DI BAWAH NAUNGAN LENTERA

Syair Hikayat Perang Sabi (Hikayat Perang Sabil) Koleksi Museum Aceh sebagai penyemangat pejuang Aceh dalam melawan agresi Belanda.

Syair Hikayat Perang Sabi Koleksi Museum Aceh

DI BAWAH NAUNGAN LENTERA

Ketika aku belia betapa terkesima membaca kitab Rihlah karya Ibnu Bathutah bahwa dia berlayar ke Quanzhou menumpang kapal dagang milik Sultan Malik Az-Zahir dari Kesultanan Samudera Pasai. Membaca uraian Ibnu Bathutah bahwa di sana bendera Kesultanan Samudera Pasai berkibar pada Kapal-kapal dagang dari Pasai memenuhi Bandar yang dijuluki “Zaitun” oleh pedagang Arab itu membuat aku semakin terkesima. Sehebat itukah kemampuan leluhur kita melaut, sampai-sampai Ibnu Bathutah kembali dari negeri Cina setelah bertualang di kota-kota Peking, Hangzhou, Fuzhou pun pulang dari Quanzhou menggunakan jung dagang Pasai.

Jauh sebelum itu, ayah dari Malik Az-Zahir yaitu Malik As-Saleh pernah menjamu seorang petualang dari Venezia selama lima bulan di Samudera Pasai yang menjadi utusan Kaisar Tiongkok ke Persia bersama dua ribu pengikut. Imago Mundi buku yang ditulis kelak menjadi saksi mengambarkan pujian pelancong Eropa itu yang mengagumi kemajuan yang dicapai Kesultanan Samudera Pasai saat itu. Lentera Samudera Pasai kemudian menyebarkan cahaya Islam ke seluruh Asia Tenggara seolah menjadi legenda dan mitos di hari ini. Padahal kitab-kitab secara nyata bercerita apa adanya.

Bukan kita bangsa yang tak mencatat, ketika Belanda mendarat pada ekspedisi kedua di Peunayong yang mereka pertama kali lakukan adalah membakar perpustakaan dan arsip Kesultanan Aceh yang telah berusia 800 tahun, darahku mendidih ketika memahami tujuan kolonial untuk menghapus sejarah kita, tujuannya adalah memutus kita dengan para leluhur yang agung.

Ketika Ali Mughayatsyah mendirikan kesultanan Aceh dengan tujuan membawa cahaya peradaban, bahwa keturunannya Iskandar Muda pernah mengepung Malaka yang dikuasai Portugis untuk membebaskan bangsa Melayu dari penjajahan. Kisah hidup disebut oleh Belanda via Snouck Hurgronje sebagai dongeng belaka membuat amarahku memuncak. Ketika aku membaca dokumen bahwa mereka (Belanda) meratakan makamnya dan membangun kantor gaji tentara Belanda diatasnya, sehingga seolah-olah makam Sultan Iskandar Muda tak pernah ada, emosi dan darahku mendidih.

Mungkin aku tak seberani Laksamana Malahayati yang tanpa banyak bicara menikamkan rencong ke dada Cornelis de Houtman pada pertarungan satu lawan satu di atas geladak kapal. Atau akupun tak cukup cerdik sebagaimana Teuku Umar yang menjadi satu-satunya pejuang selama kiprah Belanda di Nusantara mampu mengelabui mereka sampai dibenci dengan sebenci-bencinya.

Aku melihat dan mencari sekelilingku adakah orang yang setabah Tengku Chik Ditiro yang mengorbankan dirinya untuk orang-orang di negeri ini. Aku menangis mengetahui ia tak dikalahkan oleh musuh melainkan di racun oleh bangsa sendiri. Hikayat Prang Sabi seharusnya menjadi bacaan wajib disini, tapi apakah kalian pernah membaca setidaknya satu bait dari maha karya Tengku Chik Pante Kulu itu?

Di babah pinto syeureuga lapan

Saboh krueng sinan indah han sakri

Bate di pante pudoe ngon intan

Ji dong meu kawan budiadari

 Budiadari nyang seudang-seudang

Ji teubit u blang ji dong meuriti

Ji mat ngon kipaih maseng di jaroe

Ji preh woe lakoe dalam prang sabi

Ija puteh ngon sampoh darah

Ija mirah ngon sampoh daki

Semakin bertambah usia aku mendapati diriku tak sehebat mereka, aku adalah manusia zaman ini dengan segala kelemahan yang ada. Namun ketika mencari teladan aku membuka kisah-kisah mereka, cukup menjadi pegangan menghadapi zaman ini.

Aku takut, anak-anak yang baru dilahirkan nanti akan melupakan mereka. Orang-orang hebat yang semakin pudar kisah-kisahnya. Aku tak berharap pemerintah akan mengurusi hal-hal seperti ini, mereka sudah sibuk dengan urusan mereka. Di bawah naungan lentera cahaya mereka aku mencoba bercerita tentang mereka dengan segala kekurangan yang ada padaku, aku mohon maaf atas keterbatasan kemampuanku.

Yang aku inginkan kalian semua mengingat mereka. Carilah dan bacalah dari sumber lebih terpercaya tentang mereka-mereka yang berjasa dan rela menumpahkan darah mereka untuk kalian yang kelak akan mewarisi negeri Aceh ini.

Langsa, 26 Januari 2023

Beberapa opini terdahulu:
  1. Nilai Seorang Manusia; 8 Juli 2019;
  2. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  3. Kaya Tanpa Harta; 24 November 2019;
  4. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  5. Merekonstruksikan Kembali Letak Istana Daroddonya; 3 Maret 2020;
  6. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  7. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
  8. Kenapa Sejarah Tak Boleh Dilupakan; 4 Oktober 2020;
  9. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
  10. Mengapa Harus Mempelajari Bahasa Daerah; 17 Maret 2021;
  11. Ilmu Memahami Ilmu; 15 Juni 2021;
  12. Lembu Patah; 18 Desember 2021;
  13. Jangan (Mudah) Percaya Dengan Apa Yang Kau Baca; 12 Februari 2022;
  14. Aceh Yang Dilupakan; 29 Maret 2022;
  15. Sejarah Tak Bepihak Kepada Kita; 8 September 2022;
Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

ADAT PELANTIKAN PEMAHKOTAAN PENABALAN SULTAN ACEH DARUSALAM

Alauddin Mahmudsyah II adalah merupakan Sultan Aceh terakhir yang memerintah Aceh sebelum invasi kolonial. Ia menolak pengakuan terhadap kedaulatan kerajaan Belanda atas Kesultanan Aceh setelah perjanjian Sumatra (Traktat Sumatera) antara Belanda dan Inggris. Atas penolakan tersebut, Kerajaan Belanda akhirnya menyatakan Perang terhadap Kesultanan Aceh pada tanggal 26 Maret 1873.

ADAT PELANTIKAN PEMAHKOTAAN PENABALAN SULTAN ACEH DARUSALAM

Pada masa lalu, pada saat Sultan Aceh Darussalam meninggal dunia, maka sebelum mayitnya dikebumikan pada pekuburan tertentu, kabinetnya mengadakan rapat kilat untuk menunjuk siapakah yang patut ditunjuk untuk pengganti sementara dari almarhum Sultan. Sesudah dimusyawarat dan diperiksa dengan tidak mendalam, lazimnya penunjukan jatuh pada putera tertua yang tidak cedera dan memenuhi syarat-syarat lain sekedarnya. Kabinet tersebut terdiri  dari  seorang Perdana Menteri (Wazir Utama) dan beberapa orang Menteri (Wazir) yang  disebut juga Uleebalang Poteu (Hulubalang Sultan yang tidak memiliki wilayah kekuasaan),  dengan Teuku Qadhi Malikul Adil, Teuku Keureukon Katibulmuluk Sri Indrasura  (sudah diangkat mendjadi  Uleebalang III  mukim  Keureukon  sejak  tahun   1832), Teuku Keureukon Katibulmuluk Sri Indramuda (Teuku Keureukon Lamteungoh), Teuku Panglima Dalam, Teuku Rama Setia (Panglima pasukan khusus pengawal Sultan). Penasehat-penasehat hukum dan adat seperti Teuku Panglima Meuseugit Raya, Teuku Imeum  Luengbata  dan Teku Nek  Meuraksa,   serta  Panglima   lainnya  seperti Teuku Aneuk Batee dan lain-lain.

Tindakan yang dilakukan sesuai dengan Adat Aceh. “Matee Raja, meugantoe Raja atawa Raja matee, Radja tanom.”  Artinya Ketika Raja meninggal maka Raja berganti atau Raja meninggal maka Raja dikuburkan.”

Kompleks makam Sultan Aceh, Kandang XII kondisi tahun 1875.

Setelah itu, barulah dilaksanakan/disiapkan apa-apa yang diperlukan untuk pemakaman. Peti mati yang disebut Raja Keureunda dibikin orang. Pemberitahuan mulai dilakukan oleh Teuku Rama Setia dan para pembesar negeri lainnya. Uleebalang yang berdekatan dengan pembesar lainya datang bertaziah ke istana Darud Dunya, Bandar Aceh Darussalam (Banda Aceh sekarang).  Sultan sementara bertindak dalam segala bidang mengenai pengebumian jenazah almarhum Sultan. Panglima Sagoe, Ulebalang-Uleebalang dan pembesar lain memberikan bantuan sepenuhnya sehingga penguburan itu berjalan sebagaimana wajarnya. Urusan yang menyangkut dengan penguburan, kenduri, pengajian dan sebagainya dapat dikatakan serupa dengan orang Aceh lain. Pembagian harta pusaka kepunyaan pribadinya dilakukan menurut hukum dan adat. Rumah tempat tinggal almarhum Sultan, tetap untuk tempat kediaman Sulthan yang menggantikannya.

Teuku Nek Meuraksa

Biasanya setelah 44 hari, barulah oleh Perdana Menteri mulai dilaksanakan untuk mengadakan pemilihan Sultan Aceh yang defenitif mengantikan yang telah meninggal dunia. Perdana   Menteri menetapkan kapan harus diadakan permusyawaratan di ibukota Kerajaan Aceh. Setelah diadakan persiapan, maka diundanglah antara lain:

  1. Ketiga Penglima Sagoe utama yang menguasai Aceh Besar selaku wilayah yang mengelilingi ibu kota yaitu: Panglima Sagoe XXII Mukim, Panglima Sagoe XXV Mukim dan Panglima Sagoe XXVI Mukim;
  2. Uleebalang Baet;
  3. Uleebalang Tungkop;
  4. Uleebalang IX Mukim Lhoknga, Teuku Nek Purbawangsa;
  5. Uleebalang Meuseugit Raya;
  6. Uleebalang Meuraksa, Teuku Nek Raja Muda Setia;
  7. Keujren Chik (kerajaan-kerajaan besar) di seluruh Aceh dengan didampingi oleh satu atau dua pembesarnya antara lain Raja Samalanga, Raja Pidie, Raja Meureudu, Raja Idi, Raja Trumon, Raja Karang Baru, Raja Linge dan lain-lain;
  8. Seluruh pembesar di kraton;
  9. Panglima-panglima Sultan, seperti Teuku Aneuk Batee dan lain-lain;
  10. Dan orang-orang lain yang dirasa perlu.

Manuskrip memuat susunan Pemerintahan Kerajaan Aceh pada Masa Sultan Iskandar Muda. Manuskrip ini milik University Kebangsaan Malaysia yang belum dikatalogkan.

Perdana Menteri, Menteri-Menteri, Teuku Keureukon dan Teuku Panglima bekerja keras untuk membuat penyelenggaraan, mendekati hari yang ditentukan mereka akan menginap di rumoh panyang (pesanggarahan) di sekitar asrama kraton sekarang.

Para pembesar Negeri Aceh yang berkepentingan duduk bersidang pada hari yang telah ditetapkan. Mereka bermusyawarah panjang lebar tentang pengganti Sultan yang telah dipanggil ke rahmatullah. Pengganti sementara menjadi calon pertama. Jika tidak terdapat cacat pada dirinya, maka pemeriksaan dan pertimbangan diteruskan. Calon Sultan harus mengetahui dan mengamalkan hukum Islam dan adat Istiadat Aceeh.  Ia harus pandai berbicara, bukan hanya dalam bahasa Aceh, tetapi juga dalam bahasa jawoe (Melaju) dan Arab. Umurnya telah telah dewasa dan akhlak harus baik.

Dimasa terakhirnya dari Kerajaan Aceh Darussalam, penganti Sultan sementara dari almarhum Sultan Ibrahim Mansyur Syah yang meninggal tahun 1870 bernama Tuanku Mahmud (cucu almarhum Sultan), putera dari Tuanku Sulaiman (anak dari Sultan Ibrahim Mansyur Syah) yang pernah menyingkir ke Lampageue IV Mukim Peukan Bada. Tuanku Mahmud ditunjuk karena putera mahkota yang Bernama Tuanku Zainul Abidin meninggal dunia juga pada hari ayahnya meninggal (Sultan Ibrahim Mansyur Syah) itu. Putera dari Tuanku Zainul Abidin Bernama Tuanku Muhammad Daud (kelak mengantikan Tuanku Mahmud yang meninggal akibat penyakit ketika Istana diserang Belanda di tahun 1874) masih kecil waktu itu.

Pembicaraan dan pertimbangan dilangsungkan dengan mendalam sekali tentang diri Tuanku Mahmud. Penasehat-penasehat Sultan membentangkan buah pikirannya masing-masing. Semua berupaya agar tidak terjadi perang saudara dalam suksesi kekuasaan. Akhirnya bulat mufakat Tuanku Mahmud menjadi calon tunggal Sultan Aceh Darussalam. Semua pembesar-pembesar Aceh yang memiliki wilayah kekuasaan maupun tidak, bertanggung jawab atas keputusan musyawarah besar itu.

Pelantikannya ditetapkan, pembesar-pembesar negeri kembali dahulu kenegeriannya masing-masing dan Kembali ke Banda Aceh pada waktunya. Penerangan diberilan sepenuhnya kepada rakyat sehingga mereka merasa tentram. Dalam masa itu di Banda Aceh diadakan persiapan untuk penabalan Sultan yang baru.

Pembesar-pembesar negeri kemudian kembali ke Banda Aceh untuk menghadiri upacara pengangkatan Sultan Aceh secara resmi yaitu Tuanku Mahmud bin Tuanku Sulaiman, ketika diangkat masih berusia remaja. Penganti Sultan Mansyur Syah diberi nama Sultan Mahmud Syah dan digelari “Poteu Meureuhom” yang baru. Sesudah siap pelaksanaan, maka seluruh pembesar mengambil tempat masing-masing untuk menghadiri penabalan Sultan sementara rakyat di luar tempat itu berdesak-desak. Tempat penabalan dan istana Sultan telag dihiasi seperlunya, sejurus lamanya, rakyat sunyi senyap.

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

Tuanku Mahmud Syah duduk berdekatan dengan panglima-panglima Sagoe, uleebalang-uleebalang terkemuka, penasehat Sultan dan pembesar lainya. Teuku Panglima Polem bangkit dari tempat duduknya, mengambil Tuaku Mahmud dan membawanya ke tempat penabalan yang disebu “bate tabaj” dan mendudukkannya, beliau diiringi oleh kedua Panglima Sagoe lainnya Teuku Qadku Malikuladil, Teuku Keureukon Katibulmuluk Sri Indramuda. Kemudian penasehat Sultan Teuku Haji Abdurrahman Lamteugoh, dan anggota kabinet yang dipimpin oleh Habib Abdurrahman al-Zahir selaku pimpinan dan menteri-menteri lainnya. Keamanan dalam majelis menjadi tanggungan kepada Teuku Panglima Dalam dan Teuku Panglima Meuseugit Raya. Perdana Menteri melakukan penabalan Tuanku Mahmud menjadi Sultan Aceh dengan bergelar Sri Sultan Alaiddin Mahmud Syah, disumpah oleh Teuku Qadli Malikul Adil, berkewajiban setia kepada kerajaan, tanah air dan agama.

Teuku Tjut Oh, Sri Imam Muda, Panglima Sagoe dari XXVI Mukim tampil kemuka dan menyerukan “Deelat”. Pembesar lainnya dengan rakyat sekalian mengikuti seruan “Deelat” itu sampai beberapa kali, setelah itu dilepaskan tembakan meriam sampai 101 kali. Sultan Alaiddin Mahmud Syah menyerahkan “djeuname Aceh” atau mahar Aceh kepada ketiga Panglima Sagoe sebanyak 32 kati emas dan 1600 Ringgit Aceh untuk dibagi-bagikan kepada rakyat.

Panglima Polem IX atau bernama lengkap Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud adalah seorang panglima Aceh. Setelah pengangkatannya sebagai Panglima dia kemudian mewarisi gelar Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Wazirul Azmi. Adalah Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Teuku Sri Setia Ulama, Panglima Sagoe XXV Mukim tampil juga kemuka untuk membaca doa sebagai penutup peresmian penabalan itu. Kemudia Teuku Panglima Polem selaku Panglima Sagoe XXII Mukim mengambil Sultan dan membawanya Kembali ke persemayaman semula. Tugas Panglima Polem (yang merupakan gelar turun temurun sejak zaman Sultan Iskandar Muda) dalam setiap penabalan Sultan Aceh sehingga disebut oleh orang Aceh dahulu. “Panglima Polem peu ek peutren Po teu Raja.” Artinya Panglima Polem menaikan dan menurunkan Raja.

Upacara penabalan Sultan Aceh kemudian dibubarkan dan masing-masing pembesar negeri kembali ketempatnya, untuk menjalankan tugasnya seperti biasa. Mereka mendapatkan masing-masing satu stel pakaian yang dinamai “siseuen salen” kemudian kabar tentang pengangkatan Sultan baru disiarkan dengan seluas-luasnya.

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939)

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939)

Pelantikan pemahkotaan dan penabalan Sultan Alaiddin Mahmud Syah II merupakan penaubatan Sultan Aceh yang terakhir dapat dilakukan secara sempurna menurut adat. Pada tahun 1873 Belanda menyerang Kesultanan Aceh, meski dapat dipukul mundur pada percobaan pertama pada agresi militer kedua pasukan Belanda dapat merebut Istana Kesultanan Aceh Darussalam dengan cara licik yaitu menyebar bibit penyakit kolera. Pada tanggal 26 Januari 1874, 2 hari setelah jatuhnya Dalam ke tangan Belanda, Sultan Mahmud Syah tiba-tiba diserang penyakit kolera yang merupakan senjata biologis yang dibawa pasukan Belanda, pada hari itu juga beliau, Sultan Alaiddin Mahmudsyah II menutup mata untuk selama-lamanya. Selanjutnya Sultan Aceh berikutnya Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah dilantik dengan upacara sederhana di Masjid Indra Puri pada tahun 1878 sehubungan dengan telah jatuhnya ibu kota ketangan Belanda. Perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda terus berjalan. Ketika peperangan total telah surut maka disambung dengan perang gerilya untuk sementara, bahkan ada masa timbul perlawanan kepada Belanda oleh hanya seorang, demikianlah terus menerus sampai Belanda angkat kaki selama-lamanya dari bumi Aceh pada tanggal 12 Maret 1942.

Referensi: Moehammad Hoesin, ADAT ACEH, Penerbit Dinas Pendidikan dan Kebudajaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh, tahun 1970, cetakan pertama.

Sangat menyedihkan jika hari ini atau kelak kemudian hari (Nauzubillahiminzhalik) didapati kenyataan orang-orang Aceh dengan lidah sendiri merendahkan adat mereka. Tulisan ini dibuat semata-mata agar kita semua tak lupa dengan masa lalu gemilang itu, sehingga tetap menyimpan api dalam dada untuk membangunnya Kembali. 

Artikel-artikel tentang Aceh:
  1. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH16 OKTOBER 2017;
  2. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA29 OKTOBER 2017;
  3. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH11 NOVEMBER 2017;
  4. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH17 NOVEMBER 2017;
  5. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH19 NOVEMBER 2017;
  6. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA8 DESEMBER 2017;
  7. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH16 DESEMBER 2017;
  8. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  9. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  10. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  11. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  12. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  13. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  14. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  15. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUETDALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  16. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENGSELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  17. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  18. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  19. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  20. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  21. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  22. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  23. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  24. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAMPERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  25. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUIDALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  26. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  27. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARASEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  28. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  29. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  30. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  31. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  32. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  33. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  34. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  35. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  36. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  37. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  38. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  39. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  40. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  41. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  42. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  43. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  44. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  45. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  46. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  47. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  48. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  49. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  50. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
  51. KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA; 9 APRIL 2021;
  52. HIKAYAT MEURAH SILU; 8 JUNI 2021;
  53. SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR; 29 JUNI 2021;
  54. RAJA DEKAT TUHAN JAUH; 3 AGUSTUS 2021;
  55. BERZIARAH KE MESJID ASAL PENAMPAAN DI BLANGKEJEREN GAYO LUES; 17 AGUSTUS 2021;
  56. KISAH-KISAH DI BLANG; 22 NOVEMBER 2021;
  57. ORIDA (OEANG REPUBLIK INDONESIA) ACEH 1947-1949; 14 JANUARI 2022;
  58. ACEH YANG DILUPAKAN; 29 MARET 2022;
  59. PROSA ALAM GAYO LUES; 8 AGUSTUS 2022;

 

Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

DENDAM KEKUASAAN

Mainan Impian Hot Wheels Ultra Hot

Mainan Impian Hot Wheels Ultra Hot

DENDAM KEKUASAAN

Steve Harvey dalam satu kesempatan mengatakan bahwa: “People say that money changes people. It realy doesnt! You know what. I learned about money. Money don’t change people but money alloes you to be more of who you really are. If you’re a kind person when you get a lot money you become a kinder person. If you’re asshole when you get a lot of money you become a bigger asshole. Money allows you to amplify whoever you really are!”

Dia tidak percaya bahwa uang  akan  mengubah seseorang! Mungkin  ada orang  (terlihat) berubah ketika memiliki (banyak) uang, akan tetapi (sejatinya) dia tidak berubah sama sekali. Uang hanya membuat orang (tersebut) menemukan jati dirinya yang sejati. Hal-hal yang dulunya tidak mampu dia capai ketika tidak memiliki uang dilampiaskan saat (sudah) memilikinya. Kekuasaan memiliki narasi yang sama. Seorang jurnalis sekaligus politikus senior termasuk pendiri PDI Perjuangan, Panda Nababan memberikan terminologi yang cantik untuk fenomena ini, “dendam kekuasaan”. Salah satu tantangan dari ketika berkuasa adalah mampu menahan diri dari kecenderungan (hasrat) membalas atau bahkan menindas kepada orang-orang yang tidak dia sukai.

Meulaboh, suatu petang tahun 1988. Resah dan gelisah menunggu di sini, di sudut sekolah tempat yang kau janjikan ingin jumpa denganku walau mencuri waktu, berdusta pada guru. Malu aku malu pada semut merah, yang berbaris di dinding menatapku curiga seakan penuh tanya. Sedang apa di sini? Suara radio terdengar kencang dalam kedai alat-alat perkantoran, mungkin sang pemilik baru menganti baterai. Seingat Abu waktu itu berumur 4 tahun dan diajak ayah ke pasar untuk membeli barang. Ketika bersandar di etalase kaca di toko tersebut mata Abu tertuju pada sebuah mainan mobil, sebuah sedan terbuat dari besi dan pintu depannya terbuka. Tertikam dan kasmaran Abu mengingatkan mainan tersebut dan meminta kepada ayah. Beliau bertanya berapa harganya kepada pemilik toko. “Tujuh ribu!” Seingat Abu. Ayah menggelengkan kepala. Biasanya Abu menahan diri, tapi hari itu Abu benar-benar ingin mainan tersebut. Abu menjerit dan menangis sekeras-kerasnya sampai harus dilarikan pulang dengan vespa biru ayah langsung ke rumah.

Biasanya Abu lupa, tapi keeseokan harinya Abu meminta lagi, merengek setiap saat sampai pada tahap mungkin menjengkelkan. Untuk menenangkan hati Abu menawarkan sebuah mobil yang lain, sebuah mainan Toyota Kijang pickup dari plastik seharga Rp. 500,- dan Abu menolak keras! Sampai akhirnya ayah dan ibu mengalah dengan meminjam uang seorang teman kantor Abu pun dibelikan mainan tersebut.

YouTube adalah sebuah alat yang mengagumkan, sebuah kreasi manusia yang maha dahsyat. Tanpa sengaja Abu menonton sebuah video klip lawas, lagu kisah kasih di sekolah yang dinyanyikan oleh Obie Messakh. Awalnya Abu tertawa dengan gaya remaja tahun 1980-an yang ditampilkan. Betapa abang-kakak SMA di video tersebut terlihat sangat dewasa dibandingkan generasi hari ini. Apalagi adegan dimana Obie Messakh sedang menanti kekasihnya di toilet sekolah. Apakah dia tidak terlalu tua untuk berperan sebagai anak sekolah yang berumur 17-18 tahun? Tapi sejenak komedi tersebut menjadi sangat melankolis ketika fragmen-fragmen masa kecil Abu membanjiri otak Abu. Batin menyimpan ingatan (juga) ternyata. Abu teringat almarhum ayah, karib kerabat di pesisir barat Aceh yang telah tiada terutama karena diterjang tsunami tahun 2004. Dan yang paling Abu kenang adalah kesalahan- kesalahan yang pernah di buat pada masa lalu. Betapa Abu (selalu) menjadi seseorang yang terlambat untuk belajar.

Begini kira-kira, cara pandang manusia dipengaruhi oleh subjektivitas manusia itu sendiri, dengan cara pandang seperti itu ketika mendonggak langit dan melihat bulan bisa terlihat lebih besar atau lebih kecil. Tahun 1988, keuangan keluarga kami sedang tidak baik. Ayah baru dimutasi ke Meulaboh, biaya hidup membuat kami harus menjual pickup Chevrolet dengan harga Rp. 800.000,- Anggaplah hari ini harga mobil pickup pada tahun 2023 adalah Rp. 60.000.000,- maka nilai uang Rp. 7000,- di tahun 1988 mungkin sama dengan Rp. 525.000,- hari ini. Betapa banyaknya! Mengingat itu, Abu merasa semacam rasa malu ketika duduk menulis seakan betapa egois dan keras kepala, kekanakan diri ini. Kecerdasan manusia tidak bisa dipaksakan kepada seseorang ketika belum saatnya (dia) tiba, begitulah Abu pada masa itu.

Seiring waktu Abu bekerja dan memperoleh penghasilan. Entah kenapa Abu menyukai mainan mobil-mobilan dan kerap menyisihkan sedikit gaji untuk memenuhi hasrat tersebut. Suka memberi hadiah kepada keponakan berupa mainan, mungkin adalah sebuah hasrat dari masa kecil yang belum pernah tercapai utuh. Atau mungkin bisa jadi hanya sebuah dendam kekuasaan yang berbeda rupa, yaitu dendam kemiskinan. Sampai pada suatu malam, sendirian di perantauan dan mengalami demam Abu bertanya kepada diri sendiri. Kapan ini semua akan berakhir? Atau mungkin tidak pernah berakhir.

Sebagai seseorang yang pernah mengalami kekurangan seharusnya Abu tahu kekayaan kemiskinan, hanya (mereka) yang pernah menderita yang tahu kekayaan penderitaan. Bahwa ada hasrat-hasrat yang tak tercapai sesungguhnya baik bagi jiwa, seharap apapun kita padanya. Ada nilai yang agung dan substansial dari menahan keinginan. Sebuah moral yang memberikan ketenangan kepada kita ketika berhadapan dengan orang lain, begitupun ketika orang lain berhadapan dengan kita. Ada perasaan aman, semua manusia pasti senang berhadapan dengan orang yang santun dan baik. Sesuatu hal yang membuat kita percaya bahwa tiap-tiap manusia pasti memiliki kebaikan dalam dirinya.

Ketika Abu merenungi (dalam-dalam)  uang, nilai, dan jabatan adalah hal yang bisa jadi mudah ataupun sulit didapatkan di dunia. Tapi yang paling  sulit adalah ketika kita harus menjawab  pertanyaan. Apakah  yang sudah  kamu lakukan di dunia?

Dalam setiap tafakur, niscaya terdapat rasa syukur. Ini adalah hari dimana Abu merasa selaku manusia tidak memiliki alasan yang menyatakan Allah tidak mencintai kita, hamba-Nya yang penuh salah dan lupa ini.

Langsa, 00:39 WIB, 5 Januari 2023

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

GELAS KEHIDUPAN

Hidup ibarat filem dimana kamu tokoh utamanya. Tapi kamu harus siap juga jika menjadi cameo dalam filemnya orang lain.

GELAS KEHIDUPAN

Sepasang suami istri duduk di sebuah taman kota, masing-masing membawa satu gelas plastik jus alpukat, terdistorsi oleh sebuah momen jus sang istri jatuh. Si suami berusaha sigap menangkap dan gagal. Mereka tertawa kemudian berbagi segelas jus yang tersisa. Perasaan dua orang itu apakah cinta?

Cinta kita sering mendengar namanya, tanpa pernah tahu apa defenisi sebenarnya, tetapi barang siapa yang memiliki hati pasti akan mampu merasakan cinta. Sebagaimana barang siapa yang merasakan pahitnya kerinduan pasti memahami bagaimana hangatnya pertemuan.

Hidup ibarat filem dimana kamu tokoh utamanya. Tapi kamu harus siap juga jika menjadi cameo dalam filemnya orang lain.

Sambil berlari pelan berkeliling lapangan, menyaksikan kejadian tersebut terpikir bahwa hidup ini adalah ibarat sebuah tayangan filem dimana kamu adalah tokoh utamanya. Ada banyak tokoh-tokoh lain maupun filem-filem lain yang bersinggungan, yang mana kamu harus siap menjadi cameo dalam filemnya orang lain, atau mungkin merupakan peran antagonis yang bengis bagi mereka.

Kita semua manusia rentan terhadap kesalahan, acapkali melupakan. Atau memiliki persepsi tentang sebuah kebenaran yang pihak lain melihatnya sebagai kejahiliyahan. Penting juga membuka persepsi dan tidak membatasi informasi hanya pada satu sumber, manusia diberikan akal. Logika adalah sebuah pelatihan tentang seni berpikir, menganalisa dan jika diterapkan dengan benar maka logika bisa mengatasi kurangnya kebijaksanaan, yang hanya bisa diperoleh melalui usia dan pengalaman.

Ketika layar filem kehidupan terkembang, pengusahaan, pendayagunaan, penghisapan, pemerasan adalah hal-hal yang kita lihat. Hidup memang tidak adil, namun keadilan dunia malah ditampakkan dengan kasat mata dengan ketidakadilan tersebut. Karena keadilan hakiki tentu hanya ada dihari pembalasan. Bagi mereka yang percaya pada keadilan Tuhan maka sesungguhnya dunia ini rapuh bagai jaring laba-laba.

Tanpa akal dan akhlak manusia bagai binatang purba yang merindukan pergelutan berdarah-darah, pertarungan dalam rimba untuk menghancurkan pelipis musuh. Ibarat sebuah panggung kita semua adalah pemeran utama dari kehidupan kita. Hidup yang hanya satu kali saja, tapi ini bukan cerita Hollywood yang bisa dibuat sekuel, atau diulangi lagi. Nikmatilah segala lelucon, kesedihan ataupun kegembiraan dengan sebaik-baiknya hidup.

Beratnya perpisahan adalah sebuah kenyataan bahwa manusia sebagai makhluk tidak punya kemampuan hadir di dua tempat dalam waktu bersamaan, sebuah klausul yang berakibat bahwa ia tak mampu mengerjakan dua pekerjaan atau pemikiran sekaligus. Semua harus runut dalam waktu.

Pada akhirnya seiring berjalannya umur, seharusnya kita menyadari bahwa kehidupan bukan cerita untuk menyalurkan kehebatan, melainkan adalah kisah tentang bagaimana mengendalikan hawa nafsu. Setiap pertemuan pasti akan membawa hikmah. Bertemu dengan mereka yang baik akan memberimu kebahagiaan, mereka yang buruk dan atau jahat akan memberimu pelajaran tentang kehidupan. Akan tetapi bertemu orang-orang yang terbaik akan memberimu kenangan. Masalahnya bersediakan kamu menjadi kenangan yang indah bagi orang lain?

Langsa, 16 Desember 2022

Beberapa renungan terdahulu:

  1. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  2. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  3. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  4. Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri; 3 April 2019;
  5. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  6. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  7. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  8. Sunyi; 19 Maret 2020;
  9. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  10. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  11. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
  12. Semerbak Aroma Angsana di Banda Aceh; 30 November 2020;
  13. Derita; 14 Juli 2021;
  14. Alamanak Akan Terus Berganti; 4 Januari 2022;
  15. Prosa Alam Gayo Lues; 12 Agustus 2022;
Posted in Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

MIMPI MIMPI PION

Mereka yang melupakan mimpi-mimpinya akan bangun dalam keadaan kalah

MIMPI MIMPI PION

Siapakah yang berperang mati-matian di Surabaya?

Pada sejarah kita akan menemukan nama para tokoh berjasa

Namun apakah proklamator akan memanggul senjata dan terjun dalam pertempuran berdarah-darah

Ketika rumah-rumah di Aceh di bakar

Siapakah yang mendirikan kembali di tempat itu, anak siapa?

Gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, siapakah para pekerjanya?

Bagaimana keadaan malam setelah monument nasional didirikan?

Kemanakah para buruh pergi? Di ibukota Jakarta

Penuh dengan bangunan-bangunan tinggi, siapakah pemilik tanah yang digusur. Bukankah yang mendapat pujian hanya istana dan para penghuninya

Ketika tsunami Aceh menerjang, pagi itu di sapu samudera. Laut menangisi orang biasa yang pergi hari itu

Iskandar Muda pernah mengepung Malaka. Apakah dia pergi perang sendiri saja?

Raden Wijaya menghalau tentara Mongol dan mendirikan Majapahit

Apakah tidak ada tukang masak bersamanya?

Sultan Muhammad Daudsyah menangisi kerajaannya yang di invasi Belanda

Istana dibakar, tanah-tanah serta emas dijarah. Tapi apakah dia satu-satunya yang menderita di perang Aceh lawan Belanda

Ketika Sukarno dan Hatta membaca proklamasi siapa yang membuat teh untuk mereka?

Setiap halaman sejarah setiap kejayaan

Ada anak buah yang terkorban, apakah nama mereka disebut satu persatu

Terlalu banyak orang terlalu banyak cerita yang terlupakan

Apakah kacung-kacung ini pantas berharap kejayaan?

Maka lupakan azas kepatutan dan kepantasan yang disebut oleh pejabat yang tak pernah berkeringat dan berdaki itu

Mereka yang melupakan mimpi-mimpinya akan bangun dalam keadaan kalah

Bermimpilah meski itu adalah getirnya kenyataan

Langsa, 30 November 2022

Beberapa puisi terakhir:

  1. Penantian; 21 Februari 2018;
  2. Di Tepian Pantai Pulau Bunta; 6 Maret 2018;
  3. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  4. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  5. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  6. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  7. Jangan Mencintai Lautan; 4 April 2019;
  8. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  9. Peucut Kherkof Suatu Masa; 24 September 2019;
  10. Mengunci Malam; 1 April 2020;
  11. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  12. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  13. Jejak Langkah; 26 Desember 2020;
  14. Hati Resah Berkisah; 1 April 2021;
  15. Kopi Pahit Semalam; 11 Agustus 2021;
Posted in Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

OH MASA LALU TERNYATA SUNGGUH JAUH AKU BERJARAK DENGANMU

Pagi hari pada tanggal 8 Agustus 2008 di Masjid Pusong Lhokseumawe.

OH MASA LALU TERNYATA SUNGGUH JAUH AKU BERJARAK DENGANMU

Beberapa orang bertanya apakah kisah-kisah Abu adalah sebuah cerita yang murni fiksi ataukan diary dari pengalaman hidup Abu. Kehidupan nyata jarang sekali memiliki alur yang memuaskan sebagaimana sebuah cerita, rasa-rasanya kehidupan akan selalu menghasilkan akhir yang suram atau mungkin datar-datar saja. Tapi di sisi lain Abu tak menampik beberapa peristiwa dalam cerita hadir dari pengalaman hidup Abu sendiri yang telah diberi bumbu sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan atau hikmah. Maka jawaban pertanyaan dari orang-orang tersebut bahwa kisah Abu ini bukanlah murni cerita sekaligus kaffah sebuah diary.

Berbeda dengan Hollywood dimana filem yang sukses akan memiliki sekuel, hidup kita tak begitu hanya sekali lalu mati. Selayaknya dijalani dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Abu sejenak mencoba mengingat momen-momen emas dalam hidup, setiap hari bertambah dewasa kemudian dihisap oleh rutinitas betapa Abu menyadari bahwa tiap-tiap manusia sebagaimana diri sendiri bukanlah robot, kita memiliki rasa atas apa-apa yang telah kita lalui bersama waktu. Perubahan adalah syarat berjalannya waktu kita manusia harus siap menjadi bentuk terbaru dari dirinya setiap detik berjalan. Ketika menilik kebelakang seraya menghirup aroma kopi mix di depan laptop Abu mencoba mengingat dan bercerita tentang masa lalu.

Pertengahan tahun 1990. Hari itu adalah hari pertama Abu pergi ke sekolah, masuk Madrasah Ibtidaiyah (setingkat Sekolah Dasar) riuh suara anak-anak di antar orang tuanya sebentar lagi usai, kelas pertama di mulai. Menatap sendu Ibu yang mengantar ke pintu kelas. Ada perasaan gentar melihat teman-teman baru, ada yang membawa termos warna-warni dan beberapa anak perempuan mengenakan pita. Decit suara kapur pun di mulai dan bu guru membuka kelas dengan ramah. Sekolah adalah dunia yang sama sekali asing bagi Abu yang waktu itu berusia 6 tahun, biasanya di rumah (sebagai anak pertama) adalah raja dengan adik-adik sebagai punggawa. Di sekolah harus membaur dan rasanya Abu belum siap menuju samudera lepas ini. Abu mengintip keluar dan memastikan ibu masih menunggu diluar, Abu bertanya dalam hati bagaimana jika tali sepatu lepas? Abu belum belajar cara mengikatnya. Waktu berjalan sangat perlahan ketika tiba-tiba Abu mendapati ibu sudah tidak tampak lagi di jendela. Kegelisahan memuncak maka terjadilah! Abu menjerit sekuat tenaga menangis memanggil-manggil ibu sementara seisi kelas terkejut, dan semua pandangan mengarah kepada Abu, semakin tertekan Abu semakin keras menjerit. Akhirnya ibu kembali dan memeluk Abu. Akhirnya bu guru mengizinkan Abu pulang karena Abu terus meminta. Rasa takut kerap kali mengalahkan rasa malu, tak peduli Abu melangkah pergi tak sanggup menghadapi dunia sekolah. Mulai keesokan harinya Abu diberi kemudahan oleh guru untuk mengikuti pelajaran dengan didampingi Ibu, dan terjadilah momen paling cemen seumur hidup ketika belajar ibu menyuapkan es krim dan menyemangati untuk belajar. Ini adalah cuplikan adegan yang paling memalukan dalam hidup Abu, tapi di sisi lain membuat Abu merasa sangat dicintai oleh Ibu. Bahwa dalam keadaan paling memalukan sekalipun beliau selalu di sisi Abu.

Hari-hari sekolah pun berjalan dan Abu akhirnya belajar berteman dan menemukan sahabat-sahabat terbaik di madrasah. Mereka tidak pernah menyinggung kejadian menangis itu dan Abu sempat merasa semua lupa. Sampai di kelas 6 Abu dicalonkan menjadi ketua kelas dan dengan segala kharisma yang telah ada waktu itu Abu memenangkannya dengan mudah. Seorang gadis manis, pujaan sekolah mendatangi Abu dan mengucapkan selamat, ia tersenyum dengan lesung pipi yang masih Abu ingat sampai sekarang kemudian berkata. “Tidak disangka ya Abu dulunya anak yang menangis ketika masuk sekolah sekarang bisa menjadi ketua kelas.” Sebuah belati tajam menusuk ulu hati Abu kemudian melirik kawan-kawan tim sukses, mereka ada yang menunduk, bersiul atau memberikan jempol ke Abu. Kalian memang sahabat-sahabat terbaik. Belum pernah dalam hidup Abu mendapatkan bintang terang di mata gadis-gadis sekolah seperti ini, kalian sungguh luar biasa. Abu tersenyum rasa dingin di hati berubah menjadi hangat dan mata Abu berkaca-kaca, sial! Dengan sigap Abu mengucapkan terima kasih dan percakapan kami berhenti disitu. Abu tidak berpengalaman berbicara dengan perempuan, apapun itu jika itu bukan keahlianmu maka hindari.

Abu selain memiliki sikap yang ekspresif juga memiliki ingatan yang tajam terhadap masa lalu. Hal ini diamini oleh Ibu Abu tapi dengan catatan bahwa Abu hanya melupakan kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat tapi tidak pernah melupakan kesalahan orang lain, dan itu mengesalkan katanya. Otak merekam peristiwa kemudian ketika kita mengaksesnya kembali telah berubah menjadi informasi. Kendalanya kita tidak bisa memilih apa yang kita ingat dan apa yang kita lupakan. Pernah ada kejadian Abu bertemu dengan seorang teman SMA baru-baru ini dan dia mengungkapkan bahwa dia dulu membenci Abu karena pernah berkata buruk untuknya. Mukanya jelek, orangnya dekil dan sebagainya. Abu mencoba mengingat dan telah melupakan kejadian waktu SMA itu, tapi Abu menyadari kekurangan tersebut dan meminta maaf seraya menambahkan apa kira-kira perbuatan yang bisa Abu lakukan untuk menebus kesalahan tersebut. Ia menampik dan berkata sudah lega karena telah menyampaikan perasaannya, kami bersalaman dan tertawa. Sama-sama lega karena telah memperbaharui hubungan yang telah retak dulunya (dalam hal ini Abu tidak sadar).

Masa lalu bisa memalukan untuk diceritakan, sekaligus menjadi indah dalam kenangan. Ketika mengingat kesalahan-kesalahan yang pernah Abu buat sontak merasa malu. Kita semua pernah salah, syukur bagi mereka yang mendapat pengampunan, sedang ada juga yang dihakimi kesalahan-kesalahan muda yang seharusnya ditebus. Tapi juga tak seharusnya seorang koruptor selepas masa tahanan yang sedikit itu disambut dengan suka cita dan gegap gempita. Betapa mirisnya dan menurunnya kemampuan berpikir kualitas manusia provinsi ini. Akh, Abu merasa malu.

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Kisah-Kisah, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

SEJARAH TAK BERPIHAK KEPADA KITA

Peta Jalur sutra laut China

SEJARAH TAK BERPIHAK KEPADA KITA

Di suatu hari pada tahun 1345 Ibnu Batutah tiba di Guangzhou menggunakan kapal Kesultanan Samudera Pasai milik Sultan Malik az-Zahir. Bandar yang disebut “zaitun” oleh para pedagang muslim itu. Lebih mengejutkan ternyata banyak kapal berbendera Pasai berdagang disitu. Jung yang di miliki Pasai terlihat menonjol di perairan Yunan tersebut. Kemajuan dibidang teknik dan ekonomi wilayah pelosok Islam sebelah timur muslim ini sekejab membuat petualang merasa bangga. Hari ini adakah kapal Aceh yang berniaga ke Cina?

Tahun 1629. Kapal induk armada Kesultanan Aceh telah tiba di gerbang kota Malaka yang dikuasai Portugis. Kapal itu bernama Cakradonya dan orang-orang Portugis menyebutnya dengan nama “Espanto del Mundo” atau teror dunia. Seorang sejarawan Spanyol bernama Manuel Faria y Sousa (hidup rentang 1590-1649) menulis dalam sebuah buku berjudul “Asia Portuguesa” terbitan Lisbon dicetak tahun 1666 menceritakan setiap prajurit Portugis melihat kapal ini mereka berteriak dengan kekaguman. Dia mendeskripsikan bahwa Cakradonya memiliki panjang 200 hasta (sekitar 100 meter), memiliki tiga tiang layar dan dilengkapi 100 meriam baik sisi kiri maupun kanan. Ia menyebutkan betapa hebatnya, betapa kuatnya, betapa indahnya, betapa kayanya. Meski sering melihat benda-benda indah kami semua terpukau melihat yang satu ini (Kapal Cakradonya). Selain Cakradonya ada beberapa kapal nyaris sekelas sebagai pengiring yaitu Cakra Alam, Rijalul ‘Asyiqin, Nurul ‘Isyqi, Cari Lawan dan Naga Kentara. Sekarang semua itu telah musnah, kita tidak tahu jika bukan karena orang asing menulisnya, seperti Denys Lombard seorang sejarawan Perancis dalam buku berjudul “Kerajaan Aceh” diterbitkan oleh Gramedia dicetak pertama tahun 1986.  Hari ini adakah budaya maritim masih kita miliki?

Bukan sejarah tak berpihak pada kita, tapi sesungguhnya sejarah pernah menjadi milik kita. Jika seolah-olah bukan maka sebenarnya pemikiran telah dimanipulasi dengan tiga langkah:

  1. Identitas dihancurkan. Nama-nama orang terdahulu dicemarkan, makam-makam mereka diterlantarkan, sehingga merasa indatu adalah orang-orang yang pandir, menolak kemajuan dan hanya terfokus pada masa lalu.
  2. Penawaran kemungkinan untuk menyelamatkan diri. Untuk menjadi maju pilihannya adalah melebur menjadi sama dengan lainnya, menjadi baik dalam pandangan budaya luar. Ketika kita kehilangan identitas, akibatnya kehilangan jati diri, dan menghilangkan rasa gentar orang lain kepada kita. Tidak masalah bergaul dan membaur, tapi ketika kau terserabut dari akar maka tinggal menunggu angin kau akan terlempar.
  3. Identitas yang dibangun ulang. Seorang peneliti Belanda terkenal pernah berkata kita-kira, orang-orang Aceh zaman ini (1891) sudah tidak dapat diselamatkan dari peradaban (artinya selalu melawan penjajahan) maka tugas kita untuk menciptakan orang Aceh baru yang dapat menerima kemajuan (penjajahan). Putuskan akarnya sehingga mereka merasa malu akan leluhurnya.

Mengulang-ulang sejarah bukan berarti menangisi masa lalu yang indah dan (sedang) tak terulang kembali. Bukan juga untuk menyesali, menggerutu saja lalu untuk kemudian tidak berbuat apa-apa. Membaca sejarah masa lalu adalah untuk berpikir, merenung kemudian memiliki pijakan filosofis ketika bertindak. Menjadi api yang menerangi jiwa dan raga, sehingga tak akan pernah lupa siapa kita adanya.

Beberapa opini terdahulu:

Posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

PROSA ALAM GAYO LUES

Puncak Ise-Ise Gayo Lues Pertengahan tahun 2022

PROSA ALAM GAYO LUES

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan melewatkanku.” Umar bin Khattab.

Puncak Ise-Ise, Gayo Lues tengah tahun 2022. Hari masih pagi, kabut mengantung di depan, di antara pepohonan di bawah dan melayang atas tepi-tepi jurang yang hijau. Disana, dalam jam-jam tenang dan sejuk setelah sang fajar naik sepenggalah, hujan rintik-rintik sudah sedari tadi menyiram pelan-pelan. Sejauh pandang mata yang dapat dituju, yang terlihat adalah bayang-bayang berkabut. Ada kenyerian datang melintas bersama terpaan angin dingin berhembus. Sementara itu, batang-batang pohon tusam seakan gemetar oleh suara gaung suara yang mengigilkan jantung, kian rapat mengurung dalam cengkraman perasaan yang begitu cemas. Asam di lambung naik dan turun menggapai tenggorokan. Tubuh terasa goyang oleh goncangan yang begitu kuat menghentak, keras mencengkram. Di balik kungkungan awan, ada berlapis-lapis gunung terjal, di sambung lagi dengan gunung terjal lainnya. Di bawah sana, tampak dunia seolah dari zaman yang telah lampau.

Sewaktu kecil sering berkhayal, dunia macam apa yang ada di balik awan. Di sini terjawab, titik-tik air ada di seluruh penjuru, merayap perlahan tak beraturan. Buku-buku sejarah membawa berfantasi. Pada Rabu, 18 Mei 1904, pukul sepuluh pagi, penduduk Desa Tampeng (kemungkinan Desa Tampeng atau Tampeng Musara Kecamatan Kutapanjang Kabupaten Gayo Lues), dikejutkan oleh gelegar tembakan-tembakan, lagu-lagu perjuangan serta teriakan-teriakan dalam bahasa Belanda maupun Melayu dan yang paling mengerikan adalah erangan orang-orang ditebas pedang atau kelewang membacok siapapun yang ada di depan mereka. Sejarah menulis di hari itu[1] bahwa Tampeng sebuah desa kecil yang tak terlalu berarti bagi kekuatan kolonial di dataran tinggi Gayo (Dekat Blangkejeren sekarang) seluruh penduduknya yang tidak sampai 200 orang, kebanyakan petani dibantai oleh pasukan marsose. Sumber lokal mencatat ada 125 laki-laki, 47 perempuan dan 3 orang anak-anak terbunuh. Penaklukkan Gayo tahun 1904[2] adalah ekspedisi penjelajahan paling berdarah dalam sejarah Belanda. Penyerangan itu hanya beberapa bulan saja, dan selama pertempuran biasanya berlangsung sepihak, hampir tidak ada korban di pihak Belanda, kemenangan hanyalah formalitas belaka. Letnan Kempes menceritakan, “di mana-mana di tempat yang kami datangi, orang-orang berjuang sampai titik darah penghabisan. Kegigihan mereka dalam membela diri sangatlah luar biasa. Bahkan perempuan dan anak-anak ikut berperang, demi keselamatan diri, kami sering terpaksa meneruskan pertempuran itu sampai benar-benar tidak ada nyawa yang tersisa lagi.”[3]

Kekejaman Belanda di Kampong Likat Tanah Gayo, anak-anak dan perempuan juga di bantai oleh tentara Belanda pimpinan Van Daalen. Perang Aceh (1873-1904)

Sebelum tahun 1904 Belanda tidak pernah menjejakkan kaki ke wilayah Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Ketika itu, wilayah ini tidak dihuni orang-orang Aceh, tetapi orang Gayo dan Alas dengan bahasa dan budaya sendiri, namun segera Belanda menyadari sebagaimana orang-orang Aceh yang hidup di pesisir mereka juga membenci Belanda. Tampeng sebagaimana banyak desa di Gayo dan Alas menghilang tanpa bekas akibat ekspedisi Belanda. Bahkan di tahun 2022 (118 tahun kemudian) desa ini penduduknya masih jarang, yang terlihat hanyalah hamparan ladang-ladang kosong terlihat seperti desa mati bahkan beberapa warung di puncak juga tidak dapat mengubah keadaan itu.

Syahdan Panglima tertinggi pasukan Belanda ketika itu, Letnan Jenderal G.C,E. van Daaleen Van[4] mengumpulkan semua tetua Gayo yang masih hidup berpidato. “Inilah akibat kalian membantu Aceh dalam perang melawan kami (Belanda). Lihatlah ketika kalian dibantai dan dihinakan! Adakah mereka membantu kalian?”[5] Sebuah pembenaran atas tindakan kejahatan dipenuhi oleh nafsu kolonialisme. Setelah benteng terakhir Batee Iliek jatuh (tahun 1901), dimana seluruh hampir seluruh pasukan Aceh telah terbunuh. Praktis tidak memiliki tenaga lagi dalam perang panjang menghadapi Belanda, jangankan melindungi Gayo segenap pesisir telah jatuh ke tangan Belanda. Saat itu pedalaman Gayo dan Alas satu-satunya wilayah merdeka yang belum terjamah Belanda kesanalah Sultan terakhir Muhammad Daudsyah mengungsi sebelum akhirnya ditangkap Belanda.[6] Adu domba merupakan jalan paling murah yang harus dibayar oleh kolonialisme Belanda untuk menaklukkan bangsa-bangsa di Nusantara, berbagai prasangka antar daerah yang diwariskan oleh mereka. Sayangnya itu semua masih hidup di antara kita. Dan ternyata kolonialisme masih meninggal jejaknya meski ia telah lama angkat kaki dari negeri ini.

Tiap-tiap orang memiliki sejarahnya masing-masing, hal itu akan membawa hipotesa ketika menghadapi hal yang baru. Meski begitu besok adalah cerita yang berbeda, besok juga adalah hal yang berbeda. Hanya ingin kesempatan untuk membuat hal-hal yang lebih baik, jika selamat dari tikungan itu, hari ini. Dan dapat menambah hidup satu hari lagi.

Sesungguhnya dunia ini rapuh bagai jaring laba-laba semuanya akan menuju kematian.

Referensi
[1] https://tengkuputeh.com/2017/12/08/korps-marsose-serdadu-pribumi/ diakses 14 Juli 2022.
[2] https://tengkuputeh.com/2017/08/10/penaklukkan-gayo/ diakses 14 Juli 2022.
[3] https://tengkuputeh.com/2021/04/09/kenapa-sultan-aceh-menyerah/ diakses 14 Juli 2022.
[4] Kempess, J. De tocht van overste van Daaleen door de Gajo-,Alas-en Bataklanden. Delmeijer, 1905.
[5] https://tengkuputeh.com/2017/08/10/penaklukkan-gayo/ diakses 14 Juli 2022.
[6] Kempess, J. De tocht van overste van Daaleen door de Gajo-,Alas-en Bataklanden. Delmeijer, 1905.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  2. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  3. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  4. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  5. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  6. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  7. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  8. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  9. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  10. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  11. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  12. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  13. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  14. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  15. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  16. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  17. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  18. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  19. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  20. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  21. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  22. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  23. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  24. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  25. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  26. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  27. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  28. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  29. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  30. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  31. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  32. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  33. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  34. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  35. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  36. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  37. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  38. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  39. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  40. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  41. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  42. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  43. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  44. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  45. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  46. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  47. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  48. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  49. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  50. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  51. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
  52. KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA; 9 APRIL 2021;
  53. HIKAYAT MEURAH SILU; 8 JUNI 2021;
  54. SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR; 29 JUNI 2021;
  55. RAJA DEKAT TUHAN JAUH; 3 AGUSTUS 2021;
  56. BERZIARAH KE MESJID ASAL PENAMPAAN DI BLANGKEJEREN GAYO LUES; 17 AGUSTUS 2021;
  57. KISAH-KISAH DI BLANG; 22 NOVEMBER 2021;
  58. ORIDA (OEANG REPUBLIK INDONESIA) ACEH 1947-1949; 14 JANUARI 2022;
  59. ACEH YANG DILUPAKAN; 29 MARET 2022;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

KING NEAR GOD AWAY

Pinto Khop bagian dari taman Putroe Phang. Sebuah persembahan cinta dari Sultan Iskandar Muda kepada istrinya Putri Pahang

Pinto Khop is part of Putroe Phang park. A love offering from Sultan Iskandar Muda to his wife Putri Pahang.

KING NEAR GOD AWAY

“History is long, thousands of years and longer, and thousands of interpretations are written!”

Syahbudin and Syahmiun are descendants of the kings of Mante who once ruled hundreds of years ago in Seumileuk, the dynasty of the twelve houses. They don’t know the location anymore, either near Jantho or Seulimum. The change of kings, the arrival of the Campa, Arabs, Indians, and Persians until the war brought them down to become cattle herders. At first, they were herding in the Seulimum area until finally, they were leumo1) its meurot2) without permission from the local people’s plants, cow dung made the atmosphere of the Keunalo village warm, they also moved the shepherding area to the Cot Hundred mountains.

Even though they were nobles who had fallen to commoners, they were happy. Because the new Sultan who came to power in the near future had just eradicated the old nobles and replaced them with new rich people. These newly rich aristocrats were also afraid that one day the Sultan would be sacked if they didn’t please him.

“Cigarettes din!”

“Smoke un!”

In the shepherd’s hut, they laughed and ridiculed the king to their heart’s content, about the king’s farts being said to smell like khob3) due to too much “eating” of meat. No one heard them frolic in the middle of the savanna, a field without walls, so the saying that walls have ears for rulers does not apply. They were the two freest people in the entire land, even the crown prince if he knew would be envious of these two chums.

The Cot Hundred mountain area on the slopes is barren and rocky so it is not suitable for actual farming, one-day Lilawangsa son of Lamuri came from Lampanah, and he plans to open an orange grove there. Syahbudin and Syahmiun don’t understand the citrus problem, so it’s just a Hana Masalah4) Lilawangsa is farming near them.

Unlike a friend from the Mante tribe who is lazy to take a bath, carelessly and always khem dog5). Lilawangsa is serious and talkative. Often he heard the jokes of Syahbudin and Syahmiun but did not laugh.

Lilawangsa’s lack of sense of humor made Lilawangsa easily offended, such as when she brought news from Bandar that the Sultan had made a magnificent bath for the new empress of the Pahang kingdom, and even built a pinto khop6) from white concrete on the bank of the river so that not just anyone could enter. , those who enter must bow their heads because the door is designed with a size that is not high. Syahbudin and Syahmiun said that the Sultan was a pervert, so they made him happy by making a garden of passion for Princess Pahang with the aim of getting “bottom door” services from the princess.

Lilawangsa, the son of Lamuri, had a passion for serving the kingdom, so he was annoyed when Syahbudin and Syahmiun cursed the lord of the country. He did not dare with the two powerful mante children, one of their strengths was being able to talk to animals, the tigers around the Cot Hundred mountains did not dare to disturb their livestock. Oftentimes, Lilawangsa sees stray tigers in the area with “lake meuah” reverence for them.

One day Lilawangsa came home from Bandar selling citrus crops, she heard the Sultan was planning to attack Malacca to liberate the peninsula from the Portuguese, this was a golden opportunity to change fate when he invited Syahbudin and Syahmiun to register as soldiers. They refused, lazy they said, after all, we love peace, “gatai asoe” the two added.

When the royal talent scouts arrived at the Hundred Cot and invited them to join the army. Lilawangsa immediately joined and left his orange field, while Syahbudin and Syahmiun were peubangai droe7), seeing their friends joining them they said, “like gob mupakee bek gata pawang, bek gob muprang bek gata panglima!” Feeling insulted Lilawangsa intends to take revenge.

“Hana buet mita buet, cok cilet like pruet.”

Lilawangsa joined the army, his high spirits made him count. He was even appointed gunner for the royal carrier, named Cakradonya, the Portuguese named it “World Terror” because it was equipped with 200 meriam bunthok8) and had a hull of about 200 meters long.

When the Sultan made a check visit he dared to speak, “Your Majesty in the mountains of Cot Hundred there are two magic people who will make it easier for us to win the war, but they do not want to join the army.”

“Who are they?” asked the Sultan.

“Two very strong Mante people, but my advice is not to fight them because 200 soldiers will surely perish against them, by threatening to burn their village in Keunalo, if they don’t, also threaten their livestock (poh matee9).”

“Good idea, tomorrow take 10 soldiers there and invite him to join.” Order of the Sultan.

“It’s good I didn’t come because they recognized me, Your Majesty, please point to someone else I will draw a map of the location and give their characteristics.” Lilawangsa’s suggestion.

“Okay!” Sultan said.

A Frenchman who was doing good deeds in the kingdom listened to the conversation, he was silent. That night he met Lilawangsa asking why he gave it to the Sultan, wasn’t that good, and violated God’s command.

Lilawangsa replied nonchalantly, “King Near God Far!” The Frenchman, named de Beaulieu, recorded Lilawangsa’s words, later this sentence would appear in the memoirs of his trip to Aceh, rewritten by Denys Lombard in a book entitled “The Kingdom of Aceh at the Age of Sultan Iskandar Muda.”

The next day the soldiers came to Syahbudin and Syahmiun who were peutupat rung10) at the shepherd’s hut. They were immediately taken aback when the troops looked unfriendly and threatening. “You join the army or we shoot the cows!”

Syahmiun stepped up and wanted to finish off the soldiers but was restrained by a calmer Syahbudin who said, “Why are you officials like this? Isn’t this what God forbids?”

The commander answered straightforwardly, “King Near God Far!”

So the knees of the two mante children went weak, looking sadly at their jambo11) for the last time. They were forced to join forces with Aceh Darussalam soldiers to free Malacca.

Syahbudin encouraged his friend Syahmiun as well as his heart by whispering, “all our life we ​​are lazy to pray, maybe the war against infidels is God’s way of purifying our sins.”

Miun nodded slowly as she grumbled, “A king who has ambitions to make the people ache in the back!”

Syahbudin, “the country is having a hard time being patient.”

They giggled, and jokes would feel close to them, invoking feelings of emotion, pride and happiness intimately when the time was too short of cursing or crying over fate.

XXX

The attack on Malacca (Portuguese) by the Sultanate of Aceh Darussalam in 1629

The Aceh fleet invaded the city of Malacca (Portuguese), and Syahbudin and Syahmiun entered the Pok Sumpon12) company under the command of Sheikh Syamsuddin As-Sumatrani at the forefront. They were the first Acehnese troops to land in Semananjung.

Syahbudin and Syahmiun were very vicious, countless Cristiano Ronaldo, Manuel Rui Costa, and the like died at the hands of our two beloved uncles even though they rarely bathed. The city of Malacca has been besieged, only half of the breath is occupied by the Formosan fortress. Malay lands in the near future will be liberated from al-kafirun.

Unfortunate can’t be denied, and profit can’t be achieved, suddenly the Portuguese aid fleet from Goa (India) appeared in the Malacca Strait, and the balance of power occurred at sea. Meanwhile, from the mainland, the Johor troops who promised to be Aceh’s allies actually helped the enemy. The Aceh ships caught fire, and the Sultan ordered the Aceh fleet to turn right to prevent more serious damage.

“Hey kapai! Pakon neutinggai kamoe?”

Meanwhile, in front of the fort of Malacca, the Aceh army company which had continued to descend ashore was left behind! One by one, Aceh’s friends died, until finally three people remained; Sheikh Syamsuddin As-Sumatrani, Syahbudin and Syahmiun. They were completely surrounded. Syahbudin and Syahmiun’s supernatural powers made them ineffective with swords and bullets, and the knowledge of iron magic, but this immunity did not reduce the pain of being hit by bullets.

“Wow! Wadidaw! Wowwww!” They hugged Sheikh Syamsuddin who was not immune while screaming in pain loudly and clearly, without a buzzing sound. According to makhraj experts, their pronunciation at that time was Izhar Halqi.

The three of them were cornered in Ketek Village, Malacca City. While crying, Syahmiun said to the Sheikh, “we can’t take it anymore, this pain is unbearable. Let us take away our amulets syech!” While Syahbudin grimaced in pain looking at Sheikh Syamsuddin asking for approval. He nodded.

“Bismillahirahmanirrahim.”After saying the words of monotheism that magnify the name of Allah, the two of them simultaneously pulled out their talisman bracelets. So the two sons of the cowherd mante who were full of heresy and khufarat returned to the great ruler of the universe, together with Sheikh Syamsuddin bin Abdullah As-Sumatrani, a great Acehnese cleric before death picked them up and recited solemnly. “Ashhadu an-laa ilaaha illallaah Wa ashhadu anna Muhammadan rasuulullaah.” I bear witness that there is no god but Allah and I bear witness that Muhammad is Allah’s messenger (messenger).

XXX

The attack on the Sultanate of Aceh Darussalam to Malacca (Portuguese) in 1629 failed miserably. According to Portuguese sources, the entire Acehnese fleet was destroyed with the loss of 19,000 soldiers. After the defeat, Sultan Iskandar Muda sent two other major sea expeditions. In the years 1630-1631 and 1634, to crush the rebellion in Pahang. At the time of Sultan Iskandar Muda, the Sultanate of Aceh Darussalam controlled the entire northern region of the island of Sumatra and the northern region of the Malay Peninsula. On the expedition, Lilawangsa became the warlord who was most feared by his ferocity, nicknamed Maharaja Lilawangsa. His name would later be known in Malay as Rampling.

XXX

Translation index:

  1. leumo1)= ox (Acehnese);
  2. meurot2)= livestock eat other people’s plants without permission (Acehnese);
  3. khob3) =wet dung (Acehnese);
  4. hana masalah4) =No Problem (Acehnese);
  5. khem dok5) = Laugh out loud (Acehnese);
  6. pinto khob6) =Lower door (Acehnese);
  7. peubagai droe7) =Pretending to be a stupid human (Acehnese);
  8. meriam bunthok8) = big cannon (Acehnese);
  9. poh matee9) =Kill (Acehnese);
  10. peutupat rung10) =Relax and sleep (Acehnese);
  11. jambo11) = Small cottage (Acehnese);
  12. Pok Sumpon12)  =Keep moving forward and never give up (Acehnese);

XXX

Translate from: RAJA DEKAT TUHAN JAUH

More stories:
  1. THE RIVERMAN; 18 July 2017;
  2. OH MAN, I COMPLETELY DON’T KNOW YOU; 23 July 2017;
  3. AFTER THE REVOLUTION ENDED; 28 July 2017;
  4. AN UNCLE’S STORY ABOUT THE BUTTERFLY EFFECT; 11 August 2017;
  5. FRIENDSHIP BETWEEN GOATS AND WOLVES; 29 October 2017;
  6. A NOTE FROM A LOSER; 10 November 2017;
  7. HARLEQUIN AND THE TREE OF HOPE; 13 November 2017;
  8. NOTHING; 18 November 2017;
  9. TESTAMENT FROM HANG TUAH; 25 November 2017;
  10. FOR ONE WEEK IN LOVE; 27 November 2017;
  11. INTERVIEW WITH THE DEVIL; 17 January 2018;
  12. THE BEAUTY OF THE MOON; 21 January 2018;
  13. ADIOS ANDALUCIA; 13 March 2018;
  14. THE STORY OF A SMALL COUNTRY AGAINST AMERICAN CAPITALISM; 18 April 2022;
  15. ODE OF AN EAGLE; 7 June 2022
Posted in Fiction, History | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

ODE OF AN EAGLE

Organizations can be dissolved, and people can be killed but the ideology remains in the human brain.

ODE OF AN EAGLE

Your eyes are sharp, piercing the sky. Your wings are swaying the eagle, where are the feathers? Your claws are dull, aren’t they? O eagle, try to look at the mega-mega twilight there. Its mauve color is slicing for your unflipped wings.

Eagle how do you feel about your chained feet? You are mute. There is no bulging chest. Now you are just a pawn of the kings. You have forgotten the joy of flying. Eagle do you know? Out there your nation is threatened with extinction.

Eagle, king of birds. Your legend is vague now. Your self-worth has been torn apart by time. Take you to this cage. Your beak forgets the fresh blood of your prey alive. Now, only human compassion is the source of your livelihood.

Oh, eagle. How long have you been here? Keep away from your natural habitat. Enjoy the top of the food chain in a green mountain ecosystem. Eagle, life is a story about prey, right?

Your eyes don’t know tears, right? But why does it look so sad to me? Every day only able to look up without being able to fly. Very annoying. It sure is sad to spend time expecting that day to come back.

Your longing floats freely under the inexpressible sunlight. Your expectations are no longer understood by most of us. The sad feeling you have is waiting to die in a cage. Let me tell them all. In the ode of an eagle.

Translate from: Ode Seekor Elang

More stories:

  1. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  2. THE RIVERMAN; 18 July 2017;
  3. OH MAN, I COMPLETELY DON’T KNOW YOU; 23 July 2017;
  4. AFTER THE REVOLUTION ENDED; 28 July 2017;
  5. AN UNCLE’S STORY ABOUT THE BUTTERFLY EFFECT; 11 August 2017;
  6. FRIENDSHIP BETWEEN GOATS AND WOLVES; 29 October 2017;
  7. A NOTE FROM A LOSER; 10 November 2017;
  8. HARLEQUIN AND THE TREE OF HOPE; 13 November 2017;
  9. NOTHING; 18 November 2017;
  10. TESTAMENT FROM HANG TUAH; 25 November 2017;
  11. FOR ONE WEEK IN LOVE; 27 November 2017;
  12. INTERVIEW WITH THE DEVIL; 17 January 2018;
  13. THE BEAUTY OF THE MOON; 21 January 2018;
  14. ADIOS ANDALUCIA; 13 March 2018;
  15. THE STORY OF A SMALL COUNTRY AGAINST AMERICAN CAPITALISM; 18 April 2022;
Posted in Fiction, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment