SENJA DI MALAKA

menyalakan samar hampar lautan, aku menjelma menjadi sebaris nama

SENJA DI MALAKA

Pada tahun 1620-1630. Portugis di Malaka dihadapi oleh Aceh Darussalam dan Johor. Belanda di Batavia di hadapi oleh Mataram dan Banten, sedangkan Spanyol di Filipina dihadapi oleh Ternate dan Tidore. Kekuatan-kekuatan asing Barat itu, Portugis, Spanyol, Inggris dan Perancis saling baku hantam satu dengan lain, akan tetapi kekuasaan-kekuasaan di Nusantara sendiri tidak mampu menggalang persatuan dan kesatuan gerak perjuangan untuk menghadapinya, bahkan saling bertikai. Ini adalah kisah tentang keadaan sebelum Belanda keluar sebagai pemenang tunggal di lautan dan bumi Nusantara. Sebuah kisah tentang penyerangan Aceh ke Malaka yang dikuasai Portugis.

X

Sri Baginda Sultan Iskandar Muda menangani sendiri persiapan penyerbuan Malaka. Sebagai seorang prajurit aku melihat-lihat apa yang sedang dipersiapkan itu. Ya, aku benar-benar takjub melihat armada Kesultanan Aceh Darussalam, yang oleh Baginda dikatakan sebagai armada yang “tak terkalahkan” itu. Kapal kami akan diberangkatkan dari Bandar Aceh sudah sangat banyak, belum lagi yang akan bergabung dari pelabuhan-pelabuhan lain di pesisir Timur Aceh.

Akhirnya, sesuai perhitungan armada kami berangkat, terdiri atas kapal-kapan perang dan kapal-kapal pengangkut prajurit-prajurit darat. Aku berada pada salah satu kapal. Tidak terlalu besar, tapi lincah luar biasa, karena jumlah dan para pendayung pilihan. Dari kapal ini aku dapat menyaksikan Kapal yang terbesar dimana Sri Baginda Sultan Iskandar Muda berada, pihak Portugis menamainya Espanto del Mundo. Kepada kapal itu Sultan memberikan nama Cakradonya. Betapa tidak! Panjangnya 100 meter, tegak berdiri tiga tiang layar yang Nampak seperti batang-batang kelapa saja. Sepintas aku menghitung ada sekitar 50 pucuk meriam berbagai jenis pada setiap lambungnya. Ya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika nanti meriam-meriam itu ditembakkan semua. Di tengah pelayaran menuju Malaka, aku merenung.

Sepanjang pelayaran. Aku membayangkan Sri Baginda Sultan Iskandar Muda pasti tersenyum-senyum. Kami yakin Malaka akan jatuh ke tangan Aceh. Sebagaimana mimpi kami selaku putera Aceh lainnya, adalah merebut Malaka. Mengusir Portugis selama-lamanya dari bumi Nusantara.

Penyerangan Malaka (Portugis) oleh Kesultanan Aceh Darussalam di tahun 1629

Tahun 1629. Iring-iringan kapal yang berjumlah ratusan itu akhirnya tiba. Tembakan-tembakan meriam dari benteng Malaka dapat diimbangi oleh tembakan-tembakan meriam dari kapal-kapal armada Aceh. Pasukan telah didaratkan. Kota Malaka telah diduduki, dan tinggal benteng Malaka.

Akan tetapi kami dikejutkan oleh datangnya armada Portugis dari arah Barat, dari Goa (India). Perimbangan kekuatan di laut telah berubah sama sekali. Bahkan dari darat kami dikejutkan oleh tentara Johor datang menolong benteng Portugis dari arah darat. Dasar Pengkhianat! Perimbangan pasukan di darat juga telah berubah sama sekali.

Baru untuk pertama kalinya aku merasakan, mungkin aku akan mati dalam pertempuran ini. Pertempuran laut semakin mengerikan, kapal-kapal terbakar, hancur berantakan, dan tenggelam di sekitar Kapal Agung Cakradonya. Sepertinya kami akan kalah. Sri Sultan Iskandar Muda telah memerintahkan kapal berbalik.

Aku memerintahkan kapal kami untuk melindungi pergerakan mundur Cakradonya. Ya, aku Ahmad bertekad bulat untuk menjadi bagian sejarah Kesultanan Aceh Darussalam mengusir bangsa Portugis dari bumi dan perairan Nusantara. Dan jika kami harus kalah hari ini, maka akan ada hari lain. Sri Sultan harus selamat, untuk membangun kekuatan kembali. Aku rela mati hari ini. Allahu Akbar!

Serangan dari arah belakang oleh armada Portugis sudah membuat kami kewalahan, belum lagi ditambah oleh pengkhianatan Johor yang lebih sudi bekerja sama dengan kafir. Nampak dihadapanku ratusan mayat prajurit dari pihak kami dan lawan mengapung di selat Malaka yang berwarna kemerah-merahan itu.

Air mataku menetes melihat jalur-jalur darah segar teman-teman seperjuangan mengalir dari badan-badan kapal yang hancur berantakan, dibarengi dengan gegap gempitanya teriakan aba-aba, jeritan mengerikan prajurit-prajurit yang terkena tembak, dan rintihan memilukan mereka yang terluka parah.

“Maju Aceh!” teriakku. Duaaaar!!! Rasa-rasanya aku merasakan beberapa peluru menembus dadaku. Aku terjatuh ke laut, kemudian diputar-putar, digasing-gasingkan, dan dijungkirbalikkan. Sayup-sayup terdengar suara terikan bahwa kapal Cakradonya telah berhasil meloloskan diri dari kepungan.

Aku tersenyum, sampai jumpa Sultan. Selesailah sudah pengabdianku di dunia, saatnya aku mempertanggungjawabkan segala perbuatanku di dunia kepada sang khaliq. Dadaku sesak oleh peluru dan air laut yang memenuhi rongga di paru-paruku. Untuk terakhir kalinya, sebelum maut menjemputku aku melafalkan dengan syahdu. “Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah.” Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Menyalakan samar hampar lautan, aku menjelma menjadi sebaris nama.

X

Extent of Aceh Sultanate during the reign of Iskandar Muda, 1608–1637. Source Wikipedia

Penyerangan Kesultanan Aceh Darussalam ke Malaka (Portugis) tahun 1629 gagal total. Menurut sumber Portugis, seluruh armada Aceh hancur dengan kehilangan 19.000 prajurit. Setelah kekalahan tersebut, Sultan Iskandar Muda mengirimkan dua ekspedisi laut besar lainnya. Di tahun 1630-1631 dan 1634, untuk menghancurkan pemberontakan di Pahang. Pada masa Sultan Iskandar Muda, Kesultanan Aceh Darussalam menguasai seluruh wilayah Utara Pulau Sumatera dan wilayah Utara Semenanjung Melayu.

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013
  7. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  8. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  9. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  10. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  11. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  12. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  13. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  14. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  15. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  17. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  18. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  19. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  20. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  21. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  22. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  23. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  24. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  25. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  26. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  27. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Cuplikan Sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

26 Responses to SENJA DI MALAKA

  1. Pingback: DUSK IN MALACCA | Tengkuputeh

  2. Pingback: TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA | Tengkuputeh

  3. Pingback: MENYELUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH | Tengkuputeh

  4. Pingback: TEUKU UMAR PAHLAWAN | Tengkuputeh

  5. Pingback: FILOSOFI GOB | Tengkuputeh

  6. Pingback: KEBENARAN YANG SAMAR | Tengkuputeh

  7. Pingback: ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH | Tengkuputeh

  8. Pingback: HIKAYAT SUKU MANTE | Tengkuputeh

  9. Pingback: MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA | Tengkuputeh

  10. Pingback: KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA | Tengkuputeh

  11. Pingback: OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  12. Pingback: EMAS, KAFIR DAN MAUT | Tengkuputeh

  13. Pingback: PARA PENYEBAR KEBOHONGAN | Tengkuputeh

  14. Pingback: MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  15. Pingback: SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH | Tengkuputeh

  16. Pingback: MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA (1996) | Tengkuputeh

  17. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  18. Pingback: PEREMPUAN ACEH FULL POWER | Tengkuputeh

  19. Pingback: TSUNAMI | Tengkuputeh

  20. Pingback: PERADABAN TANPA TULISAN | Tengkuputeh

  21. Pingback: SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 | Tengkuputeh

  22. Pingback: ACEH DI MATA KOLONIALIS | Tengkuputeh

  23. Pingback: PERANG ACEH KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  24. Pingback: NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  25. Pingback: MELUKIS SEJARAH | Tengkuputeh

  26. Pingback: ACEH SEPANJANG ABAD | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s