SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH

 

Dunia sejarah sangat beruntung dengan terdapatnya inskripsi pada makam Sultan Malikkussaleh dan genealoginya. Karena dari tulisan yang tertera itu dapat diketahui berapa umur agama Islam telah masuk ke Nusantara.

SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH

Penetapan Barus sebagai titik awal Islam di Nusantara oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo telah melahirkan perdebatan terkait keilmuan. Apalagi jika yang digunakan adalah pendekatan sejarah, yaitu pengetahuan rekonstruksi masa lalu yang berpegang pada obyektifikasi dan fakta ilmiah. Menurut sejarawan Inggris, RG Collingwood, fakta sejarah tidak pernah akan sampai kepada kita secara murni. Dia selalu memiliki bias di dalam para perekamnya, termasuk usaha para sejarawan menuliskannya.

Dunia sejarah sangat beruntung dengan terdapatnya inskripsi pada makam Sultan Malikkussaleh dan genealoginya. Karena dari tulisan yang tertera itu dapat diketahui berapa umur agama Islam telah masuk ke Nusantara. Memang terdapat teori bahwa kerajaan Peureulak (Lambri) 1075 M dan Aceh Besar 1205 lebih dahulu ada sebelum Samudera Pasai 1213-1260 M.1 Namun belum ada study ilmiah yang membuktikan.

Nama Malikusaleh diabadikan sebagai nama Universitas Malikussaleh di Kota Lhoksemawe. Memiliki motto “Mencari Kebenaran Untuk Kesalehan Yang Kompetitif”

Dari sisi rekonstruksi sejarah, arus utama tentang sejarah mula Islam di Nusantara menyebutkan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama. Kerajaan ini merupakan gabungan dua kerajaan Hindu, yaitu Samudera dan Pasai, dengan raja Meurah Silue2 yang kemudian bergelar Sultan Malikussaleh.

Pengukuhan Pasai sebagai peradaban Islam Melayu pertama di Nusantara juga terjadi dalam dua momentum seminar nasional, yaitu 17-20 Maret 1963 di Medan dan 10-16 Juli di Banda Aceh. Bahkan, dalam seminar ditemukan juga dalil-dalil tentang jejak kerajaan Pasai sejak abad ke-11.

Salah satu dokumen tertua tentang keberadaan Kerajaan Pasai berjudul Imago Mundi, ditulis seorang petualang Venesia, Marco Polo. Ia masih sempat bertemu dengan Sultan Malikussaleh (1292). Kesaksian etnografis Marco Polo tentang Pasai dan tujuh kerajaan lainya di Sumatera (hanya 6 kerajaan yang sempat disinggahinya). Perlak adalah tempat pertama yang ia jelajahi. Selain Pasai dan Perlak yang muslim, kerajaan lain dikatakan masih menganut agama pagan dan bertradisi kanibal.3

Seorang pelancong Arab, Ibnu Bathutah mengunjungi Pasai pada 1346 M. Dalam kitabnya Rihlah. Ia menceritakan perihal Sultan Malikul Thahir, putra tertua dari Sultan Malikussaleh, beliau adalah seorang raja yang pemurah, adil dan gemar sekali berkeliling negeri guna menyebar agama Islam. Sebab itu ketika beliau meninggal oleh rakyatnya digelar “Malikul Adil”.4

Beberapa bukti arkeologis seperti ingin “menganggu” tentang upaya kesahihan Pasai sebagai Kerajaan Islam tertua di Nusantara. Pernah ada upaya menjadikan Perlak sebagai Kerajaan Islam pertama dengan menggunakan pseudofakta, yaitu makam berpenanggalan 840 M. Demikian pula memajukan Barus sebagai kerajaan tertua Islam di Nusantara dengan dalil bahwa pedagang muslim telah masuk ke daerah ini sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M (625-642 M), tapi itu semua tidak memiliki arus kuat sejarah.

Masih di kota Lhokseumawe, nama Malikussaleh juga dinisbatkan kepada STAIN Malikussaleh

Kerajaan Pasai dikenal memiliki pemerintahan yang relatif modern, penggunaan mata uang emas pertama di kerajaan Islam Asia Tenggara, kekuatan kemiliteran, juga hubungan perdagangan dan politik internasional.5

Peneguhan orbit selain Pasai sebagai pusat peradaban Islam pertama di Nusantara dilakukan tidak dengan pendekatan historis, tetapi etnografis, yaitu sejarah tuturan. Masyarakat di sana (Perlak dan Barus) mempercayai bahwa daerah merekalah yang menjadi titik awal Islam, bukan Pasai.

Sebenarnya penggunaan sejarah tuturan demi mengungkapkan kebenaran masa lalu sah, tapi ketika tidak ada upaya lain untuk membongkar bangunan borjuisme sejarah.6 Perlu diingat, penentuan sejarah Pasai tidak terjadi di ruang politik, tapi pembuktian ilmiah. Para Antropolog era colonial seperti Snouck Hurgronje dan sejarawah Jean Pierre Mouquette, ikut menunjukkan bukti-bukti keberadaan Kerajaan Pasai sebelum ditaklukkan Kerajaan Aceh pada 1524.

Penengelaman sejarah Pasai, dan pemunculan sejarah Barus

Barus merupakan kota dengan sejarah penting di Nusantara. Kota Barus telah dikenal di Timur Jauh, Eropa, dan Afrika Utara berabad-abad sebelum Masehi serta menjadi pelintasan penting perdangan kamper, kemenyan, cendana dan emas. Kota metropolis Sumatera itu mencapai puncaknya pada abad ke-10, kemudian terus menurun menjadi hanya kota kecamatan lusuh dan sepi.

Namun, bukti-bukti arkeologis pertama Barus tidak merujuk pada khazanah Islam. Jauh sebelum Islam, Barus dikenal sebagai asal daerah Batak Toba. Pada abad ke-11, berdasarkan penelitian epigrafi dan arkeologi, terkuak fakta makam-makam Hindu berbahasa Tamil di daerah ini.7 Makam-makam ulama di Papan Tengi yang berpenanggalan abad ke-13 terjadi pada fase lain, ketika Barus mulai sepi sebagai kota perdagangan dunia.

Sejak Kerajaan Pasai melemah dan redup pada akhir abad ke-15, poros peradaban dan sastra Melayu akhirnya pindah ke pantai Barat-Selatan, yaitu wilayah Barus dan Singkil. Di daerah inilah dua hal berkembang bersamaan, yaitu filsafat Islam wujudiyah dan kesusastraan Melayu.

Tokoh uatama sejarah Melayu dari Barus adalah Hamzah Fansuri yang diperkirakan lahir 1570-an dan meninggal 1630-an. Fansur sendiri berarti “kapur barus”. Dulunya daerah Barus masuk wilayah Kerajaan Aceh. Pemikir besar lain yang lahir 120 kilometer dari Barus (Singkil) adalah Syekh Abdurrauf as-Singkili (1615-1693).

Berbeda dengan pengembangan Islam di wilayah Pasai yang berporos pada fiqh Mahzab Syafii. Barus dan Singkil menjadi tempat bersemainya gagasan tasawuf. Tasawuf sebagai ilmu kebatinan menjadi katalisator berkembangnya Islam toleran, inklusif, dan progresif. Berkembangnya tradisi zikir dan suluk di Nusantara sangat dipengaruhi pemikiran sufisme dari Barus dan Singkil.

Meski demikian, ada hal yang masih menghubungkan antara Pasai dan Barus. Karya-karya tokoh Tasawuf, seperti Syarap al-‘Asyikin, Mir’atul Thulab, Tarjuman Mustafid, atau Umdat al-Muhatajin Suluk Maslak al-Mufridin dituliskan dalam bahasa Melayu dan beraksara Arab yang diserupakan dengan bahasa Pasai.

Gagasan pengembangan Islam Nusantara tidak bisa dilepaskan dari kesusatraan Melayu Pasai pada abad ke-13 hingga abad ke-14. Ini merupakan pengembangan kedua setelah sastra Melayu Budha di kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 hingga 13.8

Secara genealogis, Islam Nusantara atau bahkan Asia Tenggara tidak boleh melupakan Pasai sebagai titik pertama peradaban Islam-Melayu, bukan sekedar replikasi yang dibawa pedagang atau pelawat India, Arab atau Cina. Akan tetapi disebut Islam Sufisme baru tepat jika Barus (tanpa mengecilkan Singkil) yang dikatakan sebagai titik tolak peradaban.

