SEPUCUK SURAT UNTUK LISA

Tamar Lisa, Countess of Voldigrad, Georgia (1809)

SEPUCUK SURAT UNTUK LISA

Tiba-tiba aku merasa malu pada ambisiku, pada cita-citaku, pada harapanku untuk diriku sendiri. Terlalu tinggi expetasiku untukku sendiri. Kutarik nafas panjang. Menahan tubuhku yang terbakar habis. Mencoba menahan beban berat melebihi puncak gunung tertinggi sekalipun. Demi menjaga sebuah tahta yang ingin kuhindari sejak aku bisa berdiri.

Nenekku mengajarkan geografi. Tentang batas-batas demakrasi. Dibatasi oleh gunung, sungai, laut ataupun kebudayaan. Tentang Sejarah Kepangeranan kami sudah tak bergigi. Ia sudah dibabat habis oleh sistem feodal baru ciptaan si Putih, bangsamu, dalam Perang Rusia-Persia ini. Namun beberapa Kepangeranan di Azerbayzan, termasuk negeriku Kekhanan Shirvansyah masih hidup, bernafas. Walau hanya sebatas tradisi.

Aku tak minta dilahirkan sebagai Putra Mahkota. Ini adalah takdir yang harus kuterima dengan takzim. Sebagaimana aku tak pernah menyesal telah jatuh cinta. Termasuk denganmu. Dan lucunya aku tak pernah mengucapkan itu.

Ada sekumpulan kebiasaan yang mengurat mengakar kemudian ia menjadi tradisi. Sebuah konvensi menurut hukum tata negara memaksaku memilih, kamu atau mahkota. Sungguh, tahta ini tak pernah berarti bagiku dibanding senyumanmu. Aku ingin berlari. Tapi aku hanyalah satu-satunya pewaris, tanggungjawab pada para leluhur telah membelenggu kakiku.

Kamu tak bisa menjadi ratuku. Ada dua belas pasal qanun yang menjegal. Mengejarmu berarti menjadikan Kepangeranan kami bubar. Aku tak bisa. Aku tak tahu perasaanmu, mungkin lebih tepatnya aku tak pernah mau tahu. Yang pasti aku kecewa pada diriku. Kejam katamu. Ludahi aku karena itu memang layak. Benci aku. Itu lebih baik. Masa depanku telah ditentukan dan itu tidak bersamamu.

Sungguh menyesakkan untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tak bisa mengatakan walau ingin. Sebab, “Selamat tinggal” adalah kata-kata yang menyedihkan yang akan menusuk perasaan bersama. Tapi lebih sedih lagi kalau pergi tanpa mengucapkan apapun! Aku pergi!

Aku tak ingin melihatmu lagi. Itu akan melemahkanku. Sebagai putra mahkota aku harus tangguh seperti singa. Aku adalah lelaki bertopeng besi. Yang tak tertaklukkan. Untukmu jadilah orang hebat dimasa depan. Tidak ada manusia berdarah biru. Semua merah kehitaman. Semua merah darah. Jika engkau masih mendapati kertas ini basah, ini karena air minumku terpercik. Bukan karena air mataku, karena seorang calon raja tak pernah menangis. Kami dibentuk seperti baja, kuulangi seperti baja. Seperti dua belas silsilah ke atas.

LETTER OF KHANATE SHIRVANSYAH

Kara. January 1, 1809 Signed Prince of Shirvansyah Khanate, Ahmad III to Tamar Lisa, Voldigrad

Aku ingin meraihmu, mengengammu seperti rantai aku hanya ingin mencintaimu.
Tapi begitu melihatmu rantai lain di kakiku membelenggu.

Kara1). 1 Januari 1809
Tertanda
Yang Dipertuan Agung Muda Khanate Shirvansyah2), Ahmad III
Kepada Lisa, Voldigrad3)

Kara1) = ibukota Shirvansyah
Kepangeranan Shirvansyah2) = Terletak diKaukasus  perbatasan Kerajaan Persia dan Kekaisaran Rusia
Voldigrad3) = Sebuah kota di Rusia era Tzar

Cerita ini fiksi, nama tokoh, tempat, waktu adalah seratus persen rekaan*)

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  12. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  13. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  14. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  15. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  16. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  17. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

82 Balasan ke SEPUCUK SURAT UNTUK LISA

  1. masih ngernyitkan dahi…..

    model bahasanya kayak gurindam tapi gurindam juga ngga sepanjang ini..hehehhee

    ini kisah nyata pa fiksi ya? hehhee

  2. tengkuputeh berkata:

    hihihihi…
    Fiksi Mas Icang…
    Mengambil latar setting waktu pencaplokan Azerbaizan oleh Rusia…
    Pertemuan Timur dan Barat selalu menarik untuk dijadikan fiksi…

  3. Sawali Tuhusetya berkata:

    Sebagai putra mahkota aku harus tangguh seperti singa. Aku adalah lelaki bertopeng besi. Yang tak tertaklukkan. Untukmu jadilah orang hebat dimasa depan. Tidak ada manusia berdarah biru. Semua merah kehitaman. Semua merah darah. Jika engkau masih mendapati kertas ini basah, ini karena air minumku terpercik. Bukan karena air mataku, karena seorang calon raja tak pernah menangis. Kami dibentuk seperti baja, kuulangi seperti baja. Seperti dua belas silsilah ke atas.

    wah, quote yang mencerahkan, mas tengku, lelaki perkasa, tapi tetep memiliki kelembutan hati terhadap sesama.

