MAHLIGAI KEMASYGULAN

Makam sudah tidak terziarahi lagi, tidak ada yang mengingat, dan hanya menjadi bagian kecil dari sejarah.

MAHLIGAI KEMASYGULAN

Dua ratus tahun dari sekarang bumi telah dipenuhi oleh manusia-manusia baru,

kita semua telah lama mati.

Orang-orang asing akan mengisi ruang yang (pernah) kita huni, tanpa mereka tahu kita pernah hadir di situ.

 

Bisa jadi makam kita sudah tidak terziarahi lagi,

tidak ada yang mengingat,

dan kita hanya menjadi bagian kecil dari sejarah.

 

Aku merasa malu telah menganggap diri besar,

bahwa rumput yang hari ini tumbuh di bawah kakiku,

besok akan tumbuh di atas makamku.

 

Aku adalah hamba kepada yang Esa, Azzam-ku hanya sujud kepada yang satu,

di dunia ini aku (adalah) musafir,

pada mahligai kemasygulan, kukatakan padaku,

wahai pengembara jagalah adab!

 

Bait al Qalaq, 6 Rajab 1447 Hijriah (27 Desember 2025)

Catatan: Tulisan ini tidak ditujukan untuk zaman ini

Beberapa puisi pilihan:

  1. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  2. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  3. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  4. Jangan Mencintai Lautan; 4 April 2019;
  5. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  6. Peucut Kherkof Suatu Masa; 24 September 2019;
  7. Mengunci Malam; 1 April 2020;
  8. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  9. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  10. Jejak Langkah; 26 Desember 2020;
  11. Hati Resah Berkisah; 1 April 2021;
  12. Kopi Pahit Semalam; 11 Agustus 2021;
  13. Mimpi Mimpi Pion; 30 November 2022;
  14. Kembali Pada Kekasih; 28 Mei 2022;
  15. Ingatan Sebatang Pohon Asam; 21 April 2024;
Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

AMANAH WALI: SELAMATKAN HUTAN ACEH

Selamatkan hutan Aceh, sebab hutan itu adalah salah satu pusaka peninggalan leluhur yang akan menjadi warisan anak cucu kita di masa depan.

AMANAH WALI: SELAMATKAN HUTAN ACEH

Dari Stockholm, Swedia, 15 Juni 2009, kira-kira setahun sebelum berpulang ke rahmatullah (2 Juni 2010). Wali Nanggroe Aceh ke-8, sekaligus pendiri Gerakan Aceh Merdeka yang telah menandatangani perjanjian damai dengan Pemerintah Indonesia di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005, Tengku Hasan Muhammad Di Tiro, menuliskan sebuah wasiat kepada seluruh anak bangsa Aceh:

Amanah Wali keu bansa Atjeh!

“Peuseulamat uteuen Atjeh, sabab uteuen njan nakeueh salah saboh pusaka keuneubah indatu nyan akan tapulang keu aneuk tjutjo geutanjoe di masa ukue.”

Artinya:

Amanah Wali kepada seluruh bangsa Aceh!

“Selamatkan hutan Aceh, sebab hutan itu adalah salah satu pusaka peninggalan leluhur yang akan menjadi warisan anak cucu kita di masa depan.”

XXX

Catatan Penulis:

Bencana banjir bandang yang berlangsung di Aceh yang berlangsung pada 25-26 November 2025 dan masih terasa efeknya Ketika tulisan ini ditulis (19 Desember 2025), di mana masih banyak daerah terisolasi, jembatan penghubung antar kabupaten terputus, puluhan kampung lenyap di hantam kayu-kayu yang ditebang oleh tangan-tangan serakah, rumah-rumah penduduk tenggelam, dan masih banyak pengungsi yang masih kelaparan akibat keterbatasan akses.

Ada yang menyesakkan Ketika bencana datang akibat ulah manusia, betapa kita menyaksikan betapa mengerikan tragedi akibat keserakahan manusia, jiwa kita menjadi resah, rasanya malu menjadi manusia ketika tak bisa berbuat apa-apa ketika saudara kita menahan kelaparan, atau bahkan merenggang nyawa. Hanyalah bisa memohon perlindungan dari Allah.

Wahai orang Aceh pelajari sejarah dirimu, dan kenali siapa dirimu. Ketidaktahuan akan sejarah membuat bangsa Aceh tidak bisa melihat sebuah sinar di leluhur kita. Dan Hal ini merupakan sesuatu yang tidak lazim. Semakin hari sebuah bangsa menjadi semakin lemah, bodoh dan serakah. Satu persatu wilayah peradaban hilang tak mampu dibangkitkan lagi.

Perdamaian selama 21 tahun adalah sebuah nikmat tak terkira setelah bertahun-tahun hidup pada masa konflik, ini adalah sesuatu yang patut disyukuri.  Dalam kedamaian kita telah abai terhadap lingkungan negeri dan gagal memelihara warisan yang telah dititipkan oleh leluhur yaitu hutan Aceh, bencana datang dan harus menjadi kenangan kita selamanya, sebagai bagian dari memori kolektif. Jika bencana ini berlalu dan kita membiarkan hutan dijarah kembali maka kita adalah selemah-lemahnya generasi dalam sejarah Aceh.

Maka sejak hari ini ingatlah seluruh bangsa Aceh, lautan kayu yang menyelimuti Sumatera bukan fenomena alam, melainkan jejak kejahatan! Warisan leluhurmu (telah) dijarah dan diperkosa habis-habisan! Jika ke depan kita semua mendiamkan kejahatan ini terjadi lagi, maka apakah kita masih punya keberanian menjejakkan kaki di muka bumi ini?

XXX

Beberapa opini lain:

  1. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  2. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
  3. Kenapa Sejarah Tak Boleh Dilupakan; 4 Oktober 2020;
  4. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
  5. Mengapa Harus Mempelajari Bahasa Daerah; 17 Maret 2021;
  6. Ilmu Memahami Ilmu; 15 Juni 2021;
  7. Lembu Patah; 18 Desember 2021;
  8. Jangan (Mudah) Percaya Dengan Apa Yang Kau Baca; 12 Februari 2022;
  9. Aceh Yang Dilupakan; 29 Maret 2022;
  10. Sejarah Tak Bepihak Kepada Kita; 8 September 2022;
  11. Di Bawah Naungan Lentera; 26 Januari 2023;
  12. Masihkah Orang Aceh Berjiwa Penyair; 24 Juni 2023;
  13. Ditampar Kebenaran; 8 Oktober 2023;
  14. Bagaimana Mengelola Harta Menurut Hikayat Kalilah wa Dimnah; 8 April 2024;
  15. Menjawab Polemik Makam Tandingan Syekh Abdur Rauf As-Singkili Atau Tengku Syiah Kuala; 12 Mei 2024;

Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

TUNTUTAN KALAM

kalam dan kitab

Derita tinta kebijaksanaan yang tertulis di kitab tidak sebanding dengan kepedihan pengetahuan yang belum dituliskan.

