BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH

Manuskrip Bustan al-Salatin koleksi British Library

Manuskrip Bustan al-Salatin koleksi British Library.

BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH

Seorang penguasa harus mempelajari adab dan akhlak untuk dapat mempunyai ilmu yang diperlukan ketika berkuasa. Para Sultan Aceh dahulu kala diberi sebuah kitab pedoman yang bernama Bustanus Salatin yang menjadi panduan. Dalam kitab tersebut terdapat kisah-kisah sejarah yang dibungkus dengan ajaran agama Islam sehinga para Sultan yang kelak memerintah memahami bagaimana pedihnya perasaan teraniaya sehingga diharapkan memerintah dengan adil.

Bendera Aceh koleksi Rijksmuseum

Bendera Aceh koleksi Rijksmuseum

Tak pelak hal ini membentuk perasaan senasib dan sepenanggungan antara raja dan rakyat ini membuat kerajaan Aceh bertahan selama hampir lima abad (1496-1903). Ketika invasi penjajah Belanda menyerang tahun 1873, (hampir) seluruh masyarakat Aceh mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan bukan (hanya) untuk kepentingan sultan semata, tetapi (berjuang) sebagai sebuah bangsa.

Syekh Nuruddin ar-Raniry penulis Bustanus Salatin

Bustan al-Salatin fi Zikr al-Awwalin wal Akhirin atau lazim dibaca Bustanus Salatin jika diterjemahkan kedalam bahasa Melayu berarti “taman para raja”, adalah sebuah karya besar (bahkan) secara harfiah karena tingkat ketebalannya, dibagi menjadi tujuh jilid atau bagian. Setiap bagian dibagi lagi dalam beberapa pasal atau sub-bagian. Ditulis oleh Nuruddin ar-Raniry, dari berbagai manuskrip yang berhasil dikumpulkan, semuanya mencantumkan Nuruddin sebagai penulis. Pada salah satu naskah yang pertama tertulis rentang tahun 1634-1644 Masehi tertera “Syekh Nuruddin ar-Raniry” dengan nama lengkap Muhammad Jailani ibnu Ali Ibnu Hasanji ibnu Muhammad. Berbangsa Hamid, bermahzab Syafi’i dan Raniry (Ranir, Gujarat India) negeri tempat kediamannya.

Nuruddin ar-Raniry diyakini tiba di Aceh antara tahun 1047 Hijriah (bertepatan 1637 Masehi). Catatan sejarah lain menunjukkan Syekh Nuruddin sudah pernah datang ke Aceh sebelum tahun 1637 Masehi walaupun tidak menetap. Penelitian sejarah memperkirakan dia sebelumnya menetap di Pahang (semenanjung Malaya), disana dia bertemu dengan Tun Sri Lanang dan mempelajari khazanah wawasan sejarah Melayu yang kelak akan menjadi rujukan dalam karyanya.

Riwayat Hidup Nuruddin ar-Raniry dan Penyusunan Bustanus Salatin

Syekh Nuruddin ar-Raniry selaku ulama yang menyebarkan agama Islam pada masa itu juga seorang sufi. Dalam kitab Jawahir al-‘Ulum fi Kasyf al Ma’lum yang ditulis pada 1052-1054 H / 1642-1644 H Nuruddin menjelaskan bahwa ia merupakan bagian tarekat Rifa’iyah sekaligus bagian tarekat Qadiriyah dan merupakan urutan ke-36. Nuruddin mendapatkan ijazah dari Sayyid Abu Hafs Umar ibn Abdullah Ba Syaiban al-Tarimi, dikenal dengan Sayyid Umar al-Aydarus. Penulisan silsilah dan nisbah yang ketat dalam tradisi tarekat sangat membantu Nuruddin ar-Raniry dalam menyusun penelitian sejarah.

Pada tahun 1047 H / 1637 M Syekh Nuruddin mendapat titah dari Sultan Iskandar Tsani untuk (mulai) mengarang kitab ini. Ketika Nuruddin tiba di Aceh sebelumnya telah ada kitab Taj al-Salatin (1603), Sulalat as-Salatin (1612) dan Hikayat Aceh (1606) dalam khazanah sastra Melayu. Ketiga karya sastra ini yang mengilhami Nuruddin ar-Raniry menulis Bustan al-Salatin.

Rincian isi dari Bustanus Salatin

Bustanus Salatin adalah sebuah kitab yang mengulas sejarah dan mengandung panduan untuk para raja, pembesar dan rakyat jelata. Nuruddin ar-Raniry menulis sejarah dunia yang dimulai dengan kejadian penciptaan langit dan bumi dan diakhiri dengan sejarah Aceh dengan masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani sebagai penutup.

Karya Nuruddin ar-Raniry bermula dari cerita asal-usul para raja di dunia beserta catatan sejarah dan data saat itu. Ia menceritakan semua itu sebagai bagian pelajaran agama. Antara lain: Kisah tentang raja-raja yang adil dan tidak adil; menteri-menteri bijaksana dan menteri-menteri celaka; sampai kisah-kisah orang budiman. Dikemas dengan menyertakan penjelasan atas berbagai peristiwa yang logis dan menjadi pengetahuan berdasarkan prinsip dan ajaran Islam.

Kitab Bustanus Salatin terdiri dari tujuh bab dimana setiap babnya terdiri dari 2 sampai 12 pasal, berikut rinciannya:

  1. Bab pertama, menceritakan kisah kejadian tujuh petala (lapis) langit dan bumi dalam 10 pasal;
  2. Bab kedua, menceritakan kisah segala anbiya’ (Nabi/Rasul) dan segala raja-raja dalam 13 pasal;
  3. Bab ketiga, menceritakan kisah segala raja-raja adil dan wazir (menteri) yang berakal (cerdas) dalam 6 pasal;
  4. Bab keempat, menceritakan kisah raja-raja pertapa (zuhud) dan segala auliya (orang suci) yang saleh dalam 2 pasal;
  5. Bab kelima, menceritakan kisah raja-raja zalim dan segala wazir (menteri) aniaya (jahat) dalam 2 pasal;
  6. Bab keenam, menceritakan kisah orang yang murah lagi mulia (dermawan) dan segala orang berani yang besar dalam 2 pasal;
  7. Bab ketujuh, menceritakan antara lain kisah: Akal dan ilmu (para pemikir) dan firasat dan kifayat; Ilmu tabib (ahli pengobatan); sifat perempuan dan setengah daripada hikayat ajaib dan gharib dalam 5 pasal; Bab ini juga disebut Bustan al-Arifin (Taman kebijaksanaan).

Bustan al-Salatin merupakan karya terbesar Nuruddin ar-Raniry dan merupakan karya terbesar yang pernah dihasilkan oleh penulis kesusasteraan klasik Melayu. Kitab ini adalah sebuah maha karya yang berasal dari alam pikir Nuruddin ar-Raniry seorang ulama lulusan Arabia (Mekkah) dan memiliki guru-guru ternama di dunia Islam. Bustanus Salatin menjadi panduan berkuasa bagi para Sultan Aceh bahkan secara universal sebagai buku pegangan bagi seluruh penguasa untuk menghindari diri dari perbuatan zalim dan tercela ketika hidup atau memerintah.

Lukisan Bustanus Salatin koleksi Museum Budaya Aceh

Lukisan Bustanus Salatin koleksi Museum Budaya Aceh

Dimana naskah manuskrip Bustanus Salatin asli dapat ditemukan?

Naskah asli, atau manuskrip orisinil dari Bustan al-Salatin sampai saat ini belum ditemukan, diperkirakan naskah aslinya sudah hilang. Berbagai naskah diteliti untuk menyusun ulang Bustanus Salatin berdasarkan manuskrip-manuskrip yang menyertakan Bustan al-Salatin sebagai rujukan. Sampai saat ini masnuskrip-manuskrip yang digunakan untuk menyusun ulang karya Syekh Nuruddin ar-Raniry belum lengkap sehingga tidak mampu membangun ulang kitab tersebut secara utuh.

Tercatat ada 34 manuskrip yang menjadi bagian dari Bustan al-Salatin yang ada saat ini tersebar di seluruh dunia yaitu antara lain:

  1. satu naskah di Aceh;
  2. dua di Berlin (Jerman);
  3. satu di Brussel (Belgia);
  4. satu di Cape Town (Afrika Selatan);
  5. satu di Colombo (Sri Langka);
  6. satu di Frankrut (Jerman);
  7. tiga di Jakarta;
  8. dua di Kuala Lumpur (Malaysia);
  9. tiga belas di Leiden (Belanda);
  10. lima di London (Inggris);
  11. tiga di Paris (Perancis);
  12. satu di Kuala Trengganu (Malaysia);

Selain daripada naskah manuskrip diatas, terbuka kemungkinan masih ada naskah lain dimiliki oleh para kolektor. Nilai manuskrip Bustan al-Salatin sangat berharga sehingga bisa jadi mereka (para kolektor) memilih untuk menyimpan untuk sendiri dan tidak membagikannya kepada khalayak.

Bagian dari Bustanus al-Salatin yang pernah diterbitkan

Adapun bagian dari Bustan al-Salatin yang pernah dicetak dalam bentuk penelitian ilmiah ataupun bagian dari buku antara lain:

  1. Bab I telah dicetak dalam ruang pinggir kitab Taj al-Muluk karangan Tengku Kuta Karang di Mekkah 1311 H / 1893 Masehi, dengan judul Bad’ al-Khalk al-Samawat wa’l-Ardh;
  2. Bab II pasal 2-10 telah diterbitkan oleh R.J. Wilkinson, Singapura tahun 1900;
  3. Pasal 12 telah diterbitkan oleh R.O. Winstedt, JSBRAS 81 tahun 1920 halaman 39 dan seterusnya;
  4. Bab II, pasal 13 terdapat dalam G.K. Nieman, Bloemlezing uit de Maleische Geschrifften II, Leiden, 1870-1871;
  5. S. van Ronkel, Grafmonumenten op het Maleische Schiereiland in een Oud Meleische Werk Vermeld, BKI 76, halaman 566-576;
  6. A. Hoesein Djajadiningrat, TBG 69, halaman 112-134;
  7. dan Niemann;
  8. Transkripsi lengkap pasal 13 telah diterbitkan Teuku Iskandar, Bustanu’s-Salatin, Bab II, Fasal 13, K.L.,1966;
  9. Bab IV pasal pertama, tentang Sultan Ibrahim ibn Adham telah diterbitkan oleh P.P. Roorda van Eysinga, Batavia 1822;
  10. Lenting, Sedjarah Soeltan Ibrahim, radja Irak, Breda, 1846;
  11. Russel Jones telah menyelidiki karya ini dalam A Study From Malay Manuscripts of The Legend of The Islamic Sufi Saint Ibrahim ibn Adham, Ph.D. thesis, SOAS, University of London, 1968 dan telah menerbitkan Hikayat Sultan Ibrahim, Leiden, 1983;
  12. Catharine Anne Grinter, Bustan us-Salatin by Nuruddin ar-Raniry, A Study From the manuscripts of a 17th Century Malay Work Written in North Sumatra, Ph.D thesis, SOAS, London 1979.

Pemusnahan arsip kerajaan Aceh oleh Kolonial Belanda atau pengkhianat?

Segala macam naskah dan dokumen Kesultanan Aceh di kediaman Kadli Malikul Adil selaku pimpinan Balai Majlis Mahkamah Rakyat (Parlemen Kesultanan Aceh) yang beranggotakan 73 orang. Ketika Belanda menyerang Kesultanan Aceh, Teuku Abdurrahman menjabat sebagai Kadli Malikul Adil, dia diangkat oleh Sultan Aceh atas persetujuan Tiga Panglima Sagi yaitu Sagi XXII, Sagi XXV dan Sagi XVI dan Kadi Malikul Adil (Mufti kerajaan Aceh).

Pada tanggal 11 Desember 1873 tentara Belanda pada ekspedisi kedua mendarat di sungai Peunayong untuk memutus jalan (bantuan) armada laut ke Istana sultan Aceh. Menurut laporan Jenderal Van Swieten selaku pimpinan ekspedisi, ia mengeluarkan perintah untuk tidak melaksanakan pembakaran kampung. Akan tetapi pada hari itu kediaman Kadli Malikul Adil terbakar, menurut laporan perang rumah itu sudah terbakar sebelum pasukan Belanda masuk ke Peunayong.

Belanda berkilah bahwa pembakaran arsip dokumen Kerajaan Aceh dilakukan oleh orang lain, bukan pasukan mereka, karena Kadli Malikul Adil (telah) dicurigai oleh rakyat Aceh memiliki hubungan dekat dengan Teuku Nek Meuraksa yang memihak Belanda. Bahkan Belanda (bahkan) menuding Kadli Malikul Adil sendiri yang membakar untuk menghilangkan kecurigaan rakyat Aceh terhadap dirinya.

Sejarah tidak menuliskan dengan pasti siapa melakukan pembakaran tersebut. Bersamaan api melalap rumah tersebut turut musnah (seluruh) arsip, sarakata, manuskrip serta dokumen penting kerajaan Aceh yang telah berusia ratusan tahun.

Teuku Abdurahman sebagai Kadli Malikul Adil secara resmi membelot setelah Istana direbut Belanda, merapat ke penjajah dan menjadi kaki tangan setia. Ia menjadi peletak batu pertama ketika meresmikan Masjid Raya Baiturrahman yang dibangun kembali oleh Belanda tanggal 9 Oktober 1879 setelah dibakar pasukan NIL pada tahun 1873.

Menemukan kembali Bustanus Salatin

Setiap dokumen dari leluhur adalah tempat kita merawat ingatan, ketika kitab-kitab dibakar, manusia diputus dari akarnya, pemakaman kebudayaan telah dilakukan dan manusia baru yang kelak lahir tak mengenali lagi siapa dirinya.

Bustanus Salatin adalah satu dari sejumlah besar dokumen kerajaan Aceh yang musnah hari itu (11 Desember 1873). Sejak hari itu, bisa jadi orang atau pemimpin yang berasal dari Aceh gagap dalam bersikap dan berkuasa, menjadi aniaya, zalim dan semena-mena. Mungkin (mereka) telah kehilangan pedoman dan terputus dari akarnya, (mereka) malu mengakui dirinya sebagai orang Aceh dan memperolok kaumnya sendiri, tak pelak (maka) sempurnalah tujuan penjajahan yaitu menciptakan bangsa baru yang terputus dari leluhur. Menjadi orang-orang inferior yang rendah diri di hadapan (bangsa) lainnya.

Maka kita harus menemukan kembali falsafah Bustanus Salatin agar kembali menjadi pribadi yang mulia.

XXX

Daftar Pustaka

  1. Erven Paul van’t Veer; Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje; Cetakan Pertama; Penerbit PT Grafiti Press; Jakarta; tahun 1985;Wi
  2. H. Szekely Lulofs; Tjoet Nja Dien Hikayat Pahlawan Puteri Aceh; Cetakan Pertama; Penerbit Chailan Sjamsoe; Jakarta; tahun 1954;
  3. Mohammad Said. Aceh sepanjang Abad jilid I; Cetakan Pertama; Penerbit Harian Waspada; Medan; tahun; 1961
  4. Teuku Iskandar; Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad; Cetakan Pertama; Penerbit Libra; Jakarta tahun 1996;
  5. William Marsden, F.R.S; Sejarah Sumatera; Cetakan Pertama; Penerbit Indoliterasi; Yogyakarta; tahun 2016.

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  2. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  3. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  4. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  5. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  6. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  7. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  8. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  9. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  10. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  11. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  12. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  13. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  14. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  15. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  16. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  17. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  18. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  19. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  20. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  21. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  22. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  23. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  24. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  25. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  26. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  27. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  28. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  29. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  30. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  31. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  32. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  33. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  34. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  35. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  36. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  37. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  38. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  39. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  40. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  41. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  42. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  43. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  44. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  45. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  46. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  47. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  48. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  49. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  50. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  51. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  52. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  53. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  54. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  55. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  56. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  57. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  58. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  59. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Review dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH

  1. Ping balik: KENAPA SEJARAH TAK BOLEH DILUPAKAN | Tengkuputeh

  2. Ping balik: SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH) | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.