Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Al-Lawati Ath-Thanji, Abu Abdullah, Ibnu Battuta, seorang pelancong, dan ahli sejarah. Lahir dan tumbuh remaja di Tangier tahun 1304 M. Pada tahun 1325 M ia meninggalkan negerinya,  dari Maroko, Mesir, Syam, Hijaz, Irak, Persia, Yaman, Bahrain, Turkistan, Transoxania, sebagian India, Cina, Pasai (Nusantara), Tartar dan Asia Tengah. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan banyak raja dan amir.

KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI

Rihlah ibnu Battuta

Pada awal abad ke-14 Masehi, seorang ulama, penjelajah, sosok musafir muslim dan seorang ahli hukum, tersohor sebagai petualang terbesar zaman pra-modern. Dalam kisah petualangannya yang mencekam dan luar biasa, ia sampai ke Samudera Pasai. Ia menulis: “Sultan Jawa (Samudera), al-Malik az-Zahir adalah penguasa yang paling hebat dan terkemuka, juga pecinta ulama. Meskipun baginda tak henti-hentinya berperang dan merayah demi agama, ia adalah seorang rendah hati, yang selalu berjalan kaki pergi ke masjid untuk shalat Jumat.

Peta perjalanan Ibnu Battuta melintasi Pasai (Nusantara) menuju Cina.

Pada hari keempat (Ibnu Battuta berada di Samudera) yaitu hari Jumat, amir Dawlasa datang kepada saya dan berkata, “Tuan dapat memberi penghormatan kepada Sultan di serambi kerajaan di masjid, sehabis shalat”. Setelah shalat, saya menemui Sultan; baginda menjabat tangan saya dan saya memberi hormat kepadanya; setelah itu baginda menyuruh saya duduk di sebelah kirinya, dan ia pun bertanya tentang Sultan Muhammad dan tentang perjalanan saya.

Baginda tetap berada di masjid sampai selesai shalat ashar, kemudian baginda pindah ke sebuah bilik, membuka baju yang dipakainya (yaitu jubah yang biasa dipakai oleh para ulama dan selalu dipakai Sultan setiap kali baginda datang ke masjid untuk shalat jumat), dan mengenakan jubah kebesarannya, yaitu mantel dari sutera dan katun.

Sewaktu ia meninggalkan masjid, gajah dan kuda telah menanti di pinyu gerbang. Adat kebiasaan mereka ialah kalau Sultan naik gajah, maka para pendampingnya naik kuda atau sebaliknya. Pada waktu itu baginda naik gajah, maka kami pun menunggang kuda dan pergi dengan baginda ke majelis persidangan”.

Jalur Sutera (laut dan Dararatan) sebagai alur perdagangan kuno antarbangsa

Ibnu Battuta berada di Kesultanan Samudera Pasai selama dua minggu. Pada salah satu inskripsi yang ternukil pada batu nisan di kompleks pemakaman raja-raja Pasai, yang tertulis dalam bahasa Arab, dikatakan bahwa: “Kubur ini kepunyaan yang mulia Sultan Malik az-Zahir, cahaya dunia dan sinar agama Muhammad bin Malik al Shalih, yang wafat pada malam Ahad, dua belas bulan Zhulhijjah tahun 726”. Jadi, raja yang bertemu dengan Ibnu Battuta adalah Sultan Samudera yang kedua, hal ini diperkuat oleh sumber tertulis lain, seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu. Makam Malik az-Zahir sendiri terdapat di sebelah makam ayahnya, Malikul Saleh, sang pendiri dinasti Samudera Pasai.

Dunia sejarah sangat beruntung dengan terdapatnya inskripsi pada makam Sultan Malikkussaleh (Sebelah Kanan) dan Sultan Malik Az-Zahir (Sebelah kiri) genealoginya. Sultan Malik Az-Zahir adalah raja yang memerintah di kerajaan Samudera Pasai ketika Ibnu Battuta berkunjung. Selain catatan perjalanan dari Ibnu Battuta, dari tulisan yang tertera itu dapat diketahui berapa umur agama Islam telah masuk ke Nusantara.

Sejarah Melayu, yang ditulis pada abad ke-16 Masehi, yang menurut tradisi ditulis oleh Tun Sri Lanang, pujangga dari kesultanan Johor, juga memberitakan tentang Sultan Malaka yang senang berdiskusi tentang agama. Sumber-sumber lain pun berkisah  tentang hal yang sama dilakukan oleh Sultan di Kesultanan lainnya.

Menarik dicatat bahwa pada masa awal berdirinya Kesultanan Islam di Aceh khususnya, bahkan dunia Melayu pada umumnya, bahwa Sultan berkuasa hanya atas konsolidasi kekuasaan, tetapi juga, dan bahkan lebih penting, keterlibatan sang raja dalam pengembangan ilmu keagamaan serta penyebaran kesadaran kosmopolitanisme kutural Islam.

Dalam Rihlah Ibnu Battuta bersaksi, “Aku mendapati bahwa kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama berdiri di tanah Melayu. Ternyata, kerajaan Samudera Pasai telah mempunyai tamaddun (peradaban) dan hubungan luar negeri yang baik. Di sana aku tinggal 15 hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Cina.”

Samudera Pasai saat itu merupakan pos terluar yang paling akhir dari Dar-al-Islam, sekalipun kota-kota lain di selatan sepanjang pantai Sumatera telah mengembangkan pemukiman-pemukiman komersial dengan subur, tidak ada Negara muslim merdeka yang diketahui keberadaannya di manapun di sebelah timur kerajaan Samudera Pasai sebelum pertengahan abad ke-14 Masehi.

Laporan Ibnu Battuta tentang situasi kehidupan intelektual di istana Samudera Pasai, tentu tidak bisa dikesampingkan bila setiap kali membicarakan sejarah awal kehadiran Islam di Nusantara, maka patut jika hampir tidak ada karya akademis yang melupakan nama dan kesaksian Ibnu Battuta.

Buku yang dijadikan rujukan penulisan ini; 1. Petualangan Ibnu Battuta terjemahan dari The Adventures of Ibn Battuta, A Muslim Traveler of 14th Century oleh Ross E. Dunn; 2. Terjemahan dari Rihlah Ibnu Bathuthah Memoar Perjalanan Keliling Dunia di Abad Pertengahan oleh Muhammad bin Abdullah bin Bathuthah.

Daftar Pustaka:

  1. Dunn, Ross E. Petualangan Ibnu Battuta. Jakarta. Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011.
  2. Bathuthah, Muhammad bin Abdullah. Rihlah. Jakarta. Pustaka Al-Kautsar, 2012.

Sebagai upaya kecil melawan pseudo sejarah, Menegakkan kembali nama Samudera Pasai sebagai titik nol peradaban Islam di Asia Tenggara. Tim kami turun ke lapangan.. Dengan keterbatasan sumber daya. sebuah filem dokumenter penelusuran jejak sejarah ke makam Sultan Malikussaleh. Sebuah Ziarah yang dibungkus dengan komedi-komedi kecil, kami hanya bermaksud mengatakan bahwa sejarah itu menarik dan menyenangkan.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  57. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
Advertisements
Advertisements

1 thought on “KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: