REFLEKSI 12 TAHUN BERSAMA SHOGUN 125

Ada gembira dan sengsara yang hanya pernah kita nikmati berdua saja, ada banyak orang-orang yang pernah kita temui, ada banyak tempat yang tak terbayangkan pernah kita datangi. (Shogun 125)

REFLEKSI 12 TAHUN BERSAMA SHOGUN 125

Barang siapa yang pernah hadir dalam hidup Abu selama dua belas tahun terakhir ini, baik itu sekejap, sebentar atau lama. Baik dalam posisi masih bertemu ataupun tidak pernah bertemu lagi pasti mengenali dia. Siapakah dia? Coba ingat-ingat siapakah yang selalu menemani Abu selama dua belas tahun terakhir? Tepat sekali dia adalah Shogun 125 berwarna biru yang selama ini Abu tunggangi. Tunggangi? Emangnya kuda.

Abu merasa tergelitik ketika seorang teman yang sama-sama pernah bertugas di KPP Pratama Lhokseumawe kemudian dimutasi ke KPP Pratama Banda Aceh, kemudian ditempat parkir kami bertemu, dia terkejut melihat Abu masih dengan Shogun 125 ini dan berkata, “Abu, kamu masih menggunakan motor ini? Aku sejak pertama kali bertemu (2008) dengan kamu sudah 3 kali ganti motor kamu masih pakai yang ini?”

Wah teman Abu yang ini tidak tahu, bahwa Abu bersama Kapal Biru, julukan Abu untuk Shogun 125 ini sudah sejak 2005, tepatnya Desember 2005.

Ada banyak komentar perbandingan tentang Kapal Biru dari berbagai sahabat dan handai tolan.

Yang paling senang Abu dengar. “Abu dulu aku ketika bertemu dengan kamu dengan Shogun biru ini masih mengendarai motor, sekarang Alhamdulillah sudah dengan mobil.”

Yang paling sedih Abu dengar. “Abu dulu aku ketemu dijalan raya dengan kamu bersama shogun itu, aku menggunakan mobil tapi nasibku sekarang Kita bertemu sama-sama naik motor.”

Dan yang paling aneh adalah. “Abu dulu aku bertemu denganmu bersama motor ini masih belum menikah, terus menikah, terus punya anak, kemudian cerai lalu menikah lagi, sekarang dari istri kedua mau punya anak lagi, lha kamu begitu-begitu saja je.” Ini komentar paling busyet. Lha, kenapa dibandingkan kenderaan Abu dengan perjodohan kawan tersebut.

Ada banyak perbandingan lain yang diungkapkan oleh teman-teman, handai tolan. Tapi Abu meyakini setiap orang yang bertemu dengan Abu pasti mengeluarkan perbandingan masing-masing, mungkin lebih banyak tidak mengatakan secara langsung. Hanya lewat pikiran saja, disimpan saja takut Abu tersinggung.

Menurut teman-teman secara garis besar, Shogun 125 biru itu menjelaskan keadaan nasib hidup Abu yang biasa-biasa saja, datar-datar saja dan disitu-situ saja. Orang sudah ke bulan dengan Apollo, tapi Abu masih berada di Abad ke-7 M, begitulah bisik seorang teman.

Benarkah begitu? Tidak juga perjalanan Abu bersama Shogun 125 ini sudah menjangkau separuh Aceh. Dari perbatasan Aceh Utara dan Aceh Timur sampai Aceh Selatan. Itu sebuah kebanggaan yang tak terperikan bagi Abu. Ada banyak belantara rimba kami tempuh, gunung-gunung perkasa yang pernah kami taklukkan yang dalam hidup ini, dan dunia yang bergerak ini kami sendiri tidak pernah tahu kapan berakhir.

Atau ada banyak gerimis, hujan bahkan badai yang pernah kami jalani bersama. Dalam gelapnya malam dan teriknya panas, ada perjalanan-perjalanan panjang spiritual yang ada hanya Shogun 125 ini dan Abu, lha siapa yang tahu bahwa kami pernah bercakap-cakap berdua dalam perjalanan gila yang tak terpikirkan oleh siapapun.

Abu bisa mengatakan pada kapal biru secara privat dalam perjalanan bolak-balik kantor sejauh 8 kilometer, “Dua belas tahun aku mengenalmu dan kau mengenalku, waktu aku bersamamu lebih panjang daripada sebagian besar orang-orang yang pernah aku kenal dalam hidupku.”

Orang-orang mengatakan, seseorang (terutama laki-laki) menamai barang miliknya seperti perempuan. Lha, bukankan kromosom laki-laki adalah XY dan perempuan XX, jadi dalam setiap laki-laki pasti ada sifat kewanitaan. Jadi Abu santai saja, mau dibilang apa juga bisa ditangkis kok.

Atau orang-orang mengatakan kalau seseorang berbicara dengan benda, apalagi kenderaannya sendiri adalah ciri-ciri orang gila, maka janganlah lupakan ada orang-orang lain yang berkata pula, kegilaan dan kejeniusan itu beda tipis. Berarti kalau Abu dituduh gila, bisa jadi mereka salah karena kemungkinan Abu ini jenius.

Shogun 125 ini ibarat pusaka Abu. Seperti Arjuna yang memiliki pusaka berupa anak panah Pasopati maka Abu memiliki pusaka berupa kapal biru. Bedanya adalah Arjuna dengan Pasopatinya adalah penakluk wanita sedang Abu dan Kapal Biru bukan penakluk wanita. Ya, terlepas dari segala statistik gemilang diberbagai bidang, Kapal Biru hanya pernah membonceng tiga perempuan saja sepanjang 12 tahun berkarir. Jika Arjuna dengan pusaka Pasopatinya menjadi playboy, Alhamdulillah jika kalian semua memiliki Shogun 125 kalian akan menjadi jomblo, tapi jangan khawatir pemirsa semua, meskikan pun jomblo kalian adalah Jomblo yang fisabilillah. Btw sebagai informasi, untungkah Abu sudah menikah (syukur ada yang mau). Oke, abaikan statistik ngawur ini.

Kapal Biru sebagai kapal tua bisa menjadi penolak bala, misalnya ketika seseorang yang terkenal suka meminjam uang tapi sangat tidak suka mengembalikan, berusaha dengan keras untuk berbincang dengan Abu. Abu orangnya sama teman, meski tidak dekat sungkan menolak sebuah undangan, apalagi jamuan makan.

Hadirlah Abu, ketika dia berjumpa kepada Abu, ia bercerita dengan mendayu-dayu, wajahnya sedih dan penuh air mata maka Abu menangis juga mendengar cerita pendek itu. Kisah teman tersebut lebih mengharukan daripada roman “Tenggelamnya kapal Van der Wijk” sehingga Abu tersentuh. Tapi ketika ia mengutarakan maksudnya, yaitu meminjam uang, yang sudah Abu tebak sedari awal.

Abu menjawab lebih sedih lagi, “wahai sahabatku, engkau mengalami cobaan yang sangat berat dalam hidupmu. Engkau datang padaku memohon pertolongan, aku merasa malu tidak bisa menolongmu. Lihatlah engkau memiliki sebuah mobil, sedang aku yang hina dina ini hanya memiliki sebuah motor tua. Cobalah engkau pikirkan, layakkah aku meludahi langit?”

Dengan segera dia meninggalkan Abu, seraya mengucapkan terima kasih telah mendengarkan curahan hatinya. Alhamdulillah-nya meskipun ia memiliki hubungan buruk dengan sangat banyak teman yang lain, hubungan Abu dengan dia baik-baik saja. Walaupun ada sedikit kekesalan Abu terhadap teman tersebut, dia lupa membayar bill makan-minum kami sejumlah Rp. 36.000,- sempat terpikir kalau diundang semestinya gratis, tapi ya sudahlah Abu bayar saja, ibarat kata meski sudah waspada berjalan kadang ya, terpijak tahi juga.

Banyak orang bertanya-tanya mengapa Abu selama 12 tahun betah dengan si Kapal Biru. Kadang-kadang Abu pun sudah malas menjawab lagi, itu-itu saja pertanyaannya. Ada beberapa sebab antara lain :

  1. Shogun 125 milik Abu ini, yang pada bulan ini genap bertualang selama satu lusin tahun bersama Abu bukanlah motor yang manja. Kehujanan berbulan-bulan tanpa pernah dicuci, servis 3 bulan sekali (kalau ingat), diisi premium, pertalite, pertamax sampai dengan minyak tanah sekalipun dia tidak pernah rewel. Kapal biru benar-benar sebuah motor yang operasionalnya mumpuni. Dia adalah pengejawantahan semboyan V.O.C “Kapal-kapal paling banyak menghasilkan keuntungan adalah kapal-kapal tua!” Akselerasi masih sangat bagus, hanya top speed saja maksimal 90 km/jam, ia tidak mampu lebih daripada itu. Itu sebenarnya sesuai dengan karakter Abu yang tidak suka kebut-kebutan. Cocokkan!
  2. Mesin sampai sekarang sehat wal-afiat, tidak ada oli yang bocor meski sudah melewati batas penghitungan kilometer pada speedometer 99.999 km sejak 3 tahun lalu. Starter sampai sekarang masih hidup, kekurangannya cuma lampu tidak seterang motor-motor terbaru;
  3. Kelistrikan Suzuki memang terkenal lemah, wayer katanya harus diganti setiap 2 tahun sekali. Tapi si Kapal Biru mungkin terlahir special, hanya sekali menganti wayer yaitu tahun 2012. Setelah 7 tahun pemakaian, dan itu sudah 5 tahun yang lalu pemirsa.
  4. Body motornya masih aduhai, meski dia sudah tergolong MILF, eh Cougar malahan. Mungkin karena warnanya tidak terlalu terang. Terus terang Abu mencuci kapal biru sekitar 2 sampai 4 bulan sekali. Jika sudah dicuci maka bodynya bisa kita pakai bercermin. Apa tak elok?
  5. Desain Shogun 125 ini tergolong keren untuk motor bebek sezaman. Kalau dengan motor matic dari model terlama sampai terbaru bukan tandingannya. Desain Shogun 125 ini tergolong klasik, kenapa dikatakan klasik? Karena dia tetap berkelas sepanjang zaman. Kalau mau protes pendapat Abu ini silahkan ke YLKI, masalah keindahan dan estetika itu hak preogatif Abu, camkan itu!
  6. Keamanan Shogun 125 ini juga top, dengan pengaman kunci. Abu pernah berdinas ke Sabang dan meninggalkan dia selama seminggu dipelabuhan, dan bahkan meninggalkan di bandara selama seminggu juga aman. Maka jangan tanyakan ketika dia ditinggalkan di pasar, indomaret dan SPBU dipastikan aman. Beberapa orang sirik ketika Abu mengatakan hal seperti ini mungkin mengatakan, maling mana yang tertarik dengan motor jadul. Abu rasa mereka yang berkata itu tidak meresapi kata-kata Bang Napi. “Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat, tapi juga karena kesempatan maka waspadalah!”
  7. Ada banyak kehebatan-kehebatan kecil lain yang tak mampu Abu uraikan dengan kata-kata, tapi yakinlah Abu yang merasakan kehebatan Kapal biru ini merasa puas, bahkan sangat puas dengan performanya.

Beberapa orang pernah berusaha membeli motor Abu ini, mereka senang dengan kapal biru ini. Umumnya hendak dijadikan becak, atau akan digunakan berkebun. Tugas-tugas berat yang mungkin tidak mampu dilaksanakan oleh motor-motor terbaru. Atas tawaran itu Abu merasa terpuji, terus terang Abu tidak enak juga menolak selalu. Terakhir biasanya Abu katakan, “Kapal Biru ini tidak akan Abu jual, bahkan tidak akan Abu tukar dengan Mobil Hummer sekalipun!” Entah iya ada Hummer mau ditukar dengan Shogun, tapi begitulah kira-kira.

Berziarah ke makam Laksamana Malahayati bersama Suzuki Shogun 125

Abu meyakini tidak ada yang selamanya, suatu hari kami (Abu dan Kapal Biru) mungkin pasti akan berpisah, mungkin karena maut atau hal lain. Namun sekali lagi, di ulang tahun dia yang kedua belas ini, Abu berharap minimal kebersamaan kami masih bersisa 8 tahun lagi, biar genap 2 dekade-lah.

Akhirulkalam, Abu menciptakan sebuah syair untuk memperingati kebersamaan kami selama 12 tahun ini, perkenankan Abu mempersembahkan ini hanya padamu. Seorang kawan dalam susah dan senang.

Dua belas tahun ketika pertama kita bertemu, kita saling jatuh cinta ya, serasa waktu berhenti dan aku masih mengingat saat-saat itu. Kita masih sangat muda saat itu, ku pikir perjalanan kita tak akan sejauh ini, waktu itu aku pikir kita akan segera berakhir 4-5 tahun. Tapi ternyata aku tak bisa tanpamu.

Mengingat belantara rimba yang pernah kita tempuh, tentang gunung-gunung yang pernah kita taklukkan bersama. Dalam dunia yang bergerak ini, kita tak pernah tahun kapan kita akan berakhir.

Dua belas tahun, aku mengenalmu dan dikenali olehmu lebih lama dari sebahagian besar orang-orang yang pernah aku kenal.

Ada berapa banyak gerimis yang pernah kita jalani bersama, siapa yang pernah tahu kisah yang pernah kita bagi bersama. Dalam gelapnya malam, dalam panjangnya perjalanan yang hanya ada aku dan kamu.

Ada banyak gembira dan sengsara yang hanya pernah kita nikmati berdua saja, ada banyak orang-orang yang pernah kita temui, ada banyak tempat yang tak terbayangkan pernah kita datangi.

Love you and wassalam.

XXX

Klik disini untuk Kisah-kisah petualangan Abu yang lain

Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to REFLEKSI 12 TAHUN BERSAMA SHOGUN 125

  1. Pingback: SEGALA SESUATU MEMILIKI ASAL MULA | Tengkuputeh

  2. Pingback: SIAPA ORANG ACEH SEBENARNYA - TengkuputehTengkuputeh

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.