BUKU KESAYANGAN KAKEK DAN HAL-HAL YANG TIDAK DICATAT OLEH SEJARAH

BUKU KESAYANGAN KAKEK DAN HAL-HAL YANG TIDAK DICATAT OLEH SEJARAH

Setiap kejadian dalam hidup ini ternyata sangat berharga. Kita bisa kehilangan uang dan mendapatkan kembali, kita bisa kehilangan apapun dan mendapatkannya kembali. Tapi jika kita kehilangan waktu, kita tak dapat mendapatkan waktu tersebut lagi. Orang bilang, ketuaan adalah sumber kebijaksanaan. Bisa jadi benar karena dia telah menjalani banyak kejadian dalam hidup. Setiap pilihan yang kita lakukan dalam hidup, membuat kita tak hanya lebih berpengalaman tapi juga menguji tujuan hidup kita. Ini adalah cerita ketika Abu masih muda, tentang bagaimana kejadian tersebut mempengaruhi hidup. Seiring kita bertambah dewasa maka tanpa disadari semakin banyak hal dilupakan, namun sesekali muncul pemantik yang memanggil masa-masa yang terlupakan itu seperti halnya mozaik-mozaik yang terangkai kembali dalam dimensi waktu yang berbeda. Itulah yang dirasakan ketika menemukan buku kesayangan kakek disebuah toko buku daring.

Akhir tahun delapan puluhan petani cengkeh sedang menikmati harga yang sangat baik, harga mencapai Rp. 7.000/perkilogram tapi kemudian nikmat itu dicabut. Paduka Yang Mulia H.M Soeharto demi puteranya yang tercinta Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, pada Desember 1990, Presiden Soeharto mendirikan BPPC (Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh) melalui Inpres (Instruksi Presiden) untuk menjalankan ekonomi monopoli. BPPC ini merupakan lembaga Negara yang memasarkan cengkeh produksi petani ke industri pengguna cengkeh, meskipun lembaga Negara, ajaibnya Tommy Soeharto berkuasa disana. Sebelum BPPC berdiri petani cengkeh bebas menjual langsung melalui KUD (Koperasi Unit Desa). Kebijakan monopoli ini segera merugikan petani, harga cengkeh yang dijual petani ke BPPC turun drastis menjadi Rp. 25/perkilogram. Tommy memaksa petani menjual cengkeh dengan harga sangat murah, lalu menjualnya ke pabrik rokok dengan harga sangat mahal. Banyak petani cengkeh bangkrut, termasuk keluarga kami. Tommy meraup keuntungan besar dan keluarga Cendana semakin kaya-raya diatas penderitaan orang lain.

Disaat ekonomi terjepit, kami pun tak memiliki ruang untuk membantah. Tahun 1989 pemerintah melaksanakan Operasi Jaring Merah (OJM) dan menjadikan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM). Setiap protes adalah pembangkangan, setiap keluhan adalah pengkhianatan, pada saat itu tidak ada tempat mengadu kecuali Allah S.W.T. Siapa yang mengatakan bahwa orde baru adalah masa-masa yang menyenangkan? Jika saat ini kita mendengar beredarnya slogan-slogan : Enak zamanku toh? Piye kabare enak zamanku to? Atau tentang bagaimana enaknya zaman orde baru itu aman dan gampang cari makan! Abu punya satu pertanyaan, apa yang diwariskan rezim itu kepada rakyat Indonesia? Tidak ada! Selain budaya korupsi, kolusi dan nepotisme. Saat ini Indonesia semakin baik, meski tersendat dan terhambat, kita semua Abu yakini menuju kebaikan.

Buku kesayangan kakek berjudul RANGKAIAN Cerita Dalam ALQUR’AN oleh Bey Arifin; Penerbit: AL MA’ARIF.

Dalam kesusahan tentu ada nostalgia, sewaktu kecil, Abu paling suka dengan kisah para Nabi, dalam cerita-cerita tersebut terdapat banyak hikmah kehidupan. Disana terdapat jalan kebaikan, tergantung dengan keinginan kita untuk mengikutinya atau tidak. Kisah Nabi Sulaiman A.S adalah yang paling Abu sukai, tentang seseorang yang memenangkan segalanya di dunia dan akhirat, tapi Abu waktu itu (berumur 6-7 tahun) tidak sanggup jika harus membaca (atau belum lancar membaca). Maka ketika kecil, setiap pulang kampung Abu selalu mencari kakek untuk mendengarkan kisah para nabi.

Kampung ayah Abu, di Anuek Galong Baro adalah basis PPP (Partai Persatuan Pembangunan), orang-orang yang dianggap mbalelo oleh Paduka Yang Mulia Soeharto, sehingga jangankan jalan, listrik pun tak sampai menjelang 1992. Satu-satunya hiburan bagi kami disana adalah mendengarkan radio berbaterai. Kakek bercerita sebelum monopoli cengkeh diberlakukan oleh Orde Baru kami adalah keluarga yang lumayan, memiliki dua radio, sayang masa itu sudah berlalu.

Sepanjang hidup, kita belajar membedakan benar dan salah. Mempelajari adat agar menjadi pribadi beradab, agar tak menjadi manusia biadab. Kita mempelajarinya dari orang-orang di sekeliling kita. Dari kisah para Nabi tersimpul di dalamnya semua ajaran agama yang benar, menjadi suatu kekal abadi, agama Islam. Disitu kita mempelajari tindakan apa yang dilakukan para Nabi dalam menghadapi berbagai kondisi, baik itu susah maupun senang.

Ekonomi Aceh pada awal 1990-an tidak begitu baik, status pelabuhan bebas Sabang baru saja dicabut oleh Orde Baru. Ekonomi macet. Seorang sahabat kakek, juga Walikota Sabang saat itu, Husein Main hilang, desas-desus dibunuh oleh Orde Baru karena menolak keras pencabutan pelabuhan bebas Sabang. Kakek bercerita, waktu itu sedang di Sabang ketika Husein Main dijemput oleh sepasukan tentara dan dibawa dengan heli. Kakek menyusul dengan kapal laut ke Banda Aceh, sesampainya di Banda Aceh Husein Main sudah tidak ada. Kakek menduga sahabatnya itu dibuang di laut. Abu terlalu kecil untuk paham, tapi saat itu Abu juga merasakan betapa orde baru mencekam.

Karena itu Abu sangat tertarik dengan kisah-kisah para Nabi maka Abu berkata kepada kakek. “Kek, tolong ceritakan kisah Nabi Muhammad S.A.W dari beliau lahir sampai beliau meninggal, dan jangan ada yang terlewat.

Kakek tertawa. “Tidak bisa. Karena kakek akan menghabiskan waktu 63 tahun (Sesuai dengan usia Nabi Muhammad S.A.W) untuk menceritakan. Umur kakek saat ini saja sudah 63 tahun.” Tapi kemudian kakek memberikan sebuah hadiah berupa sebuah buku. Abu tidak tahu judulnya karena sampulnya telah koyak, yang Abu kenali hanya gambar onta dan pohon kurma yang ada pada sisa sampul. Buku ini sangat disayangi oleh kakek, Abu tahu ketika ia menyerahkan kepada Abu ia berkata, “Buku ini entah mengapa menjadi penghiburan disaat-saat terburuk sekalipun, mungkin kakek tidak punya apa-apa untuk diwariskan kepadamu. Buku ini menceritakan tentang kisah-kisah para nabi, orang-orang teladan yang tentunya lebih baik dari kakek, jadikan mereka suluh hidupmu.”

Waktu itu Abu hanya mengangguk senang, hari ini ketika mengenang kejadian itu, mata Abu berkaca-kaca. Ini adalah salah satu momen berharga di hidup Abu, semoga Abu tidak pernah melupakannya.

Masa liburan puasa dan lebaran panjang, Abu pulang ke kampung ibu ke wilayah barat. Waktu itu komunikasi masih susah, telepon saja kami tak punya. Dan ketika kembali ke Banda Aceh, betapa kami terkejut ternyata kakek telah meninggal dunia, saat beliau sedang berpuasa sunnah Syawwal. Ketika itu Abu baru sampai dengan ibu, sedang ayah tidak ikut ke Barat. Mendengar kabar itu Ia menatap dinding dengan tajam. Tampangnya mengingatkan Abu setiap kali mendengar kabar buruk, seakan dia berusaha membatalkan kebenaranya dengan kekuatan tekad.

Pemilu tahun 1992 adalah pemilu pertama Golkar menang di kampung kami, listrik pun masuk desa. Jalan-jalan diaspal, kecuali jalan-jalan rumah penduduk yang diketahui dengan pasti memilih PPP, termasuk rumah kami. Mungkin itu bukan perintah Paduka Yang Mulia Soeharto sendiri, dan apa yang Abu saksikan bahwa tirani itu brutal, angkuh dan menyendiri. Terutama buat mereka yang melayaninya.

Tahun demi tahun berlalu, buku yang Abu punyai itu hilang. Entah dipinjam siapa, Abu lupa. Mungkin akibat kehilangan buku berharga kenangan kakek kelak Abu menjadi orang yang terkenal sulit untuk meminjamkan buku, bahkan siapapun yang meminjam buku selalu Abu catat dan tagih. Orde Baru runtuh, Milenium pun berganti, zaman digital pun tiba. Tiba-tiba Abu melihat kembali buku ini disebuah situs online. Dalam kontak yang sekejap itu, danau ingatan yang tersembunyi, seketika meledak, meluber dalam pikiran mereka dan membanjiri mereka berdua dalam bayangan, sebuah impressi. Abu memutuskan membeli buku tersebut tanpa pikir panjang.

Benar, saat ini waktu Abu telah tiba, berusia 34 tahun, menjadi dewasa, memiliki sebuah keluarga. Abu juga telah belajar untuk membuat pemikiran ataupun pilihan sendiri tentang segala sesuatu untuk menjalani hidup sendiri. Pilihan yang pernah Abu buat dalam hidup, sifatnya sering rumit, kadang-kadang Abu pikir bisa jadi salah. Tapi bagaimana melakukan dan memilih yang benar? Kadang harus melakukan sesuatu meski yang Abu ragu. Hidup sering bukanlah syair yang indah, variasinya sedikit, dan justru hal-hal tidak menyenangkan berulang terus menerus.

Tahun 1998 ketika Soeharto jatuh, Abu termasuk orang yang senang. Liburan sekolah tahun 1999 (Masuk SMA) Abu pergi ke Jakarta dengan nenek dengan bus. 3 hari 3 malam lamanya dari Banda Aceh ke Batavia, di satu pos polisi, bus kami diberhentikan oleh seorang oknum polisi, lalu kernet memberikan uang lima ribuan, Abu melihatnya. Disitulah Abu merasa bahwa reformasi di Indonesia belum bisa mengubah mental kita. Orde Baru tidak memberikan kita warisan apa-apa kecuali budaya korupsi dan chauvinisme akut yang menjangkiti. Bus melaju di jalan berlubang, mengoncang-goncang penumpang dan juga perasaan Abu.

Dunia terdiri dari miliaran tenunan kehidupan, tiap tenunan melintasi tenunan lainnya. Abu pun membaca kembali buku ini tidak sekedar untuk mengenang masa lalu, juga untuk mengingat bahwa disetiap keadaan yang buruk sekalipun kita masih bisa tertawa, mengambil hikmah dan mensyukuri apa yang kita miliki.

Simak (juga) kisah-kisah Petualangan Si Abu lainnya.

Advertisements
Advertisements
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN

Ada dua perangko bernominal Rp 1.500 yang diterbitkan. Masing-masing bergambar Cut Nyak Dhien, dan rumah Cut Nyak Dhien. Selain perangko, diterbitkan pula sampul hari pertama seharga Rp 5.000.

EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN

Edisi khusus seri pahlawan nasional prangko 100 tahun Cut Nyak Dhien diterbitkan dalam rangka mengenang meninggalnya pejuang wanita Aceh yang gagah berani tersebut pada tahun 1908. Pahlawan wanita ini meninggal dalam pengasingan di Sumedang, Jawa Barat sebagai ibu Perbu yang berarti Ratu karena identitas yang sebenarnya dirahasiakan oleh pemerintah colonial Belanda. Warga setempat mengenal Ibu Perbu sebagai seorang guru mengaji yang santun dan telah berusia lanjut di kalangan kaum ibu dan anak-anak. Jati diri Ibu Perbu baru terungkap pada tahun 1960. Informasi berasal dari surat resmi Hindia Belanda tulisan Kolonial Verslag yang menyatakan bahwa Cut Nyak Dhien, pemimpin pejuang Aceh telah diaingkan ke Sumedang.

Edisi Perangko 100 Tahun Cut Nyak Dhien Wafat (2008).

Prangko 100 Tahun Cut Nyak Dhien emisi tahun 2008; 1 Set (20 lembar).

Sebelumnya pemerintah Republik Indonesia pernah mengeluarkan Prangko Cut Nyak Dhoen dalam ejaan lama Tjoet Nja Dhien tahun 1969

Cut Nyak Dhien dilahirkan pada tahun 1848 di kampong Lam Padang Peukan Bada, wilayah VI mukim, Aceh Besar sebagai sebagai putri bangsawan yang berdarah pahlawan, Tuanku Nanta Setia. Sebagaimana lazimnya putri Aceh, Cut Nyak Dhien sejak kecil memperoleh pendidikan, khususnya agama yang diberikan baik oleh orang tua maupun guru agama. Pada usia 12 tahun, dia dijodohkan dengan anak saudara laki-laki dari pihak ibunya yang bernama Teuku Ibrahim Lamnga.

Baca juga : PEREMPUAN ACEH FULL POWER

Agresi Belanda pada tahun 1897 telah menggerakan seluruh rakyat Aceh termasuk Teuku Ibrahim Lamnga untuk berjuang mengusur kaum kolonial. Dalam suatu pertempuran di lembah Beurandeun Glee Tarom pada 1878. Teuku Ibrahim Lamga dan beberapa pengikutnya gugur. Kematian sang suami semakin mendorong semangat juang Cut Nyak Dhien untuk turun langsung ke medan perang. Setelah dua tahun menjanda, ia menikah kembali dengan Teuku Umar yang merupakan sepupunya dari pihak ayah. Pasangan suami istru ini kemudia melanjutkan perjuangan melawan penguasa Belanda. Pada tahun 1899 Teuku Umar gugur dalam pertempuran di daerah Suak Ribee, Ujong Kalak Meulaboh. Cut Nyak Dhien meneruskan perlawanan bersama para pengikutnya dengan bergerilya dari hutan ke hutan. Kerentaan serta penyakit encok dan rabun yang melemahkan tubuhnya tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang dengan kondisi pasukan yang semakin lemah serta perbekalan yang kurang. Karena pengkhianatan Pang Laot, Cut Nyak Dhien akhirnya ditangkap oleh Belanda pada tahun 1905 kemudian diasingkan ke Sumedang pada tahun 1907. Cut Nyak Dhien tutup usia pada 1908.

Foto Cut Nyak Dhien ditangkap bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

Makam Cut Nyak Dhien di Sumedang.

PT. Pos Indonesia dalam rangka mengenang 100 tahun meninggalnya seorang pahlawan, pejuang wanita yang gagah berani berasal dari Aceh pada tahun 1908. Pejuang wanita ini meninggal dalam pengasingannya, sebuah akhir di tanah sepi di Sumedang, Jawa Barat. Jauh dari tanah kelahirannya, jauh dari keluarganya, renta, tua, rabun dan menderita encok, sendiri dan jauh dari orang-orang yang mencintai dan dicintai dirinya. Prangko ini diterbitkan sebagai penghormatan kepada seorang wanita agung, atas penderitaan dan ketabahannya menjalani hari-hari akhir yang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi.

Leaflet penjelasan prangko 100 tahun Cut Nyak Dhien oleh PT. Pos Indonesia

Artikel lain tentang Aceh:

  1. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  2. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  3. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  4. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  5. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  6. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  7. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  8. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  9. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  10. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  11. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  12. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  13. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  14. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  15. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  17. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  19. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  20. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  32. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  33. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  34. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  35. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  37. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH LIMA

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH LIMA

“…Orang-orang Aceh dalam kehidupan sehari-hari tidak berbeda dengan orang-orang biasa. Mereka tidak meninggikan diri, atau sengaja memperlihatkan lagak, bahwa mereka orang-orang berani. Mereka tetap rendah hati, tidak takabur seperti pahlawan-pahlawan tiruan di Sumatera Timur. Tetapi bila saatnya berkelahi, maka mereka dalam sekejap mata menjadi harimau galak yang menerkam mangsanya. Dalam detik-detik pertempuranlah keluar keperwiraan Aceh yang sejati…”

Pejuang Aceh bila saatnya bertempur, maka mereka dalam sekejap mata menjadi harimau galak yang menerkam mangsanya. Dalam detik-detik pertempuranlah keluar keperwiraan Aceh yang sejati

“…Bahwa orang-orang Aceh tidak lekas gembira menyambut sesuatu, atau lekas ramah menerima orang lain, seakan-akan tawar hatinya. Malahan kata-kata yang agak lucu, yang membuat orang-orang di daerah lainnya terbahak-bahak. Sedikit orang Aceh yang tertawa. Mungkin juga mereka kurang mengerti bahasa Indonesia, dan mungkin mereka pula kurang mengerti senda gurau daerah lain. Saya disini merasa, bahwa saya memasuki alam pikiran Aceh, yang berbeda dengan daerah-daerah lain. Tetapi, bila perhatian mereka sudah bangun, dan timbul kepercayaan kepada kejujuran orang yang datang, maka salju yang membungkus keramahan mereka pun lumar berangsur-angsur, dan mulai hangat penerimaannya. Dan bila kepercayaan timbul, mereka mulai mengakui kita sebagai penganjurnya, dan selanjutnya akan dipatuhinya…”

Muhammad Radjab dalam “Tjatatan di Sumatera” tahun 1947.

Mulai 14 Juni 1947 Kementerian Penerangan Pemerintah Republik Indonesia di Jogjakarta mengirimkan serombongan wartawan ke Sumatera untuk meninjau keadaan dan perkembangan disana mulai dari Kutaraja (Banda Aceh sekarang) sampai ke Teluk Betung semenjak Republik Indonesia berdiri. Catatan ini diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1958.

XXX

Aceh Besar, Pertengahan Mei 1873.

Angin laut sepoi-sepoi membelai, malam itu di ngalau Beraden memang indah. Langit bersih, dihiasi bintang-bintang. Sebulan yang lalu, pasukan Belanda telah dipukul mundur dari ibu kota. Aku menyesalkan ketika mereka mundur tidak ada gangguan dari pasukan Aceh, seharusnya disitulah mereka harus ditumpas. Pasukan musuh yang mundur itu membawa pulang pengetahuan tentang Aceh, itu sangat berbahaya jika serangan itu datang.

Mungkin orang Aceh berkeyakinan bahwa Belanda yang pontang-panting itu telah mendapatkan pengalaman pahit, dan pastilah tidak berani menginjak tanah Aceh lagi. Itu salah, dalam penaklukkan Nusantara mereka pernah kalah, dan mereka akan kembali, selalu.

Umar termasuk yang percaya Belanda tidak akan datang lagi, dia mengajak aku ke Lampadang, VI Mukim. Beberapa bulan di ibu kota, belanja si Umar habis. Dia perlu menghadap pamannya Tuanku Nanta Seutia meminta belanja. Dia segan dengan pamannya, dan mengajak aku ikut serta.

“Durjana kau tahu artinya?”

“Itu pendusta,” aku tersenyum.

“Kadang-kadang ambo pikir sebenarnya seorang pendusta. Masa lalumu sebagai bajak laut sebenarnya tidak ada. Tidak pernah ada bukti, bahkan ambo lihat kau kesulitan dalam setiap pertempuran.”

“Masa lalu itu sebenarnya tidak ada.”

“Sudah ambo duga.”

“Juga masa depan, yang ada hanyalah masa sekarang.”

Umar terdiam.

“Untuk apa mengetahui masa lalu beta? Adakah yang penting Umar? Mengungkit-ungkit masa lalu adalah perbuatan seorang kekasih, kita adalah dua orang sahabat yang tak bertaut di masa lalu, jadi tak perlu membicarakannya terlalu.”

“Iya memang tidak perlu.” Ia tertawa.

XXX

Setelah menempuh jalan kecil, kami mencari jalan masuk ke kampung yang berpagar duri. Masa-masa itu perjalanan di Aceh melalui laut sehingga jalan-jalan darat begitu simpang siur diperbuat, jika orang tak tahu jalan maka terpaksalah berkeliling sampai terpasah kesesuatu tempat yang jauh dari kampung. Segala sesuatunya diperbuat untuk melindungi kampung dari penyerbuan musuh ke dalam kampung, atau kedatangan orang asing yang mungkin datang dengan maksud jahat.

Perangko serial pahlawan Republik Indonesia; Teuku Umar keluaran 1961-1962

Umar tahu jalan, Uleebalang Lampadang adalah pamannya dari pihak ibu, Tuanku Nanta Setia. Pintu masuk telah didapatkan, sampailah kami ke pintu gerbang yang dijaga beberapa pengawal bersenjata, mereka meminta kami menyerahkan senjata. Lalu mereka tersenyum simpul, “silahkan masuk! Dengan kelewang ini kami akan menjaga tuan.” Begitulah adat Aceh dahulu, sebelum Belanda datang dengan usaha membawa peradaban orang-orang Aceh yang dianggap biadab, dengan paksaan senjata, dan mengajarkan memberi salam dan jabat tangan.

Tuanku Nanta Seutia sedang tidak ada di rumah, sedang ada urusan di ibukota. Menantunya Ibrahim Lamnga sedang berkunjung, melihat ada tamu. Umar mengajak aku duduk di bale1) terlebih dahulu. Dari kejauhan kami melihat Ibrahim sedang bercakap serius dengan temannya.

Lelaki itu bertubuh kecil, tersenyum jahil. Berbeda dengan Ibrahim Lamnga yang tenang dan berwibawa, teman sekampungnya itu grasa-grusu. Tapi Umar memandang lelaki itu dengan rasa suka, sebagaimana ketertarikan alamiah antara dua bayi yang baru bertemu. Mimik, gerak mereka seolah kembar.

“Kau tahu siapa dia?”

“Dia adalah Nyak Makam, murid kesayangan Tuanku Hasyim, wali Negara Aceh di Sumatera Timur yang berpangkalan di Pulau Kampai. Dia adalah bajak laut sejati, tidak sepertimu.”

Aku tertawa.

“Aku dengar Nyak Makam adalah keturunan bangsawan yang menguasai Ie Meulee di Sabang. Jelas dia tidak sama seperti beta.”

“Ambo penasaran, ada apa dia datang ke Mukim VI.”

“Mungkin mengunjungi sahabatnya, Ibrahim. Bukankah mereka sama-sama berasal dari Lamnga.”

“Suami kakak sepupu memang berasal dari Lamnga. Tapi, bukankah Nyak Makam seharusnya berada di posnya di Sumatera Timur.”

Tak lama kemudian, kami dipanggil naik ke rumah tinggi.

“Dengan siapa kau datang Umar?” Tanya Ibrahim.

“Perkenalkan ini Ahmad, si durjana itu.” Jawab Umar sekenanya.

Nyak Makam terlihat antusias, ia mengulurkan tangan kepada kami berdua.

“Si bajak laut pensiun ya.” Katanya terkekeh kepadaku.

“kebetulan aku harus menghukum raja Idi, mereka telah berkhianat dengan bersekutu dengan Belanda. Ayo ikut dengan aku ke Timur.” Ajaknya.

Kenegerian Idi secara resmi adalah wilayah Aceh yang pertama “berkhianat” hal ini ditandai dengan penaikan bendera Belanda di benteng Idi pada 7 Mei 1873.

“Apa!” Umar emosi, orang-orang di Aceh bagian Timur memang pengecut, padahal Belanda baru kita halau dari ibukota, belum apa-apa mereka sudah berkhianat!” Umar dilahirkan di Barat, dia tidak menyukai orang-orang Timur. Dalam perang bantuan mereka sangat sedikit, apalagi negera-negara bawahan Aceh seperti Deli, Asahan, Langkat, ia menganggap mereka banci semua. “Seharusnya kemaluan mereka diberikan kepada anjing!”

Nyak Makam tertawa terbahak, “kita semua punya kecenderungan membenci apa yang tidak kita kenali. Mereka tidak seperti itu semuanya, hanya raja-rajanya saja. Aku pikir kau juga berseteru dengan Raja Teunom. Bukankah sama saja di Timur dan Barat?”

“Oh, si Imuem Muda. Dia itu adalah kualitas orang Barat yang paling buruk. Makannya banyak sekali, coba kalian pikir! Semua rakyatnya kurus, sedang dia gemuk sendiri. Badannya jika tidak seperti kerbau, mungkin seperti babi.” Umar tertawa terbahak.

“Aku pikir kita disini berkumpul bukan untuk saling menghujat.” Potong Ibrahim Lamnga. Umar menunduk ditegur suami kakak sepupunya, sedang Nyak Makam masih tersenyum usil. Ibrahim lamnga tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.

“Bagaimana durjana? Ikut aku ke Timur?” Ajak Nyak Makam.

“Jangan, kau ikut aku saja mempertahankan ibu kota. Desas-desusnya Belanda sudah menyiapkan pasukan untuk menyerang kedua. Kali ini mereka mungkin tidak mendarat di Ulee Lheu, gerbang Selat Malaka adalah Lamnga, kemungkinan kampung kita Nyak Makam, akan menjadi medan pertempuran berikutnya.” Kata Ibrahim Lamnga.

“Tapi dia itu teman ambo, dia harus ke Seunagan mempersiapkan pasukan laut Meulaboh. Tenang kanda, kali berikut Meulaboh akan membantu dengan armada laut.” Kata Umar.

Aku hanya diam, pilihan yang sulit, dua-duanya baik.

“Umar dan Nyak Makam kalian seperti anak-anak saja, biarkan si Durjana ikut Cut Bang.” Tiba-tiba Cut Nyak Dhien muncul dari balik daun pintu.

“Terserah Cut Kak saja.” Kata Umar, dia tahu kakaknya mencemaskan sang suami. “Tapi dia harus menemani ambo belanja terlebih dahulu.” Seraya mengulurkan tangan meminta belanja.

Cut Nyak Dhien mendelikkan mata, “harusnya aku menyurati etek dan mengadukan kelakuanmu yang boros!”

Umar tersenyum jahil, ia melirik Nyak Makam yang tersenyum juga kepadanya. Aku melihat Ibrahim Lamnga membuka kupiah dan menggaruk kepala.

XXX

“Beta pikir mereka sangat serasi.”

“Siapa?” Tanya Umar melambung-lambungkan pundi uang yang baru dia dapatkan.

“Ibrahim Lamnga dan Cut Nyak Dhien.”

Tak heran, karena antara mereka terdapat kesamaan paham. Keduanya bersifat tangkas dan berani. Mereka cinta kepada bangsa dan tanah air, istimewa kepada agama. Pendapat mereka tentang Belanda yang menganggu kehidupan Aceh, mengancam kemerdekaan dan agama adalah sama. Kebencian mereka kepada Belanda, telah menjadi dendam yang sedalam-dalamnya telah membentuk mereka menjadi sehidup semati. Kedua-duanya yakin bahwa pertemuan mereka menjadi suami istri adalah suatu takdir Tuhan supaya bersama-sama, bahu membahu, siap memerangi kaphe.

“Tidak, aku pikir mereka sebagai pasangan sangat sempurna. Tapi sebagaimana pengalaman hidupku, kesempurnaan itu tidak baik. Tidak ada lagi yang dapat dicapai, hanya menunggu kehancuran.”

Aku menatap anak muda itu dengan wajah keheranan, “pengalaman hidup apa? Kau masih Sembilan belas tahun Umar.”

“Dasar kau pak tua! Bukankah kemarin kau bilang masa lalu itu tak ada.”

Cukup pandai anak Meulaboh ini membalik-balik kata.

“Umar, untuk satu hal beta akui kau. Untuk tipu daya dan silat lidah, anak Meulaboh tiada lawan.”

Ia tertawa dan mengatakan, “masak iya.”

“Iya nomor satu di Aceh! Bukan, nomor satu di Nusantara. Bahkan Belanda pun bisa kau tipu kalau mau.”

“Tapi kalau masalah menilai orang, berbicara bual dan mengarang cerita, ambo pikir kalian orang Aceh Besar tiada banding diseluruh dunia. Apalagi kau! Nurrudin ar-Raniry2) saja kalah!” Balas Umar.

Kami tertawa, masa-masa itu sangat indah. Kesultanan Aceh Darussalam masih merdeka.

XXX

Kemampuan membunuh, itulah yang ditakuti oleh musuh. Tidak mudah membunuh lawan meskipun dalam peperangan, walaupun saat nyawa diujung tanduk kita semua wajib mempertahankan diri. Apalagi kemampuan membunuh di waktu perang tiada, hanya dimiliki oleh orang-orang gila, tidak semua lawan Belanda di Nusantara memilikinya. Aceh adalah sekumpulan orang-orang gila, dan itulah yang ditakuti Belanda.

|Bersambung|

Index:

  1. Bale = Pondok kecil di depan atau belakang rumah, lazim ada pada rumah Aceh masa lalu;
  2. Syech Nurrudin ar-Raniry = Ulama sekaligus pujangga, terkenal dengan kitab “Bustanussalatin” Taman Para Raja. Namanya kelak diabadikan menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry di Banda Aceh;

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH EMPAT

Pertempuran di Gunung Aceh (Pertempuran Glee Tarom) siaran Propaganda Belanda berjudul Atchin Driemaal Begraven

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH EMPAT

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, setiap orang juga pasti memiliki penyesalan, sekurang-kurangnya satu. Begitu pula aku memiliki satu, yang bila aku mengingat-ingat maka jatuh air mataku, mengenang kegagalanku sebagai seorang prajurit. Hari dimana dimana aku kehilangan orang yang sangat kuhormati, Sang Singa Aceh, Ibrahim Lamnga wafat pada 29 Juni 1878.

Glee Tarom, akhir Juni 1878.

“Adinda, aku tak bisa tidur sekarang. Tadi aku memimpikan terbang diatas buraq1). Apakah itu pertanda buruk?” Tanya Panglima Ibrahim.

Aku duduk diatas urat kayu, tertawa. “Gunung ini adalah tempat burung cempala kuneng2) berkumpul, mungkin Tuanku hanya terbawa suasana. Belanda tidak memahami kita, cara hidup kita, senda gurau kita, mereka tak mungkin tahu tipu daya kita.”

Lukisan Buraq milik kerajaan Aceh, dari gambar terlihat pengaruh Persia yang kuat. Sumber dokumen Belanda berjudul : Atjeh Gajo en Alaslanden

“Perasaanku was-was adinda, bukankah juga Habib seharusnya sudah datang. Kemana dia? Apakah dia berbalik kepada Belanda?”

Habib Abdurrahman Az-Zahir, pernah diangkat menjadi wali Sultan dan mantan duta besar Aceh untuk Utsmani. Baru-baru ini gagal mempertahankan benteng Krueng Raba, dia dengan mudah melepaskan posisi yang pernah direbut dengan berdarah-darah oleh pejuang muslimin. Seorang ulama keturunan Rasulullah, lelaki Malabar3) bercelak yang bergaya kearab-araban, terus terang aku tak suka dia, tapi, “mungkin dia terhambat, bukankah kita menjulukinya si Habib terlambat!” Kami tertawa, tak lama kemudian kami tidur nyenyak.

Malam itu aku salah membaca suasana, ternyata Jenderal van der Heyden telah bergerak secara kilat. Selagi kami tidur, pegunungan telah dikepung KNIL, kemudian meletuslah senapan pertama dan disusul meriam Belanda, kami kocar-kacir. Segala penjuru dihujani mortir dan meriam bersimpang siur di udara.

Kami berjumlah seratus orang, teman-teman seperjuangan telah berkalang satu persatu menjadi mayat-mayat, paya-paya telah bersimbah darah. Seraya mencari musuh yang tak ketahui disekeliling, mencari-cari dan berserulah aku kepada Tuanku Ibrahim Lamnga. “Larilah Tuanku! Berlindunglah, jika Tuan lalai kita akan binasa! Beta akan melindungi Tuan membuka jalan ke Timur, kembalikah ke Montasik segera!”

Tapi Tuanku Ibrahim Lamnga sudah pasrah, syahid di depan mata. “Tak mungkin lagi bagiku untuk pergi Ahmad! Tampak jelas bagiku arti mimpi tadi, sekarang telah menjadi kenyataan. Kita terkepung! Dengan kain sarung ini aku akan menemui Allah S.W.T.”

Selagi Tuanku Ibrahim Lamnga berkata, senapan serdadu Belanda menembus kepala saudaranya yang lebih tua, Teuku Ajat. Ia memeluk, kemudian berteriak, “Allahu Akbar!” Seketika kepalanya ditembak, dengan gerakan lambat aku melihat kepala yang agung itu pecah. Tak ada waktu bersedih, wakil panglima Nyak Man rubuh diterjang peluru. Semua seolah tidak nyata, para orang-orang hebat yang ku hormati itu rubuh satu demi satu, sungguh nasib buruk aku menjadi orang yang menyaksikan petaka ini, seandainya aku mati lebih dulu, mungkin lebih baik itu bagiku.

Aku menyaksikan berhamburan serdadu Belanda datang mendekat, aku terus menembaki mereka dengan sisa peluru yang kumiliki, jika aku harus mati hari ini maka matilah! Tapi kematianku harus dihargai mahal, harus lebih banyak serdadu kafir mati ditanganku. Dengan pergerakan mundur, aku terus menembak.

