MEMBACA ANGIN MENGHINDARI BADAI

IA mencintai apa yang mencintai-NYA.

MEMBACA ANGIN MENGHINDARI BADAI

Aku adalah miim, yang mencoba menggapai perahu baa, guna mencapai aalif.

Apa penting bagi orang-orang kecil mempelajari sejarah? Bagi para pemenang, sejarah adalah nostalgia tentang bagaimana kejayaan itu diperoleh. Sementara bagi orang kecil yang kalah, sejarah itu adalah getir yang tak ingin tertengok kembali. Benarkah?

Alkisah pada suatu hari yang panas, Sultan Aceh sedang menerima utusan bangsa Portugis. Sultan sehari sebelumnya terlalu banyak makan gulai kambing, perut beliau cenat cenut. Saat Sultan hendak bertitah akhirnya tak tertahankan lagi, PRAAK!!! Sultan mengeluarkan kentut basah. Utusan Portugis terdiam, hening. Bau busuk memenuhi aula penghadapan. Katibul Muluk (Sekretaris Raja), Rais Waziat Addaulah (Perdana Menteri) dan sejumlah pejabat Kesultanan menahan tawa. Tak dinyana seorang hamba tiba-tiba mohon ampun, ia mengaku telah buang angin. Sultan murka dan mengusir orang tersebut dari aula penghadapan.

Beberapa hari kemudian utusan Portugis dengan kecewa kembali ke Malaka, permohonan damai telah ditolak mentah-mentah oleh Sultan Aceh, dan Kesultanan Aceh tidak hendak berdagang dengan bangsa Portugis. Tak lama kemudian Sultan memanggil orang yang pernah diusirnya ke taman sari (tempat peristirahatan) secara pribadi. Sultan merasa senang karena orang tersebut telah menutupi rasa malunya. Orang tersebut kita umpamakan bernama Abu Nawas diberikan sebuah wilayah yang luas dipinggiran ibu kota atas jasanya tersebut. Daerah tersebut kelak dinamakan Lam Geuntot (Lembah Kentut) untuk mengenang asal muasal kejadian awal mulanya.

Sejarah tidak pernah menjadi sesuatu yang sakral, sejarah itu dipelajari bukan hanya menghafal tanggal, sekedar mengingat kejadian yang pernah terjadi sebagai sebuah pengetahuan yang tunggal. Sejarah itu seharusnya adalah sekumpulan data, atau bahkan informasi yang bersifat terbuka untuk dianalis. Kemungkinan dan asal mula, penyebab dan akibat. Selayaknya di kembangkan, oleh karena itu sejarah itu imajinatif sekaligus praktis.

Jadi apakah mempelajari sejarah supaya pintar? Menjadi pintar akan sejarah justru akan menjebak dengan hafalan-hafalan yang membuat kepala menjadi pusing. Maka sebaiknya kita memahami sejarah sebagai sebuah ilmu bukan dengan tujuan semata-mata menjadi pintar. Pintar itu adalah kemampuan untuk mengingat dan tahu akan jawaban pertanyaannya, tapi menjadi orang berilmu adalah tahu kapan menggunakannya, bisa mempraktekkannya.

Apakah menjadi pintar adalah buruk? Tentu tidak, tapi jika kepintaran semata-mata yang dikejar maka terciptalah penjara imajinasi. Imajinasi menjadi sangat penting karena disanalah asumsi-asumsi keilmuan dibangun. Sejarah sebagai sebuah ilmu memberikan banyak pengetahuan kepada manusia, tentang bagaimana cara menghadapi masa depan, tentang bagaimana memecahkan masalah. Ilmu yang memberikan petunjuk bagaimana menghadapi kondisi, tentang bagaimana membaca arah angin dan menghindari badai.

Syahdan seorang sahabat Abu Nawas bertanya kepadanya, bagaimana bisa dia mampu mendapatkan anugerah Sultan berupa tanah yang cukup luas hanya karena mengakui kentut Sultan. Bisa jadi Sultan malah murka dan memenggal kepalanya yang secara nyata mengucapkan kebohongan.

Konon si Abu Nawas menjawab dengan sekenanya. Fitrahnya siapapun yang berkuasa itu senang akan kesetiaan. Kesetiaan itu adalah kemampuan memperhambakan diri, bukankah jika kita berjalan kepada Allah maka Allah akan berlari pada kita. Begitupun manusia yang merupakan ciptaannya, memiliki sebuah sifat yang ikut dari Sang Rabb ketika ruhnya ditiupkan yakni IA mencintai apa yang mencintai-NYA. Maka jika kelak Sultan menjadi mengetahui adanya kenakalan ataupun keusilannya maka dengan sedia selalu memaafkannya seraya berkata, memang begitulah si Abu Nawas tapi dia orang yang setia.

Apakah Abu Nawas oleh rakyat dianggap sebagai penjilat? Tidak pernah ada hikayat yang mengecam si Abu Nawas. Kisahnya justru menjadi lelucon yang hidup, sebagaimana humor terbagus selalu lahir dari kalangan bawah. Lelucon paling tidak lucu adalah menertawakan mereka yang tak punya, cacat dan lemah. Disinilah hebatnya Abu Nawas dalam kisahnya, ia menertawakan diri sendiri, utusan Portugis, para Menteri dan secara diam-diam (juga) sang Sultan.

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.