PERAHU BAA MENCAPAI ALIF

Pembersihan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh setelah tsunami 2004

Pembersihan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh setelah tsunami 2004

PERAHU BAA MENCAPAI ALIF

Aku adalah mim, yang mencoba menggapai perahu baa, guna mencapai alif.

Hatiku (seumpama) cuaca senantiasa berubah, langit terkadang berbintang ada kala mendung bahkan badai. Lautan tak selalu teduh begitupula hasratku terkacau oleh ikan-ikan berwarna-warni. Suara-suara mereka memanggilku untuk menyeduk air.

Seharusnya aku tahu tanganku tak mungkin menjangkau dasar lautan, jangankan langit nun jauh disana. Ada baiknya dibelenggu pikir, ada benarnya (juga) pikir menghambat rasa. Akh, kacau entah bagaimana pula jadinya.

Angin menampar-nampar pipiku yang semakin bulat. Gelambir tumbuh sana sini tapi perasaanmu masih bocah. Bocah yang bermain pasir di tepi pantai seraya menghisap gula-gula dengan riang gembira.

Siren berkecapi mendendangkan lagu lembut membuai hasratku untuk tertidur, seharusnya tak begitu, aku buta tangga nada. Ini adalah medan perang yang tak akan aku menangkan. Memandam berahi adalah jalan lurus, tapi alur laut bergelombang sehingga lurus menjadi tak pasti (lagi). Berbelok menjadi keniscayaan robek terburai dalam keterbuaian.

Aku memandang langit, Aku pandangi seksama dengan berkali-kali. Puluhan ribu kali aku memandangi langit berharap bintang-bintang bercerita. Pada hari-hari yang telah terlalui.

Ketika mengingat pada masa lalu, aku merasa malu pada diriku. Yah, terlalu banyak salah, sangat banyak khilaf. Hidupku (pernah) berbuat keliru, meski berusaha memastikan tidak mengulanginya, tanpa tahu bagaimana hasilnya.

Ku pandangi semesta, berharap dan berserah pada wajah-Mu. Aku adalah mim, yang mencoba menggapai perahu baa, guna mencapai alif.

Bait al-Hikmah, 5 Safar 1441 Hijriah bertepatan 23 September 2020

KATALOG OASE

  1. Manusia Semesta; 21 November 2017;
  2. Sebuah Kotak Hitam; 21 November 2017;
  3. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  4. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  5. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  6. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  7. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  8. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  9. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  10. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  11. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  12. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  13. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  14. Sunyi; 19 Maret 2020;
  15. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
Dipublikasi di Cerita, Puisiku | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS PERTAMA DI ACEH

Patung Henricus Christian Verbraak (1835-1918) di taman Maluku kota Bandung.

Patung Henricus Christian Verbraak (1835-1918) di taman Maluku kota Bandung.

HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH

Henricus Christian Verbraak (1835-1918) diutus oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda ke Aceh. Pada tanggal 29 Juni 1884, melakukan pelayanan gereja katolik di Aceh dan tinggal hingga 23 Mei 1907.

Walaupun kala itu Aceh sedang dilanda perang, Verbraak tetap melaksanakan tugasnya dengan penuh pengabdian. Sampai tahun 1877, dia harus tinggal di sebuah gubuk sederhana yang sekaligus menjadi tempat pelayanannya.

Tahun 1877, pemerintah Belanda memberikan tanah yang sebelumnya dirampas milik Sultan Aceh pada tahun 1874 sebagai pampasan perang untuk membangun kapel dari kayu di pinggir Krueng Aceh (Sungai Aceh) yang juga disebut Pante Pirak. Namun, daerah tersebut ketika sering dilanda banjir sehingga bangunan itu tidak tahan lama.

Gereja pertama di Aceh 1874

Gereja pertama di Aceh 1874

Penguasa militer saat itu, Van der Heyden, yang mengetahui masalah ini memberikan izin untuk mendirikan bangunan yang lebih layak dan dimulailah pembangunan gereja dan pastoran baru yang mulai dilaksanakan pada 5 Februari 1884. Gereja dengan menara tersebut, dibangun dari kayu yang berkualitas bagus dan lebih kuat dari sebelumnya.

Baca: Gereja Pertama di Aceh

Hari terakhirnya di Aceh menjadi terakhir kalinya Verbraak merayakan Ekaristi bersama umat di Gereja Hati Kudus Yesus Banda Aceh yang sekaligus menjadi acara perpisahannya. Dia kembali lagi ke dengan kapal laut Padang dengan kereta api dari Kutaradja (Banda Aceh sekarang) ke pelabuhan Ulee Lheue.

Sepeninggal Verbraak, umat katolik yang terkenang mendirikan patung Pastor Verbraak di Simpang Pante Pirak dan Peunayong, dekat gerejanya. Simpang itu sekarang dikenal dengan nama Simpang Lima Banda Aceh. Ketika Jepang mendarat pada tahun 1942 rakyat Aceh menghancurkan patung tersebut karena dianggap sebagai lambang kolonialisme Belanda.

Satu tahun kemudian, pada Hari Raya Paskah, gereja tersebut mulai digunakan. Gereja ini menjadi Gereja Katolik pertama di Aceh dan setelah mengalami perombakan pada tahun 1924, masih tetap berdiri hingga saat ini.

Pada tahun 1918 pemerintah kolonial Hindia Belanda membuat patung Verbraak di taman Maluku Bandung atas jasanya sebagai pastur katolik yang telah melakukan pelayanan gereja di Aceh, Padang dan Yogyakarta. Verbraak sendiri tidak pernah menginjakkan kakinya di bumi Pasundan. Patung Verbraak di kota Bandung masih berdiri tegak sampai hari ini.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  2. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  3. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  5. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  6. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  7. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  8. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  9. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  10. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  11. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  12. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  13. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  14. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  15. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  16. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  17. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  18. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  19. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  20. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  21. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  22. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  23. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  24. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  25. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  26. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  27. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  28. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  29. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  30. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  31. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  32. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  33. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  34. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  35. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  36. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  37. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  38. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  39. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  40. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  41. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  42. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  43. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  44. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  45. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  46. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  47. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  48. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  49. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  50. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  51. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  52. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  53. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  54. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  55. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  56. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  57. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  58. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  59. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI

Lukisan Istanbul, ibu kota Turki Ustmani pada tahun 1860.

Lukisan Istanbul, ibu kota Turki Ustmani pada tahun 1860.

KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI

Pembukaan Terusan Suez dan Hubungannya dengan Perang Aceh.

Terusan Suez selesai 1869, dengan dibukanya Terusan Suez pulau Sumatera menjadi lebih penting artinya karena lalu lintas pelayaran dari Eropa ke Asia Timur tidak lagi melalui selatan yaitu Selat Sunda, tetapi melalui jalur Aden (Yaman) – Kolombo (Ceylon/Sri Langka) melalui Selat Malaka. Timur pulau Sumatera telah jatuh pada pengaruh Belanda, tapi di utara Sumatera, yaitu Aceh masih berdaulat. Belanda merasa bahwa kedaulatan Kesultanan Aceh akan menyebabkan kesulitan di kemudian hari yang melemahkan kekuatan kolonial di Hindia Belanda secara diplomatis dan politik.

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Posisi strategis Kesultanan Aceh Darussalam membuat Belanda merasa perlu segera menancapkan kekuasaan di Utara Sumatera sebelum ada kekuatan lain ikut campur. Ketika Sultan Mansyur Syah (Alaudddin Ibrahim Mansyur Syah) sebagai Sultan terkuat Aceh di abad ke-19 meninggal dunia pada tahun 1870. Belanda berpikir sudah saatnya Aceh ditaklukkan.

Misi Diplomatik Aceh ke Turki Ustmani pada tahun 1868 Masehi.

Kesultanan Aceh yang telah mengetahui rencana pembukaan Terusan Suez mengirimkan perutusan ke Istanbul memohon kepada Khalifah yaitu Sultan Turki agar menjadi pelindung Negara Islam Aceh sebagai kekuasaan tertinggi dunia Islam.

Bendera Aceh koleksi Rijksmuseum

Bendera Aceh koleksi Rijksmuseum

Kesultanan Turki Ustmani ketika itu dalam keadaan tidak berdaya, apalagi untuk menambah masalah baru dalam hubungan dibukanya Terusan Suez. Kekuasaan Turki di Mesir telah melemah akibat pertentangan dengan Inggris dan Perancis. Pada akhirnya pembangunan Terusan Suez disabotase oleh Inggris pada detik-detik terakhir.

Pada tahun 1867 Masehi Sultan Abdul Hamid naik tahta. Di kemudian hari ia mencoba memperkukuh kekuasaan sultan dengan memberikan perhatian besar kepada Kekhalifahan Turki Ustmani sebagai pusat dunia Islam sehingga kelak gerakan Pan-Islam memperoleh kemajuan di semua Negara muslim sebagai bentuk nasionalisme awal.

Habib Abdurrahman Az Zahir menggagas, penggalang, dan sekaligus pelaksana mewakili 60 bangsawan Aceh untuk meminta bantuan Turki melawan ancaman agresi Belanda. Tapi tahun 1868, Kesultanan Aceh Darussalam masih jauh. Perutusan Aceh ditolak, tapi Aceh akan kembali. Habib kembali dengan hasil yang kurang memuaskan, hanya mendapatkan surat dukungan dari Sharif Mekkah dan Pasya Madinah.

Traktat Sumatera atau Perjanjian Sumatera tahun 1871 Masehi.

Untuk memperlancar rencana Belanda memperluas wilayah di Pulau Sumatera, pada tahun 1871 Masehi Belanda berhasil membujuk Inggris untuk menandatangani Traktat Sumatera (Perjanjian Sumatera 1871). Traktat tersebut mengakhiri klaim Inggris atas pulau Sumatera. Membatalkan Traktat London tahun 1824 Masehi dimana kemerdekaan Kesultanan Aceh dijamin. Perjanjian Sumatera memberikan kebebasan kepada Belanda di perairan Selat Malaka sekaligus memberikan kewajiban untuk menumpas segala pemberontakan kepada kekuatan Eropa. Sebagai imbalannya Belanda memberikan Inggris wilayah jajahan di Afrika Barat yang bernama Pantai Emas (sekarang Ghana) dan hak perdagangan yang setara di wilayah Kesultanan Siak.

