Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Keterangan gambar :
Gambar ini dibuat oleh pelukis Sekargunung (Heru Wiryono) pada tanggal 26 Maret 1964 menurut petunjuk-petunjuk seorang cucu almarhum berdasarkan rupa yang disifatkan oleh orang-orang tua yang melihat sendiri almarhum Tuanku Hasyim Bangta Muda, diantaranya : Pocut Meurah yaitu janda dari Sultan Alaidin Mahmudsyah II yang meninggal dunia pada hari Jum’at tanggal 22 April 1955 (29 Sya’ban 1374 H); Tengku Ratna Keumala yaitu anak kandung dari almarhum Tuanku Hasyim Bangta Muda yang meninggal dunia pada hari Senin tanggal 22 November 1954. Tengku Imeuem Gading yaitu seorang prajurit setia yang selalu bersama Tuanku Hasyim Bangta Muda untuk menjaga makan-minum almarhum yang meninggal dunia pada hari Kamis tanggal 20 Februari 1964 dikampung Sei. Serai, Pangkalan Siata (Sumatera Timur).
Gambar ini sesudah siap dilukis pernah dilihat oleh beberapa orang tua yang mengenal rupa Tuanku Hasyim Bangta Muda karena pernah melihat almarhum dengan mata kepalanya sendiri, diantaranya : Tengku Muhamad Husin Reubee, Teuku Raden Tanoh Abee, dan lain-lain, dan mereka menyatakan bahwa gambar itu adalah gambar almarhum Tuanku Hasyim Bangta Muda.

TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH

Lembaga Wali Nanggroe

Lahirnya UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh memberi harapan baru Aceh, khususnya terkait dengan keberadaan lembaga adat. Artikel ini ingin menjawab keberadaan salah satu lembaga yang mengkoordinasi lembaga adat di Aceh. Keberadaan lembaga Wali Nanggroe sebagai lembaga baru diharapkan dapat mengemban lembaga kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat dan pelestarian kehidupan adat dan budaya.

Pasal 1 angka (17) UU 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh menyebutkan bahwa Lembaga Wali Nanggroe adalah lembaga kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat dan pelestarian kehidupan adat dan budaya.

Dalam sejarah Aceh sendiri sudah lama mengenal adanya Wali Nanggroe, ketika ekspedisi Swieten akhirnya berhasil menduduki istana yang ditinggalkan Sultan Alidin Mahmudsyah yang mengungsi ke Lueng Bata. Sultan akhirnya mangkat karena penyakit kolera ketika perang sedang memuncak. Saat itulah wali ditunjuk. Panglima Sagi dan sejumlah ulama bersepakat untuk mendudukan Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai lambang persatuan dan pimpinan yang berwibawa untuk mengendalikan pemerintahan dan rakyat. Tuanku Hasyim bertindak sebagai wali dengan jabatan mangkubumi yang berwenang bertindak atas nama sultan.

Sejumlah catatan menunjukkan posisi wali sebagai pemersatu, terutama ketika masa perang, sangat terasa. Dalam kondisi pengendali kerajaan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, posisi wali yang mampu mengontrol kondisi Aceh waktu itu sangat bermakna dan berposisi sangat penting. Wali Nanggroe dalam sejarah Aceh masa lalu hanya menjabat sampai dengan Sultan mencapai usia dewasa dan sampai dipandang sudah mampu menjalankan pemerintahan.

Tentunya berbeda dengan keadaan sekarang. Saat ini Keberadaan lembaga Wali Nanggroe diwujudkan karena perintah UU adalah merupakan inovasi sejarah. Lembaga Wali Nanggroe dimaksudkan sebagai lembaga adat dan simbol pemersatu rakyat Aceh. Perintah UU sendiri juga berkaitan dengan perintah penyusunan Qanun Wali Nanggroe. Proses tersebut menjadi tugas berat pihak eksekutif dan legislatif untuk mewujudkan lembaga wali nanggroe yang bisa diterima oleh seluruh rakyat Aceh baik yang berada di pantai barat selatan, Leuser antara, dan pesisir timur dan utara Aceh.

Maka untuk itu marilah kita bersama-sama menyimak kisah hidup Tuanku Hasyim sebagai Wali Nanggroe Aceh yang paling kompeten, paling menjadi contoh serta teladan hidup bagi kita semua, seorang pahlawan mulia.

Sekuntum Bunga Puisi Kepada Tuanku Hasyim Bangta Muda Karya Vichitra ditahun 1949

Keturunan dan Nasab Tuanku Hasyim

Tuanku Hasyim Bangta Muda lahir di Kampung Lambada dalam Sagi Mukim XXVI Aceh Besar, sekitar 1834 M Ayahnya bemama Laksamana Tuanku Abdul Kadir yang semasa hidupnya memangku jabatan perwalian (Vinceroy) di Aceh Timur. Tuanku Hasyim Bangta Muda bersaudara tiga orang, diantaranya ialah Tuanku Raja Itam dan Tuanku Mahmud Bangta Keucik. Ia adalah putera yang tertua dari tiga bersaudara ini.

Adapun asal-usul serta silsilah keturunannya, Tuanku Hasyim Banta Muda adalah putera laksamana Tuanku Abdul Kadir, ibnu Raja Muda Tuanku Cut Zainal Abidin, ibnu Sultan Alaidin Mahmudsyah, ibnu Sultan Abidin Johan Syah, ibnu Sultan Alaidin Ahmad Syah, ibnu Nuruddin Abdurahim Maharaja Lela, ibnu Fakih Zainal Abidin Syah, Ibnu Malik Daim Mansyursyah, ibnu Abdullah Al Malikul Amin, ibnu Malik Syah Daim Syah, ibnu Abdul Jalil Daim Husin Syah, ibnu Malik Mahmud Hakim Syah, ibnu Musa Daim Syah, ibnu Hasyim Nuruddin Syah, ibnu Mansyur Syah, ibnu Sulaiman Syah Daim Ali Iskandar, ibnu Malik Ibrahim Syah Daim, yaitu saudara sewali dari tokoh Alaidin yang bernama Machdum Abi Abdillah As Syieh Abdurauf Al Mulaqqab Tuan di Kandang Syech Bandar Darussalam.

Pada tahun 495 Hijrah rombongan yang terdiri dari 500 orang berhasil mengIslamkan penduduk Aceh Raya Kemudian sebahagian rombongan ini di bawah pimpinan Mansyur meneruskan perjalanannya dalam dakwah Islam ke Makasar. Sedang sebahagian termasuk keturunan Machdum Abdi Abdillah Johan Syah – Ali Mughayat Syah – Iskandar Muda terus bermukim dan menetap di Aceh untuk menyempurnakan pertumbuhan dan melaksanakan pembangunan Aceh dalam segala bidang.

Setelah beberapa tahun kemudian, Mansyur Syah keturunan Ibrahim Syah Daim kembali dari Makasar ke Aceh, dan setelah beberapa kali pergantian Sultan dari garis keturunan satu dan lain maka cicit Mansyur Syah diangkat menjadi Sultan Aceh yang bernama Alaidin Ahmad Syah. Kemudian yang terakhir Sultan Alaidin Mahmud Daud Syah. Pada masa inilah Tuanku Hasyim mulai memegang peranan dan turun ke arena pertempuran menghadapi serangan Belanda.

Pendidikan Tuanku Hasyim

Di usia dua belas tahun Tuanku Hasyim Bangta Muda sudah sering masuk ke Keraton dan tinggal bersama keluarga keraton bersama Sultan. Ia adalah anak kesayangan Sultan Alaidin Ibrahim Mansyur Syah, sehingga kemana Sultan pergi ia sering dibawa serta. Karena itu banyaklah pengalaman yang didapatnya sebagai ilmu terutama dari musyawarah yang diikutinya baik dalam lapangan politik maupun pengetahuan dalam memimpin pemerintah kenegaraan dan sebagainya. Ketika menjelang dewasa sudah nampak keistimewaan yang dimilikinya, dan ia telah menjadi kepercayaan Sultan.

Mengenai pendidikannya tidak jelas diketahui, tetapi menurut keterangan dan sepak terjangnya, dari orang yang dekat, dan tulisan orang barat ia memiliki ilmu kesaktian. Begitu juga dalam kemiliteran ia memiliki ilmu strategi peperangan yang hampir setara dengan lepasan akademi militer Belanda.

Di samping itu ia sangat tekun memperdalam ilmu agama, sehingga ia terkenal sebagai seorang yang saleh dan taat pada agama. Oleh Karena itu segala tindakannya selalu berdasarkan ajaran agama. Untuk ini ia selalu mendekatkan diri dengan para ulama. Dalam berbicara ia banyak menguasai bahasa asing dan bahasa yang berlaku di wilayah Aceh.

Pribadinya sangat mengesankan, bijaksana, tajam firasat dan lebih menarik ia tidak punya pamrih untuk menjadi pemimpin. Demikianlah karena sifatnya yang terpuji ini ia diangkat menjadi Panglima Tertinggi Angkatan Perang Aceh. Kemudian ia menyusun kekuatan Aceh dan selanjutnya ia turun ke lapangan langsung memimpin pasukan Aceh untuk menghadapi tentera Belanda. Karena taktik dan siasatnya yang tepat, tentara Belanda merasa berat untuk dapat menduduki Aceh.

Tuanku Hasyim menjadi Wali (Vinceroy) Sultan Aceh di Sumatera Timur

Setelah ayahnya, Laksamana Tuanku Abdul Kadir, meninggal dunia, Tuanku Hasyim Bangta Muda ditunjuk oleh Sultan Aceh untuk menjadi panglima di Aceh Timur dengan daerah yang meliputi Simpang Ulim dan Langkat. Sebagaimana diketahui Laksamana Tuanku Abdul Kadir semasa hidupnya diserahi kepercayaan perwalian Aceh Timur dan Langkat.

Pada tahun 1858 karena kebijaksanaan dan kecakapannya, Tuanku Hasyim Bangta Muda diangkat menjadi Wali Sultan Aceh di daerah Sumatera Timur dan wilayahnya meliputi Deli dan Serdang. Dengan memasukkan Sumatera Timur, wilayahnya sekarang terbentang dari Aceh Timur yaitu  dari Simpang Ulim sampai ke Serdang, untuk mempertahankan wilayah ini, ia mengatur basis pertahanan pada tempat yang strategis dan kemudian menyusun kekuatan sebagai pertahanan pada garis terdepan, untuk basis pertahanan ini ia memilih pulau Kampai. Pulau Kampai dibangun sedemikian rupa sehingga merupakan benteng yang terkuat . Hal ini karena pulau Kampai terletak pada jalur pelayaran di Selat Malaka. Dengan memperkuat pulau ini, wilayah Aceh pada bagian Timur akan dapat dibendung dari kemungkinan serangan laut musuh.

Untuk membangun kemakmuran rakyat, ia mememerintahkan kepada rakyat untuk menanam lada. Dengan hasil pertanian lada kehidupan rakyat lebih meningkat dan sekaligus menambah penghasilan negara, Kota-kota pantai sepanjang wilayahnya menjadi lebih ramai akan perdagangan lada, dalam beberapa tahun saja jalur perdagangan makin menjadi luas dan pedagang Aceh telah menempatkan agen-agennya di Penang.

Dalam taktik dan siasat perang Tuanku Hasyim membentuk sebuah badan yang disebut panitia delapan dengan ketuanya ditunjuk Tengku Paya, orang penting yang dekat dengan Tuanku Hasyim, ia sengaja didatangkan dari Aceh Besar ke Aceh Timur dalam merintis penanaman lada. Panitia delapan mempunyai agen tetap yang berkedudukan di Penang. Tugasnya yang paling berat di samping perdagangan juga menyiasati gerak-gerik Belanda di Selat Malaka.

Pada zaman pemerintahan Sultan Alaidin Mansyur Syah, Belanda telah memulai usaha untuk mencaplok wilayah Aceh pada bagian Timur yang kemudian mereka berhasil menduduki Siak. Kemudian Belanda mengirimkan utusannya untuk menemui Sultan Aceh dengan maksud akan mengikat persahabatan, tetapi dibalik itu Belanda secara diam-diam telah memulai aksinya dengan membujuk Sultan Siak. Hasilnya sangat merugikan Aceh, karena wilayah Sumatera Timur yang berada dalam kekuasaan Sultan Siak termasuk Tanah Putih sampai Tamiang mengakui kedaulatan Belanda.

Konflik Aceh dan Belanda di Sumatera Timur

The ancient map of the Aceh Sultanate

Demikianlah dalam tahun 1853 Tuanku Hasyim Bangta Muda telah diserahi tugas yang berat. Untuk ini segala persoalan yang terjadi di wilayah Aceh Timur akan menjadi tanggung-jawabnya. Setelah Belanda berkuasa di Sumatera Timur, banyak daerah yang mulai ragu akan kekuatan Aceh dan berusaha melepaskan diri. Menghadapi hal ini Tuanku Hasyim berusaha menanamkan kepercayaan pada rakyat, bahwa wilayah tersebut merupakan daerah kekuasaan Aceh yang penuh. Dalam kegiatan ini raja-raja kecil yang telah bimbang kepercayaannya dapat diinsyafkan kembali, maka dapat ditarik kembali ke pihak Aceh.

Melihat gerak-gerik ini Tuanku Hasyim meningkatkan kegiatannya. Benteng-benteng pertahanan diperkuat, alat perlengkapan perang ditambah. Untuk memperlengkapi alat persenjataan beliau berusaha memasukkan senjata dari Penang sebanyak 15,000 (lima belas ribu) pucuk senapan dan beribu peti peluru yang dibeli dengan cara barter.

Dalam strategi pertahanan benteng-benteng terus dibangun, sebagai rangka dalam menghadapi kemungkinan serangan Belanda. Siasat Tuanku Hasyim untuk mematahkan semangat para tokoh yang cenderung memihak pada Belanda, ialah memulai serangan terhadap Belanda.

Adapun orang yang memihak pada Belanda seperti Pangeran Musa Langkat dapat disadarkan dengan jalan mengawini anaknya yang bernama Tengku Ubang. Dengan demikian Pangeran Musa Langkat menjadi mertua Tuanku Hasyim. Biarpun begitu Tuanku Hasyim akan selalu berhati-hati terhadap Pangeran Musa Langkat.

Begitu juga Sultan Muhammad Syekh atau Mat Syekh dapat diinsafkan dan kemudian dapat dijadikan kawan yang baik untuk menghadapi Belanda yang akan menduduki daerah Langkat. Di daerah Tamiang Sultan Muda yang berpihak kepada Pangeran Musa digantikan dengan Raja Bendahara menjadi Raja Seruay. Dengan demikian dapatlah dibasmi musuh dalam selimut oleh Tuanku Hasyim.

Setelah semua dapat dipulihkan, Tuanku Hasyim mengarahkan pandangannya untuk memperkuat pulau Kampai sebagai pertahanan terdepan. Pulau Kampai adalah merupakan pelabuhan dan pertahanan yang strategis di daerah Langkat, untuk menghadapi serangan Belanda ia memperkuat kubu pertahanan dengan dilengkapi peralatan yang cukup. Hal ini dapat berjalan lancar, karena penguasa pulau ini juga adalah orang Aceh yang diangkat Cut Bugam oleh Raja Tamiang, Raja ini bernama Nyak Asan, ia diangkat sebagai pengganti ayahnya. Pada mulanya benteng ini dibangun oleh laksamana Tuanku Abdul Kadir, oleh sebab itu Tuanku Hasyim hanya memperhaharui dan menambah perlengkapan yang diperlukan.

Kemudian beliau membangun lagi benteng pertahanan di Tanjung Pura, Gebang, Besitang, Pangkalan Siata, Bentong Bugak, Pasir Putih, Tualang dan Manyak Payed. Untuk mengepalai benteng-benteng ini diangkat seorang pemimpin yang dikoordinir langsung oleh Tuanku Hasyim. Ia sendiri bermarkas di benteng Pulau Kampai, dengan dibantu oleh Panglima Raja Itam, Adik kandung Tuanku Hasyim, dan Panglima Teuku Cut Latif. Dengan demikian pertahanan-pertahanan Aceh di bagian Timur telah teratur rapi.

Dalam tahun 1862 Tuanku Hasyim secara diam-diam bergerak menuju Batubara untuk menawan Datuk Bungak yang memihak kepada Belanda. Kemudian ia meneruskan perjalanannya ke Bengkalis untuk menemui Asisten Residen Belanda, Arnold. Tujuannya ialah untuk membicarakan beberapa daerah di Sumatera Timur yang melepaskan diri dari Aceh dan mereka yang telah memihak kepada Belanda. Dalam pembicaraan ini Tuanku Hasyim merasa dirugikan, karena rupanya pulau Kampai telah disediakan untuk basis penyerangan Belanda terhadap wilayah Aceh.

Tiga bulan kemudian Belanda mengirimkan Raja Burhanuddin untuk menyelidiki situasi di Sumatera Timur, dan dalam waktu yang bersamaan datang pula Wetscher dengan ka pal perang Belanda dengan tujuan untuk menyerang langkat, tetapi penyerangan dapat dipatahkan oleh Tuanku Hasyim. Kegagalan Belanda pada penyerangan ini mengurangi kepercayaan Belanda pada Pangeran Langkat, karena Pangeran Langkat tidak menepati janji yang dibuatnya dengan pihak Belanda. Hal demikian disebabkan tindakan Tuanku Hasyim yang lebih cepat dan lebih cekatan. Karena itu untuk kedua kalinya Netscher merasa perlu mengunjungi Pangeran Langkat, tetapi tiada membawa hasil yang diharapkan. Kunjungan ini tidak mendapat tanda tangan persetujuan kedua belah pihak. Sesungguhnya Sultan Langkat akan mendirikan Kerajaan Langkat, tetapi terbentur, karena Langkat masih bernaung di bawah Aceh. Oleh sebab itulah maka Pangeran Langkat mau bekerja sama dengan Belanda untuk melepaskan diri. Akan tetapi yang menjadi persoalan ialah tentang wilayah Tamiang. Kejuruan Tamiang sendiri menentang masuknya kekuasaan Belanda. Karena pengaruh Tuanku Hasyim. Sebab itulah maka kekuasaan Pangeran Langkat menjadi lemah. Karena itu Belanda membentuk Kesultanan Langkat dengan tidak menggabungkan Tamiang dan Aru, sedang teluk Aru merupakan pusat kekuatan, terletak di pulau Kampai yang telah diperkuat oleh Tuanku Hasyim.

Pada tahun 1863 Residen Belanda mencoba sekali lagi menyelesaikan masalah Langkat. Ia datang dengan perlengkapan perang dan dua kapal, dengan tujuan memukul kekuatan Tuanku Hasyim. Tetapi karena kuatnya pertahanan Aceh, Belanda tak dapat mendekati pulau Kampai. Bahkan mereka disambut dengan tembakan meriam, sehingga pasukan Belanda terpaksa mundur kembali.

Rupanya Netscher tidak berputus asa merebut pulau Kampai. Pada penyerangan ini ia mcngikutsertakan Raja Burhanuddin sebagai penyelidik pertahanan Aceh. Tetapi melihat kekuatan Tuanku Hasyim yang menantinya, mereka mengubah haluan kapalnya kembali. Dari jauh mereka memperhatikan bendera Aceh berkibar dengan megah. Kemudian mereka menunjukan arah kapalnya ke Bengkalis.

Benteng Pulau Kampai yang dibangun Tuanku Hasyim telah empat kali mendapat serangan dari Belanda, tetapi dapat digagalkan oleh pejuang Aceh. Begitu juga penyerangan Belanda dari darat dan laut terhadap langkat dapat dipatahkan oleh Pasukan Tuanku Hasyim dan juga penyerangan Netscher kedua kalinya ke Sumatera Timur dapat digagalkan.

VOC ships, the pirates white, proclaimed the civilizing mission to the nations in the archipelago. Though clearly, the purpose behind them came to the archipelago is there to “colonize” the natives.

Setelah beberapa kali Belanda mengalami kegagalan, kemudian mereka mengirim mata-mata untuk menyelidiki gerak-gerik dan benteng pertahanan Tuanku Hasyim.’ Begitu Belanda mendapat kabar, bahwa Tuanku Hasyim sedang berada di pusat atas panggilan Sultan Aceh, maka Belanda segera mengerahkan kekuatannya menyerang Pulau Kampai, waktu itu pimpinan pertahanan Pulau Kampai diserahkan kepada Tuanku Itam yang dibantu oleh Teuku Cut Latif. Serangan yang cepat itu berhasil dan Belanda dapat merebut benteng pulau Kampai pada tahun 1865.

Sesudah jatuhnya benteng Pulau Kampai ke tangan Belanda sekembalinya Tuanku Hasyim dari pusat, ia memindahkan pusat kekuatannya ke Manyak Payed. Kemudian ia membangun dan menyusun kekuatannya. Selanjutnya ia meningkatkan kegiatan Panitia delapan demi kepentingan perang. Adapun tugasnya, selain perdagangan, yang lebih penting ialah mengawasi kegiatan Belanda di Selat Malaka dalam usahanya menyerang Aceh. Atas usaha Tuanku Hasyim yang gigih dan ulet beliau dapat membendung serangan Belanda dari darat selama kurang lebih lima belas tahun.

Menjadi Panglima Besar Aceh

Pada tahun 1870 timbul kegoncangan dalam pemerintahan Aceh. Sultan Alaidin Ibrahim Syah meninggal dunia, sedang pengganti baginda belum ada yang dapat bertanggung jawab atas kelangsungan pemerintahan, Begitu juga pihak Belanda telah siap untuk menyerang Kesultanan Aceh. Mereka hanya menanti kesempatan yang baik, Mereka telah siap menanti perintah dari atasannya.

Untuk menanggulangi kekalutan ini tampillah tokoh-tokoh politik, orang-orang besar, Ulebalang dan para ulama. Mereka mengadakan musyawarah untuk mengangkat pengganti Sultan. Hasil musyawarah secara bulat menunjuk Tuanku Hasyim Bangta Muda sebagai pengganti Sultan, tetapi Tuanku Hasyim menolak dan tidak bersedia, dengan alasan ia tidak tepat, sebab pengangkatan Sultan sudah berselang dua, yakni ayah dan kakek dari Tuanku Hasyim, Tuanku Abdul Kadir dan Tuanku Raja Cut Zainal tidak menjadi Sultan. Hal ini kurang sesuai dengan adat dan peraturan, Untuk ini ia menunjuk Mahmud Syah yang masih kecil untuk menjadi Sultan. Beliau ini putera Sultan Alaidin Sulaiman Ali Iskandar.

Para ulama beserta pembesar kerajaan sekali lagi mengadakan musyawarah dan dengan suara bulat mendesak agar Tuanku Hasyim bersedia menjadi Sultan, dengan alasan bahwa negara dalam keadaan bahaya dan musyawarah sangat mengharapkan seorang kuat seperti Tuanku Hasyim, tetapi Tuanku Hasyim tetap pada pendiriannya, ia menolak jabatan Sultan. Dan pendiriannya yang kuat atas dasar tidak rela mengubah garis hukum adat, bahwa yang sebenarnya berhak menjadi Sultan adalah Alaidin Mahmud Syah, Kalau alasan negara dalam keadaan bahaya, ia lebih senang turun ke lapangan untuk menghadapi musuh dari pada duduk bersila di atas tahta kerajaan hanya untuk memerintah. Karena penolakan ini akhirnya musyawarah memutuskan untuk mengangkat Mahmud Syah menjadi Sultan, biarpun dalam keadaan lemah, guna mempertanggung-jawabkan tugas Negara dan kelangsungan pemerintahan Aceh.

Meskipun secara resmi Tuanku Hasyim menolak diangkat menjadi Sultan, tetapi secara praktis, ia bertanggung jawab dan melaksanakan tugas-tugas kesultanan demi kepentingan negara, bangsa dan agama.

Pada waktu Sultan baru diangkat kekuatan-kekuatan yang ada di Aceh ada tiga golongan besar.

  1. Golongan keturunan Arab, jumlahnya sedikit, mereka termasuk golongan yang intelek, persatuannya kokoh. Golongan ini lebih memilih berperang dengan Belanda.
  2. Golongan penduduk asli, jumlahnya banyak. Mereka lebih dekat kepada Sultan, tetapi persatuan kurang kokoh. Di dalamnya tergabung Ulebalang-Ulebalang yang ternama, tetapi mereka ini nampaknya sangat lemah dan bersedia bekerja sama dengan Belanda, oleh sebab itu Belanda mencoba mengadakan kontak dengan golongan ini.
  3. Golongan yang mempunyai pendirian keras, yang tidak dapat diajak berdamai, jumlah terbesar. Mereka terdiri dari orang-orang kuat dan para ulama. Golongan inilah yang paling gigih menentang penjajahan Belanda.

Golongan yang pertama dipimpin oleh Sayid Abdurachman Azzahir, sedang golongan yang ketiga dipimpin oleh Tuanku Hasyim, Tuanku Hasyim adalah tokoh yang kuat dan taat pada agama. Di samping itu atas pengaruh Tuanku Hasyim banyak pula golongan Ulebalang yang taat pada agama. Mereka ada dipihak Tuanku Hasyim. Para Ulebalang yang mendukung Tuanku Hasyim antara lain: Panglima Polim Ibrahim Muda Kuala, Teuku Nyak Raya Imeuem Leuengbata atau Panglima Keraton. Para ulama yang mendukung perjuangan Tuanku Hasyim ialah Tengku Cik di Kutakarang Syekh Abbas, Tengku Cik di Tiro Muhamad Saman dan lain-Iainnya.

Demikianlah Tuanku Hasyim mendapat dukungan sepenuhnya dari kalangan orang-orang kuat, Ulebalang, para ulama dan kalangan rakyat banyak. Semua lapisan dan golongan menyerahkan kepercayaan pada Tuanku Hasyim.

Melihat peranan Tuanku Hasyim yang sangat penting dalam menjalankan pemerintahan, maka para cerdik pandai, Ulebalang dan ulama merasa perlu mengukuhkan kedudukannya. mengingat umur Sultan yang masih terlalu muda, boleh dikatakan hanya seperti boneka, yang menjalankan roda pemerintahan adalah Tuanku Hasyim. Maka oleh sebab itu dengan keputusan para ulama, disahkan oleh tiga Imam besar dan Panglima Tiga Sagi, yaitu menteri besar Wazirul A’ zan Panglima Polim Seri Muda Perkasa, Menteri Besar Wazirul Ghaza dan Menteri besar Qhadhi Malikul Alam Seri Setia Awadim Syiah Ulama, beserta Hulubalang empat dan Hulubalang delapan. Upacara pengesahan ini bertempat di Balairung Darud Dunya di hadapan Sultan. Sejak itu Tuanku Hasyim diangkat menjadi Panglima Tertinggi kerajaan Aceh. Kemudian kerajaan menyerahkan semua perlengkapan, urusan luar dan dalam negeri, mengatur urusan kerajaan, penasehat, urusan peperangan, urusan pertahanan dan keamanan, dan urusan kehakiman kepada Tuanku Hasyim.

Langkah pertama yang ditempuh Tuanku Hasyim setelah diangkat menjadi Panglima Tertinggi kerajaan Aceh, Ialah menghimpun seluruh kekuatan dan mengumpulkan segala perlengkapan perang. Ia memerintahkan kepada semua Panglima Perang dan Ulebalang untuk bersiap-siap menghadapi Belanda. Hal ini disebabkan karena rakyat Aceh merasa cemas melihat gerak-gerik tentera Belanda yang terus menerus mengadakan tekanan. Untuk menghadapi hal ini Tuank Hasyim telah memasukkan alat perlengkapan perang ke Aceh Besar. Kemudian untuk memberikan jawaban atas tantangan Belanda, ia mengadakan musyawarah dengan Panglima Tiga Sagi dan Ulebalang semuanya serta segenap alim ulama. Selanjutnya sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang mengumumkan perang terhadap Belanda dan dengan tegas menolak kedaulatan Belanda atas Aceh. Kemudian, melalui wakilnya Tengku Said Abdullah untuk menyampaikan kepada seluruh rakyat Aceh agar supaya bersiap-siap menghadapi serangan Belanda.

Semua usaha yang dijalankan oleh Belanda tidak membawa hasil, karena pihak Aceh kelihatan makin memperkuat dan menyusun kekuatan tempurnya. Maka pada tanggal 22 Maret 1873 Belanda melabuhkan kapal perangnya yang bernama, Citadel Van Antwerpen di Meuraxa yang jauhnya dari benteng Aceh sehingga tidak dapat dicapai oleh tembakan meriam.

Agresi Militer Belanda Pertama ke Aceh

Kedatangan kapal perang Belanda ini telah dinanti oleh pasukan Aceh. Di sepanjang pantai Kuta Meugat, Kuta Bugis, Kuta Bak Me telah disiapkan semua pasukan dengan perbentengan yang kuat. Sebelum menyerang, Komisaris Belanda F.N, Nieuwenhuijzen mengirim Sidi Tahir sebagai utusan dan menyampaikan surat ancaman kepada Sultan yang isinya menyatakan bahwa Belanda tidak akan menyerang Aceh, apabila Aceh mengakui kedaulatan Belanda. Demikianlah sebelum dimulai penyerangan, terjadi surat-menyurat antara kerajaan Aceh dan Belanda, tetapi tidak membawa hasil yang diharapkan oleh Belanda.

Pada kesempatan ini Tuanku Hasyim tidak berada di tempat. Ia sedang menjalankan tugas penting (di Aceh Timur dan juga untuk sekaligus meninjau benteng pertahanan Aceh pada bagian timur Sumatera).

Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Penang untuk mengurus alat-alat perlengkapan perang kerajaan Aceh dalam menghadapi Belanda. Karena itu ia menyerahkan pimpinan pasukan Aceh kepada Seri Muda Perkasa Teuku Panglima Polim Mahmud Cut Banta dibantu oleh anaknya Teuku Ibrahim Muda Kula dan Teuku Nyak Imam Leuengbata (Panglima Dalam).

Pada tanggal 6 April 1873 saat-saat yang dinanti tibalah. Belanda mendaratkan pasukannya dan terus menyerbu Meuraksa dengan lindungan tembakan meriamnya, Maka terjadilah perang laut yang seru dan saling tembak-menembak. Pasukan Aceh memberikan perlawanan yang gigih dengan membendung arus penyerangan tentera Belanda, Tentera Belanda terus maju menerobos pertahanan Aceh dengan alatnya yang lengkap dan serba modern, Dalam terobosan-terobosan terjadilah perang tanding, seorang melawan seorang dimana prajurit Aceh maju dengan kelewang yang sukar bagi Belanda menghadapinya dalam jarak dekat. Karena keunggulan persenjataan dan keahlian pasukan Belanda serta dengan susah-payah Belanda berhasil menduduki Masjid Raya Baiturrahman sebagai benteng pertahanan Aceh yang kuat. Di pihak Aceh gugur sebagai syuhada Teuku Imam Lam Krak dan Teuku Rama Setia, dalam mempertahankan Mesjid Raya Panglima Polim, Cut Banta, Teuku Muda Ie Alang, Teuku Muda Bintang, Teuku Muda Bin berjuang mati-matian dengan mempergunakan rencong dan kelewang di depan pintu gerbang mesjid Raya. Bantuan pihak Aceh terus mengalir. Ulebalang Sagi XXII Mukim dipimpin oleh Teuku Keunalo, Teuku Muda Bait dengan diikuti oleh rakyat Aceh. Mereka membanjiri arena pertempuran Mesjid Raya. Demikian serunya pertempuran, sehingga pertempuran sudah berlangsung tiga hari, siang dan malam. Begitu juga banyak korban yang berjatuhan di kedua belah pihak.

Panglima besar angkatan perang Belanda, Jenderal J.H.R. Kohler tewas ditembak oleh penembak jitu Aceh pada tahun 1873

Pertempuran di Mesjid Raya kekuatan kedua belah pihak mencari dan mempertahankan posisi masing-masing yang strategis. Panglima Dalam dengan dibantu oleh Teuku Cut Jak Cadek memimpin barisan meriam, terus menerus menembakkan meriamnya ke arah Mesjid Raya dan Blang Padang yang telah diduduki oleh tentera Belanda. Panglima Sagi XXVI, Ulebalang-Ulebalang serta rakyat bertahan di Kampung Jawa dan Panglima Sagi XXV di Kampung Punge. Para ulama dan rakyat ikut serta mengambil bagian dalam pertempuran. Mereka memberikan pula dukungan moril kepada prajurit-prajurit Aceh. Dalam suasana yang meriah dimana Belanda menganggap telah aman, karena mereka telah dapat merebut Mesjid Raya, Akan tetapi tiba saatnya bagi pasukan Aceh di mana Panglima Polim Cut Banta membidikkan senapannya dan mengenai sasarannya. Akibatnya kacau-balaulah pasukan Belanda yang sedang istirahat. Pemimpin tertinggi tentera Belanda, yakni Jenderal Kohler tewas seketika. Belanda dengan cepat meninggalkan Mesjid Raya dan lari kembali ke kapalnya yang sedang menanti di pantai. Mereka lari dengan banyak meninggalkan korban yang tak sempat dibawa.

Persiapan Perang Kesultanan Aceh Menjelang Agresi Militer Belanda kedua

Setelah penyerangan Belanda yang pertama dapat digagalkan oleh kekuatan Aceh, Tuanku Hasyim beserta rombongannya tiba kembali ke ibukota. Sambil menanti laporan dari Panglima Polim Mahmud Cut Banta, ia beristirahat di dalam. Tetapi setelah empat hari menunggu laporan dari bawahannya yang tidak datang, maka ia terus berangkat ke Kuala Aceh untuk melihat sendiri dari dekat tentang situasi medan dan sekaligus memberi perintah untuk moengatur kembali pasukan Aceh dan mempersiapkan benteng-benteng pertahananan. Kapal-kapal Belanda masih berkeliaran di perairan Aceh. Mereka masih mengintai pantai, dan menunggu kesempatan yang baik.

Kapal-Kapal Belanda mengepung perairan Aceh

Disini terlihat bahwa Belanda dan Aceh sama bertahan pada pendiriannya yang kokoh. Belanda di bawah panji-panji Kolonialnya memeras otak, berdaya-upaya dan mengerahkan seluruh kekuatannya atas perintah atasannya. Kemenangan sudah terbayang, mereka telah berhasil mematahkan benteng pertahanan Aceh, tetapi hanya untuk sementara. Kekuatan terpaksa ditarik kembali karena pemimpin tertinggi sendiri tewas dalam peperangan akibat tembakan yang tepat pasukan Aceh. Oleh sebab itulah maka mereka berusaha untuk menyapu bersih kekuatan Aceh. Dengan demikian maka akan terangkatlah nama bangsanya. Wilayah jajahan akan terbentang luas dari barat sampai ke timur.

Sebaliknya rakyat Aceh berjuang sekuat tenaga. Mereka berusaha membendung penjajahan Belanda. Tuanku Hasyim sebagai Panglima Tertinggi Angkatan perang Aceh merasa bertanggung jawab atas keselamatan negara dari cengkeraman penjajah Belanda. Betapa aibnya apabila Belanda kafir yang jauh datang dari seberang sana berhasil menanamkan kekuasaannya di tanah Aceh. Tanah yang telah dibina dan dibangun bertahun-tahun, bahkan sudah berates tahun oleh putera-puteri Aceh yang mencintainya.

Karena itulah Tuanku Hasyim dengan penuh semangat dan kesungguhan hati mengatur strategi pertahanan, selanjutnya beliau menghimpun segenap kekuatan untuk memperkuat barisan Aceh dalam menghadapi musuh. Ia mengatur susunan dan barisan tentaranya dan memberi tugas kepada para Panglima. Panglima dalam (keraton) beserta pasukannya ditempatkan di Kuta Laksamana, Panglima Tiga Mukim bertugas memperkuat Kuta Musafi, Panglima Arif dari Lima Mukim Montasek memimpin pasukan di Kuta Sak Bie, Teuku Keunalo dari Seulimuem ditempatkan di Kuta Nie dan ia sendiri mengkordinir pasukan di Kutaraja, Perak dan Makam Tengku Syiah Kuala. Benteng-benteng pertahanan diperkuat dan ditambah perlengkapannya, sehingga benteng Aceh terbentang sepanjang pantainya merupakan mata rantai yang kukuh yang dimulai dari sebelah timur Krueng Aceh melingkar sampai ke Pidie. Pada tiap benteng ditempatkan meriam sebagai alat penangkis serangan kapal Belanda dari arah laut.

Agresi Militer Belanda Kedua ke Aceh

Rencana Tuanku Hasyim rupanya tercium oleh mata-mata Belanda. Oleh sebab itulah maka dalam serangan kedua kalinya dipimpin Jenderal Van Swieten. Atas anjuran mata-mata Belanda mendaratkan pasukannya di Lho Nga (Kreueng Raba), yang kemudian dapat memukul pertahanan Aceh dari belakang. Dalam penyerangan ini Van Swieten merasa berat karena menghadapi kekuatan yang besar. Suatu taktik jahat Van Swieten ialah menyebarkan  bibit penyakit kolera, sehingga kekuatan Aceh manjadi lemah dan daya tempurnya lumpuh. Penyakit kolera merajalela di ibukota Aceh dan Sultan sendiri nantinya terkena sehingga wafat.  Kemudian Belanda mendaratkan lagi pasukannya di Ujung Pedro Pasi Lamnga. Melihat serangan yang tiba-tiba ini Tuanku Hasyim cepat-cepat mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Lamnga. Dengan penuh semangat para prajurit Aceh menunjukkan keahliannya dalam menghadapi pasukan-pasukan Belanda, sehingga serangan Belanda dapat digagalkan, Karena itu Belanda mengalihkan penyerangannya ke Kuala Giging dan Alue. Disini juga serangan Belanda disambut dengan perlawanan yang gigih, sehingga pertempuran berlangsung selama dua hari dan akhirnya Belanda menarik pasukannya, Kemudian pasukan Belanda berhasil merebut Kuta Cut Gampang Baro, Karena marah mereka membakar habis dan memusnahkan tempat itu. Setelah itu Belanda mencoba kembali menyerang Lamnga, tetapi gagal. Pertempuran terus berlangsung siang dan malam dengan tidak berkurang sengitnya. Para Prajurit Aceh terus bertempur dengan semangat yang tinggi, tidak mengenal lelah. Merelca dengan tulus ikhlas mempertahankan tanah airnya yang tercinta, Pasukan meriam terus bekerja dengan tembakannya untuk memberikan perlindungan pada prajurit Aceh, begitu juga pihak Belanda. Dengan keunggulan persenjataannya mereka mendesak Aceh, Pasukan Aceh memindahkan posisinya ke tempat yang lebih strategis, sehingga dengan mudah memukul lawan. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Tetapi Aceh tidak mengendorkan perlawanannya, bahkan terus maju ke depan mencari lawan. Akhirnya Belanda dapat menerobos dan mematahkan perlawanan prajurit Aceh dan menempatkan pasukannya di Peunayong dengan tujuan akan merebut Kraton. Kemudian Belanda berusaha menekan Sultan untuk menandatangani surat pernyataan menyerah.

Armada kapal perang Belanda mengepung pantai Aceh tahun 1873

Untuk mengimbangi kekuatan Belanda, Tuanku Hasyim dengan cepat memindahkan pertahanan dari kiri kanan Sungai Aceh, dengan tujuan untuk menggempur Peunayong, Lambhuk dan Peukan Aceh. Pertahanan pasukan Panglima Polim di Iampoh Jak dan Kuta Gunungan diperkuat dengan menambah barisannya dan perlengkapan tempurnya. Begitu juga Teuku Kali dan Panglima Polim untuk mempertahankan Keraton ditempatkan pada bagian selatan. Tetapi karena suatu pengkhianatan, pasukan Belanda di bawah pimpinan W.V. Kerchem dengan kekuatan dan jumlah yang banyak terlebih dahulu menyerang pertahanan Lambhuk. Maka terjadilah perang tanding yang seru, yang mengakibatkan U.V. Kerchem tewas dalam pertempuran. Kemudian kepala stafnya G.C.E, Van Dalen mengambil alih tugas pimpinan, tapi karena kurang kecakapannya pimpinan diambil alih oleh Jenderal Mayor Versvijek. Pertempuran terus berlangsung dan makin seru, batalion ketiga tentera Belanda yang telah berhasil mendekati pertahanan Aceh terdesak mundur oleh tembakan yang gencar dari pasukan Aceh. Pertempuran ini banyak menelan korban kedua belah pihak.

Pertempuran Ladang Tebu yang Legendaris

Pada tanggal 26 Desember 1873 terjadilah pertempuran yang paling seru dalam penyerangan Belanda disekitar Keraton. Pada daerah ini tumbuh sebangsa pohon tebu yang sangat baik dan pohon tebu ini merupakan benteng pertahanan Aceh yang telah diatur sedemikian rupa, sehingga susah bergerak bebas kecuali dengan merangkak pelan-pelan. Tumbuhan tebu ini telah ditanam lama atas perintah Tuanku Hasyim sebagai perisai untuk melindungi keraton. Kemudian sebagai barisan pertahanan Keraton di samping senjata api ditempatkan pula sepasukan pedang yang terlatih dan berpengalaman. Melihat perlindungan yang baik ini Belanda secara diam-diam mendaratkan pasukannya dan menyusup ke dalam kebun tebu ini dan terus bergerak secara diam-diam mendekati Keraton. Pergerakan ini diikuti terus oleh pasukan Aceh, tetapi mereka belum bertindak karena belum ada komando dari pimpinan. Tetapi setelah perahu terakhir yang menyebrangkan pasukan Belanda, Tuanku Hasyim memerintahkan supaya semua perahu dibakar, hanya satu yang dapat meloloskan diri. Setelah itu ia memerintahkan pengepungan terhadap tentera Belanda yang sudah bersembunyi di kebun tebu tersebut. Maka keluarlah Panglima Polim, Imam Leungbata, Tengku di Mulek Said dari persembunyiannya beserta prajurit ahli pedang maju menebas serdadu-serdadu Belanda. Pasukan Belanda menjadi panik, mereka tak dapat berbuat banyak, karena tidak dapat mempergunakan senjatanya. Satu-satunya jalan dengan mencoba melarikan diri dan terjun ke Sungai Aceh, tetapi sebagian besar ditebas oleh prajurit Aceh. Kepala atau anggota badan mereka putus sekaligus. Alat senjata mereka banyak yang jatuh ke tangan pasukan-pasukan Aceh. Dalam pertempuran ini banyak perwira Belanda yang gugur. Akibat kekalahan ini Belanda mengosongkan Lambhuk yang telah didudukinya.

Masjid Raya dan Keraton Darud Donya Jatuh ke tangan Belanda, Sultan Mangkat

Setelah tiga kali Jenderal Van Swieten terpukul mundur dalam merebut pertahanan Aceh, korban telah banyak berjatuhan, timbul kebimbangan Belanda dalam meneruskan penyerangannya, tapi untuk menjaga prestise dan nama baik tentera Belanda, jika mundur berarti gagal total. Maka Belanda kemudian membatasi diri, penyerangan kini dipusatkan hanya ke Keraton saja. Dengan merebut Keraton, Van Swieten merasa kekuatan Aceh dapat dilumpuhkan. Tetapi menguasai Keraton tidaklah mudah, ternyata pertahanan Aceh cukup kuat dengan pagar berlapis. Pada tiap sisinya telah menanti muntahan peluru meriam. Melihat hal ini Belanda merasa pesimis untuk terus menyerang.

Lubang Pertahanan dalam kubu pertahanan para pejuang Aceh yang dibangun dibawah pimpinan Tuanku Hasyim Bangtamuda – Untuk dapat maju ke mesjid raya pasukan Van Swieten merebutnya dengan susah payah.

Tuanku Hasyim tidak berdiam diri. Ia telah menyiapkan pasukan terpilih untuk mengepung benteng Belanda di Peunayong. Bantuan makin berdatangan dari tiap kemukiman. Posisi penyerangan telah diatur dan pembagian tugas dijalankan dengan seksama. Teuku Cik memimpin Kuta Bak Mamplam, dan ia dibantu oleh rakyat VI Mukim Peukon dan rakyat IX Mukim Iaumtheuan. Teuku Muda Baet dari VII Mukim memimpin sebahagian rakyat Sagi XXII Mukim dan ditempatkan di Keraton. Rakyat Sagi XXV Mukim ditempatkan di garis pengepungan yaitu Kuta Bak Mamplam, Kampong Jawa dan Blang Peureulak. Teuku Cik Muda di warung-warung dan rumah-rumah, Teuku Keunalo di muara Krueng Daroi dan Teuku Leungbata di tepi sungai Krueng Aceh. Demikianlah persiapan yang telah diatur dan tinggal menanti perintah Tuanku Hasyim. Tetapi rencana penyerangan ini gagal, karena Belanda mendahului menyerang Kuta Reuntang dan sekaligus dengan Lambhuk. Penyerangan ini dapat digagalkan oleh rakyat Sagi XXVI Mukim karena telah diperkuat dengan pagar yang kuat, Kemudian Belanda menarik pasukannya ke Lampulo.

Pada tanggal 6 Juni 1874 terjadilah peperangan yang sangat dahsyat di Mesjid Raya Baiturrahman. Sebelum mengadakan penyerangan Belanda mengirim utusan yakni Mas Sumo Widikjo untuk menyampaikan surat kepada Sultan dengan maksud supaya Aceh mengakui kedaulatan Belanda. Aceh menolak tuntutan Belanda tersebut. Maka Van Swieten mengerahkan segenap kekuatannya untuk menyerbu Mesjid Raya. Serdadu-serdadu Belanda jatuh bergelimpangan memanjat pagar setinggi dua meter oleh tembakan senapan pasukan Aceh.

Di bawah desingan peluru dan muntahan meriam Tuanku Hasyim mengerahkan pasukannya, Mereka berjuang mati-matian, maju terus menetakkan kelewangnya ke leher tentera Belanda, sehingga Mesjid Raya banjir darah. Namun pertempuran tidak berhenti. Masing-masing mempertaruhkan nyawa. Daya-upaya habis-habisan, kalah persenjataan Tuanku Hasyim memindahkan arena pertempuran ke luar mesjid, Belanda merasa beruntung karena telah dapat menduduki Mesjid Raya.

Hilanglah benteng pertahanan Aceh yang telah dipertahankan selama tiga belas hari. Dengan jatuhnya Mesjid Raya, Tuanku Hasyim beserta pasukannya menyingkir ke Mukim XXVI dan ia menyusun kembali kekuatannya. Begitu juga Panglima Polim karena terjepit oleh serangan Belanda, sehingga tak dapat mempertahankan Keraton. Teuku Muda berhasil mengungsikan Sultan ke Pagar Aye dan disinilah Sultan Alaidin Mahmudsyah mangkat terkena penyakit kolera.

Tuanku Hasyim kemudia membicarakan soal ini dengan para Ulebalang, terutama jalan keluar untuk mengatasi kekalahan yang diderita, kemudian ia memerintahkan Panglima Tengku Chik Kuta Karang untuk mengatur dan menyusun kekuatan. Ia sendiri bermarkas di Mesjid Pagar Aye bersama Panglima Polim. Mereka mengumpulkan para Ulebalang untuk bermusyawarah dalam rangka mengambil taktik dan strategi baru, Tuanku Hasyim terus bergerak dan memindahkan pusat kedudukannya ke Meumalo.

Penobatan Muhammad Daudsyah sebagai Sultan Aceh dan Tuanku Hasyim diangkat sebagai Wali Sultan (Wali Nanggroe)

Belanda terus berusaha menghubungi keluarga Sultan, untuk diangkat sebagai bonekanya, Karena itu Panglima Polim mengambil kebijaksanaan. Ia bermusyawarah dengan Panglima-Panglima dan Ulebalang-Ulebalang untuk mengangkat penganti Sultan, atas keputusan yang bulat mereka menunjuk Tuanku Hasyim. Beliau menolak hasil mupakat ini, Kemudian menunjuk Muhamad Daud untuk diangkat menjadi Sultan, Dengan upacara seperti biasanya disahkanlah Tuanku Muhamad Daud Syah menjadi Sultan dengan perwalian Tuanku Hasyim. Pengangkatan ini bertempat di Mesjid Lama Tengah.

Karena desakan Belanda yang terus-menerus, pasukan-pasukan Aceh memindahkan kekuatannya ke daerah timur. Dari daerah ini diatur semua siasat. Tuanku Hasyim tidak mengecewakan pengikutnya. Beliau terus aktif memikirkan perjuangan Aceh untuk mengusir penjajahan Belanda yang kafir. Kepada setiap panglima diperintahkan untuk menyampaikan keseluruh mukim dan menyebarluaskan kepada rakyat untuk terus berjuang. Peperangan ini adalah perang suci, perang agama, untuk mengusir Belanda yang kafir dari bumi Aceh. Tuanku Hasyim mengatur semangat Perang Sabil kepada seluruh rakyat Aceh. Secara spontan rakyat menyambutnya dengan seruan Allahu Akbar. Belanda kafir adalah musuh, karenanya harus diusir.

Pada tahun 1879 Tuanku Hasyim semakin tua, namun jiwa patriot dan semangat jihadnya tetap membara untuk menentang penjajahan Belanda. Ia tinggal di Keumala Dalam bersama Sultan Muhamad Daud Syah yang masih berumur kurang lebih 10 tahun. Berkat daya upaya, Kuta Keumala Dalam terus tumbuh dan mampu menjadi ibu kota Kerajaan Aceh yang kedua yang akhirnya menjadi pusat kebudayaan yang ternama dan pusat perdagangan lokal. Dari Keumala inilah Tuanku Hasyim mengatur pimpinan pemerintahan Aceh baik sipil maupun militer sambil mengasuh Sultan Muhammad Daud Syah yang masih kecil. Berkat asuhan dan bimbingan beliau Muhammad Daud bertumbuh menjadi seorang tokoh pemimpin yang berwatak.

Dalam memimpin dan mengasuh baginda Tuanku Hasyim didampingi oleh pembesar-pembesar kerajaan yang setia, diantaranya adiknya sendiri Tuanku Mahmud Bangta Keucik sebagai Menteri Jaksa Agung, sedangkan adiknya Tuanku Itam ditugaskan untuk memperkuat pertahanan Panglima Polim di Sagi XXII Mukim.

Begitu juga pimpinan perjuangan dan panglima-panglima berdatangan ke Keumala Dalam untuk memberikan laporan dan petunjuk yang diperlukan. Kemudian, keadaan memaksa Tengku Cik di Tiro diperintahkan untuk memperkuat Panglima Polim di Sagi XXII Mukim. Kemudian benteng Panglima Polim dipercayakan kepada Tengku Chik di Tiro Muhamad Saman. Sedang Teuku Nyak Raja Imeum Leungbata tetap mendampingi Tuanku Hasyim di Keumala Dalam.

Dalam menjalankan tugas ini Tuanku Hasyim terus mengadakan hubungan dengan dunia luar, utusan datang ke Keumala antara lain dari negara Kedah dan Kelang. Tujuan utusan tersebut untuk untuk mendamaikan Aceh dengan Belanda. Namun dengan halus dan bijaksana Tuanku Hasyim menolak usaha ini. Setelah Panglima Tengku Chik di Tiro Muhamad Saman dan Panglima Polim Muda Kuala meninggal dunia, Belanda mencari jalan untuk melunakkan Tuanku Hasyim untuk mengakhiri peperangan. Untuk iini Belanda mengutus Raja Ismail bin Raja Abdullah dari Selangor dengan membawa surat Sultan Abubakar dari J0hor. Utusan ini mengharapkan agar persoalan Aceh dan Belanda dapat diselesaikan secara damai, Selangor dan Kedah bersedia menjadi penengah. Tapi usul ini ditolak oleh Tuanku Hasyim. Ia tetap pada pendiriannya, tidak mau berdamai dengan Belanda.

Tuanku Hasyim Mengembalikan Perwalian kepada Sultan Muhammad Daud Syah, kemudian Wafat

Setelah Sultan Muhamad Daud Syah dewasa dan dianggap sudah mampu memegang pimpinan pemerintahan Aceh, maka dalam tahun 1894 Hasyim beserta keluarganya meninggalkan Keumala Dalam dan pulang ke Reubee, ke Rumah Raya di Meunasah Runtoh. Kemudian tahun 1896 ia kembali ke Padang Tiji. Meskipun sudah meninggalkan ibukota Kerajaan Keumala Dalam, ia tetap dikunjungi oleh para panglima, ulama dan Ulebalang untuk mengadakan konsultasi.

Demikianiah setelah 40 tahun lamanya memegang pimpinan, tepat hari Jumat tanggal 22 Januari 1897 Tuanku Hasyim meninggai dunia dalam usia 63 tahun dan dimakamkan di samping Mesjid Padang Tiji dalam Sagi XXII mukim.

Catatan Belanda tentang Tuanku Hasyim

Bruijnsma dalam “Vevoring Aceh’s Groote Missigit” menuturkan :

“De man, die ook leider en de ziel der verdediging was, die als onze onverzoenste vijand gekenschetst wordt, die nooit of nimmer van eenige ounderwerping of zelf eenige toenadering wilde weten en den oorlog a outrance voerde, ook de Kraton genomen en de sultan gestorven was, die door de general van Swietln “de Todleben der Acehers” en door de gids Swensen, den Deen, die langen tijd op Groot At j eh verblijf gehouden had, de Atjehsche generaal, genoemd wordt, verdient, door wij gaarne hulde brengen aan zijne energie, volharding werkkracht, dapperheid en vaderlandsliefde wel, dat wij het een en ander omtrent hem medeelen.

In 1863 nam een zekere Tuanku ham het eiland Kampai, dat beoosten de rivier Tamiang was gelegen en behoorde aan de sultan van Siak, wederrechtelijk met eenige Atjehers in bezit en versterkte er zich door het bouwen van een benting waarop hij de Atjehsche vlag heesch.

Kwam een Nederlandsch stoomschip in de nabijheid, dan nam de bezetting der benting eene vijandelijke houding van en zelfs weigerde Tuanku ham elke ontmoeting met de resident van Riouw. Die hem daartoe herhaardelijk uitnoodigde.”

Artinya

Tokoh yang menjadi pemimpin dan menjadi jiwanya pertahanan yang merupakan musuh kita yang tidak kenal damai, tidak pernah tunduk maupun hendak mendekati dan yang mau berperang terus secara habis-habisan, walaupun sudah jatuh Kraton (Dalam) dan Sultan sudah tewas, tokoh yang disebut oleh Jenderal, Swieten “de Todleben der Acehers” (Todleben-nya orang Aceh) Tokoh yang menjadi jenderalnya orang Aceh sebagai yang disebut oleh penunjuk jalan Swensen orang Denmark, selayaknya bekerja yang penuh, kegagahberaniannya, kecintaannya pada tanah air, orang yang ingin kita menceritakannya serba sendiri tentang dirinya.

Dalam tahun 1863 ada seorang bernama Tuanku Itam telah menduduki Pulau Kampai, letaknya di sebelah timur Tamiang dengan secara tidak sah (kata Bruijnsma) karena pulau itu milik Sultan Siak, diperteguhnya benteng itu, dinaikkannya bendera Aceh disana.

Ketika kapal Belanda datang kesana, dia melawan, dan menolak permintaan residen Riau untuk mengadakan perundingan dengan dia.”

Bruijnsma menyangka bahwa tokoh Tuanku Hasyimlah yang dimaksud, padahal Tuanku Itam sebagaimana disebut diatas. Sesudah mempercayakan Pulau Kampai kepada Tuanku Itam, Tuanku Hasyim lalu pergi ke Manyakpait, disebelah barat Tamiang, lalu di gemblengnya pula penduduk dari tiga wilayah yang berdekatan sungai Iyu dan Langsa.

Sesudah meyakinkan bahwa Tuanku Hasyim seorang ahli perang, lalu di simpulkan oleh Bruijnsma:

“Tuanku Hasyim was daarbij een man van geboorte. Ya, wij eindigde onze mededeelingen over dien Tuanku Hasyim, de bevelhebber onzer vijanden, den dapperen, beleidvolle verdedigd van de Messigit, met de meening uit te spreken dat zoo hij niet geleefd had, wij vermoedelijk reeds jaren en jaren het rustig bezit van Aceh zouden geweest zijn”.

Artinya

“Tuanku Hasyim adalah kelahiran berbakat. Yah, kami tutup cerita kami tentang Tuanku Hasyim, panglima perang musuh kita, tokoh yang berani, penuh kebijaksanaan dalam mempertahankan Mesjid Raya, dengan kesimpulan bahwa seandainya dia tidak pernah hidup, agaknya sudah bertahun-tahun lamanya kita memiliki Aceh dengan tenteram”.

Demikianlah pengakuan dari pihak Belanda.

Daftar Pustaka

  1. Mohammad Said; Aceh Sepanjang Abad; Cetakan IV; Penerbit Waspada; Medan; Tahun 2007.
  2. Muchtaruddin Ibrahim; Riwayat Hidup dan Perjuangan Tuanku Hasyim Bangta Muda Panglima Tertinggi Angkatan Perang Aceh; Cetakan I; Proyek Biografi Pahlawan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departeman P. dan K.; Jakarta; Tahun 1977.
  3. Dada Meuraxa; Ungkapan Sejarah Aceh; Cetakan I; Penerbit tidak diketahui (kemungkinan mandiri); Medan; Tahun 1975.

XXX

Tersedia download gratis buku Aceh Sepanjang Abad

Mohammad Said – Aceh Sepanjang Abad Jilid 1 dan Mohammad Said – Aceh Sepanjang Abad Jilid 2

Artikel-artikel lain tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  57. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
Advertisements
Advertisements

48 thoughts on “TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: