HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU

Seorang Laki-laki dalam tradisi Aceh pantang (hamee) memakai perhiasan emas. “Urueng agam hanjeut sok meuh.” Foto : Contoh Cincin Perhiasan Aceh Kuno koleksi Museum Aceh pada PKA 2018.

Hame atau pantangan dalam masyarakat Aceh masa lampau

Setiap kebudayaan, setiap masyarakat pada berbagai negeri memiliki kekhasan sendiri. Salah satu bagian dari bingkai kebudayaan yang besar itu adalah pantangan. Begitu pula dengan masyarakat Aceh terdapat cukup banyak pantangan yang dalam bahasa Aceh lazim disebut “Hame”, pantangan tersebut menjadi semacam aturan tidak tertulis yang disampaikan secara lisan. Tradisi oral ini telah berlangsung selama ratusan tahun, namun demikian masih banyak orang yang menjadikan pantangan/larangan tersebut sebagai pedoman.

Mengapa ada aturan pantangan dalam masyarakat?

Aturan atau pembatasan yang tergolong pantang atau tabu di Aceh yang disebut dengan hame (seperti hanya pamali di masyarakat Sunda) digunakan sebagai pendidikan kepada anak, ada kasus-kasus pengambaran akibat buruk dari pelanggaran hanya berupa deraan sehingga dapat digambarkan sebagai imitasi dari pantang yang sebenarnya, tak lebih dimanfaatkan untuk tujuan agar si anak menjadi beradab.

Orang tidak boleh memakan telur yang diambil dari ayam yang sudah mati, sekiranya larangan ini tak diindahkan dan kelak tertembak peluru, sebenarnya telur dari ayam yang sudah mati tidak sehat.

Jika seorang anak berbaring di kuburan, ayahnya akan mati; bila ia tengkurap dan kakinya diangkat, ibunya yang mati, ini hanyalah pengandaian yang digunakan untuk mendidik anak menjadi sopan.

Meminta kembali barang/sesuatu yang telah diberikan kepada orang lain akan menimbulkan borok pada siku. Makan dari periuk (kaneut) setelah kawin akan menyebabkan muka menjadi hitam, melemparkan beras ke mulut menyebabkan gigi busuk. Perut kembung disebabkan duduk di hembusan angin atau tidur di bawah langit langsung. Kemiskinan mengancam orang yang mengibaskan debu dari pakaiannya pada malam hari. Sebenarnya lebih kepada menunjukkan derajat kesopanan seseorang.

Aturan pantangan merupakan cabang pengetahuan yang populer bagi masyarakat Aceh zaman dahulu mirip dengan hadih maja yang pernah diulas sebelumnya.

Beberapa contoh hame (pantangan) yang berlaku di masyarakat Aceh.

  1. Meuayang deungôn seumipak. (Bercanda dengan menyepak);
  2. Tapék bak Ulée. (Memukul di kepala);
  3. Töh Geuntét lam Kawan Ramé. (Kentut di depan orang ramai);
  4. Duek bak babah pintôe / Rinyéun Rumöeh. (Duduk di pintu / tangga rumah);
  5. Manôe Teulhôen. (Mandi telanjang);
  6. Meudjamée bak ureung Inôeng hana laköe. (Bertamu ke rumah perempuan ketika suaminya tidak di rumah);
  7. Aneuk Dara duék bak Pintôe ngôn öek teugeureubang. (Anak gadis duduk di pintu rumah dengan rambut tergerai);
  8. Aneuk Dara Djak bak ureung Meuninggai. (Anak gadis pergi ke tempat orang meninggal);
  9. Gilhöe Keupiyah atawa Idja (Tangkulöek) Ulée. (Menginjak kupiah atau sorban);
  10. Ta lingkéu uréung Éh/ Ulée Uréung Éh. (Melangkahi orang tidur / kepala orang yang sedang tidur);
  11. Ta lingkéu Alat Keuridja lagee Lham, Cangkôi, Parang, dll). (Melangkahi alat pekerjaan seperti sekop, cangkul, parang, dll);
  12. Teukeusyak (Riya) Waté Sindja uröe. (Bergembira riya ketika menjelang maghrib);
  13. Tasipak/ Tagilhöe Makanan; (Tersepak . terinjak makanan);
  14. Ta tanyôeng uréung djak u Laöt atawa Utéun. (Bertanya orang pergi ke laut atau rimba);
  15. Urueng agam hanjeut sok meuh (Seorang laki-laki tidak boleh menggunakan emas sebagai perhiasan);
  16. Tadjak bak ureung meuninggai ngôn Peukayan Hayéu. (Mengunjungi orang meninggal dengan pakaian megah);
  17. Taseupöt Aneuk Miët ngôn Peudjampöh Djök. (Memukul anak dengan sapu dari enau);
  18. Padjöh bu lam pingan Beukah. (Makan dalam piring pecah);
  19. Sugöet Öek ngôn sugöet patah. (Menyisir dengan sisir patah);
  20. Tumeuléh ngôn Pulpén Dawéut Mirah. (Menulis denga pena tinta merah);
  21. Pantang ëh beungöeh dan Lhéuh Asha. (Pantang tidur pagi dan setelah Ashar);
  22. Ta Éh sira talhôen. (Tidur dalam keadaan telanjang);
  23. Taseumadjöh Teungöeh Meudjunub. (Makan dalam keadaan junub);
  24. Töeh Iék sira dôeng. (Berak sambil berdiri);
  25. Seumadjöeh sira dôeng. (Makan sambil berdiri);
  26. Taseumampöh waté malam. (Menyapu di dalam hari);
  27. Ta tét kulét Bawang Mirah-Putéh. (Membakar kulit bawang merah-putih);
  28. Tasampöh Aléeu ngôn idja sampöh djaröe. (mengepel lantai dengan kain lap tangan);
  29. Tadjak dikéu ureung tuha. (Pergi melewati orang tua);
  30. Tahéi uréung Tuha ngôn nan, hana lakap. (Memanggil orang tua dengan nama, tidak beradab);
  31. Tapeugléh Djaröe ngôn Abé. (Membersihkan tangan dengan debu);
  32. Tuëng ïe seumayang lam jamban. (Berwudhu di WC);
  33. Tacöep Bajée teungôh tasöek. (Menjahit baju seraya dikenakan);
  34. Talhap ïe bak Muka ngôn Bajé. (Menyeka keringat di wajah dengan baju);
  35. Tadjak u Pasai ban Beungôh Sindja. (Pergi ke pasar sewaktu awal senja);
  36. Hana ta töep Guci, Ulée Sangé, dsb. (Tidak menutup guci, kepala toples, dsb);
  37. Tasöek Tangkulöek (Seureuban) Sira Duék. (Memakai tengkulok (sorban) sambil duduk);
  38. Ta teumuléh ngôn Pulpen Meuikat. (Menulis dengan pena terikat);
  39. Tasöek Sileuwéu sira dôeng. (Mengenakan celana seraya berdiri);
  40. Karu teungôe di Bang bak Seumeudjid/Meunasah. (Rusuh/rebut ketika azan di Masjid/langgar);
  41. Pantang Teumeunak. (Pantang memaki);
  42. Duek atau bantai. (Duduk di atas bantal);
  43. Sembahyang di ateuh peurantah. (Shalat di atas tempat tidur/ranjang);
  44. Bloe jarom/sira malam uroe (Membeli jarum/garam di malam hari);

Ini Beberapa Pantangan Dalam Masyarakat Aceh secara umum. Kebiasaannya, beda daerah beda pantangan. Efek dari Pantangan ini beragam, bisa jadi “Hana Mudah Raseuki” atau dalam bahasa Indonesia “tidak mudah rezeki”, ada juga yang menyebabkan lemahnya ingatan. Bahkan, ada juga yang menjadi aib dalam satu komunitas masyarakat.

Sebagian besar hame atau pantangan diuraikan dalam adat dan kebiasaan masyarakat Aceh didasarkan pematuhan terhadap ketentuan adat ini beberapa bersumber dari ajaran Islam, sedang beberapa lainya mempunyai asal-usul dengan kepercayaan pra-Islam. Meskipun status hukumnya berbeda dengan Haram atau Makruh dalam hukum Islam. Kealpaan mematuhinya bagi sebagian orang dipercayai akan mendatangkan akibat buruk dalam hidup.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  2. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  3. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  4. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  5. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  6. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  7. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  8. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  9. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  10. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  11. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  12. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  13. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  14. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  15. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  16. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  17. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  18. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  19. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  20. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  21. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  22. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  23. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  24. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  25. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  26. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  27. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  28. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  29. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  30. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  31. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  32. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  33. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  34. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  35. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  36. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  37. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  38. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  39. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  40. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  41. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  42. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  43. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  44. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  45. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  46. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  47. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  48. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  49. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  50. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  51. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  52. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  53. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  54. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  55. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  56. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  57. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  58. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  59. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU

  1. Pingback: SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA | Tengkuputeh

  2. Pingback: APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.