LEMBU PATAH

Seekor lembu terperosok ke lubang akibat terlalu memandang jauh ke depan, dia lupa bahwasanya ia adalah seekor lembu sahaja.

PERASAAN SEEKOR LEMBU

Jangan terlalu terkosentrasi pada daun, karena kamu tidak akan melihat pohon. Jangan terlalu terkosentrasi pada pohon, karena kamu tidak akan melihat hutan. Jangan terlalu terkosentrasi pada hutan, karena kamu tidak akan melihat gunung. Wahai, pandanglah dunia melampaui garis horizon. Niscaya kamu akan menjadi lebih sabar dan bijak.

XXX

Seekor lembu terperosok ke lubang akibat terlalu memandang jauh ke depan, dia lupa bahwasanya ia adalah seekor lembu sahaja. Hewan yang dituntun menuju padang rumput atau dibawakan makanan kepadanya. Seharusnya ia hanya ingin hidup saja, peliharaan tak perlu kebanggaan dan (atau) kehormatan.

Di dunia yang aneh ini semakin sedikit manusia yang rela mengorbankan dirinya untuk melindungi manusia lainnya. Ketika manusia takut akan dera dan siksa perjuangan, cemas kalah dan salah justru membuat mereka menjadi lemah. Keadaan ini mengakibatkan mereka hanya ini hidup saja selayaknya ternak, kebanggaan dan kehormatan mereka tidak ada. Untuk melindungi dirinya sendiri, mereka lebih senang bila persoalan diselesaikan orang lain, tanpa harus berpikir, tanpa harus berbuat.

Tuhan menciptakan takdir untuk menjalaninya tiap-tiap makhluk tugas (hukum dan aturan). Tidak ada kebetulan dalam segala hal. Benda-benda langit, bumi, tumbuhan dan hewan memiliki tugas masing-masing. Takdir manusia berhubungan erat dengan itu, mencoba mengetahui bahwa segala sesuatu memiliki arti, lalu menyadari bahwa jalan tugas itu adalah inti dari segalanya, untuk akhirnya mencapai tujuan kemunca yaitu bertemu dengan Sang Pemilik Segala.

XXX

*Setelah lembu dikeluarkan dari lubang langsung disembelih, mencegah lembu tersebut meninggal terlebih dahulu akibat kekacauan mental dan emosional. Karena kesialan nasibnya dia disebut “Lembu Patah”.

Berbagai tulisan terkait lainnya:

  1. Pertemuan Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  2. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  3. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  4. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  5. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  6. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  7. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  8. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  9. Kaya Tanpa Harta; 24 November 2019;
  10. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  11. Sunyi; 19 Maret 2020;
  12. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  13. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
  14. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
  15. Ilmu Memahami Ilmu; 15 Juni 2021;

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.