ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH

Bagi orang-orang Aceh, kedai kopi merupakan tempat berkumpul, bertemu dan membicarakan segala topik.

ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH

Apakah kopi merupakan tradisi budaya yang berakar lama di Aceh?

Budaya kopi tidak ditemukan di Aceh sampai dengan menjelang akhir Abad ke-19. Seorang orientalis yang menjadi peneliti sosial budaya, Snouck Hurgronye menulis pada buku Aceh Di Mata Kolonialis (Jilid I), pada masa ia meneliti orang-orang Aceh, “Bagi kebanyakan orang biasa di Aceh, air putih adalah hampir satu-satunya minuman, dari waktu ke waktu (sesekali) ia akan minum air tebu, diperas dari batangnya hanya dengan alat yang masih sangat primitif. Dari keadaan inilah mungkin datangnya istilah “ngon bloe ie teubee” artinya kurang lebih : “uang pembeli air tebu” apabila dimaksudkan adalah memberi upah atau imbalan.

Prasasti pada pintu menuju kompleks pemakaman Teuku Umar.

11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya telah berada di pinggiran kota Meulaboh. Pejuang Aceh sempat terkejut ketika mengetahui pasukan Van Heutsz telah mencegatnya. Posisi pasukannya sudah tidak menguntungkan dan tidak mungkin lagi untuk mundur. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur. Dalam pertempuran itu Teuku Umar gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya.  “Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid” artinya besok pagi kita akan minum kopi di kota Meulaboh atau aku akan syahid, itulah serangkaian kata singkat Teuku Umar yang tertera pada Prasasti di Desa Mugoe, Meulaboh di akhir perjuangannya. Berdasarkan kata-kata Teuku Umar tersebut dipastikan kopi sudah beredar di Aceh ketika itu namun masih merupakan barang impor yang mahal. Kejadian terbunuhnya Teuku Umar terjadi 26 tahun setelah Perang Aceh berlangsung dan 5 tahun setelah buku Snouck Hurgronje diterbitkan (1893-1894).

Kapan kopi masuk ke Aceh?

Aceh merupakan produsen lada terbesar dunia pada abad ke-19

Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, tanaman lada merupakan mata pencaharian utama sebagaimana padi. Tome Pires (1512-1515) mencatat, pelabuhan Pidie dan Pasai ketika itu memperdagangkan lada sebanyak 16.000 bahar atau sekitar 2.718 ton pertahun. Bahkan sampai menjelang akhir abad ke-19 sebelum Belanda menyerang, Aceh merupakan produsen lada utama di dunia. Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Kesultanan Aceh, perang tersebut berlanjut sampai 1904. Sultan Muhammad Daudsyah ditangkap oleh Belanda pada Januari 1904, perang besar berakhir tapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut sampai Belanda angkat kaki dari Aceh selama-lamanya di tahun 1942. Perang dengan Belanda telah membuat kejayaan lada Aceh tinggal kenangan.

Tanaman kopi awalnya dibawa Belanda pada abad XVII melalui Batavia (sekarang Jakarta) untuk ditanam di Aceh tahun 1908. Kopi yang pertama sekali diperkenalkan adalah kopi jenis Arabica pertama sekali dibudidayakan di Utara Danau Lut Tawar. Di dunia, kopi bisa dibedakan menjadi 2 kelompok berdasarkan jenisnya, yaitu kopi Arabica dan kopi Robusta. Di Aceh kedua jenis kopi ini dibudidayakan oleh masyarakat setempat. Kopi jenis Arabica umumnya dibudidayakan di wilayah dataran tinggi Tanah Gayo, termasuk Takengon, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues. Sedangkan di Kabupaten Pidie (terutama wilayah Tangse dan Geumpang) dan Aceh Barat, masyarakat mengembangkan kopi jenis Robusta. Belanda memerintahkan masyarakat sendiri pada saat itu mereka menyuruh konsumsi kopi jenis Robusta, sedangkan Arabica untuk dikonsumsi sendiri (Belanda) dan untuk di ekspor.

Kopi Gayo merupakan komoditas kopi premium yang diakui dunia

Di Aceh Belanda menemukan sebuah dataran tinggi luas yang dikenal dengan nama Tanah Gayo terletak di jantung wilayah ini, yang berdasarkan riset yang mereka lakukan ternyata sangat cocok untuk ditanami Kopi. Dan dari sinilah keajaiban itu bermula. Di Tanah Gayo, Belanda membangun basis pemerintahannya di Takengon yang terletak tepat di tepi danau Lut Tawar yang permukaannya ada di ketinggian 1250 Mdpl. Belakangan kota ini berkembang menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan dan menjadi kota terbesar di Tanah Gayo. Perkebunan kopi pertama yang dikembangkan Belanda di daerah yang bernama Belang yang terletak tidak jauh dari Kota ini. Sampai hari ini, daerah ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Tanoh Gayo. Dari Belang Gele, Kopi tersebar ke segala penjuru Tanah Gayo yang berhawa dingin.

Di tahun 1924 Belanda dan investor Eropa telah memulai menjadikan lahan didominasi tanaman kopi, teh dan sayuran (John R Bowen, Sumatran Politics and Poetics, Gayo History 1900-1989, halaman 76). Kemudian, pada Tahun 1933, di Takengon, 13.000 hektar lahan sudah ditanami kopi yang disebut Belanda sebagai komoditas “Product for future”. Masyarakat gayo, tulis John R Bowen, sangat cepat menerima (mengadopsi) tanaman baru dan menanaminya di lahan-lahan terbatas warga. Perkampungan baru di era tersebut, terutama di sepanjang jalan dibersihkan untuk ditanami kopi kualitas ekspor.

Sejarah Kopi Arabica Gayo

Setelah Perang Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1949), Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Republik Indonesia melalui Perjanjian Meja Bundar (KMB). Seperti yang terjadi di pulau Jawa, segala aset mereka termasuk perkebunan kopi tinggal di Gayo. Tapi berbeda dengan di Jawa yang operasional perkebunannya dilanjutkan oleh perusahaan pemerintah dan pekerjanya tetap dipekerjakan di Jawa. Di Gayo, yang terjadi berbeda. Setelah Belanda hengkang, kebun-kebun kopi yang tertinggal dibagi-bagikan kepada masyarakat setempat, terutama yang sebelumnya bekerja di sana.

lyas Leubee (kanan) sedang berbincang bincang dengan Daud Beureueh (kiri) di Beureunun pada tahun 1958

Pemerintah Republik Indonesia menghadiahkan segala perkebunan kopi di tanah Gayo kepada seorang perwira militer asal Gayo bernama Ilyas Leubee yang di masa revolusi fisik menyabung nyawa di medan perang Medan Area. Ilyas Leubee tidak mengambil hadiah itu untuk dirinya sendiri. membagikannya kepada masyarakat sekitar dan tidak melanjutkan pengelolaan kebun itu, sehingga pabrik peninggalan Belanda itupun terbengkalai dan menjadi besi tua sampai sekarang. Mendapati bahwa ternyata tanaman Kopi sangat menguntungkan. Para petani yang tidak kebagian kebun kopi pun, mulai menanami lahan-lahan kosong di sekitarnya dengan tanaman kopi, sehingga saat ini terdapat sedikitnya 90 ribu hektare perkebunan kopi di dataran tinggi Gayo yang sekarang dipisahkan menjadi tiga kabupaten (Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Luwes). Ini menjadikan dataran tinggi Gayo sebagai produsen kopi Arabica terbesar tidak hanya di Indonesia, tapi juga Asia. Karena kebun kopi di Gayo dikelola oleh petani individual dengan rata-rata kepemilikan lahan maksimum 2 hektare.

Peta Kesultanan Aceh (Akhir abad ke-19)

Kondisi alam Aceh yang subur, dipadu cuaca yang mendukung, menjadikan tanaman kopi Aceh berkembang menjadi komoditas yang bermutu tinggi dan menguntungkan. Indonesia merupakan pengekspor biji kopi terbesar keempat di dunia, dan Aceh adalah salah satu penghasil kopi terbesarnya yang mampu menghasilkan sekitar 40% biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia.

Fenomena ini terjadi karena Aceh memang memiliki kebun kopi yang luas membentang di antara pegunungan bukit barisan meliputi wilayah kabupaten Aceh Tengah yang memiliki luas 48.500 hektare kebun kopi, Bener meriah 39.000 Hektare dan gayo luwes seluas 7.000 hektar. Total kebun kopi daratan tinggi gayo sekitar 94.5000 hektare yang kebanyakan ditanami jenis kopi arabica dengan hasil produksinya mencapai 50.774 ton pertahun.

Dengan luasnya perkebunan yang dimiliki aceh, wajar bila Aceh termasuk sebagai salah satu pemasok terbesar kebutuhan kopi arabika di dunia dan penghasil kopi terbesar di Asia. Jenis kopi arabica yang dikembangkan petani di daratan tinggi gayo memiliki tekstur yang halus dan bercita rasa paling berat serta kompleks.

Sayangnya saat ini merk Kopi Gayo terdaftar dalam undang-undang Belanda atas nama Holland Coffee yang secara terang-terangan melarang orang lain menggunakan kata Gayo pada merek kopinya. Padahal Gayo sendiri merupakan sebuah wilayah geografis yang dimiliki oleh Indonesia bukan Belanda.

Sejarah Kopi Robusta Aceh

Biji kopi Robusta dihasilkan dari biji kopi pilihan berkualitas yang berasal dari Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Biji-biji kopi tersebut diproduksi oleh usaha-usaha kecil menengah. Oleh penduduk setempat, bubuk kopi yang berkualitas tinggi ini kemudian diproses secara unik, sejak dari penggilingan hingga disaring menjadi secangkir minuman dengan cara yang tersendiri. Inilah sebabnya kopi Aceh, terutama kopi Ulee Kareng ini kemudian menjelma menjadi ikon Aceh itu sendiri. Kedahsyatan aroma kopi Aceh ini sudah sejak lama melegenda di Indonesia, dan saat ini sudah pula mendunia berkat banyaknya penikmat kopi dari kalangan pekerja internasional yang datang dan tinggal di Aceh selama bertahun-tahun untuk merekonstruksi Aceh pasca tsunami.

Untuk mendapatkan kualitas dan cita rasa dahsyat yang unik itu, biji kopi Aceh melalui proses yang panjang. Pertama sekali, biasanya, biji kopi dioven selama 4 jam penuh. Setelah mencapai kematangan 80%, biji kopi itu dicampur dengan gula dan mentega dengan takaran tertentu. Kemudian biji kopi yang telah masak digiling sampai halus. Proses ini membangkitkan aroma kopi yang kuat, cita rasa bersih serta tidak asam.

Segelas Kopi Robusta Khas Aceh

Yang membuat kopi Aceh menjadi lebih menarik adalah cara penyajiannya yang khas yang berbeda dengan cara penyajian kopi di manapun di seluruh dunia. Kopi diseduh dengan air yang dijaga tetap dalam keadaan mendidih. Seduhan kopi disaring berulang kali dengan saringan terbuat dari kain, lalu dituangkan dari satu ceret ke ceret yang lain. Hasilnya adalah kopi yang sangat pekat, harum, dan bersih tanpa mengandung bubuk kopi.

Booming budaya kopi di Aceh

Salah satu keajaiban waktu adalah kemampuannya mengubah manusia. Begitu pula dengan kebiasaan masyarakat dengan segala aktifitasnya pasti berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika di abad ke-19 masyarakat Aceh sama sekali tidak mengenal kopi, maka sampai akhir abad ke-20 Aceh masih sebatas produsen utama Kopi maka di abad ke-21 budaya kopi telah menjadi bagian dari tradisi orang-orang Aceh.

Tahun 2004, tsunami menghantam Indonesia. Aceh merupakan daerah yang paling besar terkana dampak bencana, maka berbondong-bondonglah berbagai orang dari seluruh suku bangsa datang ke Aceh untuk memberikan bantuan. Saat itu dunia sudah mulai mengandrungi kopi maka para pendatang itu membawa kebudayaan baru yaitu menikmati kopi.

(baca : Kopi dalam lintasan sejarah dunia)

Sebelumnya, memang masyarakat Aceh sudah mengenal kopi. Sebagai daerah yang menjadi produsen kopi ada banyak kedai kopi ditemukan di Aceh, namun masih terbatas pada kaum lelaki dewasa (minimal mahasiswa) dan lebih banyak di daerah perkampungan. Selepas tahun 2004 budaya kopi dunia semakin “booming” di Aceh, baik siang maupun malam, berbagai lapisan masyarakat Aceh mengisi kedai-kedai kopi (di desa dan di kota) untuk bersantai minum kopi. Tidak terbatas dari yang tua hingga yang muda, lelaki maupun perempuan, miskin ataupun kaya, semua berbaur tanpa sekat-sekat pembatas.

Saat ini budaya minum kopi merupakan budaya post-modern di Aceh.

Jika ada kriteria jumlah warung kopi dalam ukuran wilayah tertentu maka dapat dipastikan Banda Aceh (Ibu Kota Provinsi Aceh) akan masuk rekor dunia (mengalahkan Paris sekalipun). Pun jika ada perhitungan jumlah orang ke warung kopi perhari pemenangnya pastilah orang Aceh (mengalahkan Italia pastinya). Selepas Tsunami, konfik Aceh berakhir dengan perundingan damai menyebabkan orang leluasa kembali setelah dicekam konflik selama bertahun-tahun.

(Baca : Setelah Revolusi Selesai)

Kopi adalah minuman ajaib, setidaknya bagi lidah Aceh (dan atau yang terpengaruh), karena rasanya dapat berubah berdasarkan tempat. Rumor beredar dikalangan para istri soal suami yang tak mau minum kopi di rumah, padahal bubuk kopinya sama dengan di warung adalah terbukti valid. Bagaikan status quo alasan kaum suami kompak, bahwa kopi yang ada di rumah tak seenak di warung kopi.

Dulu orang hanya tahu kopi hitam, kalaupun ada campuran biasanya hanya susu atau gula. Cara penyajiannya pun sederhana, masyarakat urban tidak hanya menganggap kopi sebagai kebutuhan semata, tapi juga disertai dengan gaya hidup. Bahkan, sekarang di Aceh sudah menjamur berbagai warung kopi premium.

Meskipun begitu kata orang, menikmati kopi Aceh bukan hanya menikmati rasanya, tetapi juga tradisi budaya. Di Aceh, kedai kopi merupakan tempat berkumpul, bertemu dan membicarakan segala topik. Bagi orang-orang Aceh, mengunjungi kedai kopi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari aktifitas sehari-hari. Di situ mereka bersosialisasi dan menjalin silaturahmi sambil menikmati kopi. Mereka datang untuk menikmati kopi, sebagai tempat untuk bertemu teman atau rekanan bisnis, ataupun hanya sekedar melepas lelah. “Semua masalah pasti bisa selesai di warung kopi”, begitu peribahasa yang popular di Aceh.

Mungkin awalnya kopi diperkenalkan dan ditanam oleh Belanda pada masa kolonial, namun dikemudian hari kopi berkembang dan menyatu dalam kebudayaan Aceh sehingga saat ini menjadi bahagian dari cara dan tata hidup masyarakat yang hidup di Aceh.

XXX

Artikel-artikel lain tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Kolom and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

44 Responses to ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH

  1. Pingback: TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA | Tengkuputeh

  2. Pingback: HIKAYAT SUKU MANTE | Tengkuputeh

  3. Pingback: MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA | Tengkuputeh

  4. Pingback: SENJA DI MALAKA | Tengkuputeh

  5. Pingback: KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA | Tengkuputeh

  6. Pingback: OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  7. Pingback: FILOSOFI GOB | Tengkuputeh

  8. Pingback: MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  9. Pingback: SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH | Tengkuputeh

  10. Pingback: MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA (1996) | Tengkuputeh

  11. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  12. Pingback: PEREMPUAN ACEH FULL POWER | Tengkuputeh

  13. Pingback: MENYELUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH | Tengkuputeh

  14. Pingback: TEUKU UMAR PAHLAWAN | Tengkuputeh

  15. Pingback: KEBENARAN YANG SAMAR | Tengkuputeh

  16. Pingback: TSUNAMI | Tengkuputeh

  17. Pingback: PERADABAN TANPA TULISAN | Tengkuputeh

  18. Pingback: ACEH DI MATA KOLONIALIS | Tengkuputeh

  19. Pingback: PERANG ACEH KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  20. Pingback: NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  21. Pingback: MELUKIS SEJARAH | Tengkuputeh

  22. Pingback: SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 | Tengkuputeh

  23. Pingback: ACEH SEPANJANG ABAD | Tengkuputeh

  24. Pingback: PARA PENYEBAR KEBOHONGAN | Tengkuputeh

  25. Pingback: THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH | Tengkuputeh

  26. Pingback: PERANG DI JALAN ALLAH | Tengkuputeh

  27. Pingback: ACEH DAERAH MODAL | Tengkuputeh

  28. Pingback: GAM CANTOI TIADA | Tengkuputeh

  29. Pingback: EMAS, KAFIR DAN MAUT | Tengkuputeh

  30. Pingback: MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN | Tengkuputeh

  31. Pingback: SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT | Tengkuputeh

  32. Pingback: 59 TAHUN ACEH MERDEKA Dl BAWAH PEMERINTAHAN RATU | Tengkuputeh

  33. Pingback: 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU | Tengkuputeh

  34. Pingback: KERAJAAN ACEH JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) | Tengkuputeh

  35. Pingback: PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  36. Pingback: PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH | Tengkuputeh

  37. Pingback: MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  38. Pingback: KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 | Tengkuputeh

  39. Pingback: ATJEH MENDAKWA | Tengkuputeh

  40. Pingback: MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH | Tengkuputeh

  41. Pingback: BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH | Tengkuputeh

  42. Pingback: EKSPLORASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH | Tengkuputeh

  43. Pingback: EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH | Tengkuputeh

  44. Pingback: AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s