GEREJA PERTAMA DI ACEH

Gereja pertama di Aceh 1874

Gereja pertama di Aceh 1874

GEREJA PERTAMA DI ACEH

Gereja pertama di Aceh dibangun tahun 1874, di Pantee Pirak Belanda membangun sebuah jembatan yang menghubungkan dengan Peuniti, di sana pula, pada bekas tanah Sultan Aceh itu mereka membangun sebuah gereja.

Pembangunan gereja ini sebagai tindak lanjut proklamasi kemenangan dari pemimpin ekspedisi kedua perang Aceh, Jenderal Van Swieten pada 28 Januari 1874. Maklumat ini karena Belanda telah merebut istana kerajaan Aceh dan dengan hak perang seluruh Aceh di bawah kedaulatan Belanda. Seluruh harta benda Sultan dan para kerabatnya menjadi milik Belanda (tentara KNIL). Hal itulah sebabnya jika kita melihat asrama tentara (sekarang) di Koetaradja (Banda Aceh) awalnya adalah milik Sultan/kerabatnya dulu.

Proklamasi Kemenangan Belanda oleh Van Swieten pada 28 Januari 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Pengkabaran Injil pada zaman Kesultanan Aceh Darussalam

Sepanjang sejarah, gereja ini adalah yang pertama dibangun di Aceh, persaingan dengan Portugis sejak abad ke-16 serta berita-berita dari dunia Islam tentang pengusiran muslim di Andalusia (Spanyol) membuat Kesultanan Aceh menutup diri dari pengkabaran Injil.

Manuskrip memuat susunan Pemerintahan Kerajaan Aceh pada Masa Sultan Iskandar Muda. Manuskrip ini milik University Kebangsaan Malaysia yang belum dikatalogkan.

Kanun Meukuta Alam sebagai peraturan undang-undang Kesultanan Aceh Darussalam tertulis sekitar 3 (tiga) Pasal dalam hubungan dengan antara muslim dengan agama lain yang tidak menguntungkan bagi orang di luar Islam, antara lain:

  1. Jikalau orang luaran yang lain agama dari pada agama Islam yang lain pada orang hindi tiada boleh di terima oleh orang negeri tinggal duduk di dalam kampungnya melainkan di suruh balik ke laut kedalam tempatnya (Pasal 21);
  2. Jikalau orang lain agama itu hendak tinggal juga duduk di darat kedalam kampung orang islam kalau dapat celaka mati atau luka atau kena rampas hartanya dalam kampung itu tempat dia bermalam sama ada orang dalam kampung itu yang buat aniaya atau lain orang jahat kalau mati saja luka luka saja kalau dirampas hartanya habis saja tiada diterima pengaduannya oleh Raja atau Hulubalang sebab dari pada taksirnya sendiri punya salah (Pasal 22);
  3. Adapun orang yang menerima pada orang yang lain agama itu tinggal duduk bermalam pada kampungnya contoh kesalahan kepada ulama kena kafarat denda kenduri memberi makan sidang jumat (Pasal 23);

(Baca: Rincian isi Kanun Meukuta Alam)

Pendeta Pattiseno, perawat rohani serdadu-serdadu Belanda yang beragama Protestan di Aceh di tengah-tengah penggembalaannya.

Pendeta Pattiseno, perawat rohani serdadu-serdadu Belanda yang beragama Protestan di Aceh di tengah-tengah penggembalaannya.

Meskipun ketika Belanda telah berkuasa di Aceh, hubungan antara itu masih tegang di pedalaman. Terutama di wilayah-wilayah yang masih jauh dari jangkauan kekuatan militer Belanda. Seperti pembunuhan dua orang Perancis di Teunom yang bermaksud berbisnis emas akibat perbenturan nilai dimungkinkan oleh keadaan.

(Baca: Kerajaan Teunom Suatu Masa)

Peran Misionaris dalam Perang Aceh

Pendeta Izaak Thenu, orang Ambon, sejak tahun 1894 sampai akhir hayatnya tahun 1937 merupakan seorang legendaris perang. Seorang imam militan legendaris lain adalah Pastor Verbraak, selama tiga puluh tahun bertugas di Aceh memperoleh empat kali dianugerahi jasa ksatria.

Izzat Thenu, pendeta Maluku yang sangat berjasa bagi Pemerintah Belanda di Aceh, menggantikan pendeta Pattiselano. Dalam penyerbuan ke kubu pertahanan Batee Illiek di Samalanga pada tanggal 3 Februari 1901 ia memainkan peranan penting dalam memelihara semangat anggota-anggota pasukan Belanda.

Izzat Thenu, pendeta Maluku yang sangat berjasa bagi Pemerintah Belanda di Aceh, menggantikan pendeta Pattiselano. Dalam penyerbuan ke kubu pertahanan Batee Illiek di Samalanga pada tanggal 3 Februari 1901 ia memainkan peranan penting dalam memelihara semangat anggota-anggota pasukan Belanda.

Pada tahun 1901 Belanda menyerang benteng Batee Illiek, sebuah kubu pertahanan Aceh yang telah diserang berulang sejak tahun 1880 tapi tidak bisa dipatahkan oleh Belanda. Untuk penyerangan ini Izzak Thenu menggubah sebuah lagu perang khusus. Dengan memanfaatkan secara baik-baik kata-kata bersajak “berani” dengan “serani” (orang Kristen), “saudara” dan “bersuara” menjadi lagu Samalanga.

Mari sobat, mari saudara!

Pergi perang di Samalanga;

Mari koempoel dan bersoeara,

Laloe menjanji bersama-sama.

Satoe njanjian jang amat merdoe

Menghiboer hati jang amat doeka,

Hari ini kita di Merdoe,

Esok loesa djalan kemoeka.

Dari Merdoe djalan di sawah

Itoe djalan jang amat soesah.

Tempo-tempolah liwat rawa

Asal bisa dapat kemoeka.

Kalau djalan haroes berdiam

Karena moesoeh berdjaga-djaga;

Kala dengar boenji meriam

Itoe tandalah moesoeh ada.

Soenggoeh moesoeh banjak sekali,

Ada berdiri didalam benteng.

Haroes berlari-lari.

Waktoe kommandolah “Atacqueren”.

Djangan tinggal berdiri lama,

Kalau kommandolah “Atacqueren”.

Lari lekas datang kesana,

Masoek pertama kedalam benteng.

Siapa masoek nommer satoe

Itoelah tanda amat berani.

Nanti dapatlah bintang satoe

Tanda setia lagi berani.

Meski dengarlah hoejan pelor,

Dari moesoehmoe orang Atjeh,

Djangan sekali bersoesah keloeh

Tetapi peranglah hidoep mati.

Mari kamoe hai orang Ambon!

Lagi Menado lagi Ternate!

Lawan moesoeh bertamboen-tamboen,

Sampe gagahnya djadi berhenti.

Anak Ambon gagah berani,

Tidak takoet mati atau loeka,

Toeroet hati orang serani,

Anak Ambon berani dimoeka.

Kamoe lagi hai orang Djawa!

Angkat kerdjalah ramai-ramai.

Agar kami bisa tertawa

Kalau moesoeh soedah berdamai.

Kalau moesoeh soedah berdamai

Kami boleh doedoek senang.

Boleh berdansa, boleh berramai

Kalau soedah habis perang.

Berapa hari, berapa boelan

Kami haroes tinggal disini?

Habis peranglah boleh poelang

Bertemoe anaklah dengan bini.

Mari kami koentji menjanji,

Laloe poelang tidoer lelap.

Djangan loepa itoe pesani

Hanya mengikoet peri tetap.

Januari 1901 Izzak Thenu. Korps Marechaussee van A Doup.

Izzak Thenu ingin mengajak marsose-marsose segera bertempur. Pertempuran Batee Illiek menewaskan lima orang dan 27 orang di pihak marsose dan 71 pihak Aceh tewas. Kemenangan Belanda berhasil mematahkan perlawanan besar kubu Aceh.

Pendeta Thenu menunggang kuda jika ia melaksanakan tugasnya, Dalam hal itu ia dikawal oleh anggota-anggota korps marsose.

Pendeta Thenu menunggang kuda jika ia melaksanakan tugasnya, Dalam hal itu ia dikawal oleh anggota-anggota korps marsose.

Kekristenan di Aceh

Saat ini merupakan agama minoritas kedua terbesar di Aceh yang dianut 50.309 jiwa umat Kristen Protestan dan 3.315 jiwa Kristen Katolik. Total jumlah penduduk Aceh yang menganut Protestan dan Katolik sebanyak 53.624 jiwa atau 1,19% dari 4.494.410 jiwa jumlah penduduk Aceh (Sensus BPS tahun 2010). Sedang jumlah gereja tercatat sebanyak 154 gereja berdiri di seluruh Aceh.

Terdapat hubungan penuh luka antara Aceh dan kekristenan yang ditambah akibat luka kolonialisme. Akan tetapi sebagaimana hidup mustahil menjalani hidup tanpa terluka, atau menolak terluka. Luka-luka yang kita kumpulkan menandai kesalahan sekaligus keberhasilan kita. Jangan lupa, luka separah apapun dapat disembuhkan.

Muslim, Kristen baik Protestan maupun Katolik, Budha, Hindu serta Konghufu berhak hidup di Aceh sebagaimana defenisi orang Aceh menurut Pasal 211 ayat 1 berbunyi: Orang Aceh adalah setiap individu yang lahir di Aceh atau memiliki garis keturunan Aceh, baik yang ada di Aceh maupun di luar Aceh dan mengakui dirinya sebagai orang Aceh.

DAFTAR PUSTAKA

  1. H Van Langen; “De Inrichting van het Atjehsche Staatsbestuur onder het Sultanaat”; BKI; 1988:
  2. Paul Van’T Veer; Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje; Percetakan PT Temprint; Jakarta; Cetakan Pertama; 1985;
  3. Rusdi Sufi; Pahlawan Nasional Sultan Iskandar Muda; Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional; 1995;
  4. Naskah “Kanun Meukuta Alam Sultan Iskandar Muda”; Tulisan Tengku di Meulek, milik Teuku Muhammad Junus Jamil Kampung Alui, pada tahun 1995 disimpan di Museum Ali Hasjmy;
  5. Sensus BPS tahun 2010;
  6. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  2. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  3. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  5. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  6. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  7. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  8. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  9. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  10. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  11. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  12. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  13. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  14. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  15. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  16. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  17. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  18. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  19. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  20. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  21. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  22. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  23. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  24. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  25. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  26. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  27. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  28. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  29. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  30. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  31. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  32. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  33. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  34. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  35. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  36. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  37. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  38. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  39. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  40. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  41. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  42. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  43. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  44. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  45. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  46. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  47. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  48. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  49. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  50. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  51. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  52. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  53. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  54. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  55. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  56. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  57. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 Mei 2020;
  58. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 Juni 2020;
  59. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 Juli 2020;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke GEREJA PERTAMA DI ACEH

  1. Ping balik: PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.