  4. tengkuputeh berkata:

    hihihi….
    Dipuji oleh seorang ahli bahasa seperti Mas Sawaly adalah sebuah kehormatan bagi Abu….

  5. yainal berkata:

    salam buat lisa.. 🙂

  6. marsudiyanto berkata:

    Lisa membacanya lewat perantara mata kita…
    Sukses buat Tengku Puteh
    Makasih telah berkunjung ke blog saya…

  7. Walah-walah bagusnya, kalau agak panjang paparan lebih dalam mas. Saya tergugah, indah kali bahasamu. Takjub. Untuk postingan 6 atau 7 Januari saya buat tulisan dari komen Sampeyan. Insya Allah.

  8. tengkuputeh berkata:

    Jawab
    @ yainal ==> Ini Fiksi bro, dan ada selang 100 tahun dari skrg. hihihi, jd gak bisa disampaikan.

    @marsudiyanto ==> Terima kasih tlh menganggap cerita ini nyata…

    @Ersis Warmansyah Abbas ==> Agak krg panjang ya, Abu pertimbangkan utk buat sekuelnya… Tp cari inspirasi dulu ya Mas Ersis.
    Buat tulisan dari komen saya, hihihihi. Saya tunggu…

  9. Baka Kelana berkata:

    Hebat…Tgk sangat berbakat dalam menulis fiksi
    kenapa gak dicoba menulis sebuah buku tentang fiksi atau novel tentang Aceh atau sejarah Aceh

  10. Baka Kelana berkata:

    Wach ,,,kalau saya punya bakat kaya Tgk saya akan jadi penulis seperti Endang Moerdopo yang telah berhasil mengangkat sejarah Laksamana Malahayati kedalam sebuah novel

  11. tengkuputeh berkata:

    @ baka kelana ==> Terimong gaseh atas pujiannya…

    Sejarah Aceh sangat rumit, apalagi karena Abu include didalamnya… Ia menjadi sangat emosional. Tapi Sebenarnya saat ini Abu sedang “iseng” membuat kumpulan cerpen kecil ttg Aceh. Tapi itu perlu waktu, riset, tenaga lebih… Maklum settingnya abad 19…

    Ya butuh waktu… Mudah2an saja berhasil…

  12. Bangpozan berkata:

    Jujur, Saya tak sanggup kalau tulisan seperti ini.

  13. ladangkata berkata:

    Nama saya Lisa…jadi surat ini buat saya? :p

    Salam
    Lisa

  14. tengkuputeh berkata:

    Jawab
    @ Bang Pozan ==> Gak sanggup baca ya bang… Hihihi…

    @ ladangkata/lisa ==> Hihihihi…. No Comment ah..

  15. mbadeni berkata:

    sepertinya kisah pribadi nih….huehehehe….
    lagi patah hati, dek…??? soalnya bahasa seperti itu baru bisa keluar kalo penulisnya bener-bener tergugah hatinya, perasaannya ..
    oleh Lisa..(nama samaran..???wkwkwkwk)
    sorry baru berkunjung, lagi mencoba aktip kembali…

  16. Tulisan sampeyan di http://www.blogersis.com dijadikan tulisan: Menulis Etalase Pikiran

  17. tengkuputeh berkata:

    Jawab
    @mbadeni ==> hihihi, seolah nyata ya… Seorg penulis hrs mampu mengimajikan. Tdk hrs merasakan. Apa jdnya jk seluruh masterpiece di dunia ini tercipta dgn syarat penulisnya patah hati… hihihi…

    @Ersis ==> Akan saya kunjungi…

  18. genthokelir berkata:

    ada kerapuhan di balik topeng besiku
    ada kelemah lembutan di balik kepala singaku
    dan ada airmata ketidak mampuan di belenggu rantai asmara
    hebat kang abu
    eh lupa met tahun baru kekekeke ketinggalan hihihi

  19. tengkuputeh berkata:

    Ah mas tok bisa saja, hihihi…
    Met tahun baru juga…

  20. Ping balik: LETTER TO LISA | Tengkuputeh

  21. Ping balik: SEBENTUK HARTA | Tengkuputeh

  22. Ping balik: ELEGI PAGI HARI, SEBUAH CERPEN | Tengkuputeh

  23. Ping balik: KEINDAHAN SANG REMBULAN | Tengkuputeh

  24. Ping balik: TEMPAT TIADA KEMBALI | Tengkuputeh

  25. Ping balik: RENUNGAN MAJNUN SEORANG PENARIK CUKAI | Tengkuputeh

  26. Ping balik: KETIDAKAGUNGAN CINTA | Tengkuputeh

  27. Ping balik: AKU TAK MENGERTI KAMU | Tengkuputeh

  28. Ping balik: SELAMAT TINGGAL ANDALUSIA | Tengkuputeh

  29. Ping balik: NARSIS YANG BERBEDA | Tengkuputeh

  30. Ping balik: ISTANA KOSONG | Tengkuputeh

  31. Ping balik: SENJA DI MALAKA | Tengkuputeh

  32. Ping balik: PERJALANAN | Tengkuputeh

  33. Ping balik: JARING KAMALANGA | Tengkuputeh

  34. Ping balik: LELAKI SUNGAI | Tengkuputeh

  35. Ping balik: MENGECOH SANG RAJA | Tengkuputeh

  36. Ping balik: PADA PANDANGAN PERTAMA | Tengkuputeh

  37. Ping balik: THE LAST GENTLEMAN | Tengkuputeh

  38. Ping balik: YANG TAK AKAN KEMBALI | Tengkuputeh

  39. Ping balik: TAK ADA APA APA | Tengkuputeh

  40. Ping balik: SELAMANYA | Tengkuputeh

  41. Ping balik: HANYALAH LELAKI BIASA | Tengkuputeh

  42. Ping balik: WASIAT HANG TUAH | Tengkuputeh

  43. Ping balik: ODE SEORANG BUJANG | Tengkuputeh

  44. Ping balik: WASIAT TERUNTUK ADINDA MALIN KUNDANG | Tengkuputeh

  45. Ping balik: ODE SEEKOR ELANG | Tengkuputeh

  46. Ping balik: KISAH SEBELUM SANG PANGERAN SELESAI | Tengkuputeh

  47. Ping balik: KEPADA CINTA YANG BERUMUR SEMINGGU | Tengkuputeh

  48. Ping balik: BADAI SEJARAH | Tengkuputeh

  49. Ping balik: SANG KATALIS | Tengkuputeh

  50. Ping balik: CERITA CINTA | Tengkuputeh

  51. Ping balik: WAWANCARA DENGAN SANG IBLIS | Tengkuputeh

  52. Ping balik: MENGENANG SEBUAH PERJALANAN CINTA | Tengkuputeh

  53. Ping balik: SETELAH REVOLUSI SELESAI | Tengkuputeh

  54. Ping balik: LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH | Tengkuputeh

  55. Ping balik: SANTIAGO SANG PELAUT | Tengkuputeh

  56. Ping balik: GENDERANG PULANG SANG RAJAWALI | Tengkuputeh

  57. Ping balik: PERSAHABATAN KAMBING DAN SERIGALA - TengkuputehTengkuputeh

  58. Ping balik: DRAGON DIALOG - TengkuputehTengkuputeh

  59. Ping balik: PERJALANAN - TengkuputehTengkuputeh

  60. Ping balik: RINDU - TengkuputehTengkuputeh

  61. Ping balik: SUPAYA AKU, KAMU DAN KITA (LEBIH) SALEH - TengkuputehTengkuputeh

  62. Ping balik: KISAH MENTERI JARINGAN MELAWAN KAPITALISME AMERIKA | TengkuputehTengkuputeh

  63. Ping balik: KISAH MENTERI JARINGAN MELAWAN KAPITALISME AMERIKA | Tengkuputeh

  64. Ping balik: A LETTER TO LISA | Tengkuputeh

  65. Ping balik: PERMUFAKATAN PARA BURUNG | Tengkuputeh

  66. Ping balik: ADA BANYAK CINTA | Tengkuputeh

  67. Ping balik: LEGENDA GAJAH PUTIH BENER MERIAH | Tengkuputeh

  68. Ping balik: BARA API IDEALISME | Tengkuputeh

  69. Ping balik: TIDAK SEDANG MENCARI CINTA | Tengkuputeh

  70. Ping balik: PERSAHABATAN KAMBING DAN SERIGALA | Tengkuputeh

  71. Ping balik: HIKAYAT NARSIS YANG BERBEDA | Tengkuputeh

  72. Ping balik: ODA NOBUNAGA BANGSAWAN PANDIR | Tengkuputeh

  73. Ping balik: TAKTIK ISTANA KOSONG IEYASU TOKUGAWA | Tengkuputeh

  74. Ping balik: IEYASU TOKUGAWA SANG ASHURA | Tengkuputeh

  75. Ping balik: YUKIMURA SANADA SAMURAI TERAKHIR | Tengkuputeh

  76. Ping balik: ODE SEEKOR HARIMAU | Tengkuputeh

  77. Ping balik: PESAN KEPADA PENGUASA | Tengkuputeh

  78. Ping balik: CELA SEMPURNA | Tengkuputeh

  79. Ping balik: KITA YANG TAK AKAN BERTEMU KEMBALI | Tengkuputeh

  80. Ping balik: DRAGON DIALOG | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.