KEBENARAN YANG SAMAR

Kuburan massal genosida Bosnia di peternakan Pilica di dekat Srebrenica, lebarnya dua puluh kaki dan seratus kaki, digali oleh ahli patologi forensik pada tahun 1996. Korban Bosniak ditutup matanya dengan tangan diikat di belakang punggung mereka. Foto oleh Gilles Peress

KEBENARAN YANG SAMAR

Seorang Filsuf Yunani yang hidup sebelum Masehi Plato pernah berkata “Kita tidak akan mengetahui bahwa sebuah tongkat itu lurus seandainya kita tidak melihat tongkat yang bengkok”

Dalam sejarah umat manusia terdapat banyak kebohongan besar, hal ini dapat dimaklumi karena sejarah yang berlaku saat ini adalah sejarah yang ditulis oleh para pemenang. Dimana yang menang menjadi pahlawan dan yang kalah menjadi bandit.

Sampul permainan catur Toekoe Oemar, sebagai bentuk olok-olok Kolonial Belanda kepada (kelak) Pahlawan Nasional Teuku Umar Berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973

Pemainan catur Toekoe Oemar dengan peta Aceh sebagai latar. Sebuah olok-olok Pemerintah Kolonial Belanda setelah jatuhnya Kesultanan Aceh Darussalam.

Patut diingat bahwa Pangeran Diponegoro sebelum Indonesia merdeka digolongkan sebagai seorang pemberontak, begitu pula nasib Teuku Umar, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin dan banyak lagi para pahlawan lainnya diberi label penjahat oleh pemerintah Kolonial dan ironisnya diajarkan dalam pelajaran sejarah versi Kolonial disekolah-sekolah.

Bahkan Westerling yang jelas-jelas seorang penjahat perang yang membantai ribuan penduduk di Indonesia dianggap pahlawan oleh masyarakat Belanda, begitupun anggapan masyarakat Serbia terhadap pembantai muslim di bosnia yang jelas-jelas melakukan “genocida” yaitu mantan presiden Slobodan Milosevic.

Dalam sejarah umat manusia memang terdapat kebohongan-kebohongan besar, namun terkadang terlihat kebenaran-kebenaran kecil yang bisa digunakan untuk mengungkapkan kebenaran yang lebih besar, jika kita berpikir.

Saat ini banyak orang yang mengeluhkan mengapa begitu banyak penyimpangan yang terkadang membuat orang apatis dan tidak mau untuk peduli, namun dapatkah pernah kita mencoba membedakan mana “tongkat lurus” maupun “tongkat bengkok” seperti yang dikatakan oleh Plato ribuan tahun yang lalu.

Kebenaran tiada pernah sesamar saat ini

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Mari Berpikir, Opini and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s