PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU

PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU

Tuha Peuet berasal dari perkataan Tuha dan Peuet. Tuha secara etimologis (asal kata) artinya tua atau yang dituakan, sedangkan Peuet artinya empat. Secara morfologis (maksud) yang dimaksud dengan Tuha Peuet adalah orang tua atau yang dituakan sebanyak empat orang. Istilah ini berbeda-beda penyebutannya di seluruh Aceh, misalkan di wilayah Gayo disebut dengan Sara Opat, namun fungsi dan peranannya sama.

Lembaga ini, tidak hanya ditemukan di Aceh saja, tapi juga di daerah-daerah lain di kepulauan Nusantara. Dewan empat ini pada masa lampau, para anggotanya, baik individu maupun bersama memiliki tanggungjawab mendampingi seorang Uleebalang (Hulubalang) selaku penguasa sebuah wilayah dalam melaksanakan tugasnya, sebagai perdana menteri sekaligus penasehat.

Darimana asal lembaga Tuha Peuet ini? Asal muasal dan sebab timbul lembaga ini belum diketahui dengan jelas, namun konsep Tuha Peuet ini sangat cocok dalam masyarakat Aceh, sesuai dengan sifat dan watak orang Aceh di masa lalu yang sangat suka bermusyawarah. Hal ini adalah pengaruh dari ajaran Islam sebagaimana difirmankan oleh Allah S.W.T : “Wal amru hum syuraa bainahum.” Yang berarti: “Sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah diantara mereka.” Lembaga Tuha Peuet ini sangat penting untuk menyampaikan perasaan orang banyak, sebagai sebuah alat pemerintahan yang kadang-kadang menentukan jalan atau tidaknya suatu urusan dalam masyarakat.

Lembaga Tuha Peuet ini sangat penting maka syarat utama menjadi anggotanya adalah integritas pribadi yang didasarkan kepada pengalamannya, yang biasanya disimbolkan dengan istilah ketuaanya (tuha), bukanlah semata-mata dalam artian usia tua semata-mata (Tuha puteh ok = Tua karena berambut putih), melainkan ketuaan dalam hal kebijaksanaan (Tuha Ilmee = Tua karena ilmu).

Bagaimana mengukur tua dalam kebijaksanaan? Itu semua terlukis dalam empat karakter utama:

  1. Mengerti adat dan agama (Tuha-Tuho);
  2. Matang dalam kepribadian dan mengerti batas-batas antara yang baik dan buruk dalam bertindak (Tuha-Turi Droe);
  3. Mempunyai kecakapan untuk mendamaikan masalah atau menjadi juru damai (Tuha-Bako);
  4. Mencintai agama dan negeri (Tuha-Gaseh keu agama ngon keu nanggroe).

Konsep kepribadian dan kepemimpinan ini adalah peninggalan masa lampau, terlihat statis, namun pengaruhnya terasa sampai sekarang dalam masyarakat Aceh sampai sekarang. Mungkin sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, keuangan, politik dan pendidikan konsep kepribadian dan kepemimpinan ini sudah bergeser dinamis mengikuti perkembangan zaman.


Teuku Umar berfoto bersama para Uleebalang (duduk) dan sejumlah pengikut (berdiri). Sumber: Koleksi Troppen Museum, Belanda.

Pada masa lampau, menurut adat, Tuha Peuet mempunyai peranan yang amat penting dalam suatu kenegerian, bersama Uleebalang, lembaga ini merupakan sejenis dewan yang mempertimbangkan dan mengurus kepentingan-kepentingan dalam suatu kenegerian. Baik yang menyangkut pemerintahan, peradilan, kemiliteran, atau hal-hal vital, pimpinan perlu dibicarakan dengan dewan ini, sebelum mengambil keputusan. Oleh karena itu Uleebalang tidak bisa menjalankan keputusan yang bertentangan dengan pendapat Tuha Peuet, semua harus melalui musyawarah dan mufakat, bukan keinginan/kehendak pribadinya. Tuha Peuet dirancang oleh para leluhur di Aceh untuk mencegah kesewenang-wenangan penguasa.

Salah satu fungsi dewan Tuha Peuet yang paling penting adalah peradilan, dalam hal ini Uleebalang bertindak selaku hakim, sedangkan Tuha Peuet sebagai penasehat. Dalam hal mengambil keputusan hakim bagaimanapun tetap meminta pertimbangan penasehat-penasehatnya.

