MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN

Papan nama jalan Pocut Baren dari arah Peunayong

MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN

Di kota Banda Aceh, ada sebuah jalan yang menghubungkan Peunayong dengan Jambotape. Terkenal sebagai pusat perdagangan komputer / elektronik. Jalan Pocut Baren. Siapakah dia? Mungkin kita tidak menemukan namanya dalam daftar pahlawan nasional Republik Indonesia, sehingga sedikit merasa asing. Mengapa namanya ditabalkan menjadi nama sebuah jalan?

Peta Google Jalan Pocut Baren di Kota Banda Aceh

Sejarah Aceh sendiri mengenal “wanita-wanita agung” yang telah memainkan peranan besar dalam politik dan peperangan, kadangkala seorang ratu ataupun istri uleebalang yang berpengaruh. Salah satunya adalah Pocut Baren yang sangat terkenal (pengakuan Belanda). Berikut kesaksian H.C. Zentgraaff seorang pelaku pentas perang kolonial Belanda di Aceh dan pensiun selaku juru tulis. Ia mengalami perang tersebut, kelak ia menjadi redaktur beberapa surat kabar.

Pocut Baren.

Di pantai Barat Aceh terdapat tidak banyak wanita yang telah memainkan peranan istimewa seperti yang telah dilakukan oleh Pocut Baren. Dewasa ini (Sekitar tahun 1930-an) yang memberi kemungkinan orang pergi kemana-mana menggunakan mobil, letak daerah itu tidak seberapa jauh, akan tetapi tiga puluh tahun lalu, letak Tungkop itu benar-benar jauh di pedalaman, di daerah Woyla hulu. Ia merupakan sebagian dari Federasi Kawai XII yang didalamnya termasuk juga Pameu, Geumpang, Tangse, Anoe dan Ara dari nama-namanya orang segera dapat mengetahui, bahwa tempat-tempat itu terletak di pusat pegunungan.

Foto Pocut Baren
Sumber : Aceh; H.C Zentgraff; Penerbit Beuna Jakarta; Cetakan ke-1; 1983.

Pocut Baren adalah puteri Teuku Cut Amat, keluarganya sudah sekian lama turun-temurun menjadi uleebalang di Tungkop dan sudah meninggal suaminya yang diikutinya dalam peperangan (melawan Belanda), maka dialah yang berhak menjadi Uleebalang Keujreun Gume.

Demikianlah ia hidup bertahun-tahun lamanya dalam peperangan, silih berganti dengan masa-masa damai yang tak pernah lama di daerah pedalaman yang pada waktu itu belum lagi didatangi Kumpeni. Baginya permainan perang-perangan itu tetap merupakan hal yang menyenangkan yang sewaktu-waktu dapat dihentikannya jika ia merasa jemu karenanya.

Masa baik itu berakhir ketika marsose memulai pembersihan di pantai Barat Aceh yang merupakan pekerjaan yang sungguh-sungguh tidak menyenangkan dengan penjatuhan hukuman-hukuman serta penyerbuan-penyerbuan. Namun Pocut Baren menerima resikonya dan ia melakukan perlawanan sebagaimana mestinya, selayaknya seorang pria yang kuat.

Ia seorang wanita yang selalu diiringi oleh pengawal, terdiri dari lebih kurang tiga puluh orang. Ia selalu memakai peudeng tajam (=pedang tajam), sejenis kelewang bengkok, mirip pedang Turki yang sangat terkenal di pantai Barat Aceh.

Pada suatu hari sebuah patroli di Kuala Bhee yang pimpin oleh Letnan Hoogers mengetahui tempat persembunyiaannya di gunung, pada kesempatan itu Pocut memperoleh tembakan pada bahagian kakinya. Ia masih hidup, tetapi disebabkan kurangnya perawatan, kakinya lambat laut membusuk sehingga mematahkan semangat tempurnya, akhirnya ia berdamai. Dengan segera ia diberikan perawatan medis, tapi infeksinya sudah parah sehingga harus dilakukan amputasi yang untungnya berhasil dengan baik.

Pada masa itulah berubah semangatnya, dendamnya terhadap Kompeni berubah menjadi terima kasih yang diperlihatkannya secara terang-terangan. Sebagai seorang wanita “jantan” ia tak ingin menyembunyikan perasaannya itu. Kepada Veltman ia berkata : “Kalaulah saya mengenal tuan lebih dahulu, tentulah saya tidak kehilangan kakiku”

Veltman menghormati wataknya yang bijaksana itu, ia berhasil mengadakan usaha-usaha sehingga wanita itu dapat diangkat sebagai Uleebalang Tungkop. Ia bukanlah wanita pertama yang memerintah di Aceh, sebelumnya berabad-abad lalu telah ada ratu-ratu yang mengendalikan pemerintahan, dan tak kalah hebatnya dengan pria dan Pocut Baren merupakan pengganti pria.

Veltman menyediakan lagi sebuah hadiah yang amat menggembirakan wanita itu. Pada suatu hari tibalah di Meulaboh sebuah kiriman barang dari negeri Belanda yang berisikan kaki kayu untuk Pocut. Ia dibalut dengan kulit untuk “mencegah gangguan cacing” seperti yang dikatakan oleh para perwira. Para pembaca tentulah dapat membayangkan betapa senangnya hatinya ketika pertama kali ia memakainya. Kadang-kadang ia memakai pada upacara-upacara resmi, Pocut menganggap sebagai suatu kewajiban pula Kompeni yang telah menembak kaki seseorang untuk menggantikannya kaki yang lain.

Ia tak selalu memakain kaki kayunya itu, karena agak menyakiti lututnya. Sebab itu ia didukung oleh salah satu pegawainya. Pemakaian kaki kayunya yang setepat-tepatnya mungkin sekali pada saat ia memukul seorang laki-laki di kampungnya yang berlaku tidak pantas kepadanya. Begitulah Pocut Baren menampakkan dirinya di kampung-kampung. Ia memperhatikan setiap rakyatnya yang malas dan para pencuri takut kepadanya.

Kehadirannya dalam suatu kampung secara tidak disangka-sangka oleh penduduknya, kadang-kadang merupakan bom yang berbahaya. Ia memerintahkan rakyatnya supaya mengerjakan sawah-sawah mereka dengan baik, tetapi di samping itu ia memarahi setiap orang malas dan setiap laki-laki menaruh hormat kepadanya tak kurang dari kepada seorang uleebalang pria.

Sewaktu Scheurleer, memegang komando dan menjalankan pemerintahan sipil di bivak Tanoh Merah, Pocut telah melaksanakan segala daya upayanya untuk menciptakan ketentraman di dalam wilayahnya. Karena Woyla Hulu termasuk salah satu wilayah yang masih sulit keadaannya.

Jika ia berada di rumahnya dan memikirkan hal-hal pada masa-masa lalu dan masa sekarang dalam penghidupannya yang lincah itu, maka kadang-kadang mengalirlah darah pujangganya lebih cepat dari pada arus sungai Woyla, pantun-pantunya yang popular dan mengesankan belum dilupakan orang.

 

“Ie Krueng Woya ceukot likat

Engkot jilumpat jisangka ie tuba

Seungap di yub, sengap di rambat

Meuruboh Barat buka suara

 

Bukon sayang itek di kapai

Jitimoh bulee ka sion sapeue

Bukon sayang biliek kutinggai

Teumpat kutido siang dan malam”

 

Yang berarti kira-kira :

 

“Air sungai Woyla keruh pekat

Ikan melompat sangkanya air tuba

Di luar senyap, di bilik pun senyap

Dapatlah kita berkata-kata

 

Sungguh sayang itik di kapal

Aneka ragam warna bulunya

Sungguh sayang kutinggalkan bilikku

Tempat kutidur siang dan malam”

 

Bertahun-tahun lamanya ia hidup secara satria, dengan atau tanpa kaki kayunya. Akhirnya ia kawin lagi dengan seorang laki-laki biasa dalam daerahnya. Laki-laki itu masih hidup sampai sekarang (1938) dengan gelar Teuku Muda Rasyib (sebelum kawin dengan Pocut ia bernama Rasyib saja). Saya (H.C Zentgraff) pernah melihatnya sebentar di Pantai Barat Aceh, akan tetapi tidak memiliki waktu untuk menanyakan tentang kaki kayu istrinya itu.

Lelaki itu tampaknya tak berarti sama sekali dengan sikapnya yang tunduk dan bungkuk serta tertawa hormat, seolah-olah isyarat pernyataan maaf yang hendak diberikannya atas kehadirannya itu. Saya dapat membayangkan bagaimana kira-kira keadaannya jika Pocut marah bila suaminya itu sempat melihat kearah kaki kayunya.

Wanita itu meninggal tahun 1933 (Menurut laporan politik Gubernur Aceh O.M Goedhart selama pertengahan 1928. Pocut Baren meninggal tanggal 12 Maret 1928. Zentgraff keliru mencatat tahun 1933) Nama wanita itu meninggalkan kenangan bagi seorang wanita di pantai Barat Aceh yang paling cakap dan penuh vitalitas dari semua wanita yang ada di daerah itu.

Referensi :

Aceh; H.C Zentgraff; Penerbit Beuna Jakarta; Cetakan ke-1; 1983.

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s