PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH

10. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16; Oleh Muhammad Gade Ismail

PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16

PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16; Oleh Muhammad Gade Ismail; Penyunting Susanto Zuhdi; Koreksi Sejarah Soejanto; Diterbitkan oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional; Jakarta; 1993; Dicetak oleh CV. Manggala Bhakti.

Free Download Buku PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16

Pasai Dalam Perjalanan Sejarah – Awal abad ke-13 sampai ke-16 – Muhammad Gade Ismail -1993

Review Buku PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16

Buku ini memuat uraian tentang Pasai pada awal abad ke-13 sampai awal abad ke-16 baik mengenai letak geografisnya, kedudukannya dalam jaringan perdagangan antarbangsa maupun peranannya sebagai pusat persebaran agama Islam di kawasan Selat Malaka.

Lokasi Kerajaan Samudera Pasai di Pulau Sumatera

Sebagai salah satu pusat persebaran agama Islam di Asia Tenggara, pembahasan Pasai dikaitkan dengan aktivitas perdagangan yang berlangsung di kawasan Selat Malaka. Dengan demikian zona kawasan Selat Malaka dipandang sebagai satu kesatuan, di mana Pasai berada dalam sistem tersebut.

Kerajaan Pasai muncul pada akhir abad ke-13, ketika hegemoni Sriwijaya menjadi hancur. Perkembangan pusat-pusatpolitik di kawasan Selat Malaka berkaitan erat dengan faktor- faktor internal dan eksternal. Kondisi alam dan letak geografis memberikan andil besar dalam menentukan perkembangan sesuatu pusat politik itu. Di samping itu, faktor eksternal berupa kegiatan perdagangan yang berskala internasional dan keadaan pusat-pusat politik yang ada di sekitar kawasan Selat Malaka juga menentukan perkembangan sesuatu pusat politik.

Dilihat pada faktor internal, Pasai memiliki potensi dasar bagi perkembangannya sebagai bandar perdagangan, pusat politik, dan pusat dakwah Islam di kawasan Asia Tenggara.

Pasai yang berlokasi pada daerah subur di pesisir utara Pulau Sumatera, di lembah sungai merupakan pusat pemukiman penduduk yang cocok. Tanah yang subur memberikan hasil bahan makanan yang cukup. Hubungan ke pedalaman yang dimungkinkan oleh adanya sungai-sungai memberikan dinamika tersendiri dalam arti perdagangan dengan daerah pedalaman. Dalam keadaan demikian, Pasai yang berada pada muara sungai mempunyai potensi besar untuk berkembang sebagai Bandar perdagangan.

Faktor internal yang disebutkan ditambah lagi oleh faktor eksternal yang berasal dari luar Pasai menyebabkan bandar itu dapat berkembang secara lebih luas. Ke dalam faktor eksternal ini, arus kedatangan para pedagang yang terlibat dalam perdagangan jarak jauh antara Arab dan Cina memberikan stimulus besar bagi perkembangan bandar itu selanjutnya.

Jalur Sutera (laut dan Dararatan) sebagai alur perdagangan kuno antarbangsa

Terdapat dua alasan Pasai terlibat dalam jaringan perdagangan antarbangsa. Pertama, karena letaknya pada jalur perdagangan internasional antara Arab dan Cina. Jarak pelayaran yang begitu jauh antara kedua tempat itu menjadikan Pasai sebagai tempat singgahan, apa lagi karena pengaruh angin musim yang mengharuskan mereka berdiam di Pasai untuk menunggu angin yang cocok untuk arah pelayaran.

Alasan kedua ialah karena Pasai menghasilkan komoditi yang dibutuhkan oleh permintaan pasar internasional pada waktu itu, terutama hasil lada. Selain hasil daerah itu sendiri beberapa jenis barang lainnya yang berasal dari Cina juga dapat dibeli oleh pedagang asing di bandar ini.

Dari kegiatan perdagangan yang melibatkan Pasai dalam jaringan antarbangsa, menyebabkan bandar ini muncul sebagai pusat kekuasaan dan dakwah Islam di kawasan Asia Tenggara.

Selat Malaka yang menjadi jalur perdagangan menjadi penting dikuasai oleh penguasa-penguasa yang tumbuh di kawasan itu, baik yang berada di pesisir sebelah barat maupun yang berada di pesisir timur selat itu. Jatuh-bangunnya pusat-pusat kekuasaan itu amat dipengaruhi oleh keberhasilan dominasi mereka terhadap lalu-lintas perdagangan. Keadaan ini juga mengakibatkan munculnya konflik yang berkepanjangan antara kekuatan-kekuatan itu.

Kekuasaan dominasi politik di kawasan Selat Malaka pada akhir abad ke-13 karena runtuhnya kekuasaan Sriwijaya, memberikan peluang yang besar bagi Pasai untuk mengembangkan diri. Munculnya pusat politik dan perdagangan baru yaitu Malaka pada abad ke-15, adalah faktor yang menyebabkan Pasai mengalami kemunduran. Hancur dan hilangnya peranan Pasai dalam jaringan antarbangsa, ialah ketika suatu pusat kekuasaan baru muncul di ujung barat Sumatera yakni Kerajaan Aceh Darussalam pada awal abad ke-16. Pasai ditaklukkan dan di- masukkan ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah.

Selama masa kejayaannya, Kerajaan Pasai selain berfungsi sebagai bandar perdagangan, juga menjadi pusat dakwah Islam. Fungsi yang demikian juga berkaitan erat dengan kedudukan Pasai dalam jaringan antarbangsa. Dari kegiatan perdagangan, Kerajaan Islam menjadi kerajaan Islam di Indonesia, dan dari kegiatan perdagangan pula Kerajaan Pasai mengembangkan fungsinya sebagai pusat penyiaran agama Islam. Dengan cara ini ditambah juga dengan ikatan perkawinan, Pasai berpengaruh besar dalam proses islamisasi kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara.

Kedudukan Pasai dalam suatu kesatuan di kawasan Selat Malaka menyebabkan pengaruh-pengaruh yang melanda kesatuan Selat Malaka juga berpengaruh terhadap bagian Kerajaan Pasai. Dari perjalanan sejarah Pasai antara akhir abad ke-13 sampai awal abad ke-16, memang menunjukkan bahwa muncul, berkembang, dan runtuhnya kekuatan Pasai amat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di luar Pasai, tetapi dalam kesatuan zona kawasan Selat Malaka.

Sejak dahulu Pulau Sumatera dikenal juga sebagai Pulau Emas. Berikut Lokasi Daerah Emas di Pulau Sumatera sebagaimana dicatat oleh para pelancong dari berbagai bangsa yang pernah singgah di Pulau ini mulai dari abad ke-13.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Download, E-Book, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH

  1. Pingback: TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA | Tengkuputeh

  2. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  3. Pingback: MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  4. Pingback: KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s