KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939)

Sultan Aceh Terakhir Tuanku Alaiddin Muhammad Daudsyah (1884-1939)

KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA

Pada awal abad ke-19 Masehi. Perang Aceh telah berlangsung puluhan tahun, perjuangan rakyat Aceh menghadapi pemerintah kolonial Belanda belum juga menyusut. Untuk segera mengakhiri perang Belanda mengirimkan pasukan-pasukan mengejar Sultan Aceh Tuanku Muhammad Daudsyah dan Panglima Polem sebagai pimpinan perang yang dianggap paling berpengaruh. Setelah Teuku Umar gugur posisi Sultan Aceh di pesisir timur Aceh semakin sulit sehingga harus berpindah ke Gayo, daerah yang belum pernah bisa dimasuki oleh pasukan Belanda meski perang telah berlangsung selama 30 tahun. Laskar Aceh hampir setiap hari menyerang pos pasukan marsose yang berada di lereng-lereng gunung.

Untuk mengatasi “kekacauan” yang ditimbulkan laskar Aceh dari Gayo maka dikirimkanlah batalion marsose dari daerah Pasai dibawah pimpinan Mayor Jenderal Van Daalen (September-November 1901) dan batalion pimpinan Letnan Kolonel Scheepens (Juni-September 1902) dari Meureudu untuk melakukan penyerangan ke wilayah Gayo. Mereka mengalahkan beberapa benteng di perbatasan Aceh-Gayo namun tujuan menangkap Sultan Aceh dan Panglima Polem mengalami kegagalan diakibatkan kesetiaan rakyat Gayo kepada Sultan Aceh.

Strategi Belanda Menangkapi Keluarga Sultan Aceh

Kegagalan demi kegagalan membuat Belanda berpikir keras! Ketika mereka tidak bisa masuk lewat pintu depan maka mereka mencoba menerobos lewat pintu belakang. Belanda mengirimkan pasukan marsose menerobos wilayah Pidie untuk menangkap keluarga Sultan Aceh yang menurut laporan mata-mata Belanda ada di sana.

Ekspedisi Pasukan Marsose ke pedalaman Lamlo, Pidie menggunakan sarana transportasi gajah dikarenakan medan yang berat.

Ekspedisi Pasukan Marsose ke pedalaman Lamlo, Pidie menggunakan sarana transportasi gajah dikarenakan medan yang berat.

Tuanku Putroe Glumpang Payong seorang istri sultan Aceh ditangkap pada tanggal 26 November 1902 oleh pasukan dibawah pimpinan Letnan Christoffel, sebulan kemudian pada hari natal, 26 Desember 1902 pasukan Belanda dibawah komando Kapten van der Maateen berhasil menangkap istri sultan Aceh lainnya, Pocut Cot Murong dan anak satu-satunya dari sultan Tuanku Ibrahim yang masih balita di Lam Meulo. Berdasarkan arsip pemerintahan kolonial Belanda yang terangkum dalam Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronye, metode penangkapan dan penyanderaan keluarga sultan Aceh yang dikenal dengan kode “Metode Christoffel” dijalankan atas anjuran Snouck untuk segera mengakhiri perang Aceh.

Atas keberhasilan menyandera anak dan istri Sultan Aceh maka Gubernur Jenderal dan Militer Belanda di Aceh, Jenderal Van Heutsz mengeluarkan ultimatum dalam tempo satu bulan apabila sultan tidak menyerah maka kedua istrinya dan puteranya akan dibuang ke luar Aceh.

Menyerah Atas Nama Pribadi Bukan Sebagai Sultan Aceh!

Sultan Muhammad Daud Syah menyerah kepada Belanda pada tanggal 10 Januari 1903 di Sigli. Ia mengenakan pakaian rakyat biasa, tanpa alas kaki, seluruh pakaian dan perlengkapan kebesarannya telah ditanggalkan. Di hadapan perwakilan Belanda Sultan Muhammad Daudsyah berkata, bahwa pedang yang tersarung hari ini adalah sebagai pribadi, bukan atas nama Aceh.

Ketika menyerah kepada Belanda, Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah melepaskan segala atribut kebesaran termasuk tidak mengenakan alas kaki untuk menyampaikan pesan tegas. Ia menyerah secara pribadi.

Ketika menyerah kepada Belanda, Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah melepaskan segala atribut kebesaran termasuk tidak mengenakan alas kaki untuk menyampaikan pesan tegas. Ia menyerah secara pribadi.

Selain itu Sultan Muhammad Daudsyah menolak menandatangani dokumen yang berisi pasal-pasal tentang penyerahan kekuasaan kepada Belanda dengan berkata secara diplomatis, sebagaimana diceritakan secara oral oleh pada orang tua, Sultan Aceh berkata: “Kedaulatan Aceh ada pada rakyat!” Belanda sangat berang! Sultan yang pura-pura begitulah menjuluki dan mencantumkan nama Sultan Muhammad Daudsyah pada setiap dokumen resmi. Sultan kemudian dijadikan tahanan kota di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) dan harus melapor kepada Belanda setiap kurun waktu tertentu.

Belanda menduga setelah sultan ditangkap maka perlawanan akan berakhir, sebagaimana diberbagai wilayah di Nusantara yang berperang dengan Belanda, ketika raja menyerah maka rakyat menyusul. Ternyata tidak perang Aceh masih berlanjut.

Laskar Aceh terus melakukan perlawanan dan bahkan melakukan penyerangan ke Kutaraja (Banda Aceh sekarang) dan sekitarnya seperti Leupung dan Peukan Bada. Berdasarkan laporan mata-mata setiap serangan dilakukan atas perencanaan dan sepengetahuan Sultan Muhammad Daudsyah.

Kediaman Sultan Muhammad Daudsyah kemudian digeledah serta ditemukan berbagai surat-surat dari panglima perang di Aceh yang masih aktif. Namun yang paling membuat Belanda geram adalah ditemukan korespodensi antara Sultan Aceh dengan Kaisar Mitsushito yang isinya ucapan selamat atas kemenangan perang Jepang melawan Rusia (tahun 1905) dan upaya menjalin kerja sama sebagai sesama bangsa Asia untuk mengusir Belanda dari bumi Aceh.

Pembuangan Sultan Aceh Oleh Belanda

Merasa terpedaya dan menyadari betapa berbahayanya Sultan Muhammad Daudsyah bagi kelangsungan pemerintahan kolonial Belanda di Aceh maka Belanda kemudian menjatuhkan hukuman. Sebuah hukumam yang paling menyakitkan setiap orang Aceh, yang mencintai Aceh, mengasingkan beliau ke Ambon.

Semangat jihad Sultan Aceh tidak pernah padam bahkan dalam pengasingan di Ambon, beliau melakukan dakwah dan menyebarkan agama Islam di sana. Bangsawan dan masyarakat Ambon banyak yang memeluk agama Islam. Belanda tidak senang dan memutuskan untuk memindahkan Sultan Muhammad Daudyah ke Batavia (Jakarta sekarang).

Berziarah ke makam Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah

Berziarah ke makam Sultan Aceh terakhir Muhammad Daudsyah

Pada tanggal 6 Februari 1939 Sultan Aceh terakhir, bernama lengkap Alaiddin Muhammad Daudsyah menghembuskan nafas yang terakhir dan dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Hutan Kayu di kawasan Rawamangun, Jakarta.

Pada tahun 1942 Belanda angkat kaki dari Aceh digantian Jepang, dan meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sultan Aceh terakhir tidak lagi hidup untuk melihat piala yang telah diperjuangankan sepanjang hidupnya, Piala itu: KEMERDEKAAN!

Referensi:

  1. Perang Kolonial Belanda di Aceh / The Dutch Colonial War in Aceh (Dwibahasa / Bilingual); Penerbit Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA); Cetakan ke 1, Banda Aceh; tahun 1977;
  2. Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936; Dirangkum oleh E. Gobee dan C. Adriaanse; Penerjemah Sukarsi; Seri Khusus INIS Jilid I-XI; Jakarta: Penerbit (Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies) INIS, Jakarta; tahun 1990;

XXX

Artikel-artikel terdahulu tentang Aceh:

  1. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  2. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  3. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  4. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  5. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  6. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  7. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  8. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  9. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  10. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  11. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  12. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  13. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  14. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  15. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  16. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  17. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  18. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  19. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  20. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  21. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  22. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  23. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  24. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  25. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  26. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  27. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  28. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  29. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  30. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  31. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  32. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  33. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  34. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  35. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  36. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  37. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  38. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  39. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  40. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  41. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  42. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  43. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  44. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  45. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  46. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  47. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  48. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  49. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  50. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  51. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  52. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  53. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  54. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  55. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  56. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  57. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  58. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  59. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA

  1. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA PULUH | Tengkuputeh

  2. Pingback: SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.