LOMPATAN PERUBAHAN

Bocah-bocah di depan gerbang sekolah, berteriak gembira mengekspresikan keriangan hati terdalam, kepolosan ekspresi bocah-bocah sungguh menggetarkan hati.

LOMPATAN PERUBAHAN

“Zaman itu seperti makhluk hidup, sehebat apapun persiapan yang dilakukan, adakalanya situasi berubah secara cepat. Dibutuhkan kecerdasan untuk menghadapi perubahan mendadak, dan bersamaan juga dibutuhkan ilmu untuk mampu mengatasinya.”

Awal Tahun 1998. Kelas kami diminta untuk mencari blangko wesel karena dalam pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 2 SMP Negeri 1 Banda Aceh akan ada praktek pengisian wesel. Tahun-tahun ini wesel masih digunakan, namun tak jamak lagi digunakan. Layanan wesel sudah digerus oleh layanan perbankan, sehingga beberapa teman Abu yang menggerutu tentang sulitnya mencari blangko wesel tersebut. Abu sendiri mendapatkan blangko wesel itu di pasar sayur malah!

Blangko Wesel Klasik

“Kalian mesti tahu cara menggunakan wesel! Kelak pengetahuan ini akan berguna ketika kalian menjadi mahasiswa!” Ultimatum guru Bahasa Indonesia.

Tapi tokh, tahun 1998 adalah tahun yang bergejolak, krisis ekonomi moneter menghantam Asia, dan Indonesia menjadi Negara yang paling terdampak. Bisa dibayangkan jika sebelumnya harga 1 USD adalah Rp. 2,500. Melonjak menjadi Rp. 15,000. Harga-harga melonjak tinggi, harga angkutan umum naik 2 kali lipat, akibat harga BBM naik. Di tengah situasi chaos melanda Indonesia, terjadi banyak kerusuhan di seluruh negeri sehingga Presiden Suharto yang telah menjabat selama 32 tahun menyatakan berhenti, orde baru berakhir dan dimulailah masa reformasi.

Lupakan politik, tidak menarik.

Pertengahan tahun 2001, saat itu Abu masih kelas 2 SMA terjadi gempa pada malam Jumat di Banda Aceh. Pada era tersebut gempa adalah fenomena alam yang sangat jarang terjadi. Nenek Abu memberitahu bahwa berdasar cerita yang beliau dapat dari neneknya, atau bisa jadi dari beberapa generasi terdahulu jika terjadi gempa di malam jumat di Aceh adalah sebuah pertanda sebuah bencana besar akan datang.

Abu tersenyum dan sedikit membantah; “Nek kita ini dalam keadaan perang. Kondisi musibah macam apalagi yang lebih besar akan menimpa kita?” Benar saat itu di Aceh sedang terjadi peperangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI (Tentara Republik Indonesia) media 1999-2005. Masyarakat sipil adalah korban yang paling menderita dan paling dirugikan.

Konflik Aceh 1999-2005

Perang menutup semua dialog keilmuan, logika manusia dalam peperangan tidak akan berjalan baik. Para pihak yang ada di dalam kancah itu dilingkupi rasa takut atau marah. Dalam perang yang panjang, semua orang baik, orang pintar, kritis, dan punya pendirian, semuanya mati. Mati dibunuh. Yang tinggal hanyalah orang-orang berkepala dua.

Baca: Setelah Revolusi Selesai

Ramalan nenek Abu terbukti beberapa tahun kemudian, 26 Desember 2004, antara pukul delapan dan lewat lima belas. Gulungan gelombang setinggi lima belas meter menggodam pesisir barat Aceh dengan ganas, gempa pada 8,9 pada skala richter melontarkan tsunami ke daratan. Air bah kemudian kembali ke laut, meninggalkan ribuan bangkai terapung, terangkut, lenyap atau tersangkut di bumi. Puluhan ribu orang tewas dan beratus ribu kehilangan ketika gelombang laut menghancurkan mendadak banyak kehidupan.

Baca: Tsunami

Bencana alam tsunami akhirnya membawa hikmah, pihak yang bertikai di Aceh akhirnya duduk berunding di Helsinki dan mencapai titik sepakat untuk mengakhiri perang yang berkecamuk. Korban perang di Aceh selama konflik itu mungkin lebih sedikit daripada bencana tsunami, akan tetapi perang lebih membawa dampak psikologis daripada bencana. Illustrasinya adalah: Dalam perdamaian, para anak memakamkan bapak-bapak mereka, dalam peperangan, para bapak memakamkan anak-anak mereka.

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Waktu terus bergulir diikuti oleh lompatan teknologi dan informasi.

Hari ini di tahun 2021, belasan tahun dari kejadian yang Abu ceritakan diatas. Sampailah di era digital. Setiap manusia mengalami habitat budaya sesuai dengan lingkup zamannya, sesuai dengan teknologi yang ada pada masanya. Sebagai contoh Kakek Abu (1929-1992). Sepanjang hidup beliau tidak mengalami banyak loncatan penemuan teknologi, mengirim surat via pos, mengirim uang via wesel atau menelpon. Ayah Abu (1957-2004) mungkin mengalami zaman internet dan komputer namun ketika beliau hidup, teknologi tersebut masih pada taraf awal sehingga beliau belum merasakan dampaknya terlalu.

Nokia sebagai salah satu perintis teknologi telepon seluler.

Sementara Abu mengalami semuanya, zaman menulis surat dengan sahabat pena. Menerima wesel honor menulis (di koran) ketika SMA, kemudian menerima uang lewat transfer ATM sampai piawai menggunakan internet banking. Dari zaman berteman manual, kemudian mengenal handphone, BBM sampai WA. Media sosial pun berkembang pesat seiring dengan pesatnya dunia digital.

Dahulu ketika seseorang ingin mendapatkan informasi ada dua pilihan, mencari info di perpustakaan atau menjumpai/bertanya kepada seseorang yang memahami. Sekarang google memudahkan siapapun untuk bertanya tentang apapun.

Abu membayangkan dahulu satu umur hidup seseorang (misalkan Ayah Abu) mungkin tidak terlalu banyak mendapati perubahan dibandingkan umur Abu. Orang yang (baru) hidup di zaman SMS mungkin sulit membayangkan sukarnya hubungan dengan surat menyurat, atau orang zaman WA akan menertawakan orang-orang zaman BBM betapa terbatasnya fitur aplikasi tersebut, jika tidak mengalami zaman itu sendiri. Sebagai seseorang yang pernah hidup di masa lalu, Abu hanya ingin menyampaikan idiom bahwa zaman ini mungkin lebih cepat, namun zaman dahulu tentu lebih romantis. Ketika tulisan menjadi ekspresi informasi bukan lagi ekspresi rasa. Mungkin itulah sebabnya puisi telah mati di era sekarang.

Perubahan yang dibawa oleh COVID-19

Covid-19 kemudian membawa perubahan yang lebih nyata lagi, manusia dipaksa membuat jarak dengan manusia lainnnya secara fisik. Rapat-rapat perkantoran sekarang tidak lagi mengharapkan kehadiran fisik, cukup via Zoom. Penetrasi digital lebih ditingkatkan lagi.

Teknologi yang baru melahirkan inovasi yang baru. Kekuatan perbankan besar ditabrak oleh Bitcoin, dominasi televisi digoyang oleh youtube, Hotel-hotel besar sekarang berhadapan dengan model hotel rumahan seperti ABnB, Grab dan Gojek berhadapan dengan perusahaan taksi seperti Blue Bird. Artinya perusahaan besar harus berhadapan dengan perusahaan kecil-kecil yang lebih siap. Mungkin sistem ini akan menghasilkan yang terbaik?

Tapi sebagai orang dari zaman lama, Abu terpaksa meringis sedih ketika seorang supir bus angkutan antar kota bercerita kepada Abu disebuah warung nasi ketika sahur tadi, “Tahun ini (2021) lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya, termasuk 2020. Kami para supir angkutan merasa ditekan oleh rezim yang sekarang, baik pusat maupun provinsi. Kemana kami harus mengadu bang?”

Benar buku sejarah yang pernah Abu baca, kekacauan selalu menyertai sebuah perubahan besar.

Abu menarik rokok dalam-dalam, menatap nanar padanya tanpa suara. Pandemi membuat kita waspada, dan bahkan cenderung curiga kepada sesama. Manusia telah berubah sebagaimana zaman telah berganti. Terenyuh dan sedih, Abu mengenang saat menjadi salah satu dari belasan anak SMA Negeri 3 Banda Aceh yang berbagi sebatang rokok di kantin belakang sekolah. Masa lalu yang tidak mungkin lagi terulang (lagi).

