SIAPA ORANG ACEH SEBENARNYA

SIAPA ORANG ACEH SEBENARNYA

Siapa Orang Aceh Sebenarnya: Sebuah baliho berdiri tegak di depan Dinas Budaya dan Pariwisata Aceh. Didirikan menyambut Pekan Kebudayaan Aceh VII yang akan berlangsung 5-15 Agustus 2018. Abu tersentak, sebuah kenangan melintas memarkirkan motor Shogun 125 dan mengambil foto. Sebuah bayangan masa lalu tergambar jelas di kepala Abu, setelah bertahun-tahun tersimpan dalam sudut berlumut di antara trilyunan sel-sel otak ini. Sebuah cerita yang sebenarnya mungkin tidak akan teringat kembali.

Siapa Orang Aceh Sebenarnya: Baliho menyambut Pekan Kebudayaan Aceh VII yang akan berlangsung 5-15 Agustus 2018.

Waktu itu tahun 2001 awal millennium ini, dikampung kami ada seorang “putoh kawat1) desas-desus mengatakan dia menjadi gila karena dipukul tentara, tapi kabar burung lain mengatakan dia selaku bujangan tua, waktu itu 40 tahun ditinggal kawin pacarnya. Sebagai orang gila, Bang Pon namanya, dijauhi warga bukan karena berbahaya melainkan terlalu banyak bicara. Mengenai majenunnya sendiri Abu tak pernah tahu kebenarannya karena gosip seperti kurap dan panu, menyebar kemana-mana tanpa bisa dibedakan yang mana kurap dan yang mana panu.

Waktu itu selepas Magrib berjamaah, Abu mengendap-endap ke sebuah pekuburan untuk merokok sebatang-dua batang. Disana, tempat yang biasanya dijauhi warga pada malam hari, Abu bersembunyi menghisap rokok, hasil menghemat uang jajan di sekolah, itu semua untuk menghindari dari mata-mata ayahanda melepaskan asap dari hidung menunggu azan Isya. Hantu? Tidak ada itu, Abu lebih takut ketahuan oleh ayahanda, bisa kena libas dengan ranting batang kuda-kuda.

Dibawah pokok sirsak itu, Abu asyik sendiri. Tiba-tiba ada yang memegang pundak Abu dari belakang, sial pikir Abu tanpa menoleh kebelakang. Hari ini kena batunya, pasti tertangkap merokok. Abu sedikit ketakutan, lalu mendengar suara. “Abu, aku ketiduran dari sore. Mulutku masam, bagi rokokmu lah!”

“Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullah.2) Ternyata Bang Pon di belakang Abu tadi. Tidak ikhlas Abu membagi sebatang, padahal rokok Abu cuma dua batang. Kami pun merokok bersama di pekuburan itu, Bang Pon mulai mengoceh, pehtem hana mupat punca3), berbicara kesana kemari. Mengkritik Gusdur, Megawati, Amien Rais sampai Pak Keuchik4), membahas sejarah, ekonomi dan politik. Terus terang orang ini harus diakui terlalu banyak bicara, tapi untuk ukuran orang sinting dia pintar juga. Mungkin kegilaan dan kejeniusan adalah hal yang dekat.

Tapi sebagaimana saran orang-orang kampung, kalau bertemu dengan bang Pon, apalagi ketika ia sedang berorasi lebih baik diam saja, atau menganguk saja. Kalau tidak ceramahnya bisa sampai Shubuh, dan ia akan mengalahkan Quraisy Shihab dalam bercerita.

“Abu!”

“Iya bang.”

Siapa sebenarnya orang Aceh?”

Abu angkat bahu saja, selain malas berbicara, juga kesal karena 50 persen devisa rokok Abu diembatnya.

“Inilah anak zaman sekarang, belajar ke sekolah tapi tidak tahu apa-apa.”

Abu diam saja, soalnya belum gila untuk mendebat orang gila.

“Aku bilang sebuah rahasia, orang Aceh tidak ada lagi, semuanya sudah mati. Mati dibunuh oleh Belanda!”

“Lha, kalau begitu kita siapa?” Abu kelepasan, kelepasan gila seperti bang Pon.

“Orang-orang Aceh yang sejati, semua sudah mati dalam perang melawan Belanda. Dahulu kita maju karena mereka, lihatlah sekarang kita ini miskin! Kita ini adalah kerak-keraknya, budak-budaknya, kita semua selamat karena nenek-nenek kita ketakutan dan memilih kabur ketika melawan Belanda!”

Abu bantah dengan teori Darwin, “Tapi bang Pon kata buku pelajaran, makhluk yang paling keren itu bukanlah yang paling kuat, pintar, perkasa tapi mereka yang mampu bertahan hidup.”

“Kalau itu yang kau bilang, berarti makhluk yang paling keren adalah kecoak! Buku apa yang kau baca? Biologi? Dasar pa’ak5)! Baca sejarah tolol!” Dia marah dan membanting rokok yang Abu bagikan kepadanya, sayang padahal masih ada 15 persen lagi.

Kalau saja Abu tidak mengingat bahwa bang Pon itu gila, sudah Abu tinju dia karena mengatakan Abu tolol. Tapi tidak itu saja ding, dia tingginya dua kali lipat Abu. Suasana dipekuburan itu panas, kami saling menatap penuh kemarahan, siap saling melemparkan ujaran kebencian.

Azan Isya menggema di udara, membuat suasana tegang perlahan sejuk.

“Abu udah azan shalat sana!” Perintahnya. Ia merapikan sarung dan berbaring di bawah pokok Sirsak itu.

“Enak saja menyuruh-menyuruh, abang kemana? Tidur?”

Dia tertawa, “Abu kau waras, aku gila bebas tidak shalat. Sana pergi shalat! Jangan sampai kita nanti tidak ketemu di surga!”

Kampret, tak perlu kali rasanya Bang Pon harus menyindir Abu yang waras, bahwa ia yang gila secara Fiqh dijamin masuk surga. Seumur hidup baru kali ini ada orang gila yang bangga dengan kegilaannya. Abu pun insaf, mengapa sedari tadi berdebat dengan orang gila, jadi sama gilanya seperti dia. Kesal Abu meninggalkan dia menuju meunasah6).

Belum puas dia meneriaki Abu. “Kalau kau sudah banyak membaca buku sejarah, dan kau sudah sedikit lebih pintar, coba buktikan aku salah. Berikan aku jawaban!”

Setengah menggerutu Abu menjawab. “Iya nanti saya cari abang, tapi kalau abang masih hidup.”

Abu mendengar dia tertawa keras penuh kemenangan.

Malam itu adalah pertemuan kami yang terakhir, selang beberapa hari kemudian ia mengejar Pak Keuchik dengan parang seraya meneriakinya sebagai pemimpin zalim. Karena dianggap telah menjadi orang gila yang berbahaya maka segera ditangkap oleh  warga dan diserahkan, untuk dijebloskan ke Rumah Sakit Jiwa. Setelah hari itu Abu tidak pernah bertemu lagi dengan Bang Pon.

Tahun 2004, beberapa tahun kemudian tersiar kabar bang Pon berhasil kabur dari Rumah Sakit Jiwa, ia berlari kearah laut. Kata-kata orang gilanya Bang Pon bertambah parah, ketika kabur dengan beringas, kabarnya dia berteriak Allah S.W.T nanti akan menjemputnya dengan penuh kasih sayang di tepi pantai. Banyak yang menertawakan dia, selama beberapa minggu dia berkeliaran di tepi pantai. Dengan rambut dan janggut panjang ia berkeliaran bahkan masuk hutan dekat pantai untuk menghindari pengejaran orang-orang yang dianggapnya ingin menangkap dia untuk di bawa kembali ke Rumah Sakit Jiwa, kadang-kadang kata orang turun gunung untuk dia mengemis makanan orang-orang disekitar pantai. Entah mengapa, hati Abu tidak tergerak untuk melihatnya, padahal jarak kampung kami dengan pantai tidak terlalu jauh, hanya 6 kilometer saja.

Seorang teman Abu, bohlalat pernah berjumpa dengannya ketika bertamasya ke pantai. Kata Bohlalat dia menanyakan kabar Abu, hampir saja Abu tergerak menemuinya tapi tidak jadi karena bohlalat menyampaikan pertanyaan bang Pon, “sudah pintar si Abu? Sudah bisa dia menjawab pertanyaan aku dulu? Bilang sama dia jangan terlalu lama bodohnya, waktu tidak menunggu.” Orang gila ini memang memiliki ingatan kuat, tapi tetap saja gila belum berubah.

Tapi ternyata waktu memang tak menunggu. 26 Desember 2004, hari bersejarah itu tiba. Tsunami melantak Aceh, kampung kami selamat. Tepat di depan gerbang kampung kami, gelombang dasyat itu berhenti membawa sampah-sampah material, mayat-mayat dan beberapa orang yang selamat menggelepar bagai ikan gabus terloncat ke darat.

Tiga empat bulan kemudian, dari orang-orang yang selamat dipinggir pantai ada cerita, ketika gelombang maha dasyat itu datang, ada seorang yang berjanggut panjang, seperti Forest Gump7) versi tersesat di pulau katanya, berlari kearah amukan badai tertawa bahagia menyongsong tsunami dengan kerinduan amat sangat, Bang Pon pikir Abu, pasti dia, tidak ada orang gila lain yang cukup gila untuk menyongsong air bah itu. Luar biasa kau bang, luar biasa gila, sebuah cemooh sekaligus ungkapan kekaguman.

Abu mengemas barang, SK sudah ditangan, Abu berangkat ke Lhokseumawe untuk melaksanakan tugas. Ada banyak perasaan berkecamuk saat itu, di tengah perjalanan, setelah menyantap sate matang yang legendaris itu, tiba-tiba satu kenangan melintas.

“Jangan sampai kita tidak bertemu di surga!” Kurang ajar kau bang, Abu tersenyum. Tahun demi tahun berlalu, akhir 2011 Abu kembali diperintahkan SK untuk pulang kembali ke Banda Aceh. Tahun-tahun berjalan lagi, sebenarnya Abu sudah melupakannya, sampai baliho itu mengingatkan kembali. Sebuah pertanyaan atau pernyataan yang belum terjawab.

Seluruh ilmu, pengalaman, pengetahuan akan AKU curahkan kali ini, dan sialnya ini terjadi hanya gara-gara sebatang rokok di tahun 2001 itu. Awas kau bang! Akan kujawab pertanyaanmu, dengan lucu tentunya, sampai kau di surga sana terpingkal-pingkal tertawa jadinya.

(Bersambung)

Index:

  1. Putoh kawat = Bahasa Aceh, untuk putus syaraf atau gila;
  2. Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullah = Syahadat;
  3. Pehtem hana mupat punca = Bahasa Aceh, berbicara tidak jelas ujung pangkal;
  4. Keuchik = Bahasa Aceh, Kepala Desa;
  5. Pa’ak = Bahasa Aceh, Bodoh keterlaluan; Tolol berat;
  6. Meunasah = Bahasa Aceh, Langgar; Mushalla;
  7. Forest Gump versi tersesat di pulau = Tom Hank dalam Cast Away tahun 2000.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to SIAPA ORANG ACEH SEBENARNYA

  1. Miksalmina says:

    Bagus ‘kali tulisannya bang, provokatif sekaligus introspektif.

  2. Pingback: PEREMPUAN ACEH FULL POWER | TengkuputehTengkuputeh

Leave a Reply