GENDERANG PULANG SANG RAJAWALI

Alkisah, dimasa lalu hiduplah sang rajawali, ia adalah burung yang kuat, pemangsa yang yang kebanggaannya, bukanlah memburu tikus, melainkan pada “mengejar para malaikat.”

GENDERANG PULANG SANG RAJAWALI

Betapa sang rajawali tak akan terbang

Kembali ke sang raja dari perburuan

Bilamana dari genderang ditabuh

Sang burung mendengarkan panggilan

Marilah pulang

Alkisah, dimasa lalu hiduplah seekor rajawali, ia adalah burung yang kuat, pemangsa yang yang kebanggaannya, bukanlah memburu tikus, melainkan pada “mengejar para malaikat.” Tetapi, burung yang tinggi hati itu oleh seorang perempuan celaka, Nyonya Dunia menangkapnya. Perempuan tua itu memenjarakannya dan menutup kepalanya sehingga sang rajawali nyaris melupakan tuannya, yang karena hal musabab terpaksa harus ditinggalkannya.

Sebagaimana kejatuhan Adam dan Hawa, nasib burung rajawali itu tidak beruntung. Ia menolak makanan berupa bubur lezat yang ditawarkan oleh si perempuan tua itu, karena marah Nyonya Dunia menuangkan bubur panas yang sedang mendidih ke atas kepala burung. Ketika itulah, sang rajawali teringat akan keadaan bahagianya dahulu, ia teringat akan tuannya. Maka itulah ia berusaha untuk pulang.

Allah mampu membuat “jiwa yang lalai menjadi seorang pemandu” dan “seorang pengembara yang tak punya tujuan menjadi seorang nabi.”

Tiada orang berakal yang memahami keasyikan si pencinta, dan tiada orang yang bernalar yang mengetahui asyiknya kehilangan akal.

Sementara itu, sang raja merasa cemas mencari akhirnya sampai ke gubuk perempuan tua itu. Sang raja memohon agar rajawali dibebaskan oleh Nyonya Dunia, berapapun tebusannya. Awalnya, Nyonya Dunia menerima, sang raja menyiapkan tebusan. Ketika sang raja datang kembali, perempuan tua itu berubah pikiran. Air mata paduka mempertajam penderitaan sang rajawali.

Oleh perempuan tua itu rajawali dimasukkan kedalam kandang bersama para burung hantu. Burung hantu takut kalau-kalau rajawali itu datang menguasai kandang tersebut, maka burung-burung hantu itu menyerang.

Berkata rajawali, “Aku tak berhasrat berkuasa disini, aku akan berangkat kembali kepada raja. Janganlah kalian khawatir, karena aku tak behasrat disini, aku berniat kembali ke rumahku. Kalian memandang reruntuhan ini sebagai tempat kediaman, tetapi bagiku ke lengan sang rajalah akan kembali.”

Para burung hantu itu tetap mencurigai rajawali sebagai penipu yang licik, lalu mereka mengejek perkataannya tentang kembali kepada sang raja. Sebagai jawaban, si rajawali menerangkan bahwa sekalipun ia tak sepadan dengan raja, ia bahkan bergembira jika harus musnah demi sang paduka. Ia harus kembali semata-mata untuk kebahagiaan sang raja.

Para burung hantu mencemooh, tak percaya bahkan bersekongkol menyerangnya. Mereka keliru memandang sang rajawali sebagai gagak, musuh alamiah para burung hantu. Maka mereka sangat mencemaskan perkataan rajawali yang dianggapnya tipu daya belaka.

Ketika semuanya seolah tak mungkin, ketika jalan kembali seolah telah ditutup oleh makhluk-makhluk pendengki itu, sandaran sang rajawali hanyalah Allah S.W.T semata, yang maha kuasa atas segala apapun. Allah bisa saja memberikan tempat Adam kepada Iblis, sebagaimana kuasa-Nya seorang Fir’aun dapat saja menjadi Musa.

Allah mampu membuat “jiwa yang lalai menjadi seorang pemandu” dan “seorang pengembara yang tak punya tujuan menjadi seorang nabi.” Kekuasaan-Nya sama sekali tidak terhalang oleh apapun, untuk menganugerahkan kelebihan kepada seseorang melebihi orang yang lain.

“Ya, Allah kuatkan hatiku untuk tidak mencintai hal-hal yang terbenam.”

Dalam kesedihan, sengsara, dan harapan sang rajawali berdoa. “Ya, Allah kuatkan hatiku untuk tidak mencintai hal-hal yang terbenam.” Terhadap masa depan yang tak pernah pasti, akan hidup yang pedih sang rajawali menyadari bahwa yang datang menyelamatkannya tidak lain, tidak bukan melainkan; Iman dan Islam. Bahwa yang memungkinkan dia keluar dari pengalaman yang paling menyakitkan adalah keyakinan penuh terhadap sang Maha Penyayang lagi Maha pengasih, berupa Iman dan Islam.

Terinspirasi oleh Kitab Tasbih at-Thuyur, “Tasbih Para Burung” yang ditulis oleh Jalaluddin Rumi.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  47. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  48. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to GENDERANG PULANG SANG RAJAWALI

  1. Pingback: SEBENTUK HARTA | Tengkuputeh

  2. Pingback: ELEGI PAGI HARI, SEBUAH CERPEN | Tengkuputeh

  3. Pingback: KEINDAHAN SANG REMBULAN | Tengkuputeh

  4. Pingback: KETIDAKAGUNGAN CINTA | Tengkuputeh

  5. Pingback: TEMPAT TIADA KEMBALI | Tengkuputeh

  6. Pingback: PADA PANDANGAN PERTAMA | Tengkuputeh

  7. Pingback: AKU TAK MENGERTI KAMU | Tengkuputeh

  8. Pingback: SENJA DI MALAKA | Tengkuputeh

  9. Pingback: LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH | Tengkuputeh

  10. Pingback: PERSAHABATAN KAMBING DAN SERIGALA - TengkuputehTengkuputeh

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.