Perundingan Traktat Sumatera antara Inggris dan Belanda pada tahun 1871 Mesehi.

Perundingan Traktat Sumatera antara Inggris dan Belanda pada tahun 1871 Mesehi.

Traktat Sumatera ditandatangani pada tanggal 2 November 1871 Masehi antara Kerajaan Britania Raya dengan Kerajaan Belanda dengan perincian:

  1. Pasal I: Kerajaan Britania Raya (Inggris) tidak mengajukan keberatan atas perluasan dominasi Belanda terhadap pulau Sumatera dan juga membatalkan kesepakatan dalam Traktat London tahun 1824;
  2. Pasal II: Kerajaan Belanda menyatakan bahwa perdagangan dan pelayaran Kerajaan Britania Raya (Inggris) boleh dilakukan, begitupula terhadap seluruh kesultanan di Sumatera yang dapat bertanggung jawab kepada Belanda.

Sebagai bentuk respon terhadap Traktat Sumatera Belanda mengirimkan sebuah kapal perang ke Aceh dibawah pimpinan kontrolir Pemerintahan Dalam Negeri E.R. Krayenhoff untuk bernegoisasi dengan sultan Aceh dengan tawaran melakukan tekanan. Aceh ditawarkan mengakui kekuasaan Belanda dan dimasukkan ke dalam wilayah pabean Hindia Belanda dengan imbalan kesultanan Aceh tetap merdeka dan mempunyai pemerintahan sendiri.

Krayenhoff mengadakan pertemuan dengan Habib Abdurrahman Az-Zahir, seorang Arab, yang ketika itu memangku jabatan sebagai Wazir (Perdana Menteri). Menurut laporan Krayenhoff ke Batavia. Abdurrahman dengan angkuh mengemukakan hubungan dengan Turki, Inggris, Perancis dan banyak Negara lain. Menurut Belanda ini merupakan tindakan yang tidak pantas, apabila sebuah kesultanan pribumi bersikap angkuh kepada para wakil gubernur jenderal. Hal ini juga tidak sesuai kenyataan karena Inggris telah memperbarui perjanjian dengan Belanda yaitu Traktat Sumatera dan Turki sendiri bukanlah Negara kuat lagi, Belanda optimis meskipun Aceh meminta bantuan Turki, tentu hasilnya masih sama sikapnya dengan tahun 1868 Masehi.

Misi Diplomatik Aceh ke Turki Ustmani pada 1873 Masehi.

Menyadari dalam ancaman invasi oleh Belanda, dan terlihat jelas bahwa Kesultanan Aceh akan diserang. Sultan Aceh kembali mengutus Habib Abdurrahman Az-Zahir untuk kembali meminta bantuan Turki.

Habib (Sayid) Abdul Rahman bin Muhammad al-Zahir (1832-1986 Masehi); lahir di Hadhramaut, menuntut ilmu di Mesir dan Kalkuta, berkelana ke Asia Tenggara. Tiba di Singgapura pada tahun 1862 Masehi, untuk bekerja pada Sultan Johor. Tiba di Aceh pada 1864 Masehi dan mencapai puncak karir. Menjadi perdana menteri (mangkubumi) dan menjadi kepala perutusan sultan Aceh untuk melakukan misi diplomatik ke Turki Ustmani. Ketika Perang Aceh terjadi menyerah dan dikirim ke Jeddah pada tahun 1878 Masehi. Menghabiskan sisa umur di Arabia sampai kematiannya pada 1896 Masehi.

Habib (Sayid) Abdul Rahman bin Muhammad al-Zahir (1832-1986 Masehi); lahir di Hadhramaut, menuntut ilmu di Mesir dan Kalkuta, berkelana ke Asia Tenggara. Tiba di Singgapura pada tahun 1862 Masehi, untuk bekerja pada Sultan Johor. Tiba di Aceh pada 1864 Masehi dan mencapai puncak karir. Menjadi perdana menteri (mangkubumi) dan menjadi kepala perutusan sultan Aceh untuk melakukan misi diplomatik ke Turki Ustmani. Ketika Perang Aceh terjadi menyerah dan dikirim ke Jeddah pada tahun 1878 Masehi. Menghabiskan sisa umur di Arabia sampai kematiannya pada 1896 Masehi.

Habib Abdurrahman Az-Zahir memiliki intelektualitas tinggi, memahami keadaan, memiliki kemampuan berargumen dan meyakinkan orang, fasih berbagai bahasa dan memiliki hubungan darah dengan Syarif Mekkah, didukung oleh para pedagang dan memiliki pergaulan luas terutama di kalangan elit politik, serta yang paling penting dikenal luas di Turki.

Ketika agresi Belanda pertama di Aceh pada tahun Maret 1873 perjalanan utusan Aceh yaitu Habib Abdurrahman Az-Zahir dan Nyak Abbas baru tiba di Mekkah. Akhir April 1874 mereka bergegas menuju Istanbul, setibanya mereka di Turki mereka mendapatkan informasi bahwa Belanda telah gagal menaklukkan Aceh pada perang pertama.

Ketika Habib Abdurrahman Az-Zahir berhasil mencapai Turki, ia terus mengetuk pintu Turki Utsmaniyah. Ia tidak berhasil menghadap sultan Turki, tindakannya mengesankan Belanda yang memantau melalui jaringan mata-mata.

Habib Abdurrahman membawa tiga dokumen yang didalamnya menyatakan bahwa:

  1. Sultan Aceh menyerahkan kerajaannya, kawulanya, serta dirinya sendiri kepada khalifah;
  2. Memohonkan kepadanya agar menguasai harta miliknya serta mengangkat (hanya) seorang Komisaris Pemerintah Turki di Aceh.
  3. Pendapatan kerajaan dari cukai lada yang dimiliki oleh Sultan Aceh dirinci dengan teliti. Segala-galanya dilengkapi menurut selayaknya dengan cap Sultan tujuh rangkap serta tiada diragukan keasliannya.

Kerajaan Aceh memohon agar menjadi Vasal Turki Ustmani.

Kerajaan Aceh berusaha agar Turki membantu sebagai khalifah dunia Islam. Utusan Aceh menawarkan kedudukan Aceh sebagai bagian dari persemakmuran (Vassal State) bagian dari Turki Ustmani.

Permohonan Aceh menjadi vazal Turki Ustmani mendapat tanggapan positif dari masyarakat Turki. Media masa, ulama dan kaum nasionalis. Pers Turki yang memiliki jaringan media di Eropa memberikan perhatian yang cukup besar serta mendukung perlunya Turki mengirimkan bantuan ke Aceh. Hubungan antara Aceh dan Turki telah berlangsung lama. Bahkan muncul isu bahwa Turki akan mengirimkan 8 kapal perang ke Aceh.

Peta Kerajaan Aceh tahun 1665 Mesehi, koleksi Nationaal Archief, Pelukis Johannes Vingboons.

Peta Kerajaan Aceh tahun 1665 Mesehi, koleksi Nationaal Archief, Pelukis Johannes Vingboons.

Kabinet Turki cenderung menghindar membahas isu Aceh, ketika kubu nasionalis mengingatkan Turki perlu melindungi Aceh terkait dengan dokumen lama bahwa Aceh telah menjadi protektorat Turki sejak tahun 1500-an dan telah memperbaharui perjanjian tersebut pada tahun 1850. Pihak kabinet Turki menyatakan bahwa itu hanya dokumen keagamaan tanpa makna politik. Pihak Inggris dan Negara Eropa lainnya menyatakan dokumen itu tidak berlaku karena Turki tidak pernah mengumumkan kesepakatan itu sebelumnya. Permohonan Aceh ketika itu didukung oleh Midhat Pasya yang menjabat Menteri Kehakiman.

Posisi Turki di dunia ketika itu sedang merosot tajam. Atas dasar ini Turki meminta pertimbangan Inggris. Inggris menyebutkan bahwa Turki lebih baik bersikap netral dengan alasan:

  1. Turki tidak memiliki kepentingan di Aceh, apabila membantu Aceh maka Turki akan mendapat kerugian politik di Eropa dan Asia kecil;
  2. Perang Aceh-Belanda bukan perang agama;
  3. Perang Aceh sudah terlanjur pecah sehingga peran Turki tidak efektif dan etis. Belanda pasti akan melakukan agresi kedua sebagai balasan kekalahan pada agresi pertama.

Perancis, Rusia dan Jerman memberikan pertimbangan yang sama dengan Inggris. Ketika Jerman mengancam tidak akan menjual kapal perang ke Turki kabinet Turki menjadi lemah dan tunduk. Ketika itu Turki sedang mengalami pergolakan terutama di kawasan Balkan dan Yunani.

Turki Ustmani menolak permohonan Aceh menjadi Vasal.

Permintaan Aceh ditolak setelah melalui rapat dewan menteri (Majlis-i-Vukela) dengan catatan bahwa meskipun pernah ada hubungan baik antara dua Negara, tapi itu tidak cukup meyakinkan untuk mengabulkan permintaan Aceh. Ketika Turki telah membuat keputusan atas permohonan Aceh, maka kehadiran Habib Abdurrahman Az-Zahir menimbulkan suasana politik kurang nyaman di Turki. Pemerintah Turki meminta Habib segera meninggalkan Turki dan sekedar basa-basi memberikan penghargaan kelas dua “Osmanie” dan menitipkan sepucuk surat dari Vazir (Perdana Menteri) Turki berisi ringkasan-ringkasan upaya Turki untuk membantu Aceh.

Jawaban Turki cukup jelas. Menurut laporan ke Pemerintah Belanda, ketika duta besar Belanda untuk Turki Heldewier berkunjung kepada Menteri Turki Khalil Pasya. Pejabat tinggi kekhalifahan ini berucap dengan menenangkan pihak Belanda: “Kami sama sekali tidak mempedulikan segala pengaduan raja-raja biadab macam ini!” (‘Ces princes sauvages’)

Belanda, dibantu Rusia, Perancis, Jerman dan Inggris berhasil menekan Turki. Dan akhirnya Istambul lepas tangan terhadap nasib Aceh, mereka berkata, “Kami tidak ada urusan dengan bangsa barbar seperti itu.” Menjaga nama baik mereka mengeluarkan nota diplomatik pada bulan Agustus 1873. “Bahwa Belanda dibolehkan campur tangan yang menginginkan perdamaian dan bersifat kemanusiaan yang menguntungkan Aceh.” Belanda memperoleh kemenangan diplomatik penting, dan segera mengesampingkan nota tersebut.

