PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR


Teuku Umar berfoto bersama sejumlah pengikut. (Sumber: Koleksi Troppen Museum)

PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR

Teuku Umar dan gerombolannya adalah watak pejuang yang paling dibenci oleh Belanda. Belum pernah dalam sejarah penjajahan Belanda ditipu oleh seorang pribumi sebagaimana dilakukan oleh Teuku Umar.

Pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar Johan Pahlawan meninggal dunia, gugur sebagai seorang jantan pahlawan yang patut dikenang. Ia yang lazim disebut dengan Teuku Uma atau Teuku Meulaboh tewas di medan jihad 2 kilometer dari Meulaboh (waktu itu) pada jam 8 malam. Gugurnya beliau disebabkan tembakan-tembakan tepat dari brigade marsose Belanda yang sengaja dikirimkan ke Suak Ujong Kalak untuk melakukan pengintaian (verkenning) akan adanya informasi sebuah pasukan Aceh akan menyerang Meulaboh yang pada saat itu hanya berkekuatan dua kompi.

Dalam keadaan yang kalut, pasukan kecil Belanda yang mengobservasi informasi rahasia yang mereka peroleh bahwa benar adanya sebuah pasukan besar langsung dipimpin Teuku Umar sendiri berada di tempat itu. Sebelum mundur pasukan Belanda melepaskan tembakan salvo dua kali yang “kebetulan” mengenai sasatan sekitar api rokok dari penghisapnya, Teuku Umar sendiri.

Teuku Umar dan gerombolannya adalah watak pejuang yang paling dibenci oleh Belanda. Belum pernah dalam sejarah penjajahan Belanda ditipu oleh seorang pribumi sebagaimana dilakukan oleh Teuku Umar.

Sebutir dari dua peluru tersebut mengenai dada kiri Teuku Umar dan tembus ke belakang dengan luka ternganga berdiameter 10 centimeter dengan luka dimuka hanya kecil saja. Menurut cerita orang-orang tua, tembakan itu dilepaskan dengan peluru emas dikarenakan Teuku Umar memiliki ilmu kebal.

Suasana Meulaboh setelah Teuku Umar Tewas

Jenazah Teuku Umar yang terluka sedemikian parah digotong keluar pasukan dan menghilang dalam suasana kacau dan menghilang sehingga tidak semua pasukan Aceh mengetahui kejadian yang sangat merugikan tersebut. Orang-orang di Meulaboh menduga Teuku Umar telah tewas karena tidak jadi dilangsungkan penyerangan ke tangsi Belanda malam itu, hal ini disebabkan pasukan yang telah menyusup ke Meulaboh hanya menunggu komando terakhir untuk melakukan penyerbuan. Pasukan Aceh dan masyarakat yang mendukung perjuangan Teuku Umar  menjadi panik sehingga mereka memutuskan untuk bergerilya dengan pasukan-pasukan kecil di sekitar Meulaboh.

Siapa pengkhianat sehingga Teuku Umar gugur?

Jalan pengkhianatan terhadap terbunuhnya Teuku Umar cukup berliku. Pada tahun 1970 seorang penulis sejarah Aceh bernama Tjoetje berdasarkan cerita ayahnya yang turut dalam pasukan Teuku Umar menceritakan bahwa ada seorang anak yang bernama Njak Oesoeh berada di kota Meulaboh, ayahnya bernama Njak Daoed adalah seorang pengikut Teuku Umar. Njak Daoed meminta izin kepada Teuku Umar untuk mengirimkan surat kepada anaknya supaya keluar dari Meulaboh sebab pasukan Aceh akan menyerang kota pada malam itu. Teuku Umar tidak keberatan dengan pengiriman surat tersebut.

Surat yang disampaikan Njak Daoed kepada anaknya Njak Oesoeh disampaikan melalui perantaraan Raja Ameh, entah bagaimana surat ini jatuh ke tangan Toke Dolah dan sampai kepada komandan marsose Jenderal Van Heutsz yang kebetulan pada saat itu berada di Meulaboh. Dasar surat tersebut membuat keluar perintah harian komandan marsose itu mengadakan pengintaian ke Suak Ujing Kalak.

Cut Nyak Dien mendengar kabar gugurnya Teuku Umar

Cut Nyak Dhien ketika itu berada di Pucok Woyla (35 kilometer dari Meulaboh) mengetahui kematian suaminya dari salah seorang panglima Teuku Umar, ia meneteskan air mata karena suami keduanya Teuku Umar (1899) harus gugur di tangan Belanda sebagaimana suami pertamanya Teuku Ibrahim Lam Nga juga tewas pada ujung peluru Belanda (1878). Cut Nyak Dien yang oleh Belanda dikatakan oleh Belanda “manly” (kelelakian) dan “kranig” (tangkas), segera turun gunung bukan untuk mencari pusara suaminya melainkan membentuk pasukan kembali guna meneruskan perjuangan.

Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

Cut Nyak Dien memimpin secara gerilya di setiap pelosok Aceh Barat seperti Woyla, Seunagan, Tripa, Blang Pidie sampai Bakongan. Tak henti dan tak menyerah sampai Cut Nyak Dien ditangkap Belanda pada tahun 1904.

Dimana Pusara Teuku Umar?

Menurut sumber-sumber Aceh, jenazah Teuku Umar pernah dikuburkan pada beberapa tempat dengan cara bongkar kuburan. Hal ini dilakukan karena Belanda sangat benci kepada Teuku Umar dan tersiar kabar mereka bersumpah akan mencincang-cintang tubuhnya. Belum pernah selama konflik peperangan antara Belanda dan bangsa-bangsa di Nusantara sampai tertipu ketika membuat penjanjian sebagaimana dengan Teuku Umar. Biasanya Belanda mengakali para pahlawan Nusantara seperti pernah dilakukan pada Imam Bonjol atau Pangeran Diponegoro. Tak pelak para pejuang Aceh yang tersisa mencoba menyelamatkan jenazah Teuku Umar dari penistaan Belanda.

Berziarah ke makam Teuku Umar

Mula-mula jenazah Teuku Umar dikuburkan di kampung Suak Raja (6 kilometer dari Meulaboh), kemudian dipindahkan ke pedalaman Mugo Raya, Kaway XVI. Jenazah Teuku Umar sendiri menurut cerita tidak pernah busuk, baru paginya dikuburkan besoknya disekitar kubur telah tumbuh rumput sehingga tidak mudah diketahui letaknya.

Setelah kematian Teuku Umar

Pasukan Belanda ketika itu tidak mengetahui bahwa Teuku Umar telah gugur malam itu awalnya, pasukan Aceh lain-lain juga tidak mengetahui bahwa malam itu Teuku Umar tertembak malam itu. Belanda hanya mengetahui mereka melepaskan tembakan dua kali kearah api rokok saja. Baru beberapa hari kemudian mereka tahu musuhnya yang paling ulung telah tewas.

Pelajaran yang dipetik dari gugurnya Teuku Umar

  1. Pasukan Aceh tidak melakukan pengawalan secara pribadi dan pengawalan kepada induk pasukan yang akan menyerang sehingga musuh dapat melakukan pengintaian;
  2. Ketika Teuku Umar gugur pada malam itu tidak ada yang mampu mengambil alih kepemimpinan penyerangan ke Meulaboh malam itu;
  3. Teuku Umar terlalu percaya kepada pasukannya sehingga membiarkan sebuah Njak Daoed mengirimkan surat ketika hendak melakukan penyerangan.

Malam 11 Pebruari 1899, tubuh Teuku Umar rubuh diterjang peluru emas serdadu Marsose dan darah sang pejuang tumpah dibumi akibat “pengkhianatan” teman seperjuangan yang memberitahu posisi dan kelemahannya kepada Kaphe Belanda di pantai Ujong Kalak, Meulaboh. 11 Pebruari 1899, cucu Raja Meulaboh tersebut wafat diusia 45 tahun. (Baca: Teuku Umar Pahlawan)

Sajak untuk gugurnya Teuku Umar

// Ada lagi yang sangat kusesalkan pahlawan / Walau kami berkabung duro / Masih ado yang bersorak menepuk dado / Mereka adalah penjilat yang bermuka duo / Yang Cuma mendambakan sebungkus keju dari Kaphe Belanda / Mereka adalah kawan seiring menggunting dalam lipatan / Mereka adalah musang berbulu ayam //

Diambil dari (Bait 5 Puisi Teuku Umar Pahlawan tahun 1980)

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  2. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  3. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  4. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  5. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  6. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  7. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  8. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  9. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  10. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  11. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  12. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  13. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  14. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  15. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  16. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  17. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  18. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  19. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  20. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  21. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  22. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  23. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  24. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  25. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  26. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  27. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  28. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  29. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  30. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  31. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  32. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  33. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  34. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  35. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  36. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  37. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  38. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  39. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  40. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  41. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  42. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  43. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  44. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  45. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  46. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  47. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  48. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  49. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  50. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  51. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  52. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  53. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  54. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  55. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  56. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 Mei 2020;
  57. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 Juni 2020;
  58. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 Juli 2020;
  59. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 Juli 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

GEREJA PERTAMA DI ACEH

Gereja pertama di Aceh 1874

Gereja pertama di Aceh 1874

GEREJA PERTAMA DI ACEH

Gereja pertama di Aceh dibangun tahun 1874, di Pantee Pirak Belanda membangun sebuah jembatan yang menghubungkan dengan Peuniti, di sana pula, pada bekas tanah Sultan Aceh itu mereka membangun sebuah gereja.

Pembangunan gereja ini sebagai tindak lanjut proklamasi kemenangan dari pemimpin ekspedisi kedua perang Aceh, Jenderal Van Swieten pada 28 Januari 1874. Maklumat ini karena Belanda telah merebut istana kerajaan Aceh dan dengan hak perang seluruh Aceh di bawah kedaulatan Belanda. Seluruh harta benda Sultan dan para kerabatnya menjadi milik Belanda (tentara KNIL). Hal itulah sebabnya jika kita melihat asrama tentara (sekarang) di Koetaradja (Banda Aceh) awalnya adalah milik Sultan/kerabatnya dulu.

Proklamasi Kemenangan Belanda oleh Van Swieten pada 28 Januari 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Pengkabaran Injil pada zaman Kesultanan Aceh Darussalam

Sepanjang sejarah, gereja ini adalah yang pertama dibangun di Aceh, persaingan dengan Portugis sejak abad ke-16 serta berita-berita dari dunia Islam tentang pengusiran muslim di Andalusia (Spanyol) membuat Kesultanan Aceh menutup diri dari pengkabaran Injil.

Manuskrip memuat susunan Pemerintahan Kerajaan Aceh pada Masa Sultan Iskandar Muda. Manuskrip ini milik University Kebangsaan Malaysia yang belum dikatalogkan.

Kanun Meukuta Alam sebagai peraturan undang-undang Kesultanan Aceh Darussalam tertulis sekitar 3 (tiga) Pasal dalam hubungan dengan antara muslim dengan agama lain yang tidak menguntungkan bagi orang di luar Islam, antara lain:

  1. Jikalau orang luaran yang lain agama dari pada agama Islam yang lain pada orang hindi tiada boleh di terima oleh orang negeri tinggal duduk di dalam kampungnya melainkan di suruh balik ke laut kedalam tempatnya (Pasal 21);
  2. Jikalau orang lain agama itu hendak tinggal juga duduk di darat kedalam kampung orang islam kalau dapat celaka mati atau luka atau kena rampas hartanya dalam kampung itu tempat dia bermalam sama ada orang dalam kampung itu yang buat aniaya atau lain orang jahat kalau mati saja luka luka saja kalau dirampas hartanya habis saja tiada diterima pengaduannya oleh Raja atau Hulubalang sebab dari pada taksirnya sendiri punya salah (Pasal 22);
  3. Adapun orang yang menerima pada orang yang lain agama itu tinggal duduk bermalam pada kampungnya contoh kesalahan kepada ulama kena kafarat denda kenduri memberi makan sidang jumat (Pasal 23);

(Baca: Rincian isi Kanun Meukuta Alam)

Pendeta Pattiseno, perawat rohani serdadu-serdadu Belanda yang beragama Protestan di Aceh di tengah-tengah penggembalaannya.

