KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI

Laksamana Malahayati (1560-1607) dari Kesultanan Aceh Darussalam sebagai perempuan pertama di dunia yang memegang jabatan militer tertinggi pada sebuah negera berdaulat. Ia, inspirasi kepada kaum perempuan, bahwa mereka bisa mencapai apapun yang diinginkan. Berbahagialah kita karena memiliki Malahayati.

KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI

Masa kecil Laksamana Malahayati

Malahayati adalah putri Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Muhammad Said Syah, seorang laksamana pula pada Angkatan Laut Kerajaan Aceh. Malahayati lahir tahun 1560, pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahar memerintah Kerajaan Aceh. Masa pemerintahan Sultan Alauddin berlangsung mulai tahun 1537 hingga 1568.

Sejak dahulu kala, orang Aceh dikenal sebagai penganut agama yang taat. Begitu pula halnya dengan keluarga Laksamana Mahmud Syah. Oleh karena itulah, sejak kecil Malahayati telah dididik agar selalu patuh menjalankan perintah agama. Sejak usia enam tahun, Malayahati telah mulai belajar baca tulis Al Qur’an dengan bantuan kedua orang tuanya. Menginjak usia delapan tahun, Malahayati kemudian belajar ilmu agama dengan berguru kepada Tengku Jamaludin Lam Kra, seorang ulama dan sekaligus pemimpin pesantren putri di Banda Aceh. Dua tahun kemudian diteruskannya dengan belajar di Dayah Inong (Madrasatul Banat) dan mulailah ia memperdalam ilmu figih, akidah, akhlak dan bahasa Arab. Selain itu, di rumah pun Malahayati masih menyempatkan diri belajar bahasa asing yang lain dari guru yang khusus didatangkan oleh orang tuanya. Sehingga tak heran apabila kelak kemudian hari setelah ia dewasa, bukan saja pandai berbahasa Arab tetapi juga mahir berbahasa Inggris, Perancis, Spanyol di samping bahasa Melayu dan Aceh sebagai bahasa ibunya.

Ayahnya, sering mengajaknya ke pelabuhan melihat-lihat kapal dagang dan kapal perang milik kerajaan Aceh. Malahayati sendiri menyukai hal itu. Bahkan tak jarang pula ia diajak menyaksikan latihan perang-perangan di laut yang dilakukan oleh kapal-kapal perang Aceh. Bermula dari situlah kemudian tertanam jiwa cinta lautan yang kelak kemudian hari mengantarkan Malahayati menjadi laksamana kerajaan Aceh yang disegani kawan maupun lawan.

Pada masa itu, sebagian wilayah semenanjung Malaka telah jatuh ke tangan Portugis. Bangsa Eropa itu banyak memungut keuntungan dari hasil bumi atas wilayah yang didudukinya. Bagi Aceh sendiri, kekuasaan Portugis di Malaka itu secara langsung atau tidak merupakan ancaman. Tidak menutup kemungkinan apabila Aceh lengah, Portugis akan menyerang Aceh. Kekhawatiran itu bukan saja dirasakan oleh kerajaan Aceh, tetapi juga oleh Banten.

Maka pada tahun 1575, armada perang kerajaan Aceh yang dikomando oleh Laksamana Mahmud Syah dan armada Banten yang dipimpin Pangeran Arya bin Maulana Hasanuddin menyusun kekuatan bersama dan melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka.

Dalam pertempuran dekat pangkalan La Formosa, armada Aceh dan Banten mendapat perlawanan sengit. Laksamana Mahmud Syah gugur di atas kapal komandonya Seulawah Agam. Sebagai akibatnya, pertempuran tak dapat dilanjutkan lagi. Armada Banten menarik diri hingga sampai ke Jepara, sementara itu armada Aceh mundur sampai ke Pulau Bengkalis.

Hati Malahayati sangat terpukul dengan kepergian ayahandanya untuk selama-lamanya itu. Ia sering murung dan mengeluh. “Ah, mengapa aku lahir sebagai wanita. Andai saja aku pria, tentu aku dengan mudah menjadi laksamana dan menuntut balas kepergian ayah,” begitu Malahayati sering mengeluh. Keluh-kesahnya itu sering diutarakannya kepada gurunya, Tengku Ismail Indrapuri. Gurunya itulah yang dengan sabar dan membesarkan hatinya, memberinya nasihat-nasihat yang menggugah.

Malahayati, di hadapan Allah, manusia laki-laki dan perempuan itu sama saja karena kedua-duanya memikul amanah-Nya di bumi ini,” kata guru yang arif itu menasihati.

Kata-kata nasihat yang menggugah itulah yang akhirnya mendorong semangat Malahayati untuk bersumpah bahwa kelak apabila dewasa akan berjuang melawan penjajah.

Laksamana Malahayati Menjadi Panglima Armada Perang Aceh.

Laksamana Muda Ibrahim adalah salah seorang bawahan mendiang Laksamana Mahmud Syah. Ia ikut pula memperkuat barisan armada Aceh ketika melakukan penyerbuan terhadap Portugis di Malaka. Dengan Laksamana Muda Ibrahim itulah Malahayati dikawinkan. Ketika itu, usia Malahayati 17 tahun. Laksamana Muda Ibrahim kemudian diangkat sebagai Panglima Armada V Kerajaan Aceh oleh Sultan Mansur Syah. Sebagai seorang istri, Malahayati mengikuti suaminya pula ketika Laksamana Ibrahim harus bertugas dan berpangkalan di Pulau Rupat.

Pada suatu hari, kapal perang Aceh tengah mengadakan patroli. Ketika melayari perairan Pulau Alang Besar, patroli itu berpapasan dengan dua kapal kecil yang terapung-apung terbawa ombak tak tentu arah. Kapal kecil itu adalah pengangkut rempah-rempah dari Banten. Tetapi secara tiba-tiba kapal kecil itu dihadang oleh perahu Portugis. Mereka dipaksa menyerahkan rempah-rempah yang dibawanya sebelum sampai di tempat tujuan. Pedagang-pedagang dari Banten itu bukan tidak melawan begitu saja. Mereka melakukan perlawanan, meski harus ditebus dengan korban jiwa dan menderita luka-luka. Dua kapal kecil itulah yang berhasil selamat dan meloloskan diri. Sedang kapal-kapal yang penuh muatan rempah-rempah lainnya berhasil dirampas dan kapalnya ditenggelamkan.

Pedagang Banten itu segera ditolong. Yang luka-luka segera dirawat, sedang yang telah meninggal dimakamkan dekat pantai Pulau Alang Besar. Sementara itu pula, setelah mendapatkan laporan tentang peristiwa itu segera mengadakan pengejaran. Laksamana Muda Ibrahim memimpin pengejaran itu di atas kapal komandonya yang bernama Kuta Alam.

Enam kapal Portugis yang diduga melakukan perampasan rempah-rempah pedagang Banten itu berhasil dikejar ketika sedang melayari perairan Tanjung Parit. Orang-orang di kapal Portugis memberi isyarat menolak ketika kapal patroli Aceh mengisyaratkan untuk melakukan penggeledahan.

Maka terjadilah pertempuran laut. Laksamana Muda Ibrahim dengan dibantu istrinya, Malahayati, mengatur serta memberi aba-aba pada kapal patroli Aceh lainnya untuk bergerak dan melumpuhkan perlawanan kapal-kapal Portugis yang berjumlah 6 buah kapal itu. Di atas geladak kapal Kuta Alam, Laksamana Muda Ibrahim mengatur siasat pertempuran.

Pada saat itulah, sebuah peluru meriam kapal Portugis meledak. Laksamana Muda itu tak sempat lagi menghindar. ia terkena tembakan meriam itu dan gugur. Malahayati menghadapi kepergian selama-lamanya Laksamana Muda Ibrahim dengan hati tabah. Gugurnya Laksamana Muda Aceh itu sama sekali tak diperbolehkannya diberitahukan kepada awak kapal di kapal yang lain.

Ia tidak ingin berita gugurnya Laksamana Muda Ibrahim mengendorkan semangat juang armada Aceh. Malahayati kemudian secara diam-diam mengenakan pakaian almarhum suaminya. Ia dengan tangkas langsung mengambil alih kendali memimpin pertempuran. Hasilnya sungguh di luar dugaan! Tiga kapal Portugis berhasil ditenggelamkan. Dua kapal lainnya ditawan dan satu kapal lagi berhasil meloloskan diri dari kepungan kapal patroli Aceh.

Di pihak Aceh, satu kapal ditenggelamkan lawan, dua kapalmmengalami kerusakan ringan. Rempah-rempah yang berhasil diselamatkan kemudian diserahkan kembali kepada pedagang dari Banten.

Keberhasilan Malahayati dalam pertempuran melawan Portugis itu segera tersiar ke seluruh wilayah Aceh dan bahkan ke Banten. Sultan Maulana Yusuf dari Banten mengirim ucapan selamat atas kemenangan armada Aceh dan menyatakan pula kekagumannya kepada Malahayati. Di samping itu juga menyampaikan rasa terima kasih karena armada Aceh telah memberikan pertolongan yang begitu tulus kepada pedagang rempah-rempah Banten.

Tak kurang pula Sultan Mansur Syah atas nama rakyat Aceh menghaturkan penghargaan setinggi-tingginya atas keberhasilan Malahayati, di samping menyatakan rasa belasungkawa atas gugurnya Laksamana Muda Ibrahim.

Dua bulan kemudian, Malahayati diangkat menjadi Wakil Panglima Armada V . Panglima Armada V Aceh, ketika itu dipegang oleh Laksamana Muda Mahaja Lela. pada tahun 1581, Sultan Mansur Syah menugaskan Malahayati memimpin penyerangan ke benteng La Formosa di Malaka. Penyerangan ini melibatkan 40 buah kapal perang dengan kekuatan 10.000 orang prajurit Aceh. Dalam penyerangan ini, Malaka memang belum berhasil dikuasai oleh Aceh. Tetapi armada laut Aceh telah berhasil memporak-porandakan kekuatan kapal-kapal perang Portugis. Perairan Riau yang sebelumnya merupakan daerah rawan karena kapal-kapal Portugis sering melakukan perampasan barang-barang terhadap kapal dagang yang lewat.

Sultan Alaudin Mansur Syah menilai bahwa penyerangan armada Aceh di bawah pimpinan Malahayati itu berhasil. Itulah sebabnya maka pada tahun 1582 Sultan mengangkat Malahayati menjadi Panglima Armada V kerajaan Aceh dengan pangkat Laksamana Muda. Ketika itu, Malahayati telah menginjak usia 22 tahun.

Intrik politik di Istana Aceh Darussalam

Masa pemerintahan Sultan Alaudin Mansur Syah yang memerintah dari tahun 1577-1585 adalah masa gemilang bagi Kerajaan Aceh Darussalam. Hampir seluruh wilayah Sumatra telah menjadi wilayah kekuasaannya, di samping’Semenanjung Malaya. Hanya wilayah Malaka yang masih menjadi daerah kekuasaan Portugis. Meskipun demikian Portugis selalu merasa tidak aman dan terancam. Betapa tidak, sebab mereka selalu dihantui jangan-jangan armada Aceh menyerangnya sewaktu-waktu.

Pada masa lalu Aceh merupakan produsen lada terbesar dunia.

Hasil perkebunan lada Aceh, menempati urutan pertama di kepulauan Nusantara ketika itu. Disusul Banten dan Palembang. Maka tidak heran bila kapal-kapal dari Eropa banyak menyinggahi pelabuhan Aceh untuk membeli lada yang banyak dibutuhkan orang di daratan benua Eropa. Di samping sebagai penghasil lada yang utama, angkatan laut Aceh juga sangat disegani. Angkatan Laut inilah yang banyak berperan dalam mengamankan jalur perdagangan di Selat Malaka.

Meskipun Sultan Alauddin Mansur Syah dinilai berhasil memakmurkan rakyatnya, namun di pihak kerajaan masih ada saja orang yang tidak puas dan tidak menyukainya. Mereka adalah dari keturunan Sultan Ali Mughayat Syah yang tidak menginginkan orang dari keturunan di luar kerajaan memegang tampuk pemerintahan. Dan memang sebenarnyalah, Sultan Alauddin Mansur Syah yang tengah berkuasa saat itu, bukan keturunan dari garis Sultan Ali Mughayat Syah, melainkan putra Sultan Perak. Kisahnya bermula ketika pada tahun 1551 Sultan Alauddin Riayat Syah al Qahar mengerahkan angkatan lautnya untuk menghantam Portugis di Malaka. Ketika itu angkatan laut berkekuatan 20.000 orang.