TUNTUTAN KALAM

“Tak semua kejahatan adalah perbuatan, adakalanya tidak berbuat juga sebuah kejahatan.”

XXX

Hari ini kami menghakimi Tuan yang seharusnya tahu diri bukan seorang piawai dalam matematikawan, tidak terampil dalam aljabar dan mempertanyakan mengapa belakangan ini masyuk di sana.

Nyaris setahun Tuan meninggalkan kalam. Huruf, kata dan kalimat menjadi kering bagai daun-daun kering dihempas badai. Kami menuntut ketidakpedulian kepada minat dan bakat yang Tuan miliki, tersia-sia.

Tuan berhak kecewa terhadap zaman, terhadap wadah yang telah berubah, terhadap tempayan yang semakin burik. Apakah Tuan tidak paham tidak semua orang berbakat dalam menggoreskan kalam, menari-nari bersama tinta bersiborok dalam lembaran-lembaran mushaf yang tak kunjung selesai.

Kami paham dalam muamalah dibutuhkan dinar dan dirham, keping-kepingnya begitu menggoda. Tapi bukankah sedari dulu Tuan tahu itu bukan yang utama. Kami menuntut karena jenuh dengan kemalasan tak berkesudahan. Tuan wajib melaksanakan beban peradaban, ambil kalam celupkan dalam tinta dan tuliskan lagi bait-bait yang baru.

Laksanakan Tuan atau anda akan dijatuhi hukuman, sebagaimana setiap kesalah tak lepas dari penghakiman. Camkan itu Tuan!

XXX

Baitul Asyikin, rumah para pencinta. 29 Syawal 1446 H bertepatan 28 April 2025

Beberapa KATALOG OASE

  1. Secangkir Kopi Dari Aceh; 22 Januari 2018;
  2. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  3. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  4. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  5. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  6. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  7. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  8. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  9. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  10. Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri; 3 April 2019;
  11. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  12. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  13. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  14. Sunyi; 19 Maret 2020;
  15. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  16. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  17. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
  18. Semerbak Aroma Angsana di Banda Aceh; 30 November 2020;
  19. Derita; 14 Juli 2021;
  20. Alamanak Akan Terus Berganti; 4 Januari 2022;
Posted in Kolom, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

SENJAKALA KATA

Kitab Futuhat al-illiyat Karangan Syeikh Sulaiman al-Jamal. Tafsir Kitab al-Jalalain juz 3. Isi menceritakan tafsir Surat al-Kahfi.

SENJAKALA KATA

Pernah ada masa buku-buku menjadi sumber hikmat yang tak pernah ada habisnya, hikmat di dalamnya menjadi perbendaharaan yang tak pernah habis dibelanjakan, kekayaan yang tak akan rusak maupun habis karena diberi-berikan. Kini perhiasan yang tak mau usang itu, yang pernah menjadi kesenangan yang tak mungkin habis masanya, habis sudah masa jayanya. Zaman bergeser, bacaan semakin banyak, Buku-buku tergantikan oleh tulisan-tulisan singkat di media sosial. Setelah itu muncul badai yang sesungguhnya, video telah mengantikan tulisan-tulisan itu, kata dikalahkan oleh visual.

Sebagaimana syair digantikan nyanyian, sebagaimana kata berima naik turun harus menghadapi kata-kata yang diiringi melodi. Begitulah kata-kata dalam bentuk tulisan dikalahkan oleh gambar berkata-kata. Mungkin itulah dunia, dinamis, generasi baru muncul dengan kebiasan-biasaan baharu, yang lebih modern, zaman lama kian jauh, bahkan menjauhi seolah-olah berabad-abad lalu padahal belum dua atau tiga kata-kata.

Buku telah menjadi makam, sebagaimana nisan-nisan zaman lama berinskripsi, ia masih hadir di zaman ini, tapi hanya menatap dari tepi jalan, terlihat sakral namun tak terpedulikan. Kata-kata telah menemukan senjanya dalam bentuk tulisan itu. Tiap-tiap sesuatu ada sejarahnya. Candi-candi besar dan indah punya sejarah masing-masing. Di antaranya ada yang sudah diketahui orang riwayatnya dengan seksama, maka tentulah buah pikiran yang dipusakakannya, sebagai pencari jalan keselamatan dunia dan akhirat, riwayatnya lebih berguna dipelajari.

Buah pikiran yang indah-indah, ibarat bukit batu, kokoh. Sesungguhnya zaman berkisar, kemajuan manusia senantiasa bertambah tinggi dan keadaan di muka bumi selalu berubah-ubah, tapi hikmat kekal dan abadi. Ia tak lapuk kena hujan, tak lekang kena panas. Kunjungilah buku-buku itu, makam-makam tua, urailah barang sekedarnya, agar bertambah mahal harganya di mata arif bijaksana. Kata-kata mungkin telah mengalami senjakala, tapi bukankah senja itu adalah sebuah bentuk keindahan, wujud cahaya terakhir sebelum disergap kegelapan.

Beberapa renungan terakhir:

  1. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  2. Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri; 3 April 2019;
  3. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  4. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  5. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  6. Sunyi; 19 Maret 2020;
  7. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  8. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  9. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
  10. Semerbak Aroma Angsana di Banda Aceh; 30 November 2020;
  11. Derita; 14 Juli 2021;
  12. Alamanak Akan Terus Berganti; 4 Januari 2022;
  13. Prosa Alam Gayo Lues; 12 Agustus 2022;
  14. Gelas Kehidupan; 16 Desember 2022;
  15. Bagaimana Mengelola Harta Menurut Hikayat Kalilah wa Dimnah; 8 April 2024;
Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MENJAWAB POLEMIK MAKAM TANDINGAN SYEKH ABDUR RAUF AS-SINGKILI ATAU TENGKU SYIAH KUALA

Gerbang Makam Syekh Abdur Rauf As Singkili atau Tengku Syiah Kuala di Kota Banda Aceh

MENJAWAB POLEMIK MAKAM TANDINGAN SYEKH ABDUR RAUF AS-SINGKILI ATAU TENGKU SYIAH KUALA

Dimana Makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili yang Asli?

Terdapat dua makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili yang masing-masing diyakini sebagai makam sebenarnya. Satu berada di Syiah Kuala kota Banda Aceh dan satunya lagi di Aceh Singkil. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan dimanakah makam yang sebenarnya? Berikut penelitian kepustakaan yang dilakukan penulis.

Pada tahun 1985, salah seorang ulama Aceh ternama Al-Marhum Syekh Abdur Rauf As-Singkili (atau dikenal dengan nama Syiah Kuala) memiliki makam kedua. Peristiwa ini diawali dengan datangnya satu tim ekspedisi dari Ulakan, Pariaman Sumatera Barat. Hasil temuan tim ekspedisi ini mengungkapkan bahwa makam Syekh Abdur Rauf yang berada di Kuala Kreung Aceh di kota Banda Aceh, telah pindah ke daerah Kilangan, Singkil.1 Berita ini menimbulkan polemik yang mengemparkan masyarakat saat itu, hal ini terlihat banyaknya tulisan-tulisan tentang beliau baik di surat kabar, majalah dan media masa lainya.