X

DAFTAR PUSTAKA

1H.M.Zainuddin; Tarich Atjeh dan Nusantara; 1961; 160

2Muhammad Said; 1981; Anthony Reid (ed), 1995; Robert Pringle, 2010

3H.M.Zainuddin; Tarich Atjeh dan Nusantara; 1961; 327

4Reid, Sumatera Tempo Doeloe, 2010; 8-10

5Teuku Ibrahim Alfian, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, 1999; 3-4

6Paul Thompson, Oral History : Voice of the Past, 2000 :28

7Claude Guillot, 2002

8Abdul Hadi WM dalam Sardono, 2005

X

Sebagai upaya kecil melawan pseudo sejarah, Menegakkan kembali nama Samudera Pasai sebagai titik nol peradaban Islam di Asia Tenggara. Tim kami turun ke lapangan.. Dengan keterbatasan sumber daya. sebuah filem dokumenter penelusuran jejak sejarah ke makam Sultan Malikussaleh. Sebuah Ziarah yang dibungkus dengan komedi-komedi kecil, kami hanya bermaksud mengatakan bahwa sejarah itu menarik dan menyenangkan.

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  19. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

49 Responses to SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH

  1. Hendra Dwizani says:

    Luar biasa…Semoga mencerahkan…Bukan soal menang kalah, tapi ini sejarah untuk generasi sekarang dan geresari yang akan datang…

  2. Pingback: KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 | Tengkuputeh

  3. Pingback: SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA | Tengkuputeh

  4. Pingback: TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA | Tengkuputeh

  5. Pingback: MENYELUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH | Tengkuputeh

  6. Pingback: TEUKU UMAR PAHLAWAN | Tengkuputeh

  7. Pingback: FILOSOFI GOB | Tengkuputeh

  8. Pingback: KEBENARAN YANG SAMAR | Tengkuputeh

  9. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  10. Pingback: ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH | Tengkuputeh

  11. Pingback: HIKAYAT SUKU MANTE | Tengkuputeh

  12. Pingback: MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA | Tengkuputeh

  13. Pingback: SENJA DI MALAKA | Tengkuputeh

  14. Pingback: KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA | Tengkuputeh

  15. Pingback: OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  16. Pingback: MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  17. Pingback: MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA (1996) | Tengkuputeh

  18. Pingback: PEREMPUAN ACEH FULL POWER | Tengkuputeh

  19. Pingback: TSUNAMI | Tengkuputeh

  20. Pingback: PERADABAN TANPA TULISAN | Tengkuputeh

  21. Pingback: ACEH DI MATA KOLONIALIS | Tengkuputeh

  22. Pingback: PERANG ACEH KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  23. Pingback: NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  24. Pingback: MELUKIS SEJARAH | Tengkuputeh

  25. Pingback: SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 | Tengkuputeh

  26. Pingback: ACEH SEPANJANG ABAD | Tengkuputeh

  27. Pingback: PARA PENYEBAR KEBOHONGAN | Tengkuputeh

  28. Pingback: PERANG DI JALAN ALLAH | Tengkuputeh

  29. Pingback: EMAS, KAFIR DAN MAUT | Tengkuputeh

  30. Pingback: ACEH DAERAH MODAL | Tengkuputeh

  31. Pingback: GAM CANTOI TIADA | Tengkuputeh

  32. Pingback: MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN | Tengkuputeh

  33. Pingback: SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT | Tengkuputeh

  34. Pingback: 59 TAHUN ACEH MERDEKA Dl BAWAH PEMERINTAHAN RATU | Tengkuputeh

  35. Pingback: 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU | Tengkuputeh

  36. Pingback: KERAJAAN ACEH JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) | Tengkuputeh

  37. Pingback: PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  38. Pingback: PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH | Tengkuputeh

  39. Pingback: MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  40. Pingback: ATJEH MENDAKWA | Tengkuputeh

  41. Pingback: MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH | Tengkuputeh

  42. Pingback: BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH | Tengkuputeh

  43. Pingback: EKSPLORASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH | Tengkuputeh

  44. Pingback: EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH | Tengkuputeh

  45. Pingback: AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH | Tengkuputeh

  46. Pingback: TARIKH ACEH DAN NUSANTARA | Tengkuputeh

  47. Pingback: PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH | Tengkuputeh

  48. Pingback: PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s