APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA

Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda; Penulis A. Hasjmy; Penerbit Bulan Bintang; Cetakan Pertama; Tahun 1977; Jakarta.

Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda

Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda; Penulis A. Hasjmy; Penerbit Bulan Bintang; Cetakan Pertama; Tahun 1977; Jakarta.

Free download buku Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda

Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda – A.Hasjmy

Hikayat Prang Sabi  Menjiwai Perang Aceh Melawan Belanda

Hikayat Prang Sabi sebagai media dakwah yang sanggup membangkitkan semangat perang dan jihad fi Sabilil-lah untuk melawan serdadu-serdadu kolonial Belanda, dipandang oleh pimpinan tentara dan pemerintahan militer Hindia Belanda sebagai senjata yang sangat berbahaya, sehingga dilarang membaca, menyimpan dan mengedarkannya.

Akan tetapi di mata sarjana dan sastrawan Belanda Hikayat Prang Sabi  menarik perhatian untuk diteliti dan dipelajari, terutama mereka yang ahli bahasa Aceh, termasuk Snouck Hurgronje (1857-1936) karena dianggap sanggup membangkitkan keberanian yang luar biasa dari hati rakyat Aceh.

Operasi Pasukan Marsose di Mukim XXII (Perang Aceh 1873-1904) Salah satu perlawanan tergigih dan terlama terhadap kolonisasi Belanda di Indonesia

Nilai sastra Hikayat Prang Sabi  sebagai sebuah karya sastra perang menarik sejumlah sastrawan Belanda. Salah satunya H.T. Damste, yang pernah menjadi controleur di Idi Aceh Timur, menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda, yang disiarkan dalam Bijdragen Tot de Taal – Land – en Volkenkunde van Nederlandsch – Indie Deel 84, yang diterbitkan di negeri Belanda oleh Het Koninklijk Instituut voor de Taal – Land – en Volkenkunde van Nederlandsch – Indie. Sehingga menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Sastra Aceh di Belanda.

Review buku Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda

Sistematika buku ini terlebih dahulu menampikan latar belakang terciptanya Hikayat Prang Sabi, peranan ulama dalam Perang Aceh, dan analisa mengapa hikayat ini sebagai karya sastra sangat berhasil kemudian menguraikan inti Hikayat Prang Sabi yang terdiri dari : Kisal Ainul Mardliyah, Pasukan Gajah. Said Salmy dan Budak Mati hidup kembali.

Hikayat Prang Sabi seluruhnya disusun dalam bentuk puisi (berbahasa Aceh), ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia masih terdengar sangat indah (meski pun teramat sukar membawa perasaan halus yang terkandung di dalamnya), karena puisi aslinya memiliki nilai seni yang sempurna pada zamannya.

Hikayat Prang Sabi, sebagian besar kandungan isinya berintikan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al Qur’an yang dipuisikan. Naskah aslinya tertulis dengan huruf Arab sebagaimana naskah-naskah lama berbahasa Aceh. Pada masa itu semua rakyat Aceh lazimnya pandai membaca atau menulis huruf Arab.

Teungku Chik Pante Kulu, dilahirkan 1836 M / 1251 H di Gampong Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Pidie.

Hikayat Prang Sabi ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu, dilahirkan 1836 M / 1251 H di Gampong Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Pidie. Pada saat perang Aceh pecah, 1873 M. Ia sedang berada di Tanah Suci. Pada tahun 1881 M. Ia pulang ke Aceh, dalam perjalanan pulang, di atas kapal antara Jeddah dengan Penang, ia berhasil mengarang sebuah karya sastra yang sangat besar sumbangannya untuk membangkitkan semangat jihad melawan Belanda, Hikayat Prang Sabi.

Hikayat Prang Sabi sebagai penyemangat semangat Jihad orang-orang Aceh

Berdasarkan kenyataan sejarah Hikayat Prang Sabi benar-benar menjiwai perang Aceh lawan Belanda selama puluhan tahun, benar-benar telah membuat rakyat Aceh menjadi “Muslim Sejati” yang tidak takut mati. Telah melahirkan pahlawan-pahlawan yang tidak ingin pulang dari medan perang; benar-benar telah menjadikan Aceh sebagai neraka bagi tentara Belanda sepanjang sejarah penjajahan di Indonesia.

Pasukan Aceh memberikan perlawanan yang gigih dengan membendung arus penyebrangan tentara Belanda. Tentara Belanda terus maju menerobos pertahanan Aceh dengan alatnya yang lengkap dan serba modern. Dalam terobosan-terobosan ini terjadilah perang tanding, seorang melawan seorang dimana prajurit Aceh maju dengan kelewang yang sukar bagi Belanda menghadapinya dalam jarak dekat. Namun dengan keunggulan persenjataan dan keahlian pasukan Belanda terus maju.

Pengaruh Hikayat Prang Sabi dalam membangkitkan semangat perang, sehingga menyebabkan tentara Hindia Belanda banyak yang terbunuh dan ketakutan. Seorang tentara, wartawan perang sekaligus pengarang Belanda, H.C. Zentgraaf menulis: “… menig jong man deersteschreden op het oorslogpad onder den machtigen indruk dier lectuur op zijn emotioneele ziel … zeer gevaarlijke lectuur…” Artinya: … Para pemuda meletakkan langkah pertamanya di medan perang atas pengaruh yang sangat besar dari karya-sastra ini (Hikayat Prang Sabi), menyentuh perasaan mereka yang mudah tersinggung… karya-sastra yang sangat berbahaya…

XXX

Jangan katakan mati

Mujahid tewas di medan perang,

Dia hidup abadi,

Bermandikan rahmat Tuhan.

 

Jangan dianggap mati,

Mesti nyatanya demikian,

Jangan ragukan kekasih hati,

Ada firman Tuhan

 

Jangan sebutkan mati,

Meski nyawa sudah tiada,

Dia hidup di sisi Illahi.

Senantiasa bersukaria.

 

(Salah satu syair dalam Hikayat Prang Sabi)

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  2. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  3. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  4. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  5. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  6. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  7. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  8. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  9. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  10. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  11. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  12. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  13. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  14. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  15. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  16. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  17. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  18. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  19. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  20. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  21. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  22. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  23. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  24. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  25. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  26. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  27. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  28. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  29. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  30. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  31. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  32. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  33. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  34. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  35. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  36. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  37. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  38. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  39. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  40. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  41. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  42. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  43. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  44. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  45. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  46. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  47. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  48. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  49. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  50. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  51. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  52. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  53. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  54. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  55. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  56. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  57. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  58. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  59. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
Advertisements
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, E-Book, History, Kisah-Kisah, Kolom, Reportase, Review | Leave a comment

MEMBACA ANGIN MENGHINDARI BADAI

IA mencintai apa yang mencintai-NYA.

MEMBACA ANGIN MENGHINDARI BADAI

Aku adalah miim, yang mencoba menggapai perahu baa, guna mencapai aalif.

Apa penting bagi orang-orang kecil mempelajari sejarah? Bagi para pemenang, sejarah adalah nostalgia tentang bagaimana kejayaan itu diperoleh. Sementara bagi orang kecil yang kalah, sejarah itu adalah getir yang tak ingin tertengok kembali. Benarkah?

Alkisah pada suatu hari yang panas, Sultan Aceh sedang menerima utusan bangsa Portugis. Sultan sehari sebelumnya terlalu banyak makan gulai kambing, perut beliau cenat cenut. Saat Sultan hendak bertitah akhirnya tak tertahankan lagi, PRAAK!!! Sultan mengeluarkan kentut basah. Utusan Portugis terdiam, hening. Bau busuk memenuhi aula penghadapan. Katibul Muluk (Sekretaris Raja), Rais Waziat Addaulah (Perdana Menteri) dan sejumlah pejabat Kesultanan menahan tawa. Tak dinyana seorang hamba tiba-tiba mohon ampun, ia mengaku telah buang angin. Sultan murka dan mengusir orang tersebut dari aula penghadapan.

Beberapa hari kemudian utusan Portugis dengan kecewa kembali ke Malaka, permohonan damai telah ditolak mentah-mentah oleh Sultan Aceh, dan Kesultanan Aceh tidak hendak berdagang dengan bangsa Portugis. Tak lama kemudian Sultan memanggil orang yang pernah diusirnya ke taman sari (tempat peristirahatan) secara pribadi. Sultan merasa senang karena orang tersebut telah menutupi rasa malunya. Orang tersebut kita umpamakan bernama Abu Nawas diberikan sebuah wilayah yang luas dipinggiran ibu kota atas jasanya tersebut. Daerah tersebut kelak dinamakan Lam Geuntot (Lembah Kentut) untuk mengenang asal muasal kejadian awal mulanya.

Sejarah tidak pernah menjadi sesuatu yang sakral, sejarah itu dipelajari bukan hanya menghafal tanggal, sekedar mengingat kejadian yang pernah terjadi sebagai sebuah pengetahuan yang tunggal. Sejarah itu seharusnya adalah sekumpulan data, atau bahkan informasi yang bersifat terbuka untuk dianalis. Kemungkinan dan asal mula, penyebab dan akibat. Selayaknya di kembangkan, oleh karena itu sejarah itu imajinatif sekaligus praktis.

Jadi apakah mempelajari sejarah supaya pintar? Menjadi pintar akan sejarah justru akan menjebak dengan hafalan-hafalan yang membuat kepala menjadi pusing. Maka sebaiknya kita memahami sejarah sebagai sebuah ilmu bukan dengan tujuan semata-mata menjadi pintar. Pintar itu adalah kemampuan untuk mengingat dan tahu akan jawaban pertanyaannya, tapi menjadi orang berilmu adalah tahu kapan menggunakannya, bisa mempraktekkannya.

Apakah menjadi pintar adalah buruk? Tentu tidak, tapi jika kepintaran semata-mata yang dikejar maka terciptalah penjara imajinasi. Imajinasi menjadi sangat penting karena disanalah asumsi-asumsi keilmuan dibangun. Sejarah sebagai sebuah ilmu memberikan banyak pengetahuan kepada manusia, tentang bagaimana cara menghadapi masa depan, tentang bagaimana memecahkan masalah. Ilmu yang memberikan petunjuk bagaimana menghadapi kondisi, tentang bagaimana membaca arah angin dan menghindari badai.

Syahdan seorang sahabat Abu Nawas bertanya kepadanya, bagaimana bisa dia mampu mendapatkan anugerah Sultan berupa tanah yang cukup luas hanya karena mengakui kentut Sultan. Bisa jadi Sultan malah murka dan memenggal kepalanya yang secara nyata mengucapkan kebohongan.

Konon si Abu Nawas menjawab dengan sekenanya. Fitrahnya siapapun yang berkuasa itu senang akan kesetiaan. Kesetiaan itu adalah kemampuan memperhambakan diri, bukankah jika kita berjalan kepada Allah maka Allah akan berlari pada kita. Begitupun manusia yang merupakan ciptaannya, memiliki sebuah sifat yang ikut dari Sang Rabb ketika ruhnya ditiupkan yakni IA mencintai apa yang mencintai-NYA. Maka jika kelak Sultan menjadi mengetahui adanya kenakalan ataupun keusilannya maka dengan sedia selalu memaafkannya seraya berkata, memang begitulah si Abu Nawas tapi dia orang yang setia.

Apakah Abu Nawas oleh rakyat dianggap sebagai penjilat? Tidak pernah ada hikayat yang mengecam si Abu Nawas. Kisahnya justru menjadi lelucon yang hidup, sebagaimana humor terbagus selalu lahir dari kalangan bawah. Lelucon paling tidak lucu adalah menertawakan mereka yang tak punya, cacat dan lemah. Disinilah hebatnya Abu Nawas dalam kisahnya, ia menertawakan diri sendiri, utusan Portugis, para Menteri dan secara diam-diam (juga) sang Sultan.

Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

PEUCUT KHERKOF SUATU MASA

Pada makam-makam ini telah dikuburkan lebih dari 2.200 orang tentara Belanda yang tewas selama Perang Aceh-Belanda.

PEUCUT KHERKOF SUATU MASA

 

Aku kutuk engkau dalam debu dan terik kota

Karena dibalik keharuan yang dalam

Tanah kuburan ini bercerita memercikkan kisah

Berkat dari darah yang tumpah di negeri ini

 

Dari tombak dan kelewang lelaki perkasa

Atau dari rencong lengan halus perempuan mulia

Kalian-kalian yang dikuburkan ini adalah nista

Nafsu angkara dan keserakahan manusia

 

Peucut Kherkof sebuah pekuburan kelibui masa

Ungkapan sejarah disuburi cerita indatu

Kisah kasih para durjana di ujung pedang

Kini terbaring Belanda dan anteknya disini

 

Alangkah lapangnya dada yang mau menerima

Para penjajah yang berbaring dinini

Di atas sebidang tanah semua punya kami

Ingin kukatakan bedebah

 

Kucoba mencintai kau Peucut Kherkof

Semata karena engkau bercerita

Betapa perkasa ugahari leluhur kami

Sebagai pengingat kami generasi pelupa

Banda Aceh, 24 September 2019

Baca juga ulasan: Pekuburan Belanda Peucut Saksi Sejarah Perang Aceh

Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA

SINGA ATJEH (Biographi Seri Sultan Iskandar Muda) oleh H.M. Zainuddin; Tjetakan Pertama tahun 1957; Penerbit PUSTAKA ISKANDAR MUDA; Medan.

SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA

SINGA ATJEH (Biographi Seri Sultan Iskandar Muda) oleh H.M. Zainuddin; Tjetakan Pertama tahun 1957; Penerbit PUSTAKA ISKANDAR MUDA; Medan.

Free download buku SINGA ATJEH BIOGRAPHI SULTAN ISKANDAR MUDA

HM Zainuddin – SINGA ACEH

Extent of Aceh Sultanate during the reign of Iskandar Muda, 1608–1637. Source Wikipedia

Penyerangan Malaka (Portugis) oleh Kesultanan Aceh Darussalam di tahun 1629

Di Atjeh na Alam Peudeueng

Tjap sikureueng lam djaroe radja

Phon di Atjeh troih u Pahang

Tan soe teuntang Iskandar Muda

 

Bangsa Peutugeh angkatan meugah

Abeh geupinah di Atjeh Raya

U Melaka keudeh di pioh

Keunan pih troih geupitjrok teuma

 

Iskandar Sani duk geunatoe

Lakoe putroe Tadjul Mulia

Kota Melaka teuman geu engkhoe

Peutugeh odiwue keudeh u Gua

Review buku SINGA ATJEH BIOGRAPHI SULTAN ISKANDAR MUDA

Lukisan Sultan Iskandar Muda

Secara umum diketahui bahwa Kesultanan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda mencapai puncak kejayaannya. Meskipun kemudian Sultan Iskandar Muda mangkat tapi nama baginda tetap hidup pada zaman pemerintahan Sultan-Sultan Aceh kemudian. Semangat giat bekerja untuk memakmurkan kerajaan dan agamanya, begitupula keadilan Baginda, tetap menjadi puja dan puji oleh putra dan putri Aceh.

Baginda Sultan Iskandar Muda memperoleh gelar “POTEU MEURUHOM MEUKUTA ALAM” artinya Sultan almarhum Mahkota Alam. Peribahasa Aceh “Adat bak Poteu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala.” Berarti adat istiadat asalnya dari almarhum Sultan Iskandar Muda dan hukum-hukum Islam pada Syech Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala), masihlah melekat pada orang-orang Aceh yang masih mengenang zaman keemasan Kerajaan Aceh Darussalam.

Maka bacalah buku ini. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SULTAN ISKANDAR MUDA agar putra-putri Aceh memiliki pengetahuan tentang dirinya, asal-muasal dirinya serta kisah leluhurnya.

Sebelum H.M. Zainuddin menulis buku SINGA ATJEH BIOGRAPHI SULTAN ISKANDAR MUDA belum ada kitab yang lengkap memuaskan tentang diri dan pemerintahan Baginda Sultan Iskandar Muda di zaman bahari itu. Buku ini sebenarnya hampir serupa dengan buku-buku yang telah ada baik itu hikayat maupun berita asing yang telah terlebih dahulu ada. Hanya H.M. Zainuddin menambahkan pendapat serta cerita atau dongengan dari orang-orang tua di masa lampau sehingga dapat menambah pengetahuan tentang sejarah lama.

Makam Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh pada tanggal 19 Desember 1952 ditemukan kembali oleh bekas pemaisuri salah satu Sultan Aceh bernama Pocut Meurah (Ketika Belanda menyerang ia masih kanak-kanak). Makam tersebut dibangun kembali berdasarkan contoh makam Sultan Mansur Syah (1857-1870).

Tanpa membaca maka sejarah akan menjadi mitos ataupun legenda. Sebagaimana tujuan Kolonial Belanda yang menghancurkan makam Sultan Iskandar Muda kemudian membangun bangunan diatasnya seolah tidak mungkin ada sesuatu dibaliknya, tujuan kolonial Belanda jejak beliau musnah. Sehingga orang Aceh tidak memiliki kebanggaan atas kegemilangan masa lalunya.

Maka bacalah buku ini. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SULTAN ISKANDAR MUDA agar putra-putri Aceh memiliki pengetahuan tentang dirinya, asal-muasal dirinya serta kisah leluhurnya. Tidak mengetahui apa yang terjadi sebelum engkau lahir berarti engkau selalu menjadi kanak-kanak. Karena apalah arti hidup menusia, kecuali jika hidup itu terjalin dengan hidup para leluhur, melalui catatan sejarah.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  2. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  3. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  4. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  5. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  6. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  7. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  8. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  9. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  10. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  11. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  12. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  13. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  14. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  15. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  16. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  17. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  18. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  19. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  20. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  21. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  22. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  23. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  24. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  25. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  26. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  27. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  28. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  29. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  30. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  31. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  32. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  33. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  34. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  35. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  36. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  37. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  38. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  39. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  40. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  41. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  42. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  43. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  44. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  45. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  46. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  47. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  48. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  49. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  50. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  51. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  52. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  53. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  54. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  55. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  56. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  57. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  58. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  59. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, E-Book, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

MEMBACA BUKU MENGHIDU KENANGAN

Bau apak sejenis sangit yang dipahami oleh pembaca buku tua menyeruak diantara debu-debu halus terhidu oleh hidung yang bulu-bulunya butuh reboisasi.

Bau apak sejenis sangit yang dipahami oleh pembaca buku tua menyeruak diantara debu-debu halus terhidu oleh hidung yang bulu-bulunya butuh reboisasi.

MEMBACA BUKU MENGHIDU KENANGAN

Bau apak sejenis sangit yang dipahami oleh pembaca buku tua menyeruak diantara debu-debu halus terhidu oleh hidung yang bulu-bulunya butuh reboisasi. Yah, buku adalah benda yang lemah, rentan terhadap api, air bahkan pemerintah. Tapi musuh sesungguhnya sebuah buku adalah waktu. Naskah, manuskrip pelan-pelan lekang dihantam perjalanan zaman. Namun bukankan semua yang fana pasti digerus waktu?

Berbicara tentang waktu, manusia juga bertumbuh seiring jalan jarum jam. Pengetahuan, kebijaksanaan bertambah, setiap penambahan sesuatu mesti mengorbankan hal lain juga, kemudaan, semangat juga memudar dipenambahan usia. Itulah sebabnya orang tua cenderung tenang sedang yang muda lebih meledak-ledak.

Dulu, ketika berusia belasan Abu mampu melalap 3-12 buku sehari, sekarang? Satu buku membutuhkan waktu lebih dari 3-12 hari. Data berupa pengetahuan ternyata bisa memberatkan otak ketika membaca buku. Di usia belasan Abu hanya membaca buku tak perlu merenungkan isinya, istilah-istilah asing tak perlu dipahami defenisinya peduli setan arti rebound, aristokrasi, pantheisme dan sebagainya. Baca terus! Dan ternyata sekarang ketika mendapati sebuah informasi, memori Abu mengais-gais makna defenisinya. Maka sungguh bedebah kau defenisi! Pikir panjang ternyata tak terlalu baik ketika membaca buku.

Kata orang bijak waktu adalah musuh orang muda yang harus dibunuh! Disitulah buku hadir menjadi sahabat Abu dikala waktu senggang ketika waktu bermain sepakbola telah habis, pengajian usai, atau tiada lagi PR yang bisa dikerjakan, 24 jam terasa tumpah ruah. Orang bijak yang sama juga berkata, waktu adalah harta bagi orang tua. Betapa sulitnya menyisihkan waktu untuk membaca, apalagi menulis setelah rutinitas dalam seharinya.

Hidup membuat Abu sadar bahwa tidak ada tokoh dalam sebuah buku berwujud alam manusia asli, manusia terlalu kompleks untuk digambarkan secara keseluruhan di atas kertas, dan sebagian lainnya terlalu membosankan. Tidak epik, tiada drama, tanpa romantisme dan biasa-biasa saja, sebagaimana sebagian besar dari kita. Seorang teman pernah memprotes Abu ketika ia menceritakan masalahnya, Abu memberikan referensi sebuah buku untuk dibaca. Ia berkata, “Itulah penyakit seorang pembaca yang angkuh! Tidak semua teori berjalan sesuai dengan kenyataan, jikalah semua teori yang diajarkan di fakultas kedokteran berlaku umum dan sesuai maka tak perlu seorang dokter mengikuti co-ass?”

Abu rasa yang dia katakan benar. Membaca buku mungkin akan memberikan banyak referensi. Otak bergemerisik, seperti akan meledak atau paling tidak kepala berasap. Setiap pembaca buku yang budiman biasanya menyadari bahwa ia tak akan menang dari orang yang berjalan di bawah sinar mentari sambil tertawa bahagia.

Abu memiliki sebuah teori yang tidak diperoleh dari buku. Abu memikirkannya sendiri. Tapi memang Abu memikirkannya berdasarkan buku-buku yang telah dibaca dengan sangat hati-hati dan memikirkannya dengan cermat bahwa sebaiknya pembaca buku adalah mereka yang ceria. Mendapati arti defenisi yang pernah dia baca pada masa lampau tampak jelas sedikit demi sedikit dalam hidup. Dia akan bergumam dengan wajah antusias, mulutnya berbentuk huruf O dan berkata, “Oh, ternyata itu maksudnya.” Seraya tersenyum bahagia.

