MELALUI (KEMUDIAN) MENGALAMI

Panorama hamparan pegunungan di depan, terlihat di antara pepohonan kelapa di seberang persawahan serta hangatnya udara yang menandakan musim panas. Di sana juga ada sungai kecil yang mengalir, bentang alam yang tak akan melupakan dinginnya musim hujan. Dunia ini adalah tempat manusia menjadi tamu asing, seharusnya kita tahu diri dan tak gegabah.

MELALUI (KEMUDIAN) MENGALAMI

Seiring dengan bertambahnya umur semakin Abu menyadari bahwa telah banyak melalui dan mengalami banyak hal. Segala sesuatu hal yang telah terjadi sepuluh atau dua puluh tahun lalu adalah nostalgia. Pengalaman itu adalah hal yang telah Abu lalui sendiri, jika ditambah untuk ditarik ke generasi di atas yang telah mengalami kejadian lima puluh atau seratus tahun (lalu) maka itu itu sejarah. Zuriat diteruskan oleh para leluhur telah membentuk rantai DNA Abu hari ini. Waktu adalah sesuatu yang abstrak, sekaligus terukur. Dalam rentang itu, matahari terbit dan tenggelam untuk terbit lagi. Tapi repetisi itu tak terasa rutin, sebab setiap menit, tiap jam, dan tiap hari selalu berisi peristiwa yang berbeda.

Abu adalah manusia yang hidup di abad ke-21, dilahirkan pada abad ke-20. Meskipun begitu Abu merasa beruntung pernah bertemu dengan orang-orang dari abad ke-19. Sosok-sosok yang mungkin tak akan kita kenali (lagi) sekarang. Mereka memiliki pemikiran sekaligus cerita yang tak terbayangkan oleh kita sekarang, pertemuan dan percakapan itu kadang-kadang muncul seketika dalam samar-samar kenangan masa kecil Abu.

Nek Nyang (ibu dari nenek Abu) punya konsep yang waktu berbeda. Waktu kecil Abu pernah bertanya berapa usia beliau. Sambil tersenyum beliau mengatakan tidak tahu.

“Bukankah setiap orang perlu tahu kapan dia dilahirkan nek?” Tanya Abu kecil.

“Apa perlunya?” Beliau balik bertanya.

“Untuk merayakan ulang tahun misalnya?” Abu kecil mencari contoh yang paling sederhana.

“Ulang tahun itu penting hanya untuk orang Belanda.” Ia tertawa terkekeh, sedikit mengejek, dan Abu memilih diam saja meski tidak setuju sambil menatap Nek Nyang menanak nasi dengan kayu bakar.

Nek Nyang menurut taksiran Abu memiliki umur lebih seratus tahun, meski ia menyangkal dan tidak ingat. Beliau sendiri berpulang ke rahmatullah ketika bencana tsunami menghantam kampung kami Kabong, Aceh Jaya pada Desember 2004. Di hari itu ratusan keluarga Abu dari sebelah ibu musnah, menurut salah seorang keluarga yang selamat ketika gelombang hitam itu datang, beliau digendong oleh seorang sepupu ibu berlari ke timur. Jasad mereka tidak ditemukan dan ditelan oleh laut.

Di tahun 2000 beliau sudah tidak bisa melihat lagi, beberapa kali ketika Abu pulang kampung beliau menangis apabila tak bisa ke sawah. Dia pernah berkata kepada Abu, dia sangat ingin bekerja di sawah meski hanya mengusir burung-burung memakan padi. Beliau berkata, “bekerja itu adalah kebahagiaan kepada manusia, sebuah kehormatan (harkat) menjadi manusia yang berguna dan tidak berharap pemberian manusia lainnya.”

Awal 2000-an konflik Aceh sedang dipuncak, jangankan seorang buta berada di sawah, orang normal pun merasa was-was. Setiap saat nyawa bisa tumpas, mayat-mayat di lemparkan di jalan raya hitam adalah hal biasa. Apalagi kampung Abu masuk zona hitam.

“Abu, antarkan nenek ke sawah!” Sebagai remaja, anak kota Banda Aceh, Abu merasa gentar sekaligus gemetar. Jalan menuju sawah harus melalui pepohonan besar yang gelap karena terlalu rimbun, kemudian ladang-ladang pohon kelapa yang setiap saat bisa terjadi kontak senjata. Baru kemudian hamparan sawah yang luas sampai ke pegunungan nun jauh di sana.

Abu tidak tahan melihat beliau menangis, mata basah karena iba, tapi sebisa mungkin ditahan agar suara tidak menjadi sengau. Maka Abu menuntun beliau pergi ke sawah. Situasi saat itu sangat tidak menguntungkan sebenarnya, ibarat burung merak yang datang ke kawanan bebek sebagai anak kota tentu penampilan, postur serta gaya bahasa Abu berbeda dengan orang-orang kampung, sangat menarik perhatian kepada pihak bertikai untuk dihampiri, belum lagi nyamuknya sangat tidak bersahabat pada Abu ketika harus melewati daerah hutan rimba sebelum masuk kebun kelapa.

Segala risau luruh ketika sampai di sawah, dalam pondok kecil di tengah sawah beliau sangat bahagia. Sambil menarik kaleng-kaleng susu kental manis yang diikat pada tali untuk mengusir burung beliau bernyanyi dengan riang gembira. Lagu Aceh, mungkin kuno karena Abu tidak mengenal liriknya.

“Nek kenapa menyanyi?” Tanya Abu.

“Nenek menghibur padi kita Abu.” Ia menjawab seraya tersenyum.

“Memang padi bisa mendengar nek?” Alis Abu naik, merasa tidak masuk akal.

“Setiap makhluk apakah itu berupa manusia, hewan, tumbuhan bahkan batu pun peka terhadap kasih sayang. Ketika kita menyayangi dia, mengasihinya maka dia akan membalas dengan memberikan yang terbaik dari dirinya.” Nek Nyang menceramahi Abu si anak kota.

“Siapa yang bilang Nek? Sepertinya belum ada penelitian seperti ini.” Bantah Abu sambil tertawa.

“Inilah anak muda, baru membaca beberapa buku sudah merasa pintar melangit. Ini petuah dari mamak nenek yang di dapat mamaknya dan mamaknya dari mamaknya lagi.” Gaya Nek Nyang membantah Abu sungguh kocak sehingga Abu tertawa.

“Ini serius Abu, kamu harus menceritakan kepada anakmu. Sebenarnya tradisi ini menurut adat kita (Aceh) diturunkan dari perempuan ke perempuan. Bukan laki-laki, kebanyakan lelaki tidak terlalu senang mendengar. Tapi mungkin nenek merasa kamu berbeda sedikit, jadi nenek ceritakan saja.” Ia tertawa sampai terlihat gigi depan yang tinggal dua.

“Maksud nenek saya ini agak bencong gitu?” Abu menggoda beliau.

Nauzubillahiminzalik. Fushoh!” Nek Nyang meniup-meniup tangannya. “Ya bukan begitulah. Mungkin waktu nenek juga tinggal sedikit, ada banyak hal yang belum Nek Nyang ajarkan kepada nenekmu atau bahkan ibumu. Mereka terlalu cepat merantau dan meninggalkan kampung.” Nek Nyang menambahkan.

“Nek Nyang jangan cepat meninggal, jangan bicara seperti itu nek.”

“Nenek hanya mengatakan bahwa waktu tinggal sedikit. Masalah mati Abu, siapa tahu kita ini memang sudah mati?” Kata beliau.

“Maksud Nek Nyang?” Abu dan Nek Nyang sudah mati? Konsep pemikiran yang aneh, belum pernah Abu dengar dan baca dimanapun.

Kita (mungkin) sudah mati, di hari penghakiman, di sana, kita sedang menonton kembali segala perbuatan di dunia.

“Coba kamu lihat Surat Yasin, pada hari penghakiman nanti, mulut terkunci. Mata, kaki dan tangan bercerita. Bisa jadi kita memang sudah di sana saat ini, menonton kembali apa-apa yang pernah kita lakukan selama hidup sebagai pertanggungjawaban kepada Sang Khalik.” Mata beliau menerawang  meski tidak bisa melihat lagi.

Abu tersentak dan terkejut. “Nek kalau begitu sejarah atau bahkan waktu bisa berubah?”

Nek Nyang tertawa senang mendengar keterkejutan Abu. “Kamu menilai waktu terlalu tinggi Abu, kamu lupa bahwa waktu hanyalah makhluk. Kaidah setiap makhluk selalu akan turut kepada pencipta-Nya. Itulah kenapa hanya Iblis dan manusia akan di adili nanti, karena kita diberi kebebasan di dunia ini untuk tunduk atau tidak.”

Nek Nyang bicara seperti sufi atau aulia, dalam sekali menohok dada Abu.

“Setiap butir nasi, atau air yang diminum. Perkataan, pendengaran, perbuatan serta peristiwa di dunia ini masuk ke dalam jiwa setiap anak manusia. Jadi di Yaumil Masyar nanti, Allah S.W.T tidak perlu bertanya satu-satu kepada kita. Tubuh kita sendiri yang bercerita, siapa diri kita.” Sebuah pembicaraan dan pengajaran yang dalam, sepanjang hidup Abu di kemudian hari, sangat sulit Abu menemukan teman bicara selevel Nek Nyang.

Kelak Abu baru mengetahui bahwa ada penelitan bahwa setiap manusia memiliki DNA yang berbeda. Terbentuk dari apa yang dibawa oleh orang tua, makanan dan minuman yang disantap, seluruh pengetahuan, pengalaman, kejadian, pikiran, perasaan membuat kerumitan tubuh manusia menyamai alam semesta ini sendiri. Sungguh luar biasa kekuasaan Tuhan. Kesimpulan bodoh Abu, di akhirat nanti yang dihitung baik buruk adalah DNA kita. Ketika mengetahui itu Abu teringat Nek Nyang, mungkin di alam sana jika ia melihat Abu saat ini ia tersenyum, seraya berkata sudah nenek bilang dahulu.

