Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Organisasi orang orang dengan nasib yang serupa nan sama; Assosiasi Budjang Lapok

NASIB ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok adalah sebuah perkumpulan yang bersatu akibat dari persamaan nasib, tiada muatan politik di dalamnya apalagi kesamaan ideologi. Nasib yang serupa telah menyatukan Assosiasi kedalam persamaan keinginan yang kukuh dan tersembunyi untuk segera memerdekakan diri dari Assosiasi.

Bahwa sesungguhnya dilubuk hati para anggota Assosiasi Budjang Lapok terdapat azzam yang membara untuk melepaskan diri dari organisasi. Tidak ada yang mendeklarasikan secara tersurat, semua tersirat dihati. Karena prinsip ABL adalah lebih baik meninggalkan daripada ditinggalkan. Siapa yang mau jadi budjang seumur hidup.

Alkisah awalnya berkisah tentang Barbarossa dan Mister Big, kebetulan mereka berprofesi sama yaitu petugas penjaga gudang beras kerajaan. Sebuah profesi yang sangat dicemburui oleh para anggota ABL lainnya. Bagaimana tidak? Tugasnya hanyalah bersantai selalu digudang beras kerajaan. Awal bulan tinggal mengambil koin dari Tuan Bendahara. Pekerjaan mereka ibarat surga dunia, nikmat dunia bukanlah dihitung dari jumlah koin namun bagaimana menikmati waktu bagai seorang Sultan. Dalam hal ini sang penyair yang paling keras menyatakan kecemburuannya.

Ada pepatah yang mengatakan “ayam mati dilumbung padi” maka itu cocok dengan Mister Big yang naïf. Seorang yang tawakkal menjaga gudang beras dengan sepenuh jiwa raga. Namun tidak berlaku bagi Barbarossa yang selalu santai bagai di pantai, terkadang diam-diam menyeludupkan beras. Namun Barbarossa tidak seculas itu, terkadang ia membagi hasilnya dengan Mister Big tanpa memberitahukan sumbernya. Mister Big yang sering menggantikan tugas Barbarossa menerima dengan takzim bagi hasil tersebut dengan prasangka adalah hasil kerja sejawat diluar tugas resminya. Prinsipnya adalah jangan menolak rezeki.

Pada suatu hari Barbarossa dan Mister Big ingin melakukan makar terhadap assosiasi, yaitu bermain solo mencari anak dara. Sebenarnya bukanlah tindakan keji, karena anggota ABL lain pun diam-diam melakukan aksi yang sama. Assosiasi adalah perkumpulan yang terbuka untuk dikhianati oleh anggota dan tak pernah mempermasalahkan itu sama sekali. Itulah keunggulan Assosiasi nasib.

Untuk menyusun sebuah rencana maka Barbarossa adalah ahlinya, maka mereka berdua berencana bertemu dengan dua anak dara sepulang mengaji. Barbarossa menyembunyikan nama target (belakangan baru diketahui bahwa dia juga tidak tahu) dan merencanakan pertemuan sesudah pengajian Ashar ditepian sungai, supaya romantis begitu direncanakan. Dan terjadilah affair itu.

Bandar adalah negeri yang disusun berdasarkan hukum adat. Menyiasati hukum adat yang ketat maka kedua anak dara tersebut membawa seorang teman laki-laki (Barbarossa dan Mister Big tidak mampu mendeskripsikan hubungan laki-laki tersebut dengan kedua anak dara tersebut). Laki-laki tersebut bernama Aleng. (Sungguh dasyat bila Barbarossa dan Mister Big tidak mengingat nama kedua anak dara tersebut namun mampu mengingat nama pengiringnya).

Untuk urusan setting tak dapat dipungkiri Barbarossa adalah master, terjadilah perkengkramaan khas Melayu dengan diringi aliran sungai antara sepasang muda-mudi dan seorang pengamat. Tak lama menjelang Maghrib kedua anak dara tersebut pulang. Namun si Aleng masih berbicara dengan Barbarossa dan Mister Big.

Ketika azan Maghrib memanggil Barbarossa sedang tidak mood, Mister Big seperti biasa mengikuti Barbarossa dan anehnya Aleng pun tetap bertahan. Diawali dengan canda dan berlanjut terus. Hingga Barbarossa sadar kaleng tembakaunya kosong, tak seperti biasa ia minta izin untuk ke kedai mengisi kaleng tembakaunya sebagai penikmat bicara.