Jika kau masih menyimpan buku tulis dari kelas-kelasmu dari tahun-tahun sebelum sekarang, atau catatan-catatan lama lainnya. Kalau membolak-balik halamannya, kita sering merasa heran bagaimana kita berubah dalam waktu yang singkat sejak tulisan itu dibuat. Mungkin heran melihat apa-apa yang keliru dalam tulisan itu, tapi juga mungkin heran oleh hal-hal bagus yang pernah kau tuliskan. Kau telah berubah, begitupun sejarah dunia.

Itulah sebabnya Abu suka membaca buku-buku lama, bahkan tulisan-tulisan lama yang pernah Abu tulis dulunya. Memperbaharui persepsi dan menghidu kenangan masa lampau ketika dahulu pertama mengalaminya. Itu menyenangkan, mungkin butuh waktu yang lebih lama dari seharusnya. Tapi percayalah tertawa paling nikmat itu adalah menertawakan diri sendiri. Jika kau memiliki mental, sayangnya tidak setiap orang punya. Tidak setiap orang mampu menghadapi dirinya sendiri, terutama masa lalunya.

Masalah sebenarnya, yang tersimpan dalam ingatan bisa jadi hanya rasa jengkel menemukan betapa manusiawi dirimu, dan fakta bahwa yang kamu ingat itu sebenarnya bukanlah seorang manusia melainkan sesungguhnya itu adalah kenangan, yaitu persepsi atas apa yang telah dialami.

Silahkan membaca buku kemudian menghidu kenangan. Tapi ingatlah selalu bahwa kenangan memang tak sepenuhnya utuh dan bersih, sebuah kisah yang pribadi memang bukan sebuah buku sejarah.

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Buku, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

NILAI SEORANG MANUSIA

Man of Value

Berjuang setia bagi mimpi, untuk memberikan yang baik bagi dunia meskipun terlihat mustahil, adalah sebuah kegilaan yang memberi nilai seorang manusia. Hidup untuk memberi, mempesona, seperti mengubah kata menjadi puisi.

Bagaimana cara menilai seorang manusia.

Sepanjang sejarah peradaban manusia belum pernah ada alat ukur tentang nilai seseorang. Manusia telah menemukan ilmu hitung (Matematika) sebelum zaman modern dan penyebaran ilmu pengetahuan ke seluruh dunia. Catatan sejarah menyebutkan bahwa pengembangan matematika mengalami kemilau dibeberapa tempat. Matematika  sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno, mathema yang berarti mata pelajaran. Dimulai dari para matematikawan Yunani memurnikan motode-metode (khususnya melalui pengenalan penalaran deduktif dan kekakuan matematika di dalam pembuktian matematika), kemudian para matematikawan Cina memberikan sumbangan notasi posisional, dan sistem bilangan Hindu-Arab dengan sistem angka dengan kedudukan persepuluh yang dirancang pada abad ke-9 oleh seorang ahli matematika India (belum diketahui), yang kemudian diadaptasi oleh ahli matematika Muslim, dari Persia Al-Khawarizwi dan dari Arab Al-Kindi diteruskan ke Barat melalui matematika Islam, yang membuat matematika Barat menjadi lebih berkembang lebih maju pada zaman abad pertengahan. Selanjutnya yang terjadi adalah ledakan kreativitas matematika yang berinterakasi dengan penemuan ilmiah baru yang berlanjut sampai sekarang. Perkembangan matematika yang begitu pesat membuat manusia mampu menghitung nyaris segalanya. Harta kekayaan, kekuatan, kecepatan. Tapi bagaimana dengan jiwa manusia sendiri?

Sebagai jiwa, manusia memiliki kesadaran, mampu membedakan antara baik dan buruk. Manusia memiliki kemampuan untuk memilih secara etis, pilihan-pilihannya, baik atau buruk, menghasilkan sebuah pembukuan debit-kredit moral. Sebagaimana kita manusia beragama percaya bahwa kelak akan dipertanggungjawabkan setelah manusia itu mati. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari bagaimana mengukurnya? Dalam hal ini matematika tidak bisa memberikan jawaban.

Manusia yang bernilai tentu adalah yang memiliki etika dan moral yang baik. Tapi bagaimana mengukurnya ketika etika dan moral tak bisa diukur secara pasti? Secara etimologi, etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yakni ethos yang berarti adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan atau masyarakat tertentu. Etika biasanya berkaitan erat dengan moral, yang berasal dari bahasa Latin, mos dan bentuk jamaknya mores yang artinya juga adat kebiasaan atau tata cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan) dan menghindari hal-hal yang buruk. Etika dan moral kurang lebih memiliki pengertian yang sama, ciri keduanya sama baik etika dan moral tidak bersifat mutlak, tergantung tempat dan waktu, keduanya bisa bergeser.

Manusia sebagai individu yang tak berulang sama persis.

Manusia berkembang seiring dengan jalannya waktu, azas berjalan pada tapak pertama, sebagaimana telur ditetaskan, kemudian kepak sayap direntangkan, semua bersahaja. Masing-masing kita memiliki kisah kehidupannya masing-masing. Ada yang tumbuh, ada cara membumbuinya. Detil-detil yang tidak tepat, atau salah ingat. Terlepas dari apakah rinciannya itu tepat atau tidak, namun selalu ada suatu inti kebenaran untuk kaidah seperti itu sama dengan pertama kali dahulu.

Hidup untuk memberi, mempesona, seperti mengubah kata menjadi puisi.

Rasulullah S.A.W bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad). Inilah manusia yang kehadirannya ditunggu dan kepergiannya ditangisi. Berjuang setia bagi mimpi, untuk memberikan yang baik bagi dunia meskipun terlihat mustahil, adalah sebuah kegilaan yang memberi nilai seorang manusia. Hidup untuk memberi, mempesona, seperti mengubah kata menjadi puisi.

Manusia akan bisa menemukan yang luhur dalam hidup, terbebas dari jepitan akal praktis zaman yang hanya mau menghitung laba-rugi. Kita semua bisa tahu, manusia bukanlah belatung di atas onggokan tahi.

KATALOG OPINI

  1. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  2. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  3. Asal Muasal Budaya Kopi Di Aceh; 1 Agustus 2017;
  4. Melukis Sejarah; 10 Agustus 2017;
  5. Sepak Terjang Partai Komunis Indonesia Di Aceh; 21 September 2017;
  6. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  7. Dimanakah Makam Para Ratu Yang Pernah Memerintah Aceh Selama 59 Tahun; 6 Oktober 2017;
  8. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  9. Eksploitasi Sumber Daya Alam Apakah Bagus Untuk Aceh; 15 Oktober 2017;
  10. Perlukah Kita Menjaga Makam-Makam Warisan Penjajah Kolonial Belanda di Kherkoff Peucut Banda Aceh; 11 November 2017;
  11. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  12. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  13. Kejatuhan Sang (Mantan) Pejuang; 6 Juli 2018;
  14. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  15. Menafsir Alam Membaca Masa Depan; 14 Maret 2019;
Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU

Seorang Laki-laki dalam tradisi Aceh pantang (hamee) memakai perhiasan emas. “Urueng agam hanjeut sok meuh.” Foto : Contoh Cincin Perhiasan Aceh Kuno koleksi Museum Aceh pada PKA 2018.

Hame atau pantangan dalam masyarakat Aceh masa lampau

Setiap kebudayaan, setiap masyarakat pada berbagai negeri memiliki kekhasan sendiri. Salah satu bagian dari bingkai kebudayaan yang besar itu adalah pantangan. Begitu pula dengan masyarakat Aceh terdapat cukup banyak pantangan yang dalam bahasa Aceh lazim disebut “Hame”, pantangan tersebut menjadi semacam aturan tidak tertulis yang disampaikan secara lisan. Tradisi oral ini telah berlangsung selama ratusan tahun, namun demikian masih banyak orang yang menjadikan pantangan/larangan tersebut sebagai pedoman.