Lompatan perubahan, ada yang hilang tapi (juga) ada yang datang.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939)

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939)

KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA

Pada awal abad ke-19 Masehi. Perang Aceh telah berlangsung puluhan tahun, perjuangan rakyat Aceh menghadapi pemerintah kolonial Belanda belum juga menyusut. Untuk segera mengakhiri perang Belanda mengirimkan pasukan-pasukan mengejar Sultan Aceh Tuanku Muhammad Daudsyah dan Panglima Polem sebagai pimpinan perang yang dianggap paling berpengaruh. Setelah Teuku Umar gugur posisi Sultan Aceh di pesisir timur Aceh semakin sulit sehingga harus berpindah ke Gayo, daerah yang belum pernah bisa dimasuki oleh pasukan Belanda meski perang telah berlangsung selama 30 tahun. Laskar Aceh hampir setiap hari menyerang pos pasukan marsose yang berada di lereng-lereng gunung.

Untuk mengatasi “kekacauan” yang ditimbulkan laskar Aceh dari Gayo maka dikirimkanlah batalion marsose dari daerah Pasai dibawah pimpinan Mayor Jenderal Van Daalen (September-November 1901) dan batalion pimpinan Letnan Kolonel Scheepens (Juni-September 1902) dari Meureudu untuk melakukan penyerangan ke wilayah Gayo. Mereka mengalahkan beberapa benteng di perbatasan Aceh-Gayo namun tujuan menangkap Sultan Aceh dan Panglima Polem mengalami kegagalan diakibatkan kesetiaan rakyat Gayo kepada Sultan Aceh.

Strategi Belanda Menangkapi Keluarga Sultan Aceh

Kegagalan demi kegagalan membuat Belanda berpikir keras! Ketika mereka tidak bisa masuk lewat pintu depan maka mereka mencoba menerobos lewat pintu belakang. Belanda mengirimkan pasukan marsose menerobos wilayah Pidie untuk menangkap keluarga Sultan Aceh yang menurut laporan mata-mata Belanda ada di sana.

Ekspedisi Pasukan Marsose ke pedalaman Lamlo, Pidie menggunakan sarana transportasi gajah dikarenakan medan yang berat.

Ekspedisi Pasukan Marsose ke pedalaman Lamlo, Pidie menggunakan sarana transportasi gajah dikarenakan medan yang berat.

Tuanku Putroe Glumpang Payong seorang istri sultan Aceh ditangkap pada tanggal 26 November 1902 oleh pasukan dibawah pimpinan Letnan Christoffel, sebulan kemudian pada hari natal, 26 Desember 1902 pasukan Belanda dibawah komando Kapten van der Maateen berhasil menangkap istri sultan Aceh lainnya, Pocut Cot Murong dan anak satu-satunya dari sultan Tuanku Ibrahim yang masih balita di Lam Meulo. Berdasarkan arsip pemerintahan kolonial Belanda yang terangkum dalam Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronye, metode penangkapan dan penyanderaan keluarga sultan Aceh yang dikenal dengan kode “Metode Christoffel” dijalankan atas anjuran Snouck untuk segera mengakhiri perang Aceh.

Atas keberhasilan menyandera anak dan istri Sultan Aceh maka Gubernur Jenderal dan Militer Belanda di Aceh, Jenderal Van Heutsz mengeluarkan ultimatum dalam tempo satu bulan apabila sultan tidak menyerah maka kedua istrinya dan puteranya akan dibuang ke luar Aceh.

Menyerah Atas Nama Pribadi Bukan Sebagai Sultan Aceh!

Sultan Muhammad Daud Syah menyerah kepada Belanda pada tanggal 10 Januari 1903 di Sigli. Ia mengenakan pakaian rakyat biasa, tanpa alas kaki, seluruh pakaian dan perlengkapan kebesarannya telah ditanggalkan. Di hadapan perwakilan Belanda Sultan Muhammad Daudsyah berkata, bahwa pedang yang tersarung hari ini adalah sebagai pribadi, bukan atas nama Aceh.

Ketika menyerah kepada Belanda, Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah melepaskan segala atribut kebesaran termasuk tidak mengenakan alas kaki untuk menyampaikan pesan tegas. Ia menyerah secara pribadi.

Ketika menyerah kepada Belanda, Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah melepaskan segala atribut kebesaran termasuk tidak mengenakan alas kaki untuk menyampaikan pesan tegas. Ia menyerah secara pribadi.

Selain itu Sultan Muhammad Daudsyah menolak menandatangani dokumen yang berisi pasal-pasal tentang penyerahan kekuasaan kepada Belanda dengan berkata secara diplomatis, sebagaimana diceritakan secara oral oleh pada orang tua, Sultan Aceh berkata: “Kedaulatan Aceh ada pada rakyat!” Belanda sangat berang! Sultan yang pura-pura begitulah menjuluki dan mencantumkan nama Sultan Muhammad Daudsyah pada setiap dokumen resmi. Sultan kemudian dijadikan tahanan kota di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) dan harus melapor kepada Belanda setiap kurun waktu tertentu.

Belanda menduga setelah sultan ditangkap maka perlawanan akan berakhir, sebagaimana diberbagai wilayah di Nusantara yang berperang dengan Belanda, ketika raja menyerah maka rakyat menyusul. Ternyata tidak perang Aceh masih berlanjut.

Laskar Aceh terus melakukan perlawanan dan bahkan melakukan penyerangan ke Kutaraja (Banda Aceh sekarang) dan sekitarnya seperti Leupung dan Peukan Bada. Berdasarkan laporan mata-mata setiap serangan dilakukan atas perencanaan dan sepengetahuan Sultan Muhammad Daudsyah.

Kediaman Sultan Muhammad Daudsyah kemudian digeledah serta ditemukan berbagai surat-surat dari panglima perang di Aceh yang masih aktif. Namun yang paling membuat Belanda geram adalah ditemukan korespodensi antara Sultan Aceh dengan Kaisar Mitsushito yang isinya ucapan selamat atas kemenangan perang Jepang melawan Rusia (tahun 1905) dan upaya menjalin kerja sama sebagai sesama bangsa Asia untuk mengusir Belanda dari bumi Aceh.

Pembuangan Sultan Aceh Oleh Belanda

Merasa terpedaya dan menyadari betapa berbahayanya Sultan Muhammad Daudsyah bagi kelangsungan pemerintahan kolonial Belanda di Aceh maka Belanda kemudian menjatuhkan hukuman. Sebuah hukumam yang paling menyakitkan setiap orang Aceh, yang mencintai Aceh, mengasingkan beliau ke Ambon.

Semangat jihad Sultan Aceh tidak pernah padam bahkan dalam pengasingan di Ambon, beliau melakukan dakwah dan menyebarkan agama Islam di sana. Bangsawan dan masyarakat Ambon banyak yang memeluk agama Islam. Belanda tidak senang dan memutuskan untuk memindahkan Sultan Muhammad Daudyah ke Batavia (Jakarta sekarang).

Berziarah ke makam Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah

Berziarah ke makam Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah

Pada tanggal 6 Februari 1939 Sultan Aceh terakhir, bernama lengkap Alaiddin Muhammad Daudsyah menghembuskan nafas yang terakhir dan dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Hutan Kayu di kawasan Rawamangun, Jakarta.

Pada tahun 1942 Belanda angkat kaki dari Aceh digantian Jepang, dan meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sultan Aceh terakhir tidak lagi hidup untuk melihat piala yang telah diperjuangankan sepanjang hidupnya, Piala itu: KEMERDEKAAN!

Referensi:

  1. Perang Kolonial Belanda di Aceh / The Dutch Colonial War in Aceh (Dwibahasa / Bilingual); Penerbit Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA); Cetakan ke 1, Banda Aceh; tahun 1977;
  2. Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936; Dirangkum oleh E. Gobee dan C. Adriaanse; Penerjemah Sukarsi; Seri Khusus INIS Jilid I-XI; Jakarta: Penerbit (Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies) INIS, Jakarta; tahun 1990;

XXX

Artikel-artikel terdahulu tentang Aceh:

  1. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  2. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  3. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  4. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  5. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  6. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  7. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  8. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  9. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  10. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  11. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  12. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  13. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  14. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  15. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  16. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  17. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  18. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  19. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  20. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  21. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  22. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  23. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  24. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  25. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  26. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  27. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  28. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  29. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  30. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  31. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  32. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  33. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  34. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  35. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  36. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  37. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  38. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  39. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  40. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  41. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  42. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  43. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  44. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  45. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  46. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  47. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  48. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  49. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  50. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  51. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  52. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  53. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  54. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  55. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  56. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  57. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  58. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  59. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

HATI RESAH BERKISAH

Ada banyak misteri yang tak mungkin dianggap sebagai masalah bagi kecerdasan kita ketika tidak mengetahuinya.

HATI RESAH BERKISAH

Sebab akibat tidak serta merta berlaku kepada manusia.

Hidup tidak begitu.

Seperti banyak membaca buku belum tentu membuat menambah ilmu, banyaknya pengalaman belum tentu membuat seseorang lebih bijak, sebagaimana pula perenungan dalam tidak mesti membuatmu menjadi lebih baik.

