KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI

Lukisan Istanbul, ibu kota Turki Ustmani pada tahun 1860.

Lukisan Istanbul, ibu kota Turki Ustmani pada tahun 1860.

KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI

Pembukaan Terusan Suez dan Hubungannya dengan Perang Aceh.

Terusan Suez selesai 1869, dengan dibukanya Terusan Suez pulau Sumatera menjadi lebih penting artinya karena lalu lintas pelayaran dari Eropa ke Asia Timur tidak lagi melalui selatan yaitu Selat Sunda, tetapi melalui jalur Aden (Yaman) – Kolombo (Ceylon/Sri Langka) melalui Selat Malaka. Timur pulau Sumatera telah jatuh pada pengaruh Belanda, tapi di utara Sumatera, yaitu Aceh masih berdaulat. Belanda merasa bahwa kedaulatan Kesultanan Aceh akan menyebabkan kesulitan di kemudian hari yang melemahkan kekuatan kolonial di Hindia Belanda secara diplomatis dan politik.

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Posisi strategis Kesultanan Aceh Darussalam membuat Belanda merasa perlu segera menancapkan kekuasaan di Utara Sumatera sebelum ada kekuatan lain ikut campur. Ketika Sultan Mansyur Syah (Alaudddin Ibrahim Mansyur Syah) sebagai Sultan terkuat Aceh di abad ke-19 meninggal dunia pada tahun 1870. Belanda berpikir sudah saatnya Aceh ditaklukkan.

Misi Diplomatik Aceh ke Turki Ustmani pada tahun 1868 Masehi.

Kesultanan Aceh yang telah mengetahui rencana pembukaan Terusan Suez mengirimkan perutusan ke Istanbul memohon kepada Khalifah yaitu Sultan Turki agar menjadi pelindung Negara Islam Aceh sebagai kekuasaan tertinggi dunia Islam.

Bendera Aceh koleksi Rijksmuseum

Bendera Aceh koleksi Rijksmuseum

Kesultanan Turki Ustmani ketika itu dalam keadaan tidak berdaya, apalagi untuk menambah masalah baru dalam hubungan dibukanya Terusan Suez. Kekuasaan Turki di Mesir telah melemah akibat pertentangan dengan Inggris dan Perancis. Pada akhirnya pembangunan Terusan Suez disabotase oleh Inggris pada detik-detik terakhir.

Pada tahun 1867 Masehi Sultan Abdul Hamid naik tahta. Di kemudian hari ia mencoba memperkukuh kekuasaan sultan dengan memberikan perhatian besar kepada Kekhalifahan Turki Ustmani sebagai pusat dunia Islam sehingga kelak gerakan Pan-Islam memperoleh kemajuan di semua Negara muslim sebagai bentuk nasionalisme awal.

Habib Abdurrahman Az Zahir menggagas, penggalang, dan sekaligus pelaksana mewakili 60 bangsawan Aceh untuk meminta bantuan Turki melawan ancaman agresi Belanda. Tapi tahun 1868, Kesultanan Aceh Darussalam masih jauh. Perutusan Aceh ditolak, tapi Aceh akan kembali. Habib kembali dengan hasil yang kurang memuaskan, hanya mendapatkan surat dukungan dari Sharif Mekkah dan Pasya Madinah.

Traktat Sumatera atau Perjanjian Sumatera tahun 1871 Masehi.

Untuk memperlancar rencana Belanda memperluas wilayah di Pulau Sumatera, pada tahun 1871 Masehi Belanda berhasil membujuk Inggris untuk menandatangani Traktat Sumatera (Perjanjian Sumatera 1871). Traktat tersebut mengakhiri klaim Inggris atas pulau Sumatera. Membatalkan Traktat London tahun 1824 Masehi dimana kemerdekaan Kesultanan Aceh dijamin. Perjanjian Sumatera memberikan kebebasan kepada Belanda di perairan Selat Malaka sekaligus memberikan kewajiban untuk menumpas segala pemberontakan kepada kekuatan Eropa. Sebagai imbalannya Belanda memberikan Inggris wilayah jajahan di Afrika Barat yang bernama Pantai Emas (sekarang Ghana) dan hak perdagangan yang setara di wilayah Kesultanan Siak.

Perundingan Traktat Sumatera antara Inggris dan Belanda pada tahun 1871 Mesehi.

Perundingan Traktat Sumatera antara Inggris dan Belanda pada tahun 1871 Mesehi.

Traktat Sumatera ditandatangani pada tanggal 2 November 1871 Masehi antara Kerajaan Britania Raya dengan Kerajaan Belanda dengan perincian:

  1. Pasal I: Kerajaan Britania Raya (Inggris) tidak mengajukan keberatan atas perluasan dominasi Belanda terhadap pulau Sumatera dan juga membatalkan kesepakatan dalam Traktat London tahun 1824;
  2. Pasal II: Kerajaan Belanda menyatakan bahwa perdagangan dan pelayaran Kerajaan Britania Raya (Inggris) boleh dilakukan, begitupula terhadap seluruh kesultanan di Sumatera yang dapat bertanggung jawab kepada Belanda.

Sebagai bentuk respon terhadap Traktat Sumatera Belanda mengirimkan sebuah kapal perang ke Aceh dibawah pimpinan kontrolir Pemerintahan Dalam Negeri E.R. Krayenhoff untuk bernegoisasi dengan sultan Aceh dengan tawaran melakukan tekanan. Aceh ditawarkan mengakui kekuasaan Belanda dan dimasukkan ke dalam wilayah pabean Hindia Belanda dengan imbalan kesultanan Aceh tetap merdeka dan mempunyai pemerintahan sendiri.

Krayenhoff mengadakan pertemuan dengan Habib Abdurrahman Az-Zahir, seorang Arab, yang ketika itu memangku jabatan sebagai Wazir (Perdana Menteri). Menurut laporan Krayenhoff ke Batavia. Abdurrahman dengan angkuh mengemukakan hubungan dengan Turki, Inggris, Perancis dan banyak Negara lain. Menurut Belanda ini merupakan tindakan yang tidak pantas, apabila sebuah kesultanan pribumi bersikap angkuh kepada para wakil gubernur jenderal. Hal ini juga tidak sesuai kenyataan karena Inggris telah memperbarui perjanjian dengan Belanda yaitu Traktat Sumatera dan Turki sendiri bukanlah Negara kuat lagi, Belanda optimis meskipun Aceh meminta bantuan Turki, tentu hasilnya masih sama sikapnya dengan tahun 1868 Masehi.

Misi Diplomatik Aceh ke Turki Ustmani pada 1873 Masehi.

Menyadari dalam ancaman invasi oleh Belanda, dan terlihat jelas bahwa Kesultanan Aceh akan diserang. Sultan Aceh kembali mengutus Habib Abdurrahman Az-Zahir untuk kembali meminta bantuan Turki.

Habib (Sayid) Abdul Rahman bin Muhammad al-Zahir (1832-1986 Masehi); lahir di Hadhramaut, menuntut ilmu di Mesir dan Kalkuta, berkelana ke Asia Tenggara. Tiba di Singgapura pada tahun 1862 Masehi, untuk bekerja pada Sultan Johor. Tiba di Aceh pada 1864 Masehi dan mencapai puncak karir. Menjadi perdana menteri (mangkubumi) dan menjadi kepala perutusan sultan Aceh untuk melakukan misi diplomatik ke Turki Ustmani. Ketika Perang Aceh terjadi menyerah dan dikirim ke Jeddah pada tahun 1878 Masehi. Menghabiskan sisa umur di Arabia sampai kematiannya pada 1896 Masehi.

Habib (Sayid) Abdul Rahman bin Muhammad al-Zahir (1832-1986 Masehi); lahir di Hadhramaut, menuntut ilmu di Mesir dan Kalkuta, berkelana ke Asia Tenggara. Tiba di Singgapura pada tahun 1862 Masehi, untuk bekerja pada Sultan Johor. Tiba di Aceh pada 1864 Masehi dan mencapai puncak karir. Menjadi perdana menteri (mangkubumi) dan menjadi kepala perutusan sultan Aceh untuk melakukan misi diplomatik ke Turki Ustmani. Ketika Perang Aceh terjadi menyerah dan dikirim ke Jeddah pada tahun 1878 Masehi. Menghabiskan sisa umur di Arabia sampai kematiannya pada 1896 Masehi.

Habib Abdurrahman Az-Zahir memiliki intelektualitas tinggi, memahami keadaan, memiliki kemampuan berargumen dan meyakinkan orang, fasih berbagai bahasa dan memiliki hubungan darah dengan Syarif Mekkah, didukung oleh para pedagang dan memiliki pergaulan luas terutama di kalangan elit politik, serta yang paling penting dikenal luas di Turki.

Ketika agresi Belanda pertama di Aceh pada tahun Maret 1873 perjalanan utusan Aceh yaitu Habib Abdurrahman Az-Zahir dan Nyak Abbas baru tiba di Mekkah. Akhir April 1874 mereka bergegas menuju Istanbul, setibanya mereka di Turki mereka mendapatkan informasi bahwa Belanda telah gagal menaklukkan Aceh pada perang pertama.

Ketika Habib Abdurrahman Az-Zahir berhasil mencapai Turki, ia terus mengetuk pintu Turki Utsmaniyah. Ia tidak berhasil menghadap sultan Turki, tindakannya mengesankan Belanda yang memantau melalui jaringan mata-mata.

Habib Abdurrahman membawa tiga dokumen yang didalamnya menyatakan bahwa:

  1. Sultan Aceh menyerahkan kerajaannya, kawulanya, serta dirinya sendiri kepada khalifah;
  2. Memohonkan kepadanya agar menguasai harta miliknya serta mengangkat (hanya) seorang Komisaris Pemerintah Turki di Aceh.
  3. Pendapatan kerajaan dari cukai lada yang dimiliki oleh Sultan Aceh dirinci dengan teliti. Segala-galanya dilengkapi menurut selayaknya dengan cap Sultan tujuh rangkap serta tiada diragukan keasliannya.

Kerajaan Aceh memohon agar menjadi Vasal Turki Ustmani.

Kerajaan Aceh berusaha agar Turki membantu sebagai khalifah dunia Islam. Utusan Aceh menawarkan kedudukan Aceh sebagai bagian dari persemakmuran (Vassal State) bagian dari Turki Ustmani.

Permohonan Aceh menjadi vazal Turki Ustmani mendapat tanggapan positif dari masyarakat Turki. Media masa, ulama dan kaum nasionalis. Pers Turki yang memiliki jaringan media di Eropa memberikan perhatian yang cukup besar serta mendukung perlunya Turki mengirimkan bantuan ke Aceh. Hubungan antara Aceh dan Turki telah berlangsung lama. Bahkan muncul isu bahwa Turki akan mengirimkan 8 kapal perang ke Aceh.

Peta Kerajaan Aceh tahun 1665 Mesehi, koleksi Nationaal Archief, Pelukis Johannes Vingboons.

Peta Kerajaan Aceh tahun 1665 Mesehi, koleksi Nationaal Archief, Pelukis Johannes Vingboons.

Kabinet Turki cenderung menghindar membahas isu Aceh, ketika kubu nasionalis mengingatkan Turki perlu melindungi Aceh terkait dengan dokumen lama bahwa Aceh telah menjadi protektorat Turki sejak tahun 1500-an dan telah memperbaharui perjanjian tersebut pada tahun 1850. Pihak kabinet Turki menyatakan bahwa itu hanya dokumen keagamaan tanpa makna politik. Pihak Inggris dan Negara Eropa lainnya menyatakan dokumen itu tidak berlaku karena Turki tidak pernah mengumumkan kesepakatan itu sebelumnya. Permohonan Aceh ketika itu didukung oleh Midhat Pasya yang menjabat Menteri Kehakiman.

Posisi Turki di dunia ketika itu sedang merosot tajam. Atas dasar ini Turki meminta pertimbangan Inggris. Inggris menyebutkan bahwa Turki lebih baik bersikap netral dengan alasan:

  1. Turki tidak memiliki kepentingan di Aceh, apabila membantu Aceh maka Turki akan mendapat kerugian politik di Eropa dan Asia kecil;
  2. Perang Aceh-Belanda bukan perang agama;
  3. Perang Aceh sudah terlanjur pecah sehingga peran Turki tidak efektif dan etis. Belanda pasti akan melakukan agresi kedua sebagai balasan kekalahan pada agresi pertama.

Perancis, Rusia dan Jerman memberikan pertimbangan yang sama dengan Inggris. Ketika Jerman mengancam tidak akan menjual kapal perang ke Turki kabinet Turki menjadi lemah dan tunduk. Ketika itu Turki sedang mengalami pergolakan terutama di kawasan Balkan dan Yunani.

Turki Ustmani menolak permohonan Aceh menjadi Vasal.

Permintaan Aceh ditolak setelah melalui rapat dewan menteri (Majlis-i-Vukela) dengan catatan bahwa meskipun pernah ada hubungan baik antara dua Negara, tapi itu tidak cukup meyakinkan untuk mengabulkan permintaan Aceh. Ketika Turki telah membuat keputusan atas permohonan Aceh, maka kehadiran Habib Abdurrahman Az-Zahir menimbulkan suasana politik kurang nyaman di Turki. Pemerintah Turki meminta Habib segera meninggalkan Turki dan sekedar basa-basi memberikan penghargaan kelas dua “Osmanie” dan menitipkan sepucuk surat dari Vazir (Perdana Menteri) Turki berisi ringkasan-ringkasan upaya Turki untuk membantu Aceh.

Jawaban Turki cukup jelas. Menurut laporan ke Pemerintah Belanda, ketika duta besar Belanda untuk Turki Heldewier berkunjung kepada Menteri Turki Khalil Pasya. Pejabat tinggi kekhalifahan ini berucap dengan menenangkan pihak Belanda: “Kami sama sekali tidak mempedulikan segala pengaduan raja-raja biadab macam ini!” (‘Ces princes sauvages’)

Belanda, dibantu Rusia, Perancis, Jerman dan Inggris berhasil menekan Turki. Dan akhirnya Istambul lepas tangan terhadap nasib Aceh, mereka berkata, “Kami tidak ada urusan dengan bangsa barbar seperti itu.” Menjaga nama baik mereka mengeluarkan nota diplomatik pada bulan Agustus 1873. “Bahwa Belanda dibolehkan campur tangan yang menginginkan perdamaian dan bersifat kemanusiaan yang menguntungkan Aceh.” Belanda memperoleh kemenangan diplomatik penting, dan segera mengesampingkan nota tersebut.

Pada tanggal 18 Desember 1873 Masehi, Habib Abdurrahman Az-Zahir meninggalkan Turki. Tidak semua impian Kekhalifan berakhir indah. Ketika Kekhalifahan Turki memilih tidak menolong Aceh, maka Kesultanan Aceh-lah yang dapat menolong dirinya sendiri.

Habib Abdurrahman Az-Zahir menyerah kepada Belanda pada tahun 1878 Masehi bersama dengan 20 orang pengikut. Ia memperoleh uang tahunan sebesar sepuluh ribu ringgit Spanyol seumur hidup.

Habib Abdurrahman Az-Zahir menyerah kepada Belanda pada tahun 1878 Masehi di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) bersama dengan 20 orang pengikut. Ia memperoleh uang tahunan (pensiun) sebesar sepuluh ribu ringgit Spanyol seumur hidup.

XXX

Baca kisahnya di: Risalah Sang Durjana Bagian Empat Belas

XXX

DAFTAR PUSTAKA

  1. Erven Paul Van ‘T Veer; De Atjeh-Oorlog; Uitgeverij De Arbeiderspers / Wetenschappelijke Uitgeverij; 1979;
  2. M. Thamrin Z dan Edy Mulyana; Dua Tokoh Asing di Sekitar Istana: Panglima Tibang & Habib Abdurrahman El Zahir; Cetakan Pertama; Penerbit PENA; Banda Aceh; 2016;
  3. Nino Oktorino; Nusantara Membara Perang Terlama Belanda Kisah Perang Aceh 1873-1913; Cetakan Pertama; Penerbit PT Elex Media Komputindo; Jakarta; 2018;
  4. Paul Van ‘T Veer; Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje; Cetakan Pertama; PT. Temprint; Jakarta; 1985;
  5. Woltring; Duta Belanda di Istambul tentang Khalif;

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  2. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  3. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  5. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  6. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  7. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  8. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  9. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  10. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  11. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  12. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  13. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  14. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  15. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  16. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  17. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  18. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  19. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  20. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  21. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  22. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  23. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  24. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  25. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  26. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  27. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  28. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  29. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  30. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  31. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  32. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  33. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  34. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  35. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  36. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  37. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  38. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  39. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  40. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  41. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  42. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  43. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  44. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  45. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  46. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  47. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  48. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  49. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  50. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  51. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  52. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  53. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  54. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  55. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  56. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  57. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  58. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  59. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI

  1. Ping balik: HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH | Tengkuputeh

  2. Ping balik: HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS PERTAMA DI ACEH | Tengkuputeh

  3. Ping balik: BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH | Tengkuputeh

  4. Ping balik: SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH) | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.