Disaat Barbarossa pergi disitulah kejadian terjadi, Aleng yang laki-laki tulen menyatakan kesukaannya pada Mister Big, ya Mister Big yang naïf. Memiliki badan berotot dan paling proporsional diantara ABL lainnya. Berhidung semitik dan bermata Persia, tak heran Penyair terkadang menjulukinya Nizam Al-Mulk. Dan naifnya, Mister Big menolak secara halus, dan Aleng semakin terbuka menyatakan ia sangat menyukai Mister Big yang sedari tadi berharap Barbarossa segera kembali. Ia meningkatkan penolakannya menjadi sedikit naik dari lembut dengan menyatakan ia sebagai laki-laki yang menyukai anak dara dan tidak berperilaku menyimpang.

Namun Aleng semakin menggebu, beruntunglah bagi Mister Big karena Barbarossa telah kembali dengan kaleng tembakau yang penuh. Jika kita telah lama bersama maka akan terciptalah hubungan batin, begitulah antara Barbarossa dan Mister Big. Ketidaknyamanan Mister Big dirasakan oleh Barbarossa. Langsung ia menyodok layaknya begundal pasar menarik kerah Aleng dari belakang. Aleng terkejut dan menyatakan kepada Barbarossa bahwa urusan cinta ia siap bersaing dengan siapa saja.

Suasana hening sekejap, aura hitam menyelimuti mereka. Akhirnya Barbarossa memutuskan melarikan diri, dan segara Mister Big mengikuti. Mereka berlari sangat cepat menuju lepau nasi. Tiada melihat lagi kebelakang. Tergopoh-gopoh bagai maling ayam dikejar warga.

Dan sampailah mereka dilepau nasi, ternyata ada penyair dan Laksamana Chen sedang menikmati nasi bebek. “Seperti baru berjumpa setan kalian lari seperti itu.” Tukas Laksamana chen memainkan alisnya.

Buru-buru mereka duduk didekat Laksamana Chen dan Penyair, setidaknya empat lawan satu lebih baik daripada dua lawan satu. Setelah memastikan Aleng tidak mengikuti ke lepau nasi, Mister Big bercerita ihwal cerita. Laksamana Chen tertawa terbahak seraya menujuk dengan gaya mengejek. Namun tidak sang penyair yang segera mengeluarkan kelewangnya. Wajar diantara anggota ABL si Penyair adalah yang paling puritan. “Mana Aleng itu, nak ku sembelih dia!”

“Sabar penyair, ambil saja hikmahnya.” Barbarossa yang sudah tenang melinting tembakaunya. “Setidaknya dengan kejadian ini bahwa Mister Big memiliki wajah tampan yang tidak hanya anak dara namun juga bujang.” Barbarossa tertawa seolah ia tadi tak ketakutan jua.

“Mana bisa sabar Barbarossa! ini Aleng manusia pembawa kiamat. Halal darahnya ditumpahkan.” Penyair masih menenteng kelewang, dengan tangan masih penuh nasi.

“Alah macam kuat kali kau penyair, belum-belum kau yang disikat Aleng. Mau tidak kau melawan dia satu lawan satu? Mister Big yang kekar saja melarikan diri apalagi kau.” Laksamana Chen masih terlalu menikmati saat wajah Mister Big ketakutan. “Tapi aku kasihan.” Tambahnya.

“Kasihan apa?” Penyair masih dongkol.

“Kasihan dengan para anak dara, untuk mendapatkan seorang bujang mereka tak hanya harus bersaing sesama dara, tapi juga dengan bujang berperilaku menyimpang.” Laksamana Chen suka pusing kalau ABL berbicara serius, hidupnya adalah canda. Namun analisisnya selalu detil dan tak dapat ditolak oleh anggota ABL lainnya, wajar dia adalah yang paling disegani di ABL dalam hal silat lidah.

“Bahwa selapok-lapoknya kita, ada orang lain yang lebih tragis nasibnya dibandingkan kita.” Tambah Barbarossa seraya mengepulkan asap tembakau dari mulutnya.

“Yang jelas aku tak mau menemui dua anak dara itu lagi Barbarossa, daripada bertemu setan Aleng lagi. Lapar, pesan nasi bebek juga ah.” Mister Big sudah agak pulih dari pengalaman traumatis tadi.

“Pok, Lapok. Nasib si bujang lapok. Sudah bertemu anak dara masih saja budjang Lapok.” Barbarossa bernyanyi dan yang lain pun tertawa melepaskan ketegangan yang ada.

“Mengapa kalian ketika bertemu anak dara tadi tak mengajak kami?”

Barbarossa dan Mister Big kehilangan kata

XXXX

Kabar-kabur adakalanya lebih jelas daripada kabar nyata. Dewasa ini kabar nyata terlalu banyak muatan politis tidak ada faedah bagi kehidupan, tersiar kabar bahwa Assosiasi Budjang Lapok akan segera dijadikan atau disahkan oleh pihak kerajaan sebagai organisasi terlarang.

Keberadaan Assosiasi Budjang Lapok telah membawa keresahan kepada para anak dara dan para calon besan sehingga burung menyampaikan dari satu lepau nasi ke lepau nasi bahwa dengan segera Majelis Syura Kerajaan akan mencap organisasi ini sebagai perkumpulan liar. Apa jadinya bangsa bila penyakit tak kawin ini menular kepada para anak muda yang kuat azzamnya untuk menikah.

Pada dasarnya Assosiasi tidak peduli, namun cibiran menjadi-jadi. Barbarossa tak peduli, Amish Khan lebih tidak peduli lagi (lha dia mau kawin), sedang Laksamana Chen hanya memilin-milin kumis Cheng Ho-nya. Penyair juga santai, filosofinya adalah kita saja yang budjang berbahagia mengapa harus orang lain merasa terancam. Masalahnya pada Tuan Takur sebagai generasi kedua tuan tanah. Diuntungkan dengan landreform, dan dalam posisi menanjak. Berencana menambah beristal-istal kuda dan membangun sebuah Kastil. Apa jadinya bila Sultan mengetahui, bisa dicabut gelar kebangsawanan Orang Kaya.

“Gawat, sobat-sobat. Organisasi kita diambang kehancuran!” Tuan Takur datang ke lepau dengan kereta kuda diikuti dengan dayang-dayang. Biasanya Tuan Takur memang dengan kereta kuda namun tidak membawa dayang-dayang. Dayang-dayang ini mengipasi Tuan Takur yang gerah dengan bulu angsa. Laksmana Chen membuka mulut lebar-lebar melihat aksi Tuan Takur, sedang penyair pura-pura membolak-balik catatan. Barbarosa tertawa terbahak sambil memegang gelas teh. Mister Big hanya tersenyum. Amishkan yang duduk disudut garuk-garuk kepala.

“Orang-orang Bandar ini kampungan! Apa ceritanya ABL dijadikan organisasi liar! Mau dibawa kemana muka saya? Sebagai orang terhormat dihinakan layakya sampah masyarakat. Kamu Barbarossa! Sebagai BrainEvil and High Tech mesti punya solusi!”

Barbarossa tertawa. Laksamana Chen menerima umpan lambung. “Tuan Takur muka kamu tetap dikepala.”

“Lebih cantik lagi andai ditambah pemerah bibir.” Amish Khan menambahkan sedang Mister Big hanya tersenyum.

“Tenang Tuan Takur, tidak mungkin organisasi kita dilarang. Kitakan cuma Assosiasi yang tidak terdafar secara hukum. Bagaimana hendak dibubarkan? Organisasi Duda Keren (ODK) saja kerjanya menceraikan anak dara orang dan sudah terdaftar, tidak ada kabar dibubarkan? Apalagi ABL yang tak pernah menyakiti hati orang kenapa harus dibubarkan?” Penyair mencoba menenangkan Tuan Takur yang panik.

Satu-satunya yang bisa dipengaruhi oleh Tuan Takur adalah Mister Big yang polos. Jika anda membayangkan Mister Big jangan bayangkan badannya yang besar, karena tidak seperti itu. Mister Big memiliki badan kekar proporsional namun lihatlah kakinya yang panjang. Seharusnya karena kakinya yang panjang ia dipanggil Mister Long. Namun Assosiasi tidak peduli dengan badan berotot, wajah Persia miliknya dan menabuhkan gelar Mister Big.

