SUNYI

Seorang tahanan Aceh oleh Belanda (1900) sumber: KITLV.nl

Seorang tahanan Aceh oleh Belanda (1900) sumber: KITLV.nl

SUNYI

Tidak harus mengetahui istilah Zoon Politicon yang dirumuskan oleh filsuf Yunani Aristoteles yang menyebutkan manusia adalah makhluk sosial. Dalam pendapat ini Aristoteles menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Memang, dalam ribuan tahun sejarah manusia yang sempat tercatat telah memberikan pemandangan bahwa sebagai individu, manusia telah belajar menukar “ke-aku-an” menjadi “ke-kami-an” sampai akhirnya mewujudkan rasa “ke-kita-an”, sebagai makhluk komunal, pada umumnya manusia tak sanggup hidup sendirian.

Ternyata pengucilan (ekskomunikasi) adalah hukuman terberat yang dijatuhkan Gereja (katolik) kepada umatnya yang dianggap melakukan pelanggaran berat, anggota yang dikenai ekskomunikasi dilarang mengikuti perjamuan kudus dan (komuni) sampai dia bersedia menunjukkan penyesalan dengan cara bertobat. Tujuannya untuk menyembuhkan, pelanggar diharapkan memeriksa diri, instropeksi dan bertobat melalui sakramen rekonsiliasi yang dilayankan oleh otoritas gereja yang berwenang.

Kesendirian membuat kita berpikir, dan berpikir adalah proses menuju keimanan. Sebagaimana Allah S.W.T berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, maka dengan air itu Dia hidupkan sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Surat Al-Baqarah ayat 164).

Dalam keterasingan manusia melihat angin di langit bergolak, hujan mulai jatuh satu-satu memukuli hati. Sepi, sepi sekali menyaksikan matahari turun pelan-pelan. Semburat merahnya menyebar berganti kuning keemasan, lalu kelabu menyusup dan gelap menjelajah. Di langit barat keindahan dan keajaiban tentang perubahan warna tadi bisa kita nikmati, meski hanya sekejap. Apa yang kita lihat, perubahan siang dan malam, sungguh diluar kemampuan kita selaku manusia.

Nalar dan pikiran diuji menjadi lebih terang, ternyata kita tak harus kagum semata pada hal-hal yang dahsyat yang tidak mampu kita jangkau, dan ternyata kita juga tak harus malu untuk kagum pada hal-hal keseharian, yang terlewatkan selama ini. Dan ternyata mukjizat itu bukan hanyalah menyaksikan laut terbelah oleh tongkat Nabi Musa saja, bahwa sebenarnya bumi ini sebagai ciptaan Allah S.W.T adalah sesuatu yang maha ajaib. Bahwa keseharian kita selaku makhluk, seperti bernafas, detik demi detiknya adalah bukti kekuasaan Allah S.W.T.

Adakalanya kita harus menarik diri dari keramaian, menjaga jarak sosial. Untuk sekejap merehatkan rohani, untuk tidak takabur, menciptakan harapan untuk diri sendiri di hadapan ketidakpastian, bagaikan sahara kelam yang panjang menyembunyikan gemuruh. Sementara bayangan sang maut melayang-layang di langit bagaikan sekawanan burung pemakan bangkai.

Kesepian itu menyakitkan, kesunyian masing-masing seakan berdiri sendiri, tak bersentuhan tangan, yang kini tak bertaut dengan yang dulu bahkan nyaris asing. Sebuah malam yang sunyi tanpa suara kita memanggil tuhan dalam sentuhan rindu, dan berharap tangan-Nya merangkul, mengharap yang suci hadir, sebagaimana Nabi Muhammad di gua Hira’.

Malam kelam kian menikam

Naungi makhluk dari lelah yang menekan

Nyanyian hati menggema di jiwa mengalun syahdu

Terseret langkah semu tertatih

Dalam keheningan lukisan terindah

Mencari hakikat yang terbelenggu

Akan gelap dan keterasingan

Temukan sunyi dalam malam

Banda Aceh, Senin 14 Januari 2002

Beberapa tulisan lain:

  1. Pohon Kekekalan; 4 November 2017;
  2. Renungan Malam; 19 November 2017;
  3. Manusia Semesta; 21 November 2017;
  4. Sebuah Kotak Hitam; 21 November 2017;
  5. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  6. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  7. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  8. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  9. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  10. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  11. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  12. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  13. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  14. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  15. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke SUNYI

  1. Ping balik: APA ARTI MASA DEPAN | Tengkuputeh

  2. Ping balik: PERAHU BAA MENCAPAI ALIF | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.