SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

SISTEM PERPAJAKAN DAN KEUANGAN KERAJAAN ACEH DARUSSALAM

Pendapatan Kerajaan Aceh Darussalam Pada Masa Puncak Kejayaan

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaan jika diukur dari kemakmuran. Menjadi sebuah kekuatan ekonomi, politik dan pertahanan di kawasan Asia Tenggara. Kemajuan ini tak terlepas dari sumber daya keuangan yang melimpah, dan salah satunya adalah pajak. Pajak diperoleh dari dalam kerajaan antara lain hasil pertanian, peternakan, hasil hutan dan bentuk lainnya sesuai dengan pekerjaan penduduk. Bagi daerah taklukan kerajaan Aceh, pajak diserahkan dalam bentuk upeti yang terdiri dari hasil-hasil pertanian, peternakan, hasil hutan, emas, perak, intan, tembaga dan lain-lain sesuai dengan kekayaan negeri-negeri tersebut.

MATA UANG EMAS KERAJAAN ACEH DARUSSALAM

Pada masa puncak kejayaan kerajaan Aceh menguasai perdagangan di Selat Malaka, salah satu pendapatan yang mendukung kas kerajaan adalah pajak perdagangan ketika kapal-kapal dagang melintasi perairan Aceh dan biaya “charge” berupa pajak yang harus disetorkan kepada Sultan Aceh untuk mendapatkan izin mendarat di Bandar Aceh Darussalam. Untuk pajak perairan dilakukan oleh Orang Kaya Maharaja Lela (Panglima Angkatan Perang), sedangkan pajak di pelabuhan dilakukan oleh Syahbandar sebagai kepala Balai Furdah (Kepala Pelabuhan).

Sumber Keuangan Kerajaan Aceh Darussalam

Seorang petualang kebangsaaan Perancis, Augustin de Beualieu yang berkunjung pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda membagi kepada dua jenis pendapatan kerajaan Aceh yaitu:

  1. Pajak darat yang dibebankan kepada setiap orang yang melakukan usaha di daerah terutama pertanian, peternakan dan penjualan barang dagangan;
  2. Pajak laut antara lain pajak merapat kapal, izin masuk, bongkar muat, cukai melintasi perairan dan perdagangan laut;

Sumber keuangan kerajaan Aceh Darussalam selain pajak adalah surplus neraca perdagangan luar negeri terutama lada dan emas. Hasilnya melimpah karena sultan menguasai tidak hanya komoditi, juga jalur perdagangan. Jika melewati tanpa izin dan terbukti maka kapal-kapal dagang tersebut akan disita dan kekayaannya menjadi milik kerajaan Aceh Darussalam dan akan disimpan pada Baitul Mal (Perbendaharaan Kerajaan).

Aceh merupakan produsen lada terbesar dunia pada abad ke-19

Hasil hutan dan barang tambang yang dikuasai Aceh berupa kayu cendana, kapang, damar, sari wangi-wangian, kemenyan putih, kemenyan hitam, kulit kayu manis, campli buta (cabai hutan), gading, kapur barus dan rotan. Sedangkan hasil-hasil tambang berupa emas, perak, tembaga, minyak tanah dan lain-lain. Berbagai komoditi tersebut umumnya diekspor sehingga menghasilkan devisa yang cukup besar bagi kerajaan Aceh.

Kerajaan Aceh juga mengimpor beberapa barang dagangan untuk keperluan dalam negeri atau diolah untuk diekspor kambali. Barang-barang impor tersebut antara lain: beras, gula pasir, anggur, kurma, logam, timah putih, timah hitam, tekstil, kapas, guci, sabung, kipas, kertas dan lain-lain.

Sumber dana lain juga diperoleh dari harta rampasan perang dan upeti dari negeri-negeri taklukan yang berkewajiban menyediakan upeti berupa hasil pertanian, hasil laut, hasil tambang maupun pajak tanah (kharaj).

Pajak laut sendiri salah satunya adalah biaya cap, dari setiap kapal yang masuk dan mendarat di pelabuhan Aceh sebesar 50-60 real (Spanyol) yang sebagian disetor ketika masuk dan sebagian lagi ketika meninggalkan pelabuhan.

Sistem Pemungutan Pajak Kerajaan Aceh Darussalam

Sultan Iskandar Muda menunjuk Orang Kaya Sri Maharaja Lela sebagai pejabat kepala Baitul Mal (kas kerajaan). Untuk wilayah pantai Timur kerajaan Aceh dipercayakan kepada Maharaja Mangkubumi sedang wilayah pantai Barat dipercayakan kepada Maharaja Mangkubesi.

Pungutan pajak di kota pelabuhan Bandar Aceh dilakukan oleh Syahbandar sebagai kepala Balai Furdah (kepala pelabuhan) dibantu sederetan karkun (juru tulis) dan dibantu penghulu kawal (polisi kota). Seluruh pegawai Balai Furdah memungut cukai di pelabuhan Aceh. Dalam Bustanussalatin bea cap disebut adat cap atau adat lapik cap umumnya dibayar dengan bahan mentah atau uang. Kepada pedagang non muslim dikenakan pajak tambahan yang dalam disebut jizyah.