Pada tanggal 18 Desember 1873 Masehi, Habib Abdurrahman Az-Zahir meninggalkan Turki. Tidak semua impian Kekhalifan berakhir indah. Ketika Kekhalifahan Turki memilih tidak menolong Aceh, maka Kesultanan Aceh-lah yang dapat menolong dirinya sendiri.

Habib Abdurrahman Az-Zahir menyerah kepada Belanda pada tahun 1878 Masehi bersama dengan 20 orang pengikut. Ia memperoleh uang tahunan sebesar sepuluh ribu ringgit Spanyol seumur hidup.

Habib Abdurrahman Az-Zahir menyerah kepada Belanda pada tahun 1878 Masehi di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) bersama dengan 20 orang pengikut. Ia memperoleh uang tahunan (pensiun) sebesar sepuluh ribu ringgit Spanyol seumur hidup.

XXX

Baca kisahnya di: Risalah Sang Durjana Bagian Empat Belas

XXX

DAFTAR PUSTAKA

  1. Erven Paul Van ‘T Veer; De Atjeh-Oorlog; Uitgeverij De Arbeiderspers / Wetenschappelijke Uitgeverij; 1979;
  2. M. Thamrin Z dan Edy Mulyana; Dua Tokoh Asing di Sekitar Istana: Panglima Tibang & Habib Abdurrahman El Zahir; Cetakan Pertama; Penerbit PENA; Banda Aceh; 2016;
  3. Nino Oktorino; Nusantara Membara Perang Terlama Belanda Kisah Perang Aceh 1873-1913; Cetakan Pertama; Penerbit PT Elex Media Komputindo; Jakarta; 2018;
  4. Paul Van ‘T Veer; Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje; Cetakan Pertama; PT. Temprint; Jakarta; 1985;
  5. Woltring; Duta Belanda di Istambul tentang Khalif;

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  2. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  3. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  5. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  6. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  7. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  8. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  9. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  10. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  11. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  12. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  13. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  14. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  15. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  16. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  17. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  18. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  19. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  20. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  21. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  22. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  23. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  24. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  25. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  26. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  27. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  28. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  29. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  30. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  31. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  32. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  33. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  34. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  35. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  36. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  37. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  38. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  39. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  40. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  41. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  42. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  43. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  44. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  45. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  46. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  47. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  48. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  49. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  50. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  51. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  52. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  53. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  54. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  55. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  56. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  57. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  58. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  59. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

ARAH PENUNGGANG ZAMAN

Kucing memanjat atap rumah.

ARAH PENUNGGANG ZAMAN

Arah zaman sulit ditebak, begitu pula penunggang zaman.

Tubuh setiap makhluk ibarat semesta, sel-sel membawa data. Tubuh kita membawa catatan sejarah, apa-apa yang pernah dialami, pernah terkena penyakit apa dan bisa mengeluarkan imun apa. Sebagaimana peradaban manusia (juga) berkembang dengan apa yang dihadapi. Perbenturan dan pergesekan justru mendewasakan meski sempat membuat terluka.

Bagi mereka yang dilahirkan sebelum tahun 1990-an maka tahun-tahun di atas 2020-an adalah tahun-tahun yang berbeda sama sekali. Ada banyak merupakan cara-cara lama menjadi tidak berlaku lagi.

Pintu informasi benar-benar terbuka lebar untuk siapapun dan di mana pun. Dahulu ketika ingin mencari informasi kita harus ke perpustakaan atau harus bertanya kepada yang ahli. Sekarang kita tinggal mencari informasi tentang hal tersebut melalui internet. Banyaknya informasi yang tersebar di internet membuat arus data menjadi terdistorsi, terlalu banyak pilihan sehingga bisa jadi si pengguna mengambil informasi yang belum tentu benar.

Kebebasan berekspresi juga tanpa batas dengan sosial media sebagai corongnya. Masalah lokal bisa menjadi global melintasi batas-batas yang tak terbayangkan sebelumnya. Lucunya ketika informasi melintas tanpa batas justru media sosial membagi orang-orang secara sikap berbatas.

Keadaan ini bukan tanpa hal yang baik, generasi yang lahir setelah tahun 2000-an memiliki kecerdasan yang unik, berbeda dengan generasi sebelumnya. Contoh baiknya adalah generasi muda ini lebih mencintai kopi daripada bir. Kemampuan menguasai banyak ketrampilan (pekerjaan tangan) sebagaimana generasi sebelumnya digantikan dengan kemampuan berteknologi.

Mungkin bagi sebagian orang (dari generasi sebelumnya) memandang sebelah mata pada generasi Z (sosial media) ini namun terkadang anak-anak baru ini (generasi tiktok dan instagram) mampu mengejutkan generasi facebook (atau Friendster?) dan sebelumnya.

Bayangkan anda seorang yang berumur 36 tahun dan dikalahkan dengan mudah seorang anak muda berumur 18 tahun dalam lintasan lari. Dikalahkan oleh orang-orang muda bagi sebagian besar adalah penghinaan terutama oleh mereka yang jarang kalah. Sebenarnya kalah apa salahnya?

Covid-19 telah menguncangkan zaman ini, ada banyak perilaku yang berubah serta merta. Ada hal-hal yang dulu dianggap hebat menjadi biasa saja, begitupun sebaliknya. Zaman berubah ke arah yang berbeda begitupun manusia. Ada yang bilang manusia tidak pernah berubah sepenuhnya. Memang ada pertambahan atau pengurangan pengetahuan, kemampuan ataupun pengalaman. Tapi perasaan tidak pernah berubah sepenuhnya.

Akh, bicara tentang perasaan ternyata sudah lama Abu tidak berpuisi.

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Dipublikasi di Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO)

Cut Meuligou atau Nyak Mahligai dari Rigaih Salah satu istri Teuku Umar yang ditangkap, dalam penahanan kolonial Belanda di sisi timur Pulau Raya pada tahun 1894, di pantai barat Aceh; Sumber KITLV.

Cut Meuligou atau Nyak Mahligai dari Rigaih Salah satu istri Teuku Umar yang ditangkap, dalam penahanan kolonial Belanda di sisi timur Pulau Raya pada tahun 1894, di pantai barat Aceh; Sumber KITLV.

SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO)

Penduduk asli negeri Daya

Dahulu kala di hulu Krueng Daya (Sungai Daya) ada sebuah dusun bernama Lhan Na sekarang disebut Lamno, ketika dusun itu dihuni orang-orang liar belum beragama. Mereka diduga berasal dari bangsa Lanun, orang Aceh menyebut “lhan”, atau bangsa Samang yang datang dari Semenanjung Malaka atau Hindia Belakang, Burma dan Champa, diduga memiliki hubungan dengan bangsa Mongolia yang datang dari kaki bukit Himalaya.

Penduduk penghuni di hulu sungai Daya itu bercampur dengan orang-orang baru yang datang, karena percampuran peradaban mereka bertambah maju. Sejak kedatangan orang-orang Aceh Besar (Lamuri) dan Pasai orang-orang di pesisir negeri Daya berangsur-angsur masuk agama Islam.

Asal nama Negeri Daya

Pada pertengahan abad ke-15 Masehi terjadi perang antara Raja Pidie melawan Raja Pasai, terjadi pemberontakan oleh Raja Nagor bekas pahlawan Pasai yang dihukum. Dalam pertempuran itu Raja Pasai kalah, Sultan Haidar Bahiyan Syah tewas, singgasana Pasai dirampas oleh Raja Nagor Pidie pada tahun 1417. Sejak saat itu Raja Nagor memerintah negeri Pasai, terdapat banyak pertentangan dengan keturunan keluarga Sultan Pasai sehingga banyak yang dibunuh. Beberapa keturunan keluarga Pasai menghindarkan diri pergi mencari dan membuka negeri baru, salah seorang sampai ke Daya. Negeri ini dinamakan berdasarkan kejadian ini, Daya itu bermakna tidak berdaya lagi, telah habis dan cukup banyak usahanya.

Pantai di Daya, dilihat dari Lamno di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 1926; Sumber KITLV.

Pantai di Daya, dilihat dari Lamno di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 1926; Sumber KITLV.

Pantai di Daya, dilihat dari gunung Geurutee di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 2020.

Pantai di Daya, dilihat dari gunung Geurutee di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 2020.

Menurut cerita oral bahwa pada zaman itu (dahulu) ketika turunan Raja Pasai atau orang yang (akan) menjadi raja sampai di Kuala Daya, perahunya kandas. Semua isi perahu dikeluarkan dan semua orang turun untuk menarik perahu namun tetap kandas. Maka pemimpin mereka menyebut sudah cukup usaha tenaga dan daya upaya, tetapi tidak berhasil. Mereka merasa “Tidak Berdaya” dan mereka mendirikan pemukimam di Kuala Daya, kemudian negeri itu dinamakan “Tidak Berdaya”. Lama-lama menyebut nama “Tidak Berdaya” itu dengan “Daya” saja. Menurut cerita lain bahwa Raja Daya pertama adalah keturunan Raja Aceh yang mengasingkan diri kemudian membuka negeri karena berselisih dengan saudaranya.

Asal nama Negeri Lamno

Ketika Raja Daya melakukan ekspedisi ke hulu Sungai Daya untuk memeriksa penduduk negeri dan sampai ke tempat yang sekarang terletak di Peukan Lamno (Pasar Lamno). Disana didapati penghuni kampung yang mirip orang Lanun dari Malaya atau Hindia Belakang. Orang lanun disebut orang Aceh disebut orang Lhan. Orang Lhan masih liar, belum berpakaian kain, pakaiannya dari kulit kayu dan kulit binatang yang tipis. Orang Lhan adalah penduduk yang sudah ada di situ, maka disebut “Lhan Kana” atau “Lhan Na” artinya orang Lhan sudah ada di situ. Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam disebut dengan “Lam Na” dan ketika Belanda datang ucapan berubah menjadi “Lam No” dalam sebutan serdadu-serdadu marsose dari suku Jawa yang menyebut Lanno.

