ADA BANYAK CINTA

Ada banyak cinta kawan, oh seandainya kita bisa tahu dengan siapa kita akan berjumpa lalu jatuh cinta.

Ada banyak cinta kawan, oh seandainya kita bisa tahu dengan siapa kita akan berjumpa lalu jatuh cinta.

ADA BANYAK CINTA

Juli 1990,

Seorang bocah laki-laki berusia 6 Tahun diantar ibunya memasuki kelas sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Setelah mengantar sang anak masuk kelas, ibunya pun keluar. Begitu sadar ibunya tidak ada lagi anak tersebut menangis keras hingga seluruh kelas melihat.

Tak lama berselang, ibu anak tersebut muncul dengan membawa es krim. Mungkin karena takut Anak itu minta kepada ibunya untuk duduk disamping untuk menemaninya belajar. Dan akhirnya anak tersebut belajar seraya disuapi es krim oleh ibunya.

Ketika ibu guru bertanya “Siapa yang mau jadi ketua kelas?” Seluruh kelas hening, tiba-tiba anak tersebut dengan percaya diri mengacungkan tangannya, setelah melihat kesekeliling kelas bahwa tidak ada anak yang lain yang berani mengacungkan tangan. Maka ibu guru menghampiri anak tersebut dan bertanya ”Nama abang siapa?” seraya mengelus rambut anak tersebut.

”Nama saya Baja!” Jawabnya lantang.

“Nak, kalau kamu mau menjadi ketua kelas maka kamu harus berani.”

“Saya anak yang berani bu.” Anak itu cepat menjawab.

Sambil tersenyum ibu melihat kepada ibu sang anak.

“Kalau berani, berarti kamu tidak usah mama temani dong.” Ibu anak tersebut menanggapi.

Anak tersebut terdiam seperti menahan tangis, namun tak lama ia berkata “Tapi, tapi nanti pulangnya mama jemput ya?”

Ibu anak tersebut menarik nafas lega, dan ibu guru pun tersenyum dan berkata kepada seluruh kelas “Anak-anak, mulai hari ini ketua kelas kita adalah ”Baja Elrumi!”

Juli 1991,

“Dikelas inti ini hanya ada 5 orang anak laki-laki dan ada 33 anak perempuan. Tenyata zaman sekarang perempuan sudah lebih pandai dari laki-laki.”  Bapak Wali kelas II/A sambil tersenyum.

“Bagaimana ini ya? Anak laki-laki cuma ada 5 orang, Kalau didudukkan bersama pasti ada yang tersingkir satu orang” Lanjut beliau.

”Begini saja, bapak putuskan kalau kelimanya harus duduk dengan anak perempuan.”

”Dan biar adil dan tempat duduknya akan bapak undi” Bapak guru berkata seperti mandapatkan ide cemerlang.

“Begini, bapak akan mengulung kertas sebanyak 33 lembar diantaranya 5 lembar berisi nama kelima anak laki-laki tersebut, dan masing-masing anak perempuan memilih satu persatu dan yang mendapat kertas yang berisi maka ia harus duduk dengan yang ada namanya tersebut.”

Maka satu persatu anak perempuan dikelas II/A mengambil gulungan kertas tersebut, sedang anak laki-laki yang dijadikan undian menunggu dengan wajah-wajah cemas.

Setelah semua anak perempuan dikelas tersebut mencabut undian maka pak guru menginspeksi dan mengatakan peraturan ini dimulai besok.

Keesokan harinya,…..

“ketua kelas duduk sama anak ingusan.” Ledek teman-teman yang lain bersahut-sahutan

“Turut berduka cita ya, masak kamu duduk dengan anak ingusan seperti itu.” Teman yang lain menyambung.

“Kecian deh lu.” Anak-anak perempuan turut bersorak.

Tak lama kemudian lonceng sekolah pun berbunyi, anak-anak duduk di bangku yang telah ditentukan kemarin dan pelajaran pun dimulai.

“Nama saya Fatimah Azzahra.” anak perempuan itu menjulurkan tangan ketika lonceng istrirahat baru berbunyi.

“Iya saya tahu, kitakan sudah sekelas dari setahun yang lalu.” Anak laki-laki itu menjawab seraya menjulurkan tangan sambil tersenyum

“Ternyata kamu kenal saya.” Katanya malu-malu.

“Iyalah kenal, tapi bukan terkenalnya karena menangis di hari pertama sekolah seperti sayakan?” Sambung anak laki-laki tersebut Mereka pun tertawa dan suasanapun mencair.

“Oh, ya perkenalkan ini Wimpy.” Anak perempuan tersebut menunjuk tas punggung boneka Beruangnya.

“Ayo salaman Wimpy.” Dengan mengerakkan tangan boneka tersebut ke tangan anak laki-laki tersebut.

Melihat keseriusan anak perempuan tersebut anak laki-laki itu tidak tega dan menjulurkan tangan. “Halo Wimpy, nama saya Baja Elrumi.” Dengan ramah.

“Hore, akhirnya ada yang mau berteman dengan Wimpy.” Lompatnya kegirangan. Anak laki-laki tersebut, hanya bisa menarik nafas panjang.

Keesokan harinya,………

“kamu kok pendiam hari ini?” Anak lelaki itu bertanya melihat anak perempuan yang biasanya ceria menjadi pendiam.

“Gak ada apa-apa kok.” Kelihatan banget bohongnya

“Kalau tidak mau bilang, ya udah gak apa-apa kok.” Sambil tersenyum.

“Kamu sayang tidak sama wimpy?” Tanya anak perempuan itu penuh harap.

Tanpa banyak berpikir anak laki-laki itu menjawab dengan tenang. “Sayang kok, kenapa? Ada yang mengolok kamu atau dia ya?” Sambil melihat sekeliling kelas.

“Bukan!” Katanya sambil menggelengkan kepala

“Kamu mau tidak jadi ayahnya Wimpy?” Sambungnya

“Ayahnya Wimpy?” Anak laki-laki itu terkejut.

“Kamu tidak mau ya? Kasihan Wimpy tidak punya ayah sama seperti saya” Anak perempuan itu seolah menyesal.

“Bapak yang mengantar kamu sekolah tiap pagi itu bukan ayah kamu?” Anak laki-laki mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Bukan, itu ayah kedua. Ayah Zahra sudah meninggal lama sekali?” Anak perempuan itu menunduk sedih. Dibangku itu, suasana menjadi hening.

“Baiklah Zahra, saya mau, tapi ada syaratnya.” Anak laki-laki bersuara.

“Apa syaratnya?” Anak perempuan itu tersenyum.

“Kata mama, kalau kita dibilang anak ingusan berarti kita anak kecil. Kalau kamu masih beringus-ingus begitu mana bisa jadi ibunya Wimpy, jadi ibu kok kucel begitu?

Sesekali kalau pergi sekolah pakai bedak sedikit kenapa? Kamu besok masih seperti ini. Jangan harap, kalau kamu berubah bolehlah akan saya pertimbangkan.” Anak laki-laki itu mencoba untuk tegas.

“Syaratnya hanya itu? kamu memang paling baik sedunia.” Anak perempuan itu tersenyum.

“Bukannya saya sok baik.” Sambung anak laki-laki itu.

“Wimpy cium papa.” Sambil menjulurkan wajah boneka beruang ke wajah anak laki-laki itu.

Anak laki-laki itu pun pasrah, dan wajah mereka berduapun memerah.

Dalam tahun itu juga,……..

“Papa, papa! Ini Wimpy sakit?” seorang anak perempuan menghampiri seorang anak lelaki yang sedang bercakap dengan temannya. Anak lelaki yang dipanggil menoleh dan tersenyum.

Dan teman dari anak lelaki itu hanya mengenyitkan dahi kemudian berkata “Ayolah Ketua, ini lebih penting dari pada permainan rumah-rumahan kalian! Anak kelas II SD sebelah mengajak Madrasah kita bertanding sepak bola, dan kamu sebagai ketua Kelas II/A yang harus mengorganisasikan anak kelas B,C dan D untuk pertandingan itu, ini menyangkut gengsi sekolah.”

