KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602

Menyalakan samar hampar lautan, aku menjelma menjadi sebaris nama (Illustrasi Aceh Tempoe Doeloe)

KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602

Surat kabar Provinciealse Zeeuwse Courant yang terbit di Middelburg (Belanda) pada tanggal 25 Oktober 1978 menceritakan peristiwa upacara sebuah monumen yang didirikan di kota Middelburg, sebagai kenangan Duta Kesultanan Aceh Darussalam, Tengku Abdul Hamid, yang meninggal di Belanda pada tanggal 10 Agustus 1602.

Pangeran Benhard atas nama Kerajaan Belanda meresmikan Monumen Kenangan kapada Duta Kesultanan Aceh Darussalam Abdul Hamid. Gambar di atas Pangeran Benhard baru selesai membuka tirai yang menutupi sarakata di atas marmer pada monumen ; di belakang Drs. Garnawan Dharmaputera Kuasa Usaha yang mewakili Duta Besar Republik Indonesia di Negeri Belanda

Menurut surat kabar tersebut, upacara peresmian monumen kenangan kepada Duta Kesultanan itu berlangsung khidmat. Dihadiri oleh pembesar sipil dan militer. Duta Besar Republik Indonesia di Belanda yang diwakili oleh kuasa usahanya Drs. Garnawan Dharmaputera, sementara provinsi Aceh diwakili Drs. Teuku Iskandar, Abubakar dan Dokter Teuku Hasan Ubit.

Di antara para tamu penting yang hadir, yaitu Pangeran Bernhard (suami Ratu Juliana), Drs. A.J. Piekaar, Letnan Jenderal F van der Veen (Ketua Stichting Peutjut Fond), Komisaris van de koningin dr. C. Boetien dan Walikota Middleburg Drs. P.A. Wolters.

Pendirian monumen kenangan kepada Abdul Hamid di Belanda harus dilihat dari segi sejarah kebesaran bangsa Indonesia sebagai mata rantai pertama silsilah pembentukan perwakilan Indonesia di luar negeri terutama di Eropa.

Surat Pangeran Maurice kepada Sultan Aceh

Maurice of Orange. Portrait by Michiel Jansz. van Mierevelt, 1607.

Pada akhir abad ke-16 sampai awal abad ke-17 Belanda membebaskan diri dari penjajahan Spanyol, Pangeran Maurice memproklamirkan berdirinya Republik Belanda yang merdeka dan berdaulat. Akibatnya, rakyat Belanda melakukan peperangan yang lama terhadap kekuasaan Spanyol sebagai Negara imperialis terbesar saat itu.

Saat itu, Negara-negara di Eropa belum berani mengakui kemerdekaan Belanda, karena takut pada kekuasaan Spanyol. Maka Pangeran Maurice selaku ketua dari Republik Belanda yang baru didirikan mencari teman dan dukungan ke bagian lain dunia, Asia.

Republik Belanda mengambil keputusan mengadakan hubungan diplomatik dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Untuk melaksanakan keputusan tersebut Pangeran Maurice mengirimkan sebuah delegasi yang dipimpin oleh Komisaris Negara Gerard de Roy dan Laksamana Laurens Bicker, dengan empat buah kapal, yaitu Zeelandia, Middelburg, Langhe Bracke dan de Sonne. Mereka berangkat menuju Aceh 29 Januari 1601 dan tiba 23 Agustus 1601.

Delegasi Gerald de Roy membawa sepucuk surat dari Kepala Republik Belanda Pangeran Maurice, yang maksudnya bahwa Republik Belanda yang baru ingin bersahabat dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Berikut isi surat tersebut :

“Pada tahun yang baru lewat, 1598 Masehi, atas perintah telahpun bertolak dua buah kapal dagang dari negeri ini, dengan tujuan mengadakan perniagaan di Hindia Timur, kapal mana sudah tiba di sana pada tanggal 15 Agustus  tahun itu juga.

Telah dikabarkan kepada beta betapa baiknya sambutan yang diberikan kepada mereka oleh Yang Mulia dan betapa cermatnya pelayanan yang diberikan mereka ketika mereka tiba di kerajaan Yang Mulia, disamping itu betapun mendapat kabar juga bahwa dengan memenuhi peraturan yang berlaku dan dengan segala kejujuran mereka telah melaksanakan maksud-maksud perdagangan tersebut.

Tapi tatkala orang-orang Portugis yang menjadi warga dari Kerajaan Spanyol, musuh kami, mendapat kabar bahwa mereka sedang mendapat perlindungan dan bantuan yang dijanjikan oleh Yang Mulia, merekapun lalu menceritakan hal-hal yang dusta, untuk menyesatkan Yang Mulia, diantaranya dikatakanlah oleh mereka bahwa para saudagar Belanda itu adalah bajak laut, dan bahwa kedatangan mereka adalah untuk merampas kerajaan Yang Mulia.

Hasil pendustaan itu, Yang Mulia telah menitahkan menangkap Frederick de Houtman, nahkoda salah satu dari kapal itu, bersama beberapa awak kapal, serta menahan mereka, hal mana berakibat penderitaan mereka.

Dengan keyakinan akan belas kasihan Yang Mulia terhadap mereka, inginlah beta menyampaikan harapan agar kiranya Yang Mulia menitahkan mereka dipelihara dengan baik, sebagai juga dilakukan terhadap setiap warga yang berkunjung ke kerajaan Yang Mulia, yang bebas telah kembali, semoga para tawanan yang sekarang berada di negeri Yang Mulia dapat pula mengecap kebebasannya kembali.

Kepada beta dikabarkan pula bahwa orang-orang Portugis telah mengadakan peperangan terhadap kerajaan Yang Mulia atas perintah Raja Spanyol, dengan tujuan untuk merampas negeri itu dan menjadikan warganya hamba sahaya, sebagaimana yang demikian telah dilakukannya selama lebih dari 30 tahun di negeri kami.

Tapi Tuhan Yang Maha Kuasa tidaklah sekali-kali ingin demikian, dan sebaliknya kami telah mengangkat senjata menentang penjajahan itu dan akan melakukannya sampai berhasil.

Oleh sebab-sebab itulah beta bermohon kepada Yang Mulia agar kiranya tidak mempercayai orang-orang Portugis tersebut, dan supaya Yang Mulia tidak perlu mencurigai lagi kepada warga yang datang dari negeri beta dan untuk mendapat kesempatan berniaga, maka inilah beta menugaskan perutusan beberapa wakil beta membawa surat ini, terdiri dari para delegasi berkuasa penuh sejumlah empat orang, yaitu nahkoda-nahkoda Cornelis Bastiaanse, Jan Tonneman, Matthys Antonisse dan Cornelis Adriaanse, bersama beberapa komisaris (zaakgelastigden), yaitu Geradl de Roy, Laurens Begger, Jan Jacobs dan Nicolas van der Lee, kesemuanya berangkat dengan empat kapal untuk, atas nama beta, mengadakan perundingan dengan Yang Mulia, untuk membicarakan bantuan-bantuan apakah yang dikehendaki untuk menumpas musuh-musuh.

Demikian pula kepada mereka telah beta beri izin tugas untuk memberikan bingkisan-bingkisan yang lazim kepada Yang Mulia sebagai bukti dari idam-idaman beta mengadakan pesahabatan dengan Yang Mulia.

Beta mohon agar bingkisan yang dikirim itu mendapat sambutan. Dan dengan ini beta mendoakan kepada Tuhan agar Yang Mulia dan kerajaannya bertambah luas sesuai dengan keinginannya.

Termaktub di Den Haag, Belanda, pada tanggal 11 Desember 1600

Tangan yang dicium oleh hambanya

Tertanda Maurice de Nassau

Delegasi Tengku Abdul Hamid

Isi surat Pangeran Maurice kepada Sultan Aceh, pada waktu itu yaitu Sultan Alaidin Riayat Syah Saidil Mukammil (997-1011 Hijriah / 1589-1604 Masehi) dibicarakan oleh Sultan dalam sidang Dewan Kerajaan, kemudian memutuskan antara lain :

  1. Menerima baik keinginan Pangeran Maurice sebagai Kepala Republik Belanda untuk mengadakan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Belanda;
  2. Mengakui Republik Belanda sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat penuh;
  3. Mengirimkan sebuah delegasi ke Belanda, sebagai balasan kunjungan.

Delegasi Aceh dipimpin Tengku Abdul Hamid, seorang ulama dan negarawan terkenal, Laksamana Sri Muhammad, seorang perwira tinggi Angkatan Laut yang berpengalaman, Mir Hasan seorang diplomat dan negarawan pada Wizarah Badlul Muluk (Depertemen Luar Negeri), Leonard Werner alias Pusque Camis, keturunan Luxemburg sebagai juru bahasa dan sejumlah perwira serta prajurit Angkatan Laut.

Dalam perjalanan menuju Belanda, kapal Belanda yang membawa delegasi Aceh dicegat oleh kapal Portugis “San Jabo”, sehingga terjadi pertempuran laut, dimana prajurit dan perwira Aceh terlibat dalam pertempuran ini. Kapal “San Jabo” dapat dikalahkan dan barang-barang di dalamnya dirampas dan dibawa ke Belanda. Pada 20 Juli 1602 Kapal Belanda tiba dengan selamat di Zeeland.

Pada saat delegasi Aceh tiba di Belanda, Pangeran Maurice sedang berada di markas perangnya di sebuah kampung bernama Grave. Menurut Dr. Wap dalam bukunya Het Gezantschap van den Sultan Aceh, pada tanggal 10 Agustus 1602 akibat pertukaran udara, dikebumikan pada 11 Agustus 1602 dalam gereja St. Pieter di kota Middelburg. Meninggalnya Abdul Hamid sebelum berjumpa dengan Pangeran Maurice, Laksamana Sri Muhammad mengantikannya kemudian sebagai Ketua Delegasi. Pada batu nisan Abdul Hamid tertulis :

Hic Situs Est

Abdul Zamat Princeps Legationis

A Rege Tabrobanae Seu Sumatrae

Sultan Alcien Raietza Lillo Lahe

Felalam Ad Illustriss Princip

Mauritium

Missae

Cum Duap. Navi. Zeeland Quae

In Dedit. Acceper.

Liburnicum Lusitanam

Vixit An. LXXI Obiit Anno CI]I] II

H.M.P.C

 

Di sini dimakamkan

Abdulhamid, Kepala Delegasi dari

Sultan Alaiddin Riayat Syah

Utusan untuk menemui

Yang Mulia Pangeran Maurits dengan

Kapal Zeeuw, yang telah merampas

Kapal Perang Portugis

Tutup usia 71 tahun, meninggal

Di tahun 1602

Kompeni Hindia Timur membuat peringatan

Menyerahkan Surat Kepercayaan dan Surat Pengakuan tehadap Republik Belanda

Setelah selesai masa berkabung atas meninggalnya Tengku Abdul Hamid, pada tanggal 1 September 1602 delegasi Aceh dibawah pimpinan Laksamana Sri Muhammad menghadap Pengeran Maurice di markasnya

Pertemuan Delegasi Aceh dengan Pangeran Maurice van Orange (1602)

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Delegasi Aceh menyerahkan surat kepada Pangeran Maurice Surat Kepercayaan dan Surat Pengakuan Aceh terhadap Republik Belanda, juga disampaikan dengan khidmat bingkisan-bingkisan dari Sultan Alaiddin Riayat Syah Saidil Mukammil.

Upacara penerimaan Delegasi Aceh diadakan dengan khidmat dan meriah. Selesai pembicaraan resmi dengan Pangeran Maurice, kepada Delegasi Aceh diperlihatkan hasil-hasil perang menghadapi Spanyol, juga meninjau kota-kota dan kampung-kampung di Belanda. Menurut catatan sejarah, Aceh merupakan Negara berdaulat pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Belanda yang baru lahir secara de facto dan de jure.

Madu dibalas dengan tuba

Eduard Douwes Dekker, also known as Multatuli

Di tahun 1872, sewaktu Kerajaan Belanda mengadakan persiapan menyerang Kesultanan Aceh Darussalam, dalam surat-surat kepada Raja Belanda, Multatuli pernah mengingatkan kembali peristiwa pengakuan Aceh kepada Republik Belanda, bahkan Multatuli berbicara dalam sebuah rapat di Wiesbaden ditegaskannya : “Ketika Belanda memperjuangkan kemerdekaannya dari Spanyol, Kerajaan Acehlah yang pertama mengakui Belanda sebagai satu bangsa yang merdeka”.

Rupanya madu dibalas dengan tuba!

Sungguhpun demikian, di tahun 1978 kebaikan dan kebesaran jiwa sekali lagi diperlihatkan kepada Belanda, ketika Gubernur Aceh A. Muzakkir Walad atas nama rakyat Aceh meminta kepada Dutabesar Belanda agar kerangka mayat Mayor Jenderal Kohler yang kuburannya digusur di Jakarta dibawa ke Aceh dan dimakamkan kembali di Peucut Aceh.

Kerkoff Peucut adalah kuburan prajurit Belanda yang tewas dalam Perang Aceh. Kompleks kuburan ini terletak di kota Banda Aceh,

Orang yang tak menghayati jiwa Aceh, mungkin tidak mengerti mengapa Mayor Jenderal Kohler yang memimpin penyerangan pertama ke Aceh sebagai “Panglima Agressor” dan tewas sewaktu memimpin pembakaran terhadap Masjid Raya Baiturrahman, setelah Jakarta menggusur kuburannya, Peucut di Banda Aceh menyediakan diri untuk menerima kerangka mayat musuh utamanya.

Pekuburan Peucut adalah tempat ditanamnya sekian perwira tinggi dan perwira menengah serta prajurit Belanda yang mati dalam masa puluhan tahun peperangan dahsyat antara Belanda dan Aceh.

