ILMU MEMAHAMI ILMU

Penyerangan Malaka (Portugis) oleh Kesultanan Aceh Darussalam di tahun 1629

ILMU MEMAHAMI ILMU

Di Nusantara rentang abad ke XV sampai XVII, armada Aceh menguasai perairan Selat Malaka sehingga disegani oleh kekuatan-kekuatan besar Eropa yang ingin menancapkan kuku di Nusantara. Pertempuran Aceh melawan bangsa Portugis terjadi di pesisir pantai sehingga tidak pernah ada pasukan Eropa yang mampu menginjak bumi Aceh. Waktu berjalan, Kesultanan Aceh melemah. Ketika Belanda menyerang dan mengepung perairan Aceh pada 1873, tidak ada lagi kapal perang Aceh yang menghalau pasukan Belanda turun ke daratan.

Manusia dibentuk oleh ruang dan waktu, artinya manusia berkembang seiring dengan umur dengan cara mengalami ketika menghadapi dunia. Karena manusia tidak mungkin mengalami segala sesuatu sebelum menjalaninya. Untuk itu kita memerlukan ilmu dari pengalaman orang lain, membaca atau mendengarkan berarti mengakuisi pengetahuan orang lain. Mungkin tidak penuh seluruh, tapi mungkin dapat memberikan gambaran.

Pertempuran Nagashino (1575 Masehi) Penggunaan senjata api pasukan koalisi Nobunaga dan Tokugawa yang terampil untuk mengalahkan taktik kavaleri Takeda sering disebut sebagai titik balik dalam peperangan Jepang; banyak yang menyebutkannya sebagai pertempuran Jepang “modern” pertama.

Pertempuran Nagashino, Jepang tahun 1575. Pasukan Oda Nobunaga dan Tokugawa menggunakan pasukan senapan mengalahkan pasukan kavaleri berkuda Takeda Katsuyori yang terkenal perkasa. Kejadian ini di sejarah Jepang merupakan titik balik sebagai pertempuran modern. Kekalahan ini mengakhiri hidup dan dominasi keluarga Takeda di provinsi Kai.

Katsuyori sendiri adalah jenderal yang hebat, tahun 1569 ia mengalahkan Hojo Ujinobu pada pengepungan Kanbara, dan sukses mengalahkan klan Tokugawa pada pengepungan Futamata dan Mikatagahara. Tahun 1573 ia menjadi pemimpin klan Takeda setelah kematian ayahnya Shingen. Bahkan pada tahun 1574 berhasil merebut benteng Takatenjin dari Tokugawa Ieyasu. Namun kekalahan di Nagashino membuat ia kehilangan sebagian besar pasukan dan para jenderal terbaik. Jenderal yang baik, mempelajari sejarah tidak cukup untuk menang perang, dibutuhkan kemampuan membaca zaman, taktik kavaleri yang dahulu efektif ternyata dikalahkan oleh penemuan baru, senapan.

Kita bisa belajar dari orang terdahulu, namun juga harus memahami. Tidak pernah ada pengalaman peristiwa yang berulang sama persis. Jika pun kejadian di alami oleh orang yang sama, dan mirip tapi tentu ada pergeseran ruang dan waktu. Ilmu adalah tata cara untuk memandang dunia, tapi tiap manusia mesti mengembangkan model ilmu yang sesuai dengan dirinya dan lingkungannya.

Maka ilmu apa yang paling penting?

Pendidikan sekolah belum mengenalkan kita pada kedisplinan metakognitif yaitu kemampuan untuk mengenali diri sendiri. Secara umum metakognitif disusun dalam beberapa taksonomi yaitu: Mengingat, memahami, menalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.

Ilmu menahami ilmu. Kita sadar pengetahuan akan berkembang terus, dan mungkin kita akan kesulitan mengakuisi seluruhnya menjadi ilmu, Sepanjang hidup kita disajikan pengetahuan yang kita belum tahu fungsinya. Pertanyaannya adalah bergunakan itu semua? Pengetahuan tidak akan menjadi ilmu jika tidak mengubah pola pikir. Tapi ilmu juga tidak berguna jika tidak diuji pada skala sosial, Islam sendiri menyebut tindakan keilmuan yang memiliki kemanfaatan itu dengan nama amal.

Kecerdasan itu misterius, setiap murid mengerti dengan cara berbeda, setiap ilmu memancing pengertian setiap orang dengan cara berbeda pula.

Berbagai Opini lain:

  1. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  2. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  3. Kejatuhan Sang (Mantan) Pejuang; 6 Juli 2018;
  4. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  5. Menafsir Alam Membaca Masa Depan; 14 Maret 2019;
  6. Nilai Seorang Manusia; 8 Juli 2019;
  7. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  8. Kaya Tanpa Harta; 24 November 2019;
  9. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  10. Merekonstruksikan Kembali Letak Istana Daroddonya; 3 Maret 2020;
  11. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  12. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
  13. Kenapa Sejarah Tak Boleh Dilupakan; 4 Oktober 2020;
  14. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
  15. Mengapa Harus Mempelajari Bahasa Daerah; 17 Maret 2021;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

HIKAYAT MEURAH SILU

Tempat pertempuran antara semut raksasa (Samudera) melawan anjing milik Meurah Silu (Pasai) menjadi titik pijakan berdirinya Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara, Kesultanan Samudera Pasai.

Tempat pertempuran antara semut raksasa (Samudera) melawan anjing milik Meurah Silu (Pasai) menjadi titik pijakan berdirinya Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara, Kesultanan Samudera Pasai.

HIKAYAT MEURAH SILU

Dahulu kala, di tepi hulu Krueng (sungai) Peusangan jauh di pedalaman Aceh, tinggallah dua orang kakak beradik yatim piatu. Mereka adalah Meurah Saga dan Meurah Silu. Mereka hidup sangat miskin serba kekurangan.

Meurah Saga berburu ke dalam hutan, Meurah Silu lebih suka memancing atau memasang bubu di tepi sungai, ia selalu ditemani oleh anjingnya yang diberi nama Pasai. Kakak beradik ini jarang bertemu.

Suatu ketika pada sebuah hari. Meurah Silu ketika mengangkat bubunya mendapatkan beribu cacing kecil. Ia tak mengeluh dan bersyukur akan segala karunia Tuhan. “Ayo Pasai kita pulang. Tuhan telah mengaruniakan rezeki kepada kita.” Mereka beranjak dari tepi sungai, si Pasai setia mengikuti tuannya.

Setiba di rumah cacing-cacing itu direbusnya. Alangkah ajaib, ketika ia membuka tutup panci, cacing berubah menjadi emas sedang airnya berubah menjadi perak. Meurah Silu berkata, “Pasai, lihat! Keajaiban telah terjadi.” Meurah Silu pun memanjatkan doa dan syukur kepada Tuhan.

Keesokan harinya Meurah Silu pergi memancing, yang didapatkannya juga cacing-cacing kecil, ia bersyukur. Dibawanya pulang cacing-cacing itu kemudian direbusnya. Beberapa saat kemudian cacing dan air rebusannya berubah lagi menjadi emas.

Demikianlah, setiap hari ia memancing selalu mendapat cacing yang kemudian berubah menjadi emas dan perak. Emas dan perak itu kemudian dibawah ke kota untuk dijual. Sampai jadilah ia orang yang kaya, ia membangun rumah di tepi hutan.

Sementara itu adiknya Meurah Saga belum juga kembali dari berburu, Meurah Silu cemas memikirkan adiknya. Ia bermaksud memberikan sebagian hartanya untuk adiknya. Lama ditunggu, adiknya tak kunjung pulang, Meurah Silu bertambah cemas. Ia takut adiknya celaka, maka ia berangkat ke dalam hutan mencari.

Beberapa hari kemudian, Meurah Saga pulang dari berburu, Meurah Silu tidak ada di rumah. Ia terheran melihat rumah megah dan harta melimpah milik kakaknya. Tergoda oleh bisikan setan, timbullah niat jahatnya, ia bermaksud memiliki seluruh harta kakaknya.

Ketika Meurah Silu pulang, disambut dengan belati terhunus oleh Meurah Saga. Meurah Silu dituduh merampok sepeninggal Meurah Saga. Ia membantah dan mengatakan semua adalah karunia tuhan. Meurah Saga menyerang Meurah Silu, tak ingin bertikai Meurah Silu memilih melarikan diri.

Bertahun-tahun ia mengembara, membawa anjingnya si Pasai. Akhirnya ia tiba di sebuah kampung dan menetap. Karena kebijaksanaan dan kedermawanannya ia dicintai oleh penduduk, maka diangkatlah Meurah Silu menjadi tetua kampung Jruen.

Kampung Jreun tidak terlalu jauh dengan pantai. Pada suatu hari Meurah Silu bersama Pasai pergi ke tepi pantai, tiba-tiba Pasai menyalak keras. Meurah Silu heran, tidak biasanya anjing itu menyalak keras. Ia segera menghampirinya. Tampak si Pasai sedang menghadapi seekor semut raksasa disebut oleh penduduk sekitar Samudra.

Pasai menerkam semut raksasa itu, terjadi pergumulan antara si Pasai dengan Samudra. Akhirnya semut itu kalah. Semut raksasa itu dipanggang oleh Meurah Silu, baunya sangat sedap dan lezat rasanya. Ia berkata kepada Pasai, “Karena aku telah memakan daging raja semut yang menguasai wilayah ini maka aku akan mendirikan kampung di tepi pantai ini.” Kemudian Meurah Silu mengajak penduduk sekitar untuk pindah ke tepi pantai itu.

Seiring waktu, kampung ini berubah menjadi bandar yang ramai, kemudian menjadi kota kerajaan yang besar. Meurah Silu menjadi rajanya yang pertama dan kerajaan itu bernama Samudra Pasai.

Kerajaan Samudra Pasai masyur sampai ke negeri Arab, Khalifah mengirimkan utusan persahabatan. Meurah Silu memeluk agama Islam dan dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Sultan Malik As Saleh (Raja yang Saleh). Samudera Pasai menjadi Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Tercatat dikunjungi dua petualang besar yaitu: Marco Polo yang mencatat dalam bukunya Imago Mundi dan Ibnu Batutah yang mencatat dalam bukunya Rihlah.

*DISCLAIMER Legenda atau pun mitos ini diterima oleh penulis secara lisan dan dituliskan kembali. Apabila di masyarakat terdapat perbedaan tentang detil ceritanya penulis menyatakan bisa jadi apa yang anda dengar lebih benar dari cerita ini, begitupun sebaliknya.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  2. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  3. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  4. Selamanya; 14 Desember 2008;
  5. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  6. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  7. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  8. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  9. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  10. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  11. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  12. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  13. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  14. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  15. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  16. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  17. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  18. Ada Banyak Cinta; 15 Maret 2011;
  19. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  20. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  21. Ode Seekor Harimau; 19 Agustus 2012;
  22. Ashura; 13 Februari 2013;
  23. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  24. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  25. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  26. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  27. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  28. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  29. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  30. Perjalanan; 29 November 2013;
  31. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  32. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  33. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  34. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  35. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  36. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  37. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  38. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  39. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  40. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  41. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  42. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  43. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  44. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  45. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  46. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  47. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  48. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
  49. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  50. Akhir Riwayat Sang Durjana; 25 Maret 2021;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA PULUH

Risalah Sang Durjana tampak samping

Serial Risalah Sang Durjana

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA PULUH

Kisah Risalah Sang Durjana dibuat untuk mengenang mereka yang telah gugur dalam peperangan panjang melawan Belanda. Pusara-pusara mereka yang bertebaran di seluruh kenegerian, di hutan-hutan, di lembah-lembah sunyi, tiada seorang pun yang tahu di mana semua itu berada.

XXX

Gunung Geureudong, hutan Timang Gajah, 1 Januari 1903.

Rintik-rintik turun selepas hujan besar, titik-titik air di seluruh penjuru jatuh perlahan tak beraturan. Udara malam yang dingin melingkupi gunung, di sambung lagi gunung lain di sebelah barat. Di bawah sana, tampak dunia damai, lembah hijau dengan beberapa pondok yang dibangun dari kayu.

Di pondok utama, kami berlima duduk membahas surat yang kami terima.

Koetaradja, 27 Desember 1902

Tuan mesti menyerah segera! Bila mana tidak maka kedua istri Tuan akan kami kirimkan ke Amboina atau Banda, sedangkan Ibrahim yang masih belia akan kami kirimkan ke Batavia. Di sana dia akan dididik dengan tata cara dan kepatutan bangsa Eropa.

Saya tahu, Tuan berat menyerah, setelah tahun-tahun peperangan yang panjang. Tapi patut Tuan ketahui bahwa jika tidak segera menyatakan tunduk, maka suatu saat Ibrahim dewasa dan menyadari kebodohan dari ayahnya. Bukan tak mungkin suatu hari nanti sepuluh atau dua puluh tahun lagi dia akan mengangkat senjata bersama Government memerangi Tuan.

Demi Ibrahim, si “bijeh mata1)” menyerahlah Tuan!

Gubernur Sipil dan Militer Aceh. Joannes Benedictus van Heutsz

“Sepanjang sejarah lima ratus tahun Kesultanan Aceh berdiri belum pernah ada Sultan Aceh yang menyerah pada musuh, apalagi pada kaphe2)! Sungguh lancang mereka mengirimkan surat ini. Kita bunuh saja utusan ini, izinkan beta menyembelih babi bergelambir yang makan gaji Kaphe ini.” Ahmad dengan pandangan merendahkan kepada pembawa surat Belanda, Waki Wahab yang meringkuk ketakutan.

“Tentu tidak.” Jawabku pendek membela. “Kita orang Aceh tidak membunuh utusan, saran macam apa itu!” Sambungku.

Ahmad membantah, “Tuan! Keberadaan kita di gunung Geureudong ini sangat rahasia. Seharusnya musuh berpikir markas kita ada di Cot Girek. Mereka sudah tahu kita disini, baiknya segera kita bunuh babi ini, kemudian kita pindah ke tempat lain!”

Ada rasa dongkol di hatiku, atau merasa digurui. Berani sekali Ahmad berkata dengan nada keras kepada aku, Sultan Aceh yang masih memerintah. Namun dalam pikiranku tergambar senyum Ibrahim, bagaimana nasibnya ketika dalam tawanan Belanda?

Suasana memanas, dua orang pengawalku yang setia Pang Itam dan Pang Brahim terlihat tidak senang dengan kelakuan sang durjana. Aku melihat Polem, berharap dia memberikan saran, tapi dia hanya diam tanpa bahasa. Andai saat ini paman Hasyim Banta Muda masih hidup, mungkin aku tidak akan serapuh ini.

“Kita telah berperang bertahun-tahun, telah banyak syuhada3) telah berkalang tanah. Untuk apa kita melakukan ini semua? Untuk apa kita merasakan luka akibat perang nan lama dan mematikan ini? Demi anak-anak kita, cucu dan cicit kita supaya mereka tidak menanggung luka yang kita rasakan! Ketika Ibrahim ditangkap aku sudah kehilangan tujuan ini. Aku seorang ayah!” Kataku lantang.

Sepi. Yang terdengar adalah semilir angin pengunungan. Merasa senyap, aku melirik Polem dengan ujung mata. Matanya kosong menatap rintik-rintik hujan, mungkin dia merasakan hal yang sama denganku.

Sang Durjana menatapku dengan penuh kekecewaan.

“Tuan mesti sadar! Di Aceh selalu memiliki Sultan. Seorang Sultan sebagaimana dijelaskan di kitab Bustanussalatin4) disebutkan bahwa seorang raja Aceh harus…” Dia kehilangan kata-kata.

“Apakah semua Sultan Aceh menerapkan kitab itu Ahmad? Aku hanya seorang manusia, seorang suami dan juga seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya.” Pang Itam dan Pang Brahim memberi kode kepadaku, apakah si Durjana ini sebaiknya dihantam saja. Aku memberi isyarat tangan, tidak.

Durjana tiba-tiba berdiri, kedua pengawal telah siaga. Tapi kemudian dia bersujud di kakiku. “Tuan, sepanjang hidup beta tidak pernah bersujud selain kepada Allah. Tapi hari ini hamba mohon, jangan lakukan itu! Tuan harus membayangkan betapa kacaunya orang-orang Aceh kalau tidak mempunyai raja, musibah terbesar bagi masyarakat adalah ketiadaan pemimpin dan penganjur!”

Aku menarik dia berdiri, ini adalah keadaan yang tidak enak. “Tekadku telah bulat!” Aku memanggil Waki Wahab dan berkata kepadanya, “Sampaikan salam kepada van Heutsz. Katakan padanya dalam beberapa hari ini aku akan datang langsung ke Koetaradja untuk menyerahkan diri. Sekarang pergilah!”

Durjana menampik tanganku, mencoba mencegah Waki Wahab pergi. Dengan sigap Pang Itam dan Pang Brahim menangkapnya.

“Tunggu apalagi. Cepat pergi Waki! Aku hanya akan menahan dia sampai azan Shubuh, jika kau tidak cepat niscaya jika kau dikejar dan diterkam olehnya maka bukan tanggung jawabku.” Dengan segera utusan Belanda itu turun dari pondok, kemudian lari dalam kegelapan malam.

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939)

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939) di dampingi oleh pengawal setia; Pang Itam (kanan) dan Pang Brahim (kiri)

Dalam cengkraman Pang Itam dan Pang Brahim, Sang Durjana melontarkan sumpah serapahnya, kepada Waki Wahab, kepada Belanda dan kepadaku. Dia mengingatkan bahwa anak dan istrinya telah terbunuh oleh Belanda, dan mengecam betapa lemah hatiku. Kata-katanya semakin menusuk ketika dia berkata. “Tuan mesti bertanggungjawab kepada mereka yang telah berkorban dalam perang ini, yang mana pusara-pusara mereka tersebar di seluruh negeri, di hutan-hutan, di lembah-lembah sunyi, dan tiada seorang pun yang tahu di mana semua itu semua.”

Pang Itam dan Pang Brahim menahan Sang Durjana sampai azan Shubuh. Kemudian atas perintahku, mereka melepaskan dia. Sebelum pergi dia meludah, kemudian menghilang dalam hutan belantara.

Polem yang sedari tadi diam mendatangiku seraya berbisik pelan. “Aku masih akan melawan Belanda. Perang ini akan segera berakhir, cepat mau pun lambat, tapi sebelum ini terjadi aku akan masih tetap melawan.” Aku mengangguk pelan.

Siang itu kami mengumpulkan seluruh pasukan yang tersisa. Aku memerintahkan mereka semua untuk melanjutkan perlawanan bersama Panglima Polem, semua setuju kecuali Pang Itam dan Pang Brahim. Mereka berdua memutuskan untuk ikut bersama denganku ke Kotaraja. Ketika kami berpisah, hatiku serasa hancur, Hatiku kehilangan tujuan, ini adalah hari dimana aku kalah.

BACA: KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH KEPADA BELANDA

Sebelum mencapai Peusangan. Tiba-tiba di depan kami telah berdiri Sang Durjana, seorang pejuang yang tidak kenal kompromi. Diikuti oleh dua orang Gayo. Mereka semua menghunus kelewang, siap tempur.

XXX

Krueng Peusangan, 3 Januari 1903.

Dengan diam-diam, di luar sepengetahuan rombongan Sultan yang hendak menyerah. Aku beserta Aman Abbas dan Aman Ilyas dari tanah Gayo telah bersiap untuk melakukan pencegatan. Ketika mereka lewat, dalam hitungan kejapan mata kami bertiga telah berdiri dihadapan mereka.

Sultan terlihat kaget, mukanya digeleng-gelengkan, tangan dua pengawal bersiap mencabut pedang dari sarungnya.

“Kekuasaan itu ibarat ilusi. Kekuatan militer Aceh praktis tidak ampuh lagi, tapi tetap tidak bisa dicampakkan. Ketika Tuan menyerah mungkin akan mendapatkan tempat yang baik, pensiun dan bahkan mungkin penghormatan dari kaphe Belanda. Tapi jika orang biasa pasti akan berakhir di depan regu tembak. Adilkah itu?” Tanyaku pada Sultan.

Setiap raja, di atas tahta, sendirian dengan kekuasaan di tangan. Ada sebuah pertanyaan sederhana; Kenapa dia berkuasa? Apa yang membedakan dia dengan orang biasa. Kekuasaan adalah ilusi yang mau tak mau dibangun.

“Aku lelah Durjana! Minggirlah aku akan menyerah sebagai orang biasa bukan sebagai Sultan Aceh!” Muhammad Daudsyah seekor singa yang siaga dan selalu siap menerkam terlihat remuk. Jari-jarinya kekar mencengkram kopiahnya sampai remuk, ia terbawa arus. Ia kemudian membuka pakaian kebesarannya, pedang dan tongkat komando kerajaan sampai terompah yang biasa digunakan. Ia campakkan begitu saja di tanah, hari ini semua kekuasaan dengan panggungnya seolah tak berarti baginya.

Ketika menyerah kepada Belanda, Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah melepaskan segala atribut kebesaran termasuk tidak mengenakan alas kaki untuk menyampaikan pesan tegas. Ia menyerah secara pribadi.

Ketika menyerah kepada Belanda, Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah melepaskan segala atribut kebesaran termasuk tidak mengenakan alas kaki untuk menyampaikan pesan tegas. Ia menyerah secara pribadi.

“Sekarang izinkan kami lewat!” Sultan dan dua pengawalnya berlalu tanpa halangan. Aku melayangkan pandangan kepada Aman Abbas dan Aman Ilyas.

“Sejak hari ini Aceh tak lagi bersultan, dan mungkin setelah hari ini. Tidak ada lagi Sultan Aceh.” Aman Abbas dan Aman Ilyas memungut barang-barang yang dibuang oleh Sultan.

Aman Ilyas berbisik kepadaku. “Baiknya barang-barang ini kami bawa kepadalaman daripada jatuh ke tangan Belanda. Kami rasa benteng Kuta Reh merupakan tempat yang aman.” Aman Abbas mengangguk dan meminta persetujuanku.

Aku mengangguk, mereka pun pergi. Luka di seluruh tubuh serta pukulan batin yang menimpaku bukan alasan mengakhiri perjuangan mengusir penjajah yang ingin menancapkan kuku kekuasaan di Aceh. Bahwa ada di antara kita yang tak tahan uji dan menyerah kepada musuh, itulah kembang dan sekaligus ujian bagi perjuangan itu sendiri. Tapi galau dan sakit hatiku terasa lebih berat ketika Sultan Aceh memutuskan menyerah.

Cut Nyak Dhien masih berjuang di barat, kepemimpinan perempuan? Aku tersenyum. Para lelaki pemberani dari bangsa ini banyak yang telah mati, beberapa menyerah. Perang Aceh telah memasuki masa di mana para perempuan mengangkat senjata, memimpin pasukan menyerbu, mereka (para perempuan) agung yang tidak akan menyerah dan akan terus bertempur selama nyawa masih di kandung badan.

XXX

Sementara itu di Sigli.

Mayor K. van der Maaten dan Letnan Satu (Marsose) R. Vogel terlihat sangat puas mendapatkan laporan dari Waki Wahab di kantornya. “Siapkan pasukan kita cegat mereka di Blang Malu! Kita tangkap sultan sebelum masuk kota Sigli. Kita permalukan dia dan kita giring dia ke Kutaraja.” Perintan Van der Maaten.

Mayor K. van der Maaten (tengah) dan letnan satu Marechaussee R. Vogel (kanan) sedang berbicara dengan seorang “sahabat terpercaya” bernama Waki Wahab di kantor Mayor K. van der Maaten, mungkin di Sigli sekitar tahun 1900-an.

Tanpa banyak ba-bi-bu Letnan Satu Vogel bergegas. Van der Maaten tersenyum kepada Waki Wahab, tapi hatinya menertawakan orang di depannya. “Orang ini adalah babi yang berguna.”

Sementara ini Waki Wahab merasa sangat senang, ia merasa menjadi tokoh penting dalam peperangan, bahkan hampir-hampir seorang yang sangat penting sekali.

XXX

Kehidupan seperti perahu

Diterpa angin dibawa ombak

Tak tahu kemana terapung-apung

Lemah dan tak berdaya

Ketika harapan memudar

Haruskah beta menyerah saja

Dengan jiwa yang terluka

Tak kumiliki lagi apa-apa

(Sang Durjana)

XXX

(Bersambung)

Index:

  1. Bijeh mata = bermakna Biji mata (Bahasa Aceh). Orang-orang Aceh memiliki kecenderungan mencintai apa yang mereka bisa lihat. “Bijeh mata” adalah sebuah frase jika dalam bahasa Indonesia/Melayu disebut “buah hati” yang bermakna seseorang yang sangat dicintai;
  2. Kaphe = bermakna Kafir (Bahasa Aceh);
  3. Syuhada = Orang-orang Aceh yang telah gugur dalam perang melawan Belanda. Syuhada adalah bentuk jamak dari syahid;
  4. kitab Bustanussalatin = Bustan al-Salatin fi Zikr al-Awwalin wal Akhirinatau lazim dibaca Bustanus Salatin jika diterjemahkan kedalam bahasa Melayu berarti “taman para raja” ditulis oleh Nurrudin Ar-Raniry dalam kurun waktu 1052-1054 Hijriah / 1642-1644 Masehi. Sebuah kitab pedoman bagi Sultan Aceh ketika memerintah. (Baca: Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh);

XXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN;
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

LOMPATAN PERUBAHAN

Bocah-bocah di depan gerbang sekolah, berteriak gembira mengekspresikan keriangan hati terdalam, kepolosan ekspresi bocah-bocah sungguh menggetarkan hati.

LOMPATAN PERUBAHAN

“Zaman itu seperti makhluk hidup, sehebat apapun persiapan yang dilakukan, adakalanya situasi berubah secara cepat. Dibutuhkan kecerdasan untuk menghadapi perubahan mendadak, dan bersamaan juga dibutuhkan ilmu untuk mampu mengatasinya.”

Awal Tahun 1998. Kelas kami diminta untuk mencari blangko wesel karena dalam pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 2 SMP Negeri 1 Banda Aceh akan ada praktek pengisian wesel. Tahun-tahun ini wesel masih digunakan, namun tak jamak lagi digunakan. Layanan wesel sudah digerus oleh layanan perbankan, sehingga beberapa teman Abu yang menggerutu tentang sulitnya mencari blangko wesel tersebut. Abu sendiri mendapatkan blangko wesel itu di pasar sayur malah!

Blangko Wesel Klasik

“Kalian mesti tahu cara menggunakan wesel! Kelak pengetahuan ini akan berguna ketika kalian menjadi mahasiswa!” Ultimatum guru Bahasa Indonesia.

Tapi tokh, tahun 1998 adalah tahun yang bergejolak, krisis ekonomi moneter menghantam Asia, dan Indonesia menjadi Negara yang paling terdampak. Bisa dibayangkan jika sebelumnya harga 1 USD adalah Rp. 2,500. Melonjak menjadi Rp. 15,000. Harga-harga melonjak tinggi, harga angkutan umum naik 2 kali lipat, akibat harga BBM naik. Di tengah situasi chaos melanda Indonesia, terjadi banyak kerusuhan di seluruh negeri sehingga Presiden Suharto yang telah menjabat selama 32 tahun menyatakan berhenti, orde baru berakhir dan dimulailah masa reformasi.

Lupakan politik, tidak menarik.

Pertengahan tahun 2001, saat itu Abu masih kelas 2 SMA terjadi gempa pada malam Jumat di Banda Aceh. Pada era tersebut gempa adalah fenomena alam yang sangat jarang terjadi. Nenek Abu memberitahu bahwa berdasar cerita yang beliau dapat dari neneknya, atau bisa jadi dari beberapa generasi terdahulu jika terjadi gempa di malam jumat di Aceh adalah sebuah pertanda sebuah bencana besar akan datang.

Abu tersenyum dan sedikit membantah; “Nek kita ini dalam keadaan perang. Kondisi musibah macam apalagi yang lebih besar akan menimpa kita?” Benar saat itu di Aceh sedang terjadi peperangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI (Tentara Republik Indonesia) media 1999-2005. Masyarakat sipil adalah korban yang paling menderita dan paling dirugikan.

Konflik Aceh 1999-2005

Perang menutup semua dialog keilmuan, logika manusia dalam peperangan tidak akan berjalan baik. Para pihak yang ada di dalam kancah itu dilingkupi rasa takut atau marah. Dalam perang yang panjang, semua orang baik, orang pintar, kritis, dan punya pendirian, semuanya mati. Mati dibunuh. Yang tinggal hanyalah orang-orang berkepala dua.

Baca: Setelah Revolusi Selesai

Ramalan nenek Abu terbukti beberapa tahun kemudian, 26 Desember 2004, antara pukul delapan dan lewat lima belas. Gulungan gelombang setinggi lima belas meter menggodam pesisir barat Aceh dengan ganas, gempa pada 8,9 pada skala richter melontarkan tsunami ke daratan. Air bah kemudian kembali ke laut, meninggalkan ribuan bangkai terapung, terangkut, lenyap atau tersangkut di bumi. Puluhan ribu orang tewas dan beratus ribu kehilangan ketika gelombang laut menghancurkan mendadak banyak kehidupan.

Baca: Tsunami

Bencana alam tsunami akhirnya membawa hikmah, pihak yang bertikai di Aceh akhirnya duduk berunding di Helsinki dan mencapai titik sepakat untuk mengakhiri perang yang berkecamuk. Korban perang di Aceh selama konflik itu mungkin lebih sedikit daripada bencana tsunami, akan tetapi perang lebih membawa dampak psikologis daripada bencana. Illustrasinya adalah: Dalam perdamaian, para anak memakamkan bapak-bapak mereka, dalam peperangan, para bapak memakamkan anak-anak mereka.

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Waktu terus bergulir diikuti oleh lompatan teknologi dan informasi.

Hari ini di tahun 2021, belasan tahun dari kejadian yang Abu ceritakan diatas. Sampailah di era digital. Setiap manusia mengalami habitat budaya sesuai dengan lingkup zamannya, sesuai dengan teknologi yang ada pada masanya. Sebagai contoh Kakek Abu (1929-1992). Sepanjang hidup beliau tidak mengalami banyak loncatan penemuan teknologi, mengirim surat via pos, mengirim uang via wesel atau menelpon. Ayah Abu (1957-2004) mungkin mengalami zaman internet dan komputer namun ketika beliau hidup, teknologi tersebut masih pada taraf awal sehingga beliau belum merasakan dampaknya terlalu.

Nokia sebagai salah satu perintis teknologi telepon seluler.

Sementara Abu mengalami semuanya, zaman menulis surat dengan sahabat pena. Menerima wesel honor menulis (di koran) ketika SMA, kemudian menerima uang lewat transfer ATM sampai piawai menggunakan internet banking. Dari zaman berteman manual, kemudian mengenal handphone, BBM sampai WA. Media sosial pun berkembang pesat seiring dengan pesatnya dunia digital.

Dahulu ketika seseorang ingin mendapatkan informasi ada dua pilihan, mencari info di perpustakaan atau menjumpai/bertanya kepada seseorang yang memahami. Sekarang google memudahkan siapapun untuk bertanya tentang apapun.

Abu membayangkan dahulu satu umur hidup seseorang (misalkan Ayah Abu) mungkin tidak terlalu banyak mendapati perubahan dibandingkan umur Abu. Orang yang (baru) hidup di zaman SMS mungkin sulit membayangkan sukarnya hubungan dengan surat menyurat, atau orang zaman WA akan menertawakan orang-orang zaman BBM betapa terbatasnya fitur aplikasi tersebut, jika tidak mengalami zaman itu sendiri. Sebagai seseorang yang pernah hidup di masa lalu, Abu hanya ingin menyampaikan idiom bahwa zaman ini mungkin lebih cepat, namun zaman dahulu tentu lebih romantis. Ketika tulisan menjadi ekspresi informasi bukan lagi ekspresi rasa. Mungkin itulah sebabnya puisi telah mati di era sekarang.

Perubahan yang dibawa oleh COVID-19

Covid-19 kemudian membawa perubahan yang lebih nyata lagi, manusia dipaksa membuat jarak dengan manusia lainnnya secara fisik. Rapat-rapat perkantoran sekarang tidak lagi mengharapkan kehadiran fisik, cukup via Zoom. Penetrasi digital lebih ditingkatkan lagi.

Teknologi yang baru melahirkan inovasi yang baru. Kekuatan perbankan besar ditabrak oleh Bitcoin, dominasi televisi digoyang oleh youtube, Hotel-hotel besar sekarang berhadapan dengan model hotel rumahan seperti ABnB, Grab dan Gojek berhadapan dengan perusahaan taksi seperti Blue Bird. Artinya perusahaan besar harus berhadapan dengan perusahaan kecil-kecil yang lebih siap. Mungkin sistem ini akan menghasilkan yang terbaik?

Tapi sebagai orang dari zaman lama, Abu terpaksa meringis sedih ketika seorang supir bus angkutan antar kota bercerita kepada Abu disebuah warung nasi ketika sahur tadi, “Tahun ini (2021) lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya, termasuk 2020. Kami para supir angkutan merasa ditekan oleh rezim yang sekarang, baik pusat maupun provinsi. Kemana kami harus mengadu bang?”

Benar buku sejarah yang pernah Abu baca, kekacauan selalu menyertai sebuah perubahan besar.

Abu menarik rokok dalam-dalam, menatap nanar padanya tanpa suara. Pandemi membuat kita waspada, dan bahkan cenderung curiga kepada sesama. Manusia telah berubah sebagaimana zaman telah berganti. Terenyuh dan sedih, Abu mengenang saat menjadi salah satu dari belasan anak SMA Negeri 3 Banda Aceh yang berbagi sebatang rokok di kantin belakang sekolah. Masa lalu yang tidak mungkin lagi terulang (lagi).

Lompatan perubahan, ada yang hilang tapi (juga) ada yang datang.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939)

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939)

KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA

Pada awal abad ke-19 Masehi. Perang Aceh telah berlangsung puluhan tahun, perjuangan rakyat Aceh menghadapi pemerintah kolonial Belanda belum juga menyusut. Untuk segera mengakhiri perang Belanda mengirimkan pasukan-pasukan mengejar Sultan Aceh Tuanku Muhammad Daudsyah dan Panglima Polem sebagai pimpinan perang yang dianggap paling berpengaruh. Setelah Teuku Umar gugur posisi Sultan Aceh di pesisir timur Aceh semakin sulit sehingga harus berpindah ke Gayo, daerah yang belum pernah bisa dimasuki oleh pasukan Belanda meski perang telah berlangsung selama 30 tahun. Laskar Aceh hampir setiap hari menyerang pos pasukan marsose yang berada di lereng-lereng gunung.

Untuk mengatasi “kekacauan” yang ditimbulkan laskar Aceh dari Gayo maka dikirimkanlah batalion marsose dari daerah Pasai dibawah pimpinan Mayor Jenderal Van Daalen (September-November 1901) dan batalion pimpinan Letnan Kolonel Scheepens (Juni-September 1902) dari Meureudu untuk melakukan penyerangan ke wilayah Gayo. Mereka mengalahkan beberapa benteng di perbatasan Aceh-Gayo namun tujuan menangkap Sultan Aceh dan Panglima Polem mengalami kegagalan diakibatkan kesetiaan rakyat Gayo kepada Sultan Aceh.

Strategi Belanda Menangkapi Keluarga Sultan Aceh

Kegagalan demi kegagalan membuat Belanda berpikir keras! Ketika mereka tidak bisa masuk lewat pintu depan maka mereka mencoba menerobos lewat pintu belakang. Belanda mengirimkan pasukan marsose menerobos wilayah Pidie untuk menangkap keluarga Sultan Aceh yang menurut laporan mata-mata Belanda ada di sana.

Ekspedisi Pasukan Marsose ke pedalaman Lamlo, Pidie menggunakan sarana transportasi gajah dikarenakan medan yang berat.

Ekspedisi Pasukan Marsose ke pedalaman Lamlo, Pidie menggunakan sarana transportasi gajah dikarenakan medan yang berat.

Tuanku Putroe Glumpang Payong seorang istri sultan Aceh ditangkap pada tanggal 26 November 1902 oleh pasukan dibawah pimpinan Letnan Christoffel, sebulan kemudian pada hari natal, 26 Desember 1902 pasukan Belanda dibawah komando Kapten van der Maateen berhasil menangkap istri sultan Aceh lainnya, Pocut Cot Murong dan anak satu-satunya dari sultan Tuanku Ibrahim yang masih balita di Lam Meulo. Berdasarkan arsip pemerintahan kolonial Belanda yang terangkum dalam Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronye, metode penangkapan dan penyanderaan keluarga sultan Aceh yang dikenal dengan kode “Metode Christoffel” dijalankan atas anjuran Snouck untuk segera mengakhiri perang Aceh.

Atas keberhasilan menyandera anak dan istri Sultan Aceh maka Gubernur Jenderal dan Militer Belanda di Aceh, Jenderal Van Heutsz mengeluarkan ultimatum dalam tempo satu bulan apabila sultan tidak menyerah maka kedua istrinya dan puteranya akan dibuang ke luar Aceh.

Menyerah Atas Nama Pribadi Bukan Sebagai Sultan Aceh!

Sultan Muhammad Daud Syah menyerah kepada Belanda pada tanggal 10 Januari 1903 di Sigli. Ia mengenakan pakaian rakyat biasa, tanpa alas kaki, seluruh pakaian dan perlengkapan kebesarannya telah ditanggalkan. Di hadapan perwakilan Belanda Sultan Muhammad Daudsyah berkata, bahwa pedang yang tersarung hari ini adalah sebagai pribadi, bukan atas nama Aceh.

Ketika menyerah kepada Belanda, Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah melepaskan segala atribut kebesaran termasuk tidak mengenakan alas kaki untuk menyampaikan pesan tegas. Ia menyerah secara pribadi.

Ketika menyerah kepada Belanda, Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah melepaskan segala atribut kebesaran termasuk tidak mengenakan alas kaki untuk menyampaikan pesan tegas. Ia menyerah secara pribadi.

Selain itu Sultan Muhammad Daudsyah menolak menandatangani dokumen yang berisi pasal-pasal tentang penyerahan kekuasaan kepada Belanda dengan berkata secara diplomatis, sebagaimana diceritakan secara oral oleh pada orang tua, Sultan Aceh berkata: “Kedaulatan Aceh ada pada rakyat!” Belanda sangat berang! Sultan yang pura-pura begitulah menjuluki dan mencantumkan nama Sultan Muhammad Daudsyah pada setiap dokumen resmi. Sultan kemudian dijadikan tahanan kota di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) dan harus melapor kepada Belanda setiap kurun waktu tertentu.

Belanda menduga setelah sultan ditangkap maka perlawanan akan berakhir, sebagaimana diberbagai wilayah di Nusantara yang berperang dengan Belanda, ketika raja menyerah maka rakyat menyusul. Ternyata tidak perang Aceh masih berlanjut.

Laskar Aceh terus melakukan perlawanan dan bahkan melakukan penyerangan ke Kutaraja (Banda Aceh sekarang) dan sekitarnya seperti Leupung dan Peukan Bada. Berdasarkan laporan mata-mata setiap serangan dilakukan atas perencanaan dan sepengetahuan Sultan Muhammad Daudsyah.

Kediaman Sultan Muhammad Daudsyah kemudian digeledah serta ditemukan berbagai surat-surat dari panglima perang di Aceh yang masih aktif. Namun yang paling membuat Belanda geram adalah ditemukan korespodensi antara Sultan Aceh dengan Kaisar Mitsushito yang isinya ucapan selamat atas kemenangan perang Jepang melawan Rusia (tahun 1905) dan upaya menjalin kerja sama sebagai sesama bangsa Asia untuk mengusir Belanda dari bumi Aceh.

Pembuangan Sultan Aceh Oleh Belanda

Merasa terpedaya dan menyadari betapa berbahayanya Sultan Muhammad Daudsyah bagi kelangsungan pemerintahan kolonial Belanda di Aceh maka Belanda kemudian menjatuhkan hukuman. Sebuah hukumam yang paling menyakitkan setiap orang Aceh, yang mencintai Aceh, mengasingkan beliau ke Ambon.

Semangat jihad Sultan Aceh tidak pernah padam bahkan dalam pengasingan di Ambon, beliau melakukan dakwah dan menyebarkan agama Islam di sana. Bangsawan dan masyarakat Ambon banyak yang memeluk agama Islam. Belanda tidak senang dan memutuskan untuk memindahkan Sultan Muhammad Daudyah ke Batavia (Jakarta sekarang).

Berziarah ke makam Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah

Berziarah ke makam Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah

Pada tanggal 6 Februari 1939 Sultan Aceh terakhir, bernama lengkap Alaiddin Muhammad Daudsyah menghembuskan nafas yang terakhir dan dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Hutan Kayu di kawasan Rawamangun, Jakarta.

Pada tahun 1942 Belanda angkat kaki dari Aceh digantian Jepang, dan meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sultan Aceh terakhir tidak lagi hidup untuk melihat piala yang telah diperjuangankan sepanjang hidupnya, Piala itu: KEMERDEKAAN!

Referensi:

  1. Perang Kolonial Belanda di Aceh / The Dutch Colonial War in Aceh (Dwibahasa / Bilingual); Penerbit Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA); Cetakan ke 1, Banda Aceh; tahun 1977;
  2. Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936; Dirangkum oleh E. Gobee dan C. Adriaanse; Penerjemah Sukarsi; Seri Khusus INIS Jilid I-XI; Jakarta: Penerbit (Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies) INIS, Jakarta; tahun 1990;

XXX

Artikel-artikel terdahulu tentang Aceh:

  1. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  2. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  3. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  4. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  5. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  6. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  7. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  8. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  9. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  10. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  11. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  12. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  13. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  14. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  15. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  16. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  17. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  18. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  19. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  20. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  21. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  22. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  23. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  24. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  25. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  26. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  27. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  28. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  29. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  30. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  31. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  32. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  33. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  34. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  35. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  36. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  37. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  38. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  39. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  40. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  41. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  42. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  43. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  44. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  45. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  46. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  47. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  48. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  49. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  50. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  51. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  52. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  53. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  54. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  55. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  56. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  57. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  58. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  59. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

HATI RESAH BERKISAH

Ada banyak misteri yang tak mungkin dianggap sebagai masalah bagi kecerdasan kita ketika tidak mengetahuinya.

HATI RESAH BERKISAH

Sebab akibat tidak serta merta berlaku kepada manusia.

Hidup tidak begitu.

Seperti banyak membaca buku belum tentu membuat menambah ilmu, banyaknya pengalaman belum tentu membuat seseorang lebih bijak, sebagaimana pula perenungan dalam tidak mesti membuatmu menjadi lebih baik.

Ada banyak misteri yang tak mungkin dianggap sebagai masalah bagi kecerdasan kita ketika tidak mengetahuinya.

Terkadang kau kalah. Kau melakukan yang baik, kita semua, tapi terkadang kau kalah. Ini menyakitkan. Hari itu, kata-kata bijak bagai tulah.

Ada rasa lelah menghilangkan marah membuncah, ini adalah masa ketika tidak merasakan duka, disitulah bahagia.

Langsa, 18 Sya’ban 1442 Hijriah, bertepatan 1 April 2021.

Beberapa puisi terdahulu:

  1. Renungan Malam; 19 November 2017;
  2. Seminggu Setelah Tsunami Aceh; 13 Desember 2017;
  3. Penantian; 21 Februari 2018;
  4. Di Tepian Pantai Pulau Bunta; 6 Maret 2018;
  5. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  6. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  7. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  8. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  9. Jangan Mencintai Lautan; 4 April 2019;
  10. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  11. Peucut Kherkof Suatu Masa; 24 September 2019;
  12. Mengunci Malam; 1 April 2020;
  13. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  14. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  15. Jejak Langkah; 26 Desember 2020;
Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

AKHIR RIWAYAT SANG DURJANA

Detasemen KNIL menangkap seorang Aceh di dekat Kota Meulaboh tahun 1925; sumber KITLV.nl

AKHIR RIWAYAT SANG DURJANA

Dekat kota Meulaboh, circa 1925.

Sudah berapa lama aku tidak makan nasi? Aku sudah lupa harumnya uap nasi ketika matang, rasa pedas cabai yang mengigit lidah, serta manisnya air tebu. Entah berbulan-bulan atau mungkin tahunan aku berada dalam rimba. Makan batang pisang sehingga perutku tak mampu lagi mencerna, terlalu lama aku telah berkelana dalam rimba sehingga sudah dianggap bagian daripadanya. Nyamuk sudah lama tak mengigit tubuhku, harimau hutan pun tak peduli jika berpapasan denganku.

Kawan-kawanku telah syahid semuanya! Tinggal aku seorang. Umar yang nakal sudah tidak ada lagi, Saman yang soleh telah tewas diracun. Hanya aku yang masih bertahan tapi sampai kapan aku bisa bertahan?

Aku merasakan lapar yang sangat hebat, rasa-rasanya aku akan mati sebentar lagi. Kecamuk perasaan marah, sedih, berbagai pertanyaan yang tak kunjung ada jawab, bimbang, rasa tidak percaya dan putus asa, semua emosi berbaur di hati. Saat ini aku tenggelam dalam kebimbangan. Aku harus mampu meloloskan diri sebelum semakin dalam terperangkap dalam rasa ini. Jiwa yang rentan sewaktu-waktu akan hancur.

Aku memejamkan mata seraya menggucapkan syahadat, “Ashaduala ilaaha illallah Wa ashadu anna muhammadar rasulullah.” Malam kelam dalam rimba yang gulita.

Ketika pagi datang aku masih hidup, namun tak mampu lagi menggerakkan tubuhku, lamat-lamat aku mendengar suara peluit.

XXX

Pagi hari Tanggal 29 pasukan bergerak di sepanjang alur sungai Teunom ke hulu, dari situ menebang beberapa pohon yang menghalangi jalan kecil menuju sebuah lereng yang lebat hutannya. Di sana mereka menjumpai bekas tapak kaki. Tanpa bersuara, pasukan mengikuti tapak kaki itu, tak jauh tampak sebatang pohon bekas ditebang, mungkin untuk kayu api, sedang dari belukar-belukarnya telah dipotong daun-daunnya untuk atap. Jelaslah bahwa tempat persembunyian lawan terletak di dekat sini. Renjan seorang Pasukan Marsose bergerak terus ke depan melalui semak-semak sehingga dapat melihat sebuah pondok. Ia segera merebahkan dirinya ke tanah bersama teman-teman yang lain.

Sebagai komandan, aku memberikan isyarat dan semua anggota pasukan meletakkan ransel ke tanah, sebagian mereka mendekati bukit dengan hati-hati sekali untuk memperhatikan dengan jelas tempat persembunyian tanpa dapat dilihat oleh lawan.

Aku membunyikan peluit tiga kali, pendek-pendek untuk memperingatkan anggota pasukan bergerak. Mereka pun maju dan melihat di atas pondok itu ada seorang yang sedang tertidur, seorang beruban yang mengenggam sebilah rencong di tangan kanannya, sedang di tangan kirinya sebuah kelewang. Ia telah dikejutkan oleh bunyi peluit, namun ia tidak melarikan diri. Ia bangun dan berpikir sejenak dan pada saat-saat itu ia dapat mengukur jangka kehidupannya. Pilihannya adalah gugur sebagai seorang syahid.

Dengan kepalanya yang beruban orang tua itu berdiri sementara matanya  terus memperhatikan sikap anggota kompeni yang bermunculan dari semak-semak. Ia tidak memperlihatkan sikap bimbangnya. Dan ketika marsose-marsose menembakkan butir-butir peluru kearahnya. Ia menunjukkan ketabahan yang luar biasa, seolah pelor-pelor yang ditembakkan kearahnya seolah dusta belaka. Adegan pertempuran itu segera berakhir, walaupun ia telah bertempur dengan gagah berani.

Demikianlah sang durjana gugur, demikianlah akhir riwayat sang durjana, seorang keramat yang memiliki kharisma yang luar biasa. Tamat pulalah satu babak buku peperangan yang sangat menarik.

Laporan tertulis Kapten (KNIL) Veltman kepada atasannya tentang operasi di dekat Meulaboh tahun 1925.

XXX

Aku telah terkepung oleh pasukan marsose, iya inilah akhirnya. Ketika belasan moncong senjata diarahkan kepadaku. Rasa takutku menyublim, aku telah mati berkali-kali sebelum hari ini. Demi orang-orang yang ingin aku lindungi, aku akan berusaha mati-matian, jika harus kehilangan nyawa itu sesuai harapanku.

Ketika butiran peluru menghambur ke arahku, aku merasa diriku telah lenyap, aku tak mengenali lagi diriku ketika timah panas menghantam tubuhku. Aku telah kembali kepada yang SATU.

XXX

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170)

XXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  2. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  3. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  4. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  5. Selamanya; 14 Desember 2008;
  6. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  7. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  8. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  9. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  10. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  11. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  12. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  13. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  14. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  15. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  16. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  17. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  18. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  19. Ada Banyak Cinta; 15 Maret 2011;
  20. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  21. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  22. Ode Seekor Harimau; 19 Agustus 2012;
  23. Ashura; 13 Februari 2013;
  24. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  25. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  26. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  27. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  28. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  29. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  30. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  31. Perjalanan; 29 November 2013;
  32. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  33. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  34. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  35. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  36. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  37. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  38. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  39. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  40. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  41. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  42. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  43. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  44. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  45. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  46. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  47. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  48. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  49. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
  50. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

MENGAPA HARUS MEMPELAJARI BAHASA DAERAH

Penari Seudati di Gayo tahun 1930. Sumber : KITLV

MENGAPA HARUS MEMPELAJARI BAHASA DAERAH

Setiap kata, setiap kalimat yang kalian baca ini adalah bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan. Telah diprediksikan pada akhir abad ini hampir semua bahasa daerah di Indonesia yang berjumlah 600 bahasa saat ini akan tidak lagi diucapkan oleh para penuturnya diakibatkan perkembangan bahasa Indonesia (nasional).

Membuat kita kembali kepada pertanyaan awal mengapa harus mempelajari bahasa daerah? Ada banyak alasan. Salah satunya, bahasa daerah adalah kunci untuk ikut serta dalam budaya orang-orang terdahulu atau yang masih bertutur, bahasa adalah nilai dari sebuah fakta yang merupakan kode yang hanya dipahami mereka yang berpikir dengan bahasa tersebut.

Alasan kedua, ketika seseorang mampu bertutur lebih dari satu bahasa maka orang tersebut akan cenderung terhindar dari penyakit demensia (pikun), dan membuat orang itu mampu mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam tindakan dan pikiran. Bilingual itu menyehatkan.

Alasan ketiga, bahasa memiliki banyak keasyikan padanya. Lebih daripada dari yang diceritakan orang-orang. Sebagai contoh kata “boh” dalam bahasa Aceh bisa bermakna: buah, buang, alat kelamin, meletakkan. Semua memiliki kesamaan huruf/kata. Bagaimana membedakannya? Dari pengucapannya dimana si penutur menggulungkan lidah sehingga menghasilkan bunyi yang mirip tapi tidak sama bagi si pendengar.

Bisa dikatakan tiap-tiap bahasa memiliki pengucapan yang berbeda-beda, tiap-tiap bahasa daerah memiliki keunikan masing-masing. Mempelajari bagaimana mengucapkan seperti mengemudi dengan berbagai jenis kenderaan atau sistem operasi. Bahasa adalah pola pikir, berganti bahasa juga sejenis menyesuaikan diri dengan pemahaman yang berbeda.

Tiap-tiap bahasa adalah keajaiban, bahasa menunjukkan bangsa. Hal-hal lucu dalam satu kebudayaan hanya bisa diceritakan oleh bahasa budaya tersebut. Mempelajari bahasa daerah akan sangat menyenangkan, menguasai bahasa baru tidak akan mengubah pikiran kita tapi pasti akan membuka pemahaman baru dalam pikiranmu.

Bahasa adalah jembatan awal menuju pemahaman kebudayaan.

Beberapa Opini lain:

  1. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  2. Asal Muasal Budaya Kopi Di Aceh; 1 Agustus 2017;
  3. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  4. Dimanakah Makam Para Ratu Yang Pernah Memerintah Aceh Selama 59 Tahun; 6 Oktober 2017;
  5. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  6. Eksploitasi Sumber Daya Alam Apakah Bagus Untuk Aceh; 15 Oktober 2017;
  7. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  8. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  9. Kejatuhan Sang (Mantan) Pejuang; 6 Juli 2018;
  10. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  11. Menafsir Alam Membaca Masa Depan; 14 Maret 2019;
  12. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  13. Merekonstruksikan Kembali Letak Istana Daroddonya; 3 Maret 2020;
  14. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
  15. Kenapa Sejarah Tak Boleh Dilupakan; 4 Oktober 2020;
Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN

Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

Sepasukan patroli tentara Belanda dengan bantuan Panglima Laot yang menunjukkan jalan telah berhasil menangkap Cut Nyak Din. Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN

“..Aceh hari ini, Tuanku, sudah terlalu beda rupanya sejak Tuanku meninggalkannya menghadap Rabbul Alamin. Andaikata Tuanku dapat bangkit kembali dan datang kemari, sungguh Tuanku tidak (akan) mengenalnya lagi. Kami, hari ini bukan lagi penguasa yang disebut-sebut  dengan penuh penghormatan dan I’tiraf bil jamil (pengakuan atas keindahan budi). Kemi telah jatuh. Berkali jatuh, dan kini berada di dasar jurang yang dalam.

Terakhir kami bangkit untuk berdiri tegak namun kemudian kami jatuh pula lagi, dan kini tidak ada apa-apa lagi yang dapat kami banggakan dari kami. Kami telah mengubah negeri yang Tuanku pegang perintahnya di bawah petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Kami telah melupakan Tuanku. Kami juga tidak mencari jejak-jejak yang Tuanku dan para pendahulu Tuanku tinggalkan. Bagi kami itu sudah tidak penting lagi. Itu sekedar masa lalu…”

Petikan surat dari Sultan Mansyur Syah kepada Khalifah di Instanbul, Sultan Abdul Majid Khan berisikan Permohonan Bantuan Kesultanan Aceh kepada Khalifah Turki Ustmani untuk menyerang pusat pemerintahan Hindia Belanda Batavia di tahun 1848 Masehi. Naskah surat dipublikasi dalam tulisan: “Islam, Trade and Politics Across The Indian Ocean”.

XXX

Rimba antara Sungai Woyla dan Sungai Meulaboh, Agustus 1905.

Setiap teguk air, setiap gigitan makanan mestinya memperpanjang kehidupan namun ia pula membawa racun ke dalam tubuh, sama selayaknya setiap helaan nafas pada satu sisi menambah durasi hidup sekaligus mengurangi jatah usia. Ibarat rasa sakit yang teramat awalnya, pada akhirnya menyatu ke dalam raga sehingga semakin lama menjadi hal biasa, lupa bahwa rasa sakit itu adalah anasir asing yang masuk ke dalam badan.

Terperanjatlah aku melihat segala perubahan yang terjadi kepadanya. Seorang tua yang kurus kering, keriput kulit di seluruh tubuhnya, buta dan tak berdaya. Benarkah di depan aku ini adalah puteri Tuanku Nanta Setia, isteri dari Ibrahim Lamga, sesudah itu isteri Teuku Umar yang termasyur akan kecantikannya? Apakah orang tua bungkuk itu adalah sungguh-sungguh pahlawan betina Aceh yang diakui dahulu adalah sekuntum bunga yang molek di dunia wanita Aceh.

Enam tahun lamanya setelah Teuku Umar gugur dia melakukan gerilya melawan tentara Belanda, dari persembunyiannya jauh di dalam rimba wolya memimpin perang sabil mengusir kumpeni dari tanah Aceh. Segala daya dan upaya telah dilakukannya untuk menyusun peperangan besar-besaran di seluruh Aceh. Ia mengirimkan utusan ke segala tempat, buat mengumpulkan sekalian rekan yang pantang tunduk dan menambahkan kawan-kawan berjuang buat melawan Belanda. Sampai ke tanah Minangkabau ia mengirimkan orang buat meminta bantuan di padang sabilullah! Segala barang-barang berharga yang masih ada padanya dikeluarkannya untuk mengisi kas peperangan dan menyusun barisan-barisan pengempur. Segala emas dan intan pusaka yang masih ada dikorbankannya. Pastinya kehidupan Din sangat sengsara. Padanya tiada lagi apa-apa selain tekad berpantang tunduk, tidak ada sesuatu lagi yang menjadi miliknya.

Saleum teuka Durjana! Senang bertemu kawan lama.” Bola hitam di matanya telah berubah manjadi abu-abu, penyakit ayahnya telah turun pula kepadanya, dia telah buta. Dalam kehidupan yang serba sengsara, kesehatan tubuhnya telah menurun, penyakit encok telah melemahkan tubuhnya.

Aku menangis.

Dia tertawa, “cengeng seperti perempuan. Aku dengar-dengar kau sudah menyerah bersama Polim menyusul Sultan sebagaimana para pemimpin dari daerah timur karena tak kuat lagi dikejar-kejar dan di kepung oleh pasukan Van Heutsz.” Dialah Din, sifatnya tidak perlu dijelaskan dengan narasi panjang, cukup hanya menyebut namanya saja Cut Nyak Din itu sudah menjelaskan segalanya.

“Din! Lihatlah beta ini! Apa lagi yang beta miliki di dunia yang fana ini? Semua telah dirampas oleh Belanda. Satu-satunya keinginanku saat ini hanyalah syahid.”

Din tertawa, “aku sudah buta jadi aku tidak akan bisa memandang wajahmu. Suaramu masih sama dengan dahulu, banyak kawan kita yang telah syahid pada akhirnya tinggal kita yang masih hidup. Andai kau piawai memimpin pasukan, maka akan kuserahkan pimpinan perang padamu. Dan lagi percaya penuh kepada manusia aku belum dapat! Aku hanya percaya penuh kepada Allah Subhana Wataala!”

Sedikitpun tidak ada tersinggung mendengarkan kata Din yang terakhir tadi. Aku cukup tahu diri bahwa dalam hal kepemimpinan Din adalah Jenderal terbaik yang dimiliki Aceh semasa perang dengan Belanda melebihi Panglima Polem, bahkan suaminya Teuku Umar sekalipun. Aku bergurau, berharap dia tertawa. “Sudah tentu aku tidak punya niatan menjadi saingan Allah Subhana Wataala.”

Tetapi persangkaan itu ternyata salah. Din tenang saja, “Kata-kata itu tidak pernah keluar dari seorang ulama, melainkan seorang satria. Aku harap kau bisa dipercaya, sekarang sangat sedikit orang yang mau berjuang.”

Di dalam rimba ini aku perhatikan hanya diperbuat beberapa buah dangau-dangau yang sederhana, hanya menahan hujan dan panas matahari saja. Pasukan Aceh yang menyertai Cut Nyak Din, pakaian mereka sudah sangat buruk, persenjataannya pun amat sederhana.

“Ketika aku kecil, ayah bercerita kita (Aceh) meminta bantuan Turki menyerang Batavia (1848 M), waktu itu aku merasa Aceh telah sebegitu lemahnya sampai harus minta bantuan. Tak pernah di sangka di kemudian hari Ketika aku muda belia perang belum terjadi kita mengirim lagi surat ke Turki (1873M) untuk memohon bantuan mempertahankan kemerdekaan, lagi-lagi aku merasa kita telah sangat lemah waktu itu. Turki pada akhirnya tidak menolong, malah kita membeli senjata dari musuh lama kita Portugis. Hari ini (1905) bisa kau lihat betapa lemahnya kita? Jikalah kafir itu berkuasa lama, dan aku telah mati nanti bisa kau bayangkan betapa lemah orang Aceh di masa depan? Seratus atau dua ratus tahun lagi masihkah ada orang mengaku orang Aceh?”

Di bawah pukulan palu godam Van Heutsz yang bertubi-tubi, Aceh tak dapat bergerak lagi, lemas, remuk tapi perempuan ini dalam hal mempertahankan pendirian tak kalah bahkan lebih unggul dari kaum laki-laki.

“Apa yang bisa beta bantu?”

“Di Tungkop, di daerah Woyla Hulu yang merupakan bagian federasi Kawai XVI, terletak di pusat pegunungan ada seorang perempuan yang namanya masyur di kalangan rakyat menjadi lawan bagi Belanda, namanya Pocut Baren. Kau jumpai dia antarkan sebuah surat kepadanya.”

Seorang perempuan muda keluar dari balik pohon, ia berseluar dan berbaju hitam. Ia menampakkan wajah gagah berani menatapku tajam seraya menyerahkan surat kepadaku.

“Gambang, andaikata terjadi apa-apa padaku paman ini adalah seseorang yang dapat kau percayai, ingatlah wajahnya. Dia adalah sahabat ayahmu, juga kawan baik dari kakekmu.” Perempuan itu ternyata Cut Gambang, puteri dari Teuku Umar, sikapnya yang gagah berani menjelaskan darah keturunannya.

Pocut Baren seorang Uleebalang (Raja Kecil) Tungkop. Merupakan bagian dari federasi Kawai XVI terletak di pedalaman Woyla hulu. Memimpin perjuangan melawan pemerintah Kolonial Belanda periode 1903-1910.
Sumber : Aceh; H.C Zentgraff; Penerbit Beuna Jakarta; Cetakan ke-1; 1983.

Baca: Mengenal Pocut Baren

Telah muncul seorang pejuang perempuan lagi yaitu Pocut Baren, aku merasa Belanda telah di depan gerbang kemenangan pada perang panjang yang melelahkan ini. Ketika para lelaki telah meletakkan senjata dan perempuan yang memimpin perjuangan padahal mereka kaum perempuan adalah yang paling banyak menanggung penderitaan akibat perang ini.

Itulah para perempuan Aceh sejati! Ia menuju ke ranjang pengantin dengan api berahi yang panas melebihi bangsa-bangsa lain, dan dengan nafsu yang sedemikian hebat pula ia menuju medan perang. Ia tak gentar mengikuti suami dan pasukannya dalam pertempuran dan perjalanan mengarungi rimba raya dengan segala kekurangan dan bahaya intaian pasukan marsose Belanda. Ia menerima kandungannya dalam peperangan dan di situ melahirkannya, semua itu penuh ketengangan. Mereka berjuang bersama suaminya, di tangannya senjata mungil berupa kelewang atau rencong menjadi sangat dahsyat. Perempuan Aceh berjuang atas dasar “Sabilullah” menampik segala kompromi. Ia tidak akan mengkhianati wataknya sebagai wanita dan hanya mengenal alternatif membunuh atau dibunuh!

Baca juga : PEREMPUAN ACEH FULL POWER

Ada perasaan tidak enak ketika harus meninggalkan tempat ini. Cut Nyak Din sudah sangat tua, buta dan timpang pula, hampir-hampir tak dapat melangkah. Kehidupannya sangat sengsara, tapi tidak ada sama sekali keinginan untuk tunduk.

XXX

Rimba antara Sungai Woyla dan Sungai Meulaboh, 6 November 1905.

Sepasukan patroli tentara Belanda dengan bantuan Panglima Laot yang menunjukkan jalan telah berhasil menangkap Cut Nyak Din. Khawatir dengan pengaruh Cut Nyak Din kepada masyarakat Aceh, Belanda memutuskan untuk membuang ke Pulau Jawa. Hukuman buang itu berarti menceraikan orang dari tanah airnya, bagi orang Aceh adalah sebuah hukuman yang seberat-beratnya.

XXX

Wahai orang-orang Aceh! Seandainya kita dapat sejenak memindahkan sukma kita ke dalam kalbu perempuan itu (Cut Nyak Din), di tempat pembuangannya di Sumedang. Betapapun indah tanah priangan yang permai dengan segala keindahannya, sungguhpun serupa. Tapi tanah yang dipijak bukanlah tanah Aceh! Bukan pegunungan Aceh! Udara sejuk yang dihirup sehari-hari bukan pula udara Aceh!

Makam Cut Nyak Dhien di Sumedang.

Nisan Cut Nyak Dien. “Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.

Betapa sakit membayangkan sawah-sawah Lampadang, jalan setapak Lampisang yang bertaut di hatinya tapi tak didekatnya. Jauh melintasi puncak-puncak gunung sampai ke tepi langit. Bayangkan ketika kita menghidu sukmanya. Rumah dan halamannya telah hancur, Ibrahim Lamnga yang gugur di glee tarom, makam Teuku Umar di rimba raya. Tak ada harapan untuk berziarah kesana. Ia telah kehilangan segala-galanya yang dicintainya. Ia seorang pejuang yang tak pernah menyerah sampai detak jantungnya yang terakhir. Hanya ada satu orang yang mampu menahan derita seperti itu, dialah Cut Nyak Din. Karena itulah kita menghormatinya, kita mengenangnya.

|Bersambung|

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN;
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 12 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DELAPAN

Kenegerian Idi secara resmi adalah wilayah Aceh yang pertama “berkhianat” hal ini ditandai dengan naiknya bendera Belanda di benteng Idi pada 7 Mei 1873.

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DELAPAN

Menjelang akhir abad XIX, Perairan Selat Malaka.

Matahari turun pelan-pelan, semburat merahnya berganti kuning keemasan. Lalu kelabu menyusup dan gelap menjelajah.

“Matahari segera tenggelam segera pakai penutup kepala kalian!” Perintah nahkoda kepada seluruh awak dan penumpang. Melalui senja tanpa menutup kepala adalah sebuah pantangan bagi setiap orang Aceh yang berada di dalam kapal. Aku tidak tahu sejak kapan tradisi ini dimulai? Apakah sejak masa Sultan Iskandar Muda ataukah telah lebih awal ada. Sejak menjelang senja kapal yang kutumpangi diterpa gelombang keras dari sisi kanan dan kiri. Aku memandang sekeliling, orang-orang Aceh yang telah melaut sejak dahulu kala. Ketabahan mereka menghadapi ombak lautan pernah membuat kesultanan ini menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka. Sayang zaman itu sudah berlalu berpuluh tahun yang lalu, kupikir aku cukup beruntung melihat sisa-sisa kejayaan yang masih tampak.

“Tuan yakin turun di Kuala Idi?” Nahkoda bertanya kepadaku, kemudian melanjutkan. “Raja Idi telah berkhianat memihak kompeni sejak awal. Kesultanan Langkat, Deli, Serdang dan Asahan juga sudah takluk. Keadaan semakin sulit sejak pulau kampai jatuh.”

Aku menarik nafas panjang, misi sang nahkoda ke pulau pinang untuk membeli senjata dari para saudagar cina di sana juga belum tentu mulus. Pihak Belanda pasti meminta tolong Inggris yang menguasai Semenanjung Melayu untuk menghambat penambahan pasokan arsenal pasukan Aceh.

“Beta ditugaskan untuk membantu panglima Mudabbirusyarqiah1) oleh sultan sendiri.” Hatiku bergejolak ketika mengatakan itu, jika boleh memilih medan juang maka aku lebih memilih tetap berada di Aceh Besar tempat pertempuran sedang berlangsung gencar-gencarnya, tapi sultan justru mengirim aku kesini, medan laga yang tak aku kenali.

“Baik nanti di Kuala Idi akan ada sekoci mengantar. Menurut kabar Panglima Nyak Makam ada di pedalaman Peurelak saat ini.” Kata sang nahkoda.

“Terima kasih tuan.” Ucapku pelan. Suara angin di buritan, desir-desir ombak memenuhi semesta pikanku yang mengawang-awang.

XXX

Pedalaman Peurelak, seminggu kemudian.

Apalah artinya sebuah batas negeri? Tak lebih seperti sebuah garis di atas pasir. Setelah seminggu berada disini kudapati ternyata sebagian pasukan Aceh di pesisir Timur berasal dari Aceh Besar. Hanya perlu mendengarkan mereka mengatakan kata “breuh2) saja kita sudah tahu. Orang-orang di Aceh Besar memiliki dialek yang agak berbeda dengan orang-orang Aceh lainya, terutama ketika mengucapkan huruf “r” dimana ketika diucapkan lidah digulung ke dalam, berbeda dengan ketentuan umum (berbahasa) di mana ketika huruf “r” diucapkan ujung lidah ditempelkan di langit mulut. Rasa mengenali ini membuat ketidaknyamananku berkurang sedikit.

Panglima Nyak Makam masih melakukan misi penyusupan ke wilayah Seuruway yang dikuasai Belanda dan belum juga kembali. Pimpinan pasukan di wilayah Peureulak sementara dipegang oleh wakilnya Nyak Mamad yang juga berasal dari wilayah Peureulak.

“Durjana nanti siang kita akan masak kuah beulangong3) Aceh Rayeuk (Besar). Makan yang banyak!” Kata Nyak Mamad tersenyum bahagia.

“Alamak kenduri rupanya Pang4), ada hajatan apa?” Tanya aku.

Nyak Mamad hanya tersenyum simpul. Dugaanku sepertinya Panglima Nyak Makam akan segera kembali.

Sejak pagi hari semua orang berkumpul menyiapkan masakan, ada yang merajang buah nangka, pisang dan bawang. Ada pula yang memotong daging sapi kecil-kecil dan yang paling penting adalah menyiapkan bumbu masak. Suasana riuh penuh dengan semangat.

Menjelang siang dari arah sungai muncul belasan perahu, para penghuni markas bersorak menyambut sementara dari arah perahu terlihat wajah yang sangat tegang. Suasana menjadi keruh seperti aliran sungai menuju kuala.

Berpakaian kuning seperti menantang sinar matahari pimpinan pasukan turun dari perahu dengan penuh kharisma, Nyak Mamad selaku wakil panglima menyambut. Dari jauh aku melihat panglima berbisik dan ketengangan menyebar. Apakah Belanda sudah mengetahui lokasi markas ini? Aku hanya menduga-duga.

Kabar pun menyebar, Jenderal Mata Satu (Karel van der Heijden) telah menerobos pedalaman Aceh Besar sampai dengan 30 kilometer yang belum pernah dicapai Jenderal Belanda manapun sampai tahun 1879, sebanyak 500 kampung telah dibumihanguskan, pohon-pohon ditebang, sawah ladang dibakar. Hatiku berdegup kencang bagaimana kabar anak istriku disana? Aku merasa was-was dan menenangkan diri berharap keluargaku melarikan diri ke pegunungan, istriku pasti selamat.

Persiapan Pasukan dalam rangka Operasi Militer Belanda di Aceh

Persiapan Pasukan dalam rangka Operasi Militer Belanda di Aceh

Selepas Isya aku dipanggil ke tenda panglima, ketika aku datang dia sedang membaca surat pengantar yang dibuat oleh Tuanku Hasyim Banta Muda. Dia menatapku dengan tajam seolah-olah kami tidak pernah bertemu sebelumnya, memandang dari ujung kaki ke ujung rambut. Aku lihat pasukan rungkhom5) berjaga.

Sambil menarik asap tembakau dari pipanya Nyak Makam bertanya, “sudah berapa lama kamu ada di pesisir timur?”

“Sebulan kurang dua hari.” Aku tersenyum.

Sketsa Wajah Panglima Teuku Nyak Makam

Sketsa Wajah Panglima Teuku Nyak Makam

Kemudian dia menyerahkan pipa tembakaunya untuk aku hisap. Kode etik dalam pertempuran (pasukan Aceh) ketika kau diberikan air atau tembakau artinya kau telah dijamin dalam perlindungan dari yang memberikan. Aku mengambil pipa tembakau dan menarik asapnya kuat-kuat.

Baca: Teuku Nyak Makam, Pahlawan Aceh Tanpa Kepala

“Aku punya kabar buruk untukmu.” Katanya. Aku diam menanti kelanjutan ceritanya.

“Jenderal mata satu menyerang kampungmu sekitar dua minggu lalu.” Sambungnya. ternyata desas-desus tadi siang benar. Dia menatap mataku dalam-dalam.

“Telah jatuh banyak korban, ketika pasukan Belanda telah pergi. Orang-orang yang kembali ke kampung dan melihat jumlah korban. Ternyata ada banyak penduduk yang dibantai, perempuan dan anak-anak.” Perasaanku menjadi tidak enak.

“Aku mendapat kabar langsung dari orang terpercaya, bahwa istrimu telah tewas dengan memegang tombak di tangan kanannya, serta anakmu di tangan kirinya.” Suasana menjadi hening. Suara jangkrik yang sedari tadi berbunyi hilang.

Rasa-rasanya ini tidak mungkin, istriku adalah petarung yang tangguh. Aku tidak dapat berpikir sama sekali. Aku mundur perlahan-lahan, seluruh mata diruangan menatap aku, keluar dari tenda panglima rasanya ketika aku berjalan di atas tanah, dan secara tak sadar kakiku tak lagi kukuh, bergetar kencang serasa hampir jatuh. Aku bersandar di pohon kelapa, menghidu bau perdu dan pohon-pohon di sekelilingku. Aku memandangi langit yang dipenuhi bintang, dan di mataku bintang nun jauh berubah menjadi lambang-lambang samidin. Aku merasa telah direnggutkan dari bumi ini, terbang melayang jauh. Sebuah rongga yang melompong muncul di dadaku, kesitulah seluruh rasa amarah dan rasa sakitku mengalir masuk. Aku menangis.

XXX

Surat Letnan Colijn (Kelak Perdana Menteri Belanda) kepada istrinya.

Hendrikus “Hendrik” Colijn (1869-1944) menjabat Perdana Menteri Kerajaan Belanda selama 2 periode; 4 Agustus 1925 sampai 8 Maret 1926 dan 26 Mei 1933 sampai 10 Agustus 1939 dari Anti Revolutionary Party (ARP) sekarang menjadi Christian Democratic Appeal (CDA) terlibat Perang Aceh sebagai Letnan Dua.

Hendrikus “Hendrik” Colijn (1869-1944) menjabat Perdana Menteri Kerajaan Belanda selama 2 periode; 4 Agustus 1925 sampai 8 Maret 1926 dan 26 Mei 1933 sampai 10 Agustus 1939 dari Anti Revolutionary Party (ARP) sekarang menjadi Christian Democratic Appeal (CDA) terlibat Perang Aceh sebagai Letnan Dua.

“Aku melihat seorang ibu yang menggendong anaknya yang berusia sekitar 6 bulan di tangan kirinya, dan membawa tombak panjang di tangan kanannya, berlari ke arah kami. Salah satu peluru kami menewaskan si ibu maupun anaknya. Sejak itu, kami berhenti menunjukkan belas kasihan. Aku mengumpulkan sebuah kelompok yang terdiri atas 9 orang wanita dan 3 anak yang meminta ampun dan mereka semua di tembak. Ini bukan pekerjaan yang menyenangkan, tetapi mustahil melakukan hal lainnya. Para prajurit kami menusuki mereka dengan bayonetnya, ini mengerikan. Aku akan berhenti melapor sekarang.”

Istri Colijn menulis di pinggir surat itu: “Betapa mengerikannya!”

Kebiasaan banyak orang Aceh bertempur sampai mati membuat pasukan Belanda beranggapan bahwa: “orang Aceh yang baik adalah orang Aceh yang mati.” Belanda tidak segan memusnahkan kampung yang dianggap bermusuhan. Sawah, ternak berserta seluruh penduduknya.

XXX

Berhari-hari kemudian semangatku belum juga tumbuh, aku menghabiskan waktu dengan merenung. Terbersit dalam pikiranku untuk mendatangi tangsi pasukan Belanda terdekat dan melemparkan diri dalam peluru-peluru mereka. Jika aku mati maka aku akan berusaha menghabisi sekurang-kurangnya sepuluh orang pasukan mereka. Apakah itu sebuah kegilaan yang telah merasuki pikiranku?

Apakah ada hak menyerang bangsa lain? Sebelum Belanda datang kami hidup aman sentosa. Tiba-tiba Belanda mengerahkan serdadu-serdadu mereka untuk merampas harta benda kami, membakar sawah-sawah dan membunuh ternak-ternak kami. Apa hak mereka? Mengepung kami dengan ketidakadilan, dengan bedil, meriam serta kapal besi mereka? Aku membenci Belanda namun bersamaan dengan itu, aku juga membenci diriku, karena aku tak bisa berbuat apa-apa.

XXX

[Bersambung]

Berbagai istilah:

Mudabbirusyarqiah1): Panglima penegak kedaulatan Aceh di pesisir Timur sekaligus panglima mandala Kerajaan Aceh di Sumatera Timur, gelar resmi Teuku Nyak Makam;

breuh2: Beras (Bahasa Aceh);

kuah beulangong3): Kuah Belanga (Bahasa Aceh); Merupakan bumbu kari daging sapi (terkadang kambing) khas Aceh Besar terkenal dengan kelezatannya, bahkan pasukan marsose dan Belanda kerap menyerang kampung yang sedang kenduri masakan ini untuk merampoknya untuk dimakan;

Pang4): Panglima;

Rungkhom5): Sergap (Bahasa Aceh); Pasukan gerak cepat untuk melumpuhkan;

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN;
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 12 Comments