“Begini saja teman, kamu menjumpai si Dimas ketua kelas B!”

”Biar dia yang mengatur, lagian kami kelas A anak laki-laki cuma 5 orang jadi bisa apa.” Sambil mengangkat bahu.

“Baiklah kalau begitu.” Kata teman dari anak laki-laki itu dan pergi dengan wajah kesal. Dan anak laki-laki itu pun mendatangi anak perempuan yang tadi berteriak.

“Ada apa mama Wimpy?” Tanyanya

“Ini papa, Wimpynya sakit.” Sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Coba papa lihat, oh ini mungkin karena mama banyak bawa buku didalam tubuh Wmpy kali?” Anak lelaki itu mencoba bercanda.

“Ih, papa curang. Sudah dibilang tidak boleh bicarain kalau Wimpy itu tas boneka, gimana sih.” Katanya merajuk.

“Iya deh memang papa yang salah” Memasang wajah yang lugu

“Gitu dong, itu baru papa Wimpy.” Sambungnya tersenyum, dan kemudian mereka tertawa bersama.

Bagi keduanya sekolah tak pernah seindah hari ini.

Awal Tahun 1992,

“Wimpy kalau sudah besar mau jadi apa?” Tanya seorang anak perempuan kepada tasnya yang berbentuk boneka perempuan.

“Jadi anak-anak aja” Anak perempuan itu membuat suara seolah-olah boneka tersebut yang berbicara. Dan anak lelaki yang duduk disebelahnya tersenyum.

“Kalau mama nanti kalau suda besar mau jadi guru aja, nanti biar Wimpy mama ajarin supaya pintar seperti papa, kemudian biar Wimpy tulisannya cantik seperti papa.” Sambil melirik kesebelah.

”Kalau papa nanti kalau sudah besar harus jadi dokter.” sambungnya optimis.

”Enak aja atur-atur, siapa lagi yang mau jadi dokter.” Suara dari sebelah kesal.

”Idih, tidak bisa diajak bercanda, namanya juga cita-cita mama kok.” Sambil memainkan tangan boneka tersebut.

”Kalau papa tidak mau jadi dokter, biar Wimpy aja yang jadi dokter, iyakan sayang?” Sambil melihat.

”Mama.” Suara dari sebelah.

”Apa?” Jawabnya kesal.

”Pernah tidak papa bilang, kalau mama cantik?” Tanyanya.

”Belum, tidak pernah tuh” Masih dengan kesal.

”Mama cantik.” Terdengar suara pelan sekali.

”Apa? Tidak dengar tuh.” Baliknya keras hingga terdengar keseluruh kelas.

”Mama cantik.” Anak laki-laki itu mantap.

”Pacaran niyeeeeeeeeee.” Seluruh kelas bersorak. Ternyata hari ini lebih indah daripada kemaren, bagi keduanya.

Menjelang ujian kenaikan Kelas Mei 1992,

”Bagaimana kalau kita berjanji.” Kata anak laki-laki itu .

”Janji apa?” Anak perempuan itu balik bertanya.

”Ini kan sudah mau ujian kenaikan kelas, bagaimana kalau kita berjanji belajar dengan keras agar nanti di kelas III bisa masuk ke III/A, bagaimana setuju?”

Anak perempuan itu tampak berpikir dan berkata ”Untuk apa?”

”Ya untuk kita, supaya kita bisa duduk dibangku yang sama dikelas tiga.” Terangnya.

”Kalau begitu demi Wimpy” Katanya mantap.

”Baik, kalau begitu sekarang kita berjanji dengan menyilangkan jari.” Anak lelaki itu memberikan jari kelingkingnya.

”Iya, jari kita silangkan.” Sambil menyilangkan jarinya

”Baik sekarang mulai.”

”Kami berjanji……………………………..”

Liburan kenaikan kelas 1992,

”Pokoknya adik mau bunga abadi!” Renggek seorang adik perempuan kepada abangnya.

”Untuk apa sayang? Lalu untuk apa?” Tanya sang abang.

”Adikkan sudah tamat dari TK, sebentar lagi masuk Madrasah.

”Mana mungkin seorang murid madrasah tidak tahu bunga abadi?” Katanya sambil memainkan matanya yang belok.

”Teman-teman adik di TK sudah tahu dan paling kurang pernah lihat, masak adik tidak punya dan tahu.” Katanya polos.

”Abang saja yang mau naik kelas III tidak tahu, lalu carinya dimana?” Abang dari adik tersebut bingung.

”Kata teman-teman adik, digunung itu ada.” Sambil menunjuk gunung yang tampak dari halaman rumah mereka.

”Itukan jauh sekali dik, kelihatannya saja dekat padahal sangat jauh dari rumah kita.” Abangnya mencoba memberi penjelasan.

”Terserah! Kalau abang tidak mau mengantar kesana, biar adik pergi sendiri naik sepeda!” Ancamnya.

Dan nanti kalau adik tersesat atau jatuh dari gunung itu semua salah abang yang tidak mau mengantar kesana.” Katanya merajuk.

”Iya deh, abang antarin tapi jangan cemberut gitu.” Goda sang abang.

”Abang memang abang paling baik didunia.” Sang adik senang permintaannya dikabulkan.

”Idih, kalau ada maunya baru muji.” Seraya menjitak  kepala adiknya dengan lembut tentunya.

Setelah keduanya mandi abang tersebut pun menuju kegunung membonceng adiknya dengan sepeda. Dan Sesampainya disana merekapun mencari dimana letaknya bunga abadi. Tiba-tiba sang adik menunjuk sesuatu di tebing gunung.

”Itu bang, yang namanya bunga abadi.” Sambil menunjuk dengan penuh semangat.

”Katanya belum pernah lihat bunga abadi, itu kok tahu?”

”Eh, itukan tebingnya curam sayang, coba lihat dibawahnya ada pagar rumah orang. Berbahayakan? Kita cari tempat lain aja yuk.” Sang abang mencoba membujuk adiknya.

”Tidak mau! Adik capek tahu! Kalau abang tidak mau mengambil biar adik ambil sendiri.” Adik mengancam abangnya.

”Capek? padahal yang bawa sepedakan abang, adik cuma duduk dibelakang aja kok capek?” Godanya.

”Adikkan masih kecil tahu, lagian adikkan perempuan.” Lagi-lagi merajuk.

”Iyalah kalau alasan adik begitu, tapi adik tunggu disini aja ya, biar abang aja yang kesana.” Mencoba menenangkan adiknya.

Hore.” Adiknya kegirangan.

Maka sang abangpun naik pelan-pelan keatas tebing curam dengan sangat hati-hati, dan ketika tangannya hendak meraih bunga tersebut tiba-tiba kakinya terpeleset dan tubuhnya itupun berguling kebawah menuju kebawah.

”Abang!!!!!!!!!!” Teriak adiknya.

”Tolong!!!!!!!!!!, abang saya jatuh.” Sambungnya.

Pada saat itu pandangan mata dari abang adik tersebut pun gelap.

Beberapa jam setelah saat itu,………..

Anak laki-laki itu membuka matanya, betapa terkejut ia menyaksikan dirinya berada di rumah sakit dengan dibalut dengan perban. Takkala menoleh ia melihat seorang dokter sedang berbicara dengan ibunya.

”Luka anak ibu cukup parah, beruntung ia selamat. Tapi tangan kananya tersangkut dipagar rumah orang sehingga harus dijahit dengan 25 jahitan, saran saya untuk sementara dia harus beristrirahat dirumah.” Dokter memberi penjelasan.

”Dok, apakah tangan kanan dari anak saya akan cacat?” Ibu dari anak tersebut tampak cemas.

”Saya belum dapat memastikan bu, kita lihat perkembangan selanjutnya. Oh. Iya anak ibu sekarang sudah bisa pulang tapi tiga hari lagi anak tersebut ibu bawa kemari untuk kita buka jahitannya.” Dokter mencoba menenangkan ibu dari anak tersebut.

”Abang tidak apa-apakan?” Tiba-tiba adik dari anak laki-laki tersebut yang baru tiba masuk kedalam ruangan sambil menangis.

”Iya, abang tidak apa-apa kok, lihat ini masih kuat. Jatuh dari situ bukanlah masalah.” Anak laki-laki tersebut mencoba tersenyum.

”Adik menyesal bang, adik tidak akan lagi minta macam-macam sama abang” Sambil memeluk abangnya.

”Jangan menyesal dik, karena abang sama sekali tidak menyesal.” Abang dari adik tersebut mencoba menghibur sambil membelai kepala adiknya dengan tangan kirinya.

Ayah dan ibu dari kedua anak tersebut dan dokter Rumah Sakit hanya bisa terdiam.

Agustus 1992,

Hari ini adalah hari pertama dari anak laki-laki itu kembali bersekolah setelah lama tidak masuk karena sakit, tepatnya sebulan. Betapa suasananya telah jauh berbeda.

Banyak teman-temannya dikelas dulu dikelas II/A sudah tidak ada lagi, Kebanyakan dari mereka telah pindah ke kelas B atau C. Tahun ini banyak murid baru pindahan dari luar kota yang dengan kemampuan diatas rata-rata menggeser orang-orang lama.

”Sekolah ini memang terkenal dengan kompetisi tingkat tingginya, masih beruntung saya dapat bertahan dikelas inti selama tiga tahun berturut-turut.” Pikirnya.

Wali kelas yang mengantar anak itu masuk dalam kelas bertanya. ”Nak, apakah kamu masih dapat menulis?” Dengan lembut.

”Saya bisa bu.” Katanya yakin. Anak laki-laki itupun duduk dibangku kosong yang masih tersedia dikelas itu.

”Nama saya Andri, kamu anak baru ya?” Teman disebelahnya memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangan.

”Nama saya Baja, saya orang lama cuma sudah lama tidak masuk karena sakit.” Katanya menjelaskan menyambut uluran tangan dari sebelah.

”Oh, kalau saya murid baru pindahan dari kota Medan, senang rasanya berkenalan dengan kamu.” Anak yang disebelahnya sambil tersenyum.

”Sama-sama.” Anak laki-laki membalas.

”Eh, tangan kamu kenapa?” Anak disebelahnya penasaran melihat luka berjahit ditangan kanan anak lelaki tersebut.

”Oh, ini tato.” Jawab anak laki-laki itu santai, sambil melihat sekeliling kelas III/A. Takkala ia mencari teman perempuan yang sebangku dengannya dikelas II/A. Betapa ia terkejut karena anak perempuan itu sekarang sudah mengenakan jilbab, namun paling tidak ia masih membawa Wimpy pikirnya.

Keesokan harinya.

Hari ini anak laki-laki itu sengaja datang lebih awal, maksudnya supaya bisa berbicara dengan anak perempuan itu. Dan ketika hendak masuk ke kelas III/A seorang teman laki-laki dari kelas II/A dulunya memanggil.

”Baja, apa kabar? Kamu sudah sembuh?” Sapanya ramah.

”Alhamdulillah.” Jawabnya diplomatis.

”Syukurlah kalau begitu. Eh, sekarang kelas A sudah banyak berubah ya?” Tanyanya.

”Kamu sih, sakitnya kelamaan. Jadi banyak ketinggalan berita.” Tambahnya sambil menepuk punggung anak laki-laki itu.  Anak laki-laki itu tidak menjawab, dan hanya diam saja.

”Banyak orang-orang lama yang sudah pindah, kamu sekarang bukan lagi ketua kelas lagi.” Cerocosnya. ”Dan sekarang anak laki-lakinya sudah banyak sehingga tidak udah diundi lagi seperti kita dulu.” Teman dari anak laki-laki itu menyambung bicara.

Ketika mereka sedang berbicara didepan pintu kelas III/A, tiba-tiba seorang anak perempuan masuk. Ya, anak perempuan yang dulu duduk sebangku dengan anak laki-laki itu.

Tanpa menegur anak tersebut masuk terus kedalam kelas, dan anak laki-laki itu hanya bisa memandangi dengan seksama, alangkah terkejutnya ia ketika melihat bahwa anak perempuan tersebut tidak lagi mengenakan tas boneka beruang yang mereka panggil Wimpy, dulunya.

Tanpa sadar, mulut anak laki-laki itupun berujar, ”Iya, sekarang semua telah berubah.” tanpa ekspresi.

”Memang tidak enak, 2 tahun jadi ketua kelas akhirnya menjadi murid biasa.” sambil tertawa.

”Jabatan tidak pernah menjadi masalah bagiku.” Anak laki-laki itu masih memandangi anak perempuan itu bercakap-cakap dengan teaman sebangkunya yang baru.

Melihat ekspresi wajah anak laki-laki itu, teman yang sewaktu kelas II/A sekelas dengan anak laki-laki itupun terdiam, dan mohon pamit kembali kekelasnya.

Dan lonceng tanda masuk pun berbunyi.

Nopember 1993,

Tak terasa waktu berlalu dan kini mereka telah kelas IV sekarang. Tahun ini Madrasah Ibtidaiyah Unggul menjadi tuan rumah MTQ Tingkat Sekolah Dasar Se-Provinsi Daerah Istimewa Aceh, bertempat di Masjid Madrasah tersebut lomba diadakan.

Seorang anak laki-laki meminta izin keluar dari gurunya untuk melihat perlombaan tersebut, walau gurunya tidak mengizinkan, anak itu tetap berkeras dan memohon. Akhirnya karena mempertimbangkan karena anak itu memiliki prestasi yang baik, akhirnya guru tersebut memberikan izin dengan banyak catatan.

Hari ini, yang tampil adalah wakil dari Madrasah tersebut. Wajar bila banyak murid dari sekolah itu ingin melihatnya. Paling tidak, agar wakil dari Madrasah kita tidak grogi dengan juri karena banyak yang mendukung, itulah alasannya kita-kira.

Ketika anak laki-laki tersebut masuk kedalam masjid, wakil dari Madrasah mereka sudah berada dimimbar dan sudah membaca lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Anak laki-laki itupun duduk dan menyaksikan dengan seksama wakil sekolahnya, yang juga teman sekelasnya semenjak kelas I, Fatimah Azzahrah tampil.

Oleh karena, hari ini adalah hari terakhir perlombaan. Maka pengumuman juara dilakukan pada hari itu juga. Selepas Dhuhur maka pengumuman dilakukan oleh juri, banyak murid dan guru berkumpul di Masjid Madrasah tersebut.

”Juara Pertama MTQ tingkat sekolah dasar Se-Provinsi Daerah Istimewa Aceh tahun 1993 adalah Fatimah Azzahrah!” Ketua Dewan Juri mengumumkan.

Seluruh kelas bersorak, Madrasah mereka meraih Juara Pertama. Piala pun dibagikan kepada masing-masing juara. Seorang anak laki-laki yang duduk diantara murid-murid tersenyum lebar, dan tanpa sadar berujar. ”Sungguh jauh kemajuan yang telah engkau capai sekarang.”

”Hebat teman kita sekarang ya? Eh, kamukan dulu dikelas II duduk sebangku dengan dia kan? Kenapa sekarang kalian tidak pernah bicara lagi sekarang?” Tanya teman disebelahnya.

”Karena sekarang saya tidak tahu berbicara apa?” Anak laki-laki itu masih memandang anak perempuan itu dipeluk oleh ibu guru wali kelas IV/A yang bangga dengan keberhasilan anak didiknya.

Oktober 1994,

Hari ini adalah hari yang mengembirakan bagi seorang anak laki-laki, sebagai wakil dari Madrasah Ibtidaiyah Unggul berhasil memenangkan lomba Cerdas Cermat tingkat sekolah dasar di kota Banda Aceh. Teman-teman dan guru-guru memberi selamat kepada tim Cerdas Cermat, mereka sangat bangga akan prestasi sekolah mereka yang akhir-akhir ini semakin baik.

Dalam perjalanan pulang dari tempat perlombaan, yaitu disebuah Stasiun TV Daerah kembali ke sekolah, anak laki-laki itu bergabung dengan teman-teman sekelasnya.

”Hebat kamu padahal masih kelas V sudah jadi juru bicara, juara lagi.” Teman dari anak laki-laki itu memberi selamat.

”Saya tidak hebat, ini semua kerjasama tim. Kakak dan Abang dari Kelas VI juga banyak membantu, saya jadi juru bicarakan untuk persiapan tahun depan ketika nanti mereka lulus.” Anak laki-laki itu mencoba merendah.

Wuuuuu, sok merendah.” Olok-olok teman yang lain.

Sepulang sekolah, setibanya dirumah. ”Abang hebat, juara ya?” Disambut oleh adiknya.

”Darimana adik tahu? Atau tadi ikut pergi juga ke stasiun TV, memangnya anak kelas III boleh ikut?” Tanya abang.

”Boleh dong, adik minta izin sama ibu guru. Karena abang yang bertanding adik minta ikut, dan tadi adik bergabung dengan teman-teman sekelas abang yang perempuan makanya tadi kita tadi tidak bertemu.” Jelas adiknya.

”Bang, tadi adik duduk dekat kak Zahra, itu yang menang juara satu MTQ.” Adiknya penuh semangat.

”Lalu?” Anak laki-laki itu memandang dengan sorot mata meminta penjelasan.

”Kakak itu baik, adik dikasih kue lagi. Terus kakak itu tanya, abang kok bisa pandai selaki ya?” Ceritanya penuh semangat.

”Adik bilang apa?” Anak laki-laki itu meminta penjelasan.

”Adik bilang karena abang suka membaca, oh ya terus adik mendengar ada teman kakak itu yang bertanya dengan kak Zahra” Adiknya tersenyum.

”Bertanya apaan?” tambah penasaran.

”Temannya berkata untuk apa bertanya tentang abang, memang kakak itu suka dengan abang ya?” Adiknya menjelaskan dengan semangat.

”Terus kakak itu jawabnya apa?” Anak laki-laki itu menanti jawaban, dengan penuh harap tentunya.

”Kak Zahra itu bilang apa salahnya suka dengan orang pandai.” Sambil tersenyum.

”Betul, kakak itu ngomongnya begitu.” Anak laki-laki itu mencoba memastikan.

”Untuk apa lagi adik berbohong?” Adiknya mempertanyakan.

”Abang percaya kok, sama adik” Sambil tersenyum lebar sekali.

Januari 1995,

Seorang guru masuk kedalam kelas dan mengumumkan sesuatu. ”Anak-anak hari ini ada berita duka cita, bapak teman kita Fatimah Azzahra tadi malam meninggal dunia untuk itu mari kita mengumpulkan sumbangan seikhlasnya.”

Seorang anak laki-laki diantara para murid terkejut.

”Bukankan itu ayah kedua dari Zahra, betapa malangnya nasibmu temanku dua kali menjadi yatim.” Pikirnya.

”Pantas hari ini dia tidak datang, dia kan duduk didepan sana kalau belajar aku agak susah melihat papan tulis, karena tertutup jilbabnya.” Teman disebelah anak itu nyengir.

”Tidak sepatutnya kita bergembira atas penderitaan orang lain.” tanpa sadar anak laki-laki itu berujar.

Takkala kotak sumbangan datang ke meja mereka, anak laki-laki itu menyerahkan seluruh uang yang ada dikantongnya tanpa pikir panjang.

”Hanya inilah kemampuan saya membantu saat ini.” Pikirnya, tanpa terasa mata anak laki-laki itu panas.

”Bu, saya permisi ke kamar kecil.” Anak laki-laki itu meminta izin kepada guru.

”Silahkan nak.” ibu guru mempersilahkan anak tersebut untuk permisi.

Tak pernah terbayangkan, dalam keriangannya ternyata Zahra menyimpan luka, dan hari ini bertambah dalam. Pantas saja, terkadang ia terlihat lebih dewasa dari umurnya. Inilah hidup dimana usia tak mampu membatasi kedewasaan seorang anak manusia. Setelah berada didalam kamar kecil, anak laki-laki itu pun menangis dan itu merupakan air mata yang diam. Hari ini tanpa disadari ia bertambah dewasa.

Pembagian Ijazah Juni 1996,……………..

Akhirnya anak laki-laki itu memiliki keberanian, ia pun mendatangi anak perempuan itu. Walau sudah lama mereka tidak berbicara, tapi ia yakin itu semua bukan masalah karena berdua saling mengerti.

Saling tertangkap basah beradu pandang adalah salah satu ritual yang bertahun-tahun mereka jalani, tanpa saling berbicara. Dan mungkin besok akan berakhir ketika mereka tiada bersekolah ditempat yang sama.

Anak laki-laki itu memulai pembicaraan ”…………, kamu setamat dari Madrasah ini akan melanjutkan sekolah kemana?”

”Kalau saya akan melanjutkan ke Tsanawiyah, kalau kamu kemana?” Anak perempuan itu balas bertanya.

”Kalau saya akan melanjutkan ke SMP 1.” Anak laki-laki itu dengan wajah kecewa.

”Wajar kalau kamu melanjutkan ke SMP itu, soalnya nilai NEM kamukan tinggi” Nada suaranya melunak mengiris. ”Sedang saya cukup di Tsanawiyah, kebetulan disana saya mendapat beasiswa.” jelas anak perempuan itu.

Anak laki-laki itu hanya bisa memandang, dari tatapan matanya seolah ia mengerti mengapa anak perempuan itu mengambil pilihan tersebut.

”Saya masuk SMP 1 sebenarnya karena dipaksa oleh mama karena yang menganggap mutunya bagus, padahalkan belum tentu?” Bagaimanapun ia tidak bisa meninggikan diri dihadapan perempuan yang disukainya.

”Walaupun orang menganggap lulusan disana banyak yang menjadi orang hebat sebenarnya saya tidak terlalu suka masuk kesana, biasalah tuntutannya terlalu tinggi.” Anak laki-laki  keceplosan, agak.

Dan wajah anak perempuan itu adalah tanpa ekspresi, dingin.

”Kalau begitu, sampai jumpa di lain waktu.” Anak laki-laki itu menjulurkan tangannya.

Anak perempuan itu hanya mengangkat dan mengatupkan kedua tangannya kedepan tanpa menyambut tangan anak laki-laki itu, dan wajah anak laki-laki itu pun memerah.

”Sampai jumpa.” Katanya sambil berbalik.

Seraya menatap jalan panjang yang masih terbentang, ia merobek sebuah kertas yang bertuliskan kata-kata indah yang sebenarnya akan ia berikan ketika mereka bersalaman.

Yang ia buat dengan dengan pengetahuan berbahasa Inggris pas-pasan, akan tetapi ia telah berusaha semalaman. Sebuah kertas yang bertuliskan ”Many womens in the world only you the choosen one. Thank to  you have been giving the best time in my live, and would you became my soulmate until end of my live.”

Anak laki-laki itu tidak pernah tahu, apakah tulisan itu benar atau salah karena ia tidak pernah memperlihatkan kepada orang lain. Biarlah itu semua menjadi sebuah rahasia.

”Betapapun hancur hati seorang lelaki tidak sepatutnya ia menampakkannya.” Kata hatinya  sambil berjalan gontai, sehingga anak laki-laki itu berpikir.

”Mulai dari sekarang, aku harus bersiap-siap kehilangan dirinya.”

Juli 1996,

Hari ini adalah hari pertama seorang anak laki-laki masuk dalam sebuah lingkungan baru, lingkungan Sekolah Menengah Pertama. Anak tersebut berkeras tidak usah diantar oleh orang tuanya, ia ingin membuktikan bahwa ia telah menjadi manusia mandiri.

Ketika pertama sekali ia menginjakkan kaki di halaman sekolah ia berjumpa dengan seorang teman satu almamater dari Madrasahnya dulu.

”Tidak diantar oleh orang tua.” tanya temannya.

”Tidak dong.” Katanya mantap.

Mereka semua pun berkumpul dilapangan upacara untuk mengikuti pengarahan dari Kepala sekolah, dan disana juga pembagian kelas diatur. Ternyata anak laki-laki tersebut berada dalam satu kelas yang sama.

Teman dari anak laki-laki mencoba menggoda.

”Ingat tidak, waktu pertama kali masuk Madrasah dulu? Kamukan nangis-nangis di hari pertama?” Tanya temannya.

”Ingat.” Sambung anak laki-laki tersebut.

”Kamu tidak malu?” Tanya temannya.

”Tidak, karena saya akhirnya tahu bahwa mama saya sangat menyayangi saya.” Ujarnya.

”Kenapa bisa begitu.” Tanya temannya.

”Karena cuma mama yang masuk menemani anaknya belajar didalam kelas sedang orang tua yang lain meninggalkan anaknya ketika sudah masuk kelas.” Katanya mantap.

”Dasar anak manja, bisanya ngeles terus.” Temannya tidak mau mengalah.

Dan anak laki-laki itupun hanya diam.

Desember 1997,

”Baja, ada teman kita di Tsanawiyah kirim salam untuk kamu” Seorang anak perempuan dari lain kelas masuk dan memberi kabar.

”Yang mana? Teman kita yang sekolah di Tsanawiyahkan banyak?” Tanya anak laki-laki tersebut.

”Alah, kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Itu yang selalu kamu titip salam sama aku itu lho, masak tidak tahu.” Anak perempuan itu memberi penjelasan.

”Iya, tapi kamu jangan nyerocos macam mercon cabe begitu.” Sambil tersenyum.

”Sekarang sudah bisa ya bilang aku kayak mercon cabe, Awas !!! Nanti tidak aku sampaikan lagi salamnya, mentang-mentang dulu satu Madrasah mau menjajah lagi, sekarang sudah zaman SMP tahu.” Anak perempuan itu mendelik.

”Ampun deh, putri duyung eh putri salju pokoknya putri tercantik di dunia jangan marah dong kepada hamba.” Anak laki-laki itu mencoba menggoda.

”Rayuan dodol tahu, itu rayuan tahun berapa? Sekarang tidak laku lagi. Sekarang itu rayuan pake bakwan, donat atau makanan lainnya.” Benar-benar seperti mercon cabe.

”Iya deh, kalau begitu ayo ke kantin tapi jangan banyak-banyak soalnya krisis moneter neh.”

”Ayo ke kantin, baru dengar heboh krisis moneter di TV tadi malam di dunia dalam berita, langsung praktek sama aku lagi. Tidak banyak-banyak kok akukan juga punya perasaan.” Belanya.

Setelah tiba dikantin, sambil makan bakwan anak perempuan itu berujar ”Aku heran dengan kalian berdua, selalu kirim salam jumpa tidak pernah lagi, bagaimana sih kalian ini?” Dengan wajah penasaran.

”Mungkin inilah yang terbaik bagi kami berdua.” Dengan tatapan mata yang kosong.

Januari 1999

”Kamu tahu tidak? Ibu dari teman kita Zahra yang bersekolah si Tsanawiyah meninggal dunia, kasihan sekali dia sekarang menjadi yatim piatu.” Seorang teman berbicara kepada seorang anak laki-laki.

”Yang benar? Maksudmu si Fatimah Azzahra, jangan main-main.” seorang anak laki-laki bereaksi dengan cepat.

”Ya, iyalah. Kalau tidak salah dia pernah duduk sebangku dengan kamu sewaktu kelas II Madrasah kan?” Jelasnya.

”Sudah lama? Sekarang dia tinggal dimana?” Tanyanya penasaran.

”Sudah 3 bulan yang lalu, sekarang dia tinggal dirumah saudaranya didaerah pinggir kota.” Lanjutnya.

”Aku kok tidak dikasih tahu?” Anak laki-laki itu penasaran.

”Aku juga baru tahu, yang bilang teman sekelas dia di Tsanawiyah kebetulan dia tetangga aku. Lagian kalau dia yang kasih tahu sendiri kan tidak mungkin, mentalnya kan sedang down.” Penjelasan dari temannya.

Laki-laki itu seolah-olah mengerti dengan alasan yang diberikan oleh temannya. Setibanya dirumah, anak laki-laki kembali meneteskankan air mata. Ditengah kegundahan hati ia menuliskan kata-kata disecarik kertas. Setelah selesai ia membacanya ”Mencintai itu, merasa lebih bahagia dari pada kebahagiaan  yang ia rasakan. Mencintai itu bisa pula merasa sakit lebih dari kesakitan yang ia rasakan, mencintai terkadang membahagiakan terkadang menyakitkan.”

”Begitu banyak cobaan yang menimpa, semoga engkau tabah menjalaninya, aku hanya dapat membantu doa.” ujarnya sambil memasukkan kertas tersebut dalam dompetnya.

September 2000,

Suatu siang, seorang anak laki-laki dengan mengenakan seragam SMU turun dari mobil angkutan disebuah terminal. Tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya dan ia pun menoleh, ternyata yang memanggil adalah seorang anak laki-laki dengan seragam Madrasah Aliyah.

”Baja apa kabar? Sudah lama kita tidak berjumpa.” Sapa anak dengan seragam Madrasah Aliyah. ”Bagaimana rasanya sekolah di SMU favorit.” Sambungnya.

”Satu-satu dong nanyanya.” Anak SMU itu tersenyum.

”Kamu ini, masih saja serius macam yang dulu. Tidak pernah berubah sedikitpun.” Anak berseragam Aliyah menepuk punggung temannya tersebut.

”Baiklah, SMU tempat aku bersekolah itu biasa saja cuma namanya saja yang favorit, kamu sendiri bagaimana di sekolah kamu dan kalau tidak salah sekolah kaliankan Madrasah Aliyah terbaik di kota kita ini kan?” Anak berseragam SMU itu balik bertanya.

”Sama juga, tapi jelek-jelek begini sekarang aku anggota OSIS sekarang.” Sambil menepuk dada, dengan maksud bercanda tentunya.

”Hebat dong, kamu sekarang.” Sambil menyalami temannya tersebut.

”Kalau begitu, bagaimana kabar teman kita yang lain? Yang lepasan Madrasah Ibtidaiyah Unggul?” Sambung anak berseragam SMU tersebut.

”Kamu, tahu tidak? Teman kita ada juga yang menjadi Sekretaris OSIS di Aliyah kami, tapi kamu pasti terkejut kalau tahu siapa orangnya.” Anak berseragam Madrasah Aliyah mencoba membuat teka-teki.

”Siapa orangnya? Kalau kamu tidak memberitahu ya otomatis aku tidak tahu.” Anak SMU itu bertanya.

”Kamu itu, pake kata-kata otomatis biar seperti Bombom dalam sinetron Bidadari ya?” Anak berseragam Aliyah tersebut.

”kamu ini kalau ditanya malah lari ke sinetron, jadi siapa orangnya jangan berbicara berputar-putar seperti itu.” Anak SMU itu mengoyang-goyangkan tangan temannya.

”Oke, yang jadi sekretaris OSIS Aliyah kami itu anak yang kami olok-olok pacaran sama kamu sewaktu kita masih Madrasah ibtidaiyah, itu yang suka main boneka-bonekaan sama kamu itu dulu.” Temannya menyerah juga.

”Maksud kamu Fatimah Azzahra, hebat dia sekarang ya.” Anak berseragam SMU itu tersenyum lebar.

”Iyalah, eh kami dengar-dengar kamu di SMU jadi Playboy ya? Gosip yang beredar seperti itu di tempat kami, bahkan dia pernah menanyakan apa kebenaran gosip itu kepada aku.” Temannya mencolek perut anak laki-laki itu.

”Terus kamu jawab apa?” Bagaimanapun dahulu mereka berteman akrab dan tak mungkin ia bisa salah menilai.

”Aku jawab mungkin saja benar, kita kan sudah lama tak bertemu mana aku tahu.” Anak berseragam Aliyah berbisik.

”Kacau kamu ini merusak nama baik aku, besok kalau kamu berjumpa dia tolong kamu bilang sama dia gosip itu tidak benar! Jangankan jadi Playboy, pacaran saja aku tidak pernah.” Anak SMU itu kesal.

”Yang benar?” Anak berseragam Aliyah mencoba menggoda.

”Kamu tidak percaya sama teman sendiri.” Anak berseragam SMU itu mendelik.

”Iya, aku percaya sama kamu.”

”Gitu dong, eh jangan lupa ya! Tolong kamu bilang sama dia apa yang aku bilang tadi.” Anak berseragam SMU itu seraya tersenyum.

”Beres bos, tapi aku juga punya gosip tentang dia.” Anak berseragam Aliyah sekali lagi memelankan suara.

”Kamu ini sekarang jadi anggota OSIS atau bandar gosip sih?” Anak berseragam SMU sambil tertawa.

”Dengar dulu menurut info yang dapat dipercaya, sekarang dia jadian dengan ketua OSIS kami” Bisik temannya nakal. ”Dan setelah aku lihat sendiri, itu bisa jadi benar karena mereka berdua tampak sangat akrab.” Anak berseragam Aliyah berbisik sambil cekikikan.

Dan ketika mendengar gosip tersebut. Tawa dan senyum hilang dari wajah anak berseragam SMU berganti cemberut.

Pebruari 2001,   

Sekian lama mereka tidak berjumpa, hampir 5 tahun lamanya. Walau tidak pernah bertatap muka sama sekali, mereka saling mengirim salam dan seolah masih tetap saling mengenal.

Akan tetapi ketika harus duduk berhadapan, lidah mereka menjadi kelu dan tiada mampu mengeluarkan suara. Ini terjadi disuatu pagi, didalam sebuah angkutan umum jurusan kampus negeri yang menuju searah sekolah mereka. Pagi itu, ketika mereka hendak pergi sekolah, dan mereka hanya bisa saling menatap tanpa mengeluarkan suara.

”Bagaimana ya, apa yang harus aku katakan.” Anak laki-laki itu mencari akal.

”Kenapa dia tidak menegur, apakah dia sudah lupa dengan saya?” Praduga anak perempuan itu.

”Apakah etis kalau aku bertanya tentang gosip dirinya dengan ketua OSIS sekolahnya? Tidak, itu privacy orang lain” Anak laki-laki menimbang baik-buruk dalam pikirannya.

”Apakah kalau dia menegur, ia takut ketahuan pacarnya? Menurut gosip di sekolahnya dia kan Playboy.” Pikiran anak perempuan tersebut.

”Dia semakin cantik.” Anak laki-laki menilai anak perempuan di depannya.

”Dia semakin dewasa.” Anak perempuan menilai anak laki-laki di depannya.

”Garis-garis wajahnya menunjukkan tipe perempuan tegar yang jelas aku sukai.” Anak laki-laki itu tersenyum sendiri.

”Bentuk dahinya yang lebar menunjukkan bahwa ia orang yang cerdas.” Anak perempuan itu juga tersenyum.

”Siapa yang turun disimpang Jambotape?” Tanya sang kernet.

”Saya bang.” Anak perempuan itu menyahut.

”Dia sudah hampir sampai, kenapa mulutku terasa terkunci.” Anak laki-laki itu menyesali dirinya.

”Saya sudah hampir sampai, kenapa dia tenang saja.” Anak perempuan itu berharap.

”Kiri, kiri, kiri!” Kernet memberi kode.

Dan anak perempuan itu pun turun disimpang Jambotape yang dekat dengan sekolahnya dengan perasaan kecewa, sedangkan anak laki-laki itu tidak pernah membenci dirinya sebenci hari itu

Agustus 2002,

”Selamat kamu lulus.” Seorang laki-laki menjulurkan tangan setelah meletakkan koran lokal disampingnya.

”Selamat pula kamu juga lulus SPMB.” Temannya membalas uluran tangan.

”Mulai hari ini kita adalah seorang mahasiswa, selamat tinggal kehidupan indah di SMU.” Temannya menyambung.

”SMU memang indah, tapi aku pernah merasakan saat yang lebih indah” Mata anak laki-laki itu menerawang.

Alah, kamu memang begitu sok puitis. Kalau aku jelas sedih meninggalkan masa-masa SMU, akan tetapi dunia mahasiswa lebih menantang.” Sambungnya optimistis.

Anak laki-laki itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku temannya tersebut, dan ketika membolak-balik koran ia menemukan sebuah nama yang familiar.

Nama yang dulunya selalu ia sering mengirim salam, dan nama Fatimah Azzahra nomor ujian 11717829 lulus di Institut Agama Islam dikotanya, jurusan Tarbiyah.

”Dia memang cocok disana pikirnya, sesuai dengan cita-citanya dulu menjadi guru.” Dan senyumnya pun semakin melebar.

Desember 2004

 ”Air laut naik, air laut naik.” Teriak orang-orang dari kampung sebelah.

”…………… air laut naik, cepat lari!” Orang-orang pun berlarian.

”Bagaimana ini nak?” Seorang ibu bertanya kepada anaknya.

”Apa mungkin air naik ma? Barusankan terjadi gempa. Yang namanya bencana itu tidak mungkin datang dalam rentang waktu yang berurutan.”

Dan orang-orang pun berlarian dijalan, motor ngebut, suara klakson mobil bersahut-sahutan riuh bercampur aduk pagi itu.

”Begini saja, mama dan adik-adik naik mobil tetangga sebelah sedang rumah biar saya yang menjaga, siapa tahu ini semua ulah provokator.” Sang anak memberi pengertian.

”Tapi, kalau air laut betul-betul naik ke darat bagaimana?” Sang Ibu masih cemas.

Insya Allah saya tidak akan apa-apa, saya akan naik ke tingkat dua. Yang penting mama dan adik-adik berangkat duluan.” Anak tersebut masih tenang.

”Nak, jaga diri ya? Sejak ayah meninggal awal tahun ini, kamulah kepala keluarga di rumah ini.” Sang ibu masih khawatir.

”Iya ma, mama tenang saja.” Sang anak menenangkan ibunya.

Tin….tin…..tin……. Klakson mobil tetangga sebelah memanggil.

”Sudah sekarang mama dan adik-adik berangkat segera!” Perintah anak laki-laki tersebut.

”Ayo dik, cepat!” Sang ibu menarik tangan anak-anaknya yang lain naik kedalam mobil tetangga, setelah masuk mobil itu pun berangkat sedang anak laki-laki itu hanya memandangi.

Lima menit kemudian, anak laki-laki itu melihat dari kejauhan sebuah gelombang raksasa datang dari arah barat meluluhlantakkan segala yang dilaluinya. Dan segera ia naik ke tingkat dua rumahnya menanti datangnya gelombang tersebut.

Manusia boleh memperkira rencana akan tetapi hanyalah Allah SWT yang memiliki kuasa menentukan. Berkat rahmat Allah SWT gelombang itu hancur dan menjadi rembesan air yang membawa sampah tepat diseberang jalan rumah anak laki-laki tersebut.

Sambil menarik nafas, anak tersebut terpaku melihat apa yang terjadi bagaikan baru lolos dari lubang jarum karena diberi kesempatan oleh yang kuasa untuk hidup lebih lama.

Maret 2005,

”Kamu yakin? Bekerja di kota Lhokseumawe nak?” Tanya seorang ibu kepada anak laki-lakinya.

”Saya sudah mantap ma.” Anak laki-laki tersebut mantap.

”Zaman sekarang mencari kerja sangat susah. Kebetulan saat ini saya mendapat kesempatan, rugi rasanya kalau tidak saya ambil.” Jawab anak laki-laki tersebut.

”Walaupun kamu anak laki-laki, di negeri orang kamu tetap harus menjaga diri nak.” Ibunya memberi nasehat.

Insya Allah ma.” Anak laki-laki itu mengiyakan.

”Disana nanti jangan sesekali tinggal shalat nak, itulah bekal kita hidup di dunia.” Tambah sang ibu.

”Segala nasehat mama akan saya ingat sebagai petunjuk jalan hidup saya.” Laki-laki tersebut menyakinkan.

”Mama dan adik di sini juga jaga diri, saya sebenarnya masih khawatir karena sampai tadi malam gempa susulan masih sering terjadi.” Laki-laki itu memandang wajah ibunya dengan wajah khawatir.

”Jangan khawatir nak, kalau kamu sudah mantap maka pergilah! Insya Allah kami disini akan baik-baik saja.” Balik sang ibu menenangkan kegundahan anaknya.

”Saya mohon izin ma, dan juga saya mohon doa restu ma.”laki-laki itu menciumi tangan ibunya.

”Kerja disana jaga diri ya nak.” Ibu anak tersebut mengulangi pesannya sekali lagi sambil membelai kepala anaknya.

”Kalian kenapa bengong? Ayo salaman dengan abang sebelum abang berangkat!” Ibu menyuruh adik dari laki-laki itu untuk menyalami abang mereka.

Maka adiknya pun menciumi tangan abangnya, dan anak laki-laki itu pun membelai rambut adiknya.

”Abang pergi dulu ya.” Anak laki-laki itu mencoba mencairkan suasana dengan melambaikan tangan seraya melangkah meninggalkan halaman rumah mereka.

”Dadah abang.” Adiknya pun melambaikan tangan.

Anak Laki-laki itu pergi dalam langkah-langkah pasti, dengan diiringi pandangan ibu dan adiknya. Di jejak langkah itu, tertanam tekad dihatinya. ”Mulai hari aku adalah seorang laki-laki yang harus berjuang sendiri di negeri orang. ’ Dan ketika bus yang ia tumpangi meninggalkan kota, suara hatinya berteriak.

”Aku harus berhasil!”

Juni 2006,

Tit, tit, tit……… Suara nada dering HP model awal berbunyi.

”Halo, Assalamualaikum.” Lelaki itu menjawab telepon.

”Waalaikumsalam.” Suara dari seberang

”Adi, Hey apa kabar? Kamu nelpon kok malam-malam.” Tanya lelaki itu sambil tersenyum.

”Inikan jam tarif hemat. Akukan masih kuliah, tidak seperti kamu sekarang yang sudah bekerja.” Suara dari seberang membalas candaan.

”Iya deh, terserah kamu saja. Bagaimana keadaan di sana sekarang?” tanya lelaki itu.

”Aku baik, kamu tuh sudah lama tidak pulang kemari, sudah kerasan disana?”

”Atau sudah ada calon?” Goda suara dari seberang.

”Ada aku pulang bulan April kemarin sebentar. Calon? Sepertinya belum rezeki kali ya?.” Lelaki itu sambil tertawa.

”Kamu ini, pulang kemari tidak memberi kabar. ”Aturannya kitakan bisa bertemu, akukan juga rindu sama kamu. Begitu ya kamu dengan teman lama?” Suara diseberang seperti merajuk.

”Aku minta maaf, jadwal aku disana sangat padat itupun hanya sebentar.” Nada penyesalan dalam suara laki-laki tersebut.

”Tapi nanti seandainya aku pulang lagi kamu pasti akan aku kabari, janji.” Lelaki itu akhirnya tertawa melihat tingkah laku temannya.

”Oh, iya aku ada undangan untuk kamu minggu depan.” Suara dari seberang mencoba to the point.

”Undangan? Nikah gitu? Kamu hebat masih mahasiswa sudah berani menikah.” Lelaki itu tertawa senang.

”Bukan! Kalau aku niat memang ada, tapi Surat Izin Menikah belum juga keluar dari orang tua.” Balas suara dari sebelah kesal.

”Oh, jadi undangan sunatan? Kamukan sudah dikhitanan bertahun-tahun yang lalu.” Goda lelaki itu lagi.

”Ya, undangan nikahI Tapi bukan aku, begini kamu masih ingat tidak teman kita yang kuliah di IAIN itu?” Tanya suara dari sebelah. “Nah Sekarang dia sudah lulus, kebetulan aku bertemu dengan dia beberapa hari yang lalu, kemudian dia mengundang ke pernikahannya.” Suara dari seberang panjang lebar.

”Teman kita yang kuliah di IAIN kan banyak? Ada teman rumah, teman ngaji, teman Madrasah, teman SMP, teman SMU, belum lagi teman-teman yang lain. Terlalu luas cakupan yang kamu berikan.” Lelaki itu meminta penjelasan.

”Belum sedikitpun sifat kamu itu berubah, masih seperti dulu kaku.” Teman diseberang memang rajanya bercanda.

”Tanya namanya saja kenapa?” Sambungnya.

”Si Fatimah Azzahra, yang juara MTQ sewaktu kita masih di Madrasah. Masih ingat tidak? Masak kamu lupa dengan obsesi masa lalu?” Suara dari seberang  sambil tertawa.

Seketika wajah lelaki itu berubah.

”Kalau dia mana mungkin saya lupa.” Jawab lelaki itu, sekilas ia teringat bait-bait syair yang baru-baru ia tulis ”Hanya dengan angan-anganku tentang dirimu aku dapat bertahan, dan hanya dengan kenangan kita membuat aku semakin kuat, walau semua telah berlalu, dan berakhir sudah.”

”Hoy, kenapa diam? Sewaktu dia mengundang sengaja tidak pakai undangan karena pestanya sederhana, sekalian juga katanya tolong mengundang teman-teman yang lain.” Tanpa memberi kesempatan kepada laki-laki itu untuk menyela.

”Dia sempat menanyakan keberadaan kamu dan minta tolong mengundang kamu, dia masih ingat sama kamu tapi aku sih tidak heran kalian kan sempat dekat satu bangku lagi sewaktu madrasah, gimana kamu datangkan?” Suara dari seberang menjelaskan sedetail-detailnya yang mampu ia katakan.

”Dia masih ingat?” Pikir laki-laki itu.

”Padahal terakhir kami bertemu sekitar 5 tahun yang lalu itu pun hanya sebentar.” Ujar lelaki itu tanpa sadar. ”Kapan acaranya?” Sambungnya.

”Acaranya tanggal 22 Juli 2006, di Masjid Al-Makmur sudah dulu, pulsa aku sepertinya semakin menipis nih dan sesekali kamu menelpon aku ya?” Suara dari seberang masih bersemangat.

”Insya Allah, kapan-kapan nanti kamu aku hubungi.” Lelaki itu memberi janji.

”Jangan janji-janji kosong, akan aku tagih. Sudah dulu ya. Assalamualaikum.” Suara dari seberang buru-buru.

”Waalaikumsalam, dan terima kasih atas informasinya.” Dan telepon terputus.

”Akhirnya, tiba juga hari ini.” Pikir lelaki itu. Ia pun membuka dompetnya kemudian mengeluarkan secarik kertas yang bertahun-tahun yang lalu ia simpan. Terakhir sebelum merobeknya, ia membaca tulisan pada kertas itu untuk terakhir kalinya Mencintai itu, merasa lebih bahagia dari pada kebahagiaan  yang ia rasakan. Mencintai itu bisa pula merasa sakit lebih dari kesakitan yang ia rasakan, mencintai terkadang membahagiakan terkadang menyakitkan

Tiada yang mengetahui perasaan lelaki itu malam itu, bahkan mungkin lelaki itu sendiri. Akan tetapi malam itu lelaki itu melakukan sujud syukur yang panjang. Dan malam semakin larut.

”Biarlah bait-bait puisi puisiku padamu tersimpan dihatiku yang terdalam, tiada akan pernah aku berikan pada siapapun, tidak pula untuk dirimu. Biarlah ia bersemayam disini, direlung hatiku yang paling dalam”

Juli 2006,

“Saya terima nikahnya Fatimah Azzahra Binti Maimun untuk saya dengan mas kawin 12 mayam emas dibayar tunai!” Mempelai Laki-laki melafalkan akad dengan mantap.

“Bagaimana para saksi?” Tanya Penghulu. “Sah!” Kedua saksi mengangguk.

Mempelai perempuan hanya menunduk, wajahnya tersipu dan bibirnya terukit seulas senyum. Suasana menjadi sumrigah, bias-bias kegembiraan kedua mempelai menjalar membius para hadirin sehingga suasana penuh dengan senyuman.

Dan diantara banyak orang, hanya ada satu orang yang memejamkan mata. Mencoba menahan gejolak didada yang menggelegak, dan disela kantuk yang menyambar ia mencoba mengingat perjalanannya menuju kemari. Tiba tadi Shubuh di kota yang amat dicintainya kemudian shalat dan bersalin pakaian di terminal. Itu semua dilakukannya untuk dapat hadir di acara ini.

“Benar-benar melelahkan.” Pikirnya, dari sudut masjid itu matanya kembali terbuka memandang kearah kedua mempelai.

“Memang kedua mempelai pasangan serasi ya?” Tanya orang disebelah laki-laki itu. Laki-laki itu hanya terdiam sambil mengangguk, kemudian ia mengalihkan pandangan kesamping dan bertanya

“Kalau boleh tahu, bapak siapa?”

“Oh, perkenalkan Saiful, saya paman dari pengantin laki-laki, kalau adik ini?” Bapak tersebut balik bertanya.

“Saya teman pengantin perempuan, kami satu sekolah.” Jawab laki-laki tersebut.

“Coba lihat kesana!” Bapak tersebut menunjuk kearah kedua mempelai. “Mereka benar-benar serasi ya?” Bapak tersebut mengulangi pertanyaannya sebelumnya. “Iya pak.” Laki-laki itu tersenyum melihat kegembiraan bapak tersebut, senyumnya yang pertama di hari ini.

“Keponakan saya calon dokter sedang istrinya calon guru, kurang cocok apalagi?” Bapak tersebut masih larut dalam kegembiraan.

Laki-laki itu kembali tersenyum.

“Adik ini pasti belum menikah?’ Tebak bapak tersebut.

“Kepada hadirin dipersilahkan untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai!” Suara MC dari arah mimbar menarik perhatian keduannya sehingga percakapan tadi terputus.

“Ayo dik, kita kesana memberi ucapan selamat.” Bapak tersebut bangkit dari tempat duduknya mengajak laki-laki itu.

“Silahkan pak, saya sebentar lagi menyusul.” Laki-laki itu mempersilahkan Bapak tersebut. Dan bapak tersebut pun beranjak menuju kerumunan orang-orang yang antri untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Dan laki-laki itupun beranjak meninggalkan Masjid tersebut.

Langit yang cerah bersama mega-meganya memeyungi kepergian laki-laki tersebut. “Sudah sepantasnya aku untuk hadir.” Laki-laki tersebut berbicara pada dirinya sendiri. “Aku turut berbahagia.” Tambahnya dengan senyuman memandang angkasa dengan penuh keyakinan.

Masih di hari yang sama,

“Sepertinya dinda melihat seorang teman lama, kanda.” Pengantin perempuan berbisik kepada pengantin laki-laki seraya menyalami para tamu yang menghampiri.

“Siapa dan dimana dinda?” Pengantin laki-laki berbisik mesra kepada pengantin perampuan.

“Itu, disana ……” Suara pengantin perempuan terputus ketika melihat orang yang ia maksud tidak ada lagi ditempatnya semula. “Mungkin hanya perasaan dinda saja.” Suara pengantin perempuan bernada kecewa.

“Dinda terlalu banyak perasaan atau jangan-jangan mantan pacar dinda yang datang ya?” Pengantin laki-laki menggoda.

“Ah, kanda bisa saja.” Pengantin perempuan mencubit lengan pengantin laki-laki dengan gaya merajuk.

“Aduh, sakit.” Pengantin laki-laki tertawa terbahak melihat gurauannya ditanggapi serius sedang pengantin perempuan pun tersipu malu. Para tamu pun tersenyum menyaksikan adegan tersebut pun tersenyum melihat tingkah laku kedua mempelai.

Hari ini kedua mempelai mulai mengarungi bahtera rumah tangga berdua, hari ini dua insan disatukan dalam tali pernikahan, dan hari ini akan diingat sebagai hari bahagia bagi kedua mempelai hingga akhir hidup mereka.

XXXXX

Disudut lain kota ini.

“Dik, ada tiket bus ke kota Lhokseumawe sekarang?” Seorang laki-laki kepada penjaga loket diterminal.

“Kebetulan bang, pukul 11 ada mobil kesana.” Jawab penjaga loket terminal.

“Saya ambil satu.” Laki-laki itu mengeluarkan sejumlah uang dan menyerahkannya kepada penjaga loket.

“Terima kasih, ini tiketnya bus berangkat sebentar lagi.” Penjaga loket menunjukkan busnya kemudiam melihat jam ditangannya. Laki-laki tersebut mengambil tiket dan menuju bus yang ditunjuk oleh penjaga loket tersebut.

Ketika hendak menaiki bus tersebut, laki-laki tersebut ditegur oleh kernet bus tersebut. “Abangkan yang tadi shubuh naik mobil ini, kok cepat sekali kembalinya.”

“Urusan saya disini sudah selesai dan sudah saatnya saya kembali.” Jawab laki-laki itu tenang.

“Kalau begitu selamat menggunakan bus ini kembali, mungkin bus ini memang berjodoh dengan abang.” Kernet mobil tersebut tersenyum memainkan handuk dilehernya.

“Kamu bisa saja.” Laki-laki itu tertawa terbahak hingga gigi gerahamnya kelihatan. Kernet itu kembali meneruskan pekerjaannya dan laki-laki itu pun naik kedalam bus dan duduk dibangku yang tertulis pada karcis. Sejenak setelah ia duduk di bangku tersebut, ia mengeluarkan segumpal kertas dari dalam kantongnya. Laki-laki tersebut membaca untuk yang terakhir kalinya ”Hanya dengan angan-anganku tentang dirimu aku dapat bertahan, dan hanya dengan kenangan kita membuat aku semakin kuat, walau semua telah berlalu, dan berakhir sudah.” Kemudian ia merobek kertas tersebut menjadi serpihan-serpihan kecil dan ia membuangnya keluar.

”Selamat tinggal masa lalu, kini aku harus menatap masa depan.” Sekali lagi ia berbicara dengan dirinya sendiri. Tak lama kemudian bus itupun berangkat meninggalkan terminal kota itu menuju tujuan layaknya seorang anak manusia yang beranjak dewasa menuju masa depan yang ada dihadapannya.

XXXXX

THE END

adalah mimpiku

untuk melihat pelangi dimatamu

setelah badai hujan menguasai

kilat petir menyambar seolah tiada henti

 

membaui udara kala hujan selesai

menghirup wanginya menggelegak

seandainya hari itu tiba

bahagiaku untuk dirimu

Lhokseumawe, 29 Juli 2006

XXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Ada Banyak Cinta; 15 Maret 2011;
  24. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  25. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  26. Ashura; 13 Februari 2013;
  27. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  28. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  29. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  30. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  31. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  32. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  33. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  34. Perjalanan; 29 November 2013;
  35. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  36. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  37. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  38. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  39. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  40. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  41. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  42. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  43. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  44. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  45. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  46. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  47. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  48. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  49. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  50. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.