IBNU KHALDUN PERINTIS ILMU SEJARAH DAN ILMU-ILMU SOSIAL MODERN
Warisan pemikiran Ibnu Khaldun
Tahukah kalian pada abad ke-14, Ibnu Khaldun membuat sebuah Analisa brilian bahwa setiap kekaisaran besar akan jatuh, dia menemukan sebuah pola yang akan mengubah persepsi kita dalam memahami keberhasilan dan kegagalan selamanya. Ketika ia mengasingkan diri di Benteng Salamah (Qal’at ibn Salama), Aljazair, ia menulis muqaddimah dan membuka teori tentang peradaban1, bahwa setiap kekaisaran sampai saat itu mempunyai pola siklus empat generasi serupa yakni:
- Generasi pertama, membangun dengan kerja keras dan disiplin. Mereka Tangguh, fokus dan dipenuhi rasa lapar untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik;
- Generasi kedua, mempertahankan dan mengembangkan kekuasaan yang telah dimiliki, mereka mengalami bersama, dan mengingat perjuangan yang telah dilakukan sehingga dapat mencapai kejayaan.
- Generasi ketiga, mulai menikmati kemewahan dan mulai kehilangan ketajaman para ayah dan kakek mereka. Mereka tidak mengalami perjuangan terdahulu dan hanya mendengar cerita saja.
- Generasi keempat, pada umumnya jatuh menjadi lebih lemah, dan korupsi internal2.
Ibnu Khaldun menganalisa kehancuran Kekaisaran Mongol berabad sebelum benar-benar terjadi, dinasti mongol terakhir, Chagatai Khanate yang bertahan hingga tahun 1687. Ia juga mengingatkan kepada Kekaisaran Turki Utsmani akan tantangan-tantangan masa depan. Pemahaman Ibnu Khaldun bahkan jika diterapkan pada peradaban modern masih relevan. Ia memberikan pandangan tentang perubahan cuaca dan geogafi membentuk peradaban, bahwa kenyamanan memicu kelemahan, dimana perjuangan akan menumbuhkan kekuatan. Para ekonom dan ilmuan modern saat ini masih menggunakan teorinya untuk menganalisa negara-negara superpower3. Bahwa siklus akan berulang. Berada di generasi manakah kamu?
Ibnu Khaldun berusaha membebaskan sejarah dari kebohongan.
Pada Muqaddimah dikarang oleh Ibnu Khaldun pada abad ke-14, tepatnya mulai ditulis pada tahun 1377 M (779 H). Ia mengatakan, ketika membaca sejarah seseorang harus lebih skeptis, para sejarawan mungkin berbohong, jangan mempercayai semua yang ditulis. Membaca Herodotus jangan mengambil segala cerita dalam Illiad sebagai fakta4, Bahwa cerita Perang Troya mungkin ada, akan tetapi kisahnya tak persis sebagaimana ditulis Herodotus. Ada banyak kebohongan di sana, mitos, legenda bercampur aduk. Sebagai pembaca harus berpikir tentang apa yang diceritakan, kenapa dia bercerita? Dan dengan apa dia bercerita. Ibnu Khaldun juga mengatakan, seharusnya kita memiliki sistem pembelajaran yang sistematis tentang politik, dan juga sosiologi serta manusia yang hidup dalam cakupan suatu wilayah. Dengan kata lain dia adalah penemu ilmu sosial, termasuk cabang-cabang di dalamnya
Ibnu Khaldun Sang Bintang Cemerlang
Dalam tesis Ibnu Khaldun di bidang politik. Ilmuwan yang pernah dimintai nasehat oleh Timur Lenk ini mengatakan, bahwa pada dasarnya negara itu dibangun atas dasar ashabiyah5 atau solidaritas kesukuan. Pada masa modern hal ini dibuktikan dengan fenomena sosio-historis yang pernah melanda dunia seperti keruntuhan Uni Sovyet dan Yugoslavia. Arnold J. Toynbee menjuluki ilmuwan ini dengan “bintang yang bersinar dengan amat cemerlangnya6”. Ibnu Khaldun adalah sejarahwan pertama tercatat menggunakan metode empiris dengan mengatakan bahwa pengetahuan dicapai dengan pengalaman indrawi (pengamatan) jauh mendahului teori Francis Bacon, David Hume dan filsuf-filsuf lain. Model metodenya bukan tanpa kekurangan, akan tetapi karyanya al-Mukaddimah mendapat pengakuan baik di Timur maupun Barat. Ibnu Khaldun ternama sebagai ahli filsafat sejarah, melebihi hal itu ia juga menguasai banyak bidang ilmu lain, ia banyak melahirkan teori-teori baru pada zamannya.
Biografi Singkat Ibnu Khaldun
Lahir dengan nama Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Khaldun. Nama beliau sebenarnya adalah Abdurrahman, Abu Zaid adalah nama panggilan, Waliuddin adalah gelar yang didapat ketika menjadi qadhi di Mesir, dan Ibnu Khaldun adalah nama masyhurnya. Beliau dilahirkan 1 Ramadhan 732 Hijriah (bertepatan 23 Mei 1332 Masehi) di sebuah desa di Tunisia sekarang7. Ia besar dan tumbuh dewasa sampai usia 20 tahun di kampung halamannya. Semenjak kecil ia belajar dan menghafal ayat-ayat al-quran dan guru pertama adalah ayahnya sendiri, Muhammad Abu Abdillah. Ia juga mempelajari tafsir, hadist, fiqih, bahasa (balaghah) dan sastra Arab.
Pada tahun 749 H kampungnya di Tunisia dilanda wabah kolera yang merenggut kedua orang tuanya, karena wabah ini banyak ulama dan guru dari Ibnu Khaldun yang meninggal dunia, maka di usia 20 tahun ia meninggalkan kampungnya. Sekitar 25 tahun ia mengembara dari Tunisia ke Aljazair, Maroko dan Andalusia (Spanyol sekarang dahulunya wilayah muslim). Ditunjang oleh ilmu dan bakat yang dimilikinya, Ibnu Khaldun kerap mendapat tugas dan jabatan dari pemerintah di mana ia berada. Kariernya bermula pada usia 20 tahun diangkat menjadi sekretaris Sultan al-Fadhal bin Sultan Ali Yahya al-Hafsi, seorang penguasa dari Dinasti Hafshiyah di Tunisia8. Sekian lama terlibat dunia pemerintahan sekitar 32 tahun, beliau berfokus menulis dan mengajar. Kemudian selama 20 tahun menjelang meninggal memimpin pengadilan tinggi di Mesir. Ilmuwan yang dikenal sebagai imam dan pembaharu berbagai disiplin ilmu ini meninggal dunia pada 26 Ramadhan 808 Hijriah (bertepatan 16 Maret 1406 Masehi) di usia 76 tahun dan dimakamkan di Kairo Mesir terletak pada pemakaman para sufi.
Karya dan prestasi Ibnu Khaldun
Dari beberapa buah pikir Ibnu Khaldun, Kitab al-Iktibar beserta Muqaddimahnya merupakan puncak dari karya beliau. Al-Muqaddimah, pada dasarnya adalah merupakan kata pengantar dari kitab al-Iktibar. Dikarenaa cukup bermutu dan padat informasi penting, pada akhirnya lebih populer dari pada kitabnya sendiri.
Al-Muqaddimah secara sistematis menjelaskan berbagai aspek gejala sosial, karya ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Dalam Menyusun kitab ini Ibnu Khaldun menghabiskan waktu 5 bulan, dengan menempuh 2 tahapan. Pertama menggabungkan antara pengamatan langsung dan fakta-fakta sejarah. Kedua, memfokuskan pemikiran pada tema-tema pokok gejala sosial yang dia teliti, dan selanjutnya dipaparkan dalam bentul tulisan. Dari motede tersebut, muncullah hukum-hukum yang meliputi gejala-gejala sosial, metode ini terus dikembangkan dan digunakan oleh sosiolog modern sampai hari ini.
Ibnu Khaldun tercatat sebagai pemula berbagai disiplin ilmu turunan dari sejarah dan sosiologi dan ilmu-ilmu lain seperti autobiografi, penulisan khat/Arab, psikologi, hadist fiqih khususnya mahzab Maliki. Kitab al-Iktibar berjumlah 6 jilid, ditambah muqaddimah 1 jilid mencakup berbagai pembahasan yang padat dan singkat tentang berbagai hal. George Sarton (1884–1956) adalah seorang ilmuwan dan sejarawan kelahiran Belgia yang menetap di Amerika Serikat, yang secara luas dianggap sebagai Bapak Sejarah Sains Modern memberikan komentar tentang Ibnu Khaldun. Sosiolog, ekonom, politikus, dan seorang yang begitu tekun mempelajari masalah manusia secara mendalam. Ia menganalisa masa lampau umat manusia supaya dapat memproyeksikan keadaan masa mendatang. Tentu dengan sinisme sebagai orientalis Sarton juga menyebutkan bahwa Ibnu Khaldun sebagai sejarawan terbesar pada Abad Pertengahan yang “menjulang bagai raksasa di antara suku-suku primitif9“.
XXX
Referensi:
- Ibnu Khaldun, The Muqaddimah: An Introduction to History, terj. Franz Rosenthal (Princeton University Press, 1967), hal. 35.
- Ibid, hal. 136-138 (Tentang teori empat generasi dalam sebuah dinasti).
- Mark Zuckerberg, “A Year of Books: The Muqaddimah by Ibn Khaldun,” Facebook Post, 1 Juni 2015.
- Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hal. 6-7 (Tentang kritik terhadap kesalahan para sejarawan terdahulu).
- Ibid, hal. 123 (Definisi dan peran Ashabiyah dalam pembentukan negara).
- Arnold J. Toynbee, A Study of History, Vol. III (Oxford University Press, 1934), hal. 322.
- Ibnu Khaldun, Al-Ta’rif bi Ibni Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Syarqan (Autobiografi Ibnu Khaldun), hal. 1-5.
- Enan, Mohammad Abdullah, Ibn Khaldun: His Life and Work (The Other Press, 2007), hal. 12.
- George Sarton, Introduction to the History of Science, Vol. III (Williams & Wilkins, 1948), hal. 1262.
XXX
Beberapa artikel lain:
- Gula Dan Sejarah Penindasan; 4 Mei 2017;
- Kesultanan Aceh Negara Berdaulat Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Republik Belanda dari Kerajaan Spanyol di Tahun 1602; 18 Mei 2017;
- Pengulangan Sejarah; 23 Mei 2017;
- Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
- Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
- Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
- Kopi, Legenda dan Mitos; 20 Februari 2018;
- Ketika Ibnu Battuta Melawat Samudera Pasai; 16 April 2018;
- Kebijakan Politik Islam Oleh Snouck Hurgronje Sebagai Saran Kepada Pemerintah Hindia Belanda Untuk Menghancurkan Kekuatan Islam Di Indonesia; 25 Juni 2018;
- Masa Depan Politik Dunia Melayu; 28 Juli 2018;
- Wabah Manusia; 25 Maret 2020;
- Hamzah Fansuri Perintis Sastra Melayu; 4 Juli 2020;
- Gereja Pertama di Aceh; 12 Juli 2020;
- Ketika Aceh Minta Menjadi Vasal Turki Ustmani; 21 September 2020;
- Sepak terjang Snouck Hurgronje Sebagai Penasihat Pemerintah Kolonial Belanda; 27 Maret 2023;

