LOMPATAN PERUBAHAN

Bocah-bocah di depan gerbang sekolah, berteriak gembira mengekspresikan keriangan hati terdalam, kepolosan ekspresi bocah-bocah sungguh menggetarkan hati.

LOMPATAN PERUBAHAN

“Zaman itu seperti makhluk hidup, sehebat apapun persiapan yang dilakukan, adakalanya situasi berubah secara cepat. Dibutuhkan kecerdasan untuk menghadapi perubahan mendadak, dan bersamaan juga dibutuhkan ilmu untuk mampu mengatasinya.”

Awal Tahun 1998. Kelas kami diminta untuk mencari blangko wesel karena dalam pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 2 SMP Negeri 1 Banda Aceh akan ada praktek pengisian wesel. Tahun-tahun ini wesel masih digunakan, namun tak jamak lagi digunakan. Layanan wesel sudah digerus oleh layanan perbankan, sehingga beberapa teman Abu yang menggerutu tentang sulitnya mencari blangko wesel tersebut. Abu sendiri mendapatkan blangko wesel itu di pasar sayur malah!

Blangko Wesel Klasik

“Kalian mesti tahu cara menggunakan wesel! Kelak pengetahuan ini akan berguna ketika kalian menjadi mahasiswa!” Ultimatum guru Bahasa Indonesia.

Tapi tokh, tahun 1998 adalah tahun yang bergejolak, krisis ekonomi moneter menghantam Asia, dan Indonesia menjadi Negara yang paling terdampak. Bisa dibayangkan jika sebelumnya harga 1 USD adalah Rp. 2,500. Melonjak menjadi Rp. 15,000. Harga-harga melonjak tinggi, harga angkutan umum naik 2 kali lipat, akibat harga BBM naik. Di tengah situasi chaos melanda Indonesia, terjadi banyak kerusuhan di seluruh negeri sehingga Presiden Suharto yang telah menjabat selama 32 tahun menyatakan berhenti, orde baru berakhir dan dimulailah masa reformasi.

Lupakan politik, tidak menarik.

Pertengahan tahun 2001, saat itu Abu masih kelas 2 SMA terjadi gempa pada malam Jumat di Banda Aceh. Pada era tersebut gempa adalah fenomena alam yang sangat jarang terjadi. Nenek Abu memberitahu bahwa berdasar cerita yang beliau dapat dari neneknya, atau bisa jadi dari beberapa generasi terdahulu jika terjadi gempa di malam jumat di Aceh adalah sebuah pertanda sebuah bencana besar akan datang.

Abu tersenyum dan sedikit membantah; “Nek kita ini dalam keadaan perang. Kondisi musibah macam apalagi yang lebih besar akan menimpa kita?” Benar saat itu di Aceh sedang terjadi peperangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI (Tentara Republik Indonesia) media 1999-2005. Masyarakat sipil adalah korban yang paling menderita dan paling dirugikan.

Konflik Aceh 1999-2005

Perang menutup semua dialog keilmuan, logika manusia dalam peperangan tidak akan berjalan baik. Para pihak yang ada di dalam kancah itu dilingkupi rasa takut atau marah. Dalam perang yang panjang, semua orang baik, orang pintar, kritis, dan punya pendirian, semuanya mati. Mati dibunuh. Yang tinggal hanyalah orang-orang berkepala dua.

Baca: Setelah Revolusi Selesai

Ramalan nenek Abu terbukti beberapa tahun kemudian, 26 Desember 2004, antara pukul delapan dan lewat lima belas. Gulungan gelombang setinggi lima belas meter menggodam pesisir barat Aceh dengan ganas, gempa pada 8,9 pada skala richter melontarkan tsunami ke daratan. Air bah kemudian kembali ke laut, meninggalkan ribuan bangkai terapung, terangkut, lenyap atau tersangkut di bumi. Puluhan ribu orang tewas dan beratus ribu kehilangan ketika gelombang laut menghancurkan mendadak banyak kehidupan.

Baca: Tsunami

Bencana alam tsunami akhirnya membawa hikmah, pihak yang bertikai di Aceh akhirnya duduk berunding di Helsinki dan mencapai titik sepakat untuk mengakhiri perang yang berkecamuk. Korban perang di Aceh selama konflik itu mungkin lebih sedikit daripada bencana tsunami, akan tetapi perang lebih membawa dampak psikologis daripada bencana. Illustrasinya adalah: Dalam perdamaian, para anak memakamkan bapak-bapak mereka, dalam peperangan, para bapak memakamkan anak-anak mereka.

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Waktu terus bergulir diikuti oleh lompatan teknologi dan informasi.

Hari ini di tahun 2021, belasan tahun dari kejadian yang Abu ceritakan diatas. Sampailah di era digital. Setiap manusia mengalami habitat budaya sesuai dengan lingkup zamannya, sesuai dengan teknologi yang ada pada masanya. Sebagai contoh Kakek Abu (1929-1992). Sepanjang hidup beliau tidak mengalami banyak loncatan penemuan teknologi, mengirim surat via pos, mengirim uang via wesel atau menelpon. Ayah Abu (1957-2004) mungkin mengalami zaman internet dan komputer namun ketika beliau hidup, teknologi tersebut masih pada taraf awal sehingga beliau belum merasakan dampaknya terlalu.

Nokia sebagai salah satu perintis teknologi telepon seluler.

Sementara Abu mengalami semuanya, zaman menulis surat dengan sahabat pena. Menerima wesel honor menulis (di koran) ketika SMA, kemudian menerima uang lewat transfer ATM sampai piawai menggunakan internet banking. Dari zaman berteman manual, kemudian mengenal handphone, BBM sampai WA. Media sosial pun berkembang pesat seiring dengan pesatnya dunia digital.

Dahulu ketika seseorang ingin mendapatkan informasi ada dua pilihan, mencari info di perpustakaan atau menjumpai/bertanya kepada seseorang yang memahami. Sekarang google memudahkan siapapun untuk bertanya tentang apapun.

Abu membayangkan dahulu satu umur hidup seseorang (misalkan Ayah Abu) mungkin tidak terlalu banyak mendapati perubahan dibandingkan umur Abu. Orang yang (baru) hidup di zaman SMS mungkin sulit membayangkan sukarnya hubungan dengan surat menyurat, atau orang zaman WA akan menertawakan orang-orang zaman BBM betapa terbatasnya fitur aplikasi tersebut, jika tidak mengalami zaman itu sendiri. Sebagai seseorang yang pernah hidup di masa lalu, Abu hanya ingin menyampaikan idiom bahwa zaman ini mungkin lebih cepat, namun zaman dahulu tentu lebih romantis. Ketika tulisan menjadi ekspresi informasi bukan lagi ekspresi rasa. Mungkin itulah sebabnya puisi telah mati di era sekarang.

Perubahan yang dibawa oleh COVID-19

Covid-19 kemudian membawa perubahan yang lebih nyata lagi, manusia dipaksa membuat jarak dengan manusia lainnnya secara fisik. Rapat-rapat perkantoran sekarang tidak lagi mengharapkan kehadiran fisik, cukup via Zoom. Penetrasi digital lebih ditingkatkan lagi.

Teknologi yang baru melahirkan inovasi yang baru. Kekuatan perbankan besar ditabrak oleh Bitcoin, dominasi televisi digoyang oleh youtube, Hotel-hotel besar sekarang berhadapan dengan model hotel rumahan seperti ABnB, Grab dan Gojek berhadapan dengan perusahaan taksi seperti Blue Bird. Artinya perusahaan besar harus berhadapan dengan perusahaan kecil-kecil yang lebih siap. Mungkin sistem ini akan menghasilkan yang terbaik?

Tapi sebagai orang dari zaman lama, Abu terpaksa meringis sedih ketika seorang supir bus angkutan antar kota bercerita kepada Abu disebuah warung nasi ketika sahur tadi, “Tahun ini (2021) lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya, termasuk 2020. Kami para supir angkutan merasa ditekan oleh rezim yang sekarang, baik pusat maupun provinsi. Kemana kami harus mengadu bang?”

Benar buku sejarah yang pernah Abu baca, kekacauan selalu menyertai sebuah perubahan besar.

Abu menarik rokok dalam-dalam, menatap nanar padanya tanpa suara. Pandemi membuat kita waspada, dan bahkan cenderung curiga kepada sesama. Manusia telah berubah sebagaimana zaman telah berganti. Terenyuh dan sedih, Abu mengenang saat menjadi salah satu dari belasan anak SMA Negeri 3 Banda Aceh yang berbagi sebatang rokok di kantin belakang sekolah. Masa lalu yang tidak mungkin lagi terulang (lagi).

Lompatan perubahan, ada yang hilang tapi (juga) ada yang datang.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.