MEMOAR PANGLIMA POLEM CATATAN SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN INDONESIA

MEMOAR PANGLIMA POLEM CATATAN SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN INDONESIA

Memoar Panglima Polem berjumlah 60 halaman Teuku Muhammad Ali Panglima Polem menceritakan catatan pengalaman perjuangannya dalam menegakkan perjuangan rakyat Aceh melawan kolonial Belanda. Catatan yang diberi judul “Memoir” ditulis sendiri oleh Panglima Polem berdasarkan pengalaman “Yang saya kerjakan, yang saya lihat, yang saya dengar ataupun berdasarkan laporan-laporan di masa-masa yang lampau.” Diselesaikan di Kutaradja (Banda Aceh Sekarang) pada 17 Agustus 1972 dan diterbitkan dalam bentuk stensil oleh penerbit Alhambra.

Memoir (Tjatatan) T.M.A Panglima Polim disusun oleh: T.M.A Panglima Polim diterbitkan oleh ALHAMBRA. Sebagai persembahan untuk diketahui oleh generasi muda sekarang dan yang akan datang.

Free download e-book MEMOAR PANGLIMA POLEM

Memoir (Tjatatan) T.M.A Panglima Polim disusun oleh: T.M.A Panglima Polim diterbitkan oleh ALHAMBRA.

Siapa Panglima Polem?

Dalam sistem pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam, Panglima Polem merupakan jabatan Panglima Sagoe XXII Mukim (Aceh Besar bagian pengunungan) dengan gelar tambahan Sri Muda Setia Perkasa. Inti Kesultanan Aceh adalah Aceh Besar yang terdiri dari 3 Mukim besar (daerah otonom). Sagoe Mukim XXVI bergelar Sri Imam Muda terletak sebelah kanan ibu kota, dan sebelah kiri Sagoe Mukim XXV bergelar Setia Ulama. Sagoe XXII sendiri memiliki wilayah Selatan ibu kota sampai lembah Seulawah. Masing-masing Panglima Sagoe tersebut membawahi para Uleebalang, Imeum Mukin dan keuchik hanya Sagoe Mukim XXII saja yang berhak memiliki gelar Panglima Polem.

Sebutan Panglima Polem bukanlah nama asli dari tokoh yang bersangkutan, tetap merupakan gelar kehormatan yang dinobatkan karena kebangsawanan sekaligus karena jabatan seseorang. Dalam sejarah Aceh, gelar Panglima Polem selalu diikuti oleh nama lain sebagai nama asli dari tokoh yang bersangkutan.

Panglima Polem pertama adalah anak kandung dari Sultan Aceh terbesar, Sultan Iskandar Muda dari seorang selir dari Abbysinia. Sesuai wasiat Sultan Iskandar Muda, Panglima Polem tidak diizinkan naik tahta Kesultanan Aceh Darussalam namun diminta menjadi pejabat yang melantik Sultan Aceh yang akan menjabat.

Silsilah Teuku Muhammad Ali Panglima Polem

Ayah kandung dari penulis Memoir, Teuku Muhammad Ali Panglima Polim. Panglima Polim IX atau bernama lengkap Teuku Panglima Polim Sri Muda Perkasa Muhammad Daud adalah seorang panglima Aceh. Setelah pengangkatannya sebagai Panglima dia kemudian mewarisi gelar Teuku Panglima Polim Sri Muda Perkasa Wazirul Azmi adalah seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Teuku Muhammad Ali adalah Panglima Polem X. Ayahnya adalah Teuku Panglima Polem Muhammad Daud (Panglima Polem IX) yang juga dikenal sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dengan ibu salah satu puteri Tuanku Hasyim Bangtamuda, Wali Sultan Aceh terakhir Tuanku Muhammad Daudsyah. Kakeknya adalah Raja Kuala (Panglima Polem VIII) yang wafat tahun 1891. Buyutnya adalah Cut Banta (Panglima Polem VII hidup 1845-1879), bahkan jika ditarik garis lurus maka silsilahnya akan sampai kepada Sultan Iskandar Muda.

Peranan T.M.A Panglima Polem dalam kemerdekaan Indonesia

T.M.A Panglima Polem adalah sosok pelaku sejarah yang terlibat ketika Aceh menyelamatkan kemerdekaan Indonesia pada awal proklamasi. Tidak hanya setelah Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Tapi jauh sebelum itu TMA Panglima Polem pernah berikrar seperti tertulis dalam catatan Memoirnya.

Pada suatu hari saya (T.M.A Panglima Polem) bersama T. Nyak Arif, Tjut Hasan, T. Ahmad Djeunieb, T. Djohan Meuraksa dan Tgk. Ali Keurukon dalam suatu permufakatan mengucapkan ikrar bersama dengan sumpah, kami berjanji jika ada kesempatan akan melawan penjajahan Belanda. Ternyata, kesempatan itu datang pada tahun 1942.  Keadaan kekuasaan Belanda saat itu semakin genting akibat Perang Dunia II, termasuk di Aceh. Maka tanggal 24 Pebruari 1942, T.M.A Panglima Polem memimpin sebuah gerakan melawan Belanda di Seulimum, Aceh Besar.

Sebelum penyerangan dilakukan, T.M.A Panglima Polem sempat memberikan pidato singkat kepada rakyat Seulimum yang akan ikut dalam gerakan pemberontakan terhadap Belanda. “Pemberotakan ini adalah pemberontakan perang mengusir Belanda musuh kita, dan ini adalah perang suci. Oleh sebab itu dalam perang ini perlu dijaga norma-norma kesopanan menurut petunjuk agama, jangan melewati batas, jangan membunuh wanita, anak-anak dan orang tua,” kata T.M.A Panglima Polem dalam pidatonya ketika itu.

Maka tepatnya tengah malam 24 Pebruari 1942 penyerangan dilakukan, Belanda kalang kabut, seorang Controleur Belanda bernama Tigelman yang bertugas di Seulimum terbunuh dalam pemberontakan itu. Keesokan harinya langsung tersiar berita keseluruh Aceh bahwa T.M.A Panglima Polem sudah melakukan pemberontakan terhadap Belanda di Seulimum, Aceh Besar. Maka berontaklah seluruh Mukim XXII termasuk Padangtiji disusul oleh Mukim XXV dibawah pimpinan T. Nyak Arief (Kelak Residen pertama Aceh) lalu disusul oleh Uleebalang Lageun (Calang) T. Sabi. Seluruh rakyat menjadi turut sehingga Belanda panik.

Berita itu sekaligus membuat Belanda marah di Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Saat itu Belanda langsung mengirimkan seorang pimpinannya Mayor Palmer Van de Broek ke Seulimum untuk memburu Panglima Polem. Semua Uleebalang XXII Mukim dikumpulkan Mayor Palmer di Seulimum. Di hadapan semua Uleebalang XXII Mukim itu Mayor Palmer Van de Broek berkata: “Kalau T.M.A Panglima Polem dapat ditangkap tidak akan ditembak, tetapi bawa ia ke Seulimum untuk disalib dan dipertontonkan kepada seluruh ahli familinya dan semua rakyat dalam XXII Mukim.

Saat itu Van de Broek juga mengatakan, bagi siapa yang dapat menangkap Tjut Nyak Bunsu (istri T.M.A Panglima Polem) akan diberi hadiah Fl. 25.000,-. “Saya di sini pengganti Tuhan, pengganti Nabi Muhammad, Controleur dan panglima sagi,” kata Mayor Palman Van de Broek dengan penuh kemarahan akibat pemberontakan yang dilakukan TMA Panglima Polem di Seulimum ketika itu.

Sebagai putra bangsa yang setia pada perjuangan kemerdekaan T.M.A Panglima Polem juga tak tinggal diam pada masa pendudukan Jepang di Aceh. Meskipun posisinya sebagai Kosai Kyokutyo (Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat) Pemerintahan Jepang waktu itu, T.M.A Panglima Polem tatap saja berjuang memonitor perkembangan perjuangan kemerdekaan.

Teuku Panglima Polem Muhammad Ali (XX), Teuku Nyak Arief (X) bersama beberapa tokoh Aceh di pantai Lhok Nga.

Sampai suatu hari tepatnya 23 Agustus 1945, T.M.A Panglima Polem bersama T. Nyak Arief dan Tgk. Muhammad Daud Beureueh dipanggil Tyokang (Kepala Pemerintahan Sipil Jepang untuk Aceh) memberi tahu bahwa Jepang sedang berdamai dengan sekutu, karena dijatuhkannya bom atom di Hirosima. Dari pemberitahuan itu T.M.A Panglima Polem, T. Nyak Arif dan Tgk. Daud Beureueh tahu bahwa Jepang sudah kalah perang.

Berita membuat Panglima Polem dan T. Nyak Arif panik. Apalagi saat itu berkembang desas-desus ada kelompok yang telah membentuk Comite van Ontvangst untuk menyambut kedatangan Belanda kembali di Aceh. Untung segera tersiar kabar bahwa Indonesia telah diproklamirkan kemerdekaannya oleh Sukarno-Hatta di Jakarta. Berita proklamasi itu semula diterima oleh seorang pegawai Indonesia pada Jawatan Perhubungan Tentara Jepang, Radjalis yang kemudian diteruskan kepada saudara Haji Djamin pegawai Pos Kutaraja untuk disampaikan kepada T. Nyak Arief.

Sumpah Setia T.M.A Panglima Polem dan para pembesar Aceh Kepada Republik Indonesia

Saat itu, T. Nyak Arief besama TMA Panglima Polem langsung mengambil inisiatif memanggil orang-orang penting di Aceh untuk bersumpah setia kepada Negera Republik Indonesia.

T.M.A Panglima Polem dalam buku Memoirnya menceritakan, sumpah setia terhadap negera Republik Indonesia ini mula-mula diucapkan T. Nyak Arief, setelah itu saya T.M.A Panglima Polem yang kemudian diteruskan oleh semua yang hadir termasuk Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Sedangkan yang menjadi juru sumpah saat itu adalah Tgk. Syeh Saman Siron.

Setelah itu, berdasarkan hasil mufakat T. Nyak Arief diangkat menjadi Residen dan T.M.A Panglima Polem sebagai asisten Residen untuk menaikan Bendera Merah Putih di depan kantornya. Setelah itu penaikan Bendera Merah Putih ini dilanjutkan ke kantor pusat pemerintahan Tyokang yang bermarkas di komplek (baperis sekarang).

Namun penaikan bendera Merah Putih di depan kantor Tyokang, setelah dinaikkan bendera Indonesia ini diturunkan kembali oleh Jepang. T. Nyak Arief bersama T.M.A Panglima Polem sangat marah. T. Nyak Arief dengan memegang pistol bersama rombongannya kembali ke kantor pusat pemerintahan untuk menaikkan bendera Indonesia kembali halaman kantor itu. T. Nyak Arief mengancam dengan memerintahkan kepada Polisi Istimewa, siapa yang berani menurunkan lagi bendera Merah Putih ini tembak mati mereka, perintah T. Nyak Arief.

Maka berkibarlah Sang Merah Putih untuk pertama kalinya di Aceh dari siang hingga malam hari sebagai lambang cinta dan kesetiaan Aceh terhadap Republik Indonesia.

Peranan T.M.A Panglima Polem dan rakyat Aceh pada masa-masa genting Republik Indonesia

Kesetiaan Aceh yang diberikan untuk Indonesia ternyata tidak hanya sebatas ikrar tokoh-tokoh perjuangan yang bersumpah akan menyelamatkan Indonesia dari musuh-musuh penjajahan. Setelah Indonesia memproklamirkan diri sebagai sebuah nagara yang merdeka, Indonesia tidak segan-segan menyampaikan kesulitannya kepada Aceh. Seperti seorang anak yang tidak segan segan meminta bantuan kepada orang tuanya.

Ketika Presiden Sukarno berkunjung ke Aceh bulan Juni 1948, Sukarno atas nama rakyat Indonesia dalam sebuah pidato jamuan malam di Hotel Aceh dengan sejumlah pengusaha Aceh, waktu itu GASIDA (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh), Presiden Sukarno tidak segan-segan meminta rakyar Aceh untuk dapat membelikan sebuah pesawat udara untuk kepentingan pemerintahan Indonesia yang baru merdeka. “Saya belum mau makan malam sebelum ada jawaban pasti ‘ya’ atau ‘tidak’ dari saudara-saudara,” kata Presiden Sukarno diakhir pidatonya malam itu. Maksudnya, Sukarno ingin sebuah jawaban yang jelas dari rakyat Aceh untuk menyanggupi memberikan sebuah pesawat udara untuk kepentingan perjuangan Indonesia yang baru merdeka.

Dalam hal ini lagi-lagi T.M.A Panglima Polem diuji kesetiannya kepada Republik Indonesia. Tanpa basa-basi atas nama GASIDA T.M.A Panglima Polem mengabulkan permintaan Presiden Sukarno untuk menyumbangkan sebuah pesawat terbang kepada pemerintah Republik Indonesia.

Harga sebuah kapal terbang jenis Dakota (bekas pakai) waktu itu sekitar 120.000 Dolar Malaysia. Kalau dengan harga emas sebanyak 25 Kg emas. Lalu dibentuklah panitia pembelian pesawat terbang itu oleh GASIDA, T.M.A Panglima Polem dipercayakan untuk mengetuai panitia pembelian pesawat tersebut.

Pesawat “Seulawah 02″ sumbangan rakyat Aceh, sekarang rangkanya dijadikan monumen di lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Beberapa hari setelah itu T.M.A Panglima Polem menemui Residen Aceh untuk membicarakan teknis penyerahan pesawat itu secara simbolis kepada pemerintah Republik Indonesia. Karena setianya rakyat Aceh kepada Republik, pesawat yang diminta Sukarno tidak hanya satu yang disumbangkan, tapi dua pesawat sekaligus. Yang satu pesawat sumbangan dari GASIDA, yang satu lagi sumbangan dari seluruh rakyat Aceh. Dua pesawat hasil sumbangan Aceh kepada Republik Indonesia ini kemudian diberinama “Seulawah 01″ dan “Seulawah 02″. Dua pesawat inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.

Fitnah Keji Jenderal A.H Nasution kepada T.M.A Panglima Polem

Meskipun T.M.A Panglima Polem salah seorang putra bangsa Indonesia terbaik di Aceh yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau difitnah terlibat pemberontakan D.I/T.I.I dan kemudian dijebloskan ke dalam penjara Republik tercinta, penjara negara yang ia perjuangkan kemerdekaannya. T.M.A Panglima Polem diringkus dalam tahanan Cipinang, Jakarta, atas Surat Perintah Penguasa Perang A.H. Nasution tahun 1958. Padahal T.M.A Panglima Polem saat itu masih menjabat sebagai penasehat khusus Dr. Idham Khalid, Wakil Perdana Menteri II Bidang Keamanan Republik Indonesia.

Penghinaan oleh seorang pegawai Kepala Seksi pada Biro Kepegawaian pada Kementerian Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bernama Suparko kepada T.M.A Panglima Polem.

Ketika D.I/T.I.I dan Permesta di Aceh berakhir pemerintah Republik Indonesia memberikan amnesti umum kepada para pegawai yang dianggap memberontak dapat kembali kepada kedudukan terakhir sebelum pemberontakan.

Kepada T.M.A Panglima Polem memberikan keterangan “tidak pernah memberontak kepada Pemerintah R.I.” Suparko lantas bertanya: “Jadi Saudara tidak turut memberontak?” Dengan tegas dan bangga T.M.A Panglima Polem menjawab “tidak.” Kemudian Suparko mengatakan karena T.M.A Panglima Polem tidak dapat diangkat kembali karena “Tidak turut memberontak” dan tidak berhak atas pensiun. Penjelasan dan penghinaan yang memanaskan hati ini tidak membuat T.M.A Panglima Polem kehilangan ketenangan, ia meninggalkan ruang Kepala Seksi Sumatera/Nusa Tenggara itu dengan kepala dingin.

Akhir hidup dari T.M.A Panglima Polem Menurut Para Sahabat dan Kesaksian Pelaku Sejarah

Memang bak kata pepatah, untung tak dapat diraih, nasib tak dapat ditolak. Hari tua T.M.A Panglima Polem sangat memilukan. la jatuh dalam kemiskinan setelah hampir seluruh hartanya dihabiskan untuk kepentingan perjuangan dalam mewujudkan impiannya menuju Indonesia merdeka.

Di tengah duka nestapa itulah T.M.A Panglima Polem menghembuskan nafas terakhir, kembali kehadhirat Ilahi Rabbi, 6 Januari 1974. Sungguh sebuah kesetiaan pengabdian yang diberikan kepada negara, tapi kesetiaan T.M.A Panglima Polem terhadap negara yang ia perjuangkan kemerdekaannya, dinafikan oleh negaranya sendiri.

Penutup Memoir oleh T.M.A Panglima Polem

“Saya senantiasa bersyukur disamping telah ikut berjuang dengan teman-teman-teman sejak puluhan tahun dalam berbagai bidang masih diberi kesempatan oleh Allah S.W.T dalam alam merdeka ini untuk mengisi kemerdekaan yang tercapai itu.

Mudah-mudahan dengan adanya kesibukan masing-masing kita dapat melupakan pengalaman-pengalaman yang pahit, menghilangkan sentimen-sentimen pribadi dan golongan, permusuhan-permusuhan, fitnah dan sebaliknya mari kita pupuk rasa persaudaraan, persatuan yang menjadi syarat mutlak bagi pembangunan dan kesejahteraan.” T.M.A Panglima Polem, Kutaradja, 17 Agustus 1972.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  2. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  3. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  4. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  5. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  6. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  7. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  8. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  9. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  10. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  11. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  12. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  13. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  14. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  15. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  16. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  17. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  18. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  19. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  20. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  21. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  22. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  23. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  24. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  25. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  26. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  27. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  28. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  29. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  31. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  32. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  33. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  34. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  35. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  36. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  37. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  38. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  39. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  40. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  41. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  42. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  43. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  44. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  45. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  46. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  47. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  48. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  49. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  50. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  51. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  52. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  53. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  54. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  55. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  56. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  57. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  58. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  59. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Buku, Cuplikan Sejarah, E-Book, Kisah-Kisah, Reportase, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.