KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI

Laksamana Malahayati (1560-1607) dari Kesultanan Aceh Darussalam sebagai perempuan pertama di dunia yang memegang jabatan militer tertinggi pada sebuah negera berdaulat. Ia, inspirasi kepada kaum perempuan, bahwa mereka bisa mencapai apapun yang diinginkan. Berbahagialah kita karena memiliki Malahayati.

KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI

Masa kecil Laksamana Malahayati

Malahayati adalah putri Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Muhammad Said Syah, seorang laksamana pula pada Angkatan Laut Kerajaan Aceh. Malahayati lahir tahun 1560, pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahar memerintah Kerajaan Aceh. Masa pemerintahan Sultan Alauddin berlangsung mulai tahun 1537 hingga 1568.

Sejak dahulu kala, orang Aceh dikenal sebagai penganut agama yang taat. Begitu pula halnya dengan keluarga Laksamana Mahmud Syah. Oleh karena itulah, sejak kecil Malahayati telah dididik agar selalu patuh menjalankan perintah agama. Sejak usia enam tahun, Malayahati telah mulai belajar baca tulis Al Qur’an dengan bantuan kedua orang tuanya. Menginjak usia delapan tahun, Malahayati kemudian belajar ilmu agama dengan berguru kepada Tengku Jamaludin Lam Kra, seorang ulama dan sekaligus pemimpin pesantren putri di Banda Aceh. Dua tahun kemudian diteruskannya dengan belajar di Dayah Inong (Madrasatul Banat) dan mulailah ia memperdalam ilmu figih, akidah, akhlak dan bahasa Arab. Selain itu, di rumah pun Malahayati masih menyempatkan diri belajar bahasa asing yang lain dari guru yang khusus didatangkan oleh orang tuanya. Sehingga tak heran apabila kelak kemudian hari setelah ia dewasa, bukan saja pandai berbahasa Arab tetapi juga mahir berbahasa Inggris, Perancis, Spanyol di samping bahasa Melayu dan Aceh sebagai bahasa ibunya.

Ayahnya, sering mengajaknya ke pelabuhan melihat-lihat kapal dagang dan kapal perang milik kerajaan Aceh. Malahayati sendiri menyukai hal itu. Bahkan tak jarang pula ia diajak menyaksikan latihan perang-perangan di laut yang dilakukan oleh kapal-kapal perang Aceh. Bermula dari situlah kemudian tertanam jiwa cinta lautan yang kelak kemudian hari mengantarkan Malahayati menjadi laksamana kerajaan Aceh yang disegani kawan maupun lawan.

Pada masa itu, sebagian wilayah semenanjung Malaka telah jatuh ke tangan Portugis. Bangsa Eropa itu banyak memungut keuntungan dari hasil bumi atas wilayah yang didudukinya. Bagi Aceh sendiri, kekuasaan Portugis di Malaka itu secara langsung atau tidak merupakan ancaman. Tidak menutup kemungkinan apabila Aceh lengah, Portugis akan menyerang Aceh. Kekhawatiran itu bukan saja dirasakan oleh kerajaan Aceh, tetapi juga oleh Banten.

Maka pada tahun 1575, armada perang kerajaan Aceh yang dikomando oleh Laksamana Mahmud Syah dan armada Banten yang dipimpin Pangeran Arya bin Maulana Hasanuddin menyusun kekuatan bersama dan melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka.

Dalam pertempuran dekat pangkalan La Formosa, armada Aceh dan Banten mendapat perlawanan sengit. Laksamana Mahmud Syah gugur di atas kapal komandonya Seulawah Agam. Sebagai akibatnya, pertempuran tak dapat dilanjutkan lagi. Armada Banten menarik diri hingga sampai ke Jepara, sementara itu armada Aceh mundur sampai ke Pulau Bengkalis.

Hati Malahayati sangat terpukul dengan kepergian ayahandanya untuk selama-lamanya itu. Ia sering murung dan mengeluh. “Ah, mengapa aku lahir sebagai wanita. Andai saja aku pria, tentu aku dengan mudah menjadi laksamana dan menuntut balas kepergian ayah,” begitu Malahayati sering mengeluh. Keluh-kesahnya itu sering diutarakannya kepada gurunya, Tengku Ismail Indrapuri. Gurunya itulah yang dengan sabar dan membesarkan hatinya, memberinya nasihat-nasihat yang menggugah.

Malahayati, di hadapan Allah, manusia laki-laki dan perempuan itu sama saja karena kedua-duanya memikul amanah-Nya di bumi ini,” kata guru yang arif itu menasihati.

Kata-kata nasihat yang menggugah itulah yang akhirnya mendorong semangat Malahayati untuk bersumpah bahwa kelak apabila dewasa akan berjuang melawan penjajah.

Laksamana Malahayati Menjadi Panglima Armada Perang Aceh.

Laksamana Muda Ibrahim adalah salah seorang bawahan mendiang Laksamana Mahmud Syah. Ia ikut pula memperkuat barisan armada Aceh ketika melakukan penyerbuan terhadap Portugis di Malaka. Dengan Laksamana Muda Ibrahim itulah Malahayati dikawinkan. Ketika itu, usia Malahayati 17 tahun. Laksamana Muda Ibrahim kemudian diangkat sebagai Panglima Armada V Kerajaan Aceh oleh Sultan Mansur Syah. Sebagai seorang istri, Malahayati mengikuti suaminya pula ketika Laksamana Ibrahim harus bertugas dan berpangkalan di Pulau Rupat.

Pada suatu hari, kapal perang Aceh tengah mengadakan patroli. Ketika melayari perairan Pulau Alang Besar, patroli itu berpapasan dengan dua kapal kecil yang terapung-apung terbawa ombak tak tentu arah. Kapal kecil itu adalah pengangkut rempah-rempah dari Banten. Tetapi secara tiba-tiba kapal kecil itu dihadang oleh perahu Portugis. Mereka dipaksa menyerahkan rempah-rempah yang dibawanya sebelum sampai di tempat tujuan. Pedagang-pedagang dari Banten itu bukan tidak melawan begitu saja. Mereka melakukan perlawanan, meski harus ditebus dengan korban jiwa dan menderita luka-luka. Dua kapal kecil itulah yang berhasil selamat dan meloloskan diri. Sedang kapal-kapal yang penuh muatan rempah-rempah lainnya berhasil dirampas dan kapalnya ditenggelamkan.

Pedagang Banten itu segera ditolong. Yang luka-luka segera dirawat, sedang yang telah meninggal dimakamkan dekat pantai Pulau Alang Besar. Sementara itu pula, setelah mendapatkan laporan tentang peristiwa itu segera mengadakan pengejaran. Laksamana Muda Ibrahim memimpin pengejaran itu di atas kapal komandonya yang bernama Kuta Alam.

Enam kapal Portugis yang diduga melakukan perampasan rempah-rempah pedagang Banten itu berhasil dikejar ketika sedang melayari perairan Tanjung Parit. Orang-orang di kapal Portugis memberi isyarat menolak ketika kapal patroli Aceh mengisyaratkan untuk melakukan penggeledahan.

Maka terjadilah pertempuran laut. Laksamana Muda Ibrahim dengan dibantu istrinya, Malahayati, mengatur serta memberi aba-aba pada kapal patroli Aceh lainnya untuk bergerak dan melumpuhkan perlawanan kapal-kapal Portugis yang berjumlah 6 buah kapal itu. Di atas geladak kapal Kuta Alam, Laksamana Muda Ibrahim mengatur siasat pertempuran.

Pada saat itulah, sebuah peluru meriam kapal Portugis meledak. Laksamana Muda itu tak sempat lagi menghindar. ia terkena tembakan meriam itu dan gugur. Malahayati menghadapi kepergian selama-lamanya Laksamana Muda Ibrahim dengan hati tabah. Gugurnya Laksamana Muda Aceh itu sama sekali tak diperbolehkannya diberitahukan kepada awak kapal di kapal yang lain.

Ia tidak ingin berita gugurnya Laksamana Muda Ibrahim mengendorkan semangat juang armada Aceh. Malahayati kemudian secara diam-diam mengenakan pakaian almarhum suaminya. Ia dengan tangkas langsung mengambil alih kendali memimpin pertempuran. Hasilnya sungguh di luar dugaan! Tiga kapal Portugis berhasil ditenggelamkan. Dua kapal lainnya ditawan dan satu kapal lagi berhasil meloloskan diri dari kepungan kapal patroli Aceh.

Di pihak Aceh, satu kapal ditenggelamkan lawan, dua kapalmmengalami kerusakan ringan. Rempah-rempah yang berhasil diselamatkan kemudian diserahkan kembali kepada pedagang dari Banten.

Keberhasilan Malahayati dalam pertempuran melawan Portugis itu segera tersiar ke seluruh wilayah Aceh dan bahkan ke Banten. Sultan Maulana Yusuf dari Banten mengirim ucapan selamat atas kemenangan armada Aceh dan menyatakan pula kekagumannya kepada Malahayati. Di samping itu juga menyampaikan rasa terima kasih karena armada Aceh telah memberikan pertolongan yang begitu tulus kepada pedagang rempah-rempah Banten.

Tak kurang pula Sultan Mansur Syah atas nama rakyat Aceh menghaturkan penghargaan setinggi-tingginya atas keberhasilan Malahayati, di samping menyatakan rasa belasungkawa atas gugurnya Laksamana Muda Ibrahim.

Dua bulan kemudian, Malahayati diangkat menjadi Wakil Panglima Armada V . Panglima Armada V Aceh, ketika itu dipegang oleh Laksamana Muda Mahaja Lela. pada tahun 1581, Sultan Mansur Syah menugaskan Malahayati memimpin penyerangan ke benteng La Formosa di Malaka. Penyerangan ini melibatkan 40 buah kapal perang dengan kekuatan 10.000 orang prajurit Aceh. Dalam penyerangan ini, Malaka memang belum berhasil dikuasai oleh Aceh. Tetapi armada laut Aceh telah berhasil memporak-porandakan kekuatan kapal-kapal perang Portugis. Perairan Riau yang sebelumnya merupakan daerah rawan karena kapal-kapal Portugis sering melakukan perampasan barang-barang terhadap kapal dagang yang lewat.

Sultan Alaudin Mansur Syah menilai bahwa penyerangan armada Aceh di bawah pimpinan Malahayati itu berhasil. Itulah sebabnya maka pada tahun 1582 Sultan mengangkat Malahayati menjadi Panglima Armada V kerajaan Aceh dengan pangkat Laksamana Muda. Ketika itu, Malahayati telah menginjak usia 22 tahun.

Intrik politik di Istana Aceh Darussalam

Masa pemerintahan Sultan Alaudin Mansur Syah yang memerintah dari tahun 1577-1585 adalah masa gemilang bagi Kerajaan Aceh Darussalam. Hampir seluruh wilayah Sumatra telah menjadi wilayah kekuasaannya, di samping’Semenanjung Malaya. Hanya wilayah Malaka yang masih menjadi daerah kekuasaan Portugis. Meskipun demikian Portugis selalu merasa tidak aman dan terancam. Betapa tidak, sebab mereka selalu dihantui jangan-jangan armada Aceh menyerangnya sewaktu-waktu.

Pada masa lalu Aceh merupakan produsen lada terbesar dunia.

Hasil perkebunan lada Aceh, menempati urutan pertama di kepulauan Nusantara ketika itu. Disusul Banten dan Palembang. Maka tidak heran bila kapal-kapal dari Eropa banyak menyinggahi pelabuhan Aceh untuk membeli lada yang banyak dibutuhkan orang di daratan benua Eropa. Di samping sebagai penghasil lada yang utama, angkatan laut Aceh juga sangat disegani. Angkatan Laut inilah yang banyak berperan dalam mengamankan jalur perdagangan di Selat Malaka.

Meskipun Sultan Alauddin Mansur Syah dinilai berhasil memakmurkan rakyatnya, namun di pihak kerajaan masih ada saja orang yang tidak puas dan tidak menyukainya. Mereka adalah dari keturunan Sultan Ali Mughayat Syah yang tidak menginginkan orang dari keturunan di luar kerajaan memegang tampuk pemerintahan. Dan memang sebenarnyalah, Sultan Alauddin Mansur Syah yang tengah berkuasa saat itu, bukan keturunan dari garis Sultan Ali Mughayat Syah, melainkan putra Sultan Perak. Kisahnya bermula ketika pada tahun 1551 Sultan Alauddin Riayat Syah al Qahar mengerahkan angkatan lautnya untuk menghantam Portugis di Malaka. Ketika itu angkatan laut berkekuatan 20.000 orang.

Ketika benteng La Formosa berhasil dikepung rapat oleh Armada Laut Aceh dan menghuninya mulai kehabisan bahan makanan, Sultan Akhmad dari Kesultanan Perak menjual beras secara diam-diam kepada Portugis. Tak hanya itu, sebab apa yang dilakukan Sultan Perak itu diikuti pula Kerajaan Johor. Tentu saja sikap mereka amat menggusarkan pasukan Aceh. Maka komandan pasukan Aceh, Laksamana Abdul Jalil memerintahkan pasukannya untuk menyerang Perak dan Johor. Kedua kerajaan itu terpaksa menyerah dan berjanji tak akan melakukan hal itu terhadap Portugis. Untuk memperkuat perjanjian itu, Sultan Mansur Syah, putra Sultan Perak dibawa ke Aceh dan tinggal di Istana al Qahar.

Putra Sultan Perak itu, selama berada di Aceh memperlihatkan sikap yang baik dan juga cakap. Oleh karena itu Sultan Aceh kemudian mengawinkannya dengan putri Sultan sendiri yang bernama Ratna Indra Wangsa. Dari perkawinan itu lahirlah seorang putra yang diberi nama Perkasa Alam Syah yang kemudian bergelar Iskandar Muda Makhota Alam. Oleh karena itulah, orang Aceh yang masih mempunyai garis keturunan dari Sultan Ali Mughayat Syah tidak menyukai Sultan Mansur Syah yang dianggapnya berada di luar garis keturunan Aceh.

Kemudian timbullah gerakan-gerakan untuk menggulingkan Sultan. Gerakan ini dipimpin oleh Panglima Raja Buyung, putra Gubernur Inderapura yang bernama Munawar Syah. Waktu itu, Panglima Raja Buyung menjabat sebagai Komandan Garnizun Ibukota. Panglima. Raja Buyung kemudian mengupayakan agar Malahayati mendukung gerakannya. Maka diutusnyalah Teuku Imum Mukim Cadek, Bupati pulau Weh, menemui Laksamana Muda Malahayati dan menyampaikan hal itu.

Tapi rencana gerakan yang dipimpin Panglima Raja Buyung itu ditentang habis-habisan oleh Malahayati. Ketidaksetujuan Malahayati itu didasarkan pada kenyataan bahwa meskipun Sultan Mansur Syah keturunan Kesultanan Perak tetapi ia telah berjuang untuk memakmurkan rakyat Aceh dan apabila ia disingkirkan secara paksa, maka dapat dipastikan Kerajaan Perak dan Johor akan memisahkan diri dari Kesultanan Aceh. Karena upaya untuk mendapatkan dukungan itu gagal, maka Teuku Imum Mukim Cadek kembali ke ibukota dengan tangan hampa.

Tujuh hari setelah itu, Laksamana Muda Malahayati menyusul ke Banda Aceh untuk menyampaikan laporan perihal gerakan yang dipimpin Panglima Raja Buyung kepada Sultan Mansur Syah. Tetapi ketika Malahayati belum lagi sempat menemui Sultan Mansur Syah, Panglima Raja Buyung telah bergerak lebih dahulu. Sultan Mansur Syah yang berada di Kuala Aceh beserta pengikutnya ditangkap dan dibunuh. Pasukan Panglima Raja Buyung berhasil merebut istana dan ibukota. Tak luput pula. Malahayati beserta pengawalnya ditangkap dan dilucuti senjatanya. Malahayati dikenakan sebagai tahanan rumah selama 3 tahun.

Pada bulan Januari 1588, Malahayati yang dijuluki Singa Betina dari Aceh itu berhasil meloloskan diri. Ia kemudian menuju Jambo Aye tempat armada yang dipimpinnya berada. Kedatangannya disambut gembira oleh para anggota armada. Sementara itu, Laksamana Maharaja Lela yang ditunjuk Panglima Raja Buyung untuk menggantikan kedudukannya berhasil ditawan. Tiga hari setelah berhasil meloloskan diri itu, Malahayati bersama 24 kapal Armada yang dipimpinnya menuju Banda Aceh. Kekuatan armada itu bertambah lagi ketika di perairan Biereun, armada III yang dipimpin oleh Laksamana Muda Zainal Abidin Anjong bergabung pula. Laksamana Husin memimpin Armada VII yang berpangkalan di Ulee Lheu bergabung pula dengan Malahayati.

Pada bulan Maret 1588, Malahayati memberikan ultimatum agar Panglima Raja Buyung menyerah. Jika tidak, maka jalan kekerasan akan dilakukan. Ultimatum itu membuat Panglima Raja Buyung tak berkutik. Ia menyerah.

Malahayati kemudian mengambil alih kekuasaan. Seminggu kemudian, Majelis Kerajaan yang sebelumnya telah dibekukan oleh Panglima Raja Buyung, mengadakan sidang dan menetapkan Pangeran Zainal Abidin menjadi Sultan Aceh dengan gelar Sultan Alauddin Riayat Syah.

Laksamana Malahayati Vs. Kapitein Cornelis de Houtman

Empat buah kapal berbendera Belanda mendarat di pelabuhan Banten. Itu terjadi pada tahun 1596. Mereka datang untuk membeli rempah-rempah. Keempat kapal Belanda itu berada di bawah komando Cornelis de Houtman. Ia seorang veteran perang Belanda. Di Banten, orang-orang Belanda itu bersikap tidak bersahabat sehingga menimbulkan rasa benci bagi penduduk pribumi.

Terhadap pedagang rempah-rempah mereka memaksa membeli dengan harga rendah, sehingga menimbulkan kemarahan. Akibatnya, perkelahian tidak dapat dihindarkan lagi. Awak kapal Belanda banyak yang menemui ajal. Yang selamat segera menuju kapal dan Cornelis de Houtman akhirnya memutuskan meninggalkan pelabuhan Banten dengan tangan hampa.

Laksamana Malahayati memenangkan duel satu lawan satu menghadapi Kapitein Cornelis de Houtman.

Pada tahun 1598, Cornelis de Houtman datang lagi ke Indonesia. Tujuannya kali ini bukan Banten, melainkan Aceh. Cornelis de Houtman memimpin 225 awak kapal Belanda yang bernama De Leewen dan De Leewin. Mereka ke Aceh hendak membeli lada Aceh yang cukup dikenal oleh orang-orang Eropa.

Kedatangan orang-orang Belanda diterima dengan baik. Bahkan Sultan Aceh, mengundang mereka keistana dengan acara jamuan resmi. Dalam jamuan itulah Sultan Aceh memberikan izin kepada orang-orang Belanda itu untuk membeli lada dari Aceh.

Beberapa hari setelah acara jamuan itu, Laksamana Malahayati menuju pelabuhan untuk meninjau kapal-kapal Belanda. Tetapi kejadian yang pernah dilakukan orang-orang Belanda dua tahun sebelumnya terhadap orang-orang Banten terulang lagi. Mereka tidak menunjukkan sikap bersahabat. Terjadilah perang mulut dan akhirnya saling baku hantam. Pada saat itulah Cornelis de Houtman tiba-tiba mencabut pedangnya dan diarahkan ke tubuh syahbandar pelabuhan Aceh. Dalam waktu yang bersamaan, Malahayati secepat kilat mencabut rencongnya, dan tak ayal lagi senjata itu menembus dada Belanda yang congkak itu. Perkelahian terbuka segera saja meletus. Namun karena kekuatan tidak seimbang, Malahayati bersama pengikutnya terpaksa menyeiamatkan diri dengan menceburkan diri ke laut. Belanda semakin menunjukkan kecongkakannya dengan memberondongkan peluru-peluru meriamnya. Setelah berhasil selamat, Laksamana Malahayati segera melakukan pengepungan terhadap kapal-kapal Belanda itu. Kapal De Leewin yang berhasil ke luar dari pelabuhan segera dihujani peluru meriam. Kapal itu terbakar dan tenggelam. Sementara itu kapal De Leeuwen yang mencoba menyeiamatkan diri menuju laut lepas dapat ditangkap dan diseret kembali ke pelabuhan Aceh.

Dalam peristiwa itu, sebanyak 30 awak kapal Belanda ditawan. Salah seorang di antaranya bernama Frederick de Houtman, orang kedua pada rombongan kapal Belanda itu sebagai wakil Cornelis de Houtman yang telah terbunuh.

Awak kapal Belanda itu, akhirnya dihadapkan ke pangadilan. Sebagai pembela ditunjuk Teuku Lam Gugbb dan Teuku Imuem Ateuk. Yang menarik, ternyata Malahayati memohon izin Sultan Aceh untuk diizinkan menjadi pembela pula. Permohonan Malahayati dikabulkan. Jadilah ia pembela orang-orang Belanda itu di pengadilan.

Setelah melalui beberapa kali sidang, akhirnya hakim menjatuhkan hukuman mati terhadap 30 awak kapal Belanda yang diadili. Menurut hakim, mereka terbukti melakukan kekacauan di negeri orang dan tidak menghormati kedaulatan suatu negeri.

Terhadap hukuman mati itu, Malahayati mengadakan pembelaan yang gigih. Dikatakannya, bahwa tindakan orang-orang Belanda itu merupakan hal yang tidak direncanakan. Bila hukuman mati terpaksa dilakukan, maka Aceh akan menerima akibatnya. Sebab saat itu Aceh sendiri sedang mengadakan dan menjalin hubungan dengan beberapa negara di Eropa. Hukuman mati akan merenggangkan hubungan Aceh dengan negara Eropa. Dalam pembelaannya, Malahayati mengusulkan agar hukuman mati itu diubah menjadi hukuman seumur hidup.

Ternyata pembelaan Malahayati itu disetujui oleh sidang. Maka hukuman mati itupun diubah menjadi hukuman seumur hidup.

Laksamana Malahayati sebagai seorang negarawan

Laksamana Malahayati selain ahli mengatur siasat dalam bertempur juga seorang ahli kenegaraan. Ia menguasai bahasa Inggris, Perancis, Belanda dan juga bahasa Spanyol. Oleh karena itulah Sultan Aceh mengangkatnya pula sebagai pejabat yang mengurus perutusan-perutusan baik di dalam negeri maupun yang keluar negeri. Berkenaan dengan tugas itulah, maka jika ada utusan dari negeri lain yang datang ke Aceh, maka sebelum menghadap Sultan Aceh utusan itu harus terlebih dahulu menemui Malahayati. Sultan Aceh bahkan sering meminta pendapat Malahayati sebelum mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan hubungan negeri lain.

Kejadian yang menimpa Cornelis de Houtman beserta anak buahnya di Aceh, amat menggemparkan kerajaan Belanda. Prins Mauris, raja kerajaan Belanda ketika itu langsung mengadakan sidang kerajaan untuk membicarakan kejadian itu. Dalam sidang kerajaan itu sedikit terjadi silang pendapat. Ada pihak yang mengusulkan agar kerajaan mengirimkan prajurit dan armadanya untuk menggempur Aceh. Namun di pihak lain, menyatakan ketidaksetujuannya. Alasannya, jika Belanda menyerang Aceh, pastilah pihak Aceh akan menutup perairan Selat Malaka bagi pelayaran kapal-kapal Belanda. Jika hal itu terjadi, kerajaan Belanda akan menanggung kerugian yang besar.

Akhirnya diputuskan, bahwa satu-satunya jalan yang terbaik ialah meminta maaf kepada kerajaan Aceh di samping memohon agar para tawanan yang telah dihukum di Aceh dapat dibebaskan dari hukuman.

Prins Mauris segera mengutus Laksamana Laurens Bicker ke Aceh. Utusan itu membawa surat khusus dari raja Belanda untuk Sultan Aceh. Di samping itu utusan itu juga membawa hadiah-hadiah untuk kerajaan Aceh sebagai tanda persahabatan.

Ketika utusan Belanda yang terdiri dari empat kapal itu sampai di perairan Aceh, kapal-kapal itu segera saja dikepung oleh armada Aceh. Armada Aceh tidak menginginkan kejadian yang menimpa Cornelis de Houtman terulang lagi. Oleh karena itu setiap kapal Belanda yang datang, perlu dicurigai. Laksamana Lauren Bicker beserta lima pembantunya terpaksa turun ke darat dengan pengawalan yang ketat. Mereka dibawa menghadap Laksamana Malahayati. Tamu asing itu diterima dengan senang hati oleh Malahayati. Apalagi ketika tamu asing itu menyatakan maksud damai dan melupakan kejadian yang dialami Cornelis de Houtman.

Atas saran Laksamana Malahayati, Sultan Aceh bersedia menerima ajakan damai kerajaan Belanda. Di samping itu, kapal-kapal Belanda diperbolehkan pula berdagang dengan orang-orang Aceh. Pengikut Cornelis de Houtman yang dihukum di Aceh juga diberikan keringanan dengan membebaskan mereka dari hukuman. Dengan demikian, mereka dapat ikut kembali ke negeri Belanda bersama Laksamana Lauren Bicker. Ketika itu, di samping menjalin kerjasama dan persahabatan dengan kerajaan Belanda, Aceh juga menjalin hal yang sama dengan negara lain seperti Inggris yang ketika itu diperintah oleh ratu Elizabeth I. Demikian pula halnya dengan negeri Cina, Burma, Siam, Jepang, India serta Turki, kerajaan Aceh menjalin persahabatan yang saling menguntungkan.

Dalam hal-hal seperti itulah, peranan Laksamana Malahayati amat besar dan menentukan.

Laksamana Malahayati selaku penjaga Undang-Undang Meukuta Alam Al-Asyi

Ketika usia Sultan Aceh yang juga bergelar Sultan Saidil Mukamil telah menginjak 100 tahun lebih, maka Laksamana Malahayati diberi wewenang untuk mengurusi segala kegiatan pemerintahan. Baik yang berkaitan dengan urusan dalam kerajaan maupun hubungan dengan negeri mancanegara. Karena memerintah atas nama Sultan, maka seluruh jajaran angkatan perang menjadi tunduk atas perintah Laksamana Malahayati. Seandainya saja Laksamana Malahayati memiliki niat buruk, maka bisa saja ia mengangkat dirinya sebagai sultan sebab dengan kekuasaannya itu ia tentu amat mudah menyingkirkan Sultan Aceh yang telah tua. Namun hal itu sama sekali tak terlintas di benak Laksamana Malahayati. Ia sangat menghargai dan menghormati undang-undang yang telah diputuskan oleh Majelis Kerajaan.

Niat baik Laksamana Malahayati itu, ternyata mendapat ujian pada saat Sultan Aceh berada pada tahumtahun terakhir masa pemerintahannya. Ujian itu datang dari Pangeran Mahmud Syah, yang menginginkan agar kelak tampuk pemerintahan Aceh jatuh ke tangannya. Memang benar, Pangeran Mahmud Syah adalah putra Sultan Saidil Mukamil. Tetapi ketika pada tahun 1588 Majelis Kerajaan melantik Sultan Sidi Mukamil menjadi sultan maka bersamaan dengan itu ditetapkan pula bahwa putra mahkota yang berhak menggantikannya kelak adalah Iskandar Muda, putra Sultan Mahmud Syah.

Maka ketika Sultan Mahmud Syah mendekati Laksamana Malahayati untuk memperoleh dukungan tentang usahanya itu, laksamana Aceh yang perkasa itu malah menolaknya. Dikatakannya bahwa undangundang harus tetap ditegakkan di Aceh, dan oleh sebab itu semua usaha yang melanggar undang-undang harus ditumpas. Gagal memperoleh dukungan dari Laksamana Malahayati, Sultan Mahmud Syah mendekati Majelis Kerajaan. Namun Majelis Kerajaan pun menolak usaha yang akan dilakukan Sultan Mahmud Syah itu.

Tekad Sultan Mahmud Syah agaknya tak dapat ditawar-tawar lagi. Ia akan merebut kekuasaan Aceh sebelum Sultan Saidil Mukamil wafat dan juga sebelum Pangeran Iskandar Muda dinobatkan oleh Majelis Kerajaan untuk menduduki tahta Aceh.

Begitulah, ketika pada bulan Juli 1604 Sultan Sidi Mukamil merayakan hari ulang tahunnya Sultan Mahmud Syah melaksanakan rencananya itu. Pada saat pembesar Aceh berdatangan menghadiri pesta ulang tahun itu, maka meneroboslah pengikut-pengikut Sultan Mahmud Syah melucuti mereka. Orang-orang yang dianggap menjadi penghalang ditangkap oleh para pengikut Sultan Mahmud Syah. Serta merta pula Sultan Mahmud Syah mengangkat dirinya menjadi Sultan Aceh. Laksamana Malahayati bersama perwira angkatan perang Aceh, ditawan dan dipenjarakan di Merduwati. Begitu pula Pangeran Iskandar Muda, putra mahkota itu dipenjarakan bersama Laksamana Malahayati. Sedangkan Sultan Saidil Mukamil ditawan di suatu ruangan dalam istana Aceh. Setahun kemudian, Sultan Aceh yang telah berusia sangat lanjut itu wafat dalam keputusasaan akibat ulah putranya sendiri.

Sementara itu, Laksamana Malahayati bersama Pangeran Iskandar Muda dapat meloloskan diri berkat pertolongan pengikut- pengikutnya yang setia. Mereka berdua meloloskan diri ke Pidie. Wali negeri Pidie, yaitu adik Sultan Mahmud Syah sangat tidak setuju dengan tindakan kakaknya itu. Ia malah memberikan dukungan agar Laksamana Malahayati dan Pangeran Iskandar Muda dapat merebut kembali kekuasaan Aceh dari tangan Sultan Mahmud Syah.

Para pengikut Laksamana Malahayati yang sangat tidak menyukai tindakan Sultan Mahmud Syah banyak yang menyarankan agar laksamana perkasa itu melakukan serangan terbuka terhadap Sultan Mahmud Syah. Namun Laksamana Malahayati dengan penuh kesabaran memberi penjelasan kepada mereka bahwa jika ia melakukan serangan terbuka itu, maka di Aceh akan terjadi perang saudara. Dan hal itu sama sekali tidak diinginkannya.

Laksamana Malahayati sampai tiga tahun bertahan di istana Wali Negeri Pidie, dengan kesehatan dirinya yang semakin menurun. Untuk sementara ia memang mengamati perkembangan kerajaan Aceh dari jauh.

Serbuan Portugis ke Aceh

Melihat keadaan Aceh yang agak melemah saat itu, Portugis ingin memanfaatkan keadaan itu. Mula-mula, datanglah utusan ke Pidie di bawah pimpinan Don Gonzales. Mereka menemui Laksamana Malahayati. Mereka berpura-pura bermaksud baik dengan menawarkan bantuan tentara untuk merebut kembali ibukota dan sekaligus kekuasaan Aceh dari tangan Sultan Mahmud Syah. Namun Laksamana Malahayati menolak tawaran itu dengan tegas bahwa apapun yang terjadi di Aceh adalah urusan orang Aceh sendiri dan bangsa lain tidak berhak untuk turut campur. Menyadari akal bulusnya tak berhasil, maka utusan Portugis yang dipimpin Don Gonzales itupun kembali dengan tangan hampa.

Tetapi rupanya Portugis tak puas dengan tolakan tawaran itu. Oleh karena itu, pada bulan Juni 1607, sebanyak 17 kapal perang Portugis telah berada di perairan Banda Aceh. Rupanya Portugis ingin secara langsung merebut wilayah Aceh. Mereka memperkirakan bahwa Laksamana Malahayati tidak akan mau membantu Sultan Mahmud Syah yang sedang berkuasa. Maka pada awal Juli 1607, mendaratlah pasukan Portugis di beberapa wilayah kerajaan Aceh.

Laksamana Malahayati yang ketika itu sebenarnya sedang sakit di istana negeri Pidie, ketika mendengar Portugis telah mendaratkan pasukannya di wilayah Aceh mendadak menjadi geram. Seolah-olah, penyakitnya hilang dan muncul semangat untuk bangkit mengusir musuh.

Dengan cepat wanita perkasa itu mengenakan seragam laksamananya dan menggerakkan pasukan yang setia padanya. “Bangsa penjajah harus kita usir dari bumi Aceh dan melupakan pertikaian pribadi di antara kita”. Dengan serangan Portugis itulah, mungkin Sultan Mahmud Syah akan tersingkir dengan sendirinya dari tahta Aceh” kata Laksamana Malahayati di hadapan pasukan dan para perwira yang siap berjuang kembali.

Pasukan yang dipimpin oleh perwira-perwira kepercayaan Laksamana Malahayati, langsung melakukan serangan ke wilayah Aceh yang telah direbut Portugis. Laksamana Malahayati sendiri, dengan semangat membara memimpin armada Aceh dari kapal perang komandonya, yakni Kuta Alam.

Tak lebih dari waktu seminggu, seluruh kekuatan Portugis di Aceh berhasil dipukul mundur dan dikalahkan. Portugis tidak menyangka bahwa serangan pasukan yang dipimpin Laksamana Malahayati benar-benar hebat dan membuat mereka mengundurkan diri dari kancah pertempuran. Yang lebih hebat lagi, ketika memimpin pasukan di darat, Laksamana Malahayati memberikan petunjuk dari atas tandu karena sakitnya.

Menyerahnya Portugis dari Aceh, disusul pula oleh wafatnya Sultan Mahmud Syah secara mendadak. Diduga, Sultan itu wafat karena serangan jantung akibat kekhawatirannya sendiri. Sebab Sultan beranggapan jika Portugis telah dikalahkan oleh pasukan Malahayati, maka tidak urung pula ia akan disingkirkan pula dari singgasana kerajaan Aceh.

Dengan wafatnya Sultan Mahmud Syah, maka tahta kerajaan Aceh menjadi kosong. Majelis Kerajaan yang pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah dibekukan, akhirnya bekerja kembali dan melakukan sidang untuk menentukan sultan yang baru. Maka dengan suara bulat, Majelis Kerajaan memilih Pangeran Iskandar Muda sebagai Sultan Aceh yang kedua puluh. Pada saat pelantikannya, Laksamana Malahayati terpaksa datang dengan dipapah untuk menyaksikan pelantikan itu.

Sultan Iskandar Muda kelak menjadi Sultan terbesar dalam sejarah Aceh dan Nusantara.

Laksamana Malahayati meninggal dunia

Makam Laksamana Malahayati yang terdapat di Krueng Raya.

Seusai pelantikan Sultan Aceh yang baru, Laksamana Malahayati meminta agar ia dibawa ke kapal komandonya, Kuta Alam, yang sedang berpangkalan di pelabuhan Ulee Lheu. Laksamana Malahayati menikmati hari-hari tuanya di atas kapal Kuta Alam, sampai akhir hayatnya.

Infografis kehidupan Laksamana Malahayati

Infografis Riwayat Laksamana Malahayati

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.