“Betul kita sudah mati nek?” Tanya Abu sekali lagi.

“Belum tentu betul, seperti nenek bilang kita makhluk tetap harus tunduk kepada kaidah Sang Pencipta. Tapi merasa telah mati itu baik, agar kita menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya. Terutama ketika menjalani masa-masa sulit kehidupan atau sebaliknya sedang merasa sangat senang-senangnya. Sebagai pedoman hidup mulia.” Kata-kata bijak beliau bagi Abu lebih berharga dari pada batu zamrud paling besar di dunia sekalipun.

Abu memandangi hamparan pegunungan di depan, terlihat di antara pepohonan kelapa di seberang persawahan serta hangatnya udara yang menandakan musim panas. Di sana juga ada sungai kecil yang mengalir, bentang alam yang tak akan melupakan dinginnya musim hujan. Abu merasa, dunia ini adalah tempat manusia menjadi tamu asing, seharusnya kita tahu diri dan tak gegabah.

Hari menjelang siang, kami kembali ke rumah. Ada perasaan hangat menjalari dada Abu, dalam perjalanan pulang Abu berseloroh. “Nek Nyang, Abu merasa bersyukur bisa mengantar nenek ke sawah hari ini.”

“Bagus, sangat bagus.” Ia menepuk-nepuk bahu Abu seraya menambahkan. “Mereka yang paling tidak bersyukur adalah yang paling mudah dikendalikan oleh hawa nafsunya.”

Hari disusul bulan melintasi tahun berjalan. Bahwa ingatan Abu memiliki batas dan melupakan kisah ini. Sampai pada suatu hari COVID-19 ditahun 2020 menyerang dan menjangkiti Abu. Diantara bayang-bayang kesepian yang membuat putus asa, pada suatu malam Abu merasa beliau datang (dalam mimpi) seraya berbisik mesra,”Berusahalah untuk antusias kepada setiap hal baru, serta tidak memilih kecewa pada kemungkinan pada setiap hal yang baru.”

Sesuatu yang membangkitkan kenangan. Kenapa bisa melupakan hal yang sebegitu penting? Tidak boleh menyerah. Pada hal-hal yang telah dipelajari, cara dan semangat. Kita tidak akan menang kalau berpikir tidak akan menang. Hidup dan mati bukan kita yang menentukan, tapi jika seseorang memiliki keinginan hidup yang kuat, maka harapan hidupnya akan tinggi.

Nah, jadi sekarang kalian tahu dari mana (dasar) sifat keras kepala Abu, tapi ya sudahlah.

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Dipublikasi di Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH)

Tengku Muhammad Daud Beureueh bersama para ulama Aceh.

SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH)

Pendidikan di Aceh menurun pada periode peperangan dengan Belanda (Perang Aceh 1873-1904). Banyak ulama yang memimpin atau mengajar di dayah (tingkat tertinggi dalam sistem sekolah Islam di Aceh pada saat itu) gugur dalam peperangan melawan Belanda selama perang Aceh. Perang juga menghancurkan sebagian besar dayah (pesantren) tradisional terutama karena ulama begitu terlibat dalam perjuangan rakyat Aceh. Bertahun-tahun kemudian setelah perang selesai masyarakat Aceh terus merasakan dampak dari kehilangan para ulama tersebut.

Perang Aceh (1873-1904) juga menghancurkan sebagian besar dayah (pesantren) tradisional terutama karena ulama begitu terlibat dalam perjuangan rakyat Aceh.

Pada awal tahun 1920-an beberapa ulama muda mendirikan beberapa madrasah (sekolah agama Islam), yang sebagai institusi, berbeda dengan dayah, dalam madrasah kurikulumnya mencakup mata pelajaran sekuler (umum) bersama dengan agama. Di antara ulama terkemuka tersebut adalah Tengku Muhammad Daud Beureueh, pimpinan organisasi Jamiyatul Diniyah, yang mendirikan Madrasah Sa’adah Abidiyah di Pidie. Tengku Abdul Rahman Meunasah Meucap yang mendirikan Madrasah Al-Muslim di Peusangan, dan Tengku Abdul Wahab Seulimeum ​​yang mendirikan Madrasah Perguruan Islam di Aceh Besar. Banyak madrasah lain juga didirikan oleh banyak ulama lainnya. Pada periode ini terlihat begitu banyak aktivitas di bidang pendidikan sehingga secara umum disebut sebagai masa kesadaran atau zaman kemajuan. Menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup madrasah yang masih muda ini adalah dukungan dari para uleebalang (Raja-raja kecil yang memerintah di wilayah Aceh) dan para ulama yang lebih tua.

Ketika jumlah madrasah bertambah, ulama tertentu termasuk Tengku Muhammad Daud Beureueh, Tengku Ismail Yakub dan Tengku Abdul Rahman menyadari bahwa tidak ada kerjasama di antara para ulama yang memimpin berbagai madrasah. Mereka merasa perlu adanya persatuan organisasional di antara para ulama, agar mereka bisa bekerja sama dalam mengkoordinasikan madrasah dan tidak mudah terpengaruh oleh intrik atau kekacauan.

Tengku Muhammad Daud Beureueh

Oleh karena itu, pada tanggal 5 Mei 1939 Masehi atau 12 Rabbiul Awal 1358 Hijriah, dalam sebuah konferensi yang diorganisir dengan cermat oleh Tengku Abdul Rahman di Matang Geulumpang Dua, didirikanlah PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), dan Tengku Muhammad Daud Beureueh terpilih sebagai ketua organisasi yang pertama secara aklamasi. Inilah puncak kesuksesan ulama di bawah kekuasaan Belanda.

Proyek serius pertama yang dilakukan oleh ulama PUSA terdiri dari merancang kurikulum standar untuk semua madrasah di seluruh Aceh dan mendirikan sekolah pelatihan guru yang disebut “Institut Islam Normal” untuk menyediakan staf yang dibutuhkan di Madrasah. Kurikulum baru dengan tambahan 30 persen mata pelajaran sekuler (umum) dimaksudkan untuk melawan sistem pendidikan Belanda yang ada, dan menampung konsep pendidikan baru yang diusulkan oleh Muhamadiyah di sisi lain. Aspek lain dari program reformasi PUSA adalah diadakannya pertemuan publik di seluruh Aceh.

Meskipun PUSA menurut namanya adalah perkumpulan ulama, namun keanggotaannya tidak terbatas kepada ulama saja. Siapapun yang dapat mengidentifikasi tujuan-tujuannya sama dapat bergabung dengan PUSA. Kebanyakan orang Aceh menganggapnya sebagai organisasi mereka sendiri. Seribu orang menghadiri kongres pertama yang diadakan pada bulan April 1940. Guna menampung dukungan rakyat yang luar biasa ini, para pimpinan PUSA membentuk sejumlah ormas, di antaranya: Pemuda PUSA (Pemuda PUSA), PUSA Muslimat (PUSA Wanita) dan Kasyfatul Islam PUSA (Kepanduan PUSA). Anggota Pemuda PUSA dan kepaduan PUSA sebagian besar adalah mereka yang pernah bersekolah di madrasah dan yang berada di bawah bimbingan “ulama”. Orang-orang inilah yang menjadi motor penggerak perjuangan rakyat Aceh pada masa pendudukan Jepang, maupun pada masa gerakan kemerdekaan Indonesia.

Baca: Perang Cumbok

Sampai saat ini, penelitian sejarah yang dilakukan terhadap subjek PUSA hanya memperhatikan peran politik yang dimainkan oleh PUSA. Di antara mereka yang telah melakukan pekerjaan penting dalam hal ini adalah: Nazaruddin Syamsuddin; C. Van Dijk dan Anthony Reid. Tetapi belum banyak penelitian yang dilakukan atas kontribusi PUSA untuk reformasi pendidikan di Aceh, salah satunya dilakukan oleh Hamdiah A. Latif.

Namun, aspek terakhir ini yaitu pendidikan sangat penting untuk memahami peran PUSA pada periode awal perkembangannya. Perlu ditekankan secara khusus, bahwa para pemimpin PUSA sangat sadar akan keunggulan pendidikan modern dan potensinya untuk memperkenalkan ide-ide baru, karena sistem pendidikan di masa lalu hanya bertumpu pada ide-ide lama yang menolak pemikiran dan informasi modern. PUSA ingin mendorong modernisasi sekolah Islam.

XXX

DAFTAR PUSTAKA:

  1. Hamdiah A. Latif; Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA); Its Contributions to Educational Reforms in Aceh; (Canada: Institute of Islamic Studies McGill University, 1992);
  2. Nazaruddin Syamsuddin; The Republican Revolt: A Study of the Acehnese Rebellion; (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1985);
  3. C. Van Dijk; Rebellion Under the Banner of Islam; (The Hague: Martinus Nijhoff, 1981);
  4. Anthony Reid; The Blood of People; (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1979);

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  2. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  3. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  4. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  5. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  6. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  7. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  8. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  9. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  10. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  11. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  12. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  13. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  14. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  15. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  16. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  17. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  18. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  19. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  20. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  21. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  22. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  23. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  24. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  25. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  26. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  27. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  28. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  29. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  30. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  31. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  32. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  33. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  34. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  35. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  36. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  37. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  38. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  39. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  40. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  41. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  42. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  43. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  44. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  45. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  46. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  47. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  48. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  49. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  50. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  51. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  52. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  53. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  54. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  55. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  56. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  57. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  58. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  59. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

PENJARA PIKIRAN

Sebuah pikiran (bisa) terpenjara, tapi bukankah tiap-tiap manusia itu adalah merdeka menentukan dalam kalbu sanubarinya sendiri.

PENJARA PIKIRAN

Kita mengingat, tapi ingatan tak pernah satu dan stabil. Ingatan juga mudah hilang oleh sapuan-sapuan warna yang muncul kemudian. Seperti sebuah lukisan ketika ia muncul di hadapan kita, sebenarnya dia dalam proses berubah. Lukisan itu sendiri mungkin tidak terlihat lagi, becek, lembab atau bahkan berlumut. Atau sebaliknya lukisan bisa jadi telah dipercantik oleh warna-warna yang muncul kemudian, relief-relief baru telah terpahat dan kaligrafi indah telah menjadi bagian dari sebuah lanskap.

Kita (tentu) tak bisa menilai masa kini dengan standar masa lalu. Apapun yang hidup (fana) punya kecenderungan berubah, entah sedikit atau pun banyak. Meninggalkan atau ditinggalkan. Maka bayangkan pada suatu masa ketika semua teman sudah tiada, apa-apa yang membuat tertawa bahagia sirna. Masihkah engkau bisa tertawa dengan lepasnya.

Karena itulah kita butuh teman. Sepanjang sejarah manusia butuh orang lain, manusia tak tahan jika harus sendiri, (sebagaimana) manusia (juga) tak tahan dalam penjara. Dan seburuk-buruknya penjara adalah penjara pemikiran.

Pada era atau masa yang belum lama berlalu, kita mengingat bahwa buku pernah menjadi pemecah kebuntuan. Karena buku seorang penjahit mampu memiliki kearifan melebihi seorang raja. Kata-kata bijak lebih langka adanya dari batu zamrud, namun orang-orang (bisa) mendengarnya dari mulut hamba perempuan miskin pemutar batu giling.

Ini adalah era sebelum Jack Ma kata-kata yang sangat sarkatik, “Ketika kamu miskin, belum sukses, semua kata-kata bijakmu terdengar seperti kentut. Tapi ketika kamu kaya dan sukses, kentutmu terdengar sangat bijak dan menginspirasi.” Tidak salah kata-kata Jack Ma, hanya mengingatkan dia hidup dengan mengalami banyak penolakan dan lahir pada kebudayaan yang sangat mencintai uang. Hari raya tahun baru Cina itu kita biasa mendengar kalimat “Gong Xi Fatchai” yang artinya bukan selamat tahun baru tapi semoga kamu bertambah kaya.

Pemikiran menjadi jumud dan terpenjara ketika hanya mendengar kata-kata mereka yang kaya dan berkuasa saja. Di puncak kekuasaan, persahabatan ibarat tali yang getas, (sering) palsu. Teman selalu bisa menjadi musuh, atau penghambat. Di sekitar sering berkerumun penjilat. Jika kekuasaan tidak menghargai persahabatan dan kebaikan hati manusia. Apakah di sana kita berharap kebijaksanaan? Sebab kekuasaan selain memberi (banyak) kemampuan, ternyata (juga) memberi ketidakmampuan. Kalau orang sedang menjabat (berkuasa), harta melimpah, sukar menilai dirinya sendiri. (Sangat) sukar.

Manusia bisa dibungkam, atau dijauhkan dari khalayak. Akan tetapi barang siapa yang pernah sendiri akan tahu bahwa ia tak pernah sendiri. Bahkan dalam sebuah sel pengap adalah sebuah dunia, selalu ada rumput yang tumbuh (di luar) dan laba-laba yang datang. Waktu yang mengubah sejarah di jalan-jalan raya, selalu menyeruak ke dalam.

Sebuah pikiran (bisa) terpenjara, tapi bukankah tiap-tiap manusia itu adalah merdeka menentukan dalam kalbu sanubarinya sendiri. Ketika ada yang salah maka tak ada hati yang tak marah.

XXX

KATALOG OASE

  1. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  2. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  3. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  4. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  5. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  6. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  7. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  8. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  9. Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri; 3 April 2019;
  10. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  11. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  12. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  13. Sunyi; 19 Maret 2020;
  14. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  15. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
Dipublikasi di Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

KENAPA SEJARAH TAK BOLEH DILUPAKAN

Masjid Indrapuri Aceh Besar tempat di mana para Sultan Aceh dulunya dilantik.

Pensucian Sejarah adalah Metode Indokrinasi.

Sejarah tidak pernah menjadi suatu hal yang sakral, sebuah kitab yang dianggap mati dan statis, berhenti. Adalah salah jika sejarah dipelajari sekedar menghafal tanggal, bukan begitu caranya. Itu sama saja dengan mendefenisikan sejarah sebagai sesuatu kejadian yang (telah) terjadi sebagai sebuah pengetahuan yang tunggal. Jika itu metode yang digunakan maka sejarah hanya menjadi sebuah metode indokrinasi.

Sejarah adalah Informasi untuk dianalisa.

Sejarah (seharusnya) adalah sekumpulan data, atau bahkan informasi yang terbuka untuk dianalisa. Berbagai kemungkinan dan asal mula, disertai sebab dan akibat. Selayaknya dikembangkan, oleh karena itu sejarah praktis sekaligus imajinatif. Kita tak pernah hadir penuh di masa lalu, oleh karena itu kita harus merasakan (untuk) hadir, disitu sejarah memberikan kita peran sebagai penafsir tentang keadaan masa lalu. Disini (kita) diajarkan kebebasan sekaligus tanggung jawab dalam berpikir.

Memahami Sejarah sebagai sebuah ilmu.

Pertanyaan besarnya adalah apakah dengan mempelajari sejarah kita menjadi pintar? Ambisi untuk menjadi pintar semata justru akan menjebak dengan hafalan-hafalan yang (justru) membuat kepala menjadi pusing. Maka sebaiknya kita memahami sejarah sebagai sebuah ilmu bukan dengan tujuan semata-mata menjadi pintar.

Manuskrip asli ketikan Riwayat Hidup Dan Perjuangan Sultan Iskandar Muda sebagai bahan pencalonan Sultan Iskandar Muda sebagai Pahlawan Nasional tahun 1977.

Kenapa Sejarah penting dipelajari?

Setiap manusia adalah baharu lahir ke dunia ini. Tidak mengetahui apa yang terjadi sebelum dilahirkan berarti (kita) selalu manjadi kanak-kanak. Berapalah bilangan tahun manusia dapat hidup? Dan apalah arti hidup? Kecuali hidup (kita) terjalin dengan hidup para leluhur. Itu semua melalui catatan sejarah.

“Matahari pagi mengusap wajah, udara sejuk memanjakan pikiran merasuki tubuh. Aku memandangi gunung yang sama, sungai yang sama, lembah yang sama, bahkan langit yang sama. Berapa cakupan zaman telah berlalu? Bagaimana kehidupan manusia pada zaman itu? Buku-buku sejarah membawa aku berfantasi.”

XXX

Beberapa Opini yang telah lalu:

  1. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  2. Eksploitasi Sumber Daya Alam Apakah Bagus Untuk Aceh; 15 Oktober 2017;
  3. Perlukah Kita Menjaga Makam-Makam Warisan Penjajah Kolonial Belanda di Kherkoff Peucut Banda Aceh; 11 November 2017;
  4. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  5. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  6. Kejatuhan Sang (Mantan) Pejuang; 6 Juli 2018;
  7. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  8. Menafsir Alam Membaca Masa Depan; 14 Maret 2019;
  9. Nilai Seorang Manusia; 8 Juli 2019;
  10. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  11. Kaya Tanpa Harta; 24 November 2019;
  12. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  13. Merekonstruksikan Kembali Letak Istana Daroddonya; 3 Maret 2020;
  14. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  15. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH

Manuskrip Bustan al-Salatin koleksi British Library

Manuskrip Bustan al-Salatin koleksi British Library.

BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH

Seorang penguasa harus mempelajari adab dan akhlak untuk dapat mempunyai ilmu yang diperlukan ketika berkuasa. Para Sultan Aceh dahulu kala diberi sebuah kitab pedoman yang bernama Bustanus Salatin yang menjadi panduan. Dalam kitab tersebut terdapat kisah-kisah sejarah yang dibungkus dengan ajaran agama Islam sehinga para Sultan yang kelak memerintah memahami bagaimana pedihnya perasaan teraniaya sehingga diharapkan memerintah dengan adil.

Bendera Aceh koleksi Rijksmuseum

Bendera Aceh koleksi Rijksmuseum

Tak pelak hal ini membentuk perasaan senasib dan sepenanggungan antara raja dan rakyat ini membuat kerajaan Aceh bertahan selama hampir lima abad (1496-1903). Ketika invasi penjajah Belanda menyerang tahun 1873, (hampir) seluruh masyarakat Aceh mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan bukan (hanya) untuk kepentingan sultan semata, tetapi (berjuang) sebagai sebuah bangsa.

Syekh Nuruddin ar-Raniry penulis Bustanus Salatin

Bustan al-Salatin fi Zikr al-Awwalin wal Akhirin atau lazim dibaca Bustanus Salatin jika diterjemahkan kedalam bahasa Melayu berarti “taman para raja”, adalah sebuah karya besar (bahkan) secara harfiah karena tingkat ketebalannya, dibagi menjadi tujuh jilid atau bagian. Setiap bagian dibagi lagi dalam beberapa pasal atau sub-bagian. Ditulis oleh Nuruddin ar-Raniry, dari berbagai manuskrip yang berhasil dikumpulkan, semuanya mencantumkan Nuruddin sebagai penulis. Pada salah satu naskah yang pertama tertulis rentang tahun 1634-1644 Masehi tertera “Syekh Nuruddin ar-Raniry” dengan nama lengkap Muhammad Jailani ibnu Ali Ibnu Hasanji ibnu Muhammad. Berbangsa Hamid, bermahzab Syafi’i dan Raniry (Ranir, Gujarat India) negeri tempat kediamannya.

Nuruddin ar-Raniry diyakini tiba di Aceh antara tahun 1047 Hijriah (bertepatan 1637 Masehi). Catatan sejarah lain menunjukkan Syekh Nuruddin sudah pernah datang ke Aceh sebelum tahun 1637 Masehi walaupun tidak menetap. Penelitian sejarah memperkirakan dia sebelumnya menetap di Pahang (semenanjung Malaya), disana dia bertemu dengan Tun Sri Lanang dan mempelajari khazanah wawasan sejarah Melayu yang kelak akan menjadi rujukan dalam karyanya.

Riwayat Hidup Nuruddin ar-Raniry dan Penyusunan Bustanus Salatin

Syekh Nuruddin ar-Raniry selaku ulama yang menyebarkan agama Islam pada masa itu juga seorang sufi. Dalam kitab Jawahir al-‘Ulum fi Kasyf al Ma’lum yang ditulis pada 1052-1054 H / 1642-1644 H Nuruddin menjelaskan bahwa ia merupakan bagian tarekat Rifa’iyah sekaligus bagian tarekat Qadiriyah dan merupakan urutan ke-36. Nuruddin mendapatkan ijazah dari Sayyid Abu Hafs Umar ibn Abdullah Ba Syaiban al-Tarimi, dikenal dengan Sayyid Umar al-Aydarus. Penulisan silsilah dan nisbah yang ketat dalam tradisi tarekat sangat membantu Nuruddin ar-Raniry dalam menyusun penelitian sejarah.

Pada tahun 1047 H / 1637 M Syekh Nuruddin mendapat titah dari Sultan Iskandar Tsani untuk (mulai) mengarang kitab ini. Ketika Nuruddin tiba di Aceh sebelumnya telah ada kitab Taj al-Salatin (1603), Sulalat as-Salatin (1612) dan Hikayat Aceh (1606) dalam khazanah sastra Melayu. Ketiga karya sastra ini yang mengilhami Nuruddin ar-Raniry menulis Bustan al-Salatin.

Rincian isi dari Bustanus Salatin

Bustanus Salatin adalah sebuah kitab yang mengulas sejarah dan mengandung panduan untuk para raja, pembesar dan rakyat jelata. Nuruddin ar-Raniry menulis sejarah dunia yang dimulai dengan kejadian penciptaan langit dan bumi dan diakhiri dengan sejarah Aceh dengan masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani sebagai penutup.

Karya Nuruddin ar-Raniry bermula dari cerita asal-usul para raja di dunia beserta catatan sejarah dan data saat itu. Ia menceritakan semua itu sebagai bagian pelajaran agama. Antara lain: Kisah tentang raja-raja yang adil dan tidak adil; menteri-menteri bijaksana dan menteri-menteri celaka; sampai kisah-kisah orang budiman. Dikemas dengan menyertakan penjelasan atas berbagai peristiwa yang logis dan menjadi pengetahuan berdasarkan prinsip dan ajaran Islam.

Kitab Bustanus Salatin terdiri dari tujuh bab dimana setiap babnya terdiri dari 2 sampai 12 pasal, berikut rinciannya:

  1. Bab pertama, menceritakan kisah kejadian tujuh petala (lapis) langit dan bumi dalam 10 pasal;
  2. Bab kedua, menceritakan kisah segala anbiya’ (Nabi/Rasul) dan segala raja-raja dalam 13 pasal;
  3. Bab ketiga, menceritakan kisah segala raja-raja adil dan wazir (menteri) yang berakal (cerdas) dalam 6 pasal;
  4. Bab keempat, menceritakan kisah raja-raja pertapa (zuhud) dan segala auliya (orang suci) yang saleh dalam 2 pasal;
  5. Bab kelima, menceritakan kisah raja-raja zalim dan segala wazir (menteri) aniaya (jahat) dalam 2 pasal;
  6. Bab keenam, menceritakan kisah orang yang murah lagi mulia (dermawan) dan segala orang berani yang besar dalam 2 pasal;
  7. Bab ketujuh, menceritakan antara lain kisah: Akal dan ilmu (para pemikir) dan firasat dan kifayat; Ilmu tabib (ahli pengobatan); sifat perempuan dan setengah daripada hikayat ajaib dan gharib dalam 5 pasal; Bab ini juga disebut Bustan al-Arifin (Taman kebijaksanaan).

Bustan al-Salatin merupakan karya terbesar Nuruddin ar-Raniry dan merupakan karya terbesar yang pernah dihasilkan oleh penulis kesusasteraan klasik Melayu. Kitab ini adalah sebuah maha karya yang berasal dari alam pikir Nuruddin ar-Raniry seorang ulama lulusan Arabia (Mekkah) dan memiliki guru-guru ternama di dunia Islam. Bustanus Salatin menjadi panduan berkuasa bagi para Sultan Aceh bahkan secara universal sebagai buku pegangan bagi seluruh penguasa untuk menghindari diri dari perbuatan zalim dan tercela ketika hidup atau memerintah.

Lukisan Bustanus Salatin koleksi Museum Budaya Aceh

Lukisan Bustanus Salatin koleksi Museum Budaya Aceh

Dimana naskah manuskrip Bustanus Salatin asli dapat ditemukan?

Naskah asli, atau manuskrip orisinil dari Bustan al-Salatin sampai saat ini belum ditemukan, diperkirakan naskah aslinya sudah hilang. Berbagai naskah diteliti untuk menyusun ulang Bustanus Salatin berdasarkan manuskrip-manuskrip yang menyertakan Bustan al-Salatin sebagai rujukan. Sampai saat ini masnuskrip-manuskrip yang digunakan untuk menyusun ulang karya Syekh Nuruddin ar-Raniry belum lengkap sehingga tidak mampu membangun ulang kitab tersebut secara utuh.

Tercatat ada 34 manuskrip yang menjadi bagian dari Bustan al-Salatin yang ada saat ini tersebar di seluruh dunia yaitu antara lain:

  1. satu naskah di Aceh;
  2. dua di Berlin (Jerman);
  3. satu di Brussel (Belgia);
  4. satu di Cape Town (Afrika Selatan);
  5. satu di Colombo (Sri Langka);
  6. satu di Frankrut (Jerman);
  7. tiga di Jakarta;
  8. dua di Kuala Lumpur (Malaysia);
  9. tiga belas di Leiden (Belanda);
  10. lima di London (Inggris);
  11. tiga di Paris (Perancis);
  12. satu di Kuala Trengganu (Malaysia);

Selain daripada naskah manuskrip diatas, terbuka kemungkinan masih ada naskah lain dimiliki oleh para kolektor. Nilai manuskrip Bustan al-Salatin sangat berharga sehingga bisa jadi mereka (para kolektor) memilih untuk menyimpan untuk sendiri dan tidak membagikannya kepada khalayak.

Bagian dari Bustanus al-Salatin yang pernah diterbitkan

Adapun bagian dari Bustan al-Salatin yang pernah dicetak dalam bentuk penelitian ilmiah ataupun bagian dari buku antara lain:

  1. Bab I telah dicetak dalam ruang pinggir kitab Taj al-Muluk karangan Tengku Kuta Karang di Mekkah 1311 H / 1893 Masehi, dengan judul Bad’ al-Khalk al-Samawat wa’l-Ardh;
  2. Bab II pasal 2-10 telah diterbitkan oleh R.J. Wilkinson, Singapura tahun 1900;
  3. Pasal 12 telah diterbitkan oleh R.O. Winstedt, JSBRAS 81 tahun 1920 halaman 39 dan seterusnya;
  4. Bab II, pasal 13 terdapat dalam G.K. Nieman, Bloemlezing uit de Maleische Geschrifften II, Leiden, 1870-1871;
  5. S. van Ronkel, Grafmonumenten op het Maleische Schiereiland in een Oud Meleische Werk Vermeld, BKI 76, halaman 566-576;
  6. A. Hoesein Djajadiningrat, TBG 69, halaman 112-134;
  7. dan Niemann;
  8. Transkripsi lengkap pasal 13 telah diterbitkan Teuku Iskandar, Bustanu’s-Salatin, Bab II, Fasal 13, K.L.,1966;
  9. Bab IV pasal pertama, tentang Sultan Ibrahim ibn Adham telah diterbitkan oleh P.P. Roorda van Eysinga, Batavia 1822;
  10. Lenting, Sedjarah Soeltan Ibrahim, radja Irak, Breda, 1846;
  11. Russel Jones telah menyelidiki karya ini dalam A Study From Malay Manuscripts of The Legend of The Islamic Sufi Saint Ibrahim ibn Adham, Ph.D. thesis, SOAS, University of London, 1968 dan telah menerbitkan Hikayat Sultan Ibrahim, Leiden, 1983;
  12. Catharine Anne Grinter, Bustan us-Salatin by Nuruddin ar-Raniry, A Study From the manuscripts of a 17th Century Malay Work Written in North Sumatra, Ph.D thesis, SOAS, London 1979.

Pemusnahan arsip kerajaan Aceh oleh Kolonial Belanda atau pengkhianat?

Segala macam naskah dan dokumen Kesultanan Aceh di kediaman Kadli Malikul Adil selaku pimpinan Balai Majlis Mahkamah Rakyat (Parlemen Kesultanan Aceh) yang beranggotakan 73 orang. Ketika Belanda menyerang Kesultanan Aceh, Teuku Abdurrahman menjabat sebagai Kadli Malikul Adil, dia diangkat oleh Sultan Aceh atas persetujuan Tiga Panglima Sagi yaitu Sagi XXII, Sagi XXV dan Sagi XVI dan Kadi Malikul Adil (Mufti kerajaan Aceh).

Pada tanggal 11 Desember 1873 tentara Belanda pada ekspedisi kedua mendarat di sungai Peunayong untuk memutus jalan (bantuan) armada laut ke Istana sultan Aceh. Menurut laporan Jenderal Van Swieten selaku pimpinan ekspedisi, ia mengeluarkan perintah untuk tidak melaksanakan pembakaran kampung. Akan tetapi pada hari itu kediaman Kadli Malikul Adil terbakar, menurut laporan perang rumah itu sudah terbakar sebelum pasukan Belanda masuk ke Peunayong.

Belanda berkilah bahwa pembakaran arsip dokumen Kerajaan Aceh dilakukan oleh orang lain, bukan pasukan mereka, karena Kadli Malikul Adil (telah) dicurigai oleh rakyat Aceh memiliki hubungan dekat dengan Teuku Nek Meuraksa yang memihak Belanda. Bahkan Belanda (bahkan) menuding Kadli Malikul Adil sendiri yang membakar untuk menghilangkan kecurigaan rakyat Aceh terhadap dirinya.

Sejarah tidak menuliskan dengan pasti siapa melakukan pembakaran tersebut. Bersamaan api melalap rumah tersebut turut musnah (seluruh) arsip, sarakata, manuskrip serta dokumen penting kerajaan Aceh yang telah berusia ratusan tahun.

Teuku Abdurahman sebagai Kadli Malikul Adil secara resmi membelot setelah Istana direbut Belanda, merapat ke penjajah dan menjadi kaki tangan setia. Ia menjadi peletak batu pertama ketika meresmikan Masjid Raya Baiturrahman yang dibangun kembali oleh Belanda tanggal 9 Oktober 1879 setelah dibakar pasukan NIL pada tahun 1873.

Menemukan kembali Bustanus Salatin

Setiap dokumen dari leluhur adalah tempat kita merawat ingatan, ketika kitab-kitab dibakar, manusia diputus dari akarnya, pemakaman kebudayaan telah dilakukan dan manusia baru yang kelak lahir tak mengenali lagi siapa dirinya.

Bustanus Salatin adalah satu dari sejumlah besar dokumen kerajaan Aceh yang musnah hari itu (11 Desember 1873). Sejak hari itu, bisa jadi orang atau pemimpin yang berasal dari Aceh gagap dalam bersikap dan berkuasa, menjadi aniaya, zalim dan semena-mena. Mungkin (mereka) telah kehilangan pedoman dan terputus dari akarnya, (mereka) malu mengakui dirinya sebagai orang Aceh dan memperolok kaumnya sendiri, tak pelak (maka) sempurnalah tujuan penjajahan yaitu menciptakan bangsa baru yang terputus dari leluhur. Menjadi orang-orang inferior yang rendah diri di hadapan (bangsa) lainnya.

Maka kita harus menemukan kembali falsafah Bustanus Salatin agar kembali menjadi pribadi yang mulia.

XXX

Daftar Pustaka

  1. Erven Paul van’t Veer; Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje; Cetakan Pertama; Penerbit PT Grafiti Press; Jakarta; tahun 1985;Wi
  2. H. Szekely Lulofs; Tjoet Nja Dien Hikayat Pahlawan Puteri Aceh; Cetakan Pertama; Penerbit Chailan Sjamsoe; Jakarta; tahun 1954;
  3. Mohammad Said. Aceh sepanjang Abad jilid I; Cetakan Pertama; Penerbit Harian Waspada; Medan; tahun; 1961
  4. Teuku Iskandar; Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad; Cetakan Pertama; Penerbit Libra; Jakarta tahun 1996;
  5. William Marsden, F.R.S; Sejarah Sumatera; Cetakan Pertama; Penerbit Indoliterasi; Yogyakarta; tahun 2016.

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  2. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  3. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  4. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  5. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  6. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  7. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  8. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  9. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  10. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  11. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  12. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  13. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  14. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  15. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  16. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  17. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  18. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  19. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  20. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  21. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  22. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  23. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  24. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  25. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  26. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  27. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  28. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  29. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  30. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  31. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  32. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  33. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  34. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  35. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  36. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  37. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  38. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  39. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  40. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  41. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  42. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  43. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  44. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  45. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  46. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  47. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  48. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  49. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  50. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  51. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  52. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  53. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  54. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  55. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  56. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  57. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  58. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  59. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
Dipublikasi di Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Review | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

PERAHU BAA MENCAPAI ALIF

Pembersihan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh setelah tsunami 2004

Pembersihan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh setelah tsunami 2004

PERAHU BAA MENCAPAI ALIF

Aku adalah mim, yang mencoba menggapai perahu baa, guna mencapai alif.

Hatiku (seumpama) cuaca senantiasa berubah, langit terkadang berbintang ada kala mendung bahkan badai. Lautan tak selalu teduh begitupula hasratku terkacau oleh ikan-ikan berwarna-warni. Suara-suara mereka memanggilku untuk menyeduk air.

Seharusnya aku tahu tanganku tak mungkin menjangkau dasar lautan, jangankan langit nun jauh disana. Ada baiknya dibelenggu pikir, ada benarnya (juga) pikir menghambat rasa. Akh, kacau entah bagaimana pula jadinya.

Angin menampar-nampar pipiku yang semakin bulat. Gelambir tumbuh sana sini tapi perasaanmu masih bocah. Bocah yang bermain pasir di tepi pantai seraya menghisap gula-gula dengan riang gembira.

Siren berkecapi mendendangkan lagu lembut membuai hasratku untuk tertidur, seharusnya tak begitu, aku buta tangga nada. Ini adalah medan perang yang tak akan aku menangkan. Memandam berahi adalah jalan lurus, tapi alur laut bergelombang sehingga lurus menjadi tak pasti (lagi). Berbelok menjadi keniscayaan robek terburai dalam keterbuaian.

Aku memandang langit, Aku pandangi seksama dengan berkali-kali. Puluhan ribu kali aku memandangi langit berharap bintang-bintang bercerita. Pada hari-hari yang telah terlalui.

Ketika mengingat pada masa lalu, aku merasa malu pada diriku. Yah, terlalu banyak salah, sangat banyak khilaf. Hidupku (pernah) berbuat keliru, meski berusaha memastikan tidak mengulanginya, tanpa tahu bagaimana hasilnya.

Ku pandangi semesta, berharap dan berserah pada wajah-Mu. Aku adalah mim, yang mencoba menggapai perahu baa, guna mencapai alif.

Bait al-Hikmah, 5 Safar 1441 Hijriah bertepatan 23 September 2020 Masehi.

KATALOG OASE

  1. Manusia Semesta; 21 November 2017;
  2. Sebuah Kotak Hitam; 21 November 2017;
  3. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  4. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  5. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  6. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  7. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  8. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  9. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  10. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  11. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  12. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  13. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  14. Sunyi; 19 Maret 2020;
  15. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
Dipublikasi di Cerita, Puisiku | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS PERTAMA DI ACEH

Patung Henricus Christian Verbraak (1835-1918) di taman Maluku kota Bandung.

Patung Henricus Christian Verbraak (1835-1918) di taman Maluku kota Bandung.

HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH

Henricus Christian Verbraak (1835-1918) diutus oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda ke Aceh. Pada tanggal 29 Juni 1884, melakukan pelayanan gereja katolik di Aceh dan tinggal hingga 23 Mei 1907.

Walaupun kala itu Aceh sedang dilanda perang, Verbraak tetap melaksanakan tugasnya dengan penuh pengabdian. Sampai tahun 1877, dia harus tinggal di sebuah gubuk sederhana yang sekaligus menjadi tempat pelayanannya.

Tahun 1877, pemerintah Belanda memberikan tanah yang sebelumnya dirampas milik Sultan Aceh pada tahun 1874 sebagai pampasan perang untuk membangun kapel dari kayu di pinggir Krueng Aceh (Sungai Aceh) yang juga disebut Pante Pirak. Namun, daerah tersebut ketika sering dilanda banjir sehingga bangunan itu tidak tahan lama.

Gereja pertama di Aceh 1874

Gereja pertama di Aceh 1874

Penguasa militer saat itu, Van der Heyden, yang mengetahui masalah ini memberikan izin untuk mendirikan bangunan yang lebih layak dan dimulailah pembangunan gereja dan pastoran baru yang mulai dilaksanakan pada 5 Februari 1884. Gereja dengan menara tersebut, dibangun dari kayu yang berkualitas bagus dan lebih kuat dari sebelumnya.

Baca: Gereja Pertama di Aceh

Hari terakhirnya di Aceh menjadi terakhir kalinya Verbraak merayakan Ekaristi bersama umat di Gereja Hati Kudus Yesus Banda Aceh yang sekaligus menjadi acara perpisahannya. Dia kembali lagi ke dengan kapal laut Padang dengan kereta api dari Kutaradja (Banda Aceh sekarang) ke pelabuhan Ulee Lheue.

Sepeninggal Verbraak, umat katolik yang terkenang mendirikan patung Pastor Verbraak di Simpang Pante Pirak dan Peunayong, dekat gerejanya. Simpang itu sekarang dikenal dengan nama Simpang Lima Banda Aceh. Ketika Jepang mendarat pada tahun 1942 rakyat Aceh menghancurkan patung tersebut karena dianggap sebagai lambang kolonialisme Belanda.

Satu tahun kemudian, pada Hari Raya Paskah, gereja tersebut mulai digunakan. Gereja ini menjadi Gereja Katolik pertama di Aceh dan setelah mengalami perombakan pada tahun 1924, masih tetap berdiri hingga saat ini.

Pada tahun 1918 pemerintah kolonial Hindia Belanda membuat patung Verbraak di taman Maluku Bandung atas jasanya sebagai pastur katolik yang telah melakukan pelayanan gereja di Aceh, Padang dan Yogyakarta. Verbraak sendiri tidak pernah menginjakkan kakinya di bumi Pasundan. Patung Verbraak di kota Bandung masih berdiri tegak sampai hari ini.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  2. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  3. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  5. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  6. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  7. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  8. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  9. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  10. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  11. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  12. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  13. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  14. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  15. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  16. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  17. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  18. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  19. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  20. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  21. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  22. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  23. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  24. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  25. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  26. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  27. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  28. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  29. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  30. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  31. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  32. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  33. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  34. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  35. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  36. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  37. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  38. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  39. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  40. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  41. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  42. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  43. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  44. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  45. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  46. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  47. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  48. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  49. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  50. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  51. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  52. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  53. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  54. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  55. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  56. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  57. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  58. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  59. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI

Lukisan Istanbul, ibu kota Turki Ustmani pada tahun 1860.

Lukisan Istanbul, ibu kota Turki Ustmani pada tahun 1860.

KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI

Pembukaan Terusan Suez dan Hubungannya dengan Perang Aceh.

Terusan Suez selesai 1869, dengan dibukanya Terusan Suez pulau Sumatera menjadi lebih penting artinya karena lalu lintas pelayaran dari Eropa ke Asia Timur tidak lagi melalui selatan yaitu Selat Sunda, tetapi melalui jalur Aden (Yaman) – Kolombo (Ceylon/Sri Langka) melalui Selat Malaka. Timur pulau Sumatera telah jatuh pada pengaruh Belanda, tapi di utara Sumatera, yaitu Aceh masih berdaulat. Belanda merasa bahwa kedaulatan Kesultanan Aceh akan menyebabkan kesulitan di kemudian hari yang melemahkan kekuatan kolonial di Hindia Belanda secara diplomatis dan politik.

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Posisi strategis Kesultanan Aceh Darussalam membuat Belanda merasa perlu segera menancapkan kekuasaan di Utara Sumatera sebelum ada kekuatan lain ikut campur. Ketika Sultan Mansyur Syah (Alaudddin Ibrahim Mansyur Syah) sebagai Sultan terkuat Aceh di abad ke-19 meninggal dunia pada tahun 1870. Belanda berpikir sudah saatnya Aceh ditaklukkan.

Misi Diplomatik Aceh ke Turki Ustmani pada tahun 1868 Masehi.

Kesultanan Aceh yang telah mengetahui rencana pembukaan Terusan Suez mengirimkan perutusan ke Istanbul memohon kepada Khalifah yaitu Sultan Turki agar menjadi pelindung Negara Islam Aceh sebagai kekuasaan tertinggi dunia Islam.

Bendera Aceh koleksi Rijksmuseum

Bendera Aceh koleksi Rijksmuseum

Kesultanan Turki Ustmani ketika itu dalam keadaan tidak berdaya, apalagi untuk menambah masalah baru dalam hubungan dibukanya Terusan Suez. Kekuasaan Turki di Mesir telah melemah akibat pertentangan dengan Inggris dan Perancis. Pada akhirnya pembangunan Terusan Suez disabotase oleh Inggris pada detik-detik terakhir.

Pada tahun 1867 Masehi Sultan Abdul Hamid naik tahta. Di kemudian hari ia mencoba memperkukuh kekuasaan sultan dengan memberikan perhatian besar kepada Kekhalifahan Turki Ustmani sebagai pusat dunia Islam sehingga kelak gerakan Pan-Islam memperoleh kemajuan di semua Negara muslim sebagai bentuk nasionalisme awal.

Habib Abdurrahman Az Zahir menggagas, penggalang, dan sekaligus pelaksana mewakili 60 bangsawan Aceh untuk meminta bantuan Turki melawan ancaman agresi Belanda. Tapi tahun 1868, Kesultanan Aceh Darussalam masih jauh. Perutusan Aceh ditolak, tapi Aceh akan kembali. Habib kembali dengan hasil yang kurang memuaskan, hanya mendapatkan surat dukungan dari Sharif Mekkah dan Pasya Madinah.

Traktat Sumatera atau Perjanjian Sumatera tahun 1871 Masehi.

Untuk memperlancar rencana Belanda memperluas wilayah di Pulau Sumatera, pada tahun 1871 Masehi Belanda berhasil membujuk Inggris untuk menandatangani Traktat Sumatera (Perjanjian Sumatera 1871). Traktat tersebut mengakhiri klaim Inggris atas pulau Sumatera. Membatalkan Traktat London tahun 1824 Masehi dimana kemerdekaan Kesultanan Aceh dijamin. Perjanjian Sumatera memberikan kebebasan kepada Belanda di perairan Selat Malaka sekaligus memberikan kewajiban untuk menumpas segala pemberontakan kepada kekuatan Eropa. Sebagai imbalannya Belanda memberikan Inggris wilayah jajahan di Afrika Barat yang bernama Pantai Emas (sekarang Ghana) dan hak perdagangan yang setara di wilayah Kesultanan Siak.

Perundingan Traktat Sumatera antara Inggris dan Belanda pada tahun 1871 Mesehi.

Perundingan Traktat Sumatera antara Inggris dan Belanda pada tahun 1871 Mesehi.

Traktat Sumatera ditandatangani pada tanggal 2 November 1871 Masehi antara Kerajaan Britania Raya dengan Kerajaan Belanda dengan perincian:

  1. Pasal I: Kerajaan Britania Raya (Inggris) tidak mengajukan keberatan atas perluasan dominasi Belanda terhadap pulau Sumatera dan juga membatalkan kesepakatan dalam Traktat London tahun 1824;
  2. Pasal II: Kerajaan Belanda menyatakan bahwa perdagangan dan pelayaran Kerajaan Britania Raya (Inggris) boleh dilakukan, begitupula terhadap seluruh kesultanan di Sumatera yang dapat bertanggung jawab kepada Belanda.

Sebagai bentuk respon terhadap Traktat Sumatera Belanda mengirimkan sebuah kapal perang ke Aceh dibawah pimpinan kontrolir Pemerintahan Dalam Negeri E.R. Krayenhoff untuk bernegoisasi dengan sultan Aceh dengan tawaran melakukan tekanan. Aceh ditawarkan mengakui kekuasaan Belanda dan dimasukkan ke dalam wilayah pabean Hindia Belanda dengan imbalan kesultanan Aceh tetap merdeka dan mempunyai pemerintahan sendiri.

Krayenhoff mengadakan pertemuan dengan Habib Abdurrahman Az-Zahir, seorang Arab, yang ketika itu memangku jabatan sebagai Wazir (Perdana Menteri). Menurut laporan Krayenhoff ke Batavia. Abdurrahman dengan angkuh mengemukakan hubungan dengan Turki, Inggris, Perancis dan banyak Negara lain. Menurut Belanda ini merupakan tindakan yang tidak pantas, apabila sebuah kesultanan pribumi bersikap angkuh kepada para wakil gubernur jenderal. Hal ini juga tidak sesuai kenyataan karena Inggris telah memperbarui perjanjian dengan Belanda yaitu Traktat Sumatera dan Turki sendiri bukanlah Negara kuat lagi, Belanda optimis meskipun Aceh meminta bantuan Turki, tentu hasilnya masih sama sikapnya dengan tahun 1868 Masehi.

Misi Diplomatik Aceh ke Turki Ustmani pada 1873 Masehi.

Menyadari dalam ancaman invasi oleh Belanda, dan terlihat jelas bahwa Kesultanan Aceh akan diserang. Sultan Aceh kembali mengutus Habib Abdurrahman Az-Zahir untuk kembali meminta bantuan Turki.

Habib (Sayid) Abdul Rahman bin Muhammad al-Zahir (1832-1986 Masehi); lahir di Hadhramaut, menuntut ilmu di Mesir dan Kalkuta, berkelana ke Asia Tenggara. Tiba di Singgapura pada tahun 1862 Masehi, untuk bekerja pada Sultan Johor. Tiba di Aceh pada 1864 Masehi dan mencapai puncak karir. Menjadi perdana menteri (mangkubumi) dan menjadi kepala perutusan sultan Aceh untuk melakukan misi diplomatik ke Turki Ustmani. Ketika Perang Aceh terjadi menyerah dan dikirim ke Jeddah pada tahun 1878 Masehi. Menghabiskan sisa umur di Arabia sampai kematiannya pada 1896 Masehi.

Habib (Sayid) Abdul Rahman bin Muhammad al-Zahir (1832-1986 Masehi); lahir di Hadhramaut, menuntut ilmu di Mesir dan Kalkuta, berkelana ke Asia Tenggara. Tiba di Singgapura pada tahun 1862 Masehi, untuk bekerja pada Sultan Johor. Tiba di Aceh pada 1864 Masehi dan mencapai puncak karir. Menjadi perdana menteri (mangkubumi) dan menjadi kepala perutusan sultan Aceh untuk melakukan misi diplomatik ke Turki Ustmani. Ketika Perang Aceh terjadi menyerah dan dikirim ke Jeddah pada tahun 1878 Masehi. Menghabiskan sisa umur di Arabia sampai kematiannya pada 1896 Masehi.

Habib Abdurrahman Az-Zahir memiliki intelektualitas tinggi, memahami keadaan, memiliki kemampuan berargumen dan meyakinkan orang, fasih berbagai bahasa dan memiliki hubungan darah dengan Syarif Mekkah, didukung oleh para pedagang dan memiliki pergaulan luas terutama di kalangan elit politik, serta yang paling penting dikenal luas di Turki.

Ketika agresi Belanda pertama di Aceh pada tahun Maret 1873 perjalanan utusan Aceh yaitu Habib Abdurrahman Az-Zahir dan Nyak Abbas baru tiba di Mekkah. Akhir April 1874 mereka bergegas menuju Istanbul, setibanya mereka di Turki mereka mendapatkan informasi bahwa Belanda telah gagal menaklukkan Aceh pada perang pertama.

Ketika Habib Abdurrahman Az-Zahir berhasil mencapai Turki, ia terus mengetuk pintu Turki Utsmaniyah. Ia tidak berhasil menghadap sultan Turki, tindakannya mengesankan Belanda yang memantau melalui jaringan mata-mata.

Habib Abdurrahman membawa tiga dokumen yang didalamnya menyatakan bahwa:

  1. Sultan Aceh menyerahkan kerajaannya, kawulanya, serta dirinya sendiri kepada khalifah;
  2. Memohonkan kepadanya agar menguasai harta miliknya serta mengangkat (hanya) seorang Komisaris Pemerintah Turki di Aceh.
  3. Pendapatan kerajaan dari cukai lada yang dimiliki oleh Sultan Aceh dirinci dengan teliti. Segala-galanya dilengkapi menurut selayaknya dengan cap Sultan tujuh rangkap serta tiada diragukan keasliannya.

Kerajaan Aceh memohon agar menjadi Vasal Turki Ustmani.

Kerajaan Aceh berusaha agar Turki membantu sebagai khalifah dunia Islam. Utusan Aceh menawarkan kedudukan Aceh sebagai bagian dari persemakmuran (Vassal State) bagian dari Turki Ustmani.

Permohonan Aceh menjadi vazal Turki Ustmani mendapat tanggapan positif dari masyarakat Turki. Media masa, ulama dan kaum nasionalis. Pers Turki yang memiliki jaringan media di Eropa memberikan perhatian yang cukup besar serta mendukung perlunya Turki mengirimkan bantuan ke Aceh. Hubungan antara Aceh dan Turki telah berlangsung lama. Bahkan muncul isu bahwa Turki akan mengirimkan 8 kapal perang ke Aceh.

Peta Kerajaan Aceh tahun 1665 Mesehi, koleksi Nationaal Archief, Pelukis Johannes Vingboons.

Peta Kerajaan Aceh tahun 1665 Mesehi, koleksi Nationaal Archief, Pelukis Johannes Vingboons.

Kabinet Turki cenderung menghindar membahas isu Aceh, ketika kubu nasionalis mengingatkan Turki perlu melindungi Aceh terkait dengan dokumen lama bahwa Aceh telah menjadi protektorat Turki sejak tahun 1500-an dan telah memperbaharui perjanjian tersebut pada tahun 1850. Pihak kabinet Turki menyatakan bahwa itu hanya dokumen keagamaan tanpa makna politik. Pihak Inggris dan Negara Eropa lainnya menyatakan dokumen itu tidak berlaku karena Turki tidak pernah mengumumkan kesepakatan itu sebelumnya. Permohonan Aceh ketika itu didukung oleh Midhat Pasya yang menjabat Menteri Kehakiman.

Posisi Turki di dunia ketika itu sedang merosot tajam. Atas dasar ini Turki meminta pertimbangan Inggris. Inggris menyebutkan bahwa Turki lebih baik bersikap netral dengan alasan:

  1. Turki tidak memiliki kepentingan di Aceh, apabila membantu Aceh maka Turki akan mendapat kerugian politik di Eropa dan Asia kecil;
  2. Perang Aceh-Belanda bukan perang agama;
  3. Perang Aceh sudah terlanjur pecah sehingga peran Turki tidak efektif dan etis. Belanda pasti akan melakukan agresi kedua sebagai balasan kekalahan pada agresi pertama.

Perancis, Rusia dan Jerman memberikan pertimbangan yang sama dengan Inggris. Ketika Jerman mengancam tidak akan menjual kapal perang ke Turki kabinet Turki menjadi lemah dan tunduk. Ketika itu Turki sedang mengalami pergolakan terutama di kawasan Balkan dan Yunani.

Turki Ustmani menolak permohonan Aceh menjadi Vasal.

Permintaan Aceh ditolak setelah melalui rapat dewan menteri (Majlis-i-Vukela) dengan catatan bahwa meskipun pernah ada hubungan baik antara dua Negara, tapi itu tidak cukup meyakinkan untuk mengabulkan permintaan Aceh. Ketika Turki telah membuat keputusan atas permohonan Aceh, maka kehadiran Habib Abdurrahman Az-Zahir menimbulkan suasana politik kurang nyaman di Turki. Pemerintah Turki meminta Habib segera meninggalkan Turki dan sekedar basa-basi memberikan penghargaan kelas dua “Osmanie” dan menitipkan sepucuk surat dari Vazir (Perdana Menteri) Turki berisi ringkasan-ringkasan upaya Turki untuk membantu Aceh.

Jawaban Turki cukup jelas. Menurut laporan ke Pemerintah Belanda, ketika duta besar Belanda untuk Turki Heldewier berkunjung kepada Menteri Turki Khalil Pasya. Pejabat tinggi kekhalifahan ini berucap dengan menenangkan pihak Belanda: “Kami sama sekali tidak mempedulikan segala pengaduan raja-raja biadab macam ini!” (‘Ces princes sauvages’)

Belanda, dibantu Rusia, Perancis, Jerman dan Inggris berhasil menekan Turki. Dan akhirnya Istambul lepas tangan terhadap nasib Aceh, mereka berkata, “Kami tidak ada urusan dengan bangsa barbar seperti itu.” Menjaga nama baik mereka mengeluarkan nota diplomatik pada bulan Agustus 1873. “Bahwa Belanda dibolehkan campur tangan yang menginginkan perdamaian dan bersifat kemanusiaan yang menguntungkan Aceh.” Belanda memperoleh kemenangan diplomatik penting, dan segera mengesampingkan nota tersebut.

Pada tanggal 18 Desember 1873 Masehi, Habib Abdurrahman Az-Zahir meninggalkan Turki. Tidak semua impian Kekhalifan berakhir indah. Ketika Kekhalifahan Turki memilih tidak menolong Aceh, maka Kesultanan Aceh-lah yang dapat menolong dirinya sendiri.

Habib Abdurrahman Az-Zahir menyerah kepada Belanda pada tahun 1878 Masehi bersama dengan 20 orang pengikut. Ia memperoleh uang tahunan sebesar sepuluh ribu ringgit Spanyol seumur hidup.

Habib Abdurrahman Az-Zahir menyerah kepada Belanda pada tahun 1878 Masehi di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) bersama dengan 20 orang pengikut. Ia memperoleh uang tahunan (pensiun) sebesar sepuluh ribu ringgit Spanyol seumur hidup.

XXX

Baca kisahnya di: Risalah Sang Durjana Bagian Empat Belas

XXX

DAFTAR PUSTAKA

  1. Erven Paul Van ‘T Veer; De Atjeh-Oorlog; Uitgeverij De Arbeiderspers / Wetenschappelijke Uitgeverij; 1979;
  2. M. Thamrin Z dan Edy Mulyana; Dua Tokoh Asing di Sekitar Istana: Panglima Tibang & Habib Abdurrahman El Zahir; Cetakan Pertama; Penerbit PENA; Banda Aceh; 2016;
  3. Nino Oktorino; Nusantara Membara Perang Terlama Belanda Kisah Perang Aceh 1873-1913; Cetakan Pertama; Penerbit PT Elex Media Komputindo; Jakarta; 2018;
  4. Paul Van ‘T Veer; Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje; Cetakan Pertama; PT. Temprint; Jakarta; 1985;
  5. Woltring; Duta Belanda di Istambul tentang Khalif;

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  2. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  3. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  5. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  6. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  7. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  8. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  9. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  10. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  11. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  12. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  13. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  14. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  15. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  16. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  17. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  18. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  19. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  20. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  21. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  22. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  23. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  24. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  25. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  26. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  27. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  28. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  29. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  30. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  31. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  32. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  33. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  34. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  35. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  36. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  37. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  38. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  39. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  40. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  41. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  42. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  43. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  44. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  45. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  46. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  47. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  48. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  49. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  50. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  51. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  52. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  53. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  54. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  55. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  56. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  57. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  58. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  59. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Komentar

ARAH PENUNGGANG ZAMAN

Kucing memanjat atap rumah.

ARAH PENUNGGANG ZAMAN

Arah zaman sulit ditebak, begitu pula penunggang zaman.

Tubuh setiap makhluk ibarat semesta, sel-sel membawa data. Tubuh kita membawa catatan sejarah, apa-apa yang pernah dialami, pernah terkena penyakit apa dan bisa mengeluarkan imun apa. Sebagaimana peradaban manusia (juga) berkembang dengan apa yang dihadapi. Perbenturan dan pergesekan justru mendewasakan meski sempat membuat terluka.

Bagi mereka yang dilahirkan sebelum tahun 1990-an maka tahun-tahun di atas 2020-an adalah tahun-tahun yang berbeda sama sekali. Ada banyak merupakan cara-cara lama menjadi tidak berlaku lagi.

Pintu informasi benar-benar terbuka lebar untuk siapapun dan di mana pun. Dahulu ketika ingin mencari informasi kita harus ke perpustakaan atau harus bertanya kepada yang ahli. Sekarang kita tinggal mencari informasi tentang hal tersebut melalui internet. Banyaknya informasi yang tersebar di internet membuat arus data menjadi terdistorsi, terlalu banyak pilihan sehingga bisa jadi si pengguna mengambil informasi yang belum tentu benar.

Kebebasan berekspresi juga tanpa batas dengan sosial media sebagai corongnya. Masalah lokal bisa menjadi global melintasi batas-batas yang tak terbayangkan sebelumnya. Lucunya ketika informasi melintas tanpa batas justru media sosial membagi orang-orang secara sikap berbatas.

Keadaan ini bukan tanpa hal yang baik, generasi yang lahir setelah tahun 2000-an memiliki kecerdasan yang unik, berbeda dengan generasi sebelumnya. Contoh baiknya adalah generasi muda ini lebih mencintai kopi daripada bir. Kemampuan menguasai banyak ketrampilan (pekerjaan tangan) sebagaimana generasi sebelumnya digantikan dengan kemampuan berteknologi.

Mungkin bagi sebagian orang (dari generasi sebelumnya) memandang sebelah mata pada generasi Z (sosial media) ini namun terkadang anak-anak baru ini (generasi tiktok dan instagram) mampu mengejutkan generasi facebook (atau Friendster?) dan sebelumnya.

Bayangkan anda seorang yang berumur 36 tahun dan dikalahkan dengan mudah seorang anak muda berumur 18 tahun dalam lintasan lari. Dikalahkan oleh orang-orang muda bagi sebagian besar adalah penghinaan terutama oleh mereka yang jarang kalah. Sebenarnya kalah apa salahnya?

Covid-19 telah menguncangkan zaman ini, ada banyak perilaku yang berubah serta merta. Ada hal-hal yang dulu dianggap hebat menjadi biasa saja, begitupun sebaliknya. Zaman berubah ke arah yang berbeda begitupun manusia. Ada yang bilang manusia tidak pernah berubah sepenuhnya. Memang ada pertambahan atau pengurangan pengetahuan, kemampuan ataupun pengalaman. Tapi perasaan tidak pernah berubah sepenuhnya.

Akh, bicara tentang perasaan ternyata sudah lama Abu tidak berpuisi.

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Dipublikasi di Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO)

Cut Meuligou atau Nyak Mahligai dari Rigaih Salah satu istri Teuku Umar yang ditangkap, dalam penahanan kolonial Belanda di sisi timur Pulau Raya pada tahun 1894, di pantai barat Aceh; Sumber KITLV.

Cut Meuligou atau Nyak Mahligai dari Rigaih Salah satu istri Teuku Umar yang ditangkap, dalam penahanan kolonial Belanda di sisi timur Pulau Raya pada tahun 1894, di pantai barat Aceh; Sumber KITLV.

SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO)

Penduduk asli negeri Daya

Dahulu kala di hulu Krueng Daya (Sungai Daya) ada sebuah dusun bernama Lhan Na sekarang disebut Lamno, ketika dusun itu dihuni orang-orang liar belum beragama. Mereka diduga berasal dari bangsa Lanun, orang Aceh menyebut “lhan”, atau bangsa Samang yang datang dari Semenanjung Malaka atau Hindia Belakang, Burma dan Champa, diduga memiliki hubungan dengan bangsa Mongolia yang datang dari kaki bukit Himalaya.

Penduduk penghuni di hulu sungai Daya itu bercampur dengan orang-orang baru yang datang, karena percampuran peradaban mereka bertambah maju. Sejak kedatangan orang-orang Aceh Besar (Lamuri) dan Pasai orang-orang di pesisir negeri Daya berangsur-angsur masuk agama Islam.

Asal nama Negeri Daya

Pada pertengahan abad ke-15 Masehi terjadi perang antara Raja Pidie melawan Raja Pasai, terjadi pemberontakan oleh Raja Nagor bekas pahlawan Pasai yang dihukum. Dalam pertempuran itu Raja Pasai kalah, Sultan Haidar Bahiyan Syah tewas, singgasana Pasai dirampas oleh Raja Nagor Pidie pada tahun 1417. Sejak saat itu Raja Nagor memerintah negeri Pasai, terdapat banyak pertentangan dengan keturunan keluarga Sultan Pasai sehingga banyak yang dibunuh. Beberapa keturunan keluarga Pasai menghindarkan diri pergi mencari dan membuka negeri baru, salah seorang sampai ke Daya. Negeri ini dinamakan berdasarkan kejadian ini, Daya itu bermakna tidak berdaya lagi, telah habis dan cukup banyak usahanya.

Pantai di Daya, dilihat dari Lamno di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 1926; Sumber KITLV.

Pantai di Daya, dilihat dari Lamno di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 1926; Sumber KITLV.

Pantai di Daya, dilihat dari gunung Geurutee di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 2020.

Pantai di Daya, dilihat dari gunung Geurutee di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 2020.

Menurut cerita oral bahwa pada zaman itu (dahulu) ketika turunan Raja Pasai atau orang yang (akan) menjadi raja sampai di Kuala Daya, perahunya kandas. Semua isi perahu dikeluarkan dan semua orang turun untuk menarik perahu namun tetap kandas. Maka pemimpin mereka menyebut sudah cukup usaha tenaga dan daya upaya, tetapi tidak berhasil. Mereka merasa “Tidak Berdaya” dan mereka mendirikan pemukimam di Kuala Daya, kemudian negeri itu dinamakan “Tidak Berdaya”. Lama-lama menyebut nama “Tidak Berdaya” itu dengan “Daya” saja. Menurut cerita lain bahwa Raja Daya pertama adalah keturunan Raja Aceh yang mengasingkan diri kemudian membuka negeri karena berselisih dengan saudaranya.

Asal nama Negeri Lamno

Ketika Raja Daya melakukan ekspedisi ke hulu Sungai Daya untuk memeriksa penduduk negeri dan sampai ke tempat yang sekarang terletak di Peukan Lamno (Pasar Lamno). Disana didapati penghuni kampung yang mirip orang Lanun dari Malaya atau Hindia Belakang. Orang lanun disebut orang Aceh disebut orang Lhan. Orang Lhan masih liar, belum berpakaian kain, pakaiannya dari kulit kayu dan kulit binatang yang tipis. Orang Lhan adalah penduduk yang sudah ada di situ, maka disebut “Lhan Kana” atau “Lhan Na” artinya orang Lhan sudah ada di situ. Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam disebut dengan “Lam Na” dan ketika Belanda datang ucapan berubah menjadi “Lam No” dalam sebutan serdadu-serdadu marsose dari suku Jawa yang menyebut Lanno.

Salah satu negeri kerajaan Daya adalah Negeri Keuluang, pemimpinnya disebut Raja Keuluang terdiri dari empat daerah:

  1. Keuluang;
  2. Lam Beusoe;
  3. Kuala Daya;
  4. Kuala Unga.

Adapun Kuala Lam Beuso asalnya karena dahulu pada suatu waktu ada perahu yang berisi besi muatannya sedang didayung terbenam di kuala, sebab itulah nama Kuala Lam Beuso, kemudian berubah menjadi Lam Beuso saja.

Sejarah Sultan Meureuhom Daya

Menurut pemeriksaan Hussein Djajadiningrat Sultan Meuruhom Daya meninggal tahun 1508 Masehi. Sultan Meureuhom Daya aslinya bernama Uzir anak Sultan Inayat Syah bin Abdullah al-Malikul Mubin yang bersaudara dengan Sultan Muzaffar Syah raja di Aceh Besar, dan bersaudara juga dengan Munawar Syah raja di Pidie. Diyakini bahwa negeri Keuluang Daya didirikan pada akhir abad ke-15 Masehi oleh Meureuhom Daya atau Meureuhom Unga.

Negeri Daya menjadi maju dibawah pemerintahan Sultan Meureuhom Daya bertambah maju dengan pertanian merica atau lada, banyak didatangi oleh para saudagar Arab, Tiongkok dan Pegu. Pada abad ke-16 Masehi datanglah orang Belanda, Inggris, Perancis dan lain.

Asal Keturunan Portugis atau Dara Portugis di Lamno

Menurut sahibul hikayat ketika armada Portugis dibawah pimpinan Alfonso Alberqueque hendak menaklukkan kota Malaka tahun 1511 Masehi, Raja Portugis mengirimkan pasukan bantuan tapi pasukan tersebut tidak pernah sampai karena terdampat di pesisir Barat Aceh tepatnya kota Lamno, Aceh dan kehilangan kontak dengan pasukan induknya di Goa (India) pusat koloni Portugis di Timur Jauh maupun dengan pasukan Portugis di Malaka, Mereka segera ditawan oleh Sultan Meureuhom Daya untuk mengembangkan armada. Riwayat menerangkan di hulu Kuala Lam Beusoe dahulu banyak ahli teknik membuat kapal-kapal besar seperti Top, Sekuna, Jong, dan Ghali (kapal perang model kapal perang Spanyol/Portugis), pembuatan meriam dan mesiu untuk keperluan perang dan pengkutan bahan-bahan perang.

Dara Portugis yang melegenda kecantikannya.

Daerah Daya ini paling banyak tinggal peranakan dari bangsa Portugis di Aceh sampai sekarang. Perawakan mereka kulitnya putih (jagat), badannya tegap dan matanya biru seperti kebanyakan bangsa Eropa. Masyarakat Aceh menyebut mereka suku mata biru, setelah tsunami Aceh tahun 2004 jumlah mereka menjadi semakin sedikit. Para perempuan dari keturunan Portugis disebut dengan julukan kondang “Dara Portugis” bahkan banyak para pemuda dari Aceh maupun luar Aceh mencari jodoh ke pesisir Barat, siapa tahu dapat mempersunting “Dara Portugis” tersebut.

Legenda Harimau Daya atau Rimueng Daya

Ada sebuah dongeng lama, kisah ini diwarisi dari waktu pra-Islam menceritakan, di bagian Kerajaan Daya (Kabupaten Aceh Jaya sekarang) ada sebuah wilayah bernama Lhok Kruet. Di wilayah ini ada orang kampung biasa yang malam harinya menjadi harimau. Atau disebut dengan julukan Rimueng Daya (Harimau Daya)

Menurut legenda orang-orang yang mampu berubah ini tidak memiliki filtrum atau bahasa latinnya philtrum, atau oreng. Yaitu lekukan vertikal di bagian tengah bibir atas. Pada umumnya setiap mamalia memilikinya, yang memanjang dari bawah hidung sampai ke bibir atas.

XXX

Video Ziarah ke Makam Sultan Meureuhom Daya

DAFTAR PUSTAKA

  1. Zainuddin; Tarikh Aceh dan Nusantara; Lembaga Studi Kebudayaan dan Pembangunan Masyarakat; Cetakan kedua; Banda Aceh tahun 2012;
  2. A. Dr. Hussain Djajadiningrat; Atjehsch Nederland Woordenboek; Landsdrukkerij; Batavia; 1934;
  3. Cerita yang didapat dari Teuku Raja Adian bekas Uleebalang (Zelfbestuurder) Kerajaan Daya yang terakhir tahun 1945;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  2. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  3. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  4. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  5. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  6. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  7. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  8. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  9. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  10. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  11. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  12. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  13. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  14. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  15. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  16. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  17. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  18. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  19. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  20. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  21. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  22. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  23. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  24. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  25. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  26. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  27. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  28. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  29. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  30. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  31. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  32. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  33. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  34. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  35. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  36. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  37. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  38. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  39. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  40. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  41. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  42. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  43. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  44. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  45. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  46. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  47. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  48. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  49. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  50. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  51. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  52. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  53. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  54. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  55. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  56. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  57. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  58. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  59. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Komentar