Pendeta Pattiseno, perawat rohani serdadu-serdadu Belanda yang beragama Protestan di Aceh di tengah-tengah penggembalaannya.

Meskipun ketika Belanda telah berkuasa di Aceh, hubungan antara itu masih tegang di pedalaman. Terutama di wilayah-wilayah yang masih jauh dari jangkauan kekuatan militer Belanda. Seperti pembunuhan dua orang Perancis di Teunom yang bermaksud berbisnis emas akibat perbenturan nilai dimungkinkan oleh keadaan.

(Baca: Kerajaan Teunom Suatu Masa)

Peran Misionaris dalam Perang Aceh

Pendeta Izaak Thenu, orang Ambon, sejak tahun 1894 sampai akhir hayatnya tahun 1937 merupakan seorang legendaris perang. Seorang imam militan legendaris lain adalah Pastor Verbraak, selama tiga puluh tahun bertugas di Aceh memperoleh empat kali dianugerahi jasa ksatria.

Izzat Thenu, pendeta Maluku yang sangat berjasa bagi Pemerintah Belanda di Aceh, menggantikan pendeta Pattiselano. Dalam penyerbuan ke kubu pertahanan Batee Illiek di Samalanga pada tanggal 3 Februari 1901 ia memainkan peranan penting dalam memelihara semangat anggota-anggota pasukan Belanda.

Izzat Thenu, pendeta Maluku yang sangat berjasa bagi Pemerintah Belanda di Aceh, menggantikan pendeta Pattiselano. Dalam penyerbuan ke kubu pertahanan Batee Illiek di Samalanga pada tanggal 3 Februari 1901 ia memainkan peranan penting dalam memelihara semangat anggota-anggota pasukan Belanda.

Pada tahun 1901 Belanda menyerang benteng Batee Illiek, sebuah kubu pertahanan Aceh yang telah diserang berulang sejak tahun 1880 tapi tidak bisa dipatahkan oleh Belanda. Untuk penyerangan ini Izzak Thenu menggubah sebuah lagu perang khusus. Dengan memanfaatkan secara baik-baik kata-kata bersajak “berani” dengan “serani” (orang Kristen), “saudara” dan “bersuara” menjadi lagu Samalanga.

Mari sobat, mari saudara!

Pergi perang di Samalanga;

Mari koempoel dan bersoeara,

Laloe menjanji bersama-sama.

Satoe njanjian jang amat merdoe

Menghiboer hati jang amat doeka,

Hari ini kita di Merdoe,

Esok loesa djalan kemoeka.

Dari Merdoe djalan di sawah

Itoe djalan jang amat soesah.

Tempo-tempolah liwat rawa

Asal bisa dapat kemoeka.

Kalau djalan haroes berdiam

Karena moesoeh berdjaga-djaga;

Kala dengar boenji meriam

Itoe tandalah moesoeh ada.

Soenggoeh moesoeh banjak sekali,

Ada berdiri didalam benteng.

Haroes berlari-lari.

Waktoe kommandolah “Atacqueren”.

Djangan tinggal berdiri lama,

Kalau kommandolah “Atacqueren”.

Lari lekas datang kesana,

Masoek pertama kedalam benteng.

Siapa masoek nommer satoe

Itoelah tanda amat berani.

Nanti dapatlah bintang satoe

Tanda setia lagi berani.

Meski dengarlah hoejan pelor,

Dari moesoehmoe orang Atjeh,

Djangan sekali bersoesah keloeh

Tetapi peranglah hidoep mati.

Mari kamoe hai orang Ambon!

Lagi Menado lagi Ternate!

Lawan moesoeh bertamboen-tamboen,

Sampe gagahnya djadi berhenti.

Anak Ambon gagah berani,

Tidak takoet mati atau loeka,

Toeroet hati orang serani,

Anak Ambon berani dimoeka.

Kamoe lagi hai orang Djawa!

Angkat kerdjalah ramai-ramai.

Agar kami bisa tertawa

Kalau moesoeh soedah berdamai.

Kalau moesoeh soedah berdamai

Kami boleh doedoek senang.

Boleh berdansa, boleh berramai

Kalau soedah habis perang.

Berapa hari, berapa boelan

Kami haroes tinggal disini?

Habis peranglah boleh poelang

Bertemoe anaklah dengan bini.

Mari kami koentji menjanji,

Laloe poelang tidoer lelap.

Djangan loepa itoe pesani

Hanya mengikoet peri tetap.

Januari 1901 Izzak Thenu. Korps Marechaussee van A Doup.

Izzak Thenu ingin mengajak marsose-marsose segera bertempur. Pertempuran Batee Illiek menewaskan lima orang dan 27 orang di pihak marsose dan 71 pihak Aceh tewas. Kemenangan Belanda berhasil mematahkan perlawanan besar kubu Aceh.

Pendeta Thenu menunggang kuda jika ia melaksanakan tugasnya, Dalam hal itu ia dikawal oleh anggota-anggota korps marsose.

Pendeta Thenu menunggang kuda jika ia melaksanakan tugasnya, Dalam hal itu ia dikawal oleh anggota-anggota korps marsose.

Kekristenan di Aceh

Saat ini merupakan agama minoritas kedua terbesar di Aceh yang dianut 50.309 jiwa umat Kristen Protestan dan 3.315 jiwa Kristen Katolik. Total jumlah penduduk Aceh yang menganut Protestan dan Katolik sebanyak 53.624 jiwa atau 1,19% dari 4.494.410 jiwa jumlah penduduk Aceh (Sensus BPS tahun 2010). Sedang jumlah gereja tercatat sebanyak 154 gereja berdiri di seluruh Aceh.

Terdapat hubungan penuh luka antara Aceh dan kekristenan yang ditambah akibat luka kolonialisme. Akan tetapi sebagaimana hidup mustahil menjalani hidup tanpa terluka, atau menolak terluka. Luka-luka yang kita kumpulkan menandai kesalahan sekaligus keberhasilan kita. Jangan lupa, luka separah apapun dapat disembuhkan.

Muslim, Kristen baik Protestan maupun Katolik, Budha, Hindu serta Konghufu berhak hidup di Aceh sebagaimana defenisi orang Aceh menurut Pasal 211 ayat 1 berbunyi: Orang Aceh adalah setiap individu yang lahir di Aceh atau memiliki garis keturunan Aceh, baik yang ada di Aceh maupun di luar Aceh dan mengakui dirinya sebagai orang Aceh.

DAFTAR PUSTAKA

  1. H Van Langen; “De Inrichting van het Atjehsche Staatsbestuur onder het Sultanaat”; BKI; 1988:
  2. Paul Van’T Veer; Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje; Percetakan PT Temprint; Jakarta; Cetakan Pertama; 1985;
  3. Rusdi Sufi; Pahlawan Nasional Sultan Iskandar Muda; Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional; 1995;
  4. Naskah “Kanun Meukuta Alam Sultan Iskandar Muda”; Tulisan Tengku di Meulek, milik Teuku Muhammad Junus Jamil Kampung Alui, pada tahun 1995 disimpan di Museum Ali Hasjmy;
  5. Sensus BPS tahun 2010;
  6. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  2. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  3. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  5. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  6. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  7. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  8. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  9. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  10. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  11. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  12. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  13. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  14. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  15. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  16. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  17. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  18. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  19. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  20. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  21. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  22. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  23. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  24. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  25. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  26. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  27. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  28. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  29. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  30. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  31. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  32. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  33. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  34. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  35. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  36. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  37. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  38. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  39. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  40. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  41. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  42. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  43. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  44. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  45. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  46. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  47. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  48. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  49. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  50. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  51. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  52. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  53. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  54. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  55. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  56. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  57. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 Mei 2020;
  58. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 Juni 2020;
  59. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 Juli 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

APA ARTI MASA DEPAN

Ingatan seperti sebuah samudera, di balik badai dan gelombang, ada kenangan yang memilih berdamai

Ingatan seperti sebuah samudera, di balik badai dan gelombang, ada kenangan yang memilih berdamai

APA ARTI MASA DEPAN

“Apalah artinya diri kita ini?” Ujarku pada petang hari duduk di bawah pohon pinus yang rindang beralaskan pasir memandang pasir pantai dan lautan membiru di mana ombak kecilnya sedang bergelut dengan sinar matahari yang hendak turun mandi.

“Apa maknanya?” Tanyaku sambil menunjuk sebuah biduk nelayan memasuki teluk, sebuah pemandangan yang nikmat menikmati keindahan pantai yang amat mempesona.

“Diri kita tidak ada.” Aku berfilsafat, “yang ada hanyalah Zat Yang Maha Suci, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa. Kita ini hanyalah pancaran dari kekuasaannya, yang sewaktu-waktu bisa fana kembali ke asalnya.

Aku berhenti sejenak melihat biduk nelayan yang semakin mendekati pantai, di mana dalam saat membisu itu, aku memahami bahwa manusia telah datang dan berganti selama ribuan tahun, pantai ini tetap sama. Pasir putihnya telah lama ada, lautan telah dahulu ada disini. Pergantian perbatasan, kekuasaan telah berubah berkali-kali.

Semakin tidak terasa ketidakhadiran diri kita. Apalah artinya diri kita yang sekecil ini dibandingkan dengan para pahlawan yang pernah hidup, atau bahkan di tahun-tahun dan abad-abad mendatang, manusia-manusia baru yang nanti akan mengarungi samudera luas itu ke segala pulau-pulau di kawasan rantau.

“Kita adalah jari-jari dari roda besar yang berputar itu.” Aku berdiri memandangi, merenungi ombak kecil memecah di pantai, sendu dalam pancaran sinar matahari yang akan dipeluk senja.

“Apakah di tahun-tahun mendatang Allah akan memberikan kesempatan untuk menyaksikan pemandangan seperti ini lagi?” Tanyaku, dengan pertanyaan sebuah percakapan tak terlarai tumbuh, tafsir tak akan berakhir.

“Insya Allah.” Aku tidak melanjutkan lagi, andai aku bisa mengetahui masa depan, tapi sayangnya aku tidak pernah tahu. Akan ada masa aku berhenti, dan semua yang ada akan hilang.

Ingatan seperti sebuah samudera, di balik badai dan gelombang, ada kenangan yang memilih berdamai. Aku menyambut kesendirianku, ketidakhadiran suara-suara, termasuk suara sendiri. Alunan suara desir-desir air di tepi pantai yang untuk sementara bisa menghapuskan rasa takutku menghadapi masa depan.

Banda Aceh, 10 Juli 2020

KATALOG OASE

  1. Meniti Jalan Yang Lurus; 22 Maret 2017;
  2. Nasib Para Pion; 23 September 2017;
  3. Pohon Kekekalan; 4 November 2017;
  4. Renungan Malam; 19 November 2017;
  5. Manusia Semesta; 21 November 2017;
  6. Sebuah Kotak Hitam; 21 November 2017;
  7. Secangkir Kopi Dari Aceh; 22 Januari 2018;
  8. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  9. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  10. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  11. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  12. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  13. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  14. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  15. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  16. Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri; 3 April 2019;
  17. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  18. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  19. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  20. Sunyi; 19 Maret 2020;
Dipublikasi di Kolom, Pengembangan diri, Puisiku | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU

Lembaran Syair Perahu Karya Hamzah Fansuri koleksi British Library

Lembaran Syair Perahu Karya Hamzah Fansuri koleksi British Library

HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU

Siapa Hamzah Fansuri?