Ada banyak misteri yang tak mungkin dianggap sebagai masalah bagi kecerdasan kita ketika tidak mengetahuinya.

Terkadang kau kalah. Kau melakukan yang baik, kita semua, tapi terkadang kau kalah. Ini menyakitkan. Hari itu, kata-kata bijak bagai tulah.

Ada rasa lelah menghilangkan marah membuncah, ini adalah masa ketika tidak merasakan duka, disitulah bahagia.

Langsa, 18 Sya’ban 1442 Hijriah, bertepatan 1 April 2021.

Beberapa puisi terdahulu:

  1. Renungan Malam; 19 November 2017;
  2. Seminggu Setelah Tsunami Aceh; 13 Desember 2017;
  3. Penantian; 21 Februari 2018;
  4. Di Tepian Pantai Pulau Bunta; 6 Maret 2018;
  5. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  6. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  7. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  8. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  9. Jangan Mencintai Lautan; 4 April 2019;
  10. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  11. Peucut Kherkof Suatu Masa; 24 September 2019;
  12. Mengunci Malam; 1 April 2020;
  13. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  14. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  15. Jejak Langkah; 26 Desember 2020;
Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

AKHIR RIWAYAT SANG DURJANA

Detasemen KNIL menangkap seorang Aceh di dekat Kota Meulaboh tahun 1925; sumber KITLV.nl

AKHIR RIWAYAT SANG DURJANA

Dekat kota Meulaboh, circa 1925.

Sudah berapa lama aku tidak makan nasi? Aku sudah lupa harumnya uap nasi ketika matang, rasa pedas cabai yang mengigit lidah, serta manisnya air tebu. Entah berbulan-bulan atau mungkin tahunan aku berada dalam rimba. Makan batang pisang sehingga perutku tak mampu lagi mencerna, terlalu lama aku telah berkelana dalam rimba sehingga sudah dianggap bagian daripadanya. Nyamuk sudah lama tak mengigit tubuhku, harimau hutan pun tak peduli jika berpapasan denganku.

Kawan-kawanku telah syahid semuanya! Tinggal aku seorang. Umar yang nakal sudah tidak ada lagi, Saman yang soleh telah tewas diracun. Hanya aku yang masih bertahan tapi sampai kapan aku bisa bertahan?

Aku merasakan lapar yang sangat hebat, rasa-rasanya aku akan mati sebentar lagi. Kecamuk perasaan marah, sedih, berbagai pertanyaan yang tak kunjung ada jawab, bimbang, rasa tidak percaya dan putus asa, semua emosi berbaur di hati. Saat ini aku tenggelam dalam kebimbangan. Aku harus mampu meloloskan diri sebelum semakin dalam terperangkap dalam rasa ini. Jiwa yang rentan sewaktu-waktu akan hancur.

Aku memejamkan mata seraya menggucapkan syahadat, “Ashaduala ilaaha illallah Wa ashadu anna muhammadar rasulullah.” Malam kelam dalam rimba yang gulita.

Ketika pagi datang aku masih hidup, namun tak mampu lagi menggerakkan tubuhku, lamat-lamat aku mendengar suara peluit.

XXX

Pagi hari Tanggal 29 pasukan bergerak di sepanjang alur sungai Teunom ke hulu, dari situ menebang beberapa pohon yang menghalangi jalan kecil menuju sebuah lereng yang lebat hutannya. Di sana mereka menjumpai bekas tapak kaki. Tanpa bersuara, pasukan mengikuti tapak kaki itu, tak jauh tampak sebatang pohon bekas ditebang, mungkin untuk kayu api, sedang dari belukar-belukarnya telah dipotong daun-daunnya untuk atap. Jelaslah bahwa tempat persembunyian lawan terletak di dekat sini. Renjan seorang Pasukan Marsose bergerak terus ke depan melalui semak-semak sehingga dapat melihat sebuah pondok. Ia segera merebahkan dirinya ke tanah bersama teman-teman yang lain.

Sebagai komandan, aku memberikan isyarat dan semua anggota pasukan meletakkan ransel ke tanah, sebagian mereka mendekati bukit dengan hati-hati sekali untuk memperhatikan dengan jelas tempat persembunyian tanpa dapat dilihat oleh lawan.

Aku membunyikan peluit tiga kali, pendek-pendek untuk memperingatkan anggota pasukan bergerak. Mereka pun maju dan melihat di atas pondok itu ada seorang yang sedang tertidur, seorang beruban yang mengenggam sebilah rencong di tangan kanannya, sedang di tangan kirinya sebuah kelewang. Ia telah dikejutkan oleh bunyi peluit, namun ia tidak melarikan diri. Ia bangun dan berpikir sejenak dan pada saat-saat itu ia dapat mengukur jangka kehidupannya. Pilihannya adalah gugur sebagai seorang syahid.

Dengan kepalanya yang beruban orang tua itu berdiri sementara matanya  terus memperhatikan sikap anggota kompeni yang bermunculan dari semak-semak. Ia tidak memperlihatkan sikap bimbangnya. Dan ketika marsose-marsose menembakkan butir-butir peluru kearahnya. Ia menunjukkan ketabahan yang luar biasa, seolah pelor-pelor yang ditembakkan kearahnya seolah dusta belaka. Adegan pertempuran itu segera berakhir, walaupun ia telah bertempur dengan gagah berani.

Demikianlah sang durjana gugur, demikianlah akhir riwayat sang durjana, seorang keramat yang memiliki kharisma yang luar biasa. Tamat pulalah satu babak buku peperangan yang sangat menarik.

Laporan tertulis Kapten (KNIL) Veltman kepada atasannya tentang operasi di dekat Meulaboh tahun 1925.

XXX

Aku telah terkepung oleh pasukan marsose, iya inilah akhirnya. Ketika belasan moncong senjata diarahkan kepadaku. Rasa takutku menyublim, aku telah mati berkali-kali sebelum hari ini. Demi orang-orang yang ingin aku lindungi, aku akan berusaha mati-matian, jika harus kehilangan nyawa itu sesuai harapanku.

Ketika butiran peluru menghambur ke arahku, aku merasa diriku telah lenyap, aku tak mengenali lagi diriku ketika timah panas menghantam tubuhku. Aku telah kembali kepada yang SATU.

XXX

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170)

XXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  2. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  3. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  4. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  5. Selamanya; 14 Desember 2008;
  6. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  7. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  8. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  9. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  10. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  11. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  12. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  13. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  14. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  15. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  16. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  17. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  18. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  19. Ada Banyak Cinta; 15 Maret 2011;
  20. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  21. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  22. Ode Seekor Harimau; 19 Agustus 2012;
  23. Ashura; 13 Februari 2013;
  24. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  25. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  26. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  27. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  28. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  29. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  30. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  31. Perjalanan; 29 November 2013;
  32. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  33. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  34. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  35. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  36. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  37. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  38. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  39. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  40. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  41. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  42. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  43. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  44. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  45. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  46. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  47. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  48. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  49. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
  50. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MENGAPA HARUS MEMPELAJARI BAHASA DAERAH

Penari Seudati di Gayo tahun 1930. Sumber : KITLV

MENGAPA HARUS MEMPELAJARI BAHASA DAERAH

Setiap kata, setiap kalimat yang kalian baca ini adalah bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan. Telah diprediksikan pada akhir abad ini hampir semua bahasa daerah di Indonesia yang berjumlah 600 bahasa saat ini akan tidak lagi diucapkan oleh para penuturnya diakibatkan perkembangan bahasa Indonesia (nasional).

Membuat kita kembali kepada pertanyaan awal mengapa harus mempelajari bahasa daerah? Ada banyak alasan. Salah satunya, bahasa daerah adalah kunci untuk ikut serta dalam budaya orang-orang terdahulu atau yang masih bertutur, bahasa adalah nilai dari sebuah fakta yang merupakan kode yang hanya dipahami mereka yang berpikir dengan bahasa tersebut.

Alasan kedua, ketika seseorang mampu bertutur lebih dari satu bahasa maka orang tersebut akan cenderung terhindar dari penyakit demensia (pikun), dan membuat orang itu mampu mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam tindakan dan pikiran. Bilingual itu menyehatkan.

Alasan ketiga, bahasa memiliki banyak keasyikan padanya. Lebih daripada dari yang diceritakan orang-orang. Sebagai contoh kata “boh” dalam bahasa Aceh bisa bermakna: buah, buang, alat kelamin, meletakkan. Semua memiliki kesamaan huruf/kata. Bagaimana membedakannya? Dari pengucapannya dimana si penutur menggulungkan lidah sehingga menghasilkan bunyi yang mirip tapi tidak sama bagi si pendengar.

Bisa dikatakan tiap-tiap bahasa memiliki pengucapan yang berbeda-beda, tiap-tiap bahasa daerah memiliki keunikan masing-masing. Mempelajari bagaimana mengucapkan seperti mengemudi dengan berbagai jenis kenderaan atau sistem operasi. Bahasa adalah pola pikir, berganti bahasa juga sejenis menyesuaikan diri dengan pemahaman yang berbeda.

Tiap-tiap bahasa adalah keajaiban, bahasa menunjukkan bangsa. Hal-hal lucu dalam satu kebudayaan hanya bisa diceritakan oleh bahasa budaya tersebut. Mempelajari bahasa daerah akan sangat menyenangkan, menguasai bahasa baru tidak akan mengubah pikiran kita tapi pasti akan membuka pemahaman baru dalam pikiranmu.

Bahasa adalah jembatan awal menuju pemahaman kebudayaan.

Beberapa Opini lain:

  1. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  2. Asal Muasal Budaya Kopi Di Aceh; 1 Agustus 2017;
  3. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  4. Dimanakah Makam Para Ratu Yang Pernah Memerintah Aceh Selama 59 Tahun; 6 Oktober 2017;
  5. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  6. Eksploitasi Sumber Daya Alam Apakah Bagus Untuk Aceh; 15 Oktober 2017;
  7. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  8. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  9. Kejatuhan Sang (Mantan) Pejuang; 6 Juli 2018;
  10. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  11. Menafsir Alam Membaca Masa Depan; 14 Maret 2019;
  12. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  13. Merekonstruksikan Kembali Letak Istana Daroddonya; 3 Maret 2020;
  14. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
  15. Kenapa Sejarah Tak Boleh Dilupakan; 4 Oktober 2020;
Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN

Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

Sepasukan patroli tentara Belanda dengan bantuan Panglima Laot yang menunjukkan jalan telah berhasil menangkap Cut Nyak Din. Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN

“..Aceh hari ini, Tuanku, sudah terlalu beda rupanya sejak Tuanku meninggalkannya menghadap Rabbul Alamin. Andaikata Tuanku dapat bangkit kembali dan datang kemari, sungguh Tuanku tidak (akan) mengenalnya lagi. Kami, hari ini bukan lagi penguasa yang disebut-sebut  dengan penuh penghormatan dan I’tiraf bil jamil (pengakuan atas keindahan budi). Kemi telah jatuh. Berkali jatuh, dan kini berada di dasar jurang yang dalam.

Terakhir kami bangkit untuk berdiri tegak namun kemudian kami jatuh pula lagi, dan kini tidak ada apa-apa lagi yang dapat kami banggakan dari kami. Kami telah mengubah negeri yang Tuanku pegang perintahnya di bawah petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Kami telah melupakan Tuanku. Kami juga tidak mencari jejak-jejak yang Tuanku dan para pendahulu Tuanku tinggalkan. Bagi kami itu sudah tidak penting lagi. Itu sekedar masa lalu…”

Petikan surat dari Sultan Mansyur Syah kepada Khalifah di Instanbul, Sultan Abdul Majid Khan berisikan Permohonan Bantuan Kesultanan Aceh kepada Khalifah Turki Ustmani untuk menyerang pusat pemerintahan Hindia Belanda Batavia di tahun 1848 Masehi. Naskah surat dipublikasi dalam tulisan: “Islam, Trade and Politics Across The Indian Ocean”.

XXX

Rimba antara Sungai Woyla dan Sungai Meulaboh, Agustus 1905.

Setiap teguk air, setiap gigitan makanan mestinya memperpanjang kehidupan namun ia pula membawa racun ke dalam tubuh, sama selayaknya setiap helaan nafas pada satu sisi menambah durasi hidup sekaligus mengurangi jatah usia. Ibarat rasa sakit yang teramat awalnya, pada akhirnya menyatu ke dalam raga sehingga semakin lama menjadi hal biasa, lupa bahwa rasa sakit itu adalah anasir asing yang masuk ke dalam badan.

Terperanjatlah aku melihat segala perubahan yang terjadi kepadanya. Seorang tua yang kurus kering, keriput kulit di seluruh tubuhnya, buta dan tak berdaya. Benarkah di depan aku ini adalah puteri Tuanku Nanta Setia, isteri dari Ibrahim Lamga, sesudah itu isteri Teuku Umar yang termasyur akan kecantikannya? Apakah orang tua bungkuk itu adalah sungguh-sungguh pahlawan betina Aceh yang diakui dahulu adalah sekuntum bunga yang molek di dunia wanita Aceh.

Enam tahun lamanya setelah Teuku Umar gugur dia melakukan gerilya melawan tentara Belanda, dari persembunyiannya jauh di dalam rimba wolya memimpin perang sabil mengusir kumpeni dari tanah Aceh. Segala daya dan upaya telah dilakukannya untuk menyusun peperangan besar-besaran di seluruh Aceh. Ia mengirimkan utusan ke segala tempat, buat mengumpulkan sekalian rekan yang pantang tunduk dan menambahkan kawan-kawan berjuang buat melawan Belanda. Sampai ke tanah Minangkabau ia mengirimkan orang buat meminta bantuan di padang sabilullah! Segala barang-barang berharga yang masih ada padanya dikeluarkannya untuk mengisi kas peperangan dan menyusun barisan-barisan pengempur. Segala emas dan intan pusaka yang masih ada dikorbankannya. Pastinya kehidupan Din sangat sengsara. Padanya tiada lagi apa-apa selain tekad berpantang tunduk, tidak ada sesuatu lagi yang menjadi miliknya.

Saleum teuka Durjana! Senang bertemu kawan lama.” Bola hitam di matanya telah berubah manjadi abu-abu, penyakit ayahnya telah turun pula kepadanya, dia telah buta. Dalam kehidupan yang serba sengsara, kesehatan tubuhnya telah menurun, penyakit encok telah melemahkan tubuhnya.

Aku menangis.

Dia tertawa, “cengeng seperti perempuan. Aku dengar-dengar kau sudah menyerah bersama Polim menyusul Sultan sebagaimana para pemimpin dari daerah timur karena tak kuat lagi dikejar-kejar dan di kepung oleh pasukan Van Heutsz.” Dialah Din, sifatnya tidak perlu dijelaskan dengan narasi panjang, cukup hanya menyebut namanya saja Cut Nyak Din itu sudah menjelaskan segalanya.

“Din! Lihatlah beta ini! Apa lagi yang beta miliki di dunia yang fana ini? Semua telah dirampas oleh Belanda. Satu-satunya keinginanku saat ini hanyalah syahid.”

Din tertawa, “aku sudah buta jadi aku tidak akan bisa memandang wajahmu. Suaramu masih sama dengan dahulu, banyak kawan kita yang telah syahid pada akhirnya tinggal kita yang masih hidup. Andai kau piawai memimpin pasukan, maka akan kuserahkan pimpinan perang padamu. Dan lagi percaya penuh kepada manusia aku belum dapat! Aku hanya percaya penuh kepada Allah Subhana Wataala!”

Sedikitpun tidak ada tersinggung mendengarkan kata Din yang terakhir tadi. Aku cukup tahu diri bahwa dalam hal kepemimpinan Din adalah Jenderal terbaik yang dimiliki Aceh semasa perang dengan Belanda melebihi Panglima Polem, bahkan suaminya Teuku Umar sekalipun. Aku bergurau, berharap dia tertawa. “Sudah tentu aku tidak punya niatan menjadi saingan Allah Subhana Wataala.”

Tetapi persangkaan itu ternyata salah. Din tenang saja, “Kata-kata itu tidak pernah keluar dari seorang ulama, melainkan seorang satria. Aku harap kau bisa dipercaya, sekarang sangat sedikit orang yang mau berjuang.”

Di dalam rimba ini aku perhatikan hanya diperbuat beberapa buah dangau-dangau yang sederhana, hanya menahan hujan dan panas matahari saja. Pasukan Aceh yang menyertai Cut Nyak Din, pakaian mereka sudah sangat buruk, persenjataannya pun amat sederhana.

“Ketika aku kecil, ayah bercerita kita (Aceh) meminta bantuan Turki menyerang Batavia (1848 M), waktu itu aku merasa Aceh telah sebegitu lemahnya sampai harus minta bantuan. Tak pernah di sangka di kemudian hari Ketika aku muda belia perang belum terjadi kita mengirim lagi surat ke Turki (1873M) untuk memohon bantuan mempertahankan kemerdekaan, lagi-lagi aku merasa kita telah sangat lemah waktu itu. Turki pada akhirnya tidak menolong, malah kita membeli senjata dari musuh lama kita Portugis. Hari ini (1905) bisa kau lihat betapa lemahnya kita? Jikalah kafir itu berkuasa lama, dan aku telah mati nanti bisa kau bayangkan betapa lemah orang Aceh di masa depan? Seratus atau dua ratus tahun lagi masihkah ada orang mengaku orang Aceh?”

Di bawah pukulan palu godam Van Heutsz yang bertubi-tubi, Aceh tak dapat bergerak lagi, lemas, remuk tapi perempuan ini dalam hal mempertahankan pendirian tak kalah bahkan lebih unggul dari kaum laki-laki.

“Apa yang bisa beta bantu?”

“Di Tungkop, di daerah Woyla Hulu yang merupakan bagian federasi Kawai XVI, terletak di pusat pegunungan ada seorang perempuan yang namanya masyur di kalangan rakyat menjadi lawan bagi Belanda, namanya Pocut Baren. Kau jumpai dia antarkan sebuah surat kepadanya.”

Seorang perempuan muda keluar dari balik pohon, ia berseluar dan berbaju hitam. Ia menampakkan wajah gagah berani menatapku tajam seraya menyerahkan surat kepadaku.

“Gambang, andaikata terjadi apa-apa padaku paman ini adalah seseorang yang dapat kau percayai, ingatlah wajahnya. Dia adalah sahabat ayahmu, juga kawan baik dari kakekmu.” Perempuan itu ternyata Cut Gambang, puteri dari Teuku Umar, sikapnya yang gagah berani menjelaskan darah keturunannya.

Pocut Baren seorang Uleebalang (Raja Kecil) Tungkop. Merupakan bagian dari federasi Kawai XVI terletak di pedalaman Woyla hulu. Memimpin perjuangan melawan pemerintah Kolonial Belanda periode 1903-1910.
Sumber : Aceh; H.C Zentgraff; Penerbit Beuna Jakarta; Cetakan ke-1; 1983.

Baca: Mengenal Pocut Baren

Telah muncul seorang pejuang perempuan lagi yaitu Pocut Baren, aku merasa Belanda telah di depan gerbang kemenangan pada perang panjang yang melelahkan ini. Ketika para lelaki telah meletakkan senjata dan perempuan yang memimpin perjuangan padahal mereka kaum perempuan adalah yang paling banyak menanggung penderitaan akibat perang ini.

Itulah para perempuan Aceh sejati! Ia menuju ke ranjang pengantin dengan api berahi yang panas melebihi bangsa-bangsa lain, dan dengan nafsu yang sedemikian hebat pula ia menuju medan perang. Ia tak gentar mengikuti suami dan pasukannya dalam pertempuran dan perjalanan mengarungi rimba raya dengan segala kekurangan dan bahaya intaian pasukan marsose Belanda. Ia menerima kandungannya dalam peperangan dan di situ melahirkannya, semua itu penuh ketengangan. Mereka berjuang bersama suaminya, di tangannya senjata mungil berupa kelewang atau rencong menjadi sangat dahsyat. Perempuan Aceh berjuang atas dasar “Sabilullah” menampik segala kompromi. Ia tidak akan mengkhianati wataknya sebagai wanita dan hanya mengenal alternatif membunuh atau dibunuh!

Baca juga : PEREMPUAN ACEH FULL POWER

Ada perasaan tidak enak ketika harus meninggalkan tempat ini. Cut Nyak Din sudah sangat tua, buta dan timpang pula, hampir-hampir tak dapat melangkah. Kehidupannya sangat sengsara, tapi tidak ada sama sekali keinginan untuk tunduk.

XXX

Rimba antara Sungai Woyla dan Sungai Meulaboh, 6 November 1905.

Sepasukan patroli tentara Belanda dengan bantuan Panglima Laot yang menunjukkan jalan telah berhasil menangkap Cut Nyak Din. Khawatir dengan pengaruh Cut Nyak Din kepada masyarakat Aceh, Belanda memutuskan untuk membuang ke Pulau Jawa. Hukuman buang itu berarti menceraikan orang dari tanah airnya, bagi orang Aceh adalah sebuah hukuman yang seberat-beratnya.

XXX

Wahai orang-orang Aceh! Seandainya kita dapat sejenak memindahkan sukma kita ke dalam kalbu perempuan itu (Cut Nyak Din), di tempat pembuangannya di Sumedang. Betapapun indah tanah priangan yang permai dengan segala keindahannya, sungguhpun serupa. Tapi tanah yang dipijak bukanlah tanah Aceh! Bukan pegunungan Aceh! Udara sejuk yang dihirup sehari-hari bukan pula udara Aceh!

Makam Cut Nyak Dhien di Sumedang.

Nisan Cut Nyak Dien. “Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.

Betapa sakit membayangkan sawah-sawah Lampadang, jalan setapak Lampisang yang bertaut di hatinya tapi tak didekatnya. Jauh melintasi puncak-puncak gunung sampai ke tepi langit. Bayangkan ketika kita menghidu sukmanya. Rumah dan halamannya telah hancur, Ibrahim Lamnga yang gugur di glee tarom, makam Teuku Umar di rimba raya. Tak ada harapan untuk berziarah kesana. Ia telah kehilangan segala-galanya yang dicintainya. Ia seorang pejuang yang tak pernah menyerah sampai detak jantungnya yang terakhir. Hanya ada satu orang yang mampu menahan derita seperti itu, dialah Cut Nyak Din. Karena itulah kita menghormatinya, kita mengenangnya.

|Bersambung|

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN;
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DELAPAN

Kenegerian Idi secara resmi adalah wilayah Aceh yang pertama “berkhianat” hal ini ditandai dengan naiknya bendera Belanda di benteng Idi pada 7 Mei 1873.

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DELAPAN

Menjelang akhir abad XIX, Perairan Selat Malaka.

Matahari turun pelan-pelan, semburat merahnya berganti kuning keemasan. Lalu kelabu menyusup dan gelap menjelajah.

“Matahari segera tenggelam segera pakai penutup kepala kalian!” Perintah nahkoda kepada seluruh awak dan penumpang. Melalui senja tanpa menutup kepala adalah sebuah pantangan bagi setiap orang Aceh yang berada di dalam kapal. Aku tidak tahu sejak kapan tradisi ini dimulai? Apakah sejak masa Sultan Iskandar Muda ataukah telah lebih awal ada. Sejak menjelang senja kapal yang kutumpangi diterpa gelombang keras dari sisi kanan dan kiri. Aku memandang sekeliling, orang-orang Aceh yang telah melaut sejak dahulu kala. Ketabahan mereka menghadapi ombak lautan pernah membuat kesultanan ini menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka. Sayang zaman itu sudah berlalu berpuluh tahun yang lalu, kupikir aku cukup beruntung melihat sisa-sisa kejayaan yang masih tampak.

“Tuan yakin turun di Kuala Idi?” Nahkoda bertanya kepadaku, kemudian melanjutkan. “Raja Idi telah berkhianat memihak kompeni sejak awal. Kesultanan Langkat, Deli, Serdang dan Asahan juga sudah takluk. Keadaan semakin sulit sejak pulau kampai jatuh.”

Aku menarik nafas panjang, misi sang nahkoda ke pulau pinang untuk membeli senjata dari para saudagar cina di sana juga belum tentu mulus. Pihak Belanda pasti meminta tolong Inggris yang menguasai Semenanjung Melayu untuk menghambat penambahan pasokan arsenal pasukan Aceh.

“Beta ditugaskan untuk membantu panglima Mudabbirusyarqiah1) oleh sultan sendiri.” Hatiku bergejolak ketika mengatakan itu, jika boleh memilih medan juang maka aku lebih memilih tetap berada di Aceh Besar tempat pertempuran sedang berlangsung gencar-gencarnya, tapi sultan justru mengirim aku kesini, medan laga yang tak aku kenali.

“Baik nanti di Kuala Idi akan ada sekoci mengantar. Menurut kabar Panglima Nyak Makam ada di pedalaman Peurelak saat ini.” Kata sang nahkoda.

“Terima kasih tuan.” Ucapku pelan. Suara angin di buritan, desir-desir ombak memenuhi semesta pikanku yang mengawang-awang.

XXX

Pedalaman Peurelak, seminggu kemudian.

Apalah artinya sebuah batas negeri? Tak lebih seperti sebuah garis di atas pasir. Setelah seminggu berada disini kudapati ternyata sebagian pasukan Aceh di pesisir Timur berasal dari Aceh Besar. Hanya perlu mendengarkan mereka mengatakan kata “breuh2) saja kita sudah tahu. Orang-orang di Aceh Besar memiliki dialek yang agak berbeda dengan orang-orang Aceh lainya, terutama ketika mengucapkan huruf “r” dimana ketika diucapkan lidah digulung ke dalam, berbeda dengan ketentuan umum (berbahasa) di mana ketika huruf “r” diucapkan ujung lidah ditempelkan di langit mulut. Rasa mengenali ini membuat ketidaknyamananku berkurang sedikit.

Panglima Nyak Makam masih melakukan misi penyusupan ke wilayah Seuruway yang dikuasai Belanda dan belum juga kembali. Pimpinan pasukan di wilayah Peureulak sementara dipegang oleh wakilnya Nyak Mamad yang juga berasal dari wilayah Peureulak.

“Durjana nanti siang kita akan masak kuah beulangong3) Aceh Rayeuk (Besar). Makan yang banyak!” Kata Nyak Mamad tersenyum bahagia.

“Alamak kenduri rupanya Pang4), ada hajatan apa?” Tanya aku.

Nyak Mamad hanya tersenyum simpul. Dugaanku sepertinya Panglima Nyak Makam akan segera kembali.

Sejak pagi hari semua orang berkumpul menyiapkan masakan, ada yang merajang buah nangka, pisang dan bawang. Ada pula yang memotong daging sapi kecil-kecil dan yang paling penting adalah menyiapkan bumbu masak. Suasana riuh penuh dengan semangat.

Menjelang siang dari arah sungai muncul belasan perahu, para penghuni markas bersorak menyambut sementara dari arah perahu terlihat wajah yang sangat tegang. Suasana menjadi keruh seperti aliran sungai menuju kuala.

Berpakaian kuning seperti menantang sinar matahari pimpinan pasukan turun dari perahu dengan penuh kharisma, Nyak Mamad selaku wakil panglima menyambut. Dari jauh aku melihat panglima berbisik dan ketengangan menyebar. Apakah Belanda sudah mengetahui lokasi markas ini? Aku hanya menduga-duga.

Kabar pun menyebar, Jenderal Mata Satu (Karel van der Heijden) telah menerobos pedalaman Aceh Besar sampai dengan 30 kilometer yang belum pernah dicapai Jenderal Belanda manapun sampai tahun 1879, sebanyak 500 kampung telah dibumihanguskan, pohon-pohon ditebang, sawah ladang dibakar. Hatiku berdegup kencang bagaimana kabar anak istriku disana? Aku merasa was-was dan menenangkan diri berharap keluargaku melarikan diri ke pegunungan, istriku pasti selamat.

Persiapan Pasukan dalam rangka Operasi Militer Belanda di Aceh

Persiapan Pasukan dalam rangka Operasi Militer Belanda di Aceh

Selepas Isya aku dipanggil ke tenda panglima, ketika aku datang dia sedang membaca surat pengantar yang dibuat oleh Tuanku Hasyim Banta Muda. Dia menatapku dengan tajam seolah-olah kami tidak pernah bertemu sebelumnya, memandang dari ujung kaki ke ujung rambut. Aku lihat pasukan rungkhom5) berjaga.

Sambil menarik asap tembakau dari pipanya Nyak Makam bertanya, “sudah berapa lama kamu ada di pesisir timur?”

“Sebulan kurang dua hari.” Aku tersenyum.

Sketsa Wajah Panglima Teuku Nyak Makam

Sketsa Wajah Panglima Teuku Nyak Makam

Kemudian dia menyerahkan pipa tembakaunya untuk aku hisap. Kode etik dalam pertempuran (pasukan Aceh) ketika kau diberikan air atau tembakau artinya kau telah dijamin dalam perlindungan dari yang memberikan. Aku mengambil pipa tembakau dan menarik asapnya kuat-kuat.

Baca: Teuku Nyak Makam, Pahlawan Aceh Tanpa Kepala

“Aku punya kabar buruk untukmu.” Katanya. Aku diam menanti kelanjutan ceritanya.

“Jenderal mata satu menyerang kampungmu sekitar dua minggu lalu.” Sambungnya. ternyata desas-desus tadi siang benar. Dia menatap mataku dalam-dalam.

“Telah jatuh banyak korban, ketika pasukan Belanda telah pergi. Orang-orang yang kembali ke kampung dan melihat jumlah korban. Ternyata ada banyak penduduk yang dibantai, perempuan dan anak-anak.” Perasaanku menjadi tidak enak.

“Aku mendapat kabar langsung dari orang terpercaya, bahwa istrimu telah tewas dengan memegang tombak di tangan kanannya, serta anakmu di tangan kirinya.” Suasana menjadi hening. Suara jangkrik yang sedari tadi berbunyi hilang.

Rasa-rasanya ini tidak mungkin, istriku adalah petarung yang tangguh. Aku tidak dapat berpikir sama sekali. Aku mundur perlahan-lahan, seluruh mata diruangan menatap aku, keluar dari tenda panglima rasanya ketika aku berjalan di atas tanah, dan secara tak sadar kakiku tak lagi kukuh, bergetar kencang serasa hampir jatuh. Aku bersandar di pohon kelapa, menghidu bau perdu dan pohon-pohon di sekelilingku. Aku memandangi langit yang dipenuhi bintang, dan di mataku bintang nun jauh berubah menjadi lambang-lambang samidin. Aku merasa telah direnggutkan dari bumi ini, terbang melayang jauh. Sebuah rongga yang melompong muncul di dadaku, kesitulah seluruh rasa amarah dan rasa sakitku mengalir masuk. Aku menangis.

XXX

Surat Letnan Colijn (Kelak Perdana Menteri Belanda) kepada istrinya.

Hendrikus “Hendrik” Colijn (1869-1944) menjabat Perdana Menteri Kerajaan Belanda selama 2 periode; 4 Agustus 1925 sampai 8 Maret 1926 dan 26 Mei 1933 sampai 10 Agustus 1939 dari Anti Revolutionary Party (ARP) sekarang menjadi Christian Democratic Appeal (CDA) terlibat Perang Aceh sebagai Letnan Dua.

Hendrikus “Hendrik” Colijn (1869-1944) menjabat Perdana Menteri Kerajaan Belanda selama 2 periode; 4 Agustus 1925 sampai 8 Maret 1926 dan 26 Mei 1933 sampai 10 Agustus 1939 dari Anti Revolutionary Party (ARP) sekarang menjadi Christian Democratic Appeal (CDA) terlibat Perang Aceh sebagai Letnan Dua.

“Aku melihat seorang ibu yang menggendong anaknya yang berusia sekitar 6 bulan di tangan kirinya, dan membawa tombak panjang di tangan kanannya, berlari ke arah kami. Salah satu peluru kami menewaskan si ibu maupun anaknya. Sejak itu, kami berhenti menunjukkan belas kasihan. Aku mengumpulkan sebuah kelompok yang terdiri atas 9 orang wanita dan 3 anak yang meminta ampun dan mereka semua di tembak. Ini bukan pekerjaan yang menyenangkan, tetapi mustahil melakukan hal lainnya. Para prajurit kami menusuki mereka dengan bayonetnya, ini mengerikan. Aku akan berhenti melapor sekarang.”

Istri Colijn menulis di pinggir surat itu: “Betapa mengerikannya!”

Kebiasaan banyak orang Aceh bertempur sampai mati membuat pasukan Belanda beranggapan bahwa: “orang Aceh yang baik adalah orang Aceh yang mati.” Belanda tidak segan memusnahkan kampung yang dianggap bermusuhan. Sawah, ternak berserta seluruh penduduknya.

XXX

Berhari-hari kemudian semangatku belum juga tumbuh, aku menghabiskan waktu dengan merenung. Terbersit dalam pikiranku untuk mendatangi tangsi pasukan Belanda terdekat dan melemparkan diri dalam peluru-peluru mereka. Jika aku mati maka aku akan berusaha menghabisi sekurang-kurangnya sepuluh orang pasukan mereka. Apakah itu sebuah kegilaan yang telah merasuki pikiranku?

Apakah ada hak menyerang bangsa lain? Sebelum Belanda datang kami hidup aman sentosa. Tiba-tiba Belanda mengerahkan serdadu-serdadu mereka untuk merampas harta benda kami, membakar sawah-sawah dan membunuh ternak-ternak kami. Apa hak mereka? Mengepung kami dengan ketidakadilan, dengan bedil, meriam serta kapal besi mereka? Aku membenci Belanda namun bersamaan dengan itu, aku juga membenci diriku, karena aku tak bisa berbuat apa-apa.

XXX

[Bersambung]

Berbagai istilah:

Mudabbirusyarqiah1): Panglima penegak kedaulatan Aceh di pesisir Timur sekaligus panglima mandala Kerajaan Aceh di Sumatera Timur, gelar resmi Teuku Nyak Makam;

breuh2: Beras (Bahasa Aceh);

kuah beulangong3): Kuah Belanga (Bahasa Aceh); Merupakan bumbu kari daging sapi (terkadang kambing) khas Aceh Besar terkenal dengan kelezatannya, bahkan pasukan marsose dan Belanda kerap menyerang kampung yang sedang kenduri masakan ini untuk merampoknya untuk dimakan;

Pang4): Panglima;

Rungkhom5): Sergap (Bahasa Aceh); Pasukan gerak cepat untuk melumpuhkan;

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN;
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

SATU DUNIA BERBAGAI DIMENSI

Kita hidup di satu dunia yang sama, tapi pernahkah terpikir persepsi kita terhadap dunia ini dengan semua orang kadang kala memiliki perbedaan.

SATU DUNIA BERBAGAI DIMENSI

Menurut ilmu matematika dunia yang kita kenal memiliki tiga dimensi ruang yaitu: Panjang, lebar dan tinggi. Bila ditambahkan dengan dimensi waktu akan muncul dimensi keempat yaitu waktu kosong. Kita semua pasti memiliki kenangan indah masa kecil, itu adalah pengalaman yang menyenangkan. Apakah mengenangnya adalah merupakan kesia-siaan? Seharusnya tidak karena dalam tiap detiknya perjalanan hidup adalah pelajaran.

XXX

Ayah Abu adalah anak dari seorang ulama di Aceh Besar, kakek mendidik ayah dengan cukup keras sehingga beliau memiliki pemahaman ilmu fiqh (hukum islam) yang baik. Meski (pada) akhirnya ayah tidak memilih mengikuti jejak kakek untuk menjadi seorang ulama dan menjadi seorang PNS, ayah tidak menyukai musik, filem dan bacaan-bacaan populer (fiksi). Ayah hanya menonton berita atau membaca buku-buku agama saja. Bisa dibilang beliau tidak menyukai berbagai jenis hiburan. Segala sesuatu memiliki pengecualian, ayah Abu menyukai humor-humor sufi dan hal-hal yang membuat tertawa bersama dengan agama.

Dinding Madrasah yang telah kehilangan bintang

Sebelum Abu diserahkan untuk mengaji ke tengku meunasah (guru mengaji Al-quran), ayah menjadi guru mengaji pertama Abu sampai berusia 9 tahun (sekitar tahun 1993). Biasanya sebelum mengaji bersama ayah dimulai kami shalat Maghrib berjamaah dahulu di rumah bersama ibu dan 3 orang adik Abu. Kerap kali setelah selesai shalat Maghrib dan setelah membaca doa tiba-tiba ayah kentut dengan suara menggelegar, biasanya ibu Abu menimpali dengan mengatakan ayah “menduduki” kodok, lalu beramai-ramai kami sekeluarga tertawa. Kentut adalah sesuatu hal yang membatalkan wudhu, jika kentut selesai shalat maka ibarat selamat pas ketika waktunya.

Kejadian tersebut adalah momen yang sangat lucu bagi kami sekeluarga, sewaktu Abu sudah mengaji dengan tengku meunasah pun kejadian dan kelucuan itu masih terbayang-bayang di kepala Abu. Suatu hari Abu ditunjuk oleh tengku meunasah untuk menjadi imam shalat Isya di tempat pengajian, tengku meunasah memantau sebagai supervisor. Dengan tenang Abu mengimami shalat Isya murid-murid lainnya. Selesai shalat dan membaca doa, Abu merasa perut berangin, berpikir ini adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan humor ala keluarga ke tempat pengajian, maka Abu lepaskan kentut sekencang-kencangnya. Suara menggelegar dan dari shaf pertama Abu menunggu suara tawa teman-teman, tapi tidak ada suara hanya hening. Abu membalikkan wajah ternyata tengku meunasah sudah berdiri berkacak pinggang di belakang.  “Abu berdiri kamu!” Perintahnya.

Abu berdiri sambil senyum-senyum, kemudian bertanya. “Ada lucu tengku?”

“Lucu jidatmu!” Plaak sebuah tamparan mendarat di pipi. Abu terkejut tak menyangka tengku meunasah seserius itu, kemudian terdiam dan tak membantah ketika beliau menceramahi Abu tentang adab.

Pulang Abu bercerita langsung kepada ayah, beliau tertawa terbahak-bahak sampai batuk-batuk di bangku kesayangannya. Ayah mematikan rokok Dji Sam Soe di asbak lalu beliau bilang. “Ayah juga salah karena lupa bilang pada kamu, dunia ini boleh satu tapi cara memandangnya bagi tiap-tiap orang berbeda-beda. Sesuatu yang kita anggap lucu bisa dianggap oleh orang lain menghina. Lain kali pelajari lingkungan dan lihat-lihat ketika bercanda.”

Kalau diingat-ingat lagi sekarang, sebenarnya kisah mencerminkan hidup Abu, kerap kali di kemudian hari mengulang kesalahan yang sama. Seorang teman Abu bergurau dan berkata, “penyebab ayah Abu tidak mau menjadi seorang ulama adalah karena memiliki anak seperti kamu, senantiasa berbuat salah dan sering tak sadar ketika berbuat salah.”

XXX

Berbanding terbalik dengan sifat ayah, ibu memiliki sifat mencintai seni yang luar biasa serta gemar menonton segala jenis pertunjukan. Selain pembawaan yang senantiasa ceria, ibu menyukai cerita fiksi, film dan memiliki suara yang sangat bagus ketika bernyanyi, sayangnya kemampuan musikalitas itu adalah hal yang sama sekali tidak turun ke diri Abu. Perbedaan pola pandang antara ayah dan ibu Abu ini, bisa jadi dikarenakan perbedaan latar belakang keluarga. Ibu Abu berasal dari keluarga petani, yang terpaksa bertani karena kedatangan Belanda. Sebelum Belanda berkuasa menurut cerita kakek Abu dari sebelah ibu dulunya mereka adalah bajak laut (Bahasa mereka ke Abu adalah saudagar) yang merompak negeri dan kapal-kapal kafir di sepanjang pantai Barat Aceh sampai ke Selatan wilayah Aceh. Mereka memiliki selera humor yang tinggi, suka tertawa dan imajinatif, cenderung tidak menganggap segala sesuatu serius, keras kepala dan sifat terbaik adalah selalu ingin tahu tentang berbagai hal terutama yang di luar dirinya.

Ketika Abu masih kecil sangat dekat dengan Nekmi (Nenek Abu dari sebelah ibu). Beliau sering mengajak Abu menemani belanja ke pasar, selain dibelikan lupis kadang-kadang dengan sisa-sisa uang belanja Abu juga dibelikan berbagai majalah bekas seperti bobo dan buku-buku bekas. Sebelum Abu bisa membaca Nekmi biasanya membacakan buku-buku tersebut sebelum tidur oleh beliau. Kadang-kadang Abu merasa curiga ketika cerita tiba-tiba meloncat, sebenarnya Nekmi sudah mengantuk dan ingin tidur sementara hasrat mendengar Abu masih menyala-nyala. Atas dasar itu dengan penuh tekad Abu berusaha untuk belajar membaca sesegera mungkin. Pada tahun 1989 sewaktu Abu bersekolah di Taman Kanak-Kanak sudah bisa membaca, cukup cepat untuk orang-orang yang hidup di masa itu.

Setiap jagoan perlu ironi. Tiap kali seorang tokoh ditampilkan demikian perkasa, penting untuk ambil jarak. Jarak untuk berpikir lagi, dengan sedikit lelucon. Jarak untuk lebih arif. Ironi membuka pintu ke kearifan itu. Ironi

Sebagai kanak-kanak entah mengapa Abu sangat menyukai kisah Mahabharata. Di antara semua Pandawa Abu menyukai Yudhistira, seorang ksatria yang ganjil, menganggap diri pendosa. Ia juga sangat naif sehingga dijebak oleh Sengkuni di meja judi sehingga kehilangan segalanya, ia dengan bodohnya mempertaruhkan tahta, harta, saudara bahkan istrinya. Kelak dia akan menyadari bahwa jalan kekuasaan dan dharma akan selalu bertentangan. Setelah dipenuhi luka dan kesalahan dia sadar bahwa harus memilih, dimana setiap pilihan akan membuka pilihan berikut, dan dia tak pernag berlari dari pilihan tersebut, lagi. 

“Nek, Yudhistira itu siapanya Nabi Muhammad?” Tanya Abu kepada Nekmi.

Nekmi terkejut, dia tidak pernah membaca epos Mahabharata. Apa hubungannya dengan Nabi Muhammad? Tapi Nenek Abu adalah seseorang dengan segala kemungkinannya tidak segera mematikan hasrat ingin tahu Abu. Malah bertanya kembali, “siapa Yudhistira itu? Mungkin nenek belum kenal tapi mungkin nenek bisa mencari hubungannya dengan Nabi Muhammad.”

“Yudhistira itu adalah orang bijak yang hidup di masa lampau, mungkin jauh sebelum Nabi Muhammad.” Kemudian Abu mencoba menjelaskan riwayat hidup Yudhistira kepada Nekmi semampu Abu.

Nekmi tersenyum mendengarkan cerita Abu, kemudian dia menjawab. “Nenek baru pertama kali mendengar kisah ini, sebenarnya nenek tidak tahu hubungan dia dengan Nabi Muhammad. Ilmu nenek tidak sampai kesitu.”

Abu merengut. “Apakah ini hanya cerita khalayan nek?”

Nekmi memasang wajah serius. “Setiap legenda biasanya ada nilai kebenarannya Abu. Apalagi jika seperti Abu bilang cerita ini hidup di banyak Negara. Mengingat dia hidup jauh sebelum Nabi Muhammad, bisa jadi dia adalah seorang Nabi yang diturunkan Allah kepada suatu kaum dahulu kala. Jangan lupa sebelum Nabi Muhammad ada 125.000 orang Nabi yang pernah diutus Allah di bumi.”

Abu tersenyum, menemukan hubungan antara Mahabharata dengan Nabi Muhammad. Tidak akan ada orang seberuntung Abu memiliki seorang nenek yang penuh imajinasi ketika menjelaskan sesuatu. Kemampuan menyusun uraian dan imajinasi ternyata berpengaruh kepada kehidupan Abu nantinya, Abu lebih terampil dalam ujian berbentuk essay dan wawancara, tapi cenderung mati kutu ketika menghadapi ujian pilihan berganda (choise) di mana Abu kesulitan menentukan satu jawaban paling tepat dan menyalahkan pilihan yang lain.

XXX

Kita hidup di satu dunia yang sama, tapi pernahkah terpikir persepsi kita terhadap dunia ini dengan semua orang kadang kala memiliki perbedaan.

Pada suatu malam di hari pertama Abu bertugas di Langsa untuk mengenali kota Abu berputar-putar dengan mengendarai Shogun 125 masuk ke dalam lorong-lorong pasar. Abu memasuki ke dalam-dalam sampai masuk ke dalam sebuah gang di mana ada beberapa penjual jeruk. Anehnya kesemua jeruk yang dijual di gang itu terlihat tidak begitu baik kualitasnya, di situ Abu heran bagaimana bisa mereka menjual jeruk dengan sebegitu buruknya, di gang yang jauh dalam pelosok pasar beramai-ramai tapi percaya akan ada pelanggan yang membelinya. Tiba-tiba Abu teringat untuk membeli sedikit untuk konsumsi di kosan dan membelinya. Dalam perjalanan pulang Abu tersadar bahwa rezeki Allah lebih luas daripada dugaan manusia.

Manusia perlu diuji dengan berbagai kehilangan. Untuk menyadari bahwa hal yang terasa biasa saat dia sisi kita namun sangat berarti jika ia tak lagi dalam jangkauan.

Mungkin kita bisa jadi salah karena mengkaitkan sebab dengan akibat. Segala sesuatu sebab akan menimbulkan akibat, padahal mungkin tidak. Allah mungkin sering mengkaitkan sebab dengan akibat, tapi rezeki-Nya bisa melebihi itu semua tanpa perlu hukum sebab akibat.

Mungkin sebenarnya banyaknya buku yang dibaca, atau tingginya tingkat pendidikan, atau jauh dan banyaknya negeri yang dikunjungi tidak akan membuat kita menjadi pribadi yang bijak jika memiliki hati yang busuk. Lamat-lamat kenangan Abu ke masa kecil melintas kembali, mengingat sayup-sayup Nekmi mengaji.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Surat Al-Alaq ayat 1-5).

Abu terhenyak teringat hadist riwayat Bukhari dan Muslim. “Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (hati).”

Pikiran atau dimensi cara pandang seseorang ditentukan oleh hatinya. Orang tua ataupun guru dan siapapun hanya bisa mengajarkan, tapi kita yang memilih menjadi apa dan siapa. Itulah mengapa ada orang yang berpikir dunia adalah tentang dirinya saja, dan kebenaran hanyalah monopolinya saja, tanpa mau tahu bagaimana sudut pandang orang lain. Semoga kita terlindungi dari sikap seperti itu, karena apapun itu kehebatan kita saat ini, pada akhirnya setiap kejadian dan pertemuan (kelak) akan (hanya) menjadi sejarah.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

JEJAK LANGKAH

Jejak langkah manusia di dunia ini ibarat tapak-tapak kaki di pasir pantai, kelak akan dihantam gelombang dan menghilang.

Jejak langkah manusia di dunia ini ibarat tapak-tapak kaki di pasir pantai, kelak akan dihantam gelombang dan menghilang.

JEJAK LANGKAH

Tak perlu puisi mengiriskan hati untuk setiap kepergian, bukankan jejak langkah manusia di dunia ini ibarat tapak-tapak kaki di pasir pantai, kelak akan dihantam gelombang dan menghilang.

Kesunyian mengambang di atas daratan menyembunyikan gemuruh di balik kerak-kerak bumi di bawah lapisan pasir. Sementara itu, bayangan sang maut melayang-layang di langit dalam sekawanan burung pemakan bangkai.

Hidup ini adalah perjalanan yang berliku, kita tahu keburukan adalah serupa buih kotor yang meninggalkan jejaknya di atas pasir atau batu-batu di tepi pantai, serupa dengan ampas kopi yang tertinggal di dasar gelas. Pada akhirnya mereka pun akan dihantam gelombang dan menghilang jua. Maka tiadalah apapun yang fana menjadi abadi, kecuali dalam cerita fantasi.

Hidup adalah kemisteriusan yang tak kita duga-duga kedalamannya. Salah satu misteri adalah pertemuan. Beberapa orang pergi, dan beberapa menjadi bagian dari hidup. Beberapa orang bertahan selamanya, dan lainnya berlalu dengan cepat. Tidak setiap pertemuan dimaksudkan untuk bertahan seumur hidup.

Maka ingatlah bahwa hidup ini adalah (hanya) menunda perpisahan.

Banda Aceh, 26 Desember 2020

Kita manusia di bumi ini, pada satu titik dari hidup (pasti) memiliki hal-hal yang besar yang berhubungan dengan perasaan. Ada hari di mana hati menjadi terlalu kecil untuk menangani besarnya perasaan. Hari ini salah satunya, ketika aku memikirkan perasaan sendiri sebentuk emosi sebagai sebuah fenomena yang unik dan bersifat pribadi, di mana orang lain tak merasakan apa yang aku rasakan.

KATALOG PUISI

  1. Diatas Puing-Puing; 6 November 2017;
  2. Renungan Malam; 19 November 2017;
  3. Seminggu Setelah Tsunami Aceh; 13 Desember 2017;
  4. Penantian; 21 Februari 2018;
  5. Di Tepian Pantai Pulau Bunta; 6 Maret 2018;
  6. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  7. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  8. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  9. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  10. Jangan Mencintai Lautan; 4 April 2019;
  11. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  12. Peucut Kherkof Suatu Masa; 24 September 2019;
  13. Mengunci Malam; 1 April 2020;
  14. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  15. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
Posted in Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

SEMERBAK AROMA ANGSANA DI BANDA ACEH

Senja kala di Blang Padang Banda Aceh

Senja kala di Blang Padang Banda Aceh

SEMERBAK AROMA ANGSANA DI BANDA ACEH

Ini adalah sebuah kota yang menjanjikan kenangan. Banda Aceh sungguh indah, jalan lurus dengan barisan rapi gedung-gedung mungil dan pepohonan angsana yang rindang. Aromanya khas dan kuat selalu memberikan kesan kepada mereka yang datang dan pergi.

Angin menderai aroma angsana terasa hari menjelang maghrib. Ada beberapa dahan memberi celah sang senja memerah menyeruak, dihajar udara yang kian dingin. Begitulah hidup sudah beberapa waktu berjalan.

Banda Aceh yang teronggok di sudut Nusantara sekarang dahulu sebuah kota cosmopolitan, menjadi tempat bercampurnya berbagai ras yang menghuni dunia. Kini mendengar kota “Kosmopolitan” yang terbayang adalah Hongkong, New York, Singapura, Tokyo, London, Paris, (atau) Jakarta. Sama sekali bukan Samarkand, Bukhara, Damaskus, Merv, Eshafan, Baghdad, (atau) Banda Aceh. Zaman berganti, kota-kota yang dulunya pusat peradaban yang menjadi tempat berkumpulnya segala bangsa, kini terlupakan, terkurung dalam garis batas-batas Negara baru dan tenggelam dalam warna-warni peta dunia.

Banda Aceh Kota Kenangan

Lapangan Blang Padang bagian dari Banda Aceh, Kota Kenangan

Terkadang, bila aku melalui jalan-jalan kota ini, dan secara tak sadar menghidu aroma bunga angsana yang mekar di sekelilingku. Aku tak sengaja memandangi pokok itu, di depan mataku ia seakan-akan berubah menjadi lambang perjuangan kami, kehilangan kami. Dan pada saat itu juga aku merasa direnggutkan dimana rasa sakitku mengalir masuk.

Setiap tempat, setiap orang, semua kejadian dan detil-detil waktu tak akan (pernah) terulang sama persis. Kita mengingat ketika kita (sudah) sendirian, atau bahkan kita (telah) melupakan yang ada hanyalah (rasa) hilang ketika tiada di sisinya.

Senja semakin larut, kabut menggantung di belakang mereka di atas pepohonan di bawah dan melayang di atas tepi-tepi sungai keruh oleh hujan semalam.

Banda Aceh, 30 November 2020

Beberapa renungan:

  1. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  2. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  3. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  4. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  5. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  6. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  7. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  8. Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri; 3 April 2019;
  9. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  10. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  11. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  12. Sunyi; 19 Maret 2020;
  13. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  14. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  15. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment