KAYA TANPA HARTA

Masjid Saree Aceh Besar November 2019. Di sana dalam jam-jam tenang dan sejuk sebelum fajar bus merapat sejenak. Bulan sudah lama turun, bintang-bintang gemerlap diatas mereka, cahaya fajar pertama belum lagi muncul dari balik bukit-bukit gelap di belakang.

KAYA TANPA HARTA

Setiap manusia, setiap orang, tiap individu punya pandangan, persepsi tentang dirinya. Cara pandang itu dipengaruhi oleh subjektivitas manusia itu sendiri. Ketika seseorang bergabung dalam kumpulan maka diperlukan potret, untuk mengukur dirinya ketika disandingkan dengan yang lain.

Sebuah gambaran yang telihat oleh mata terkadang tak membuat kita mengerti, memahami atau bahkan mengetahui. Saat ini konsep kebahagian yang ditawarkan oleh media adalah kemewahan, pengaruh, populer dan kesehatan. Apakah itu benar? Haruskan kita menelan mentah-mentah konsep itu? Mereka yang tidak pernah berpikir maka tidak akan tahu apa kebahagiaan yang sebenarnya. Berpikir membuat kita mampu untuk melihat kebenaran tanpa tertipu.

Kemewahan, pengaruh, populer dan kesehatan menurut pandangan umum dapat diperoleh dengan kekayaan. Uang menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang hari ini, semakin kaya seseorang maka semakin ia dihargai. Tidak dapat kita pungkiri saat ini uang merupakan hal yang penting, tapi juga bukan yang paling penting.

Jika menghasilkan uang adalah hal yang paling penting. Maka tak mengapa apapun cara untuk mendapatkannya. Bisa dibayangkan jika di tengah masyarakat yang menganut nilai ini muncul orang-orang yang memiliki prinsip ini. Para dokter memberikan resep yang salah, petugas pajak menilap kas negara, pejabat pengadaan menerima suap, sampai kontraktor demi mengejar uang membangun jembatan yang tidak layak.

Betapa berbahayanya jika seseorang, sebuah perkumpulan, yang hidup di lingkungan seperti ini akan membuat pembenaran atas keserakahannya dengan mengatakan. “Aku tergoda berbuat jahat akibat pengaruh masyarakat yang menilai seseorang dari uang!” Sisi gelap dari kehidupan bermasyarat seperti ini (mungkin) ada, sebagaimana kegelapan ini pasti ada. Tapi alangkah baiknya jika kita bisa bertahan supaya tidak terseret ke dalamnya.

Ini adalah tantangan bagi kita yang hidup di sebuah dunia yang mana spirit zamannya sudah dihuni oleh roh-roh kapitalisme-konsumerialisme-pragmatisme. Mungkin terasa sulit bagi kita untuk terlalu dalam mempelajari spirit idealisme filosofis yang berpihak kepada proyek sejati kemanusiaan yaitu “memanusiakan manusia.”

SURONO DANU SEORANG IDEALIS

Hidup penuh dengan keajaiban, mungkin kita telah melupakan keajaiban. Bahwa hidup kita biasa saja tapi (pasti) ada seseorang di luar sana yang sangat luar biasa yang mungkin bisa menginspirasi kita. Salah satunya adalah Surono Danu.

Ia dicemooh karena menyebarkan virus di mana-mana supaya punya sikap. Agar orang-orang berpikir tentang kedaulatan pangan. Meskipun menemukan bibit padi Sertani, Surono Danu menampik telah menemukan bibit padi tersebut, ia mengaku hanya melahirkan buah pikiran. Kritiknya bahwa selama ini sarjana dicetak, seperti ubin, tidak berkembang. Tapi sebuah buah pikir yang dilahirkan dengan sendirinya akan berkembang. Sumbangsih kepada bangsanya, tidak dijual meskipun telah ditawar oleh bangsa asing. Ia menolak, materi tidak memikatnya.

Ia berpendapat bahwa ketika dilahirkan telah dianugerahkan tuhan otak dan nurani. Dari rahim ibunya ia lahir tidak dibekali uang. Keyakinan pada Allah adalah modalnya, begitu pula kecintaannya kepada para petani.

Sekali seorang peneliti menemukan sesuatu yang berharga, dia tidak akan pernah mau meninggalkan tempat itu. Tidak terbeli, Suruno Danu adalah orang yang paling kaya.

BERPIKIR ADALAH KEKAYAAN

Keadaan dunia saat ini adalah terlalu banyak motivator, sedangkan filosof semakin sedikit. Zaman ini lebih suka mengurusi hal-hal yang lebih praktis untuk memenuhi waktu senggang dengan kenikmatan, senikmat mungkin seolah hidup hanya sekali. Para pemikir telah mengalami kemunduran, sebagaimana kritik Marx terhadap filsuf yang katanya manusia yang bisanya hanya menafsirkan dunia saja, tapi tak becus mengubahnya. Padahal tujuan filsafat sungguh mulia yaitu menjadikan manusia sebagai pencinta kebenaran. Dengan segala idealismenya, dengan segala romantismenya.

Mungkin sekarang zaman etik dan bajik seperti merangkai ilusi, adakala menjadi ia menjadi delusi kotor yang menuntut kemurnian sejati, padahal dunia ini fana, tiada sempurna.

Cara pandang manusia dipengaruhi oleh subjektivitas manusia itu sendiri, dengan cara pandang seperti itu jikalah kita melihat bulan di langit malam, masing-masing orang melihatnya berbeda, bisa terlihat lebih besar dan bisa lebih kecil. Jika mata telah mampu membuka selubung kebenaran bahkan pada hari yang terang kita bisa melihat bulan.

Menjadi kaya tanpa harta apakah bisa? Bisa! Sebab, ada masa orang hidup dengan gairah mencapai keagungan, dan ada masanya orang hidup dengan gairah memperoleh kekayaan. Mereka yang saleh tahu, keduanya nafsu.

Ketika hidup untuk memberi, mempesona, seperti mengubah kata menjadi puisi.

Beberapa Opini lain:

  1. Asal Muasal Budaya Kopi Di Aceh; 1 Agustus 2017;
  2. Melukis Sejarah; 10 Agustus 2017;
  3. Sepak Terjang Partai Komunis Indonesia Di Aceh; 21 September 2017;
  4. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  5. Dimanakah Makam Para Ratu Yang Pernah Memerintah Aceh Selama 59 Tahun; 6 Oktober 2017;
  6. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  7. Eksploitasi Sumber Daya Alam Apakah Bagus Untuk Aceh; 15 Oktober 2017;
  8. Perlukah Kita Menjaga Makam-Makam Warisan Penjajah Kolonial Belanda di Kherkoff Peucut Banda Aceh; 11 November 2017;
  9. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  10. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  11. Kejatuhan Sang (Mantan) Pejuang; 6 Juli 2018;
  12. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  13. Menafsir Alam Membaca Masa Depan; 14 Maret 2019;
  14. Nilai Seorang Manusia; 8 Juli 2019;
  15. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.