TSUNAMI

 

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

TSUNAMI

Sebelas tahun lalu, antara pukul delapan dan lewat lima belas menit, perantah gemetar, keramik berjatuhan. Ia berjalan keluar rumah dan melihat orang bertakbir di jalan dan gang-gang kecil, tak lama terbunyi suara ledakan. Dalam tempo hitungan menit. “Laut datang!” terdengar orang-orang memekik.

Gulungan gelombang setinggi lima belas meter menggodam kota tepi pantai itu dengan ganas, gempa melontarkan tsunami ke daratan. Kemudian air datang kembali ke laut, ribuan bangkai terapung, terangkut, lenyap atau tersangkut di bumi.

Ketika berpuluh ribu orang tewas dan beratus ribu kehilangan, ketika gempa dan gelombang pasang menghancurkan mendadak kehidupan, kita pun bertanya : kenapa? Ada berpuluh-puluh “kenapa”, sebab kata itu mempunyai endapan, berasal dari bermacam-macam zaman, tiap kali bergeser. Sebab ia sudah diucapkan oleh para nenek moyang kita yang masih hidup dengan rasa ngeri, terkesima, dan bingung mendengar petir yang menyambar pohon tinggi, membakar hutan, dan membinasakan manusia. Syahdan, mereka lari bersembunyi ke gua-gua. Tapi tetap gentar.

Ketika tsunami Aceh datang, saya masih akan menuju usia 21 tahun. Dengan rasa ingin tahu menuju mendekati pusat bencana, setengah jam setelah itu. Saya pernah mendengar tsunami, sebuah bencana khas Jepang yang tidak diketahui bagaimana bentuknya, dan masih tak paham hari itu adalah tsunami. Bersama seorang teman kami melintasi jalan Teuku Umar, penuh reruntuhan tiga puluh menit setelah gelombang, bus-bus kurnia bagai mainan terlempar, tersangkut di pohon. Motor kami beberapa kali harus diangkat melewati puing dan tiang listrik yang berjatuhan. Mayit-mayit tertahan di lorong-lorong terhalang oleh deretan toko. Sampai di ujung jalan, simpang jam. Saya melihat momen yang tak terlupakan, mayit-mayit segar yang ditutup Koran, jika ditutup kepala terlihat kakinya. Saya menangis ketika melihat di kaki itu ada rumput segar, persis seperti sehabis bermain sepakbola, ada sehelai rumput menempel di situ. Di tubuh seseorang yang sejam lalu masih bernyawa.

Tak lama kemudian, ada yang berteriak dari arah Ulee Lheu, “Air datang!” Kami pun panik, teman saya ingin menuju Masjid Raya, saya katakan jangan, arah ke taman sari terlalu banyak puing dan tak aman, lebih baik ke Peuniti yang jalannya kering. Menyusuri Neusu kami sampai di rumah. Kejadian itu membekas, karena kami melihat dalam proses melarikan diri tersebut kami melihat wajah manusia. Ketika terjepit, ada beberapa tabrakan.

Kami tidak pernah tahu, apakah memang air datang kembali. Atau hanya isu belaka, tapi momen nyaris mati itu membuat teman saya marah, karena saya yang mengajaknya melihat kota, mengapa tak di rumah saja? Karena kampung kami hanya terkena hempasan terakhir sisa-sisa gelombang tersebut.

Waktu tsunami berlalu bilangan hari, saya melihat ke jalanan. Mobil-mobil bercat putih dengan tulisan UN datang, mobil pickup dengan logo sebuah organisasi dari Republik Czek, Helikopter Inggris, Jeep aneh petak-petak desain Rusia, sampai Jietai Jepang. Orang lain berdatangan dari segala penjuru, apa arti orang lain itu, apa gerangan Aceh bagi mereka? Apa arti geografi dan sejarah, juga makna tapal batas, suatu rekaan yang begitu sering diperebutkan dan dibanggakan?

Dunia datang, dunia menolong. Ada terima kasih yang tak akan habis kepada siapapun yang pernah tergugah oleh kesengsaraan manusia dan tahu ada hal yang tak terjelaskan oleh sebab besar.

Diakui atau tidak, dibalik kata “kenapa”, setelah tsunami Aceh di akhir tahun 2004, tersembunyi endapan “kenapa” yang purba, ketika saya hampir setahun kemudian di sebuah angkot di kota Medan, mendengar dua orang ibu-ibu bercakap-cakap tentang tsunami Aceh, ketika seseorang di antara mereka mengatakan bahwa bencana alam itu adalah hukuman Tuhan, saya hanya terdiam seraya berkata dalam hati, kurang ajar. Jika saja mereka tahu, bahwa berkata seperti itu di depan seseorang yang nyaris musnah keturunan dari pihak ibu. Tapi sudahlah, kesedihan mengalahkan kemarahan pada hari itu.

Tentang tsunami, mungkin kita cukup puas dengan penjelasan sejumlah pakar geologi. Tentang kenapa anak-anak itu yang harus cacat dan mati, bukan para koruptor yang membangun istana dengan kejahatan, bukan pula para pengkhotbah yang mengutuk “Azab!” di atas mereka yang sengsara, kita tak mungkin tak bisa lain. Kita harus lebih adil dan pengasih ketimbang mereka, dan Tuhan yang mereka bela.

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947)  18 JUNI 2013
  7. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015
  8. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  9. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  10. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  11. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  12. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  13. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  14. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  15. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  17. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  18. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  19. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  20. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  21. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  22. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  23. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  24. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  25. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  26. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  27. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
  28. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to TSUNAMI

  1. Pingback: TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA | Tengkuputeh

  2. Pingback: MENYELUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH | Tengkuputeh

  3. Pingback: TEUKU UMAR PAHLAWAN | Tengkuputeh

  4. Pingback: FILOSOFI GOB | Tengkuputeh

  5. Pingback: KEBENARAN YANG SAMAR | Tengkuputeh

  6. Pingback: ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH | Tengkuputeh

  7. Pingback: HIKAYAT SUKU MANTE | Tengkuputeh

  8. Pingback: SENJA DI MALAKA | Tengkuputeh

  9. Pingback: MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA | Tengkuputeh

  10. Pingback: KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA | Tengkuputeh

  11. Pingback: OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  12. Pingback: PARA PENYEBAR KEBOHONGAN | Tengkuputeh

  13. Pingback: MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA | Tengkuputeh

  14. Pingback: SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH | Tengkuputeh

  15. Pingback: MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA (1996) | Tengkuputeh

  16. Pingback: PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) | Tengkuputeh

  17. Pingback: PEREMPUAN ACEH FULL POWER | Tengkuputeh

  18. Pingback: PERADABAN TANPA TULISAN | Tengkuputeh

  19. Pingback: SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 | Tengkuputeh

  20. Pingback: ACEH DI MATA KOLONIALIS | Tengkuputeh

  21. Pingback: PERANG ACEH KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  22. Pingback: NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE | Tengkuputeh

  23. Pingback: MELUKIS SEJARAH | Tengkuputeh

  24. Pingback: ACEH SEPANJANG ABAD | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s