Mengapa ada aturan pantangan dalam masyarakat?

Aturan atau pembatasan yang tergolong pantang atau tabu di Aceh yang disebut dengan hame (seperti hanya pamali di masyarakat Sunda) digunakan sebagai pendidikan kepada anak, ada kasus-kasus pengambaran akibat buruk dari pelanggaran hanya berupa deraan sehingga dapat digambarkan sebagai imitasi dari pantang yang sebenarnya, tak lebih dimanfaatkan untuk tujuan agar si anak menjadi beradab.

Orang tidak boleh memakan telur yang diambil dari ayam yang sudah mati, sekiranya larangan ini tak diindahkan dan kelak tertembak peluru, sebenarnya telur dari ayam yang sudah mati tidak sehat.

Jika seorang anak berbaring di kuburan, ayahnya akan mati; bila ia tengkurap dan kakinya diangkat, ibunya yang mati, ini hanyalah pengandaian yang digunakan untuk mendidik anak menjadi sopan.

Meminta kembali barang/sesuatu yang telah diberikan kepada orang lain akan menimbulkan borok pada siku. Makan dari periuk (kaneut) setelah kawin akan menyebabkan muka menjadi hitam, melemparkan beras ke mulut menyebabkan gigi busuk. Perut kembung disebabkan duduk di hembusan angin atau tidur di bawah langit langsung. Kemiskinan mengancam orang yang mengibaskan debu dari pakaiannya pada malam hari. Sebenarnya lebih kepada menunjukkan derajat kesopanan seseorang.

Aturan pantangan merupakan cabang pengetahuan yang populer bagi masyarakat Aceh zaman dahulu mirip dengan hadih maja yang pernah diulas sebelumnya.

Beberapa contoh hame (pantangan) yang berlaku di masyarakat Aceh.

  1. Meuayang deungôn seumipak. (Bercanda dengan menyepak);
  2. Tapék bak Ulée. (Memukul di kepala);
  3. Töh Geuntét lam Kawan Ramé. (Kentut di depan orang ramai);
  4. Duek bak babah pintôe / Rinyéun Rumöeh. (Duduk di pintu / tangga rumah);
  5. Manôe Teulhôen. (Mandi telanjang);
  6. Meudjamée bak ureung Inôeng hana laköe. (Bertamu ke rumah perempuan ketika suaminya tidak di rumah);
  7. Aneuk Dara duék bak Pintôe ngôn öek teugeureubang. (Anak gadis duduk di pintu rumah dengan rambut tergerai);
  8. Aneuk Dara Djak bak ureung Meuninggai. (Anak gadis pergi ke tempat orang meninggal);
  9. Gilhöe Keupiyah atawa Idja (Tangkulöek) Ulée. (Menginjak kupiah atau sorban);
  10. Ta lingkéu uréung Éh/ Ulée Uréung Éh. (Melangkahi orang tidur / kepala orang yang sedang tidur);
  11. Ta lingkéu Alat Keuridja lagee Lham, Cangkôi, Parang, dll). (Melangkahi alat pekerjaan seperti sekop, cangkul, parang, dll);
  12. Teukeusyak (Riya) Waté Sindja uröe. (Bergembira riya ketika menjelang maghrib);
  13. Tasipak/ Tagilhöe Makanan; (Tersepak . terinjak makanan);
  14. Ta tanyôeng uréung djak u Laöt atawa Utéun. (Bertanya orang pergi ke laut atau rimba);
  15. Urueng agam hanjeut sok meuh (Seorang laki-laki tidak boleh menggunakan emas sebagai perhiasan);
  16. Tadjak bak ureung meuninggai ngôn Peukayan Hayéu. (Mengunjungi orang meninggal dengan pakaian megah);
  17. Taseupöt Aneuk Miët ngôn Peudjampöh Djök. (Memukul anak dengan sapu dari enau);
  18. Padjöh bu lam pingan Beukah. (Makan dalam piring pecah);
  19. Sugöet Öek ngôn sugöet patah. (Menyisir dengan sisir patah);
  20. Tumeuléh ngôn Pulpén Dawéut Mirah. (Menulis denga pena tinta merah);
  21. Pantang ëh beungöeh dan Lhéuh Asha. (Pantang tidur pagi dan setelah Ashar);
  22. Ta Éh sira talhôen. (Tidur dalam keadaan telanjang);
  23. Taseumadjöh Teungöeh Meudjunub. (Makan dalam keadaan junub);
  24. Töeh Iék sira dôeng. (Berak sambil berdiri);
  25. Seumadjöeh sira dôeng. (Makan sambil berdiri);
  26. Taseumampöh waté malam. (Menyapu di dalam hari);
  27. Ta tét kulét Bawang Mirah-Putéh. (Membakar kulit bawang merah-putih);
  28. Tasampöh Aléeu ngôn idja sampöh djaröe. (mengepel lantai dengan kain lap tangan);
  29. Tadjak dikéu ureung tuha. (Pergi melewati orang tua);
  30. Tahéi uréung Tuha ngôn nan, hana lakap. (Memanggil orang tua dengan nama, tidak beradab);
  31. Tapeugléh Djaröe ngôn Abé. (Membersihkan tangan dengan debu);
  32. Tuëng ïe seumayang lam jamban. (Berwudhu di WC);
  33. Tacöep Bajée teungôh tasöek. (Menjahit baju seraya dikenakan);
  34. Talhap ïe bak Muka ngôn Bajé. (Menyeka keringat di wajah dengan baju);
  35. Tadjak u Pasai ban Beungôh Sindja. (Pergi ke pasar sewaktu awal senja);
  36. Hana ta töep Guci, Ulée Sangé, dsb. (Tidak menutup guci, kepala toples, dsb);
  37. Tasöek Tangkulöek (Seureuban) Sira Duék. (Memakai tengkulok (sorban) sambil duduk);
  38. Ta teumuléh ngôn Pulpen Meuikat. (Menulis dengan pena terikat);
  39. Tasöek Sileuwéu sira dôeng. (Mengenakan celana seraya berdiri);
  40. Karu teungôe di Bang bak Seumeudjid/Meunasah. (Rusuh/rebut ketika azan di Masjid/langgar);
  41. Pantang Teumeunak. (Pantang memaki);
  42. Duek atau bantai. (Duduk di atas bantal);
  43. Sembahyang di ateuh peurantah. (Shalat di atas tempat tidur/ranjang);
  44. Bloe jarom/sira malam uroe (Membeli jarum/garam di malam hari);

Ini Beberapa Pantangan Dalam Masyarakat Aceh secara umum. Kebiasaannya, beda daerah beda pantangan. Efek dari Pantangan ini beragam, bisa jadi “Hana Mudah Raseuki” atau dalam bahasa Indonesia “tidak mudah rezeki”, ada juga yang menyebabkan lemahnya ingatan. Bahkan, ada juga yang menjadi aib dalam satu komunitas masyarakat.