Manuskrip memuat susunan Pemerintahan Kerajaan Aceh pada Masa Sultan Iskandar Muda. Manuskrip ini milik University Kebangsaan Malaysia yang belum dikatalogkan.

Selain pelabuhan tempat pemungutan pajak lainnya adalah pasar, yang ketika itu terdapat dua lapangan besar yang dijadikan pasar di tengah kota dan yang lain di ujung atas hulu sungai. Menurut kesaksian Peter Mundy seorang petualang Inggris yang berkunjung pada masa sultan Iskandar Muda menyebutkan warung penjual penyu rebus ketika itu dipungut pajak sekeping emas sebulan oleh Orang Kaya Sri Maharaja Lela.

Untuk wilayah pedalaman umumnya dikutip pajak hasil bumi dan tambang sebesar 10-20%, sedangkan untuk negeri taklukan pajak atau upeti diserahkan kepada sultan sekitar 15-20% setiap tahun.

Pajak Sumber Pembiayaan Pembangunan Kerajaan Aceh Darussalam

Keuntungan dibidang perdagangan, terutama penjualan lada dan pungutan pajak digunakan untuk membiayai pembangunan fisik dan non fisik, untuk kemakmuran rakyat. Sultan Iskandar Muda membangun dan merehabilitasi pelabuhan-pelabuhan dagang di berbagai daerah. Bandar Aceh Darussalam, sebagai pelabuhan utama di ibu kota, dibuka luas menjadi pelabuhan internasional dengan jaminan keamanan dari gangguan armada Portugis. Dibangun pula gudang-gudang dan loji-loji bangsa asing yang telah mendapatkan izin dari sultan.

Sebagai kerajaan maritim, pertahanan laut menjadi prioritas. Pada masa Sultan Iskandar Muda kerajaan Aceh memiliki 600 kapal yang terdiri atas 500 kapal layar dan 100 galley yang dapat mengangkut 600-800 prajurit.

Penyerangan Malaka (Portugis) oleh Kesultanan Aceh Darussalam di tahun 1629

Beualieu mencatat pasukan Sultan Aceh ketika itu mencapai 40-50 ribu orang, 100-200 perahu dengan meriam, dan sekitar 1000 gajah siap tempur. Persenjataan meliputi 2000 pucuk meriam, terdiri dari 800 meriam besar dan 1200 meriam biasa. Setiap saat kerajaan dapat mengerahkan bala tentara yang direkrut dari Pidie atau tempat lain. Sultan sendiri memiliki pasukan kavaleri pengawal istana sebanyak 200 orang untuk mengadakan patrol rutin di sekeliling istana dan ibu kota.

Di bidang pertanian Sultan Iskandar Muda menggunakan anggaran untuk irigasi dan mengambangkan persawahan. Sultan menunjuk pejabat khusus dengan gelar Keujruen Blang, Bentara Blang, Raja Blang atau Petua Blang menurut wilayah masing-masing. Tak heran panen melimpah dan digudangkan untuk di simpan. Beualieu menceritakan, “jika panen melimpah dan diketahui ada kekurangan di wilayah lain, maka tempat itu akan dikirimkan beras untuk dijual.” Pada masa itu kerajaan Perak mengalami paceklik dan Sultan mengirimkan 40 kapal penuh muatan.

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Kebijakan keuangan, politik dan ekonomi Sultan Iskandar Muda inilah yang mengantarkan Aceh menuju “zaman keemasan” yang sampai sekarang melekat dalam kenangan Kerajaan Aceh Darussalam.

DAFTAR PUSTAKA

  1. PAJAK dalam Perspektif Islam; Antara Teks Normatif dan Realitas Sosial; Diterbitkan atas Kerjasama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Aceh dan Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry; Banda Aceh; 2010;
  2. Denys Lombard; Kerajaan Aceh Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636); Balai Pustaka; Jakarta; 1991;
  3. F.H. Van Langen; Susunan Pemerintah Aceh Semasa Kesultanan; alih bahasa Aboe Bakar, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh; Banda Aceh; 2002;
  4. Said Mohammad; Aceh Sepanjang Abad; Percetakan Waspada; Medan; 1981;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  2. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  3. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  4. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  5. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  6. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  7. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  8. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  9. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  10. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  11. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  12. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  13. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  14. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  15. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  16. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  17. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  18. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  19. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  20. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  21. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  22. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  23. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  24. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  25. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  26. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  27. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  28. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  29. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  30. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  31. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  32. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  33. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  34. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  35. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  36. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  37. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  38. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  39. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  40. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  41. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  42. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  43. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  44. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  45. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  46. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  47. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  48. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  49. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  50. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  51. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  52. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  53. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  54. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  55. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  56. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  57. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  58. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  59. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH

  1. Ping balik: SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE | Tengkuputeh

  2. Ping balik: SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO) | Tengkuputeh

  3. Ping balik: KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI | Tengkuputeh

  4. Ping balik: HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH | Tengkuputeh

  5. Ping balik: HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS PERTAMA DI ACEH | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.