Hamzah Fansuri dilahirkan di Barus pada akhir abad ke-16. Saat itu Barus merupakan bagian dari Kerajaan Aceh Darussalam. Semasa hidupnya Hamzah Fansuri di Aceh sendiri, ia kurang dikenali bahkan cenderung dimusuhi karena dianggap ajarannya sesat. Ia justru dikenal setelah wafat. Para pengikutnya (yang tersebar di seluruh Nusantara) berhasil menyelamatkan salinan karyanya dari pemusnahan yang dilakukan atas anjuran Nurruddin Ar-Raniri sehingga sampai ke tangan kita hari ini.

Baca: Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri sebagai Penyair Sufi

Hamzah Fansuri adalah pujangga Melayu terbesar di abad ke-17 Masehi, terkemuka pada zaman itu. Disebut juga sebagai “Jalaluddin Rumi” kepulauan Nusantara, dikenal sebagai penemu / pencipta bentuk pantun pertama dalam bahasa Melayu. Keberadaan beliau selaku pujangga dan penyair sufi dapat dibuktikan oleh fakta-fakta sejarah.

Hamzah Fansuri menguasai bahasa Arab, Urdu dan Persia membuatnya mempelajari dan menghayati filsafat Ibnu Arabi, Al Hallaj, Al Bistami, Maghribi, Syech Nikmatullah, Dalmi, Abdullah Jilli, Jalaluddin Rumi, Abdurqadir al-Jailani dan banyak ulama terkemuka.

Dalam filsafat ketuhanan, Hamzah Fansuri menganut aliran “Wahdatul Wujud,” dan sebagai seorang penyair sufi ia menjadi pengikut Thariqat Qadiriyah. Pengembaraannya yang jauh ke negeri-negeri Semenanjung Melayu, Pulau Jawa, India, Persia, Arabia dan sebagainya telah membuatnya memiliki cakrawala sejauh ufuk langit, sehingga ketika menjadi seorang sastrawan karya tulisnya berisi padat dengan butir-butir filsafat sekaligus enak dibaca.

Nelayan menarik pukat di pantai Lhok Nga Aceh Besar

Nelayan menarik pukat di pantai Lhok Nga Aceh Besar

Lazimnya “Penyair Sufi”, sajak-sajak Hamzah Fansuri penuh dengan rindu dendam, rindu pada Mahbubnya, kekasihnya, Sang-Khaliq, Allah S.W.T. Sedemikian rindunya sehingga dia merasa bersatu atau menjadi satu dengan kekasihnya. Sebab itulah karya Hamzah Fansuri sulit dipahami oleh orang yang tidak membaca dan mendalami pikiran dan filsafat tasauwuf.

Kitab atau karya tulis Hamzah Fansuri

Sepanjang pengetahuan penulis ada lima kitab karya Hamzah Fansuri, sedang yang tidak diketahui penulis kemungkinan besar lebih dari sepuluh. Kelima kitab tersebut antara lain:

  1. Asraarul Arifiin Fi Bayani Ilmis Suluk wat-Tauhid, membahas ilmu tauhid dan ilmu tariqat. Dalam kitab ini terdapat ajaran-ajaran beliau;
  2. Syaabul Asyiqin, membicarakan tariqat, syariat, hakikar dan makrifat;
  3. Al Muntahi, membicarakan masalah tasawuf;
  4. Ruba’i Hamzah Fansuri, berisi syair sufi yang penuh butir-butir filsafat;
  5. Syair Burung Unggas, sajak sufi yang menceritakan ketika manusia menjadi Insan Kamil maka tidak ada lagi pembatas antara dirinya dan mahbubnya karena ia telah memfanakan dirinya ke dalam kekasih yang dirindukannya.

Kekasihmu dhahir terlalu terang,

Pada kedua alam nyata terbentang,

Ahlul Makrifar terlalu menang,

Wasilnya daim tiada berselang.

 

Hempas akal dan rasamu,

Lenyap badan dan nyawamu,

Pejamkan hendak kedua matamu,

Di sana lihat peri rupamu.

Syair Burung Unggas karya Hamzah Fansuri

Naskah syair burung unggas belum pernah diterbitkan, naskahnya tidak terlalu panjang namun memberikan arti yang sangat penting. Berikut rangkumannya yang dituliskan kembali dalam huruf latin, sebagaimana dituliskan oleh A. Hasjmy dari puing-puing naskah tua sisa dari perpustakaan Tengku Chik Kuta Karang.

Unggas itu yang amat burhana,

Daimnya nantiasa di dalam astana,

Tempatnya bermain di Bukit Tursina,

Majnun dan Laila adalah di sana.

 

Unggas itu bukannya nuri,

Berbunyi ia syadda kala hari,

Bermain tamasya pada segala negeri,

Demikianlah murad insan sirri.

 

Unggas itu bukanlah balam,

Nantiasa berbunyi siang dan malam,

Tempaynya bermain pada segala alam,

Di sanalah tamasya melihat ragam.

 

Unggas itu terlalu indah,

Olehnya banyak ragam dan ulah,

Tempatnya bermain di dalam Ka’bah,

Pada Bukit Arafah kesudahan musyahadah

………………………………………………………………………………………………………

Unggasnya itu terlalu pingai,

Warnanya terlalu bisai,

Rumahnya tiada berbidai,

Duduknya daim di balik tirai.

 

Putihnya terlalu suci,

Daulahnya itu bernama ruhi,

Milatnya terlalu sufi,

Mushafnya bersurat kufi,

 

Arasy Allah akan pangkalnya,

Janibullah akan tolannya,

Baitullah akan sangkarnya,

Menghadap Tuhan dengan sopannya.

 

Sufi bukannya kain,

Fi Mekkah daim bermain,

Ilmunya lahir dan batin,

Menyembah Allah terlalu rajin.

 

Zikrullah kiri kanannya,

Fikrullah rupa bunyinya,

Syurbah tauhid akan minumnya,

Daim bertemu dengan tuhannya.

Pada akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Hamzah Fansuri meninggal dunia pada 29 Rajab 1046 H / 27 Desember 1636. Beliau memiliki dua makam; pertama di Kampung Oboh Simpang Kiri Rundeng di Hulu Sungai Singkel dan yang kedua di Ujong Pancu di Aceh Besar di mana penulis pernah berziarah ke sana.

Ketenaran dan Pengaruh Hamzah Fansuri di dunia Melayu

Melalui Hamzah Fansuri, perkembangan bahasa Melayu menjadi pesat. Memberikan pengaruh yang luar biasa di kalangan cendikiawan Melayu. Karya-karyanya mampu memperkaya perbendaharaan kata-kata Melayu. Ia juga membawa pembaharuan di bidang logika atau ilmu mantiq, karena bahasa erat kaitannya dengan logika dan mantiq (pemikiran).

Sebelumnya dalam kesusastraan Melayu belum pernah muncul gaya penulisan sebagaimana Hamzah Fansuri, di zamannya tidak ada yang mampu menandinginya. Karya-karyanya telah berpengaruh besar dalam gaya dan tema terhadap sastra Melayu baik pada zamannya maupun setelahnya.

Selain menulis dalam bahasa Melayu Hamzah Fansuri juga melahirkan karya dalam ilmu Tasawuf dan keagamaan dalam bahasa Arab, disebutkan dalam sejarah Melayu seperti Durrul Manzum (Benang Mutiara) dan Al-Sayful Qati (Pedang Tajam).

Kerja keras Hamzah Fansuri membuatnya dijuluki sebagai Bapak perintis sejarah, bahasa dan sastra Melayu.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Abdul Hadi W.M dkk; Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh; Penerbit Lotkala; Jakarta.
  2. Edwar Djamaris dkk; Hamzah Fansuri dan Nurrudin Ar-Raniri; Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan; Jakarta; tahun 1995/1996;
  3. Muliadi Kurdi; Hamzah Fansuri Ulama Aceh Terkenal dalam Kealiman dan Kesufiaan; Penerbit Lembaga Naskah Aceh (NASA); Banda Aceh; Cetakan Pertama; tahun 2013;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  2. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  3. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  4. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  5. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  6. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  7. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  8. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  9. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  10. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  11. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  12. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  13. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  14. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  15. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  16. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  17. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  18. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  19. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  20. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  21. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  22. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  23. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  24. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  25. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  26. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  27. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  28. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  29. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  30. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  31. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  32. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  33. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  34. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  35. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  36. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  37. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  38. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  39. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  40. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  41. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  42. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  43. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  44. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  45. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  46. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  47. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  48. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  49. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  50. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  51. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  52. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  53. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  54. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  55. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  56. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  57. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  58. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 Mei 2020;
  59. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 Juni 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Reportase | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

MENJELANG PARUH BAYA

Kelas 2-8 Smuntig Banda Aceh tahun 2001 di Pantai Babah Dua Lampuuk

Kelas 2-8 Smuntig Banda Aceh tahun 2001 di Pantai Babah Dua Lampuuk.

MENJELANG PARUH BAYA

Berapa usia manusia sudah hidup di muka bumi ini? Katakanlah sudah 10.000 tahun, dalam rangka waktu tersebut belumlah ada tulang jenis baru tumbuh pada badan manusia. Begitu juga kodrat dasar manusia secara umum selalu sama; Dilahirkan, lelah dan kemudian meninggal. Sebuah tema lama, tentu dengan berbagai variasi baru. Selalu berulang.

(Baca: Pengulangan Sejarah)

Beberapa tahun lagi dari sekarang Abu akan memasuki usia 40, usia paruh baya sebuah tahapan yang harus dilalui sebelum menjadi tua. Berat badan tak lagi ramping, meski berusaha untuk tetap berolahraga akan tetapi jarum timbangan (tetap) menuju ke kanan. Pada sisi lain pekerjaan semakin hari semakin menyita waktu, jarang ada waktu luang untuk berpikir secara filosofis. Melukis, berpuisi telah lama terhenti.

Pada sisi lain buku-buku di perpustakaan semakin hari semakin bertambah, kemampuan dan waktu membaca semakin menurun. Padahal masa muda belum begitu jauh, semangat yang menyala belum padam seutuhnya. Lalu Abu menyadari telah menjelang paruh baya.

Betapa membosankan percakapan orang-orang (menjelang) paruh baya. Ada yang membikin tegang seperti kemungkinan penyakit yang timbul pada usia segitu, membicarakan kenalan yang sakit atau meninggal. Ketika para bapak-bapak berkumpul bersama pada umumnya Abu mengantuk mendengarkan percakapan mereka. Akh, tidak menyenangkan lagi pembicaraan ini.

Mungkin Abu yang telah jauh berubah atau orang-orang yang berubah. Tiada lagi omong kosong yang mengasyikkan yang dalam keadaan sulit memberikan harapan yang menyenangkan. Pada akhirnya hanya membicarakan ekonomi mikro sebuah ilmu yang muram.

Ketika humor garing khas bapak-bapak dilontarkan, Abu tertawa sekaligus bersedih, mengantuk tapi tetap ingin terjaga. Akh, mungkin memang dunia seperti itu adanya. Perasaan rindu yang kerap hadir ketika mengenang masa kecil. Ada banyak perasaan senang dan tawanya, sekaligus sedih. Sayangnya mengingat adalah menafsirkan masa lalu, sudah tentu kita tak akan bisa (lagi) kembali ke masa lalu untuk mencocokkan tafsir kita dengan masa lalu itu sendiri.