Sebagian besar hame atau pantangan diuraikan dalam adat dan kebiasaan masyarakat Aceh didasarkan pematuhan terhadap ketentuan adat ini beberapa bersumber dari ajaran Islam, sedang beberapa lainya mempunyai asal-usul dengan kepercayaan pra-Islam. Meskipun status hukumnya berbeda dengan Haram atau Makruh dalam hukum Islam. Kealpaan mematuhinya bagi sebagian orang dipercayai akan mendatangkan akibat buruk dalam hidup.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  2. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  3. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  4. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  5. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  6. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  7. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  8. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  9. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  10. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  11. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  12. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  13. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  14. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  15. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  16. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  17. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  18. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  19. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  20. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  21. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  22. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  23. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  24. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  25. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  26. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  27. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  28. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  29. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  30. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  31. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  32. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  33. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  34. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  35. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  36. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  37. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  38. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  39. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  40. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  41. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  42. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  43. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  44. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  45. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  46. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  47. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  48. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  49. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  50. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  51. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  52. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  53. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  54. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  55. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  56. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  57. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  58. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  59. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
Posted in Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

MENCARI PAHLAWAN MEMILIH JAGOAN

MENCARI PAHLAWAN MEMILIH JAGOAN

Tahun 1992 panen kuini di Kabong sedang bagus-bagusnya, di sore yang cerah itu aromanya masuk sampai ke selasar rumah. Sore yang cerah di bulan Juni, jam menunjukkan pukul 5 sore. Abu yang saat itu berusia 8 tahun, libur sekolah, pulang kampung dan menonton (mungkin) sebuah filem dokumenter dari televisi tabung hitam putih. Seorang botak dengan bercak hitam berjalan rapuh disebuah dewan. Abu bertanya kepada Nek Juz. “Siapa dia?”

Nek Juz menjawab, “Gorbachev.”

“Nama yang aneh, terus kenapa kepalanya ada bercak hitam?”

“Itu bekas dibacok, makanya dia bernama Gorbachev, artinya pernah dibacok dari bahasa Rusia. Dia komunis, orang jahat!” Jawab Nek Juz asal.

Kemudian tak lama muncul seorang pria dengan senyum manis, duduk disebuah meja dengan latar gedung putih.

“Siapa dia nek, sepertinya dialah anak mudanya (pahlawan –penulis)? Tanya Abu lagi.

“Oh itu Reagan, dia presiden Amerika sebelum Bush.”

“Pasti dia seorang jagoan, bukan seperti Bush yang menyerang Irak kemaren ya nek (Perang Teluk I -penulis).”

Tahun 1987 Pemimpin tertinggi Uni Sovyet Mikhail Gorbachev (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan (kanan) menandatangani perjanjian pelucutan senjata nuklir yang menandai perang dingin (1947-1991)menuju akhir.

Tahun 1987 Pemimpin tertinggi Uni Sovyet Mikhail Gorbachev (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan (kanan) menandatangani perjanjian pelucutan senjata nuklir yang menandai perang dingin (1947-1991)menuju akhir. Sumber AFP.

Nek Juz tertawa, tapi tak menjawab. Waktu itu Abu masih terlalu kecil, naif untuk memahami dunia. Perang dingin baru selesai, Uni Sovyet baru beberapa tahun lalu bubar, Amerika baru mengalahkan Irak di Perang Teluk pertama. Awal tahun Sembilan puluhan adalah tahun-tahun yang padat dengen perubahan.

Baca juga cerita terkait: KAKI GAJAH dan KAKI GAJAH BAGIAN DUA

Kondisi keadaan desa Kabong, (Aceh Jaya) pada November 2004, sebulan sebelum tsunami Aceh.

Kondisi keadaan desa Kabong, (Aceh Jaya) pada November 2004, sebulan sebelum tsunami Aceh.

Koridor itu beraroma kuini dan uap panas tadi siang masih berasa. Itulah kenangan Abu yang masih dapat dibayangkan sekarang, sebuah rumah yang kelak dihancurkan tsunami tahun 2004. Sebuah lanskap yang tak akan dapat direkonstruksikan kembali secara fisik, seperti bentuk patung es yang sekarang telah mencair. Orang-orang telah pergi dalam sekejap mata, hanya kenangan butut Abu yang masih mengingatnya, menghidunya, tapi sampai kapan?

XXX

Sewaktu masih kecil, ketika Abu memikirkan seorang pahlawan, jagoan yang menyelamatkan semua orang dari angkara murka, membasmi segala kebatilan. Tapi lupa berpikir tentang orang biasa yang terbangun setiap paginya, masyarakat biasa saja yang membaca berita di pagi hari. Logika kita seolah membagi dua jenis orang antara jagoan dan orang biasa.

Tahun 2019, sekitar 27 tahun kemudian, tepatnya ketika usia Abu telah 35 tahun. Menginsafi bahwa bobot badan telah bertambah 5 kali lipat dari tahun 1992. Tapi bukan itu yang membuat Abu khawatir, was-was atau sampai berkeringat dingin. Sistem perpolitikan di Indonesia, tentu sudah berubah dari masa-masa orde baru. Dulu pilihan cuma satu, sekarang hanya dua. Toh, lebih baik memang, tapi juga sekaligus tak terlalu baik.

Ini adalah tahun-tahun dimana pikiran terkotak seolah hanya 2 kebenaran. Pihak A mengakui diri adalah pahlawan sedang lawannya penjahat, begitupun pihak B. Pemilu 2014 membelah bangsa, pemilu 2019 semakin memecahnya. Tiap-tiap pihak mengklaim sebagai yang suci, sedang pihak lain dilabelkan sebagai yang nista. Oh, permainan pahlawan ini begitu mengenaskan. Sebenarnya yang dibutuhkan dunia bukanlah pahlawan. Dunia ini membutuhkan orang-orang yang memilih menjadi keduanya, bersamaan. Dimana pun itu diseluruh dunia, betapa Malangnya sebuah negeri yang membutuhkan seorang pahlawan.

Indonesia tahun 2019 bukanlah Mesir pada zaman Nabi Musa. Bahkan pihak A dan B tak ada yang sesuci Musa dan sekotor Firaun. Masing-masing adalah manusia biasa dengan lebih dan kurangnya masing-masing.

Ironisnya, ini terjadi ketika saat ini kita merupakan orang-orang yang paling bertekhnologi, paling deras arus informasinya, paling terkoneksi antar sesama lebih dari masa apapun sebelumnya. Dalam sekejap mata kita bisa terhubung ke seluruh dunia, berita yang kita dapatkan tepat pada saat kejadian.

Jokowi dan Prabowo oleh banyak orang, berjela menjadi berhala, dan Tuhan dipasang sebagai fotocopy, banal dan tanpa keagungan. Betapa menyedihkan bahwa dalam tahun-tahun belakangan ini Abu telah melihat banyak orang membuat pilihan yang salah tentang loyalitas. Mendukung itu sewajarnya, tidak perlu sampai membenci. Soalnya mereka berdua politisi, jamak hari ini mengatakan A, besok bisa bilang B, politik itu sangat cair, tergantung lobi dan kepentingan.

Jokowi dan Prabowo adalah manusia biasa, sebagaimana Reagan dan Gorbachev, mereka bisa berseteru tapi tak menolak jika harus berpelukan bersama, mengapa kita sebegitu bebal sehingga antar sesama pendukung harus saling membenci, dan melupakan bahwa yang paling kuat, paling perkasa adalah Tuhan yang Maha Kuasa, yang disebut dan dipanggil nama-Nya dengan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tolong hentikan kebencian, dan menganggap pilihan kita adalah Pahlawan, jagoan sedang pihak lain sebagai bandit atau setan. Akh, entahlah. Mungkin Abu sedang demam tinggi sehingga meracau.

Poster Anti Hero

We must be aware that when heroes come, storytellers overtake them. But before both are available, viewers first exist. All of us, most are just attendees. Anti Heroism a poster by tengkuputeh.

Kita harus sadar bahwa ketika para pahlawan datang, karena pendongeng mendahului mereka. Tapi sebelum keduanya ada, pemirsa terlebih dahulu ada. Kita semua, kebanyakan hanyalah hadirin. Seperti umumnya legenda, yang banal pun bisa jadi bagus, yang biasa seakan-akan dalam, kita tak peduli lagi bila yang ada di dalam pikiran (mungkin) jangan-jangan hanyalah fantasi.

Berbagai cerita lainnya di: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

SEORANG TANPA NAMA TANPA GELAR

SEORANG TANPA NAMA TANPA GELAR

Seorang berdoa dengan cukup keras, “Ya Tuhan, bukakan pintu agar hamba dapat menghadap padaMU.” Mendengar doa orang tersebut, Rabi’ah pun berkata. “Oh si gila! Adakah (pernah) pintu itu tertutup?”

XXX

Seorang tanpa nama tanpa gelar

Seumpama setetes air di lautan, aku hanya bisa menjadi bagian dari gelombang. Seorang tanpa nama tanpa gelar. Oh, betapa dahsyatnya cinta.

Ia berkata kepadaku. “Perjalanan hidup itu memang menyakitkan, terlahir di dunia adalah cabaran cobaan yang tak henti-henti. Tak putus-putus dan terus meningkat kadarnya sepanjang usia. Akh, dunia yang wajib dihadapi, meninggalkannya haram, sedang menyakininya menjadi syirik.”

“Bahwa perjalanan paling penuh derita padamu adalah ketika harus melalui lembah cinta. Memasukinya engkau harus menjadi api yang menyala, begitulah kukatakan padamu. Wajah seorang pencinta harus menyala, berkilau dan berkobar-kobar bagaikan api. Cinta yang sejati tak mengenal resiko yang menyusul kemudian, dengan cinta, baik dan buruk menjadi tiada.”

“Tapi halnya engkau, yang tak acuh dan tak peduli, perkataanku tak akan menyentuhmu, bahkan tak akan mendesir sedikitpun pada kalbumu. Siapakan yang sedia mengorbankan harta, bahkan mempertaruhkan kepalanya, dan menjadikan bahaya sebagai sahabatnya, selain dari seorang pencinta yang keras kepala.”

“Bila engkau memulai perjalanan ini dengan tak mau melibatkan diri secara penuh dan seluruh, maka jangan harap dirimu akan terbebas dari kedukaan dan kemurungan yang akan memberatinya. Sebagaimana elang sebelum mencapai ke sarang, ia gelisah dan sedih. Sebagaimana ikan yang didamparkan ombak ke bibir pantai, ia menggelepar-gelepar hendak kembali ke dalam air. Sebegitupula perjalanan cinta, ia hanya ingin pulang.”

“Di lembah ini, cinta dilambangkan dengan api, pikiran dengan asap. Bila cinta datang, pikiran lenyap. Logika tak bisa tinggal bersama kedunguan cinta, cinta tak berurusan dengan akal pikiran insani.”

“Dalam pandangan batin cinta, zarah-zarah dari dunia akan tersingkap bagimu. Akan tetapi jika engkau hanya memandang dengan mata biasa, engkau sulit memahami apa perlunya untuk mencintai.”

“Hanya mereka-mereka yang telah diuji dapat bebas merasakan ini. Dia yang bertekad menempuh perjalanan ini hendaknya memiliki seribu hati, sehingga tiap saat, tiap sebentar, ia siap dapat mengorbankan satu, semua itu demi cinta.”

Aku terjaga dalam relung tak terpeluk malam. Ia berkata kepadaku dalam puisi yang tak kupahami. Ingin ku kenali dia, sekarang aku merasa asing. Seumpama setetes air di lautan, aku hanya bisa menjadi bagian dari gelombang. Seorang tanpa nama tanpa gelar. Oh, betapa dahsyatnya cinta.

XXX

Bait al-Hikmah, 10 Ramadhan 1440 Hijriah. Bertepatan 15 Mei 2019 Masehi. (Hari ulang tahun pernikahan yang kelima). Teruntuk istriku tercinta.

Posted in Cerita, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

BERSYUKUR MEMBUAT BAHAGIA

Bakar aku dengan api-MU

Hamtam aku dengan godam-MU

Agar aku hancur luruh

Utuh menyeluruh dihadap-MU

XXX

Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan, tapi jangan lupa bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, tapi rasa syukurlah yang membuat kita bahagia.

Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan, tapi jangan lupa bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, tapi rasa syukurlah yang membuat kita bahagia.

Semalam, sebagaimana malam-malam tak menyenangkan lainnya PLN memadamkan lampu di wilayah Banda Aceh dan sekitarnya. Disini itu adalah hal yang biasa, tiada angin tiada hujan PLN mematikan lampu jika (dianggap) perlu. Kita tak pernah tahu apa alasannya, apakah ada tikus yang terjepit di generator? Atau apalah kejadian di belakangnya. Pernah suatu ketika malahan tahun 2002-2003 di Banda Aceh, PLN sehari hidup sehari mati.

Menariknya, semalam Abu tidak sedang ingin mengeluhi, atau sekedar menyumpahi PLN. Abu ambil dua buku dan mulai membaca buku pertama, Musyawarah Para Burung (Mantiqut- Thair) tulisan Fariduddin Attar dan sebuah lagi sebagai cadangan Tadzkiratul Auliya juga ditulis orang yang sama.

Attar dikenal sebagai penulis besar Persia, juga dunia lahir pada 1119 Masehi dan meninggal dunia  antara 1220 dan 1230 pada usia lanjut di tangan orang-orang Mongolia yang menyerbu Nishapur. Jasadnya tak ditemukan, diduga salah satu diantara gunung-gunung tengkorak yang dibuat oleh pasukan Hulagu. Tulisan-tulisan Attar mempengaruhi tokoh muslim klasik seperti Jalaluddin Rumi. Di tangan Attar sastra dapat dinikmati oleh para raja sampai tukang sol sepatu.

Tulisan Attar bercorak sufisme yang merupakan sebutan untuk paham mistik dalam Islam, seorang sufi adalah muslim yang mengikhtiarkan dirinya mencari peleburan mistis dengan pencipta-Nya. Di Indonesia sufisme dianggap miring, Hamzah Fansuri maupun Syech Siti Jenar adalah tokoh sufi terkenal di Nusantara dianggap ajarannya berbahaya jika disalahartikan oleh kaum awam.

Sewaktu masih berusia awal belasan (mungkin 12-14), Abu tidak menyukai sufisme. Kemunculan paham ini sangat dekat dengan kehancuran Baghdad, sifat apatis para sufi Abu anggap adalah penyebab kemunduran peradaban Islam. Banyak ajaran sesat muncul sebagai turunan ajaran ini, ketika manusia merasa mampu menyatukan dirinya dengan Tuhan pencipta alam.

Tapi mungkin Abu (bisa jadi) salah.

Menilik sejarah, ajaran ini muncul ketika penguasa-penguasa Islam telah mulai meninggalkan ajaran agama. Para khalifah Abbasiyah mulai meniru (secara malu-malu) kelakuan Kisra Persia, dinar dirham menjadi yang utama. Manusia mulai berdagang di segala lini, bahkan dengan Tuhan dengan mengkira-kira dosa dan pahala, agama menjadi semacam neraca perdagangan. Sedekah sedinar maka akan mendapat balasan 700 dinar, mungkin karena itu ilmu tassawuf muncul. Tassawuf itu bermakna mensucikan hati, agar batin hanya berpandu ridha Allah semata.

Di usia 17 tahun, Abu sebagaimana anak pada zamannya, menyatakan cinta kepada seorang perempuan. Malangnya, ketika itu Abu belum mengetahui filsafat Sun Zu, kenali diri dan kenali lawanmu. Abu ditolak! Celakanya didepan ratusan orang, hancur sudah reputasi Abu sebagai pemuda idaman sekolah, menjadi semak belukar saja.

Sebenarnya tidak terlalu banyak yang mengejek, atau mengungkit kejadian itu. Tetap ada memang bedebah-bedebah usil yang menghina, tapi itu wajar dalam hidup. Tapi mungkin rasa malu itu terlalu besar, dan Abu memilih mengasingkan diri, untungnya Abu memilih di perpustakaan.

Maka sejak hari itu, selain pelajaran sekolah otak Abu dilimpahi berbagai informasi dari perpustakaan sekolah, dari Tafsir al-Azhar Hamka, Musashi dan Taiko karangan Eiji Yoshikawa, Mangan Ora Mangan yang legendaris karya Umar Kayam, apapun buku yang tersedia Abu sikat. Cuma Kahlil Gibran Abu kurang suka, tidak cocok untuk jejaka yang baru ditolak, bikin tambah baper. Yang paling menarik adalah kisah-kisah orang saleh, para sahabat nabi yang menurut Abu sangat amazing kisah hidup mereka.

Semoga Abu tertular sedikit kesalehan mereka, belum mampu seperti Umar bin Khattab atau Khalid bin Walid minimal ya, Sufyan ats-Tsauri atau Rabiah al-Adawiyah. Harapannya bro. Waktu terus berjalan dan Abu tamat sekolah.

XXX

Percayakah kalian jika Abu adalah orang yang sangat ahli berbicara? Mungkin ahli retorika dan sejenisnya?

Berdasarkan kekayaan referensi yang Abu miliki, sombong niyee. Abu punya kecenderungan sering diajak berdebat oleh orang lain. Sebenarnya, Abu tidak suka berdebat lebih suka berdialog, lebih suka sepakat, seperti bersepakat untuk tidak sepakat dengan pendapat seseorang. Atau ketika seseorang memaksakan pendapatnya yang Abu rasa tidak benar, maka orang tersebut lebih baik Abu tinggalkan. Menurut Abu tidak berguna mendebat orang keras kepala dengan ideologinya, sama seperti membenturkan kepala di tembok, yang ada kepala kita yang hancur.

Ada seorang teman semasa kuliah, merasa logikanya kuat. Dia mendebat semua orang, katanya dia mencari Tuhan, dan tidak menemukan Tuhan dalam pencariannya, segala macam ustad, tengku sampai alim ulama di kampus didebat olehnya. Semua orang gedeg, kesal dengam polahnya, Abu sudah mengetahui tingkahnya menghindari saja orang ini. Selama ini Abu aman, sampai suatu hari dia direkomendasikan oleh seseorang yang Abu tidak kenal untuk berdialog dengan Abu.

Hari itu panas jam dua siang, Abu baru selesai menyantap nasi padang yang rancak bana, jadi mata segaris karena mengantuk, duduk di pojokan menanti jam masuk sore. Biasanya ada kawan Abu, tapi hari itu dia entah kemana, mungkin ada acara Mapala, Abu sendirian di pojok mengipasi diri dengan buku.

“Ini dia yang aku cari!” Tunjuknya ke muka Abu.

Mata segaris Abu menjadi 100 watt, “ada apa pula si bedebah ini tunjuk-tunjuk mukaku.” Pikir Abu.

“Aku mencari-cari Tuhan dalam hidupku, tidak aku temukan, bisakah kau tunjukkan padaku dimana dia?”

Abu menggeleng, “tidak bisa.”

“Kamu orang pertama yang mengatakan tidak bisa. Semua orang mengatakan bisa tapi ujung-ujungnya tidak bisa. Jadi apakah kamu sama sepertiku? Tidak menemukan Tuhan dalam hidupmu?” Celaka, si bedebah malah senang dan duduk disamping Abu seraya nyengir.

“Maaf tuan, saya tidak sama dengan anda. Saya meyakini Allah S.W.T untuk diri saya sendiri. Jelas kita tidak sama!” Ngapain juga menyamakan diri dengan dia.

Owh, jelaskan padaku?” Dia melunak.

“Begini Tuan,” Abu berpikir keras. “Saya tidak mampu menjelaskan padamu, pengalaman spiritual kita mengenal Sang Pencipta itu bersifat personal, beda pada tiap orang.”

“Seperti?” Tanyanya.

“Seperti pengalaman Ibrahim a.s, awalnya dia mengira matahari adalah tuhan, kemudian matahari tenggelam dan muncul bintang sehingga dia pikir itulah tuhannya, tapi bintang pun tenggelam. Malam berikut muncul bulan, dia pikir itu adalah tuhan sampai bulan pun hilang. Akhirnya dia mendapat hidayah dan menghadapkan diri kepada Allah pencipta langit dan bumi.”

“Kisah itu selalu diulang-ulang padaku, tidak masuk akal.” Bantahnya.

Abu diam, pura-pura menjadi arca.

Menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri dia mengatakan, “coba jelaskan secara logis.”

“Kamu mencari Tuhan, maka saya pastikan kamu orang beriman. Seperti halnya Ibrahim di dalam gua, kamu hanya belum menemukan saja.” Abu berbicara sekenanya.

“Coba logikakan!” Teriaknya marah.

“Masalah tauhid itu masalah hati, kenapa kamu memaksakan saya menceritakan hati dengan cara logika, saya tidak bisa.” Jawab Abu.

Menghentakkan kakinya, dia kesal pergi, eh tapi dia berbalik. “Diantara semua orang yang pernah aku ajak berdebat, kamu adalah yang paling mengesalkan!” Tunjuknya ke Abu.

Abu tersenyum, kemudian mengejek. “Mau kenal Tuhan lewat orang lain, cari sendiri saja. Hush, hush.” Usir Abu sambil tertawa.

Dia pergi dengan perasaan dongkol.

Waktu kembali berjalan, Abu Drop Out dari Universitas, memilih sekolah kedinasan. Abu dengar “kawan itu” menemukan Tuhan selepas tsunami, akhirnya hidayah datang kepadanya. Alhamdulillah.

XXX

Kemarin siang, Abu makan siang terlambat akibat mengejar deadline pekerjaan. Selepas makan soto Abu merokok sebatang, tiba-tiba seseorang menghampiri, dia berjubah.

Assalamualaikum Abu masih ingat saya?” Tanyanya.

Oh, si bedebah itu sekarang sudah jadi ustad. Abu mengangguk.

“Kamu masih saja sama seperti dulu, belum berubah-ubah. Dunia sudah mendekati kiamat, bertaubatlah kamu sahabatku.” Katanya.

“Sejak Nabi Adam a.s turun ke bumi, dunia memang mendekati kiamat setiap harinya tuan.” Kata Abu tersenyum.

Ia mencelat, kemudian mengatur nafas. Kami beramah tamah, layaknya kawan lama. Ditambah beberapa ceramah, Abu mendengarkan saja sampai dia pamit. Memandangi kepergiannya, Abu berpikir hidup ini ya biasa-biasa saja. Abu seperti orang kantoran yang biasa dijumpai dimana saja. Menjalani hidup datar-datar saja.

Hidup ini memang terasa sulit sebelum menjadi mudah. Kesulitan memang bukan untuk dikeluhkan tapi dimudahkan dengan keikhlasan dan tindakan. Terkadang kita perlu merasakan sakitnya terjatuh agar kita tahu bagaimana berdiri, merasakan benci agar kita menghargai cinta.

Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan, tapi jangan lupa bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, tapi rasa syukurlah yang membuat kita bahagia.

KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Buku, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment