ILMU MEMAHAMI ILMU

Penyerangan Malaka (Portugis) oleh Kesultanan Aceh Darussalam di tahun 1629

ILMU MEMAHAMI ILMU

Di Nusantara rentang abad ke XV sampai XVII, armada Aceh menguasai perairan Selat Malaka sehingga disegani oleh kekuatan-kekuatan besar Eropa yang ingin menancapkan kuku di Nusantara. Pertempuran Aceh melawan bangsa Portugis terjadi di pesisir pantai sehingga tidak pernah ada pasukan Eropa yang mampu menginjak bumi Aceh. Waktu berjalan, Kesultanan Aceh melemah. Ketika Belanda menyerang dan mengepung perairan Aceh pada 1873, tidak ada lagi kapal perang Aceh yang menghalau pasukan Belanda turun ke daratan.

Manusia dibentuk oleh ruang dan waktu, artinya manusia berkembang seiring dengan umur dengan cara mengalami ketika menghadapi dunia. Karena manusia tidak mungkin mengalami segala sesuatu sebelum menjalaninya. Untuk itu kita memerlukan ilmu dari pengalaman orang lain, membaca atau mendengarkan berarti mengakuisi pengetahuan orang lain. Mungkin tidak penuh seluruh, tapi mungkin dapat memberikan gambaran.

Pertempuran Nagashino (1575 Masehi) Penggunaan senjata api pasukan koalisi Nobunaga dan Tokugawa yang terampil untuk mengalahkan taktik kavaleri Takeda sering disebut sebagai titik balik dalam peperangan Jepang; banyak yang menyebutkannya sebagai pertempuran Jepang “modern” pertama.

Pertempuran Nagashino, Jepang tahun 1575. Pasukan Oda Nobunaga dan Tokugawa menggunakan pasukan senapan mengalahkan pasukan kavaleri berkuda Takeda Katsuyori yang terkenal perkasa. Kejadian ini di sejarah Jepang merupakan titik balik sebagai pertempuran modern. Kekalahan ini mengakhiri hidup dan dominasi keluarga Takeda di provinsi Kai.

Katsuyori sendiri adalah jenderal yang hebat, tahun 1569 ia mengalahkan Hojo Ujinobu pada pengepungan Kanbara, dan sukses mengalahkan klan Tokugawa pada pengepungan Futamata dan Mikatagahara. Tahun 1573 ia menjadi pemimpin klan Takeda setelah kematian ayahnya Shingen. Bahkan pada tahun 1574 berhasil merebut benteng Takatenjin dari Tokugawa Ieyasu. Namun kekalahan di Nagashino membuat ia kehilangan sebagian besar pasukan dan para jenderal terbaik. Jenderal yang baik, mempelajari sejarah tidak cukup untuk menang perang, dibutuhkan kemampuan membaca zaman, taktik kavaleri yang dahulu efektif ternyata dikalahkan oleh penemuan baru, senapan.

Kita bisa belajar dari orang terdahulu, namun juga harus memahami. Tidak pernah ada pengalaman peristiwa yang berulang sama persis. Jika pun kejadian di alami oleh orang yang sama, dan mirip tapi tentu ada pergeseran ruang dan waktu. Ilmu adalah tata cara untuk memandang dunia, tapi tiap manusia mesti mengembangkan model ilmu yang sesuai dengan dirinya dan lingkungannya.

Maka ilmu apa yang paling penting?

Pendidikan sekolah belum mengenalkan kita pada kedisplinan metakognitif yaitu kemampuan untuk mengenali diri sendiri. Secara umum metakognitif disusun dalam beberapa taksonomi yaitu: Mengingat, memahami, menalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.

Ilmu menahami ilmu. Kita sadar pengetahuan akan berkembang terus, dan mungkin kita akan kesulitan mengakuisi seluruhnya menjadi ilmu, Sepanjang hidup kita disajikan pengetahuan yang kita belum tahu fungsinya. Pertanyaannya adalah bergunakan itu semua? Pengetahuan tidak akan menjadi ilmu jika tidak mengubah pola pikir. Tapi ilmu juga tidak berguna jika tidak diuji pada skala sosial, Islam sendiri menyebut tindakan keilmuan yang memiliki kemanfaatan itu dengan nama amal.

Kecerdasan itu misterius, setiap murid mengerti dengan cara berbeda, setiap ilmu memancing pengertian setiap orang dengan cara berbeda pula.

Berbagai Opini lain:

  1. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  2. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  3. Kejatuhan Sang (Mantan) Pejuang; 6 Juli 2018;
  4. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  5. Menafsir Alam Membaca Masa Depan; 14 Maret 2019;
  6. Nilai Seorang Manusia; 8 Juli 2019;
  7. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  8. Kaya Tanpa Harta; 24 November 2019;
  9. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  10. Merekonstruksikan Kembali Letak Istana Daroddonya; 3 Maret 2020;
  11. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  12. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
  13. Kenapa Sejarah Tak Boleh Dilupakan; 4 Oktober 2020;
  14. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
  15. Mengapa Harus Mempelajari Bahasa Daerah; 17 Maret 2021;

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.