EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH

Sejarah Aceh

Pedagang Utsmaniah berteriak ke galangan kapal, saat pedagang Aceh bergegas bolak-balik menyusuri pelabuhan, menjual barang mereka. Sejumlah kapal dagang dari Perusahaan Hindia Belanda duduk di dermaga, dipenuhi dengan rempah-rempah mahal dan eksotis untuk dibawa mengelilingi Eropa. Ini adalah Kesultanan Aceh, yang dulunya adalah salah satu kerajaan paling kuat di Asia Tenggara.

Ratusan tahun yang lalu, Nusantara belum menjadi satu negara tunggal, Indonesia masih belum berdiri, namun saat itu merupakan wilayah perang dari banyak kerajaan yang terpisah-pisah. Kekuatan kolonial besar Eropa melihat kerajaan-kerajaan ini sebagai sebuah kesempatan untuk memperluas kekayaan mereka yang terus meningkat, dan banyak di antara mereka menciptakan hubungan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan. Kesultanan Aceh terletak di posisi yang strategis, di ujung barat Indonesia. Banyak perdagangan di Asia Tenggara masa lampau melewati Aceh, dan pedagang menyebarkan budaya mereka ke Aceh lebih dulu. Kekaisaran Turki Ustmaniyah memiliki hubungan perdagangan dan pertahanan yang kuat dengan Aceh, dan menyebarkan ajaran Islam ke Aceh, yang akhirnya menyebar ke wilayah lain di Indonesia.

Aceh memiliki sejarah melawan pengaruh asing, dari memenangkan perang melawan Belanda, untuk melawan dan melawan pendudukan Jepang pada awal Perang Dunia Kedua. Pada tahun 1953, segera setelah Perang Dunia Kedua selesai dan pembentukan Indonesia merdeka yang bersatu, Aceh memberontak lagi dalam bentuk DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Presiden pertama Indonesia, Soekarno, telah berjanji pada orang Aceh bahwa dia akan menjadikan Aceh sebagai sebuah provinsi, sebagai daerah khusus yang akan menjalankan Syariat Islam. Dia kemudian mengabaikan janjinya dan mengabungkan Aceh serta beberapa daerah lainnya ke dalam satu provinsi, Sumatera Utara yang memicu pemberontakan selama 9 tahun (1953-1962).

Gerakan Aceh Merdeka (GAM) diciptakan pada 4 Desember 1976 oleh Hasan Tiro ketika banyak perkebunan minyak dan gas Amerika mulai mengeksploitasi sumber daya alam di Aceh. Explorasi sumber daya alam ini dibuat dengan persetujuan pemerintah pusat Indonesia, yang orang Aceh rasakan tidak mewakili mereka. Mereka meminta infrastruktur baru di Aceh, dan Aceh merdeka. Pada tahun 1989 serangkaian insiden keamanan mendorong pemerintah Indonesia untuk mengirim pasukan ke wilayah Aceh, yang dikenal dengan Operasi Jaring Merah atau Daerah Operasi Militer (DOM) berhasil membuat aktivitas GAM mengecil dan membuat aktivis AM terpaksa melanjutkan perjuangannya ke luar negeri tapi di sisi lain mengakibatkan sejumlah besar pelanggaran hak asasi manusia di Aceh.

Ketika Orde Baru runtuh dan Presiden kedua Indonesia Suharto mengundurkan diri (1998) akibat reformasi di Indonesia, ketegangan di Aceh meningkat kembali. Pemerintah menanggapi meningkatnya keresahan masyarakat dengan mengirimkan ribuan tentara Indonesia. Peperangan dan revolusi telah menciptakan lingkungan yang sangat berbahaya bagi orang-orang di Aceh, dengan korban ribuan nyawa dan melukai puluhan ribu orang. Disisi lain selama masa perselisihan ini, perusahaan asing yang mencari sumber daya alam untuk dieksploitasi telah mengabaikan Aceh, karena pertempuran sengit. Ekosistem Leuser, yang sepenuhnya unik di Sumatera, secara tidak langsung terlindungi dari ancaman sumber daya asing karena konflik di Aceh.

Puncak Konflik Aceh Dan Akhirnya Tsunami

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Konflik antara pemerintah Republik Indonesia dengan GAM terus berlangsung sehingga pemerintahan Megawati Soekarno Putri (Presiden keempat) menerapkan status Darurat Militer di Aceh pada tahun 2003, dan mengirimkan 12.000 pasukan ke Aceh. Pada tahun 2004, perang di Aceh masih hidup dan sehat, dan hal yang sama dapat dikatakan untuk hutannya. Meskipun ada sesuatu yang hebat di Samudra Hindia, sesuatu yang akan mengubah seluruh wilayah selamanya. Sebuah gempa 8,9 pada skala richter di tengah laut menciptakan gelombang tsunami yang menewaskan lebih dari 170.000 orang Aceh, dan menyebabkan Gerakan Aceh Merdeka menandatangani sebuah kesepakatan damai dengan pemerintah Indonesia pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.

Keadaan di Aceh saat ini

Sekarang Aceh merupakan target utama eksploitasi, dengan perkiraan 500.000 orang kehilangan tempat tinggal dari gelombang pembukaan perkebunan sawit, perkebunan karet, pembukaan pabrik semen sampai penambangan emas dan penambangan batu bara, warga Aceh berada dalam kesulitan serius. Menjual tanah keluarga ke perusahaan perkebunan asing untuk bisa memperoleh uang agar anak-anak mereka bisa berkuliah di universitas, untuk membayar tempat tinggal, atau untuk melunasi hutang yang meningkat.

Tentu saja, akhir perang adalah hasil yang dinanti-nantikan bagi masyarakat di wilayah ini. Perang Aceh (1976-2005) telah menewaskan 15.000 jiwa, dan pada dasarnya menghentikan semua pembangunan ekonomi regional selama 30 tahun. Dengan sumbangan 7 miliar dolar untuk sumbangan yang dikumpulkan dari pemerintah Indonesia dan juga donor di seluruh dunia, Aceh saat ini sangat berbeda dari Aceh sebelum tahun 2005. Tsunami mungkin telah menghancurkan ratusan ribu nyawa, namun memberikan peluang untuk membangun Aceh baru. Sistem transportasi secara besar-besaran meningkat di seluruh wilayah, memungkinkan evakuasi yang lebih cepat dan aman dalam kasus bencana lain seperti ini.

Keadaan Alam di Aceh Setelah Perdamaian Tercapai

Dengan peperangan selesai, dan provinsi ini berubah, wilayah Aceh mengalami pergerakan kerusakan hutan besar-besaran akibat eksploitasi. Ratusan orang menjual tanah keluarga mereka di hutan hujan dengan cepat membutuhkan uang, dan tsunami kedua datang, yang menebas dan membakar hutan. Tsunami baru yang tidak terlalu legal dan ekspansif serta merusak melanda ekosistem Leuser, dan lebih banyak penebangan hutan daripada sebelumnya. Yang dilakukan atas nama dalih investasi dilakukan oleh perusahaan nasional maupun internasional. Konflik di Aceh telah melindungi hutan, tapi sekarang dengan orang-orang terlalu lemah untuk melawan perang mereka ekonomi global, ekosistem Leuser menanggung beban hukuman yang dialami orang Aceh yang tangguh selama puluhan tahun.

Penebangan hutan untuk Investasi

Eksploitasi alam besar-besaran tidak pernah menguntungkan bagi alam dan masyarakat sekitar, yang meraih untung besar adalah para pemodal besar serta aparat pemerintah yang memperoleh uang cepat. Pengundulan kawasan Cagar Alam di Kuala Tripa oleh perusahaan pertambangan batubara bukan hanya membuat penduduk tersingkir tapi juga memusnahkan kawasan harimau sumatera purba yang mencari makan kepiting turun dari hutan Leuser melalui hutan bakau ketepi pantai.

Sebagaimana eksploitasi gas di Arun, Aceh Utara yang tidak memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar sejak tahun 1970-an begitu pula rencana pembangunan pabrik semen di Laweung cenderung membawa kerusakan moral bagi masyarakat disekitarnya. Bukan rahasia di Aceh jika masyarakat di sekitar penambangan cenderung menjadi pengemis dan peminta-pinta yang kelak berkelana ke seluruh penjuru Aceh dengan membawa ayat-ayat suci Al-Quran, itu memalukan!

Apakah Aceh harus tidak ramah Investor? Jika pemimpin Aceh hari ini mau belajar sejarah sedikit saja. Maka seharusnya mereka memahami bahwa kemajuan Aceh di masa lalu adalah bukan dengan merusak alam, bukan dengan menjual sejengkal tanah demi perkebunan kelapa sawit misalnya. Tapi dengan memanfaatkan alam, lokasi geografis yang strategis untuk turut andil dalam perdagangan dunia.

Aceh merupakan lorong buntu di Indonesia, posisi ujung Barat menempatkan Aceh jika ingin menjual sesuatu ke Jakarta mendapatkan keuntungan paling sedikit, dan apabila membeli mendapatkan harga dengan biaya tertinggi. Solusinya adalah membuka akses global, memberdayakan pelabuhan Sabang. Sayangnya tidak pernah ada upaya serius untuk itu, entah lupa atau menutup mata.

Jalur Sutera (laut dan Daratan) sebagai alur perdagangan kuno antarbangsa

Haruskah Banda Aceh yang sejak tahun 1200 Masehi sudah menjadi pusat perdagangan dunia menjadi teronggok di sudut Nusantara. Bahwa Bandar Aceh Darussalam pernah menjadi sebuah kota “Kosmopolitan” baginya adalah tempat bercampurnya ras yang menghuni dunia, kita kini, mendengar kata “Kosmolitan” yang terbayang adalah Hongkong, New York, Singgapura, Tokyo, London, Paris, sama sekali bukan Samarkand, Bukhara, Damascus, Merv, Esfahan, Baghdad, atau Banda Aceh. Zaman berganti, kota-kota yang dulunya adalah pusat peradaban tempat berkumpulnya segala bangsa, kini terlupakan, terkurung di dalam garis batas-batas baru yang tenggelam dalam warna-warni peta dunia.

Wahai para pemimpin Aceh bangunlah! Sebuah kesadaran bahwa mereka mungkin terjerat dalam suatu bahaya yaitu sekedar hanyut dalam hidup, terlena dalam status ekonomi khusus dan tidak memberikan bekas-bekas gemilang dalam hamparan sejarah dunia.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH

  1. Pingback: AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH | Tengkuputeh

  2. Pingback: NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  3. Pingback: BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH | Tengkuputeh

  4. Pingback: MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH | Tengkuputeh

  5. Pingback: ATJEH MENDAKWA | Tengkuputeh

  6. Pingback: MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  7. Pingback: PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH | Tengkuputeh

  8. Pingback: MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA (1996) | Tengkuputeh

  9. Pingback: ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH | Tengkuputeh

  10. Pingback: TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA | Tengkuputeh

  11. Pingback: PEREMPUAN ACEH FULL POWER | Tengkuputeh

  12. Pingback: MENYELUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH | Tengkuputeh

  13. Pingback: TEUKU UMAR PAHLAWAN | Tengkuputeh

  14. Pingback: FILOSOFI GOB | Tengkuputeh

  15. Pingback: KEBENARAN YANG SAMAR | Tengkuputeh

  16. Pingback: GAM CANTOI TIADA | Tengkuputeh

  17. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  18. Pingback: PARA PENYEBAR KEBOHONGAN | Tengkuputeh

  19. Pingback: TARIKH ACEH DAN NUSANTARA | Tengkuputeh

  20. Pingback: KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 | Tengkuputeh

  21. Pingback: EXPLOITATION OF NATURAL RESOURCES, WHAT IS IT GOOD FOR ACEH | Tengkuputeh

  22. Pingback: PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  23. Pingback: KERAJAAN ACEH JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) | Tengkuputeh

  24. Pingback: HIKAYAT SUKU MANTE | Tengkuputeh

  25. Pingback: PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH | Tengkuputeh

  26. Pingback: SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 | Tengkuputeh

  27. Pingback: MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  28. Pingback: MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA | Tengkuputeh

  29. Pingback: SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH | Tengkuputeh

  30. Pingback: EMAS, KAFIR DAN MAUT | Tengkuputeh

  31. Pingback: PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH | Tengkuputeh

  32. Pingback: TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH | Tengkuputeh

  33. Pingback: PERADABAN TANPA TULISAN | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s