AKHIR ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

AKHIR ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Setiap kisah, setiap cerita, setiap hidup pasti memiliki akhir. Begitupun sebuah legenda, kisah, maupun petualangan bahwa (pernah) ada perlindungan terakhir dari yang putus asa, yang tak dicintai, yang teraniaya, saat hidup menjadi terlalu asing, terlalu mustahil, terlalu menakutkan. Ketika dalam kegagalan, ada beberapa orang yang duduk berdebat dalam lepau nasi yang berantakan seperti mereka selalu ada disana, dan mereka akan selalu disana. Para Assosiasi Budjang Lapok berakhir dan waktu mereka itu telah berlalu.

XXX

Petualangan terakhir sebelum secara resmi dibubarkan Assosiasi Budjang Lapok ke Pulau Bunta.

Kisah ini bermula terjadinya di Bandar, ibu kota Kesultanan Darussalam pada masa pemerintahan Sultanah Sofia, pada masa pemerintahan beliau Kesultanan Darussalam berada dalam ketentraman, kemakmuran dan kedamaian. Tidak seperti ayah dan suaminya yang gila perang, para sultan memerintah terlebih dahulu sebelumnya dipenuhi dengan ekspedisi militer dan penaklukkan ke negeri-negeri selat Sultanah Sofia lebih memilih hidup damai.

Mewarisi wilayah yang luas dan kekayaan sumber daya yang melimpah Sultanah Sofia memilih mengembangkan kesejahteraan rakyat, dengan antara lain membangun madrasah-madrasah, sejumlah ilmuan terkemuka diundang ke Bandar, irigasi dibangun di sawah-sawah kampung, kapal-kapal saudagar Kesultanan Darussalam disokong untuk mengembangkan perdagangan ke suluruh Nusantara. Masa pemerintahan Sultanah dikenang sebagai masa-masa paling nyaman oleh penduduk Kesultanan Darussalam sepanjang masa.

Pada tahun 20 dari 34 tahun masa pemerintahan Sultanah Sofia sebagaimana pernah dicatat sejarah, timbul masalah lain. Akibat masa-masa penuh semangat oleh para Sultan sebelum Sultanah Sofia, Negara Darussalam melahirkan lebih banyak anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 dibanding 2. Jika pada masa-masa sebelumnya masalah itu diatasi dengan wajib militer dan pengiriman anak muda dalam kancah peperangan, namun dalam masa-masa kedamaian ini membuat terjadinya ketimpangan penduduk yang sangat terasa. Mahar pernikahan di Bandar menjadi naik, para perempuannya menjadi sangat pemilih akan jodohnya. Ada pameo yang berlaku di Nusantara, para perempuan dari Kesultanan Darussalam adalah yang paling mahal harganya, harga dirinya. Maka terjadilah sebuah fenomena sosial di Kesultanan Darussalam, terutama di ibukota Bandar semakin banyak bujangan yang tak menikah akibat kerasnya persaingan mendapatkan jodoh.

Berangkat dari keadaan masyarakat seperti ini, dua orang penjaga gudang beras Kesultanan yaitu Barbarossa dan Mister Big ketika itu berinisiatif membuat sebuah organisasi yang mewadahi para bujang lapok di Bandar. Kemudian disusul oleh:

  1. Rekrutan pertama adalah Laksamana Chen, seorang keturunan pelaut dari Tionghoa yang lucunya sangat takut berlayar;
  2. Disusul Tabib Pong, seorang siswa sekolah pertabiban kerajaaan;
  3. Lalu Tuan Takur sebagai putra raja kecil di Barat Daya Bandar yang menguasai 52 ekar perkebunan lada;
  4. Taklupa Amish Khan seorang syahbandar di wilayah pedagangan pecinan, kawasan perdagangan paling sibuk di Bandar;
  5. Professor Gahul lulusan perguruan tinggi Siliwangi, mengajar di Madrasah Tinggi Kesultanan;
  6. Mas Jaim seorang pemimpin madrasah anak usia dini;
  7. Sebagai pelengkap Penyair yang baru pulang dari perantauan ke negeri Samudera, sekitar 5 hari berkuda dari Bandar selaku penulis cerita. Dan jika kemudian ada tokoh-tokoh yang muncul belakangan sebagai anggota bintang tamu dalam organisasi ini.

Kisah itu terjadi tujuh tahun lampau, kini semuanya telah menikah dengan pengecualian Tabib Pong. Seorang yang paling tampan, paling berbakat dan paling gemilang diantara semua anggota ABL yang ironisnya menjadi yang terakhir.

XXX

Waktu adalah hakikat yang mana Tuhan (pernah) bersumpah atas namanya. Tapi bagi para pesakitan, waktu adalah musuh mereka yang mereka tipu saban hari dengan harapan. Dibalik jeruji yang dingin waktu tak pernah terkalahkan, Tabib Pong menghitung mundur bahwa ia semakin terdesak, satu persatu anggota ABL telah menikah dan menyisakan dia seorang diri.

Menikah ternyata tak semudah seperti yang didengung-dengungkan, tak segampang nasehat para tengku, menikah adalah pilihan sekali seumur hidup dan tak boleh berulang, ia tak ingin bergegas, tak ingin terburu dan ditaklukkan waktu. Ia “berambisi” menemukan sebuah cinta sejati, yang mungkin murni, sebagai langkah menapak dalam menggenapi setengah agama.

Kehilangan, mungkin ia adalah orang yang paling memahami arti kehilangan. Merasa kehilangan cinta, harapan. Aku melihat dia bagai seorang prajurit Germania yang berkali-kali memberontak Romawi penuh dengan luka-luka yang coba disembunyikan dalam baju zirahnya yang berkilau dan pedang menyandang pedang baja yang dasyat itu.

XXX

“Teman-teman aku akan menikah!”

“Selamat!” Masing-masing anggota ABL menyalami Tabib Pong.

Mereka kembali meneguk minuman dan seolah tak terjadi apa-apa. Biasa-biasa saja. Diam-diam ia merasa kecewa kepada teman-temannya, mereka-mereka yang selama ini telah dianggap sebagai saudara-saudaranya sendiri. Mereka telah jauh menua setelah menikah, lihatlah Barbarossa sudah banyak kehilangan rambut di kepalanya tapi merasa masih tetap muda. Atau Laksamana Chen yang semakin membesar dan malas bergerak untuk keluar ke lepau nasi. Bahkan Penyair telah beruban dan tak kunjung melahirkan pantun-pantun jenaka seperti dulu. Ia merasa kehilangan.

Ia merasa kisah ini mungkin memang harus selesai, bukan karena semata-mata ia akan menikah dengan pilihan hatinya, akan tetapi secara semangat ABL tidak bisa digerakkan lagi. Semakin tua, setiap orang memiliki masalah-masalah tersendiri, semakin sedikit berbagi masalah hidup, semua harus dipecahkan sendiri. Sejenis kode etik untuk tidak saling membebani, sungguh dunia orang dewasa yang betapa menyebalkan pikirnya.

Seandainya saja, ia membayangkan masa lalu yang penuh canda tawa. Ia merenung dan mengenang bagaimana hebat organisasi ini dulunya, membuat kepalanya tegak berdiri dari dulunya miring ke kiri atau ke kanan. Kini semua hilang, sehingga tak terlalu peduli ketika Penyair bertanya. “Bagaimana perasaan menikah?”

“Yang jelas sudah menambah tujuan hidup sedikit.” Jawabnya sekenanya, kecewa dengan perhatian sejawat yang menurut dia sekenanya.

XXX

Benarkah begitu?

Ketika dijumpai oleh Penyair untuk memberikan pendapat Barbarossa tertawa jahil, ia merasa senang, terang saja dia paling memperlihatkan diri berbahagia akan pernikahan Tabib Pong, dengan sumringah ia tertawa, “Kalau aku ya udah menduga dia akan kawin, udah muncul sifat kebapakan sebelum menikah, udah sering membawa keponakan.”

Kemudian Barbarossa menjadi sedikit serius dan berbisik pelan, “keputusan menikah ini adalah salah satu keputusan terbesar yang pernah dia buat.”

Memangnya menikah urusan kecil? Rasanya ingin melempar asbak ke muka Barbarossa sialan ini.

“Dia biasanya melarikan diri jika diajak menikah, mungkin kali ini dia menemukan orang yang benar-benar tepat.”

Mungkin, akh, minyak jelantah kali Barbarossa ini.

“Sebenarnya ada kesan lain, Cuma aku tak mau berbagi pada kamu Penyair, ini adalah sangat pribadi, hanya aku dan Tabib Pong saja yang cukup tahu.” Ia tertawa girang dan merasa menang.

Kampret manusia (Batman) kau Barbarossa!

XXX

Ketika ditanyai Mas Jaim menjawab, “Tidak tau juga aku Penyair.”

Mas Jaim, kamu keterlaluan.

XXX

“Tidak ada. Aku jarang berkesan dengan dia.” Jawab Laksamana Chen.

Bukan itu alasannya, penyakit terbesar dari seorang Laksamana Chen adalah malas berpikir, ia memiliki banyak kesan pada Tabib Pong, tapi ia malas mengingat-ingat. Buah Keras! Ampas buah kau Laksamana Chen!

XXX

Ingin rasanya Barbarossa mengunyah daging Kakek Kura-Kura, dibuat sup dengan wortel rebus karena kusir paruh waktu itu memberitahukan bahwa kereta kuda yang mereka akan sewa menuju negeri Samudera tidak ada dikarenakan penyewa sebelumnya belum mengembalikan ke pangkalan.

“Harusnya kita akan berangkat malam ini, akibat kelambananmu memberi kabar, kita bisa terlambat pergi ke pernikahan Tabib Pong. Kau pikir negeri Samudera dekat apa? Aku tidak mau tahu segera kau cari pengganti!”

Pelan tapi pasti Kakek Kura-Kura beringsut. Ketiadaan kereta kuda membuat situasi ABL menjadi krisis sebab jika malam ini jika mereka tidak berangkat maka mereka akan terlambat menghadiri pernikahan Tabib Pong. Maka, mereka harus segera mendapatkan kereta kuda apapun yang terjadi.

Mister Big berbisik, “kita harus datang apapun yang terjadi, bagaimana pun Cuma kita anggota ABL yang bisa datang, yang lain berhalangan.”

“Tenang, Amish Khan sudah berangkat sehari yang lalu.”

Mister Big memonyongkan bibir.

“Tapi jika Kakek Kura-Kura tidak mendapatkan kereta kuda segera, kita ganti namanya menjadi Kakek Babi!” Barbarossa kesal dan memukul meja.

Kurang lebih dua kali sepenanakan nasi, Kakek Kura-Kura datang membawa sebuah kereta kuda, kondisinya tidak terlalu bagus tapi bolehlah.

“Darimana dapat kereta kuda ini?” Tanya Barbarossa.

“Aku pinjam dari kawanku.”

“Ayo kita berangkat!” Membawa buntalan pakaian Mister Big meloncat kedalam kereta kuda disusul oleh Barbarossa. Maka dengan segera Kakek Kura-Kura memacu kereta dengan kekuatan penuh dua kuda. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari Kakek Kura-Kura sangat lambat, tapi dalam memacu kuda ia sangat kencang. Tangannya sangat ahli menggunakan cemeti, kocokan dan kecepatannya setara. Perut Barbarossa dan Mister Big menjadi kembung masuk angin akibat kegoncangan sepanjang perjalanan. Desas-desus beredar di kemudian hari Barbarossa dan Mister Big dalam perjalanan terkentut-kentut dan membawa ampasnya.

XXX

Beberapa hari kemudian, sementara itu di bagian dunia yang lain, di Samudera, Tabib Pong merasa gelisah ketika merpati membawa pesan bahwa Penyair tidak dapat hadir ke akad nikahnya dikarenakan istrinya sakit dan tidak bisa ditinggal. Sementara itu beberapa kali ia menanyakan kepada Laksamana Chen apakah bisa ikut, namun ia kecewa karena Laksamana Chen mohon maaf tidak bisa ikut karena istrinya baru melahirkan anak kedua. Menurut kabar dari merpati pos pula, anggota ABL yang akan datang hanya Barbarossa dan Mister Big, yang ia tahu benar adalah yang paling buruk reputasi kedisplinan di ABL. Akankah mereka datang tepat waktu?

Jantungnya berdegap karena banyak alasan, akankah ia menikah di negeri orang sendirian? Dan siapakah yang mengangkat talam-talam hantaran ini? Rombongan Tabib Pong yang telah terlebih dahulu datang adalah orang-orang tua, wanita dan bangsawan kerajaan yang tidak mungkin diharapkan untuk pekerjaan fisik. Seperti musim, hati Tabib Pong seperti kemarau.

Umbul-umbul pernikahan telah dipasang di kiri-kanan jalan menuju rumah pengantin Tabib Pong. Masyarakat berduyun-duyun ingin menyaksikan acara pernikahan yang istimewa ini. Tiba-tiba dari arah Barat sebuah kereta kuda meluncur dengan gemuruh, orang-orang menengok, dan turunlah dua orang cengar-cengir dari Kura-Kura Ekspress, mereka adalah Barbarossa dan Mister Big. Tabib Pong tertawa bahagia, hatinya menjadi musim semi. Ia memeluk mereka berdua, sesaat ia mencium bau tidak enak.

“Maaf, kami berak di celana.” Kata Mister Big malu-malu.

“Lekas kalian mandi di masjid, cepat acara akan segera di mulai!”

Sambil membawa buntalan pakaian Barbarossa dan Mister Big berlari ke kamar mandi masjid, Tak lama kemudian Amish Khan datang pula, anaknya yang dibawa agak rewel sepanjang perjalanan sehingga ia agak terlambat.

Jika ini adalah pertempuran, maka sekarang aku siap pikir Tabib Pong.

Menurut kabar yang dibawa merpati ke Bandar tentang suasana pernikahan Tabib Pong, semuanya berlangsung khidmat dan lancar. Jika ada hal yang menonjol dari acara tersebut, maka itu adalah ketenangan dan kedewasaan Tabib Pong dalam mengucapkan akad. Perkawinan Tabib Pong bak ritual yang penuh perlambang, ketika ia menggenggam tangan istrinya kemudian memasukkan cincin, tampak betul ia seperti seorang pangeran yang berjiwa bangsawan yang sangat halus perasaanya. Indah sekali, pagi itu tak akan mudah dilupakan bagi siapapun yang hadir disitu.

Oh, mengenai talam-talam hantaran. Assosiasi tidak salah mengirim dua utusan mereka yang paling tangguh, dua orang penjaga gudang beras kerajaan Barbarossa dan Mister Big benar-benar tak menyisakan satu pun untuk diangkat orang lain, bahkan Amish Khan sampai garuk-garuk kepala menyaksikan bagaimana hebatnya dua orang tersebut masing-masing mengangkat lima belas talam! Bertahun-tahun kemudian di negeri Samudera kita masih dapat mendengar legenda tentang mereka, dibukukan kelak dengan judul al-lawarad al-‘adhim wal al-lahiyat al-hamra’ yang jika dimelayukan berarti “Hikayat Tuan Besar dan Si Janggut Merah”.

XXX

Sang Tabib Pong selaku bujang yang berdiri terakhir.

Sementara itu, seminggu kemudian di Bandar ibukota Kesultanan Darussalam. Setelah istrinya baikan dari sakit, sang Penyair mulai menemukan kejernihan dikepalanya, sedikit. Ia mencoba menulis kesan tentang Tabib Pong.

Malang melintang selama 7 tahun berkawan, mungkin beta tak akan mungkin menjangkau isi hati Tabib Pong. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Quran bahwa yang mampu membaca isi hati hanyalah Allah S.WT. Kita selaku sesama makhluk hanya mampu menduga-duga semata. Menurut beta si Tabib Pong adalah seseorang berbakat, memiliki lingkar kepala yang luas jari-jarinya sehingga sangat pintar, namun ia berbakat sebagai seorang Goalkeeper yang sangat ahli membuang diri. Karena minat dan bakat sebagai penjaga gawang ia jarang menuntaskan sebuah peluang menjadi gol, ia lebih menjaga zona kenyamanan, kotak penalti.

Berbicara tentang perasaan, terhadap Assosiasi dia adalah yang paling peduli, paling berempati terhadap teman-teman yang lain, begitulah yang ia tunjukkan. Sekaligus ia berusaha menahan ketidaksukaannya jika merasa ada yang salah pada teman-teman. Namun disisi lain sebagai yang termuda, mungkin, ia memiliki kemanjaan melebihi keponakan kami, harapannya sedikit berlebihan, jika kita membatalkan janji bertemu di lepau nasi karena hujan deras maka dia akan merajuk satu atau dua hari. Tak apalah, ia memang tidak ada dua, hanya ada satu yang seperti dia, si Tabib Pong.

Merasa kesulitan menyusun kesan terhadap seorang Tabib Pong, Penyair merasa perlu menanyakan pendapat seorang ahli, maka ia bergegas menemui Professor Gahul, seseorang yang berpendidikan tinggi dan pasti memiliki berbagai metode ilmiah menyusun kata-kata yang lebih baik. Professor Gahul sendiri memiliki jadwal yang sangat padat, disela-sela waktu sibuk ia menyempatkan diri menerima Penyair untuk diwawancarai mengenai Tabib Pong.

“Adakah kesan-kesan dari Professor untuk Tabib Pong untuk melengkapi penutup dari serial Assosiasi Budjang Lapok?” Tanya Penyair.

Hmmm, Tabib Pong orangnya menarik dan asyik.” Ia tersenyum ramah.

Penyair berkerut ini, jawaban macam apa ini? Seperti kue apam, dimana-mana sama bentuknya, atas putih bawah hitam.

“Beta mohon didetilkan prof? Itu sebuah jawaban sangat datar, ini bukan pertanyaan yang harus dijawab berdasarkan teori-teori baku.”

“Iya, sebenarnya itu adalah ungkapan yang detil, dia easy going juga.” Sesaat dia berpikir kemudian menambahkan. “Modern, cara berpikirnya sangat aku kagumi. Ia mampu menerima persepsi mana saja, nice dan bijak.”

Modern, nice dan bijak. Kalau tabiat Tabib Pong sebegitu mantapnya kenapa tidak kita jadikan Sultan saja sekalian? Pikir Penyair.

“Kekurangannya apa? Kok yang Professor berikan kelebihan semua? Itu tidak memuaskan Beta.” Protes Penyair.

Hmmm, kekurangannya mungkin adalah bangun siang.” Tandas Professor Gahul.

“Jika itu kekurangan, Sultanah Sofia juga kabarnya sering bangun siang, yang khas dong, sesuatu yang hanya ditemukan pada dirinya tidak pada orang lain.”

Sambil cekikikan Professor Gahul menambahkan, “dia nakal juga.”

Anak-anak Madrasah seingat beta hanya hitungan jari dari seribu yang tak nakal. Menyerah dengan pertanyaan karakter, lalu Penyair menanyakan tentang harapan Professor Gahul pada pernikahan Tabib Pong.

“Harapannya semoga bisa lebih tertata hidupnya kedepan.”

Muka Beta cemberut. Professor Gahul tertawa riang. “Tidak jelas ya komentarku. Begini Penyair, Tabib Pong itu orangnya baik kok. Aku tidak banyak komentar tentangnya karena dia adalah seorang yang tidak ribet. Harapannya paling agar dia sukses di dunia pertabiban. Kalau masalah ada kekurangan, aku rasa wajar-wajar saja mengingat umur sepantaran kita ini masih tahap trial dan error, tidak ada yang spesific.”

Beta terdiam, tidak paham. Tapi menunjukkan wajah mengerti kemudian pamit, sepulang dari Madrasah Tinggi Kesultanan Beta langsung berbelok mampir ke toko kitab sebelum pulang ke rumah.

“Bapak penjual kitab, saya beli kamus bahasa Melayu – Inggris edisi yang paling lengkap satu!” Easy going, Modern, nice, specific, trial dan error. Beta penasaran apa pula artinya?

“Bapak penjual kitab adakah kamus itu yang bergambar?”

XXX

Harusnya ada perpisahan yang epik dari Assosiasi Budjang Lapok, rasanya tak adil bagaimana narasi yang telah dibangun bertahun-tahun dengan gemilang harus menerima perpisahan yang dingin, beberapa fragmen yang tak mampu menjelaskan seluruh tahun-tahun yang telah berlalu. Tapi mungkin memang sebuah zaman telah berlalu, Assosiasi Budjang Lapok beberapa kali mengalami senja sampai akhirnya benar-benar padam dan berakhir.

Ketika semuanya telah berakhir, yang bisa kita lalukan hanyalah pasrah dan (mencoba) tak menyerah.

TAMAT

Catatan Penulis:

Ketika Tabib Pong akhirnya menikah maka berakhirlah serial petualangan Assosiasi Budjang Lapok. Untuk ini selaku penulis beta mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak antara lain :

  1. Allah S.W.T;
  2. Nabi Muhammad S.A.W beserta para sahabat dan para ulama yang menjadi pewaris beliau;
  3. Para pembaca setia yang telah mengikuti serial ini dari awal sampai akhir, tanpa kalian yang membaca kisah ini maka kisah ini hanyalah sampah di dunia maya, tak ada artinya sama sekali;
  4. Para istri anggota Assosiasi Budjang Lapok yang sangat berperan mempercepat kematian organisasi ini dimana setiap orang menerima pinangan para anggota ABL maka semakin dekat organisasi ini kepada mautnya;
  5. Para Anggota Assosiasi Budjang Lapok yang tak henti-hentinya menginspirasi cerita ini, terutama kepada Tabib Pong yang mana jika ia tidak telat menikah maka cerita ini akan lebih awal selesai dua atau tiga tahun yang lalu.

Salam hormat dan penuh cinta teruntuk kalian semua, tertanda, Penyair.

XXX

KATALOG SERIAL ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to AKHIR ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

  1. Pingback: LINGKARAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | Tengkuputeh

  2. Pingback: ENIGMA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | Tengkuputeh

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.