LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG

Lokasi Istana Kerajaan Aceh Dulu dan Sekarang; Peta yang dibuat Belanda tahun 1874 (kiri) dan kondisi peta Google tahun 2020 (kanan); yang dilingkari merah pada peta Google adalah perkiraan lokasi Istana Kerajaan Aceh Dulunya.

LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG

Hari ini adalah lanjutan dari kemarin, ungkapan ini memberi pengertian antara lain bahwa sejarah masa lalu tidak berdiri sendiri, merupakan mata rantai peristiwa yang bersambung terus menerus yang akan bersambung terus.

Sejarah membuat kita mengembara ke masa lampau, ke hari-hari, tahun-tahun yang telah berlalu, mempunyai kegunaan yang sangat bermanfaat karena di satu pihak memperkenalkan manusia di zamannya, dan di pihak lain ia memberi arah kepada manusia yang hidup hari ini.

Salah satu yang mendorong penulis membuat penelitian sederhana ini karena setiap kali melangkah pada wilayah yang pernah memiliki kerajaan-kerajaan kuno pasti memiliki petilasan. Terutama adanya istana di mana kerajaan itu pernah berdiri.

Menurut catatan-catatan asing Kesultanan Aceh Darussalam dahulu memiliki istana yang sangat gemilang, Daruddonya yang kemasyhurannya tercatat dalam tinta emas. Namun sekarang istana tersebut seolah tidak memiliki jejak sama sekali hari ini. Dimanakah Istana itu dahulu pernah berdiri?

ISTANA KESULTANAN ACEH MENURUT CATATAN PETUALANG SEBELUM ABAD KE-19

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

Dahulu kala kita mengetahui betapa Kesultanan Aceh Darussalam memiliki kekuatan dan kewibawaan di mata bangsa-bangsa asing. Ekspedisi armada lautnya diatur dengan kebijaksanaan terpadu, perniagaan berkembang. Pada paruh pertama abad ke-17 perkembangan budaya sangat besar.

Istana diperindah, kemewahan pengiring raja besar jumlahnya, kesusastraan berkembang pesat1). Istana yang dalam Hikayat Aceh disebut dengan nama “Dalam Daruddonya” adalah pusat perayaan, pusat segala kebudayaan.

Bagian dari tembok di sisi selatan kraton kondisi tahun 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Kota Goenoengan dilihat dari Kraton; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Kita baru menyadari betapa hebatnya dan betapa mewahnya Dalam itu jika membaca kisah-kisah abad ke-17. Saat ini sudah tidak ada apa-apa lagi. Pada akhir abad ke-19 pun, sebelum kehancuran akibat Perang Aceh, istana sudah banyak kehilangan kebesarannya dahulu. Sesudah kemenangan Belanda, istana dihancurkan, habislah riwayatnya. Bangunan-bangunan yang tersisa ditempatkan pasukan militer dan Dalam lama dijadikan tangsi KNIL. Nama Dalam itu pun nama sebenarnya yang digunakan oleh orang-orang Aceh diganti pada peta-peta dan dokumen-dokumen resmi dengan nama “Kraton” kata yang sebelumnya tak dikenal di bagian utara Sumatera.

Peta Kraton Aceh versi Belanda 1874

Peta Kraton Aceh versi Belanda tahun 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Salah satu peta yang dibuat oleh orang Belanda untuk kepentingan ekspedisi mereka hanya memungkinkan kita melihat bahwa Dalam itu letaknya di sebelah barat daya tempat pemukiman sekarang, dan bahwa arahnya kira-kira utara-selatan2). Dari bangunan-bangunan dahulu hanya Gunongan dan pinto Khob yang masih ada, ditambah makam-makam raja untuk sebagian masih asli.

Pada zaman Snouck Hurgronje, Dalam itu tempatnya di tengah-tengah kota, menjadi inti daerah yang dikenal dengan nama “Banda Aceh”, yang dikelilingi gampong-gampong lainnya. Pada awal abad ke-17, Dalam itu letaknya masih jauh dari tempat pemukiman yang sedikit demi sedikit meluas ke selatan dan pada akhirnya mengelilinginya. Davis pada tahun 1599 menulis : “His court is from the citie halfe a mile upon the river.” Satu setengah abad kemudian ditemukan petunjuk bahwa Dalam raja terletak di tengah-tengahnya benar.3)

Petualang Perancis, Beaulieu memiliki peluang untuk mengunjungi bagian Dalam yang boleh didatangi umum memberikan gambaran dari tempat-tempat masuk ke Dalam dan pertahanannya sebagai berikut: “Kelilingnya lebih dari setengah mil, bentuknya hampir bulat bujur, dan sekelilingnya ada parit yang dalamnya 25 sampai 30 kaki (10 Meter) dan sama lebarnya, agar sukar dilalui karena terjal dan penuh semak. Tanah galiannya dibuang kearah istana sehingga merupakan tembol, diatasnya ditanami bambu, buluh besar yang tumbuh setinggi pohon frene dan tegak dan tebalnya sedemikian rupa sehingga tak tertembus pemandangan, bambu itu selalu hijau dan tak termakan api.”4)

Dilarang keras mengintip dari benteng itu atau menerobosinya. Barang siapa berani “memangkas sebagian dari dalam atau dari luar” dihukum mati, Beaulieu menceritakan kesialan salah seorang utusan dari Aceh ke negeri Belanda pada tahun 1602 dan yang karena lupa kebiasaan negerinya, mematahkan sebuah batang dari bambu itu, raja seketika itu menyuruh menggoroknya.

Tanah berbenteng itu bisa dimasuki dari sejumlah pintu, enam buah menurut Dong xi yang kao5), empat menurut Beaulieu. Pintu utama yang menurut peta sekarang mestinya pintu utara yang menghadap ke kota, di atasnya ada “tembok kecil dari batu setinggi 10 sampai 12 kaki (sekitar 3,5 meter) untuk menyangga serambi dengan dua pucuk meriam perunggu pada kedua belah pintu yang diarahkan kepada orang yang hendak masuk.” Pintu-pintu tersebut tidak terbuat dari papan, tetapi dari balok susun setinggi temboknya, terbuat dari kayu yang cukup kuat dan ditutup dari dalam selain dengan gerendel juga dengan dua palang melintang besar yang masuk ke dalam tembok dan ditutup dari dengan menggunakan kunci.

Setiap pagi dan malam, waktu-waktu tertentu pintu istana dibuka, raja menyuruh bunyikan meriam. Itulah hak istimewa yang dianggapnya haknya seorang raja, masih dapat dipertahankan sampai akhir abad ke-19. Ketika Peter Mundy singgah di Aceh pada tahun 1637, dilihatnya bahwa salah satu dari meriam yang ditempatkan di pintu masuk itu adalah hadiah “Raja James” dahulu.6)

Melalui pintu masuk yang besar inilah orang asing masuk ke dalam istana, apabila mereka diundang ke Dalam, suatu hal yang tidak selalu terjadi. Di bagian dalam, pelataran-pelataran dan bagunan-bangunan diatur pada kedua tepi sungai kecil yang “turun dari pengunungan” dan yang airnya “yang dingin dan jernih sekali” memeriahkan berbagai bagian Dalam itu. Di atas peta kota sekarag pun masih mudah dapat dilihat lintasang Krueng Daroy itu yang datang dari selatan, membelah keluasam Dalam menurut panjangnya lalu bermuara ke Sungai Aceh. Dahulu sungai kecil yang bergulung-gulung itu mengalir lebih ke sebelah barat. Sultan Iskandar Muda yang memerintahkan membendung airnya, memindahkan aliran ke hulu sehingga melintasi Dalam yang pada waktu itu sedang diperbaiki. Kejadian itu terjadi pada tahun 1613 karena menurut Best pekerjaannya berlangsung selama 20 hari sewaktu ia tinggal di Aceh. Tepi-tepinya atas perintah raja dipasang baik-baik: “dan dibuat berundak-undak sehingga orang dapat turun sampai ke bawah untuk mandi.”7)

Peta Aceh untuk keperluan militer; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Selain catatan petualang Eropa, kisah pengerukan sungai sehingga membentengi istana (Dalam) juga masih diingat oleh orang Aceh melalui tradisi oral, kawasan yang dikeruk tersebut dicoret di peta oleh Sultan Iskandar Muda. Daerah-daerah yang dicoret tersebut dikenal dengan kawasan “Geuceu” yang dalam bahasa melayu berarti “dicoret”.

Hanya sedikit keterangan yang diberikan oleh para petualang Eropa mengenai ruang-ruang yang dimaksudkan untuk kehidupan umum dan yang letaknya pada ujung-ujung pelataran ketiga tadi. Mereka mengatakan ada “pintu yang berlapis bilah-bilah perak”, “ruang besar” pertama “tempat mereka meninggalkan sepatu mereka”, akhirnya balai penghadapan besar “yang jauh lebih tinggi” dan “yang dinding-dindingnya dilapis kain emas, beludru dan kain damas”8) Di tempat itulah Sultan menerima pemberian-pemberian mereka, lalu menjamu mereka dengan hidangan makan yang mewah, disambung dengan tontonan tarian.

Taman Putroe Phang tahun 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Kediaman-kediaman pribadi tidak bisa diketahui kembali letak sebenarnya. Di situ terdapat balai larangan kediaman putri-putri, di sana pula barangkali terdapat harta karun yang diceritakan oleh Beaulieu tapi tanpa memberikan lokasinya yang tepat, ruang-ruang tersebut banyak sekali yang kalau dikunjungi dengan teliti, akan makan “enam hari berturut-turut” isinya senjata yang halus pekerjaannya, baju bersulam emas, peniti dari emas juga batu-batu permata yang nilainya tiga intan yang boleh jadi masing-masing 15 sampai 20 karat, dua batu delima besar sekali dan sebuah zamrud yang batu-batu ini diperoleh sewaktu penaklukkan Perak, salah satu batu yang paling indah yang saya (Beaulieu) kira dapat ditemukan di dunia.4)

LEBURNYA ISTANA KERAJAAN ACEH

Sejak 7 Januari 1874, Belanda mengepung Dalam. Tak bisa dibayangkan bagaimana kesanggupan orang Aceh menghadapi 12.000 serdadu dengan perlengkapan senjata yang unggul sampai akhirnya 24 Januari 1874, Belanda mengepung dan menyerang habis-habisan sebelum merebut Istana.