Untuk mengurus dan memagar kembali pekuburan Peucut itu, di Belanda dibentuk satu yayasan bernama “Stichting Peucut Fonds” (Yayasan Dana Peucut), yang didirikan dan dipimpin oleh perwira-perwira Belanda yang telah pensiun yang dulunya pernah di Aceh, seperti Letnan Jenderal F. van der Veen, Kolonel J.H.J Brendgen dan lain-lain.

Agar jangan dikatakan lagi “madu dibalas tuba” maka Stichting Peucut Fonds mengambil prakarsa untuk mendirikan monumen bagi Tengku Abdul Hamid, Ketua Delegasi Kerajaan Aceh Darussalam yang meninggal di kota Middelburg pada tanggal 10 Agustus 1602.

Stichting Peucut Fonds berhasil menggerakkan pemerintah dan masyarakat Belanda untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang lalu, antara lain dengan mendirikan monumen yang pada tanggal 24 Oktober 1978 diresmikan oleh Pangeran Benhard (suami Ratu Juliana) atas nama Kerajaan Belanda. Pada batu marmer yang melekat pada monumen terekam tulisan sebagai berikut :

Ter Nagadachtenis Aan

Abdoel Hamid Hoffd van het Atjehse Gezantsechap

Door

Sultan Alaoeddin Riajat Syah Lillahi Fil Alam

Afgefaardigd

Naar Prins Maurits Met de Zeeuwse Sechepen

De Zeelandia en de Langhe Barcke

Hij Was Oud Een-en-zeventig Jaar Overleed in 1602

En Werd Bigezet In de Oude Kerk te Middulburg

De Stichting Peutjut Fonds Heeft Dese Dedenkplaat

Doen Plaatsen 24 Oktober 1978.

Kenangan kepada Abdulhamid

Ketua Perutusan Aceh yang diutus

Oleh Sultan Alauddin Riayat Syah Lillahi Fil Alam

Kepada Pangeran Maurits yang berangkat dengan kapal-kapal

Zeeland de Zeelandia dan Langhe Barcke

Beliau meninggal dalam usia 71 tahun

Dimakamkan dalam gereja tua di Middelburg

Yayasan Dana Peucut yang membuat monumen ini

Pada tanggal 24 Oktober 1978.

Arti dan makna Monumen Tengku Abdul Hamid

Dalam nukilan sekelumit sejarah tempo dulu, jelaslah bahwa Monumen Kenangan kepada Abdul Hamid, Ketua Perutusan Kesultanan Aceh Darussalam, sebagai Dutabesar bangsa Indonesia, mempunyai pengertian sejarah yang amat penting sekali dalam sejarah hubungan diplomatik bangsa kita.

Monumen Kenangan Dutabesar Kesultanan Aceh Darussalam, Tengku Abdul Hamid di Middelburg, Belanda

Seperti yang dikutip pada pidato Dutabesar Republik Indonesia untuk Belanda yang diwakili oleh Drs. Garnawan  Dharmaputera yang dalam pidato sambutannya mengatakan, “Bagi bangsa Indonesia tentu dianggap sangat penting, karena Tengku Abdul Hamid adalah Dutabesar bangsa Indonesia yang pertama memimpin misi diplomatik di negeri Belanda, sehingga beliau dan para anggota perutusan lainnya merupakan pelopor pembentukan perwakilan Republik Indonesia sekarang ini di Belanda.”

Sudah pasti pula bagi bangsa Belanda peristiwa tersebut dianggap sangat penting dan bersejarah pula, sehingga peresmiannya dilakukan sendiri oleh Pangeran Benhard sendiri, tidak umpamanya oleh Walikota Middelburg.

Hari ini, peristiwa peresmian monumen Abdul Hamid, yang berlangsung pada tanggal 24 Oktober 1978 di Middelburg kita ungkapkan kembali untuk diketahui segenap bangsa Indonesia.

Referensi :

  1. Ali Hasjmy; Aceh Negara Berdaulat Pertama Yang Mengakui Kemerdekaan Negeri Belanda; Sinar Darussalam No. 10 Mei/Juni 1979.
  2. Surat Kabar Provinciealse Zeeuwse Courant yang terbit di Middelburg (Belanda) pada tanggal 25 Oktober 1978.
  3. Mohammad Said; Aceh Sepanjang Abad; Halaman 128-129.
  4. Dr. Wap; Het Gezantsschap van den Sultan Aceh.

XXX

Simak pula kunjungan tim Tengkuputeh ke museum Aceh dalam rangka pameran Batu Nisan Aceh sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara dalam video berikut :

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602

  1. Pingback: ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZE THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS | Tengkuputeh

  2. Abu As says:

    Belanda tak kenang budi, bangsa yg mempunyai hati kayu.

  3. Pingback: PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH | Tengkuputeh

  4. Pingback: MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  5. Pingback: TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA | Tengkuputeh

  6. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  7. Pingback: ATJEH MENDAKWA | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s