TELATAH YANG PATAH-PATAH

TELATAH YANG PATAH-PATAH

Masihkah engkau mengingat ketika pertama kali paru-paru isi oleh udara, ketika rahman1) dan rahim2) mengantarkan kau menuju gharib3), dari perantah sampai telatah yang patah-patah, sudahkah engkau kenali jalan yang membetuli insan4) wahai arif budiman?

Selalu hidup adalah hasrat, atau ia menghimbau selayaknya fajar, tiap kali didatangi, ia fana, namun disanalah waktu ditetapkan. Shubuh datang, maghrib menjelang kemudian shubuh lagi, tapi repetisi itu tak terasa rutin, tiap menit, tiap jam, dan tiap hari. Harapan akan dunia ini selalu berisi ketegangan, antara amarah atau cita-cita, kemungkinan dan kematian, kekalahan atau kemenangan, nostagia bahkan sulitnya keinginan.

Langkah-langkah hidup penuh onak menuju makrifat

Langkah-langkah hidup penuh onak menuju makrifat

Pada tubir ini, diantara hutan ataupun pantai. Beta berjalan mendaki, dan tak sadar menikmati sentuhan tenah yang keras di telapak kaki, menghirup bau perdu dan pohon-pohon disekeliling. Beta tak sengaja memandangi sepucuk sajaratun5), di depan mata, ia seakan-akan berubah menjadi lambang aljabar6), perjuangan kami, kehilangan kami telah terhitung laba ruginya. Akh, pada saat itu jua, Beta merasa direnggutkan dari sajaratun itu, dan sebagai penganti tampak sebuah lobang melompong kemana rasa marah dan sakit mengalir, masuk.

Bisakah si fakir mengharap makrifat7)? Bila hati dipenuhi maksiat. Harap cemas ibadah digantikan nikmat dunia. Oh, Beta bepergian selayaknya orang-orang, tapi pulang ke sebuah tempat yang tiada. Ibarat hati terombang-ambing, antara kekasih dan nikmat duniawi. Kebimbangan, ketakutan mengungkapkan rasa sedih mengiris. Di tempat ini yang justru tak berarti, tempat yang tak hadir tapi Beta bentangkan setiap hari, mungkinkah Beta menjumpai engkau kekasih sebagai muhlisin?

Beta telah kehilangan segalanya, segalanya pada pusaran mahbub9), perjalanan malam menggunakan suluh cahaya, penuh seluruh harap markab10) ini berlabuh ke Bandar tauhid menuju makrifat, agar supaya dapat bertemu sang kekasih.

Bait al-Hikmah, 4 Rabbiul Akhir 1440 Hijriah (Bertepatan 11 Desember 2018)

Daftar Istilah:

  1. Rahman = Maha Pengasih;
  2. Rahim = Maha Penyayang;
  3. Gharib = Asing/Dagang (Dunia adalah tempat yang asing bagi manusia);
  4. Insan = Manusia;
  5. Sajaratun = Sejarah/Pohon;
  6. Aljabar = Matematika Arab (Cikal bakal Aritmatika);
  7. Makrifat = Pengetahuan yang diperoleh mengetahui akal;
  8. Muhlisin = Orang yang ikhlas;
  9. Mahbub = Lautan dan gelombang;
  10. Markab = Perahu

Advertisements
Advertisements
Posted in Kolom, Literature, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH

Spesifikasi Arca kepala Budha Alalokiteswara yang ditemukan di Aceh. Komponen: Batu Andesit; Lokasi: Aceh, Sumatera, Indonesia; Perkiraan Abad ke 9-10 Masehi. Koleksi Museum Nasional Indonesia, Nomor Inventaris. 248.

PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH

ACEH YANG BERNAFASKAN SYARIAT ISLAM

Aceh adalah sebuah provinsi di Indonesia yang beribukota Banda Aceh. Aceh terletak di ujung utara pulau Sumatera dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Jumlah penduduk provinsi ini sekitar 4.500.000 jiwa. Letaknya dekat dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India dan terpisahkan oleh Laut Andaman. Aceh berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan. Aceh adalah tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Pada awal abad ke-17, Kesultanan Aceh adalah negara terkaya, terkuat, dan termakmur di kawasan Selat Malaka. Sejarah Aceh diwarnai oleh kebebasan politik dan penolakan keras terhadap kendali orang asing, termasuk bekas penjajah Belanda dan pemerintah Indonesia. Jika dibandingkan dengan dengan provinsi lainnya, Aceh adalah wilayah yang sangat menjunjung tinggi nilai Islam. Persentase penduduk Muslimnya adalah yang tertinggi di Indonesia dan mereka hidup sesuai syariah Islam. Berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, Aceh memiliki otonomi khusus yang diatur tersendiri karena alasan sejarah.

Masjid Raya Baiturrahman zaman Kolonial Belanda

Sejak dahulu Aceh dikenal sebagai wilayah menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Foto: Masjid Raya Baiturrahman zaman Kolonial Belanda

Sebagaimana daerah lain di kepulauan Nusantara, Aceh juga pernah mengalami masa berkembangnya agama Hindu dan Buddha yang datang dari daratan benua Asia Selatan (India). Pada masa itu di Aceh telah diwarnai dengan adanya beberapa kerajaan-kerajaan yang berdasarkan agama tersebut misalnya Kerajaan Indrapuri, Kerajaan Indrapatra dan Kerajaan Indrapurwa semuanya di Aceh Besar yang menganut kepercayaan Hindu dan dipengaruhi oleh India. Selain itu, Aceh juga dulu termasuk bagian dari kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang pernah berjaya di Nusantara ribuan tahun lalu seperti Sriwijaya.

PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH

Lepala arca Budha Alalokiteswara yang ditemukan di Aceh, kawasan Prada/lingke kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.

Spesifikasi Arca kepala Budha Alalokiteswara yang ditemukan di Aceh. Komponen: Batu Andesit; Lokasi: Aceh, Sumatera, Indonesia; Perkiraan Abad ke 9-10 Masehi. Koleksi Museum Nasional Indonesia, Nomor Inventaris. 248.

Arca Alalokiteswara1) ini ditemukan tidak dalam keadaan utuh oleh Kolonial Belanda pada tahun 1930-an di seputaran kawasan Prada/Lingke di Koetaradja (Banda Aceh) sekarang. Secara keseluruhan patung Budha ini diperkirakan memiliki tinggi 135-140 cm. Kepala arca ini cukup istimewa dibandingkan arca Budha lainnya yang ditemukan di Nusantara, karena terdapat tiga buah figurin Amitabha pada tatanan rambutnya yang terletak di sisi kanan, kiri dan depan. Figurin Amitabha tersebut digambarkan sedang duduk dalam sebuah relung dengan sikap padmasana2) di atas tatanan bunga padma3), sikap tangannya dhyanamudra4). Bentuk tiga buah figurin Amitabha pada sebuah mahkota Awalokiteswara belum pernah ditemukan di tempat lain di seluruh dunia. Biasanya hanya terdapat sebuah figurin Amitabha di mahkota bagian depan Awalokiteswara.

Wajah arca Budha Awalokiteswara yang ditemukan di Aceh ini terlihat tirus, tidak bulat sebagaimana ditemukan di Jawa Tengah. Kemudian ceplok bunga yang detailnya berbeda dengan hiasan mahkota pada arca-arca di Jawa Tengah. Gaya tatanan rambut arca ini mirip dengan arca-arca Awalokiteswara yang ditemukan di Siam (Thailand) pada masa abad 9-10 Masehi. Arca ini tidak mirip dengan arca-arca yang pernah dibuat oleh dinasti Sailendra. Bambang Budi Utomo dalam Treasures of Sumatra menduga arca ini ditidak dibuat oleh penduduk setempat, tetapi diimpor dari tempat lain.

Sebaliknya penulis menduga arca ini dibuat di Aceh, oleh orang-orang, dan bahan-bahan lokal. Dugaan ini berdasarkan jenis batu andesit yang digunakan sangat mirip dengan makam-makam raja-raja Islam kerajaan Lamuri, bahkan pola ukiran bunga pada kepala arca mirip dengan gaya nisan Lamuri Islam. Batu nisan Kesultanan Lamuri terbuat dari batu sungai (andesit) yang sangat keras dan kasar, sedangkan tipikal nisan dari Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh terbuat dari batu halus dari pengunungan.

Kesamaan pola, gaya ukir bahkan bahan baku ini bisa disaksikan pada gambar dibawah dimana nisan makam Lamuri Islam terletak di sebelah kanan.

Tim tengkuputeh berpose di Musem Aceh

Nisan sebelah kanan adalah batu halus dari pengunungan yang kerap ditemukan pada makam-makam Kesultanan Aceh Darussalam dan Samudera Pasai, sedangkan nisan disebelah kiri adalah batu sungai (andesit) yang hanya ditemukan pada makam-makam dari Kesultanan Lamuri.

(Baca juga: Mengunjungi pameran batu nisan Aceh sebagai warisan budaya Islam di Asia Tenggara)

Video terkait :

Atas dasar perbandingan tersebut maka penulis menduga bahwa arca  Awalokiteswara dibuat oleh ahli-ahli pahat batu dari Kerajaan Lamuri atas perintah Maharaja Po Liang, raja Lamuri pertama yang memeluk agama Budha yang datang dari negeri Langkasuka5) 

Maharani Putro Budian menikah dengan Maharaja Po Liang, yaitu seorang bangsawan dari Indocina  yang datang ke Aceh bersama rombongannya karena negerinya diserang musuh yang lebih kuat. Beliau mencari tanah air sambil mengembangkan agama Budha mazhab Hinayana sekte Mantrayana. Setelah menikahi Ratu Mante itu beliau berhasil mem-budha-kan Lamuri (Aceh), dan akhirnya beliau diangkat sebagai Raja Lamuri yang pertama.

AWAL MULA KERAJAAN LAMURI BUDHA MENJADI KESULTANAN LAMURI KEMUDIAN MENJADI KESULTANAN ACEH

Berdasarkan sumber-sumber berita dari pedagang Arab, Kerajaan Lamuri telah ada sejak pertengahan abad ke-9 M. Artinya, kesultanan ini telah berdiri sejak sekitar tahun 900-an Masehi. Pada awal abad ini, Kerajaan Sriwijaya telah menjadi sebuah kerajaan yang menguasai dan memiliki banyak daerah taklukan. Pada tahun 943 M, Kesultanan Lamuri tunduk di bawah kekuasaan Sriwijaya. Meski di bawah kekuasaan Sriwijaya, Kesultanan Lamuri tetap mendapatkan haknya sebagai kerajaan Islam yang berdaulat. Hanya saja, kesultanan ini memiliki kewajiban untuk mempersembahkan upeti, memberikan bantuan jika diperlukan, dan juga datang melapor ke Sriwijaya jika memang diperlukan.

Benteng Indrapatra peninggalan dari Kesultanan Lamuri yang masih tersisa di wilayah Krueng Raya, Aceh Besar.

Menurut Teuku Iskandar dalam disertasinya De Hikayat Atjeh (1958), diperkirakan bahwa kesultanan ini berada di tepi laut (pantai), tepatnya berada di dekat Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. H. M. Zainuddin, dalam Tarikh Aceh dan Nusantara menyebutkan bahwa kerajaan ini terletak di Aceh Besar dekat dengan Indrapatra, yang kini berada di Kampung Lamnga.

(Baca juga : Sejarah Kerajaan Lamuri)

Dalam perkembangan selanjutnya, tepatnya pada tahun 1513 M, Kerajaan Lamuri beserta dengan Kerajaan Pase, Daya, Lingga, Pedir (Pidie), Perlak, Benua Tamiang, dan Samudera Pasai bersatu menjadi Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M). Jadi, bisa dikatakan bahwa Kesultanan Lamuri merupakan bagian dari cikal bakal berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam. Perubahan nama dari Lamuri menjadi Aceh belum dapat dipastikan bagaimana proses terjadinya. Dalam Tarikh Kedah (Marong Mahawangsa) tahun 1220 M (517 H), nama Aceh sudah disebutkan sebagai satu negeri di pesisir pulau Perca (Pulau Sumatera). Orang Portugis Barbosa (1516 M / 922 H) sebagai orang Eropa pertama yang menyebut nama Achem dan buku-buku Tionghoa (1618 M) menyebutkan Aceh dengan nama A-Tse.

KEADAAN ACEH SEBELUM ISLAM

H.M Zainuddin dalam mahakarya “Tarikh Aceh dan Nusantara” berdasarkan sumber-sumber primer mencatat bahwa jauh sebelum Islam masuk ke Aceh diperintah oleh Kerajaan Mante yang berpusat di Seumileuk (Seputaran antara Seulimuem dan Jantho sekarang). Kata-kata Mante berasal dari Mantenia atau Mantinea yaitu suatu kota di Yunani, dimana penduduknya disebut Mantinean. Pada abad ke 14 Sebelum Masehi (dan seterusnya selama kurang lebih 3 abad) mereka melakukan perpindahan penduduk kedaerah panas di Selatan. Mereka datang ke Yunani semula mereka mendiami pulau Kreta bagian Selatan yaitu Thessalia, menamakan suku mereka Achaea. Pada abad ke 12 Sebelum Masehi mereka diusir oleh suku Doris, lalu mereka berpindah, sebagian kedaerah Peloponnesus Utara, sebagian ke Asia Kecil (Turki), dan sebagian yang lain ke Asia tengah (lembah Kaukasus)

TARICH ATJEH DAN NUSANTARA; oleh H.M. Zainuddin;

TARICH ATJEH DAN NUSANTARA; oleh H.M. Zainuddin;

Mereka yang pindah ke lembah Kaukasus itu kemudian mengembara kearah Timur melalui Chaibar Pas (jurang antara dua gunung diperbatasan Afganistan dan India) mereka sampai di India Utara, dan berasimilasi dengan penduduk disana. Kemudian mereka meneruskan pengembaraan kearah Timur sampai ke Tennosering diperbatasan Burma dengan Siam, mereka berasimilasi lagi dengan bangsa Man Khemer, yaitu leluhur bangsa Kamboja dan Campa.

Kemudian mereka meneruskan pengembaraan ke Selatan dengan menyebrangi Selat Malaka. Mereka sampai ke Pulau Perca (Sumatera), dan membuat kerajaan Mante dengan berpusat di Seumileuk.

(Baca juga : Hikayat Suku Mante)

Adapun raja-raja dari dinasti Mante yang menjadi penguasa dan memerintah di lembah Aceh Besar itu tidak seluruhnya diketahui. Menurut catatan yang masih ada kita mengenal raja yang bernama “Maharaja Po Tuah Meuri”. Adapun raja-raja sebelumnya tidak dapat diketahui. Setelah Maharaja Po Tuan Meuri memerintah anak cucunya menurut garis lurus sambung menyambung yaitu : Maharaja Ok Meugumbak, Maharaja Jagat, Maharaja Dumet, Maharani Putro Budian. Sampai disini berakhirlah dinasti Mante tersebut. Dan sejarah berhenti mencatat dinasti suku Mante.

KERAJAAN LAMURI MASA BUDHA SAMPAI KESULTANAN LAMURI ISLAM

Maharani Putro Budian menikah dengan Maharaja Po Liang, yaitu seorang bangsawan Langkasuka dari Indocina yang datang ke Aceh bersama rombongannya karena negerinya diserang musuh yang lebih kuat. Beliau mencari tanah air sambil mengembangkan agama Budha mazhab Hinayana sekte Mantrayana. Setelah menikahi Ratu Mante itu beliau berhasil membudhakan Aceh, dan akhirnya beliau diangkat sebagai Raja Lamuri yang pertama.

Adapun dinasti Po Liang yang memerintah kerajaan Aceh Lamuri itu menurut catatan Dada Meuraksa adalah sebagai berikut :

  1. Maharaja Po Liang. Raja Lamuri Budha I.
  2. Maharaja Beuransah. Raja Lamuri Budha II. (Anak nomor 1).
  3. Maharaja Beureuman. Raja Lamuri Budha III. (Anak nomor 2).
  4. Maharaja Binsih. Raja Lamuri Budha IV. (Anak nomor 3).
  5. Maharaja Lam Teuba, Raja Lamuri Islam I, mahzab syi’ah. Beliau adalah raja yang termasyur karena keberaniannya, keadilannya, kecerdasannya, dan terutama karena menyambut Islam yang dibawa dan didakwahkan kepadanya oleh seorang Sayid keturunan Rasulullah s.a.w. (754 M).
  6. Maharaja Gading. Islam Syiah ke II (786 M). Anak no.5 dan cucu no.4.
  7. Maharaja Banda Chairullah. Islam Syiah ke III (822 M). Anak no.6.
  8. Maharaja Cut Samah. Islam Syiah ke IV (870 M). Anak no.7.
  9. Maharaja Cut Madin. Islam Syiah ke V (916 M). Anak no.8.
  10. Maharaja Cut Malim. Islam Syiah ke VI (963 M). Anak no.9.
  11. Maharaja Cut Seudang. Islam Syiah ke VII (1034 M). Anak no.10.
  12. Maharaja Cut Samlako. Islam Syiah ke VIII (1082 M). Anak no.11.
  13. Maharaja Cut Ujo. Islam Syiah ke IX (1113 M). Anak no.12.
  14. Maharaja Cut Wali. Islam Syiah ke X (1144 M). Anak no.13.
  15. Maharaja Cut Ubit. Islam Syiah ke XI (1171 M). Anak no.13 dan adik no.14.
  16. Maharaja Cut Dhiet. Islam Syiah ke XII (1185 M). Anak no.15.
  17. Maharaja Cut Umbak. Islam Syiah ke XIII (1201 M). Anak no.16.
  18. Maharani Putro Ti Seuno. Islam Syiah ke XIV (1235 M). Anak no.17.

Sampai disini berakhirlah kerajaan Lamuri dinasti Po Liang, Maharani Putro Ti Seuno menikah dengan Johan Syah, yang kemudian menjadi Sultan Alaidin Johan Syah, Raja Lamuri Islam Ahlussunnah Wal Jamaah ke I (1205-1235 M). Nama raja-raja dinasti Mante dan dinasti Po Liang ini diperoleh Dada Meuraksa dari salinan manuskrip Teuku Raja Muluk Attahasi, seorang keturunan pembesar Aceh di zaman dahulu, demikian pula juga angka-angka tahunnya.

Perubahan agama dari Budha menjadi Islam di Aceh (Lamuri) selain disebabkan faktor internal, juga dikarenakan faktor eksternal yaitu melemahnya kerajaan Sriwijaya akibat serangan dari Kerajaan Cola (India) sebagaimana tercatat pada sebuah prasasti Rajendracola di Thanjavur yang berangka tahun 1030-1031 Masehi. “… sejumlah besar kapal ke tengah laut bergelombang besar dan mengalahkan Sangranawujayottungawarman, raja Kadaram, maka berturut-turut ditaklukkannya, Sriwijaya…”

Sebagaimana dicatat dalam “Sejarah Dinasti Song” pada tahun 1088 Masehi San-fo-ch’I (Sriwijaya) mengirimkan utusan ke China yang melaporkan, “…Meskipun Tan-ma-ling, ling, Ling-ya-ssu-chia, Fo-lo-an, Sin-t’o, Chien-t’o, Chien-pi, dan Lan-wu-li (Lamuri/Aceh) terdapat pada jajahan San-fo-ch’I mereka digambarkan dalam catatan-catatan tersendiri…”

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan pada abad ke-17 Masehi ketika Sultan Aceh beserta para pangeran menerima kunjungan dari delegasi-delegasi dari negara Islam maupun Barat.

Kemerosotan kerajaan Sriwijaya memberikan kesempatan kepada dinasti Alaidin untuk tampil dan memimpin tampuk kekuasaan yang merdeka, kemudian mengubah nama kerajaan Lamuri menjadi Kesultanan Aceh Darussalam dengan Islam sebagai dasar berkehidupan dan bernegara. Sejarah bergulir dan Islam menyebar dari Aceh ke seluruh Nusantara.

Daftar Istilah

  1. Alalokiteswara = Merupakan perwujudan welas asih semua Buddha. Welas asih merupakan pendukung terhadap penghimpunan kebajikan yang luas, yang merupakan salah satu faktor pencapaian Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna.
  2. Padmasana = Berasal dari bahasa Sanskerta terdiri dari dua kata: Padma (bunga teratai) dan Asana (duduk) secara morfologis berarti posisi duduk dalam yoga.
  3. Bunga Padma = Lotus atau teratai merah dalam bahasa Sanskerta disebut Padma sebagai bunga suci dalam ajaran Hindu dan Budha.
  4. Dhyanamudra = Berasal dari bahasa Sanskerta artinya lambang atau segel, merupakan sikap tubuh yang bersifat simbolik atau ritual dalam Hinduisme dan Budhisme.
  5. Langkasuka = Negeri Melayu Kuno (Hindu-Budha) terletak di Semenanjung Melayu, wilayahnya sekarang meliputi Pattani (Thailand) dan Kedah (Malaysia)

Daftar Pustaka

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Aceh diakses 18 November 2018;
  2. Bambang Budi Utomo; Treasures of Sumatra; Penerbit Museum Nasional; tahun 2009:
  3. Dada Meuraksa; Manuskrip milik Teuku Raja Muluk Attahasi:
  4. George Coedes; Asia Tenggara Masa Hindu-Budha; Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) tahun 2010;
  5. M. Zainuddin; Tarich Aceh dan Nusantara; Penerbit Pustaka Iskandar Muda; tahun 1961:
  6. Hikayat Merong Mahawangsa (Negeri Kedah);
  7. Teuku Iskandar; De Hikayat Atjeh; disertasi; tahun 1958:
  8. Sejarah Dinasti Song:

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  2. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  3. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  4. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  5. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  6. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  7. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  8. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  9. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  10. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  11. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  12. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  13. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  14. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  15. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  16. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  17. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  18. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  19. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  20. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  21. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  22. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  23. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  24. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  25. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  26. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  27. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  28. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  29. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  30. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  31. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  32. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  33. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  34. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  35. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  36. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  37. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  38. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  39. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  40. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  41. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  42. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  43. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  44. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  45. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  46. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  47. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  48. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  49. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  50. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  51. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  52. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  53. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  54. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  55. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  56. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  57. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  58. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  59. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Opini, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

AGAR KEPALA DAN HATI TAK TERBENTUR

Setiap keputusan bisa benar atau salah, tapi ingatlah bahwa yang paling berdaulat dalam setiap diri manusia, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia, adalah nurani. Untuk itu, kita harus berusaha agar kepala dan hati tidak terbentur.

AGAR KEPALA DAN HATI TAK TERBENTUR

Gula-gula itu berbentuk seperti kuda, berwarna-warni, krim gula dengan belang-belang hijau, merah dan kuning dengan mainan sado beroda sebagai pegangan. Tahun 1988, seharga lima puluh rupiah gula-gula ini merupakan sebuah kemewahan, dimana bentuk permen yang lebih sederhana masih dapat terbeli dengan harga sepuluh rupiah.

Entah mengapa fragmen-fragmen dari masa lalu tiba-tiba hinggap dikepala. Pagi itu, Abu bermain di pantai Ujong Kalak, dekat lokasi Teuku Umar ditembak pasukan Belanda bermain pasir. Keasyikan bermain, Abu lupa menguburkan sado itu dimana, ketika diajak pulang karena hari akan hujan, Abu panik dan tak menemukan dimana mainan tersebut. Dibonceng pulang bersepeda ke Suak Ribee bersepeda, Abu menitikkan air mata mengingat kehilangan tersebut, beberapa saat kemudian Abu diberikan jajan seratus rupiah. Abu tidak tertarik membeli gula-gula dengan kereta sado yang sama. Akh, mungkin sedari kecil Abu punya kecenderungan fatalis, tidak ingin mengulang sesuatu hal yang sama, apalagi yang menyakitkan sampai dua kali.

Sore hari, selepas Ashar setelah mandi, berbedak dan bersisir rapi Abu yang waktu itu berumur 4 tahun main ke rumah tetangga, kawan Abu. Ayah mereka nelayan membawa pulang ikan pari yang besar, bahkan lebih besar dari Abu (kecil). Kemudian dibakar diatas kayu, kemudian di makan dengan kecap, dicampur tomat dan cabai. Mereka menawarkan kepada Abu, dan Abu hanya menggeleng. Kawan Abu tadi yang berumur 9 tahun menceritakan kepada keluarganya bahwa tadi pagi Abu berlinang air mata pulang dari laut karena kehilangan sado, Abu pasrah diejek. Tapi abang kawan Abu yang berumur 9 tahun, kelas 3 SD menghibur Abu dan menceritakan bahwa ia pernah kehilangan pisau lipat, kita harus dewasa ketika menghadapi kehilangan. Abu diam, teman Abu yang saat itu berumur 6 tahun juga bercerita dia pernah kehilangan karet gelang, dan dia tabah menghadapinya. Jadi Abu harus selow, kehilangan mainan sado bukan akhir dunia.

Waktu itu Abu berpikir betapa hebatnya orang-orang yang sudah berusia 6 atau 9 tahun, mereka lebih dewasa dan tenang. Semoga nanti ketika sudah bersekolah, Abu menjadi orang yang hebat seperti mereka. Akhirnya Abu bersemangat kembali dan makan ikan pari kecap bakar itu dengan semangat, bahkan nambah. Disitu Abu baru tahu, bahwa ikan pari bakar sangat sedap.

Tapi benarkah? Kedewasaan mampu membuat orang selalu tabah akan kehilangan? Abu pikir, yang menangis adalah yang merasa “punya”, berpunya adalah kehilangan, dan yang kehilangan adalah mereka yang berkeinginan atas apa yang dihilangkannya. Dua puluh tiga tahun sesudahnya, Abu pun pernah menitikkan air mata tak henti sepanjang tiga puluh kilometer perjalanan di dalam sebuah minibus. Hukum kehilangan tak mengikat apakah dia tua, muda atau apapun. Pengikatnya adalah rasa “berpunya” yang tiba-tiba diangkat menjadi “hilang”, dan bukankah hidup bukanlah sesuatu yang tetap, konstan dan aman. Sepanjang hidup kita semua harus belajar menerima kehilangan satu persatu. Luka separah apapun dapat disembuhkan, setiap orang memiliki duri dalam hidup, tapi ketika bisa menertawakan nasib buruk yang menimpa kita bisa melawan yang paling menindas, nasib buruk.

Hidup seperti teater, terkadang tak perlu menemukan kebenaran, melainkan menghadapi kesalahan, dan mengatasinya, terkadang dengan sedih, terkadang dengan tertawa, mensyukuri kita masih hidup setidaknya sehari lagi.

Ibu bilang Abu pelupa, terhadap hal-hal yang dekat-dekat. Tapi yang ibu herankan, entah bagaimana caranya Abu bisa mengingat kejadian yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Ketika ditanya Abu hanya mengangkat bahu, tidak tahu juga mengapa.

Sedari kecil Abu berusaha menjadi orang yang bijaksana, tapi bagaimana caranya? Tahun 1996 Abu merasa tahu solusinya. Perbanyak membaca! Maka sejak itu Abu menjadi kutu yang hinggap disetiap perpustakaan yang dapat Abu jangkau. Tahun 2002 ketika lulus SMA Abu mencetak rekor pembaca buku terbanyak disekolah sepanjang masa, sampai direkam dengan handycam untuk diwawancarai, guru perpustakaan waktu itu mengatakan, sampai sepuluh tahun kedepan belum tentu ada lagi orang seperti Abu.

Benarkah membaca membuatmu bijaksana? Mungkin tidak. Ketika membaca banyak buku maka otak akan dilimpahi berbagai informasi, banjir informasi ini belum tentu berguna dalam kehidupan praktis. Cukup wajar bahwa generasi milenial saat itu lebih memilih membaca sesuatu yang praktis, langsung digunakan dan bermanfaat. Sejarah, sastra, filsafat, nyaris tidak ada fungsi dalam kehidupan sehari-hari, sedang waktu yang digunakan untuk membaca tentunya sangat berharga. Saat ini lebih baik jika membuat konten Youtube, jika menarik dan banyak penontonnya, gelontoran rupiah akan menjelang. Tapi membaca tentu juga bukanlah sesuatu yang sia-sia, kita tentu tak lantas bijaksana dengan membaca, tapi sedikit kurang kita mampu menilai suasana, memberikan informasi ketika memberi keputusan yang tiba-tiba dan tak ada tempat bertanya. Untunglah kita sekarang memiliki google!

Ada masa setiap orang harus menarik diri, merenung apa yang telah dan sudah dibuat. Hammurabi sebelum menjadi raja Babylonia yang paling bijak pernah berlari ke padang rumput, merasakan menjadi kambing/domba dengan makan rumput. Ilmu merasakan kerap hadir ketika kita dalam kesunyian. Setiap individu harus belajar memetakan dirinya sendiri, orang-orang boleh membuat analisis, berdiskusi atau bahkan bergunjing di meja kopi tentang karakter seseorang, tapi percayalah jika kamu tidak mengenali diri sendiri maka tidak ada orang lain yang bisa.

Teori seringnya lebih mudah daripada kenyataan, sulitnya adalah sebagaimana dikatakan Jack Finch kepada keponakannya Jean Louise yang sedang marah dan bingung dalam Novel Go Set A Watchman karangan Harper Lee. “… mudah untuk mengenang kembali siapa kita, kemarin, sepuluh tahun yang lalu, tapi sulit melihat siapa diri kita sekarang…”

Hati adalah raja ditubuh manusia dimana otak menjadi perdana menterinya

Setiap keputusan bisa benar atau salah, tapi ingatlah bahwa yang paling berdaulat dalam setiap diri manusia, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia, adalah nurani. Untuk itu, kita harus berusaha agar kepala dan hati tidak terbentur.

Simak (juga) kisah-kisah Petualangan Si Abu lainnya.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA

Nukum Sanany dan Rusli Higuchi, seorang bekas tentara Jepang yang memihak Republik Indonesia dengan bergabung ke Pasukan Meriam Nukum Sanany serta ikut dalam pertempuran Medan Area.

PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA

PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY Sebuah Pasak dari rumah gadang Indonesia Merdeka; sebagaimana diceritakan kepada penulis, B. WIWOHO; Cetakan Pertama; Bulan Bintang Penerbit dan Penyebar Buku-buku; Jakarta, Indonesia; 1985;

Free download buku PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY

Pasukan Meriam Nukum Sanany -1985

PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY Sebuah Pasak dari rumah gadang Indonesia Merdeka; sebagaimana diceritakan kepada penulis, B. WIWOHO; Cetakan Pertama; Bulan Bintang Penerbit dan Penyebar Buku-buku; Jakarta, Indonesia; 1985;

Berita menyerahnya Balatentara Kerajaan Jepang kepada Sekutu pada bulan Agustus 1945, menimbulkan berbagai macam spekulasi di kalangan masyarakat Aceh. Ada yang memperkirakan bahwa tentara Chiang Kai Sek akan masuk ke Aceh menggantikan Jepang, ada yang mengharapkan kembali tentara Belanda, dan ada pula yang langsung mengharapkan kemerdekaan Indonesia. Di tengah suasana ketidak-pastian dan penuh spekulasi itulah pemuda Nukum Sanany tampil dengan tegas dan tegar sebagai prajurit, pejuang kemerdekaan Indonesia, yang bersemboyankan “Merdeka atau Mati”. Dengan bekal pendidikan sekolah teknik, gemblengan semangat nasionalisme yang diperolehnya tatkala aktif sebagai kader bangsa di Pandu Surya Wirawan serta pendidikan Angkatan Laut Jepang di Singapura, Nukum Sanany tampil mengacu darah perjuangan para pemuda di sekitarnya, tampil amat mempesona pada zamannya.

“Nukum Sanany membujuk ayahnya untuk menyumbangkan hasil penjualan cengkeh beliau guna dibelikan senjata-senjata perang untuk dipakai mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bersama rekan-rekan perjuangan menyelami laut, mencari meriam-meriam peninggalan balatentara Jepang dan memperbaikinya kembali. Ia membina sebuah pasukan meriam dan memuntahkan peluru-peluru meriam mereka di arena Perang Kemerdekaan I dan II.”

Pasukan Meriam Nukum Sanany. Foto: Meriam 18PR di tengah sebagian anggota pasukan meriam. Meriam ini tadinya sewaktu ditemukan dalam keadaan rusak, tetapi setelah diperbaiki mampu berfungsicsebagai senjata artileri yang memuntahkan ratusan peluru.

Amran Zamzami sebagai salah seorang saksi mata yang sempat bergaul akrab dengannya di front pertempuran Medan Area, melihat sosok Nukum secara utuh, penuh ketaqwaan, penuh kejujuran, rela berkorban demi perjuangan Kemerdekaan. Dan yang amat menarik kala itu, keuletan dan keberaniannya susah mencari tolok-bandingannya. Sosok utuhnya yang seperti itulah yang mengakibatkan semua orang di sekelilingnya memanggilnya “Kapten Nukum”, walaupun pangkat yang sesungguhnya baru Letnan. Kapten pada waktu itu merupakan pangkat Komandan Pasukan tertinggi di front pertempuran di daerah Aceh dan Sumatera Utara. Demikianlah, nilai sejarah dari buku “Pasukan Meriam Nukum Sanany” ini mungkin subyektif, dan itu pun terjadi di salah satu ujung pulau Sumatera. Tapi sejarah telah mencatat semangat perjuangan Nukum Sanany, yang takkan mungkin bisa diulang kembali. Karena itulah kehadiran buku ini Insya Allah akan menambah khazanah bahan bacaan dan dokumen sejarah perjuangan Bangsa.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  2. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  3. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  4. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  5. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  6. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  7. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  8. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  9. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  10. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  11. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  12. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  13. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  14. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  15. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  16. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  17. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  18. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  19. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  20. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  21. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  22. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  23. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  24. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  25. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  26. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  27. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  28. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  29. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  30. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  31. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  32. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  33. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  34. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  35. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  36. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  37. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  38. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  39. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  40. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  41. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  42. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  43. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  44. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  45. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  46. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  47. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  48. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  49. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  50. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  51. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  52. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  53. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  54. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  55. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  56. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  57. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  58. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  59. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, E-Book, Kisah-Kisah, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

NOSTAGIA TABLOID BOLA

NOSTAGIA TABLOID BOLA

Nostagia kerap menghibur kita dari rasa cemas, sebuah kenangan berupa nostalgia tak pernah berasal dari kebencian. Ia menggerakkan kembali sesuatu yang sayu, seperti cinta yang lama. Meskipun ini kali tak, belum, ada lagi niat mencari cinta yang lain.

Bagi mereka yang dilahirkan dua puluh sampai sepuluh tahun sebelum milineum ini dimulai, terutama pecinta olahraga, khususnya sepakbola, tabloid BOLA memberikan kenangan tumbuhnya nostalgia terhadap dunia anak. Masa silam sebelum pamrih, bermain bola di persawahan, di halaman sekolah. Bola burik, bola plastik atau sebenarnya adalah bola voli, sebuah benda yang kini kita lihat sangat bersahaja. Mungkin kemerdekaan di momen tanpa pamrih itu tidak bisa ditukar dengan kemerdekaan di kemudian hari, meskipun kemenangan itu juga membawa piala kebahagiaan.

Kita memang tak mudah memilih, juga memilih kenangan. Nostagia kadang bisa membungkam mulut. Tabloid BOLA pertama kali terbit pada 3 Maret 1984, dalam pekan yang sama 4 hari sebelumnya Abu dilahirkan. Setelah 34 tahun beredar menemani para pencinta sepakbola, jumat 26 Oktober 2018. Tabloid BOLA yang bernaung di bawah Kompas Gramedia grup tutup dengan edisi terakhirnya dengan berita utamanya “TERIMA KASIH” dan (ternyata) Abu masih hidup.

Abu masuk SMA tahun 1999, medio 2000 adalah masa-masa kejayaan liga Italia Seri-A. Sebagai pencinta AC MILAN dari dulu sampai sekarang, tidak ada yang lebih seru daripada berdebat soal sepakbola di sekolah. Beberapa teman akrab Abu adalah penggemar, AS Roma, Juventus dan lain-lain. Sampai saat ini mereka masih menyatakan kesetiaannya. Maka untuk mengejek pihak lawan, di tabloid BOLA kami saling mencari bahan. Dahulu, internet sangat terbatas, dan berita di televisi hanya sekedar lewat. Ada kenangan, ketika Abu nyaris baku hantam karena saling bully tentang sepakbola dengan pendukung Juventus, iya mereka (Juventini) memang sedari dahulu menjengkelkan. Hari ini, ketika kami berjumpa kembali maka itu akan menjadi sebuah nostalgia yang menyenangkan.

Terlepas dari pertikaian antar sesama tifosi liga Italia, kami semua cenderung mendukung Italia. Kekalahan Italia dari Perancis di final Piala Eropa 2000 akibat peraturan golden goal menjadi luka bersama. Pahlawan Perancis, David Trezeguet menjadi sasaran kebencian, ketika dia direkrut oleh Juventus, sekali lagi Juventus menjadi musuh bersama semua tifosi tim Seri-A. Waktu itu belum lengkap rasanya kalau pecinta sepakbola tidak membaca tabloid BOLA. Bergantian kami membelinya, sebelum jam pelajaran atau saat jam istirahat sekolah tiba, membaca tabloid BOLA sambil memperbincangkan tentang hasil pertandingan semalam, bahkan detil-detilnya seperti semalam Gilardino terpeleset, atau sepertinya sepatu Batistuta kekecilan. Semua adalah sesuatu yang keren pada zaman itu, tabloid BOLA menjadi pelengkap bahwa kamu adalah penggemar sepakbola yang sejati.

Zaman datang dan pergi, selalu datang dan pergi, tiap kali berbeda. Zaman memang relatif. Gunung-gunung tinggi boleh tetap ada, tetapi manusia dengan peradaban dan sejarah masing-masing sebenarnya bergulat dalam takdir yang telah tergurat.

Kasus pengaturan skor (Calciopoli) tahun 2006 melanda Italia, sepakbola Italia pun kolaps, meskipun masih bisa beberapa kali berprestasi di kancah Eropa dan dunia, tapi ibarat lilin yang bercahaya menuju padam. Liga Inggris, liga Spanyol bahkan liga Jerman telah mengkudeta liga Italia dari kenyamanan tahta singgasana tertinggi. Saat ini kebanyakan tifosi tim Serie-A (kecuali Juventus) adalah sisa-sisa zaman lama. Kepemilikan klub Italia yang bersifat kepemilikan pribadi tidak mampu mengantisipasi zaman. Uang yang mengalir dari para syekh dan manajemen professional tim-tim dari Negara lain di benua biru (terutama Inggris dan Jerman) terlambat diikuti. Belum lagi kepemilikan stadion sepakbola di Italia yang kebanyakan dimiliki pemerintah daerah membuat klub Italia kesulitan mengurangi biaya. Klub-klub di Italia semakin tertatih-tatih dan mulai tidak diperhitungkan lagi.

Milenium baru datang, internet menjangkau penonton, pendengar dan pembaca di ruang dan waktu yang nyaris tak terbatas. Tabloid BOLA akhirnya dikalahkan oleh zaman, pada era kekinian ini, informasi media cetak kalah cepat dibandingkan media online. Paling cepat dipublikasikan satu hari sebelumnya, tapi media elektronik bisa keluar kapan saja. Selain itu kertas juga sudah dianggap tidak efisien, juga semakin mahal.

Tabloid BOLA telah berakhir, mungkin suatu hari hanya akan cuma bisa kita kenang namanya dan rubrik-rubrik yang pernah ada didalamnya yang biasa kita jumpai saat membukanya lembar demi lembar.

Akhirnya tabloid BOLA pun berakhir, mengikuti jejak beberapa media cetak lainnya yang telah ditutup. KAWANKU, ANEKA-YESS, ANGKASA, MATRA sampai HORISON serta banyak lagi. Beberapa beralih menjadi media online, beberapa tutup total karena tidak siap, setelah versi cetaknya mati, versi onlinenya belum disiapkan, maka tidak bisa diselamatkan lagi.

Ketika hari ini tabloid BOLA berakhir, mungkin suatu hari hanya akan cuma bisa kita kenang namanya dan rubrik-rubrik yang pernah ada didalamnya yang biasa kita jumpai saat membukanya lembar demi lembar. Abu hanya ingin mengucapkan: “Terima kasih juga telah menemani masa-masa muda yang menyenangkan, telah mempertemukan dengan teman-teman terbaik sepanjang masa. Akan kusimpan edisi terakhir ini sebagai sebuah benda kenangan.”

ADIOS. Sekarang semuanya telah selesai. Aku senang bisa bersamamu, sampai dengan saat-saat terakhir ini, Grazie tabloid BOLA.

Free download Tabloid BOLA edisi terakhir (2.915) Jumat, 26 Oktober 2018

TABLOID BOLA EDISI TERAKHIR

Simak cerita lainnya di KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Mau TAS yang MURAH dan BERKUALITAS? Follow IG olshop_gebhia dan pesan segera. Berbagai tas pilihan dari kota BATAM, langsung dikirimkan ke tempat anda.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA

CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA

Sejarah Nusantara memiliki berbagai keajaiban-keajaiban yang telah ada sejak zaman kuno, salah satunya adalah azimat berupa rantai babi (rante bui). Gejala-gejala gaib ini menurut para Antropolog erat kaitannya dengan teori pre-animisme bernama mana (tuah). Mana atau tuah adalah suatu pengertian yang hidup di alam pikiran berbagai bangsa di Melanesia sebagai kekuatan sakti yang bersifat supernatural.

“Dengan nama Allah Yang Rahman dan Rahim. Allah pelindungku, kepercayaanku, Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail ada di kanan dan di kiriku, di muka ku, di belakang ku, di atasku dan di bawah ku. Aku dikelilingi syahadat “La ilaha illa illahu” (=tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah). Aku pergi dengan memperoleh restu dan keselamatan. Allah akan menyampaikan hajatku, Allahku Gaib.”

(Sebuah doa yang didapat dalam buku mantera milik seorang pejuang Aceh bernama Teuku Cut Ali gugur sebagai syahid dengan gagah berani tanggal 25 Mei 1927 pada sebuah penyergapan oleh pasukan Marsose di Aceh Selatan).

Sebuah Kertas ‘mistik” atau azimat untuk mengetahui hari-hari baik dan buruk milik Orang Aceh yang ditemukan oleh Belanda.
Bawah : sebuah sektor “baik” (kiri) dan “tidak baik” (kanan).
Diambil dari arsip H.C. Zentgraff dalam buku ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman.

Meskipun pihak kolonial Belanda tidak mempercayai keajaiban dari benda-benda tersebut, mereka menuliskan fenomena tersebut dalam beberapa catatan. Catatan tersebut pada hari ini dapat kita baca dan pelajari sebagai pemahaman kita terhadap kondisi sosial dan budaya nenek moyang kita pada masa lampau.

PEMBAHASAN ILMU KEBAL (ELEUMEE KEBAY) DI ACEH OLEH SNOUCK HURGRONJE

Cristiaan Snouck Hurgronye dalam bukunya, Aceh di Mata Kolonialis jilid II menceritakan, eleumee keubay (ilmu kebal) sangat penting bagi semua orang Aceh (masa itu), terutama penguasa, panglima dan serdadu Aceh. Prinsip yang mendasari ilmu ini adalah:

  1. Kerangka filsafat pantheisis;
  2. Teori bahwa pengetahuan tentang esensi, atribut dan nama suatu zat/barang memberikan penguasaan penuh atas zat/barang itu sendiri.

Kombinasi kedua pandangan tersebut menimbulkan pengetahuan tentang sifat hakiki dari besi (ma’ripat beusoe) untuk membentuk faktor terpenting dalam memberikan kepada seseorang kekuatan untuk menolak logam tersebut dari berbagai senjata. Argumentasinya adalah, semua unsur besi ada pada manusia karena manusia adalah pengejawantahan Tuhan yang paling lengkap. Dan Tuhan adalah segalanya, seluruh ciptaan merupakan semacam evolusi Tuhan dari dirinya sendiri, dan evolusi ini berlangsung dalam tujuh garis atau tingkat (meureutabat tujoh), yang akhirnya kembali kepada yang Esa melalui manusia. Berarti semua unsur dalam dunia ini adalah bersatu dan dapat bertukar tempat. Eleumee beusoe (Ilmu besi) mempunyai kekuatan untuk memberi kepada bagian tubuh yang terkena serangan besi atau timah, suatu formulasi besi atau yang lebih kuat lagi sehingga orang menjadi keubay (kebal).

CATATAN TENTANG RANTAI BABI (RANTE BUI) OLEH SNOUCK HURGRONJE

Snouck Hurgronje menuliskan, “Sejenis azimat lainnya penolak luka adalah rante bui (rantai babi). Babi hutan tertentu dinamakan bui tunggal (babi tunggal) karena suka menyendiri, kabarnya mempunyai kait kawat baja yang menusuk hidungnya yang menyebabkan ia kebal. Katanya, kait ini berasal dari sejenis cacing tanah yang suatu ketika terdapat pada makanan si babi, tetapi tidak ikut termakan melainkan menjadi ajimat. Bila bui tunggal akan makan ia melepaskan kaitnya, dan bernahagialah orang yang menemukan saat serupa itu untuk merebut rante tersebut.”

Snouck Hurgronye menambahkan. “Tetapi, menurut para pemeluk (agama Islam) yang taat, kemanjuran peugawe (barang yang menyebabkan kebal) pada umumnya mensyaratkan kehidupan beragama yang baik bagi si pemakai, kalau tidak ajimat itu akan menimbulkan kesusahan, bukan perlindungan, bagi dirinya. Peluru timah yang berubah menjadi besi disebut peungeulieh (pengalih). Yang menemukannya beruntung memakainya waktu terlibat pertempuran/pengalihan, tetapi tidak pada kesempatan lain karena hanya akan membawa malapetaka.”

ACEH DI MATA KOLONIALIS (JILID I dan JILID II). Penerjemah : Ng. Singarimbun, S. Maimoen, Kustiyani Mochtar; Disempurnakan oleh Yayasan Soko Guru; Cetakan Pertama; 1985; Yayasan Soko Guru; Jakarta.

Catatan ini dituliskan oleh Snouck Hurgronje dalam The Achehnese, Adviser for Native Affairs, Netherlands Indie Volume II pada tahun 1895-1896 dan diterbitkan pada tahun 1906 berdasarkan wawancara dan pengumpulan data dari sumber primer langsung. Ada waktu bertahun-tahun kemudian bagi kolonial Belanda untuk melihat langsung khasiat dan bentuk dari rantai babi (rante buy).

BAGAIMANA CARA MENGAMBIL RANTAI BABI (RANTE BUI)

Ketika mengetahui hakikat besi (ma’ripat busoe), maka babi pun mampu menjadi kebal, bagaimana cara mengambil rantai babi (rante bui) dari babi tunggal yang kebal? Menurut tradisi lisan, cara merebut rantai babi adalah dengan menjejerkan durian secara vertikal, sehingga babi tunggak tersebut meletakkan ajimatnya ketika membelah dan memakan durian pertama, kemudian melanjutkan makan durian di depannya. Disaat itulah rantai babi dapat direbut dengan cara dicuri karena babi tersebut meletakkannya ketika membuka dan memakan durian pertama. Rantai babi secara umum tidak dapat direbut pada saat dikenakan oleh babi tunggal, ia kebal terhadap besi, sehingga sulit dilukai apalagi untuk dibunuh.

RANTAI BABI (RANTE BUI) DAN PEMILIKNYA DALAM PEPERANGAN RAKYAT ACEH MELAWAN BELANDA

H.C. Zentgraff dalam “ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman” menceritakan ada seorang keramat memiliki rantai babi, bernama Teungku Cot Plieng yang sangat dikagumi di antara ulama-ulama yang ada di Aceh saat itu dikarenakan ia memimpin perjuangan Aceh terhadap kompeni sekembalinya dari berhaji di Mekkah. Para komandan patrol marsose Belanda tidak pernah berhasil membuntutinya dan tidak ada seorang Aceh pun yang berani menunjukkan tempat persembunyiannya. Teungku Cot Plieng diyakini Belanda merancang berbagai pertempuran di Pidie walaupun ia tidak turut dalam pertempuran, dan jika ia turut dalam pertempuran maka keadaan Aceh yang diupayakan dengan keras agar tenang menjadi kacau dan porak-poranda bagi Belanda.

Bertahun-tahun Belanda mencoba melacak Teungku Cot Plieng dan barulah pada bulan Juni 1904 kapten Stoop berhasil menemukan tempat persembunyiannya di antara celah-celah Glee Keulabee Asap, Belanda pun menyergap akan tetapi Teungku Cot Plieng dapat meloloskan diri tapi al-Qura’an dan jimatnya tertinggal. Kehilangan jimat bagi Tengku Cot Plieng walaupun ia masih memiliki rante bui laksana terhapusnya sebuah tulisan berharga didinding, begitu Zentgraff mengambarkan.

Illustrasi Orang Aceh sebagai Cover buku Aceh ditulis oleh H.C. Zentgraaff diterbitkan pertama kali tahun 1938 dengan judul “ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman”

Pada tanggal 2 Juli 1905, pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Terwogt berhasil menembak Teungku Cot Plieng di Hulu Krueng Tiroe (Sungai Tiro), sehingga beliau Syahid.

Semua telah ditakdirkan, pada suatu hari sebuah patroli marsose dibawah pimpinan Letnan Terwogt tersesat di hutan yang secara kebetulan tempat persembuyian Tengku Cot Plieng dan mereka berhasil menewaskan beliau.  Jenazahnya diangkut ke bivak untuk dikenali, walaupun telah tewas beberapa hari tidak memperlihatkan tanda membusuk. Untuk identifikasi Panglima Polem diundang, ia pun memberikan penghormatan dengan membungkukkan badannya kepada jenazah yang tidak rusak itu ditengah-tengah mayat sekelompok orang Aceh yang telah membisu. “Itu adalah rahasia Tuhan.” Kata Penglima Polem yang sudah menua kepada Zentgraaf.

Berikut penampakan rantai babi (rante bui) yang asli yang ditemukan oleh Belanda dan saat ini disimpan pada Kolonial Museum di Amsterdam.

Azimat kebal berupa rantai babi yang asli atau rante bui (Bahasa Aceh) yang ditemukan Belanda pada jenazah Tengku Cot Plieng yang keramat. Benda ini sekarang tersimpan di Kolonial Museum Amsterdam, Belanda.

Rante bui diambil dari jenazah Tengku Cot Plieng dan diserahkan kepada Van Daalen, tetapi ia tidak mempercayai benda aneh tersebut dan menyerahkan kepada mata-mata Belanda yang bernama Waki Wahab, yang oleh Belanda sendiri dijuluki “Kwab” (si gelambir) karena lehernya dipenuhi gelambir akibat kegemukan. Waki Wahab alias “Kwab” adalah seorang yang banyak dosa, ia merasa tidak pantas memakai jimat seorang ulama keramat. Karena itu dia menyerahkan kepada Veltman setelah Belanda berhasil mengamankan Pidie, sebagai tanda mata. Ia berpikir bahwa dengan memberikannya kepada Veltman yang pada waktu itu sedang sakit, maka ia akan sembut dari penyakitnya.

Tapi Veltman tidak memakainya, dia lebih percaya senapan dan pedang yang baik mutunya. Meskipun begitu dia adalah satu-satunya orang Eropa yang pernah memiliki rantai babi, kemudian ia menyerahkan rantai babi tersebut pada Kolonial Museum sehingga kita pada hari ini dapat menyaksikan bagaimana bentuk dan rupa rante bui (rantai babi) tersebut.

Meskipun secara umum pihak kolonial Belanda menertawakan benda-benda aneh yang merupakan ajimat perang orang Aceh pada masa lampau, seorang komandan Belanda yang terkenal bernama Schmidt tidak menertawakannya, ia berkata: “Saya telah melihatnya dengan ini!” (Maksudnya seraya menunjuk matanya sendiri).

Daftar Pustaka

  1. Koentjaraningrat; Metode Antropologi; Penerbit Universitas Indonesia; Jakarta; 1958.
  2. C. Zentgraff; ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman; Koninlijke Drukkerij De Unie; Batavia; 1938.
  3. C. Snouck Hurgronje; THE ACHEHNESE Adviser for Native Affairs, Netherlands Indie Volume II; University Leyden; 1906.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  2. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  3. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  4. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  5. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  6. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  7. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  8. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  9. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  10. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  11. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  12. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  13. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  14. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  15. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  16. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  17. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  18. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  19. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  20. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  21. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  22. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  23. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  24. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  27. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  28. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  29. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  30. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  31. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  32. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  33. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  34. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  35. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  36. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  37. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  38. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  39. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  40. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  41. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  42. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  43. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  44. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  45. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  46. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  47. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  48. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  49. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  50. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  51. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  52. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  53. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  54. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  55. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  56. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  57. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  58. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  59. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Literature, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN UNDANG-UNDANG KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA

Sebuah besluit yang dikeluarkan oleh Sultan Aceh diambil dari G.L. Tichelman, “Een Atjesche Sarakata” (Afschrift van een besluit Sultan Iskandar Muda) TBG 73, (1933), halaman 370-371.

RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN UNDANG-UNDANG KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA

Sebagai orang Aceh dan Nusantara pada umumnya, kita sering mendengar Kanun Meukuta Alam Sultan Iskandar Muda. Peraturan perundang-undangan Kesultanan Aceh Darussalam ini disusun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kanun Meukuta Alam adalah Undang-Undang Dasar Kesultanan Aceh Darussalam, dalam memerintah para Sultan Aceh dan para penguasa dibawahnya tunduk pada kanun ini. Bagaimana isi Kanun Meukuta Alam itu sendiri? Ada 46 pasal dalam kanun Meukuta Alam. Rincian isi Kanun Meukuta Alam sebagai berikut:

Manuskrip memuat susunan Pemerintahan Kerajaan Aceh pada Masa Sultan Iskandar Muda. Manuskrip ini milik University Kebangsaan Malaysia yang belum dikatalogkan.

PERATURAN DI DALAM NEGERI ACEH BANDAR DARUSSALAM DI SALIN DARI PADA DAFTAR PADUKA SRI SULTAN MAHKOTA ALAM ISKANDAR MUDA

  1. Jikalau siapa juga yang hendak diangkat jadi Panglima Sagi1) atau Hulubalang2) dalam segi di mana tempat yang biasa dalam tiga segi Aceh atau ditakluk jajahannya maka adalah ahli waris Hulubalang yang meninggal itu mufakat dengan segala orang-orang tuha-tuha2) yang berakal pada tempat itu seperti Keuchik wakil dan imam serta ulama mesyurat;
  2. Jikakalau sudah tetap dapat dalam ahli warisnya maka berkenduri berkumpul segala Hulubalang yang mampir padanya diangkat serta ditaroh gelarnya sudah mau tamat;
  3. Maka dibawah menghadap Raja serta membawa satu dalung5) terisi didalamnya dengan persempahan tetapi ditilik hal keadaan Hulubalang itu jikalau Panglima Sagi atau Orang Kaya Sri Maha Raja Lela6) Hulubalang anam atau sama deRajatnyanya Hulubalang dua belas atau yang sama deRajatnya;
  4. Dipersembahkan kebawah duli hadirat padaka Sri Sultan di balai Baitul-Rahman7) menyambut serta memberi peraturan yang biasa adat yang melazamah dalam negeri Aceh Bandar Darussalam dengan memberi kehormatan;
  5. Panglima Sagi atau Orang Kaya Maha Raja Lela dipasang tembakan meriam kehormatan 21 kali, Hulubalang dalam sagi atau yang sama deRajatnya ditembakkan meriam 12 kali. Adapun Sri Maha Raja Indra Laksamana8) dan Raja Udah na Lela9) dipasang meriam 9 kali. Adapaun Hulubalang Anam Bintara10) dipasang meriam 1 kali.
  6. Adapaun Panglima Sagi atau Hulubalang dalam sagi tiada memakai cap halilintar11) karena dia menerima pusaka ahli warisannya boleh bertanya melainkan jabatan dikaruniakan oleh Raja maka ia memakai cap halilintar;
  7. Adapun Hulubalang didalam takluk jajahannya atau didalam tanggungan Sultan memakai cap halilintar seperti dibawah ini Kami beritahu kepada sekalian Hulubalang, datu12), imam, kejuruan12), panglima, keuchik, wakil dan segala pertuha kecil besar dan muda rakyat sekalian. Maka adalah seperti panglima ditakluk jajahannya sudah Kami memberi jabatan Hulubalang karunia Allah dan Rasul kemudian menjadi wakil Kami menggantikan pekerjaan inilah yang perbuat pekerjaan di dalam negeri pertama mengambil hasil Kami dan perintah berniaga laut dan daratan yang telah ada menerimanya dan akan Kami pun hendaklah dibawahnya segenap tahun lepas berniaga negeri pertama diperbuat jalan segala hamba Allah berjalan dan diperbuat masjid yang runtus atau yang belum ada dahulunya patut diperbuat hendaklah memperbuatkan dan wawiah dan madrasah dan serta hendaklah disuruh sembahyang jumat dan mengeluarkan zakat fitrah dan hendaklah pelihara akan negeri dengan keadilan mengikut Islami dan hendaklah jangan dipersukakan pada perbuatan haru-hara maksiat dan durhaka dan jikalau dimaka atasilah durhakanya ia dari pada pekerjaan jabatannya serta gugurlah sendirinya maka janganlah kamu mengikut jua adanya.
  8. Hulubalang Raja bersama Hulubalang Rama Setia14) yang berjaga di balai kota Darud Donya15) yang dititahkan oleh Raja periksa dalam kampung mungkin sagi dan takluk jajahannya melihat keadaan peraturan dalam adat negeri;
  9. Jikalau Hulubalang itu dapat celaka mati teraniaya pada suatu kampung mukim sagi atau negeri maka Raja bertitah menyuruh Orang Kaya Sri Maha Raja Lela atau wakilnya dengan membawa alat senjata pergi periksa serta meminta orang jahat itu kepada Hulubalang mukim itu atau sagi telah wajiblah mencari orang jahat itu melawan dibunuh tiada melawan dibunuh tiada melawan ditangkap;
  10. Satu orang hamba Raja mati tujuh orang gantinya diambil dari pada ahi waris orang yang jahat itu diputuskan melainkan berpindah ahli warisnya kepada Raja buat apa yang suka;
  11. Hulubalang mukim itu atau sagi tiada suka mencari orang jahat itu karena ahli warisannya atau sebab lain maka Hulubalang itu jatuh kepada kesalahannya kena denda atas kadarnya dari lima ratus real16) sampai lima ribu real;
  12. Hulubalang mukim itu atau sagi tersangkal tiada menurut hukuman itu maka Raja memanggi Tengku Chik Sri Muda Pahlawan Raja Negeri Meureudu menyuruh pukul Hulubalang mukim itu atau sagi dengan diperangi dan diusir segala pohon tanaman dipotong sumur ditubuh harta dirampas rumah-rumah dibakar habis;
  13. Hamba Raja satu orang atau banyak tiada bersama dengan Hulubalangnya disuruh oleh Raja memanggil orang atau pergi mengambil harta dimana dia berhenti atau bermalam hendaklah ia memberitahu dan mendapatkan kepala kampung di tempat itu seperti Keuchik atau iman wajiblah memelihara hamba Raja itu atas kadarnya supaya jangan dibinasa oleh orang jahat;
  14. Jikalau hamba Raja itu binasa dalam kampung atau mukim mati atau lua Raja mencentut belanja hamba itu kepada Hulubalang mukim itu seperti yang telah tersebut dalam pasal 9,10,11, dan 12;
  15. Hamba Raja yang disuruh sampai kepada suatu kampung yang kecil sedikit orangnya lagi jauh daripada kampung orang banyak tiba-tiba binasa di tempat itu mati atau luka jikalau orang kampung itu tiada campur atau tiada terlawan sebab banyak orang jahat maka di suruh bersumpah dan buat jadi saksi dan menurut Hulubalang yang punya pemerintahan serta Rama Setia mencari orang jahat itu jikalau sudah nyata orang jahat itu sudah lari keluar dari tiga segi negeri Aceh atau orang uaran yang jahat itu maka adalah Raja bersabdalah memberi perintah kepada panglima sagi dan Hulubalang dalam sagi tiada boleh orang durhaka itu berbalik masuk kedalam tiga sagi negeri Aceh melainkan dibunuh hukumnya jikalau ada ahli warisannya di denda atas kadarnya mengikut apa suka Raja saja;
  16. Jikalau ada panglima sagi atau Hulubalang dalam sagi negeri Aceh sembunyikan orang jahat atau tiada dikhawatirkannya ada di di dalam kampung mukim diperintahnya tiada peduli menjaga negeri kiranya sampai kabar keterangannya kepada Raja menyuruh Orang Kaya Sri Maha Raja Lela atau wakilnya minta kepada Hulubalang yang sembunyikan orang jahat itu supaya ditangkapnnya dan jatuh kepada Hulubalang itu kesalahan didenda dari lima ratus real sampai lima ribu real;
  17. Jikalau ada orang jahat dari pada bangsa Aceh atau lain bangsa lari dari pada satu mukim kepada lain mukim atau sagi di dalam tiga segi Aceh atau takluk jajahannya maka sekian Hulubalang tiada boleh terima duduk di dalam pemerintahannya masing-masing melainkan ditangkap dan boleh dia menghukumkan sendiri dengan adat yang kelaziman dalam negeri Aceh jangka keadilan menurut hukum Allah dan Rasul atas kesalahannya tiada lagi di bawa menghadap Raja melainkan memberi tahu saja kepada Raja perbuatannya yang telah diperlakukannya;
  18. Adapun orang luaran yang Islam lain dari pada bangsa orang Aceh seperti orang Arab, Banggali, Kleng, Melayu dan Jawa tahu seumpamanya masuk kedalam negeri Aceh bandar Darussalam pekerjaannya berniaga tetapi ketika dia baru datang ada menghantarkan persembahan kepada Raja supaya boleh kenal dengan Raja;
  19. Jikalau dia pergi jualan di mana tempat juga pun dalam tiga sagi negeri Aceh tiba-tiba datang celaka dibunuh orang. Raja menuntut belanja seperti tersebut dalam pasai 9, 10,11 dan 12;
  20. Jikalau orang luaran datang menuntut ilmu kedalam tiga sagi negeri Aceh duduknya dalam masjid atau zawiah atau madrasah kiranya dapat celaka kena teraniaya sampai mati maka Hulubalang yang punya tempat pemerintahan jadi ahli warisnya akan menuntut bela yang mati dan menyempurnakan kematiannya dengan kenduri atas kadarnya tiada Raja campur atas hal ini sebab dia ada menghadap Raja melainkan mengikut peraturan Hulubalang di tempat itu tetapi wajiblah Hulubalang itu memberi tahu saja kepada Raja;
  21. Jikalau orang luaran yang lain agama dari pada agama Islam yang lain pada orang hindi tiada boleh di terima oleh orang negeri tinggal duduk di dalam kampungnya melainkan di suruh balik ke laut kedalam tempatnya;
  22. Jikalau orang lain agama itu hendak tinggal juga duduk di darat kedalam kampung orang islam kalau dapat celaka mati atau luka atau kena rampas hartanya dalam kampung itu tempat dia bermalam sama ada orang dalam kampung itu yang buat aniaya atau lain orang jahat kalau mati saja luka luka saja kalau dirampas hartanya habis saja tiada diterima pengaduannya oleh Raja atau Hulubalang sebab dari pada taksirnya sendiri punya salah;
  23. Adapun orang yang menerima pada orang yang lain agama itu tinggal duduk bermalam pada kampungnya contoh kesalahan kepada ulama kena kafarat denda kenduri memberi makan sidang jumat;
  24. Jikalau orang yang kena kafarat itu tiada menurut peraturan ulama boleh mengadu kepada Hulubalang yang punya pemerintahan di tempat itu menghukumkan menurut timbangan kesukaannya yang adil;
  25. Adapun rakyat Islam dalam segi atau mukim yang pergi kepada lain segi atau mukim pekerjaannya berniaga atau menuntut ilmu kiranya datang celaka dibunuh orang dengan teraniaya atau dirampas hartanya maka ahli waris orang yang teraniaya itu minta pertimbangan dan pertolongan kepada Hulubalang dia sendiri itu berbicara kepada Hulubalang tempat orang aniaya itu meusupat17) dan menyurat dengan segala fukaha18) dan ulama supaya di bayar diat19) yang mati atau ganti harta yang kena rampas;
  26. Adapun bangun orang yang merdeka dengan seratus onta di bayar kepada ahli waris orang yang mati demikianlah banyak bangun orang yang merdeka;
  27. Jikalau sudah di bayar bangun yang mati kepada ahli warisnya tiada boleh di bunuh orang yang aniaya itu tarena taubat dan berdamai;
  28. Jikalau ahli waris yang mati tiada suka terima diat atau hendak dibunuh juga yang aniaya;
  29. Maka kedua belah Hulubalang itu wajib memperkenankan permintaan ahli waris yang mati;
  30. Jikalau Hulubalang sebelah orang yang aniaya tiada suka beri bunuh yang aniaya itu sebab ahli warisnya dia hendak bayar juga bangun maka Hulubalang orang yang mati titah wajib membawa ahli waris yang mati maka telah wajiblah Raja menyelesaikannya;
  31. Maka yang berkhusumat dua Hulubalang serta dua belah ahli waris yang tersebut telah wajib menurut timbangan Raja dengan ulama menurut hukum Allah dan Rasul;
  32. Adapun bangun pagi mengikut harganya dengan aras;
  33. Dari harta yang rampas telah diwajibkan Hulubalang tempat orang yang aniaya itu menjatuhkan hukuman kepada orang yang menyamun itu serta dengan ahli warisnya memulangkan harta yang diambilnya atau digantinya;
  34. Yang merampas itu telah lari keluar dari dalam tiga segi Aceh maka tiada boleh berbalik kedalam tiga segi negeri Aceh;
  35. Jikalau yang merampas berbalik kedalam tiga segi negeri Aceh maka wajib Hulubalang menangkap dan memotong tangannya;
  36. Maka yang merampas ketika hendak di tangkap dia melawan sah di bunuh;
  37. Raja tiada mencampur atas ini hal rampas dan rebut dalam sagi atau mukim melainkan menurut timbangan meusapat segala pertuha serta ulama suarat dengan Hulubalang memberi keputusannya;
  38. Jikalau ada satu kumpulan atau banyak orang yang berniat hendak membuat kejahatan kepada Raja atau hendak membuat huru hara dalam kampung dan mukim atau sagi jikalau diketahui oleh satu orang atau banyak telah wajiblah atas orang melihat kumpulan itu memberi tahu dengan segera kepada Hulubalangnya;
  39. Hulubalang itu telah wajiblah dengan segalanya pergi periksa kumpulan itu, serta di undurkan supaya jangan jadi perbuatan yang kejahatan;
  40. Seorang rakyat atau banyak sudah tahu melihat suatu kumpulan orang jahat berniat kejahatan tiada kumpulan itu yang telah berangkat hendak menjalankan kejahatan maka dapat kabar keterangannya oleh Hulubalang yang punya pemerintahan satu kumpulan telah berangkat hendak membuat kejahatan tetapi dia punya rakyat si anu atau keuchik ada melihat kumpulan itu tiada memberi tahu kepada Hulubalangnya yang mendapat tahu sendiri maka contoh kesalahan kepada rakyat itu saja tetapi dengan meusapat dan menyurat dengan segala pertuha serta ulama menilik keadaannya;
  41. Jikalau kumpulan itu hendak melalukan kejahatannya tiada peduli nasehat Hulubalang yang menyurat kepadanya maka wajiblah atas Hulubalang itu pukul dengan perang kumpulan itu hingga habis binasa yang melawan di bunuh tiada melawan ditangkap dan diserahkan kepada Raja di punya suka saja memperbuatkan;
  42. Siapa juga Hulubalang dalam segi atau panglima sagi telah mengetahui ada kumpulan orang yang berniat kejahatan kepada Raja telah meusapat dan mensyurat dalam pemerintahannya tiada dikhawatirkan kiranya mendapat kabar keterangan oleh Raja ia menyuruh Orang Kaya sri Maha Raja Lela atau wakilnya pergi periksa hal itu;
  43. Jikalau perbuatan kumpulan itu belum jadi sekali pun jatuh kesalahan kepada Hulubalang itu syubhat tetapi di timbang dan dipikir oleh Raja dengan keadilan memelihara rakyatnya;
  44. Adapun panglima sagi kuasa menjatuhkan hukuman kepada rakyat yang bersalahan dalam dia punya sagi lagi dari pada hamba Raja atau sagi yang lain tetapi wajib memberi tahu kepada Raja perbuatan yang sudah di perlakukan;
  45. Panglima sagi tiada kuasa menjatuhkan hukuman hamba Raja yang berbuat salah dalam seginya melainkan di tangkap diserahkan kepada Raja buat apa dia punya suka;
  46. Hamba Raja itu ketika hendak ditangkap ditanya melawan harus dibunuh saja tetapi wajib memberi tahu kepada Raja adanya.

Catatan Penulis terkait naskah Kanun Meukuta Alam

  1. Naskah Kanun Meukuta Alam ini belum lengkap/tidak utuh dikarenakan naskah ini ditemukan dari sisa pertempuran yang dahsyat ketika pasukan Belanda menyerang dan menduduki masjid Indrapuri pada tahun 1879, manuskrip ini ditemukan diantara naskah-naskah yang berserakan disitu.
  2. Bila kita membaca naskah ini ditemukan modifikasi dari sistem pemerintahan zaman Sultan Iskandar Muda yaitu jabatan Panglima Sagi sebagaimana dicatatkan oleh sejarah baru ada pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin. Namun kita tidak dapat menolak bahwa adanya peraturan-peraturan lama dari zaman Sultan Iskandar Muda yang masih relevan dan dikekalkan pada naskah ini.
  3. Meskipun naskah ini tidak lengkap/tidak utuh dan telah mengalami modifikasi penulis merasa bahwa naskah ini tetap layak untuk diberi nama Kanun Meukuta Alam dikarenakan adat atau kanun tetap ditabalkan kepada beliau selaku Sultan dari Kerajaan Aceh yang terbesar, sebagaimana hadih maja (kata bijak) Aceh, “Adat bak poteu meureuhom (Adat bernasab kepada Sultan Iskandar Muda).”

Index istilah-istilah:

  1. Panglima Sagi = Pemimpin Sagi Mukim XXII, Sagi Mukim XXV dan Sagi Mukim XXVI; Gabungan ketiganya disebut Tiga Segi Aceh yang mengelilingi ibu kota Aceh Darussalam, atau merupakan inti dari Kesultanan Aceh Darussalam. Sekarang merupakan wilayah Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar;
  2. Hulubalang = Penguasa wilayah dibawah Panglima Sagi, ataupun penguasa-penguasa wilayah diluar Aceh inti;
  3. Tuha-tuha = Dari bahasa Aceh Tuha Peut yaitu penasehat dari pemimpin wilayah;
  4. Keuchik = Pemimpin kampung-kampung dibawah penguasa wilayah;
  5. Dalung = berupa satuan talam berisi logam, biasanya perak;
  6. Sri Maha Raja Lela = Panglima Perang Kesultanan Aceh Darussalam berasal dari nama Maha Raja Lila memiliki kekuasaan yang sangat besar, secara hirarki hanya tunduk kepada Sultan Aceh sendiri, kelak Maha Raja Lela menjadi sebuah kosa kata bahasa Melayu, merajalela;
  7. Balai Baitul-Rahman = Balai penghadapan, tempat Sultan Aceh menerima tamu;
  8. Sri Maha Raja Indra Laksamana = Gelar ini tidak diketahui oleh penulis, diduga Panglima Angkatan Laut;
  9. Raja Udah na Lela = Kepala Pembendaharaan Istana dan Perpajakan;
  10. Hulubalang Anam Bintara = Gelar ini tidak diketahui oleh penulis, diduga Hulubalang biasa;
  11. Cap halilintar = dalam tradisi Aceh dikemudian hari dikenal sebagai Cap sikureung (Cap Sembilan) yang distempel pada surat-surat resmi, merupakan tanda memerintah;
  12. Datu = Para pemimpin Aceh di negeri Minangkabau;
  13. Kejuruan = Para pemimpin Aceh di negeri-negeri Melayu Tamiang;
  14. Hulubalang Rama Setia = Kepala pengawal pribadi Sultan Aceh Darussalam;
  15. Darud Donya = Istana Kesultanan Aceh Darussalam;
  16. Real = Mata uang Spanyol yang menjadi standar mata uang di kepulauan Nusantara pada kurun abad ke 16 sampai 19 Masehi;
  17. Meusapat = Bahasa Aceh dari rapat, Tradisi pengadilan Aceh kuno dengan membicarakan duduk masalah dengan para pemangku kepentingan;
  18. Fukaha = Ahli hukum Islam;
  19. Diat = Ganti rugi, dalam kasus pembunuhan ganti rugi sebesar seratus ekor unta;

Daftar Pustaka

  1. F.H Van Langen; “De Inrichting van het Atjehsche Staatsbestuur onder het Sultanaat”; BKI; 1988:
  2. Rusdi Sufi; Pahlawan Nasional Sultan Iskandar Muda; Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional; 1995;
  3. Naskah “Kanun Meukuta Alam Sultan Iskandar Muda”; Tulisan Tengku di Meulek, milik Teuku Muhammad Junus Jamil Kampung Alui, pada tahun 1995 disimpan di Museum Ali Hasjmy.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  2. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  3. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  4. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  5. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  6. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  7. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  8. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  9. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  10. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  11. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  12. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  13. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  14. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  15. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  16. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  17. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  18. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  19. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  20. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  21. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  22. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  23. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  24. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  25. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  28. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  29. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  30. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  31. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  32. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  33. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  34. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  35. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  36. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  37. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  38. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  39. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  40. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  41. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  42. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  43. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  44. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  45. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  46. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  47. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  48. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  49. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  50. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  51. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  52. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  53. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  54. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  55. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  56. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  57. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  58. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  59. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Literature | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

AGAR HIDUP LEBIH TERASA HIDUP

Agar hidup lebih hidup, seekor harimau (berbentuk lukisan) keluar dari piguranya.

AGAR HIDUP LEBIH TERASA HIDUP

Agar hidup lebih hidup, seharusnya kita tak perlu mempertakuti kematian, akan tetapi selayaknya yang kita takuti adalah tidak pernah berusaha memulai hidup. Ketika mati maka kita sampai pada sebuah titik konstan, stabil dan henti. Hidup bukanlah sesuatu yang ajeg, rapi jali dan nyaman. Tentu ada terpaan gelombang naik turun. Jika kehidupanmu dipenuhi pasang surut, itu artinya engkau hidup.

Memutar dan berputar, memperoleh cinta dan akhirnya kehilangan, tersenyum bahagia atau air mata kesedihan, dalam keberhasilan maupun kegagalan. Kita semua pernah mengalami saat tertinggi dipuncak, tapi mungkin tak lama kemudian kita bisa saja berada pada titik terendah. Kehidupan dapat diibaratkan perjalanan kereta di pegunungan. Awalnya berjalan pelan, dijejali oleh berbagai kemungkinan yang harus dihadapi. Anehnya membawa naik untuk bangkit segera lagi setelah jatuh.

Kita bisa tertawa sampai kita terluka, mungkin juga pernah didalam hati kita menangis tanpa ingin diketahui siapapun, atau diam-diam pernah pula berharap ada hal yang ingin kita akhiri, dan segalanya usai. Tapi sayangnya kemalangan itu terus berlanjut.

Entah mengapa, kebanyakan dari kita berpikir bahwa keberhasilan itu sebanding dengan garis lurus keatas, sebenarnya tidak pernah ada kejadian yang seperti itu. Setiap orang yang kita kagumi sekalipun sebenarnya juga pernah merasakan naik dan turun dalam hidupnya.

Tahukah kamu? Setiap 7 sampai 15 tahun tubuh kita telah mengantikan seluruh sel-selnya. Bagian tubuh yang bekerja paling keras, adalah organ yang paling cepat berubah. Kamu bisa tak sadar seluruh permukaan kulit setiap 2 sampai 4 minggu telah tergantikan dengan yang baru. Sel-sel darah kita telah tergantikan setengahnya setiap tahun, bahkan hati kita telah memperbaharui setidaknya sekali setiap beberapa tahunnya.

Alam semesta selalu dalam keadaan berubah. Kita selalu berubah, tapi mengapa kita ingin segalanya tetap sama? Duduk dalam zona nyaman dan tak menyadari jika sebuah hidup yang datar justru kita telah mati. Kehidupan nyata adalah pasang surut, karena kematian adalah sebuah garis datar. Setiap kali jika direnungi hal tersebut, maka selayaknya kita berusaha mengingat bahwa hidup itu selayaknya dinamis karena berhenti adalah kematian.

Dalam perjalanan hidup kita semua pasti pernah melewati senang dan sedih, tapi ingatlah selalu ada hari yang cerah setelah hujan deras. Akan ada kehilangan dan kebahagiaan, tapi selalu kita harus segera belajar untuk beranjak maju, dan maju lagi.

Jangan menghakimi kejadiannya, jangan coba menunda karena itu akan tetap berjalan. Besok pagi jika kau merasa sehat, maka kau lebih bahagia dari pada sejuta orang yang tidak bertahan hidup minggu ini. Ketika ada makanan ada dalam kulkasmu, sepatu di kakimu, pakaian di badan, sebuah tempat tidur yang nyaman, dan atap rumah untuk meneduhkan kepalamu maka kamu lebih kaya daripada 75 persen penduduk bumi. Dan jika kamu memiliki rekening di bank, uang di dompet, koin di celengan maka sesungguhnya kamu sebenarnya ada di 8 persen penduduk bumi terkaya.

Kita tidak akan pernah bisa menghindari fase naik dan turun dalam hidup, tapi mungkin kita bisa mengubah pola pandang dalam melihatnya. Karena ketika kita mengubah cara melihat sesuatu, maka apa yang kita lihat berubah. Di dalam sejarah, di luar surga, manusia harus siap kecewa, tapi kita bisa belajar mensyukuri apa yang fana.

Agar hidup lebih hidup, tetaplah hidup!

Beberapa artikel sejuk yang menyegarkan:

  1. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  2. Duhai Diriku Mengapa Engkau Bersedih; 13 Mei 2009;
  3. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  4. Manusia; 18 Maret 2010;
  5. Pada Akhirnya Kita (Juga) Tak Paham; 19 Februari 2012;
  6. Cerita (Belum) Selesai; 29 Maret 2012;
  7. Musafir; 9 September 2012;
  8. Cinta Sebesar Cinta; 10 Mei 2014;
  9. Akhlak; 13 Agustus 2015;
  10. Belajar; 19 November 2015;
  11. Dimana Ada Cinta Disana Tuhan Ada; 7 September 2016;
  12. Kesucian; 26 Oktober 2016;
  13. Muhasabah; 5 Februari 2017;
  14. Pohon Kekekalan; 4 November 2017;
  15. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
Posted in Kolom, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD

Teuku Nyak Arief dan istri, Jauhari.

TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD

Teuku Nyak Arief Diberi Gelar Rencong Aceh

Teuku Nyak Arief, selaku Panglima Sagi XXVI, Aceh Besar (Tahun 1939).

Gelar Rencong Aceh, diberikan oleh beberapa surat kabar nasional kepada Teuku Nyak Arief, khususnya surat kabar terkenal di Hindia Belanda (Indonesia sekarang) kurun waktu 1920-an, harian ini dipimpin oleh wartawan terkenal Parada Harahap. Perjuangan Teuku Nyak Arief di Volksraad, sering diulas oleh surat kabar nasional yang terbit di Jakarta, Medan dan Semarang.

Apakah yang dimaksud Volksraad?

Volksraad yang diambil dari bahasa Belanda dan secara harafiah berarti “Dewan Rakyat”, adalah semacam dewan perwakilan rakyat Hindia Belanda. Dewan ini dibentuk pada tanggal 16 Desember 1916 oleh pemerintahan Hindia Belanda yang diprakarsai oleh Gubernur-Jendral J.P. van Limburg Stirum bersama dengan Menteri Urusan Koloni Belanda; Thomas Bastiaan Pleyte.

Pada awal berdirinya, Dewan ini memiliki 38 anggota, 15 di antaranya adalah orang pribumi. Anggota lainnya adalah orang Belanda (Eropa) dan orang timur asing: Tionghoa, Arab dan India. Pada akhir tahun 1920-an mayoritas anggotanya adalah kaum pribumi.

Para pemimpin Indonesia yang menjadi anggota “Volksraad”. Mereka adalah; Atas: M.H. Thamrin, Dr. G.S.S.D. Ratulangi. Otto Kusuma Subrata. Bawah: Prabu Mangkunegara, T. Nyak Arif dan Dr. Todung Gelar Sutan Gunung Mulia.

Awalnya, lembaga ini hanya memiliki kewenangan sebagai penasehat. Baru pada tahun 1927, Volksraad memiliki kewenangan ko-legislatif bersama Gubernur-Jendral yang ditunjuk oleh Belanda. Karena Gubernur-Jendral memiliki hak veto, kewenangan Volksraad sangat terbatas. Selain itu, mekanisme keanggotaan Volksraad dipilih melalui pemilihan tidak langsung. Pada tahun 1939, hanya 2.000 orang memiliki hak pilih. Dari 2.000 orang ini, sebagian besar adalah orang Belanda dan orang Eropa lainnya.

Selama periode 1927-1941, Volksraad hanya pernah membuat enam undang-undang, dan dari jumlah ini, hanya tiga yang diterima oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Sejarah Berdirinya Volksraad

Volksraad mulai tercetus sejak pecahnya Perang Dunia I (1914-1918) yang membawa pengaruh besar pada situasi kolonial di Indonesia yakni masa depan hubungan antara penjajah Belanda dengan daerah jajahannya. Aksi politik radikal yang dilancarkan oleh Indische Partij yang dipimpin oleh Douwes Dekker, Suwardi Suryadiningrat dan Cipto Mangunkusumo yang secara jelas menghendaki agar pemerintah kolonial diakhiri karena dianggap despotisme, telah ditindak keras oleh pemerintah Hindia Belanda. Para memimpin ditangkap, diasingkan dan organisasinya dibubarkan.

Sebaliknya organisasi moderat seperti Budi Utomo tetap dibiarkan berdiri, dan mendapat bantuan dari pemerintah Belanda. Budi Utomo kemudian dimasukkan dalam Indie Weerbaar (Ketahanan Hindia). Panitia Indie Weerbaar tahun 1916 mengirimkan perutusan ke negeri Belanda antara lain:

  1. Pangeran Aryo Kusumodiningrat (Prinsenbond);
  2. Raden Tumenggung Danusugondo (Regentenbond);
  3. Mas Ngebehi Dwijosewono (Budi Utomo);
  4. Abdul Muis (Serekat Islam);
  5. F. Looh (Perserikatan Minahasa);
  6. Rhemrev D. Van Hinloopen Labbertan.

Perutusan ini mengadakan dengan para pemimpin Belanda terkemuka. Menteri Jajahan Belanda kemudian membicarakan pembentukan Volksraad (Dewan Rakyat) untuk Hindia Belanda. Pada bulan Desember 1916 dibentuklah Undang-Undang Pembentukan Volksraad dan diberlakukan pada bulan Agustus 1917 dan pada bulan Mei 1918 sidang Volksraad pertama dibuka oleh Gubernur Jenderal J.P. Graaf van Limburg Stirum.

Para Wakil Aceh di Volksraad

Teuku Nyak Arief diusia 28 sebagai anggota Volksraad (Tahun 1927).

Bangsa-bangsa asli di Hindia Belanda sangat sedikit pada dewan ini, namun Volksraad merupakan salah satu wadah perjuangan rakyat Indonesia, termasuk Aceh. Dari tahun 1918-1920 Pemerintah Hindia Belanda mengangkat Teuku Mohammad Tayeb dari Pereulak sebagai anggota Volksraad dari Aceh. Kemudian pada tanggal 16 Mei 1927 Teuku Nyak Arief diangkat sebagai anggota Volksraad disamping tetap memegang jabatan Panglima Sagi XXVI Mukim di Aceh.

Teuku Nyak Arief diangkat atas usul Gubernur Belanda di Aceh, Edelheer Hens. Menurut Hens, Teuku Nyak Arief sangat mengenal penghidupan rakyat Aceh, sebagai pemimpin ia percaya diri, berani, jujur dan terus terang. Teuku Nyak Arief sendiri adalah seorang pemimpin Aceh yang gagah berani, kelihatan kecil, tapi pedas.

Ulasan Surat Kabar Bintang Timoer No. 107, 13 Mei 1927, Tahun II yang bertajuk : Teuku Nyak Arief Anak Aceh Tulen Berani dan Lurus

Surat kabar Bintang Timur memuat percakapan salah satu wartawannya Aneta, dengan Teuku Nyak Arief. “Percaya pada diri sendiri dan berani, jujur berterus terang. Itu adalah tabiat Aceh, yang kita percaya ada pada Teuku Nyak Arief, yang menjadi wakil dari bangsanya. Sebab itu Indonesier boleh nanti merasa bangga mempunya satu lid Aceh yang semacam itu.”

Rencong Aceh melambangkan sifat percaya pada diri sendiri dan berani, jujur berterus terang. Itu adalah tabiat Aceh.

Teuku Nyak Arief masuk fraksi nasional yang diketuai oleh Mohammad Husni Thamrin, beliau masuk fraksi ini sesuai dengan jiwanya. Ia tak hanya membela Aceh, tapi juga daerah lainnya. Suaranya sangat keras menentang pihak-pihak yang berjiwa kolonial. Itu terlihat jelas pada pidato-pidatonya pada dewan.

Teuku Nyak Arief selaku anggota Volksraad berteman akrab dengan para tokoh pergerakan nasional antara lain: Mohammad Husni Thamrin, M, Soengkono, Datuk Kayo, Kusumo Utoyo, Mochtar, Raden Panji Suroso dan lain-lain. Bahkan Mohammad Husni Thamrin dan M. Soengkono pernah berkunjung ke Aceh dan menemui Teuku Nyak Arief.

Teuku Nyak Arief sebagai Pembela Rakyat

Pendidikan pada masa kolonial Belanda sangatlah kurang, jumlah sekolah terlalu sedikit dibandingkan jumlah penduduk. Maka tampillah Taman Siswa dan Muhammadiyah sebagai pelopor pendidikan partikelir (swasta). Pemerintah Belanda merasa khawatir sehingga Gubernur Jenderal de Jonge mengeluarkan peraturan sekolah liar (Wilde Scholen Ordonantie) yang menganggap sekolah Taman Siswa dan Muhammadiyah sebagai sekolah liar.

Fraksi Nasional di Volksraad menentang peraturan ini sebagaimana rakyat Indonesia juga pada umumnya, meminta agar peraturan ini dicabut. Mohammad Husni Thamrin bahkan bermaksud keluar dari Volksraad apabila tuntutan ini gagal. Sementara di Aceh, Teuku Nyak Arief sebagai donator tetap sejak Taman Siswa berdiri sebagai donatur tetap dengan pengaruhnya berhasil membuat para pemimpin Aceh baik Uleebalang1) maupun ulama juga satu suara menentang peraturan tersebut. Akhirnya pemerintah Hindia Belanda akhirnya mencabut peraturan tersebut pada tahun 1932.

Teuku Nyak Arief (X) selaku ketua Atjehsche Voetbal Bond.

Disamping pendidikan, Teuku Nyak Arief juga gemar olahraga sepakbola, pada bulan Desember 1935 diangkat sebagai Ketua Atjehsche Voetbal Bond2) mengantikan Teuku Hasan Dek.

Sebagai Panglima Sagi XXVI Mukim, Teuku Nyak Arief termasuk pegawai pemerintah Hindia Belanda meskipun begitu ia tidak takut pada Belanda. Ketika tahun 1932 diadakan acara pembukaan patung Van Heutsz3), ia memperlihatkan ketidaksetujuannya dengan tidak hadir.

Teuku Panglima Polem (XX), Teuku Nyak Arief (X) bersama beberapa tokoh Aceh di pantai Lhok Nga.

Teuku Nyak Arief juga kerap membela rakyat apabila dizalimi oleh aparat Kolonial. Setiap kali terjadi pertentangan dengan pejabat kolonial, Teuku Nyak Arief akan berkata keras, “Silahkan bunuh saja saya, biar tuan bebas melaksanakan rencana tuan-tuan!” Ia adalah tokoh yang terkanal di Aceh, terutama dikalangan Uleebalang, yang selalu memperhatikan nasib rakyat, sebagai pemimpin yang disegani oleh pemerintah Hindia Belanda sekalipun.

Nasab atau Garis Keturunan Teuku Nyak Arief

Teuku Nyak Arief sekeluarga.

Teuku Nyak Arief lahir 17 Juli 1899 di Ulee Lheu dan meninggal 4 Mei 1946 di Takengon, dikebumikan di Lamreueng, merupakan keturunan dari Sultan Aceh Darussalam, Sultan Muzaffar Syah bin Sultan Alauddin Inayat Syah. Ayahnya Teuku Nyak Banta Panglima Sagi XXVI Mukim, ibunya Cut Nyak Rayeuk.

Daftar Istilah dan Index:

  1. Uleebalang = Raja-raja kecil sebagai perpanjangan tangan Belanda. Beberapa merupakan warisan Kesultanan Aceh Darussalam, beberapa diangkat oleh Belanda;
  2. Atjehsche Voetbal Bond = Perkumpulan Sepakbola Aceh;
  3. Joannes Benedictus van Heutsz = Dikenal sebagai penakluk Aceh, sebagai Gubernur Aceh ia berhasil memadamkan perlawanan Teuku Umar (1899) dan menangkap Sultan Aceh terakhir, Tuanku Mohammad Daudsyah (1903). Gubernur Sipil dan Militer Aceh (1898-1904) kemudian dipromosi menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1904-1909);

Daftar Pustaka:

  1. Wikipedia; https://id.wikipedia.org/wiki/Volksraad;
  2. Pahlawan Nasional Teuku Nyak Arif; Drs. Mardanas Safwan; Cetakan Pertama; tahun 1992; Penerbit Balai Pustaka; Jakarta;
  3. Rencong Aceh Perjuangan Pahlawan Nasional Teuku Nyak Arif; Drs. Jauhari Ishak; Penerbit Proyek Pengembangan Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  2. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  3. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  4. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  5. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  6. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  7. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  8. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  9. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  10. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  11. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  12. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  13. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  14. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  15. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  16. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  17. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  18. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  19. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  20. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  21. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  22. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  23. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  24. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  25. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  27. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  28. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  29. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  30. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  31. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  32. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  33. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  34. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  35. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  36. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  37. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  38. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  39. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  40. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  41. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  42. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  43. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  44. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  45. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  46. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  47. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  48. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  49. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  50. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  51. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  52. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  53. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  54. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  55. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  56. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  57. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  58. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  59. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

SOEHARTO AND HIS FAMILY WERE THE BIGGEST ROBBERS IN INDONESIA HISTORY

Soeharto and his family (Soeharto Inc.) has controlled and divided natural resources in Indonesia until now.

SOEHARTO AND HIS FAMILY WERE THE BIGGEST ROBBERS IN INDONESIA HISTORY

Soeharto and his family were the biggest “robbers” in Indonesian history. Transparency International (TI), an international institution that is widely known for its commitment to eradicate corruption, has named former President Soeharto the richest corruptor in the world. Suharto’s wealth from the results of corruption reached US $ 15-35 billion. The result of looting for 32 years in power in Indonesia since 1967.

translation in Indonesian

“Soeharto dan Keluarganya adalah “Perampok” terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Transparency International (TI), lembaga internasional yang dikenal luas dengan komitmennya memberantas korupsi, menobatkan bekas Presiden Soeharto sebagai koruptor paling kaya di dunia. Kekayaan Soeharto dari hasil korupsi mencapai US$ 15-35 miliar. Hasil penjarahan selama 32 tahun berkuasa di Indonesia sejak 1967.”

Related article / Artikel terkait dalam Bahasa Indonesia

  1. PENJARAHAN KEBUDAYAAN
  2. BUKU KESAYANGAN KAKEK DAN HAL-HAL YANG TIDAK DICATAT SEJARAH

Other historical related articles:

  1. THE HISTORY OF INDONESIAN POETRY; 6 April 2017;
  2. CUMBOK WAR, A SOCIAL REVOLUTION IN ACEH (1946-1947); 8 April 2017;
  3. CIVILIZATION WITHOUT WRITING; 13 April 2017;
  4. BEHIND THE SCENES MACHIAVELLI WROTE THE PRINCE; 23 April 2017;
  5. ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZING THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS; 27 April 2017;
  6. HISTORY OF SARONG; 20 May 2017;
  7. DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910); 20 May 2017;
  8. SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA; 6 June 2017;
  9. CONQUEST OF CULTURE; 15 June 2017;
  10. MANTE THE LOST PYGMY TRIBE; 13 July 2017;
  11. CIRCLE OF HATRED; 14 July 2017;
  12. HISTORICAL REPETITION; 15 July 2017;
  13. HOW TO TELL HISTORY; 14 August 2017;
  14. THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH; 19 August 2017;
  15. THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE; 28 September 2017;
  16. PEUCUT KHERKOFF, ACEH-DUTCH WAR MONUMENT; 12 November 2017;
  17. THE PRICE OF FREEDOM; 5 December 2017;
  18. MARSOSE CORPS, THE DUTCH SPECIAL ARMY DURING ACEH WAR; 19 March 2018;
  19. ISLAMIC POLITICS BY SNOUCK HURGRONJE AS ADVICE TO DUTCH INDIES GOVERNMENT TO REDUCE ISLAM POWER IN INDONESIA; 9 July 2018;
  20. ACEHNESE IN SUMATRAN HISTORY; 6 September 2018;
Posted in Asal Usil, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, History, International, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Photography, Reportase, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment