Sketsa Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri (1888-1959)
RIWAYAT HIDUP TEUNGKU HAJI AHMAD HASBALLAH INDRAPURI (1888-1959)
Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri adalah salah seorang dari empat ulama besar yang mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa mempertahankan kemerderdekaan yang diproklamasikan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 adalah jihad fisabillillah, mereka yang tewas dalam perjuangan tersebut memperoleh syahid. Fatwa ini kelak memberi pengaruh pada sejarah pejuangan kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan Belanda yang ingin kembali menjajah setelah perang dunia kedua berakhir.
ANAK YANG LAHIR DALAM KANCAH PERANG ACEH
Pada tanggal 26 Maret 1873 Kerajaan Belanda memproklamasikan perang terhadap Kesultanan Aceh Darussalam, perang ini berkecamuk puluhan tahun, secara resmi Kesultanan Aceh tidak pernah tunduk kepada Belanda, sehingga pemerintah Hindia Belanda di Aceh sifatnya adalah “Pemerintahan Pendudukan”. Peperangan yang berlangsung mengakibatkan banyak pusat-pusat pendidikan di Aceh ditutup, para ulama memimpin dan ikut ambil bagian di medan perang, baik frontal mauun gerilya.
Operasi Pasukan Marsose di Mukim XXII (Perang Aceh 1873-1904) Salah satu perlawanan tergigih dan terlama terhadap kolonisasi Belanda di Indonesia
Salah satu pusat pendidikan yang terpaksa dihentikan adalah Dayah Lam U (Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar sekarang – Penulis). Pada saat itu dipimpin ulama besar yaitu Haji Umar bin Auf, dikenal sebagai Teungku Chik Lam U. Beliau terpaksa berpindah dari satu tempat ke tempat lain di medan perang. Ketika asap-asap mesiu mengepul di tanah Aceh dan pelor-pelor maut mengincar mangsa seorang perempun Bernama Hajjah Safiah melahirkan seorang anak di kampung Lam U, ayah dari anak tersebut yaitu Teungku Haji Umar sedang memanggul senapan peperangan, bayi tersebut diberi nama Ahmad Hasballah, lahir pada 3 Juni 1888.
Sebagaimana anak-anak Aceh yang dilahirkan pada zaman peperangan, ia dibesarkan dengan syair-syair dendang perang yang membentuk jiwa dan karakternya, sehingga ia menjadi seorang mujahid yang anti penjajah, baik Belanda maupun Jepang nantinya. Sebagaimana para ibu Aceh lainnya Safiah senantiasa membuaikan puteranya dengan syair-syair seumpama:
Doda idi doda idang,
Geulayang blang ka putoh talou,
Beurijang rayeuk po muda seudang,
Jang tuiong prang bantu nanggroe
Doda idi doda idang,
Boh mandang srot u bumou,
Beurijang rayeuk aneuk lon sayang,
U mideun prang tajak sambinou.
Terjemahan bebas:
Buai-buai, buialah sayang,
Layang-layang putus talinya,
Panjang Umur, lekaslah gedang,
Ke medan perang membela negara
Buai-buai, tidurlah intan,
Buah embancang gugur ke bumi,
Lekaslah besar belahan badan,
Medan perang telah menanti
Demikianlah syair-syair panggilan jihad yang menderu-deru membesarkan Ahmad Hasballah dari bayi menjadi kanak-kanak kemudian tumbuh remaja, yang kemudian mengikuti orang tuanya ke medan perang, menjadi seorang mukmin, hamba Allah, bukan hamba makhluk apapun.
LATAR BELAKANG KELUARGA ULAMA
Dayah Lam U adalah salah satu pusat pendidikan dalam Kesultanan Aceh Darussalam, ketika awal peperangan pecah antara Aceh dan Belanda, pimpinan adalah Teungku Umar bin Auf, yang melanjutkan kepemimpinan ayahnya Teungku Auf. Ahmad Hasballah adalag putra tertua dari Teungku Haji Umar bin Auf, beliau memiliki 3 saudara lain yaitu: Abdullah, Madhan, Abdulhamid, masing-masing menjadi ulama dan memiliki nama kunyah (julukan) sebagaimana berikut:
Teungku Haji Ahmad Hasballah Indapuri;
Teungku Haji Abdullah Lam U;
Teungku Madhan Yan;
Teungku Abdulhamid Aneuk Batee.
Dari usia kanak-kanak Ahmad Hasballah mempelajari ilmu dari orang tuanya, terutama al-qur’anul karim, beliau tertarik menjadi seorang qari, dan bakatnya terus dikembangkan sampai beliau berangkat ke Mekah. Beliau juga belajar ke dayah (pesantren) lain, dalam keadaan perang Aceh yang masih berlangsung antara lain:
Dayah Piyeung;
Dayah Samalanga;
Dayah Titue;
Dayah Lamjabat.
Kesungguhan belajar dari seorang Ahmad Hasballah membuat beliau menguasai bahasa Arab dengan sangat baik, dan mendalami ilmu-ilmu dengan cemerlang antara lain: Ilmu Nahu Syaraf (Tata Bahasa Arab), Ilmu Fiqih, Ilmu Tauhid, Ilmu Tassawuf, Tarikh Islam, Ilmu Tafsir dan Hadist.
BERANGKAT KE SEMENANJUNG MALAYA KEMUDIAN MEKAH
Ketika Sebagian besar tanah Aceh telah diduduki Belanda, dan pasukan Aceh harus berperang secara gerilya, maka sejumlah ulama di Aceh memilih hijrah ke Semenanjung Melayu, dahulu merupakan vasal dari Kesultanan Aceh Darussalam, dan memiliki hubungan batin dengan Aceh. Para pemimpin gerilya memberikan persetujuan dengan tujuan agar para ulama Aceh membangun pusat-pusat pendidikan Islam, terutama meningkatkan Pusat Pendidikan Islam Melayu yaitu Dayah Yan Kedah yang dahulu dibangun pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Beberapa ulama yang berangkat ke Semenanjung Malaya antara lain:
Teungku Muhammad Arsyad Ie Leubeu, yang kemudian terkenal dengan lakab Teungku Chik di Yan;
Teungku Muhammad Saleh, yang kemudian terkenal dengan lakab Teungku Chik di Lambhuk;
Teungku Haji Umar bin Auf , yang kemudian terkenal dengan lakab Teungku Chik di Lam U.
Ketiga ulama Aceh ini bermukim di Yan Kedah dan mengajar di Dayah Yan, merupakan pusat pendidikan Islam dalam Kerajaan Kedah. Dengan kedatangan tiga ulama Aceh tersebut, Dayah Yan Kedan semakin berkembang dan meningkat kualitasnya. Para pemuda Semenanjung Melayu, Patani, Aceh, dan Sumatera lain serta Jawi menuntut ilmu disana. Sedemikian banyaknya pemuda-pemuda Aceh bermukim di sana sehingga terbina sebuah Kampung Aceh, ketika Ali Hasjimy (Gubenur Aceh) datang kesana ditahun 1970-an sesudah Indonesia Merdeka, menurut kesaksian beliau di kampung tersebut seperti berada di tanah Aceh, karena budak-budak (anak-anak) yang bermain di bawah pokok manggis semua berbicara dalam bahasa Aceh, bahkan orang Tionghoa di pasar Yan, fasih berbahasa Aceh. (Pada Maret 2026, ketika tulisan ini ditulis, kemungkinan keadaan telah berubah. Penulis pernah berkunjung ke negeri Kedah pada tahun 2006, meski unsur-unsur Aceh sebagaimana diceritakan Ali Hasjimy tidak terlalu terlihat lagi, namun penulis masih merasakan bekas-bekas tinggalan orang Aceh disana. Masakan, bangunan, serta logat bicara terasa sangat akrab bagi penulis, tidak ada wilayah yang pernah penulis kunjungi menyerupai Aceh melebihi Kedah).
Pemuda Ahmad Hasballah dengan jiwa dan semangat juang yang telah ditempa di medan perang gerilya, ikut hijrah bersama ayahnya, Teungku haji Umar bin Auf ke Semenanjung Melayu dan menyambung pendidikan di Dayah Yan. Di antara para pemuda Aceh seangkatan dengan Ahmad Hasballah terdapat dua pemuda terkemuka lain yang kelak menonjol dalam sejarah Aceh yaitu Hasan Krueng Kale dan Muhammad Saman. Ketiganya kemudian melanjutkan pelajaran ke Mekah, dan menjadi ulama besar ketika kembali ke Aceh masing-masing dengan lakab: Teungku Haji Hasan Krueng Kale, Teungku Syekh Muhammad Saman, dan Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri.
SEJARAH DAYAH INDRAPURI
Masjid Indrapuri adalah salah satu masjid sebagai pusat ibadah dan pendidikan/kebudayaan yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda (1016-1045 H atau 1607-1636 M). Masjid ini didirikan di atas pondasi bekas candi Hindu/Budha. Masjid Indrapuri menjadi pusat kegiatan umat.
Sketsa Wajah Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam
Indrapuri dahulunya masuk dalam Kawasan pusat Kerajaan Hindu/Budha, setelah zaman Islam terutama pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda berubah menjadi pusat pendidikan Islam, salah satu yang terpenting dalam Kerajaan Aceh, sejak itu menghasilkan ulama-ulama dan tenaga ahli bagi Kesultanan Aceh dan wilayah-wilayah taklukannya yang luas.
Masjid Indrapuri Aceh Besar tempat di mana para Sultan Aceh dulunya dilantik.
Peristiwa besar terakhir yang terjadi di masjid Indrapuri adalah pelantikan/penobatan Sultan Aceh Alaiddin Muhammad Daud Syah pada tahun 1290 H (1874 M) ketika beliau masih di bawah umur, sehingga untuk memimpin negara ditunjuk mangkubumi, Tuanku Hasyim Banta Muda sehubungan pada saat itu negara dalam keadaan perang. Dalam sejarah, masjid Indrapuri pernah menjadi pusat Kerajaan Aceh selama beberapa bulan, setelah daerah Indrapuri diduduki Belanda, ibu kota Kerajaan Aceh dipindahkan ke Keumala (Pidie). Wilayah Keumala yang menjadi kedudukan Sultan kemudian dikenal dengan nama “Keumala Dalam” artinya istana Sultan.
Setelah tahun 1903 M, tantara Hindia Belanda telah menangkap pemimpin-pemimpin Kerajaan Aceh seperti Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, Tuanku Raja Keumala dan Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, namun peperangan masih berlanjut di bawah pimpinan para ulama Tiro. Kondisi genting ini membuat Tuanku Mahmudm Tuanku Raja Keumala dan Panglima Polem pada 18 Rajab 1327 H (4 Agustus 1909 M) mengirimkan surat kepada pimpinan perang gerilya yaitu Habib Abdurrahman Teupin Wan, Teungku Hasyim, Teungku Ulee Tutu. Tengku Ibrahim, Teungku Mahyiddin Tiro, dan Teungku Bukit Tiro (dua terakhir adalah putra almarhum Teungku Chik Di Tiro) yang isinya menganjurkan agar dipikirkan Pembangunan kembali pendidikan yang telah kocar-kacir akibat perang. Secara diam-diam mereka mengadakan musyawarah yang menghasilkan Keputusan antara lain:
Sejumlah ulama dan pemimpin gerilya tetap melanjutkan perang dibawah pimpinan Teungku Mahyiddin dan Teungku Bukit.
Sejumlah ulama lain dibolehkan melaporkan diri (menyerah) kepada pemerintah Hindia Belanda, dengan maksud membangun kembali Lembaga pendidikan (dayah) sebagai langkah pertama yang mendasar untuk perjuangan politik agar kelak memperoleh kemerdekaan yaitu pendidikan.
Atas dasar kesepakatan ini, maka sejumlah ulama meletakkan senjata dan meninggalkan medan perang gerilya dan melapor kepada pemerintah Hindia Belanda. Atas anjuran dan bantuan Tuanku Raja Keumala dan Panglima Polem pada tahun 1912 Tengku Haji Ismail (kelak terkenal dengan lakab Teungku Chik Eumpee Trieng) menghidupkan kembali Dayah Indrapuri yang telah puluhan tahun terhenti kegiatannya. Dalam membangun kembali Dayah Indrapuri Teungku Chik Eumpee Trieng dibantu sejumlah ulama lain, diantaranya:
Teungku Hasballah Lam Lubuk Indrapuri;
Teungku Hasyim Indrapuri;
Teungku Haji Ahmad Linteung;
Teungku Haji Aburrasyid Palembang (anak angkat Teungku Chik Eumpee Trieng yang berasal dari Sumatera Selatan);
Teungku Ishak Seuot;
Teuku Raja Lam Ilie;
Teungku Polem Bueng Tujoh Montasik;
Teungku Muhammad Amin Limou;
Waki Saman Lam Lubuk;
Waki Yusuf Seuot.
Setelah berjalan 10 tahun, Dayah Indrapuri belum mencapai kemajuan yang diharapkan, sangat sulit mencapai martabat sebagaimana zaman Kesultanan Aceh Darussalam. Hal ini diakibatkan peperangan masih Meletus. Teungku Chik Eumpee Trieng sendiri juga memiliki tugas membangun dayah-dayah lain di Aceh. Maka pada tahun 1922, diadakan kembali musyawarah penting untuk menilai hasil-hasil yang telah dicapai dan memikirkan usaha-usaha unuk peningkatan berkelanjutan. Dalam musyawarah ini hadir sejumlah bangsawan terkemuka dan sejumlah ulama terbaik saat itu antara lain:
Tuanku Raja Keumala;
Teuku Panglima Polem Muhammad Daud;
Teungku Haji Ismail (Teungku Chik Eumpee Trieng);
Teungku Haji Abdullah Lam U.
Dalam musyawarah tersebut antara lain memutuskan bahwa perlu dicari seorang ulama lain untuk memimpin Dayah Indrapuri. Setelah mendapatkan keterangan dari Teungku Haji Hasan Krueng Kale tentang seorang temannya yaitu Teungku Haji Ahmad Hasballah, yang bersama belajar di Kedah dan Mekah, maka ditetapkanlah bahwa untuk memimpin Dayah Indrapuri perlu menjemput ulama muda yang baru saja pulang dari Mekah (Teungku Ahmad Hasballah) yang waktu itu bermukim di Yan Kedah Semenanjung Tanah Melayu. Demikianlah dikirimkan utusan ke Yan Kedah dengan membawa pesan Tuanku Raja Keumala, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, Teungku Haji Ismail dan Teungku Haji Abdullah Lam U untuk menjemput Teungku Haji Ahmad Habsballah.
Utusan Aceh tersebut mencapai hasil yang diharapkan, Teungku Haji Ahmad Hasballah bersedia pulang ke Aceh untuk memimpin Dayah Indrapuri, akhirnya beliau kembali ke Aceh setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Dengan demikian, Dayah Indrapuri mendapat tenaga pimpinan baru, yang ketika belajar di Mekah melihat kemajuan dan semangat Gerakan Wahabi, sehingga memberikan pengaruh kepada pemikiran beliau.
DAYAH INDRAPURI PEMBINA PENDIDIKAN ISLAM MODERN DI ACEH
Di bawah pimpinan Teungku Haji Ahmad Hasballah, Dayah Indrapuri mengalami peningkatan dan kemajuan yang pesat, murid-murid datang dari seluruh tanah Aceh. Langkah pertama yang diambil dalam usahanya untuk memperbaharui pendidikan Islam di Dayah Indrapuri yaitu meningkatkan Pendidikan Iman dan Pendidikan Ibadah. Sesuai dengan pengajaran yang beliau dapatkan di Mekah, Iman dan Ibadah adalah syarat mutlak bagi umat Islam jika ingin bangkit dan maju secara tehormat kembali sebagaimana di masa lalu.
Beliau mendirikan Madrasah Hasbiyah dalam lingkungan Dayah Indrapuri yang terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, sesuai kurikulum madrasah Islam di Hindia Belanda saat itu, penambahannya adalah Madrasah Habisyah ini menekankan pada pendidikan iman dan pendidikan ibadah. Selain itu beliau juga mendirikan Al Madrasah Lil Ummahat Tanjung Karang Lhue yang khusus untuk Perempuan, yang menjadi bagian dari Dayah Indrapuri.
Pada era 1930-an, di Aceh Besar ada tiga tempat yang menjadi pusat pergerakan dan tempat mendetak kader-kader pergerakan dan ulama perjuangan, masing-masing memiliki ciri khas yaitu:
Madrasah Jadam di Montasik, pelaksanaan kurikulum dititikberatkan pada pendidikan politik dan wiraswasta;
Perguruan Islam Seulimeum, pelaksanaan kurikulum dititikberatkan pada pendidikan sejarah dan politik;
Madrasah Hasbisyah Indrapuri, pelaksanaan kurikulum dititikberatkan pada pendidikan iman dan ibadah.
Ketiga madrasah tersebut, juga memiliki persamaan yaitu mengajar ilmu keislaman dan ilmu umum antara lain: Tauhid, fiqih, tassawuf, tafsir, Tarikh/sejarah, ilmu bumi, ilmu pasti/alam, falak, bahasa Arab, bahasa Inggris dan sebagainya. Dalam mengelola Madrsah Hasbisyah, Teungku Haji Ahmad dibantu Teuku Ahmad Haji (murid sekaligus menantu) ditambah sejumlah tenaga yang terdiri dari ulama-ulama dan pendidik muda. Selain itu Dayah Indrapuri/Madrasah Hasbisyah juga menjadi pusat pergerakan kader pejuang kemerdekaan, disana bermarkas PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), Pemuda PUSA, Kepanduan Islam, PERAMIINDO (Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia), Perhimpunan Kemerdekaan Akhirat (Jamiah Al Ataqiyah Al Ukhrawiyah) dan Serikat Islam.
Kongres PERAMIINDO Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia tahun 1940 di Indrapuri. (Repro)
Dayah Indrapuri kelak akan menghasilkan ulama-ulama, kaum pendidik dan pemimpin pergerakan, diantaranya:
Teuku Ahmad Haji (murid sekaligus menantu). Pembantu utama Teungku Ahmad Hasballah;
Teungku Haji Muda Wali, kemudian menjadi pemimpin Madrasah Islamiyah di Labuhan Haji, Aceh Selatan;
Tuanku Abdul Aziz, seorang bangsawan sekaligus ulama, yang menjadi ketua MAIBKATRA (Majelis Islam Asia Timur Raya);
Teungku Abdullah Husin, salah satu tokoh Partai Serikat Islam di Aceh.
Teungku Muhammad Sufi Glee Karong, anak dari Teungku Haji Ismail (Teungku Chik Eumpee Trien), ulama yang sangat kuat dalam pendirian akidah.
Dayah Indrapuri juga berfungsi sebagai pusat pengembangan tilawatil quran telah berjasa mencetak banyak qurra yang ahli membaca Al-quran, kemudian menjadi imam-iman shalat dan guru di seluruh Aceh.
PERAN TEUNGKU HAJI AHMAD HASBALLAH INDRAPURI DALAM PERGERAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA
Pada tahun 1922, setbanya di tanah Aceh, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri selain memimpin dayah juga masuk ke dalam pergerakan politik dengan menjadi anggota Serikat Islam yang telah berkembang di Aceh, para pembantu dan murid-murid juga menjadi anggota sehingga Dayah Indrapuri merupakan tempat di mana Serikat Islam sangat aktif bergerak.
Setelah tahun 1926, Serikat Islam dilarang diseluruh Aceh oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, maka Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri mendirikan satu pergerakan politik dengan nama Perhimpunan Kemerdekaan Akhirat (Jamiah Al Ataqiyah Al Ukhrawiyah). Beliau selaku ketua umum, perhimpunan ini dengan cepat berkambang dan mengantikan Serikat Islam yang telah dilarang, tujuannya adalah membina kesadaran politik bagi para pemuda dengan lebih dahulu membangun kesadaran iman dan ibadah.
Daud Beureueh bersama ulama-ulama Aceh dalam PUSA
Pada 5 Mei 1939 PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) didirikan, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri menjadi ketua Majelis Syura. Selain itu beliau menjadi penasehat berbagai organisasi pemuda, seperti Pemuda PUSA, SEPIA (Serikat Pemuda Islam Aceh), K.I (Kepanduan Islam), PERAMIINDO (Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia). Setelah Indonesia Merdeka, beliau menjadi salah satu pimpinan Partai Masyumi di Aceh. Dibidang pemerintahan beliau juga pernah menjabat antara lain:
Kadli pada Teuku Panglima Polem Muhammad Daud kepala Mukim XXII pada zaman Belanda;
Saibantyo Ku-Hoin (Ketua Pengadilan) di zaman pendudukan Jepang;
Anggota Pengadilan Tentara Divisi X di zaman awal Republik Indonesia;
Ketua bagian kehakiman pada Dewan Agama Keresidenan Aceh;
Ketua Mahkamah Syariah Keresidenan Aceh;
Anggota Mahkamah Islam Tinggi;
Ketua Majelis Ifta (Fatwa) pada Jawatan Agama Keresidenan Aceh.
GERAKAN BAWAH TANAH DAN LATAR BELAKANG PERANG ASIA TIMUR
Dengan latar belakang Perang Asia Timur Raya (Perang Pasifik) pecah pada 7-8 Desember 1941, ditandai dengan serangan mendadak Jepang ke Pearl Harbor. Konflik ini merupakan bagian dari Perang Dunia II. Para pemimpin PUSA membahas segala kemungkinan yang akan terjadi, dan ditarik kesimpulan bahwa Jepang akan segera merebut Aceh dari Belanda, sehingga timbul wacana untuk bekerja sama dengan Jepang. Sekalipun diyakini Jepang adalah penjajah yang haus kekuasaan diperkirakan bahwa mereka tidak akan mampu bertahan lama karena akan berhadapan dengan sekutu. Maka diambil sebuah sikap jika nanti Jepang nantinya terusir dan kalah, maka sikap pemimpin PUSA hanya satu, yaitu melawan Belanda yang mungkin datang lagi.
Untuk melaksanakan hal tersebut dalam kalangan Pemuda Pusa didirikan sebuah “Gerakan Bawah Tanah” yang diberi nama “GERAKAN FAJAR” dengan singkatan “Gerakan F”. dipimpin olej dua orang tokoh Pemuda PUSA yaitu Ali Hasjmy dan Ahmad Abdullah, keduanya adalah guru pada Perguruan Islam Seulimeum, dan diawasi oleh dua ulama besar yang menjadi pimpinan pengurus besar PUSA yaitu Teungku Haji Abdul Wahab Seulimeum (Pemimpin Perguruan Islam) dan Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri (Pimpinan Madrasah Hasbiyah).
Gerakan F mulai melaksanakan programnya dengan cepat dan hati-hati, usaha-usaha sabotase dan bentuk perlawanan dilakukan, terutama di wilayah Aceh Besar, mulai dilakukan pada akhir tahun 1941 antara lain menganggu bivak Belanda di Indrapur, kawat-kawat telpon pun dipotong, hal ini mulai membuat kekuasaan Belanda di Aceh menjadi gelisah. Gerakan F juga mengadakan hubungan dengan militer Jepang di Malaya dan Singapura. Said Abubakar, salah seorang pimpinan pemuda PUSA yang sedang berada di Yan Kedah diminta untuk mengadakan kontak dengan pimpinan tantara Jepang, selain itu Teungku Abdul Hamid Samalanga juga dikirim ke Malaya.
Said Abubakar kemudian kembali ke Aceh dengan membawa tugas dari Mayor Fujiwara, sehingga gerakannya dinamakan “Fujiwara Kikan” atau Gerakan Fujiwara jika dipendekkan menjadi Gerakan F sama dengan Gerakan Fajar. Misi Abubakar dengan Gerakan Fujiwara disampaikan kepada pucuk pimpinan PUSA dan ditemani oleh Ahmad Abdullah dari Gerakan fajar, disampaikan juga kepada Teuku Nyak Arief (seorang uleebalang yang nasionalis). Dengan usaha bersama-sama dan didukung rakyat Gerakan F merata ke seluruh Aceh, dan perlawanan terhadap kekuasaan bermunculan dimana-mana. Pada awal tahun 1942, bentuk perlawanan telah meluas dari Aceh Besar sampai ke Pidie juga Aceh Barat dan Aceh Selatan.
Tanggal 19-20 Februari 1942 terjadi penyerbuan ke kota Seulimeum, sehingga Controleur (Kontrolir atau Kepala Pemerintahan Belanda pada satu Kawasan) J.C. Tiggelman terbunuh, Dilanjutkan 23-24 Februari terjadi pertempuran di Keumire (sekitar 15 km dari arah Seulimeum ke Banda Aceh), dalam insiden tersebut Kepala Eksploitasi Kereta Api Aceh, Bernstorf Von Sperling dan Graaf U, seorang penguasa Belanda terbunuh. Keadaan di Aceh Besar semakin parag, sehingga pemerintah kolonial Hindia Belanda terpaksa menjadikan wilayah Seulimeum dibawah pimpinan militer, ditunjuk Majoor W.F. Palmer van den Broek seorang Commandant pan het korp Marchaussee mejadi kepala pemerintahan sipil/militer wilayah Seulimeum. Cerita singkat, Maret 1942 Jepang memasuki Aceh dan tak lama kemudian kekuasaan Belanda di Aceh runtuh untuk selamanya.
FATWA PERANG SABIL DARI TEUNGKU HAJI AHMAD HASBALLAH INDRAPURI
Selama masa pendudukan militer Jepang di Aceh Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri menerima untuk diangkat menjadi Saibantyo Ku-Hoin (Ketua Pengadilan), hal ini memberikan jalan untuk membela rakyat tertindas, selain itu juga untuk mengukuhkan akidah dan ibadah umat Islam dalam menghadapi upaya-upaya Jepang untuk melunturkannya. Disamping itu belian memberikan dukungan kuat kepada Pemuda PUSA yang bermarkas di Aceh Sinbun, menjelang kekuasaan Jepang berakhir beliau melakukaan telaah bahwa adanya kemungkinan Belanda akan datang lagi ke Aceh. Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri mendukung dan berusaha agar mencapai Indonesia Merdeka.
Ketika Proklamasi kemerdekan Indonesia sampai kabarnya ke Aceh. Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri bersama tiga ulama besar lain di Aceh mengeluarkan sebuah fatwa yang menyatakan kewajiban berjihad untuk mempertahankan kemerdekaan dan jika tewas maka berlaku hukum mati syahid, pernyataan selengkapnya berbunyi:
“Perang Dunia kedua yang mahadasyat telah tamat. Sekarag di barat dan di timur oleh empat Kerajaan besar sedang diatur perdamaian dunia yang abadi untuk keselamatan makhluk Allah. Dan Indonesia tanah tumpah darah kita telah dimaklumkan kemerdekaannya kepada seluruh dunia serta telah berdiri Republik Indonesia di bawah pimpinan yang mulia mahapemimpin kita Ir. Sukarno.
Belanda adalah satu Kerajaan kecil serta miskin satu negeri yang lebih kecil dari daerah Aceh dan hancur lebur, mereka telah bertindak melakukan kekhiatanannya kepada tanah air kita Indonesia yang sudah Merdeka itu, untuk dijajah kembali.
Kalau maksud yang jahanam itu berhasil, maka pastilah mereka akan memeras segala lapisan rakyat, merampas semua harta benda negara dan harta rakyat dan segala kekayaan yang kita kumpulkan selama ini akan musnah sama sekali. Mereka akan memperbudak rakyat Indonesia menjadi hambanya kembali dan menjalankan usaha untuk mengapus agama Islam kita yang suci serta menindas dan menghambat kemulian dan kemakmuran bangsa Indonesia.
Di Jawa Barat Belanda dan kaki-tangannya telah melakukan keganasannya terhadap Republik Indonesia hingga terjadi pertempurn di beberapa tempat yang akhirnya kemenangan berada di pihak kita, Sungguhpun begitu, mereka belum juga insaf.
Segenap lapisan rakyat telah bersatu padu dengan patuh di belakang mahapemimpin Ir. Sukarno untuk menunggu perintah dan kewajiban yang akan dijalankan.
Menurut keyakinan kami bahwa peperangan ini adalah perjuangan suci yang disebut perang sabil.
Maka percayalah wahai bangsa kami, bahwa perjuangan ini adalah sambungan perjuangan dahulu di Aceh yang dipimpin Teungku Chik di Tiro dan pahlawan-pahlawan kebanggan yang lain.
Dari sebab itu, bangunlah wahai bangsa kami sekalian, bersatu padu Menyusun bahu mengangkat langkah maju ke muka untuk mengikut jejak perjuangan nenek kita dahulu. Tunduklah dengan patuh akan segala perintah-perintah pemimpin kita untuk keselamatan tanah air, agama dan bangsa.”
Kutaraja, 15 Oktober 1945,
Atas nama Ulama Seluruh Aceh
Teungku Haji Jakfar Siddik Lamjabat
Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri
Teungku Haji Hasan Kruengkale
Teungku Muhammad Daud Beureueh
Pernyataan empat ulama besar ini sangat besar pengaruhnya dalam menggerakan semangat rakyat Aceh untuk berperang melawan Belanda dan kaki-tangannya. Hal ini mengakibatkan kekuatan militer Hindia Belanda tidak berani kembali ke Aceh dalam dua agresinya yang terkutuk tersebut.
TEUNGKU HAJI AHMAD HASBALLAH INDRAPURI ANTI KOMUNIS
Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri terkenal sangat anti komunis, dan selalu berjuang melawan atheism. Beliau berkeyakinan bahwa dengan kemurnian akidah dan ibadah maka umat Islam akan menang melawan musuh-musuhnya. Beliau sangat gusar melihat kenyataan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) sangat leluasa menggunakan pengaruhnya terutama setelah penyerahan kedaulatan pada Konfrensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949. Hati beliau masygul melihat pemerintah memberikan kemudahan dan kesempatan PKI bergerak, sementara golongan-golongan bukan komunis semakin terdesak.
Kenyataan ini berkali-kali dibicarakan dalam rapat pucuk pimpinan PUSA, dimana beliau berpendapat agar PUSA menahan laju komunis. Bahkan pada kongres PUSA terakhir pada tahun 1950 hal ini juga dibicarakan.
Tindakan pemerintah pusat untuk membubarkan Provinsi Aceh dan menggabungkan wilayah Aceh kedalam provinsi Sumatera Utara membuat pada bulan September 1953 memberontak kepada pemerintah Republik Indonesia. Provokasi dan hasutan kaum komunis membuat pemberontakan rakyat Aceh di bawah panji DI/TII (Darul Islam /Tentara Islam Indonesia) akhirnya pecah, Teungku Muhammad Daud Beureueh, ketua pengurus besar PUSA memimpin pemberontakan, dibantu beberapa ulama lain. Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri termasuk yang mendukung dan diangkat menjadi Ketua Majelis Syura.
Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri sebagaimana ulama Aceh yang lain dari semula tidak anti Pancasila, dan berpendapat tdak bertentangan dengan Islam. Tapi merasa gerah setelah kaum komunis mengacaukan Pancasila memeras menjadi Trisila dan akhirnya Ekasila yaitu gotong royong. Beliau dan ulama-ulama Aceh yang lain berpendapat jika hanya menjadi gotong royong maka hilanglah Ketuhanan yang Maha Esa, kemanusian yang beradab, persatuan Indonesia, musyawarah dan keadilan sosial.
Pemerintah melalui Panglima Kodam I Iskandar Muda Syamaun Gaharu dan Gubernur Aceh Ali Hasjmy kemudian berhasil meyakinkan ulama-ulama Aceh bahwa kaum komunis tidak akan mampu menghapuskan Ketuhanan yang Maha Esa dari bumi Indonesia, barulah mereka bersedia kembali ke pangkuan Republik Indonesia, dengan demikian Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri turun dari medan gerilya.
Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri berkeinginan untuk hijrah untuk kedua kalinya ke Semenanjung Melayu, karena di kampung Yan Kedah disanalah ayahnya berkubur. Dengan persetujuan Panglima Kodam I Iskandar Muda dan Gubernur Aceh pada akhir tahun 1958 beliau berangkat kesana. Takdir Allah, 29 April 1959 Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri meninggal dunia, beliau meninggalkan seorang istri dan sebelas orang anak, dikebumikan di kampung Yan Kedah, dekat makam ayahnya Teungku Haji Umar,
Demikianlah Riwayat hidup Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri (3 Juni 1888 – 29 April 1959) tulisan ini saduran dari tulisan Ali Hasjmy dengan judul: Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri Ulama Ahlussunah Penganjur Aliran Wahabi Pendiri Perhimpunan Kemerdekaan Akhirat. Pada Majalah Sinar Darussalam (ISSN 0125-9601) No. 108/109 Mei/Juni 1980 halaman 224-241.
Jika kamu terlalu lama menatap jurang maka jurang juga akan lama menatapmu. Puncak gunung Mata Ie Aceh Besar 22 Februari 2026 pukul 18.02 WIB.
YANG DIKALAHKAN OLEH NAFSU
Jika seseorang tak mampu mengendalikan hawa nafsunya, maka ia tak layak diikuti.
XXX
Awal Ramadhan ini (tahun 2026), selepas shalat taraweh, di sebuah warung kopi Abu bertemu dengan seorang cucu cendikiawan ternama di Aceh, kakek beliau telah berpulang ke rahmatullah pada tahun 1999, dan meninggalkan sebuah museum dan banyak kitab-kitab kuno kepada keturunannya. Awalnya, Abu terlebih dahulu melihat beliau, menyalami dan sekedar berbasa-basi.
Sekitar tahun 2020 Abu mengetahui di museum tersebut terdapat kitab Bustanussalatin (Taman Para Sultan karangan Syekh Hamzah Fansuri) dan meminta izin melihat, pada saat itu beliau dengan halus menolak, sehubungan dengan kitab kuno tersebut telah rapuh. Disertai alasan bahwa di tahun 2005 ada beberapa peneliti dari Jepang pernah melihat kitab-kitab yang ada pada museum, oleh beliau diizinkan, mereka pun mengambil foto terhadap beberapa manuskrip langka yang ada di museum tersebut. Situasi di Aceh saat itu masih sangat kacau, bencana tsunami baru saja terjadi. Belakangan sekitar tahun 2007, diketahui bahwa foto-foto terhadap manuskrip itu telah beredar di internet tanpa sepengetahuan pewaris sah dokumen tersebut, merasa dikhianati dan dikecewakan, menyebabkan sejak hari itu akses ke manuskrip-manuskrip langka milik kakek beliau ditutup. Waktu itu, Ketika mendengar penjelasan beliau, Abu memahami dan memilih tidak meneliti lagi kitab tersebut. Hari-hari kemudian berjalan sebagaimana biasanya, akhir tahun 2020 Abu dimutasi ke Langsa dan awal 2024 kembali ke Banda Aceh.
Malam itu dalam perbincangan yang singkat, sebelum Abu pindah ke meja kopi teman-teman sendiri beliau menyampaikan kekecewaannya terhadap berkembangnya narasi yang salah tentang sejarah (terutama Aceh) diberbagai media sosial, beberapa malah berupa konten artificial intelligence yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Beliau bahkan merasa kewalahan menjawab beberapa pertanyaan sejarah yang merendahkan logika, dan berharap Abu untuk membantu menjelaskan kepada orang-orang tentang kesalahpahaman sejarah mengingat Abu beberapa kali menuliskan konten sejarah, dan menurut beliau Abu memliki kompetensi.
Abu terdiam, belakangan ini sebenarnya sedang mempertimbangkan untuk tidak memperpanjang domain tengkuputeh.com (sekitar 126.72 usd pertahun), walaupun blog ini awalnya dimulai tahun 2008 (postingan pertama 15 Februari 2008) namun masih menggunakan domain gratisan yaitu tengkuputeh.wordpress.com baru di tahun 2017 menjadi tengkuputeh.com (berbayar), tahun demi tahun berjalan dan volume tulisan Abu semakin menurun dari waktu ke waktu.
Abu kemudian menjawab kepada beliau, untuk saat ini Abu merasa kelelahan dengan pekerjaan utama, serta fokus lain yang hendak dicapai. Dari mata beliau tersorot kekecewaan, tapi bagaimana pun Abu tidak mungkin memenuhi ekspektasi semua orang, kemudian Abu pamit pindah meja kopi.
Ramadhan tahun ini Abu mencoba membiasakan diri jogging ke gunung dekat rumah menjelang berbuka, hal ini dilakukan karena pada tahun 2026 ini berat badan mencapai All Time High (ATH) yaitu 91 kilogram, dengan tinggi badan yang hanya 164 centimeter tentunya hal ini sangat tidak ideal, alias obesitas. Abu berpikir jika Ramadhan tidak berubah maka tidak akan ada lagi momentum perubahan, ke depan Abu akan semakin membengkak jika tidak berusaha melakukan upaya olahraga.
Dalam lari-lari pelan mendekati jalan Abu memakai headset saat mendaki gunung, mendengarkan banyak podcast-podcast seraya berolah raga. Betapa dunia telah berubah sangat banyak, sebegitu hebatnya generasi-generasi baru di dunia multimedia seperti Ferry Irwandi dkk (Malaka Project), Raymond Chin dkk (Podcast Escape) dan lain-lain. Bahkan di Escape, Abu mendengarkan Felix Siaw menjadi sosok yang berbeda Ketika Abu pertama sekali membaca dan mengenali beliau sekitar tahun 2006, secara ideologi semakin kukuh dan dalam penyampaian semakin lembut.
Dunia tak lagi sama ketika blog ini awalnya berdiri di tahun 2008. Sangat dinamis, dan semakin banyak orang hebat bermunculan. Dahulu bacaan blog adalah alternatif informasi berkualitas, hari ini audio visual pun bisa berkualitas. Dahulu corong dunia visual adalah televisi yang mendominasi. Pilihan audio visual lain tidak terlalu banyak, dan kuota terlalu mahal dan lambat, juara tahun-tahun (rentang 2000-2010) tersebut adalah Telkomnet Instan dengan kecepatan maksimal 56 Kbps (Kilobits persecond), bayangkan di tahun 2026 Telkomset Speedy paket standar minimalnya adalah 50 Mbps (Megabits persecond), dengan index kenaikan 892.86 kali lipat (setara kenaikan 89.185,7%).
Luar biasa, ada banyak pilihan berkualitas, media dan teknologi lebih baik. Sebuah tayangan bermutu bisa didengar sembari olahraga seperti yang Abu lakukan. Membaca membutuhkan waktu khusus, omset buku berguguran dan sehingga menjadi wajar pembaca dan traffic blog tengkuputeh.com semakin hari semakin kecil, ditambah lagi Abu jarang menulis, karena malas, tua, lelah dan mulai rabun.
Di puncak gunung sayup-sayup Abu mendengar ustad Felix Siaw memberikan pesan di podcast escape. Kira-kira begini, Umar bin Khattab tidak menyukai orang yang gemuk, karena masalah bagi seseorang biasanya di awali di perut, maka bagaimana bisa mengikuti orang yang gemuk, bahkan dia sendiri telah dikalahkan oleh hawa nafsunya untuk terus makan. Abu tertampar sekaligus tertawa, Abu berdoa semoga kata-kata ini memecut untuk lebih bersemangat lagi berolahraga, semoga Abu bisa konsisten. Amin.
Jika dipikir-pikir, dibandingkan segara kelebihan di tahun 2026 ini dibandingkan tahun 2008 (ketika blog ini pertama kali muncul), Abu merasakan di tahun 2008 lebih optimis, dunia lebih baik, dan para pemimpin dunia agak lebih sopan. Tahun 2026 ini, politikus seperti tidak tahu malu, berkata seenaknya dan tidak ada yang berani mengkoreksi, kecil sekali kelompok sosial yang berani menyampaikan kritik terhadap mereka. Donald Trump (Saat ini Presiden Amerika Serikat) misalnya; pagi, siang dan malam semua akan beda isinya, yang sama adalah kepongahannya. Bandingkan dengan Barrack Obama (Presiden Amerika tahun 2008), ucapannya, tindakannya, pola komunikasinya jelas kelasnya berbeda. Situasi dunia internasional dan nasional mirip-mirip, ekstrem kanan sedang menemukan momentumnya.
Abu mencintai sejarah, dan mengingat-ingat menjelang keruntuhan Khalifah Abbasiyah, zaman keemasan Islam. Pola yang sama, Waktu itu, ulama besar Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali) ditahan dan disiksa karena menolak Al-Quran adalah makhluk.
Suara intektual (bisa) dibungkam dengan cara tak diberikan dana penelitian, namun justru pada saat yang sama bergema di Lorong-lorong, sudut-sudut kota Baghdad muncul potongan satire berupa syair komedi dari Abu Nawas, menghentak memberi ruang kritik kepada penguasa, meski minim sekali pengaruhnya. Jika semua elemen (lain) telah dibungkam dan yang tertinggal adalah pelawak, sepertinya akhir sudah dekat. ketika kualitas pemikir tinggal sang badut maka lonceng kematian peradaban sudah berbunyi, dan pada akhirnya kita hanya bisa menangisi kehancurannya.
Akh, seperti biasa Abu terlalu sentimentil, mungkin terlalu sering gagal! Terlepas dari segala kekalahan dan kegagalan yang Abu terima dalam hidup ini, hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada blog tengkuputeh.com ke-18 (delapan belas tahun) sebuah waktu yang lumayan Panjang, harapan minimal dari Abu adalah semoga bisa bertambah kuantitas dan kualitas tulisan didalamnya, dan mampu bertahan setidaknya sampai ulang tahun ke-20, tokh pada akhirnya kita semua hilang ditelan sejarah.
“Adakalanya, masa lalu memanggil, bukan karena ia membawa kabar baru serta bermakna, melainkan karena sanubari merindukan sesuatu rasa yang pernah ada. Masa lalu bukan untuk memenjarakan Langkah, ia berakhir karena adanya alasan. Maka sematkanlah dalam ingatan, babak baru bermula (juga) karena adanya alasan. Segala hikmah yang pernah ada, seharusnya menempa (kita/manusia) untuk menjadi lebih dewasa.”
XXX
10 Cerita Petualangan Si Abu terakhir sebelum yang ini:
Ada kematian ada kelahiran, maka hidup adalah sikap sedia (untuk) kehilangan.
MEMENTO MORI
“Atas nama makhluk, segala sesuatu yang bermula pasti (akan) berakhir.”
Memento Mori berasal dari bahasa latin, ironisnya adalah bahasa yang telah tidak digunakan lagi dalam percakapan (mati). Ingatlah kematian, ingatlah kita akan merasakan kematian. Kapan? Sulit untuk dapat tahu, tapi pasti akan terjadi. Ada banyak cara kematian datang, indah ketika ia datang dalam damai, dikelilingi oleh mereka yang dicintai.
Bayangkan ketika membaca tulisan ini, atau sedang menarik nafas (saat ini), ada seorang di sudut lain di bumi yang sama sedang merenggang nyawa, lebih menyakitkan lagi jika seseorang itu adalah seseorang yang kita kenal, atau bahkan sangat kita sayang. Puncak perasaan yang menyesakkan adalah ketika dia masih sangat muda, ceria dan tak menampakkan tanda-tanda akan pergi. Bagaimana pun kematian (maut) bukan untuk dirayakan kesedihannya, tapi untuk menjadi pelajaran bagi mereka yang masih hidup.
Sejak zaman dahulu (hampir) semua manusia mengharapkan keabadian, di Mesir mereka berharap yang telah mati dapat hidup kembali dan dibuatkan mumi. Mula-mula mayat dikubur dalam pasir dan dikeringkan. Dari lubang hidung dan lubang dubur organ dalam dan otak diambil dengan pinset, setelah itu tubuh dilumuri racikan tumbuh-tumbuhan, setelah enam puluh hari berlalu mayat dimandikan, dilumuri minyak dan perlahan dibalut kain linen. Tak seorang pun dari mereka yang berhasil mendapatkan keabadian. Laki-laki maupun perempuan, baik kaya maupun miskin pasti mati, tua maupun muda.
Hidup memang misterius, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kebaikan dan kejahatan (akan) mendapatkan ganjaran masing-masing. Karena ada kematian, ada kelahiran, menjalani hidup adalah sikap sedia untuk kehilangan an sich bersedih. Berbuat baiklah kepada siapapun yang kamu pernah temui, karena bisa jadi pertemuan itu adalah yang terakhir.
Ketika dia tiada, maka semua akan terasa menyesakkan ketika tidak ada lagi yang seperti dia.
Selamatkan hutan Aceh, sebab hutan itu adalah salah satu pusaka peninggalan leluhur yang akan menjadi warisan anak cucu kita di masa depan.
AMANAH WALI: SELAMATKAN HUTAN ACEH
Dari Stockholm, Swedia, 15 Juni 2009, kira-kira setahun sebelum berpulang ke rahmatullah (2 Juni 2010). Wali Nanggroe Aceh ke-8, sekaligus pendiri Gerakan Aceh Merdeka yang telah menandatangani perjanjian damai dengan Pemerintah Indonesia di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005, Tengku Hasan Muhammad Di Tiro, menuliskan sebuah wasiat kepada seluruh anak bangsa Aceh:
Amanah Wali keu bansa Atjeh!
“Peuseulamat uteuen Atjeh, sabab uteuen njan nakeueh salah saboh pusaka keuneubah indatu nyan akan tapulang keu aneuk tjutjo geutanjoe di masa ukue.”
Artinya:
Amanah Wali kepada seluruh bangsa Aceh!
“Selamatkan hutan Aceh, sebab hutan itu adalah salah satu pusaka peninggalan leluhur yang akan menjadi warisan anak cucu kita di masa depan.”
XXX
Catatan Penulis:
Bencana banjir bandang yang berlangsung di Aceh yang berlangsung pada 25-26 November 2025 dan masih terasa efeknya Ketika tulisan ini ditulis (19 Desember 2025), di mana masih banyak daerah terisolasi, jembatan penghubung antar kabupaten terputus, puluhan kampung lenyap di hantam kayu-kayu yang ditebang oleh tangan-tangan serakah, rumah-rumah penduduk tenggelam, dan masih banyak pengungsi yang masih kelaparan akibat keterbatasan akses.
Ada yang menyesakkan Ketika bencana datang akibat ulah manusia, betapa kita menyaksikan betapa mengerikan tragedi akibat keserakahan manusia, jiwa kita menjadi resah, rasanya malu menjadi manusia ketika tak bisa berbuat apa-apa ketika saudara kita menahan kelaparan, atau bahkan merenggang nyawa. Hanyalah bisa memohon perlindungan dari Allah.
Wahai orang Aceh pelajari sejarah dirimu, dan kenali siapa dirimu. Ketidaktahuan akan sejarah membuat bangsa Aceh tidak bisa melihat sebuah sinar di leluhur kita. Dan Hal ini merupakan sesuatu yang tidak lazim. Semakin hari sebuah bangsa menjadi semakin lemah, bodoh dan serakah. Satu persatu wilayah peradaban hilang tak mampu dibangkitkan lagi.
Perdamaian selama 21 tahun adalah sebuah nikmat tak terkira setelah bertahun-tahun hidup pada masa konflik, ini adalah sesuatu yang patut disyukuri. Dalam kedamaian kita telah abai terhadap lingkungan negeri dan gagal memelihara warisan yang telah dititipkan oleh leluhur yaitu hutan Aceh, bencana datang dan harus menjadi kenangan kita selamanya, sebagai bagian dari memori kolektif. Jika bencana ini berlalu dan kita membiarkan hutan dijarah kembali maka kita adalah selemah-lemahnya generasi dalam sejarah Aceh.
Maka sejak hari ini ingatlah seluruh bangsa Aceh, lautan kayu yang menyelimuti Sumatera bukan fenomena alam, melainkan jejak kejahatan! Warisan leluhurmu (telah) dijarah dan diperkosa habis-habisan! Jika ke depan kita semua mendiamkan kejahatan ini terjadi lagi, maka apakah kita masih punya keberanian menjejakkan kaki di muka bumi ini?
Derita tinta kebijaksanaan yang tertulis di kitab tidak sebanding dengan kepedihan pengetahuan yang belum dituliskan.
TUNTUTAN KALAM
“Tak semua kejahatan adalah perbuatan, adakalanya tidak berbuat juga sebuah kejahatan.”
XXX
Hari ini kami menghakimi Tuan yang seharusnya tahu diri bukan seorang piawai dalam matematikawan, tidak terampil dalam aljabar dan mempertanyakan mengapa belakangan ini masyuk di sana.
Nyaris setahun Tuan meninggalkan kalam. Huruf, kata dan kalimat menjadi kering bagai daun-daun kering dihempas badai. Kami menuntut ketidakpedulian kepada minat dan bakat yang Tuan miliki, tersia-sia.
Tuan berhak kecewa terhadap zaman, terhadap wadah yang telah berubah, terhadap tempayan yang semakin burik. Apakah Tuan tidak paham tidak semua orang berbakat dalam menggoreskan kalam, menari-nari bersama tinta bersiborok dalam lembaran-lembaran mushaf yang tak kunjung selesai.
Kami paham dalam muamalah dibutuhkan dinar dan dirham, keping-kepingnya begitu menggoda. Tapi bukankah sedari dulu Tuan tahu itu bukan yang utama. Kami menuntut karena jenuh dengan kemalasan tak berkesudahan. Tuan wajib melaksanakan beban peradaban, ambil kalam celupkan dalam tinta dan tuliskan lagi bait-bait yang baru.
Laksanakan Tuan atau anda akan dijatuhi hukuman, sebagaimana setiap kesalah tak lepas dari penghakiman. Camkan itu Tuan!
XXX
Baitul Asyikin, rumah para pencinta. 29 Syawal 1446 H bertepatan 28 April 2025
Kitab Futuhat al-illiyat Karangan Syeikh Sulaiman al-Jamal. Tafsir Kitab al-Jalalain juz 3. Isi menceritakan tafsir Surat al-Kahfi.
SENJAKALA KATA
Pernah ada masa buku-buku menjadi sumber hikmat yang tak pernah ada habisnya, hikmat di dalamnya menjadi perbendaharaan yang tak pernah habis dibelanjakan, kekayaan yang tak akan rusak maupun habis karena diberi-berikan. Kini perhiasan yang tak mau usang itu, yang pernah menjadi kesenangan yang tak mungkin habis masanya, habis sudah masa jayanya. Zaman bergeser, bacaan semakin banyak, Buku-buku tergantikan oleh tulisan-tulisan singkat di media sosial. Setelah itu muncul badai yang sesungguhnya, video telah mengantikan tulisan-tulisan itu, kata dikalahkan oleh visual.
Sebagaimana syair digantikan nyanyian, sebagaimana kata berima naik turun harus menghadapi kata-kata yang diiringi melodi. Begitulah kata-kata dalam bentuk tulisan dikalahkan oleh gambar berkata-kata. Mungkin itulah dunia, dinamis, generasi baru muncul dengan kebiasan-biasaan baharu, yang lebih modern, zaman lama kian jauh, bahkan menjauhi seolah-olah berabad-abad lalu padahal belum dua atau tiga kata-kata.
Buku telah menjadi makam, sebagaimana nisan-nisan zaman lama berinskripsi, ia masih hadir di zaman ini, tapi hanya menatap dari tepi jalan, terlihat sakral namun tak terpedulikan. Kata-kata telah menemukan senjanya dalam bentuk tulisan itu. Tiap-tiap sesuatu ada sejarahnya. Candi-candi besar dan indah punya sejarah masing-masing. Di antaranya ada yang sudah diketahui orang riwayatnya dengan seksama, maka tentulah buah pikiran yang dipusakakannya, sebagai pencari jalan keselamatan dunia dan akhirat, riwayatnya lebih berguna dipelajari.
Buah pikiran yang indah-indah, ibarat bukit batu, kokoh. Sesungguhnya zaman berkisar, kemajuan manusia senantiasa bertambah tinggi dan keadaan di muka bumi selalu berubah-ubah, tapi hikmat kekal dan abadi. Ia tak lapuk kena hujan, tak lekang kena panas. Kunjungilah buku-buku itu, makam-makam tua, urailah barang sekedarnya, agar bertambah mahal harganya di mata arif bijaksana. Kata-kata mungkin telah mengalami senjakala, tapi bukankah senja itu adalah sebuah bentuk keindahan, wujud cahaya terakhir sebelum disergap kegelapan.
Gerbang Makam Syekh Abdur Rauf As Singkili atau Tengku Syiah Kuala di Kota Banda Aceh
MENJAWAB POLEMIK MAKAM TANDINGAN SYEKH ABDUR RAUF AS-SINGKILI ATAU TENGKU SYIAH KUALA
Dimana Makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili yang Asli?
Terdapat dua makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili yang masing-masing diyakini sebagai makam sebenarnya. Satu berada di Syiah Kuala kota Banda Aceh dan satunya lagi di Aceh Singkil. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan dimanakah makam yang sebenarnya? Berikut penelitian kepustakaan yang dilakukan penulis.
Pada tahun 1985, salah seorang ulama Aceh ternama Al-Marhum Syekh Abdur Rauf As-Singkili (atau dikenal dengan nama Syiah Kuala) memiliki makam kedua. Peristiwa ini diawali dengan datangnya satu tim ekspedisi dari Ulakan, Pariaman Sumatera Barat. Hasil temuan tim ekspedisi ini mengungkapkan bahwa makam Syekh Abdur Rauf yang berada di Kuala Kreung Aceh di kota Banda Aceh, telah pindah ke daerah Kilangan, Singkil.1 Berita ini menimbulkan polemik yang mengemparkan masyarakat saat itu, hal ini terlihat banyaknya tulisan-tulisan tentang beliau baik di surat kabar, majalah dan media masa lainya.
Bertahun-tahun kemudian (saat ini 2024), timbul kebingungan di masyarakat dimanakah makam ulama Syiah Kuala sebenarnya? Penulis sendiri juga kerap ditanyakan oleh masyarakat yang menghadapi dilema. Maka untuk menjernihkan suasan, penulis mencoba menganalisa secara kronologis dan argumentatif berdasarkan fakta sejarah yang ada, dan berusaha mengutarakan berbagai lika-liku kehidupan Syekh Abdur Rauf dari kecil sampai akhir hayatnya.
Asal Usul Syekh Abdur Rauf As-Singkili atau Tengku Syiah Kuala
Syekh Abdur Rauf adalah seorang ulama Aceh yang terkenal pada abad XVII Masehi, keharuman namanya terkait pula dengan Aceh ketika itu sebagai pusat study keislaman di Nusantara. Biografi masa kecilnya, tidak terlalu diketahui dan sumber-sumber historis tidak banyak memberikan data. Tahun kelahirannya, tidak diketahui pasti. Prof. A. Hasjmy memperkirakan tahun 1001 Hijriah (1593 Masehi).2 Sementara Hasan Shadily memperkirakan tahun 1023 Hijriah (1615 Masehi).3 dan H. Mohammad Said memperkirakan 1028 Hijriah (1620 Masehi)4 sebagai tahun kelahiran beliau.
Syekh Abdur Rauf lahir di kampung Baro Lipat Kajang. Simpang Kanan Singkil dari ayah bernama Syekh Ali al-Fansuri. Ayah beliau adalah saudara dari Syekh Hamzah al-Fansury, keduanya merupakan ulama yang berpengaruh di masyarakat.5 Memiliki nama lengkap Abdur Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansury As-Singkili. Istilah “Al-Jawi” menurut pengertian masa lalu adalah melayu. Nama “Fansur” yang dirangkai dengan “As-Singkili” menunjukkan ada kampung bernama Fansur di wilayah Singkil.
Pendidikan Syekh Abdur Rauf As-Singkili atau Tengku Syiah Kuala
Sejak berumur 8 tahun Abdur Rauf belajar pada dayah orangtuanya, di sana beliau belajar menulis dan membaca bahasa Arab dan Jawi (melayu). Kemudian melanjutkan pendidikan ke Barus pada sebuah Dayah yang dipimpin pamannya Syekh Hamzah al-Fansury, ia melanjutkan pelajaran Bahasa Arab, ilmu-lmu agama, sejarah, mantik, filsafat, sastra Arab/Melayu dan bahasa Persia. Dari Barus kemudian Abdur Rauf melanjutkan menuntut ilmu ke Pasai pada Dayah Syekh Syamsuddin As-Sumatrani, seorang ulama besar yang memiliki aliran yang sama dengan Hamzah al-Fansury.
Ketika Syekh Syamsuddin As-Sumatrani diangkat oleh Sultan Iskandar Muda menjadi Qadli Malikul Adil dan pindah ke Bandar Aceh (Ibu kota) maka Syekh Abdur Rauf bertolak ke Jazirah Arab antara lain Mekkah dan Madinah untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama yang dimilikinya. Peristiwa ini ditafsirkan bahwa ia memiliki ketidakpuasan atau keraguan terhadap ilmu yang dimilikinya selama ini.
Di Mekkah beliau tinggal di kampung Qusyasyiyah di Rumah Aceh (Bait al-Asyi) dan belajar pada Syekh Ahmad al-Qusyasyi (1583-1660 M). Di Madinah pada masa yang sama hidup pula Syekh Ibrahim al-Kurani (1616-1660 M) murid dari Syekh Ahmad al-Qusyasyi. Syekh Abdur Rauf menjadi murid mereka yang terkenal sebagai ulama sufi. Beliau menerima baiat Thariqat Syathariyah, disamping ilmu-ilmu sufi lain termasuk sekte dan ilmu pengetahuan yang memiliki relevansi dengannya.6 Beliau berada di Mekkah dan Madinah dalam kurun waktu 19 tahun, sekitar tahun 1072 H (1661 M), ada juga pendapat 1063 H (11652 M) Syekh Abdur Rauf kembali ke Aceh.
Karya-Karya Syekh Abdur Rauf As-Singkili atau Tengku Syiah Kuala
Sebelum berangkat ke negeri Arabia, Syekh Abdur Rauf As-Singkili ditunjuk sebagai Imam Mesjid Raya Baiturrahman oleh Sultan Iskandar Muda (1590-1636 M). Beliau kembali ke Aceh pada masa Sultanah Safiatuddin (1641-1675 M). Beberapa kitab yang ditulis oleh beliau yang dapat diketahui sekarang antara lain:
Kitab Turjumanul Mustafid(Tarjuman al-Mustafid) terjemahan dari Tafsir Anwaru Tanzil Wa Asrarut Takwil karangan Umar bin Muhammad Syirazy al-Baidlawy. Merupakan naskah pertama tafsir Al-Quran yang lengkap dengan bahasa Melayu pertama;
Kitab Miraatut Thullab, Kitab Fiqih lengkap yang pertama dalam bahasa Melayu;
Kitab Umdatul Ahkaam, kitab Fiqih lainnya;
Kitab Umdatul Muhtajin Ila Suluki Maslakil Mufradin, membahas tentang ketuhanan dan filsafat;
Kitab Kifayatul Muhtajin membahas tentang tasawuf;
Kitab Daauqul Huruf, membahas tentang falsafat;
Kitab Hidayatul Balaghah Ala Jumatil Mukhashamah, kitab yang mengupas tentang bukti, persaksian dan sumpah palsu;
Kitab Bayan Tajaili, mengenail ilmu tasawuf;
Syair Ma’rifat, karangan berbentuk puisi membahas tentang tariqat dan tauhid;7
Kitab Majmuk Al Masail suatu uraian tentang tasawuf;
Kitab Al Mau’idah Al Bidayah, membicarakan tentang akhlak dan ditulis dalam bahasa Melayu.
Selain mengarang dan menulis kitab, Syekh Abdur Rauf juga mendirikan beberapa lembaga pendidikan/dayah yang digunakan untuk mendidik para penerus untuk melanjutkan perjuangannya. Adapun Dayah yang didirikan antara lain:
Dayah Tamping; Dayah Meunara; Dayah Sawit; Dayah Teubing di Pidie.
Pesantren Kampung Mulia dan Pesantren Kuala di Banda Aceh.
Akhir Hayat Syekh Abdur Rauf As-Singkili atau Tengku Syiah Kuala
Syekh Abdur Rauf As-Singkili atau Syiah Kuala adalah seorang ulama, imam, penulis dan pembangun umat. Beliau dikenal sebagai tokoh yang membela hak-hak perempuan, menghabiskan usia pada hari Isnin 23 Syawal 1106 H (1695 M).8 Ada juga yang berpendapat pada 1104 H (1690 M).9 Syekh Abdur Rauf As-Singkili telah tiada, beliau meninggalkan warisan berupa kitab, dayah dan para penerus untuk melanjutkan dakwah. Jenazah beliau diwasiatkan dikebumikan di sebuah kampung di Kuala Krueng Aceh. 10 11 12 Pada nisan di makam ternukil “Al-Waliyul Mulki Syekh Abdur Rauf bin Ali Al-Fansury As-Singkili”. Untuk mengenang kembali jasa beliau sebagai ulama inteletual, Pemerintah Daerah Istimewa Aceh mengabadikan nama beliau menjadi perguruan tinggi pertama di Aceh yaitu Universitas Syiah Kuala yang didirikan pada 2 Mei 1961.
Sejarah kemunculan Makam Tandingan Syekh Abdur Rauf As-Singkili di Desa Kilangan Singkil atau Tengku Syiah Kuala
Pembangunan makam tandingan Syekh Abdur Rauf As-Singkili di desa Kilangan, Singkil diawali dengan adanya mimpi oleh sebagian pengikut aliran tariqat Syathariyah di Ulakan Priaman, Sumatera Barat. Mimpi tersebut mengungkapkan bahwa makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili yang berada di Desa Dayah Raya, kota Banda Aceh telah pindah ke Desa Kilangan Singkil yang merupakan asal beliau. Maka dimulailah perjalanan ekspedisi yang dilakukan oleh sebagian pengikut aliran Syathariyah dan memakan waktu yang sangat panjang. Pendekatan yang dilakukan bukanlah pendekatan ilmiah, melainkan pendekatan dogmatis yang sangat sulit dibuktikan secara ilmiah. Muncul dugaan oleh beberapa peneliti pada saat itu merupakan penipuan dan pemalsuan sejarah.13
Dari berbagai fakta sejarah yang ditemui seperti Ensiklopedi Indonesia dan Ensiklopedi Umum atau literatur-literatur lainnya, semua sependapat bahwa Syekh Abdur Rauf As-Singkili meninggal di Banda Aceh (dahulu bernama Bandar Aceh Darussalam) dan dimakamkan di Desa Dayah Raya di Kuala Krueng Aceh kota Banda Aceh.
Pada tahun 1990 menanggapi eksistensi makam tandingan yang dianggap sebagai “Makam Tandingan Syekh Abdur Rauf As-Singkili” di Desa Kilangan Singkil maka Departemen Agama melalui Mardin M. Nur seorang putra Singkil untuk melakukan penelitian lapangan. Menurut hasil reportase yang dilaporkan masalah ini merupakan masalah yang sangat sulit dimengerti, karena sebelum dipugar dan diberi nama makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili, makam tersebut telah lama ada. Menurut keterangan masyarakat setempat, makan tersebut dipercaya telah ada sejak zaman penjajahan Belanda, namun demikian secara umum masyarakat Singkil tidak mengetahui dengan pasti kehadiran makam tersebut. Mardin M. Nur kemudian mempertanyakan kehadiran makam tersebut dan mendapati keterangan bahwa sebelum dipugar area makam tersebut dikelilingi semak belukar dan rumput liar. Pemilik tanah, Ustad Sakyuddin bahkan mengatakan bahwa pada awalnya tanah yang dimilikinya hanyalah tanah kosong dan tidak memiliki perkuburan, karena situasi tersebut ia membiarkan tanah kosong dan ditumbuhi semak belukar. Pada suatu hari Ustad Sakyuddin bemaksud menanam palawija dan tanaman lain di tanahnya, ketika dibersihkan ditemuinya sebuah makam sepanjang 7 meter, semula ia tidak mempercayainya karena panjang makam melebihi makam-makam biasa. Ia mengambil inisiatif membuang nisan makam ke sungai Singkil di pinggir tanahnya. Keesokan harinya kedua nisan tersebut menancap kembali di tempat dicabut kemarin. Kejadian aneh ini dilaporkan kepada Kepala Kampung, imam dan masyarakat sekitar. Oleh karena keajaiban makam tersebut maka masyarakat berkesimpulan bahwa makam tersebut adalah makam yang baru pindah dari seorang aulia yang entah siapa namanya, makam ini pada awalnya terkenal dengan nama “Makam Batuah”. Atas inisiatif masyarakat setempat di atasnya dibangun balai yang beratap daun rumbia. Sejak saat itu masyarakat Singkil dan sekitar berziarah kesana.14
Kedatangan sejumlah orang Pariaman yang beraliran Tariqat Syathariyah kesana dan melakukan pemugaran dan menganggap sebagai makam tandingan Syekh Abdur Rauf As-Singkili diluar dugaan masyarakat. Makam yang dibangun pada tahun 1985 sepanjang 2 x 9 meter dilengkapi dengan sebuah rumah semi permanen dan sebuah balai. Pembiayaan pembangunan di waktu itu menghabiskan dana Rp. 7.000.000,- (tujuh juta rupiah). Menanggapi persepsi masyarakat Singkil waktu itu (tahun 1990) maka Mardin M. Nur mewawancarai T.H. Abdurrahman selaku Ketua Majelis Ulama Wilayah Singkil waktu itu dan beliau menyatakan bahwa masyarakat Singkil sampai hari ini (Kejadian tahun 1990) tetap berpendapat bahwa makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili yang sebenarnya ada di Kuala Kreung Aceh. Hal ini berdasakan data yang diperolehnya selama beberapa tahun terakhir (rantang tahun 1985-1990). Terlebih dari itu berbagai sejarawan dari dalam maupun luar negeri sekalipun memiliki pendapat yang sama. T.H. Abdurrahman menambahkan bahwa makam yang telah dipugar sekarang ini adalah makam seorang aulia yang entah siapa namanya.15
Mardin M. Nur melaporkan bahwa sekarang (tahun 1990), makam yang semi permanen itu, berdiri dengan indah dan menarik. Di dalamnya dihiasi berbagai hiasan warna-warni, di sekelilingnya ditutupi dengan kelambu berwarna hijau dan dan di pasang setinggi dua meter. Keindahan dan kenyamanan makam tersebut sangat mempesona dan menggugah hati bagi siapapun yang meliriknya. Namun, masyarakat Singkil tetap berpendapat bahwa bangunan indah itu adalah seorang aulia dan Syekh Abdur Rauf As-Singkili.16 Tentu keadaan masyarakat Singkil tahun 1990 ketika Mardin M. Nur kesana dengan keadaan masyarakat Singkil ketika tulisan ini ditulis (Mei 2024) bisa jadi berubah, bisa jadi sekarang makam tersebut telah dianggap sebagai makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili.
Sikap Majelis Ulama Indonesia Provinsi Daerah Istimewa Aceh
Atas terjadi polemik adanya dua makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili maka diadakan rapat kerja Mejelis Ulama Provinsi Aceh dan menerbitkan keputusan Nomor No.469.083/835/1987 tanggal 15-16 Juli 1987 tentang pembongkaran makam yang berada di desa Kilangan Singkil.
Pembongkaran tersebut tidak pernah terjadi, mengingat makam tersebut sering dikunjungi oleh masyarakat, hal ini dibatalkan karena mencegah terjadinya kontradiksi antara masyarakat Singkil dengan pemerintah, apalagi sampai membawa perpecahan umat. Namun tentunya diharapkan para pimpinan Majelis Ulama Indonesia sebaiknya menyusun buku riwayat hidup Syekh Syekh Abdur Rauf As-Singkili dan turun tangan guna memulihkan nama makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili. Namun apabila belum ada buku yang dikeluarkan untuk meluruskan hal tersebut, maka paling tidak tulisan ini dapat memberi sedikit pencerahan.
Kesimpulan
Nama lengkap Syekh Abdur Rauf As-Singkili adalah Abdur Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri As-Singkili merupakan ulama besar yang dikagumi di Aceh, Indonesia, Asia Tenggara bahkan dunia.
Makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili secara kajian ilmiah berada di Desa Dayah Raya, Krueng Aceh, Kota Banda Aceh.
Daftar Pustaka:
Majalah Santunan No.163 THH-XVI Juni 1990 (No. ISSN 0216/0790). Diterbitkan Kantor Wilayah Departeman Agama Daerah Istimewa Aceh, hal 36.
Ali Hasjmy. Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, 1983, hal 202.
Hasan Shadily, dkk. Ensiklopedia Indonesia Jilid I, 1980, hal 55.
Mohammad Said. Aceh Sepanjang Abad Jilid I, 1978, hal 413.
Drs, M. Hasan Banta. Rijalul Dakwah IAIN Jami’ah Ar-Raniry, 1984, hal 1.
Hawash Abdullah. Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh Tokohnya di Indonesia. 1980. Hal. 50.
Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, hal 204-205.
Ibid, hal 205.
Mohammad Said. Aceh Sepanjang Abad Jilid I, 1978, hal 419.
Keputusan Rapat Kerja Majelis Ulama Indonesia Dista Aceh tentang Makam Syekh Abdur Rauf, 15-16 Juli, 1987 di Banda Aceh.
Mr. A.G. Pringgodgdo, dkk. Ensiklopedi Umum, 1973, hal 2.
Hasan Shadily, dkk. Ensiklopedia Indonesia Jilid I, 1980, hal 55.
Majalah Santunan No.164 THH-XVI Juni 1990 (No. ISSN 0216/0790). Diterbitkan Kantor Wilayah Departeman Agama Daerah Istimewa Aceh, hal 36-37.
Ingatan Sebatang Pohon Asam. Keunaloi Seulimeum Aceh Besar. 21 April 2024.
INGATAN SEBATANG POHON ASAM
Di belakang pasar Seulimeum. Ada satu turunan jalan mengarah ke kampung Keunaloi, setelah madrasah ada beberapa rumah sebelah kiri jalan, itulah tempat ayah dari ayahku dilahirkan dan dibesarkan.
Sebelah kanan jalan aliran sungai berbatu kerikil. Aku, ayah, kakek, dalam nasab segaris sampai Indatu tak tercatat lagi, pernah bermandikan sungai, airnya yang jernih itu.
Ada sebuah ruang, dimana kami pernah menjejaki tanah yang sama meski perjumpaan antara nasab hanya saling beririsan, dalam waktu yang berbeda. Hadir bersamaan adalah hal tak mampu kami jangkau bersekalian.
Dua belas tahun sudah kampung ini tak aku datangi lagi, padahal ketika kanak-kanak ayah dan kakek sering mengajakku kemari. Entah mengapa perasaanku mengharu biru ketika tempat ini aku jejaki kembali, mungkin karena tempat ini mengikat kenangan tentang ayah dan juga kakek.
Rumah kayu leluhur telah berganti beton berbata ringkih, sebagai metafor kehadiran manusia yang rapuh di atas permukaan bumi ini, orang-orang tua yang kukenal juga sudah banyak yang berpulang.
Aku mengelilingi kampung ini menghirupi udaranya dalam-dalam untuk mengorek, mencungkil peradaban yang lampau disini. Kampung Keunaloi berada dekat dengan Seumileuk dimana tamaddun Kerajaan Mante pernah berdiri, kuno bahkan sebelum Aceh ada. Jangan tanyakan dimana jejaknya, bahkan bangunan-bangunan dua puluh tahun lalu pun telah sirna, apalagi dua puluh abad lalu, maka tak ada laporku.
Ada sesuatu yang akrab seolah memanggilku menuju kesana. Sebatang pohon asam di tikungan jalan. Aku pandangi lama-lama, ia adalah sebagai pengingat bahwa ini adalah kampung kakekku. Pohon asam itu masih berdiri dengan posisi yang sama, di pinggir jalan aspal mulus yang baru ada lima enam tahun lalu
Pohon asam ini adalah memburai segala kenangan lama di kampung Keunaloi. Kusentuh dia dan berbisik mesra padanya, ceritakanlah sejarah zuriatku sambung menyambung sampai mana? Wahai pohon ceritakan segala ingatanmu!
Semilir angin sejuk di sore hari menyentuh wajahku, kaki dan tanganku bergetar dan pohon hanya membisu. Seraya menatapku seolah berkata: Andaikan ingatan ini bisa ku ceritakan kepadamu, tapi sebatang pohon tak mungkin berkata-kata, ini adalah sunnatullah.
Aku menikmati ledakan emosinal yang mengetarkan, membahagiakan sekaligus mengharukan. Membawa senyuman sekaligus mata berkaca-kaca. Aku berjalan meninggalkan pohon asam, dengan posisi mundur seolah tak ingin melepaskan pandangan padanya
Aku melewati bekas bale kayu, dimana aku pernah mendengar hikayat-hikayat Kuno, kejadian itu sekitar tiga puluh tahun lalu, kini tempat bercerita itu telah berubah menjadi lapangan voli, dibiayai oleh dana desa, didukung oleh APBN.
Tahun ini aku berumur empat puluh tahun. Hatiku membuncah dalam getaran memikirkan pertanyaan yang membekas dalam batinku. Mungkinkah aku zuriat terakhir yang akan berkunjung kemari?
Kampung Keunaloi, Seulimeum. 21 April 2024
Syair ini sebagai pengingat bagi setiap anak laki-laki, bahwa ayahmulah adalah satu-satunya manusia di muka bumi yang memiliki keinginan yang kuat, untuk melihatmu menjadi seorang laki-laki yang LEBIH BAIK dari dirinya. Di dunia ini kelak kau akan tumbuh dewasa, bertemu dan belajar dari orang-orang hebat lainya. Baik itu guru, imam, pemimpin bahkan siapapun. Tapi kau tidak akan pernah menemukan perasaan yang sama sebagaimana ayahmu dari setiap orang yang kau temui.