SEMERBAK AROMA ANGSANA DI BANDA ACEH

Senja kala di Blang Padang Banda Aceh

Senja kala di Blang Padang Banda Aceh

SEMERBAK AROMA ANGSANA DI BANDA ACEH

Ini adalah sebuah kota yang menjanjikan kenangan. Banda Aceh sungguh indah, jalan lurus dengan barisan rapi gedung-gedung mungil dan pepohonan angsana yang rindang. Aromanya khas dan kuat selalu memberikan kesan kepada mereka yang datang dan pergi.

Angin menderai aroma angsana terasa hari menjelang maghrib. Ada beberapa dahan memberi celah sang senja memerah menyeruak, dihajar udara yang kian dingin. Begitulah hidup sudah beberapa waktu berjalan.

Banda Aceh yang teronggok di sudut Nusantara sekarang dahulu sebuah kota cosmopolitan, menjadi tempat bercampurnya berbagai ras yang menghuni dunia. Kini mendengar kota “Kosmopolitan” yang terbayang adalah Hongkong, New York, Singapura, Tokyo, London, Paris, (atau) Jakarta. Sama sekali bukan Samarkand, Bukhara, Damaskus, Merv, Eshafan, Baghdad, (atau) Banda Aceh. Zaman berganti, kota-kota yang dulunya pusat peradaban yang menjadi tempat berkumpulnya segala bangsa, kini terlupakan, terkurung dalam garis batas-batas Negara baru dan tenggelam dalam warna-warni peta dunia.

Banda Aceh Kota Kenangan

Lapangan Blang Padang bagian dari Banda Aceh, Kota Kenangan

Terkadang, bila aku melalui jalan-jalan kota ini, dan secara tak sadar menghidu aroma bunga angsana yang mekar di sekelilingku. Aku tak sengaja memandangi pokok itu, di depan mataku ia seakan-akan berubah menjadi lambang perjuangan kami, kehilangan kami. Dan pada saat itu juga aku merasa direnggutkan dimana rasa sakitku mengalir masuk.

Setiap tempat, setiap orang, semua kejadian dan detil-detil waktu tak akan (pernah) terulang sama persis. Kita mengingat ketika kita (sudah) sendirian, atau bahkan kita (telah) melupakan yang ada hanyalah (rasa) hilang ketika tiada di sisinya.

Senja semakin larut, kabut menggantung di belakang mereka di atas pepohonan di bawah dan melayang di atas tepi-tepi sungai keruh oleh hujan semalam.

Banda Aceh, 30 November 2020

Beberapa renungan:

  1. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  2. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  3. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  4. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  5. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  6. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  7. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  8. Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri; 3 April 2019;
  9. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  10. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  11. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  12. Sunyi; 19 Maret 2020;
  13. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  14. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  15. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Kolom, Opini, Pengembangan diri, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.