Dari sudut-sudut pepepohonan aku menyaksikan mereka bermaksud membawa ketiga jenazah pahlawan Aceh itu, tak akan kubiarkan! Peluru-peluru Belanda terus berdesing kearahku, sungguh keajaiban sampai saat ini aku masih hidup.

Mereka sudah berhasil mendekati ketiga jenazah itu, ketika tiba-tiba petir menggelegar, hujan turun deras sederasnya. Amukan hujan, ditambah sisa-sisa perlawanan yang masih ada membuat mereka mundur. Halilintar masih melantak, Aku bersandar di pohon menangis sejadi-jadinya, ini semua salahku! Tuhan mengapa bukan aku saja yang kau ambil? Mengapa harus Tuanku. Aku berteriak sekuatnya dalam angin kencang itu.

Ketika Subuh datang hujan telah rintik-rintik, aku mendekati mayat para pahlawan itu. Aku memeluk, memangku lalu mengalangkan kepala syahid itu satu persatu, tiba-tiba lenganku ditepuk. Lima orang prajurit hidup masih berdiri dengan luka-luka. Dari seratus orang pasukan tinggal kami berenam, sungguh kekalahan yang sangat telak!

“Wahai teman-teman yang masih hidup, berdukalah kita, ia telah syahid. Ibrahim Lamnga!” Mereka terdiam, lalu memandangku dengan tatapan nanar dan kosong.

“Tak ada waktu menguburkan mereka yang syahid semua, Belanda pasti akan kembali segera, dan kita tak ada tenaga membawa semua saudara kita. Melalui gunung Mundam, kita bawa jenazah Tuanku Ibrahim Lamnga ke Montasik.”

Kami bermufakat mengangkat jenazah Tuanku Ibrahim Lamnga kepegunungan, disana kami membuat tandu. Perjalanan menuju Montasik itu, tiga hari tiga malam lamanya. Maha suci Allah S.W.T yang tidak membiarkan kafir menodai jenazah pahlawan Sabil.

29 Juni 1878, Ibrahim Lamnga telah gugur.

XXX

Montasik, tiga hari kemudian.

Menyambut usungan itu, seisi kampung berhamburan. Tak lama kemudian nampaklah Cut Nyak Dien, matanya nanar karena menangis menanti kabar. Aku mengangguk dan menunjuk usungan, “beliau telah syahid!”

Ia menatap aku dengan tajam, aku menunduk. Plaaak, ia menampar aku. “Bukankah sudah kukatakan kau jaga dia! Berani-beraninya kau pulang dalam keadaan hidup sedang kekasihku dalam keranda!” Terima kasih Cut Nyak, tamparanmu sedikit mengobati hatiku, sungguh aku tak layak menjadi orang kepercayaanmu menjaga suamimu.

Maka datanglah ayah Cut Nyak Dhien, “Sabarkanlah hatimu anakku! Teguhkan iman! Ia telah syahid memenuhi panggilan tugas!” Ia mengenggam tangan, menanggung rasa pedih.

Cut Nyak Dhien adalah seorang pejuang yang keras hati, tapi dia juga adalah seorang istri, seorang kekasih yang hari ini menyaksikan orang yang paling dicintai olehnya, Ibrahim Lamnga menjadi gugur. Dunianya runtuh, tangisnya makin menjadi-jadi, lalu ia bersimpuh ditanah. Dipangku kepala suaminya, ia ciumi dengan penuh kasih sayang.

Cut Nyak Dhien menciumi dengan kasih sayang kepala suaminya, Ibrahim Lamnga telah wafat. 29 Juni 1878. Illustrasi gambar oleh Tengkuputeh

Dengan sedu sedan ia berkata, “setelah dia tiada, setelah suamiku pulang ke rahmatullah, tunjukkan kepadaku ayah! Kemanakah aku menyanggakan diri? Kemanakah aku akan bergantung? Dan jika aku terpaksa memilih suami lagi, diantara sekian orang laki-laki Aceh, tak akan ada yang akan pernah kucintai sebagaimana aku mencintainya! Dia adalah cintaku yang pertama dan terakhir, dan jika aku akan dapat memilih diantara seratus orang lelaki, yang layak menjadi suamiku, tapi ia tak akan dapat diganti! Tidak mungkin! Hanya kepada bang Ibrahim yang ini cintaku akan melekat, suamiku oh kekasihku!” Kami semua terdiam, kebencian kepada Belanda di kampung menyala-nyala hari itu.

Maka bermufakatlah sekalian petinggi negeri dan keluarlah keputusan, “segera kita makamkan jenazah Tuanku Ibrahim Lamnga!” Maka berhimpunlah seluruh kampung, menyertai pemakaman pahlawan itu. Tidak ada seorangpun yang tinggal dirumah. Makam Ibrahim Lamnga di dekat Masjid Montasik, dianggap suci, demikianlah pendapat masyarakat saat itu.

Keesokan harinya, aku dipanggil oleh Cut Nyak Dhien. Ia mengeluarkan dua pucuk surat, “Satu surat kepada Umar, dan satu surat untuk Nyak Makam, sampaikan!” Perintahnya.

Dengan takzim aku menerimanya.

“Durjana, kau telah mengecewakan aku!” Dia menatapku entah dengan kebencian atau kesedihan, aku tak paham, aku pasrah. “Beta tak layak memohon maaf, dan beta akan terus menyesali kejadian malam itu sepanjang hidup.”

“Pergilah! Aku tak mau melihat mukamu dalam masa berkabung. Jangan sampai kebencianku pada kafir Belanda berpindah padamu!”

Aku beranjak pergi dengan cepat, Umar di Barat dan Nyak Makam di Timur. Darimana aku harus mulai?

|Bersambung|

XXX

Sakit sungguh sakit hatiku patah

Tertindih karena cinta

Sedih sungguh sedih harapan sirna

Aku hancur hati kecewa

Kemanakah akan kucari obat luka

Segala harapan telah karam

Kupikir kita bisa bersama

Sayang segala harapan tak sampai

(Syair yang dinyanyikan oleh Cut Nyak Dhien untuk mengenang suami pertamanya Ibrahim Lamnga, ditulis kembali sebagaimana didengar langsung oleh Sang Durjana)

Index Catatan Kaki:

  1. Buraq = Sebuah burung mistis berkepala manusia, dipercayai ditunggangi oleh Rasullullah S.A.W dalam perjalanan Isra’ Mi’raj;
  2. Cempala Kuneng = Burung Kucica Ekor Kuning (Trichixos Pyrropygus); Bagi orang-orang Aceh pada masa lampau sebagai tamsil kecerdikan, kelihaian dan kebaikan;
  3. Malabar = Sebuah kepulauan wilayah India sekarang;

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

UMAT ISLAM TAK LAGI MEMILIKI PERIMBANGAN ANTARA ILMU DAN IMAN

Ilmuwan Islam Mempelajari Ilmu Bumi

UMAT ISLAM TAK LAGI MEMILIKI PERIMBANGAN ANTARA ILMU DAN IMAN

Islam pernah menjadi barometer dunia, kejayaannya dalam berbagai cabang kebudayaan. Tapi keadaan itu kini telah surut, dan perlu digali kembali. Ilmu dan iman seolah bertolak belakang, benarkah?

Bagaimana mencari kemajuan seperti pernah diperoleh Islam di masa lalu, baik di Barat dan Timur?

Keindahan Alhambra karya arsitek muslim masa lalu.

Kebudayaan meliputi ilmu pengetahuan, kesenian dan teknologi. Sebagai upaya manusia bagi kesejahteraan di dunia. Sekitar 500 tahun lamanya, Islam mengalami kegemilangannya di Barat, antara 700-1500 Masehi. Bekas-bekasnya masih bisa kita lihat, Istana Granada masih berdiri megah sampai sekarang. Tempat peneropongan bintang di Samarkhand, Tashkent, Damaskus, Baghdad, Cordoba dan Sevilla. Buktinya masih sekarang ada. Karya-karya sarjana muslim masa itu jumlahnya tidak kurang dari 6 juta kitab. Sayangnya, karya-karya cemerlang tersebut sebanyak itu sebagian besar musnah ketika Perang Salib, dibakar. Sisa-sisanya yang masih dijumpai hanya sebanyak 30.000. Hal ini sungguh disayangkan, bukan hanya para sarjana muslim tapi juga sarjana Barat. Pada masa kegemilangan Islam sepanjang 5 abad itu, Barat sendiri justru tenggelam dalam abad kegelapan.

Ilmuwan Islam sedang mempelajari geometri

Islam telah mendorong lahirnya kebudayaan, terutama ilmu pengetahuan. Islam memberikan jalan keluar, memberikan kesempatan pada manusia meneliti, orang Islam yang memulai dan mengembangkan angka 1,2,3 dan seterusnya. Angka nol sendiri diperkenalkan oleh orang-orang India, kemudian diambil dan digabungkan menjadi susunan yang kita kenal sekarang dan dipakai oleh seluruh dunia.

Dibidang lain, Islam mengembangkan dan memperkenalkan ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi, fisika, kedokteran, pertanian dan lain-lain. Misalnya alat kompas ditemukan orang Islam sehingga berani mengarungi samudera. Orang-orang Barat sendiri mengakui penemuan dan kehebatan orang-orang Islam masa itu.

Apa sebab orang-orang Islam bisa mencapai kesuksesan yang demikian? Apa yang mendorongnya?

Pada masa itu orang-orang Islam memiliki perimbangan yang mantap antara ilmu dan iman. Itulah yang dilupakan oleh orang-orang Islam saat ini, secara perlahan sejak tahun 1500 umat islam pudar. Kekurangan kita (umat islam) saat ini adalah kurang menyambut secara positif terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan. Sebenarnya Al-Quran menjelaskan bahwa begitu banyak masalah ilmu pengetahuan untuk dikembangkan. Disisi lain, para ulama kita belum banyak berbicara/menjelaskan tentang Islam dalam aspek ilmu dan teknologi, dampaknya umat Islam tetap terbelakang, sementara orang-orang Barat sudah bisa mencapai bulan. Inilah kekurangan umat Islam saat ini, sebaliknya telah memajukan kebudayaan Barat sekarang.

Walaupun Barat telah mencapai kemajuan mereka tetap gelisah karena tidak memiliki pegangan untuk memberikan perimbangan. Berbeda dengan Islam pada masa jayanya, telah mempunyai perimbangan ilmu pengetahuan yang dicapai dengan iman dan Islam yang dianutnya. Islam telah mengatur perimbangan ini. Orang-orang Eropa, saat ini tidak lagi mempercayai agamanya. Pernah mereka berpaling kepada komunisme, dan banyak yang atheis atau agnostic. Mereka mungkin maju secara teknologi tapi agama nihil.

Usaha apa yang bisa kita lakukan mengembalikan kebesaran umat Islam pada masa lalu?

Salah satunya adalah sistem pendidikan, harus memiliki perimbangan. Tidak hanya membahas teknologi saja, atau iman semata. Harus memiliki perimbangan antara dunia dan akhirat. Unsur-unsur seperti itulah yang perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan Islam kita. Baik ilmu dan iman sama-sama penting. Ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan dalil-dalil ilmu pengetahuan marilah kita kaji bersama. Sehingga kita menemukan misalnya disebutkan anjing dan babi najis dan diharamkan dan sebagainya.

Kita umat Islam perlu mempelajari bahasa Arab secara sungguh-sungguh sebagai sumber ajaran Islam. Disamping mempelajari bahasa Latin sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan di masa lalu, dan bahasa-bahasa asing lainnya, contohnya bahasa Inggris sebagai bahasa ilmiah saat ini.

Beberapa opini terdahulu:

  1. Lughat; 28 November 2008;
  2. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  3. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  4. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  5. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  6. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  7. Makna Puisi Yang Hilang; 5 Januari 2011
  8. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  9. Orang Sakit Dari Timur; 26 Mei 2013;
  10. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  11. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
  12. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  13. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  14. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  15. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU

MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU

MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; oleh Tengku Hasan Muhammad Tiro; Cetakan ketiga; 1984.

Free download e-book MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU

MASA DEPAN POLITIK MELAYU OLEH TENGKU HASAN MUHAMMAD TIRO

XXX

Hasan Tiro in the 70’s decade

Buku MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU sudah dikeluarkan pertama kali pada tahun 1965, dalam bahasa Inggris, dalam bahasa mana buku ini pertama kali ditulis oleh pengarangnya dengan nama THE POLITICAL FUTURE OF THE MALAY ARCHIPELAGO. Buku ini telah banyak mendapat perhatian dunia dan isinya telah mendjadi pedoman bagi banyak negara-negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa dalam menentukan sikap mereka terhadap Asia Tenggara dimana Dunia Melayu merupakan bagiannya yang terbesar. Walaupun buku ini sudah ditulis puluhan silam isinya masih tetap hangat dan mengandung ramalan-ramalan politik yang sudah kejadian dan karena itu telah merupakan satu karangan klasik yang membuka tabir pertarungan dan perjuangan politik yang sesungguhnya di Dunia Melayu. Isinya sudah masuk dalam Verbatim Records dari perdebatan antara negara dalam sidang-sidang Komite Keempat (Decolonization Commission) dari Perserikatan Bangsa.

XXX

Rumah Gubernur Jenderal Belanda Aceh di Koetaradja (Sekarang Pendopo Gubernur Aceh) kondisi tahun 1890.

Pada tahun 1933, ‘kedamaian dan ketertiban’ di Aceh telah terganggu untuk waktu yang singkat lagi, sehingga bertahun-tahun kemudian, orang-orang berpatroli ‘dengan klewang dan karabin’ secara intensif. Lebih lanjut, tahun 30-an bukanlah saat yang buruk bagi Aceh, meskipun ada depresi ekonomi global. Justru untuk memperdalam ‘pengamanan’ wilayah tersebut, pemerintah kolonial mendorong pembentukan perusahaan-perusahaan Barat di Aceh. Dengan demikian kawasan ini membentuk pucuk utara dari areal perkebunan pantai timur Sumatra. Minyak juga dibor. Namun, sebagian besar pertumbuhan ekonomi berasal dari tanaman komersial petani kecil, seperti lada, karet dan kopra. Inspektur, yang sekarang tur dengan mobil, tampaknya tidak lagi menemukan bantuan militer yang diperlukan. (P. Boomgaard, 2001). Seorang inspektur Eropa dengan mobilnya dalam tur di Aceh. Inspektur dalam tur, Aceh, Sumatra Utara, sekitar tahun 1935

Sebuah rakit melintasi sungai Teunom di Aceh 1935.

Masa lalu tak hanya berisi kemegahan, masa silam juga sarat kepedihan. Bukan cuma tentang perjuangan yang membebaskan tapi juga berbagai konflik yang mengerikan. Segala yang agung dan kelam dari masa lalu, jangan membuat kita tak mempunyai pandangan atas waktu. Bahwa zaman tak hanya silam dan sekarang, melainan masa yang akan segera datang. Kita perlu mengingat masa lalu dan menandai para pelaku agar masa depan tak ditawan orang-orang dulu. Kita dan generasi berikutnya bukan tawanan sejarah, tak ada gunanya mengelap-lap rezim yang sudah punah. Tentunya sejarah tetaplah penting untuk dipelajari, terutama agar tak terjerembab lagi ke dalam tragedi. Kita bisa memaafkan segala macam kejadian, tanpa melupakan, apalagi tanpa keadilan. Itulah cara adil menyikapi segala yang telah terjadi. Sambil memikirkan segala hal baru yang mesti dimulai.

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  57. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  58. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  59. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Download, E-Book, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

DENGARLAH SUARA KEMATIAN

DENGARLAH SUARA KEMATIAN

Aku melihat awan senja, suatu hari dahulu aku juga memandangi langit yang sama. Bahwa aku dahulu bebas, seperti awan terapung-apung. Hidup dengan bebas, bertempur dengan bebas. Hati yang sulit ditebak bagaikan awan yang tak terjangkau. Karena itulah aku menyukai masa lalu. Setiap tahun yang berlalu, terus bertambah dalam catatanku. Dengarlah suara kematian, bunyinya seperti pedang yang tajam. Tipis mengiris.

Mungkin benar kata mereka bahwa aku lebih cocok menjadi pendekar dibanding seorang pengembara. Tapi bukankah keduanya sama saja? Sama-sama menunggang kuda membelah padang tandus yang hanya ditumbuhi kaktus.

Tapi mereka membantah perkataanku. Pengembara membawa bekal dan buku sedang pendekar bertumpu pada senjata. Tapi bagiku sama saja. Baik pendekar maupun pengembara adalah orang yang bebas berkelana, bebas dari ikatan suruh menyuruh dan melepaskan ikatan dengan lingkup kekuasaan.

Aku (pernah) melihat kematian, dalam mata manusia ada pancaran cahaya yang tidak terlihat. Itulah cahaya jiwa. Saat ini cahaya jiwamu mulai memudar.

Bara api menjilati langkahku, dunia membutuhkan keteraturan. Aku setuju. Tapi setiap individu butuh kebebasan. Butuh perjalanan panjang untuk menguji ilmu yang telah ia resap. Tidak hanya menjadi raja kandang, mengaum dalam sangkar kecil. Menjadi raja dalam tempurung. Bukan itu yang kumau. Kemarin tak sama dengan hari ini itu pasti.

Aku tak paham, bahkan apa yang seumur hidup kupelajari dan kucari aku tak kunjung mengerti. Mungkin aku seorang pelajar yang lalai. Atau seorang dengan intelektual dibawah rata-rata. Bahasaku tak pernah teratur, pikiranku bagai lompatan kodok, kesana kemari. Tidak rasional apalagi sistematis. Hanya jangan melarang aku menuliskannya, tak ada maksud meracun pikiran kalian. Meski pandir aku bukan murahan. Bahkan tak terjual dengan harga berapapun. Aku adalah orang bebas yang kemerdekaannya tak terbeli, dengan Rupiah, Yen, US Dolar, Ringgit, Rupee atau apapun itu namanya.

Aku (pernah) melihat kematian, dalam mata manusia ada pancaran cahaya yang tidak terlihat. Itulah cahaya jiwa. Saat ini cahaya jiwamu mulai memudar. Mungkin waktu terus berjalan, sampai kapankah tiba waktuku?

Mungkin sekarang aku tersenyum, malah tertawa membaca kembali tulisan-tulisanku. Bodoh tapi ini adalah sebuah kepuasan yang nyata. Sudahlah sekarang aku mengantuk. Tidur ya adalah separuh dari kematian, Dan dengarlah suara kematian itu.

Bait al-Hikmah, Ahad, 3 Zulqaidah 1439 H (Bertepatan 15 Juli 2018)

Puisi-puisi pilihan:

  1. Tafsir Sang Penafsir; 19 September 2008
  2. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  3. Selamanya; 14 Desember 2008;
  4. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  5. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  6. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  7. Kenangan Akan Gerimis; 11 Februari 2012;
  8. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  9. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  10. Surga; 17 Juni 2013;
  11. Untukku; 17 November 2013;
  12. Setitik Noktah Di Dalam Noktah; 25 Februari 2015;
  13. Supaya Aku, Kamu Dan Kita (Lebih) Saleh; 9 Desember 2016;
  14. Aku Mencintaimu Dengan Sederhana; 15 Mei 2017;
  15. Renungan Malam; 19 November 2017;
Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

ISLAMIC POLITICS BY SNOUCK HURGRONJE AS ADVICE TO DUTCH INDIES GOVERNMENT TO REDUCE ISLAM POWER IN INDONESIA

ISLAMIC POLITICS BY SNOUCK HURGRONJE AS ADVICE TO DUTCH INDIES GOVERNMENT TO REDUCE ISLAM POWER IN INDONESIA

Background of Islamic Politics by Snouck Hurgronje

At the end of the nineteenth century, the Dutch who had established their power in the archipelago (present-day Indonesia) were confronted with the problem of the continuous resistance of Muslims, although repeatedly able to defeat the struggle they are very worried about the dynamics that occurred at that time. For that, it is important to design Islamic Politics policy to maintain Dutch power forever in Indonesia.

Diponegoro War (1825-1830)

Paderi War 1821-1837

The Dutch warship fleet besieged the coast of Aceh in 1873

Meanwhile, elsewhere in 1880 the Aceh War still raged violently, although the Dutch managed to occupy the Sultan’s palace on January 26, 1874, the Sultanate of Aceh is still running under the Sultan Tuanku Muhammad Daudsyah, although the capital of Aceh State moved from Pagar Aye, Indrapuri, Keumala, and other places. During the 6 years of war, the Dutch had lost 17,000 troops in Aceh.

The Dutch government felt the need to recruit an expert to deal with the problem then recruited Prof. DR. C. Snouck Hurgronye an Islamologist who in 1880 defended his dissertation entitled “Het Makkasehe Fest” (Great Mecca Celebration).

Assignment of Snouck Hurgronje to Mecca

So in 1884, Snouck Hurgronje sent the Ministry of Colonies to study Malay to Arab, this is because at that time the Dutch difficulty sending agents to Indonesia. Since Snouck has not mastered Malay, he must first learn Malay to Arabic to Malays (Indonesia and Malaysia today) in Arabia.

Snouck Hurgronje as Abdul Ghaffar in Arabia, later nicknamed Tengku Puteh by the people of Aceh.

In Arabic during the first six months of Snouck living in Jeddah managed to get along with scholars from the Indonesian archipelago while studying Malay, he related closely was Raden Aboe Bakar Djajadiningrat and invited Snouck Hurgronje to be Muslim on January 4, 1885, and renamed Abdul Ghafar. Surely he did not seriously enter Islam, Islam is a thing that must be studied seriously and should be treated wisely by the Dutch Colonial Government.

During the Arab study of all books of interpretation include Tafsir al-Baidhawi, al-Bajuri, al-Ikna ‘and Tuhfah. Then he moved to Mecca. He mixed with scholars right up to his return to Holland in 1885.

While in Arabia studying all the books of Quranic commentary include Tafsir al-Baidhawi, al-Bajuri, al-Ikna, and Tuhfah. Then he moved to Mecca. Then he moved to Mecca. He mixed with local scholars to return to Holland in 1885. Three years after Snouck returned to his country, he published two volumes of books entitled Mecca. When the book was circulated the famous name Snouck Hurgronje to the whole world, it was regarded as a very important book for the purposes of colonial politics in the world.

Assignment of Snouck Hurgronje to the Indies

While in Mecca, Snouck had a close relationship with an Acehnese scholar named Habib Abdurrahman Az-Zahir. The cleric is a former advisor to the Sultan of Aceh, Aladdin Mahmudsyah (1870-1874 AD). But he lost confidence by the Acehnese so surrendered to the Dutch government, then the Dutch government gave a lifetime pension to Habib Abdurrahman to live in Mecca.

Based on his understanding of Aceh in Mecca, he offered to the Ministry of Colonies to be assigned to Aceh. In 1889 he landed in Batavia. Soon the Governor-General C. Picnaeker Hordijk appointed himself as an official advisor of Eastern Language and Islamic Law for the Dutch East Indies government in the archipelago. In fact, prior to the arrival of Snouck Hurgronje to Indonesia, the Dutch had established “priesterraden” (1882) in charge of overseeing the growth of Islamic schools in Indonesia, but this effort failed.

After he was appointed as an advisor to the Government of the Dutch East Indies through the office of Van Inlandschen Arabische Zaken, he gave 8 suggestions, among others:

  1. The Dutch East Indies government should not be afraid of the influence of Indonesian Hajjs when the government approaches the Mecca clerics who become Indonesian haj teachers by making them friends, hence the influence of Indonesian haj that threatens stability will end;
  2. The Dutch Indies government need not fear Pan-Islamism. Islam is different from the Catholic who has the papal organization. The Caliph Ottoman himself had preserved the Pan-Islam program;
  3. To be feared by the Government of the Dutch East Indies “not Islam as religion, but Islam as a political doctrine”. Usually led by a small minority of fanatical scholars. Namely, those who devote themselves to the ideals of Pan-Islamism, if its influence spread to the villages would be very dangerous. It is therefore recommended that the government “act neutrally against Islam as a religion and firmly to its political doctrine”;
  4. The Dutch East Indies government must prevent Islamic scholars from entering the government (executive). Because it is impossible to establish a relationship between the Christian (Dutch) rulers with the majority Islamic government;
  5. The Dutch East Indies government had to narrow the space and influence of Islam. This can be achieved through cultural cooperation between Indonesia and the Netherlands. This can begin by using the priyayi class as a civil service. For that the priyayi group should be educated in Western education;
  6. The Dutch East Indies government must revive the customary groups, and they must be used against Islam. This contradiction can be achieved by establishing customary institutions based on local tradition, in contrast to a universal Islam;
  7. Especially for the Aceh War, Snouck Hurgronje advised against running military operations into the countryside and “cracking down on the clerics in the villages and not allowing Muslim clerics to strike force with their students as volunteers”, to ordinary Muslims the government must be convinced that “the government protects Islam.” This effort can be carried out with the help of the heads of the nobility;
  8. The government must always separate Islam as a religion and Islam as a political doctrine. The longer the distance between the two will further accelerate the destruction of Islam.

Assignment of Snouck Hurgronje to Aceh

In 1893 Snouck was assigned to Aceh with his main task of drafting his suggestions on the completion of the Aceh war with the Dutch. The first time Snouck lived in Aceh was at Ulee Lheue as the headquarters of the Dutch military. It was in Ulee Lheue that Snouck succeeded in preparing his first report on Atjeh Verslag Aceh as the report on which the Dutch policy and the military were built in the face of Aceh.

Syair Hikayat Sabi War Collection of Museum of Aceh contains religious poems calling on the people of Aceh to fight against the Dutch colonizers.

According to van Koningsveld, the first part of Snouck’s report on Aceh is a description of the anthropology of Acehnese society, the influence of Islam as the basis of Acehnese beliefs, and the role of ulama (Muslim intellectuals) and Uleebalang (nobles) in Acehnese society. In the report, Snouck also described that the Aceh war was waged by the ‘ulama, while the Uleebalang according to Snouck could be invited to be a candidate for the Dutch allies, as their interests were worldly profits.

Snouck also writes that Islam for the people of Aceh must also be judged negatively, as Islam can evoke anti-Dutch fanaticism among the people of Aceh. Therefore, religious leaders in the Acehnese society should be annihilated so that the influence of Islam becomes less in Aceh. Thus the Uleebalang according to Snouck will easily be invited to ally with the Dutch.

One failure of the Dutch government in Aceh, according to Snouck is the result of a lack of Dutch knowledge of Aceh as an Islamic region. That is why, when Snouck served in Aceh, in addition to studying the anthropological character of his community (Aceh’s customs and culture), he also studied the books of Acehnese scholars. Among the books of Umdatu al-Muhtajin written by Sheikh Abdul Rauf Syiah Kuala, as a book that is considered Snouck very influential for the development of the Syatariyah Order in Aceh. During his assignment, he produced the Book of De Atjehers (two volumes: 1893-1894) which Snouck wrote about Aceh.

Islamic politics by Snouck Hurgronje

Christiaan Snouck Hurgronje. Occupation Professor, author, spy, colonial advisor.

SNOUCK Hurgronje (1857-1936) was a controversial Dutch scientist. On the one hand, however, Snouck Hurgronje must be acknowledged as the actor and recorder of history who has made the most valuable contribution in understanding the twists and turns of Dutch Indies government politics in Indonesia. On the other hand for Muslims in Indonesia, Snouck has abused Islam for Dutch Colonial political interests in Indonesia including in Aceh.

Snouck Hurgronje is considered the culprit of the emergence of conflicts of understanding of Islam in Indonesia. He served as a devotee of Dutch political interest in his day, as well as a cleric on behalf of Sheikh Abdul Ghafar.

Or as an expert scientist about Islam (Islamology) in the perspective of Islam and as a scientist in academic perspective, or as a historian and role when he served in Indonesia as well as in Aceh.

Translate from Bahasa: Politik Islam Oleh Snouck Hurgronje

Articles about Aceh:

  1. CUMBOK WAR, A SOCIAL REVOLUTION IN ACEH (1946-1947); 8 April 2017;
  2. ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZING THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS; 27 April 2017;
  3. SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA; 6 June 2017;
  4. ISLAMIC SHARIAH WHO IS AFRAID, A CASE STUDY IN ACEH; 13 June 2017;
  5. ACEH WOMEN FULL POWER; 13 June 2017;
  6. GOLD, INFIDELS, AND DEATH; 10 July 2017;
  7. MANTE THE LOST PYGMY TRIBE; 13 July 2017;
  8. THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH; 19 August 2017;
  9. THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE; 28 September 2017;
  10. WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN; 14 October 2017;
  11. EXPLOITATION OF NATURAL RESOURCES, WHAT IS IT GOOD FOR ACEH; 5 November 2017;
  12. PEUCUT KHERKOFF, ACEH-DUTCH WAR MONUMENT; 12 November 2017;
  13. THE PRICE OF FREEDOM; 5 December 2017;
  14. ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO; 25 February 2018;
  15. MARSOSE CORPS, THE DUTCH SPECIAL ARMY DURING ACEH WAR; 19 March 2018;
Posted in History, International, Opinion, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

KEJATUHAN SANG (MANTAN) PEJUANG

KEJATUHAN SANG (MANTAN) PEJUANG

Kita semua patut bersedih ketika sang (mantan) pejuang ternyata mampu dibeli dengan harga yang sangat murah, hanya lima ratus juta rupiah. Eagle one has fallen! Kita semua mencari tokoh, seseorang dengan visi menjangkau jauh ke depan. Seorang pemimpin yang kuat dan jujur, serta memiliki daftar panjang kehebatan di masa lalu, yang menggugah dan mengayomi, seseorang yang pandai tapi juga mau diingatkan. Besar tapi merendah.

Harapan itu pudar pelan-pelan. Ketika (mantan) pejuang terpilih kembali, ia berubah menjadi pribadi yang tak kita kenal sebelumnya, ia menggila dengan menyerang pribadi orang-orang yang berseberangan dengannya, Ad Hominem. Sesuatu yang bagi kami tidak layak dimiliki oleh seorang pemimpin. Semakin lama ia semakin sombong dengan kekuasaannya. Beberapa oknum loyalis bahkan lebih ganas lagi di media sosial menyerang lawan politiknya, sebagaimana sebuah aksi akan mengundang reaksi, mengutip Hukum Newton. Perilaku menyerang menghasilkan serangan balasan, maka  di depan mata kita secara telanjang terjadi pertempuran sosial media yang ganas karena periuk nasi, tentang ekonomi tentunya, yang tak terbayangkan oleh kita akan terjadi sebelumnya.

Eagle one has fallen! Hidup bisa membuatmu terbang tinggi untuk sesaat kemudian dihempaskan ke bumi. Untuk itulah kita manusia diberi peringatan oleh Tuhan agar jangan sesekali berlaku sombong di muka bumi.

Tapi sejarah memang bisa menikung kearah yang tak kita perhitungkan, selalu ada belokan yang memperdaya di koridor panjang yang ditempuh. Sejarah itu sendiri adalah proses. Mungkin salah ketika kita terlalu berharap pada demokrasi, tingginya biaya politik telah membuat banyak kepala daerah terjerat korupsi. Maka politisi lain (terutama lawan), mungkin jangan terlalu senang. Siapapun bisa buntung, hanya beda waktu saja.

Apakah benar dia korupsi? Biarlah KPK yang membuktikan. Benar atau tidak sebenarnya kita semua sudah kalah, hancur. Korban yang sesungguhnya adalah masyarakat, betapa hancur mengetahui bahwa dana yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan ditelan bulat-bulat oleh para penguasa (dan sekutunya). Bertrilyun-trilyun uang darah konflik itu ternyata telah dikorupsi.

Berhakkah kita marah membabi buta kepadanya? Dari kacamata korban seharusnya kita merasa tak berhak. Mengapa? Karena ketika melihat wajahnya, berbalut rompi oranye itu, kita melihat wajah seorang manusia biasa, yang telanjang, menitikkan air mata, tanpa jaket pilot, tanpa kancing-kancing keemasan. Beliau adalah wajah kita, pemimpin selalu mencerminkan apa yang ia pimpin. Iya, marwah Aceh ditingkat nasional telah hancur.

Uang, jika dipikir-pikir adalah sebuah persekongkolan yang tak diucapkan, kita semua tahu bahwa uang hanyalah selembar kertas, atau sepotong logam. Sekarang uang bahkan sering tak terlihat, byte-byte computer menjelma sebagai kadar jumlah, ia seakan sebuah benda khayal yang berpindah dari sebuah rekening ke rekening yang jauh dalam buku tabungan. Tapi kita membuatnya menjadi begitu penting, sebab uang bisa kita ubah menjadi sekarung beras menjadi sejumlah suara dalam pemilu, serumus obat menjadi emas berlian, sebuah memo menjadi medali-medali, sebuah pedang emas kuno menjadi sebuah mobil. Uang adalah perantara yang menghubungkan.

Kepada para lawan politik beliau, kalaulah bisa saya mengingatkan. Jangan larut dalam euphoria politik yang menyesatkan. Bersatulah untuk kami, rakyat biasa. Jikalah bisa janganlah terlalu mengejar uang, tak akan ada ujungnya. Kekhususan serta kelokalan yang kita nikmati selama ini bisa saja terbang melayang, kemudian menghilang. Semua akibat apa? Keserakakan akan uang.

Jikalah hidup mengejar uang akan seperti papan datar yang diketam. Rata, mulus dan tak akan pernah mendalam. Dengan itu, harga-harga barang riuh bekerja dalam kepala manusia, sebutir kepala tak lagi spesial ketika memilih diam atau bergerak “hanya” karena angka-angka tersebut. Kepada ia yang gemar menghardik, ketahuilah, dengarkanlah sebuah lirik Bob Dylan; “Money doen’t talk; it swears,” kalau boleh sedikit bersenandung untuknya.

Simak juga beberapa opini terpilih lainnya:

  1. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  2. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  3. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  4. Filosofi Gob; 10 Oktober 2011;
  5. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  6. Peradaban Tanpa Tulisan; 25 Februari 2016;
  7. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  8. Para Penyebar Kebohongan; 13 November 2016;
  9. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
  10. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  11. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017
  12. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  13. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  14. Eksploitasi Sumber Daya Alam Apakah Bagus Untuk Aceh; 15 Oktober 2017;
  15. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

AKHIR ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

AKHIR ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Setiap kisah, setiap cerita, setiap hidup pasti memiliki akhir. Begitupun sebuah legenda, kisah, maupun petualangan bahwa (pernah) ada perlindungan terakhir dari yang putus asa, yang tak dicintai, yang teraniaya, saat hidup menjadi terlalu asing, terlalu mustahil, terlalu menakutkan. Ketika dalam kegagalan, ada beberapa orang yang duduk berdebat dalam lepau nasi yang berantakan seperti mereka selalu ada disana, dan mereka akan selalu disana. Para Assosiasi Budjang Lapok berakhir dan waktu mereka itu telah berlalu.

XXX

Petualangan terakhir sebelum secara resmi dibubarkan Assosiasi Budjang Lapok ke Pulau Bunta.

Kisah ini bermula terjadinya di Bandar, ibu kota Kesultanan Darussalam pada masa pemerintahan Sultanah Sofia, pada masa pemerintahan beliau Kesultanan Darussalam berada dalam ketentraman, kemakmuran dan kedamaian. Tidak seperti ayah dan suaminya yang gila perang, para sultan memerintah terlebih dahulu sebelumnya dipenuhi dengan ekspedisi militer dan penaklukkan ke negeri-negeri selat Sultanah Sofia lebih memilih hidup damai.

Mewarisi wilayah yang luas dan kekayaan sumber daya yang melimpah Sultanah Sofia memilih mengembangkan kesejahteraan rakyat, dengan antara lain membangun madrasah-madrasah, sejumlah ilmuan terkemuka diundang ke Bandar, irigasi dibangun di sawah-sawah kampung, kapal-kapal saudagar Kesultanan Darussalam disokong untuk mengembangkan perdagangan ke suluruh Nusantara. Masa pemerintahan Sultanah dikenang sebagai masa-masa paling nyaman oleh penduduk Kesultanan Darussalam sepanjang masa.

Pada tahun 20 dari 34 tahun masa pemerintahan Sultanah Sofia sebagaimana pernah dicatat sejarah, timbul masalah lain. Akibat masa-masa penuh semangat oleh para Sultan sebelum Sultanah Sofia, Negara Darussalam melahirkan lebih banyak anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 dibanding 2. Jika pada masa-masa sebelumnya masalah itu diatasi dengan wajib militer dan pengiriman anak muda dalam kancah peperangan, namun dalam masa-masa kedamaian ini membuat terjadinya ketimpangan penduduk yang sangat terasa. Mahar pernikahan di Bandar menjadi naik, para perempuannya menjadi sangat pemilih akan jodohnya. Ada pameo yang berlaku di Nusantara, para perempuan dari Kesultanan Darussalam adalah yang paling mahal harganya, harga dirinya. Maka terjadilah sebuah fenomena sosial di Kesultanan Darussalam, terutama di ibukota Bandar semakin banyak bujangan yang tak menikah akibat kerasnya persaingan mendapatkan jodoh.

Berangkat dari keadaan masyarakat seperti ini, dua orang penjaga gudang beras Kesultanan yaitu Barbarossa dan Mister Big ketika itu berinisiatif membuat sebuah organisasi yang mewadahi para bujang lapok di Bandar. Kemudian disusul oleh:

  1. Rekrutan pertama adalah Laksamana Chen, seorang keturunan pelaut dari Tionghoa yang lucunya sangat takut berlayar;
  2. Disusul Tabib Pong, seorang siswa sekolah pertabiban kerajaaan;
  3. Lalu Tuan Takur sebagai putra raja kecil di Barat Daya Bandar yang menguasai 52 ekar perkebunan lada;
  4. Taklupa Amish Khan seorang syahbandar di wilayah pedagangan pecinan, kawasan perdagangan paling sibuk di Bandar;
  5. Professor Gahul lulusan perguruan tinggi Siliwangi, mengajar di Madrasah Tinggi Kesultanan;
  6. Mas Jaim seorang pemimpin madrasah anak usia dini;
  7. Sebagai pelengkap Penyair yang baru pulang dari perantauan ke negeri Samudera, sekitar 5 hari berkuda dari Bandar selaku penulis cerita. Dan jika kemudian ada tokoh-tokoh yang muncul belakangan sebagai anggota bintang tamu dalam organisasi ini.

Kisah itu terjadi tujuh tahun lampau, kini semuanya telah menikah dengan pengecualian Tabib Pong. Seorang yang paling tampan, paling berbakat dan paling gemilang diantara semua anggota ABL yang ironisnya menjadi yang terakhir.

XXX

Waktu adalah hakikat yang mana Tuhan (pernah) bersumpah atas namanya. Tapi bagi para pesakitan, waktu adalah musuh mereka yang mereka tipu saban hari dengan harapan. Dibalik jeruji yang dingin waktu tak pernah terkalahkan, Tabib Pong menghitung mundur bahwa ia semakin terdesak, satu persatu anggota ABL telah menikah dan menyisakan dia seorang diri.

Menikah ternyata tak semudah seperti yang didengung-dengungkan, tak segampang nasehat para tengku, menikah adalah pilihan sekali seumur hidup dan tak boleh berulang, ia tak ingin bergegas, tak ingin terburu dan ditaklukkan waktu. Ia “berambisi” menemukan sebuah cinta sejati, yang mungkin murni, sebagai langkah menapak dalam menggenapi setengah agama.

Kehilangan, mungkin ia adalah orang yang paling memahami arti kehilangan. Merasa kehilangan cinta, harapan. Aku melihat dia bagai seorang prajurit Germania yang berkali-kali memberontak Romawi penuh dengan luka-luka yang coba disembunyikan dalam baju zirahnya yang berkilau dan pedang menyandang pedang baja yang dasyat itu.

XXX

“Teman-teman aku akan menikah!”

“Selamat!” Masing-masing anggota ABL menyalami Tabib Pong.

Mereka kembali meneguk minuman dan seolah tak terjadi apa-apa. Biasa-biasa saja. Diam-diam ia merasa kecewa kepada teman-temannya, mereka-mereka yang selama ini telah dianggap sebagai saudara-saudaranya sendiri. Mereka telah jauh menua setelah menikah, lihatlah Barbarossa sudah banyak kehilangan rambut di kepalanya tapi merasa masih tetap muda. Atau Laksamana Chen yang semakin membesar dan malas bergerak untuk keluar ke lepau nasi. Bahkan Penyair telah beruban dan tak kunjung melahirkan pantun-pantun jenaka seperti dulu. Ia merasa kehilangan.

Ia merasa kisah ini mungkin memang harus selesai, bukan karena semata-mata ia akan menikah dengan pilihan hatinya, akan tetapi secara semangat ABL tidak bisa digerakkan lagi. Semakin tua, setiap orang memiliki masalah-masalah tersendiri, semakin sedikit berbagi masalah hidup, semua harus dipecahkan sendiri. Sejenis kode etik untuk tidak saling membebani, sungguh dunia orang dewasa yang betapa menyebalkan pikirnya.

Seandainya saja, ia membayangkan masa lalu yang penuh canda tawa. Ia merenung dan mengenang bagaimana hebat organisasi ini dulunya, membuat kepalanya tegak berdiri dari dulunya miring ke kiri atau ke kanan. Kini semua hilang, sehingga tak terlalu peduli ketika Penyair bertanya. “Bagaimana perasaan menikah?”

“Yang jelas sudah menambah tujuan hidup sedikit.” Jawabnya sekenanya, kecewa dengan perhatian sejawat yang menurut dia sekenanya.

XXX

Benarkah begitu?

Ketika dijumpai oleh Penyair untuk memberikan pendapat Barbarossa tertawa jahil, ia merasa senang, terang saja dia paling memperlihatkan diri berbahagia akan pernikahan Tabib Pong, dengan sumringah ia tertawa, “Kalau aku ya udah menduga dia akan kawin, udah muncul sifat kebapakan sebelum menikah, udah sering membawa keponakan.”

Kemudian Barbarossa menjadi sedikit serius dan berbisik pelan, “keputusan menikah ini adalah salah satu keputusan terbesar yang pernah dia buat.”

Memangnya menikah urusan kecil? Rasanya ingin melempar asbak ke muka Barbarossa sialan ini.

“Dia biasanya melarikan diri jika diajak menikah, mungkin kali ini dia menemukan orang yang benar-benar tepat.”

Mungkin, akh, minyak jelantah kali Barbarossa ini.

“Sebenarnya ada kesan lain, Cuma aku tak mau berbagi pada kamu Penyair, ini adalah sangat pribadi, hanya aku dan Tabib Pong saja yang cukup tahu.” Ia tertawa girang dan merasa menang.

Kampret manusia (Batman) kau Barbarossa!

XXX

Ketika ditanyai Mas Jaim menjawab, “Tidak tau juga aku Penyair.”

Mas Jaim, kamu keterlaluan.

XXX

“Tidak ada. Aku jarang berkesan dengan dia.” Jawab Laksamana Chen.

Bukan itu alasannya, penyakit terbesar dari seorang Laksamana Chen adalah malas berpikir, ia memiliki banyak kesan pada Tabib Pong, tapi ia malas mengingat-ingat. Buah Keras! Ampas buah kau Laksamana Chen!

XXX

Ingin rasanya Barbarossa mengunyah daging Kakek Kura-Kura, dibuat sup dengan wortel rebus karena kusir paruh waktu itu memberitahukan bahwa kereta kuda yang mereka akan sewa menuju negeri Samudera tidak ada dikarenakan penyewa sebelumnya belum mengembalikan ke pangkalan.

“Harusnya kita akan berangkat malam ini, akibat kelambananmu memberi kabar, kita bisa terlambat pergi ke pernikahan Tabib Pong. Kau pikir negeri Samudera dekat apa? Aku tidak mau tahu segera kau cari pengganti!”

Pelan tapi pasti Kakek Kura-Kura beringsut. Ketiadaan kereta kuda membuat situasi ABL menjadi krisis sebab jika malam ini jika mereka tidak berangkat maka mereka akan terlambat menghadiri pernikahan Tabib Pong. Maka, mereka harus segera mendapatkan kereta kuda apapun yang terjadi.

Mister Big berbisik, “kita harus datang apapun yang terjadi, bagaimana pun Cuma kita anggota ABL yang bisa datang, yang lain berhalangan.”

“Tenang, Amish Khan sudah berangkat sehari yang lalu.”

Mister Big memonyongkan bibir.

“Tapi jika Kakek Kura-Kura tidak mendapatkan kereta kuda segera, kita ganti namanya menjadi Kakek Babi!” Barbarossa kesal dan memukul meja.

Kurang lebih dua kali sepenanakan nasi, Kakek Kura-Kura datang membawa sebuah kereta kuda, kondisinya tidak terlalu bagus tapi bolehlah.

“Darimana dapat kereta kuda ini?” Tanya Barbarossa.

“Aku pinjam dari kawanku.”

“Ayo kita berangkat!” Membawa buntalan pakaian Mister Big meloncat kedalam kereta kuda disusul oleh Barbarossa. Maka dengan segera Kakek Kura-Kura memacu kereta dengan kekuatan penuh dua kuda. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari Kakek Kura-Kura sangat lambat, tapi dalam memacu kuda ia sangat kencang. Tangannya sangat ahli menggunakan cemeti, kocokan dan kecepatannya setara. Perut Barbarossa dan Mister Big menjadi kembung masuk angin akibat kegoncangan sepanjang perjalanan. Desas-desus beredar di kemudian hari Barbarossa dan Mister Big dalam perjalanan terkentut-kentut dan membawa ampasnya.

XXX

Beberapa hari kemudian, sementara itu di bagian dunia yang lain, di Samudera, Tabib Pong merasa gelisah ketika merpati membawa pesan bahwa Penyair tidak dapat hadir ke akad nikahnya dikarenakan istrinya sakit dan tidak bisa ditinggal. Sementara itu beberapa kali ia menanyakan kepada Laksamana Chen apakah bisa ikut, namun ia kecewa karena Laksamana Chen mohon maaf tidak bisa ikut karena istrinya baru melahirkan anak kedua. Menurut kabar dari merpati pos pula, anggota ABL yang akan datang hanya Barbarossa dan Mister Big, yang ia tahu benar adalah yang paling buruk reputasi kedisplinan di ABL. Akankah mereka datang tepat waktu?

Jantungnya berdegap karena banyak alasan, akankah ia menikah di negeri orang sendirian? Dan siapakah yang mengangkat talam-talam hantaran ini? Rombongan Tabib Pong yang telah terlebih dahulu datang adalah orang-orang tua, wanita dan bangsawan kerajaan yang tidak mungkin diharapkan untuk pekerjaan fisik. Seperti musim, hati Tabib Pong seperti kemarau.

Umbul-umbul pernikahan telah dipasang di kiri-kanan jalan menuju rumah pengantin Tabib Pong. Masyarakat berduyun-duyun ingin menyaksikan acara pernikahan yang istimewa ini. Tiba-tiba dari arah Barat sebuah kereta kuda meluncur dengan gemuruh, orang-orang menengok, dan turunlah dua orang cengar-cengir dari Kura-Kura Ekspress, mereka adalah Barbarossa dan Mister Big. Tabib Pong tertawa bahagia, hatinya menjadi musim semi. Ia memeluk mereka berdua, sesaat ia mencium bau tidak enak.

“Maaf, kami berak di celana.” Kata Mister Big malu-malu.

“Lekas kalian mandi di masjid, cepat acara akan segera di mulai!”

Sambil membawa buntalan pakaian Barbarossa dan Mister Big berlari ke kamar mandi masjid, Tak lama kemudian Amish Khan datang pula, anaknya yang dibawa agak rewel sepanjang perjalanan sehingga ia agak terlambat.

Jika ini adalah pertempuran, maka sekarang aku siap pikir Tabib Pong.

Menurut kabar yang dibawa merpati ke Bandar tentang suasana pernikahan Tabib Pong, semuanya berlangsung khidmat dan lancar. Jika ada hal yang menonjol dari acara tersebut, maka itu adalah ketenangan dan kedewasaan Tabib Pong dalam mengucapkan akad. Perkawinan Tabib Pong bak ritual yang penuh perlambang, ketika ia menggenggam tangan istrinya kemudian memasukkan cincin, tampak betul ia seperti seorang pangeran yang berjiwa bangsawan yang sangat halus perasaanya. Indah sekali, pagi itu tak akan mudah dilupakan bagi siapapun yang hadir disitu.

Oh, mengenai talam-talam hantaran. Assosiasi tidak salah mengirim dua utusan mereka yang paling tangguh, dua orang penjaga gudang beras kerajaan Barbarossa dan Mister Big benar-benar tak menyisakan satu pun untuk diangkat orang lain, bahkan Amish Khan sampai garuk-garuk kepala menyaksikan bagaimana hebatnya dua orang tersebut masing-masing mengangkat lima belas talam! Bertahun-tahun kemudian di negeri Samudera kita masih dapat mendengar legenda tentang mereka, dibukukan kelak dengan judul al-lawarad al-‘adhim wal al-lahiyat al-hamra’ yang jika dimelayukan berarti “Hikayat Tuan Besar dan Si Janggut Merah”.

XXX

Sang Tabib Pong selaku bujang yang berdiri terakhir.

Sementara itu, seminggu kemudian di Bandar ibukota Kesultanan Darussalam. Setelah istrinya baikan dari sakit, sang Penyair mulai menemukan kejernihan dikepalanya, sedikit. Ia mencoba menulis kesan tentang Tabib Pong.

Malang melintang selama 7 tahun berkawan, mungkin beta tak akan mungkin menjangkau isi hati Tabib Pong. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Quran bahwa yang mampu membaca isi hati hanyalah Allah S.WT. Kita selaku sesama makhluk hanya mampu menduga-duga semata. Menurut beta si Tabib Pong adalah seseorang berbakat, memiliki lingkar kepala yang luas jari-jarinya sehingga sangat pintar, namun ia berbakat sebagai seorang Goalkeeper yang sangat ahli membuang diri. Karena minat dan bakat sebagai penjaga gawang ia jarang menuntaskan sebuah peluang menjadi gol, ia lebih menjaga zona kenyamanan, kotak penalti.

Berbicara tentang perasaan, terhadap Assosiasi dia adalah yang paling peduli, paling berempati terhadap teman-teman yang lain, begitulah yang ia tunjukkan. Sekaligus ia berusaha menahan ketidaksukaannya jika merasa ada yang salah pada teman-teman. Namun disisi lain sebagai yang termuda, mungkin, ia memiliki kemanjaan melebihi keponakan kami, harapannya sedikit berlebihan, jika kita membatalkan janji bertemu di lepau nasi karena hujan deras maka dia akan merajuk satu atau dua hari. Tak apalah, ia memang tidak ada dua, hanya ada satu yang seperti dia, si Tabib Pong.

Merasa kesulitan menyusun kesan terhadap seorang Tabib Pong, Penyair merasa perlu menanyakan pendapat seorang ahli, maka ia bergegas menemui Professor Gahul, seseorang yang berpendidikan tinggi dan pasti memiliki berbagai metode ilmiah menyusun kata-kata yang lebih baik. Professor Gahul sendiri memiliki jadwal yang sangat padat, disela-sela waktu sibuk ia menyempatkan diri menerima Penyair untuk diwawancarai mengenai Tabib Pong.

“Adakah kesan-kesan dari Professor untuk Tabib Pong untuk melengkapi penutup dari serial Assosiasi Budjang Lapok?” Tanya Penyair.

Hmmm, Tabib Pong orangnya menarik dan asyik.” Ia tersenyum ramah.

Penyair berkerut ini, jawaban macam apa ini? Seperti kue apam, dimana-mana sama bentuknya, atas putih bawah hitam.

“Beta mohon didetilkan prof? Itu sebuah jawaban sangat datar, ini bukan pertanyaan yang harus dijawab berdasarkan teori-teori baku.”

“Iya, sebenarnya itu adalah ungkapan yang detil, dia easy going juga.” Sesaat dia berpikir kemudian menambahkan. “Modern, cara berpikirnya sangat aku kagumi. Ia mampu menerima persepsi mana saja, nice dan bijak.”

Modern, nice dan bijak. Kalau tabiat Tabib Pong sebegitu mantapnya kenapa tidak kita jadikan Sultan saja sekalian? Pikir Penyair.

“Kekurangannya apa? Kok yang Professor berikan kelebihan semua? Itu tidak memuaskan Beta.” Protes Penyair.

Hmmm, kekurangannya mungkin adalah bangun siang.” Tandas Professor Gahul.

“Jika itu kekurangan, Sultanah Sofia juga kabarnya sering bangun siang, yang khas dong, sesuatu yang hanya ditemukan pada dirinya tidak pada orang lain.”

Sambil cekikikan Professor Gahul menambahkan, “dia nakal juga.”

Anak-anak Madrasah seingat beta hanya hitungan jari dari seribu yang tak nakal. Menyerah dengan pertanyaan karakter, lalu Penyair menanyakan tentang harapan Professor Gahul pada pernikahan Tabib Pong.

“Harapannya semoga bisa lebih tertata hidupnya kedepan.”

Muka Beta cemberut. Professor Gahul tertawa riang. “Tidak jelas ya komentarku. Begini Penyair, Tabib Pong itu orangnya baik kok. Aku tidak banyak komentar tentangnya karena dia adalah seorang yang tidak ribet. Harapannya paling agar dia sukses di dunia pertabiban. Kalau masalah ada kekurangan, aku rasa wajar-wajar saja mengingat umur sepantaran kita ini masih tahap trial dan error, tidak ada yang spesific.”

Beta terdiam, tidak paham. Tapi menunjukkan wajah mengerti kemudian pamit, sepulang dari Madrasah Tinggi Kesultanan Beta langsung berbelok mampir ke toko kitab sebelum pulang ke rumah.

“Bapak penjual kitab, saya beli kamus bahasa Melayu – Inggris edisi yang paling lengkap satu!” Easy going, Modern, nice, specific, trial dan error. Beta penasaran apa pula artinya?

“Bapak penjual kitab adakah kamus itu yang bergambar?”

XXX

Harusnya ada perpisahan yang epik dari Assosiasi Budjang Lapok, rasanya tak adil bagaimana narasi yang telah dibangun bertahun-tahun dengan gemilang harus menerima perpisahan yang dingin, beberapa fragmen yang tak mampu menjelaskan seluruh tahun-tahun yang telah berlalu. Tapi mungkin memang sebuah zaman telah berlalu, Assosiasi Budjang Lapok beberapa kali mengalami senja sampai akhirnya benar-benar padam dan berakhir.

Ketika semuanya telah berakhir, yang bisa kita lalukan hanyalah pasrah dan (mencoba) tak menyerah.

TAMAT

Catatan Penulis:

Ketika Tabib Pong akhirnya menikah maka berakhirlah serial petualangan Assosiasi Budjang Lapok. Untuk ini selaku penulis beta mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak antara lain :

  1. Allah S.W.T;
  2. Nabi Muhammad S.A.W beserta para sahabat dan para ulama yang menjadi pewaris beliau;
  3. Para pembaca setia yang telah mengikuti serial ini dari awal sampai akhir, tanpa kalian yang membaca kisah ini maka kisah ini hanyalah sampah di dunia maya, tak ada artinya sama sekali;
  4. Para istri anggota Assosiasi Budjang Lapok yang sangat berperan mempercepat kematian organisasi ini dimana setiap orang menerima pinangan para anggota ABL maka semakin dekat organisasi ini kepada mautnya;
  5. Para Anggota Assosiasi Budjang Lapok yang tak henti-hentinya menginspirasi cerita ini, terutama kepada Tabib Pong yang mana jika ia tidak telat menikah maka cerita ini akan lebih awal selesai dua atau tiga tahun yang lalu.

Salam hormat dan penuh cinta teruntuk kalian semua, tertanda, Penyair.

XXX

KATALOG SERIAL ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments