KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA

KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA

Latar Belakang Kebijakan Politik Islam oleh Snouck Hurgronje

Pada akhir abad ke-19 Belanda yang telah menancapkan kekuasaannya di Nusantara dihadapkan kepada masalah perlawanan terus menerus dari umat Islam, meskipun berulang kali mampu mengalahkan perjuangan tersebut mereka sangat khawatir dengan dinamika yang terjadi saat itu. Untuk itu dirasa penting merancang kebijakan politik Islam untuk mempertahankan kekuasaan Belanda selama-lamanya di Indonesia.

Perang Diponegoro (1825-1830) di Pulau Jawa

Perang Paderi 1821-1837 di Minangkabau

Armada kapal perang Belanda mengepung pantai Aceh tahun 1873

Sementara itu ditempat lain pada tahun 1880 Perang Aceh masih berkecamuk dengan hebat, meskipun Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan pada 26 Januari 1874 akan tetapi Kesultanan Aceh masih berjalan dibawah Sultan Tuanku Muhammad Daudsyah, meskipun ibu kota Negara Aceh berpindah-pindah dari Pagar Aye, Indrapuri, Keumala dan tempat-tempat lain. Sampai dengan 6 tahun peperangan Belanda telah kehilangan 17.000 serdadu di Aceh.

Pemerintah Belanda merasa perlu merekrut seorang ahli untuk menghadapi persoalan tersebut maka direkrutlah Prof. DR. C. Snouck Hurgronye seorang pakar Islamologi yang pada tahun 1880 mempertahankan disertasinya yang berjudul “Het Makkasehe Fest” (Perayaan Besar Mekkah).

Penugasan Snouck Hurgronje ke Mekkah.

Maka pada tahun 1884 Snouck Hurgronje dikirim Kementerian Urusan Jajahan untuk belajar bahasa Melayu ke Arab, hal ini dikarenakan saat itu Belanda kesulitan mengirimkan agen-agennya ke Indonesia. Karena Snouck belum menguasai bahasa Melayu, maka ia harus mempelajari terlebih dahulu bahasa Melayu ke Arab pada orang-orang Nusantara yang ada di Arab.

Snouck Hurgronje sebagai Abdul Ghaffar di Arab, kelak diberi julukan Tengku Puteh oleh orang-orang Aceh.

Di Arab selama enam bulan pertama Snouck tinggal di Jeddah berhasil bergaul dengan ulama-ulama asal Nusantara (Indonesia) sambil belajar bahasa Melayu, ia berhubungan paling dekat adalah Raden Aboe Bakar Djajadiningrat dan mengajak Snouck Hurgronje masuk agama Islam pada 4 Januari 1885 dan berganti nama menjadi Abdul Ghafar. Tentunya ia tidak bersungguh-sungguh masuk Islam, baginnya Islam adalah suatu hal yang harus dipelajari secara sungguh-sungguh dan harus diperlakukan bijaksana oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Selama di Arab mempelajari semua kitab tafsir antara lain Tafsir al-Baidhawi, al-Bajuri, al-Ikna’ dan Tuhfah. Kemudian ia pindah ke Mekkah. Ia bergaul dengan ulama-ulama setepat sampai kembali ke Belanda pada tahun 1885. Tiga tahun setelah Snouck kembali ke negerinya, ia menerbitkan dua jilid buku dengan judul Mekkah. Ketika buku itu diedarkan nama Snouck Hurgronje tersohor ke seluruh dunia, dianggap sebagai buku yang sangat penting bagi tujuan politik kolonial di dunia.

Penugasan Snouck Hurgronje ke Hindia Belanda.

Selama di Mekkah, Snouck menjalin hubungan akrab dengan seorang ulama asal Aceh bernama Habib Abdurrahman Az-Zahir. Ulama ini adalah bekas penasehat utama Sultan Aceh, Alaiddin Mahmudsyah (1870-1874 M). Namun ia kehilangan kepercayaan oleh pihak Aceh sehingga menyerah kepada pemerintah Belanda dan diberikan pensiun kepada Habib Abdurrahman untuk hidup dan tinggal di Mekkah.

Berdasarkan pemahamannya terhadap Aceh di Mekkah, ia menawarkan diri pada Kementerian Urusan Jajahan agar dapat ditugaskan ke Aceh. Pada 1889 ia mendarat di Batavia. Segera Gubernur Jenderal C. Picnaeker Hordijk mengangkat dirinya menjadi penasehat resmi Bahasa Timur dan Hukum Islam bagi pemerintah Hindia Belanda di Nusantara. Sebenarnya sebelum kedatangan Snouck Hurgronje ke Indonesia, Belanda telah mendirikan “priesterraden” (1882) yang bertugas mengawasi pertumbuhan pesantren di Indonesia, tapi usaha ini gagal.

Setelah dia diangkat sebagai penasehat Pemerintah Hindia Belanda melalui kantor Van Inlandschen Arabiche Zaken, dia memberikan 8 saran antara lain:

  1. Pemerintah Hindia Belanda tidak perlu takut terhadap pengaruh para haji Indonesia apabila pemerintah mengadakan pendekatan terhadap ulama Mekkah yang menjadi guru haji Indonesia dengan menjadikan mereka kawan, maka pengaruh haji Indonesia yang mengancam stabilitas akan berakhir;
  2. Pemerintah Hindia Belanda tidak perlu takut dengan Pan-Islamisme. Islam berbeda dengan Katholik yang memiliki organisasi kepausan. Khalifah Ustmani sendiri saat itu telah mengendapkan program Pan-Islamisme;
  3. Yang harus ditakuti oleh Pemerintah Hindia Belanda “bukan Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik”. Biasanya dipimpin oleh minoritas kecil ulama yang fanatik. Yakni mereka yang membaktikan diri kepada cita-cita Pan-Islamisme, jika pengaruhnya menyebar ke desa-desa akan sangat berbahaya. Karena itu disarankan supaya pemerintah “bertindak netral terhadap Islam sebagai agama dan tegas kepada doktrin politiknya.”;
  4. Pemerintah Hindia Belanda harus mencegah para ulama masuk pemerintahan (eksekutif). Karena tidak mungkin menjalin hubungan penguasa Kristen (Belanda) dengan pemerintahan yang diduduki mayoritas Islam;
  5. Pemerintah Hindia Belanda harus mempersempit ruang gerak dan pengaruh Islam. Hal ini dapat dicapai melalui kerjasama kebudayaan Indonesia dan Belanda. Ini dapat dimulai dengan memperalat golongan priyayi sebagai pamong praja. Untuk itu golongan priyayi harus dididik dengan pendidikan Barat;
  6. Pemerintah Hindia Belanda harus menghidupkan golongan pemangku adat, dan mereka harus diperalat menentang Islam. Pertentangan ini dapat dicapai dengan membentuk lembaga adat berdasarkan tradisi lokal, berbeda dengan Islam yang universal;
  7. Khusus untuk Perang Aceh, Snouck Hurgronje menasehatkan agar menjalankan operasi militer ke daerah pedalaman dan “menindak secara tegas ulama-ulama yang di kampung-kampung serta jangan memberikan kesempatan para ulama menyusun kekuatan dengan santrinya sebagai pasukan sukarela”, terhadap orang Islam yang awam pemerintah harus meyakinkan, bahwa “pemerintah melindung agama Islam.” Usaha ini dapat dijalankan dengan bantuan kepala-kepala Adat/Bangsawan;
  8. Pemerintah harus selalu memisahkan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai doktrin politik. Makin renggang jarak antara keduanya maka makin mempercepat kehancuran Islam.

Penugasan Snouck Hurgronje ke Aceh.

Pada tahun 1893 Snouck ditugaskan ke Aceh dengan tugas utamanya untuk menyusun saran-sarannya terhadap penyelesaian perang Aceh dengan Belanda. Pertama sekali Snouck tinggal di Aceh adalah di Ulee Lheue sebagai tempat yang menjadi markas utama militer Belanda. Di Ulee Lheue inilah Snouck berhasil menyususun sebuah laporan pertamanya tentang Aceh, yaitu Atjeh Verslag sebagal laporan yang menjadi dasar kebijakan polilik dan militer Belanda dalam menghadapi Aceh.

Menurut van Koningsveld, bagian pertama laporan Snouck tentang Aceh berupa uraian antropologi masyarakat Aceh, pengaruh Islam sebagai dasar keyakinan orang Aceh, serta peranan ulama dan Uleebalang dalam masyarakat Aceh. Dalam laporan itu Snouck juga menguraikan bahwa perang Aceh dikobarkan oleh para ulama, Sedangkan Uleebalang menurut Snouck bisa diajak menjadi calon sekutu Belanda, karena kepentingannya adalah keuntungan duniawi.

Syair Hikayat Perang Sabi (Hikayat Perang Sabil) Koleksi Museum Aceh sebagai penyemangat pejuang Aceh dalam melawan agresi Belanda.

Snouck juga menulis bahwa Islam bagi masyarakat Aceh juga harus dinilai negatif, karena Islam bisa membangkitkan fanatisme anti Belanda di kalangan rakyat Aceh. Karenanya, para pemuka agama dalam masyarakat Aceh hendaknya dapat ditumpas agar pengaruh Islam menjadi tipis di Aceh. Dengan demikian para Uleebalang menurut Snouck akan mudah diajak bersekutu dengan Belanda.

Satu kegagalan pemerintah Belanda di Aceh, menurut Snouck adalah akibat tidak adanya pengetahuan Belanda terhadap Aceh sebagai wilayah Islam. Itu sebabnya, ketika Snouck bertugas di Aceh, di samping mempelajari karakter masyarakatnya secara antropologis (adat dan budaya Aceh), ia juga mengkaji kitab-kitab para ulama Aceh. Di antaranya kitab Umdatu al-Muhtajin karangan Syekh Abdul Rauf Syiah Kuala, sebagai kitab yang dianggap Snouck sangat berpengaruh bagi pengembangan Tarekat Syatariyah di Aceh. Selama penugasannya ia menghasilkan Buku De Atjehers (dua jilid: 1893-1894) yang ditulis Snouck tentang Aceh.

Politik Islam oleh Snouck Hurgronje.

Hasil Pemikiran Snouck Hurgronje disarikan menjadi Politik Islam Pemerintah Kolonial Belanda

SNOUCK Hurgronje (1857-1936) adalah seorang ilmuan Belanda yang kontroversial. Di satu sisi bagaimana pun Snouck Hurgronje harus diakui sebagai pelaku dan pencatat sejarah yang telah memberikan sumbangan paling berharga dalam memahami lika-liku politik pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia. Di lain sisi, Snouck telah mempermainkan agama Islam untuk kepentingan politik Kolonial Belanda di Indonesia termasuk di Aceh.

Tak salah jika Snouck Hurgronje dianggap sebagai biang dari munculnya konflik-konflik pemahaman Islam di Indonesia. Dia sebagai pengabdi politik kepentingan Belanda pada zamannya, maupun sebagai agamawan atas nama Syeh Abdoel Ghafar. Ataupun sebagai ilmuan yang ahli tentang Islam (Islamologi) dalam perspektif Islam dan sebagai ilmuan dalam perspektif akademik, ataupun sebagai sejarawan dan peranannya ketika ia bertugas di Indonesia maupun di Aceh.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  57. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  58. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA

  1. Pingback: KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI | Tengkuputeh

  2. Pingback: SEJARAH KERAJAAN LAMURI | Tengkuputeh

  3. Pingback: ISLAMIC POLITICS BY SNOUCK HURGRONJE AS ADVICE TO DUTCH INDIES GOVERNMENT TO REDUCE ISLAM POWER IN INDONESIA | TengkuputehTengkuputeh

  4. Pingback: MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU | TengkuputehTengkuputeh

  5. Pingback: PARA PENYEBAR KEBOHONGAN | TengkuputehTengkuputeh

  6. Pingback: EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN | TengkuputehTengkuputeh

  7. Pingback: PERANG DI JALAN ALLAH | TengkuputehTengkuputeh

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.