(Baca: Makna Nostagia)

Teman-teman dulu, sewaktu kecil sekarang menjadi berbagai macam orang. Ada yang luar biasa, sukses makmur dan bahagia, ada juga yang kesusahan. Ada yang sehat, awet muda dan ada pula yang kegemukan, sakit-sakitan. Ada pula yang telah pergi selamanya. Karena berbagai penyebab bisa timbul. Hidup bisa sangat rapuh dan waktu betapa singkatnya.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Dipublikasi di Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

ABU NAWAS MENASEHATI RAJA

Kedermawanan dan kemegahan keluarga al-Barmaki pada masa puncak kejayaan

Kedermawanan dan kemegahan keluarga al-Barmaki pada masa puncak kejayaan.

ABU NAWAS MENASEHATI RAJA

Tatkala sayap-sayap elang terpangkas, sebilah belati ditikamkan ke jantungnya.

Sejarah dan berbagai legenda menceritakan bahwa zaman keemasan Baghdad terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dengan menjadi pusat dunia dengan tingkat kemakmuran luar biasa. Saat itu Baghdad menjadi “kota yang tiada bandingannya di seluruh dunia”. Ini adalah masa-masa ketika khalifah belum teracuni oleh kebudayaan Persia, semakin tenggelam di tengah harem-haremnya. Begitulah hikayat bercerita.

Abu Nawas menjadi teman setia ar-Rasyid, dan pengawalnya dalam berbagai petualangan di malam hari. Apakah menjadi teman dekat raja itu menyenangkan? Belum tentu! Kadang kala ketika merasa sangat dekat kita merasa raja itu adalah seorang teman biasa, dan melupakan bahwa dia adalah raja. Seorang raja dengan kekuasaannya bisa sangat kejam, ada pepatah yang mengatakan, “Tuhan jauh, raja dekat.” Sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun dan menerima taubat, sedang raja tidak. Maka berhati-hatilah, jika tidak tragedi keluarga Barmaki akan berulang.

Tragedi keluarga Barmaki

Tragedi keluarga Barmaki merupakan catatan hitam dalam sejarah khalifah Harun ar-Rayid. Bermula sejak Khalid bin Barmak diangkat menjadi wazir (perdana menteri), pengaruh keluarga ini semakin bertambah besar dalam pemerintah dinasti Abbasiyah. Putranya Yahya bin Khalid al-Barmaki menjabat sebagai wazir pada masa khalifah al-Mahdi dan al-Hadi. Cucunya Jafar bin Yahya al-Barmaki menjabat wazir pada masa khalifah Harun ar-Rasyid, saudara Yahya yaitu Fadhl bin Yahya menjabat sebagai wali (gubernur) Azerbaijan. Kedudukan tersebut membuat kekayaan keluarga Barmaki melimpah dengan kemegahan dan kekayaan yang nyaris menandingi khalifah. Keluarga Barmaki, terutama Jafar memiliki hubungan dekat dengan khalifah ar-Rasyid, mereka membantu dan menjalankan pemerintahan secara baik. Sejarawan menyebut mereka sebagai bunga bagi seluruh dinasti Abbasiyah dengan memimpin pasukan, menaklukkan musuh-musuh dan mempertahankan kedaulatan dinasti.

Keluarga Barmaki membangun istana di sebelah timur Baghdad. Istana Jafar, “al-Ja’fari” menjadi kediaman utama dari sejumlah istana yang dibangun. Berbagai bangunan berdiri di tepi sungai Tigris. Mereka terkenal dengan kedermawanannya, di negeri-negeri Arab, kata barmaki menjadi sinonim kata dermawan dan ungkapan “sedermawan Jafar” menjadi peribahasa yang dikenal luas. Jafar sendiri bersahabat dekat dengan Harun ar-Rasyid.

Sampai pada suatu hari khalifah Harun ar-Rasyid memerintahkan pembunuhan atas Jafar bin Yahya selaku kepala keluarga itu dan yang lainnya dimasukkan ke dalam penjara. Istana mereka di hancurkan dan seluruh harta disita. Kejadian pemusnahan keluarga Barmaki pada tahun 802 Masehi itu terjadi dengan sebab-sebab yang tidak jelas.

Eksekusi Jafar bin Yahya al-Barmaki atas suruhan Khalifah Harun ar-Rasyid

Eksekusi Jafar bin Yahya al-Barmaki atas suruhan Khalifah Harun ar-Rasyid.

Salah satu dugaan penyebab tragedi keluarga Barmaki adalah karena Jafar telah menyinggung khalifah. Kepala Jafar dibawa kehadapan khalifah kemudian jasadnya dipotong tiga kemudian kepala dan tiga potongan kepalanya digantung di jembatan sungai Tigris. Selain jangan pernah menyingung raja, kejadian ini memberikan kita pelajaran lain yang sangat penting mengapa tradisi hukum islam dibentuk oleh ulama dan ahli hukum fiqih. Kita tidak bisa membayangkan jika para raja menciptakan hukum yang menjadi tradisi yang harus kita ikuti.

Pengaruh Filsafat Yunani

Dahulu kala bangsa Yunani memahami nilai dari waktu senggang, mereka mengurangi tugas sampai sekecil mungkin dengan hidup dalam lingkungan yang luar biasa sederhana. Mereka terbiasa berdiskusi tidak hanya untuk urusan sehari-hari, seperti perlu tidaknya menaikkan pajak dalam rapat umum. Mereka bahkan mempelajari hal-ikhwal alam semesta. Orang-orang Yunani lebih dahulu suka memikirkan persoalan, dari bahan apa dunia ini tersusun, dan apa yang menjadi penyebab segala kejadian dan peristiwa. Kegiatan berpikir seperti itu dinamakan filsafat.

Pada masa dinasti Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani belum terlihat karena penguasa Ummayyah lebih tertuju kepada kebudayaan Arab. Pengaruh ini mulai masuk pada dinasti Abbasiyah melalui orang-orang Persia yang memiliki jabatan dan peranan penting dalam struktur pemerintahan. Para khalifah pada mulanya hanya tertarik pada ilmu kedokteran dan pengobatan, tapi kemudian tertarik pada filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Itu semua tidak terlepas dari adanya usaha penerjemahan buku-buku Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Kelak ini akan melahirkan ilmu filsafat Islam.

Pertanyaan sang khalifah

Cerita diatas adalah fakta sejarah, selanjutnya adalah sahibul hikayat.

Pemikiran bisa jadi sangat bebas, melayang di angkasa. Pada suatu hari khalifah Harun ar-Rasyid ketika merenung, berpikir kemudian bertanya-tanya kepada dirinya. “Sedang apakah Allah saat ini?” Segera dia bertanya kepada pada ulama istana.  Para ulama istana terdiam, tidak berani menjawab. Meskipun ulama istana mereka tidak berani menjawab sesuatu yang dilarang oleh ilmu tauhid.

Khalifah kemudian bertanya, “jika kalian tidak sanggup menjawab maka siapakah yang bisa menjawabnya?”

Para ulama istana lagi-lagi terdiam, tidak mungkin mereka mengorbankan seorang ulama non-istana untuk menjawabnya. Meskipun mereka bergaji dari khalifah tapi hati nurani masih ada. Jika mereka memberikan jawaban yang salah bisa berbahaya, seperti Haman yang menasehati Firaun.

Tidak semua pertanyaan harus dijawab, tidak semua komentar perlu ditanggapi. Tapi raja tidak bisa diabaikan, jika diabaikan maka raja marah. “Aku beri waktu tiga hari kepada kalian untuk menjawab! Atau carikan orang yang bisa menjawabnya! Jika tidak kalian semua akan aku hukum!”

Abu Nawas adalah solusi

Kemudian mereka berembuk siapa yang bisa menjawabnya. Seseorang dengan kualitas ilmu mumpuni, mampu menyusun kata yang tidak menyinggung hati khalifah sekaligus tidak melanggar kaidah ilmu tauhid. Kalau diserahkan kepada seorang yang tidak diplomatis maka akan mengundang bencana. Sulit memang mencari jawaban tengah untuk pertanyaan khalifah, karena dalam Islam dilarang untuk memikirkan zat Allah melainkan diperintahkan merenungi ciptaan-Nya. Disitulah ditemukan keimanan.

Sampai pada suatu saat seseorang di antara mereka berkata, “bagaimana jika kita suruh Abu Nawas yang menjawabnya?”

Abu Nawas mampu membawa humor, celah yang menyela diantara kedapnya keyakinan dan angkuhnya sebuah kekuasaan besar. Kepandirannya boleh diharapkan untuk menangkis fantasi yang menyimpang.

“Benar sekali kita jemput Abu Nawas tapi jangan sampai pertanyaan ini bocor kepadanya. Kalau sampai dia tahu pertanyaan khalifah ini, dia akan melarikan diri ke Damaskus sesegera mungkin.” Dan mereka sepakat.

Abu Nawas menjawab rahasia Ketuhanan

Segera Abu Nawas dihadapkan kepada khalifah Harun ar-Rasyid. Sang raja terkejut yang dihadapkan kepadanya adalah seorang badut untuk ditertawakan. Ia memandanginya dengan tak serius. “Jadi kamu yang bisa menjawab pertanyaanku?”

Abu Nawas memandangi ke kiri kanan, pertanyaan apa? Pikirnya, sialan aku dikerjai. Tapi dasar Abu Nawas tak memandangi resiko ia malah berkata, “tidak ada teka-teki sukar yang tidak dapat hamba pecahkan paduka!”

Teka-teki apa? Tapi hasrat Harun ar-Rasyid sedang membuncah untuk mengetahui jawaban pertanyaannya. “Baiklah kalau begitu jawab pertanyaannya! Sedang apakah Allah saat ini?”

Abu Nawas terdiam sesaat. Apa-apaan pertanyaan ini? Lagi-lagi dia melihat ke kiri-kanan seraya menunjuk para ulama istana. “Mereka tidak menjawabnya paduka?”

Raja menggeleng dan para ulama istana pucat pasi.

Abu Nawas menarik nafas, dan membuka topinya kemudian menggaruk-garuk kepalanya, berpikir. “Ini adalah rahasia Ketuhanan paduka.”

“Kalaupun rahasia beritahukan kepadaku!”

“Begini tuanku, sebenarnya mereka sudah tahu jawabannya. Tapi syarat mengetahui rahasia Ketuhanan ini sangat berat. Mungkin mereka takut kepada paduka sehingga tidak berani mengutarakannya.”

Kening raja berkerut. “Katakan padaku apa syaratnya!”

“Hamba takut paduka marah.”

“Aku janji tidak akan marah.”

“Syaratnya berat paduka. Sangat berat.”

“Kamu pikir aku tidak mampu?”

“Mampu paduka, tapi berat paduka sebaiknya jangan.”

“Katakan kepadaku.”

“Janji paduka tidak marah?”

“Janji!”

“Syaratnya kita harus bertukar tempat paduka. Baru bisa hamba katakan jawabannya.”

“Maksudmu?”

“Hamba duduk di singgasana, paduka berdiri ditempat hamba sekarang.”

Harun ar-Rasyid terdiam, tapi rasa ingin tahunya malah semakin menggelegak. “Baiklah!” Ia turun dari singgasananya dan mendorong Abu Nawas duduk disana.

Abu Nawas duduk dengan canggung, celingak celingguk, “Benar paduka ingin tahu Allah sedang apa saat ini?”

Harun ar-Rasyid mengangguk.

Maka Abu Nawas menjawab. “Allah dengan kekuasaan-Nya saat ini menjadikan Abu Nawas sebagai seorang raja dan Harun ar-Rasyid sebagai rakyat biasa.”

Suasana balairung istana sunyi, seolah malaikat lewat. Suasana mencekam.

Tiba-tiba Harun ar-Rasyid tertawa terpingkal-pingkal. “Kamu lucu Abu Nawas, tapi kamu benar. Pengawal ambilkan sekantong emas dari bendahara berikan kepada Abu Nawas.” Segera seorang pengawal pergi dari ruangan itu melaksanakan perintah raja.

Abu Nawas pun turun dari singgasana dan Harun ar-Rasyid naik kembali ke atas tahta. Menerima hadiah Abu Nawas pun pulang dengan riang gembira.

Abu Nawas menasehati sang raja

“Kami pikir kamu tidak lucu tadi Abu Nawas, kenapa raja tertawa?” Tanya seorang teman yang menyaksikan kejadian tersebut.

“Kamu tidak tahu pikiran sang raja. Lebih baik kata-kata yang tadi dianggap lucu daripada sebagai ancaman. Keluarga Barmaki selalu menasehati kebaikan tapi dimusnahkan oleh raja, nasehatku tadi dianggap lucu karena itu aku selamat.” Kata Abu Nawas.

“Memang itu tadi nasehat?”

Abu Nawas memandangi temannya. “Tentu itu tadi nasehat kawan. Allah dengan segala kekuasaan-Nya bebas berkehendak. IA berhak mencabut kerajaan siapapun, seketika dan tanpa ampun. Atau membiarkan seseorang berkuasa!”

Kawan Abu Nawas kemudian bergumam, “untung juga nasehatmu tadi dianggap lucu ya.”

“Untuk itu bersyukur kepada Allah S.W.T. Sedari tadi.” Mereka pun tertawa.

Abu Nawas menghadirkan politik lelucon, humor yang terasa dekat, bahagia secara akrab disaat waktu terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. Hadir menampilkan ironi, membuka pintu arif tak heran ia menjangkau siapa saja.

XXX

Berbagai opini :

  1. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  2. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  3. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  4. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
  5. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  6. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  7. Filosofi Gob; 10 Oktober 2011;
  8. Makna Puisi Yang Hilang; 5 Januari 2011
  9. Politik Abu Nawas; 24 Juli 2012;
  10. Kebenaran Yang Samar; 28 Februari 2013;
  11. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013;
  12. Misi Mencari Abu Nawas; 7 Maret 2016;
  13. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  14. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  15. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
Dipublikasi di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

LEGENDA ASAL MULA GUNUNG GEURUTEE

Segelas Kopi di puncak gunung Geurutee (Pesisir Barat Aceh)

LEGENDA ASAL MULA GUNUNG GEURUTEE

Gunung Geurutee sebagai tempat wisata

Gunung Geurutee menjadi lintasan nasional menuju kawasan barat selatan Aceh, kaki gunungnya merupakan perbatasan alami kabupaten Aceh Jaya dan kabupaten Aceh Besar sekitar 60 kilometer dari arah kota Banda Aceh atau sekitar satu setengah jam dari kota Banda Aceh. Gunung ini memiliki jurang yang sangat dalam dan langsung berbatasan dengan bibir pantai Samudera Hindia.

Ciri khas gunung Geurutee adalah memiliki komposisi batu yang lebih besar dibandingkan gunung-gunung lain yang sebelumnya dilewati dari arah Banda Aceh, yaitu gunung Paro dan gunung Kulu. Ada sebuah monument berbentuk runcing sebagai tanda pengunjung berada pada posisi pendakian tertinggi gunung tersebut. Kerap ditemukan berbagai fosil biota laut di puncak gunung Geurutee seperti kulit kerang sehingga diperkirakan gunung ini awalnya adalah lautan.

Gunung ini pun tidak bisa dilewati melalui bagian atasnya sehingga harus dilalui melalui sampingnya. Dahulu kala orang-orang Aceh merupakan bangsa bahari sehingga perjalanan lebih menggunakan kapal laut. Gunung Geurutee tidak bisa ditembus melalui perjalanan darat sampai pemerintah kolonial Belanda membuat jalan pada sisinya. Akibat luasnya gunung Geurutee dan mahalnya biaya menghancurkan batu-batu gunung ini, masyarakat pesisir barat Aceh mengatakan bahwa Belanda sempat kehabisan uang untuk membangun jalan tersebut.

Panorama dari gunung Geurutee terlihat sangat indah, dari tempat ini wisatawan dapat melihat hamparan lautan yang membiru serta gugusan pulau-pulau kecil yang tampak kehijauan dari kejauhan. Terlihat barisan pantai dengan pasir putih jernih yang mengelilingi pulau-pulau eksotis tersebut. Ada banyak warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman, udara sejuk berasal dari angin lautan terasa nikmat seraya minimum segelas kopi robusta Aceh atau kelapa muda. Apalagi sering terlihat monyet-monyet yang berkeliaran menunggu pemberian makanan oleh wisatawan. Tidak perlu khawatir karena monyet-monyet tersebut terbiasa berinteraksi dengan manusia. Terdapat pula masjid kecil bagi muslim untuk beribadah.

Legenda gunung Geurutee

Di masa penulis kecil, bilamana orang-orang tua duduk di balai dan meunasah (langgar), atau pada satu pertemuan yang patut pada masa itu. Penulis mendengarkan riwayat kuno. Ada banyak legenda yang penulis dengar dari orang-orang tua yang pandai meriwayatkan cerita kuno (mitos) tesebut salah satunya yang masih penulis ingat adalah legenda gunung Geurutee.

Dahulu kala di hulu Krueng Daya (sungai Daya) ada sebuah dusun yang bernama Lhan Na yang sekarang disebut dengan Lamno. Awalnya dusun ini didiami oleh orang-orang liar belum beragama. Mereka itu diduga berasal dari bangsa lanun, orang Aceh menyebut “lhan”, atau bangsa Samang yang datang dari semenanjung Malaka atau dari Hindia Belakang, negeri Burma dan Champa, yang mungkin ada hubungan dengan bangsa Mongolia yang datang melalui kaki gunung Himalaya.

Kemudian penghuni di hulu sungai Daya itu bercampur dengan orang-orang yang baru datang ke situ, karena percampuran ini peradabannya bertambah maju. Setelah itu datang orang-orang dari Aceh dan Pasai sehingga Raja masuk islam, dan kemudian berangsur-angsur orang-orang liar itu semua masuk Islam. Sejak itulah orang-orang di pesisir negeri Daya menganut agama Islam.

Kisah ini konon terjadi pada masa peralihan. Pada masa itu hiduplah sepasang suami istri di negeri Daya, penghidupan mereka biasa-biasa saja sebagai nelayan. Sampai pada suatu hari si suami merasa harus mencari penghidupan yang lebih baik, ia meminta izin dari istrinya untuk merantau ke Aceh (Banda Aceh sekarang).

Sang Istri merasa keberatan dan mengemukakan alasan, “bukankah kehidupan kita di sini tidak kekurangan satu apapun, mengapa harus merantau?”

Akan tetapi si suami bersikeras dan berjanji akan segera kembali ketika perantauannya telah mendapatkan hasil. Istrinya akhirnya melunak dan mengizinkan suaminya merantau ke Aceh yang berada di utara negeri Daya, waktu itu gunung Geurutee belum ada sehingga perjalanan darat dapat ditempuh.

Orang-orang tua yang meriwayatkan tidak menjelaskan berapa lama si suami merantau. Pastinya telah cukup lama sehingga istrinya merasa kesal dan menggerutu. Setiap hari dia menggerutu menunggu sang suami pulang sampai pada suatu hari pada puncak kekesalannya dia berkata. “Jika dia tidak pulang segera maka biarlah dia tidak bisa pulang sekalian!” Kata-katanya didengarkan oleh orang banyak.

Tak lama kemudian bumi bergoncang keras, dari laut muncullah batu besar yang semakin besar dan menutupi jalan antara kerajaan Daya dengan kerajaan Aceh, hal ini mengakibatkan sang suami ketika pulang tidak bisa lagi pulang melalui jalan tersebut.

Oleh karena itu orang-orang Daya menyebut nama gunung tersebut dengan Geureutee yang artinya gerutu. Meskipun berada satu kawasan dengan gunung Hulumasen yang berada pada gugusan pengunungan Bukit Barisan akan tetapi gunung Geurutee benar-benar terpisah dan tersendiri. Gunung Geurutee sendiri memiliki kontur alam yang benar-benar berbeda dengan seluruh gunung di Aceh dan Sumatera.

Ternyata di balik keberadaan gunung Geurutee yang gagah, pemandangan lanskap yang sempurna. Ada sebuah legenda, kisah cinta yang terpisah jarak, rasa putus asa, tentang rindu yang tak tersampaikan, sampai perasaan dianiaya. Memberikan kita pelajaran yang berharga, selama kau percaya ada pemandangan indah yang menantimu di atas, maka kau akan sanggup melewati tanjakan. Bahwa ada alasan bagi kita menelusuri tanjakan itu, karena ada kebahagiaan yang menanti di sana.

*DISCLAIMER Legenda atau pun mitos ini diterima oleh penulis secara lisan dan dituliskan kembali. Apabila di masyarakat terdapat perbedaan tentang detil ceritanya penulis menyatakan bisa jadi apa yang anda dengar lebih benar dari cerita ini, begitupun sebaliknya.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  2. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  3. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  4. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  5. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  6. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  7. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  8. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  9. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  10. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  11. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  12. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  13. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  14. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  15. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  16. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  17. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  18. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  19. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  20. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  21. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  22. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  23. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  24. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  25. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  26. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  27. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  28. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  29. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  30. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  31. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  32. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  33. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  34. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  35. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  36. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  37. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  38. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  39. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  40. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  41. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  42. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  43. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  44. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  45. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  46. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  47. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  48. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  49. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  50. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  51. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  52. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  53. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  54. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  55. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  56. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  57. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  58. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  59. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 Mei 2020;
Dipublikasi di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Reportase | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 10 Komentar

LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU

Kawasan pantai Alue Naga

Kawasan pantai Alue Naga

LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU

Kota Banda Aceh dan sekitarnya ada beberapa tempat memiliki nama unik seperti kota Sabang, gunung Seulawah, kawasan Alue Naga dan pelabuhan Ulee Lheu. Segala sesuatu pasti memiliki asal mula dari sesuatu yang lebih tua ataupun kuno.

Sebelum tulisan ada masyarakat mengingat melalui cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi. Seiring dengan banyaknya generasi yang dilalui oleh cerita tersebut maka berkembanglah cerita tersebut sehingga menjadi legenda dan mitos. Ketika manusia akhirnya menemukan tulisan, tradisi oral tetap hidup selama berabad-abad kemudian.

Dahulu kala pulau Sumatera dikenal dengan nama Andalas namun sebelum itu juga memiliki nama yang lebih kuno yaitu pulau Perca. Di ujung paling utara pulau Perca tersebut terdapat sebuah kerajaan bernama kerajaan Alam, rajanya disebut dengan Mahkota Alam (Meukuta Alam) sedang ibu kotanya bernama Kota Alam (Kuta Alam). Ratusan atau ribuan tahun yang lalu bentang geografis belum seperti sekarang namun diperkirakan kerajaan Alam terletak diwilayah Banda Aceh dan Aceh Besar sekarang. Karena berada di ujung selat yang ramai maka kerajaan ini memperoleh kemakmuran dari perdagangan selain juga ditopang dengan pertanian.

Di sebelah timur kerajaan Alam dipisahkan oleh sebuah sungai terdapat sebuah kerajaan lain yang bernama kerajaan Pedir yang merupakan saingan kerajaan Alam diperkirakan letak kerajaan ini berada di kabupaten  Pidie sekarang. Persaingan dagang diantara kerajaan Alam dengan kerajaan Pedir membuat hubungan antara keduanya memanas terutama antara kapal-kapal perang mereka di laut maupun sungai yang memisahkan antara kedua kerajaan tersebut. Armada kapal kedua kerajaan ini seimbang, sama kuat.

Akan tetapi di daratan pasukan Alam lebih unggul dengan beberapa kali menyintas perbatasan kerajaan Pedir untuk melakukan gangguan. Pasukan kerajaan Pedir sendiri tidak bisa memasuki wilayah kerajaan Alam karena disisi sungai yang memisahkan kedua kerajaan tersebut hidup seorang naga sakti yang bernama Sabang. Naga tersebut juga merupakan sahabat dari Meukuta Alam, sehingga apabila ada pasukan Pedir yang mencoba melintasi sungai tersebut akan dihalau olehnya.

Raja Pedir merasa sangat kesal dengan keadaan tersebut sehingga memanggil penasehatnya. “Tuha apakah di negeri kita tidak ada jawara yang mampu mengalahkan naga Sabang?”

Penasehat raja Pedir terdiam. “Paduka yang mulia, naga Sabang adalah penjaga sungai besar yang memisahkan antara kerajaan kita. Kalau dia mati maka sungai menyatu yang mengakibatkan gelombang besar di selat, ada kemungkinan akan muncul ie beuna (tsunami). Naga itu adalah penjaga kesimbangan alam tuanku, sebaiknya tidak diganggu.”

“Aku tidak peduli, aku ingin menyerang kerajaan Alam!”

“Daulat tuanku, Kerajaan kita memiliki dua orang jagoan yang mampu menghadapi naga Sabang. Mereka adalah dua raksasa sangat sakti yang bernama Seulawah Agam (laki-laki) dan Seulawah Inong (perempuan).” Kata sang penasehat.

“Panggil mereka dan terbitkan SK supaya mereka mau bertempur demi bangsa dan tanah air!” Perintah raja Pedir. Tak lama kemudian urusan segera dibuat, kedua jagoan negeri Pedir itu pun menyatakan kesanggupannya menghadapi naga Sabang. Surat tantangan pun dikirimkan.

Mendapati surat tantangan tersebut naga Sabang merasa sedih. Kedua jagoan itu sangat sakti, Seulawah Inong merupakan raksasa perempuan yang sangat kuat dan memiliki tubuh lebih besar daripada pasangannya. Akan tetapi Seulawah Agam tak kalah sakti karena memiliki pedang geulanteu (petir). Ia menjumpai sahabatnya raja Alam dan berkata. “Mereka sangat kuat, aku khawatir akan kalah. Jika aku terbunuh maka sungai akan menyatu, bumi akan berguncang keras dan air laut akan surut, maka serulah rakyatmu berlari ke tempat yang tinggi karena akan datang ie beuna (tsunami), itu adalah gelombang sangat besar yang akan menyapu daratan.” Pesan sang naga.

Pada saat yang ditentukan, terjadilah pertarungan di perbatasan antara kerajaan Alam dan Kerajaan Pedir disaksikan oleh rakyat kedua kerajaan tersebut. Pertarungan 2 lawan 1 itu berjalan seimbang, naga Sabang beberapa kali menyakiti lawan-lawannya sedang ia juga terluka juga. Sampai pada satu kesempatan Seulawah Agam berhasil menebas pedangnya ke leher naga.

Kemudian Seulawah Inong mengangkat tubuh naga dan melemparkan tubuh naga itu sejauh-jauhnya ke arah utara melewati wilayah kerajaan Alam sampai ke tengah laut. Sejenak semua orang terdiam, kemudian raja Alam berteriak melambaikan tangan ke tubuh naga yang terbang melewati mereka. “Sabaaaaaang! Sabaaaang!” Kelak tubuh Sabang menjadi Pulau Weh atau dikenal juga dengan nama Pulau Sabang, titik nol Republik Indonesia pada bagian barat.

Foto Sabang terlihat dari udara. Guratan-guratan di punggungnya menyerupai tubuh sang Naga.

Foto Sabang terlihat dari udara. Guratan-guratan di punggungnya menyerupai tubuh sang Naga.

Kemudian Seulawah Agam melemparkan kepala naga Sabang kearah utara. Karena Seulawah Agam memiliki tubuh lebih kecil dibandingkan Seulawah Inong maka lemparannya tidak terlalu jauh dan jatuh di darat kerajaan Alam namun terus berguling membentuk sebuah alur dan berhenti di tepi pantai Utara kerajaan Alam. Lokasi alur bergulingnya kepala naga Sabang menjadi sungai yang pada muaranya itu kelak dikenal dengan nama Alue Naga (Alur naga). Kepala naga mencapai bibir pantai dan terbawa arus dan gelombang ke arah barat sampai akhirnya tersangkut pada wilayah daratan beberapa kilometer dari Alue Naga.

Pelabuhan Ulee Lheu yang menjadi tempat berlabuh kapal-kapal dari Sabang ke Banda Aceh tampak dari udara

Pelabuhan Ulee Lheu yang menjadi tempat berlabuh kapal-kapal dari Sabang ke Banda Aceh tampak dari udara

Raja Alam menangis dan memanggil-manggil sahabatnya. Maka berkatalah raja Pedir. “Wahai Meukuta Alam tidak usah kau panggil-panggil lagi naga itu! Dia sudah mati, kepalanya sudah terlepas!” Lokasi kepala naga tersebut kelak akan dinamai Ulee Lheut (Kepala terputus/copot). Dalam perjalanan waktu berubah menjadi Ulee Lheu, pada masa penjajahan Belanda karena mereka kesulitan menyebutkan kata (lidah bangsa Eropa) tersebut sehingga disebut dan ditulis menjadi Ulele dalam dokumen-dokumen kolonial.

Tak lama kemudian daratan antara kerajaan Alam dan kerajaan Pedir bergerak saling mendekat dan berbenturan sehingga terjadi gempa yang sangat keras, tanah bergoyang kesana kemari, tak ada yang mampu berdiri. Kedua raksasa Seulawah Agam dan Seulawah Inong pun terjatuh. Setelah gempa berhenti, air laut surut jauh sekali sehingga ikan-ikan bergelaparan di pantai. Rakyat kerajaan Pedir dan kerajaan Alam segera memungut ikan-ikan tersebut. Raja Alam teringat pesan sahabatnya mencoba memperingatkan orang-orang agar mencari dataran tinggi.

Gunung Seulawah Agam dan Seulawah Inong terlihat berdampingan tampak dari sisi Aceh Besar.

Gunung Seulawah Agam dan Seulawah Inong terlihat berdampingan tampak dari sisi Aceh Besar.

Tak lama kemudian datanglah gelombang yang sangat besar menyapu utara dari pulau Perca. Kedua raksasa sakti adalah yang pertama dihempas oleh gelombang besar tersebut, akibat hantaman tersebut ditambah luka-luka setelah pertarungan dengan naga Sabang, keduanya mati. Rumah-rumah hancur, hewan ternak mati bergelimpangan, sawah-sawah musnah dan kota hancur berantakan. Rakyat kedua kerajaan akhirnya berlari ke atas tubuh dua raksasa tersebut yang telah tewas untuk menyelamatkan diri. Tubuh kedua raksasa tersebut kelak menjadi gunung Seulawah Inong dan Seulawah Agam yang menjadi perbatasan alami antara kerajaan Alam dengan kerajaan Pedir. Di masa sekarang gunung-gunung tersebut menjadi perbatasan antara kabupaten Aceh Besar dan Pidie.

Akibat bencana besar yang terjadi pada kedua kerajaan tersebut, akhirnya kedua belah pihak menjadi sadar tidak ada gunanya berperang. Mungkin dalam kesengsaraan manusia bisa melihat segala sesuatu lebih jernih. Sejak hari itu terciptalah kedamaian antara kedua kerajaan tersebut, untuk melanggengkan keadaan tersebut diadakan perkawinan antara anggota kerajaan tersebut.  Kejadian tersebut meninggalkan bekas-bekasnya baik berupa laku, sikap sampai tempat-tempat yang masih dinamakan atas kejadian tersebut antara lain:

  1. Naga Sabang menjadi nama sebuah pulau/kota;
  2. Alue Naga (Alur Naga) adalah muara sungai dinama kepala Sabang berguling;
  3. Ulee Lheu (Kepala jatuh/copot) adalah lokasi dimana kepala naga Sabang berhenti;
  4. Seulawah Agam dan Seulawah Inong menjadi nama dua gunung utama di provinsi Aceh.

Nama-nama diatas ternyata memiliki riwayat yang panjang. Hikayat atau mitos ini kemudian menjadi warisan kebudayaan.  Hal ini berlangsung sampai kerajaan Aceh kelak berdiri dan sampai masa sekarang kerap terjadi pernikahan antara orang-orang di kabupaten Aceh Besar dengan kabupaten Pidie. Jika ada saling sindir atau senda antara orang-orang di kedua kabupaten tersebut sebenarnya adalah warisan ribuan tahun dari masa kerajaan Alam dengan kerajaan Pedir.

Apa yang kita lihat dimasa kini sebenarnya tertambat dengan masa lalu, itu sebabnya sebuah wiracarita tentang kegagahberanian masa lalu disusun dalam bentuk legenda. Ia berlebihan, agaknya ia punya hak untuk berlebihan. Apalagi pada hari-hari ini, hidup rutin sekarang ini tak bisa menampilkan hal-hal yang menakjubkan lagi.

*DISCLAIMER Legenda atau pun mitos ini diterima oleh penulis secara lisan dan dituliskan kembali. Apabila di masyarakat terdapat perbedaan tentang detil ceritanya penulis menyatakan bisa jadi apa yang anda dengar lebih benar dari cerita ini, begitupun sebaliknya.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  2. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  3. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  4. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  5. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  6. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  7. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  8. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  9. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  10. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  11. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  12. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  13. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  14. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  15. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  16. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  17. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  18. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  19. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  20. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  21. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  22. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  23. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  24. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  25. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  26. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  27. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  28. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  29. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  30. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  31. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  32. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  33. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  34. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  35. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  36. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  37. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  38. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  39. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  40. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  41. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  42. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  43. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  44. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  45. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  46. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  47. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  48. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  49. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  50. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  51. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  52. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  53. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  54. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  55. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  56. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  57. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  58. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  59. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
Dipublikasi di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Opini | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 11 Komentar

HAK ATAS WAKTU

Mega jingga di angkasa senja

HAK ATAS WAKTU

Pilihan baik itu dua, sabar atau syukur.

Tahun-tahun belakangan kita mengalami hal-hal yang tak terbayangkan, banyak hal baru bermunculan dan membatalkan teori yang berlaku umum sejak bergenerasi lalu telah hidup. Betapa hari ini menjadi sangat dinamis, sehebat apapun persiapan yang dilakukan, ada kalanya situasi berubah secara tiba-tiba. Dibutuhkan kecerdasan untuk menghadapi perubahan yang mendadak, bersamaan dibutuhkan keahlian yang mampu mengatasinya, kehidupan bersamaan dengan kematian.

Wahai Abu ceritakan tentang tsunami?

Tiga orang pemuda datang kepada Abu menanyakan kisah tsunami. Perasaaan kejadian itu baru terjadi kemarin, tapi kejadian itu terjadi tahun 2004 Facebook belum lahir, apalagi Intagram atau yang terbaru tiktok. Yahoo masih dominan, Youtube masih embrio. Konflik Aceh berdetak kencang. Perang adalah hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidup Abu. Merasakan penghinaan demi penghinaan sebagai orang sipil di tengah perang itu menyakitkan.

Konflik Aceh 1999-2004. Perang adalah hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidup.

Abu memandangi tiga pemuda itu, tahun ini (2020) akan masuk SMA, usia anak-anak yang akan masuk SMA tahun ini bahkan lebih muda dari pada motor Abu (Suzuki Shogun 125 tahun produksi 2005). 4 atau 5 tahun lagi mereka (mungkin) menjadi kritis, progresif dan membawa pikiran-pikiran baru yang tak dipikirkan oleh generasi Abu, kami yang  mungkin akan segera menjadi debu, itulah hak atas waktu.

Karena itulah Abu bercerita sedikit tentang kejadian Tsunami itu, sebagaimana kita tahu kejadian itu dicatat oleh sejarah, terdokumentasi dengan lumayan baik di media maupun digital. Abu bercerita sebagai penyintas yang membawa perasaan, pikiran (kenangan) yang tidak mungkin dirasakan oleh yang tidak mengalami.

Mendengar cerita Abu mereka tersenyum bahagia, senang kemudian pulang untuk kembali beraktivitas dengan android-nya. Aku terdiam, merenungi rintik-tintik hujan yang mengguyur Banda Aceh Mei 2020 (Ramadhan 1441 H) ini. Sebagai manusia yang lebih dahulu hidup dibanding mereka yang muda sudah seharusnya kita bercerita, usia mereka bukanlah minta nasehat, mereka sudah kenyang dengan nasehat dan motivasi.

Sejatinya mereka akan selalu menghadapi hal yang baru sebagaimana kita juga dalam hidup. Seperti COVID 19 atau Virus Corona adalah sesuatu yang tidak pernah kita jumpai atau rasakan sebelumnya. Ketika gerbang-gerbang perbatasan ditutup dan kontak fisik dibatasi, ternyata internet (bisa) menjadi solusi. Kerja dari rumah kini bukan lagi wacana. Selepas COVID 19, manusia tidak akan menjadi sama lagi dengan keadaan sebelumnya.

Manusia akil baliq perlu diajak berpikir tentang siapa mereka, dan keadaan masa lalu. Jika tidak mereka akan diinjeksi oleh pemikiran baru yang dibawa oleh penguasa zaman ini. Ketika generasi sebelumnya abai, pernah terjadi dalam sejarah negeri ini (dulu), sehingga tak mengherankan ada banyak orang dulu beralih ke agama kaum penjajah. Berpuluh-puluh tahun sebelum Abu lahir.

Generasi muda yang hidup hari ini dibanjiri oleh beragam informasi yang tidak terverifikasi. Dahulu ketika Abu berumur belasan tahun untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu harus ke perpustakaan atau menjumpai seorang ahli. Sekarang tinggal klik google akan mencarikan, ada yang benar tapi banyak pula yang salah. Media sosial dipenuhi iklan tentang pemikiran-pemikiran baru yang sayangnya banyak merusak, menggiring dan memecah belah. Ada kebaikan di dalamnya sebagaimana keburukan juga. Biarlah, itulah pertanda zaman ini, hak atas waktu (yang ini). Manusia-manusia (muda) ini juga bukan lembu yang mudah digiring ke kandang oleh gembala. Selayaknya mereka merdeka, sebagaimana sebaik-baiknya manusia.

Beberapa ekor lembu pulang dituntun oleh sang gembala.

Waktu berjalan perlahan dalam lintasan yang lurus, pasti dan terukur. Bersama itu ada catatan yang telah tertulis, ingatan yang membawa kenangan atas kebenaran dan kesalahan yang telah terjadi.

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu atas segala keburukan yang (pernah) aku perbuat.

XXX

Simak cerita lainnya di KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH TUJUH

Sampul permainan catur Toekoe Oemar, sebagai bentuk olok-olok Kolonial Belanda kepada (kelak) Pahlawan Nasional Teuku Umar

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH TUJUH

Ada juga setan berwajah tanpa dosa, yang tak sungkan memilih berbagai cara untuk menggapai tujuan hasratnya.

XXX

Keumala, akhir 1879.

Sehabis Isya aku meninggalkan istana Keumala.

Pantengong!1) Kemari!” Belum malam sekali, ketika dari balik pohon bambu seseorang dengan suara khas, sepertinya ku kenal memanggil. Benar saja, Umar anak Meulaboh. Untuk apa dia jauh-jauh main ke Keumala? Ia memberi isyarat agar aku mengikutinya, kami berjalan melalui tanah kuning naik ke atas bukit, kemudian di sana ada sebuah balai yang ditunggui pengikutnya, mereka membakar daging, dari aromanya mungkin rusa. Umar tersenyum dan mengajakku naik ke atas balai, aku mencuci kaki terlebih dahulu dengan mengambil air dari guci di dekat tangga.

Ia duduk kemudian mengeluarkan kaleng tembakaunya, melinting dengan daun nipah. Sekapur sirih dihidangkan oleh pengikutnya, ia terlihat sangat bahagia, sekaligus jahil. Ia memberikan lintingan tembakau kepadaku, lalu alisnya dinaikkan, terlihat jelas dari pelita. Senyumnya jahat.

Aku menampik, ada hukum tak tertulis di antara kaum kami, para lelaki dari barat. Jangan pernah mempercayakan lintingan tembakaumu kepada sejawat, sedekat apapun dengannya. Bisa saja sang kawan mencampurkan ganja agar teler sedikit (sial sedikit), atau rumput gajah agar mual-mual (sial menengah) atau paling tragis di selipkan, maaf bulu kemaluan barang 2-3 helai agar sang korban muntah-muntah (sial sesial-sialnya).

“Beta bisa melinting sendiri.” Aku duduk berhadapan dengannya, menarik kaleng tembakau, memastikan isinya, dan membalut sendiri. Dia tertawa nakal, menarik bokor sirih menyusunnya kemudian mengunyah. Dia membuang ke belakang lintingan tembakau yang awalnya akan diberikan kepadaku tanpa rasa bersalah, sambil mengunyah sirih dia melinting kembali untuk rokok untuknya sendiri. Sudah kuduga, paleh2) sekali si paleh ini.

Dia mengeluarkan rencong dari balik bajunya, meletakkan di lantai (sebuah pertanda bahwa menjumpai sahabat karib di Aceh masa itu), kemudian duduk bersandar di dinding balai kemudian menikmati tarikan tembakaunya. “Ambo sudah lama ingin bertemu beta.” Ia melemparkan pinang kepadaku sambil tertawa girang.

Aku menunjukkan wajah marah, sesungguhnya aku senang bertemu lagi dengannya, bahkan menikmati tindak tanduknya yang usil itu. Perangainya otentik, tidak bisa ditiru orang lain. Jika pun ada yang bermaksud meniru malah akan menjadi kobong. Bahasa bisa dibolak-balik olehnya, malahan sering ia sengaja untuk berkata salah-salah. Entah apa maksudnya.

“Umar sopan sedikit, beta lebih tua darimu.”

“Oh, maafkan silap serta khilaf ambo kakanda durjana.” Ia memberikan sikap tabik yang penuh kepura-puraan. “Tapi cobalah kakanda pikir, di Pasai dan di Samalanga ada orang yang mengaku-aku menjadi kakanda. Katanya panglima peranglah, katanya menjadi kapten perompak bukanlah pilihanku. Macam apa itu? Bahkan yang dari Pasai mengaku telah membunuh 57 orang kaphe!3) Padahal ambo saja sebagai salah satu orang yang telah berperang sejak awal baru mengirimkan 5 atau 7 kaphe ke neraka.” Tangan kanannya menunjuk jari 2 dan kiri jari 5.

“Andai ada 2 atau 3 orang kita Aceh yang mampu membunuh  sampai 57 orang kaphe. Mungkin kita sudah menangi perang.” Aku tertawa cekikan mendengar ceritanya.

Prasasti pada pintu menuju kompleks pemakaman Teuku Umar.

Akh, orang pesisir utara dan timur. Terlalu banyak cakapnya, lagaknya pejuanglah! Ambo tak suka mereka. Jika berbicara agama seolah wakil tuhan mereka, tembakaulah haram. Untuk orang lain, jika punya kesempatan candu ditekan olehnya. Katanya anti kaphe, begitu Belanda datang buru-buru bersujud dikaki mereka.” Umar merepet.

“Sepertinya ada yang sakit hati? Tapi kebencianmu kepada mereka tidak lebih besar daripada kepada Raja Teunomkan?” Aku tersenyum menggodanya, membandingkan dengan saingannya di wilayah barat, Imuem Muda.

Teuku Imum Muda, Raja Teunom (Tengah)

Cih, bahkan si gemuk raja Teunom itu. Yang merupakan satu-satunya orang gemuk di wilayah barat selatan sekalipun lebih aku hargai dibandingkan mereka. Raja Samalanga, Maharaja Lhokseumawe, Raja Idi, Raja Peureulak itu taik semua! Ambo tak habis pikir semudah itu mereka menyerah dan teken takluk. Cinta dunia dan takut mati. Terus mereka tidak khas, maunya meniru orang lain. Malu jadi diri sendiri, kakanda pula yang ditirunya? Tersinggung ambo.”

Akh, sudahlah tak penting sekali itu.” Ini Umar ada maunya, aku kenal dia. Hidupnya seperti sebuah lakon teatrikal, ada kala ia berucap a tapi maunya b, aku kenal tipu daya seperti ini. Akal Meulaboh kalau kata orang Aceh.

“Tapikan benteng Batee Iliek kan bagus. Belanda tidak bisa masuk ke Pidie selama benteng sebelah timur itu berdiri tegak, sementara kita aman disini.” Tambahku.

“Iya, tapi mereka terkunci di sana bertahan, 2 atau 3 kali serangan dengan bantuan meriam dari kapal-kapal besi di laut habis mereka, berani saja tidak cukup harus punya otak. Harusnya Pocut Meuligo menyerang, jangan bertahan saja. Hancur nanti. Harusnya seperti ambo, menyerang dari kiri kanan, ada kesempatan sergap kaphe di semak belukar. Bunuh terus si putih pada kesempatan pertama, belah dua kalau bisa karena kalau tak mati, 2 atau 3 bulan lagi dia sembuh, lalu lebih ganas.”

“Tiap-tiap orang memiliki jalan perjuangan masing-masing, tiada bisa kita perbandingkan si fulan dengan si fulanah, sesuka hati kita Umar.” Salah satu dari sekian banyak kehebatan Umar adalah mampu menjadikan kita lebih bijak ketika berbicara dengannya, ya sebenarnya itu adalah alur percakapan yang sudah dirancang oleh batinnya, secara alami bukan buatan. Sulit dicari tanding anak Meulaboh ini.

“Payah membunuh kaphe itu, kalau tak dicincang pasti sembuh. Tabib mereka luar biasa, entah darimana obatnya. Oh, memang kakanda sudah membunuh berapa kaphe?” Ia tersenyum nakal dan menaikkan alis.

Sesungguhnya membunuh bukan perkara mudah, tak semua orang siap batin untuk membunuh. Bahkan aku pun ketika membunuh merasa jiwaku terkoyak-koyak setiap kalinya. Tidak ada kenikmatan disitu, bahkan tidak ada kebanggaan membunuh. Meskipun dalam perang, meskipun terhadap musuh paling keji sekalipun. Aku sendiri terbawa mimpi buruk membayangkan keluarga musuh yang aku bunuh, istri dan anak yang kehilangan penyokong hidup. Meskipun bapak atau suami mereka datang ke negeri kami membawa senjata untuk menjajah.

“Ada sekitar 27 orang.” Jika aku menghitung berarti aku mendoakan mereka, meskipun ketika aku membunuh mereka ada kebencian yang menyala-nyala sekalipun.

Umar tertawa dan memukul-mukul lantai, “dasar pengaku-aku. Jadi tak benar kata kapitan arabasta atau yang mengaku menjadi kapten merompak bukan pilihanku yang mengaku telah membunuh 57 kaphe. Kapan Belanda sudah kesana? Medan perang disini. (Lokasi sebagian pertempuran Perang Aceh sampai 1879 mencakup kota Banda Aceh dan kabupaten Aceh Besar sekarang). Ambo saja jauh-jauh datang dari Meulaboh ingin perang disini.”

“Oh ya Umar buat apa datang jauh-jauh ke Keumala?” Tanyaku penasaran.

“Ambo datang memberikan hadiah kepada sultan, ada senapan, ada arloji, ada kotak yang dibuka keluar orang bernyanyi, ada koin-koin emas Belanda.” Ia tersenyum nakal dan menambahkan. “Sultan senang sekali barang-barang Belanda, ia hanya membenci orangnya, tapi tidak barangnya.”

“Dari mana kau dapat barang-barang itu? Dari hasil menjual lada atau menjual diri?” Umar punya banyak kebun lada di pesisir barat, tapi barang-barang itu sulit di dapat. Dari Inggris di Penang bisa didapatkan kalau dia berhasil menembus blokade Belanda tapi sangat sulit, orang-orang Portugis berani menyeludup ke Aceh tapi bukan barang mewah, biasanya senjata. Atau dari Belanda sendiri?

“Kakanda ini berkata sedikit, tapi menyakitkan. Jadi ketika seluruh pasukan Belanda bersiaga di masjid raya ketika peresmian kemarin, aku dan beberapa kawan-kawan yang sedang makan-makan itu.” Dia menunjuk para pengikutnya yang sedang menikmati makanan.

“Ambo dan kawan-kawan masuk ke Neusu, asrama petinggi sipil dan militer Belanda. Apa namanya sekarang Kohleran ya. Kami curi barang-barang mereka.” Ia tertawa terbahak-bahak, puas dan bahagia.

Alamak, apa yang kau perbuat itu? Kalau kau tertangkap betapa terhinanya kita orang Aceh. Umar pejuang Aceh ulung ternyata tak lebih tak kurang pencuri, dengan senang hati Belanda mengumumkan ke seluruh dunia. Dan betapa hinanya kita.”

“Tenang kakanda. Pertama ambo tidak tertangkap. Kedua mereka bukan pencuri? Ketika mereka menduduki istana mereka jarah semua yang ada di dalamnya, tidak puas mereka jarah kampung-kampung yang mereka duduki. Kita semua tahu, pada tahun pertama mereka berkuasa tiap malam kapal-kapal pengangkut Belanda berlayar dari Kampung Pande membawa hasil jarahan. Kemana itu semua? Ambo hanya mengambil sedikit saja, dan bukan untuk ambo semata, ambo bagi-bagi!” Jenius dalam berkata, tangguh dalam berperang, piawai dalam berdiplomasi. Aku makin kagum dengan Umar.

“Untuk beta, ambo berikan sebuah buah tangan.” Ia berdiri kemudian memanggil seorang pengikutnya memberikan perintah. Pengikutnya mengangguk kemudian pergi sebentar dan kembali. Kemudian ia mendapati sebuah barang dibungkus kain. Umar duduk lagi dan membuka sebuah keris yang indah berhulu gading, bertatahkan emas dan batu-batu mulia.

“Untuk kakanda tercinta.” Katanya.

Ingin aku menolak tapi sungguh keris yang sangat indah. Batinku bertarung, untuk apa keris seindah ini bagiku? Setiap harta apalagi terlalu berharga akan mengikatku dalam berjuang. Aku belum seperti Umar mampu mengelola apapun itu, baik harta, wanita atau pengikut. Aku lebih suka sendirian, sejak kejadian itu.

“Beta mungkin akan terlibat dalam satu misi lagi, tak mampu menjaga barang ini. Kampung beta sudah di duduki Belanda, jadi tiada tempat menyimpan. Alangkah baiknya jika barang ini diserahkan kembali kepadamu, untuk engkau serahkan kepada orang lain yang kau rasa patut. Beta tak berjodoh dengan keris ini.”

Umar cemberut sekali, ia mencoba tersenyum dan menyakinkan, “ayolah kakanda keris ini sangat indah, tak akan ambo serahkan kepada orang lain selain kakanda, bahkan tidak sultan sekalipun.”

Keris Teuku Umar (Dirampas Belanda) Lokasi: Pameran Objek Etnografi dari Atjèh. Leiden: SC Van Doesburgh, 1907. No. 310 (Museum Etnologi Universitas Leiden belanda)

Keris Teuku Umar (Dirampas Belanda) Lokasi: Pameran Objek Etnografi dari Atjèh. Leiden: SC Van Doesburgh, 1907. No. 310 (Museum Etnologi Universitas Leiden belanda)

Inilah keahliannya yang lain, mengoda membujuk merayu, pesona luar biasa. Aku terpukau dengannya, tidak ada Aceh lain yang sepertinya. Oh bahkan tidak ada orang lain di dunia sepertinya. Dulu, sekarang dan nanti. Sekali lagi harus kukatakan dengan berat hati. “Aku tak berjodoh dengan keris ini, ingin beta memiliki tapi tak mampu menjaganya.” Aku jujur saja, tokh tak bisa bermuslihat padanya.

Ia menarik nafas kecewa, kemudian berkata. “Bicara jodoh mungkin ambo berencana akan menikah. Mohon restu kakanda.”

“Menikah? Menikah lagi maksudnya? Di Geumpang sudah, di Rigaih sudah juga. Apa tidak terlalu sulit punya istri banyak Umar?”

“Kali ini beda, tujuannya perjuangan. Murni sekali dan ambo butuh restu kakanda.” Matanya berkaca-kaca.

Ada apa ini? “Butuh restu apa? Beta bukan bapakmu?” Bantahku kesal.

“Ambo ingin menikahi Cut kak (Cut Nyak Dhien adalah kakak sepupu Teuku Umar), Mukim IV Lampisang tidak ada pemimpin (yang kuat) setelah bang Ibrahim gugur pada pertempuran Glee Tarom. Paman ambo (Tuanku Nanta Setia, ayah Cut Nyak Dhien) sudah tua, mungkin juga sudah saatnya ambo memiliki wilayah kekuasaan, untuk membantu perjuangan Aceh melawan kaphe.”

Seperti ada sembilu yang mengiris di hati, menyayat tapi tak bisa dikatakan ketika Umar berkata. Aku terdiam, hening tanpa kata.

“Paman ambo yang mendesak menikahi Cut Kak, tapi perasaan ambo tak enak, ambo lihat Cut Kak ada menaruh simpati kepada kakanda. Tapi dalamnya hati kakanda ambo tak tahu. Mungkinkah kakanda ada perasaan kepada Cut Kak?” Bahasa Umar halus, sangat halus sehingga berputar-putar.

Siapa sang durjana dan siapa Cut Nyak Dhien? Terlalu jauh jarak antara kami berdua. Jujur terbersit benih-benih asmara aku padanya. Tapi dalam mimpipun aku tak berani untuk jatuh cinta kepada perempuan luar biasa itu. Akh, Umar terlalu perasa, dia terlalu naif untuk merasa memahami segalanya.

“Beta dan kau Teuku Umar adalah pejuang yang telah bertempur bersama-sama lama, sejak awal perang. Kita tahu tujuan hidup kita adalah mengusir kaphe dari bumi Aceh. Tak perlu restu dariku, jika kau merasa itu yang terbaik maka pilihannya adalah laksanakan!” Aku kacau, batinku meledak-ledak, dan kata-kata tadi adalah yang terburuk keluar dari mulutku sepanjang hidup yang ku ingat.

“Baiklah kakanda, dimana bumi dipijak disitu langit Aceh dijunjung.” Dengan suara yang getir dan parau matanya berkaca-kaca. Aku memeluknya, sahabatku yang sangat kucintai.

“Cukup pantengong, jangan peluk-pelukan seperti ini.” Ia menepis, aku tertawa kemudian ia pun tertawa.

“Kemarin sebelum kemari ambo bertemu dengan Raja Keluwang di Muara Daya, beliau sudah sangat tua. Dia bercerita bahwa kakekmu dari ibu dulu orang hebat. Pelaut ganas yang menjarah dan merampok pulau-pulau Nieh4) serta membawa pulang perempuan-perempuan budak yang cantik-cantik, putih-putih. Kalau sudah bosan dijualnya ke pasar Lamno atau ke Gayo. Apa benar?” Tanyanya dengan usil lagi-lagi.

Salah satu alasan Belanda menyerbu Aceh adalah untuk memberantas perbudakan, waktu zaman kakek lazim merampok dan menjarah negeri-negeri pagan. Sebuah kebiasaan yang tidak baik, dan tak perlu dibanggakan. Mungkin kakek salah, tapi dia ya kakekku.

“Tak usah jawab! Wajah sudah berkata apa adanya.” Dia tertawa. “Sebelum di bawa ayahmu yang zuhud ke Aceh Besar, kakanda dibesarkan oleh kakek itu kan? Sempat belajar ilmu melaut darinya. Raja Keluwang yang bilang. Bajak laut Pante Kuyun katanya.”

“Ada sedikit belajar dari beliau.” Aku mengiyakan.

“Lain waktu, jika keadaan memungkinkan, cerita ya.” Ia tertawa, aku tertawa, kami tertawa, kita tertawa. Sesuatu yang mahal dalam keadaan perang.

XXX

Lampisang, Mukim IV, Aceh Besar sepekan kemudian.

Umar tiba di depan rumah Tuanku Nanta Setia dengan keadaan sangat letih. Ia masuk ke serambi dengan tertatih-tatih, wajahnya suram. Tuanku Nanta Setia dan puterinya Cut Nyak Dhien menyambut dan menyajikan makanan. Umar makan dengan lahap seolah-olah sudah tidak makan selama 3 hari. Mereka memperhatikan ia makan dengan seksama.

Selesai makan, Umar masih mencuci tangan ketika Nanta Setia bertanya dengan sangat halus. “Apakah dia bersedia?”

Dengan sedih Umar menggeleng.

“Apa katanya?” Cut Nyak Dhien bertanya sekali lagi.

“Dia bilang dengan berat hati menolak menikahi Cut Kak. Hidupnya telah sepenuhnya untuk mengusir Kaphe, asmara tidak berjodoh dengannya. Bahkan ia mengembalikan keris pemberian paman.” Umar menunduk dan sangat menyesali kegagalannya. “Mungkin ambo salah dalam berkata, sehingga dia berucap seperti itu. Maafkan ambo.”

Suasana hening, segenap penyesalan tak berucap menghinggapi ruangan itu. Cut Nyak Dhien menatap nanar bumbungan rumah. Sebegitukah angkuhkan dia? Sehingga ia tak butuh senjata yang piawai, tak butuh juga cinta menaungi dan kekuasaan yang memadai? Mungkin bukan angkuh, tapi sebuah sikap yang melepaskan diri dan mengambil jarak batin dari pamrih, ambisi, kekuasaan dan dunia benda. Suatu sikap yang diharapkan pada seseorang, tapi tidak pada orang yang dicintai. Tidak pada lelaki itu.

XXX

(Bersambung)

Kata dan Arti

  1. Pantengong = Seseorang yang bodoh dalam satu atau dua hal saja (Bahasa Aceh);
  2. Paleh = Sejenis licik yang usil (Bahasa Aceh);
  3. Kaphe = Berarti kafir, kata ini ditujukan untuk Belanda pada masa itu (Bahasa Aceh);
  4. Nieh = Gugusan Pulau di Selatan pantai Barat Aceh (Bahasa Aceh);

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
Dipublikasi di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 13 Komentar