CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA

CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA

Sejarah Nusantara memiliki berbagai keajaiban-keajaiban yang telah ada sejak zaman kuno, salah satunya adalah azimat berupa rantai babi (rante bui). Gejala-gejala gaib ini menurut para Antropolog erat kaitannya dengan teori pre-animisme bernama mana (tuah). Mana atau tuah adalah suatu pengertian yang hidup di alam pikiran berbagai bangsa di Melanesia sebagai kekuatan sakti yang bersifat supernatural.

“Dengan nama Allah Yang Rahman dan Rahim. Allah pelindungku, kepercayaanku, Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail ada di kanan dan di kiriku, di muka ku, di belakang ku, di atasku dan di bawah ku. Aku dikelilingi syahadat “La ilaha illa illahu” (=tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah). Aku pergi dengan memperoleh restu dan keselamatan. Allah akan menyampaikan hajatku, Allahku Gaib.”

(Sebuah doa yang didapat dalam buku mantera milik seorang pejuang Aceh bernama Teuku Cut Ali gugur sebagai syahid dengan gagah berani tanggal 25 Mei 1927 pada sebuah penyergapan oleh pasukan Marsose di Aceh Selatan).

Sebuah Kertas ‘mistik” atau azimat untuk mengetahui hari-hari baik dan buruk milik Orang Aceh yang ditemukan oleh Belanda.
Bawah : sebuah sektor “baik” (kiri) dan “tidak baik” (kanan).
Diambil dari arsip H.C. Zentgraff dalam buku ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman.

Meskipun pihak kolonial Belanda tidak mempercayai keajaiban dari benda-benda tersebut, mereka menuliskan fenomena tersebut dalam beberapa catatan. Catatan tersebut pada hari ini dapat kita baca dan pelajari sebagai pemahaman kita terhadap kondisi sosial dan budaya nenek moyang kita pada masa lampau.

PEMBAHASAN ILMU KEBAL (ELEUMEE KEBAY) DI ACEH OLEH SNOUCK HURGRONJE

Cristiaan Snouck Hurgronye dalam bukunya, Aceh di Mata Kolonialis jilid II menceritakan, eleumee keubay (ilmu kebal) sangat penting bagi semua orang Aceh (masa itu), terutama penguasa, panglima dan serdadu Aceh. Prinsip yang mendasari ilmu ini adalah:

  1. Kerangka filsafat pantheisis;
  2. Teori bahwa pengetahuan tentang esensi, atribut dan nama suatu zat/barang memberikan penguasaan penuh atas zat/barang itu sendiri.

Kombinasi kedua pandangan tersebut menimbulkan pengetahuan tentang sifat hakiki dari besi (ma’ripat beusoe) untuk membentuk faktor terpenting dalam memberikan kepada seseorang kekuatan untuk menolak logam tersebut dari berbagai senjata. Argumentasinya adalah, semua unsur besi ada pada manusia karena manusia adalah pengejawantahan Tuhan yang paling lengkap. Dan Tuhan adalah segalanya, seluruh ciptaan merupakan semacam evolusi Tuhan dari dirinya sendiri, dan evolusi ini berlangsung dalam tujuh garis atau tingkat (meureutabat tujoh), yang akhirnya kembali kepada yang Esa melalui manusia. Berarti semua unsur dalam dunia ini adalah bersatu dan dapat bertukar tempat. Eleumee beusoe (Ilmu besi) mempunyai kekuatan untuk memberi kepada bagian tubuh yang terkena serangan besi atau timah, suatu formulasi besi atau yang lebih kuat lagi sehingga orang menjadi keubay (kebal).

CATATAN TENTANG RANTAI BABI (RANTE BUI) OLEH SNOUCK HURGRONJE

Snouck Hurgronje menuliskan, “Sejenis azimat lainnya penolak luka adalah rante bui (rantai babi). Babi hutan tertentu dinamakan bui tunggal (babi tunggal) karena suka menyendiri, kabarnya mempunyai kait kawat baja yang menusuk hidungnya yang menyebabkan ia kebal. Katanya, kait ini berasal dari sejenis cacing tanah yang suatu ketika terdapat pada makanan si babi, tetapi tidak ikut termakan melainkan menjadi ajimat. Bila bui tunggal akan makan ia melepaskan kaitnya, dan bernahagialah orang yang menemukan saat serupa itu untuk merebut rante tersebut.”

Snouck Hurgronye menambahkan. “Tetapi, menurut para pemeluk (agama Islam) yang taat, kemanjuran peugawe (barang yang menyebabkan kebal) pada umumnya mensyaratkan kehidupan beragama yang baik bagi si pemakai, kalau tidak ajimat itu akan menimbulkan kesusahan, bukan perlindungan, bagi dirinya. Peluru timah yang berubah menjadi besi disebut peungeulieh (pengalih). Yang menemukannya beruntung memakainya waktu terlibat pertempuran/pengalihan, tetapi tidak pada kesempatan lain karena hanya akan membawa malapetaka.”

ACEH DI MATA KOLONIALIS (JILID I dan JILID II). Penerjemah : Ng. Singarimbun, S. Maimoen, Kustiyani Mochtar; Disempurnakan oleh Yayasan Soko Guru; Cetakan Pertama; 1985; Yayasan Soko Guru; Jakarta.

Catatan ini dituliskan oleh Snouck Hurgronje dalam The Achehnese, Adviser for Native Affairs, Netherlands Indie Volume II pada tahun 1895-1896 dan diterbitkan pada tahun 1906 berdasarkan wawancara dan pengumpulan data dari sumber primer langsung. Ada waktu bertahun-tahun kemudian bagi kolonial Belanda untuk melihat langsung khasiat dan bentuk dari rantai babi (rante buy).

BAGAIMANA CARA MENGAMBIL RANTAI BABI (RANTE BUI)

Ketika mengetahui hakikat besi (ma’ripat busoe), maka babi pun mampu menjadi kebal, bagaimana cara mengambil rantai babi (rante bui) dari babi tunggal yang kebal? Menurut tradisi lisan, cara merebut rantai babi adalah dengan menjejerkan durian secara vertikal, sehingga babi tunggak tersebut meletakkan ajimatnya ketika membelah dan memakan durian pertama, kemudian melanjutkan makan durian di depannya. Disaat itulah rantai babi dapat direbut dengan cara dicuri karena babi tersebut meletakkannya ketika membuka dan memakan durian pertama. Rantai babi secara umum tidak dapat direbut pada saat dikenakan oleh babi tunggal, ia kebal terhadap besi, sehingga sulit dilukai apalagi untuk dibunuh.

RANTAI BABI (RANTE BUI) DAN PEMILIKNYA DALAM PEPERANGAN RAKYAT ACEH MELAWAN BELANDA

H.C. Zentgraff dalam “ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman” menceritakan ada seorang keramat memiliki rantai babi, bernama Teungku Cot Plieng yang sangat dikagumi di antara ulama-ulama yang ada di Aceh saat itu dikarenakan ia memimpin perjuangan Aceh terhadap kompeni sekembalinya dari berhaji di Mekkah. Para komandan patrol marsose Belanda tidak pernah berhasil membuntutinya dan tidak ada seorang Aceh pun yang berani menunjukkan tempat persembunyiannya. Teungku Cot Plieng diyakini Belanda merancang berbagai pertempuran di Pidie walaupun ia tidak turut dalam pertempuran, dan jika ia turut dalam pertempuran maka keadaan Aceh yang diupayakan dengan keras agar tenang menjadi kacau dan porak-poranda bagi Belanda.

Bertahun-tahun Belanda mencoba melacak Teungku Cot Plieng dan barulah pada bulan Juni 1904 kapten Stoop berhasil menemukan tempat persembunyiannya di antara celah-celah Glee Keulabee Asap, Belanda pun menyergap akan tetapi Teungku Cot Plieng dapat meloloskan diri tapi al-Qura’an dan jimatnya tertinggal. Kehilangan jimat bagi Tengku Cot Plieng walaupun ia masih memiliki rante bui laksana terhapusnya sebuah tulisan berharga didinding, begitu Zentgraff mengambarkan.

Illustrasi Orang Aceh sebagai Cover buku Aceh ditulis oleh H.C. Zentgraaff diterbitkan pertama kali tahun 1938 dengan judul “ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman”

Pada tanggal 2 Juli 1905, pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Terwogt berhasil menembak Teungku Cot Plieng di Hulu Krueng Tiroe (Sungai Tiro), sehingga beliau Syahid.

Semua telah ditakdirkan, pada suatu hari sebuah patroli marsose dibawah pimpinan Letnan Terwogt tersesat di hutan yang secara kebetulan tempat persembuyian Tengku Cot Plieng dan mereka berhasil menewaskan beliau.  Jenazahnya diangkut ke bivak untuk dikenali, walaupun telah tewas beberapa hari tidak memperlihatkan tanda membusuk. Untuk identifikasi Panglima Polem diundang, ia pun memberikan penghormatan dengan membungkukkan badannya kepada jenazah yang tidak rusak itu ditengah-tengah mayat sekelompok orang Aceh yang telah membisu. “Itu adalah rahasia Tuhan.” Kata Penglima Polem yang sudah menua kepada Zentgraaf.

Berikut penampakan rantai babi (rante bui) yang asli yang ditemukan oleh Belanda dan saat ini disimpan pada Kolonial Museum di Amsterdam.

Azimat kebal berupa rantai babi yang asli atau rante bui (Bahasa Aceh) yang ditemukan Belanda pada jenazah Tengku Cot Plieng yang keramat. Benda ini sekarang tersimpan di Kolonial Museum Amsterdam, Belanda.

Rante bui diambil dari jenazah Tengku Cot Plieng dan diserahkan kepada Van Daalen, tetapi ia tidak mempercayai benda aneh tersebut dan menyerahkan kepada mata-mata Belanda yang bernama Waki Wahab, yang oleh Belanda sendiri dijuluki “Kwab” (si gelambir) karena lehernya dipenuhi gelambir akibat kegemukan. Waki Wahab alias “Kwab” adalah seorang yang banyak dosa, ia merasa tidak pantas memakai jimat seorang ulama keramat. Karena itu dia menyerahkan kepada Veltman setelah Belanda berhasil mengamankan Pidie, sebagai tanda mata. Ia berpikir bahwa dengan memberikannya kepada Veltman yang pada waktu itu sedang sakit, maka ia akan sembut dari penyakitnya.

Tapi Veltman tidak memakainya, dia lebih percaya senapan dan pedang yang baik mutunya. Meskipun begitu dia adalah satu-satunya orang Eropa yang pernah memiliki rantai babi, kemudian ia menyerahkan rantai babi tersebut pada Kolonial Museum sehingga kita pada hari ini dapat menyaksikan bagaimana bentuk dan rupa rante bui (rantai babi) tersebut.

Meskipun secara umum pihak kolonial Belanda menertawakan benda-benda aneh yang merupakan ajimat perang orang Aceh pada masa lampau, seorang komandan Belanda yang terkenal bernama Schmidt tidak menertawakannya, ia berkata: “Saya telah melihatnya dengan ini!” (Maksudnya seraya menunjuk matanya sendiri).

Daftar Pustaka

  1. Koentjaraningrat; Metode Antropologi; Penerbit Universitas Indonesia; Jakarta; 1958.
  2. C. Zentgraff; ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman; Koninlijke Drukkerij De Unie; Batavia; 1938.
  3. C. Snouck Hurgronje; THE ACHEHNESE Adviser for Native Affairs, Netherlands Indie Volume II; University Leyden; 1906.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  2. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  3. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  4. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  5. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  6. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  7. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  8. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  9. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  10. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  11. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  12. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  13. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  14. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  15. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  16. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  17. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  18. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  19. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  20. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  21. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  22. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  23. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  24. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  27. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  28. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  29. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  30. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  31. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  32. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  33. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  34. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  35. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  36. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  37. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  38. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  39. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  40. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  41. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  42. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  43. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  44. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  45. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  46. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  47. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  48. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  49. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  50. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  51. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  52. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  53. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  54. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  55. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  56. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  57. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  58. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  59. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Literature, Reportase and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.