Selain itu, Tuha Peuet memiliki tugas lain, yaitu apabila seorang Uleebalang meninggal dunia atau karena satu sebab lain ia tidak mampu melaksanakan tugasnya, maka tugas Tuha Peuet untuk bermusyawarah menunjuk pemimpin baru untuk menjalankan pemerintahannya.

Meskipun dewan ini mandiri, tapi dalam memberikan pendapat atau masukan mereka harus selalu mempertimbangkan aspirasi dari masyarakat dan hal-hal yang timbul dalam masyarakat. Karena jika tidak, maka keputusan itu tidak memiliki arti sama sekali, apabila tidak mendapat dukungan masyarakat. Seorang Uleebalang jika berhasil membawa aspirasi masyarakat maka kecenderungan akan berhasil, karena kebijaksanaannya mendapat sokongan dari masyarakat.

Bagaimana peranan Tuha Peuet sekarang? Telah terjadi perubahan-perubahan yang menyebabkan fungsi dan kedudukan Tuha Peuet bergeser dari keadaan semula. Pada masa kolonial Belanda disebabkan kepentingan keuangan, Tuha Peuet ditunjuk untuk memungut pajak dari satu atau beberapa kampung, yang secara adat diterima oleh Uleebalang. Dalam hal ini, mereka memperoleh upah sedangkan hak dalam peradilan dan pemerintahan telah hilang sama sekali.

Akibat hak mengutip pajak tersebut, para Tuha Peuet akan tinggal dikampung dengan penghasilan terbesar saja, disatu pihak hubungan antara Uleebalang dan penduduk kampung menjadi renggang, sehingga masyarakat hanya mengenal Tuha Peuet sebagai kepala mereka. Tuha Peuet ini dikenal dan dianggap sebagai wakil Uleebalang dan sering disebut Uleebalang Cut (Hulubalang Kecil).

Dalam hal itu, bersamaan dengan proses perkembangannya “Dewan Penasehat” telah berubah menjadi “Penguasa Wilayah”, meskipun bentuk dewan Tuha Peuet masih ada , tapi fungsinya telah bergeser. Bahkan setelah Kolonial Belanda berhasil memantapkan kekuasaannya di Aceh tahun 1904, fungsi Tuha Peuet ini telah hilang sama sekali, terabaikan. Para Tuha Peuet zaman lama, zaman kesultanan, malah telah menjadi Uleebalang baru dengan wilayah yang lebih kecil.

Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Tuha Peuet merupakan pembantu Keuchik (Kepala Kampung) yang berfungsi sebagai dewan yang memberikan nasehat dan pertimbangan. Namun ketika pemerintah Soeharto mengeluarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1979 tentang Undang-Undang Pemerintahan Desa, Tuha Peuet sebagai kekhasan provinsi Aceh kembali lenyap akibat penyeragaman yang dilakukan oleh rezim Orde Baru.

Pada tahun 2006, terbitlah Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006, Undang-Undang Pemerintahan Aceh  yang mengatur pemerintahan provinsi Aceh, Indonesia sebagai pengganti Undang-Undang Otonomi Khusus dan hasil kesepakatan damai antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, yang dikenal dengan MoU Helsinki. Peranan Tuha Peuet adalah salah satu lembaga yang dicoba untuk dihidupkan kembali, sebagai cerminan jiwa dari masyarakat Aceh yang sangat suka bermusyawarah.

Apakah Lembaga Tuha Peuet dapat menghadapi tuntutan zaman yang dinamis? Kita belum tahu pasti, karena telah ada banyak rentetan sejarah yang terputus di masa lampau, tapi kita semua patut berharap agar kebijaksanaan masa lampau tersebut tidak serta merta sirna ditelan arus zaman.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU

  1. Pingback: FILOSOFI GOB | Tengkuputeh

  2. Pingback: OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA | TengkuputehTengkuputeh

  3. Pingback: KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA | TengkuputehTengkuputeh

  4. Pingback: HIKAYAT SUKU MANTE | TengkuputehTengkuputeh

  5. Pingback: ACEH DAERAH MODAL | TengkuputehTengkuputeh

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.