KEPADA CINTA YANG BERUMUR SEMINGGU

Masih dengan pakaian sama dengan tahun lalu ketika ia masih gadis, namun hari ini pakaian itu sudah lusuh dimana setiap jalinan benang terlihat rapuh.

KEPADA CINTA YANG BERUMUR SEMINGGU

Masih dengan pakaian sama dengan tahun lalu ketika ia masih gadis, namun hari ini pakaian itu sudah lusuh dimana setiap jalinan benang terlihat rapuh. Kerudung sama pula ia kenakan membangkitkan kenangan tentang gairah lama ketika kami masih dimabuk asmara. Saat ini, sungguhpun ketika debu sebegitu mudah hinggap ia masih terlihat sangat cantik. Tapi mau apa dia kemari? Bukankah sudah kukatakan bahwa tak sudi melihat wajahnya lagi, berani sekali dia! Belum pernah ada orang yang sudah kumaklumatkan sebagai musuh punya keberanian untuk menemuiku lagi, dan sekali lagi sebuah teori runtuh olehnya. Disini ditempat aku tak bisa menghindari, di kantor dimana aku harus melayani secara professional. Tidak bisa tidak, betapa ia begitu cermat memperhitungkan sisi terlemah dari benteng yang kubangun dari puing-puing penaklukan.

“Aku butuh bantuan.” Lurus memandang aku menatap tajam ke wajah yang semakin tirus itu.

“Tulislah permintaanmu dikertas ini.” Aku menyodorkan selembar HVS kosong.

Ia tersenyum senang, “nanti malam aku serahkan, temui aku pukul delapan ditempat biasa dulu kita bertemu.” Disaat terdesak ia masih bisa mendikte, benar-benar mengerikan. Kepercayaan diri yang luar biasa, patut diberi tabik, meski sebenarnya aku sudah belajar untuk sangat membencinya.

Tapi sosokku sudah berubah, sudah menjadi insan pembelajar. Dulu Selicik apapun kamu, sejahat apapun kamu. Sampai kapanpun aku akan setia. “Sekarang, jika tidak maka tak akan lagi selamanya!”

Wajah itu memerah, “Baiklah” ia mengalah dan menuliskan sesuatu. “Ini nomorku.” Sambungnya seraya menyerahkannya ke tanganku.

Aku menggeleng membaca tulisan itu. Memberi Tipe-Ex, “Hapuslah itu, tulislah sebuah alamat. Permintaanmu akan kukirim via pos.” Aku menarik nafas panjang.

“Aku mengalah hari ini karena membutuhkan bantuanmu.” Ia menggerutu. Siapa dia? Bahkan disaat seperti inipun mampu mengancamku. Dia bangkit, “Terima kasih, disaat semua orang menutup mata akan masalahku, aku tahu kamu akan membantuku.” Dia mengetahui kelemahan terdalam dari diriku, dibalut amarah tertahan.

“Kamu pikir bantuan ini gratis!” Wajahnya terkejut tapi tersirat aura bahagia disitu, dia ingin kisah ini berlanjut. Tidak, tidak akan kuberikan kesempatan. “Kali lain jika membutuhkan bantuan, jangan pernah datang lagi memohon bantuanku. Cukup ini yang terakhir, sungguh tak sudi aku melihatmu lagi.” Mendung seketika diwajahnya, satu-satunya kemenangan seumur hidup yang pernah kuraih darinya.

“Maaf, aku tidak tahu. Sungguh tidak tahu telah sangat menyakiti hatimu.” Ia akhirnya pergi, timbul sedikit rasa iba dihatiku namun sekejap pula pada kenanganku terlintas memori dimana aku terkejut akan kelicikannya, terdiam bagaimana dengan licinnya akal seorang perempuan mampu mengalahkan logika lelaki terpintar sekalipun, dengan sebuah sandiwara hebat melebihi racikan sutradara manapun.

Bagaimanapun aku harus menolongnya karena aku tidak pernah membencinya, hidup ini telah pernah mengantarkanku pada banyak penolakan dan penolakan. Hanya dia yang menerimaku bahkan hingga saat ini, meski hanya seminggu, meski akhirnya ia berkhianat. Hanya dialah satu-satunya yang pernah menjadi kekasihku. Aku masih mengingat Hari itu takdir mempertemukan kami, ia memungutku yang tak punya cinta, seperti keajaiban ia memilihku. Dialah yang membentuk karakterku sekarang yang menjadi manusia waspada akan segala senyum wanita, yang membuatku curiga akan tangis perempuan. Seperti pandai besi ialah yang menempa hatiku menjadi baja. Maka untuk itulah aku harus menolongnya, sebagai bakti murid pada guru. Untuk sebuah cinta yang berumur seminggu, dimana pada masa lalu aku berhutang pada waktu. Tapi untuk itu aku harus mengenakan topeng, untuk melindungi wajahku dari debu. Untuk menyembunyikan air mataku karena tak sepantasnya seorang laki-laki menunjukkan kelemahannya, apalagi jika sampai dua kali sehingga tak mampu menjaga harga dirinya.

Malam ini ketika aku memenuhi permintaannya, membungkus keinginannya untuk diposkan besok. Kutempelkan kertas tadi tanpa membaca lagi. Biarlah tulisan itu tak pernah hinggap di memori otakku. Kehadirannya mengembalikan kenangan masa lalu, menyadarkan kalau sendirian sangat sepi. Dan dulu aku ingin memiliki keluarga bersamanya. Sudahlah masa lalu adalah masa lalu, ia sudah berlalu. Orang yang berkewajiban mengembalikan senyum diwajahnya bukan aku. Ia telah memilih dan seharusnya bertanggungjawab akan keputusannya itu dulu. Aku pasti akan menjadi lebih kuat, lalu menemukan orang yang dicintai, untuk kelak hidup bahagia.

Berjuang demi cinta untuk kemudian dikhianati adalah lebih baik, daripada kelak menyesal karena tidak berusaha dengan sepenuh hati, daripada tidak melakukan apa-apa. Bahkan kematian lebih baik daripada sebuah penyesalan.

Lhokseumawe, 4 April 2009

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  7. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  8. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  9. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  10. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  11. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  12. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  13. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010;
  14. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  15. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  16. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  17. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  18. Ashura; 13 Februari 2013;
  19. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  20. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  21. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  22. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  23. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  24. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  25. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  26. Perjalanan; 29 November 2013;
  27. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  28. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  29. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  30. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  31. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  32. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  33. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  34. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  35. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  36. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017
  37. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to KEPADA CINTA YANG BERUMUR SEMINGGU

  1. Pingback: SEBENTUK HARTA | Tengkuputeh

  2. Pingback: ELEGI PAGI HARI, SEBUAH CERPEN | Tengkuputeh

  3. Pingback: KEINDAHAN SANG REMBULAN | Tengkuputeh

  4. Pingback: KETIDAKAGUNGAN CINTA | Tengkuputeh

  5. Pingback: SEPUCUK SURAT UNTUK LISA | Tengkuputeh

  6. Pingback: RENUNGAN MAJNUN SEORANG PENARIK CUKAI | Tengkuputeh

  7. Pingback: SELAMAT TINGGAL ANDALUSIA | Tengkuputeh

  8. Pingback: NARSIS YANG BERBEDA | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s