Ketika benteng La Formosa berhasil dikepung rapat oleh Armada Laut Aceh dan menghuninya mulai kehabisan bahan makanan, Sultan Akhmad dari Kesultanan Perak menjual beras secara diam-diam kepada Portugis. Tak hanya itu, sebab apa yang dilakukan Sultan Perak itu diikuti pula Kerajaan Johor. Tentu saja sikap mereka amat menggusarkan pasukan Aceh. Maka komandan pasukan Aceh, Laksamana Abdul Jalil memerintahkan pasukannya untuk menyerang Perak dan Johor. Kedua kerajaan itu terpaksa menyerah dan berjanji tak akan melakukan hal itu terhadap Portugis. Untuk memperkuat perjanjian itu, Sultan Mansur Syah, putra Sultan Perak dibawa ke Aceh dan tinggal di Istana al Qahar.

Putra Sultan Perak itu, selama berada di Aceh memperlihatkan sikap yang baik dan juga cakap. Oleh karena itu Sultan Aceh kemudian mengawinkannya dengan putri Sultan sendiri yang bernama Ratna Indra Wangsa. Dari perkawinan itu lahirlah seorang putra yang diberi nama Perkasa Alam Syah yang kemudian bergelar Iskandar Muda Makhota Alam. Oleh karena itulah, orang Aceh yang masih mempunyai garis keturunan dari Sultan Ali Mughayat Syah tidak menyukai Sultan Mansur Syah yang dianggapnya berada di luar garis keturunan Aceh.

Kemudian timbullah gerakan-gerakan untuk menggulingkan Sultan. Gerakan ini dipimpin oleh Panglima Raja Buyung, putra Gubernur Inderapura yang bernama Munawar Syah. Waktu itu, Panglima Raja Buyung menjabat sebagai Komandan Garnizun Ibukota. Panglima. Raja Buyung kemudian mengupayakan agar Malahayati mendukung gerakannya. Maka diutusnyalah Teuku Imum Mukim Cadek, Bupati pulau Weh, menemui Laksamana Muda Malahayati dan menyampaikan hal itu.

Tapi rencana gerakan yang dipimpin Panglima Raja Buyung itu ditentang habis-habisan oleh Malahayati. Ketidaksetujuan Malahayati itu didasarkan pada kenyataan bahwa meskipun Sultan Mansur Syah keturunan Kesultanan Perak tetapi ia telah berjuang untuk memakmurkan rakyat Aceh dan apabila ia disingkirkan secara paksa, maka dapat dipastikan Kerajaan Perak dan Johor akan memisahkan diri dari Kesultanan Aceh. Karena upaya untuk mendapatkan dukungan itu gagal, maka Teuku Imum Mukim Cadek kembali ke ibukota dengan tangan hampa.

Tujuh hari setelah itu, Laksamana Muda Malahayati menyusul ke Banda Aceh untuk menyampaikan laporan perihal gerakan yang dipimpin Panglima Raja Buyung kepada Sultan Mansur Syah. Tetapi ketika Malahayati belum lagi sempat menemui Sultan Mansur Syah, Panglima Raja Buyung telah bergerak lebih dahulu. Sultan Mansur Syah yang berada di Kuala Aceh beserta pengikutnya ditangkap dan dibunuh. Pasukan Panglima Raja Buyung berhasil merebut istana dan ibukota. Tak luput pula. Malahayati beserta pengawalnya ditangkap dan dilucuti senjatanya. Malahayati dikenakan sebagai tahanan rumah selama 3 tahun.

Pada bulan Januari 1588, Malahayati yang dijuluki Singa Betina dari Aceh itu berhasil meloloskan diri. Ia kemudian menuju Jambo Aye tempat armada yang dipimpinnya berada. Kedatangannya disambut gembira oleh para anggota armada. Sementara itu, Laksamana Maharaja Lela yang ditunjuk Panglima Raja Buyung untuk menggantikan kedudukannya berhasil ditawan. Tiga hari setelah berhasil meloloskan diri itu, Malahayati bersama 24 kapal Armada yang dipimpinnya menuju Banda Aceh. Kekuatan armada itu bertambah lagi ketika di perairan Biereun, armada III yang dipimpin oleh Laksamana Muda Zainal Abidin Anjong bergabung pula. Laksamana Husin memimpin Armada VII yang berpangkalan di Ulee Lheu bergabung pula dengan Malahayati.

Pada bulan Maret 1588, Malahayati memberikan ultimatum agar Panglima Raja Buyung menyerah. Jika tidak, maka jalan kekerasan akan dilakukan. Ultimatum itu membuat Panglima Raja Buyung tak berkutik. Ia menyerah.

Malahayati kemudian mengambil alih kekuasaan. Seminggu kemudian, Majelis Kerajaan yang sebelumnya telah dibekukan oleh Panglima Raja Buyung, mengadakan sidang dan menetapkan Pangeran Zainal Abidin menjadi Sultan Aceh dengan gelar Sultan Alauddin Riayat Syah.

Laksamana Malahayati Vs. Kapitein Cornelis de Houtman

Empat buah kapal berbendera Belanda mendarat di pelabuhan Banten. Itu terjadi pada tahun 1596. Mereka datang untuk membeli rempah-rempah. Keempat kapal Belanda itu berada di bawah komando Cornelis de Houtman. Ia seorang veteran perang Belanda. Di Banten, orang-orang Belanda itu bersikap tidak bersahabat sehingga menimbulkan rasa benci bagi penduduk pribumi.

Terhadap pedagang rempah-rempah mereka memaksa membeli dengan harga rendah, sehingga menimbulkan kemarahan. Akibatnya, perkelahian tidak dapat dihindarkan lagi. Awak kapal Belanda banyak yang menemui ajal. Yang selamat segera menuju kapal dan Cornelis de Houtman akhirnya memutuskan meninggalkan pelabuhan Banten dengan tangan hampa.

Laksamana Malahayati memenangkan duel satu lawan satu menghadapi Kapitein Cornelis de Houtman.

Pada tahun 1598, Cornelis de Houtman datang lagi ke Indonesia. Tujuannya kali ini bukan Banten, melainkan Aceh. Cornelis de Houtman memimpin 225 awak kapal Belanda yang bernama De Leewen dan De Leewin. Mereka ke Aceh hendak membeli lada Aceh yang cukup dikenal oleh orang-orang Eropa.

Kedatangan orang-orang Belanda diterima dengan baik. Bahkan Sultan Aceh, mengundang mereka keistana dengan acara jamuan resmi. Dalam jamuan itulah Sultan Aceh memberikan izin kepada orang-orang Belanda itu untuk membeli lada dari Aceh.

Beberapa hari setelah acara jamuan itu, Laksamana Malahayati menuju pelabuhan untuk meninjau kapal-kapal Belanda. Tetapi kejadian yang pernah dilakukan orang-orang Belanda dua tahun sebelumnya terhadap orang-orang Banten terulang lagi. Mereka tidak menunjukkan sikap bersahabat. Terjadilah perang mulut dan akhirnya saling baku hantam. Pada saat itulah Cornelis de Houtman tiba-tiba mencabut pedangnya dan diarahkan ke tubuh syahbandar pelabuhan Aceh. Dalam waktu yang bersamaan, Malahayati secepat kilat mencabut rencongnya, dan tak ayal lagi senjata itu menembus dada Belanda yang congkak itu. Perkelahian terbuka segera saja meletus. Namun karena kekuatan tidak seimbang, Malahayati bersama pengikutnya terpaksa menyeiamatkan diri dengan menceburkan diri ke laut. Belanda semakin menunjukkan kecongkakannya dengan memberondongkan peluru-peluru meriamnya. Setelah berhasil selamat, Laksamana Malahayati segera melakukan pengepungan terhadap kapal-kapal Belanda itu. Kapal De Leewin yang berhasil ke luar dari pelabuhan segera dihujani peluru meriam. Kapal itu terbakar dan tenggelam. Sementara itu kapal De Leeuwen yang mencoba menyeiamatkan diri menuju laut lepas dapat ditangkap dan diseret kembali ke pelabuhan Aceh.

Dalam peristiwa itu, sebanyak 30 awak kapal Belanda ditawan. Salah seorang di antaranya bernama Frederick de Houtman, orang kedua pada rombongan kapal Belanda itu sebagai wakil Cornelis de Houtman yang telah terbunuh.

Awak kapal Belanda itu, akhirnya dihadapkan ke pangadilan. Sebagai pembela ditunjuk Teuku Lam Gugbb dan Teuku Imuem Ateuk. Yang menarik, ternyata Malahayati memohon izin Sultan Aceh untuk diizinkan menjadi pembela pula. Permohonan Malahayati dikabulkan. Jadilah ia pembela orang-orang Belanda itu di pengadilan.

Setelah melalui beberapa kali sidang, akhirnya hakim menjatuhkan hukuman mati terhadap 30 awak kapal Belanda yang diadili. Menurut hakim, mereka terbukti melakukan kekacauan di negeri orang dan tidak menghormati kedaulatan suatu negeri.

Terhadap hukuman mati itu, Malahayati mengadakan pembelaan yang gigih. Dikatakannya, bahwa tindakan orang-orang Belanda itu merupakan hal yang tidak direncanakan. Bila hukuman mati terpaksa dilakukan, maka Aceh akan menerima akibatnya. Sebab saat itu Aceh sendiri sedang mengadakan dan menjalin hubungan dengan beberapa negara di Eropa. Hukuman mati akan merenggangkan hubungan Aceh dengan negara Eropa. Dalam pembelaannya, Malahayati mengusulkan agar hukuman mati itu diubah menjadi hukuman seumur hidup.

Ternyata pembelaan Malahayati itu disetujui oleh sidang. Maka hukuman mati itupun diubah menjadi hukuman seumur hidup.

Laksamana Malahayati sebagai seorang negarawan

Laksamana Malahayati selain ahli mengatur siasat dalam bertempur juga seorang ahli kenegaraan. Ia menguasai bahasa Inggris, Perancis, Belanda dan juga bahasa Spanyol. Oleh karena itulah Sultan Aceh mengangkatnya pula sebagai pejabat yang mengurus perutusan-perutusan baik di dalam negeri maupun yang keluar negeri. Berkenaan dengan tugas itulah, maka jika ada utusan dari negeri lain yang datang ke Aceh, maka sebelum menghadap Sultan Aceh utusan itu harus terlebih dahulu menemui Malahayati. Sultan Aceh bahkan sering meminta pendapat Malahayati sebelum mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan hubungan negeri lain.

Kejadian yang menimpa Cornelis de Houtman beserta anak buahnya di Aceh, amat menggemparkan kerajaan Belanda. Prins Mauris, raja kerajaan Belanda ketika itu langsung mengadakan sidang kerajaan untuk membicarakan kejadian itu. Dalam sidang kerajaan itu sedikit terjadi silang pendapat. Ada pihak yang mengusulkan agar kerajaan mengirimkan prajurit dan armadanya untuk menggempur Aceh. Namun di pihak lain, menyatakan ketidaksetujuannya. Alasannya, jika Belanda menyerang Aceh, pastilah pihak Aceh akan menutup perairan Selat Malaka bagi pelayaran kapal-kapal Belanda. Jika hal itu terjadi, kerajaan Belanda akan menanggung kerugian yang besar.

Akhirnya diputuskan, bahwa satu-satunya jalan yang terbaik ialah meminta maaf kepada kerajaan Aceh di samping memohon agar para tawanan yang telah dihukum di Aceh dapat dibebaskan dari hukuman.

Prins Mauris segera mengutus Laksamana Laurens Bicker ke Aceh. Utusan itu membawa surat khusus dari raja Belanda untuk Sultan Aceh. Di samping itu utusan itu juga membawa hadiah-hadiah untuk kerajaan Aceh sebagai tanda persahabatan.

Ketika utusan Belanda yang terdiri dari empat kapal itu sampai di perairan Aceh, kapal-kapal itu segera saja dikepung oleh armada Aceh. Armada Aceh tidak menginginkan kejadian yang menimpa Cornelis de Houtman terulang lagi. Oleh karena itu setiap kapal Belanda yang datang, perlu dicurigai. Laksamana Lauren Bicker beserta lima pembantunya terpaksa turun ke darat dengan pengawalan yang ketat. Mereka dibawa menghadap Laksamana Malahayati. Tamu asing itu diterima dengan senang hati oleh Malahayati. Apalagi ketika tamu asing itu menyatakan maksud damai dan melupakan kejadian yang dialami Cornelis de Houtman.

Atas saran Laksamana Malahayati, Sultan Aceh bersedia menerima ajakan damai kerajaan Belanda. Di samping itu, kapal-kapal Belanda diperbolehkan pula berdagang dengan orang-orang Aceh. Pengikut Cornelis de Houtman yang dihukum di Aceh juga diberikan keringanan dengan membebaskan mereka dari hukuman. Dengan demikian, mereka dapat ikut kembali ke negeri Belanda bersama Laksamana Lauren Bicker. Ketika itu, di samping menjalin kerjasama dan persahabatan dengan kerajaan Belanda, Aceh juga menjalin hal yang sama dengan negara lain seperti Inggris yang ketika itu diperintah oleh ratu Elizabeth I. Demikian pula halnya dengan negeri Cina, Burma, Siam, Jepang, India serta Turki, kerajaan Aceh menjalin persahabatan yang saling menguntungkan.

Dalam hal-hal seperti itulah, peranan Laksamana Malahayati amat besar dan menentukan.

Laksamana Malahayati selaku penjaga Undang-Undang Meukuta Alam Al-Asyi

Ketika usia Sultan Aceh yang juga bergelar Sultan Saidil Mukamil telah menginjak 100 tahun lebih, maka Laksamana Malahayati diberi wewenang untuk mengurusi segala kegiatan pemerintahan. Baik yang berkaitan dengan urusan dalam kerajaan maupun hubungan dengan negeri mancanegara. Karena memerintah atas nama Sultan, maka seluruh jajaran angkatan perang menjadi tunduk atas perintah Laksamana Malahayati. Seandainya saja Laksamana Malahayati memiliki niat buruk, maka bisa saja ia mengangkat dirinya sebagai sultan sebab dengan kekuasaannya itu ia tentu amat mudah menyingkirkan Sultan Aceh yang telah tua. Namun hal itu sama sekali tak terlintas di benak Laksamana Malahayati. Ia sangat menghargai dan menghormati undang-undang yang telah diputuskan oleh Majelis Kerajaan.

Niat baik Laksamana Malahayati itu, ternyata mendapat ujian pada saat Sultan Aceh berada pada tahumtahun terakhir masa pemerintahannya. Ujian itu datang dari Pangeran Mahmud Syah, yang menginginkan agar kelak tampuk pemerintahan Aceh jatuh ke tangannya. Memang benar, Pangeran Mahmud Syah adalah putra Sultan Saidil Mukamil. Tetapi ketika pada tahun 1588 Majelis Kerajaan melantik Sultan Sidi Mukamil menjadi sultan maka bersamaan dengan itu ditetapkan pula bahwa putra mahkota yang berhak menggantikannya kelak adalah Iskandar Muda, putra Sultan Mahmud Syah.

Maka ketika Sultan Mahmud Syah mendekati Laksamana Malahayati untuk memperoleh dukungan tentang usahanya itu, laksamana Aceh yang perkasa itu malah menolaknya. Dikatakannya bahwa undangundang harus tetap ditegakkan di Aceh, dan oleh sebab itu semua usaha yang melanggar undang-undang harus ditumpas. Gagal memperoleh dukungan dari Laksamana Malahayati, Sultan Mahmud Syah mendekati Majelis Kerajaan. Namun Majelis Kerajaan pun menolak usaha yang akan dilakukan Sultan Mahmud Syah itu.

Tekad Sultan Mahmud Syah agaknya tak dapat ditawar-tawar lagi. Ia akan merebut kekuasaan Aceh sebelum Sultan Saidil Mukamil wafat dan juga sebelum Pangeran Iskandar Muda dinobatkan oleh Majelis Kerajaan untuk menduduki tahta Aceh.

Begitulah, ketika pada bulan Juli 1604 Sultan Sidi Mukamil merayakan hari ulang tahunnya Sultan Mahmud Syah melaksanakan rencananya itu. Pada saat pembesar Aceh berdatangan menghadiri pesta ulang tahun itu, maka meneroboslah pengikut-pengikut Sultan Mahmud Syah melucuti mereka. Orang-orang yang dianggap menjadi penghalang ditangkap oleh para pengikut Sultan Mahmud Syah. Serta merta pula Sultan Mahmud Syah mengangkat dirinya menjadi Sultan Aceh. Laksamana Malahayati bersama perwira angkatan perang Aceh, ditawan dan dipenjarakan di Merduwati. Begitu pula Pangeran Iskandar Muda, putra mahkota itu dipenjarakan bersama Laksamana Malahayati. Sedangkan Sultan Saidil Mukamil ditawan di suatu ruangan dalam istana Aceh. Setahun kemudian, Sultan Aceh yang telah berusia sangat lanjut itu wafat dalam keputusasaan akibat ulah putranya sendiri.

Sementara itu, Laksamana Malahayati bersama Pangeran Iskandar Muda dapat meloloskan diri berkat pertolongan pengikut- pengikutnya yang setia. Mereka berdua meloloskan diri ke Pidie. Wali negeri Pidie, yaitu adik Sultan Mahmud Syah sangat tidak setuju dengan tindakan kakaknya itu. Ia malah memberikan dukungan agar Laksamana Malahayati dan Pangeran Iskandar Muda dapat merebut kembali kekuasaan Aceh dari tangan Sultan Mahmud Syah.

Para pengikut Laksamana Malahayati yang sangat tidak menyukai tindakan Sultan Mahmud Syah banyak yang menyarankan agar laksamana perkasa itu melakukan serangan terbuka terhadap Sultan Mahmud Syah. Namun Laksamana Malahayati dengan penuh kesabaran memberi penjelasan kepada mereka bahwa jika ia melakukan serangan terbuka itu, maka di Aceh akan terjadi perang saudara. Dan hal itu sama sekali tidak diinginkannya.

Laksamana Malahayati sampai tiga tahun bertahan di istana Wali Negeri Pidie, dengan kesehatan dirinya yang semakin menurun. Untuk sementara ia memang mengamati perkembangan kerajaan Aceh dari jauh.

Serbuan Portugis ke Aceh

Melihat keadaan Aceh yang agak melemah saat itu, Portugis ingin memanfaatkan keadaan itu. Mula-mula, datanglah utusan ke Pidie di bawah pimpinan Don Gonzales. Mereka menemui Laksamana Malahayati. Mereka berpura-pura bermaksud baik dengan menawarkan bantuan tentara untuk merebut kembali ibukota dan sekaligus kekuasaan Aceh dari tangan Sultan Mahmud Syah. Namun Laksamana Malahayati menolak tawaran itu dengan tegas bahwa apapun yang terjadi di Aceh adalah urusan orang Aceh sendiri dan bangsa lain tidak berhak untuk turut campur. Menyadari akal bulusnya tak berhasil, maka utusan Portugis yang dipimpin Don Gonzales itupun kembali dengan tangan hampa.

Tetapi rupanya Portugis tak puas dengan tolakan tawaran itu. Oleh karena itu, pada bulan Juni 1607, sebanyak 17 kapal perang Portugis telah berada di perairan Banda Aceh. Rupanya Portugis ingin secara langsung merebut wilayah Aceh. Mereka memperkirakan bahwa Laksamana Malahayati tidak akan mau membantu Sultan Mahmud Syah yang sedang berkuasa. Maka pada awal Juli 1607, mendaratlah pasukan Portugis di beberapa wilayah kerajaan Aceh.

Laksamana Malahayati yang ketika itu sebenarnya sedang sakit di istana negeri Pidie, ketika mendengar Portugis telah mendaratkan pasukannya di wilayah Aceh mendadak menjadi geram. Seolah-olah, penyakitnya hilang dan muncul semangat untuk bangkit mengusir musuh.

Dengan cepat wanita perkasa itu mengenakan seragam laksamananya dan menggerakkan pasukan yang setia padanya. “Bangsa penjajah harus kita usir dari bumi Aceh dan melupakan pertikaian pribadi di antara kita”. Dengan serangan Portugis itulah, mungkin Sultan Mahmud Syah akan tersingkir dengan sendirinya dari tahta Aceh” kata Laksamana Malahayati di hadapan pasukan dan para perwira yang siap berjuang kembali.

Pasukan yang dipimpin oleh perwira-perwira kepercayaan Laksamana Malahayati, langsung melakukan serangan ke wilayah Aceh yang telah direbut Portugis. Laksamana Malahayati sendiri, dengan semangat membara memimpin armada Aceh dari kapal perang komandonya, yakni Kuta Alam.

Tak lebih dari waktu seminggu, seluruh kekuatan Portugis di Aceh berhasil dipukul mundur dan dikalahkan. Portugis tidak menyangka bahwa serangan pasukan yang dipimpin Laksamana Malahayati benar-benar hebat dan membuat mereka mengundurkan diri dari kancah pertempuran. Yang lebih hebat lagi, ketika memimpin pasukan di darat, Laksamana Malahayati memberikan petunjuk dari atas tandu karena sakitnya.

Menyerahnya Portugis dari Aceh, disusul pula oleh wafatnya Sultan Mahmud Syah secara mendadak. Diduga, Sultan itu wafat karena serangan jantung akibat kekhawatirannya sendiri. Sebab Sultan beranggapan jika Portugis telah dikalahkan oleh pasukan Malahayati, maka tidak urung pula ia akan disingkirkan pula dari singgasana kerajaan Aceh.

Dengan wafatnya Sultan Mahmud Syah, maka tahta kerajaan Aceh menjadi kosong. Majelis Kerajaan yang pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah dibekukan, akhirnya bekerja kembali dan melakukan sidang untuk menentukan sultan yang baru. Maka dengan suara bulat, Majelis Kerajaan memilih Pangeran Iskandar Muda sebagai Sultan Aceh yang kedua puluh. Pada saat pelantikannya, Laksamana Malahayati terpaksa datang dengan dipapah untuk menyaksikan pelantikan itu.

Sultan Iskandar Muda kelak menjadi Sultan terbesar dalam sejarah Aceh dan Nusantara.

Laksamana Malahayati meninggal dunia

Makam Laksamana Malahayati yang terdapat di Krueng Raya.

Seusai pelantikan Sultan Aceh yang baru, Laksamana Malahayati meminta agar ia dibawa ke kapal komandonya, Kuta Alam, yang sedang berpangkalan di pelabuhan Ulee Lheu. Laksamana Malahayati menikmati hari-hari tuanya di atas kapal Kuta Alam, sampai akhir hayatnya.

Infografis kehidupan Laksamana Malahayati

Infografis Riwayat Laksamana Malahayati

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
Advertisements
Advertisements
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI

Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Al-Lawati Ath-Thanji, Abu Abdullah, Ibnu Battuta, seorang pelancong, dan ahli sejarah. Lahir dan tumbuh remaja di Tangier tahun 1304 M. Pada tahun 1325 M ia meninggalkan negerinya,  dari Maroko, Mesir, Syam, Hijaz, Irak, Persia, Yaman, Bahrain, Turkistan, Transoxania, sebagian India, Cina, Pasai (Nusantara), Tartar dan Asia Tengah. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan banyak raja dan amir.

KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI

Rihlah ibnu Battuta

Pada awal abad ke-14 Masehi, seorang ulama, penjelajah, sosok musafir muslim dan seorang ahli hukum, tersohor sebagai petualang terbesar zaman pra-modern. Dalam kisah petualangannya yang mencekam dan luar biasa, ia sampai ke Samudera Pasai. Ia menulis: “Sultan Jawa (Samudera), al-Malik az-Zahir adalah penguasa yang paling hebat dan terkemuka, juga pecinta ulama. Meskipun baginda tak henti-hentinya berperang dan merayah demi agama, ia adalah seorang rendah hati, yang selalu berjalan kaki pergi ke masjid untuk shalat Jumat.

Peta perjalanan Ibnu Battuta melintasi Pasai (Nusantara) menuju Cina.

Pada hari keempat (Ibnu Battuta berada di Samudera) yaitu hari Jumat, amir Dawlasa datang kepada saya dan berkata, “Tuan dapat memberi penghormatan kepada Sultan di serambi kerajaan di masjid, sehabis shalat”. Setelah shalat, saya menemui Sultan; baginda menjabat tangan saya dan saya memberi hormat kepadanya; setelah itu baginda menyuruh saya duduk di sebelah kirinya, dan ia pun bertanya tentang Sultan Muhammad dan tentang perjalanan saya.

Baginda tetap berada di masjid sampai selesai shalat ashar, kemudian baginda pindah ke sebuah bilik, membuka baju yang dipakainya (yaitu jubah yang biasa dipakai oleh para ulama dan selalu dipakai Sultan setiap kali baginda datang ke masjid untuk shalat jumat), dan mengenakan jubah kebesarannya, yaitu mantel dari sutera dan katun.

Sewaktu ia meninggalkan masjid, gajah dan kuda telah menanti di pinyu gerbang. Adat kebiasaan mereka ialah kalau Sultan naik gajah, maka para pendampingnya naik kuda atau sebaliknya. Pada waktu itu baginda naik gajah, maka kami pun menunggang kuda dan pergi dengan baginda ke majelis persidangan”.

Jalur Sutera (laut dan Dararatan) sebagai alur perdagangan kuno antarbangsa

Ibnu Battuta berada di Kesultanan Samudera Pasai selama dua minggu. Pada salah satu inskripsi yang ternukil pada batu nisan di kompleks pemakaman raja-raja Pasai, yang tertulis dalam bahasa Arab, dikatakan bahwa: “Kubur ini kepunyaan yang mulia Sultan Malik az-Zahir, cahaya dunia dan sinar agama Muhammad bin Malik al Shalih, yang wafat pada malam Ahad, dua belas bulan Zhulhijjah tahun 726”. Jadi, raja yang bertemu dengan Ibnu Battuta adalah Sultan Samudera yang kedua, hal ini diperkuat oleh sumber tertulis lain, seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu. Makam Malik az-Zahir sendiri terdapat di sebelah makam ayahnya, Malikul Saleh, sang pendiri dinasti Samudera Pasai.

Dunia sejarah sangat beruntung dengan terdapatnya inskripsi pada makam Sultan Malikkussaleh (Sebelah Kanan) dan Sultan Malik Az-Zahir (Sebelah kiri) genealoginya. Sultan Malik Az-Zahir adalah raja yang memerintah di kerajaan Samudera Pasai ketika Ibnu Battuta berkunjung. Selain catatan perjalanan dari Ibnu Battuta, dari tulisan yang tertera itu dapat diketahui berapa umur agama Islam telah masuk ke Nusantara.

Sejarah Melayu, yang ditulis pada abad ke-16 Masehi, yang menurut tradisi ditulis oleh Tun Sri Lanang, pujangga dari kesultanan Johor, juga memberitakan tentang Sultan Malaka yang senang berdiskusi tentang agama. Sumber-sumber lain pun berkisah  tentang hal yang sama dilakukan oleh Sultan di Kesultanan lainnya.

Menarik dicatat bahwa pada masa awal berdirinya Kesultanan Islam di Aceh khususnya, bahkan dunia Melayu pada umumnya, bahwa Sultan berkuasa hanya atas konsolidasi kekuasaan, tetapi juga, dan bahkan lebih penting, keterlibatan sang raja dalam pengembangan ilmu keagamaan serta penyebaran kesadaran kosmopolitanisme kutural Islam.

Dalam Rihlah Ibnu Battuta bersaksi, “Aku mendapati bahwa kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama berdiri di tanah Melayu. Ternyata, kerajaan Samudera Pasai telah mempunyai tamaddun (peradaban) dan hubungan luar negeri yang baik. Di sana aku tinggal 15 hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Cina.”

Samudera Pasai saat itu merupakan pos terluar yang paling akhir dari Dar-al-Islam, sekalipun kota-kota lain di selatan sepanjang pantai Sumatera telah mengembangkan pemukiman-pemukiman komersial dengan subur, tidak ada Negara muslim merdeka yang diketahui keberadaannya di manapun di sebelah timur kerajaan Samudera Pasai sebelum pertengahan abad ke-14 Masehi.

Laporan Ibnu Battuta tentang situasi kehidupan intelektual di istana Samudera Pasai, tentu tidak bisa dikesampingkan bila setiap kali membicarakan sejarah awal kehadiran Islam di Nusantara, maka patut jika hampir tidak ada karya akademis yang melupakan nama dan kesaksian Ibnu Battuta.

Buku yang dijadikan rujukan penulisan ini; 1. Petualangan Ibnu Battuta terjemahan dari The Adventures of Ibn Battuta, A Muslim Traveler of 14th Century oleh Ross E. Dunn; 2. Terjemahan dari Rihlah Ibnu Bathuthah Memoar Perjalanan Keliling Dunia di Abad Pertengahan oleh Muhammad bin Abdullah bin Bathuthah.

Daftar Pustaka:

  1. Dunn, Ross E. Petualangan Ibnu Battuta. Jakarta. Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011.
  2. Muhammad bin Abdullah. Rihlah. Jakarta. Pustaka Al-Kautsar, 2012.

Sebagai upaya kecil melawan pseudo sejarah, Menegakkan kembali nama Samudera Pasai sebagai titik nol peradaban Islam di Asia Tenggara. Tim kami turun ke lapangan.. Dengan keterbatasan sumber daya. sebuah filem dokumenter penelusuran jejak sejarah ke makam Sultan Malikussaleh. Sebuah Ziarah yang dibungkus dengan komedi-komedi kecil, kami hanya bermaksud mengatakan bahwa sejarah itu menarik dan menyenangkan.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
Posted in Buku, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA

Buku Sejarah Sumatera (History of Sumatra) di tulis oleh William Marsden, F.R.S diterbitkan oleh T. Payne & Son tahun 1811 Masehi.

ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA

Seorang peneliti sekaligus penjelajah asal Inggris bernama William Marsden, memulai pengamatan ke Pulau Sumatera pada tahun 1771. Ia berhasil mengungkapkan hal-hal yang tidak belum terungkap sebelumnya, bukunya, The History of Sumatra merupakan sebuah karya besar pada abad ke-18 yang ditulis berdasarkan riset dan observasi yang sudah tergolong canggih waktu itu.

William Marsden menuliskan kesannya ketika membuka bab 21 tentang Aceh, “Aceh merupakan satu-satunya kerajaan di Sumatera yang pernah mencapai pengaruh politik yang cukup terpandang bagi bangsa barat, sehingga catatan sejarahnya menjadi suatu subjek umum. Namun, kondisinya saat ini sangat berbeda dengan kondisi saat mereka berhasil mencegah kekuatan Portugis menjejakkan kaki di Sumatera dan para pangerannya menerima duta-duta dari seluruh bangsa besar di Eropa.”

Teuku Imuem Lueng Bata (duduk sebelah kanan) dan Teuku Kali Malikon Ade (duduk sebelah kiri) sebagai perutusan perwakilan Kesultanan Aceh Darussalam dalam usaha menjajaki kemungkinan mendapatkan bantuan persenjataan di Pulau Pinang. Foto ini diambil tahun 1858 sebelum pecah Perang Aceh di tahun 1873.

Marsden disatu sisi mengakui kegemilangan sejarah masa lampau Aceh, namun disatu disisi juga mengamati bahwa pada akhir abad ke-18, Kesultanan Aceh Darussalam mengalami penurunan kekuatan, pengaruh, dan sinarnya telah meredup.

Typical Orang Aceh (laki-laki) di akhir abad ke-19 Masehi.

Typical Orang Aceh (Perempuan) pada akhir abad ke-19 Masehi.

Mengenai penduduk Aceh, Marsden menulis; “Karakteristik fisik orang Aceh sangat berbeda dengan orang Sumatera lainnya. Mereka biasanya lebih tinggi, lebih kekar, dan kulitnya lebih gelap. Bukan berarti mereka mewakili karakteristik fisik penduduk asli, tapi berdasarkan berbagai alasan, dapat diasumsikan merupakan percampuran antara orang Batak dan orang Melayu dengan orang chulia, yaitu orang-orang yang mereka sebut sebagai bangsa dari India barat (Pakistan sekarang-penulis) yang sudah sejak dulu sering mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Aceh.

Dari segi wataknya, mereka lebih aktif dan giat daripada beberapa penduduk negeri lainnya. Mereka lebih bijaksana, memiliki pengetahuan tentang negeri-negeri lainnya, dan sebagai pedagang mereka bertransaksi pada prinsip-prinsip yang lebih luas dan liberal. Namun, pengamatan terhadap prinsip-prinsip tersebut lebih banyak dilakukan terhadap para pedagang yang berada jauh dari ibu kota dan terhadap tulisan-tulisan mereka daripada pengamatan yang dilakukan di Aceh yang berdasarkan watak dan contoh tindakan raja yang sedang berkuasa seringkali berpikiran sempit, memeras dan, menindas.

Dua orang Aceh, pawang badak (kiri) dan pawang harimau (kanan).

Bahasa mereka merupakan salah satu dialek yang umum digunakan di kepulauan timur dan kemiripannya dengan bahasa Batak dapat dilihat pada tabel perbandingannya. Namun, mereka tetap menggunakan aksara Melayu.

Sejak masa kanak-kanak, rakyat Aceh sudah diberi pelajaran-pelajaran agama. Sebagaimana gambar pada akhir abad ke-19 Masehi ini memperlihatkan sekelompok anak bersama guru mengaji membaca Al-Qur’an.

Dalam segi agama, mereka menganut agama Islam dan memiliki banyak ulama. Mereka banyak berinteraksi dengan orang-orang asing yang juga beragama Islam. Bentuk peribadatan dan upacara-upacaranya dijalankan dengan cukup ketat pada aturan.”

Terlepas dari beberapa gambaran baik tentang Kesultanan Aceh, sebagaimana para penjelajah Eropa yang lain, Marsden menarik kesimpulan yang sama, bahwa Aceh merupakan salah satu negeri yang paling tidak jujur dan mengerikan di kawasan timur terutama ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan Eropa di Asia Tenggara yaitu Inggris, Belanda, Portugis, Spanyol bahkan Perancis.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

SIAPA ORANG ACEH SEBENARNYA

SIAPA ORANG ACEH SEBENARNYA

Siapa Orang Aceh Sebenarnya: Sebuah baliho berdiri tegak di depan Dinas Budaya dan Pariwisata Aceh. Didirikan menyambut Pekan Kebudayaan Aceh VII yang akan berlangsung 5-15 Agustus 2018. Abu tersentak, sebuah kenangan melintas memarkirkan motor Shogun 125 dan mengambil foto. Sebuah bayangan masa lalu tergambar jelas di kepala Abu, setelah bertahun-tahun tersimpan dalam sudut berlumut di antara trilyunan sel-sel otak ini. Sebuah cerita yang sebenarnya mungkin tidak akan teringat kembali.

Siapa Orang Aceh Sebenarnya: Baliho menyambut Pekan Kebudayaan Aceh VII yang akan berlangsung 5-15 Agustus 2018.

Waktu itu tahun 2001 awal millennium ini, dikampung kami ada seorang “putoh kawat1) desas-desus mengatakan dia menjadi gila karena dipukul tentara, tapi kabar burung lain mengatakan dia selaku bujangan tua, waktu itu 40 tahun ditinggal kawin pacarnya. Sebagai orang gila, Bang Pon namanya, dijauhi warga bukan karena berbahaya melainkan terlalu banyak bicara. Mengenai majenunnya sendiri Abu tak pernah tahu kebenarannya karena gosip seperti kurap dan panu, menyebar kemana-mana tanpa bisa dibedakan yang mana kurap dan yang mana panu.

Waktu itu selepas Magrib berjamaah, Abu mengendap-endap ke sebuah pekuburan untuk merokok sebatang-dua batang. Disana, tempat yang biasanya dijauhi warga pada malam hari, Abu bersembunyi menghisap rokok, hasil menghemat uang jajan di sekolah, itu semua untuk menghindari dari mata-mata ayahanda melepaskan asap dari hidung menunggu azan Isya. Hantu? Tidak ada itu, Abu lebih takut ketahuan oleh ayahanda, bisa kena libas dengan ranting batang kuda-kuda.

Dibawah pokok sirsak itu, Abu asyik sendiri. Tiba-tiba ada yang memegang pundak Abu dari belakang, sial pikir Abu tanpa menoleh kebelakang. Hari ini kena batunya, pasti tertangkap merokok. Abu sedikit ketakutan, lalu mendengar suara. “Abu, aku ketiduran dari sore. Mulutku masam, bagi rokokmu lah!”

“Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullah.2) Ternyata Bang Pon di belakang Abu tadi. Tidak ikhlas Abu membagi sebatang, padahal rokok Abu cuma dua batang. Kami pun merokok bersama di pekuburan itu, Bang Pon mulai mengoceh, pehtem hana mupat punca3), berbicara kesana kemari. Mengkritik Gusdur, Megawati, Amien Rais sampai Pak Keuchik4), membahas sejarah, ekonomi dan politik. Terus terang orang ini harus diakui terlalu banyak bicara, tapi untuk ukuran orang sinting dia pintar juga. Mungkin kegilaan dan kejeniusan adalah hal yang dekat.

Tapi sebagaimana saran orang-orang kampung, kalau bertemu dengan bang Pon, apalagi ketika ia sedang berorasi lebih baik diam saja, atau menganguk saja. Kalau tidak ceramahnya bisa sampai Shubuh, dan ia akan mengalahkan Quraisy Shihab dalam bercerita.

“Abu!”

“Iya bang.”

Siapa sebenarnya orang Aceh?”

Abu angkat bahu saja, selain malas berbicara, juga kesal karena 50 persen devisa rokok Abu diembatnya.

“Inilah anak zaman sekarang, belajar ke sekolah tapi tidak tahu apa-apa.”

Abu diam saja, soalnya belum gila untuk mendebat orang gila.

“Aku bilang sebuah rahasia, orang Aceh tidak ada lagi, semuanya sudah mati. Mati dibunuh oleh Belanda!”

“Lha, kalau begitu kita siapa?” Abu kelepasan, kelepasan gila seperti bang Pon.

“Orang-orang Aceh yang sejati, semua sudah mati dalam perang melawan Belanda. Dahulu kita maju karena mereka, lihatlah sekarang kita ini miskin! Kita ini adalah kerak-keraknya, budak-budaknya, kita semua selamat karena nenek-nenek kita ketakutan dan memilih kabur ketika melawan Belanda!”

Abu bantah dengan teori Darwin, “Tapi bang Pon kata buku pelajaran, makhluk yang paling keren itu bukanlah yang paling kuat, pintar, perkasa tapi mereka yang mampu bertahan hidup.”

“Kalau itu yang kau bilang, berarti makhluk yang paling keren adalah kecoak! Buku apa yang kau baca? Biologi? Dasar pa’ak5)! Baca sejarah tolol!” Dia marah dan membanting rokok yang Abu bagikan kepadanya, sayang padahal masih ada 15 persen lagi.

Kalau saja Abu tidak mengingat bahwa bang Pon itu gila, sudah Abu tinju dia karena mengatakan Abu tolol. Tapi tidak itu saja ding, dia tingginya dua kali lipat Abu. Suasana dipekuburan itu panas, kami saling menatap penuh kemarahan, siap saling melemparkan ujaran kebencian.

Azan Isya menggema di udara, membuat suasana tegang perlahan sejuk.

“Abu udah azan shalat sana!” Perintahnya. Ia merapikan sarung dan berbaring di bawah pokok Sirsak itu.

“Enak saja menyuruh-menyuruh, abang kemana? Tidur?”

Dia tertawa, “Abu kau waras, aku gila bebas tidak shalat. Sana pergi shalat! Jangan sampai kita nanti tidak ketemu di surga!”

Kampret, tak perlu kali rasanya Bang Pon harus menyindir Abu yang waras, bahwa ia yang gila secara Fiqh dijamin masuk surga. Seumur hidup baru kali ini ada orang gila yang bangga dengan kegilaannya. Abu pun insaf, mengapa sedari tadi berdebat dengan orang gila, jadi sama gilanya seperti dia. Kesal Abu meninggalkan dia menuju meunasah6).

Belum puas dia meneriaki Abu. “Kalau kau sudah banyak membaca buku sejarah, dan kau sudah sedikit lebih pintar, coba buktikan aku salah. Berikan aku jawaban!”

Setengah menggerutu Abu menjawab. “Iya nanti saya cari abang, tapi kalau abang masih hidup.”

Abu mendengar dia tertawa keras penuh kemenangan.

Malam itu adalah pertemuan kami yang terakhir, selang beberapa hari kemudian ia mengejar Pak Keuchik dengan parang seraya meneriakinya sebagai pemimpin zalim. Karena dianggap telah menjadi orang gila yang berbahaya maka segera ditangkap oleh  warga dan diserahkan, untuk dijebloskan ke Rumah Sakit Jiwa. Setelah hari itu Abu tidak pernah bertemu lagi dengan Bang Pon.

Tahun 2004, beberapa tahun kemudian tersiar kabar bang Pon berhasil kabur dari Rumah Sakit Jiwa, ia berlari kearah laut. Kata-kata orang gilanya Bang Pon bertambah parah, ketika kabur dengan beringas, kabarnya dia berteriak Allah S.W.T nanti akan menjemputnya dengan penuh kasih sayang di tepi pantai. Banyak yang menertawakan dia, selama beberapa minggu dia berkeliaran di tepi pantai. Dengan rambut dan janggut panjang ia berkeliaran bahkan masuk hutan dekat pantai untuk menghindari pengejaran orang-orang yang dianggapnya ingin menangkap dia untuk di bawa kembali ke Rumah Sakit Jiwa, kadang-kadang kata orang turun gunung untuk dia mengemis makanan orang-orang disekitar pantai. Entah mengapa, hati Abu tidak tergerak untuk melihatnya, padahal jarak kampung kami dengan pantai tidak terlalu jauh, hanya 6 kilometer saja.

Seorang teman Abu, bohlalat pernah berjumpa dengannya ketika bertamasya ke pantai. Kata Bohlalat dia menanyakan kabar Abu, hampir saja Abu tergerak menemuinya tapi tidak jadi karena bohlalat menyampaikan pertanyaan bang Pon, “sudah pintar si Abu? Sudah bisa dia menjawab pertanyaan aku dulu? Bilang sama dia jangan terlalu lama bodohnya, waktu tidak menunggu.” Orang gila ini memang memiliki ingatan kuat, tapi tetap saja gila belum berubah.

Tapi ternyata waktu memang tak menunggu. 26 Desember 2004, hari bersejarah itu tiba. Tsunami melantak Aceh, kampung kami selamat. Tepat di depan gerbang kampung kami, gelombang dasyat itu berhenti membawa sampah-sampah material, mayat-mayat dan beberapa orang yang selamat menggelepar bagai ikan gabus terloncat ke darat.

Tiga empat bulan kemudian, dari orang-orang yang selamat dipinggir pantai ada cerita, ketika gelombang maha dasyat itu datang, ada seorang yang berjanggut panjang, seperti Forest Gump7) versi tersesat di pulau katanya, berlari kearah amukan badai tertawa bahagia menyongsong tsunami dengan kerinduan amat sangat, Bang Pon pikir Abu, pasti dia, tidak ada orang gila lain yang cukup gila untuk menyongsong air bah itu. Luar biasa kau bang, luar biasa gila, sebuah cemooh sekaligus ungkapan kekaguman.

Abu mengemas barang, SK sudah ditangan, Abu berangkat ke Lhokseumawe untuk melaksanakan tugas. Ada banyak perasaan berkecamuk saat itu, di tengah perjalanan, setelah menyantap sate matang yang legendaris itu, tiba-tiba satu kenangan melintas.

“Jangan sampai kita tidak bertemu di surga!” Kurang ajar kau bang, Abu tersenyum. Tahun demi tahun berlalu, akhir 2011 Abu kembali diperintahkan SK untuk pulang kembali ke Banda Aceh. Tahun-tahun berjalan lagi, sebenarnya Abu sudah melupakannya, sampai baliho itu mengingatkan kembali. Sebuah pertanyaan atau pernyataan yang belum terjawab.

Seluruh ilmu, pengalaman, pengetahuan akan AKU curahkan kali ini, dan sialnya ini terjadi hanya gara-gara sebatang rokok di tahun 2001 itu. Awas kau bang! Akan kujawab pertanyaanmu, dengan lucu tentunya, sampai kau di surga sana terpingkal-pingkal tertawa jadinya.

(Bersambung)

Index:

  1. Putoh kawat = Bahasa Aceh, untuk putus syaraf atau gila;
  2. Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullah = Syahadat;
  3. Pehtem hana mupat punca = Bahasa Aceh, berbicara tidak jelas ujung pangkal;
  4. Keuchik = Bahasa Aceh, Kepala Desa;
  5. Pa’ak = Bahasa Aceh, Bodoh keterlaluan; Tolol berat;
  6. Meunasah = Bahasa Aceh, Langgar; Mushalla;
  7. Forest Gump versi tersesat di pulau = Tom Hank dalam Cast Away tahun 2000.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

MAMPUKAH PUISI MENGUBAH DUNIA

Mereka yang tebiasa dengan kekuasaan dan aturan memang umumnya sulit memahami puisi, benda ajaib yang lahir dengan tak terduga dari hati. Puisi adalah ungkapan perasaan yang sendu, sakit atau terluka. Puisi biasa dekat kepada mereka yang tertekan perasaaan, disingkirkan dan memendam hasrat yang tak tersampaikan.

kita tak akan bisa melupakan bahwa dalam sejarah Indonesia terdapat seorang Chairil Anwar yang mampu mengharubirukan kita akan perasaannya ditahun 1945. Jejak rekam sang maestro tak lekang oleh waktu.

Chairil Anwar menulis sajak “doa” pernah menulis sajak sufistik yang amat menggetarkan: “Tuhanku/dalam termangu/Aku masih menyebut NamaMU”. Tapi Chairil Anwar dalam kumpulan sajak yang sama juga mencemooh harapan orang-orang yang menginginkan surga yang biasanya, “yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu/dan bertabur bidari seribu”. Sebab, mungkin Chairil Anwar “menginginkan” surga yang berbeda.

Chairil Anwar (26 July 1922 – 28 April 1949)

Chairil Anwar, pada masa itu (Tahun 1940-an) di Indonesia memang berbicara dengan gaya angkuh, cerdas, cekatan dan kocak. Indonesia saat itu juga masih sebuah bangsa yang harap cemas akan dirinya, masih berjuang meraih kemerdekaan. Indonesia masih sebuah cita-cita yang belum tentu terwujud.

Maka oleh karena itu baik Masyumi maupun Muhammadiyah tidak melakukan protes atas puisi tersebut, atau mengerahkan massa yang “tersinggung” oleh puisi tersebut. Atau mereka tidak merasa “perlu” untuk menyanggah puisi kurang ajar tersebut.

Indonesia di masa kini tentu berbeda saat Chairil Anwar masih hidup, setelah sekian tahun merdeka, kita menjadi sebuah negeri yang diperebutkan oleh bermacam kepentingan. Betapa sumpeknya, betapa panasnya kita. Bahwa bisa terjadi bentrokan kemarahan dan ketersinggungan dengan cepat menyebar, juga represi, siapa yang bisa menyalahkan? Dan siapa yang bisa disalahkan?

Maka seandainya Chairil Anwar masih hidup hari ini, mungkin lebih baik dia tak menulis puisi. Ditengah dua masa yang sedang bentrok, bergulat, sebuah negeri. Para pemikir sibuk, salah tentu jika penyair asyik sendiri.

Apakah ada kemampuan seorang penyair terhadap kemajalan dunia?

Puisi adalah seni tertulis dimana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya sebagai tambahan, atau selain sisi semantiknya. Puisi tidak sebagai jenis literature tapi perwujudan imajinasi manusia yang menjadi sumber segala kreativitas. Puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang akan membawa orang lain ke dalam hatinya. Puisi juga terkadang disebut syair berasal dari bahasa Arab Syu’ur yang bermakna perasaan.

Puisi hanya bertumpu akan kata tanpa alat bantu, disinilah kesulitan seorang penulis atau pembawa puisi untuk menyampaikan perasaan yang terdalam kepada penikmat. Berbeda dengan syair yang diringi oleh musik dan berkompilasi dalam bentuk lagu, menjadikan lagu sangat dinamis.

Puisi cenderung statis. Disiplin ilmu pasti telah membuai kita, tak salah memang. Namun apa indahnya Matematika bila sebuah puisi tak melengkapinya. Tapi puisi, bahkan dengan suara yang keras, seperti halnya sastra, tidak pernah cukup padu untuk mengubah dunia.

Dapatkah kita menyalahkan puisi?

Tentu dapat, sebuah puisi bisa dirasa sangat sumbang, menyentil perasaan. Adakalanya kita merasa perlu memprotes sebuah puisi dengan turun ke jalan-jalan. Tapi untuk apa? Puisi sama dengan kata, ibarat panah, meluncur bebas kepada para penafsir. Setiap orang bisa menginterprentasinya berbeda-beda.

Pembacalah yang menentukan. Puisi memiliki makna berlapis-lapis, sehingga akan menjadi pergulatan yang tak pernah selesai. Tafsir ini selalu berkembang bersama ruang dan waktu, itulah mengapa tidak ada tafsir baku atasnya. Kita tahu setiap tulisan dan tafsir dikemukakan dalam bahasa, dan bahasa dalam keniscayaannya membentuk persepsi, jika ada sebuah puisi yang buruk, janganlah kita menciptakan sebuah puisi yang lebih buruk lagi untuk menyerangnya.

Mungkin lebih baik tidak menulis puisi (yang buruk).

Jika hidup adalah puisi

Semua orang tahu, Chairil Anwar menuliskan puisi bukan untuk meneguhkan kekuasaan, apalagi menyebarkan kebencian. Ia menulis, kurang lebih perasaan pribadinya, yang mirip-mirip sufi gila. Karena itu puisinya, tidak lain tidak bukan, sangat berkelas. Tak lekang oleh pergantian zaman.

Siapa yang menyalahkan Chairil Anwar ketika dipenghujung hayat lelah, dan terjerembab menulis, “ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum akhirnya kita menyerah”, sebuah penghujung sajak yang mengharukan sebelum dia akhirnya meninggal. Adalah itu putus asa, kearifan atau bahkan sufisme? Itu tergantung persepsi kita kepada apa yang dituliskannya.

Maka laku, tindakan sang penggubah adalah lebih penting. Karena seorang penyair bahkan penafsir tidak lahir dari ruang hampa, ia adalah makhluk sejarah. Jadilah berarti, karena hidup untuk memberi, mempesona, seperti mengubah kata menjadi puisi.

XXX

Posted in Asal Usil, Cuplikan Sejarah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

BACALAH INI DISAAT ENGKAU MERASA KALAH

Sebelum engkau merasa kalah bacalah ini. Jangan biarkan siapapun mengacaukan hidupmu dengan apa yang telah mereka capai diusia mereka. 

BACALAH INI DISAAT ENGKAU MERASA KALAH

Mungkin kau pernah berpikir, bahwa pada hari engkau mulai memasuki sekolah menengah atas adalah hari dimana kau memulai perjalanan hidupmu, sebuah awal mula yang paling menentukan bagaimana hidupmu kelak. Sukses atau tidak? Bahwa masa-masa sekolah itu adalah saat paling menentukan dalam perjalanan hidupmu.

Maka engkaupun menaruh harapan, dalam dua tahun bersekolah engkau berkeinginan menjadi yang terbaik dikelasmu. Dalam tiga tahun engkau bercita-cita telah melangkah meninggalkan kotamu untuk melanjutkan ke universitas terbaik yang engkau pilih. Lima tahun kemudian setelah lulus kuliah engkau harusnya telah memulai karirmu yang gemilang. Mungkin kamu akan bekerja pada perusahaan terbaik yang jaringannya tersebar diseluruh dunia.

Kamu kemudian akan segera menikah, membangun sebuah rumah dan sepuluh tahun kemudian kamu akan mendapati hidupmu sesuai dengan apa yang telah engkau rencanakan dimasa muda. Dan kau telah menemukan jalan kegemilangan.

Benarkah begitu?

Mungkin pendekatan seperti ini adalah impian semua orang. Tapi kita tahu, ada mereka yang telah lulus universitas diusia 22 tapi tidak menemukan pekerjaan sampai bahkan sampai berumur 27 tahun lebih. Namun ada orang yang lulus kuliah diumur 25, kemudian mereka langsung menemukan pekerjaan segera.

Ada pula orang yang tak pernah berkuliah tapi langsung terjun ke bidang yang mereka cintai diusia 18 tahun. Atau ada juga orang diusia 25 lulus kuliah dan langsung menghasilkan uang namun membenci pekerjaan mereka. Atau kita mengenal orang-orang dimana mereka yang merasa yakin akan cita-cita saat berumur 16, tapi kemudian oleh keadaan terpaksa mengubah pilihan hidupnya ketika berusia 25 tahun.

Kita tahu ada banyak orang harus melalui bertahun-tahun yang panjang untuk menemukan tujuan hidupnya. Sebagaimana orang-orang yang telah menikah 8-10 tahun sampai akhirnya mendapatkan keturunan, sedang ditempat lain ada banyak bayi yang dibuang sesaat setelah mereka dilahirkan, karena mereka tidak diinginkan oleh orang tua mereka.

Kehidupan juga membuat kita melihat ada yang telah menikah dengan seseorang tapi sebenarnya mencintai orang lain, sebagaimana kita menyaksikan ada pasangan yang sangat saling mencintai namun mereka tak bisa bersama.

Mungkin kita bisa menarik kesimpulan, apapun yang terjadi dalam hidup adalah tergantung waktumu, setiap orang memiliki masanya. Kita mungkin melihat ada teman-teman telah jauh lebih sukses, atau menyaksikan beberapa teman telah tertinggal. Tapi sebenarnya semua orang  memiliki ketepatan waktu masing-masing.

Mereka memiliki waktu dan masanya masing-masing, begitu pula denganmu, maka sabarlah. Menyelesaikan kuliah di usia 27, bagaimana pun masih merupakan sebuah pencapaian yang baik. Tidak menikah sampai umur 30, tapi masih tetap bahagia adalah masih sebuah keindahan.

Memulai sebuah keluarga setelah umur 35 adalah masih mungkin, atau bahkan membeli rumah di usia 45 masih hebat. Sebelum engkau merasa kalah, jangan biarkan siapapun  mengacaukan hidupmu dengan apa yang telah mereka capai diusia mereka. Karena tidak semua yang dihitung bisa diperhitungkan, dan tidak semua yang telah diperhitungkan itu benar-benar dihitung.

Hal yang paling penting dalam hidup, ketika kamu menciptakan atau menjadikan sesuatu yang benar-benar berarti, sebagai tujuan hidupmu, dan kemudian mempelajarinya. Jika itu memberikan efek dan perbedaan untuk membuat orang lain lebih baik dalam hidup mereka. Maka itulah kesuksesaan yang sejati, jika itu dapat engkau capai.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

MARSOSE CORPS, THE DUTCH SPECIAL ARMY DURING ACEH WAR

MARSOSE CORPS, THE DUTCH SPECIAL ARMY DURING ACEH WAR

The Marechaussee te Voet Corps, known in Indonesia as Marsose corps, was a military unit established during the colonial period of the Dutch East Indies by the KNIL (colonial army) as a tactical response to the guerrilla resistance in Aceh. This corps has no ties to Koninklijke Marechaussee in the Netherlands.

On August 6, 1897, a unit of the Marechaussee Corps, attacked the landscape of Soekoen (near Sigli) and killed more than 57 men. Only a few minutes later after their action pose while stepping on the bodies of the Aceh martyrs for photographer Christiaan Benjamin Nieuwenhuis. News of the victory was immediately sent to Batavia and the Netherlands.

Marsose was assigned in the Indies, among others in the battle against Sisingamangaraja XII in North Sumatra, which in 1907 defeated and killed Sisingamangaraja XII. In the Aceh War, Marsose controlled the mountains and jungle forests in Aceh to seek and pursue Acehnese guerrillas.

Background The Aceh War is very detrimental to the Netherlands.

In 1873 began a terrible war between the people of Aceh against the Dutch occupation. As Ibrahim recounts in his book “Perang di Jalan Allah, Perang Aceh 1873-1912”, the Acehnese war resulted in so many fatalities on both sides. Not just troops vs. troops, but also the massacre of civilians of Aceh by the Dutch Colonial army.

On the side of the Dutch colonizers themselves, the number of victims swelled by many troops who fought, did not have the ability to fight. Or it could be said that the death rate was also in vain in the Aceh War. One of the reasons why so many casualties and so terrible war, because in this war, guerrilla techniques used so perfectly by the forces of Aceh when facing Dutch troops.

Ianah Wulandari, Historian of Universitas Negeri Surabaya in his article entitled “Mareschausse Corps Unit in Aceh in 1890-1930”, confirmed a series of guerrilla attacks. To the extent that, in the Aceh war, the Dutch did not give much resistance. The Dutch troops were surrounded by hard-to-find guerrillas of Acehnese warriors. Not to mention the hilly geographical conditions in Aceh, many rivers, and many mountains and forests make Acehnese insurgents increasingly difficult to trace Dutch troops. As a result, the Dutch could only defend its territory, which was captured at the beginning of the war.

Defense hole in the stronghold of the Acehnese warriors built under the leadership of Tuanku Hasyim Bangtamuda – To go forward to attack the Great Mosque Van Swieten forces seized the fortress with great difficulty.

At first, the Dutch thought it would be easy to conquer the Aceh Sultanate. In fact, from 1873 to early 1880, the Netherlands gained so much loss, worth up to 115 million florins. The cost is so great compared to the results obtained. Dutch within that period, only able to control Aceh in the area of 74 Km2. That is, the Dutch are only able to control the territory of the capital city of Aceh; Koetaradja (Palace) and around the Great Mosque of Aceh. Beyond that, the Netherlands has no power whatsoever. The Dutch were surrounded by Acehnese rebel forces, and this also benefited the Aceh troops. Their enemy, the Dutch troops like being herded at a single point of the battle. Making it easier for the Acehnese guerrillas to conduct tactical attacks that produce a large effect. At the beginning of the Dutch battle using the strategy “Gecocentreerde Linie” or a very conventional defense pattern. From a series of failures experienced by the Dutch, they decided to use different tactics than they ever had.

Christiaan Snouck Hurgronje. Occupation Professor, author, spy, colonial advisor.

The Dutch eventually hired an anthropologist to study the Acehnese. A person named Snouck Hurgronje was an anthropologist to “spy” and charted the hard-to-be-defeated Acehnese people in battle. One of Hurgronje’s tasks is to investigate the socio-cultural conditions of the Acehnese society so that the Dutch can enter and control the people of Aceh. Snouck Hurgronje’s research results related to Aceh and Islam War in Indonesia which have been booked are:

  1. The Achehnese;
  2. Advices C. Snouck Hurgronje during his services to Dutch Indies Government 1889-1936. 11 Volumes.

The proposed strategy of Snouck Hurgronje to Dutch Military Governor Joannes Benedictus van Heutsz was that the Keumala group (the Sultan’s party based in Keumala) with his followers was put aside. Keep attacking and holding on to the ulamas (clerics) constantly. Do not negotiate with guerrilla leaders. Establish a permanent base in Aceh Besar. Demonstrate (intent) good Dutch to the people of Aceh, by establishing langgar (small mosque), mosque, repairing irrigation roads and helping the social work of the people of Aceh. It turned out that Dr. Snouck Hurgronje’s ploy was accepted by Van Heutz who became the military and civilian governor of Aceh (1898-1904). Then Dr. Snouck Hurgronje was appointed as his advisor.

Background Forming the Marsose Troops

Mohammad Syarif or Arif – Advised to form the Marsose Corps

Furthermore, in a series of ways to rule Aceh, at the suggestion of a Minangkabau named Mohammad Syarif or Mohammad Arif a chief prosecutor in Koetaradja (Banda Aceh now). The man born in Minang sparked the formation of a special forces corps formed to confront the Acehnese guerrillas. Syarif himself was an indigenous Indonesian, who supported the Dutch government. He gave the proposal to the Dutch Military Governor in Aceh, General van Teijn and also to the Chief of Military Staff J.B. van Heutsz to form a small, highly mobile infantry combat unit. These troops are certainly anti-guerrilla forces. In 1889, the Dutch Army Command in Aceh, had compiled two detachments of mobile forces with anti-guerrilla capabilities.

Renjaan, A Marsose – Marsose Profile

The concept of the troop then matured again into an army of Marsose who eventually proved themselves as an elite troop because some heavy tasks that are difficult to do KNIL soldiers usually managed to finish them. How not, these troops are the choice of troops from various units of the KNIL both indigenous and European.

From the proposal, the concept of troops was then matured again until finally formed an elite force named troops Marsose or also known as Mareschausse Corps which was founded on April 2, 1890, and recorded in a letter signed by the Queen of the Netherlands entitled “Staatsblad Van Nederlandsch Indie “. This corps is not just any corps, this army is an army of choice from various units of KNIL both indigenous and Europe. They are none other than an army of cold-blooded mercenaries whose members are indigenous. Only the leader is a Dutchman.

Typical Characteristics of Marsose Soldiers

Marsose is a fast-moving force with a green uniform with red curved lines on the arms and neck with red lines. Each Marsose unit consists of 20 people led by a Dutch sergeant assisted by a native corporal. Each troop usually consists of a platoon consisting of 40 people and led by a Dutch Lieutenant.

The dangerous ones, Marsose troops from Java posing after the operation into the forest in Aceh. The Marsose soldiers are Dutch Pride, they are a qualified subordinate (H.C. Zentgraaff in his book The Atjeher).

The Marsose from Ambon and Manado are posing together.

Altogether, the Marsose corps consists of 1,200 people from various nations, composed of Dutch, French, Swiss, Belgian, African, Ambonese, Menado, Javanese, as well as some Nias and Timorese. These troops, in addition, armed with carbines, are also armed with traditional weapons such as klewang(machete), rencong (knife/bayonet) and so forth. They are not dependent on military transport and are on foot. They do not rely on logistical supply lines.

This is especially useful in melee warfare, man to man, as do indigenous guerrillas. Marsose tried to follow this fighting style because guerrilla guerrillas were so effective against the usual KNILs that prevailed in the big front but bothered when attacked abruptly. These troops are certainly trained in warfare in the jungle against insurgent attacks.

The excellence offered by these troops is because they are specially trained natives, they will be more familiar with their fellow enemies. That is, it can be said, this Marsose corps is assigned to kill their own compatriots. With sophisticated equipment in his day and a large salary, Marsose troops are known as cold-blooded elite.

Marsose Force Expedition to Lam Meulo-Tangse-Geumpang

Marsose, based on historical records, does more of his work as a counter-guerrilla force in Aceh and Batak land. These two areas were very difficult to control the colonial government until the early twentieth century. Marsose in large quantities is needed there for long time tasks. Even after the war against Batak people in the Sumatra and Aceh Hinterlands it was over, little resistance sometimes still happened. As experienced by a former Marsose commander, Lieutenant Colonel W.B.J.A Scheepens, who stabbed rencong (knife) Acehnese people.

Marsose is not only assigned to these two areas but also in some places such as the Nusa Tenggara Archipelago as well as Sulawesi, although with few personnel. The story of the malignancy of Marsose troops is more prevalent in Aceh and Gayo land.

Special Forces Marsose was named Kolone Macan

The presence of Marsose as a special force that is so reliable, apparently still considered not enough by senior Dutch military officials. The Dutch officers again formed a unit within Marsose’s army named Kolone Macan. Like Marsose, Kolone Macan was also led by officers from Europeans. One of them is a Swiss officer named Hans Christofell. He is well-known for contributing to the colonial government in the war in northern Sumatra. He set up a new special force again, in which the members were elected members of Marsose.

There is a Marsose officer who is higher in rank than Christoffel, Captain (later Lieutenant Colonel) Scheepens. After various considerations, the Dutch military policy-makers came to the conclusion that the sadistic work of the executioner was not suitable for Scheepens, although Scheepens was quite willing to do even heavy military tasks such as fighting for days in the forest. In the eyes of the policymaker, Christoffel is considered more suitable to lead a group of executioners. Christoffel finally departed to Cimahi, where standing a garrison Dutch troops there. Here Christoffel met with many veteran Marsose and has experience fighting in Aceh. Their presence in Cimahi was in order to rest after the heavy war in Aceh for months.

He assembled a vicious member of Marsose, a bruiser. The troop was named Kolone Macan. These troops are trained by Christoffel in Garnisun Cimahi. Their clothing is gray-green in the collar of her shirt with two bloody fingering blisters. Of course, the red necktie looks scarier. They are known as the creepy troops with the nickname ‘cold-blooded killer’.

After resting for a long time, the Martians felt that they wanted to go back to war in Aceh again. The world of Marsose is definitely not a world of peaceful barracks, their world is war in the forest, as in Aceh. During the peaceful Cimahi barrack, the Marsose was also given the theory of war, but it was less responded by low-educated marsose. They do not need theory in warfare, but battle. Naturally, if the theory of war was not even digested Marsose warriors. They know better and love to fight. Another routine that they hate in the barracks is that several times a day have to line up. The marsose exercise is not firing a gun, but rather playing a klewang (machete).

In Cimahi, Christoffel picked up some brigade commanders who were usually the best sergeant Marsose. Those who are tired of living in the garrison are clearly a priority. These troops are made up of 12 marsose brigades who have been trained again in Cimahi. How well trained they are now. The front row of Kolene Macan‘s troops is the unmarried Marsose. Obviously they can fight more freely because they will not think about their children and their wives.

The way the troops work is more cruel than Marsose before. They do execution on the spot. This is crazy, as one of Marsose Schriwanek’s commanders feels. Though he was a rough man, he saw the workings of Kolone Macan, perceived by the officer, to be completely outrageous when doing Sweeping. They cleaned the guerrilla movement of the people’s resistance cruelly from the lowlands. They do their work briefly and thoroughly.

The strong reaction to the work of Kolone Macan also emerged from the Dutch military itself. The battle they carried out in Aceh was outrageous. This reaction came from a Dutch officer who was not from a mercenary background. Finally, the command over the Aceh region was changed from van Daalen to Swart. Due to the change of command, the ruthless way of Kolone Macan was slowly removed. The troops once trained and led by Christoffel was then switched command to van der Vlerk. This new commander, like the demands of some Dutch officers who hated the cruelty of Van Daalen and Christoffel, began to change the nature of the Kolone Macan army. These troops disappeared for a long time and became just a regular Marsose.

Kolone Macan is the cruelest part of the corps named Marsose and only plunge in the Aceh front only. The Colonial Government apparently did not want to be an army of organized executioners, for the colonial government, just marsose the cruelest troops they had. However, resistance to colonial policy is unpredictable when it occurs and this is the reason why Marsose continues to be preserved despite its diminishing role. Marsose did not sound great again when Japan landed in Indonesia.

Photos of the cruelty of Long March Marsose troops to Gayo under the leadership of General C.G.E van Daalen.

The conquest of Koeta Reh Fortress, an operation under the leadership of Van Daalen in Gayo Land. The photo was taken June 14, 1904. Part of the Aceh War (1873-1904)

All the inhabitants of Koeta Reh fortress, women and children were massacred by the Van Daalen-led Dutch troops (Aceh War 1873-1904)

Dutch cruelty in Kampong Likat Tanah Gayo, children and women were also massacred by Van Daalen’s Dutch army. Aceh War (1873-1904).

Lieutenant General G.C, E. van Daaleen one of Marsose’s most violent leaders – During the Long March lead for 163 days – He ordered the burning of the village – Killing women and children.

End of the Marsose Corps.

The honorary monument built by the owners of plantations in East Sumatra to honor the 40th anniversary of the Marsose corps (1930) in Aceh. In 1930 also Marsose troops in Indonesia was dissolved by the Dutch East Indies colonial government

As a result of cruelty outside the limits of humanity, Marsose Corps finally dissolved by the Dutch themselves. The story of Marsose’s history after the Aceh war was gone. In 1930 Marsose troops in Indonesia officially disbanded. As a result, the Dutch troops were sharp as they were during the Aceh War, easily conquered by the Japanese in the Second World War.

The heritage of Marsose.

The Dutch special forces tradition in Indonesia was revived by Lieutenant Colonel W.B.J.A Scheepens’s son, Captain W.J. Scheepens when the Dutch army landed in 1945. Captain Scheepens developed his idea of forming Special Forces (Speciale Troepens) so that the KNIL leadership approved it by establishing Depot Speciale Troepens (DST) on July 15, 1946.

DST troops characteristic of green-coated is commandeered by Captain W.J Scheepens personnel are also recruited from various tribes and nations. These troops were given strategic training and command tactics in various places ranging from Polonia, Kalibata to finally in Batujajar, Bandung.

Then on July 20, 1946, the DST commander was handed over to Westerling. Now the DST troop training ground in Batujajar is used to train Kopassus members, the elite troops of the Indonesian National Army.

Translate From: Korps Marsose Serdadu Pribumi Pelayan Ratu Belanda

About Aceh:

  1. CUMBOK WAR, A SOCIAL REVOLUTION IN ACEH (1946-1947); 8 April 2017;
  2. CIVILIZATION WITHOUT WRITING; 13 April 2017;
  3. ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZING THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS; 27 April 2017;
  4. VISITING THE EXHIBITION ACEH TOMBSTONE AS AN ISLAMIC CULTURAL HERITAGE IN SOUTH-EAST ASIA; 16 May 2017;
  5. DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910); 20 May 2017;
  6. SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA; 6 June 2017;
  7. ISLAMIC SHARIAH WHO IS AFRAID, A CASE STUDY IN ACEH; 13 June 2017;
  8. ACEH WOMEN FULL POWER; 13 June 2017;
  9. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  10. GOLD, INFIDELS, AND DEATH; 10 July 2017;
  11. MANTE THE LOST PYGMY TRIBE; 13 July 2017;
  12. HOW TO TELL HISTORY; 14 August 2017;
  13. THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH; 19 August 2017;
  14. THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE; 28 September 2017;
  15. WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN; 14 October 2017;
  16. EXPLOITATION OF NATURAL RESOURCES, WHAT IS IT GOOD FOR ACEH; 5 November 2017;
  17. PEUCUT KHERKOFF, ACEH-DUTCH WAR MONUMENT; 12 November 2017;
  18. THE PRICE OF FREEDOM; 5 December 2017;
  19. ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO; 25 February 2018;
  20. MARSOSE CORPS, THE DUTCH SPECIAL ARMY DURING ACEH WAR; 19 March 2018;
Posted in History, International, Opinion, Reportase, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

ADIOS ANDALUCIA

Reality perhaps only perception. – Adios Andalucia.

ADIOS ANDALUCIA

This Arab horse is tired of running. Climb the hill through the night to the meeting place. Today I Abdurrahman represents the emirate of Granada, the only Islamic state that last existed in Andalucia. It is heartbreaking to face today who must attend the birthday of the lady of Castilla. After Cordoba and Sevilla subdued, I had no choice but to reverence the invitation of Henry IV, King Castilla who had a celebration to please his daughter Juana. Maghrib State is sealed by the Atlantic Ocean, Turkey Ottoman still busy fighting in the east, Baghdad capital of the Islamic world has been through a hundred years destroyed by the Mongols. The country of Granada lives alone here, in Southern Europe surrounded by Castilla, Aragon, and Navarre plus the Portuguese Empire. The power of an inch made me have to let myself down here. Guadalquivir welcomes the commander to celebrate the party where the light of Islam has ever shone.

Battle of Yarmuk (Arab: معركة اليرموك) in August 636. The beginning of the first major wave of Muslim conquests out of Arabia.

“Do not go, my son, this could be a trap.” Said, my mother. But the fate of the emirate of Granada is determined today and I can’t refuse. The king of Portugal could have refused to send a messenger because he was still angry with the failure of an arranged marriage with Princess Isabella, the younger sister of King Castilla. But I can’t refuse this invitation. The fate of Granada is at the end of the horn. The emirate of Sevilla, the City of Cordova has fallen. There is no independent Muslim taifa again in Andalusia except the emirate of Granada. This is a time when self-worth is worthless.

“Welcome, Boabdil. Finally, the emir of Granada will humble himself and keep his promise to be present. “Ferdinand Prince Aragon greeted cheerfully, my arrival.

Adios Andalucia

Coastal Maghrib, North Africa. 1497 AD

“History never sided with those who kept their promises.” The words of King Ferdinand of Aragon repeated all the refugees from Andalucia ringing in my ears, what is my day? The emirate of Granada was subdued. I have to leave the land I love, Andalucia. Just five years ago and the inquisition began.

Kingdom Castilla and Aragon have betrayed the Treaty of Granada. Every Muslim left in the Iberian peninsula only has three choices; go, die, or convert to Catholic. Denying the covenant of religious tolerance, which I have ever tried so hard with. As a last effort, I keep so much blood from spilled Muslims, after the war against the combined armies of Castilla, Aragon and the Portuguese was over. Five years ago, I had left Andalusia. A clause of the covenant I must implement for peace.

Because of the time, now I can see clearly my folly. Yes, my mistake is to love the Iberian peninsula. I miss every tree there, I love the flow of the river and the people who live in the shade. Cities that have a lighted street. Even London in the North is still muddy. I feel like I have it all, but I’m not! And it all weakens me, it is not proper for a desert son to have a weak heart.

I am ashamed of my foolishness, I have embarrassed the ancestors. Indeed I have put the effort of Thariq ibn Ziad to conquer the Iberian Peninsula, seven hundred years ago. And I surrender to fate, if I later, Abdurrahman is remembered as the worst Muslim fighter and leader, all the time. Adios Andalusia that I love and will never see again.

I cried so much, “Abdurrahman from Granada why are you crying like a woman? While you are not fighting like a real man? “Mother scolded me. She was annoyed, remembering how I avoided total war by surrendering one day in 1492. It had the ability to repeat itself, but a man had no power back in time.

And reality perhaps only perception.

Alhambra

People say the past is always in place, and only distorted memories are always carried away where the foot stepped. Time devours everything including memories but unaware, perception wraps, stores in burrows of memories, presents with nostalgic spices. Until the memorable snippet feels sweeter or bitter than it should be. When we try to taste it again, we are disappointed.

Perhaps the reality has indeed changed. Time dispels its toughness to survive. Perhaps we alone have gone far from the past. Too complex and too high. Then miss and scrap the memories from the heap of reality. Then we encounter something we can’t digest anymore.

Perhaps a mistake or more precisely our stupidity, is using perceptions of the present, for an expectation of the past? Or even reversed? Who knows? Adios Andalucia.

Translate From: Selamat Tinggal Andalusia

Another Story:

  1. HOW TO TURN LEAD INTO GOLD; 3 April 2017;
  2. DIFFERENT NARCISSUS; 7 April 2017;
  3. YUKIMURA SANADA, THE LAST GENERAL; 10 April 2017;
  4. THE LAST WITCH; 10 April 2017;
  5. ALI AND MALENA, A LOVE STORY; 11 April 2017;
  6. TOKUGAWA IEYASU, THE ASURA; 19 April 2017;
  7. BHISHMA’S DEATH; 21 April 2017;
  8. BEHIND THE SCENES MACHIAVELLI WROTE THE PRINCE; 23 April 2017;
  9. SPEECH OF THE BIRDS; 25 April 2017;
  10. THE NOBLE VEIL, ODA NOBUNAGA; 13 May 2017;
  11. LETTER TO LISA; 9 June 2017;
  12. GATE WITHOUT GATE, THE MILITARY STRATEGY OF IEYASU TOKUGAWA; 10 JUNE 2017;
  13. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  14. THE RIVER MAN; 18 July 2017;
  15. AFTER THE REVOLUTION ENDED; 28 July 2017;
  16. FRIENDSHIP BETWEEN GOATS AND WOLVES; 29 October 2017;
  17. A NOTE FROM A LOSER; 10 November 2017;
  18. TESTAMENT FROM HANG TUAH; 25 November 2017;
  19. FOR ONE WEEK IN LOVE; 27 November 2017;
  20. INTERVIEW WITH THE DEVIL; 17 January 2018;
Posted in Fiction, International, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

DI TEPIAN PANTAI PULAU BUNTA

Di tepian pantai Pulau Bunta. Laut yang kian merahkan warna-warna tengelam – Pulau Bunta

DI TEPIAN PANTAI PULAU BUNTA

 

Bersama langit merah mega-mega tenggelam

Sembilu menghentak kemudian membatu

Digugusan pulau jauh ini

Asing, terasing dan semakin asing

 

Debur-debur ombak -Pantai Pulau Bunta

Debur-debur ombak sejenak menyapu kegundahan

Sejenak kulupakan rasa rinduku

Sepoi-sepoi angin mengalun lembut dipipiku

Sebentar merampas kegalauan

 

Digugusan pulau jauh ini – Pulau Bunta

Tapi kemudian, rindu kian menghujam

Duduk termenung menghayati hidup

Jiwa yang haus nan sepi ini

Tak sanggup menahan lebih dari satu hari lagi

 

Pulau Bunta, 4 Maret 2018

Puisi-puisi:

  1. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  2. Dipersimpang Jalan; 3 Agustus 2008;
  3. Elegi Pagi Hari, Sebuah Puisi; 7 Agustus 2008;
  4. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  5. Indah Bunga; 20 September 2008;
  6. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  7. Kalah Perang; 5 November 2008;
  8. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  9. Puisi Tentang Gerimis; 22 Desember 2008;
  10. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  11. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  12. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  13. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  14. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  15. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  16. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  17. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  18. Surga; 17 Juni 2013;
  19. Hujan; 12 November 2015;
  20. Oda Sebatang Pohon; 29 Maret 2016;
  21. Supaya Aku, Kamu Dan Kita (Lebih) Saleh; 9 Desember 2016;
  22. Buah Amarah; 18 Desember 2016;
  23. Yang Menggelandang; 27 Agustus 2017;
  24. Harap Damai; 14 September 2017;
  25. Seminggu Setelah Tsunami Aceh; 13 Desember 2017;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Photography, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO

Aceh crazy or Aceh pungo. The word “Pungo” is an ancient word that is equivalent to the Acehnese language meaning “crazy” or is a term used when a person does things beyond reasonable limits.

ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO

DEFINITION ACEH PUNGO

Aceh Pungo (Bahasa Indonesia: Aceh Gila) is known in Dutch by the name of Aceh Moorden. The word “Pungo” is an ancient word that is equivalent to the Acehnese language meaning “crazy” is a term used when a person does things beyond reasonable limits.

The morphology of the meaning of Aceh Pungo is a typical Aceh killing that the Acehnese themselves call it poh kaphe (killing the infidels). Here the warriors of Aceh no longer wage war together or in groups, but individually.

It was desperate to attack Dutchmen whether he was a soldier, an adult, a woman or a child even being targeted for murder. And this daring act of killing is done anywhere on the street, in markets, in parks or in barracks alone.

This title was popularized by a Dutch researcher named R.A Kern, as for the origin of this phrase we can browse from the following historical records:

BACKGROUND OF ACEH WAR

The Aceh army provided a persistent resistance by stemming the flow of crossing of the Dutch army. Dutch troops continue to advance through the defense of Aceh with a complete and modern tool. In this breakthrough, there was a one-on-one battle, one against an Acehnese soldier advancing with a klewang, which was difficult for the Dutch to face him at close range. But with the advantages of weaponry and the expertise of Dutch troops continue to advance.

The Dutch War in Aceh that began in 1873 to the beginning of the XX century is not yet over. Various attempts were made to end the war that has caused many casualties, both on the side of Aceh and the Dutch itself. Towards the end of the nineteenth century and in the early twentieth century, the Dutch carried out an act of violence through an elite force they called het corps marechaussee (marsose troops).

They are dangerous, Marsose troops. Dutch pride, they are capable subordinates.

By means of this violence, the Dutch expected the people or the fighters to be afraid and to stop the Dutch resistance. But what happened? The consequences of such acts of violence have generated immense hatred and resentment for the remaining Acehnese warriors, more so for their families to leave, father, son, son-in-law, relatives or relatives who have been victimized by the Dutch. According to a moderate estimate, the total victims of the Aceh-Dutch War have eliminated a quarter of the Acehnese population at the time.

ACEH PUNGO IS REACTION

To reply to the violence carried out by the Dutch, the Acehnese fighters made a way which was later termed by the Dutch under the name Atjeh Moorden or het is een typische Atjeh Moord a typical Acehnese murder that the Acehnese themselves call him poh kaphe (killing the infidels). Here the warriors of Aceh no longer wage war together or in groups, but individually. It was desperate to attack Dutchmen whether he was a soldier, an adult, a woman or a child even being targeted for murder. And this daring act of killing is done anywhere on the street, in markets, in parks or in military barracks.

The conquest of Koeta Reh Fortress, an operation under the leadership of Van Daalen in Gayo Land. The photo was taken June 14, 1904. Part of the Aceh War (1873-1904)

Dutch atrocities in Kampong Likat Tanah Gayo, children and women were also massacred by Van Daalen’s Dutch army. Aceh War (1873-1904).

All the inhabitants of Koeta Reh fortress were massacred by the Dutch troops led by Van Daalen (Aceh War 1873-1904).

This typical Aceh killing between 1910 – 1920 has occurred as much as 79 times with the victims on the Dutch side 12 dead and 87 wounded, while on the Acehnese side 49 people were killed. The peak of this murder took place in 1913, 1917, and 1928 that is up to 10 each year. While in 1933 and 1937 respectively 6 and 5 times. The number of victims in the Dutch war in Aceh for ten years at the beginning of XX century (1899-1909) as mentioned by Paul Van’t Veer in his book De Atjeh Oorlog is not less than 21.865 people of Aceh. In other words, that figure is almost 4 percent of the total population at that time. This figure after 5 years later (1914) rose to 23,198 people and counted all the fatalities (from the Aceh and the Netherlands) in the period is almost the same as that has fallen during the war of 1873 – 1899.

This is not to mention the victims who fell after 1914 to 1942. While at the end of November 1933 two Dutch children playing in Taman Sari Kutaradja (now Banda Aceh) were also victims of this Acehnese murder.

The typical Aceh killing is a stance of the spontaneity of the people who are depressed due to violence committed by the Dutch troops. This attitude is also imbued with the spirit of holy war teachings for poh kaphe (killing the infidels). In addition, there is also a desire to get martyrdom. And to take revenge which in Aceh terms is called tuengbila, a term that illustrates how fervently expels the invaders possessed by the people of Aceh.

Due to the murderous killings committed by the people of Aceh is causing Dutch officials who will be assigned to Aceh think many times. And there are those who do not want to include his family (wife-child) when assigned to Aceh. In fact there is a repatriate to the Netherlands. Dutch officials in Aceh always imagine and think about the dangers of Atjeh Moorden.

DUTCH RESEARCH ABOUT ACEH PUNGO

They can not understand how, just with a single person and armed with rencong tucked in blankets or clothes of Aceh fighters dare to attack the Dutch people, even the Dutch barracks even though. Therefore, among the Dutch people who declared the act “crazy” as impossible for a sane person, there was a term among the Dutch calling it Gekke Atjehsche (Acehnese madman), which became popular as Aceh pungo.

To study it the Dutch conducted a psychological study of the people of Aceh. In the research involved Dr. R.H. Kern, a government adviser on indigenous and Arab affairs, the results of this study suggest that the act (Atjeh Moorden) includes symptoms of mental illness. A conclusion that may contain truth, but there may also be mistakes, given the phenomena which are unattainable by the foundations of scientific thought in Atjeh Moorden. According to R.H. Kern what the people of Aceh are doing is a feeling of dissatisfaction because they have been oppressed by the Dutch because it will remain against the Dutch.

THE FAMOUS ACEH PUNGO VICTIMS

The tomb of Lieutenant Colonel (overste) SCHEEPENS, a famous researcher on Aceh as well as the marsose commander who died in 1913.

Lieutenant colonel (overste) SCHEEPENS

Lieutenant colonel (overste) SCHEEPENS, a well-known researcher on Aceh, as well as SCHMIDT who was also killed in Sigli in 1913. On the monument, we will remember how ridiculous Death Overste Scheepens, whereas he had previously received rather severe injuries in various battles in the thicket of Aceh, and he survived. The injury that caused his death from rencong stabbing suddenly, and never expected when he was presiding over a small trial in Sigli. The man who stabbed him was Uleebalang (landlord) Titeu who died instantly also chopped up by police agents who served around the office where the trial took place.

Prior to that incident, Aceh was known by the Dutch as one of the strange areas called “Gekke Atjehsche” or better known as “Atjeh Moorden” (Aceh Pungo, Aceh or Aceh Gila; Indonesia) Aceh Pungo is a desperate act of an attack against the Dutch regardless of whether he is a soldier, an adult, even a girl even a child. This action is done anywhere, in the streets, in the barracks, or in the gardens. This was the result of the Dutch violence in the Aceh war, causing deep hatred and resentment for the surviving relatives of Acehnese survivors, more so because of their son, son-in-law, relatives or tribe who had become the malignancy of the Dutch.

The victim was not necessarily Dutch, sometimes other white people who were thought to be Dutch. The victims of Aceh Pungo di Sigli, among others, a female tourist from the United States named Mrs. Mary Ware has promised Scheepens to be given the best service as she is looking for materials to write the book “FOREIGN COUNTRY THROUGH FOREIGN EYES”.

Kapitein CHARLES EMILE SCHMID

Kapitein CHARLES EMILE SCHMID, commander of the 5th Division Korp Marsose in Lhoksukon on 10 July 1933 died silly unexpectedly on a sunny morning in the military training ground in Lhokukon. Schmid was looking at a small group of soldiers practicing in the morning. He left the field to go home but suddenly he saw an Acehman passing by while giving “tabek” a greeting as the Acehnese custom of honoring the Dutch. The man’s Tabek was reciprocated by the captain but unexpectedly, as the hand of the honorable man came down, so rencong anchored to his body and caused a deadly wound. Schmid was carried away but was immediately assisted by some soldiers and he was taken to the hospital, but he could not be helped anymore. Schmid is now one of Peucut’s inhabitants.

Peucut, In these graves have been buried more than 2,200 Dutch soldiers killed during the Aceh-Dutch War.

According to Dutch sources, the man who stabbed Schmid in Lhoksukon has declared a “man who has tired of life” and sought martyrs, his name is Amat Leupon. He was killed by a soldier Asa Baoek who “for his service and courage” got a bronze cross.

COLONIAL GOVERNMENT STEPS TO PREVENT “ACEH PUNGO”

Christiaan Snouck Hurgronje. Occupation Professor, author, spy, colonial advisor.

With the conclusion that many people are mentally ill in Aceh, the Dutch government then established a mental hospital in Sabang. Dr. Latumenten who became head of Mental Hospital in Sabang then also conducted a study of the perpetrators of the Aceh assassination that by the Dutch government they are alleged to have been infected with neurological or insane. But the results of research Dr. The latumenten indicates that all the perpetrators are normal people. And that encourages them to commit such desperate deeds is due to the nature of a vengeance to the Dutch-owned that is tuengbila (Revenge). Therefore, all violent acts should not be perpetrated against the people of Aceh.

Furthermore, the Dutch East Indies government implemented a new policy known as advanced politics of ideas by C. Snouck Hurgronje. Something politics that shows the peaceful nature in which the Dutch show a gentle attitude to the people of Aceh, they no longer act only by relying on violence but with other efforts that can generate popular sympathy.

Translate From: ACEH PUNGO (ACEH GILA)

XXX

About Aceh

  1. CUMBOK WAR, A SOCIAL REVOLUTION IN ACEH (1946-1947); 8 April 2017;
  2. CIVILIZATION WITHOUT WRITING; 13 April 2017;
  3. ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZING THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS; 27 April 2017;
  4. VISITING THE EXHIBITION ACEH TOMBSTONE AS AN ISLAMIC CULTURAL HERITAGE IN SOUTH-EAST ASIA; 16 May 2017;
  5. DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910); 20 May 2017;
  6. SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA; 6 June 2017;
  7. ISLAMIC SHARIAH WHO IS AFRAID, A CASE STUDY IN ACEH; 13 June 2017;
  8. ACEH WOMEN FULL POWER; 13 June 2017;
  9. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  10. GOLD, INFIDELS, AND DEATH; 10 July 2017;
  11. MANTE THE LOST PYGMY TRIBE; 13 July 2017;
  12. HOW TO TELL HISTORY; 14 August 2017;
  13. THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH; 19 August 2017;
  14. THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE; 28 September 2017;
  15. WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN; 14 October 2017;
  16. EXPLOITATION OF NATURAL RESOURCES, WHAT IS IT GOOD FOR ACEH; 5 November 2017;
  17. PEUCUT KHERKOFF, ACEH-DUTCH WAR MONUMENT; 12 November 2017;
  18. THE PRICE OF FREEDOM; 5 December 2017;
  19. ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO; 25 February 2018;
  20. MARSOSE CORPS, THE DUTCH SPECIAL ARMY DURING ACEH WAR; 19 March 2018:
Posted in History, International, Opinion, Reportase, Review, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 19 Comments