Bertahun-tahun kemudian (saat ini 2024), timbul kebingungan di masyarakat dimanakah makam ulama Syiah Kuala sebenarnya? Penulis sendiri juga kerap ditanyakan oleh masyarakat yang menghadapi dilema. Maka untuk menjernihkan suasan, penulis mencoba menganalisa secara kronologis dan argumentatif berdasarkan fakta sejarah yang ada, dan berusaha mengutarakan berbagai lika-liku kehidupan Syekh Abdur Rauf dari kecil sampai akhir hayatnya.

Asal Usul Syekh Abdur Rauf As-Singkili atau Tengku Syiah Kuala

Syekh Abdur Rauf adalah seorang ulama Aceh yang terkenal pada abad XVII Masehi, keharuman namanya terkait pula dengan Aceh ketika itu sebagai pusat study keislaman di Nusantara. Biografi masa kecilnya, tidak terlalu diketahui dan sumber-sumber historis tidak banyak memberikan data. Tahun kelahirannya, tidak diketahui pasti. Prof. A. Hasjmy memperkirakan tahun 1001 Hijriah (1593 Masehi).2 Sementara Hasan Shadily memperkirakan tahun 1023 Hijriah (1615 Masehi).3 dan H. Mohammad Said memperkirakan 1028 Hijriah (1620 Masehi)4 sebagai tahun kelahiran beliau.

Syekh Abdur Rauf lahir di kampung Baro Lipat Kajang. Simpang Kanan Singkil dari ayah bernama Syekh Ali al-Fansuri. Ayah beliau adalah saudara dari Syekh Hamzah al-Fansury, keduanya merupakan ulama yang berpengaruh di masyarakat.5 Memiliki nama lengkap Abdur Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansury As-Singkili. Istilah “Al-Jawi” menurut pengertian masa lalu adalah melayu. Nama “Fansur” yang dirangkai dengan “As-Singkili” menunjukkan ada kampung bernama Fansur  di wilayah Singkil.

Pendidikan Syekh Abdur Rauf As-Singkili atau Tengku Syiah Kuala

Sejak berumur 8 tahun Abdur Rauf belajar pada dayah orangtuanya, di sana beliau belajar menulis dan membaca bahasa Arab dan Jawi (melayu). Kemudian melanjutkan pendidikan ke Barus pada sebuah Dayah yang dipimpin pamannya Syekh Hamzah al-Fansury, ia melanjutkan pelajaran Bahasa Arab, ilmu-lmu agama, sejarah, mantik, filsafat, sastra Arab/Melayu dan bahasa Persia. Dari Barus kemudian Abdur Rauf melanjutkan menuntut ilmu ke Pasai  pada Dayah Syekh Syamsuddin As-Sumatrani, seorang ulama besar yang memiliki aliran yang sama dengan Hamzah al-Fansury.

Ketika Syekh Syamsuddin As-Sumatrani diangkat oleh Sultan Iskandar Muda menjadi Qadli Malikul Adil dan pindah ke Bandar Aceh (Ibu kota) maka Syekh Abdur Rauf bertolak ke Jazirah Arab antara lain Mekkah dan Madinah untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama yang dimilikinya. Peristiwa ini ditafsirkan bahwa ia memiliki ketidakpuasan atau keraguan terhadap ilmu yang dimilikinya selama ini.

Di Mekkah beliau tinggal di kampung Qusyasyiyah di Rumah Aceh (Bait al-Asyi) dan belajar pada Syekh Ahmad al-Qusyasyi (1583-1660 M). Di Madinah pada masa yang sama hidup pula Syekh Ibrahim al-Kurani (1616-1660 M) murid dari Syekh Ahmad al-Qusyasyi. Syekh Abdur Rauf menjadi murid mereka yang terkenal sebagai ulama sufi. Beliau menerima baiat Thariqat Syathariyah, disamping ilmu-ilmu sufi lain termasuk sekte dan ilmu pengetahuan yang memiliki relevansi dengannya.6 Beliau berada di Mekkah dan Madinah dalam kurun waktu 19 tahun, sekitar tahun 1072 H (1661 M), ada juga pendapat 1063 H (11652 M)  Syekh Abdur Rauf kembali ke Aceh.

Karya-Karya Syekh Abdur Rauf As-Singkili atau Tengku Syiah Kuala

Sebelum berangkat ke negeri Arabia, Syekh Abdur Rauf As-Singkili ditunjuk sebagai Imam Mesjid Raya Baiturrahman oleh Sultan Iskandar Muda (1590-1636 M). Beliau kembali ke Aceh pada masa Sultanah Safiatuddin (1641-1675 M). Beberapa kitab yang ditulis oleh beliau yang dapat diketahui sekarang antara lain:

  1. Kitab Turjumanul Mustafid (Tarjuman al-Mustafid) terjemahan dari Tafsir Anwaru Tanzil Wa Asrarut Takwil karangan Umar bin Muhammad Syirazy al-Baidlawy. Merupakan naskah pertama tafsir Al-Quran yang lengkap dengan bahasa Melayu pertama;
  2. Kitab Miraatut Thullab, Kitab Fiqih lengkap yang pertama dalam bahasa Melayu;
  3. Kitab Umdatul Ahkaam, kitab Fiqih lainnya;
  4. Kitab Umdatul Muhtajin Ila Suluki Maslakil Mufradin, membahas tentang ketuhanan dan filsafat;
  5. Kitab Kifayatul Muhtajin membahas tentang tasawuf;
  6. Kitab Daauqul Huruf, membahas tentang falsafat;
  7. Kitab Hidayatul Balaghah Ala Jumatil Mukhashamah, kitab yang mengupas tentang bukti, persaksian dan sumpah palsu;
  8. Kitab Bayan Tajaili, mengenail ilmu tasawuf;
  9. Syair Ma’rifat, karangan berbentuk puisi membahas tentang tariqat dan tauhid;7
  10. Kitab Majmuk Al Masail suatu uraian tentang tasawuf;
  11. Kitab Al Mau’idah Al Bidayah, membicarakan tentang akhlak dan ditulis dalam bahasa Melayu.

Selain mengarang dan menulis kitab, Syekh Abdur Rauf juga mendirikan beberapa lembaga pendidikan/dayah yang digunakan untuk mendidik para penerus untuk melanjutkan perjuangannya. Adapun Dayah yang didirikan antara lain:

  1. Dayah Tamping; Dayah Meunara; Dayah Sawit; Dayah Teubing di Pidie.
  2. Pesantren Kampung Mulia dan Pesantren Kuala di Banda Aceh.

Akhir Hayat Syekh Abdur Rauf As-Singkili atau Tengku Syiah Kuala

Syekh Abdur Rauf As-Singkili atau Syiah Kuala adalah seorang ulama, imam, penulis dan pembangun umat. Beliau dikenal sebagai tokoh yang membela hak-hak perempuan, menghabiskan usia pada hari Isnin 23 Syawal 1106 H (1695 M).8 Ada juga yang berpendapat pada 1104 H (1690 M).9 Syekh Abdur Rauf As-Singkili telah tiada, beliau meninggalkan warisan berupa kitab, dayah dan para penerus untuk melanjutkan dakwah. Jenazah beliau diwasiatkan dikebumikan di sebuah kampung di Kuala Krueng Aceh. 10 11 12 Pada nisan di makam ternukil “Al-Waliyul Mulki Syekh Abdur Rauf bin Ali Al-Fansury As-Singkili”. Untuk mengenang kembali jasa beliau sebagai ulama inteletual, Pemerintah Daerah Istimewa Aceh mengabadikan nama beliau menjadi perguruan tinggi pertama di Aceh yaitu Universitas Syiah Kuala yang didirikan pada 2 Mei 1961.

Sejarah kemunculan Makam Tandingan Syekh Abdur Rauf As-Singkili di Desa Kilangan Singkil atau Tengku Syiah Kuala

Pembangunan makam tandingan Syekh Abdur Rauf As-Singkili di desa Kilangan, Singkil diawali dengan adanya mimpi oleh sebagian pengikut aliran tariqat Syathariyah di Ulakan Priaman, Sumatera Barat. Mimpi tersebut mengungkapkan bahwa makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili yang berada di Desa Dayah Raya, kota Banda Aceh telah pindah ke Desa Kilangan Singkil yang merupakan asal beliau. Maka dimulailah perjalanan ekspedisi yang dilakukan oleh sebagian pengikut aliran Syathariyah dan memakan waktu yang sangat panjang. Pendekatan yang dilakukan bukanlah pendekatan ilmiah, melainkan pendekatan dogmatis yang sangat sulit dibuktikan secara ilmiah. Muncul dugaan oleh beberapa peneliti pada saat itu merupakan penipuan dan pemalsuan sejarah.13

Dari berbagai fakta sejarah yang ditemui seperti Ensiklopedi Indonesia dan Ensiklopedi Umum atau literatur-literatur lainnya, semua sependapat bahwa Syekh Abdur Rauf As-Singkili meninggal di Banda Aceh (dahulu bernama Bandar Aceh Darussalam) dan dimakamkan di Desa Dayah Raya di Kuala Krueng Aceh kota Banda Aceh.

Pada tahun 1990 menanggapi eksistensi makam tandingan yang dianggap sebagai “Makam Tandingan Syekh Abdur Rauf As-Singkili” di Desa Kilangan Singkil maka Departemen Agama melalui Mardin M. Nur seorang putra Singkil untuk melakukan penelitian lapangan. Menurut hasil reportase yang dilaporkan masalah ini merupakan masalah yang sangat sulit dimengerti, karena sebelum dipugar dan diberi nama makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili, makam tersebut telah lama ada. Menurut keterangan masyarakat setempat, makan tersebut dipercaya telah ada sejak zaman penjajahan Belanda, namun demikian secara umum masyarakat Singkil tidak mengetahui dengan pasti kehadiran makam tersebut. Mardin M. Nur kemudian mempertanyakan kehadiran makam tersebut dan mendapati keterangan bahwa sebelum dipugar area makam tersebut dikelilingi semak belukar dan rumput liar. Pemilik tanah, Ustad Sakyuddin bahkan mengatakan bahwa pada awalnya tanah yang dimilikinya hanyalah tanah kosong dan tidak memiliki perkuburan, karena situasi tersebut ia membiarkan tanah kosong dan ditumbuhi semak belukar. Pada suatu hari Ustad Sakyuddin bemaksud menanam palawija dan tanaman lain di tanahnya, ketika dibersihkan ditemuinya sebuah makam sepanjang 7 meter, semula ia tidak mempercayainya karena panjang makam melebihi makam-makam biasa. Ia mengambil inisiatif membuang nisan makam ke sungai Singkil di pinggir tanahnya. Keesokan harinya kedua nisan tersebut menancap kembali di tempat dicabut kemarin. Kejadian aneh ini dilaporkan kepada Kepala Kampung, imam dan masyarakat sekitar. Oleh karena keajaiban makam tersebut maka masyarakat berkesimpulan bahwa makam tersebut adalah makam yang baru pindah dari seorang aulia yang entah siapa namanya, makam ini pada awalnya terkenal dengan nama “Makam Batuah”. Atas inisiatif masyarakat setempat di atasnya dibangun balai yang beratap daun rumbia. Sejak saat itu masyarakat Singkil dan sekitar berziarah kesana.14

Kedatangan sejumlah orang Pariaman yang beraliran Tariqat Syathariyah kesana dan melakukan pemugaran dan menganggap sebagai makam tandingan Syekh Abdur Rauf As-Singkili diluar dugaan masyarakat. Makam yang dibangun pada tahun 1985 sepanjang 2 x 9 meter dilengkapi dengan sebuah rumah semi permanen dan sebuah balai. Pembiayaan pembangunan di waktu itu menghabiskan dana Rp. 7.000.000,- (tujuh juta rupiah). Menanggapi persepsi masyarakat Singkil waktu itu (tahun 1990) maka Mardin M. Nur mewawancarai T.H. Abdurrahman selaku Ketua Majelis Ulama Wilayah Singkil waktu itu dan beliau menyatakan bahwa masyarakat Singkil sampai hari ini (Kejadian tahun 1990) tetap berpendapat bahwa makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili yang sebenarnya ada di Kuala Kreung Aceh. Hal ini berdasakan data yang diperolehnya selama beberapa tahun terakhir (rantang tahun 1985-1990). Terlebih dari itu berbagai sejarawan dari dalam maupun luar negeri sekalipun memiliki pendapat yang sama. T.H. Abdurrahman menambahkan bahwa makam yang telah dipugar sekarang ini adalah makam seorang aulia yang entah siapa namanya.15

Mardin M. Nur melaporkan bahwa sekarang (tahun 1990), makam yang semi permanen itu, berdiri dengan indah dan menarik. Di dalamnya dihiasi berbagai hiasan warna-warni, di sekelilingnya ditutupi dengan kelambu berwarna hijau dan dan di pasang setinggi dua meter. Keindahan dan kenyamanan makam tersebut sangat mempesona dan menggugah hati bagi siapapun yang meliriknya. Namun, masyarakat Singkil tetap berpendapat bahwa bangunan indah itu adalah seorang aulia dan Syekh Abdur Rauf As-Singkili.16 Tentu keadaan masyarakat Singkil tahun 1990 ketika Mardin M. Nur kesana dengan keadaan masyarakat Singkil ketika tulisan ini ditulis (Mei 2024) bisa jadi berubah, bisa jadi sekarang makam tersebut telah dianggap sebagai makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili.

Sikap Majelis Ulama Indonesia Provinsi Daerah Istimewa Aceh

Atas terjadi polemik adanya dua makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili maka diadakan rapat kerja Mejelis Ulama Provinsi Aceh dan menerbitkan keputusan Nomor No.469.083/835/1987 tanggal 15-16 Juli 1987 tentang pembongkaran makam yang berada di desa Kilangan Singkil.

Pembongkaran tersebut tidak pernah terjadi, mengingat makam tersebut sering dikunjungi oleh masyarakat, hal ini dibatalkan karena mencegah terjadinya kontradiksi antara masyarakat Singkil dengan pemerintah, apalagi sampai membawa perpecahan umat. Namun tentunya diharapkan para pimpinan Majelis Ulama Indonesia sebaiknya menyusun buku riwayat hidup Syekh Syekh Abdur Rauf As-Singkili dan turun tangan guna memulihkan nama makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili. Namun apabila belum ada buku yang dikeluarkan untuk meluruskan hal tersebut, maka paling tidak tulisan ini dapat memberi sedikit pencerahan.

Kesimpulan

  1. Nama lengkap Syekh Abdur Rauf As-Singkili adalah Abdur Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri As-Singkili merupakan ulama besar yang dikagumi di Aceh, Indonesia, Asia Tenggara bahkan dunia.
  2. Makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili secara kajian ilmiah berada di Desa Dayah Raya, Krueng Aceh, Kota Banda Aceh.

Daftar Pustaka:

  1. Majalah Santunan No.163 THH-XVI Juni 1990 (No. ISSN 0216/0790). Diterbitkan Kantor Wilayah Departeman Agama Daerah Istimewa Aceh, hal 36.
  2. Ali Hasjmy. Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, 1983, hal 202.
  3. Hasan Shadily, dkk. Ensiklopedia Indonesia Jilid I, 1980, hal 55.
  4. Mohammad Said. Aceh Sepanjang Abad Jilid I, 1978, hal 413.
  5. Drs, M. Hasan Banta. Rijalul Dakwah IAIN Jami’ah Ar-Raniry, 1984, hal 1.
  6. Hawash Abdullah. Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh Tokohnya di Indonesia. 1980. Hal. 50.
  7. Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, hal 204-205.
  8. Ibid, hal 205.
  9. Mohammad Said. Aceh Sepanjang Abad Jilid I, 1978, hal 419.
  10. Keputusan Rapat Kerja Majelis Ulama Indonesia Dista Aceh tentang Makam Syekh Abdur Rauf, 15-16 Juli, 1987 di Banda Aceh.
  11. Mr. A.G. Pringgodgdo, dkk. Ensiklopedi Umum, 1973, hal 2.
  12. Hasan Shadily, dkk. Ensiklopedia Indonesia Jilid I, 1980, hal 55.
  13. Majalah Santunan No.164 THH-XVI Juni 1990 (No. ISSN 0216/0790). Diterbitkan Kantor Wilayah Departeman Agama Daerah Istimewa Aceh, hal 36-37.
  14. Ibid, hal 37.
  15. Ibid, hal 37.
  16. Ibid, hal 37.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  2. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  3. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  4. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  5. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  6. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  7. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  8. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  9. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  10. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  11. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  12. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  13. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  14. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  15. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  16. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  17. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  18. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  19. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  20. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  21. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  22. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  23. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  24. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  25. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  26. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  27. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  28. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  29. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  30. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  31. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  32. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  33. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  34. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  35. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  36. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  37. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  38. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  39. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  40. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  41. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  42. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  43. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  44. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  45. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
  46. KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA; 9 APRIL 2021;
  47. HIKAYAT MEURAH SILU; 8 JUNI 2021;
  48. SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR; 29 JUNI 2021;
  49. RAJA DEKAT TUHAN JAUH; 3 AGUSTUS 2021;
  50. BERZIARAH KE MESJID ASAL PENAMPAAN DI BLANGKEJEREN GAYO LUES; 17 AGUSTUS 2021;
  51. KISAH-KISAH DI BLANG; 22 NOVEMBER 2021;
  52. ORIDA (OEANG REPUBLIK INDONESIA) ACEH 1947-1949; 14 JANUARI 2022;
  53. ACEH YANG DILUPAKAN; 29 MARET 2022;
  54. PROSA ALAM GAYO LUES; 8 AGUSTUS 2022;
  55. ADAT PELANTIKAN PEMAHKOTAAN PENABALAN SULTAN ACEH DARUSSALAM; 10 JANUARI 2023;
  56. SUSUNAN PEMERINTAHAN ACEH SEMASA KESULTANAN; 14 APRIL 2023;
  57. HIKAYAT SEJARAH ASAL MULA RENCONG; 22 JUNI 2023;
  58. MASIHKAH ORANG ACEH BERJIWA PENYAIR; 25 JUNI 2023;
  59. SEJARAH BENTUK DAN FILOSOFI RUMAH ACEH; 9 JULI 2023;
Posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

INGATAN SEBATANG POHON ASAM

Ingatan Sebatang Pohon Asam. Keunaloi Seulimeum Aceh Besar. 21 April 2024.

INGATAN SEBATANG POHON ASAM

Di belakang pasar Seulimeum. Ada satu turunan jalan mengarah ke kampung Keunaloi, setelah madrasah ada beberapa rumah sebelah kiri jalan, itulah tempat ayah dari ayahku dilahirkan dan dibesarkan.

Sebelah kanan jalan aliran sungai berbatu kerikil.  Aku, ayah, kakek, dalam nasab segaris sampai Indatu tak tercatat lagi, pernah bermandikan sungai, airnya yang jernih itu.

Ada sebuah ruang, dimana kami pernah menjejaki tanah yang sama meski perjumpaan antara nasab hanya saling beririsan, dalam waktu yang berbeda. Hadir bersamaan adalah hal tak mampu kami jangkau bersekalian.

Dua belas tahun sudah kampung ini tak aku datangi lagi, padahal ketika kanak-kanak ayah dan kakek sering mengajakku kemari. Entah mengapa perasaanku mengharu biru ketika tempat ini aku jejaki kembali, mungkin karena tempat ini mengikat kenangan tentang ayah dan juga kakek.

Rumah kayu leluhur telah berganti beton berbata ringkih, sebagai metafor kehadiran manusia yang rapuh di atas permukaan bumi ini, orang-orang tua yang kukenal juga sudah banyak yang berpulang.

Aku mengelilingi kampung ini menghirupi udaranya dalam-dalam untuk mengorek, mencungkil peradaban yang lampau disini. Kampung Keunaloi berada dekat dengan Seumileuk dimana tamaddun Kerajaan Mante pernah berdiri, kuno bahkan sebelum Aceh ada. Jangan tanyakan dimana jejaknya, bahkan bangunan-bangunan dua puluh tahun lalu pun telah sirna, apalagi dua puluh abad lalu, maka tak ada laporku.

Ada sesuatu yang akrab seolah memanggilku menuju kesana. Sebatang pohon asam di tikungan jalan. Aku pandangi lama-lama, ia adalah sebagai pengingat bahwa ini adalah kampung kakekku. Pohon asam itu masih berdiri dengan posisi yang sama, di pinggir jalan aspal mulus yang baru ada lima enam tahun lalu

Pohon asam ini adalah memburai segala kenangan lama di kampung Keunaloi. Kusentuh dia dan berbisik mesra padanya, ceritakanlah sejarah zuriatku sambung menyambung sampai mana? Wahai pohon ceritakan segala ingatanmu!

Semilir angin sejuk di sore hari menyentuh wajahku, kaki dan tanganku  bergetar dan pohon hanya membisu. Seraya menatapku seolah berkata: Andaikan ingatan ini bisa ku ceritakan kepadamu, tapi sebatang pohon tak mungkin berkata-kata, ini adalah sunnatullah.

Aku menikmati ledakan emosinal yang mengetarkan, membahagiakan sekaligus mengharukan. Membawa senyuman sekaligus mata berkaca-kaca. Aku berjalan meninggalkan pohon asam, dengan posisi mundur seolah tak ingin melepaskan pandangan padanya

Aku melewati bekas bale kayu, dimana aku pernah mendengar hikayat-hikayat Kuno, kejadian itu sekitar tiga puluh tahun lalu, kini tempat bercerita itu telah berubah menjadi lapangan voli, dibiayai oleh dana desa, didukung oleh APBN.

Tahun ini aku berumur empat puluh tahun. Hatiku membuncah dalam getaran memikirkan pertanyaan yang membekas dalam batinku. Mungkinkah aku zuriat terakhir yang akan berkunjung kemari?

Kampung Keunaloi, Seulimeum. 21 April 2024

Syair ini sebagai pengingat bagi setiap anak laki-laki, bahwa ayahmulah adalah satu-satunya manusia di muka bumi yang memiliki keinginan yang kuat, untuk melihatmu menjadi seorang laki-laki yang LEBIH BAIK dari dirinya. Di dunia ini kelak kau akan tumbuh dewasa, bertemu dan belajar dari orang-orang hebat lainya. Baik itu guru, imam, pemimpin bahkan siapapun. Tapi kau tidak akan pernah menemukan perasaan yang sama sebagaimana ayahmu dari setiap orang yang kau temui.

Beberapa puisi terakhir:

  1. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  2. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  3. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  4. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  5. Jangan Mencintai Lautan; 4 April 2019;
  6. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  7. Peucut Kherkof Suatu Masa; 24 September 2019;
  8. Mengunci Malam; 1 April 2020;
  9. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  10. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  11. Jejak Langkah; 26 Desember 2020;
  12. Hati Resah Berkisah; 1 April 2021;
  13. Kopi Pahit Semalam; 11 Agustus 2021;
  14. Mimpi Mimpi Pion; 30 November 2022;
  15. Kembali Pada Kekasih; 28 Mei 2022;
Posted in Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

BAGAIMANA MENGELOLA HARTA MENURUT HIKAYAT KALILAH WA DIMNAH

Naskah KALILAH WA DIMNAH yang disalin pada 1429, dari Herat, melukiskan sekor serigala yang mencoba menyesatkan singa. Kelileh va Demneh. This 15th century Persian mauscript is kept at the Topkapi Palace Museum in Istanbul, Turkey.


BAGAIMANA MENGELOLA HARTA MENURUT HIKAYAT KALILAH WA DIMNAH


Hikayat Kalilah Wa Dimnah ditulis seorang pintar dari bangsa Hindu dalam bahasa sanskerta antara 1 abad sebelum Masehi bernama Baidaba atas titah Maharaja Dabsyalim yang memerintah di negeri Hindustan setelah negera ini dibebaskan dari penyerbuan oleh Alexander Agung dari Macedonia. Oleh Abdullah bin Muqaffa’ seorang sekretaris khalifah Abu Ja’far al-Manshur khalifah kedua pada Dinasti Abbasiyah (memerintah 754-775 Masehi) diterjemahkan ke bahasa Arab dari bahasa Persia. Ibnu Muqaffa’ beribu bapak Persia dan ahli dalam bahasa Arab, Ia lahir di Basrah pada permulaan abad kedua Hijriah ketika Basrah termasyur sebagai pusat ilmu pengetahuan. Dari bahasa Arab kemudian Hikayat Kalilah Wa Dimnah diterjemahkan kepada berbagai bahasa antara lain: Suryani, Yunani, Ibrani, Latin. Spanyol, Inggris, Rusia, Perancis, Italia, Turki, Jerman, Belanda, Indonesia dan lain-lain.


Diawali dengan Hikayat Singa dan Lembu. Ketika Maharaja Dabsyalim bertitah kepada Baidaba. “Cobalah guru ceritakan perumpamaan dua sahabat yang saling berkasih-kasihan oleh karena perbuatan tukang fitnah yang dusta, menjadi putuslah persahabatannya dan akhirnya bermusuhan.”


“Ampun tuanku.” Sembah Baidaba. “Jika dua orang yang bersahabat ditengahi oleh tukang fitnah yang dusta, tak dapat dan tak bukan putuslah persahabatan itu dan bermusuh-musuhanlah keduanya. Tak ubahnya Hikayat Singa dan Lembu yang akan patik ceritakan itu.”


Alkisah di negeri Dastawand seorang bapak telah menjadi tua mempunyai tiga orang anak laki-laki, mereka tiada kerjanya sehai-hari melainkan menghabiskan harta ayahnya pada jalan yang tidak berfaedah sedikitpun jua. Pada suatu hari bernasehatlah orang tua itu kepada anak-anaknya.


“Hai anakku.” Katanya, “manusia mencari tiga perkara dengan menggunakan empat perkara sebagai perkakas. Tiga perkara yang perlu dicari itu, ialah rezeki yang mudah, derajat yang mulia dan perbekalan untuk akhirat.”


“Dan empat perkara sebagai perkakas, ialah pandai mencari harta, pandai memeliharanya/menyimpannya, pandai menjalankannya dan pandai membelanjakannya. Barang siapa menyiakan salah satu dari empat perkara itu, maksud yang hendak dicapai tidak akan tercapai selama-lamanya.”

“Orang yang tiada pandai mencari tentulah tiada akan berharta. Pandai mencari tetapi tidak pandai menyimpan tentu hartanya akan segera habis dan ia menjadi miskin. Pandai juga menyimpan tapi tidak pandai menjalankannya tentu akan habis juga hartanya. Pandai menjalankannya tetapi tidak pendai membelanjakannya pada jalan kebajikan samalah dengan orang miskin yang tidak berharta.”


“Janganlah menyangka bahwa harta yang tiada dibelanjakan ini akan kekal selamanya. Air yang tergenang pada suatu tempat dan tidak diberi jalan mengalir akan pecah dan menjadi terbuang percuma. Sebaliknya jika dalam membelanjakannya dalam hal sia-sia akan menjatuhkan kehormatan, sebagaimana air yang memancar kemana-kemana tiada berguna.”


Mendengar nasehat orang tua tersebut, barulah ketiga anak itu insaf dan sadar dan sejak itu berubahlah kelakuan mereka. Masing-masing mereka mulai rajin berkerja untuk mencari nafkah, pandai hidup berhemat dan mulai menyimpan untuk hari tua.


Hikayat Kalilah Wa Dimnah memiliki alur transisi cerita sebagaimana Hikayat 1001 Malam, dimana satu kisah akan dimasuki/memasuki kisah lainnya. “Pada suatu hari berangkatlah yang tertua untuk berniaga ke negeri lain. Barang-barang perniagaannya dimuatkan dalam sebuah pedati yang dihela oleh dua ekor lembu bernama Syatrabah dan Bandabah.”  Kisah dalam Hikayat kita cukupkan sampai disini saja, untuk kisah lengkap dapat dibaca langsung pada edisi terjemahannya, tersedia pula dalam bahasa Indonesia dan telah diterbitkan oleh beberapa penerbit salah satunya Balai Pustaka.


Kajian yang menarik dalam pembukaan kisah adalah bagaimana mengelola harta agar dapat mencapai kemuliaan di dunia dan akhirat sebagaimana nasehat bapak tua tersebut kepada anaknya. Yaitu ketika seorang anak manusia dalam mencari rezeki dan mengelola hartanya dapat mencapai kebahagiaan jika ia mampu:



  1. Mencari harta dengan baik (Mencari harta yang halal dan baik);

  2. Menyimpan harta dengan baik (Mengumpulkannya dan mengkumulasikannya);

  3. Menjalankan harta dengan baik (Memutarkannya, menjalankan usaha sehingga bertambah dan terjadi lompatan eksponensial);

  4. Membelanjakannya dengan baik (Tidak menahan diri sehingga kikir dan tidak terlalu foya-foya sehingga menjadi ria).


Sebuah sempilan dari kisah yang dituliskan sekitar 21 abad yang lalu ini menjadi menarik di tahun 2024 ini terutama di poin 4, di era media sosial dimana orang dengan bangganya memamerkan harta dengan cara-cara yang berlebihan untuk mendapatkan pengakuan dari nitizen, sejatinya malah tidak meninggikan derajatnya malah melemparkan dirinya kedalam kehinaan dan kebodohan yang tak terkira! Sumpah ini bukan pendapat saya pribadi! Ini hanya pendapat orang bijak yang dituliskan dalam rangkaian kisah yang berjudul Hikayat Kalilah Wa Dimnah, yang follower media sosialnya tidak sebesar idola masa kini.


Beberapa opini terdahulu:



  1. Kaya Tanpa Harta; 24 November 2019;

  2. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;

  3. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;

  4. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;

  5. Kenapa Sejarah Tak Boleh Dilupakan; 4 Oktober 2020;

  6. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;

  7. Mengapa Harus Mempelajari Bahasa Daerah; 17 Maret 2021;

  8. Ilmu Memahami Ilmu; 15 Juni 2021;

  9. Lembu Patah; 18 Desember 2021;

  10. Jangan (Mudah) Percaya Dengan Apa Yang Kau Baca; 12 Februari 2022;

  11. Aceh Yang Dilupakan; 29 Maret 2022;

  12. Sejarah Tak Bepihak Kepada Kita; 8 September 2022;

  13. Di Bawah Naungan Lentera; 26 Januari 2023;

  14. Masihkah Orang Aceh Berjiwa Penyair; 24 Juni 2023;

  15. Ditampar Kebenaran; 8 Oktober 2023;

Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

INFOGRAFIS TSUNAMI ACEH

INFOGRARIS TSUNAMI ACEH 26 DESEMBER 2004

Infografis Tsunami Aceh, 26 Desember 2004 dari situs tengkuputeh.com

Infografis Tsunami Aceh, 26 Desember 2004 dari situs tengkuputeh.com

26 Desember 2004, antara pukul delapan dan lewat lima belas menit, perantah gemetar, keramik berjatuhan. Ia berjalan keluar rumah dan melihat orang bertakbir di jalan dan gang-gang kecil, tak lama terbunyi suara ledakan. Dalam tempo hitungan menit. “Laut datang!” terdengar orang-orang memekik.

Gulungan gelombang setinggi lima belas meter menggodam kota tepi pantai itu dengan ganas, gempa melontarkan tsunami ke daratan. Kemudian air datang kembali ke laut, ribuan bangkai terapung, terangkut, lenyap atau tersangkut di bumi.

Sumber: tengkuputeh.com

Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

POLIFONI BERGERAK MEMENCAR

Teko kuno dari zaman Kesultanan Aceh Darussalam

POLIFONI BERGERAK MEMENCAR

Hidup ini adalah sebuah polifoni, bergerak, memencar, multi dimensi, lipatan yang tak henti-hentinya. Seiring jalannya waktu seharusnya kita semakin sadar bahwa satu saat kelak akan meninggalkannya, bahwa sesungguhnya yang terbaik dari dunia ini bukanlah keabadian, melainkan kefanaan, yang abadi tak akan ada disini. Pada akhirnya kita semua hanyalah menjadi kenangan bagi orang-orang yang kita tinggalkan, sungguhpun begitu memori itu pun rapuh. Kita bisa mengingat, tapi melupakan apa yang kita dengar. Ataupun kita bisa mengingat apa yang kita dengar tapi melupakan apa yang kita rasakan.

XXX

Pinggiran kota Banda Aceh, awal tahun 2000-an. Beberapa tahun sebelum tsunami Aceh (2004), beberapa tahun sebelum perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Republik Indonesia (2006). Waktu itu adalah sebuah zaman yang berbeda, suasana mencekam dan letupan-letupan senjata terkadang nyalang di malam hari. Sebegitu sering baku tembak terdengar kami bisa membedakan suara AK-47 milik GAM yang cempreng dan suara M-16 milik TNI yang lebih padat. Banda Aceh seharusnya merupakan zona aman dari wilayah perang disekitar tapi ibarat air di bak yang penuh, ia pun merembes. Waktu itu umur Abu sekitar 16-17 tahun.

Pada setiap kekacauan tentunya terdapat secercah cahaya, waktu-waktu itu masjid merupakan tempat yang paling aman untuk berkumpul bagi kami para remaja tanggung. Maka seringlah kami para remaja seumuran berkonsolidasi di sana untuk merencanakan bermain bersama. Hujan deras mengguyur kota Banda Aceh selepas Maghrib, Abu dan beberapa teman berencana membolos malam ini dari pelajaran membaca kitab, kami berencana menonton kualifikasi Piala Dunia 2002, Jerman vs Inggris. Apa dinyana kami terjebak di dalam masjid dan tidak bisa melarikan diri ketika ustad usup membuka kitab.

Abu memiliki banyak keahlian seperti sejarah, bahasa, sastra, pengetahuan sosial dan lain-lain. Tapi membaca kitab tidak masuk kategori. Ustad Usup membuka kitabnya yang paling tersohor bagi para santri di tanah Melayu, semua yang pernah mengaji pasti tahu kitab Masailal Muhtady. Kitab ringkas berisi perpaduan ilmu Tauhid, Fiqih dan Tasawuf. Keunikan kitab ini berisi pertanyaan-pertanyaan sederhana yang disertai jawaban yang ringkas.

Ustad Usup membuka kitab dan menguji bacaan para muridnya satu persatu, apakah ada peningkatan dalam membaca huruf Arab Jawi (Tulisan Arab namun bacaannya Melayu). “Bagaimanakah seseorang dikatakan beriman?” Beliau membaca bagian pertanyaan. “Seseorang dikatakan beriman jika dia memahami tiga ilmu dasar yaitu Tauhid, Fiqih dan Tasawuf.” Beliau melanjutkan bacaannya, dan Abu sudah tidak ada disitu tertidur dalam duduk, meninggalkan teman-teman sekalian dan ustad.

“Grrrrrrrrrrr!” Suara gelak tawa membangunkan Abu dari tidur.

Almarhum Ustad Usup, semoga Allah S.W.T melapangkan kuburnya dan memberikan rahmat-Nya yang tak henti-henti kepada beliau. Saat itu Ustad Usup tersenyum kepada Abu, yang sebenarnya sudah pasrah kena hukuman.  “Kalian tahu bagaimana ciri-ciri ahli surga?” Beliau bertanya.

Kami semua menggeleng.

“Pertama tiap-tiap orang yang menghadiri majelis ilmu seperti kita sekarang, karena dalam setiap majelis ilmu Allah S.W.T menurunkan segenap keberkahan-Nya. Dan ketika seseorang tertidur Allah S.W.T menurunkan juga sakinah-Nya yaitu ketenangan. Barusan Abu tertidur dalam majelis ilmu, jika ada dua hal dalam satu keadaan terjadi pada seseorang tentunya ridha Allah S.W.T turun kepadanya dan dia kita duga menjadi ahli surga.” Teman-teman Abu tertawa lepas, dan Abu tersipu malu. Betapa baiknya guru Abu, betapa halus budinya.

Ustad Usup kemudian bercerita, “sebagaimana pernah kita pelajari dalam surat al-kahfi ada 7 pemuda yang akan dibunuh raja, diberikan ketenangan oleh Allah S.W.T, mereka tertidur. Menurut perasaan mereka setengah hari, padahal 300 tahun. Mereka melupakan rasa takut dan lapar oleh karena rahmat Allah S.W.T untuk dibangunkan kembali ketika raja adil memerintah.”

Kata-kata beliau menyejukkan batin kami, bagaimana pun meski pun kami masih remaja dan tidak terlibat dalam konflik antara GAM dan RI, kami paling sedikit pernah mengalami satu dua kali pemukulan oleh oknum aparat tanpa alasan. Muncul pertanyaan bagi kami waktu itu apakah karena kami adalah orang Aceh? menguatkan sebuah teori sosial yang kelak Abu baca bertahun-tahun belakangan. Manusia yang bengis memiliki kecenderungan untuk menilai ras, bangsa, atau sekelompok manapun yang tampak lain, berdasarkan contoh dari mereka yang paling tidak bermutu.

“Jadikan sabar dan shalat sebagai penolong kalian!” Ustad Usup selalu mengingatkan. Abu berpikir mungkin itulah fungsi agama mengenalkan kita kepada Tuhan, yang menjadi tempat bersandar ketika tidak ada satu tempatpun di dunia ini dijadikan sandaran.

Waktu pun terus berjalan, kami bertambah dewasa, ada juga yang sudah tiada.

XXX

Langsa, menjelang akhir 2023. Disudut warung kopi Abu melihat sebuah piala, tak tersentuh lama dan sudah berjaring laba-laba seolah menceritakan bahwa ia sudah tak tersentuh lama, dan terlupakan keberadaannya di sudut warung. Abu menghirup kopi pahit dan mendengarkan pembicaraan dua remaja tanggung di meja sebelah tentang banyak hal, termasuk sejarah, bidang kesukaan Abu.

Piala berjaring laba laba di Teras Kopi Langsa circa Desember 2023

Ketika mendengar kalimat-kalimat mereka Abu berusaha tidak menyalahkan pengetahuan yang mereka miliki, dapat diasumsikan mereka hidup di zaman yang berbeda dengan apa yang pernah Abu alami, bahkan dalam menyusun prioritas berbeda pula.

Beberapa hal yang terlihat elementer bagi orang-orang yang Abu kenal terlihat begitu rumit bagi mereka, ketika mereka mengatakan New York sebagai ibu kota Amerika Serikat, sementara semua teman-teman Abu sewaktu Madrasah Ibtidaiyah tahu bahwa itu adalah Washington D.C. Mungkin saat ini para remaja tak perlu tahu bahwa sungai Musi itu di Palembang, atau ibu kota Jawa Tengah adalah Semarang. Banjir infomasi di saat ini di era smartphone ternyata memberikan bias bagi generasi muda. Satu sisi Abu menyadari mereka sedang berproses. Tiap generasi muda memang ada masa hura-huranya, bodoh-bodohnya. Kelak mereka akan dewasa dan berkemungkinan menjadi julid kepada generasi berikutnya.

Begitulah hidup, ada yang datang dan ada yang pergi, generasi berganti dan orang-orang hulu lalang. Di usia yang mendekati umur 40-an, Abu menyadari mungkin dalam pementasan ini bukanlah pemeran utama, melainkan seorang figuran yang biasa-biasa saja, tak terhiraukan di sudut warung kopi sebagaimana piala yang telah berjaring laba-laba tadi. Tapi bukankan setiap lakon memerlukan cerita? Maka sesungguhnya tidak ada peran yang kecil, yang ada hanyalah aktor yang kerdil dalam menjalankan perannya.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

CONTOH PUISI CINTA BAHASA PORTUGIS (PERDER)

Sim, eu realmente sinto muita falta dele.

PERDER

Talvez eu tenha sentido falta dele.

É assim que ele também se sente, durante todo esse tempo ele tem me encorajado a alcançar meus objetivos, nos convencendo a continuar lutando mesmo que não consigamos ver a luz.

Estou tentando fazer as pazes com minhas limitações. Aceitar que é impossível proteger todos que amo. Não sou um guerreiro e nem um herói.

Talvez eu realmente sinta falta dele.

Cada vez que vejo seus olhos brilhando como os de uma criança, me sinto o padrinho.

Sim, eu realmente sinto muita falta dele.

Ele sempre me dá incentivo e orgulho

Eu sinto falta dela.

Banda Aceh 4 de agosto de 2017

traduzido de: Rindu

Posted in Literature, Mari Berpikir, Poetry | Tagged , , , , , | Leave a comment