EMAS, KAFIR DAN MAUT

 

Sikin Aceh bersepuh emas

EMAS, KAFIR DAN MAUT

Catatan Singkat Mengenai Pengalaman Dua Orang Perancis Di Aceh Barat Pada Akhir Abad XIX

Dalam abad ke-19 orang-orang Barat terus menjalankan eksplorasi mereka terhadap berbagai daerah Asia untuk mengeksploitasi kekayaan dari bangsa-bangsa yang disebut kulit berwarna. Dalam usaha ini mereka menghadapi berbagai reaksi masyarakat tempatan yang didatanginya.

Pada awal tahun 1877, ketika sedang berkecamuknya peperangan antara Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Belanda, datanglah seorang Perancis L. Wallon1 ke negeri Teunom dan Woyla, yang letaknya di pantai Barat Aceh. Wallon, melakukan penelitian ilmiah dan bermaksud berbisnis biji emas di kawasan hulu Teunom dan Woyla2. Yang menjadi raja di negeri-negeri Teunom dan jajahan taklukannya Panga waktu itu adalah Teuku Imum Muda3, sedangkan raja di negeri Woyla adalah Teuku di Blang. Dengan raja Woyla ini ia telah gagal mencapai persetujuan dalam usaha emas ini, oleh karena raja Woyla meminta seperempat dari hasil, sedang Wallon hanya bersedia memberi seperlimanya4.

Tiga tahun kemudian, Maret 1880, Wallon kembali lagi ke Teunom, kali ini dengan rekan sebangsanya bernama Guillaume5. Perjalanannya dari Padang (Sumatera Barat) menuju Teunom dengan menaiki perahu kepunyaan nahkoda Nyak Din, memakan waktu lebih kurang dua bulan lamanya, oleh karena mereka menyingahi tempat-tempat dan pulau-pulau kecil untuk melakukan penelitian6.

Peristiwa 11 Maret 1880

Teuku Imum Muda, Raja Teunom (Tengah)

Permintaan Wallon untuk pergi ke hulu sungai tidak diizinkan oleh Teuku Imum, sebab di sana menurut dia terdapat orang-orang jahat. Raja keberatan Wallon pergi tanpa disertainya, sebab dia takut Wallon akan dipukul oleh musuh-musuh Belanda, dan akhirnya dia pulalah yang mesti mengurus segala sesuatunya. Kemudian kedua orang Perancis itu ikut serta dengan Teuku Imum muda melalui jalan darat ke Kuala Woyla, sedangkan barang-barang mereka dengan pertolongan raja diangkat melalui laut dengan perahu. Teuku Imum Muda menyerahkan tanggung jawab keselamatan kedua orang Perancis ini kepada raja Woyla, Teuku di Blang tapi ia tidak bersedia menerimanya. Sekali lagi dinyatakan bahwa tempat yang dituju tidak cukup aman, dan kedua orang Perancis itupun ikut kembali ke Teunom bersama Teuku Imum Muda.

Sehari sesudah sampai di Teunom, kedua orang Perancis itu meminta izin pergi ke hulu Teunom, tetapi raja menyarankan supaya mereka jangan pergi ke sana apabila tidak bersamanya. Mereka tidak menghiraukan nasehat ini dan menyatakan supaya raja tidak usah khawatir karena mereka sebagai orang putih tahu benar akan usaha yang hendak dijalankan. Mereka hanya meminta pertolongan raja itu untuk mencarikan seorang penunjuk jalan, seorang tukang masak dan seorang tukang kayuh7. Setelah memenuhi permintaan mereka, Teuku Imum berangkat ke Panga dan kedua orang Perancis itu menuju hulu Teunom. Demikianlah butir-butir yang kita dapati dalam surat raja Teunom yang ditujukan kepada Assisten Residen Aceh Barat di Meulaboh, bertanggal 10 Maret 18808.

Setelah dua hari menaiki perahu mudik ke hulu sungai Teunom, sampailah kedua orang Perancis itu pada 11 Maret 1880 pukul empat petang di Tuwi Perya9. Tiba-tiba dari semak belukar muncullah dua orang Aceh, Panglima Lam Ara dan Po Imum Alue Leuhob, bersama kira-kira 40 orang pengikutnya10. Panglima Lam Ara berteriak kepada Teuku Din mengapa datang kesitu membawa kafir. Teuku Din menjawab bahwa mereka diminta oleh Teuku Imum Muda, Sayed Hasan, Teuku Padang dan kedua tuan ini bukanlah Belanda, tetapi Perancis yang bermaksud mengadakan penyelidikan mencari emas. Panglima Lam Ara menjawab ia tak peduli akan perintah pemimpin-pemimpin tadi, karena orang-orang yang berdiam di tepi pantai semuanya telah menjadi kafir. Panglima Lam Ara dan Po Imum Alue Leuhob segera mendekati perahu itu dan segera menamatkan riwayat kedua orang Perancis itu dengan pedangnya. Karena serangan itu begitu tiba-tiba, mereka tak sempat membela diri, orang-orang Aceh itu juga hendak menghabiskan kelima orang bumiputera yang berada di dalam perahu itu, tetapi semuanya sempat meloncat ke dalam air dan berusaha melarikan diri. Salah seorangnya berasal dari Bogor bernama Aripan, sempat tertangkap11. Ia meminta ampun supaya jangan dipancung karena ia orang Islam. Mereka tidak begitu saja mau mempercayainya sebelum membuktikannya. Maka dibukakanlah celana Aripan dan setelah diketahui bahwa ia telah disunat, maka iapun dilepaskan. Mayat kedua orang putih itu dicampakkan mereka ke dalam sungai dan mungkin telah menjadi mangsa buaya, karena ketika Teuku Imum mencari mayat-mayat itu tidak ditemukan lagi, meskipun dengan menggunakan empat buah perahu.

Usaha-usaha Raja Teunom

Setelah Raja Teunom mendapat kabar bahwa kedua orang Perancis itu terbunuh, ia mengerahkan penyelidikan dan tiga hari selepas itu ia mandapat kabar bahwa berita itu benar. Utusannya kembali dengan Aripan bersama Teuku Din dan si Hitam dan merekalah yang menceritakan semua itu12. Dengan segera ia mengirimkan 50 orang ke tempat naas itu terjadi dengan arahan supaya dijalankan segala usaha agar yang melakukan pembunuhan supaya ditangkap hidup atau mati dan memerintahkan agar yang bersalah itu jika terdapat dimanapun dalam daerahnya, dikejar dan ditangkap. Iapun meminta kepada Assisten Residan Belanda di Meulaboh untuk segera memberitahukan kepadanya apakah barang-barang kepunyaan orang-orang Perancis itu segera dikirimkan ke Meulaboh dan jika dikehendaki demikian ia akan melakukannya dengan segera13.

Ancaman yang jahat dari penjajah

Van Der Hayden

Gubernur Belanda di Aceh Van Der Heyden memerintahkan kepada seorang pegawai daerah berkebangsaan Belanda, Van Swieten, untuk berangkat ke Aceh Barat dengan kapal api Siak pada 31 Maret 1880 membawa surat dari Gubernur itu kepada Raja Teunom14. Ia juga berkeinginan mengirimkan dua pasukan infanteri dan pasukan meriam seperlunya ke negeri Teunom, tetapi kemudian menundanya sampai Van Swieten kembali dengan kapal tersebut dan lagi dia sendiri bermaksud pergi ke Teunom. Dalam surat Gubernur di atas kepada Raja Teunom dikemukannya rasa dukacitanya terhadap pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah itu apalagi warga bangsa yang bersahabat baik dengan Hindia Belanda. Ia juga menghargai usaha-usaha raja Teunom untuk menangkap pembunuh-pembunuh itu dan juga usaha keselamatan barang-barang yang ditinggalkan oleh kedua korban tersebut dipujinya. Meskipun begitu ia masih belum puas lagi. Sebagai ganti darah yang telah tertumpah, Van Der Heyden menuntut kepada Raja Teunom dan rakyatnya menyerahkan pembunuh-pembunuh Wallon dan Guillaume, sedangkan untuk pelaksanaan hanya diberikan masa empat hari kepada raja itu. Dan kalau pembunuh-pembunuh itu tidak lagi berada dalam wilayah yang dikuasai oleh raja Teunom, dan tidak mungkin dapat menangkapnya, maka Belanda meminta kepada rakyat Teunom membayar sebesar 2.000 ringgit dalam masa empat hari, Ancaman itu seterusnya menyatakan bahwa bilamana masanya telah habis dan tuntutan-tuntutan Belanda tidak dipenuhi, maka raja Teunom bersama rakyatnya akan menanggung akibatnya15.

Adat dan jebakan yang gagal

Raja Teunom berusaha memanggil Panglima Lam Ara dan Po Imum Alue Leuhob dengan semua pengikut-pengikutnya, dengan maksud hendak menangkapnya. Kira-kira 14 hari kemudian datanglah mereka dengan lebih kurang 40 orang pengikutnya membawa barang-barang kepunyaan kedua orang Perancis itu yang terdiri dari tiga pucuk senapan, satu kemah (tenda), uang 20 ringgit, serta uang emas 50 keping dan menyerahkannya ke tangan Teuku Banda untuk diteruskan kepada raja Teunom. Selain daripada itu mereka membawa bersama seekor kerbau, sejumlah kelapa muda dan tebu untuk disampaikan memenuhi adat yang meminta ampun kepada raja16.

Teuku Imum Muda menyuruh Teuku Banda dan seorang lagi Teuku Mut pergi menemui Panglima Lam Ara serta Po Imum Alue Leuhob meminta keduanya menghadap, tetapi pengikut-pengikutnya supaya menunggu saja dahulu diseberang sungai Panga. Tetapi kedua mereka itu menolak usul tersebut bila tidak diizinkan datang bersama-sama dengan pengikut-pengikutnya. Kemudian oleh Teuku Imum mencari akal dan mengirimkan sebuah perahu ke seberang sungai ke tempat Panglima itu berada dengan maksud hendak mengepung mereka. Ketika tampak perahu menuju ke seberang Panglima Lam Ara bersama pengikut-pengikutnya segera melarikan diri. Kemudian Teuku Imum menyuruh kira-kira 500 orang mencari Panglima Lam Ara dan kawan-kawannya melalui jalan ladang dan ia sendiri dengan lebih kurang 1.000 orang rakyat mengambil jalan pantai terus mudik ke hulu menuju Tuwi Perya. Sesampainya disana mereka tidak mendapai manusia, kecuali padi, lada serta rumah-rumah kosong saja. Teuku Imum menyuruh membakar rumah ladang Panglima Lam Ara serta Po Imum, kesemuanya ada 6 buah17.

Setelah pihak Belanda yakin benar bahwa Teuku Imum rupanya tidak terlibat dalam usaha membunuh kedua orang Perancis itu, maka Gubernur Van Der Heyden menyatakan dalam sepucuk surat dari atas geladak kapal “zeemeeuw” 9 April 1880, bahwa ia bersedia menyerahkan uang jaminan 2.000 ringgit yang seharusnya dibayar Teuku Imum kepada Belanda, kedalam tangan Teuku Imum sendiri untuk biaya meneruskan usaha mencari dan menangkap Panglima Lam Ara dan Po Imum Alue Leuhob18.

Epilog

Mengambil pengalaman dari peristiwa tersebut, Gubernur Belanda di Aceh meminta kepada Gubenur Jenderal Hindia Belanda di Betawi agar untuk masa yang akan datang, kunjungan ke pedalaman seperti yang dilakukan oleh kedua orang Perancis itu, demi keselamatan haruslah dengan izin Belanda, dan kepala bumiputera. Rupanya Belanda tidak menyukai Wallon dan rekannya yang tidak meminta izin terlebih dahulu. Pada 18 Februari 1887, Gubernur Belanda di Aceh mengeluarkan izin kepada Mathieu Baron Von Hedenstrom, umur 28 tahun, yang lahir di Odessa (Rusia) dan berdomisili di Paris. Ia bermaksud meneruskan penyelidikan yang telah dilakukan oleh Wallon dan Guillaume di Aceh Barat. Dalam surat itu disebutkan bahwa izin itu hanya berlaku semata-mata bagi keperluan penyelidikan ilmiah dan jikalau hendak mengunjungi tempat-tempat di luar Meulaboh, ia tidak boleh melakukan kunjungan, dilarang oleh pegawai perizinan Belanda yang ditugaskan di sana karena alasan keselamatan.

Gubenur Belanda di Aceh menyatakan bahwa sebab kejahatan dan pembunuhan itu adalah nafsu merampok, terlebih-lebih dari rakyat Aceh yang kasar dan tidak beradab. Adakah pernyataan gubernur itu dapat diterima setelah terbukti Panglima Lam Ara dan rekan-rekannya telah mengembalikan harta kedua orang Perancis termasuk ringgit dan uang emas mereka? Tidak dapat diharapkan pihak penjajah untuk memahami tindakan-tindakan orang lain berdasarkan pandagan yang berbeda dari mereka. Tidaklah pula dapat diharapkan, dalam suasana perang melawan Belanda itu, Panglima Lam Ara yang menyakiti bahwa orang eropa yang dianggap kafir hendak merusak agama dan bangsanya akan berbuat lain daripada apa yang telah dilakukannya. Perbenturan tata nilai yang dimungkinkan oleh berbagai keadaan, telah terjadi disana.

Catatan Kaki :

1Catatan perjalannya dimuat dalam Annales de I’ Extreme Orient, August 1789, dan diterjemahkan oleh D.F.A. Hervey dengan judul “Klouwang and its Caves, West Coast of Atchin”, Journal of the Straits Branch, Royal Asiatic Society, (Singapura), jilid 8, (Desember 1881), ms. 153-8.

2Aceh, sejak sebelum Sultan Iskandar Muda (1607-1636), telah terkenal dengan emasnya. A. Hamilton dalam kisah perjalannya ke Nusantara, 1688-1723, menyebutkan sebagai berikut : “Atcheen affords nothing of its own product fit for export, but gold dust, wich they have pretty plentiful, and of the finest touch of any in those parts, its being 2% better than Andraghiry sic Pahaung sic gold, and is equal in touch to our guinea” A New Account of the East Indies, jilid II, Edinburg, 1727, m.s 108.

3Ketika bermula Perang Aceh melawan Belanda pada tahun 1873, Teuku Imum Muda sebagai seorang Uleebalang (hulubalang) muda berangkat ke neheri Aceh-Inti (Acheh Proper) pada tahun 1874 ikut mengambil bagian dalam peperangan melawan Belanda yang dianggap kafir oleh orang Aceh waktu itu. Karena banyak banyak rakyatnya yang mati syahid dan mendapat luka-luka ia terpaksa kembali ke Aceh Barat, setelah ia bersumpah tidak akan menyerah kepada Belanda. Tetapi pada tahun 1876 melalui juru tulisnya ia menyatakan keinginannya dengan surat menyerah dengan suatu syarat tidak berkewajiban menemui Belanda atau komandan dari kapal perang Belanda. Belanda tidak mempedulikannya dan tetap melakukan blockade terhadap hasil eksport ladanya, maka pada tahun 1877 syarat yang diajukan itu dicabutnya dan pergilah ia ke Kutaraja dan menandatangani 18 artikel akta penyerahan kepada Belanda. Satu daripadanya berisi ketetapan bahwa sebahagian pendapatan rakyatnya yang seharusnya dipersembahkan kepada Sultan Aceh, akan jatuh kepada Pemerintah Hindia Belanda. Lihat “Mededeelingen betreffende de Atjehsche Onderhoorig-heden”, Bijdragen tot de Taal-en Volkenkunde van Nederlandch Indie, (The Hague), IX, 1910, m.s. 153.

4Laporan Assisten Residen Aceh Barat, Van Langen, 6 April 1880, dossier no. 9186, Arkib Am Kerajaan, Schaarebergen, Negeri Belanda

5Raja Teunom memberi izin kepada Wallon menyimpan barang-barang di kedai raja itu di Teluk Bubon. Lihat surat Teuku Imum Muda kepada Assisten Residen Belanda di Aceh Barat, 18 Maret 1880, ibid

6Laporan Aripan, orang gaji kedua Perancis ini, pada pegawai Belanda di Kutaraja, 7 April 1880, dalam Laporan Politik Van Der Heyden, (15 Jan-30 Okt. 1880), ibid.

7Yang menjadi penunjuk jalan, Teuku Din, penolong tukang masak bernama si Hitam dan dua orang lagi tukang kayuh yang menyertai perjalanan itu. Laporan Assisten Residen Aceh Barat, 6 April 1880, ibid.

8Raja Teunom kepada Assisten Residen Aceh Barat, ibid

9Mengenai rekonstruksi peristiwa 11 Maret 1880, lihat surat Teuku Imum Muda, 3 April 1880; pengakuan Aripan, 7 April 1880 Laporan Politik Van Der Heyden, 5 Jan.-30 Oktober 1880, ibid.

10Panglima Lam Ara berasal dari Pedir (Pidie) pada mulanya tinggal di hulu Woyla, karena perselisihan dengan raja Woyla , ia diusur dari sana, Kemudian ia menetap di hulu Teunom, Tuwi Perya, membuka tanah dengan menanam lada. Pengikut-pengikut Panglima ini juga Po Imum Alue Lehob adalah orang-orang Pedir. Laporan Van Langen, 6 April 1880, ibid.

11Aripan, 23 tahun, pernah bekerja di Bali. Setelah tuannya bernama Rouseline pindah ke Saigon, ia hendak kembali ke Bogor, tetapi di Singgapura ia berjumpa Wallon, Guillaume dan Courret. Akhirnya Aripan bersedia bekerja pada mereka. Dengan kedua orang yang tersebut belakangan, dia pergi ke Betawi dan kemudian menuju Padang (Sumatera Barat)/ Lihat pengakuan Aripan, 7 April 1880 dalam Laporan Politik Van Der Heyden, 5 Jan.- 80 Oktober 1880. Ibid.

12Surat Teuku Imum Muda, 18 Maret 18180, ibid.

13Ibid

14Surat Gubernur Belanda di Aceh pada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Betawi No. 612/P.Z., 4 April 1880. Ibid

15Ibid

16Surat Teuku Imum Muda, 3 April 1880. Ibid.

17Setelah tiga hari Raha ini kembali ke Panga barulah diperoleh kabar bahwa anak saudara Panglima Lam Ara telah mati terbenam di sungai teunom ketika melarikan diri dari kejaran orang-orang raja Teunom, dan empat orang pengikut Panglima itu juga hilang terhanyut di dalam sungai ketika mereka mengundurkan diri. Ibid

18Ibid

19Surat No. 690/P.Z. 18 April 1880. Ibid

Referensi :

Emas, Kafir dan Maut; T. Ibrahim Alfian; Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Aceh; Darussalam – Banda Aceh; Tahun 1976.

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  19. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

44 Responses to EMAS, KAFIR DAN MAUT

  1. Pingback: GOLD, INFIDELS, AND DEATH | Tengkuputeh

  2. Pingback: TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA | Tengkuputeh

  3. Pingback: MENYELUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH | Tengkuputeh

  4. Pingback: TEUKU UMAR PAHLAWAN | Tengkuputeh

  5. Pingback: FILOSOFI GOB | Tengkuputeh

  6. Pingback: ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH | Tengkuputeh

  7. Pingback: HIKAYAT SUKU MANTE | Tengkuputeh

  8. Pingback: MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA | Tengkuputeh

  9. Pingback: SENJA DI MALAKA | Tengkuputeh

  10. Pingback: KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA | Tengkuputeh

  11. Pingback: OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  12. Pingback: MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  13. Pingback: SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH | Tengkuputeh

  14. Pingback: MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA (1996) | Tengkuputeh

  15. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  16. Pingback: PEREMPUAN ACEH FULL POWER | Tengkuputeh

  17. Pingback: KEBENARAN YANG SAMAR | Tengkuputeh

  18. Pingback: TSUNAMI | Tengkuputeh

  19. Pingback: PERADABAN TANPA TULISAN | Tengkuputeh

  20. Pingback: SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 | Tengkuputeh

  21. Pingback: ACEH DI MATA KOLONIALIS | Tengkuputeh

  22. Pingback: PERANG ACEH KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  23. Pingback: NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  24. Pingback: MELUKIS SEJARAH | Tengkuputeh

  25. Pingback: ACEH SEPANJANG ABAD | Tengkuputeh

  26. Pingback: PARA PENYEBAR KEBOHONGAN | Tengkuputeh

  27. Pingback: PERANG DI JALAN ALLAH | Tengkuputeh

  28. Pingback: ACEH DAERAH MODAL | Tengkuputeh

  29. Pingback: GAM CANTOI TIADA | Tengkuputeh

  30. Pingback: MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN | Tengkuputeh

  31. Pingback: SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT | Tengkuputeh

  32. Pingback: 59 TAHUN ACEH MERDEKA Dl BAWAH PEMERINTAHAN RATU | Tengkuputeh

  33. Pingback: 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU | Tengkuputeh

  34. Pingback: KERAJAAN ACEH JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) | Tengkuputeh

  35. Pingback: PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  36. Pingback: PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH | Tengkuputeh

  37. Pingback: MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH | Tengkuputeh

  38. Pingback: KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 | Tengkuputeh

  39. Pingback: ATJEH MENDAKWA | Tengkuputeh

  40. Pingback: MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH | Tengkuputeh

  41. Pingback: BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH | Tengkuputeh

  42. Pingback: EKSPLORASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH | Tengkuputeh

  43. Pingback: EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH | Tengkuputeh

  44. Pingback: AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s