PEREMPUAN ACEH FULL POWER

Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

PEREMPUAN ACEH FULL POWER

Sebuah tabloid Wanita Sehat yang disponsori UNFPA dan Kantor Wilayah BKKBN Aceh, sebuah tulisan yang diambil dari Pustakaloka kompas Online edisi 8 september 2005 sebuah tulisan yang ditulis oleh Ruth Indiah Rahayu seorang pekerja social di Kalyanamitra, tulisan tersebut diilhami buku Gender, Islam, Nationalis and state in Aceh : The Paradox of Power, Co-optation and Resistante karangan Jacqueline Aquino Siapno. Dalam tulisan tersebut dia mempertanyakan kenapa perempuan di Aceh jika hendak bepergian ke? Wilayah laki-laki? seperti warung kopi hendaknya ditemani oleh muhrimnya dan bila tidak maka perempuan tersebut akan dicap jelek oleh masyarakat. Dan dia menyesalkan bahwa isu gender tidak pernah mendapat tempat di masyarakat Aceh, “seolah-olah penyakit sampar yang dibawa dari Jakarta” sesalnya.

Dr. Snouck Hurgronye

Diakhir dengan mempertimbangkan tulisan-tulisan Dr. Snouk Hurgronyoe yang pernah “menjelajahi aceh” ia menyimpulkan bahwa kekuasaan perempuan Aceh dimarginalkan oleh nilai-nilai baru yang diaurakan Islam dan Nasionalisme paska kemerdekaan dalam kekuasaan di Aceh. Dari tulisan tersebut tersirat seolah-olah peran perempuan di Aceh terpasung dan ironisnya perempuan Aceh tidak menyadari hal tersebut hal ini didasari bahwa gerakan feminisme tidak pernah mempunyai pendukung di Aceh.

Itu semua tidak benar!!! Secara Makro mungkin kita tidak melihat peran perempuan Aceh yang terlalu menonjol saat ini, tapi secara Mikro perempuan aceh memiliki peran yang sangat besar dan bisa dikatakan Penguasa Aceh yang sesungguhnya. Dari hubungan pernikahan kita bia melihat bahwa isteri disebut dengan sebutan? Po Rumoh? yang jika diindonesiakan kira-kira berarti Pemilik/Penguasa rumah dan suami diawal pernikahan arus tinggal di rumah mertua untuk menghindarkan terjadinya kekeraan dalam rumah tangga. Suatu adat yang dicetuskan oleh Sri Ratu Safiatuddin untuk melindungi kaum perempuan di aceh pernah pula menyebabkan pusat kesultanan Aceh tidak berpindah ketika ayah beliau menunjuk suaminya Sultan Iskandar Thani dari Kesultanan Kedah untuk menjadi penerusnya.

Peran perempuan aceh dalam kehidupan rumah tangga juga cukup besar, seorang Teuku Umar tidak akan muncul ke permukaan pabila tidak didukung seorang Cut Nyak Dien. Laksamana Malahayati, Cut Nyak mutia, Pocut baren, Sri Ratu Nuzulul Alam dalah perempuan-perempuan perkasa yang tidak melupakan tugas perempuan yang sesungguhnya yaitu sebagai ibu.

Tranfer kebudayaan di Aceh lebih dominan dilakukan oleh kaum ibu, bagi anak-anak yang dilahirkan sampai dengan tahun 1980-an tentu masih ingat ketika masih kecil sewaktu hendak ditidurkan dalam ayunan kadang nenek atau ibu menyenandungkan lagu Dodaidi yang berisi semangat perjuangan melawan penjajah kafir walaupun Belanda sudah lama angkat kaki dari bumi Aceh. Setiap anak diharuskan mendengarnya agar menjadi orang yang berguna di kemudian hari. Bayangkan setiap hari, pagi dan siang sampai tidur sulit melupakan isi syairnya walaupun sudah beranjak dewasa sekarang. Bagi anak-anak aceh, para ibu, nenek, kakak, adik adalah sosok tegar, kuat dan Full Power yang akan selalu hormati, kami cintai dan kami rindukan.

Lukisan Cut Mutia, Desa Beuringen Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara.

Sejarah mencatat. Setiap peperangan membawa penderitaan pribadi kepada para perempuan, sehingga diperlukan paling sedikit suatu kekuatan yang sama besarnya untuk menanggulangi bahagian pasifnya, yakni menanggung, menyerahkan dan menjalani, seperti halnya untuk bagian aktifnya peperangan itu sendiri yang dapat memberikan kebahagiaan dalam menjalankannya.

Kaum perempuan, mereka tinggal dan menunggu di rumah dan melalui “pintu gerbang penanggungan” yang untuk orang kebanyakan mereka selalu terbuka lebar, telah membiarkan seorang tamu baru masuk ke dalam rumahnya, yakni perasaan cemas yang selalu timbul terhadap seseorang atau mereka yang pergi melalukan tugas. Tamu itu berada dalam pusat kehidupan di rumah dan bayangannya bergelantungan di atas semua serta seluruhnya, di atas seluruh gerak dan pikiran mereka yang tertinggal di belakang.

Foto Pocut Baren
Sumber : Aceh; H.C Zentgraff; Penerbit Beuna Jakarta; Cetakan ke-1; 1983.

Dalam hal peperangan panjang pernah terjadi di Aceh, sebagaimana sebuah perang, di manapun ia pernah berkecamuk di muka bumi ini. Namun hal ini lebih hebat lagi pernah dirasakan di Aceh karena di sana para perempuannya sangat dekat dengan ataupun memang berada dalam kancah peperangan. Di sana mereka hidup bersama peperangan, jiwa mereka setiap hari mengikuti suami atau putera pada perjalanan-perjalanan yang mereka kenal keadaannya sampai sekecil-kecilnya. Kecemasan yang disebabkan oleh panggilan telepon yang tiba-tiba adalah sama artinya dengan telepon yang tak kunjung tiba. Dan jika hal ini terjadi sangat lama, maka kecemasan itu dapat berubah menjadi hantu yang menakutkan di rumah, suara gemerisik kaki yang tiba-tiba, suara ketikan lembut di pintu atau suara orang di kejauhan cukup menempatkan mereka yang sedang menunggu-nunggu dalam keadaan binggung, karena bukan tak mungkin dan selalu demikian. Bahwa itu merupakan sebuah pesan sial mengenai suami ataupun kedatangan seseorang yang tewas diangkut ke rumah sakit.

“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid, ” kata Cut Nyak Dhien.

Meskipun sekarang perang telah usia, Aceh sejak tahun 2005 pelan-pelan sepenuhnya damai. Mengenai perempuan Aceh dapat diceritakan, bahwa sejak peperangan Kolonial melawan Belanda. Perannya sampai saat sekarang sukar dinilai dan biasanya aktif sekali. Perempuan Aceh, gagah berani, adalah penjelmaan dendam kesumat terhadap penjajahan kolonial (Belanda) yang tak ada taranya serta tak mengenal damai. Jika ia turut bertempur, maka tugas itu dilaksanakannya dengan suatu tenaga yang tak kenal maut dan biasanya (selalu) mengalahkan kaum lelakinya. Ia adalah pengemban dendam yang membara yang sampai-sampai ke liang kubur dan dihadapan mautpun masih berani meludah ke muka si “kaphe” (=kafir).

Di masa lalu, rasanya tak ada seorang penulis roman manapun yang sanggup dan berhasil mengungkapkan daya khayalnya yang segila-gilanya seperti yang telah dibuktikan perempuan Aceh dalam kenyataannya.

Perempuan adalah tiang Negara, seorang ibu adalah madrasah dimana seorang anak pertama kali mengenal dunia dan membentuk pola pikir sang anak dalam memandang dunia. Menghadapi tekanan global dan pengaruh media yang dikuasai Barat samapai kapankah perempuan-perempuan Aceh dapat bertahan? Terus terang tidak ada yang mampu menjawabnya karena proses pengikisan itu simultan terjadi, dan terus berlanjut.

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  19. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  20. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

38 Responses to PEREMPUAN ACEH FULL POWER

  1. Pingback: ACEH WOMEN FULL POWER | Tengkuputeh

  2. Pingback: ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH | Tengkuputeh

  3. Pingback: TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA | Tengkuputeh

  4. Pingback: HIKAYAT SUKU MANTE | Tengkuputeh

  5. Pingback: SENJA DI MALAKA | Tengkuputeh

  6. Pingback: MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA | Tengkuputeh

  7. Pingback: KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA | Tengkuputeh

  8. Pingback: OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  9. Pingback: FILOSOFI GOB | Tengkuputeh

  10. Pingback: MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  11. Pingback: SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH | Tengkuputeh

  12. Pingback: MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA (1996) | Tengkuputeh

  13. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  14. Pingback: MENYELUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH | Tengkuputeh

  15. Pingback: TEUKU UMAR PAHLAWAN | Tengkuputeh

  16. Pingback: KEBENARAN YANG SAMAR | Tengkuputeh

  17. Pingback: TSUNAMI | Tengkuputeh

  18. Pingback: PERADABAN TANPA TULISAN | Tengkuputeh

  19. Pingback: SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 | Tengkuputeh

  20. Pingback: ACEH DI MATA KOLONIALIS | Tengkuputeh

  21. Pingback: PERANG ACEH KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  22. Pingback: NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  23. Pingback: MELUKIS SEJARAH | Tengkuputeh

  24. Pingback: ACEH SEPANJANG ABAD | Tengkuputeh

  25. Pingback: PARA PENYEBAR KEBOHONGAN | Tengkuputeh

  26. Pingback: PERANG DI JALAN ALLAH | Tengkuputeh

  27. Pingback: ACEH DAERAH MODAL | Tengkuputeh

  28. Pingback: EMAS, KAFIR DAN MAUT | Tengkuputeh

  29. Pingback: MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN | Tengkuputeh

  30. Pingback: SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT | Tengkuputeh

  31. Pingback: 59 TAHUN ACEH MERDEKA Dl BAWAH PEMERINTAHAN RATU | Tengkuputeh

  32. Pingback: 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU | Tengkuputeh

  33. Pingback: KERAJAAN ACEH JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) | Tengkuputeh

  34. Pingback: PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  35. Pingback: PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH | Tengkuputeh

  36. Pingback: KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 | Tengkuputeh

  37. Pingback: MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  38. Pingback: ATJEH MENDAKWA | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s