“Tapi kita patut waspada, ODK punya kekuasaan sedang kita punya apa?” Bela Mister Big terhadap Tuan Takur.

“Kita punya Tabib Pong keturunan bangsawan lama yang sekarang sedang study banding ke pulau seberang. Punya Prof Gahul yang sedang sibuk riset, sekarang kita punya segalanya.” Barbarossa tersenyum bukan tertawa lebar.

“Itulah kalian salah! Kalian terlalu mengampangkan masalah! Itu pointnya!” Tunjuk Tuan Takur.

Yang lain tambah tertawa terbahak, tak lama lewat Messy sebagai ex-anggota ABL. Namun tidak pernah keluar dari ABL. Karena ABL adalah organisasi terbuka yang menerima siapa saja. Yang sudah menikah boleh bergabung, yang duda silahkan, yang cacat mental juga tak ditolak. Hanya satu syarat, orang tersebut tidak menyusu pada Assosiasi. Karena bagaimanapun anggota Assosiasi selain Tuan Takur bukanlah orang-orang yang terdaftar pada Majalah Forbes, dengan kata lain ketip pas-pasan. Menghidupi istri saja pikir-pikir apalagi menghidupi teman, ya menyingkirlah sudah.

“Hallo sobat semua, tahun segini masih bersama? Sudah saatnya kalian berpisah membangun kehidupan sendiri. Saya tidak bisa membayangkan kalian di zaman ini masih juga belum kawin-kawin. Cepatlah menikah dunia ini mau kiamat sobat!” Messy memiliki gaya retorika seorang pendidik dengan gaya tangan klasik. Pernah makan dendeng Balado? Kalau sudah maka bayangkan seorang yang memiliki kata-kata yang lebih pedas dari itu. Itulah Messy. Namun ia juga adalah seorang pekerja di Majelis Syura sebagai penelaah rancangan qanun. Maka ia adalah orang yang tepat untuk menggali informasi tentang hal ikhwal perencanaan pencanangan ABL sebagai organisasi liar atau bahkan sebagai organisasi terlarang. Ia menarik kursi dan duduk. “Pesan teh susu satu!” Pada pelayan.

“Messy apa benar akan keluar qanun pencanangan ABL sebagai organisasi terlarang? Isu yang beredar sudah sangat kencang, sampai teman kita yang sedang sibuk dengan sawah-sawah dan ratusan kuda sampai datang kemari untuk mengklarifikasi” Tanya Barbarossa sambil menunjuk Tuan Takur.

Messy tertawa hingga memukul-mukul meja, ada nada ejekan didalamnya. “Siapa kalian hingga dilarang? Apa hebatnya ABL hingga meresahkan masyarakat. Jangan-jangan terlalu lama menjadi bujang membuat otak kalian cacat!” Messy mesti menggunakan jari-jarinya menunjuk anggota ABL.

“Bukan kami tapi Tuan Takur itu!” Lempar Laksmana Chen.

“Cacat ya cacat sendiri Tuan Takur, tidak harus ajak-ajak kami” Amish Khan bagai B-29 membom Hirosima dan Nagasaki sedang yang lain tambah ngakak. Tambo ciek!!!

Bayangkan seorang feodal telah direndahkan. Jika ini terjadi di India, maka segenap yang menertawakan Tuan Takur akan ditarik oleh kereta kuda sampai tewas. “Jika saya salah saya mohon maaf.” Begitu sebut Tuan Takur. Inilah hebatnya ABL sebuah Assosiasi yang egaliter, yang dipersatukan oleh persamaan nasib. Assosiasi telah membuang strata sosial di lepau nasi. Siapapun dia anggota ABL adalah seorang demokrat jiwa dan raga. Tak heran hingga organisasi bertahan ditengah perkembangan zaman. Dan hari itu pun kembali berlanjut di lepau nasi. Forza ABL!!!

XX

 

KATALOG SERI ABL

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
Advertisements
Advertisements

53 thoughts on “NASIB ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

    • Gambarnya diambil dari pilem P.Ramlee karena saya belum mampu menciptakan gambar tema untuk kisah ini. kedepan semoga sudah ada. Ya, P.Ramle adalah seniman besar yang menginspirasi penulisan kisah ini. Bagitu ceritanya Liza 😀

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: