OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA

Lukisan Cut Mutia, Desa Beuringen Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara.

OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA

Boleh tidak kita melupakan sejenak kontroversi penerbitan uang pecahan Rp. 1.000,- dengan gambar Pahlawan Nasional Cut Meutia berhijab atau tidak? Patut diingat bahwa kita tidak memiliki foto otentik Cut Meutia, bahkan lukisan beliau yang ada di (replikasi) rumah beliau di jalan Desa Beuringen Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, adalah berdasarkan ingatan keluarga. Mungkin para pembaca perlu tahu, bahwa pada masa penjajahan Belanda hampir semua perempuan Aceh menolak di foto. Adapun beberapa foto perempuan yang berhasil diabadikan oleh Belanda adalah mereka yang dalam keadaan tertangkap atau tertawan. Dan Cut Meutia lebih dahulu wafat dalam perjuangannya sebelum sempat difoto oleh Belanda.

Penjelasan BI gambar Cut Meutia di uang pecahan Rp.1000,-

Kepahlawanan Cut Meutia diperoleh dengan harga yang mahal, nyawa beliau. Ada kisah tragis yang mungkin kita belum lihat kembali, sebuah kisah dimana selaku anak bangsa ini, meneteskan air mata ketika membacanya. Kisah terbunuhnya Cut Meutia di tangan Belanda pada 25 Oktober 1910 di Pucok Krueng Keureuto, Aceh Utara.

Rute pengejaran pasukan Belanda terhadap Cut Meutia

Berikut laporan Sersan Mosselman, seorang pemimpin brigade terkenal dalam perang gerilya, sejak tanggal 22 Oktober 1910 ditugaskan membuntuti jejak sebuah pasukan kawanan yang disinyalir di Lhok Reuhat dan pada hari ketiga ia menemukan sebuah jejak yang masih baru di anak sungai Krueng Peutoe, sungguh pihak lawan telah berusaha melenyapkannya.

“… Semakin jauh ke hulu, dasar sungai semakin melebar, keadaannya semakin berat dan agung. Gundukan batu-batu gunung semakin bertambah-tambah dan lebih banyak dijumpai air-air terjunkecil setinggi beberapa meter, batu-batu selicin kaca tempat air mengalir terus dinaiki dengan menyandang karaben dan peralatan-peralatan lainnya. Sesudah mendaki sejurus lamanya dan sambil menunggu teman-teman sepasukan dengan mengamati seluruh keadaan disekitarnya, maka kira-kira jam 4 sore, tidak jauh di depan saya, terlihatlah oleh saya kepulan asap bergulung-gulung di udara di antara pohon-pohon kayu. Lagi-lagi bulu kudukku berdiri, suatu tanda yang dialami manusia, jika ia sedang mengalami bahaya.

Saya berusaha mempertahankan semangat anak-anak buahku dan maju terus ke muka. Apa yang tertinggal padaku adalah anggota-anggota pilihan. Akan tetapi sunggu sukar untuk memperoleh suatu prestasi kekuatan seperti demikian. Hanya marsose Manado Mahamit, nrp 68750 dan marsose Jawa Tarmin, nrp 71065, seorang anak buahku dari Malang yang sangat gesit sajalah yang bersembunyi di balik batu besar, lalu memutar badanku dan setiap anggota marsose yang mendaki dapat melihat isyarat yang kuberikan.

Mereka yang berbahaya, pasukan Marsose. Kebanggaan Belanda, mereka adalah bawahan yang mumpuni.

Setelah kami berkumpul saya perintahkan anggota-anggota pasukan untuk melepaskan ransel mereka. Ketika saya hendak merayap ke dalam hutan untuk dapat melihat medan denga lebih jelas sehingga dapat mengambil jalan terbaik jika hendak melakukan pengintaian atau penyergapan, tiba-tiba seorang anggota pasukanku berseeru: “Di situ!” Pada arah yang disebut kira-kira 200 meter dari kami terlihat orang Aceh sedang berlari-lari ke sebuah alur. Kami tidak mungkin untuk melakukan penyergapan dan hanya kecepatan sajalah yang dapat memberikan suaru sukses. “Serbu…!” Dalam waktu secepat kilat berlarilah ke tujuh kami ke depan, ke sebuah alur tempat orang tadi melarikan diri. Walaupun jatuh bangun di atas batu-batu namun kami terus juga maju ke muka dan baru berhenti pada sebuah anak alur. Pada jarak lebih kurang 150 meter dari muara sebuah alur kami temui sebuah pondok yang sedang diperbuat dalam keadaaan ditinggalkan beserta perbekalan-perbekalannya. Saya meraung-raung, namun tidak diperoleh yang mampu mengikuti aku. Sama-sama kami tiba di pondok dan bertiga menyerbu ke dalamnya. Sesudah berlari sejauh 200 meter sampailah kami pada sebuah pengkolaj alur yang tajam dan berhadapan dengan beberapa orang lawan, kira-kira 30 meter yang sedang berusahan menyeberangi alur. Mamahit yang berada di depan sesekali menunjuk kepada seorang tua yang dipapah oleh tiga orang hendak melarikan diri ke dalam hutan. Ia melepaskan tembakan kearah orang tua itu yang tepat mengenai sasaranya lalu roboh.

Segera berkecamuk tembak-menembak. Kami bertiga ditembaki dengan gencar dari arah yang dekat sekali, dari tepi alur, dari hutan, dari segenap penjuru. Seketika pandangan kami bertiga bertemu, sungguh gila, bahwa pada saat-saat seperti itu kami sama-sama perlu memandang satu sama lain. Aku berpikir, (kemudian berkata juga Tarmin dan Mamahit apa yang mereka pikirkan itu), bahwa saat terakhir sudah tiba bagi kami. Ternyata betul-betul kami memperoleh sukses besar. Aku melompat ke dalam air di pengkolan alur, sedang di belakang kami terbentang dinding bukit yang curam. Kami berdiri di dalam air sampai ke perut atau secara harfiah, dengan punggung kami bersandar pada dinding.

Kami betul-betul sudah kepayahan dan melepaskan tembakan seperti semburan air ikan paus. Hampir-hampir kami tidak dapat menembak. Peluru lawan bertaburan di depan kami dalam air yang menciut-ciut mengenai dinding bukit di belakang kami, semuanya meleset, tetapi tembakan kami pun demikian juga. Dalam keadaan terengah-engah tidaklah mungkin untuk melepaskan tembakan yang tepat. Pendeknya kami harus tenang dulu, untuk melakukan penyerbuan pun tidak mungkin karena saya tahu benar, bahwa kami kini berada ditengah-tengah pasukan lawan. Karenanya kami harus berusaha di tempat ini, jika kami terkena peluru lawan, untuk menjual nyawa kami dengan harga semahal-mahalnya.

Pihak lawan tampaknya masih panik. Kami merasa beruntung karena sudah dapat menenangkan diri sebelum mereka sempat menyerbu kami.

Isyarat menyerbu diberikan oleh seorang wanita bertubuh ramping, berwajah putih kuning dengan rambut terurai mengayunkan kelewangnya seraya berteriak-teriak yang secara tiba-tiba menyerbu dari hutan. Ia tersungkur ke bawah seperti halnya beberapa orang pemuda lainnya yang mengikuti jejaknya akibat tembakan yang mengenai kepalanya ketika ia menyerbu sampai beberapa meter di depan kami.

Bunyi tembakan bergemuruh lagi, bahkan lebih dasyat dari semula. Aku merasakan, bahwa pihak lawan bertambah dekat dengan kami. Sungguh suatu hal yang kritis sama sekali sedang aku masih belum melihat salah satu anggota pasukan kami. Kemudian mereka menyangsikan tempat kejadian yang sebenarnya, walaupun terdengar bunyi tembakan dengan begitu riuhnya! Ketika mula-mula terdengar bunyi tembakan yang dasyat ke punggung penembak-penembak lawan. Itu adalah taktik! Dan sungguh, sekiranya mereka muncul seperti tetesan air, satu-satu di alur, tentulah kurang menarik perhatian, maka sudah dapat dipastikan kejadiaannya, bahwa kami semua tinggal nama saja.

Kami bertiga memaki-maki dalam tiga bahasa. Mahamit merepet-repet dengan logat Manadonya. Dari mulut Tarmin di antara bahasa Jawa yang “medok” itu berkali-kali saya mendengar perkataan “asu” dan “celeng” pada setiap meletus tembakan. Bunyi tembakan menyerupai musik gemuruh di telinga kami dan tiba-tiba, agak serong di depan kami, di celah-celah letusan tembakan itu, terdengarlah terikan orang : “Maju, hantam marsose!” Pihak lawan menyangka, bahwa mereka telah dikepung. Bukankah tidak masuk akal, bahwa kumpeni mengirimkan tiga orang marsose jauh ke pedalaman.

Letusan tembakan agak terhenti kedengarannya. Zikir “Allah il Allah” lambat-lambat terdengar lesu dan tiba-tiba kami berlima bersama Wakary dan Sinkey yang melompat dari tepi alur yang ditumbuhi semak belukar ke dasar alur, menyerbu ke dalam hutan di depan kami yang saya duga tempat lawan bersembunyi.

Di hadapan kami terbaring seorang laki-laki tua yang tadinya dipapah teman-temannya terkena peluru kami. Dari balik batu-batu besar melompatlah dua orang pemuda gesit ke depan. Masing-masing mereka melindungi tubuh laki-laki tua itu dengan badan mereka sambil menghunus kelewang dan rencong di tangan. Kedua mereka terpaksa di bacok dengan kelewang. Ketika saya melangkahinya saya melihat, bahwa lelaki tua itu telah meninggal. Ia terbaring di tanah dalam keadaan tak bergerak tanpa memperdulikan hal-hal yang yang terjadi terhadap dirinya. Sesaat saya melihat senjatanya yang disalut emas, senjata “bawar” yang seterkenal itu dan tiba-tiba terlintas di kepalaku, bahwa tentulah ia seorang keramat. Hal ini dibuktikan oleh pengorbanan kedua orang pemuda itu yang benar-benar menghadapi maut secara pahlawan.

Kami belum waktunya untuk beristirahat dan terus melakukan penyerbuan ke dalam hutan. Penembak-penembak lawan pasti tidak akan menunggu kami. Hanya seseorang telah merekam kami dengan kelewang dari balik batang kayu. Saya melihat sebuah tahi lalat besar dekat hidungnya, perasaan ngeri timbul padaku ketika kelewang saya melayang ke lehernya.

W.J Mosselman

Selagi saya menceritakan kejadian ini sekarang saya merasakan seolah-olah itu baru kemarin saya alami kendatipun sudah berlalu 27 tahun yang lampau. Saya masih melihat rupa wanita putih kuning itu dengan wajahnya yang cerdas, didorong oleh perasaannya yang menyala-nyala untuk tewas sebagai seorang syahid. Dengan mata yang liar dan rambut terurai di kepalanya, yang mengayunkan kelewang menyerbu kami. Apakah ia sudah jemu dari pelariannya? Apakah tindakannya itu, demikian terpikir oleh saya kemudian ketika mengetahui siapa dia, demi membela puteranya? Kami sama sekali tidak melihat puteranya, pemuda-pemuda yang mengusung orang tua keramat tadi dengan matanya yang tidak bersinar lagi (Ulama tersebut kemudian teridentifikasi sebagai Tengku Seupot Mata) adalah anggota-anggota lawan termuda.

Untuk seseorang mungkin sesekali tidak ada batas penderitaan yang dapat ditanggungnya, tetapi ada penderitaan yang mau ditanggungnya. Suaminya yang kedua telah dihukum mati, yang ketiga (Pang Nanggroe) tertembak pula, pengejaran yang tak henti-hentinya ditujukan kepadanya, suatu penderitaan yang dasyat sekali dalam kehidupannya, terus menerus melarikan diri, mungkin sekali oleh karena nasibnya membuntutinya, terlintas dalam pikirannya : “Sudah ditakdirkan Allah” Segala puja dan puji bagiNya, yang telah menentukan masaNya dan dengan izinNya pula telah menjadikan saya sebagai penyebab syahidnya itu.

Oleh karena itu bukanlah suatu kepastian, bahwa wanita itu membeli matinya dengan keyakinan akan bertemu dengan mereka yang telah mendahuluinya? Baik dia maupun Pang Nanggroe adalah orang-orang yang tidak kenal, apa yang dikatakan kemudiam, “mel” (=Melapor)! Mereka yang muda-muda akan bercerita kemudian di meunasah-meunasah, bahwa mereka telah syahid tahun 1910…”

Laporan W.J Mosselman ini (tahun 1937) tercatat pada buku Aceh (1938), H.C Zentgraff yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Aboe Bakar (1983) Halaman 227-231.

Gugurnya Cut Meutia dan ulama Tengku Seupot Mata hanya merupakan sebuah masa istirahat dalam babak peperangan. Pihak pemerintah kolonial Belanda menyadari akan tetap ada perlawanan dari masyarakat Aceh terhadap pemerintah kolonial, walaupun setelah Cut Meutia perlawanan Aceh hanyalah bersifat sporadis dan kecil. Belanda tidak pernah tenang berkuasa di Aceh bahkan sampai mereka angkat kaki selama-lamanya dari bumi Serambi Mekkah di tahun 1942.

XXX

Tulisan terkait MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA

Saksikan kedatangan tim tengkuputeh traveler ke rumah Cut Meutia pada video ini

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  19. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  20. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

39 Responses to OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA

  1. Pingback: MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  2. Pingback: KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 | Tengkuputeh

  3. Pingback: DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910) | Tengkuputeh

  4. Pingback: TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA | Tengkuputeh

  5. Pingback: MENYELUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH | Tengkuputeh

  6. Pingback: TEUKU UMAR PAHLAWAN | Tengkuputeh

  7. Pingback: FILOSOFI GOB | Tengkuputeh

  8. Pingback: ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH | Tengkuputeh

  9. Pingback: HIKAYAT SUKU MANTE | Tengkuputeh

  10. Pingback: MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA | Tengkuputeh

  11. Pingback: SENJA DI MALAKA | Tengkuputeh

  12. Pingback: KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA | Tengkuputeh

  13. Pingback: SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH | Tengkuputeh

  14. Pingback: MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA (1996) | Tengkuputeh

  15. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  16. Pingback: PEREMPUAN ACEH FULL POWER | Tengkuputeh

  17. Pingback: KEBENARAN YANG SAMAR | Tengkuputeh

  18. Pingback: TSUNAMI | Tengkuputeh

  19. Pingback: PERADABAN TANPA TULISAN | Tengkuputeh

  20. Pingback: SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 | Tengkuputeh

  21. Pingback: PARA PENYEBAR KEBOHONGAN | Tengkuputeh

  22. Pingback: ACEH DI MATA KOLONIALIS | Tengkuputeh

  23. Pingback: PERANG ACEH KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  24. Pingback: NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  25. Pingback: MELUKIS SEJARAH | Tengkuputeh

  26. Pingback: ACEH SEPANJANG ABAD | Tengkuputeh

  27. Pingback: PERANG DI JALAN ALLAH | Tengkuputeh

  28. Pingback: ACEH DAERAH MODAL | Tengkuputeh

  29. Pingback: GAM CANTOI TIADA | Tengkuputeh

  30. Pingback: EMAS, KAFIR DAN MAUT | Tengkuputeh

  31. Pingback: MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN | Tengkuputeh

  32. Pingback: SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT | Tengkuputeh

  33. Pingback: 59 TAHUN ACEH MERDEKA Dl BAWAH PEMERINTAHAN RATU | Tengkuputeh

  34. Pingback: 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU | Tengkuputeh

  35. Pingback: KERAJAAN ACEH JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) | Tengkuputeh

  36. Pingback: PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  37. Pingback: PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH | Tengkuputeh

  38. Pingback: MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  39. Pingback: ATJEH MENDAKWA | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s