Atas nasihat Teuku Nek Meraksa dilakukan gerakan mengitari, dan akhirnya menduduki istana. Panglima tertinggi Van Swieten memerintahkan musik staf memainkan Wien Neerlands Bloed (Siapa berdarah Belanda). Perintah harian kepada pasukannya disusun dalam gaya militer terbaik, “Kraton telah kita kuasai, dan rakyat Aceh yang angkuh terpaksa menyerah kalah terhadap kegagah beranian dan keahlian perang kita.”9)

Peta Banda Aceh dan sekitar zaman Belanda; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Tentara Belanda (KNIL) di gudang mesiu dan rumah sultan di dalam Kraton; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Belanda menyangka sukses merebut Dalam merupakan kemenangan gemilang, setelah sedemikian banyak jatuh korban. Segera ia mengirim telegram ke Batavia “24 Januari Kraton is ons stop koning en vaderland gelukgewenscht met onze overwinning.” (24 Januari keraton adalah milik kita titik raja dan tanah air diucapkan selamat kepada kemenangan).

Proklamasi Kemenangan Belanda oleh pemimpin ekspedisi Perang Aceh Letnan Jenderal Van Swieten pada 28 Januari 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Pada tanggal 28 Januari 1874, Van Swieten membuat proklamasi. Maklumat ini antara lain menyatakan bahwa Belanda telah berhasil merebut Dalam dan karena itu dengan hak menang perang, seluruh Aceh dibawah kedaulatan Belanda. Seluruh harta benda Sultan dan para kerabatnya menjadi milik Belanda (tentara KNIL). Itulah sebabnya jika kita melihat asrama tentara (sekarang) di Koetaradja (Banda Aceh) awalnya adalah tanah milik Sultan/kerabatnya dulu.

Waktu itu para pejuang Aceh telah mengosongkan Dalam secara besar-besaran, pertama karena wabah kolera dan kedua dengan tujuan mengepung guna segera menyerang balik musuh dari semua jurusan.10)

Ketika menyadari perlawanan Aceh belum padam, Van Swieten melaporkan kembali ke Batavia melalui telegram: “Panglima Polim en Sultan schijnen den strijd te willen voortzetten” (Panglima Polim dan sultan nampaknya berniat meneruskan perlawanan).

Perang Aceh pun berlanjut puluhan tahun ke depan, dan sejak saat jatuhnya Dalam ke tangan Belanda proses penghancuran istana telah dilaksanakan, sehingga saat ini sulit ditemukan jejaknya lagi oleh kita.

Index/Daftar Keputakaan :

  1. Sir R.O. Winstedt; History of Malaya;Singgapura; 1962.
  2. Denys Lombard; Le sultanat d’Atjeh au temps d’Iskandar Muda (1607-1636); Paris; 1967.
  3. Davis (Jhon); A biefe Relation of Master Jhon Davis, chiefe pilot to the Zelanders in their East India Voyage, departing from Middleborough the fifteenth of March, Anno 1598; London; 1625.
  4. Beaulieu (Augustin de); Relation de I’estat present du commerce des Hollandais at des Portugais dans les Indes Orientales; memoires du voyage aux Indes Orientales du General de Beaulieu; Paris; 1664-1666.
  5. Zhang Xie, Dong xi yang kao; Taiwan; 1962.
  6. Mundy (Peter); The Travels of Peter Mundy in England, Western India, Achen, Macao, and The Canton Province, 1634-1637; London; 1919.
  7. Best (Thomas); The Voyage of Best to the East Indies 1612-1614; London; 1934.
  8. Lancaster (Sir James); The Voyage of Sir James Lancaster to Brazil and the East Indies, 1591-1603; London; 1940.
  9. Paul Van ‘T Veer; De Atjeh-Oorlog; Amsterdam; 1979.
  10. Muhammad Said; Aceh Sepanjang Abad; Medan; 1961.
  11. Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  2. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  3. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  4. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  5. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  6. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  7. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  8. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  9. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  10. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  11. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  12. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  13. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  14. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  15. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  16. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  17. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  18. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  19. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  20. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  21. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  22. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  23. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  24. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  25. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  26. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  27. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  28. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  29. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  30. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  31. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  32. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  33. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  34. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  35. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  36. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  37. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  38. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  39. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  40. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  41. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  42. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  43. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  44. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  45. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  46. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  47. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  48. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  49. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  50. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  51. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  52. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  53. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  54. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  55. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  56. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  57. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  58. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  59. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG

  1. Pingback: MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARUDDONYA | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.