MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH

59 Tahun Aceh Merdeka Di Bawah Pemerintahan Ratu; oleh A. Hasjmy

MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH

Seorang veteran tentara Belanda yang bertugas di Aceh dalam rentang 1895-1900 H.C Zentgraaf, yang pensiun pada 1902 kemudian menjadi wartawan kemudian menjadi redaktur koran Batavia Niewsbald, Niews van den Dag, Niewe Soerabaja Courant dan terakhir redaktur kepala Java Bode menulis dalam bukunya Aceh, “Mengenai wanita Aceh dapat diceritakan, bahwa perannya di dalam peperangan sampai sekarangpun sukar dinilai dan biasanya aktif sekali. Wanita Aceh, gagah berani, adalah penjelma dendam kesumat kepada kita yang tak ada taranya serta tak mengenal damai. Jika ia turut bertempur, maka tugas itu dilaksanakan dengan suatu energi yang tak kenal maut dan biasanya mengalahkan prianya. Ia adalah pengemban dendam yang membara yang sampai-sampai ke liang kubur atau dihadapan mautpun masih berani meludah ke muka si “kaphe” (=Kafir).”

Zentgraaf yang turut dalam ekspedisi Belanda ke Jambi (1902) dan Bone (1905) sebagai wartawan menambahkan, “Rasanya tak ada penulis roman manapun yang sanggup dan berhasil mengungkapkan daya khayalnya yang segila-gilanya seperti yang telah dibuktikan oleh wanita Aceh pada kenyataannya.”

Sejarah Aceh mengenal “wanita-wanita agung” adakalanya adalah seorang Ratu (Para Sultanah), adakalanya adalah seorang Laksamana (Malahayati), seorang bangsawan berpengaruh (Cut Nyak Dhien). Dalam daftar-daftar para wanita tersebut yang paling monumental adalah Para Ratu (Sultanah) antara lain :

  1. Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675)
  2. Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678)
  3. Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah (1678-1688)
  4. Sri Ratu Zainatuddin Kamalat Syah (1688-1699)

Sultanah Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675)

Sultanah Sri Nurul Alam Naqiatuddin (1675-1678)

Sultanah Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah (1678-1688)

Sultanah Sri Ratu Zainatuddin Kamalat Syah (1688-1699)

Kebijaksanaan Sultanah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin dan Ratu-ratu sesudahnya menjelaskan bahwa penampilan kembali perjuangan Sultanah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin, Sultanah Sri Ratu Nurul Alam Nakiatuddin, Sultanah Sri Ratu Zakiatuddin dan Sultanah Sri Ratu Kamalat Syah adalah bertujuan untuk menyatakan kepada bahwa sejak berabad-abad yang lalu wanita Indonesia telah mendapat hak dan kewajiban yang sama dengan kaum pria, berkat ajaran Islam menjejakkan kakinya di Bumi Indonesia.

Pada Kesultanan Aceh Darussalam, Islam menjadi dasar negara, dan sumber hukumnya, yaitu Quran, Sunnah, Ijmak dan Qiyas. Dalam Adat Meukuta Alam (Undang-Undang Dasar Kerajaan Aceh Darussalam) Kanun Meukuta Alam Al Asyi, menyebutkan :

  1. Al Qur-an,
  2. Al Hadis,
  3. Ijmak Ulama Ahlus Sunnah,
  4. Al Qiyas.

Karena Islam telah diambil menjadi Dasar Negara dan Qur-an serta Sunnah telah dinyatakan sebagai sumber hukum, maka kedudukan wanita dalam Kerajaan Aceh Darussalam, disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan Al Qur-an dan Sunnah. Al Qur-an telah menegaskan, bahwa manusia diciptakan dari sumber yang satu, yaitu dari Adam, baik pria ataupun wanita, baik yang berkulit putih ataupun yang berkulit hitam. Karena itu, kedudukan pria dengan wanita sama ; manusia sama derajat dalam pandangan Allah.

Mengenai hak wanita untuk memegang jabatan-jabatan dalam jabatan negara, atau jabatan yang tertinggi, dinyatakan boleh asal mereka sanggup dan mempunyai pengetahuan untuk bidang-bidang jabatan yang akan dipegangnya; sama seperti hak pria dalam hal tersebut. Dalam sebuah kitab yang bernama“Safinatul Hukkam” ditegaskan bahwa wanita boleh menjadi raja atau Sultan, asal memiliki syarat-syarat kecakapan dan ilmu pengetahuan.

Sayangnya sampai dengan saat ini kita belum menemukan peninggalan dari 4 Sultanah tersebut, nisan para Ratu bahkan sampai dengan saat ini masih merupakan misteri besar yang belum ditemukan oleh para sejarawan professional maupun partikelir di Aceh. Mengapa ini bisa terjadi? Perlu diingat bahwa tanpa bukti otentik berupa situs yang dapat dibaca inskripsinya maka kiprah mereka bergantung pada cerita bahkan legenda. Ini sangat berisiko. Mengapa? Jika pada akhirnya yang diwariskan oleh sebuah peradaban hanyalah riwayat, maka yang terjadi adalah akan terjadi pengikisan dari ingatan masa depan, terutama jika tak terus dihikayatkan. Maka harus ada usaha perlawanan dari lupa, tulisan ini ditujukan untuk mengingat sekaligus sebuah misi pencarian akan sebuah relik yang seharusnya mendapat tempat yang layak di sisi sejarah.

Penghancuran Makam Bersejarah oleh Belanda

Setelah dapat menguasai istana pada tanggal 31 Januari 1874 Belanda sesumbar melalui pemimpin agresi Jenderal Van Swieten mengatakan, bahwa “Kerajaan Aceh telah takluk dan Belanda telah menggantikan kedudukan Kerajaan Aceh serta menempatkan wilayah Aceh Besar menjadi milik pemerintah Hindia.” Melalui secarik kertas proklamasi. Dalam kenyataan sebaliknya, perlawanan rakyat Aceh masih meningkat dalam tahun-tahun yang panjang ke depan. Untuk “merebut hati” rakyat Aceh, Masjid Raya Baiturrahman yang telah hancur akibat agresi Belanda yang dimulai pada tanggal 9 Oktober 1879.

Makam Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh pada tanggal 19 Desember 1952 ditemukan kembali oleh bekas pemaisuri salah satu Sultan Aceh bernama Pocut Meurah (Ketika Belanda menyerang ia masih kanak-kanak). Makam tersebut dibangun kembali berdasarkan contoh makam Sultan Mansur Syah (1857-1870).

Namun disisi lain Belanda menghancurkan banyak makam para pahlawan Aceh, salah satunya makam raja terbesar di Kerajaan Aceh, Sultan Iskandar Muda yang baru setelah Indonesia merdeka pada tanggal 19 Desember 1952 ditemukan kembali oleh bekas pemaisuri salah satu Sultan Aceh bernama Pocut Meurah (Ketika Belanda menyerang ia masih kanak-kanak). Makam tersebut dibangun kembali berdasarkan contoh makam Sultan Mansur Syah (1857-1870). Berdasarkan cerita dari orang-orang tua zaman itu makam yang sekarang berbeda dengan makam asli Sultan Iskandar Muda yang memiliki nisan dengan kaligrafi ayat Al-quran serta bertahtakan emas dan berlian. Akibat penjarahan yang dilakukan oleh Kolonial Belanda, makam para Sultanah Aceh sampai saat ini belum diketahui keberadaanya.

Mengapa makam-makam bersejarah itu dihancurkan? Ada dua alasan antara lain:

  1. Jauh sebelum tahun 1500, Kerajaan Aceh telah berdiri dengan megah dan kuatnya. Pada permulaan abad ke-16, Ali Moghayatsyah (1514-1528) telah mempersatukan daerah-daerah kerajaan kecil di pinggir pantai utara dan barat Aceh, menjadi suatu negara Islam yang kuat. Bahkan pada zaman Iskandar Muda (1607-1636), Aceh telah menjadi negara terkemuka di Asia Tenggara, menguasai pesisir sebagian besar Sumatra, daerah Bengkulu, Pariaman, dan Sungai Indragiri serta Kerajaan Kedah, Perak, Pahang, dan Trengganu di Semenanjung Malaya. Hubungan dagangnya berlangsung dengan Belanda, Inggris, dan Perancis. Maka untuk menghancurkan semangat dan mental rakyat Aceh makam-makam tersebut dihancurkan agar sejarah panjang selama 500 tahun Kesultanan Aceh Darussalam hilang dari ingatan, sejarah dikerdilkan sedemikian rupa sehingga seolah menjadi mitos belaka;
  2. Menurut Belanda dan para intelektual yang membebek kepada mereka hukum Islam dilaksanakan sesuai kehendak hati Sultan yang menerapkan hanya dengan tujuan pencitraan karena Hukum Islam pada masa kesultanan Aceh merupakan simbolisasi kekuasaan Sultan, bahwa ia merupakan cerminan wakil tuhan di muka bumi. Alasan Belanda memerangi Aceh adalah untuk membawa peradaban. Salah satunya mengangkat derajat dan harkat kaum wanita. Adanya makam-makam para Sultanah tentu membahayakan propaganda Belanda, maka mereka harus dihancurkan.

Penemuan makam para Sultanah Aceh menjadi pekerjaan rumah yang sangat penting dalam sejarah modern Aceh dan Indonesia, salah satunya adalah Sultanah Ratu Safiatuddin yang sebagaimana dituliskan oleh William Marsden, F.R.S dalam bukunya The History of Sumatra (Terbit 1811), “Sang Ratu (Safiatuddin) wafat pada 1675 setelah memerintah selama 34 tahun dengan penuh ketentraman yang sebelumnya nyaris tidak dirasakan di negeri ini.”

Semangat untuk terus mencari harus tetap dipelihara sekecil apapun sebuah kemungkinan, seberat apapun hadangan di depan. Itu semua untuk membuktikan kita selaku manusia tak berputus asa pada nasib yang buruk. Harapan adalah pelita yang menuntun jiwa menjadi dian yang tak kunjung padam.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

44 Responses to MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH

  1. Pingback: BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH | Tengkuputeh

  2. Pingback: PEREMPUAN ACEH FULL POWER | Tengkuputeh

  3. Pingback: MENYELUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH | Tengkuputeh

  4. Pingback: TEUKU UMAR PAHLAWAN | Tengkuputeh

  5. Pingback: FILOSOFI GOB | Tengkuputeh

  6. Pingback: GAM CANTOI TIADA | Tengkuputeh

  7. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  8. Pingback: TSUNAMI | Tengkuputeh

  9. Pingback: EKSPLORASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH | Tengkuputeh

  10. Pingback: AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH | Tengkuputeh

  11. Pingback: NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  12. Pingback: ATJEH MENDAKWA | Tengkuputeh

  13. Pingback: MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  14. Pingback: PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH | Tengkuputeh

  15. Pingback: KERAJAAN ACEH JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) | Tengkuputeh

  16. Pingback: PERANG ACEH KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  17. Pingback: MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA (1996) | Tengkuputeh

  18. Pingback: ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH | Tengkuputeh

  19. Pingback: TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA | Tengkuputeh

  20. Pingback: HIKAYAT SUKU MANTE | Tengkuputeh

  21. Pingback: KEBENARAN YANG SAMAR | Tengkuputeh

  22. Pingback: SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 | Tengkuputeh

  23. Pingback: TARIKH ACEH DAN NUSANTARA | Tengkuputeh

  24. Pingback: KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 | Tengkuputeh

  25. Pingback: PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH | Tengkuputeh

  26. Pingback: PARA PENYEBAR KEBOHONGAN | Tengkuputeh

  27. Pingback: MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  28. Pingback: MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA | Tengkuputeh

  29. Pingback: SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH | Tengkuputeh

  30. Pingback: EMAS, KAFIR DAN MAUT | Tengkuputeh

  31. Pingback: PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH | Tengkuputeh

  32. Pingback: TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH | Tengkuputeh

  33. Pingback: MELUKIS SEJARAH | Tengkuputeh

  34. Pingback: ACEH SEPANJANG ABAD | Tengkuputeh

  35. Pingback: ACEH DI MATA KOLONIALIS | Tengkuputeh

  36. Pingback: KORPS MARSOSE, PASUKAN PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA | Tengkuputeh

  37. Pingback: KORPS MARSOSE, SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA | Tengkuputeh

  38. Pingback: KORPS MARSOSE, SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA | Tengkuputeh

  39. Pingback: MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN | Tengkuputeh

  40. Pingback: SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT | Tengkuputeh

  41. Pingback: SENJA DI MALAKA | Tengkuputeh

  42. Pingback: PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  43. Pingback: ACEH DAERAH MODAL | Tengkuputeh

  44. Pingback: PERANG DI JALAN ALLAH | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s