Salah satu negeri kerajaan Daya adalah Negeri Keuluang, pemimpinnya disebut Raja Keuluang terdiri dari empat daerah:

  1. Keuluang;
  2. Lam Beusoe;
  3. Kuala Daya;
  4. Kuala Unga.

Adapun Kuala Lam Beuso asalnya karena dahulu pada suatu waktu ada perahu yang berisi besi muatannya sedang didayung terbenam di kuala, sebab itulah nama Kuala Lam Beuso, kemudian berubah menjadi Lam Beuso saja.

Sejarah Sultan Meureuhom Daya

Menurut pemeriksaan Hussein Djajadiningrat Sultan Meuruhom Daya meninggal tahun 1508 Masehi. Sultan Meureuhom Daya aslinya bernama Uzir anak Sultan Inayat Syah bin Abdullah al-Malikul Mubin yang bersaudara dengan Sultan Muzaffar Syah raja di Aceh Besar, dan bersaudara juga dengan Munawar Syah raja di Pidie. Diyakini bahwa negeri Keuluang Daya didirikan pada akhir abad ke-15 Masehi oleh Meureuhom Daya atau Meureuhom Unga.

Negeri Daya menjadi maju dibawah pemerintahan Sultan Meureuhom Daya bertambah maju dengan pertanian merica atau lada, banyak didatangi oleh para saudagar Arab, Tiongkok dan Pegu. Pada abad ke-16 Masehi datanglah orang Belanda, Inggris, Perancis dan lain.

Asal Keturunan Portugis atau Dara Portugis di Lamno

Menurut sahibul hikayat ketika armada Portugis dibawah pimpinan Alfonso Alberqueque hendak menaklukkan kota Malaka tahun 1511 Masehi, Raja Portugis mengirimkan pasukan bantuan tapi pasukan tersebut tidak pernah sampai karena terdampat di pesisir Barat Aceh tepatnya kota Lamno, Aceh dan kehilangan kontak dengan pasukan induknya di Goa (India) pusat koloni Portugis di Timur Jauh maupun dengan pasukan Portugis di Malaka, Mereka segera ditawan oleh Sultan Meureuhom Daya untuk mengembangkan armada. Riwayat menerangkan di hulu Kuala Lam Beusoe dahulu banyak ahli teknik membuat kapal-kapal besar seperti Top, Sekuna, Jong, dan Ghali (kapal perang model kapal perang Spanyol/Portugis), pembuatan meriam dan mesiu untuk keperluan perang dan pengkutan bahan-bahan perang.

Dara Portugis yang melegenda kecantikannya.

Daerah Daya ini paling banyak tinggal peranakan dari bangsa Portugis di Aceh sampai sekarang. Perawakan mereka kulitnya putih (jagat), badannya tegap dan matanya biru seperti kebanyakan bangsa Eropa. Masyarakat Aceh menyebut mereka suku mata biru, setelah tsunami Aceh tahun 2004 jumlah mereka menjadi semakin sedikit. Para perempuan dari keturunan Portugis disebut dengan julukan kondang “Dara Portugis” bahkan banyak para pemuda dari Aceh maupun luar Aceh mencari jodoh ke pesisir Barat, siapa tahu dapat mempersunting “Dara Portugis” tersebut.

Legenda Harimau Daya atau Rimueng Daya

Ada sebuah dongeng lama, kisah ini diwarisi dari waktu pra-Islam menceritakan, di bagian Kerajaan Daya (Kabupaten Aceh Jaya sekarang) ada sebuah wilayah bernama Lhok Kruet. Di wilayah ini ada orang kampung biasa yang malam harinya menjadi harimau. Atau disebut dengan julukan Rimueng Daya (Harimau Daya)

Menurut legenda orang-orang yang mampu berubah ini tidak memiliki filtrum atau bahasa latinnya philtrum, atau oreng. Yaitu lekukan vertikal di bagian tengah bibir atas. Pada umumnya setiap mamalia memilikinya, yang memanjang dari bawah hidung sampai ke bibir atas.

XXX

Video Ziarah ke Makam Sultan Meureuhom Daya

DAFTAR PUSTAKA

  1. Zainuddin; Tarikh Aceh dan Nusantara; Lembaga Studi Kebudayaan dan Pembangunan Masyarakat; Cetakan kedua; Banda Aceh tahun 2012;
  2. A. Dr. Hussain Djajadiningrat; Atjehsch Nederland Woordenboek; Landsdrukkerij; Batavia; 1934;
  3. Cerita yang didapat dari Teuku Raja Adian bekas Uleebalang (Zelfbestuurder) Kerajaan Daya yang terakhir tahun 1945;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  2. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  3. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  4. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  5. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  6. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  7. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  8. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  9. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  10. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  11. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  12. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  13. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  14. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  15. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  16. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  17. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  18. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  19. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  20. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  21. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  22. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  23. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  24. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  25. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  26. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  27. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  28. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  29. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  30. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  31. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  32. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  33. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  34. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  35. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  36. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  37. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  38. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  39. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  40. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  41. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  42. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  43. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  44. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  45. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  46. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  47. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  48. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  49. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  50. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  51. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  52. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  53. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  54. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  55. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  56. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  57. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  58. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  59. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE

Peta Negeri Pidie oleh Belanda sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

Peta Negeri Pidie oleh Belanda sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE

Sejarah Purba Negeri Pidie

Kerajaan Pedir atau negeri Pidie pada zaman purba memiliki perbatasan dari Kuala Batee sampai Kuala Ulim meliputi Meureudu. Nama Pidie sendiri tidak diketahui dari mana asalnya. Bangsa Portugis menyebut dengan Pidir (Pedir) kemudian bangsa Cina menyebut negeri ini dengan Poli.

Menurut ahli sejarah, di Sumatera Utara pada zaman purbakala terdapat beberapa kerajaan antara lain:

  1. Kerajaan Aru (Haru) yang luasnya dari Tamiang sampai Rokan;
  2. Kerajaan Peureulak dari Bayeun sampai ke Kuala Idi;
  3. Kerajaan Samudera-Pasai dari Kuala Jambo Aye sampai Kuala Ulim;
  4. Kerajaan Pedir (Pidie) yang kita sebut diatas dari Kuala Ulim sampai Kuala Batee;
  5. Kerajaan Aceh (Lamuri) dari Kuala Batee sampai Kuala Keuluang;
  6. Dan terakhir pada abad ke-15 Masehi berdiri kerajaan Daya.

Kerajaan Poli (Pedir/Pidie) menurut berita Tiongkok

Pada masa dinasti Liang berkuasa di kerajaaan Lamuri pada abad ke-5 tepatnya tahun 413 Masehi, seorang musafir bernama Fa Hin (Fa Hian) melawat ke Jeep Po Ti singgah di Sumatera bagian Utara, diantaranya dia singgah di Poli (Pidie). Disebutkan negeri Poli luasnya 100×200 mil, dengan 50 hari perjalanan dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan 20 hari perjalanan, terdiri dari 136 desa (gampong) yang makmur dan orang pribumi menanam padi dua kali setahun.

Fa Hin menulis dalam laporannya bahwa cara pertanian negeri Poli sama dengan Persia (Iran) dan India di sekitar lembah sungai Indus dan sungai Gangga. Negeri Poli juga memelihara ulat sutera dan kain buatannya ditenun sendiri seperti negeri Syam (Damsyik) atau Suria (orang Aceh menyebutnya dengan Surien). Raja memakai kain sutera, orang-orang peukan (pesisir) telah memakai kain, sedangkan orang udik masih memakai kulit kayu (cawat), pelita atau ketaja pada damar. Mereka telah tahu cara berternak kambing dan dilihatnya nelayan. Raja Poli ketika itu beragama Budha. Raja Poli pada tahun 518 Masehi mengirimkan utusan ke Tiongkok untuk perkenalan dan hubungan diplomatik dengan Kaisar Cina.

Fa Hin menceritakan negeri Poli adalah sangat makmur, rajanya mengendarai gajah bermahkota emas dan berpakaian kain sutera. Pelabuhan Poli terletak dalam satu teluk yang genting di Kuala Batee.

Pada tahun 671 Masehi seorang Tiongkok lain I Tsing mengunjungi pesisir Aceh antara lain Samudera, Poli, Lamuri dan lain-lain. Dia tinggal 5 bulan lamanya disini. Pada masa kunjungannya I Tsing menceritakan bahwa para anak negeri (penduduk pedalaman) di kerajaan Peureulak, Samudera-Pasai, Poli, Lamuri dan Dagroian masih liar.

Kerajaan Pedir (Pidie) menurut berita Arab/Persia

Pada abad pertama Islam (tahun 82 H atau 717 M) sebuah ekspedisi dikepalai Zahid melakukan pelayaran ke Tiongkok. Kafilah berangkat dari Teluk Ajam-Parsi berkumpul di Kandi (Ceylan/Sri Langka), kemudian membagi armada menuju Canton (Tiongkok), ada pula yang ke Malaya, Kedah, Siam, Champa (Kamboja/Vietnam), Annam (India belakang), Jawa, Brunai, Makassar, Maluku dan lain-lain untuk mencari rempah-rempah. Ada beberapa kapal yang singgah di Aceh sebelum bertolak ke Canton.

Ekspedisi bangsa Arab/Persia kedua terjadi pada tahun 724 Masehi, kapal-kapal itu ke pesisir Aceh untuk membeli emas, perak, kapur barus, kemenyan, cendana. Pada masa itu mereka membawa bibit lada dari Madagaskar untuk dikembangkan di tanah Aceh.

Benteng Pidie terletak di Timur Ibu kota Aceh sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

Benteng Pidie terletak di Timur Ibu kota Aceh sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

Dalam Tarikh Arab lain disebut bahwa pada tahun 322 H / 950 M, orang Arab telah singgah di Rami (Lamuri) yang tak jauh dengan pelabuhan Poli (Pidie), dan sejak itu orang Arab dan Persia semakin ramai mengunjungi Sumatera (Nusantara). Hal itu karena tanah Pidie sangat subur untuk padi, dan merica (lada) paling baik kualitasnya. Lada Pidie bahkan disebut dengan “berat lada Pidie” maksudnya dari semua jenis lada yang diperdagangkan orang Arab, tidak terlawani kualitas jenis lada yang asalnya dari negeri Pidie.

Negeri Pedir (Pidie) berdasarkan Laporan Bangsa Portugis

Dalam riwayar Portugis diterangkan, sebelum mereka datang pada tahun 1509 Masehi. Kerajaan Aceh (Aceh Besar) takluk kepada Raja Pidie, tapi waktu itu mereka dalam keadaan perang. Mula-mula Pidie dikalahkan oleh raja Aceh (Besar) yaitu sultan Salahaddin ibnu Mussafar Syah dan didudukkan Wali Negara (Gubernur) di Pidie Raja Ali dan adiknya Ibrahim.

Raja Ibrahim atas perintah abangnya kemudian menyerbu benteng-benteng Portugis di Kuala Gigieng. Kemudian dari persenjataan yang dirampas ia menyerang raja Aceh Besar pada tahun 1514 Masehi, dan sultan Salahaddin diturunkan dari tahta. Raja Ali naik tahta dengan gelar Sultan Ali Mughayat Syah dan adiknya Raja Ibrahim menjadi laksamana.

Setelah Aceh (Besar) ditaklukkan, Kerajaan Daya pun menyusul, kemudian kerajaan Pasai dibebaskan dari Portugis dan kerajaan Peureulak dan kerajaan Aru pun taklukkan. Setelah itu Sultan Ali Mughayat Syah memproklamirkan Kesultanan Aceh Darussalam sebagai kesatuan dari kerajaan-kerajaan: Daya, Aceh (Besar), Pidie, Pasai, Peureulak, dan Aru. Kerajaan ini beribukota di Kuta Alam (Banda Aceh). Bangsa Portugis mengirimkan laporan ke Lisabon bahwa kejadian ini terjadi pada rentang waktu 913-928 H atau 1514-1528 M.

Kerajaan Pidie setelah menjadi bagian Kesultanan Aceh Darussalam

Seorang pelawat Portugal, Ludovico di Varthema, yang pernah singgah di Pidie pada akhir abad 15. Ia mencatat pada abad tersebut Pedir, yang masih disebut sebagai negeri Pedir merupakan sebuah negeri maju yang setiap tahunnya disinggahi sekurang-kurangnya 18 sampai 20 kapal asing, untuk memuat lada yang selanjutnya diangkut ke Tiongkok, Cina.

Dari pelabuhan Pedir juga diekspor kemenyan dan sutra produksi masyarakat Pidie dalam jumlah besar. Karena itu pula, banyak pendatang dari bangsa asing yang berdagang ke pelabuhan Pedir. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi warga pelabuhan waktu itu meningkat. Bahkan vartheme menggambarkan, disebuah jalan dekat pelabuhan Pedir, terdapat sekitar 500 orang penukar mata uang asing.

Selanjutnya kerajaan Pidie menjadi sebagai kerajaan otonom di bawah Kerajaan Aceh Darussalam, meskipun begitu peranan raja negeri Pidie tetap diperhitungkan. Bahkan, setiap keputusan Majelis Mahkamah Rakyat Kerajaan Aceh Darussalam, sultan tidak memberi cap geulanteu (stempel halilintar) sebelum mendapat persetujuan dari Laksamana Raja Maharaja Pidie. Maha Raja Pidie beserta uleebalang syik dalam Kerajaan Aceh Darussalam berhak mengatur daerah kekuasaannya menurut putusan balai rakyat negeri masing-masing. Dalam beberapa keadaan raja Pidie atau keturunannya menjadi Sultan Aceh Darussalam.

Berikut silsilah dan daftar raja-raja Pidie:

  1. Maharaja Sulaiman Noer: Anak Sultan Husein Syah;
  2. Maharaha Sjamsu Syah: Kemudian menjadi Sultan Aceh;
  3. Maharaja Malik Ma’roef Syah: Putra dari Maharaja Sulaiman Noer. Mangkat pada tahun 1511 M, dikuburkan di Klibeut di sisi kuburan ayahnya;
  4. Maharaja Ahmad Sjah: Putra Maharaja Ma’roef Syah. Pernah berperang melawan Sulthan Ali Mughayat Syah, tapi kalah. Mangkat pada tahun 1520 M, dikuburkan di Klibeut di sisi kuburan ayahnya;
  5. Maharaja Husain Syah: Putra Sultan Riayat Syah II (Meureuhom Khaa), kemuian menggantikan ayahnya menjadi Sulthan Aceh;
  6. Maharaja Saidil Mukamil: Putra dari Maharaja Firman Syah, kemudian menjadi Sulthan Aceh dari 1589 sampai 1604 M. Ayah dari ibu Sultan Iskandar Muda.
  7. Maharaja  Husain Syah: Putra dari Sulthan Saidil Mukamil
  8. Maharaja Meurah Poli: Meurah Poli Negeri Keumangan dikenal sebagai Laksamana Panglima Pidie yang terkenal dalam perang Malaka (Hikayat Prang Raja Siujud).
  9. Maharaja Po Meurah: Syahir Poli, Bentara IX Mukim Keumangan yang bergelar Pang Ulee Peunaroe. Pengatur negeri Pidie;
  10. Meurah Po Itam : Bentara Kumangan bergelar Pang Ulee Peunaroe;
  11. Meurah Po Puan : Bentara keumangan bergelar Pang Ulee peunaroe;
  12. Meurah Po Thahir : Bentara Keumangan yang terkenal dalam perang Pocut Muhammad (Hikayat Pocut Muhammad) dengan Potue Djemaloy (Sultan Djamalul Alam Badrul Munir) pada tahun 1740 M. Ia mempunyai dua orang saudara: Meurah Po Doom dan Meurah Po Djoho;
  13. Meurah Po Seuman: Pang Ulee Peunaroe dengan nama asli Usman;
  14. Meurah Po Lateh: Pang Ule Peunaroe dengan nama asli Abdul Latif, terkenal dengan sebutan Keumangan Teungeut;
  15. Teuku Keumangan Yusuf: Sudah masuk masa perang Aceh dengan Belanda;
  16. Teuku Keumangan Umar: Uleebalang IX Mukim, Pidie.

Negeri-negeri dibawah Kerajaan Pidie

T.R. Suliman bin T. Sjahbudin Pantee Raja (1903)

T.R. Suliman bin T. Sjahbudin Pantee Raja (1903)

Menurut riwayat, dalam kerajaan Pidie terdapat beberapa negeri (lanschap) yang diperintah oleh Uleebalang yaitu: Mentroe Banggalang, Mentroe Garot, Bentra Ribee, Imum Peutawo Andeu, Mentroe Gampong Aree, Bentara Po Puteh Mukim VIII, Imum Lhok Kaju, Mentroe Meutareum, Mentroe Krueng Seumideun, Bentara Pineung, Bentara Gigieng, Bentara Blang Ratna Wangsa, Panglima Meugoe, Bentara Keumangan, Mentroe Adan, Bentara Seumasat Glumpang Payong, Bentara Blang Gapu (Ie Leubeu), Bentara Gampong Asan, Bentara Nyong, Bentara Putu, Bentara Alue, Keujruen Aron, Keujreun Pecalang Rimba Truseb, Bentara Cumbok, Bentara Titeu, Bentara Keumala, Keujreun Pante Raja, Keujruen Perambat Pangwa dan Keujruen Chik Meureudu. Para Uleebalang ini memerintah negerinya langsung dibawah raja atau Sultan.

Daftar Pustaka

  1. M. Zainuddin; Tarikh Aceh dan Nusantara; Lembaga Studi Kebudayaan dan Pembangunan Masyarakat; Cetakan kedua; Banda Aceh tahun 2012;
  2. Mohammad Said; Aceh Sepanjang Abad Jilid Pertama; P.T. Percetakan dan Penerbitan Waspada; Medan tahun 1981;
  3. Junaidi Ahmad; Pidie Negeri 34 Uleebalang; Bandar Publishing; Cetakan Pertama; Banda Aceh tahun 2020;
  4. William Marsden, F.R.S; Sejarah Sumatera; Penerbit Indoliterasi; Cetakan I; Yogyakarta tahun 2016;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  2. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  3. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  5. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  6. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  7. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  8. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  9. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  10. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  11. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  12. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  13. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  14. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  15. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  16. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  17. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  18. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  19. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  20. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  21. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  22. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  23. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  24. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  25. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  26. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  27. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  28. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  29. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  30. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  31. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  32. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  33. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  34. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  35. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  36. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  37. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  38. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  39. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  40. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  41. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  42. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  43. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  44. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  45. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  46. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  47. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  48. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  49. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  50. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  51. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  52. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  53. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  54. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  55. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  56. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  57. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  58. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  59. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Komentar

SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

SISTEM PERPAJAKAN DAN KEUANGAN KERAJAAN ACEH DARUSSALAM

Pendapatan Kerajaan Aceh Darussalam Pada Masa Puncak Kejayaan

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaan jika diukur dari kemakmuran. Menjadi sebuah kekuatan ekonomi, politik dan pertahanan di kawasan Asia Tenggara. Kemajuan ini tak terlepas dari sumber daya keuangan yang melimpah, dan salah satunya adalah pajak. Pajak diperoleh dari dalam kerajaan antara lain hasil pertanian, peternakan, hasil hutan dan bentuk lainnya sesuai dengan pekerjaan penduduk. Bagi daerah taklukan kerajaan Aceh, pajak diserahkan dalam bentuk upeti yang terdiri dari hasil-hasil pertanian, peternakan, hasil hutan, emas, perak, intan, tembaga dan lain-lain sesuai dengan kekayaan negeri-negeri tersebut.

MATA UANG EMAS KERAJAAN ACEH DARUSSALAM

Pada masa puncak kejayaan kerajaan Aceh menguasai perdagangan di Selat Malaka, salah satu pendapatan yang mendukung kas kerajaan adalah pajak perdagangan ketika kapal-kapal dagang melintasi perairan Aceh dan biaya “charge” berupa pajak yang harus disetorkan kepada Sultan Aceh untuk mendapatkan izin mendarat di Bandar Aceh Darussalam. Untuk pajak perairan dilakukan oleh Orang Kaya Maharaja Lela (Panglima Angkatan Perang), sedangkan pajak di pelabuhan dilakukan oleh Syahbandar sebagai kepala Balai Furdah (Kepala Pelabuhan).

Sumber Keuangan Kerajaan Aceh Darussalam

Seorang petualang kebangsaaan Perancis, Augustin de Beualieu yang berkunjung pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda membagi kepada dua jenis pendapatan kerajaan Aceh yaitu:

  1. Pajak darat yang dibebankan kepada setiap orang yang melakukan usaha di daerah terutama pertanian, peternakan dan penjualan barang dagangan;
  2. Pajak laut antara lain pajak merapat kapal, izin masuk, bongkar muat, cukai melintasi perairan dan perdagangan laut;

Sumber keuangan kerajaan Aceh Darussalam selain pajak adalah surplus neraca perdagangan luar negeri terutama lada dan emas. Hasilnya melimpah karena sultan menguasai tidak hanya komoditi, juga jalur perdagangan. Jika melewati tanpa izin dan terbukti maka kapal-kapal dagang tersebut akan disita dan kekayaannya menjadi milik kerajaan Aceh Darussalam dan akan disimpan pada Baitul Mal (Perbendaharaan Kerajaan).

Aceh merupakan produsen lada terbesar dunia pada abad ke-19

Hasil hutan dan barang tambang yang dikuasai Aceh berupa kayu cendana, kapang, damar, sari wangi-wangian, kemenyan putih, kemenyan hitam, kulit kayu manis, campli buta (cabai hutan), gading, kapur barus dan rotan. Sedangkan hasil-hasil tambang berupa emas, perak, tembaga, minyak tanah dan lain-lain. Berbagai komoditi tersebut umumnya diekspor sehingga menghasilkan devisa yang cukup besar bagi kerajaan Aceh.

Kerajaan Aceh juga mengimpor beberapa barang dagangan untuk keperluan dalam negeri atau diolah untuk diekspor kambali. Barang-barang impor tersebut antara lain: beras, gula pasir, anggur, kurma, logam, timah putih, timah hitam, tekstil, kapas, guci, sabung, kipas, kertas dan lain-lain.

Sumber dana lain juga diperoleh dari harta rampasan perang dan upeti dari negeri-negeri taklukan yang berkewajiban menyediakan upeti berupa hasil pertanian, hasil laut, hasil tambang maupun pajak tanah (kharaj).

Pajak laut sendiri salah satunya adalah biaya cap, dari setiap kapal yang masuk dan mendarat di pelabuhan Aceh sebesar 50-60 real (Spanyol) yang sebagian disetor ketika masuk dan sebagian lagi ketika meninggalkan pelabuhan.

Sistem Pemungutan Pajak Kerajaan Aceh Darussalam

Sultan Iskandar Muda menunjuk Orang Kaya Sri Maharaja Lela sebagai pejabat kepala Baitul Mal (kas kerajaan). Untuk wilayah pantai Timur kerajaan Aceh dipercayakan kepada Maharaja Mangkubumi sedang wilayah pantai Barat dipercayakan kepada Maharaja Mangkubesi.

Pungutan pajak di kota pelabuhan Bandar Aceh dilakukan oleh Syahbandar sebagai kepala Balai Furdah (kepala pelabuhan) dibantu sederetan karkun (juru tulis) dan dibantu penghulu kawal (polisi kota). Seluruh pegawai Balai Furdah memungut cukai di pelabuhan Aceh. Dalam Bustanussalatin bea cap disebut adat cap atau adat lapik cap umumnya dibayar dengan bahan mentah atau uang. Kepada pedagang non muslim dikenakan pajak tambahan yang dalam disebut jizyah.

Manuskrip memuat susunan Pemerintahan Kerajaan Aceh pada Masa Sultan Iskandar Muda. Manuskrip ini milik University Kebangsaan Malaysia yang belum dikatalogkan.

Selain pelabuhan tempat pemungutan pajak lainnya adalah pasar, yang ketika itu terdapat dua lapangan besar yang dijadikan pasar di tengah kota dan yang lain di ujung atas hulu sungai. Menurut kesaksian Peter Mundy seorang petualang Inggris yang berkunjung pada masa sultan Iskandar Muda menyebutkan warung penjual penyu rebus ketika itu dipungut pajak sekeping emas sebulan oleh Orang Kaya Sri Maharaja Lela.

Untuk wilayah pedalaman umumnya dikutip pajak hasil bumi dan tambang sebesar 10-20%, sedangkan untuk negeri taklukan pajak atau upeti diserahkan kepada sultan sekitar 15-20% setiap tahun.

Pajak Sumber Pembiayaan Pembangunan Kerajaan Aceh Darussalam

Keuntungan dibidang perdagangan, terutama penjualan lada dan pungutan pajak digunakan untuk membiayai pembangunan fisik dan non fisik, untuk kemakmuran rakyat. Sultan Iskandar Muda membangun dan merehabilitasi pelabuhan-pelabuhan dagang di berbagai daerah. Bandar Aceh Darussalam, sebagai pelabuhan utama di ibu kota, dibuka luas menjadi pelabuhan internasional dengan jaminan keamanan dari gangguan armada Portugis. Dibangun pula gudang-gudang dan loji-loji bangsa asing yang telah mendapatkan izin dari sultan.

Sebagai kerajaan maritim, pertahanan laut menjadi prioritas. Pada masa Sultan Iskandar Muda kerajaan Aceh memiliki 600 kapal yang terdiri atas 500 kapal layar dan 100 galley yang dapat mengangkut 600-800 prajurit.

Penyerangan Malaka (Portugis) oleh Kesultanan Aceh Darussalam di tahun 1629

Beualieu mencatat pasukan Sultan Aceh ketika itu mencapai 40-50 ribu orang, 100-200 perahu dengan meriam, dan sekitar 1000 gajah siap tempur. Persenjataan meliputi 2000 pucuk meriam, terdiri dari 800 meriam besar dan 1200 meriam biasa. Setiap saat kerajaan dapat mengerahkan bala tentara yang direkrut dari Pidie atau tempat lain. Sultan sendiri memiliki pasukan kavaleri pengawal istana sebanyak 200 orang untuk mengadakan patrol rutin di sekeliling istana dan ibu kota.

Di bidang pertanian Sultan Iskandar Muda menggunakan anggaran untuk irigasi dan mengambangkan persawahan. Sultan menunjuk pejabat khusus dengan gelar Keujruen Blang, Bentara Blang, Raja Blang atau Petua Blang menurut wilayah masing-masing. Tak heran panen melimpah dan digudangkan untuk di simpan. Beualieu menceritakan, “jika panen melimpah dan diketahui ada kekurangan di wilayah lain, maka tempat itu akan dikirimkan beras untuk dijual.” Pada masa itu kerajaan Perak mengalami paceklik dan Sultan mengirimkan 40 kapal penuh muatan.

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Kebijakan keuangan, politik dan ekonomi Sultan Iskandar Muda inilah yang mengantarkan Aceh menuju “zaman keemasan” yang sampai sekarang melekat dalam kenangan Kerajaan Aceh Darussalam.

DAFTAR PUSTAKA

  1. PAJAK dalam Perspektif Islam; Antara Teks Normatif dan Realitas Sosial; Diterbitkan atas Kerjasama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Aceh dan Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry; Banda Aceh; 2010;
  2. Denys Lombard; Kerajaan Aceh Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636); Balai Pustaka; Jakarta; 1991;
  3. F.H. Van Langen; Susunan Pemerintah Aceh Semasa Kesultanan; alih bahasa Aboe Bakar, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh; Banda Aceh; 2002;
  4. Said Mohammad; Aceh Sepanjang Abad; Percetakan Waspada; Medan; 1981;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  2. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  3. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  4. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  5. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  6. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  7. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  8. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  9. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  10. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  11. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  12. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  13. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  14. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  15. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  16. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  17. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  18. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  19. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  20. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  21. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  22. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  23. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  24. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  25. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  26. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  27. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  28. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  29. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  30. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  31. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  32. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  33. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  34. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  35. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  36. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  37. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  38. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  39. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  40. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  41. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  42. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  43. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  44. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  45. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  46. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  47. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  48. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  49. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  50. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  51. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  52. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  53. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  54. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  55. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  56. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  57. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  58. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  59. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Komentar

PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR


Teuku Umar berfoto bersama sejumlah pengikut. (Sumber: Koleksi Troppen Museum)

PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR

Teuku Umar dan gerombolannya adalah watak pejuang yang paling dibenci oleh Belanda. Belum pernah dalam sejarah penjajahan Belanda ditipu oleh seorang pribumi sebagaimana dilakukan oleh Teuku Umar.

Pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar Johan Pahlawan meninggal dunia, gugur sebagai seorang jantan pahlawan yang patut dikenang. Ia yang lazim disebut dengan Teuku Uma atau Teuku Meulaboh tewas di medan jihad 2 kilometer dari Meulaboh (waktu itu) pada jam 8 malam. Gugurnya beliau disebabkan tembakan-tembakan tepat dari brigade marsose Belanda yang sengaja dikirimkan ke Suak Ujong Kalak untuk melakukan pengintaian (verkenning) akan adanya informasi sebuah pasukan Aceh akan menyerang Meulaboh yang pada saat itu hanya berkekuatan dua kompi.

Dalam keadaan yang kalut, pasukan kecil Belanda yang mengobservasi informasi rahasia yang mereka peroleh bahwa benar adanya sebuah pasukan besar langsung dipimpin Teuku Umar sendiri berada di tempat itu. Sebelum mundur pasukan Belanda melepaskan tembakan salvo dua kali yang “kebetulan” mengenai sasatan sekitar api rokok dari penghisapnya, Teuku Umar sendiri.

Teuku Umar dan gerombolannya adalah watak pejuang yang paling dibenci oleh Belanda. Belum pernah dalam sejarah penjajahan Belanda ditipu oleh seorang pribumi sebagaimana dilakukan oleh Teuku Umar.

Sebutir dari dua peluru tersebut mengenai dada kiri Teuku Umar dan tembus ke belakang dengan luka ternganga berdiameter 10 centimeter dengan luka dimuka hanya kecil saja. Menurut cerita orang-orang tua, tembakan itu dilepaskan dengan peluru emas dikarenakan Teuku Umar memiliki ilmu kebal.

Suasana Meulaboh setelah Teuku Umar Tewas

Jenazah Teuku Umar yang terluka sedemikian parah digotong keluar pasukan dan menghilang dalam suasana kacau dan menghilang sehingga tidak semua pasukan Aceh mengetahui kejadian yang sangat merugikan tersebut. Orang-orang di Meulaboh menduga Teuku Umar telah tewas karena tidak jadi dilangsungkan penyerangan ke tangsi Belanda malam itu, hal ini disebabkan pasukan yang telah menyusup ke Meulaboh hanya menunggu komando terakhir untuk melakukan penyerbuan. Pasukan Aceh dan masyarakat yang mendukung perjuangan Teuku Umar  menjadi panik sehingga mereka memutuskan untuk bergerilya dengan pasukan-pasukan kecil di sekitar Meulaboh.

Siapa pengkhianat sehingga Teuku Umar gugur?

Jalan pengkhianatan terhadap terbunuhnya Teuku Umar cukup berliku. Pada tahun 1970 seorang penulis sejarah Aceh bernama Tjoetje berdasarkan cerita ayahnya yang turut dalam pasukan Teuku Umar menceritakan bahwa ada seorang anak yang bernama Njak Oesoeh berada di kota Meulaboh, ayahnya bernama Njak Daoed adalah seorang pengikut Teuku Umar. Njak Daoed meminta izin kepada Teuku Umar untuk mengirimkan surat kepada anaknya supaya keluar dari Meulaboh sebab pasukan Aceh akan menyerang kota pada malam itu. Teuku Umar tidak keberatan dengan pengiriman surat tersebut.

Surat yang disampaikan Njak Daoed kepada anaknya Njak Oesoeh disampaikan melalui perantaraan Raja Ameh, entah bagaimana surat ini jatuh ke tangan Toke Dolah dan sampai kepada komandan marsose Jenderal Van Heutsz yang kebetulan pada saat itu berada di Meulaboh. Dasar surat tersebut membuat keluar perintah harian komandan marsose itu mengadakan pengintaian ke Suak Ujing Kalak.

Cut Nyak Dien mendengar kabar gugurnya Teuku Umar

Cut Nyak Dhien ketika itu berada di Pucok Woyla (35 kilometer dari Meulaboh) mengetahui kematian suaminya dari salah seorang panglima Teuku Umar, ia meneteskan air mata karena suami keduanya Teuku Umar (1899) harus gugur di tangan Belanda sebagaimana suami pertamanya Teuku Ibrahim Lam Nga juga tewas pada ujung peluru Belanda (1878). Cut Nyak Dien yang oleh Belanda dikatakan oleh Belanda “manly” (kelelakian) dan “kranig” (tangkas), segera turun gunung bukan untuk mencari pusara suaminya melainkan membentuk pasukan kembali guna meneruskan perjuangan.

Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

Cut Nyak Dien memimpin secara gerilya di setiap pelosok Aceh Barat seperti Woyla, Seunagan, Tripa, Blang Pidie sampai Bakongan. Tak henti dan tak menyerah sampai Cut Nyak Dien ditangkap Belanda pada tahun 1904.

Dimana Pusara Teuku Umar?

Menurut sumber-sumber Aceh, jenazah Teuku Umar pernah dikuburkan pada beberapa tempat dengan cara bongkar kuburan. Hal ini dilakukan karena Belanda sangat benci kepada Teuku Umar dan tersiar kabar mereka bersumpah akan mencincang-cintang tubuhnya. Belum pernah selama konflik peperangan antara Belanda dan bangsa-bangsa di Nusantara sampai tertipu ketika membuat penjanjian sebagaimana dengan Teuku Umar. Biasanya Belanda mengakali para pahlawan Nusantara seperti pernah dilakukan pada Imam Bonjol atau Pangeran Diponegoro. Tak pelak para pejuang Aceh yang tersisa mencoba menyelamatkan jenazah Teuku Umar dari penistaan Belanda.

Berziarah ke makam Teuku Umar

Mula-mula jenazah Teuku Umar dikuburkan di kampung Suak Raja (6 kilometer dari Meulaboh), kemudian dipindahkan ke pedalaman Mugo Raya, Kaway XVI. Jenazah Teuku Umar sendiri menurut cerita tidak pernah busuk, baru paginya dikuburkan besoknya disekitar kubur telah tumbuh rumput sehingga tidak mudah diketahui letaknya.

Setelah kematian Teuku Umar

Pasukan Belanda ketika itu tidak mengetahui bahwa Teuku Umar telah gugur malam itu awalnya, pasukan Aceh lain-lain juga tidak mengetahui bahwa malam itu Teuku Umar tertembak malam itu. Belanda hanya mengetahui mereka melepaskan tembakan dua kali kearah api rokok saja. Baru beberapa hari kemudian mereka tahu musuhnya yang paling ulung telah tewas.

Pelajaran yang dipetik dari gugurnya Teuku Umar

  1. Pasukan Aceh tidak melakukan pengawalan secara pribadi dan pengawalan kepada induk pasukan yang akan menyerang sehingga musuh dapat melakukan pengintaian;
  2. Ketika Teuku Umar gugur pada malam itu tidak ada yang mampu mengambil alih kepemimpinan penyerangan ke Meulaboh malam itu;
  3. Teuku Umar terlalu percaya kepada pasukannya sehingga membiarkan sebuah Njak Daoed mengirimkan surat ketika hendak melakukan penyerangan.

Malam 11 Pebruari 1899, tubuh Teuku Umar rubuh diterjang peluru emas serdadu Marsose dan darah sang pejuang tumpah dibumi akibat “pengkhianatan” teman seperjuangan yang memberitahu posisi dan kelemahannya kepada Kaphe Belanda di pantai Ujong Kalak, Meulaboh. 11 Pebruari 1899, cucu Raja Meulaboh tersebut wafat diusia 45 tahun. (Baca: Teuku Umar Pahlawan)

Sajak untuk gugurnya Teuku Umar

// Ada lagi yang sangat kusesalkan pahlawan / Walau kami berkabung duro / Masih ado yang bersorak menepuk dado / Mereka adalah penjilat yang bermuka duo / Yang Cuma mendambakan sebungkus keju dari Kaphe Belanda / Mereka adalah kawan seiring menggunting dalam lipatan / Mereka adalah musang berbulu ayam //

Diambil dari (Bait 5 Puisi Teuku Umar Pahlawan tahun 1980)

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  2. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  3. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  4. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  5. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  6. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  7. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  8. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  9. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  10. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  11. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  12. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  13. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  14. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  15. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  16. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  17. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  18. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  19. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  20. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  21. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  22. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  23. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  24. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  25. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  26. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  27. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  28. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  29. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  30. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  31. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  32. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  33. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  34. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  35. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  36. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  37. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  38. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  39. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  40. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  41. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  42. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  43. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  44. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  45. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  46. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  47. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  48. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  49. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  50. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  51. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  52. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  53. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  54. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  55. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  56. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  57. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  58. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  59. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Komentar

GEREJA PERTAMA DI ACEH

Gereja pertama di Aceh 1874

Gereja pertama di Aceh 1874

GEREJA PERTAMA DI ACEH

Gereja pertama di Aceh dibangun tahun 1874, di Pantee Pirak Belanda membangun sebuah jembatan yang menghubungkan dengan Peuniti, di sana pula, pada bekas tanah Sultan Aceh itu mereka membangun sebuah gereja.

Pembangunan gereja ini sebagai tindak lanjut proklamasi kemenangan dari pemimpin ekspedisi kedua perang Aceh, Jenderal Van Swieten pada 28 Januari 1874. Maklumat ini karena Belanda telah merebut istana kerajaan Aceh dan dengan hak perang seluruh Aceh di bawah kedaulatan Belanda. Seluruh harta benda Sultan dan para kerabatnya menjadi milik Belanda (tentara KNIL). Hal itulah sebabnya jika kita melihat asrama tentara (sekarang) di Koetaradja (Banda Aceh) awalnya adalah milik Sultan/kerabatnya dulu.

Proklamasi Kemenangan Belanda oleh Van Swieten pada 28 Januari 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Pengkabaran Injil pada zaman Kesultanan Aceh Darussalam

Sepanjang sejarah, gereja ini adalah yang pertama dibangun di Aceh, persaingan dengan Portugis sejak abad ke-16 serta berita-berita dari dunia Islam tentang pengusiran muslim di Andalusia (Spanyol) membuat Kesultanan Aceh menutup diri dari pengkabaran Injil.

Manuskrip memuat susunan Pemerintahan Kerajaan Aceh pada Masa Sultan Iskandar Muda. Manuskrip ini milik University Kebangsaan Malaysia yang belum dikatalogkan.

Kanun Meukuta Alam sebagai peraturan undang-undang Kesultanan Aceh Darussalam tertulis sekitar 3 (tiga) Pasal dalam hubungan dengan antara muslim dengan agama lain yang tidak menguntungkan bagi orang di luar Islam, antara lain:

  1. Jikalau orang luaran yang lain agama dari pada agama Islam yang lain pada orang hindi tiada boleh di terima oleh orang negeri tinggal duduk di dalam kampungnya melainkan di suruh balik ke laut kedalam tempatnya (Pasal 21);
  2. Jikalau orang lain agama itu hendak tinggal juga duduk di darat kedalam kampung orang islam kalau dapat celaka mati atau luka atau kena rampas hartanya dalam kampung itu tempat dia bermalam sama ada orang dalam kampung itu yang buat aniaya atau lain orang jahat kalau mati saja luka luka saja kalau dirampas hartanya habis saja tiada diterima pengaduannya oleh Raja atau Hulubalang sebab dari pada taksirnya sendiri punya salah (Pasal 22);
  3. Adapun orang yang menerima pada orang yang lain agama itu tinggal duduk bermalam pada kampungnya contoh kesalahan kepada ulama kena kafarat denda kenduri memberi makan sidang jumat (Pasal 23);

(Baca: Rincian isi Kanun Meukuta Alam)

Pendeta Pattiseno, perawat rohani serdadu-serdadu Belanda yang beragama Protestan di Aceh di tengah-tengah penggembalaannya.

Pendeta Pattiseno, perawat rohani serdadu-serdadu Belanda yang beragama Protestan di Aceh di tengah-tengah penggembalaannya.

Meskipun ketika Belanda telah berkuasa di Aceh, hubungan antara itu masih tegang di pedalaman. Terutama di wilayah-wilayah yang masih jauh dari jangkauan kekuatan militer Belanda. Seperti pembunuhan dua orang Perancis di Teunom yang bermaksud berbisnis emas akibat perbenturan nilai dimungkinkan oleh keadaan.

(Baca: Kerajaan Teunom Suatu Masa)

Peran Misionaris dalam Perang Aceh

Pendeta Izaak Thenu, orang Ambon, sejak tahun 1894 sampai akhir hayatnya tahun 1937 merupakan seorang legendaris perang. Seorang imam militan legendaris lain adalah Pastor Verbraak, selama tiga puluh tahun bertugas di Aceh memperoleh empat kali dianugerahi jasa ksatria.

Izzat Thenu, pendeta Maluku yang sangat berjasa bagi Pemerintah Belanda di Aceh, menggantikan pendeta Pattiselano. Dalam penyerbuan ke kubu pertahanan Batee Illiek di Samalanga pada tanggal 3 Februari 1901 ia memainkan peranan penting dalam memelihara semangat anggota-anggota pasukan Belanda.

Izzat Thenu, pendeta Maluku yang sangat berjasa bagi Pemerintah Belanda di Aceh, menggantikan pendeta Pattiselano. Dalam penyerbuan ke kubu pertahanan Batee Illiek di Samalanga pada tanggal 3 Februari 1901 ia memainkan peranan penting dalam memelihara semangat anggota-anggota pasukan Belanda.

Pada tahun 1901 Belanda menyerang benteng Batee Illiek, sebuah kubu pertahanan Aceh yang telah diserang berulang sejak tahun 1880 tapi tidak bisa dipatahkan oleh Belanda. Untuk penyerangan ini Izzak Thenu menggubah sebuah lagu perang khusus. Dengan memanfaatkan secara baik-baik kata-kata bersajak “berani” dengan “serani” (orang Kristen), “saudara” dan “bersuara” menjadi lagu Samalanga.

Mari sobat, mari saudara!

Pergi perang di Samalanga;

Mari koempoel dan bersoeara,

Laloe menjanji bersama-sama.

Satoe njanjian jang amat merdoe

Menghiboer hati jang amat doeka,

Hari ini kita di Merdoe,

Esok loesa djalan kemoeka.

Dari Merdoe djalan di sawah

Itoe djalan jang amat soesah.

Tempo-tempolah liwat rawa

Asal bisa dapat kemoeka.

Kalau djalan haroes berdiam

Karena moesoeh berdjaga-djaga;

Kala dengar boenji meriam

Itoe tandalah moesoeh ada.

Soenggoeh moesoeh banjak sekali,

Ada berdiri didalam benteng.

Haroes berlari-lari.

Waktoe kommandolah “Atacqueren”.

Djangan tinggal berdiri lama,

Kalau kommandolah “Atacqueren”.

Lari lekas datang kesana,

Masoek pertama kedalam benteng.

Siapa masoek nommer satoe

Itoelah tanda amat berani.

Nanti dapatlah bintang satoe

Tanda setia lagi berani.

Meski dengarlah hoejan pelor,

Dari moesoehmoe orang Atjeh,

Djangan sekali bersoesah keloeh

Tetapi peranglah hidoep mati.

Mari kamoe hai orang Ambon!

Lagi Menado lagi Ternate!

Lawan moesoeh bertamboen-tamboen,

Sampe gagahnya djadi berhenti.

Anak Ambon gagah berani,

Tidak takoet mati atau loeka,

Toeroet hati orang serani,

Anak Ambon berani dimoeka.

Kamoe lagi hai orang Djawa!

Angkat kerdjalah ramai-ramai.

Agar kami bisa tertawa

Kalau moesoeh soedah berdamai.

Kalau moesoeh soedah berdamai

Kami boleh doedoek senang.

Boleh berdansa, boleh berramai

Kalau soedah habis perang.

Berapa hari, berapa boelan

Kami haroes tinggal disini?

Habis peranglah boleh poelang

Bertemoe anaklah dengan bini.

Mari kami koentji menjanji,

Laloe poelang tidoer lelap.

Djangan loepa itoe pesani

Hanya mengikoet peri tetap.

Januari 1901 Izzak Thenu. Korps Marechaussee van A Doup.

Izzak Thenu ingin mengajak marsose-marsose segera bertempur. Pertempuran Batee Illiek menewaskan lima orang dan 27 orang di pihak marsose dan 71 pihak Aceh tewas. Kemenangan Belanda berhasil mematahkan perlawanan besar kubu Aceh.

Pendeta Thenu menunggang kuda jika ia melaksanakan tugasnya, Dalam hal itu ia dikawal oleh anggota-anggota korps marsose.

Pendeta Thenu menunggang kuda jika ia melaksanakan tugasnya, Dalam hal itu ia dikawal oleh anggota-anggota korps marsose.

Kekristenan di Aceh

Saat ini merupakan agama minoritas kedua terbesar di Aceh yang dianut 50.309 jiwa umat Kristen Protestan dan 3.315 jiwa Kristen Katolik. Total jumlah penduduk Aceh yang menganut Protestan dan Katolik sebanyak 53.624 jiwa atau 1,19% dari 4.494.410 jiwa jumlah penduduk Aceh (Sensus BPS tahun 2010). Sedang jumlah gereja tercatat sebanyak 154 gereja berdiri di seluruh Aceh.

Terdapat hubungan penuh luka antara Aceh dan kekristenan yang ditambah akibat luka kolonialisme. Akan tetapi sebagaimana hidup mustahil menjalani hidup tanpa terluka, atau menolak terluka. Luka-luka yang kita kumpulkan menandai kesalahan sekaligus keberhasilan kita. Jangan lupa, luka separah apapun dapat disembuhkan.

Muslim, Kristen baik Protestan maupun Katolik, Budha, Hindu serta Konghufu berhak hidup di Aceh sebagaimana defenisi orang Aceh menurut Pasal 211 ayat 1 berbunyi: Orang Aceh adalah setiap individu yang lahir di Aceh atau memiliki garis keturunan Aceh, baik yang ada di Aceh maupun di luar Aceh dan mengakui dirinya sebagai orang Aceh.

DAFTAR PUSTAKA

  1. H Van Langen; “De Inrichting van het Atjehsche Staatsbestuur onder het Sultanaat”; BKI; 1988:
  2. Paul Van’T Veer; Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje; Percetakan PT Temprint; Jakarta; Cetakan Pertama; 1985;
  3. Rusdi Sufi; Pahlawan Nasional Sultan Iskandar Muda; Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional; 1995;
  4. Naskah “Kanun Meukuta Alam Sultan Iskandar Muda”; Tulisan Tengku di Meulek, milik Teuku Muhammad Junus Jamil Kampung Alui, pada tahun 1995 disimpan di Museum Ali Hasjmy;
  5. Sensus BPS tahun 2010;
  6. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  2. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  3. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  5. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  6. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  7. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  8. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  9. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  10. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  11. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  12. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  13. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  14. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  15. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  16. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  17. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  18. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  19. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  20. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  21. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  22. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  23. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  24. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  25. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  26. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  27. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  28. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  29. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  30. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  31. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  32. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  33. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  34. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  35. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  36. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  37. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  38. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  39. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  40. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  41. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  42. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  43. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  44. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  45. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  46. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  47. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  48. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  49. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  50. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  51. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  52. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  53. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  54. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  55. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  56. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  57. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  58. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  59. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 7 Komentar

APA ARTI MASA DEPAN

Ingatan seperti sebuah samudera, di balik badai dan gelombang, ada kenangan yang memilih berdamai

Ingatan seperti sebuah samudera, di balik badai dan gelombang, ada kenangan yang memilih berdamai

APA ARTI MASA DEPAN

“Apalah artinya diri kita ini?” Ujarku pada petang hari duduk di bawah pohon pinus yang rindang beralaskan pasir memandang pasir pantai dan lautan membiru di mana ombak kecilnya sedang bergelut dengan sinar matahari yang hendak turun mandi.

“Apa maknanya?” Tanyaku sambil menunjuk sebuah biduk nelayan memasuki teluk, sebuah pemandangan yang nikmat menikmati keindahan pantai yang amat mempesona.

“Diri kita tidak ada.” Aku berfilsafat, “yang ada hanyalah Zat Yang Maha Suci, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa. Kita ini hanyalah pancaran dari kekuasaannya, yang sewaktu-waktu bisa fana kembali ke asalnya.

Aku berhenti sejenak melihat biduk nelayan yang semakin mendekati pantai, di mana dalam saat membisu itu, aku memahami bahwa manusia telah datang dan berganti selama ribuan tahun, pantai ini tetap sama. Pasir putihnya telah lama ada, lautan telah dahulu ada disini. Pergantian perbatasan, kekuasaan telah berubah berkali-kali.

Semakin tidak terasa ketidakhadiran diri kita. Apalah artinya diri kita yang sekecil ini dibandingkan dengan para pahlawan yang pernah hidup, atau bahkan di tahun-tahun dan abad-abad mendatang, manusia-manusia baru yang nanti akan mengarungi samudera luas itu ke segala pulau-pulau di kawasan rantau.

“Kita adalah jari-jari dari roda besar yang berputar itu.” Aku berdiri memandangi, merenungi ombak kecil memecah di pantai, sendu dalam pancaran sinar matahari yang akan dipeluk senja.

“Apakah di tahun-tahun mendatang Allah akan memberikan kesempatan untuk menyaksikan pemandangan seperti ini lagi?” Tanyaku, dengan pertanyaan sebuah percakapan tak terlarai tumbuh, tafsir tak akan berakhir.

“Insya Allah.” Aku tidak melanjutkan lagi, andai aku bisa mengetahui masa depan, tapi sayangnya aku tidak pernah tahu. Akan ada masa aku berhenti, dan semua yang ada akan hilang.

Ingatan seperti sebuah samudera, di balik badai dan gelombang, ada kenangan yang memilih berdamai. Aku menyambut kesendirianku, ketidakhadiran suara-suara, termasuk suara sendiri. Alunan suara desir-desir air di tepi pantai yang untuk sementara bisa menghapuskan rasa takutku menghadapi masa depan.

Banda Aceh, 10 Juli 2020

KATALOG OASE

  1. Meniti Jalan Yang Lurus; 22 Maret 2017;
  2. Nasib Para Pion; 23 September 2017;
  3. Pohon Kekekalan; 4 November 2017;
  4. Renungan Malam; 19 November 2017;
  5. Manusia Semesta; 21 November 2017;
  6. Sebuah Kotak Hitam; 21 November 2017;
  7. Secangkir Kopi Dari Aceh; 22 Januari 2018;
  8. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  9. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  10. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  11. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  12. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  13. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  14. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  15. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  16. Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri; 3 April 2019;
  17. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  18. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  19. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  20. Sunyi; 19 Maret 2020;
Dipublikasi di Kolom, Pengembangan diri, Puisiku | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar