Desember 1952 ditemukan kembali oleh bekas pemaisuri salah satu Sultan Aceh bernama Pocut Meurah (Ketika Belanda menyerang ia masih kanak-kanak). Makam tersebut dibangun kembali berdasarkan contoh makam Sultan Mansur Syah (1857-1870).

Tanpa membaca maka sejarah akan menjadi mitos ataupun legenda. Sebagaimana tujuan Kolonial Belanda yang menghancurkan makam Sultan Iskandar Muda kemudian membangun bangunan diatasnya seolah tidak mungkin ada sesuatu dibaliknya, tujuan kolonial Belanda jejak beliau musnah. Sehingga orang Aceh tidak memiliki kebanggaan atas kegemilangan masa lalunya.

Maka bacalah buku ini. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SULTAN ISKANDAR MUDA agar putra-putri Aceh memiliki pengetahuan tentang dirinya, asal-muasal dirinya serta kisah leluhurnya. Tidak mengetahui apa yang terjadi sebelum engkau lahir berarti engkau selalu menjadi kanak-kanak. Karena apalah arti hidup menusia, kecuali jika hidup itu terjalin dengan hidup para leluhur, melalui catatan sejarah.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  2. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  3. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  4. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  5. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  6. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  7. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  8. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  9. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  10. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  11. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  12. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  13. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  14. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  15. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  16. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  17. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  18. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  19. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  20. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  21. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  22. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  23. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  24. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  25. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  26. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  27. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  28. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  29. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  30. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  31. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  32. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  33. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  34. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  35. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  36. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  37. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  38. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  39. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  40. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  41. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  42. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  43. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  44. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  45. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  46. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  47. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  48. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  49. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  50. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  51. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  52. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  53. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  54. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  55. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  56. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  57. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  58. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  59. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
Advertisements
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, E-Book, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MEMBACA BUKU MENGHIDU KENANGAN

Bau apak sejenis sangit yang dipahami oleh pembaca buku tua menyeruak diantara debu-debu halus terhidu oleh hidung yang bulu-bulunya butuh reboisasi.

Bau apak sejenis sangit yang dipahami oleh pembaca buku tua menyeruak diantara debu-debu halus terhidu oleh hidung yang bulu-bulunya butuh reboisasi.

MEMBACA BUKU MENGHIDU KENANGAN

Bau apak sejenis sangit yang dipahami oleh pembaca buku tua menyeruak diantara debu-debu halus terhidu oleh hidung yang bulu-bulunya butuh reboisasi. Yah, buku adalah benda yang lemah, rentan terhadap api, air bahkan pemerintah. Tapi musuh sesungguhnya sebuah buku adalah waktu. Naskah, manuskrip pelan-pelan lekang dihantam perjalanan zaman. Namun bukankan semua yang fana pasti digerus waktu?

Berbicara tentang waktu, manusia juga bertumbuh seiring jalan jarum jam. Pengetahuan, kebijaksanaan bertambah, setiap penambahan sesuatu mesti mengorbankan hal lain juga, kemudaan, semangat juga memudar dipenambahan usia. Itulah sebabnya orang tua cenderung tenang sedang yang muda lebih meledak-ledak.

Dulu, ketika berusia belasan Abu mampu melalap 3-12 buku sehari, sekarang? Satu buku membutuhkan waktu lebih dari 3-12 hari. Data berupa pengetahuan ternyata bisa memberatkan otak ketika membaca buku. Di usia belasan Abu hanya membaca buku tak perlu merenungkan isinya, istilah-istilah asing tak perlu dipahami defenisinya peduli setan arti rebound, aristokrasi, pantheisme dan sebagainya. Baca terus! Dan ternyata sekarang ketika mendapati sebuah informasi, memori Abu mengais-gais makna defenisinya. Maka sungguh bedebah kau defenisi! Pikir panjang ternyata tak terlalu baik ketika membaca buku.

Kata orang bijak waktu adalah musuh orang muda yang harus dibunuh! Disitulah buku hadir menjadi sahabat Abu dikala waktu senggang ketika waktu bermain sepakbola telah habis, pengajian usai, atau tiada lagi PR yang bisa dikerjakan, 24 jam terasa tumpah ruah. Orang bijak yang sama juga berkata, waktu adalah harta bagi orang tua. Betapa sulitnya menyisihkan waktu untuk membaca, apalagi menulis setelah rutinitas dalam seharinya.

Hidup membuat Abu sadar bahwa tidak ada tokoh dalam sebuah buku berwujud alam manusia asli, manusia terlalu kompleks untuk digambarkan secara keseluruhan di atas kertas, dan sebagian lainnya terlalu membosankan. Tidak epik, tiada drama, tanpa romantisme dan biasa-biasa saja, sebagaimana sebagian besar dari kita. Seorang teman pernah memprotes Abu ketika ia menceritakan masalahnya, Abu memberikan referensi sebuah buku untuk dibaca. Ia berkata, “Itulah penyakit seorang pembaca yang angkuh! Tidak semua teori berjalan sesuai dengan kenyataan, jikalah semua teori yang diajarkan di fakultas kedokteran berlaku umum dan sesuai maka tak perlu seorang dokter mengikuti co-ass?”

Abu rasa yang dia katakan benar. Membaca buku mungkin akan memberikan banyak referensi. Otak bergemerisik, seperti akan meledak atau paling tidak kepala berasap. Setiap pembaca buku yang budiman biasanya menyadari bahwa ia tak akan menang dari orang yang berjalan di bawah sinar mentari sambil tertawa bahagia.

Abu memiliki sebuah teori yang tidak diperoleh dari buku. Abu memikirkannya sendiri. Tapi memang Abu memikirkannya berdasarkan buku-buku yang telah dibaca dengan sangat hati-hati dan memikirkannya dengan cermat bahwa sebaiknya pembaca buku adalah mereka yang ceria. Mendapati arti defenisi yang pernah dia baca pada masa lampau tampak jelas sedikit demi sedikit dalam hidup. Dia akan bergumam dengan wajah antusias, mulutnya berbentuk huruf O dan berkata, “Oh, ternyata itu maksudnya.” Seraya tersenyum bahagia.

Jika kau masih menyimpan buku tulis dari kelas-kelasmu dari tahun-tahun sebelum sekarang, atau catatan-catatan lama lainnya. Kalau membolak-balik halamannya, kita sering merasa heran bagaimana kita berubah dalam waktu yang singkat sejak tulisan itu dibuat. Mungkin heran melihat apa-apa yang keliru dalam tulisan itu, tapi juga mungkin heran oleh hal-hal bagus yang pernah kau tuliskan. Kau telah berubah, begitupun sejarah dunia.

Itulah sebabnya Abu suka membaca buku-buku lama, bahkan tulisan-tulisan lama yang pernah Abu tulis dulunya. Memperbaharui persepsi dan menghidu kenangan masa lampau ketika dahulu pertama mengalaminya. Itu menyenangkan, mungkin butuh waktu yang lebih lama dari seharusnya. Tapi percayalah tertawa paling nikmat itu adalah menertawakan diri sendiri. Jika kau memiliki mental, sayangnya tidak setiap orang punya. Tidak setiap orang mampu menghadapi dirinya sendiri, terutama masa lalunya.

Masalah sebenarnya, yang tersimpan dalam ingatan bisa jadi hanya rasa jengkel menemukan betapa manusiawi dirimu, dan fakta bahwa yang kamu ingat itu sebenarnya bukanlah seorang manusia melainkan sesungguhnya itu adalah kenangan, yaitu persepsi atas apa yang telah dialami.

Silahkan membaca buku kemudian menghidu kenangan. Tapi ingatlah selalu bahwa kenangan memang tak sepenuhnya utuh dan bersih, sebuah kisah yang pribadi memang bukan sebuah buku sejarah.

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Buku, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

NILAI SEORANG MANUSIA

Man of Value

Berjuang setia bagi mimpi, untuk memberikan yang baik bagi dunia meskipun terlihat mustahil, adalah sebuah kegilaan yang memberi nilai seorang manusia. Hidup untuk memberi, mempesona, seperti mengubah kata menjadi puisi.

Bagaimana cara menilai seorang manusia.

Sepanjang sejarah peradaban manusia belum pernah ada alat ukur tentang nilai seseorang. Manusia telah menemukan ilmu hitung (Matematika) sebelum zaman modern dan penyebaran ilmu pengetahuan ke seluruh dunia. Catatan sejarah menyebutkan bahwa pengembangan matematika mengalami kemilau dibeberapa tempat. Matematika  sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno, mathema yang berarti mata pelajaran. Dimulai dari para matematikawan Yunani memurnikan motode-metode (khususnya melalui pengenalan penalaran deduktif dan kekakuan matematika di dalam pembuktian matematika), kemudian para matematikawan Cina memberikan sumbangan notasi posisional, dan sistem bilangan Hindu-Arab dengan sistem angka dengan kedudukan persepuluh yang dirancang pada abad ke-9 oleh seorang ahli matematika India (belum diketahui), yang kemudian diadaptasi oleh ahli matematika Muslim, dari Persia Al-Khawarizwi dan dari Arab Al-Kindi diteruskan ke Barat melalui matematika Islam, yang membuat matematika Barat menjadi lebih berkembang lebih maju pada zaman abad pertengahan. Selanjutnya yang terjadi adalah ledakan kreativitas matematika yang berinterakasi dengan penemuan ilmiah baru yang berlanjut sampai sekarang. Perkembangan matematika yang begitu pesat membuat manusia mampu menghitung nyaris segalanya. Harta kekayaan, kekuatan, kecepatan. Tapi bagaimana dengan jiwa manusia sendiri?

Sebagai jiwa, manusia memiliki kesadaran, mampu membedakan antara baik dan buruk. Manusia memiliki kemampuan untuk memilih secara etis, pilihan-pilihannya, baik atau buruk, menghasilkan sebuah pembukuan debit-kredit moral. Sebagaimana kita manusia beragama percaya bahwa kelak akan dipertanggungjawabkan setelah manusia itu mati. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari bagaimana mengukurnya? Dalam hal ini matematika tidak bisa memberikan jawaban.

Manusia yang bernilai tentu adalah yang memiliki etika dan moral yang baik. Tapi bagaimana mengukurnya ketika etika dan moral tak bisa diukur secara pasti? Secara etimologi, etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yakni ethos yang berarti adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan atau masyarakat tertentu. Etika biasanya berkaitan erat dengan moral, yang berasal dari bahasa Latin, mos dan bentuk jamaknya mores yang artinya juga adat kebiasaan atau tata cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan) dan menghindari hal-hal yang buruk. Etika dan moral kurang lebih memiliki pengertian yang sama, ciri keduanya sama baik etika dan moral tidak bersifat mutlak, tergantung tempat dan waktu, keduanya bisa bergeser.

Manusia sebagai individu yang tak berulang sama persis.

Manusia berkembang seiring dengan jalannya waktu, azas berjalan pada tapak pertama, sebagaimana telur ditetaskan, kemudian kepak sayap direntangkan, semua bersahaja. Masing-masing kita memiliki kisah kehidupannya masing-masing. Ada yang tumbuh, ada cara membumbuinya. Detil-detil yang tidak tepat, atau salah ingat. Terlepas dari apakah rinciannya itu tepat atau tidak, namun selalu ada suatu inti kebenaran untuk kaidah seperti itu sama dengan pertama kali dahulu.

Hidup untuk memberi, mempesona, seperti mengubah kata menjadi puisi.

Rasulullah S.A.W bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad). Inilah manusia yang kehadirannya ditunggu dan kepergiannya ditangisi. Berjuang setia bagi mimpi, untuk memberikan yang baik bagi dunia meskipun terlihat mustahil, adalah sebuah kegilaan yang memberi nilai seorang manusia. Hidup untuk memberi, mempesona, seperti mengubah kata menjadi puisi.

Manusia akan bisa menemukan yang luhur dalam hidup, terbebas dari jepitan akal praktis zaman yang hanya mau menghitung laba-rugi. Kita semua bisa tahu, manusia bukanlah belatung di atas onggokan tahi.

KATALOG OPINI

  1. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  2. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  3. Asal Muasal Budaya Kopi Di Aceh; 1 Agustus 2017;
  4. Melukis Sejarah; 10 Agustus 2017;
  5. Sepak Terjang Partai Komunis Indonesia Di Aceh; 21 September 2017;
  6. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  7. Dimanakah Makam Para Ratu Yang Pernah Memerintah Aceh Selama 59 Tahun; 6 Oktober 2017;
  8. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  9. Eksploitasi Sumber Daya Alam Apakah Bagus Untuk Aceh; 15 Oktober 2017;
  10. Perlukah Kita Menjaga Makam-Makam Warisan Penjajah Kolonial Belanda di Kherkoff Peucut Banda Aceh; 11 November 2017;
  11. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  12. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  13. Kejatuhan Sang (Mantan) Pejuang; 6 Juli 2018;
  14. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  15. Menafsir Alam Membaca Masa Depan; 14 Maret 2019;
Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU

Seorang Laki-laki dalam tradisi Aceh pantang (hamee) memakai perhiasan emas. “Urueng agam hanjeut sok meuh.” Foto : Contoh Cincin Perhiasan Aceh Kuno koleksi Museum Aceh pada PKA 2018.

Hame atau pantangan dalam masyarakat Aceh masa lampau

Setiap kebudayaan, setiap masyarakat pada berbagai negeri memiliki kekhasan sendiri. Salah satu bagian dari bingkai kebudayaan yang besar itu adalah pantangan. Begitu pula dengan masyarakat Aceh terdapat cukup banyak pantangan yang dalam bahasa Aceh lazim disebut “Hame”, pantangan tersebut menjadi semacam aturan tidak tertulis yang disampaikan secara lisan. Tradisi oral ini telah berlangsung selama ratusan tahun, namun demikian masih banyak orang yang menjadikan pantangan/larangan tersebut sebagai pedoman.

Mengapa ada aturan pantangan dalam masyarakat?

Aturan atau pembatasan yang tergolong pantang atau tabu di Aceh yang disebut dengan hame (seperti hanya pamali di masyarakat Sunda) digunakan sebagai pendidikan kepada anak, ada kasus-kasus pengambaran akibat buruk dari pelanggaran hanya berupa deraan sehingga dapat digambarkan sebagai imitasi dari pantang yang sebenarnya, tak lebih dimanfaatkan untuk tujuan agar si anak menjadi beradab.

Orang tidak boleh memakan telur yang diambil dari ayam yang sudah mati, sekiranya larangan ini tak diindahkan dan kelak tertembak peluru, sebenarnya telur dari ayam yang sudah mati tidak sehat.

Jika seorang anak berbaring di kuburan, ayahnya akan mati; bila ia tengkurap dan kakinya diangkat, ibunya yang mati, ini hanyalah pengandaian yang digunakan untuk mendidik anak menjadi sopan.

Meminta kembali barang/sesuatu yang telah diberikan kepada orang lain akan menimbulkan borok pada siku. Makan dari periuk (kaneut) setelah kawin akan menyebabkan muka menjadi hitam, melemparkan beras ke mulut menyebabkan gigi busuk. Perut kembung disebabkan duduk di hembusan angin atau tidur di bawah langit langsung. Kemiskinan mengancam orang yang mengibaskan debu dari pakaiannya pada malam hari. Sebenarnya lebih kepada menunjukkan derajat kesopanan seseorang.

Aturan pantangan merupakan cabang pengetahuan yang populer bagi masyarakat Aceh zaman dahulu mirip dengan hadih maja yang pernah diulas sebelumnya.

Beberapa contoh hame (pantangan) yang berlaku di masyarakat Aceh.

  1. Meuayang deungôn seumipak. (Bercanda dengan menyepak);
  2. Tapék bak Ulée. (Memukul di kepala);
  3. Töh Geuntét lam Kawan Ramé. (Kentut di depan orang ramai);
  4. Duek bak babah pintôe / Rinyéun Rumöeh. (Duduk di pintu / tangga rumah);
  5. Manôe Teulhôen. (Mandi telanjang);
  6. Meudjamée bak ureung Inôeng hana laköe. (Bertamu ke rumah perempuan ketika suaminya tidak di rumah);
  7. Aneuk Dara duék bak Pintôe ngôn öek teugeureubang. (Anak gadis duduk di pintu rumah dengan rambut tergerai);
  8. Aneuk Dara Djak bak ureung Meuninggai. (Anak gadis pergi ke tempat orang meninggal);
  9. Gilhöe Keupiyah atawa Idja (Tangkulöek) Ulée. (Menginjak kupiah atau sorban);
  10. Ta lingkéu uréung Éh/ Ulée Uréung Éh. (Melangkahi orang tidur / kepala orang yang sedang tidur);
  11. Ta lingkéu Alat Keuridja lagee Lham, Cangkôi, Parang, dll). (Melangkahi alat pekerjaan seperti sekop, cangkul, parang, dll);
  12. Teukeusyak (Riya) Waté Sindja uröe. (Bergembira riya ketika menjelang maghrib);
  13. Tasipak/ Tagilhöe Makanan; (Tersepak . terinjak makanan);
  14. Ta tanyôeng uréung djak u Laöt atawa Utéun. (Bertanya orang pergi ke laut atau rimba);
  15. Urueng agam hanjeut sok meuh (Seorang laki-laki tidak boleh menggunakan emas sebagai perhiasan);
  16. Tadjak bak ureung meuninggai ngôn Peukayan Hayéu. (Mengunjungi orang meninggal dengan pakaian megah);
  17. Taseupöt Aneuk Miët ngôn Peudjampöh Djök. (Memukul anak dengan sapu dari enau);
  18. Padjöh bu lam pingan Beukah. (Makan dalam piring pecah);
  19. Sugöet Öek ngôn sugöet patah. (Menyisir dengan sisir patah);
  20. Tumeuléh ngôn Pulpén Dawéut Mirah. (Menulis denga pena tinta merah);
  21. Pantang ëh beungöeh dan Lhéuh Asha. (Pantang tidur pagi dan setelah Ashar);
  22. Ta Éh sira talhôen. (Tidur dalam keadaan telanjang);
  23. Taseumadjöh Teungöeh Meudjunub. (Makan dalam keadaan junub);
  24. Töeh Iék sira dôeng. (Berak sambil berdiri);
  25. Seumadjöeh sira dôeng. (Makan sambil berdiri);
  26. Taseumampöh waté malam. (Menyapu di dalam hari);
  27. Ta tét kulét Bawang Mirah-Putéh. (Membakar kulit bawang merah-putih);
  28. Tasampöh Aléeu ngôn idja sampöh djaröe. (mengepel lantai dengan kain lap tangan);
  29. Tadjak dikéu ureung tuha. (Pergi melewati orang tua);
  30. Tahéi uréung Tuha ngôn nan, hana lakap. (Memanggil orang tua dengan nama, tidak beradab);
  31. Tapeugléh Djaröe ngôn Abé. (Membersihkan tangan dengan debu);
  32. Tuëng ïe seumayang lam jamban. (Berwudhu di WC);
  33. Tacöep Bajée teungôh tasöek. (Menjahit baju seraya dikenakan);
  34. Talhap ïe bak Muka ngôn Bajé. (Menyeka keringat di wajah dengan baju);
  35. Tadjak u Pasai ban Beungôh Sindja. (Pergi ke pasar sewaktu awal senja);
  36. Hana ta töep Guci, Ulée Sangé, dsb. (Tidak menutup guci, kepala toples, dsb);
  37. Tasöek Tangkulöek (Seureuban) Sira Duék. (Memakai tengkulok (sorban) sambil duduk);
  38. Ta teumuléh ngôn Pulpen Meuikat. (Menulis dengan pena terikat);
  39. Tasöek Sileuwéu sira dôeng. (Mengenakan celana seraya berdiri);
  40. Karu teungôe di Bang bak Seumeudjid/Meunasah. (Rusuh/rebut ketika azan di Masjid/langgar);
  41. Pantang Teumeunak. (Pantang memaki);
  42. Duek atau bantai. (Duduk di atas bantal);
  43. Sembahyang di ateuh peurantah. (Shalat di atas tempat tidur/ranjang);
  44. Bloe jarom/sira malam uroe (Membeli jarum/garam di malam hari);

Ini Beberapa Pantangan Dalam Masyarakat Aceh secara umum. Kebiasaannya, beda daerah beda pantangan. Efek dari Pantangan ini beragam, bisa jadi “Hana Mudah Raseuki” atau dalam bahasa Indonesia “tidak mudah rezeki”, ada juga yang menyebabkan lemahnya ingatan. Bahkan, ada juga yang menjadi aib dalam satu komunitas masyarakat.

Sebagian besar hame atau pantangan diuraikan dalam adat dan kebiasaan masyarakat Aceh didasarkan pematuhan terhadap ketentuan adat ini beberapa bersumber dari ajaran Islam, sedang beberapa lainya mempunyai asal-usul dengan kepercayaan pra-Islam. Meskipun status hukumnya berbeda dengan Haram atau Makruh dalam hukum Islam. Kealpaan mematuhinya bagi sebagian orang dipercayai akan mendatangkan akibat buruk dalam hidup.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  2. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  3. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  4. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  5. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  6. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  7. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  8. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  9. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  10. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  11. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  12. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  13. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  14. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  15. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  16. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  17. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  18. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  19. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  20. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  21. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  22. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  23. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  24. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  25. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  26. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  27. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  28. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  29. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  30. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  31. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  32. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  33. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  34. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  35. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  36. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  37. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  38. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  39. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  40. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  41. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  42. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  43. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  44. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  45. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  46. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  47. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  48. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  49. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  50. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  51. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  52. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  53. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  54. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  55. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  56. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  57. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  58. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  59. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
Posted in Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

MENCARI PAHLAWAN MEMILIH JAGOAN

MENCARI PAHLAWAN MEMILIH JAGOAN

Tahun 1992 panen kuini di Kabong sedang bagus-bagusnya, di sore yang cerah itu aromanya masuk sampai ke selasar rumah. Sore yang cerah di bulan Juni, jam menunjukkan pukul 5 sore. Abu yang saat itu berusia 8 tahun, libur sekolah, pulang kampung dan menonton (mungkin) sebuah filem dokumenter dari televisi tabung hitam putih. Seorang botak dengan bercak hitam berjalan rapuh disebuah dewan. Abu bertanya kepada Nek Juz. “Siapa dia?”

Nek Juz menjawab, “Gorbachev.”

“Nama yang aneh, terus kenapa kepalanya ada bercak hitam?”

“Itu bekas dibacok, makanya dia bernama Gorbachev, artinya pernah dibacok dari bahasa Rusia. Dia komunis, orang jahat!” Jawab Nek Juz asal.

Kemudian tak lama muncul seorang pria dengan senyum manis, duduk disebuah meja dengan latar gedung putih.

“Siapa dia nek, sepertinya dialah anak mudanya (pahlawan –penulis)? Tanya Abu lagi.

“Oh itu Reagan, dia presiden Amerika sebelum Bush.”

“Pasti dia seorang jagoan, bukan seperti Bush yang menyerang Irak kemaren ya nek (Perang Teluk I -penulis).”

Tahun 1987 Pemimpin tertinggi Uni Sovyet Mikhail Gorbachev (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan (kanan) menandatangani perjanjian pelucutan senjata nuklir yang menandai perang dingin (1947-1991)menuju akhir.

Tahun 1987 Pemimpin tertinggi Uni Sovyet Mikhail Gorbachev (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan (kanan) menandatangani perjanjian pelucutan senjata nuklir yang menandai perang dingin (1947-1991)menuju akhir. Sumber AFP.

Nek Juz tertawa, tapi tak menjawab. Waktu itu Abu masih terlalu kecil, naif untuk memahami dunia. Perang dingin baru selesai, Uni Sovyet baru beberapa tahun lalu bubar, Amerika baru mengalahkan Irak di Perang Teluk pertama. Awal tahun Sembilan puluhan adalah tahun-tahun yang padat dengen perubahan.

Baca juga cerita terkait: KAKI GAJAH dan KAKI GAJAH BAGIAN DUA

Kondisi keadaan desa Kabong, (Aceh Jaya) pada November 2004, sebulan sebelum tsunami Aceh.

Kondisi keadaan desa Kabong, (Aceh Jaya) pada November 2004, sebulan sebelum tsunami Aceh.

Koridor itu beraroma kuini dan uap panas tadi siang masih berasa. Itulah kenangan Abu yang masih dapat dibayangkan sekarang, sebuah rumah yang kelak dihancurkan tsunami tahun 2004. Sebuah lanskap yang tak akan dapat direkonstruksikan kembali secara fisik, seperti bentuk patung es yang sekarang telah mencair. Orang-orang telah pergi dalam sekejap mata, hanya kenangan butut Abu yang masih mengingatnya, menghidunya, tapi sampai kapan?

XXX

Sewaktu masih kecil, ketika Abu memikirkan seorang pahlawan, jagoan yang menyelamatkan semua orang dari angkara murka, membasmi segala kebatilan. Tapi lupa berpikir tentang orang biasa yang terbangun setiap paginya, masyarakat biasa saja yang membaca berita di pagi hari. Logika kita seolah membagi dua jenis orang antara jagoan dan orang biasa.

Tahun 2019, sekitar 27 tahun kemudian, tepatnya ketika usia Abu telah 35 tahun. Menginsafi bahwa bobot badan telah bertambah 5 kali lipat dari tahun 1992. Tapi bukan itu yang membuat Abu khawatir, was-was atau sampai berkeringat dingin. Sistem perpolitikan di Indonesia, tentu sudah berubah dari masa-masa orde baru. Dulu pilihan cuma satu, sekarang hanya dua. Toh, lebih baik memang, tapi juga sekaligus tak terlalu baik.

Ini adalah tahun-tahun dimana pikiran terkotak seolah hanya 2 kebenaran. Pihak A mengakui diri adalah pahlawan sedang lawannya penjahat, begitupun pihak B. Pemilu 2014 membelah bangsa, pemilu 2019 semakin memecahnya. Tiap-tiap pihak mengklaim sebagai yang suci, sedang pihak lain dilabelkan sebagai yang nista. Oh, permainan pahlawan ini begitu mengenaskan. Sebenarnya yang dibutuhkan dunia bukanlah pahlawan. Dunia ini membutuhkan orang-orang yang memilih menjadi keduanya, bersamaan. Dimana pun itu diseluruh dunia, betapa Malangnya sebuah negeri yang membutuhkan seorang pahlawan.

Indonesia tahun 2019 bukanlah Mesir pada zaman Nabi Musa. Bahkan pihak A dan B tak ada yang sesuci Musa dan sekotor Firaun. Masing-masing adalah manusia biasa dengan lebih dan kurangnya masing-masing.

Ironisnya, ini terjadi ketika saat ini kita merupakan orang-orang yang paling bertekhnologi, paling deras arus informasinya, paling terkoneksi antar sesama lebih dari masa apapun sebelumnya. Dalam sekejap mata kita bisa terhubung ke seluruh dunia, berita yang kita dapatkan tepat pada saat kejadian.

Jokowi dan Prabowo oleh banyak orang, berjela menjadi berhala, dan Tuhan dipasang sebagai fotocopy, banal dan tanpa keagungan. Betapa menyedihkan bahwa dalam tahun-tahun belakangan ini Abu telah melihat banyak orang membuat pilihan yang salah tentang loyalitas. Mendukung itu sewajarnya, tidak perlu sampai membenci. Soalnya mereka berdua politisi, jamak hari ini mengatakan A, besok bisa bilang B, politik itu sangat cair, tergantung lobi dan kepentingan.

Jokowi dan Prabowo adalah manusia biasa, sebagaimana Reagan dan Gorbachev, mereka bisa berseteru tapi tak menolak jika harus berpelukan bersama, mengapa kita sebegitu bebal sehingga antar sesama pendukung harus saling membenci, dan melupakan bahwa yang paling kuat, paling perkasa adalah Tuhan yang Maha Kuasa, yang disebut dan dipanggil nama-Nya dengan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tolong hentikan kebencian, dan menganggap pilihan kita adalah Pahlawan, jagoan sedang pihak lain sebagai bandit atau setan. Akh, entahlah. Mungkin Abu sedang demam tinggi sehingga meracau.

Poster Anti Hero

We must be aware that when heroes come, storytellers overtake them. But before both are available, viewers first exist. All of us, most are just attendees. Anti Heroism a poster by tengkuputeh.

Kita harus sadar bahwa ketika para pahlawan datang, karena pendongeng mendahului mereka. Tapi sebelum keduanya ada, pemirsa terlebih dahulu ada. Kita semua, kebanyakan hanyalah hadirin. Seperti umumnya legenda, yang banal pun bisa jadi bagus, yang biasa seakan-akan dalam, kita tak peduli lagi bila yang ada di dalam pikiran (mungkin) jangan-jangan hanyalah fantasi.

Berbagai cerita lainnya di: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

SEORANG TANPA NAMA TANPA GELAR

SEORANG TANPA NAMA TANPA GELAR

Seorang berdoa dengan cukup keras, “Ya Tuhan, bukakan pintu agar hamba dapat menghadap padaMU.” Mendengar doa orang tersebut, Rabi’ah pun berkata. “Oh si gila! Adakah (pernah) pintu itu tertutup?”

XXX

Seorang tanpa nama tanpa gelar

Seumpama setetes air di lautan, aku hanya bisa menjadi bagian dari gelombang. Seorang tanpa nama tanpa gelar. Oh, betapa dahsyatnya cinta.

Ia berkata kepadaku. “Perjalanan hidup itu memang menyakitkan, terlahir di dunia adalah cabaran cobaan yang tak henti-henti. Tak putus-putus dan terus meningkat kadarnya sepanjang usia. Akh, dunia yang wajib dihadapi, meninggalkannya haram, sedang menyakininya menjadi syirik.”

“Bahwa perjalanan paling penuh derita padamu adalah ketika harus melalui lembah cinta. Memasukinya engkau harus menjadi api yang menyala, begitulah kukatakan padamu. Wajah seorang pencinta harus menyala, berkilau dan berkobar-kobar bagaikan api. Cinta yang sejati tak mengenal resiko yang menyusul kemudian, dengan cinta, baik dan buruk menjadi tiada.”

“Tapi halnya engkau, yang tak acuh dan tak peduli, perkataanku tak akan menyentuhmu, bahkan tak akan mendesir sedikitpun pada kalbumu. Siapakan yang sedia mengorbankan harta, bahkan mempertaruhkan kepalanya, dan menjadikan bahaya sebagai sahabatnya, selain dari seorang pencinta yang keras kepala.”

“Bila engkau memulai perjalanan ini dengan tak mau melibatkan diri secara penuh dan seluruh, maka jangan harap dirimu akan terbebas dari kedukaan dan kemurungan yang akan memberatinya. Sebagaimana elang sebelum mencapai ke sarang, ia gelisah dan sedih. Sebagaimana ikan yang didamparkan ombak ke bibir pantai, ia menggelepar-gelepar hendak kembali ke dalam air. Sebegitupula perjalanan cinta, ia hanya ingin pulang.”

“Di lembah ini, cinta dilambangkan dengan api, pikiran dengan asap. Bila cinta datang, pikiran lenyap. Logika tak bisa tinggal bersama kedunguan cinta, cinta tak berurusan dengan akal pikiran insani.”

“Dalam pandangan batin cinta, zarah-zarah dari dunia akan tersingkap bagimu. Akan tetapi jika engkau hanya memandang dengan mata biasa, engkau sulit memahami apa perlunya untuk mencintai.”

“Hanya mereka-mereka yang telah diuji dapat bebas merasakan ini. Dia yang bertekad menempuh perjalanan ini hendaknya memiliki seribu hati, sehingga tiap saat, tiap sebentar, ia siap dapat mengorbankan satu, semua itu demi cinta.”

Aku terjaga dalam relung tak terpeluk malam. Ia berkata kepadaku dalam puisi yang tak kupahami. Ingin ku kenali dia, sekarang aku merasa asing. Seumpama setetes air di lautan, aku hanya bisa menjadi bagian dari gelombang. Seorang tanpa nama tanpa gelar. Oh, betapa dahsyatnya cinta.

XXX

Bait al-Hikmah, 10 Ramadhan 1440 Hijriah. Bertepatan 15 Mei 2019 Masehi. (Hari ulang tahun pernikahan yang kelima). Teruntuk istriku tercinta.

Posted in Cerita, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

BERSYUKUR MEMBUAT BAHAGIA

Bakar aku dengan api-MU

Hamtam aku dengan godam-MU

Agar aku hancur luruh

Utuh menyeluruh dihadap-MU

XXX

Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan, tapi jangan lupa bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, tapi rasa syukurlah yang membuat kita bahagia.

Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan, tapi jangan lupa bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, tapi rasa syukurlah yang membuat kita bahagia.

Semalam, sebagaimana malam-malam tak menyenangkan lainnya PLN memadamkan lampu di wilayah Banda Aceh dan sekitarnya. Disini itu adalah hal yang biasa, tiada angin tiada hujan PLN mematikan lampu jika (dianggap) perlu. Kita tak pernah tahu apa alasannya, apakah ada tikus yang terjepit di generator? Atau apalah kejadian di belakangnya. Pernah suatu ketika malahan tahun 2002-2003 di Banda Aceh, PLN sehari hidup sehari mati.

Menariknya, semalam Abu tidak sedang ingin mengeluhi, atau sekedar menyumpahi PLN. Abu ambil dua buku dan mulai membaca buku pertama, Musyawarah Para Burung (Mantiqut- Thair) tulisan Fariduddin Attar dan sebuah lagi sebagai cadangan Tadzkiratul Auliya juga ditulis orang yang sama.

Attar dikenal sebagai penulis besar Persia, juga dunia lahir pada 1119 Masehi dan meninggal dunia  antara 1220 dan 1230 pada usia lanjut di tangan orang-orang Mongolia yang menyerbu Nishapur. Jasadnya tak ditemukan, diduga salah satu diantara gunung-gunung tengkorak yang dibuat oleh pasukan Hulagu. Tulisan-tulisan Attar mempengaruhi tokoh muslim klasik seperti Jalaluddin Rumi. Di tangan Attar sastra dapat dinikmati oleh para raja sampai tukang sol sepatu.

Tulisan Attar bercorak sufisme yang merupakan sebutan untuk paham mistik dalam Islam, seorang sufi adalah muslim yang mengikhtiarkan dirinya mencari peleburan mistis dengan pencipta-Nya. Di Indonesia sufisme dianggap miring, Hamzah Fansuri maupun Syech Siti Jenar adalah tokoh sufi terkenal di Nusantara dianggap ajarannya berbahaya jika disalahartikan oleh kaum awam.

Sewaktu masih berusia awal belasan (mungkin 12-14), Abu tidak menyukai sufisme. Kemunculan paham ini sangat dekat dengan kehancuran Baghdad, sifat apatis para sufi Abu anggap adalah penyebab kemunduran peradaban Islam. Banyak ajaran sesat muncul sebagai turunan ajaran ini, ketika manusia merasa mampu menyatukan dirinya dengan Tuhan pencipta alam.

Tapi mungkin Abu (bisa jadi) salah.

Menilik sejarah, ajaran ini muncul ketika penguasa-penguasa Islam telah mulai meninggalkan ajaran agama. Para khalifah Abbasiyah mulai meniru (secara malu-malu) kelakuan Kisra Persia, dinar dirham menjadi yang utama. Manusia mulai berdagang di segala lini, bahkan dengan Tuhan dengan mengkira-kira dosa dan pahala, agama menjadi semacam neraca perdagangan. Sedekah sedinar maka akan mendapat balasan 700 dinar, mungkin karena itu ilmu tassawuf muncul. Tassawuf itu bermakna mensucikan hati, agar batin hanya berpandu ridha Allah semata.

Di usia 17 tahun, Abu sebagaimana anak pada zamannya, menyatakan cinta kepada seorang perempuan. Malangnya, ketika itu Abu belum mengetahui filsafat Sun Zu, kenali diri dan kenali lawanmu. Abu ditolak! Celakanya didepan ratusan orang, hancur sudah reputasi Abu sebagai pemuda idaman sekolah, menjadi semak belukar saja.

Sebenarnya tidak terlalu banyak yang mengejek, atau mengungkit kejadian itu. Tetap ada memang bedebah-bedebah usil yang menghina, tapi itu wajar dalam hidup. Tapi mungkin rasa malu itu terlalu besar, dan Abu memilih mengasingkan diri, untungnya Abu memilih di perpustakaan.

Maka sejak hari itu, selain pelajaran sekolah otak Abu dilimpahi berbagai informasi dari perpustakaan sekolah, dari Tafsir al-Azhar Hamka, Musashi dan Taiko karangan Eiji Yoshikawa, Mangan Ora Mangan yang legendaris karya Umar Kayam, apapun buku yang tersedia Abu sikat. Cuma Kahlil Gibran Abu kurang suka, tidak cocok untuk jejaka yang baru ditolak, bikin tambah baper. Yang paling menarik adalah kisah-kisah orang saleh, para sahabat nabi yang menurut Abu sangat amazing kisah hidup mereka.

Semoga Abu tertular sedikit kesalehan mereka, belum mampu seperti Umar bin Khattab atau Khalid bin Walid minimal ya, Sufyan ats-Tsauri atau Rabiah al-Adawiyah. Harapannya bro. Waktu terus berjalan dan Abu tamat sekolah.

XXX

Percayakah kalian jika Abu adalah orang yang sangat ahli berbicara? Mungkin ahli retorika dan sejenisnya?

Berdasarkan kekayaan referensi yang Abu miliki, sombong niyee. Abu punya kecenderungan sering diajak berdebat oleh orang lain. Sebenarnya, Abu tidak suka berdebat lebih suka berdialog, lebih suka sepakat, seperti bersepakat untuk tidak sepakat dengan pendapat seseorang. Atau ketika seseorang memaksakan pendapatnya yang Abu rasa tidak benar, maka orang tersebut lebih baik Abu tinggalkan. Menurut Abu tidak berguna mendebat orang keras kepala dengan ideologinya, sama seperti membenturkan kepala di tembok, yang ada kepala kita yang hancur.

Ada seorang teman semasa kuliah, merasa logikanya kuat. Dia mendebat semua orang, katanya dia mencari Tuhan, dan tidak menemukan Tuhan dalam pencariannya, segala macam ustad, tengku sampai alim ulama di kampus didebat olehnya. Semua orang gedeg, kesal dengam polahnya, Abu sudah mengetahui tingkahnya menghindari saja orang ini. Selama ini Abu aman, sampai suatu hari dia direkomendasikan oleh seseorang yang Abu tidak kenal untuk berdialog dengan Abu.

Hari itu panas jam dua siang, Abu baru selesai menyantap nasi padang yang rancak bana, jadi mata segaris karena mengantuk, duduk di pojokan menanti jam masuk sore. Biasanya ada kawan Abu, tapi hari itu dia entah kemana, mungkin ada acara Mapala, Abu sendirian di pojok mengipasi diri dengan buku.

“Ini dia yang aku cari!” Tunjuknya ke muka Abu.

Mata segaris Abu menjadi 100 watt, “ada apa pula si bedebah ini tunjuk-tunjuk mukaku.” Pikir Abu.

“Aku mencari-cari Tuhan dalam hidupku, tidak aku temukan, bisakah kau tunjukkan padaku dimana dia?”

Abu menggeleng, “tidak bisa.”

“Kamu orang pertama yang mengatakan tidak bisa. Semua orang mengatakan bisa tapi ujung-ujungnya tidak bisa. Jadi apakah kamu sama sepertiku? Tidak menemukan Tuhan dalam hidupmu?” Celaka, si bedebah malah senang dan duduk disamping Abu seraya nyengir.

“Maaf tuan, saya tidak sama dengan anda. Saya meyakini Allah S.W.T untuk diri saya sendiri. Jelas kita tidak sama!” Ngapain juga menyamakan diri dengan dia.

Owh, jelaskan padaku?” Dia melunak.

“Begini Tuan,” Abu berpikir keras. “Saya tidak mampu menjelaskan padamu, pengalaman spiritual kita mengenal Sang Pencipta itu bersifat personal, beda pada tiap orang.”

“Seperti?” Tanyanya.

“Seperti pengalaman Ibrahim a.s, awalnya dia mengira matahari adalah tuhan, kemudian matahari tenggelam dan muncul bintang sehingga dia pikir itulah tuhannya, tapi bintang pun tenggelam. Malam berikut muncul bulan, dia pikir itu adalah tuhan sampai bulan pun hilang. Akhirnya dia mendapat hidayah dan menghadapkan diri kepada Allah pencipta langit dan bumi.”

“Kisah itu selalu diulang-ulang padaku, tidak masuk akal.” Bantahnya.

Abu diam, pura-pura menjadi arca.

Menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri dia mengatakan, “coba jelaskan secara logis.”

“Kamu mencari Tuhan, maka saya pastikan kamu orang beriman. Seperti halnya Ibrahim di dalam gua, kamu hanya belum menemukan saja.” Abu berbicara sekenanya.

“Coba logikakan!” Teriaknya marah.

“Masalah tauhid itu masalah hati, kenapa kamu memaksakan saya menceritakan hati dengan cara logika, saya tidak bisa.” Jawab Abu.

Menghentakkan kakinya, dia kesal pergi, eh tapi dia berbalik. “Diantara semua orang yang pernah aku ajak berdebat, kamu adalah yang paling mengesalkan!” Tunjuknya ke Abu.

Abu tersenyum, kemudian mengejek. “Mau kenal Tuhan lewat orang lain, cari sendiri saja. Hush, hush.” Usir Abu sambil tertawa.

Dia pergi dengan perasaan dongkol.

Waktu kembali berjalan, Abu Drop Out dari Universitas, memilih sekolah kedinasan. Abu dengar “kawan itu” menemukan Tuhan selepas tsunami, akhirnya hidayah datang kepadanya. Alhamdulillah.

XXX

Kemarin siang, Abu makan siang terlambat akibat mengejar deadline pekerjaan. Selepas makan soto Abu merokok sebatang, tiba-tiba seseorang menghampiri, dia berjubah.

Assalamualaikum Abu masih ingat saya?” Tanyanya.

Oh, si bedebah itu sekarang sudah jadi ustad. Abu mengangguk.

“Kamu masih saja sama seperti dulu, belum berubah-ubah. Dunia sudah mendekati kiamat, bertaubatlah kamu sahabatku.” Katanya.

“Sejak Nabi Adam a.s turun ke bumi, dunia memang mendekati kiamat setiap harinya tuan.” Kata Abu tersenyum.

Ia mencelat, kemudian mengatur nafas. Kami beramah tamah, layaknya kawan lama. Ditambah beberapa ceramah, Abu mendengarkan saja sampai dia pamit. Memandangi kepergiannya, Abu berpikir hidup ini ya biasa-biasa saja. Abu seperti orang kantoran yang biasa dijumpai dimana saja. Menjalani hidup datar-datar saja.

Hidup ini memang terasa sulit sebelum menjadi mudah. Kesulitan memang bukan untuk dikeluhkan tapi dimudahkan dengan keikhlasan dan tindakan. Terkadang kita perlu merasakan sakitnya terjatuh agar kita tahu bagaimana berdiri, merasakan benci agar kita menghargai cinta.

Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan, tapi jangan lupa bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, tapi rasa syukurlah yang membuat kita bahagia.

KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Buku, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

SYAIR PERAHU OLEH HAMZAH FANSURI

Wahai muda kenali dirimu, ialah perahu tamsil tubuhmu, tiadalah berapa lama hidupmu, ke akhirat jua kekal diammu.

Syair Perahu

Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i’tikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat perahumu jua kerjakan,
itulah jalan membetuli insan.

Perteguh jua alat perahumu,
hasilkan bekal air dan kayu,
dayung pengayuh taruh di situ,
supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir.

Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.

Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.

Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba’id.

Baiklah perahu engkau perteguh,
hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.

Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.

Barang siapa bergantung di situ,
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju,
selamat engkau ke pulau itu.

La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,
di laut keras dan topan ribut,
hiu dan paus di belakang menurut,
pertetaplah kemudi jangan terkejut.

Laut Silan terlalu dalam,
di sanalah perahu rusak dan karam,
sungguhpun banyak di sana menyelam,
larang mendapat permata nilam.

Laut Silan wahid al kahhar,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar.

Itulah laut yang maha indah,
ke sanalah kita semuanya berpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah.

Silan itu ombaknya kisah,
banyaklah akan ke sana berpindah,
topan dan ribut terlalu ‘azamah,
perbetuli pedoman jangan berubah.

Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam,
perbaiki na’am, siang dan malam.

Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras bertambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam.

Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.

Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budimannya,
berlayar itu dengan kelengkapannya.

Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan [dayungnya]
iman Allah nama kemudinya,
“yakin akan Allah” nama pawangnya.

“Taharat dan istinja’” nama lantainya,
“kufur dan masiat” air ruangnya,
tawakkul akan Allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya.

Salat akan nabi tali bubutannya,
istigfar Allah akan layarnya,
“Allahu Akbar” nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.

“Wallahu a’lam” nama rantaunya,
“iradat Allah” nama bandarnya,
“kudrat Allah” nama labuhannya,
“surga jannat an naim nama negerinya.

Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair tempat berpindah,
di dalam dunia janganlah tam’ah,
di dalam kubur berkhalwat sudah.

Kenali dirimu di dalam kubur,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur?
di balik papan badan terhancur.

Di dalam dunia banyaklah mamang,
ke akhirat jua tempatmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.

Tuntuti ilmu jangan kepalang,
di dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir ke sana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.

Tongkatnya lekat tiada terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan lenyap,
(baris ini tidak terbaca)

Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu bertambah garang,
tongkatnya besar terlalu panjang,
cabuknya banyak tiada terbilang.

Kenali dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur telentang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan berbincang?

La ilaha illallahu itulah firman,
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,
iman tersurat pada hati insap,
siang dan malam jangan dilalaikan.

La ilaha illallahu itu terlalu nyata,
tauhid ma’rifat semata-mata,
memandang yang gaib semuanya rata,
lenyapkan ke sana sekalian kita.

La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,
sekalian makhluk ke sana berpindah,
da’im dan ka’im jangan berubah,
khalak di sana dengan La ilaha illallahu.

La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kau sunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan.

La ilaha illallahu itu kata yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian rusuh,
jin dan syaitan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.

La ilaha illallahu itu kesudahan kata,
tauhid ma’rifat semata-mata.
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.

La ilaha illallahu itu tempat mengintai,
medan yang kadim tempat berdamai,
wujud Allah terlalu bitai,
siang dan malam jangan bercerai.

La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,
menyatakan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pertemuan Tuhan terlalu susah.

~ Hamzah Fansuri

Posted in Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

JANGAN MENCINTAI LAUTAN

 Laut adalah unsur yang sama sekali tanpa kesetiaan. Jangan percaya padanya atau ia akan menghabisimu dengan merendammu.

Laut adalah unsur yang sama sekali tanpa kesetiaan. Jangan percaya padanya atau ia akan menghabisimu dengan merendammu.

Jangan mencintai lautan, banyak telah tertelan binasa di tubirnya yang dalam. Laut adalah unsur yang sama sekali tanpa kesetiaan. Jangan percaya padanya atau ia akan menghabisimu dengan merendammu. Laut itu gelisah karena cinta.

Oh, bagi yang mencintai lautan, tidakkah kau tahu bahwa laut penuh dengan makhluk berbahaya? Kadang airnya pahit, kadang asin, kadang air laut itu tenang, kadang bergelora, senantiasa berubah, kadang pasang, kadang surut tak pernah tetap.

Kadang ia menggulungkan gelombang-gelombang besar, kadang ia berderau. Ia tak mendapatkan apa yang diinginkannya, bagaimana kau akan menemukan di sana tempat istirahat bagi hatimu? Lautan ialah anak sungai yang pasang di jalan menuju kekasihnya, kalau demikian, mengapa pula kau akan puas tinggal di sini, dan tak berusaha melihat wajah-NYA.

Belasan tahun yang lalu, merenungkan makna segala sesuatu, aku pergi ke lautan dan bertanya mengapa lautan memakai pakaian biru, karena warna itu adalah warna kesedihan, dan mengapa laut mendidih tanpa api?

Seolah ia berkata, aku risau karena terpisah dari kekasih. Karena kekuranganku, aku tak layak baginya, maka aku kenakan pakaian biru ini sebagai tanda sesal yang kurasakan. Dalam kesedihanku, bibir pantai-pantaiku menjadi kering, dan disebabkan cintaku, aku berada dalam galau ini.

Akh, kalau dapat kuperoleh setitik saja air telaga al-kausar, maka dapat kurengguk gerbang kehidupan kekal. Tanpa setetes aku akan mati karena gairah-damba bersama yang lain, binasa dalam perjalanan.

Banda Aceh, 3 April 2019.

KATALOG PUISI

  1. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  2. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  3. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  4. Kalah Perang; 5 November 2008;
  5. Puisi Tentang Gerimis; 22 Desember 2008;
  6. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  7. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  8. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  9. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  10. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  11. Surga; 17 Juni 2013;
  12. Supaya Aku, Kamu Dan Kita (Lebih) Saleh; 9 Desember 2016;
  13. Renungan Malam; 19 November 2017;
  14. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  15. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
Posted in Kisah-Kisah, Literature, Poetry, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR

Memahami hadih maja membuat mengerti pola pikir orang Aceh. Menjadi tahu mengapa orang-orang Aceh dalam keadaan tersulit mampu menertawakan apa yang terjadi, dengan kebijaksanaan kuno yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Defenisi dan asal-usul Hadih Maja

Hadih maja adalah nasehat yang menampilkan sejarah masa lampau Aceh, memadukan pengajaran serta hiburan. Dari sisi sejarah juga dapat dimasukkan dalam kategori hadih maja yakni cerita atau tradisi para nenek. Menurut Snouck Hurgronje dalam buku Aceh di Mata Kolonialis jilid II pada bagian kesusastraan menyebutkan bahwa hadih maja dipertahankan oleh orang tua-tua, khususnya kaum perempuan sebagai penuturnya kepada anak-anak mereka sebagai sarana pendidikan.

Hadih maja dapat didefinisikan sebagai perkataan atau peribahasa dalam kehidupan masyarakat Aceh yang mengandung unsur filosofis yang dipergunakan sebagai nasehat, peringatan, penjelasan, perumpamaan, bahkan sindiran halus yang diguanakan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan bermasyarakat di Aceh.

Di masa lalu, barang siapa yang menguasai dan atau memiliki banyak perbendaharaan hadih maja akan menjadi tokoh yang populer dalam pergaulan, sebagaimana masyarakat belahan dunia lain juga mengakui jika ada dalam satu kumpulan menguasai banyak kosa kata maka orang tersebut akan lebih dihormati dan didengar.

Dewasa ini, penggunaan bahasa daerah telah mulai surut, ini adalah fenomena yang berlaku umum sebenarnya di seluruh Indonesia di mana tercatat pada abad 21 ini ada 11 bahasa daerah yang punah. Hal ini juga menyebabkan penggunaan hadih maja sudah semakin jarang digunakan di Aceh.

Maka berikut penulis merangkum hadih maja (beserta terjemahan dalam bahasa Indonesia) sebagai pengingat agar kita tak sepenuhnya lupa akan kebijaksanan para leluhur di Aceh.

Hadih Maja beserta terjemahannya

  1. Adat bak Po Teumeruhom, qanun bak Putro Phang, hukom bak Syiah Kuala, Reusam bak Laksamana; (Adat pada sultan, Undang-undang pada parlemen, hukum pada orang berilmu, Kekuatan pada militer);
  2. Aneuk donya jinoe, tuha jih ngon geutanyoe; (Seperti anak dunia saat ini, tua dia kembali pada kita);
  3. Alee tob beulacan, barangkapeu ta kheun malee tan, nyang malee urueng jak sajan; (Seperti penumbuk padi digunakan untuk terasi, apapun yang dikatakan padanya dia tidak malu, yang malu adalah kawan-kawan bersamanya);
  4. Aneuk sithon tangkeh, ta pugah meunoe ji kheun meudeh; (Seperti anak berusia setahun, kita bilang begini dia bilang begitu);
  5. Asai cabok nibak kude, asai pake nibak seunda; (Borok berasal dari kudis, pertengkaran berasal dari senda gurau);
  6. Asee blang nyang pajoh jagong, asee gampong nyang keunong geulawa; (Anjing ladang yang makan jagung, anjing kampung yang dilempari)
  7. Ata han jeut ta meunari, ta peugah tika hana get; (Ketika dia tidak bisa menari, tikar yang disalahkan);
  8. Awai buet dudoe pike, teulah oh akhe keupeu lom guna; (Jika duluan berbuat dibanding berpikir, sesal kemudian tiada guna)
  9. Awai ji duek deungon ji tinggong, awai ji yue deungon ji duek; (Duluan duduk baru jongkok, duluan disuruh daripada duduk);
  10. Awai geulurong dudoe geu larang, pane ek leukang gaseh ka meusra; (Awalnya dikurung kemudian dilarang, tapi tak mungkin hilang cinta yang telah mesra);
  11. Awuek sabee lam meusanthok deungon beulangong; (Seperti centong yang akan berantuk dengan kuali);
  12. Bak gob mupakee bek gata pawang, bak gob muprang bek gata panglima; (Ketika orang bertikai kamu pemandu, ketika orang berperang kamu panglima);
  13. Bak ie laot peu taboh sira; (Untuk apa menggarami lautan)
  14. Bak nyang gatai, sinan tagaro. Bek gatai bak jaroe, tagaro bak aki; (Dimana yang gatal disitu digaruk. Jangan gatal tangan yang digaruk kaki);
  15. Bak si buta ta yue beut kitab, bak si bangsat ta yue meu doa; (Kenapa kepada si buta disuruh baca buku, kenapa kepada bajingan disuruh pimpin doa);
  16. Bak ta tunyok bek meu iseuk, bak ta peuduek beu meulabang; (Apa yang ditetapkan jangan bergeser, dimana diletakkan disitu dipaku);
  17. Bak ta mumat ka patah, bak ta meugantong ka putoh; (Ketika dipegang patah, ketika digantungkan putus);
  18. Bak kareng pane na gapah; (Pada teri tidak ada lemak);
  19. Baranggadum raya ie krueng, nyang ge bileung ie kuala; (Sebagaimanapun banyak air sungai tetap dianggap air kuala);
  20. Baranggadum buet rakyat, nyang ge bileung buet raja; (Sehebat apapun pekerjaan rakyat akan dianggap keberhasilan raja);
  21. Bek lagee boh trueng laum jeue, ho nyang singet keunan meuron; (Seperti buah terong dalam keranjang, kemana miring kesitu menumpuk);
  22. Bek leupah haba, bah leupah buet; (Jangan banyak bicara, yang perlu banyak kerja);
  23. Bek taharap ke teuga gob; (Jangan berharap pada orang lain);
  24. Bek ta peurunoe bue meu ayon, bek ta peurunoe rimueng pajoh sie; (Tak perlu mengajarkan monyet berayun, tak perlu ajari harimau makan daging);
  25. Bit pih phui bak ta kalon, geuthon bak ta tidjik; (Betapa ringan dilihat, tapi bertahun dikerjakan);
  26. Bit pih takalon misee me kuwet, umu lon goh trep, aneuk goh lom na; (Ketika dilihat kumis sudah berlipat, tapi ternyata usia masih muda, anakpun belum ada);
  27. Boh ru pirak geu sawak bak luengke leumo, sinoe geujak, sideh pih geujak, oh meureumpok sabee pungo; (Buah perak disangkut pada tanduk lembu, kesini pergi, kesana pun pergi, ketika bertemu selalu gila);
  28. Boh seureuba rasa, peunajoh urueng duson, yoh goh, ta lakee rasa, oh ka, ta lakee ampon; (Buah aneka rasa, makanan orang dusun, sebelum ada, minta rasa, ketika sudah rasa minta ampun);
  29. Bubee lam ie, ie lam bubee, hana ta thee, cuco ka na; (Bubu dalam air, air dalam bubu, waktu tak terasa sudah punya cucu);
  30. Bubee dua jab, keudeh to, keunan rap; (Bubu dua mata, kesana dekat, kesini rapat);
  31. Buet walanca-walance, awai pu buet dudoe pike; (Bekerja walanca-walanci, lebih dulu perbuat baru berpikir);
  32. Buet ka keumah, keureuja ka jadeh; (Kerjaan sudah selesai, kerjaan sudah jadi);
  33. Buya krueng teu dong-dong, buya tamong meuraseuki; (Buaya setempat gigit jari, buaya datang ada reseki);
  34. Buet ka dilee jinoe baroe keumah; (Perbuatan lama sekarang hancur);
  35. Campli han lee keueng, sira han lee masen; (Cabe tak lagi pedas, garam tak lagi asin);
  36. Digob geu criek ija di keude, digeutanyoe ta criek ija di keuieng; (Orang lain mengunting kain di pasar, kita kain sarung di pinggang sobek);
  37. Digob nyang na karam di laot, digeutanyoe karam di darat; (Orang lain kalau pun sial karam di laut, kita karam di darat);
  38. Djada wa djadi, meunan ta pinta meunan jadi; (Begitu niat langsung jadi, apa yang diinginkan terjadi segera);
  39. Duek di gampong wet-wet pureh, dilikot inong maguen; (Suami santai-santai, istri memasak);
  40. Engkot di laot, asam di darat, meusapat lam beulangong; (Ikan di laut, asam di darat, bertemu dalam belanga);
  41. Gaseh, menyoe hana peu ta bri, hana leumah; (CInta itu ketika tidak memberikan apa-apa kepadanya, tidak terlihat);
  42. Get su nibak buet; (Bagus bicara, buat tidak);
  43. Geumade urueng kaya; (Seolah-olah orang kaya);
  44. Geutanyoe grob, patah pha-pha, laba tan dipade; (Kita berusaha sampai melompat, patah kaki, tiada laba barang sepadi);
  45. Geutanyoe meung ka tuha, sakri han keumah le; (Ketika kita tua, semuanya susah);
  46. Geutanyoe nyoe syedara, toe bek, jarak pih bek; (Kita ini dengan saudara jangan terlalu dekat dan jangan terlalu jauh);
  47. Geutak sapat, dua pat lhut; (Satu tebasan, dua tempat copot);
  48. Gob kab campli geutanyoe nyang keu-eung, gob meuanek geutanyoe madeung; (Orang makan cabe kita yang kepedasan, orang yang melahirkan kita yang diasapi).
  49. Gob seumeusie, geutanyoe tak tulueng; (Orang lain makan daging, kita potong tulang);
  50. Gob pajoh boh panah, tanyoe nyang meuligan geutah; (Orang lain makan nangka, kita kena getahnya);
  51. Goh lom woe pangkai, ka takira laba; (Belum balik modal, sudah menghitung keuntungan);
  52. Hana buet mita buet, badan payah, keumiroe teuseuet; (Mencari masalah, badan sakit, anak pelir mengkisut);
  53. Hana brat urueng nyang me, brat urueng kalon; (Yang mengalami biasa saja, orang lain melihat berat sekali);
  54. Hana meugruk-gruk, beuna meugrek-grek; (Tidak ada uang bergulung, setidaknya recehan ada);
  55. Hana meukab, beuna meukib, hana nyang le, beuna nyang dit; (Tiada yang digigit (banyak), harus ada yang digigit (sedikit), tiada yang banyak, harus ada sedikit);
  56. Hana nyang mee ie meu sidroe, bandum meu apui; (Tidak ada yang membawa air, semua berapi-api);
  57. Hana saket geutob ngon rincong, leubeh saket geungieng ngon iku mata; (Tidak sakit ditikam rencong, lebih sakit diremehkan);
  58. Hana ta tuoh maguen, sikai han seb, sicupak han abeh; (Tidak tahu cara masak, satu takaran tak cukup, satu cupak tak habis);
  59. Hana ubat; (Tidak ada obat);
  60. Harap keu pageu, pageu pajoh padee. Harap keu jantong, jantong jithok hate; (berharap pagar, pagar makan padi. Harap ke jantung, jantung cotok hati);
  61. Hina bak donya hareuta tan, hina bak tuhan eleemee hana; (Terhina di dunia tiada harta, terhina di mata Tuhan tidak ada ilmu);
  62. Ho taba geulinyueng gob boh; (Kemana bercerita orang tak mau mendengar);
  63. Hu muka; (Muka menyala);
  64. Ija pinggang ija ingot, uroe tapinggang malam ta limbot; (Kain di pinggang, kain dipikul, malam dipakai di pinggang malam menjadi selimbut);
  65. Ikat leumo lam lampoh gob; (mengikat lembu di kebun orang);
  66. Intan saban-saban, hareuga meulaen-laen; (Intan mirip-mirip, harganya beda-beda);
  67. Jak teu bungkok-bungkok, bak deuk teu leumiek-leumiek; (Ketika berjalan dibungkuk-bungkukkan, ketika duduk dilemas-lemaskan);
  68. Jampok pujoe droe; (Burung hantu memuja diri sendiri);
  69. Jarak ta jak le peu ta eu, trep udep le peu ta rasa; (Jauh perjalanan banyak yang dilihat, panjang usia banyak yang telah dirasakan);
  70. Jaroe unuen tak, jaroe wie tarek; (Tangan kanan menebas, tangan kiri menarik);
  71. Ji rhom geutanyoe deungon ek leumo, ta rhom jih ngon ek guda; (Jika dia melempar kita dengan tahi kuda, kita balas lempas dengan tahi kuda);
  72. Ka gadoh lam mata bek gadoh lam hate; (Sudah tak terlihat oleh mata, jangan sampai hilang dihati);
  73. Kayem tajak geu tiek situek, jareung ta jak taduek geu bri tika; (Sering bertamu dilempar pelepah kelapa, jarang bertamu dilentangkan tikar);
  74. Kareng tho bileh leubot, peunyaket sot meu ulang teuma; (Teri kering ikan bilis berisi, penyakit serupa datang lagi);
  75. Ka roh ta meukat sira lam ujuen; (Terlanjur menjual garam dalam hujan);
  76. Kapai di hoe le jaloe; (Kapal ditarik sampan);
  77. Keupeu guna ie padee ka layee, yoh ku tem kee han tatem gata; (Untuk apa air jika padi sudah layu, sewaktu saya suruh dulu tak mau kamu);
  78. Keureuleng nggang cit ke abeuk, keureuleng kuek cit keu paya. Meung hana lintah ngon cangguk, pu buet kuek dalam paya; (Kerlingan bangau kelabu mencari anak kodok, kerlingan bangau putih mencari ikan air tawar. Jika bukan lintah dengan kodok, untuk apa bersemayam dalam rawa-rawa);
  79. Kullu nafsin geubeut di ulee, nyan baro ta thee ta tinggai donya; (Kullu nafsin dirapalkan dalam kepala, baru kita sadari hidup di dunia);
  80. Ku ‘o-‘o ku deungo han, ji anggok kuanggok, ku putrok han; (Ku iyakan tapi tak ku dengar, disuruh mengangguk ku angguk, ku sampaikan tidak);
  81. Laba beuna, pangkai beu that bek; (Laba harus ada, modal tak mau keluar);
  82. Laba laboh, meukri jiba meukri taboh; (Mencari laba, bagaimana dibawa segitu diletakkan);
  83. Lagak lagee udeung teb, sileweu puntong kupiah pheb; (Elok seperti udang punting, celena pendek kupiah hancur);
  84. Lagee aneuk dara meutumee subang; (Seperti anak gadis mendapat kerabu);
  85. Lagee aneuk buya teungoh cabak; (Seperti anak buaya sedang lasak-lasaknya);
  86. Lagee asee pungo; (Seperti anjing gila);
  87. Lagee asee lob pageu; (Seperti anjing masuk pagar bawah);
  88. Lagee awuek ngon beulangong; (Seperti centong dan belanga);
  89. Lagee bak jok lam uteun, maseng-maseng peuglah pucok droe; (Seperti pohon enau di hutan, masing-masing memikirkan pucuk sendiri);
  90. Lagee bieng pho; (Seperti kepiting terbang);
  91. Lagee boh mamplam di wie, sikin di unuen; (Seperti buah mangga di tangan kiri, pisau di tangan kanan);
  92. Lagee jalo ikat bak jalo; (Seperti menambatkan sampan pada sampan);
  93. Lagee ji reuboh ngon ie leupie; (Seperti terebus dengan air dingin);
  94. Lagee engkot tho paya; (Seperti ikan di paya kering);
  95. Lagee kajak meunan kawoe; (Seperti pergi begitu pula kau pulang);
  96. Lagee kameng jak ateuh bate; (Seperti kambing berjalan di atas batu);
  97. Lagee kameng kab situek; (seperti kambing mengigit pelepah kelapa);
  98. Lagee kameng jip pe ayeum ngon kulet pisang; (Seperti kambing dilalaikan/ditipu dengan kulit pisang);
  99. Lagee kameng eh lam broh; (Seperti kambing tidur dalam sampah);
  100. Lagee manok keumarom; (Seperti ayam menetas);
  101. Lagee mie su bee eek; (Seperti kucing suara bau tahi);
  102. Lagee mirahpati seuiet; (Seperti merpati lemas);
  103. Lagee rimueng ek bak kayee, jeut di ek han jeut ji tron; (Seperti harimau manjat pohon, bisa naik tak bisa turun);
  104. Lagee si buta ka teu bleut; (Seperti si buta sudah bisa melihat);
  105. Lagee ta ngieng boh mamplam masak; (Seperti kita lihat buah mangga masak);
  106. Lagee ta peurakan rimueng ngon kameng; (Seperti kita pertemankan harimau dengan kambing);
  107. Lagee ta peutupat kayee ceukok; (Seperti kita luruskan batang pohong yang bengkok);
  108. Lagee ta cok leumo rhet lam mon, oh lheuh ta peu teungoh, ji peu eek geutanyoe; (Seperti kita selamatkan lembu yang jatuh ke sumur, ketika sudah selamat diberakinya kita);
  109. Lagee tikoh lheuh lam eumpang breuh; (Seperti tikus lepas dalam karung beras);
  110. Lagee urueng matee peurumoh; (Seperti orang ditinggal mati istri);
  111. Lagee urueng peh tem; (Seperti orang memukul tong kosong);
  112. Lagee utoh meunasah, gob peubuet gobnyan peugah; (Seperti tukang di surau, orang yang berbuat dia yang mengakui);
  113. Lam ta khem-khem ji ceukak; (Sedang ketawa-ketawa dicekik);
  114. Langkah, raseuki, peu tumon, maot, hana kuasa geutanyoe hamba; (langkah, rezeki, pertemuan, maut, sebagai hamba kita tak berkuasa);
  115. Leumo ka ek ta bloe, taloe han ek ta peuna; (Membeli lembu mampu, tali tak bisa);
  116. Lheuh bak buya, meu kumat bak rimueng; (Lepas dari buaya, tersangkut harimau)
  117. Mameh bek bagah ta ueut, phet bek bagah ta ulak; (Manis jangan cepat ditelan, pahit jangan cepat dimuntahkan);
  118. Mangat asoe; (Enak badan);
  119. Mata uroe sigo saho, ija baro sigo sapo; (Matahari kesana kemari, kain baru seorang satu);
  120. Meukrob-krob lagee seungko lam eumpueng; (Menggelepar seperti gabus dalam kandang);
  121. Meulisan cae, ho cihet inan ilee; (Manisan cair, kemana miring kesitu mengalir);
  122. Meunaseu meh-moh meukawen dua; (Kalau mau susah, kawinlah dua);
  123. Menyoe hana angen, pane mumet on kayee; (Jika tak ada angin, mana bisa daun bergoyang);
  124. Meunyoe hana peng lam jaroe, seupot lam nanggroe peungeuh lam rimba; (Kalau tiada uang, di kota gelap, di hutan terang);
  125. Menyoe ka ta keubah, ka mangat bak tacok; (Jika ada disimpan, enak diambil);
  126. Menyoe galak ta meusenda, bek ta kira luka asoe; (Jika senang bercanda, jangan mudah tersinggung);
  127. Menyoe hana sie kameng, ulee kareeng pih mumada; (Jika tiada daging kambing, kelapa teri pun memadai);
  128. Meunyoe utoh peulaku, boh labu jeut keu asoe kaya; (Jika ahli yang mengerjakan, buah labu menjadi srikaya);
  129. Menyoe ta beunci cit le peu daleh, menyoe ta gaseh salah pih na; (Jika benci ada saja alasan, jika cinta pun ada salah);
  130. Muka lagee mie pajoh aneuk; (Wajah seperti kucing makan anak);
  131. Mumet on kayee lon teupue cicem, teusinyom teukhem lon teupue bahsa; (Bergerak daun karena burung, tersenyum tertawa saya tahu berkata);
  132. Nabsu ke putik, ta cuko misee; (Nafsu mentah, cukur kumis);
  133. Nibak pageu kong jeunerop, nibak syedara kong gob; (Daripada pagar kuat jenerop, daripada saudara kuat orang lain);
  134. Nibak sihet bah rho; (Daripada miring biarlah tumpah);
  135. Nibak ta asek get ta anggok, beuthat brok-brok asai ka na; (daripada geleng baiknya angguk, biarpun jelek asal ada);
  136. Nit pih seb, le pih habeh; (Sedikit cukup, banyak pun habis);
  137. Nyang na ek ta peutan, nyang tan bek ta peuna; (Yang ada jangan ditiadakan, yang tiada jangan diadakan);
  138. Nyawong saboh, barangkapat pih matee; (Nyawa Cuma satu, kapan pun bisa meninggal);
  139. Oh lheuh lhok kon dheu; (Setelah dalam bukan dangkal);
  140. Pane meusu jaroe ta teupok siblah; (Tiada bersuara tepuk sebelah tangan);
  141. Peng abeh gaseh pih kureung, peu lom ta tueng kamoe ka hina; (Uang tiada kasih pun kurang, untuk apa diterima kami telah hina);
  142. Peu meunoe peu meudeh, bu han let pade abeh; (Untuk apa berdalih, katanya tak mau nasi tapi padi habis);
  143. Peu payah meung ta pet, pula cit ka gob; (Apa susahnya memetik, yang menanam orang);
  144. Peuleupie hate; (Mendinginkan hati);
  145. Penyoeket tabloe, utang ta peuna; (Penyakit dibeli, hutang diada-adakan);
  146. Peuroh-roh droe lagee eungkot lam cawan; (Gabungkan diri seperti ikan dalam cawan);
  147. Prang goh jeut kuta ka reuloh, musoh goh troh geutanyo ka cidra; (Perang belum kota sudah hancur, musuh belum datang kita sudah cedera);
  148. Reudok na ujuen tan; (Mendung ada hujan tiada);
  149. Sabab lham bak jok, teuboh lham beusoe. Sabab sidroe ureng brok, busok ban saboh nanggroe; (Sebab sekop kayu terbuanglah sekop besi, sebab seorang jelek buruklah nama satu negeri);
  150. Sang gobnyan brat geukhoek watee masa konflik; (Sepertinya beliau berat dipukul waktu masa konflik);
  151. Salah awuek taplah beulangong, salah inong aneuk tatampa; (Salah centong belah belanga, salah istri anak tertampar);
  152. Seupot buluen lhee ploh; (Gelap seperti malam bulan tanggal tiga puluh);
  153. Sia payah lon limeuh leuhob, bacee ulon drop kuah gob rasa; (Sia-sia berpeluh lumpur, ikan gabus kutangkap kuahnya dimakan orang);
  154. Sigitu irang, ubee blang irot; (Salah sedikit besar akibatnya);
  155. Silap mata, putoh takue; (Silap mata putus leher);
  156. Sipeh bajoe dong sidroe sama rata; (Satu kawanan biasanya sama sifatnya);
  157. Siuro tujoh go leuho; (Sehari tujuh kali dhuhur);
  158. Som kaya, peuleumah gasien; (Sembunyikan kekayaan perlihatkan kemiskinan);
  159. Sulet meupalet, teupat seulamat; (Licik terpalit, lurus selamat);
  160. Su ube reudok; (Suara sebesar petir);
  161. Tabri pih kutueng, tatueng pih kubri. Ta peugah kri bek ta iem droe; (Kau beri kuterima, kau mau pun kuberi. Bilang bagaimana jangan diam);
  162. Ta yue jak di likue, jitoh geuntot. Ta yue di likot dijtrom tumet; (Suruh jalan di depan dikentuti, suruh jalan di belakang disepaknya tumit);
  163. Ta bloe han ek, ta bayeu ek; (Beli tak bisa, ganti bisa);
  164. Tahue leumo deungon taloe, tahue manusia deungon akai; (Tuntun lembu dengan tali, tuntun manusia dengan akal);
  165. Ta keumeung po hana sayeup; (Kepingin terbang tapi tiada sayap);
  166. Ta kira keu ia mata gob si titek, rho ie mata droeteuh meubram-bram; (mengingat air mata orang setitik, luruh air mata banyak-banyak);
  167. Ta meuen ngon apui tutong, ta meuen ngon ie basah, ta meuen ngon sikin teusie; (Main api terbakar, main air basah, main pisau teriris);
  168. Ta meungon ngon aneuk miet, ta manoe dijipeukaco ie, ta pajoh bu dijiseungeu engkot; (Berkawan dengan anak-anak, kita mandi dikacaukan air, kita makan nasi ikan dihabiskan);
  169. Ta meurakan deungon urueng malem, trep-trep jeut keu tengku; (Berkawan dengan orang pintar agama, lama-lama menjadi ustad);
  170. Tangah ateuh sabee; (Lihat ke atas selalu);
  171. Ta cok khan troh, ta cunthok rho kuah; (Kita ambil tak sampai, kita rengkuh tumpah kuah);
  172. Ta peugah hana utak, tangkurak ubee raya; (Kita bilang tiada akal, kepala besar);
  173. Tikoh saboh urueng poh sireutoh; (Tikus seekor dipukul seratus orang);
  174. Top ulee deuh punggong; (Tutup kepala Nampak pantat);
  175. Udep peuleumah tempat, matee peuleumah jirat; (Jika hidup tunjukkan alamat, jika meninggal tunjukkan kubur);
  176. Ulee kurueng si ons; (Kepala/otak kurang satu ons);
  177. Ta seut ie laot deungon paleut jaroe; (Menggeser laut dengan jemari tangan);
  178. Khem gob khem geutanyoe, ata jipeukhem cit geu tanyoe; (Orang tertawa kita tertawa, padahal yang ditertawakan itu kita);
  179. Pantang peudeung meubalek sarong, pantang rincong meubalek mata, pantang urueng diteuoh kawom. (Pantang pedang berbalik sarung, pantang rencong berbalik mata, pantang orang dicemooh kaumnya);
  180. Yoh masa reubong han tatem ngieng, oh jeut keu trieng han ek le ta puta; (Waktu masih rebung tak sanggup lihat, sudah menjadi bambu tak sanggup putar);

Kebijaksanaan menertawakan keadaan itu bernama Hadih Maja

Bak gob mupakee bek gata pawang, bak gob muprang bek gata panglima; Jak ubee let tapak, duek ubee let punggong;

Bak gob mupakee bek gata pawang, bak gob muprang bek gata panglima;
Jak ubee let tapak, duek ubee let punggong;

Terdapat kesulitan untuk menterjemahkan sekian banyak hadih maja dalam bahasa Aceh secara langsung ke dalam bahasa Indonesia, ada beberapa kata dalam bahasa Aceh tidak terdapat padanannya (secara tepat). Sehingga mungkin dalam membaca terjemahan ini, para pembaca akan kebingungan. Cara paling mujarab untuk menikmatinya adalah dengan mengerti bahasa Aceh. Setelah mengerti bahasa Aceh, memahami hadih maja membuat mengerti pola pikir orang Aceh. Menjadi tahu mengapa orang-orang Aceh dalam keadaan tersulit mampu menertawakan apa yang terjadi, dengan kebijaksanaan kuno yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  2. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  3. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  4. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  5. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  6. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  7. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  8. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  9. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  10. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  11. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  12. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  13. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  14. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  15. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  16. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  17. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  18. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  19. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  20. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  21. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  22. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  23. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  24. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  25. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  26. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  27. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  28. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  29. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  30. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  31. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  32. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  33. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  34. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  35. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  36. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  37. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  38. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  39. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  40. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  41. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  42. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  43. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  44. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  45. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  46. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  47. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  48. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  49. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  50. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  51. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  52. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  53. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  54. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  55. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  56. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  57. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  58. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  59. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments