PERAHU BAA MENCAPAI ALIF

Pembersihan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh setelah tsunami 2004

Pembersihan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh setelah tsunami 2004

PERAHU BAA MENCAPAI ALIF

Aku adalah mim, yang mencoba menggapai perahu baa, guna mencapai alif.

Hatiku (seumpama) cuaca senantiasa berubah, langit terkadang berbintang ada kala mendung bahkan badai. Lautan tak selalu teduh begitupula hasratku terkacau oleh ikan-ikan berwarna-warni. Suara-suara mereka memanggilku untuk menyeduk air.

Seharusnya aku tahu tanganku tak mungkin menjangkau dasar lautan, jangankan langit nun jauh disana. Ada baiknya dibelenggu pikir, ada benarnya (juga) pikir menghambat rasa. Akh, kacau entah bagaimana pula jadinya.

Angin menampar-nampar pipiku yang semakin bulat. Gelambir tumbuh sana sini tapi perasaanmu masih bocah. Bocah yang bermain pasir di tepi pantai seraya menghisap gula-gula dengan riang gembira.

Siren berkecapi mendendangkan lagu lembut membuai hasratku untuk tertidur, seharusnya tak begitu, aku buta tangga nada. Ini adalah medan perang yang tak akan aku menangkan. Memandam berahi adalah jalan lurus, tapi alur laut bergelombang sehingga lurus menjadi tak pasti (lagi). Berbelok menjadi keniscayaan robek terburai dalam keterbuaian.

Aku memandang langit, Aku pandangi seksama dengan berkali-kali. Puluhan ribu kali aku memandangi langit berharap bintang-bintang bercerita. Pada hari-hari yang telah terlalui.

Ketika mengingat pada masa lalu, aku merasa malu pada diriku. Yah, terlalu banyak salah, sangat banyak khilaf. Hidupku (pernah) berbuat keliru, meski berusaha memastikan tidak mengulanginya, tanpa tahu bagaimana hasilnya.

Ku pandangi semesta, berharap dan berserah pada wajah-Mu. Aku adalah mim, yang mencoba menggapai perahu baa, guna mencapai alif.

Bait al-Hikmah, 5 Safar 1441 Hijriah bertepatan 23 September 2020 Masehi.

KATALOG OASE

  1. Manusia Semesta; 21 November 2017;
  2. Sebuah Kotak Hitam; 21 November 2017;
  3. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  4. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  5. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  6. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  7. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  8. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  9. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  10. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  11. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  12. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  13. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  14. Sunyi; 19 Maret 2020;
  15. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Cerita, Puisiku dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke PERAHU BAA MENCAPAI ALIF

  1. Ping balik: PENJARA PIKIRAN | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.